Anda di halaman 1dari 12

PENDAHULUAN

Parafilia adalah sekelompok gangguan yang mencakup ketertarikan seksual


terhadap objek yang tidak wajar atau aktivitas seksual yang tidak pada umumnya. Dengan
kata lain, terdapat deviasi (para) dalam ketertarikan seseorang (filia). Parafilia (paraphilia)
diambil dari bahasa Yunani yaitu para yang artinya "pada sisi lain", dan philos artinya
"mencintai" (Nevid JS et al, 2005). Parafilia adalah gangguan seksual yang ditandai oleh
khayalan seksual yang khusus dan desakan serta praktek seksual yang kuat, biasanya
berulang kali dan menakutkan (Sadock BJ et al, 2010).
Parafilia adalah stimulasi seksual atau tindakan yang menyimpang dari kebiasaan
seksual normal, namun bagi beberapa orang, tindakan menyimpang ini penting untuk
mendapatkan rangsangan seksual dan orgasme. Individu seperti ini mampu mendapatkan
pengalaman dalam kenikmatan seksual, namun mereka tidak memiliki respon terhadap
stimulasi yang secara normal dapat menimbulkan gairah seksual. Orang-orang dengan
parafilia terbatas pada stimulasi atau tindakan spesifik yang menyimpang (Sadock BJ et al,
2010).
Parafilia merupakan suatu tindakan bagi sebagian orang untuk melepaskan energy
seksual atau frustrasi mereka. Biasanya tindakan ini diikuti dengan gairah dan orgasme dan
dicapai dengan masturbasi dan fantasi. Gangguan ini kurang dikenali oleh masyarakat dan
sering sulit untuk diobati. Hal ini karena orang yang memiliki gangguan ini
menyembunyikan masalah mereka disebabkan oleh perasaan rasa bersalah, malu dan
sering tidak bekerjasama dengan profesi medis (Bannon GE et al, 2008). Parafilia yang
dialami oleh seseorang dapat merupakan parafilia dengan kebiasaan mendekati normal
sampai kebiasaan yang merusak atau menyakiti dirisendiri ataupun diri sendiri dan
pasangan, dan pada akhirnya menjadi kebiasaan yang dianggap merusak dan mengancam
komunitas yang lebih luas (Sadock BJ et al, 2010). Psikopatologis parafilia tidak sama
dengan psikologis perilaku normative seksual dan fantasi seksual orang dewasa pada
umumnya. Kegiatan konsensual orang dewasa dan hiburan yang mungkin melibatkan
beberapa aspek roleplay seksual atau aspek fetishisme seksual tidak selalu dipastikan
sebagai kegiatan parafilia.

ISI

A. Klasifikasi
Klasifikasi berdasarkan DSM-5, gangguan seksual masuk ke dalam paraphilic
disorders (Maslim R, 2013):
Voyeuristic disorder
Exhibitionistic disorder
Frotteuristic disorder
Sexual masochism disorder
Sexual sadism disorder
Pedophilic disorder
Fetishistic disorder
Trasvertic disorder
Other specified paraphilic disorder
Unspecified paraphilic disorder
Klasifikasi berdasarkan PPDGJ-III, gangguan preferensi seksual masuk ke dalam F65:

F65.0 Fetihisme

F65.1 Tranvetisme Fetihistik

F65.2 Ekshibisionisme

F65.3 Voyeurisme

F65.4 Pedofilia

F65.5 Sadomasokisme

F65.6 Gangguan Preeferensi Seksual Multipel

F65.8 Gangguan Preferensi Seksual Lainya

F65.9 Gangguan Preferensi Seksual YTT

B. Epidemiologi
Parafilia dipratekkan oleh sejumlah kecil populasi. Tetapi, sifat gangguan yang
berulang menyebabkan tingginya frekuensi kerusakan akibat tindakan parafilia. Di
antara kasus parafilia yang dikenali secara hukum, pedofilia adalah jauh lebih sering
dibandingkan yang lainnya. Voyeurisme memiliki resiko yang tidak besar. Sekitar 20%
wanita dewasa telah menjadi sasaran orang dengan ekshibisionisme dan voyeurisme.
Masokisme seksual dan sadisme seksual kurang terwakili dalam perkiraan prevalensi
yang ada. Zoofilia merupakan kasus yang jarang.

