Anda di halaman 1dari 69
Prof. Dr. A. Harsono Soepardjo, M. Eng. FMIPA UI ©2014
Prof. Dr. A. Harsono Soepardjo, M. Eng. FMIPA UI ©2014
Prof. Dr. A. Harsono Soepardjo, M. Eng. FMIPA UI ©2014
Prof. Dr. A. Harsono Soepardjo, M. Eng. FMIPA UI ©2014
Prof. Dr. A. Harsono Soepardjo, M. Eng. FMIPA UI ©2014

Prof. Dr. A. Harsono Soepardjo, M. Eng. FMIPA UI

©2014

Energi Fosil dan Krisis Energi Salah satu strategi pengembangan energi nasional adalah meningkatkan pengembangan

Energi Fosil dan Krisis Energi

Salah satu strategi pengembangan energi nasional adalah meningkatkan pengembangan pemanfaatan energi baru dan terbarukan. Hal tersebut sejalan dengan Kebijaksanaan Energi Nasional (KEN) yang memprioritaskan pemanfaatan energi non eksport untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri . Sedangkan energi eksport khususnya minyak bumi dan gas bumi tetap masih memegang peranan penting sebagai sumber devisa Negara untuk menunjang pembangunan nasional.

Energi Fosil dan Krisis Energi Sejauh ini minyak merupakan sumber energi utama di Indonesia. Pemakaiannya

Energi Fosil dan Krisis Energi

Sejauh ini minyak merupakan sumber energi utama di Indonesia. Pemakaiannya terus meningkat baik untuk komoditi eksport yang menghasilkan devisa maupun untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri, sementara cadangannya terbatas sehingga pengelolaannya harus dilakukan seefisien mungkin. Oleh karena itu ketergantungan akan minyak bumi untuk jangka panjang tidak dapat dipertahankan lagi. Untuk itu perlu ditingkatkan pemanfaatan energi baru dan terbarukan. Energi baru dan terbarukan adalah energi yang pada umumnya sumber daya non fosil yang dapat diperbaharui atau bisa dikelola dengan baik, maka sumberdayanya tidak akan habis. Sumber energi yang termasuk dalam energi baru dan terbarukan adalah, energi panas bumi, energi air, energi surya, energi angin, energi biomasa/biogas, energi samudera, fuel cell ( sel bahan bakar ) dan energi nuklir.

Energi Fosil dan Krisis Energi Energy Resources ENERGY RESOURCE BIOGAS- NUCLEAR FOSSIL HYDRO GEOTHERMAL SOLAR

Energi Fosil dan Krisis Energi

Energy Resources

ENERGY RESOURCE BIOGAS- NUCLEAR FOSSIL HYDRO GEOTHERMAL SOLAR WIND BIOMASS COAL OIL GAS THERMAL PHOTOVOLTAIC
ENERGY RESOURCE
BIOGAS-
NUCLEAR
FOSSIL
HYDRO
GEOTHERMAL
SOLAR
WIND
BIOMASS
COAL
OIL
GAS
THERMAL
PHOTOVOLTAIC
FUSION
FISION
Energi Fosil dan Krisis Energi Indonesia 1970 • Oil : 2 % • Coal :

Energi Fosil dan Krisis Energi

Indonesia

1970

Oil

: 2 %

Coal

: 3 %

Gas

2013 • Oil • Coal • Gas
2013
• Oil
• Coal
• Gas
: 0.2 % : 0,6 % : 1,7 %
: 0.2 %
: 0,6 %
: 1,7 %

World reserves

Energi Fosil dan Krisis Energi 1998 Fossil Energy • Oil • Coal • Gas price

Energi Fosil dan Krisis Energi

1998

Fossil Energy

Oil

Coal

Gas

price

Energi Fosil dan Krisis Energi 1998 Fossil Energy • Oil • Coal • Gas price
Energi Fosil dan Krisis Energi New and Renewable Energy  Nuclear • Fision • Fusion

