Anda di halaman 1dari 2

Pemerintahaan Joko Widodo sangat terobsesi untuk mewujudkan swasembada pangan dalaam jangka

waktu tiga tahun saja. Proyek ambisius itu pun didukung dengan semua potensi yang ada termasuk
pengerahan Bintara Pembina Desa (Babinsa) yang berada di bawah Komando Tentara Nasional
Indonesia (TNI) untuk menjadi penyuluh dalam bidang pertanian. Pelibatan kembali tentara dalam
pembangunan ini tentu mengingatkan kita pada era Orde Baru yang menggelar program serupa TNI
masuk desa. Tepatkah?<br /><br />
Tentu saja pro dan kontra bermunculan terkait pelibatan Babinsa ini. Apalagi jelas tugas pokok dari
Babinsa bukan menjadi penyuluh pertanian. Sementara yang pro berpendapat Babinsa dapat
meningkatkan produktivitas pertanian akibat luas areal lahan berbanding terbalik dengan jumlah penyuluh
pertanian yang minim.<br /><br />
Terkait hal ini, Komisi di DPR yang mengurusi persoalan pertanian di Komisi IV menanggapi positif peran
Babinsa. Wakil Ketua Komisi IV Fraksi PAN Viva Yoga Mauladi mendukung langkah Babinsa menjadi
penyuluh pertanian. Hal tersebut sebenarnya merupakan program manunggal TNI bersama rakyat untuk
memberikan bantuan sosial dan tenaga. Sehingga hal ini akan sangat bagus ketahanan maupun
kedaulatan pangan Indonesia.<br /><br />
"Bantuan Babinsa ini tidak akan mengurangi pekerjaan penyuluh pertanian," ujar Viva pada
<em>Gresnews.com,</em> Minggu (18/1).<br /><br />
Dalam memberikan penyuluhan, Babinsa akan diberikan bekal pengetahuan yang cukup. Sehingga
dengan memanfaatkan Babinsa, petani diharapkan tidak hanya mendapatkan rasa aman saat bertani tapi
juga terbantu. Terlebih jumlah penyuluh pertanian saat ini terbilang sangat kurang untuk petani.
Keikutsertaan Babinsa sebagai penyuluh bukan menjadi saingan bagi penyuluh lainnya.<br /><br />
Viva menilai bantuan Babinsa menjadi penyuluh pertanian tidak akan keluar dari kewenangan dan tugas
Babinsa. Sebab Babinsa pasti memiliki protap yang jelas hingga sejauh mana mereka akan membantu
menyuluhkan petani. Apalagi dalam menjadi penyuluh, Babinsa tidak akan diberikan kompensasi khusus.
Sehingga dapat dipastikan mereka tidak terlibat dengan bisnis pertanian.<br /><br />
Ia menceritakan saat reses pada Desember 2014 telah berkunjung ke Kabupaten Maros dan Kabupaten
Takalar Sulawesi Selatan untuk melihat langsung bagaimana Babinsa menjadi penyuluh pertanian.
Hasilnya ternyata bantuan Babinsa cukup efektif karena petani justru bisa meningkatkan produktivitasnya
saat panen. Para petani bisa menghasilkan sekitar 8-9 ton hasil pertanian per 1 hektar areal tanam.<br
/><br />
Saat ditanya bukankah lebih baik memanfaatkan sarjana dan lulusan sekolah tinggi ilmu pertanian dalam
membantu penyuluhan petani misalnya dari Institut Pertanian Bogor (IPB), ia malah menyindir saat ini
jurusan pertanian justru seringkali tidak bisa memaksimalkan jurusannya. Dalam konteks IPB saja, ia
malah menuding lulusannya justru lebih banyak menjadi wartawan dibandingkan bekerja dalam bidang
pertanian.<br /><br />
Pada kesempatan terpisah Komisi I yang bermitra dengan TNI justru menilai sebaliknya. Ketua Komisi I
Fraksi PKS Mahfudz Sidiq mengatakan peran dalam menjadi penyuluh petani sudah keluar dari tugas
pokok Babinsa. Sehingga peran ini tentu mengurangi fokus mereka dalam menjalankan tugas pokok
yang utama.<br /><br />
"Babinsa lebih pada pemfungsian aparat TNI dalam membantu tugas-tugas Kamtibnas selain Bimas
Polri," ujar Mahfuz pada <em>Gresnews.com,</em> Minggu (18/1).<br /><br />

Mahfuz berpendapat penyuluh pertanian tentunya harus berasal dari mereka yang menguasai masalah
pertanian. Misalnya lulusan fakultas atau sekolah tinggi pertanian. Sehingga kebijakan untuk menurunkan
Babinsa seharusnya perlu ditinjau ulang karena tidak relevan. Saat ditanya program ini merupakan cara
agar Babinsa yang ditempatkan dilevel desa bisa berbaur dengan masyarakat, menurutnya hal ini bukan
menjadi alasan.<br /><br />
Ia mencontohkan ada Komando Rayon Militer (Koramil) yang biasanya memiliki program bakti desa.
Sehingga program bakti desa tersebut juga bisa dikatakan membaurkan masyarakat dengan TNI.
Sehingga pengerahan Babinsa di sektor pertanian tetap tidak relevan dijadikan alasan.<br /><br />
Sebelumnya, Presiden Joko Widodo mengeluarkan kebijakan untuk mengerahkan 50.000 Babinsa dari
TNI Angkatan Darat menjadi penyuluh pertanian. Kebijakan tersebut disosialisasikan langsung melalui
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. Andi mengatakan Indonesia saat ini kekurangan sebanyak
20.000 penyuluh pertanian.<br /><br />
"Kami bekerjasama, jangan ada ego sektoral," ujar Andi di Jawa Tengah (15/1).<br /><br />
Sebelumnya Kepala Dinas Penerangan TNI AD Kolonel Wuryanto menuturkan TNI AD dan kementerian
pertanian telah menandatangani kerjasama untuk mengerahkan Babinsa ke sawah (7/1). Kerjasama
tersebut memuat sejumlah kewenangan Babinsa misalnya penyuluhan pertanian, pendistribusian bibit,
pupuk dan alat pertanian, serta membantu perbaikan waduk.<br /><br />
"Babinsa tidak mendapatkan uang tambahan dari itu, tugas itu menjadi bagian pengabdian pada
masyarakat," ujar Wuryanto (15/1).