Anda di halaman 1dari 23

Bab 1 (PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN)

Warga negara :

Manusia terikat ruang dan waktu

Ruang dan waktu relatif = kenyataan di sekeliling (negara+tahun)

Negara dalam ruang dan waktu yang kita alami : Indonesia

Seluruh manusia yang terikat dengan ruang dan waktu Indonesia warga
negara Indonesia

Peraturan Pemerintah ttg Pedidikan Kewarganegaraan :


1. Undang-Undang No 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
2. Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 1999 tentang Pendidikan Tinggi.
3. Keputusan Presiden Nomor 102 Tahun 2001
4. Keputusan Menteri Pendidikan Nasional No 045/U/2002.
5. Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Nomor 38/DIKTI/Kep/2004
ttg Rambu-rambu Pelaksanaan Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian di
Perguruan Tinggi
Pengertian :

Pendidikan: upaya sadar suatu masyarakat dan negara untuk menjadikan


dirinya lebih berpengetahuan, lebih cakap dalam berketerampilan serta
lebih beradab dalam tingkah laku

Kewarganegaraan: segala hal yang menyangkut bangsa, negara, dan


hubungan antara negara dan warganya

Pendidikan kewarganegaraan: upaya sadar bangsa dan negara untuk


memberikan pengetahuan mengenai hubungan antara konsep-konsep
dalam paradigma negara kepada seluruh warga negara

Tujuan :

Menghasilkan mahasiswa yang berpikiran komprehensif analitis dan kritis


terhadap setiap kebijakan dan tindakan kekuasaan legislatif, yudikatif, dan
eksekutif

Membentuk kecakapan partisipatif yang bermutu dan bertanggungjawab


dalam kehidupan politik di tingkat lokal, nasional, maupun global

Menjadikan warga negara yang menjaga persatuan-kesatuan bangsa dan


negara melalui pengembangan sikap pluralis, multikultural dan ke-Bhineka
Tunggal Ika-an

Mengembangkan kultur demokrasi melalui penanaman sikap dialog,


toleransi, negosisasi sertai kemampuan mengendalikan diri

Membentuk warga negara yang Pancasilais

Ruang lingkup :

Pendahuluan

Identitas Nasional

Sejarah dan kelahiran dan perumusan Pancasila

Filsafat dan etika politik pancasila

Ideologi pancasila

Negara dan kekuasaan

Konstitusi dan rule of law

Demokrasi

Hak asasi manusia

Multikulturalisme

Otonomi daerah

Wawasan kebangsaan

BAB 2 (Identitas Nasional)


Pengertian :

Identitas : ciri ciri, tanda khas atau jati diri yang melekat pada
seseorang golongan sendiri, kelompok sendiri, komunitas sendiri,
dan negara sendiri.

Nasional : bangsa sendiri, atau meliputi diri bangsa

Nasionalisme = kebangsaan (sebagai paham, berarti paham


modern yang yang berusaha mengangkat kesadaran manusia
demi menentukan nasib

MENURUT Ernest Renan Bangsa adalah jiwa (Une Ame), suatu suasana kebatinan
yang timbul dari ingatan sejarah akan kejayaan bersama, dan keinginan untuk
hidup bersama berdasarkan solidaritas.
Syarat mutlak adanya bangsa adalah persetujuan bersama untuk mau hidup
bersama dengan kesediaan memberikan pengorbanan-pengorbanan.
Pembahasan :

Titik pangkal dari teori Ernest Renan adalah pada kesadaran moral
(conscience morale), Menurut teori Ernest Renan, jiwa, rasa, dan kehendak
merupakan suatu faktor subjektif, tidak dapat diukur dengan faktor-faktor
objektif. Faktor agama, bahasa, dan sejenisnya hanya dapat dianggap
sebagai faktor pendorong dan bukan merupakan faktor pembentuk
bangsa.

Teori Renan mengatakan bahwa etnisitas tidak diperlukan untuk


kebangkitan nasionalisme. Jadi nasionalisme bisa jadi dalam suatu
komunitas yang multi etnis, persatuan agama juga tidak diperlukan untuk
kebangkitan nasionalisme.