Energi Fosil dan Krisis Energi

New and Renewable Energy

Nuclear

Fision

Fusion

Geothermal

Biomass/biogas

Hydro

Solar

Wind

Energi Fosil dan Krisis Energi NEW AND RENEWABLE ENERGY BIOGAS/ NUCLEAR HYDRO GEOTHERMAL SOLAR WIND
Energi Fosil dan Krisis Energi NEW AND RENEWABLE ENERGY BIOGAS/ NUCLEAR HYDRO GEOTHERMAL SOLAR WIND
Energi Fosil dan Krisis Energi
NEW AND RENEWABLE ENERGY
BIOGAS/
NUCLEAR
HYDRO
GEOTHERMAL
SOLAR
WIND
BIOMASS
FUSION
FISION
THERMAL
PHOTOVOLTAIC
Energi Fosil dan Krisis Energi Konversi Energi Listrik

Energi Fosil dan Krisis Energi

Konversi Energi Listrik

Energi Fosil dan Krisis Energi Konversi Energi Listrik
Energi Fosil dan Krisis Energi E l e c t r i c i t

Energi Fosil dan Krisis Energi

Electricity

Java-Bali

Jakarta

PLN

: 22,000 MW

: ± 5600 MW

: support ± 60 %

: 78,8 % KK

Industri

Tranportasi Rumah tangga

: 44,2 % : 40,6 %

: 11,4 %

Energi Fosil dan Krisis Energi President Decree No.5/2006 CURRENT ENERGY MIX (1 billion BOE) National

Energi Fosil dan Krisis Energi

President Decree No.5/2006

CURRENT ENERGY MIX (1 billion BOE)

National (Primary) Energy Mix

Hydro Power,

Geothermal,

3.11%

1.32%

(Primary) Energy Mix Hydro Power, Geothermal, 3.11% 1.32% Natural Gas, 28.57% Oil, 51.66% Coal, 15.34% National

Natural Gas,

28.57%

Oil, 51.66%

Coal, 15.34%

3.11% 1.32% Natural Gas, 28.57% Oil, 51.66% Coal, 15.34% National Energy Mix 2025 (3 billion BOE)

National Energy Mix 2025 (3 billion BOE)

(Presidential Decree No. 5/2006) Oil, 20% Gas, 30% RE, 17% Coal, 33%
(Presidential Decree No. 5/2006)
Oil, 20%
Gas, 30%
RE, 17%
Coal, 33%
Biofuel , 5% Geotherm al, 5% Coal Liquefacti on 2%
Biofuel
, 5%
Geotherm
al, 5%
Coal
Liquefacti
on 2%

Biomass,

Nuclear,

Hydro

Solar

Energy,

Wind

Energi Nuklir  Kebutuhan energi nasional dari tahun ke tahun semakin meningkat terutama kebutuhan energi

Energi Nuklir

Kebutuhan energi nasional dari tahun ke tahun semakin

meningkat terutama kebutuhan energi listrik. Peningkatan

tersebut sejalan dengan laju pertumbuhan ekonomi, laju pertumbuhan penduduk dan pesatnya perkembangan sector industri. Untuk memenuhi kebutuhan energi nasional tidak cukup hanya mengandalkan sumber energi yang ada, karena sumber energi kita sudah banyak terkuras selama beberapa

tahun terakhir. Untuk itu perlu mencari sumber sumber energi

alternatife yang lain yang cukup potensial untuk menggantikannya, misalnya energi baru dan terbarukan. Energi nuklir adalah energi baru yang perlu dipertimbangkan, karena energi ini bisa menghasilkan energi yang dalam order yang besar sampai ribuan megawatt, tetapi harus memperhatikan beberapa

aspek, antara lain dari aspek keselamatan, aspek social, aspek ekonomi, aspek teknis, aspek sumber daya manusia dan aspek teknologinya

Energi Nuklir  Program energi nuklir biasanya harus melalui beberapa tahapan yang terencana dan dilaksanakan

Energi Nuklir

Program energi nuklir biasanya harus melalui beberapa tahapan yang terencana dan dilaksanakan secara

berkesinambungan. Kegiatan kegiatan tersebut antara lain, perencanaan proyek/kegiatan pra proyek, implementasi proyek, manufacturing peralatan dan komponen, konstruksi, komisioning serta operasi dan perawatan.