Menurut definisinya, parafilia adalah kondisi yang terjadi pada laki-laki. Lebih dari
80% penderita parafilia memiliki onset sebelum usia 18 tahun. Pasien parafilia umunya
memiliki 3 sampai 5 parafilia baik yang bersamaan atau pada saat terpisah. Kejadian
perilaku parafilia memuncak pada usia antara 15 dan 25 tahun, dan selanjutnya
menurun. Parafilia jarang terjadi pada pria umur 50 tahun, kecuali mereka tinggal
dalam isolasi atau teman yang senasib.
Tabel 1. Frekuensi Tindakan Parafilia yang dilakukan oleh Pasien Parafilia yang mencari
Terapi Rawat Jalan (Sadock BJ et al, 2010)

Kategori Diagnostik
Pedofilia
Eksibisionisme
Veyorisme
Frotteurisme
Masokisme seksual
Transvestik Fetishisme
Sadisme seksual
Fetishisme
Zoofilia

Pasien Parafilia dalam


Terapi Rawat Jalan (%)
45
25
12
6
3
3
3
2
1

C. Etiologi
1. Faktor Psikososial
Dalam model psikoanalitik klasik, seseorang dengan parafilia adalah orang
yang gagal untuk menyelesaikan proses perkembangan normal ke arah penyesuaian
heteroseksual, tetapi model tersebut telah dimodifikasi oleh pendekatan
psikoanalitik. Kegagalan menyelesaikan krisis oedipus dengan mengidentifikasi
aggressor ayah (untuk laki-laki) atau aggressor ibu (untuk perempuan)
menimbulkan baik identifikasi yang tidak sesuai dengan orang tua dengan jenis
kelamin berlawanan atau pilihan objek yang tidak tepat untuk penyaluran libido.
Eksibisionisme dapat merupakan suatu upaya menenangkan kecemasan mereka
akan kastrasi (Sadock BJ et al, 2010). Kecemasan kastrasi membuat eksibisionis
meyakinkan diri sendiri tentang maskulinitasnya dengan menunjukkan kelakilakiannya kepada orang lain (Davison GC et al, 2006).
Apa yang membedakan satu parafilia dengan parafilia lainnya adalah
metode yang dipilih oleh seseorang (biasanya laki-laki) untuk mengatasi
kecemasan yang disebabkan oleh: (1) kastrasi oleh ayah dan (2) perpisahan dengan
ibu. Bagaimanapun kacaunya manifestasi, perilaku yang dihasilkan memberikan

jalan keluar untuk dorongan seksual dan agresif yang seharusnya telah disalurkan
kedalam perilaku seksual yang tepat.
Berdasarkan teori ini terdapat beberapa penyebab parafilia. Freud dan
koleganya

mengajukan bahwa beberapa

parafilia

dapat disebabkan oleh

penyimpangan dari fase courtship. Normalnya, fase ini akan berujung pada proses
mating pada pria dan wanita. Fase ini dimulai dari masa remaja dan dengan/ tanpa
adanya sexual intercourse pada tahap awal perkembangan seksual.
Fase Definitif Courtship
a)
Locating partner potensial fase inisial dari courtship.
b)

Pretactile interaction berbicara, main mata dst.

c)

Tactile interaction memegang, memeluk, dst. (foreplay).

d)

Effecting genital union sexual intercourse .


