Anda di halaman 1dari 26

PREFERENSI IKAN GATUL TERHADAP SUHU AIR

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Ekologi


yang dibimbing oleh Prof. Dr.Ir.Suhadi,M.Si dan Dr.Ibrohim,M.Si

Disusun Oleh :
Offering G
Kelompok 13
Ipraditiya langgeng P

(130342615328)

Nazilatul Khoiroh

(130342603479)

Nindya Ulfa Wardhani

(130342603493)

Siti Fatkatin

(130342603486)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
S1 BIOLOGI
FEBRUARI 2015

A.

B.

C.

Topik
Preferensi ikan gatul terhadap suhu air
Tujuan
Mengetahui preferensi suhu pada ikan gatul (Poecilia reticulata) terhadap suhu air yang
berbeda-beda.
Dasar Teori
Keberhasilan

suatu

organisme untuk

bertahan

hidup dan bereproduksi

mencerminkan keseluruhan toleransinya terhadap seluruh kumpulan variabel lingkungan


yang dihadapi organisme tersebut Artinya bahwa setiap organisme harus mampu
menyesuaikan diri terhadap kondisi lingkungannya. Adaptasi tersebut berupa respon
morfologi, fisiologis dan tingkah laku. Pada lingkungan perairan, faktor fisik, kimiawi
dan

biologisberperan

dalam

pengaturan

homeostatis

yang

diperlukan. bagi

pertumbuhan dan reproduksi biota perairan (Tunas, 2005).


Suhu merupakan faktor penting dalam ekosistem perairan (Ewusie, 1990).
Kenaikan suhu air dapat

menimbulkan

kehidupan

ikan dan hewan air

lainnya

terganggu (Apriantodan Liviawati, 1992). Menurut Soetjipta (1993), air memiliki


beberapa sifat termal yang unik, sehingga perubahan suhu dalam air berjalan lebih lambat
dari pada udara. Selanjutnya Soetjipta menambahkan bahwa walaupun suhu kurang
mudah berubah di dalam air dari pada di udara, namun suhu

merupakan

faktor

pembatas utama. Oleh karena itu, mahluk akuatik sering memiliki toleransi yang
sempit.
Ikan merupakan hewan ektotermik yang berarti tidak menghasilkan panas
tubuh,sehingga suhu tubuhnya tergantung atau menyesuaikan

suhu lingkungan

sekelilingnya(Hoole et al , dalam Tunas, 2005). Sebagai hewan air, ikan memiliki


beberapa mekanis mefisiologis yang tidak dimiliki oleh hewan darat. Perbedaan habitat
menyebabkan.perkembanga.Organ

ikan

disesuaikan

dengan

kondisi

lingkungan

(Yushinta, 2004) Secara kesuluruhan ikan lebih toleran terhadap perubahan suhu air,
beberapa species mampun hidup pada suhu air mencapai 29oC, sedangkan jenis lain
dapat hidup pada suhu air yang sangat dingin, akan tetapi kisaran toleransi individual
terhadap suhu umumnya terbatas (Sukiya, 2005). Ikan yang hidup di dalam air yang
mempunyai suhu relatif tinggi akan mengalami kenaikan kecepatan respirasi (Kanisius,
1992)

D.

Alat dan Bahan


Alat

Aquarium
Kompartemen
Water bath
Ember
Saringan ikan
Bunser
aerator

Bahan

es batu
korek
karet
ikan gatul fase juvenile,gravit,dan non gravit

E. Cara Kerja

Mempersiapkan ikan gatul dengan di aklimasi pada suhu 20 c.25 c.dan 30


c selama 2*24 jam
Mempersiapkan alat kompertemen dengan mengatur suhu pada alat dengan
es batu dan api dengan seperitus sesuai suhu yang di ukur dengan
termometer
Mengukur dengan thermometer yang di taruh di alat dengan suhu 15c,
17,5c, 20c, 22,5c , 25c, 27,5c ,30c, 32c,5c ,dan 35c sampai suhu sesuai.
Menaruh ikan sebanyak 10 ekor setiap perlakuan dengan fase juvenile,gravit
dan non gravit dengan bergantian pada suhu aklimalisasi yang berbeda-beda
Menulis jumlah ikan pada tiap-tiap suhu selama 2,4,6,8,dan 10 menit

F.

Data Pengamatan

Fase

Wakt

Ulanga

Juvenil
(suhu 25 c)
2

mati

3
4

Ikan
15
17,5

1
2
3

1
Mati
1
2,ma
ti 1

20

22,5

25

27,5

30

32,5

35

C
C C
Mati
4
3
1
10 3

C C

C C

2
1

1
-

1
-

4
2

1
6

2
3
1

2
3
1

10

Gravit

10
Non Gravit
2

6
8

2
3
1
2
3
1
2
3
1
2
3
1
2
3
1
2
3
1
2
1
2
3
1
2
3
1
2
3

Mati
1
2,ma
ti 1
2,ma
ti 1
mati
2
Mati

Mati
1
1
2,ma
ti 1
1
Mati

5
2
1
5
3
5
1
1

1
2
2
1
2
1
1
3
1
4
2
3

5
5
4
6
9
6
5
2
4
3

2
2
3
3
3

1
1
2
1
2
-

1
1
-

1
1
1
3
-

1
2
6
4
3
-

1
1
2
4
2
4
-

2
5

5
-

3
-

2
-

2
3

3
4

4
-

1
-

10

4
Juvenil(su
hu 20 c )

10

Gravit

10
Non Gravit
2

6
8

1
2
3
1
2
3
1
2
3
1
2
3
1
2
3
1
2
3
1
2
3
1
2
3
1
2
3
1
2
3
1
2
3
1
2
3
1
2
3
1
2
3
1

