Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Infeksi malaria sampai saat ini masih merupakan problem klinik di negaranegara berkembang terutama negara yang beriklim tropis, termasuk Indonesia. Di
Indonesia penyakit malaria masih merupakan penyakit infeksi utama di kawasan
Indonesia bagian Timur. Infeksi ini dapat menyerang semua masyarakat, termasuk
golongan yang paling rentan seperti wanita hamil. 1,5
Penyakit malaria disebabkan oleh parasit protozoa dari Genus Plasmodium.
Empat spesies yang ditemukan pada manusia adalah Plasmodium Vivax, P. ovale, P.
malariae dan P. Falciparum. Malaria menyerang individu tanpa membedakan umur
dan jenis kelamin, tidak terkecuali wanita hamil merupakan golongan yang rentan.
Malaria pada kehamilan dapat disebabkan oleh keempat spesies plasmodium, tetapi
Plasmodium Falciparum merupakan parasit yang dominan dan mempunyai dampak
paling berat terhadap morbiditas dam mortalitas ibu dan janinnya. Di daerah endemi
malaria wanita hamil lebih mudah terinfeksi parasit malaria dibandingkan wanita
tidak hamil. Kemudahan infeksi itu terjadi karena kekebalan yang menurun selama
kehamilan. 1
Infeksi malaria pada kehamilan sangat merugikan baik bagi ibu dan janin
yang dikandungnya, karena dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas ibu
maupun janin. Pada ibu menyebabkan anemi, malaria serebral, edema paru, gagal
ginjal bahkan dapat menyebabkan kematian. Pada janin menyebabkan abortus,
persalinan prematur, berat badan lahir rendah, dan kematian janin. Infeksi malaria
pada wanita hamil sangat mudah terjadi karena adanya perubahan sistim imunitas ibu
selama kehamilan, baik imunitas seluler maupun imunitas humoral, serta diduga juga
akibat peningkatan horman kortisol pada wanita selama kehamilan.1,5
Kehamilan akan memperberat penyakit malaria yang diderita, sebaliknya
adanya malaria akan berpengaruh pada kehamilannya dan menyebabkan penyulit
terhadap ibu maupun janin yang dikandungnya. Infeksi pada wanita hamil oleh
parasit malaria ini maupun janin yang dikandungnya. Infeksi pada wanita hamil oleh
parasit malaria ini sangat mudah terjadi, oleh karena adanya perubahan sistem
imunitas ibu selama kehamilan, baik imunitas seluler maupun imunitas humoral,
disamping sebagai akibat peningkatan hormon kortisol, peningkatan volume darah,
retensi air, perubahan keseimbangan asam basa dan perubahan metabolisme
karbohidrat. Oleh karena itu, maka perlu dimengerti bahwa wanita hamil memerlukan

perhatian yang ketat apabila terjadi infeksi malaria selama periode kehamilan,
persalinan maupun nifas. 1

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 PENGERTIAN

Malaria merupakan salah satu penyakit re-emerging yang masih menjadi


ancaman dan sering menimbulkan wabah. Angka kejadian infeksi malaria masih
tinggi terutama di Kawasan Timur Indonesia seperti Papua, Nusa Tenggara Timur,
Maluku, Maluku Utara, dan Sulawesi Utara. 1
Terdapat 4 jenis spesies Plasmodium pada manusia 1:
Plasmodium Falsifarum
Plasmodium Vivaks
Plasmodium Ovale
Plasmodium Malariae
Plasmodium yang banyak ditemukan di Indonesia ialah Plasmodium Falsifarum
dan Plasmodium Vivaks. Pada kehamilan, malaria adalah penyakit infeksi yang
merupakan gabungan antara obstetric, social, dan kesehatan masyarakat dengan
pemecahan multidimensi dan multidisiplin. Morbiditas dan mortalitas ibu hamil yang
menderita malaria tinggi terutama pada primigravida, akan menimbulkan anemia dan
mortalitas perinatal yang tinggi. Infeksi akan lebih berat jika disebabkan plasmodium
falsifarum dan plasmodium vivaks. Selain itu komplikasi yang ditimbulkannya
berbeda pada daerah hiperendemik atau endemic rendah (high or low transmission). 1
Ibu yang non-immune kemungkinan mengalami komplikasi lebih besar.
Sementara itu, untuk ibu yang semi-immune komplikasi yang terjadi adalah terjadi
anemia dan parasitemia pada plasenta, tetapi tidak sampai mengenai janin (angka
kejadian malaria neonatorum adalah 0,003%), tetapi dapat menyebabkan BBLR. 1

2.2 EPIDEMIOLOGI
Angka kesakitan penyakit ini masih cukup tinggi, terutama di daerah Indonesia
bagian timur. Di daerah endemis malaria masih sering terjadi letusan kejadian luar
biasa (KLB) malaria. Di daerah Timika, 20 persen ibu hamil yang melahirkan positif
malaria. Menurut hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2001, 70 juta
penduduk tinggal di daerah endemik malaria dan 56,3 juta penduduk diantaranya
tinggal pada daerah endemik malaria sedang sampai tinggi dengan 15 juta kasus
malaria klinis dan 43 ribu di antaranya meninggal. 1,2
Dari data-data yang lain, jumlah penderita malaria cenderung mengalami
kenaikan pertahunnya. Tahun 2006, wabah malaria dinyatakan sebagai Kejadian Luar
Biasa (KLB) di 7 provinsi, 7 kabupaten, 7 kecamatan, dan 10 desa dengan jumlah
penderita mencapai 1.107 orang, 23 di antaranya meninggal. Tahun berikutnya (2007)

KLB terjadi di 8 provinsi, 13 kabupaten, 15 kecamatan, dan 30 desa, dengan jumlah


penderita mencapai 1.256 orang dan mengakibatkan 74 penderitanya
meninggaldunia. 1,2
Malaria dapat ditularkan melalui transfusi produk darah. Pada bayi, hal ini dapat
terjadi setelah transfusi sederhana. Onset gejala pada neonatus yang terinfeksi oleh
produk darah berkisar dari 13 hingga 21 hari. Reinhardt dan rekannya menemukan
bahwa plasenta terinfeksi pada 45 % wanita primipara dibandingkan dengan 19 %
wanita dengan lima parietas. Kecenderungan ini menuju pada peningkatan resistensi
malaria dengan parietas yang telah ditujukan pada beberapa peningkatan imunitas
yang dapat diperkirakan sesuai dengan peningkatan usia. 1,2