Disamping kegiatan utama diperlukan juga kegiatan pendukung yang lain, misalnya kegiatan penelitian /studi pengembangan teknologi nuklir, kegiatan/studi daur ulang bahan baker nuklir, pengaturan/perijinan dalam bidang nuklir serta pendidikan dan pelatihan. Hal ini juga harus

melibatkan beberapa institusi pemerintah, Universitas,

organisasi social, LSM, dll.

Energi Nuklir  Sebetulnya sejak tahun 1972 proyek studi energi nuklir sudah dipikirkan oleh badan

Energi Nuklir

Sebetulnya sejak tahun 1972 proyek studi energi nuklir sudah dipikirkan oleh badan pemerintah yang

berkompeten dibidang ini yaitu BATAN sampai hal hal

yang ditulis diatas, hanya saja masih banyak kendalanya untuk diimplementasikan antara lain; sosialisasi terhadap masyarakat belum merata, besarnya investasi masih tinggi, pelibatan institusi pemerintah/Universitas/LSM belum maksimal, kemungkinan memakai sumber energi yang lain

juga masih ada.

Dari studi energi mix yang kami lakukan energi nuklir tidak dimasukkan, karena perlu data data histories yang pernah ada di Indonesia yang tidak tersedia. Oleh karena itu pada studi disini pemakaian energi nuklir untuk yang

akan datang sifatnya hanya suatu asumsi asumsi saja.

Energi Nuklir

Energi Nuklir  Berdasarkan informasi pemasok PLTN besarnya biaya modal/investasi pada tahun 1992 untuk PLTN

Berdasarkan informasi pemasok PLTN besarnya biaya modal/investasi pada tahun 1992 untuk PLTN konvensional

berbagai jenis dan ukuran ( 600 1000 MW ) berkisar antara 1530 2200 US$/kW. Sedangkan biaya pembangkit tergantung kapasitasnya, kapasitas 600 MW biayanya berkisar 55,2 61,2 mills/kWh, kapasitas 900 MW biayanya berkisar 47,4 56,4

mills/kWh.

Dari beberapa studi harga bahan baker hasilnya bervariasi, NEWJEC 1992 sebesar 5,9 6,6 mills/kWh, BATAN 1992 sebesar 15 mills/kWh, dan Krebs et. Al/Siemens 1993 sebesar 11,2 mills/kWh, sedangkan biaya operasi dan pemeliharaan sebesar 77 US$/kW.

Energi Nuklir Fusi

Energi Nuklir Fusi

Energi Nuklir Fusi
Energi Nuklir Fusi
Energi Nuklir Fusi

Energi Nuklir Fusi

Energi Nuklir Fusi
Energi Fusi Nuklir

Energi Fusi Nuklir

Energi Fusi Nuklir
Energi Fusi Nuklir

Energi Fusi Nuklir

Energi Fusi Nuklir
Energi Nuklir Fisi

Energi Nuklir Fisi

Energi Nuklir Fisi
Energi Nuklir Fisi

Energi Nuklir Fisi

Energi Nuklir Fisi
Energi Geotermal  Sebagai daerah vulkanik, wilayah Indonesia sebagian besar kaya akan sumber energi panasbumi.