2
3

4
3

4
1

4
-

1
-

1
2
3
1
1
4
2
1
9
1
4
2
3
3
1
3
3
4

1
4
2
1
1
5
1
1
2
2
5
3

4
3
2
2
7
1
1
4
1
4
3
2

1
1

3
3
5
5
3
3
1
1
6
3
2
4
1
3
6
1
2
4
1

4
4
3
3
4
1
1
3
1
4
1
8
2
9
5
-

2
-

4
3
3
1
-

5
4
5
5
1
-

4
2
8
4
-

1
1
3
-

10

2
3
1
2
3
1

2
3
1

2
3
1

Juvenil(su
hu 30 c)

2
3
1

2
3
1

10

Gravit
2

4
6

2
3
1
2
3
1
2
3
1
2
3

2
2
6ma
ti
2mat
i
2ma
ti
2ma
ti
2ma
3
ti
2ma
ti
6ma
ti
2ma
ti
2ma
ti
2ma
ti
-

5
5

2
3
2

5
4
-

2
-

3
-

1
-

7
7
1
1
5
2
2
6
-

1
1
3
5
4
2
4
4

2
2
6
3
4
4
6

1
2
-

1
-

10

Non Gravit 6

10

G.

1
2
3
1
2
3
1
2
3
1
2
3
1
2
3
1
2
3
1
2
3

3
5
2
2
2
5
3

8
7
1
7
3
6
6
3
6
6
2
4
5
4

3
4
3
2
4
3
5
4
5
3

3
3
2
2
1
1
6
-

3
5
2
3
5
2
1
4
-

1
5
3
5
5
1
1
-

5
2
2
1
1
-

1
1
-

3
3
-

Analisis Data

a. Aklimatisasi pada suhu 200C

Berdasarkan hasil pengamatan yang telah didapatkan dapat diketahui tentang jumlah ikan
yang menyebar pada masing-masing tempat dengan suhu yang berbeda. Langkah awal
yang dilakukan adalah melakukan aklimatisasi terhadap suhu 20 0C selama satu hari
sebelumm melakukan praktikum. Langkah selanjutnya yaitu memasukkan air ke dalam
kompartemen, kemudian memasukkan ikan yang telah diaklimatisasi tersebut sebanyak
10 ekor ke dalamnya. Pada ujung yang yang satunya dipanaskan dengan menggunakan
lampu spiritus untuk menaikkan suhu air di dalamnya, sedangkan pada ujung yang
lainnnya ditambah dengan beberapa es batu untuk menurunkan suhu airnya. Pada
sepanjang kompartemen dipasang termometer sebanyak 9 buah untuk mengetahui suhu
air yang ada di sekitarnya. Suhu yang diinginkan yaitu mulai dari 15 0C, 17.50C, 200C,
22.50C, 250C, 27.50C, 300C, 325 0C, dan 350C. Setelah itu dibiarkan selama 2 menit,
dengan ulangan sebanyak tiga kali dan dirata-rata maka hasil yang didapatkan dapat

diketahui dari grafik bahwa jenis ikan juvenil paling banyak berkumpul pada air yang
bersuhu 200C yaitu sebanyak 1 ekor, sedangkan jenis ikan gravit paling banyak
berkumpul pada air yang bersuhu 250C yaitu sebanyak 0 ekor, dan jenis ikan non-gravit
paling banyak brkumpul pada air yang bersuhu 150C yaitu sebanyak 0 ekor. Pada suhu
250C-300C hanya ada jenis ikan gravit saja.
Pada perlakuan berikutnya yang dilakukan sama dengan perlakuan pertama dan dibiarkan
selama 4 menit dengan ulangan sebanyak tiga kali dan setelah dirata-rata dapat
didapatkan hasil bahwa jenis ikan juvenil paling banyak berkumpul pada air yang bersuhu
300C yaitu sebanyak 1 ekor dan yang lainnya menyebar. Sedangkan jenis ikan gravit
paling banyak berkumpul pada air dengan suhu 250C yaitu sebanyak 9 ekor dan pada
jenis ikan no-gravit tersebar merata pada semua suhu kecuali pada air yang bersuhu
32.50C idak ada jenis ikan yang berkumpul.
Perlakuan ketiga sama dengan perlakuan sebelumnya, kemudian didiamkan
selama 6 menit dengan ulangan tiga kali. Setelah dirata-rata data yang didapatkan yaitu
jenis ikan juvenil paling banyak berkumpul pada suhu 20 0Cdan 250C yaitu sebanyak 3
ekor, sedangkkan jenis ikan gravit paling banyak berkumpul pada suhu 35 0C yaitu
sebanyak 3 ekor dan pada ikan jenis non-gravit paling banyak berkumpul pada air dengan
suhu 22.50C yaitu sebanyak 4 ekor. Pada perlakuan ini pada suhu 32.5 0C tidak ditemukan
semua jenis ikan yang berkumpul disana. Sedangkan jenis ikan juvenil tidak ditemukan
pada suhu 22.50C, 300C dan 32.50C. dan jenis ikan gravit tidak ditemukan pada suhu
27.50C 32.50C dan 350C.
Perlakuan ke empat sama dengan perlakuan sebelumnya dan didiamkan selama 8
menit dengan ulangan sebanyak tiga kali. Setelah dirata-rata hasil yang didapatkan yaitu
jenis ikan juvenil oaling banyak berkumpul pada suhu 20 0C dan 350C yaitu sebanyak 2
ekor sedangkan yang lainnya menyebar pada semua suhu dan ada beberapa ekor yang
telah mati. Ikan jenis gravit paling banyak berkumpul pada suhu 25 0C yaitu sebanyak 1
ekor dan jenis ikan non-gravit paling banyak berkumpul pada suhu 250C yaitu sebanyak 2
ekor.