2.3 ETIOLOGI
Malaria adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit Plasmodium yang
masuk ke dalam tubuh manusia, ditularkan oleh nyamuk Anopheles betina (WHO
1981). Empat species Plasmodium penyebab malaria pada manusia adalah sebagai
berikut
3,4
:
1. Plasmodium falcifarum
Sering menjadi malaria cerebral, dengan angka kematian yang tinggi.
Infeksi oleh species ini menyebabkan parasitemia yang meningkat jauh
lebih cepat dibandingkan species lain dan merozoitnya menginfeksi sel
darah merah dari segala umur (baik muda maupun tua). Species ini menjadi
penyebab
50%
malaria
di
seluruh
dunia.
2. Plasmodium vivax.
Species ini cenderung menginfeksi sel-sel darah merah yang muda
(retikulosit) kira-kira 43% dari kasus malaria di seluruh dunia disebabkan
oleh plasmodium vivax.
3. Plasmodium malaria.
Mempunyai kecenderungan untuk menginfeksi sel-sel darah merah yang
tua.
4. Plasmodium ovale.

Prediksinya terhadap sel-sel darah merah mirip dengan Plasmodium vivax


(menginfeksi sel-sel darah muda).
Ada juga seorang penderita terinfeksi lebih dari satu species plasmodium secara
bersamaan. Hal ini disebut infeksi campuran atau mixed infeksi. Infeksi campuran
paling banyak di sebabkan oleh dua species terutama plasmodium falcifarum dan
plasmodium vivax atau plasmodium vivax dan plasmodium malaria. Jarang terjadi
lagi infeksi campuran oleh tiga species sekaligus. Infeksi campuran banyak dijumpai
di wilayah yang tingkat penularan malarianya tinggi. 1,5
Jenis Plasmodium yang banyak ditemukan di Indonesia adalah P. falciparum
dan P.vivax atau campuran keduanya, sedangkan P. malariae hanya ditemukan di
Nusa Tenggara Timur dan P. ovale ditemukan di Papua. 1,5

2.4 IMMUNOPATOLOGI
Secara umum kekebalan terhadap parasit malaria dibagi dalam 2 golongan yaitu
kekebalan alamiah yang sudah ada sejak lahir dan terjadi tanpa kontak dengan parasit
malaria sebelumnya dan kekebalan didapat yang diperoleh setelah kontak dengan
parasit malaria, yang bersifat humoral ataupun seluler. Kekebalan seluler dihasilkan
oleh limfosit T yang cara kerjanya sebagai helper, sel limfosit B dalam
memproduksi zat anti atau melalui makrofag yang dapat membunuh parasit malaria
dalam sel darah. Antigen-antigen parasit merupakan pemicu pelepasan zat-zat tertentu
dari sel-sel pertahanan tubuh yang disebut sitokin. Sitokin dihasilkan oleh makrofag
atau monosit dan limfosit T. Sitokin yang dihasilkan oleh makrofag adalah TNF, IL-1
dan IL-6 sedangkan limfosit T menghasilkan TNF-, IFN-, IL-4, IL-8, IL-10 dan IL12. Sitokin yang diduga banyak berperan pada mekanisme patologi dari malaria
adalah TNF (tumor necrosisfactor). 3
Pada saat seseorang terekspos dengan malaria, maka sel limfosit B akan
membentuk antibodi pada permukaan sporozoit sehingga mencegah invasi parasit
terhadap hepatosit, hanya saja jumlah sporozoit tersebut terlampau banyak sehingga
hanya sebagian saja yang dapat diatasi dan pasien dapat rentan mengalami infeksi
berulang. Untuk mengatasi hal ini diperlukan antibodi dalam jumlah yang banyak.
Sedangkan cara kerja limfosit T yakni dengan mengaktivasi respon dari sel T CD8
pada fase hepatosit, namun tingkat CD8 rendah sehingga masih banyak eritrosit
terinfeksi yang berhasil lolos. 3
Para wanita hamil yang tinggal di daerah yang banyak terdapat malaria berada
dalam risiko tinggi dan risiko tersebut bahkan semakin besar dalam dua bulan setelah

mereka melahirkan. Di masa lalu, kita sering menduga bahwa peningkatan kepekaan
terhadap malaria pada para wanita hamil akan berakhir seiring dengan terjadinya
kelahiran. Ternyata dibandingkan dengan setahun sebelum mereka hamil, para wanita
dalam penelitian ini memiliki kemungkinan sekitar 4 kali lebih besar untuk terjangkit
malaria dalam 60 hari setelah melahirkan. Oleh karena itu para peneliti menyarankan
agar para wanita terus mengkonsumsi obat-obat pencegah malaria yang
direkomendasikan bagi para wanita hamil setidaknya sampai dua bulan setelah
kelahiran. 3,6
Peningkatan risiko bagi malaria selama kehamilan diperkirakan disebabkan oleh
dua faktor. Pertama, parasit-parasit yang menyebabkan malaria cenderung
berakumulasi dalam plasenta (ari-ari). Sebagai tambahan, selama kehamilan, sistem
kekebalan tubuh sang ibu berada dalam tingkat respon yang kurang dari normal. Para
peneliti berpendapat, Insiden serangan malaria yang tinggi selama beberapa bulan
pertama setelah kelahiran memberikan bukti kunci yang mendukung pandangan
bahwa (kekebalan tubuh yang tertekan) merupakan faktor kunci yang terlibat pada
para wanita hamil yang terserang malaria. Para peneliti juga menemukan sebuah
saluran serba guna yang berada di dalam membran atau lapisan luar dari sel-sel darah
merah yang terinfeksi, yang memiliki peran untuk menyuplai nutrisi-nutrisi tersebut
bagi parasit ini. Dan mereka berharap bahwa penyaringan kumpulan bahan-bahan
kimia untuk molekul-molekul yang dapat menghambat saluran-saluran ini akan
mengubahkan obat-obatan baru untuk melawan parasit malaria yang semakin resisten
(kebal) terhadap obat. 3

