Anda di halaman 1dari 1

Kita telah lalui masa, kendarai kereta terbang, lintasi tiap sudut cakrawala, da

n tanpa sengaja sampailah di olympia, tempat tinggal venus dewi cinta, di hadapa
nnya kuiris separuh jantungku, lalu kubuang separuh lainnya, kau iris separuh ja
ntungmu, tapi kau simpan separuh lainnya di saku kirimu... masing-masing separuh
jantung kita, direkatkan oleh mantra sang venus, karenanya kita hidup saling te
rgantung satu sama lainnya, segalanya menyatu... ku tak bisa hidup tanpamu, kau
tak bisa hidup tanpaku....
Tapi ketika masa-masa terus berlalu, seiringnya waktu, kita harus berpisah, terl
epaslah separuh jantung kita... dan aku benar-benar membiru, darah seolah tak me
ngalir di urat nadiku, nafasku tersengal-sengal... aku sungguh tersiksa... tapi
mengapa kau biasa-biasa saja? apakah kau rekatkan kembali separuh jantungmu yang
kau simpan? atau ada separuh jantung yang lain menopang separuh jantungmu mengg
antikan jantungku? Sungguh tak adil...
Tapi biarkanlah... karena kutak bisa, menjadi seperti apa yang kau pinta... dan
karena kamulah inti cerita hidupku... dan aku hanya bisa mengenang masa... saat
kau bercerita tentang mimpi... saat kuhamparkan langit malam sebagai secarik ker
tas... dan kau menulis banyak diatasnya... cerita tentang kisah yang kau damba..
. tentang tiap tempat indah di penjuru alam semesta... yang telah kau singgahi b
ersamaku... tentang saat kita tertawa bersama... menangis bersama... tentang jan
ji-janji dan doa...
Hanya kenangan-kenangan itulah yang menemaniku di saat sekaratku... sambil nafas
tersengal-sengal dan otakku kian hipoksia... Karena kehilangan separuh jantungk
u... karenamu... dulu aku lelakimu... dulu... dan dulu telah berlalu...