Tabe l has il pe ngamat an pada pe r lak uan s uhu 20C


dalam w ak t u 2 me nit
Juvenil

Gravit

Non-gravit

5
4

3 3
2
1

0 105 0

0
1 70. 5
0

200

22.5

205

0
27.5
0

0300

0
3 20. 5
0

0 305 0

Tabe l has il pe ngamat an pada pe r lak uan s uhu 20C


dalam w ak t u 4 me nit
Juvenil

Gravit

Non-gravit

5
4
3 3 3

2
1

105 0

0
1 70. 5
0

20

0
22.5

250

0
27.5
0

0300

0
3 20. 5
0

0 305 0

Tabe l has il pe ngamat an pada pe r lak uan s uhu 20C


dalam w ak t u 6 me nit
Juvenil

Gravit

Non-gravit

5
4
3

3
2
1

0 105 0

0
1 70. 5
0

20

22.5

025

0
27.5
0

0 300 0

0
3 20. 5
0

0 305 0

Tabe l has il pe ngamat an pada pe r lak uan s uhu 20C


dalam w ak t u 8 me nit
Juvenil

Gravit

Non-gravit
5

4
3

3
2

0 105 0

0
1 70. 5
0

200

2
1

2 20. 5

250

0
27.5

0300

0
3 20. 5
0

0 305 0

Tabe l has il pe ngamat an pada pe r lak uan s uhu 20C


dalam w ak t u 10 me nit
Juvenil
5

Gravit

Non-gravit

4
3
2

150

0
1 70. 5

200

0
22.5
0

205 0

0
27.5
0

0300

0
3 20. 5
0

0 305 0

b. aklimatisasi pada suhu 250C


Berdasarkan hasil pengamatan yang telah didapatkan dapat diketahui tentang
jumlah ikan yang menyebar pada masing-masing tempat dengan suhu yang berbeda.
Langkah awal yang dilakukan adalah melakukan aklimatisasi terhadap suhu 200C selama
satu hari sebelumm melakukan praktikum. Langkah selanjutnya yaitu memasukkan air ke
dalam kompartemen, kemudian memasukkan ikan yang telah diaklimatisasi tersebut
sebanyak 10 ekor ke dalamnya. Pada ujung yang yang satunya dipanaskan dengan
menggunakan lampu spiritus untuk menaikkan suhu air di dalamnya, sedangkan pada
ujung yang lainnnya ditambah dengan beberapa es batu untuk menurunkan suhu airnya.
Pada sepanjang kompartemen dipasang termometer sebanyak 9 buah untuk mengetahui
suhu air yang ada di sekitarnya. Suhu yang diinginkan yaitu mulai dari 15 0C, 17.50C,
200C, 22.50C, 250C, 27.50C, 300C, 325 0C, dan 350C. Setelah itu dibiarkan selama 2 menit,
dengan ulangan sebanyak tiga kali dan dirata-rata maka hasil yang didapatkan dapat
diketahui dari grafik bahwa jenis ikan juvenil paling banyak berkumpul pada air yang
bersuhu 200C yaitu sebanyak 6 ekor, sedangkan jenis ikan gravit paling banyak
berkumpul pada air yang bersuhu 250C yaitu sebanyak 5 ekor, dan jenis ikan non-gravit