Teori lain mengaitkan timbulnya parafilia dengan pengalaman diri yang

mengondisikan atau mensosialisasikan anak melakukan tindakan parafilia. Awitan


tindakan parafilia dapat terjadi akibat orang meniru perilaku mereka berdasarkan
perilaku orang lain yang melakukan tindakan parafilia, meniru perilaku seksual
yang digambarkan media, atau mengingat kembali peristiwa yang memberatkan
secara emosional di masa lalu. Teori pembelajaran menunjukkan bahwa karena
mengkhayalkan minat parafilia dimulai pada usia dini dan karena khayalan serta
pikiran

pribadi

tidak

diceritakan

kepada

orang

lain,

penggunaan

dan

penyalahgunaan khayalan dan dorongan parafilia terus berlangsung tanpa hambatan


sampai usia tua (Sadock BJ et al, 2010).
2. Faktor Biologis
Beberapa studi mengidentifikasi temuan organik abnormal pada orang
dengan parafilia. Di antara pasien yang dirujuk ke pusat medis besar, yang memiliki
temuan organik positif mencakup 74 % pasien dengan kadar hormone abnormal, 27
% dengan tanda neurologi yang ringan atau berat, 24 % dengan kelainan
kromosom, 9 % dengan kejang, 9 % dengan disleksia, 4 % dengan EEG abnormal,
4 % dengan gangguan jiwa berat, 4 % dengan cacat mental. Tes psikofisiologis
telah dikembangkan untuk mengukur ukuran volumemetrik penis sebagai repon
stimulasi parafilia dan nonparafilia. Prosedur dapat digunakan dalam diagnosis dan
pengobatan, tetapi memiliki keabsahan diagnostik yang diragukan karena beberapa
laki-laki dapat menekan respon erektilnya (Sadock BJ et al, 2010).
Karena sebagian besar orang yang mengidap parafilia adalah laki-laki,
terdapat spekulasi bahwa androgen berperan dalam gangguan ini. Berkaitan dengan

perbedaan dalam otak, suatu disfungsi pada lobus temporalis dapat memiliki
relevansi dengan sejumlah kecil kasus eksibisionisme (Davison GC et al, 2006).
3. Teori Behavioural (Kelakuan)
Berdasarkan teori ini, parafilia disebabkan oleh proses conditioning. Jika
objek nonseksual dipakai sering dan diulang-ulang untuk aktivitas seksual maka akan
mengakibatkan objek tersebut menjadi sexually arousing. Tidak harus dengan adanya
dorongan positif tapi bisa disebabkan oleh dorongan negatif. Misalnya jika anak lakilaki suka membanggakan penisnya ketika ereksi maka ibunya akan memarahinya,
akibat dari itu, anak merasa bersalah dan malu dengan kelakuan seksual normal.
Pedofilia, ekshibisionisme dan vouyerisme merupakan akibat dari perilaku
yang beresiko dilakukan secara berulang-ulang. Conditioning bukan satu-satunya hal
yang berperan pada perkembangan parafilia. Hal yang juga berpengaruh adalah
kepercayaan diri yang rendah. Ini sering dijumpai pada pasien parafilia (Nevid JS et
al 2005).
4. Teori Dawkin (Teori Transmisi Gen)
Parafilia dipengaruhi oleh lingkungan dan genetik. Contohnya kebanyakan
orang akan mendapatkan orgasme yang pertama pada prepubertas tetapi ada
beberapa orang dapat terjadi sebelum periode prepubertas. Ada sedikit orang yang
tanpa adanya stimulus eksternal bisa mengalami orgasme, orang ini biasanya
memiliki dorongan seksual yang tinggi saat bayi (sonogram menunjukkan bayi
memegang penisnya dalam uterus). Anak yang aktif secara seksual pada usia muda
akan cenderung aktif secara seksual pada remaja. Hal ini dipengaruhi oleh DNA dan
akan diturunkan kepada anak- anaknya (Nevid JS et al 2005).
5. Teori Darwin
Faktor operatif dari teori Darwin ada 2, yaitu kuantitas dan kualitas. Kuantitas
jika dari keturunan yang dihasilkan yang besar dibandingkan dengan yang survive.
Kualitas yaitu yang dapat beradaptasi terhadap lingkungan. Pria yang secara fisik
dapat menghasilkan banyak keturunan (kuantitas), dan wanita yang bertanggung
jawab untuk kualitas. Wanita akan lebih berhati hati dalam memilih pasangannya
sedangkan pria cenderung hanya untuk melakukan hubungan seksual dengan
banyak wanita (tidak memilih-milih). Hal tersebut menjelaskan mengapa parafilia
sering terjadi pada pria. Study dari Sharnor (1978) menyatakan bahwa pria usia 1219 tahun memikirkan seks 20 kali dalam 1 jam atau sekali dalam 3 menit Pria usia
30-39 tahun, memikirkan seks 4 kali per jam. Hal ini dapat menjelaskan alasan,
mengapa parafilia biasanya terjadi pada usia 15-25 tahun (Nevid JS et al 2005).