2.5 PATOGENESIS (siklus hidup malaria)


Penyakit malaria disebabkan oleh parasit malaria, genus plasmodium. Ciri
utama genus plasmodium adalah adanya dua siklus hidup, yaitu 5:
1. Fase Seksual.
Siklus dimulai ketika nyamuk anopheles betina menggigit manusia
dan memasukkan sporozoit yang terdapat pada air liurnya ke dalam aliran
darah manusia. Memasuki sel parenkim hati dan berkembang biak
membentuk skizon hati yang mengandung ribuan merozoit, disebut fase
skizogoni eksoeritrosit karena parasit belum masuk ke dalam sel darah
merah. Lama fase ini berbeda untuk setiap species plasmodium. Pada akhir

fase ini, hati pecah, merozoit keluar lalu masuk ke dalam aliran darah. Fase
eritrosit dimulai saat merozoit dalam darah menyerang sel darah merah dan
membentuk tropozoit. Proses berlanjut menjadi tropozoit, skizon, merozoit.
Setelah dua sampai tiga generasi merozoit terbentuk lalu sebagian berubah
bentuk seksual.
2. Fase Aseksual.
Saat nyamuk anopheles betina mengisap darah manusia yang
mengandung parasit malaria, parasit bentuk seksual masuk ke dalam perut
nyamuk. Selanjutnya menjadi mikrogametosit dan makrogametosit dan
terjadilah pembuahan yang di sebut zigot (ookinet) yang kemudian
menembus dinding lambung nyamuk dan menjadi ookista. Jika ookista
pecah ribuan sporozoit dilepaskan dan mencapai kelenjar air liur nyamuk
dan siap ditularkan jika nyamuk menggigit tubuh manusia.

2.6 MANIFESTASI KLINIS


Gejala utama infeksi malaria adalah demam yang diduga berhubungan dengan
proses skizogoni (pecahnya merozoit/ skizon) dan terbentuknya sitokin dan atau
toksin lainnya. Pada daerah hiperendemik sering ditemukan penderita dengan
parasitemia tanpa gejala demam. Gambaran karakteristik dari malaria ialah demam
periodik, anemi dan splenomegali. Sering terdapat gejala prodromal seperti malaise,
sakit kepala, nyeri pada tulang/otot, anoreksi dan diare ringan. Namun sebenarnya
efek klinik malaria pada ibu hamil lebih tergantung pada tingkat kekebalan ibu hamil
terhadap penyakit itu, sedangkan kekebalan terhadap malaria lebih banyak
ditentukan dari tingkat transmisi malaria tempat wanita hamil tinggal/ berasal, yang
dibagi menjadi 2 golongan besar 3,4,5 :
1. Stable transmission / transmisi stabil, atau endemik (contoh Afrika SubSahara)
Orang-orang di daerah ini terus-menerus terpapar malaria karena sering
menerima gigitan nyamuk infektif setiap bulannya Kekebalan terhadap
malaria terbentuk secara signifikan
2. Unstable transmission / transmisi tidak stabil, epidemik atau non-endemik
(contoh : Asia Tenggara dan Amerika Selatan)

Orang-orang di daerah ini jarang terpapar malaria dan hanya menerima ratarata < 1 gigitan nyamuk infektif/tahun.
Gejala malaria yang tidak umum sering terjadi pada kehamilan, terutama pada
trimester II. Manifestasi klinik umumnya adalah 1,3,4,5:
Panas
Anemia

: umumnya panas tinggi sampai menggigil


: akan menjadi parah pada kehamilan karena hemolisis
dengan akibat asam folat menurun, disamping karena
perubahan pada kehamilan.
Pembesaran lien : umumnya pada trimester II
Pada infeksi yang berat bisa terjadi : ikterus, kejang, kesadaran menurun,
koma, muntah, diare.

2.7 HISTOPATOLOGI
Pada wanita hamil yang terinfeksi malaria, eritrosit berparasit dijumpai di
plasenta sisi maternal dari sirkulasi tetapi tidak di sisi fetal, kecuali pada penyakit
plasenta. Pada infeksi aktif, plasenta terlihat hitam atau abu-abu dan sinusoid padat
dengan eritrosit terinfeksi. Secara histologis ditandai oleh sel eritrosit berparasit dan
pigmen malaria dalam ruang intervilli plasenta, monosit mengandung pigmen,
infiltrasi mononuklear, simpul sinsitial (syncitial knotting), nekrosis fibrinoid,
kerusakan trofoblas dan penebalan membrana basalis trofoblas. Terjadi nekrosis
sinsitiotrofoblas, kehilangan mikrovilli dan penebalan membrana basalis trofoblas
akan menyebabkan aliran darah ke janin berkurang dan akan terjadi gangguan nutrisi
pada janin. Lesi bermakna yang ditemukan adalah penebalan membrana basalis
trofoblas, pengurusan mikrovilli fokal menahun. Bila villi plasenta dan sinus
venosum mengalami kongesti dan terisi eritrosit berparasit dan makrofag, maka aliran
darah plasenta akan berkurang dan ini dapat menyebabkan abortus, lahir prematur,
lahir mati ataupun berat badan lahir rendah. 5

2.8 PENEGAKKAN DIAGNOSA


Anamnesis 1,3,4

Demam, menggigil (dapat disertai mual, muntah diare, nyeri otot, dan
pegal)
Riwayat sakit malaria, tinggal didaerah endemic malaria, minum obat
malaria 1 bulan terakhir, tranfusi darah
Untuk tersangka malaria berat, dapat disertai satu dari gejala dibawah
Gangguan kesadaran
Kelemahan umum
Perdarahan hiung, gusi, saluran cerna, muntah
Warna urin seperti teh tua
Oliguria
Pucat

Pemeriksaan fisik 1,3,4


Tanda vital
Abdomen

: suhu tubuh meningkat, pucat.


: splenomegali, hepatomegali

Pemeriksaan penunjang 1,3,4


Pemeriksaan mikroskopis : sediaan darah (tetes tebal/tipis) untuk
menentukan ada tidaknya parasit malaria, spesies, dan kepadatan
parasit.

2.9 DIAGNOSIS MALARIA PADA KEHAMILAN


Malaria pada kehamilan dipastikan dengan ditemukannya parasit malaria di
dalam : Darah maternal Darah plasenta / melalui biopsi. Gambaran klinik malaria
pada wanita non-imun (di daerah non-endemik) bervariasi dari : Malaria ringan tanpa
komplikasi (uncomplicated malaria) dengan demam tinggi, sampai Malaria berat
(complicated malaria) dengan risiko tinggi pada ibu dan janin (maternal mortality rate
20-50 % dan sering fatal bagi janin). Sedangkan gambaran klinik malaria pada wanita
di daerah endemik sering tidak jelas, mereka biasanya memiliki kekebalan yang
semi-imun, sehingga : Tidak menimbulkan gejala, misal : demam Tidak dapat
didiagnosis klinik. 1,4

Diagnosis klinis (Tanpa Pemeriksaan Laboratorium)

1. Malaria klinis ringan/tanpa komplikasi 5

Pada anamnesis
Harus dicurigai malaria pada seseorang yang berasal dari daerah
endemis malaria dengan demam akut dalam segala bentuk,
dengan/tanpa gejala-gejala lain Adanya riwayat perjalanan ke daerah
endemis malaria dalam 2 minggu terakhir Riwayat tinggal di daerah
malaria Riwayat pernah mendapat pengobatan malaria.