Persatuan bahasa mempermudah perkembangan nasionalisme tetapi


tidak mutlak diperlukan untuk kebangkitan nasionalisme. Dalam hal
nasionalisme, syarat yang mutlak dan utama adalah adanya kemauan dan
tekad bersama

Menurut Benedict Anderson Nation (bangsa) adalah suatu komunitas politik yang
berbatas dan berdaulat yang dibayangkan (imagined communities).
Suatu bangsa dapat terbentuk, jika sejumlah warga dalam komunitas mau
menetapkan diri sebagai suatu bangsa yang mereka angankan dan bayangkan
Pembahasan :

Benedict Anderson berpendapat bahwa sebuah bangsa lebih mengacu


kepada pemahaman atas suatu masyarakat yang mempunyai akar sejarah
yang sama dimana pengalaman keterjajahan semakin mengkristalkan
rasa solidaritas diantara mereka.

Para pendiri bangsa ini, tidak dapat dipungkiri, terutama Soekarno,


berangkat dari imajinasi kejayaan Sriwijaya dan Majapahit sebagai sebuah
tesis sahih yang bisa digunakan sebagai pemicu tumbuhnya roh bangsa
dalam pengertian Hegel, untuk kemudian berusaha memunculkan sebuah
imperium baru bernama Indonesia.

Peristiwa penting :

1. Gerakan Kebangkitan Nasional


a. Kesadaran akan perlunya suku-suku bangsa di seluruh Indonesia untuk
bergerak dan berusaha memperoleh kebebasannya dari penjajahan sebenarnya
dipengaruhi banyak faktor, diantaranya adalah:
b. Kritik atas praktek tanam paksa oleh kalangan cendekiawan dan aktivis
kemanusiaan dari Belanda.
c. Politik etis atau politik balas budi akibat kemenangan partai di negeri Belanda
yang menuntut liberalisasi daerah jajahan. Kebijakan ini dilaksanakan th
1901 di Hindia Belanda dalam bentuk edukasi, irigasi, transmigrasi.
d. Kemenangan Jepang melawan Rusia dalam perang tahun 1905
e. Adanya pergerakan nasional di negara lain seperti India, Fillipina, Cina,
Turki yang sebagian besar didorong oleh Komintern.
2. Sumpah Pemuda
a. Kongres pemuda yang kedua diadakan di Jakarta pada tanggal 26 28
Oktober 1928 menjadi tonggak sejarah terpenting dalam pembentukan
identitas nasional, karena didalamnya ada kesepakatan untuk membuat sebuah
identitas baru sebagai sebuah bangsa yang bersatu. Para pemuda dari semua
daerah di Indonesia ikut serta untuk mempertegas rasa persatuan kebangsaan
yang diikrarkan dalam sumpah berbunyi :
b. Pertama; Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah satu,
tanah Indonesia.
c. Kedua; Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa
Indonesia.
d. Ketiga; kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa satu, bangsa
Indonesia.
e. Kongres memutuskan agar kesepakatan ini harus diterima sebagai asas wajib
oleh semua komunitas.

3. Proklamasi Kemerdekaan
a. Bangsa yang disepakati untuk didirikan setelah Sumpah Pemuda tersebut,
akhirnya menyatakan diri sebagai bangsa (nation) yang merdeka dari
penjajahan bangsa asing, sekaligus mendirikan sebuah organisasi politik yang
berdaulat, yaitu Negara (state) Republik Indonesia. Gabungan dari dua ide
tentang bangsa (nation) dan negara (state) tersebut terwujud dalam sebuah
konsep tentang negara bangsa atau dikenal dengan nation-state.
b. Pengertian dasar dari nation-state adalah negara (state) dibangun atau
diorganisir dengan semangat dari sebuah nation. Dalam hal ini negara dengan
segala kekuasaan yang melekat dalam dirinya tidak boleh diorganisir dan
dijalankan secara feodal, apalagi otoriter. Setiap warga negara memiliki
kedudukan yang setara dalam dan berhubungan dengan negara.
c. Dalam konsep nation, paham warganegara telah mengalami pergeseran dari
paham pra nation. Implikasi penting dalam negara bangsa (nation state)
tentang hal kewarganegaraan adalah bahwa warga negara memiliki status
istimewa sebagai anggota negara yang relasinya dengan negara diatur secara
demokratis.
Tantangan Identitas Nasional :