D. Gejala Klinis (Nevid JS et al 2005)


Gejala utama dari parafilia adalah dorongan, fantasi, dan rangsangan yang terjadi
berulang-ulang dan ada kaitannya dengan :
1. Obyek-obyek yang bukan manusia (sepatu, baju dalam, bahan kulit atau karet).
2. Menyakiti diri sendiri atau menghina mitra sendiri.
Individu-individu yang tidak diperbolehkan menurut hukum (anak-anak, orang yang
tidak berdaya atau pemerkosaan).
E. Penegakkan Diagnosis
Fetishisme
Pedoman Diagnostik Fetihisme menurut PPDGJ III (Maslim R, 2013)
Mengandalkan pada beberapa benda mati (non-living object) sebagai
rangsangan untuk membangkitkan keinginan seksual dan memberikanb
kepuasan seksual. Kebanyakan benda tersebut (object fetish) adalah ekstensi

dari tubuh manusia, seperti pakaian atau sepatu


Diagnosis ditegakkan apabila object fetish benar-benar merupakan sumber yang
utama dari rangsangan seksual atau penting sekali untuk respon seksual yang

memuaskan.
Fantasi fetihistik adalah lazim, tidak menjadi suatu gangguan kecuali apabila
menjurus kepada suatu ritual yang begitu memaksa dan tidak semestinya
sampai menggangu hubungan seksual dan menyebabkan bagi penderitaan

individu.
Fetihisme terbatas hampir hanya pada pria saja
Kriteria Diagnostik Fetihisme menurut DSM-V
Selama waktu sekurangnya 6 bulan terdapat khayalan yang merangsang secara
seksual, dorongan seksual, atau perilaku yang berulang dan kuat berupa

pemakaian benda-benda mati (misalnya, pakaian dalam wanita)


Khayalan, dorongan seksual, atau perilaku yang menyebabkan penderitaan yang
bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau

fungsi penting lainnya.


Pengalaman individualnya terjadi sekitar usia 18 tahun

Transvestisme Fetishistik
Pedoman Diagnostik Tranvetisme Fetihistik menurut PPDGJ - III (Maslim R, 2013)
Mengenakan pakaian dari lawan jenis dengan tujuan pokok untuk mencapai
kepuasaan seksual
Gangguan ini harus dibedakan dari fetihisme (F65.0) dimana pakaian sebagai
objek fetish bukan hanya sekedar dipakai, tetapi juga untuk menciptakan
penampilan seorang dari lawan jenis kelaminya. Biasanya lebih dari satu jenis

barang yang dipakai dan seringkali suatu perlengkapan yang menyeluruh,

termasuk rambut palsu dan tat arias wajah.


Transvetisme fetihistik deibedakan dari trasvetisme transsexual oleh adanya
hubungan yang jelas dengan bangkitnya gairah seksual dan keinginan/hasrat
yang kuat untuk melepaskan baju tersebut apabila orgasme sudah terjadi dan

rangsang seksual menurun


Adanya riwayat transvetisme fetihistik biasanya dilaporkan sebagai suatu fase
awal oleh para penderita transeksualisme dan kemungkinan merupakan suatu
stadium dalam perkembangan transeksualisme.

Kriteria Diagnostik Fetishisme Transvestik menurut DSM-V


Selama waktu sekurangnya 6 bulan, pada laki-laki heteroseksual, terdapat
khayalan yang merangsang secara seksual, dorongan seksual, atau perilaku

yang berulang dan kuat berupa cross dressing.