paling banyak brkumpul pada air yang bersuhu 150C yaitu sebanyak 5 ekor. Pada suhu
250C-300C hanya ada jenis ikan gravit saja.
Pada perlakuan berikutnya yang dilakukan sama dengan perlakuan pertama dan dibiarkan
selama 4 menit dengan ulangan sebanyak tiga kali dan setelah dirata-rata dapat
didapatkan hasil bahwa jenis ikan juvenil paling banyak berkumpul pada air yang bersuhu
300C yaitu sebanyak 3 ekor dan yang lainnya menyebar. Sedangkan jenis ikan gravit
paling banyak berkumpul pada air dengan suhu 250C yaitu sebanyak 6 ekor dan pada
jenis ikan no-gravit tersebar merata pada semua suhu kecuali pada air yang bersuhu
32.50C idak ada jenis ikan yang berkumpul.
Perlakuan ketiga sama dengan perlakuan sebelumnya, kemudian didiamkan
selama 6 menit dengan ulangan tiga kali. Setelah dirata-rata data yang didapatkan yaitu
jenis ikan juvenil paling banyak berkumpul pada suhu 20 0Cdan 250C yaitu sebanyak 3
ekor, sedangkkan jenis ikan gravit paling banyak berkumpul pada suhu 35 0C yaitu
sebanyak 3 ekor dan pada ikan jenis non-gravit paling banyak berkumpul pada air dengan
suhu 22.50C yaitu sebanyak 4 ekor. Pada perlakuan ini pada suhu 32.5 0C tidak ditemukan
semua jenis ikan yang berkumpul disana. Sedangkan jenis ikan juvenil tidak ditemukan
pada suhu 22.50C, 300C dan 32.50C. dan jenis ikan gravit tidak ditemukan pada suhu
27.50C 32.50C dan 350C.
Perlakuan ke empat sama dengan perlakuan sebelumnya dan didiamkan selama 8
menit dengan ulangan sebanyak tiga kali. Setelah dirata-rata hasil yang didapatkan yaitu
jenis ikan juvenil oaling banyak berkumpul pada suhu 20 0C dan 350C yaitu sebanyak 2
ekor sedangkan yang lainnya menyebar pada semua suhu dan ada beberapa ekor yang
telah mati. Ikan jenis gravit paling banyak berkumpul pada suhu 25 0C yaitu sebanyak 3
ekor dan jenis ikan non-gravit paling banyak berkumpul pada suhu 250C yaitu sebanyak 4
ekor.
Pada perlakuan terakhir dibiarkan selama 10 menit dengan ulangan tiga kali,
setelah dirata-rata didapatkan hasil yaitu jenis ikan juvenil paling banyak berkumpul pada
suhu 200C dan 350C yaitu sebanyak 2 ekor sedangkan yang lainnya menyebar pada semua
suhu. Pada jenis ikan gravit paling banyak berkumpul pada suuhu 250C yaitu sebanyak 3
ekor dan. sedangkan pada jenis ikan non-gravit paling banyak berkumpul pada suhu
250C yaitu sebanyak 4 ekor. Pada suhu 150C dan 320C tidak ditemukan adanya ikan yang

berkumpul disana, pada suhu 27.50C hanya ada jenis ikan gravit sedangkan pada suhu
350C hanya ada jenis ikan juvenil. Berikut ini adalah tabel perbandingan yang
menunjukkan jumlah persebaran ikan pada setiap suhu yang berbeda dengan
menggunakan tiga jenis fase ikan dalam waktu yang ditentukan dengan masing-masing
ulangan sebanyak tiga kali. Dari tabel diatas dapat diketahui persebaran ikan pada suhu
yang berbeda

Tabel hasil pengamatan pada perlakuan suhu 250C dalam waktu 2 menit
7
6
5

Rata-rata jumlah

4
3
2
1
0

15

17.5

20

22.5

25

Juvenil

Gravit

27.5
Non-gravit

30

32.5

35

Suhu
(0C)

Tabel hasil pengamatan pada perlakuan suhu 250C dalam waktu 4 menit
7
6
5
4

Rata-rata jumlah

3
2
1
0

15

17.5

20

22.5
Juvenil

25
Gravit

27.5

30

32.5

35

Non-gravit

Suhu
(0C)

Tabel hasil pengamatan pada perlakuan suhu 250C dalam waktu 6 menit
4.5
4
3.5
3
2.5
2

Rata-rata jumlah

1.5
1
0.5
0

15

17.5

20

22.5
Juvenil

25
Gravit

27.5
Non-gravit

30

32.5

35
Suhu
(0C)

Tabel hasil pengamatan pada perlakuan suhu 250C dalam waktu 8 menit
4.5
4
3.5
3
2.5
2

Rata-rata jumlah

1.5
1
0.5
0

15

17.5

20

22.5
Juvenil

25
Gravit

27.5

30

32.5

Non-gravit

35

Suhu
(0C)

Tabel hasil pengamatan pada perlakuan suhu 250C dalam waktu 10 menit
4.5
4
3.5
3
2.5
2

Rata-rata jumlah

1.5
1
0.5
0

15

17.5

20

22.5
Juvenil

25
Gravit

27.5

30

Non-gravit

32.5

35

Suhu
(0C)

c. aklimatisasi pada suhu 300C


Berdasarkan data pengamatan pada suhu aklimasi 300C didapatkan hasil bahwa pada fase
juvenil menit kedua ikan banyak berkumpul pada suhu 350C pada ulangan kedua, pada suhu