Energi Geotermal

Sebagai daerah vulkanik, wilayah Indonesia sebagian besar kaya akan

sumber energi panasbumi. Jalur gunung berapi membentang di

Indonesia dari ujung pulau Sumatera sepanjang pulau Jawa-Bali, NTT, NTB menuju kepulauan Banda, Halmahera dan pulau Sulawesi. Panjang jalur tersebut lebih dari 7500 km dengan lebar berkisar antara

50 km sampai 200 km dengan jumlah gunung api baik yang aktif

maupun yang sudah tidak aktif berjumlah 150 buah. Berdasarkan

penelitian yang telah dilakukan disepanjang jalur tersebut terdapat 217 daerah prospek panasbumi.

Energi Geotermal  Potensi energi panasbumi total adalah 19.658 MW dengan rincian di pulau Jawa

Energi Geotermal

Potensi energi panasbumi total adalah 19.658 MW dengan rincian di

pulau Jawa 8.100 MW, pulau Sumatera 4.885 MW dan sisanya tersebar

di pulau Sulawesi dan kepulauan lainya. Sumber panasbumi yang sudah dimanfaatkan saat ini adalah 803 MW. Biasanya data data energi panasbumi dapat dikelompokkan ke dalam data energi cadangan dan

energi sumber.

Biaya investasi ada dua macam, yang pertama biaya eksplorasi dan

pengembangan sebesar 500 1000 US$/kW, sedangkan yang kedua biaya pembangkit sebesar 1500 US$/kW (kapasitas 15 MW), 1200 US$/kW (kapasitas 30 MW) dan 910 US$/kW (kapasitas 55 MW). Untuk biaya energi dari panasbumi adalah 3-5 cent/kWh.

Energi Geotermal

Energi Geotermal

Energi Geotermal
Energi Geotermal
Energi Geotermal
Energi Geotermal

Energi Geotermal

Energi Geotermal
Sel Bahan Bakar ( Fuel Cell )  Bahan baku utama sebagai sumber energi sel

Sel Bahan Bakar ( Fuel Cell )

Bahan baku utama sebagai sumber energi sel bahan baker adalah gas hydrogen, gas hydrogen dapat langsung digunakan dalam pembangkitan energi listrik dan mempunyai kerapatan energi yang tinggi. Perbandingan beberapa bahan baku fuel cell dan batere konvensional dapat dilihat pada table berikut.

Beberapa alternatif bahan baku seperti methane, air laut, air tawar, dan unsure unsure yang mengandung hydrogen dapat pula digunakan namun diperlukan system pemurnian sehingga menambah jumlah cost system pembangkitnya.

Dilihat dari peralatan maka material utama system pembangkit pada fuel cell adalah fuel cell stack, merupakan bahan khusus yang belum dapat diproduksi local. Komponen mekanis dan pendukungnya masih dimungkinkan dibuat local. Teknologi pembangkit ini masih sangat baru, juga di luar negeri masih merupakan R&D.

Biaya investasi belum bisa diketahui karena masih banyak penelitian yang sangat bervariasi yang belum bisa dipakai sebagai patokan.

Fuel Syntetic

Fuel Syntetic

Fuel Syntetic
Fuel Syntetic

Fuel Syntetic

Fuel Syntetic
Fuel Syntetic

Fuel Syntetic

Fuel Syntetic
Fuel Syntetic

Fuel Syntetic

Fuel Syntetic
Coal Generation
Coal Generation
Coal Generation

Coal Generation

Coal Generation
Coal Generation

Coal Generation

Coal Generation
Energi Air  Indonesia memiliki potensi besar untuk pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Air, hal tersebut

Energi Air

Indonesia memiliki potensi besar untuk pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Air, hal tersebut disebabkan kondisi topografi Indonesia

banyak bergunung gunung dan berbukit bukit serta dialiri oleh banyak

sungai dan daerah daerah tertentu mempunyai danau/waduk yang cukup potensial sebagai sumber energi air.

Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) adalah salah satu teknologi yang sudah terbukti (proven), tidak merusak lingkungan, menunjang diversifikasi energi dengan memanfaatkan energi terbarukan, menunjang program pengurangan pemanfaatan BBM dan sebagian besar memakai kandungan local.

Besar potensi energi air di Indonesia adalah 74.976 MW, sebanyak 70.776 MW ada di luar Jawa, yang sudah termanfaatkan adalah sebesar 3.105,76 MW sebagian besar berada di pulau Jawa.

Energi Air  Pembangunan setiap jenis pembangkit listrik didasarkan pada kelayakan teknis dan ekonomis dari

Energi Air

Pembangunan setiap jenis pembangkit listrik didasarkan pada

kelayakan teknis dan ekonomis dari pusat listrik serta hasil studi

analisa mengenai dampak lingkungan. Sebagai pertimbangan adalah tersedianya sumber energi tertentu, adanya kebutuhan (permintaan) energi listrik, biaya pembangkitan rendah, serta karakteristik spesifik dari setiap jenis pembangkit untuk pendukung beban dasar (base load) atau beban puncak (peak load)

Sumber energi air tersebar di daerah daerah di seluruh Indonesia sehingga dengan membangun PLTA di daerah daerah berarti potensi energi setempat bisa termanfaatkan dengan baik. Untuk daerah yang mempunyai waduk maka daerah tersebut akan mendapatkan dampak positif yang luas, dan keuntungan tambahan misalnya waduk dipakai untuk pariwisata, olah raga air, pengendalian banjir, sumber air minum, sumber air tanah, sumber air irigasi dan sebagainya.

Energi Air  Selain PLTA, energi mikrohidro (PLTMH) yang mempunyai kapasitas antara 200 KW sampai

Energi Air

Selain PLTA, energi mikrohidro (PLTMH) yang mempunyai kapasitas

antara 200 KW sampai dengan 5000 KW potensinya adalah 458,75

MW, sangat layak dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik di daerah perdesaan di pedalaman yang terpencil ataupun perdesaan dipulau-pulau kecil dengan daerah aliran sungai yang sempit.

Biaya investasi untuk pengembangan pembangkit listrik mikrohidro

relative lebih murah dibandingkan dengan biaya investasi pembangkit

listrik tenaga air (PLTA), hal ini disebabkan karena adanya penyederhanaan standart kontruksi yang disesuaikan dengan kondisi perdesaan.

Biaya investasi PLTMH adalah sebesar lebih kurang 2000 US$/kW,

sedangkan biaya energi dengan kapasitas pembangkit 20 kW (rata rata

yang dipakai di desa) adalah Rp 194,-/kWh.

Energi Air

Energi Air

Energi Air
Energi Air
Energi Samudra  Energi samudera ada tiga macam yaitu energi panas laut, energi pasang surut,

Energi Samudra

Energi samudera ada tiga macam yaitu energi panas laut, energi

pasang surut, dan energi gelombang. Di Indonesia potensi

energi samudera sangat besar karena Indonesia adalah Negara kepulauan yang terdiri dari 13.466 pulau dan garis pantai sepanjang 99.093 km dan terdiri dari laut dalam dan laut dangkal.

Prinsip energi panas laut yaitu dengan menggunakan beda

temperature antara temperature di permukaan laut dan temperature di dasar laut, energi pasang surut dengan menggunakan prinsip beda ketinggian antara laut pasang terbesar dan laut surut terkecil, sedangkan energi gelombang adalah dengan menggunakan prinsip besar ketinggian

gelombang, dan panjang gelombang. Dengan prinsip prinsip

diatas maka dengan menggunakan turbin akan dihasilkan energi listrik.

Energi Samudra  Potensi energi panas laut di Indonesia bisa menghasilkan daya sekitar 240.000 MW,

Energi Samudra

Potensi energi panas laut di Indonesia bisa menghasilkan

daya sekitar 240.000 MW, sedangkan untuk energi pasang

surut dan energi gelombang masih sulit di prediksi karena mash banyak ragam penelitian yang belum bisa di data secara rinci.