Khayalan, dorongan seksual, atau perilaku menyebabkan penderitaan yang
bermakna secara klinis dan gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau

fungsi penting lainnya.


Ekshibisionisme
Pedoman Diagnostik Ekhibisionisme menurut PPDGJ-III (Maslim R, 2013)
Kecenderungan yang berulang atau menetap untuk memamerkan alat kelamin
kepada asing (biasanya lawan jenis kelamin) atau kepada orang banyak di

tempat umum, tanpa ajakan atau niat untuk berhubungan lebih akrab.
Ekshibisionisme hampir sama sekali terbatas pada laki-laki heteroseksual yang
memamerkan pada wanita, remaja atau dewasa, biasanya menghadap mereka
dalam jarak yang aman di tempat umum. Apabila yang menyaksikan itu

terkejut, takut, atau terpesona, kegairahan penderita menjadi meningkat.


Pada beberapa penderita, ekshibisionisme merupakan satu-satunya penyaluran
seksual, tetapi pada penderita lainnya kebiasaan ini dilanjutkan bersamaan
(stimultaneously) dengan kehidupan seksual yang aktif dalam suatu jalinan
hubungan yang berlangsung lama, walaupun demikian dorongan menjadi lebih

kuat pada saat menghadapi konflik dalam hubungan tersebut.


Kebanyakan penderita ekshibisionisme mendapatkan kesulitan

dalam

mengendalikan dorongan tersebut dan dorongan ini bersifat ego-alien (suatu


benda asing bagi dirinya).
Kriteria Diagnosik Eksibisionisme menurut DSM-V

Selama waktu sekurangnya 6 bulan, terdapat khayalan yang merangsang secara


seksual, dorongan seksual, atau perilaku yang berulang dan kuat berupa
memamerkan alat kelaminnya sendiri kepada orang yang tidak dikenal dan

tidak menduga.
Khayalan, dorongan seksual, atau perilaku menyebabkan penderitaan yang
bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau
fungsi penting lainnya.

Veyourisme
Pedoman Diagnostik Voyeurisme menurut PPDGJ-III (Maslim R, 2013)
Kecenderungan yang berulang atau menetap untuk melihat orang yang sedang
berhubungan seksual atau berperilaku intim seperti sedang menanggalkan

pakaian.
Hal ini biasanya menjurus kepada rangsangan seksual dan mastrubasi, yang
dilakukan tanpa orang yang diintip menyadarinya.

Kriteria Diagnostik Voyeuisme menurut DSM-V


Selama waktu sekurangnya 6 bulan, terdapat khayalan yang merangsang secara
seksual, dorongan seksual, atau perilaku yang berulang dan kuat berupa
mengamati orang telanjang yang tidak menaruh curiga, sedang membuka

pakaian, atau sedang melakukan hubungan seksual.


Khayalan, dorongan seksual, atau perilaku menyebabkan penderitaan yang
bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosil, pekerjaan, atau fingsi
penting lainnya.

Pedofilia
Pedoman Diagnostik menurut Pedofilia PPDGJ III (Maslim R, 2013)
Preferensi seksual terhadap anak-anak, biasanya pra-pubertas atau awal masa

pubertas, baik laki-laki maupun perempuan


Pedofilia jarang ditemukan pada perempuan
Preferensi tersebut harus berulang dan menetap
Termasuk : laki-laki dewasa yang mempunyai preferensi partner seksual
dewasa, tetapi karena mengalami frustasi yang kronis untuk mencapai
hubungan seksual yang diharapkan, maka kebiasaanya beralih kepada anakanak sebagai pengganti.

Kriteria Diagnostik Pedofilia menurut DSM-V

Selama waktu sekurangnya 6 bulan, terdapat khayalan yang merangsang secara


seksual, dorongan seksual, atau perilaku yang berulang dan kuat berupa
aktivitas seksual dengan anak prapubertas atau dengan anak-anak (biasanya

berusia 13 tahun atau kurang)


Khayalan, dorongan seksual, atau perilaku menyebabkan penderitaan yang
bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau

fungsi penting lainnya.