Pada pemeriksaan fisik


Suhu > 37,5 C Dapat ditemukan pembesaran limpa Dapat
ditemukan anemi Gejala klasik malaria khas terdiri dari 3 stadia
yang berurutan, yaitu menggigil (15 60 menit), demam (2-6 jam),
berkeringat (2-4 jam)

Di daerah endemis malaria, pada penderita yang telah mempunyai imunitas


terhadap malaria, gejala klasik di atas tidak timbul berurutan, bahkan tidak semua
gejala tersebut dapat ditemukan. Selain gejala klasik di atas, dapat juga disertai
gejala lain/gejala khas setempat, seperti lemas, sakit kepala, mialgia, sakit perut,
mual/muntah,dan diare. 5
2. Malaria klinis berat/dengan komplikasi
Malaria berat/severe malaria/complicated malaria adalah bentuk malaria
falsiparum serius dan berbahaya, yang memerlukan penanganan segera dan intensif.
Oleh karena itu pengenalan tanda-tanda dan gejala-gejala malaria berat sangat
penting bagi unit pelayanan kesehatan untuk menurunkan mortalitas malaria. 5
Beberapa penyakit penting yang mirip dengan malaria berat adalah meningitis,
ensefalitis, septikemi, demam tifoid, infeksi viral, dll. Hal ini menyebabkan
pemeriksaan laboratorium sangat dibutuhkan untuk menambah kekuatan diagnosis.
WHO mendefinisikan Malaria berat sebagai ditemukannya P. falciparum bentuk
aseksual dengan satu atau beberapa komplikasi/manifestasi klinik berat, yaitu 5 :
1.
2.
3.
4.
5.

Gangguan kesadaran sampai koma (malaria serebral)


Anemi berat (Hb < 5 g%, Ht < 15 %)
Hipoglikemi (kadar gula darah < 40 mg%)
Udem paru / ARDS
Kolaps sirkulasi, syok, hipotensi (sistolik < 70 mmHg pada dewasa
dan < 50 mmHg pada anak-anak), algid malaria dan septikemia.

10

6. Gagal ginjal akut (ARF)


7. Jaundice (bilirubin > 3 mg%)
8. Kejang umum berulang ( >3 kali/24 jam)
9. Asidosis metabolik
10. Gangguan keseimbangan cairan, elektrolit dan asam-basa.
11. Perdarahan abnormal dan gangguan pembekuan darah.
12. Hemoglobinuri
13. Kelemahan yang sangat (severe prostration)
14. Hiperparasitemi
15. Hiperpireksi (suhu > 40 C)
Malaria falsiparum tanpa komplikasi (uncomplicated) dapat menjadi berat
(complicated) jika tidak diobati secara dini dan semestinya.

Diagnosis Laboratorium (dengan Pemeriksaan Sediaan Darah)


Pemeriksaan mikroskopik masih merupakan yang ter-penting pada penyakit
malaria karena selain dapat mengidentifikasi jenis plasmodium secara tepat sekaligus
juga dapat menghitung jumlah parasit sehingga derajat parasitemi dapat diketahui. 1,2,5
Pemeriksaan dengan mikroskop:

Pewarnaan Giemsa pada sediaan apusan darah untuk melihat


parasit
Pewarnaan Acridin Orange untuk melihat eritrosit yang
terinfeksi
Pemeriksaan Fluoresensi Quantitative Buffy Coat (QBC)
Pemeriksaan sediaan darah (SD) tebal dan tipis di
puskesmas/lapangan/rumah sakit digunakan untuk menentukan
nilai ambang parasit dan mengetahui kepadatan parasit (terutama
penderita rawat inap) pada sediaan darah.

Metode diagnostik yang lain adalah 1,2,5:


deteksi antigen HRP II dari parasit dengan metode Dipstick test
uji immunoserologis yang lain, seperti: Tera radio immunologik
(RIA) Tera immuno enzimatik (ELISA)
pemeriksaan genetika dan biomolekuler yang dapat dilakukan
adalah dengan mendeteksi DNA parasit, dalam hal ini urutan
nukleotida parasit yang spesifik, melalui pemeriksaan Reaksi
Rantai Polimerase (PCR).

11

Di daerah yang tidak mempunyai sarana laboratorium dan tenaga mikroskopis,


diagnosis malaria ditegakkan hanya berdasarkan pemeriksaan klinis (anamnesis dan
pemeriksaan fisik) tanpa pemeriksaan laboratorium. 1,2,5

2.10 EFEK PADA KEHAMILAN


Serangan- serangan malaria secara bermakna meningkat 3 sampai 4 kali lipat
pada dua trimester terakhir kehamilan dan 2 bulan pascapartum. Kehamilan
meningkatkan keparahan malaria falsifarum, terutama pada wanita nulipara yang
nonimun. Insidens abortus dan pelahiran preterm meningkat pada wanita hamil yang
mengalami malaria.
Meningkatnya kematian janin mungkin berkaitan dengan infeksi plasenta dan
janin. Lima puluh tahun yang lalu, jones (1950) mendapatkan bahwa parasit memiliki
afinitas terhadap pembuluh desidua dan mungkin menyerang plasenta secara ekstensif
tanda mengenai janin. Ismail dkk (2000) mempelajari 1179 plasenta dari daerah
endemic di Tanzania. Dari jumlah tersebut, 35 persen memperlihatkan parasit, dan
separuh wanita dengan plasenta terinfeksi memperlihatkan hasil negative pada
pemeriksaan apusan darah tepi untuk malaria. Walaupun plasenta jelas terlibat,
infeksi pada neonates jarang terjadi.
Covell (1950) mempelajari hal ini secara mendalam di Afrika dan menyebut
insiden malaria neonates hanya 0,3 persen. Pada wanita nonimun, malaria congenital
dapat terjadi pada hampir 7 persen neonates. Cot dkk (1992) memperlihatkan bahwa
kemoprofilaksis klorokuin menurunkan infeksi plasenta pada wanita terinfeksi yang
asimtomatik menjadi 4 persen di bandingkan dengan 19 persen pada kelompok
control yang tidak diterapi, namun rata-rata berat lahir kedua kelompok tidak
berbeda. 2

Masalah infeksi malaria pada kehamilan 2


Infeksi malaria lebih mudah terjadi pada kehamilan jika dibandingkan
dengan populasi umum. Keadaan ini kemungkinan disebabkan oleh
system imun dan imunitas dapatan terhadap malaria pada ibu hamil
menurun.