1. Dikotomi Negara dan Bangsa adalah Bangsa Indonesia didirikan lebih dulu daripada
negara Indonesia, oleh karena itu pemikiran Benedict Anderson bahwa bangsa
Indonesia adalah sebuah bangsa dimana para individunya tidak pernah dengan jelas
bertemu dan ikut merumuskan segala hal yang berkaitan dengan pembentukan bangsa
ini dapat dibenarkan. Hal lain yang perlu dijelaskan adalah hubungan antara konsep
bangsa persatuan ini dengan suku-suku bangsa dengan bahasa dan budaya yang
berbeda-beda.
2. Dikotomi Negara dan Agama adalah Tantangan yang harus dihadapi justru ketika
berusaha menyikapi tuntutan berdasarkan kenyataan bahwa sebagian besar anggota
bangsa Indonesia adalah penganut agama Islam, dimana sekelompok kecil penganut
agama tersebut berusaha mendasarkan identitas nasional pada agama Islam. Kenyataan
bahwa konsep bangsa Indonesia yang majemuk dan multikultur ini sudah bersendikan
konsep ketuhanan tanpa mengacu pada agama tertentu harus terus direkayasa agar
ketahanan bangsa sebagai sebuah komunitas imajiner dapat dijaga. Karena dalam
Pancasila sebagai identitas nasional yang sudah disepakati oleh para pendiri bangsa,
sila pertama mendasarkan diri pada konsep Ketuhanan Yang Maha Esa dan dalam
alinea ke 3 Pembukaan UUD 45 dengan jelas disebutkan bahwa negara ini didirikan
karena mendapatkan restu dari Tuhan.
3. Pluralisme dan Multikulturaisme adalah cara hidup orang-orang Indonesia yang harus
saling menghargai sebagai sesama bangsa Indonesia. Sejarah adanya Indonesia adalah
sejarah kelompok-kelompok yang mau hidup bersama. Dengan menyadari asal
keberadaannya sebagai bangsa Indonesia, maka menghargai pluralitas dan bersikap
multikultural harus menjadi ciri khas dalam diri bangsa Indonesia.
4. Kesetaraan adalah
a. Dengan identitas pluralis dan multikulturalis itu bangunan interaksi dan relasi
antara manusia Indonesia akan bersifat setara. Paham kesetaraan akan
menandai cara berpikir dan perilaku bangsa Indonesia, apabila setiap orang
Indonesia berdiri di atas realitas bangsanya yang plural dan multikultural itu.
b. Identitas kesetaraan ini tidak akan muncul dan berkembang dalam susunan
masyarakat yang didirikan di atas paham dominasi dan kekuasaan satu

kelompok terhadap kelompok yang lain. Kesetaraan merupakan identitas


nasional Indonesia

Bab 3 (KELAHIRAN DAN RUMUSAN PANCASILA)


1. Catatan Kecil Bersama Bung Karno, bab Lahirnya Pancasila 1 Juni 1945.
2. Pidato Bung Hatta di Universitas Indonesia, tanggal 30 Agustus 1975.
3. Amanat peringatan 19 tahun kelahiran Pancasila tanggal 1 Juni 1964.
Rumusan Pancasila :

Rumusan M. Yamin pada tanggal 29 Mei 1945

Rumusan Soekarno pada tanggal 1 Juni 1945

Rumusan hasil kerja Tim Sembilan Piagam Jakarta pada tanggal 22 juni
1945

Rumusan yang termaktub dalam UUD 1945 pada tanggal 18 Agustus 1945

Pancasila sebagai Causa Finalis :

Empat macam causa Aristoteles: causa materialis (sebab yang menjadi


bahan sebuah substansi), causa formalis (sebab yang menjadi bentuknya),
causa efficienns (sebab yang menghasilkannya), dan causa finalis (sebab
yang menjadi tujuannya).

Bung Karno: Indonesia merdeka bukan tujuan, hanyalah jembatan emas


untuk mencapai kehidupan berbangsa dan bernegara. Akan tetapi,
kemerdekaan itu sendiri adalah syarat mutlak untuk mencapai tujuan.