Ketiga energi samudera diatas di Indonesia masih belum

terimplementasikan karena masih banyak factor sehingga sampai saat ini masih taraf wacana dan penelitian penelitian.

Biaya investasi belum bisa diketahui di Indonesia tetapi

berdasarkan uji coba di beberapa Negara industri maju

adalah berkisar antara 9 cent/kWh 15 cent/kWh.

Energi Samudra

Energi Samudra

Energi Samudra
Energi Samudra

Energi Samudra

Energi Samudra
Energi Samudra

Energi Samudra

Energi Samudra
Energi Samudra

Energi Samudra

Energi Samudra
Energi Samudra

Energi Samudra

Energi Samudra
Energi Samudra

Energi Samudra

Energi Samudra
Energi Samudra

Energi Samudra

Energi Samudra
Energi Samudra

Energi Samudra

Energi Samudra
Energi Biomassa / Biogas

Energi Biomassa / Biogas

Energi Biomassa / Biogas
Energi Biomassa / Biogas
Energi Biomassa/ Biogas  Biomassa merupakan sumber energi primer yng sangat potensial di Indonesia, yang

Energi Biomassa/ Biogas

Biomassa merupakan sumber energi primer yng sangat potensial di Indonesia, yang dihasilkan dari kekayaan alamnya berupa vegetasi

hutan tropika. Biomassa bisa diubah menjadi listrik atau panas dengan

proses teknologi yang sudah mapan. Selain biomassa seperti kayu, dari kegiatan industri pengolahan hutan, pertanian dan perkebunan, limbah biomassa yang sangat besar jumlahnya pada saat ini juga belum dimanfaatkan dengan baik.

Munisipal Solid Waste (MSW) di kota kota besar merupakan limbah

kota yang utamanya adalah berupa biomassa, menjadi masalah yang

serius karena mengganggu lingkungan adalah potensi energi yang bisa dimanfaatkan dengan baik.

Limbah biomassa padat dari sector kehutanan, pertanian, dan perkebunan adalah limbah pertama yang paling berpotensi dibandingkan misalnya limbah limbah padi, jagung, ubi kayu, kelapa,

kelapa sawit dan tebu. Besarnya potensi limbah biomassa padat

diseluruh Indonesia adalah 49.807,43 MW.

Energi Biomassa/ Biogas  Selain limbah biomassa padat energi biogas bisa dihasilkan dari limbah kotoran

Energi Biomassa/ Biogas

Selain limbah biomassa padat energi biogas bisa dihasilkan dari limbah kotoran hewan misalnya kotoran sapi, kerbau, kuda, dan babi juga dijumpai di seluruh propinsi Indonesia dengan kuantitas yang berbeda beda.

Pemanfaatan energi biomassa dan biogas di seluruh Indonesia sekitar 167,7 MW yang berasal dari limbah tebu dan biogas sebesar 9,26 MW yang dihasilkan dari proses gasifikasi.

Pada tahun 1995 Departemen Pertambangan dan Energi melaporkan dalam

Rencana Umum Pengembangan Energi Baru dan Terbarukan bahwa

produksi etanol sebagai bahan baku tetes mencapai 35-42 juta liter/tahun. Jumlah tersebut akan mencapai 81 juta liter/tahun bila seluruh produksi tetes digunakan untuk membuat etanol. Saat ini sebagian dari produksi tetes tebu Indonesia di eksport ke luar negeri, dan sebagian lagi dimanfaatkan untuk keperluan keperluan industri selain etanol.

Biaya investasi biomassa adalah berkisar antara 900 US$/kW 1400US$/kW dan biaya energinya adalah Rp 75,-/kW Rp 250,-/kW.