12

Pada kehamilan infeksi malaria ada tendensi atipik terutama pada


trimester II yang mungkin disebabkan oleh perubahan hormonal, system
imun, dan hematologic.
Karena perubahan system imun dan hormonal, jumlah parasit 10 kali
lebih tinggi sehingga komplikasi plasmodium falsifarum lebih sering
pada ibu hamil dibandingkan yang tidak hamil.
Malaria karena plasmodium falsifarum pada kehamilan lebih serius dan
mortalitas dua kali lipat dibandingkan dengan perempuan tidak hamil
(13% berbanding 6,5%)
Beberapa obat antimalaria kontraindikasi pada ibu hamil dan bisa
mengakibatkan komplikasi hebat, sehingga lebih sukar memilih obat.
Penanganan komplikasi yang timbul menjadi lebih sulit karena
perubahan fisiologik yang terjadi pada kehamilan.

1. Pada Ibu
Malaria pada ibu hamil dapat menimbulkan berbagai kelainan, tergantung pada
tingkat kekebalan seseotrang terhadap infeksi parasit malaria dan paritas (jumlah
kehamilan). Ibu hamil dari daerah endemi yang tidak mempunyai kekebalan dapat
menderita malaria klinis berat sampai menyebabkan kematian . 5
Di daerah endemisitas tinggi, malaria berat dan kematian ibu hamil jarang
dilaporkan . Gejala klinis malaria dan densitas para sitemia dipengaruhi paritas,
sehingga akan lebuh berat pada primigravida (kehamilan pertama) daripada
multigravida (kehamilan selanjutnya) . 5
Pada ibu hamil dengan malaria, gejala klinis yang penting diperhatikan ialah
demam, anemia, hipoglikemia, edema paru, akut dan, malaria berat lainnya. 5

Demam

Demam merupakan gejala akut malaria yang lebih sering dilaporkan pada ibu
hamil dengan kekebalan rendah atau tanpa kekebalan, terutama pada Primigravida.
Pada ibu hamil yang multigravida dari daerah endemisitas tinggi jarang timbul gejala
malaria termasuk demam, meskipun terdapat parasitemia yang tinggi (8,26).

Anemia

Menurut defenisi WHO, anemia pada kehamilan adalah bila kadar haemoglobin
(Hb) < 11 g/ dl. Gregor (1984) mendapatkan data bahwa penurunan kadar Hb dalam

13

darah hubungannya dengan parasitemia, terbesar terjadi pada primigravida dan


berkurang sesuai dengan penyusunan peningkatan paritas . Van Dongen (1983)
melaporkan bahwa di Zambia, primigravida dengan infeksi P. falciparum merupakan
kelompokyang beresiko tinggi menderita anemia dibandingkan dengan multigravida .
Di Nigeria Fleming (1984) melaporkan bahwa malaria sebagai penyebab
anemia ditemukan pada 40% penderita anemia primigravida. Anemia pada malaria
terjadi karena lisis sel darah merah yang mengandung parasit. Hubungan antara
anemia dan splenomegali dilaporkan oleh Brabin (1990) yang melakukan penelitian
pada wanita hamil di Papua Neu Geuinea, dan menyatakan bahwa makin besar
ukuran limpa makin rendah nilai Hb-nya.
Pada penelitian yang sama Brabin melaporkan hubungan BBLR (berat badan
lahir rendah) dan anemia berat pada primigravida. Ternyata anemia yang terjadi pada
trimester I kehamilan, sangat menentukan apakah wanita tersebut akan melahirkan
bayi dengan berat badan rendah atau tidak karena kecepatan pertumbuhan maksimal
janin terjadi sebelum minggu ke 20 usia kehamilan .
Laporan WHO menyatakan bahwa anemia berpengaruh terhadap morbiditas ibu
hamil, dan secara tidak langsung dapat menyebabkan kematian ibu dengan
meningkatnya angka kematian kasus yang disebabkan oleh pendarahan setelah
persalinan (Post-partum hemorrhage) .

Hipoglikemia

Hipoglikemia juga terdapat sebagai komplikasi malaria, sering ditemukan pada


wanita hamil daripada tidak hamil. Pada wanita hamil terjadi perubahan metabolisme
karbohidrat yang cenderung menyebebkan terjadinya Hipoglikemia, terutama pada
trimester akhir kehamilan.
Dilaporkan juga bahwa sel darah merah yang terinfeksi parasit malaria
memerlukan glukosa 75 kali lebih banyak daripada sel darah merah yang tidak
terinfeksi, sehingga pada penderita dengan hiperparasitemia dapat terjadi
hipoglikemia. Selain daripada itu, pada wanita hamil dapat terjadi hipoglikemia
karena meningkatnya fungsi sel B pankreas, sehingga pembentukan insulin
bertambah.
Seorang menderita hipoglikemia bila kadar glukosa dalam darah lebih rendah
dari 2, 2 m.mol perliter. Mekanisme terjadinya hipoglikemia sangat kompleks dan
belum diketahui secara pasti. Berdasarkan faktor tersebut diatas jelaslah bahwa
wanita hamil yang terinfeksi malaria cenderung untuk menderita hipoglikemia.
Migasena (1983) melaporkan bahwa wanita hamil diantara 6 kasus menderita

14

hipoglikemia dan White (1983) mendapatkan 50% kasus hipoglikemia yang diteliti
ternyata wanita hamil.
Gejala hipoglikemia dapat berupa gangguan kesadaran sampai koma. Bila
sebelumnya penderita sudah dalam keadaan koma karena malaria serebral, maka
komanya akan lebih dalam lagi. Penderita ini bila diinjeksikan glukosa atau diinfus
dengan dekstrosa maka kesadarannya akan pulih kembali, tetapi karena ada
hiperinsulinemia, keadaan hipoglikemia dapat kambuh dalam beberapa hari.

Edema paru akut

Biasanya kelainan ini terjadi setelah persalinan bagaimana cara terjadinya


edema paru ini masih belum jelas kemungkinan terjadi karena autotransfusi darah
post-partum yang penuh dengan sel darah merah yang terinfeksi. Gejalanya, mulamula frekuensi pernafasan meningkat, kemudian terjadi dispenia (sesak nafas) dan
penderita dapat meninggal dalam waktu beberapa jam.

