Anda di halaman 1dari 10

Makalah Empati

Kata Pengantar
Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat
rahmat dan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan makalah empati.
Makalah ini diajukan guna memenuhi tugas mata kuliah Pengembangan Diri dan
Profesi.
Kami menyadari bahwa dalam proses penulisan makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan baik materi maupun cara penulisanya. Namun demikian, kami telah berupaya
dengan segala kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki sehingga dapat selesai dengan
baik dan oleh karenanya, kami menerima masukan, saran, dan usul guna penyempurnaan
makalah ini.
Akhirnya kami berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi seluruh pembaca.

Mataram, 29 Oktober 2012

Penulis

Fakultas Kedokteran Universitas MataramPage 1

Makalah Empati

BAB I
Pendahuluan
A. Latar Belakang

Surabaya - Ada beberapa kejanggalan dalam kasus yang

menimpa Sujianto yang kakinya diamputasi sepihak oleh rumah


sakit tanpa persetujuannya. Kejanggalan itu terjadi sejak Sujianto
masuk dan keluar dari Rumah Sakit Ibu Anak (RSIA) Pusura
Tegalsari.
"Ada banyak kejanggalan dalam kasus malpraktik ini," kata
Yahya, pendamping keluarga Sujianto kepada detiksurabaya.com,
Senin (10/9/2012).Yahya menjelaskan, kejanggalan pertama adalah
kenapa Sujianto dibawa ke RSIA Pusura Tegalsari yang merupakan
rumah

sakit

kecil,

padahal

tindakan

yang

dilakukan

adalah

amputasi. Yang membawa ke rumah sakit di Jalan Tegalsari adalah


Nur Ali. Seorang petugas kesehatan di lingkungan TNI. Yahya
mengatakan, ternyata Nur Ali merupakan tentara berpangkat Serda
yang bekerja sebagai perawat di Rumah Sakit Marinir. Di daerah
asalnya di Desa Karang Gandu, Watu Limo, Trenggalek, Nur Ali
mengaku bekerja sebagai dokter di Surabaya dan dia membuka
praktik di rumahnya. Praktiknya hanya buka selama dia pulang ke
rumahnya yakni Jumat, Sabtu dan Minggu. "Kalau dia bekerja di
rumah sakit Marinir seharusnya Sujianto direkomendasikan ke
rumah sakit itu. Bukan ke rumah sakit yang lain," ujar Yahya.
Pria dengan rambut kuncir ini menambahkan, kejanggalan
kedua

adalah

Sujianto

yang

diamputasi

tanpa

persetujuan

keluarganya. Padahal jika pasien tak setuju, pihak rumah sakit wajib
tidak melakukan tindakan atau kalau tidak mampu bisa merujuknya
ke rumah sakit yang mempunyai peralatan yang lebih memadai.
Kejanggalan ketiga adalah Sujianto dipulangkan sehari setelah
diamputasi. Padahal pasien dengan tindakan tersebut seharusnya
masih harus beristirahat di rumah sakit. Kejanggalan berikutnya
Fakultas Kedokteran Universitas MataramPage 2

Makalah Empati
adalah tidak diberinya obat saat Sujianto meninggalkan rumah
sakit. Dan kejanggalan terakhir adalah tidak ada nama dokter yang
mengoperasi Sujianto di daftar nama dokter yang ada di ruang
tunggu ."Dokter yang mengoperasi ada 3 yakni Jimmy sebagi dokter
ortopedi, Arif Basuki sebagai dokter anestesi dan David yang kami
tidak tahu dia dokter apa. Dokter itu dibantu oleh Nur Ali yang turut
terlibat dalam operasi," jelas Yahya.

B. Tujuan

Secara

umum

makalah

empati

ini

bertujuan

untuk

memberikan pengetahuan bagi mahasiswa tentang pentingnya


empati dan keterkaitanya dengan komunikasi efektif. Sehingga
mahasiswa dapat mengaplikasikan empati dan komunikasi efektif
saat menjadi dokter nanti.