Orang sekurangnya berusia 16 tahun dan sekurangnya berusia 5 tahun lebih tua

dari anak, atau anak-anak dalam kriteria A.


Sadomasokisme
Kriteria Diagnostik Sadomasokisme menurut PPDGJ-III (Maslim R, 2013)

Preferensi terhadap aktivitas seksual yang melibatkan pengikatan atau


menimbulkan rasa sakit atau penghinaan; (individu yang lebih suka untuk
menjadi resipien dari perangsangan demikian disebut masokisme, sebagai
pelaku = sadism)

Seringkali individu mendapatkan rangsangan seksual dari aktivitas sadistik


maupun masokistik.

Kategori ini hanya digunakan apabila sadomasokistik merupakan sumber


rangsangan yang penting pemuasan seksual.

Harus dibedakan dari kebrutalan dalam hubungan seksual atau kemarahan yang
tidak berhubungan dengan erotisme.

Kriteria Diagnostik Untuk Sadisme Seksual menurut DSM-V


Selama waktu sekurangnya 6 bulan, terdapat khayalan yang merangsang secara
seksual, dorongan seksual, atau perilaku yang berulang dan kuat berupa
tindakan (nyata atau disimulasi) dimana penderitaan korban secara fisik atau
psikologis (termasuk penghinaan) adalah menggembirakan pelaku secara

seksual.
Khayalan, dorongan seksual, atau perilaku menyebabkan penderitaan yang
bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau
fungsi penting lainnya.

Kriteria Diagnostik Untuk Masokisme Seksual menurut DSM-V


Selama waktu sekurangnya 6 bulan, terdapat khayalan yang merangsang secara
seksual, dorongan seksual, atau perilaku yang berulang dan kuat berupa

tindakan (nyata, atau disimuasi) sedang dihina, dipukuli, diikat, atau hal lain

yang membuat menderita.


Khayalan, dorongan seksual, atau perilaku menyebabkan penderitaan yang
bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau
fungsi penting lainnya.

Gangguan Preferensi Seksual Multipel


Kadang kadang lebih dari satu gangguan preferensi seksual yang terjadi pada
seseorang dan tidak satupun lebih diutamakan daripada yang lainnya. Kombinasi yang
paling sering adalah fetihisme, transvestisme dan sadomasokisme (Maslim R, 2013).
Gangguan Preferensi Seksual Lainnya
Suatu varietas dari pola lain pada preferensi dan aktivitas seksual mungkin terjadi,
yang masing masing relatif tidak lazim. Ini mencakup kegiatan seperti melakukan
panggilan telepon cabul, menggosok menempel pada orang untuk stmulasi seksual di
tempat umum yang ramai (frotteurisme), aktivitas seksual dengan binatang.
Menggunakan cekikan atau anoksia untuk mengintensifkan kepuasan seksual dan
kepuasan terhadap partner dengan cacat badan tertentu seperti tungkai yang
diamputasi.
Perbuatan erotik terlalu bermacam macam dan banyak diantaranya terlalu jarang
atau idionsikatrik untuk diberikan istilah khusus untuk setiap kelainan. Menelan urin,
melaburkan feses, atau menusuk kulup atau puting susu merupakan sebagian dari
perilaku yan termasuk sadomasokisme. Masturbasi dengan berbagai cara ialah lzim,
tetapi praktek yang lebih ekstrem seperti memasukkan benda ke rektum atau uretra
penis atau strangulas diri parsialis, apabila menggantikan hubungan seksual yang
lazim, termasuk dalam abnormalitas. Nekrofilia juga harus dimasukkan dalam kategori
ini (Maslim R, 2013).
F. Tatalaksana
1. Kendali Eksternal
Penjara adalah mekanisme kendali eksternal untuk kejahatan seksual yang biasanya
tidak berisi kandungan terapi. Memberitahu teman sebaya, atau anggota keluarga
dewasa lain mengenai masalah dan menasehati untuk menghilangkan kesempatan
bagi perilaku untuk melakukan dorongannya.
2. Terapi Seks

