Anda di halaman 1dari 2

Praktikum pemeriksaan glukosa urine kali ini menggunakan metode

fehling. Sampel urine yang diuji adalah sebanyak 5 jenis sampel yang berbeda
yaitu sampel A , B, C, D dan E. Pemeriksaan glukosa urine dengan metode
fehling ini menggunakanereaksi fehling. Pereaksi Fehling terdiri atas dua larutan,
yaitu larutan Fehling A dan larutan Fehling B. Larutan Fehling A adalah larutan
CuS04 dalam air, sedangkan larutan Fehling B adalah larutan garam K-Na-tartrat
dan NaOH dalam air. Pereaksi fehling dibuat dengan mencampurkan kedua
larutan tersebut, sehingga diperoleh suatu larutan yang berwarna biru tua.
Kedua macam larutan ini disimpan terpisah baru dicampur menjelang digunakan
untuk memeriksa suatu kadar glukosa. Dalam pereaksi ini, ion Cu 2+ direduksi
menjadi ion Cu+ dalam suasana basa kemudian akan diendapkan sebagai Cu 20
yang berwarna merah bata.
Pereaksi fehling dibuat dengan mencampur larutan fehling A dan larutan
felhing B menggunakan perbandingan volume 1:1. Pada praktikum kali ini,
dicampur sebanyak 5 ml larutan fehling A dengan 5 ml larutan fehling B dalam
satu beaker glass karena yang akan diuji adalah sebanyak 5 sampel urine.
Setelah pereaksi fehling sudah tercampur dan siap digunakan, selanjutnya
dipipet sebanyak 2 ml pereaksi fehling dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi,
kemudian ditambahkan dengan sampel urine sebanyak 0,5 ml dan tabung reaksi
digoyanggkan secara perlahan agar pereaksi fehling dengan sampel tercampur
merata. Selanjutnya, tabung reaksi dipanaskan sampai larutan dalam tabung
mendidih. Pemanasan ini berfungsi sebagai katalis yaitu untuk membantu
mempercepat reaksi. Setelah mendidih, didiamkan sebentar dan diamati hasil
pemeriksaan yang didapatkan. Perlu diingat bahwa pembacaan hasil
pemeriksaan glukosa urine dengan metode fehling ini harus dilakukan segera
setelah dilakukan pemanasan karena apabila sudah didiamkan terlalu lama,
maka warna larutan bisa berubah dan itu tentunya dapat mempengaruhi hasil
pemeriksaan sehingga hasil pemeriksaan menjadi tidak akurat.
Dari kelima sampel urine yang kami uji, semua sampel menunjukkan hasil
positif mengandung glukosa. Sampel urine A menunjukkan interpretasi hasil +1
(keruh, warna hijau agak kuning), sampel B menunjukkan interpetasi hasil +3
(warna hujau tua dengan endapan kuning kemerahan), sampel C dan D
menunjukkan interpretasi hasil +2(warna hijau kekuningan dengan endapan
kuning), sedangkan sampel E menunjukkan interpretasi hasil +4 (warna merah
bata). Perbedaan intensitas warna merah dari tiap tabung tersebut secara kasar
menunjukkan kadar glukosa dalam urine yang diperiksa. Jika diurutkan hasil
pemeriksaan kadar glukosa dengan metode fehling ini diurutkan dari kadar
glukosa tertinggi ke rendah ,maka urutannya adalah sampel urine E, A, C,D,dan
yang terakhir adalah sampel urine B.

Reaksi positif dari hasil pemeriksaan glukosa urine dengan metode fehling ini tidak
selalu berarti sampel urine mengandung glukosa. Hal ini dikarenakan pada penggunaan cara
reduksi dapat terjadi hasil positif palsu pada urin yang disebabkan karena adanya kandungan
bahan reduktor selain glukosa. Bahan reduktor yang dapat menimbulkan reaksi positif palsu

tersebut antara lain : galaktosa, fruktosa, laktosa, pentosa, formalin, glukuronat dan obatobatan seperti streptomycin, salisilat, dan vitamin C. Oleh karena itu perlu dilakukan uji lebih
lanjut untuk memastikan jenis gula pereduksi yang terkandung dalam sampel urine.
Penggunaan cara enzimatik lebih sensitif dibandingkan dengan cara reduksi. Cara
enzimatik dapat mendeteksi kadar glukosa urin sampai 100 mg/dl, sedangkan pada cara
reduksi hanya sampai 250 mg/dl. Nilai ambang ginjal untuk glukosa dalam keadaan normal
adalah 160-180 mg % .
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemeriksaan glukosa dalam urine
dengan uji fehling :
1. Keadaan alat yang digunakan harus bersih dan kering. Karena apabila alat yang
digunakan masih kotor maka kemungkinan yang terjadi adanya zat yang dapat
bereaksi dengan pereaksi yang menimbulkan hasil yang sama, sehingga hasil yang
didapat tidak akurat.
2. Keadaan reagen yang digunakan. Reagen yang digunakan harus dipastikan tidak
kadaluarsa dan dipastikan tidak terjadi perubahan struktur reagen, karena akan
berpengaruh besar terhadap hasil yang didapat dan bersifat fatal yang dapat
menyebabkan hasil yang tidak akurat.
3. Perbandingan larutan fehling yang digunakan harus diperhatikan yaitu 1:1.
Apabila perbandingan antara larutan fehling A dan fehling B tidak sesuai, maka
reaksi reduksi yang terjadi tidak akan optimal sehingga hasil pemeriksaan menjadi
tidak tepat.
4. Komposisi sampel dengan pereaksi fehling harus sesuai dengan yang ditentukan,
apabila salah satu ada yang kurang atau lebih, maka hasilnya akan terjadi
perbedaan. Perbandingan antara pereaksi fehling dengan sampel urine adalah 4:1.
5. Pemanasan pada api bunsen. Pemanasan ini dilakukan sengan melidah apikan
diatas api sambil digoyangkan dan agak miring. Posisi miring ini bertujuaan agar
semua larutan pada tabung reaksi mengenai panas dan permukaan semakin luas
sehingga mempercepat reaksi.
6. Lamanya pemanasan. Pemanasan pada api bunsen ini tidak boleh terlau cepat dan

terlalu lama. Hal ini juga mempengaruhi hasil akhir dari pengujian fehling.
Apabila terlalu cepat maka tidak akan terjadi perubahan warna karena glukosa
belum sepenuhnya mereduksi, sehinnga hasil yang kita dapatkan negatif,
walaupun seharusnya hasilnya adalah positif.
Prosedur pemeriksaan glukosa ini harus dilakukan dengan baik dan benar agar
diperoleh hasil pemeriksaan yang tepat dan akurat. Urine yang baik digunakan untuk
pemeriksaan glukosa adalah urine post pradinal(PP).