BAB II
Fakultas Kedokteran Universitas MataramPage 3

Makalah Empati

ISI
Dalam kasus yang telah diterangkan di atas, masalah yang paling utama adalah tidak
adanya komunikasi yang efektif antara dokter dan pasien sehingga penangkapan dan maksud
dokter berbeda dengan yang dimengerti oleh keluarga pasien. Selain itu empati tentang
kondisi pasien juga menjadi faktor dalam kasus kali ini.
Pengertian komunikasi efektif sendiri yaitu komunikasi yang mampu menghasilkan
perubahan sikap (attitude change) pada orang lain yang bisa terlihat dalam proses
komunikasi.
Tujuan dari komunikasi efektif sebenarnya adalah memberikan kemudahan dalam memahami
pesan yang disampaikan antara pemberi informasi dan penerima informasi sehingga bahasa
yang digunakan oleh pemberi informasi lebih jelas dan lengkap, serta dapat dimengerti dan
dipahami dengan baik oleh penerima informasi, atau komunikan. Tujuan lain dari komunikasi
efektif adalah agar pengiriman informasi dan umpan balik atau feed back dapat seimbang
sehingga tidak terjadi monoton. Selain itu komunikasi efektif dapat melatih penggunaan
bahasa nonverbal secara baik.
Menurut Mc. Crosky Larson dan Knapp mengatakan bahwa komunikasi yang efektif
dapat dicapai dengan mengusahakan ketepatan (accuracy) yang paling tinggi derajatnya
antara komunikator dan komunikan dalam setiap komunikasi. Komunikasi yang lebih efektif
terjadi apabila komunikator dan komunikan terdapat persamaan dalam pengertian, sikap, dan
bahasa. Komunikasi dapat dikatakan efektif apabila komunikasi yang dilakukan memenuhi :
1. Pesan dapat diterima dan dimengerti serta dipahami sebagaimana yang dimaksud oleh
pengirimnya
2. Pesan yang disampaikan oleh pengirim dapat disetujui oleh penerima dan
ditindaklanjuti dengan perbuatan yang diminati oleh pengirim
3. Tidak ada hambatan yang berarti untuk melakukan apa yang seharusnya dilakukan
untuk menindaklanjuti pesan yang dikirim.
Untuk dapat terciptanya komunikasi efektif ada hal yang perlu
diperhatikan yaitu CARE.

Comfort (Nyaman)
Dokter harus dapat membuat pasien nyaman sehingga pasien tidak
sungkan untuk menceritakan keluhannya.
Acceptance (Penerimaan)

Fakultas Kedokteran Universitas MataramPage 4

Makalah Empati
Kesediaan dokter untuk menghargai dan menerima apa adanya
sikap dan sifat pasien. Hal ini sangat penting untuk membangun

komunikasi yang efektif.


Responsiveness (Tanggap)
Tanggap terhadap keluhan pasien dan mempu memberikan solusi

terhadap pasien.
Empathy (Empati)
Kemampuan kita untuk menempatkan diri kita pada situasi atau
kondisi yang dihadapi oleh orang lain. Salah satu prasyarat utama
dalam memiliki sikap empati adalah kemampuan kita untuk
mendengarkan atau mengerti terlebih dulu sebelum didengarkan
atau dimengerti oleh orang lain.