Malaria Berat Lainnya

Menurut WHO, penderita malaria berat adalah penderita yang darah tepinya
mengandung stadium aseksual palsmodium falciparum yang disertai gejala klinik
berat dengan catatan kemungkinan penyakit lain telah disingkirkan.
Gejala klinik dan tanda malaria berat antara lain hiperparasitemia (> 5% sdm
terinfeksi), malaria otak, anemia berat (Hb < 7,1 g/ dl), hiperpereksia (suhu > 40 oC),
edema paru, gaagl ginjal, hipoglikemia, syok (3,21,22). Gejala dan tanda-tanda
malaria tersebut diatas perlu diperhatikan, karena kasus ini memerlukan penanganan
khusus baik untuk keselamatan ibu maupun untuk kelangsungan hidup janinnya.

2. Pada Janin
Terjadinya panas tinggi, fungsi plasenta yang menurun, hipoglikemia, anemia,
dan lainnya menyebabkan mortalitas prenatal dan neonatal 15-70%, terutama karena
plasmodium falcifarum dan plasmodium vivaks. Masalah yang bias terjadi pada
kehamilan adalah abortus, prematuritas, lahir mati, insufisiensi plasenta, pertumbuhan
janin terhambat, dan bayi kecil masa kehamilan. Transmisi plasmodium melalui
plasenta dikatakan dapat menyababkan congenital malaria (< 5%), dengan gejala
antara lain bayi panas, iritabel, problem menyususi, hepatosplenomegali, dan kuning.
1

15

Malaria Plasenta. 5

Plasenta (ari-ari) merupakan organ penghubung antara ibu dan janinnya.


Fungsi plasenta antara lain :

memberi makanan kejanin (nutrisi)


mengeluarkan sisa metabolisme (ekskresi)
memberi O2 dan mengeluarkan CO2
membentuk hormon dan
mengeluarkan anti bodi kejanin (25).

Plasenta juga berfungsi sebagai Barrier (penghalang) terhadap bakteri, parasit


dan virus. Karena itu ibu terinfeksi parasit malaria, maka parasit akan mengikuti
peredaran darah sehingga akan ditemukan pada plasenta bagian maternal. 5
Bila terjadi kerusakan pada plasenta, barulah parasit malaria dapat menembus
plasenta dan masuk kesirkulasi darah janin, sehingga terjadi malaria kongenital.
Beberapa penelitii menduga hal ini terjadi karena adanya kerusakan mekanik,
kerusakan patologi oleh parasit, fragilitas dan permeabilitas plasenta yang meningkat
akibat demam akut dan akibat infeksi kronis. 5
Kekebalan ibu berperan menghambat transmisi parasit kejanin. Oleh sebab itu
pada ibu-ibu yang tidak kebal atau dengan kekebalan rendah terjadi transmisi malaria
intra-uretrin ke janin, walaupun mekanisme transplasental dari parasit ini masih
belum diketahui. 5
Abortus, kematian janin, bayi lahir mati dan prematuritas dilaporkan terjadi
pada malaria berat dan apa yang menyebabkan terjadinya kelainan tersebut diatas
masih belum diketahui. Malaria maternal dapat menyebabkan kematian janin, karena
terganggunya tarnsfer makanan secara transplasental, demam yang tinggi (hiperpireksia) atau hipoksia karena anemia. 5
Kemungkinan lain adalah Tumor Necrosis Factor (TNF) yang dikeluarkan oleh
makrofag bila di aktivasi oleh antigen, merupakan salah satu faktor yang dapat
menimbulkan berbagai Kelainan pada malaria, antara lain demam, kematian janin,
abortus. Umumnya infeksi pada plasenta lebih berat daripada darah tepi. 5

2.11 PENATALAKSANAAN
Obat-obat antimalaria yang sering digunakan tidak dikontraindikasikan bagi
wanita hamil. Beberapa obat antimalaria yang lebih baru memiliki aktivitas antifolat
sehingga secara teoritis dapat berperan menyebabkan anemia megaloblastik. Pada
praktik sebenarnya hal ini tampaknya tidak terjadi. Setidaknya pada satu penelitian

16

oleh Keuter dkk. (1990), nulipara lebih besar kemungkinannya tetap mengalami
parasitemia setelah terapi untuk infeksi falsifarum. Hasil pada ibu lebih buruk apabila
malaria falsifarumnya resisten obat. 2,4
Pengobatan malaria pada kehamilan harus cepat, tepat, dan hati-hati 1,5:
Pasien dengan dugaan malaria karena plasmodium falcifarum sebaiknya
dirawat
Periksa jenis plasmodium untuk member pengobatan yang tepat
Pemeriksaan kesadaran, pucat, kuning, tensi, nadi, temperature, darah
lengkap, fungsi hepar, fungsi ginjal, kadar gula, dan parasite count
Pengawasan ketat keadaan ibu dan janin
Pilih obat berdasarkan : berat ringannya penyakit, hindari obat yang
merupakan kontraindikasi, pilih dosis yang adekuat, beri cairan yang
adekuat, perhatikan nutrisi yang cukup kalori.

2.11.1 Pemberian obat antimalaria 5


Obat antimalaria pilihan untuk malaria berat adalah :
Lini pertama : artemisin parenteral (+ amidokuin + primakuin)
Lini kedua

: kina parenteral (+ primakuin + doksisiklin/tetrasiklin)

Obat antimalaria yang dapat diberikan pada semua trimester antara lain :
klorokuin, kuinin, artesunat/artemeter/arteeter.
Kontraindikasi pada kehamilan : tetrasiklin; primakuin; doksisiklin,
halofantrin.
Lini pertama
Artesunat injeksi untuk penggunaan dirumah sakit atau puskesmas perawatan.
Sediaan 1 ampul berisi 60 mg serbuk kering asam artesunik dilarutkan dalam 0,6 ml
natrium bikarbonat 5 %, diencerkan dalam 3-5 ml dekstrose 5%. Pemberian secara
bolus intravena selama 2 menit. Loading dose : 2,4 mg/kgBB I.V. setiap hari sampai
hari ke 7. Bila penderita sudah dapat minum obat, ganti dengan artesunat oral.