200C ikan rata-rata sama yakni berkumpul pada suhu 20 0C pada ulangan pertama dan kedua.
Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan kedua suhu ini adalah suhu yang paling
banyak dipilih oleh ikan gatul pada fase juvenil. Pada fase gravit ikan gatul banyak berkumpul
pada suhu 22,50C, 250C, 27,50C dan 300C dimana suhu ini adalah berada pada kisaran suhu
normal ruangan dan mendekati hangat. Sedang pada fase non grafit didapatkan hasil bahwa ikan
banyak berkumpul pada suhu 150C, 17,50C dan 350C menunjukkan perbedaan suhu dimana ikan
gatul sama-sama menyukai suhu dingin dan hangat namun ikan pada fase ini lebih menyukai
suhu mulai naik yakni 17,50C karena ikan gatul pada fase ini mencoba untuk memulai
beradaptasi pada suhu yang berbeda.
Berdasarkan data pengamatan pada menit keempat didapatkan hasil bahwa ikan fase
juvenil berada paling banyak pada suhu 30 0C yang merupakan suhu aklimasi ikan ini, hal ini
menandakan bahwa ikan pada fase ini masih belum beradaptasi dengan suhu lain. Pada fase
grafit ditemukan bahwa ikan lebih banyak mendiami suhu kisaran normal seperti suhu ruangan
yakni 250C dan 27,50C. Pada fase non gravit ikan banyak mendiami suhu mendekati dingin yakni
150C, 17,50C dan 200C.
Berdasarkan data pengamatan pada menit ke 6 didapatkan hasil bahwa ikan pada fase
juvenil berada paling banyak pada suhu 350C yang merupakan suhu hangat, dan beberapa juga
mendiami suhu mendekati dingin yakni 17,5 0C dan 200C, hal ini menandakan bahwa ikan pada
fase ini masih mulai beradaptasi dengan suhu lain. Pada fase gravit ditemukan bahwa ikan lebih
banyak mendiami suhu kisaran normal seperti suhu ruangan yakni 25 0C dan 27,50C dan suhu
aklimasinya yakni suhu 300C. Pada fase non gravit ikan banyak mendiami suhu mendekati
dingin yakni 150C, 17,50C dan 200C dan mendekati suhu aklimasinya yakni 27,50C.
Pada hasil pengamatan menit ke 8 didapatkan hasil bahwa ikan pada fase juvenil ternyata
menyukai suhu hangat yakni suhu 350C yang menandakan bahwa ikan pada fase ini telah
beradaptasi pada suhu hangat. Pada fase gravit ternyata didapatkan hasil bahwa ikan lebih senang
mendiami suhu 250C dan 27,50C sedang pada fase non gravit ikan lebih banyak mendiami suhu
17,50C dan 200C yang berarti ikan pada fase ini sudah mulai beradaptasi dengan suhu mulai
dingin.
Pada pengamatan menit ke 10 ternyata didapatkan hasil yang tidak jauh berbeda dengan
pada pengamatan menit ke 8. Ikan pada fase juvenil ternyata juga banyak mendiami suhu hangat
yakni 350C hal ini menandakan bahwa ikan pada suhu ini telah beradaptasi dengan suhu hangat.

Pada fase ikan gravit juga hampir sama yakni ikan lebih suka mendiami suhu 25 0C dan 27,50C.
Sedang pada fase non gravit juga tidak jauh berbeda, ikan pada fase ini juga telah beradaptasi
dengan suhu mulai dingin hingga suhu dingin yakni pada suhu kisaran 15 0C, 17,50C, 200C dan
22,50C. Dari keseluruhan data pengamatan pada suhu aklimasi 30 0C didapatkan hasil bahwa ikan
telah mulai beradaptasi. Hal ini dapat ditunjukkan dengan grafik ikan aklimasi pada suhu 300C.

Grafik pada aklimasi suhu 300C


aklimasi suhu 30 menit ke 2
6
5
4
3
jumlah ikan
juvenil
2
1
0

gravit

15

17.5

20

non gravit

22.5

25

27.5

30

32.5

35

suhu

aklimasi suhu 30 menit ke 4


5
4
3
2
jumlah ikan
juvenil
1
0

gravit

15

17.5

20

non gravit

22.5

25

suhu

27.5

30

32.5

35

aklimasi suhu 30 menit ke 6


6
5
4
3
jumlah juvenil
ikan
2
1

gravit

non gravit

0
15 17.5 20 22.5 25 27.5 30 32.5 35
suhu

aklimasi suhu 30 pada menit ke 8


6
5
4
3
jumlahjuvenil
ikan
2
1
0

gravit

non gravit

15 17.5 20 22.5 25 27.5 30 32.5 35

suhu

aklimasi suhu 30 menit ke 10


8
6
jumlah juvenil
ikan

gravit

non gravit

2
0
15 17.5 20 22.5 25 27.5 30 32.5 35
suhu

H.

Pembahasan
a. Aklimasi pada suhu 200C

Pengaruh suhu terhadap ikan adalah dalam proses metabolisme, seperti pertumbuhan dan
pengambilan makanan, aktivitas tubuh, seperti kecepatan renang, serta dalam rangsangan
saraf. Pengaruh suhu air pada tingkah laku ikan paling jelas terlihat selama pemijahan.
Suhu air laut dapat mempercepat atau memperlambat mulainya pemijahan pada beberapa
jenis ikan. Suhu air dan arus selama dan setelah pemijahan adalah faktor-faktor yang
paling penting yang menentukan kekuatan keturunan dan daya tahan larva pada
spesies-spesies ikan yang paling penting secara komersil. Suhu ekstrim pada daerah
pemijahan (spawning ground) selama musim pemijahan dapat memaksa ikan untuk
memijah di daerah lain daripada di daerah tersebut. Sebagian besar biota laut bersifat
poikilometrik (suhu tubuh dipengaruhi lingkungan) sehingga suhu merupakan salah satu
faktor yang sangat penting dalam mengatur proses kehidupan dan penyebaran organisme.
Terdapat pula zona peralihan antara daerah-daerah ini, tetapi tidak mutlak karena
pembatasannya dapat agak berubah sesuai dengan musim. Organisme perairan seperti
ikan maupun udang mampu hidup baik pada kisaran suhu 20-30C. Perubahan suhu di
bawah 20C atau di atas 30C menyebabkan ikan mengalami stres yang biasanya diikuti
oleh menurunnya daya cerna.
Poecilia reticulata memiliki toleransi ekologi yang luas : eurythermal, euryhaline
dan hipoksia toleran. Poecilia reticulata dapat bertahan hidup pada suhu air sampai 32C
dengan toleransi terbatas pada suhu yang lebih tinggi hingga 36C. Spesies dapat
bereproduksi dengan kekuatan penuh di air laut (35ppt) dan mentolerir salinitas sampai
dengan 58.5ppt.
b. aklimasi pada suhu 250C
Keberhasilan suatu organisme untuk bertahan hidup dan bereproduksi
mencerminkan keseluruhan toleransinya terhadap seluruh kumpulan variabel
lingkungan yang dihadapi organisme tersebut (Campbell. 2004; 288). Artinya bahwa
setiap organisme harus mampu menyesuaikan diri terhadap kondisi lingkungannya.
Adaptasi tersebut berupa respon morfologi, fisiologis dan tingkah laku. Pada
lingkungan perairan, faktor fisik, kimiawi dan biologis berperan dalam pengaturan
homeostatis yang diperlukan bagi pertumbuhan dan reproduksi biota perairan (Tunas.
2005;16). Pada praktikum ini menunjukkan bahwa ikan yang diamati yang masih
dapat brtahan hidup saat diaklimatisasi sebelum diberi perlakuan menunjukkan bahwa