BAB 4 (Filsafat pancasila)


Pengertian Ilmu Filsafat :

1. Sebagai metode berpikir/ analisis : Mencari jawaban tentang sesuatu yang diselidiki
2. Sistem pemikiran dan nilai-nilai : Sebagai acuan penilaian dan dasar pengambilan
keputusan (individu, kelompok, atau bangsa)
Syarat Ilmu Filsafat :

Berobjek : objek formalnya adalah sudut pandang yang digunakan


sebagai teropong untuk melihat objek materialnya, yaitu realitas

Bermetode : logika adalah metode yang umum digunakan, walaupun


filsafat juga ilmu yang membahas metode

Sistematis : konsistensi dalam meneliti objek dan metode sangat


dibutuhkan, sehingga terbentuk kesatuan, utuh, dan term-term yang
digunakan interdependen satu sama lain dengan sendirinya

Universal : filsafat sebagai ilmu, meneliti seluruh realitas yang ada, secara
utuh dan bulat membentuk sebuah sistem yang lengkap.

Berpikir Filsafati :

Kritis : tidak dengan mudah menerima data, fakta, dan informasi dalam
bentuk apapun dan dari sumber apapun.

Sistematis : menelaah dan memeriksa hubungan antar term dan meneliti


kebenaran term tersebut dan proses penyimpulannya secara
berkesinambungan

Runtut dan Koheren

Radikal : langsung meneliti akar permasalahan/ menyingkap kenyataan


hingga yang terdalam

Komprehensif : berpikir secara global, dan menyeluruh dan bukan pada


argumentasi tertentu saja

Cabang Ilmu Filsafat :

Metafisika / ontologi : sesuatu dibalik semua yang nampak. Anak cabang


metafisika adalah ontologi, yaitu cabang ilmu filsafat yang meneliti
ke-ada-an. Pertanyaan apakah sesuatu itu?

Epistemologi : ilmu yang meneliti tentang pengetahuan. Pengetahuan


bukan hanya jenis dan macamnya, tetapi juga asal dan tingkat
kebenarannya

Aksiologi : ilmu yang menyelidiki tentang nilai segala sesuatu. Cabang


aksiologi etika (moral), dan estetika (keindahan)

Kebulatan dan Keutuhan Pancasila


Ke
tu
ha
na
Kemanusiaa
n
n
Persatuan
Kerakyatan
Keadilan

Bab 5 (Ideologi Pancasila)


Ideologie : Ilmu Pengetahuan tentang idea-idea
(Destutt de Tracy)
Pengaruh Destutt de Tracy :

1. John Locke : Seluruh pengetahuan adalah pengetahuan empiris

2. Francis Bacon : Ilmu pengetahuan harus mengabdi pada kemajuan seluruh umat
manusia di dunia, dengan cara membebaskan manusia dari prasangka-prasangka
sekaligus menegakkan kedaulatan akalnya.
Pengertian Ideologi :
O Definisi bebas : segala macam teori yang berorientasi pada tindakan,
atau pendekatan politik melalui sudut pandang sistem idea-idea
O Definisi ketat : berdasarkan karakter-karakter
O Teori komprehensif tentang hubungan manusia-dunia
O Berdasarkan pemikiran intelektual
O Memberikan arah dan tujuan pada sebuah organisasi politik (umum
dan abstrak)
O Realisasi program melalui perjuangan
O Sasarannya masyarakat luas
Perbedaan Ideologi dan Agama :
Agama

Ideologi

Argumen berdasarkan pada kode-kode ilahiah


dan bergantung pada kekuatan transenden

Berdasarkan kemampuan akal manusia secara


logis

Memberikan sebuah visi tentang masyarakat


adil-makmur-sejahtera-sentosa-aman-damai,
namun tidak memiliki sebuah teori politik untuk
mencapai tahap tersebut

Memberikan sebuah teori politik yang dapat


memberikan pedoman dalam setiap tindakan
politik praktis

Bertujuan mencapai tahapan kemurnian hidup,


melalui kesadaran religius dan tindakan
pengorbanan-asketis

Memberikan arahan agresif dan petunjuk


berupa tindakan politik praktis yang seringkali
berupa aksi perlawanan

Ideologi dan filsafat politik :


O filsafat politik adalah sebuah fondasi awal munculnya ideologi. Dengan
demikian, satu-satunya alat yang dapat dipakai untuk meneliti ideologi
sampai ke akar-akarnya adalah filsafat politik.
O Filsafat politik mengajarkan untuk selalu mengkritisi sebuah ideologi
supaya keyakinan dan kepercayaan terhadapnya tidak membuta.