Artemeter untuk penggunaan lapangan atau dipuskesmas. Sediaan : 1 ampul


berisi 80 mg artemeter. Pemberian secara intramuscular selama 5 hari. Dosis

17

dewasa 160 mg (2 ampul) I.M pada hari ke 1, diikuti 80 mg (1 ampul) I.M


pada hari ke 2 sampai ke 5.
Lini kedua

Kuinin (kina) per infuse (drip) : kina 25% dosis 10 mg/kgBB atau 1 ampul (2
ml = 500 mg) dilarutkan dalam 500 ml dekstrose 5 % atau dekstrose dalam
Nacl dalam 8 jam, diulang setiap 8 jam dengan dosis yang sama sampai
penderita bias minum obat, atau dengan dosis yang sama diberikan selama 4
jam kemudian, infuse tanpa obat 4 jam, diulang obat selama 4 jam kemudian
tanpa obat selama 4 jam. Demikian 3 kali dalam 24 jam, sampai penderita
dapat minum obat.

Obat kina maksimum diberikan per infuse selama 3 hari. Kalau belum bias
minum dilanjutkan personde (NGT) sampai 7 hari. Dosis maksimum per hari
2000 mg. bila sudah dapat minum dilanjutkan dengan kina tablet dengan dosis
10 mg/kgBB/kali, 3 kali sehari.

Pengobatan Pencegahan
Pencegahan dimaksud mengurangi resiko terinfeksi malaria, dan bila terinfeksi,
maka gejala kliniknya tidak berat. Obat yang dipakai di Indonesia adalah 1,3 :

Klorokuin
untuk plasmodium Vivaks dosis 5 mg/kgBB/minggu habis makan, diminum 1
minggu sebelum datang ke daerah endemic malaria, sampai 4 minggu setelah
kembali. Diulang kalau kembali kedaerah endemik setelah 3-6 bulan.

Doksisiklin
dipakai pada daerah plasmodium yang resisten terhadap klorokuin. Dosis 1,5
mg/kgBB/hari selama tidak lebih dari 4-6 minggu. Akan tetapi, obat ini
kontraindikasi diberikan pada ibu hamil dan anak-anak.

Penanganan komplikasi 1,3

18

Edema paru akut : hati-hati dalam pemberian cairan, pemberian oksigen jika
diperlukan.
Hipoglikemia : Pemberian dekstrose 25 50 % intravena 50 100 ml, diikuti
dengan drip dekstrose 10 %. Kadar gula di monitor setiap 4 6 jam.
Anemia : Jika Hb kurang dari 5 gr%, transfuse packed cell
Gagal ginjal : Diuretic, pemberian cairan dengan hati-hati, jika perlu dialysis
(gagal ginjal biasanya terjadi karena dehidrasi yang tidak diketahui karena
parasitemia hebat).
Septic shock : Keadaan ini bias terjadi karena infeksi sekunder akibat infeksi
saluran kencing, saluran nafas, dll. Bisa diberikan sefalosforin generasi ketiga.
Exchanged transfusion : Keadaan ini perlu pada infeksi oleh plasmodium
falsifarum berat untuk mengurangi titer parasit dan edema paru membakat.
Darah pasien diambil dan diganti dengan packed cells.

Penanganan persalinan 1,3


Diperlukan penanganan serius terutama pada ibu hamil dengan infeksi
plasmodium falsifarum karena mortalitasnya tinggi. Adanya kegawatan pada ibu dan
janin sering tidak teramati sehingga kondisi ibu dan janin harus diamati dengan ketat
dengan alat bantu. Panas ibu harus dikontrol dan diturunkan dengan obat dan
kompres dingin. Pengawasan cairan masuk dan keluar sangat penting untuk
menghindari kelebihan atau kekurangan cairan.
Jika perlu induksi persalinan atau seksio sesarea dapat dipertimbangkan pada
keadaan tertentu.

2.12 PROFILAKSIS
Hal ini dianjurkan bagi orang yang berpergian ke daerah endemic. Apabila
belum pernah dilaporkan adanya malaria vivax atau falsifarum yang resisten
klorokuin, profilaksis diberikan 1 sampai 2 minggu sebelum yang bersangkutan
masuk ke daerah endemik. Klorokuin, dalam bentuk basa 300 mg, diberikan per oral
sekali seminggu, dan hal ini dilanjutkan sampai 4 minggu setelah kembali ke daerah
nonendemik. Berpergian ke daerah endemic untuk strain resisten klorokuin tidak
dianjurkan pada kehamilan dini; namun setelah itu pasien dapat diberi profilaksis
meflokuin. Obat ini pernah dievaluasi untuk profilaksis pada 339 wanita hamil
dengan usia gestasi diatas 20 minggu dan terbukti 85 persen efektif untuk mencegah

19

malaria falsifarum dan 100 persen untuk malaria vivax. Pada orang yang tidak hamil,
doksisiklin dianjurkan untuk kemoprofilaksis. 5
Saat ini sedang dilakukan evaluasi terhadap beberapa vaksin. Hampir semua
penelitian tentang vaksin difokuskan pada dua dari hampir 6000 protein falsifarum.
Salah satu vaksin protein chimeric, SPF 66, telah diuji di lapangan dan mungkin
efektif 10-30 persen. Murray dkk (2000) memperkirakan bahwa vaksin berlisensi
akan keluar dalam waktu sekitar 5 tahun. 2

2.13 KOMPLIKASI
Terdapat tendensi bahwa komplikasi lebih sering terjadi pada kehamilan dan
lebih berat. Komplikasi yang sering terjadi adalah 4,5:

Hipoglikemia
Kadang-kadang diduga sebagai gejala klinik malaria karena takikardia,
berkeringat, dan pusing. Pada malaria karena plasmodium falsifarum
terutama yang mendapatkan obat kinina, kadar gula darah harus diperiksa
setiap 4-6 jam. Hipoglikemia pada ibu dapat menyebabkan terjadinya
gawat janin tanpa diketahui penyebabnya.

Edema paru
Lebih sering terjadi pada trimester II atau III, tetapi bias juga terjadi
segera pascapersalinan lebih mudah jika terdapat juga anemia. Kalau
demikian, terjadi mortalitas tinggi.

Anemia berat
Sering terjadi pada malaria dalam kehamilan. Anemia dengan kadar
hemoglobin kurang dari 7 gr% sebaiknya ditransfusi dengan packed
cells. (ilmu kebidanan) .