ikan tersebut telah berhasil melakukan adaptasi pada lingkungan buatan yaitu
akuarium yang diatur suhunya menjadi 250C. Hal ini telah sesuai dengan teori di atas
yang menjelaskan bahwa setiap organisme harus dapat menyesuaikan diri terhadap
kondisi lingkungannya. Pada sebelum diberi perlakuan ikan telah diaklimatisasi
dalam suhu 250C selama sehari sebelum praktikum hal ini bertujuan untuk
menjadikan ikan tersebut menyesuaikan dirinya dengan suhu lingkungan 25 0C.
Karena ikan merupakan hewan ektoterm yang berarti tidak menghasilkan panas
tubuh, sehingga suhu tubuhnya tergantung atau menyesuaikan suhu lingkungan
sekelilingnya (Hoole et al, dalam Tunas. 2005; 16).
Setelah diberi perlakuan dengan menggunakan beberapa jenis suhu air yang
berbeda dapat dilihat pada grafik hasil pengamatan bahwa sebagian besar ikan yang
sebelumnya telah diaklimatisasi dalam suhu 250C paling banyak ditemui mereka lebih
suka berkumpul pada suhu kisaran 22.50C-250C dibandingkan pada suhu 150C dan
350C. Hal ini menunjukkan bahwa ikan tersebut sudah mulai menyesuaikan dirinya
terhadap kondisi lingkungan yang sebelumnya, sehingga pada saat diberikan
perlakuan dengan beberapa jenis suhu maka mereka lebih memilih berada pada
lingkungann yang bersuhu hampir sama atau bahkan sama dengan suhu pada
lingkungan sebelumnya. Hasil yang didapatkann ini telah sesuai dengan teori yang
menjelaskan bahwa Ikan merupakan hewan ektotermik yang berarti tidak
menghasilkan panas tubuh, sehingga suhu tubuhnya tergantung atau menyesuaikan
suhu lingkungan sekelilingnya (Hoole et al, dalam Tunas. 2005; 16). Setiap
organisme harus mampu menyesuaikan diri terhadap kondisi lingkungannya. Adaptasi
tersebut berupa respon morfologi, fisiologis dan tingkah laku. Pada lingkungan
perairan, faktor fisik, kimiawi dan biologis berperan dalam pengaturan homeostatis
yang diperlukan bagi pertumbuhan dan reproduksi biota perairan (Tunas. 2005;16).
Akan tetapi ada beberapa ikan yang tidak dapat melakukan adaptasi terhadap
kondisi lingkungannya shingga mereka menjadi lemah, stres, tingkah laku yang tidak
normal atau bahkan mati. Hal ini terjadi karena setiap organisme memiliki kisaran
toleransi berbeda-beda antara satu sama lain. Selain itu memang makhluk akuatik
memiliki toleransi yang sempit. Hal ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa
suhu merupakan faktor penting dalam ekosistem perairan (Ewusie. 1990; 180).
Kenaikan suhu air dapat akan menimbulkan kehidupan ikan dan hewan air lainnya