Energi Angin  Kecepatan angin rata-rata tahunan di Indonesia berkisar antara 2 m/det hingga 6

Energi Angin

Kecepatan angin rata-rata tahunan di Indonesia berkisar antara 2 m/det hingga 6 m/det dan dengan mengambil nilai minimal untuk pemanfaatan adalah 3 m/det, potensi ini dapat dimanfaatkan untuk

skala kecil 50 watt 10 kW dan skala menengah antara 10 kW 100

kW. Dari keluaran energi angin yang didapat maka ada dua macam pemanfaatan energi angin yaitu energi angin mekanik dan energi angin elektrik. Energi angin mekanik misalnya untuk memompa air, aerasi tambak udang, sedangkan energi angin elektrtik misalnya untuk penerangan rumah, pompa air, televisi, radio, dll.

Ada beberapa daerah di Indonesia yang potensial kecepatan anginnya terutama di daerah Indonesia bagian timur NTT, NTB dan daerah daerah pantai tertentu di Indonesia mempunyai kecepatan angina melebihi 5 m/det.

Energi angin yang sudah terpasang di seluruh Indonesia adalah 0,38

MW, yang pemanfaatannya relative masih dalam pilot proyek.

Biaya investasi energi angin masih relatif tinggi yaitu 3 US$/watt, dan biaya energinya adalah Rp 2000,- - Rp 2500,-/kWh.

Energi Angin

Energi Angin
Energi Angin

Energi Angin

Energi Angin
Energi Angin
Energi Angin

Energi Angin

Energi Angin

Energi Angin

Energi Angin

Energi Angin

Energi Angin
Energi Angin
Energi Sel Surya  Indonesia mempunyai radiasi matahari harian rata-rata sebesar 4,8 kWh/m , dan

Energi Sel Surya

Indonesia mempunyai radiasi matahari harian rata-rata sebesar 4,8 kWh/m , dan lama penyinaran lebih kurang 12 jam dalam satu hari, maka sangat potensial sekali untuk dikembangkan energi surya. Energi surya ada dua macam yaitu energi surya fotovoltaik ( menghasilkan listrik ) dan energi surya termal ( menghasilkan panas ). Pemanfaatan surya fotovoltaik terutama untuk penyediaan listrik perdesaan, pompa air, TV, telekomunikasi, kulkas untuk klinik perdesaan,dll. Pemanfaatan surya fotovoltaik sampai saat ini sebesar kurang lebih 6 MW , hal ini termasuk baik proyek penelitian/perconcohan maupun solar home system ( SHS ). Sedangkan untuk surya termal belum ada data yang rinci karena masih dalam skala laboratorium dan pemanas air yang dipasang secara individu di rumah rumah juga tidak ada datanya.

Biaya investasi yang diperlukan ada dua yaitu biaya investasi modul

sebesar 3,5 5,0 US$/Wp dan biaya investasi system sebesar 7,0 10,0 US$/Wp, sedangkan biaya energi berkisar Rp 1000,- - Rp 1500,-/kWh.

Energi Sel Surya

Energi Sel Surya

Energi Sel Surya
Energi Sel Surya

Energi Sel Surya

Energi Sel Surya
Energi Sel Surya

Energi Sel Surya

Energi Sel Surya
Energi Sel Surya
Energi Sel Surya

Energi Sel Surya

Energi Sel Surya
Energi Sel Surya

Energi Sel Surya

Energi Sel Surya

Energi Sel Surya

Energi Sel Surya
Energi Sel Surya

Energi Sel Surya

Energi Sel Surya
Energi Solar Thermal

Energi Solar Thermal

Energi Solar Thermal
Energi Solar Thermal

Energi Solar Thermal

Energi Solar Thermal
Energi Solar Thermal

Energi Solar Thermal

Energi Solar Thermal
Energi Solar Thermal
Energi Solar Thermal

Energi Solar Thermal

Energi Solar Thermal
SEKIAN
SEKIAN
SEKIAN
SEKIAN

SEKIAN

SEKIAN