2.13.1 Hubungan antara komplikasi yang terjadi dengan endemisitas


malaria.
Gejala klinik dan berat ringannya malaria berbeda menurut endemisitas atau high
or low transmission. Pada daerah endemic tinggi imunitas bawaan tinggi, sedangkan
mortalitas lebih rendah. 1,5
Strategi pencegahan malaria pada ibu hamil dengan terapi intermitten dan
pemakaian kelambu (insecticide bednest). 1,5

20

Pada daerah endemic rendah resiko infeksi malaria pada perempuan hamil lebih
tinggi sehingga resiko kematian ibu dan abortus 60% lebih tinggi jika dibandingkan
dengan daerah endemic tinggi. Bayi dengan berat lahir rendah akan terjadi meskipun
malaria sudah diobati, tetapi malaria tanpa gejala lebih rendah. Strategi pencegahan
dengan diagnosis awal dan pengobatan. 1,5

2.13.2 Perbandingan terjadinya komplikasi pada derah High and Low


transmission Malaria 1,5

Komplikasi
Hipoglikemia
Anemia berat
Edema paru
Gagal ginjal akut
Panas tinggi
Abortus
Janin kecil masa
kehamilan
Malaria Kongenital
Malaria Plasenta

High
Transmission
+++
+
+++
+++

Low
Transmission
++
+++
++
++
++
+++
+++
+++
+++

2.14 KONTROL MALARIA SELAMA KEHAMILAN


Kemoprofilaksis
Strategi kontrol malaria saat ini untuk kehamilan masih merupakan pemberian
kemoprofilaksis anti malaria yang rutin yaitu klorokuin pada setiap wanita hamil
dalam daerah endemi malaria. Beberapa penelitian menunjukan bahwa
kemoprofilaksis dapat mengurangi anemia pada ibu dan menambah berat badan lahir
terutama pada kelahiran pertama. Resiko malaria dan konsekwensi bahayanya tidak
meningkat selama kehamilan kedua pada wanita yang menerima kemoprofilaksis
selama kehamilan pertama. 5
Pada daerah endemisitas tinggi untuh P. falciparun infeksi malaria selama
kehamilan menyebabkan rendahnya berat bayi lahir merupakan faktor resiko yang
paling besar untuk mortalitas neonatal. 5

21

Kemoprofilaksis yang diberikan selama kehamilan dapat meningkatkan berat


kelahiran rata-rata, terutama pada kehamilan pertama dn menurunkan tingkat
mortalitas bayi kira-kira 20%11. Rata-rata bayi yang dilahirkan pada kehamilan
pertama bagi ibu yang menerima kemoprofilaksis lebih tinggi daripada berat bayi
yang ibunya tidak menerima kemoprofilaksis. Kelahiran mati dan setelah mati lahir
lebih kurang pada bayi dan ibu-ibu yang menerima kemoprofilaksis dibandingkan
denghan bayi dari ibu-ibu yang tidak mendapat kemoprofilaksis. 5

Kemoterapi
Kemoterpi tergantung pada diagnosis dini dan pengobatan klinis segera. Kecuali
pada wanita yang tidak kebal, efektifitas kemoterpi pada wanita hamil tampak kurang
rapi karena pada wanita imun infeksi dapat berlangsung tanpa gejala. Pada wanita
dengan kekebalan rendah, walaupun dilakukan diagnosis dini dan pengobatan segera
ternyata belum dapat mencegah perkembanagan anemia pada ibu dan juga
berkurangnya berat badan lahir bayi. 5

Mengurangi Kontak dengan Vektor


Mengurangi kontak dengan vektor seperti insektisida, pemakaian kelabu yang
dicelup dengan insektisida mengurangi prevalensi parasitemia, khususnya densitas
tinggi, insidens klinis dan mortalitas malaria. Pada wanita hamil di Thailand
dilaporkan bahwa pemakaian kelambu efektif dalam mengurangi anemia maternal
dan parasitemia densitas tinggi, tetapi tidak efektif dalam meningkatkan berat badan
lahir rendah. 5

Vaksinasi
Target vaksin malaria antara lain mengidentifikasi antigen protektif pada ketiga
permukaan stadium parasit malaria yang terdiri dari sporozoit, merozoit, dan
gametosit. Kemungkinan penggunaan vaksin yang efektif selama kehamilan baru
muncul dan perlu pertimbangan yang kompleks. Tiga hal yang perlu dipertimbangkan
dalam penggunaan vaksin untuk mencegah malaria selama kehamilan, yaitu 5 :
Tingkat imunitas sebelum kehamilan
Tahap siklus hidup parasit
Waktu pemberian vaksin15.
Sampai saat ini belum ditemukan vaksin yang aman dan efektif untuk
penanggulangan malaria.

2.15 PROGNOSIS

22

Pada umumnya prognosis pada malaria selama kehamilan baik, karena dapat
ditangani dengan baik. 1

BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Malaria pada kehamilan merupakan masalah yang serius mengingat
pengaruhnya terhadap ibu dan janin, yang bila tidak ditanggulangi secara cepat dan
tepat dapat meningkatkan angka kematian ibu dan neonatus. Masalah diagnosis
malaria menjadi hambatan karena fasilitas laboratorium yang kurang memadai

23

terutama di puskesmas sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan, maka penting


untuk meningkatkan kemampuan diagnosis klinis dan mengenali komplikasi diikuti
dengan pengobatan yang baik dan akurat. 1,2,5
Penanggulangan malaria dalam kehamilan dapat dimulai secara dini melalui
kunjungan ANC dengan memberikan penyuluhan/pendidikan kesehatan tentang
pencegahan malaria dan pengobatan profilaksis bagi yang tinggal di daerah endemis.
1,2,5

Klorokuin masih merupakan obat terpilih untuk pengbatan malaria dalam


kehamilan dan Kina untuk pengobatan malaria berat. Diperlukan sistem pelayanan
kesehatan berjenjang (rujukan) dari puskesmas ke rumah sakit dengan fasilitas yang
memadai untuk menangani kasus-kasus malaria berat dengan komplikasi. 1,2,5

DATAR PUSTAKA
1. Harijanto PN. Malaria. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid III, edisi IV.
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta, 2006.
2. Nugroho A & Tumewu WM. Siklus Hidup Plasmodium Malaria.. Malaria,
Epidemiologi, Patogenesis, Manifestasi Klinis dan Penanganan. Jakarta. Diunduh
dari: www.google.com
3. Pribadi W. Parasit Malaria. Dalam: gandahusada S, Ilahude HD, Pribadi W
(editor). Parasitologi Kedokteran. Edisi ke-3. Jakarta, Fakultas Kedokteran UI,
2000.

24

4. Tjitra E. Obat Anti Malaria. Malaria, Epidemiologi, Patogenesis, Manifestasi


Klinis dan Penanganan. Jakarta. Diunduh dari: www.google.com
5. Departemen Kesehatan RI. Pedoman Penatalaksanaan Kasus Malaria di
Indonesia. Jakarta, 2006.

25