terganggu (Kanisius. 1992; 22). Menurut Soetjipta (1993; 71), air memiliki beberapa
sifat termal yang unik, sehingga perubahan suhu dalam air berjalan suhu merupakan
faktor pembatas utama, oleh karena itu mahluk akuatik sering memiliki toleransi yang
sempit. Secara keseluruhan ikan lebih toleran terhadap perubahan suhu air suhu air,
seperti vertebrata poikiloterm lain suhu tubuhnya bersifat ektotermik, artinya suhu
tubuh sangat tergantung atas suhu lingkungan (Sukiya.2005;9-10). Ikan memiliki
derajat toleransi terhadap suhu dengan kisaran tertentu yang sangat berperan bagi
pertumbuhan, inkubasi telur, konversi pakan dan resistensi terhadap penyakit (Tunas.
2005;16)
Suhu tinggi tidak selalu berakibat mematikan tetapi dapat menyebabkan
gangguan status kesehatan untuk jangka panjang. Misalnya stres yang ditandai tubuh
lemah, kurus, dan tingkah laku abnormal, sedangkan suhu rendah mengakibatkan
ikan menjadi rentan terhadap infeksi fungi dan bakteri patogen akibat melemahnya
sistem imun (Tunas. 2005;16-17). Pada dasarnya suhu rendah memungkinkan air
mengandung oksigen lebih tingi, tetapi suhu rendah menyebabkan stres
pernafasan pada ikan berupa penurunan laju respirasi dan denyut jantung
sehingga dapat berlanjut dengan pingsannya ikan-ikan akibat kekurangan oksigen.
Dapat diperkirakan bahwa perubahan suhu lingkungan hidup dapat mempengaruhi
proses-proses hayati di dalam tubuh organisme karena proses ini bersifat kimiawi.
Juga suhu lingkungan hidup merupakan faktor dalam distribusi organisme, sedangkan
sifat fisika lingkungan hidup, misalnya viskositas air mempengaruhi suhu. Viskositas
air menurun dengan meningkatnya suhu. Mengingat faktor tersebut suhu merupakan
faktor ekologi yang penting (Koesbiono,1980 dalam Mamangkey, Jack j. 2004).
c. aklimasi pada suhu 300C
Ikan merupakan hewan ektotermik yang berarti tidak menghasilkan panas
tubuh,sehingga suhu tubuhnya tergantung atau menyesuaikan suhu lingkungan
sekelilingnya. Sebagai hewan air, ikan memiliki beberapa mekanisme fisiologis yang
tidak dimiliki oleh hewan darat. Perbedaan habitat menyebabkan perkembangan organorgan ikan disesuaikan dengan kondisi lingkungan. Secara kesuluruhan ikan lebih toleran
terhadap perubahan suhu air, beberapa species mampu hidup pada suhu air mencapai
29oC, sedangkan jenis lain dapat hidup pada suhu air yang sangat dingin, akan tetapi

kisaran toleransi individual terhadap suhu umumnya terbatas. Ikan yang hidup di dalam
air yang mempunyai suhu relatif tinggi akan mengalami kenaikan kecepatan respirasi.
Pengaruh suhu terhadap ikan adalah dalam proses metabolisme, seperti
pertumbuhan dan pengambilan makanan, aktivitas tubuh, seperti kecepatan renang, serta
dalam rangsangan saraf. Pengaruh suhu air pada tingkah laku ikan paling jelas terlihat
selama pemijahan. Suhu air laut dapat mempercepat atau memperlambat mulainya
pemijahan pada beberapa jenis ikan. Suhu air dan arus selama dan setelah pemijahan
adalah faktor-faktor yang paling penting yang menentukan kekuatan keturunan dan
daya tahan larva pada spesies-spesies ikan yang paling penting secara komersil. Suhu
ekstrim pada daerah pemijahan (spawning ground) selama musim pemijahan dapat
memaksa ikan untuk memijah di daerah lain daripada di daerah tersebut. Sebagian besar
biota laut bersifat poikilometrik (suhu tubuh dipengaruhi lingkungan) sehingga suhu
merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam mengatur proses kehidupan dan
penyebaran organisme.
Terdapat pula zona peralihan antara daerah-daerah ini, tetapi tidak mutlak karena
pembatasannya dapat agak berubah sesuai dengan musim. Organisme perairan seperti
ikan maupun udang mampu hidup baik pada kisaran suhu 20-30C. Perubahan suhu di
bawah 20C atau di atas 30C menyebabkan ikan mengalami stres yang biasanya diikuti
oleh menurunnya daya cerna.
Poecilia reticulata memiliki toleransi ekologi yang luas : eurythermal, euryhaline
dan hipoksia toleran. Poecilia reticulata dapat bertahan hidup pada suhu air sampai 32C
dengan toleransi terbatas pada suhu yang lebih tinggi hingga 36C. Spesies dapat
bereproduksi dengan kekuatan penuh di air laut (35ppt) dan mentolerir salinitas sampai
dengan 58.5ppt.
Aklimasi adalah cara yang dilakukan oleh individu untuk mengusahakan agar suatu
organisme dapat beradaptasi dengan lingkungannya yang baru secara cepat pada suatu
kondisi yang dalam pengamatan ini adalah suhu tertentu. Teknik aklimasi pada ikan gatul
dengan suhu tertentu adalah cara kita agar ikan gatul tahan dengan suhu lingkungannya
yang baru dan pada saat pengamatan ikan gatul tidak mati dan dapat secara cepat
beradaptasi dengan suhu yang telah dibuat. Keberagaman hasil ini merupakan bentuk dari
adaptasi ikan gatul dari seluruh fase untuk beradaptasi dengan suhu lingkungannya yang