O Filsafat politik memberikan jalan untuk melakukan interpretasi yang


berbeda terhadap ideologi manapun, sehingga monopoli interpretasi
dapat dihindarkan.
Nilai-nilai Dalam Ideologi :
O Objektif : dasar dari nilai intersubjektif (bersifat positif, objektif, inheren,
dan transenden)
O Intersubjektif : nilai yang terbentuk dari koeksistensi antar kesadaran
manusia dan nilai objektif
O Praksis : nilai yang muncul setelah praksis ideologi dilaksanakan
Ideologi dan negara
O Sebuah negara memang secara hakiki didirikan atas ideologi, namun
demikian sebuah ideologi juga membutuhkan negara.
O Ideologi harus didukung oleh kekuasaan negara, dalam arti negara
menganutnya, dan mendasarkan seluruh tindakan serta kebijakan pada
ideologi.
O Ideologi agar dapat disebut sebagai ideologi maka ia harus didukung
kekuasaan negara sebagai pemaksa sehingga seluruh rakyat
menganutnya juga.
O Ideologi adalah sebuah program abstrak yang terencana secara logis
untuk menuju cita-cita ideal sebuah negara.
O Menjadi ideologi negara, berarti harus mampu diinterpretasikan dalam
bentuk yang lebih riil berupa peraturan perundangan dan sikap hidup
sebuah bangsa dalam suatu negara.
O Ideologi memberikan tuntunan dan pedoman umum bagi sebuah negara
dalam usahanya menuju cita-cita bangsa.
Liberalisme-Kapitalisme
O Liber (Latin) bebas (mengacu pada manusia yang intelektual
independen, jujur, terus terang, berwawasan luas, dan cerdas)
O Liberalisme dapat dimengerti sebagai :
O Tradisi politik
O Teori filosofis umum
O Pandangan seseorang
O Aliran dalam filsafat politik
O Prinsip-prinsip Liberalisme yang nampak dalam pemikiran dan sikap para
penganutnya adalah terutama tentang keyakinan adanya kebebasan
hakiki manusia dan :
O pemerintahan yang konstitusional,
O demokrasi perwakilan

O rule of law
O toleransi
O multikulturalisme.
O kebebasan sipil, terutama kebebasan berpendapat dan
kebebasan pers
O Pasar bebas dan perdagangan bebas
O Akar liberalisme adalah pemikiran politik John Locke dan Rousseau, dan
dikembangkan lagi oleh Jeremy Bentham dan John Stuart Mill. Pengaruh
besar dari sudut pandang ekonomi berasal dari David Ricardo dan Adam
Smith.
O Dalam pemikiran liberalisme klasik, kebebasan dan hak milik pribadi
berhubungan sangat erat. Sejak abad 18, liberalisme bersikeras bahwa
sistem ekonomi berdasar pada hak milik pribadi adalah bagian dari
kebebasan manusia.
O Pasar berdasar pada hak milik adalah sebuah bentuk dari kebebasan
individu, dimana mereka boleh memiliki sesuatu dan kemudian
menjualnya, membuat perusahaan dan menyimpan keuntungan bagi
mereka sendiri, kebebasan untuk menjual tenaga kepada pemilik modal
dengan harga yang pantas
O Liberalisme berpendapat bahwa kebebasan dan hak milik pribadi saling
mengkualifikasi, karena kepemilikan atas modal oleh pribadi akan
menjamin sebuah aturan permainan yang objektif tanpa ada campur
tangan kekuasaan di dalamnya.
O Apabila kekuasaan mengambil alih hak milik maka aturan permainan akan
menjadi berat sebelah dan kondisi ini tidak memungkinkan adanya
kebebasan.
O Kapitalisme dapat dimengerti sebagai sebuah sistem ekonomi dimana
alat-alat produksi dan distribusi dimiliki oleh pihak swasta dan
perkembangannya berdasarkan pada akumulasi dan investasi keuntungan
di pasar bebas. Namun demikian kapitalisme dapat dimengerti secara
politis sebagai sebuah sistem sosial yang berprinsip pada hak pribadi.
O Kapitalisme berpendapat bahwa setiap individu berhak untuk memiliki
alat-alat produksi berupa mesin, pabrik, dan sumber bahan mentah.
O Dengan demikian kapitalisme sejalan dengan liberalisme, dimana dasar
filosofi keduanya identik. Untuk mempunyai sistem ekonomi kapitalistik,
sebuah negara harus mengakui adanya hak-hak individu dan hak milik
pribadi.
Kapitalisme adalah Bangsa yang kuat adalah bangsa yang masingmasing individunya bebas dan memiliki inisiatif sendiri di bidang
ekonomi tanpa campur tangan negara
(Adam Smith)
Marxisme-Komunisme