Adalah pelengkap yang tepat untuk pengobatan pasien yang menderita disfungsi
seksual tertentu dimana mereka mencoba melakukan aktivitas seksual yang tidak
menyimpang dengan pasangannya.
3. Terapi Perilaku
Digunakan untuk memutuskan pola parafilia yang dipelajari. Stimuli yang
menakutkan, seperti kejutan listrik atau bau yang menyengat, telah dipasangkan
dengan impuls tersebut, yang selanjutnya menghilang. Stimuli dapat diberikan oleh
diri sendiri dan digunakan oleh pasien bilamana mereka merasa bahwa mereka
akan bertindak atas dasar impulsnya.
4. Terapi Obat
Termasuk medikasi antipsikotik dan antidepresan, adalah diindikasikan sebagai
pengobatan skizofrenia atau gangguan depresif jika parafilia disertai dengan
gangguan-gangguan tersebut. Antiandrogen, seperti ciproterone acetate di Eropa
dan medroxiprogesterone acetate (Depo-Provera) di Amerika Serikat, telah
digunakan secara eksperimental pada parafilia hiperseksual. Medroxiprogesterone
acetate bermanfaat bagi pasien yang dorongan hiperseksualnya diluar kendali atau
berbahaya (sebagai contoh masturbasi yang hampir terus-menerus, kontak seksual
setiap kesempatan, seksualitas menyerang yang kompulsif). Obat serotonorgik
seperti Fluoxetin (prozac) telah digunakan pada beberapa kasus parafilia dengan
keberhasilan yang terbatas.
5. Psikoterapi Berorintasi Tilikan
Merupakan pendekatan yang paling sering digunakan untuk mengobati parafilia.
Pasien memiliki kesempatan untuk mengerti dinamikanya sendiri dan peristiwaperistiwa yang menyebabkan perkembangan parafilia. Secara khusus, mereka
menjadi menyadari peristiwa sehari-hari yang menyebabkan mereka bertindak atas
impulsnya (sebagai contohnya, penolakan yang nyata atau dikhayalkan).
Psikoterapi juga memungkinkan pasien meraih kembali harga dirinya dan
memperbaiki kemampuan interpersonal dan menemukan metode yang dapat
diterima untuk mendapatkan kepuasan seksual. Terapi kelompok juga berguna.

G. Prognosis
Prognosisnya buruk untuk parafilia adalah berhubungan dengan onset usia yang awal,
tingginga frekuensi tindakan, tidak adanya perasaan bersalah atau malu terhadap
tindakan tersebut, dan penyalahgunaan zat. Perjalanan penyakit dan prognosisnya baik
jika pasien memiliki riwayat koitus disamping parafilia, jika pasien memiliki motivasi

tinggi untuk berubah, dan jika pasien datang berobat sendiri, bukannya dikirim oleh
badan hukum.
DAFTAR PUSTAKA
Bannon,

GE

dan

Carroll

KS.

2008.

Paraphilias.

Available

from:

http://emedicine.medscape.com/article/291419-clinical Accessed on 23 April 2015.


Davison, GC dan Neale JM et al. 2006. Psikologi Abnormal Edisi 9. Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada. p611-641.
Diagnostic and Statistical Mannual of Mental Disorder Fifth Edition (DSM-V), American
Psychiatric Association, Washington DC.
Maramis, WF dan Maramis AA. 2009. Catatan Buku Kedokteran Jiwa Edisi 2. Surabaya:
Airlangga University Press.
Maslim, R. 2013. Gangguan Preferensi Seksual. Dalam Buku Saku Diagnosis Gangguan
Jiwa Rujukan Ringkas dari PPDGJ-III dan DSM-5. Jakarta: PT Nuh Jaya.
Nevid, JS dan Rathus SA et al. 2005. Psikologi Abnormal Edisi 5. Jakarta: Penerbit
Erlangga.
Sadock, BJ. 2010. Kaplan & Sadocks Synopsis Of Psychiatry 10th ed. Philadelphia:
Lippincott Williams & Wilkins. p.705-14