baru. Pada data pengamatan suhu aklimasi ikan 30 0C menit kedua, empat, enam, delapan
dan menit kesepuluh pada fase ikan juvenil, gravit dan non gravit didapatkan hasil yang
beragam antara ulangan pertama, kedua dan ketiga, keberagaman ini merupakan suatu
bentuk adaptasi dilingkungan yang baru yang dilakukan oleh ikan.
Pada menit kedua fase ikan juvenil banyak terdapat pada suhu 20 0C yang merupakan
suhu paling baik untuk habitat ikan dan suhu 350C yaitu suhu hangat yang merupakan
batas toleransi suhu habitat ikan. Pada fase gravit ikan banyak mendiami suhu 22,5 0C
sampai suhu 300C yang merupakan kisaran suhu baik untuk habitat ikan. Sedang pada
fase terakhir yaitu non gravit ikan lebih mendiami suhu rendah yakni 17 0C sebab ikan
sudah mulai beradaptasi dengan suhu rendah, hal ini menandakan bahwa ikan pada fase
ini telah beradaptasi dengan lingkungan.
Berdasarkan data pengamatan pada menit keempat didapatkan hasil bahwa ikan
fase juvenil berada paling banyak pada suhu 30 0C yang merupakan suhu aklimasi ikan
ini, hal ini menandakan bahwa ikan pada fase ini masih belum beradaptasi dengan suhu
lain. Pada fase grafit ditemukan bahwa ikan lebih banyak mendiami suhu kisaran normal
seperti suhu ruangan yakni 250C dan 27,50C yang merupakan suhu baik untuk hidup ikan.
Pada fase non gravit ikan banyak mendiami suhu mendekati dingin yakni 15 0C, 17,50C
dan 200C yang menandakan bahwa ikan telah beradaptasi dengan lingkungan.
Berdasarkan data pengamatan pada menit ke 6 didapatkan hasil bahwa ikan pada fase
juvenil berada paling banyak pada suhu 350C yang merupakan suhu hangat, dan beberapa
juga mendiami suhu mendekati dingin yakni 17,5 0C dan 200C, hal ini menandakan
bahwa ikan pada fase ini masih mulai beradaptasi dengan suhu lain. Pada fase gravit
ditemukan bahwa ikan lebih banyak mendiami suhu kisaran normal seperti suhu ruangan
yakni 250C dan 27,50C dan suhu aklimasinya yakni suhu 30 0C. Pada fase non gravit ikan
banyak mendiami suhu mendekati dingin yakni 150C, 17,50C dan 200C dan mendekati
suhu aklimasinya yakni 27,50C.
Pada hasil pengamatan menit ke 8 didapatkan hasil bahwa ikan pada fase juvenil
ternyata menyukai suhu hangat yakni suhu 35 0C yang menandakan bahwa ikan pada fase
ini telah beradaptasi pada suhu hangat. Pada fase gravit ternyata didapatkan hasil bahwa
ikan lebih senang mendiami suhu 250C dan 27,50C sedang pada fase non gravit ikan lebih

banyak mendiami suhu 17,50C dan 200C yang berarti ikan pada fase ini sudah mulai
beradaptasi dengan suhu mulai dingin.
Pada pengamatan menit ke 10 ternyata didapatkan hasil yang tidak jauh berbeda dengan
pada pengamatan menit ke 8. Ikan pada fase juvenil ternyata juga banyak mendiami suhu
hangat yakni 350C hal ini menandakan bahwa ikan pada suhu ini telah beradaptasi dengan
suhu hangat. Pada fase ikan gravit juga hampir sama yakni ikan lebih suka mendiami
suhu 250C dan 27,50C. Sedang pada fase non gravit juga tidak jauh berbeda, ikan pada
fase ini juga telah beradaptasi dengan suhu mulai dingin hingga suhu dingin yakni pada
suhu kisaran 150C, 17,50C, 200C dan 22,50C. Dari keseluruhan data pengamatan pada
suhu aklimasi 300C didapatkan hasil bahwa ikan telah mulai beradaptasi.
Dari keseluruhan hasil pengamatan ditemukan data bahwa ikan rata-rata telah
mulai mendiami suhu lain yang menandakan bahwa ikan telah beradaptasi secara cepat
dengan lingkungan yang baru. Ikan mendiami suhu rata-rata berkisar pada suhu 20 0C
hingga 250C yang merupakan suhu paling baik untuk tempat hidup ikan dan suhu 35 0C
yang merupakan batas toleransi ikan dapat hidup. Ikan yang berada pada suhu rendah dan
suhu hangat tergolong diam dan tidak banyak gerakannya, hal ini dikarenakan ikan
mengalami stres. Pada kondisi stres, ikan lebih memilih suhu dingin atau suhu hangat
yang merupakan batas toleransi suhu ikan untuk tetap hidup pada lingkungannya yang
baru.
I.

Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan diatas dapat disimpulkan sebagai berikut.
1. Adanya perlakuan aklimasi yang dilakukan berpengaruh terhadap efek yang
membatasi dan suhu preferendumnya.
2. Pada ikan gatul dengan fase gravid memiliki suhu preferendum yang tidak jauh
berbeda dengan suhu aklimasi dan persebaran pada ikan tersebut dapat dipengaruhi
oleh suhu
3. Ikan gatul dengan fase non gravit memiliki suhu prefrendum yang tidak jauh berbeda
dengan suhu aklimasi yaitu pada suhu 255C dan 30C. Sedangkan sihu aklimasi 205C

kurang signifikan hal tersebut dapat dikarenakan kesalahan praktikan atau tiap
individu memiliki toleransi yang berbeda.
4. Pada ikan gatul dengan fase juvenil memiliki suhu preferendum yang tidak jauh
berbeda dengan suhu aklimasi dan persebaran pada ikan tersebut dapat dipengaruhi
oleh suhu.
J.

Daftar Pustaka

Campbell. 2004. Biologi, Edisi Kelima-Jilid 3. Jakarta. Penerbit ErlanggTunas, Arthama


Ewusie. 1990. Pengantar Ekologi Tropika. Bandung. Penerbit Institut Teknologi Bandung
Kanisius. 1992. Polusi Air dan Udara. Yogjakarta. Penerbis Kanisius
Soetjipta. 1993. Dasar-dasar Ekologi Hewan. Yogjakarta. Penerbit Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan Sugiri
Sukiya. 2005. Biologi Vertebrata. Malang. Penerbit Universitas Negeri Malang
Koesbiono, 1980. Biologi Laut. Fakultas Perikanan Institut Pertanian Bogor.