Dalam Standar Kompetensi Dokter Indonesia, terdapat 7 area kompetensi


yang harus dimiliki seorang dokter

sehingga tidak terjadi malpraktek

yaitu :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Komunikasi efektif
Keterampilan Klinis
Landasan Ilmiah Ilmu Kedokteran
Pengelolaan Kesehatan Masyarakat
Pengelolaan Informasi
Mawas diri dan pengembangan diri
Etika, moral, dan medikolegal dan profesionalisme serta
keselamatan pasien

Selain hal di atas yang perlu diperhatikan untuk menceggah terjadi kasus
di atas adalah mengerti tentang hak dan kewajiban dokter pasien.
Pasien
Hak atas informasi mengenai dirinya

Dokter
Hak untuk mendapat informasi yang

Hak atas rahasia medik

benar
Hak untuk melakukan pemeriksaan

Hak atas isi rekam medik


Hak untuk memilih dokter
Hak untuk memperoleh sarana

fisik dan mental


Hak untuk menegakan diagnosis
Hak untuk menyusun prognosis
Hak untuk memimpin pelayanan

kesehatan
Hak untuk memperoleh pendapat

kesehatan
Hak untuk merawat dan melakukan

kedua
Hak untuk menghentikan

rehabilitasi
Hak untuk mendapatkan honor

Fakultas Kedokteran Universitas MataramPage 5

Makalah Empati
pengobatan dan tindak medik
Kewajiban pasien dan dokter :
Pasien
Memberikan informasi yang jujur
Memberi kesempatan pada dokter

Dokter
Menghormati hak pasien
Memberikan informasi yang berkaitan

untuk pemeriksaan mental maupun

dengan tindakan medis tertentu yang

fisik
Mematuhi nasihat dokter
Mematuhi cara cara pengobatan

akan dilakukan
Menjaga rahasia pasien
Meminta persetujuan pasien untuk

Mematuhi syarat syarat pengobatan

tindakan medis yang akan dilakukan


Membuat dan memelihara rekam
medik

Beberapa pasal dalam KODEKI yang mengharuskan seorang dokter


bersikap baik terhadap pasien, antara lain :
I.

KODEKI pasal 7a tentang Kewajiban Umum Dokter disebutkan


bahwa :
Seorang

dokter

memberikan

harus,

dalam

setiap

praktik

medisnya,

pelayanan

medis

yang

kompeten

dengan

kebebasan teknis dan moral sepenuhnya, disertai rasa kasih


sayang
II.

(compassion)

dan

penghormatan

atas

martabat

manusia.
KODEKI pasal 7c tentang Kewajiban Umum Dokter disebutkan
bahwa :
Seorang dokter harus menghormati hak-hak pasien, hak-hak
sejawatnya, dan hak tenaga kesehatan lainnya, dan harus
menjaga kepercayaan pasien.

Pasal 1365 KUH PERDATA : Tiap perbuatan melanggar hukum, yang


membawa kerugian kepada orang lain, mewajibkan orang yang
karena salahnya menerbitkan kerugian itu, menggantinya.
Pasal 1366 KUH PERDATA : Juga akibat kelalaian
Pasal 1367 KUH PERDATA : Juga respondeat superior
Pasal 55 UU KESEHATAN : Setiap orang berhak atas ganti rugi akibat
kesalahan atau kelalaian yang dilakukan tenaga kesehatan.

Fakultas Kedokteran Universitas MataramPage 6

Makalah Empati
Selain itu dokter juga memiliki sumpah yang harus dia pegang selama
masih berprofesi sebagai dokter. Yang isinya sebagai berikut:

Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan perikemanusiaan

Saya akan memberikan kepada guru-guru saya penghormatan dan pernyataan terima
kasih yang selayaknya

Saya akan menjalankan tugas saya dengan cara yang berhormat dan bermoral tinggi,
sesuai dengan martabat pekerjaan saya

Kesehatan penderita senantiasa akan saya utamakan

Saya akan merahasiakan segala sesuatu yang saya ketahui karena pekerjaan saya dan
karena keilmuan saya sebagai dokter

Saya akan memelihara dengan sekuat tenaga martabat dan tradisi luhur jabatan
kedokteran

Saya akan memperlakukan teman sejawat saya sebagaimana saya sendiri ingin
diperlakukan

Dalam menunaikan kewajiban terhadap penderita, saya akan berikhtiar dengan


sungguh-sungguh supaya saya tidak terpengaruh oleh pertimbangan keagamaan,
kebangsaan, kesukuan, politik kepartaian, atau kedudukan sosial

Saya akan menghormati setiap hidup insani mulai dari saat pembuahan

Sekalipun diancam, saya tidak akan mempergunakan pengetahuan kedokteran saya


untuk sesuatu yang bertentangan dengan hukum perikemanusiaan

Saya ikrarkan sumpah ini dengan sungguh-sungguh dan dengan mempertaruhkan


kehormatan diri saya

Dari penjelasan di atas dapat kita ketahui bahwa setiap pasien dan
dokter memiliki hak dan kewajibannya masing-masing, serta terdapat
Fakultas Kedokteran Universitas MataramPage 7

Makalah Empati
peraturan dan sanksi apabila melanggar salah satu dari peraturan
tersebut. Dalam kasus ini dokter serta instansi kesehatan melanggar
peraturan pada pasal 7a dan 7c. Pada pasal 7a telah dijelaskan bahwa
seorang dokter harus memberikan pelayanan medis yang kompeten
disertai rasa kasih sayang dan penghormatan, akan tetapi dalam kejadian
pasien yang masih harus mendapatkan perawatan diminta untuk pulang
hal ini tentunya bertentangan dengan pasal 7a. Selain itu dokter dan
instansi tidak memberikan hak rekam medic terhadap pasien, hal ini
tentunya melanggar pasal 7c tentang melindungi hak-hak pasien.
Tidak hanya itu dari penjelasan di atas dapat kita simpulkan bahwa
dokter dalam kasus di atas juga telah melanggar beberapa aturan dalam
7 area kompetensi dokter yang diatur dalam SKDI, yaitu komunikasi
efektif dan etika, moral, medikolegal, profesionalisme, dan keselamatan
pasien. Dokter tersebut sama sekali tidak menunjukkan rasa empati,
dokter dan instansi kesehatan tersebut tersebut tidak memikirkan
keadaan dan perasaan pasien yang menyuruh pasien pulang sebelum
waktunya. Sedangkan dokter itu juga telah melanggar sumpahnya
sebagai seorang dokter yang akan melindungi pasien. Untuk itu pasien
dapat menuntut baik dokter maupun instansi kesehatan terkait sesuai
dengan pasal-pasal yang telah disebutkan di atas.

Fakultas Kedokteran Universitas MataramPage 8

Makalah Empati

BAB III
Penutup
Kesimpulan
Komunikasi efektif dan berempati yang baik mampu meghindarkan
kesalahpahaman antara dokter, pasien maupun instansi kesehatan yang
menimbulkan dugaan malpraktek. Adanya undang-undang dan sumpah
dokter diharapkan dokter tidak semena-mena terhadap pasien dan
mampu

mempertanggungjawabkan

segala

terhadap pasiennya.

Fakultas Kedokteran Universitas MataramPage 9

tindakan

yang

dilakukan

Makalah Empati

Daftar Pustaka
Amin, Ahmad. (1983). Ethics (Moral Sciences). Jakarta: NV Crescent and
Star
H, Ivander Benedict. 2011. Komunikasi dan Empati. Jakarta: Universitas
Kristen Krida Wacana.
Hanafiah J, Amir A. Etika Kedokteran & Hukum Kesehatan, Ed. 4. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2007:3.
Joseph Ilmoe. (1997). Difference Empathy Judging from Sex and Students
Study Program FIP. London: Research Repor
Kejanggalan Kasus Amputasi.
available
http://surabaya.detik.com/read/2012/09/10/195651/2014116/466/.
26 Oktober 2012.

on
Akses

T, Suprapto. Pengantar Teori dan Manajemen Komunikasi. Yogyakarta: Media Pressindo.


2009:15.

Fakultas Kedokteran Universitas MataramPage 10