O Pemikiran Marx : ketika muda dengan teori keterasingan manusia, dan


ketika tua mencapai kematangan dalam ekonomi politik
O Sebagai reaksi atas perkembangan kapitalisme pasca revolusi industri
O Mesin dan produksi menghasilkan kaum buruh (kontradiksi dari semangat
liberalisme-kapitalisme)
O sejarah umat manusia ditentukan oleh materi. Sejak manusia kekurangan
hewan buruan dan mulai bercocok tanam, muncul hak milik atas tanah
sebagai modal-materi. Materi ini memunculkan kelas proletar (tak
bermodal), dan kelas borjuis (bermodal). Konflik untuk mempertahankan
posisi yang menjadikan pertentangan kelas menurut Karl marx
O Pada puncak kematangan teorinya Marx menulis buku legendaris berjudul
Das Kapital setebal hampir 1000 halaman dalam 3 volume, diterbitkan
tahun 1867.
O Buku kedua baru diterbitkan tahun 1941 berjudul Grundrisse. Marx
bukan hanya seorang teoritikus, namun ia juga seorang aktivis pergerakan
perlawanan kaum buruh, dan sempat mengetuai Internationale, sebuah
kongres buruh sedunia.
O Marx menjadi seorang ideologis ketika partai buruh terbesar di dunia pada
saat itu, SPD (Sozialdemokratisch Partei Deutschland) meminta dia secara
khusus membuat program untuk mereka.
O Pertentangan kelas ini adalah azas dari seluruh hidup manusia.
Pertentangan kelas ini memunculkan apa yang disebut Marx sebagai
superstruktur.
O Superstruktur adalah kesadaran baru yang disuntikkan kedalam kesadaran
kaum proletar supaya mereka tidak memberontak kepada kaum feodal.
O Bentuk superstruktur ini sangat banyak, namun semuanya berupa konsep
yang mengekang keinginan kelas proletar untuk memberontak melawan
ketidakadilan.
O Superstruktur adalah ideologi, berupa agama, nilai-nilai moral, ajaran
filsafat, dan terutama adalah hukum dan negara. Kaum proletar ditipu
dengan kesadaran bahwa semua kebaikan hanya dapat dicapai apabila
mereka mematuhi hukum, negara, dan agama.
O Padahal itu semua adalah obat bius yang diciptakan kaum foedal supaya
kaum proletar tidak menuntut hak-haknya.
O Revolusi kaum buruh bukan hanya untuk merebut kekuasaan, namun
menuntaskan penyebab dari seluruh penderitaan mereka, yaitu hak milik.
O Untuk menghapuskan hak milik, kaum buruh harus melenyapkan negara
sebagai organisasi kekuasaan tertinggi yang melindungi kepentingan
kaum kapitalis.
O Sehingga untuk sementara kaum buruh merebut kekuasaan negara
dengan membentuk diktator proletariat.

O Diktator proletariat ini tidak berlangsung lama, hanya sebagai masa


transisi menuju melenyapnya negara dan hak milik.
O Salah seorang pengikut Marx yang paling brilian adalah Vladimir Illich
Ulyanov, atau Lenin, sang pendiri komunisme.
O Lenin mengelaborasi semangat perlawanan Marx terhadap penindasan,
memodifikasi pemikiran-pemikiran Marx agar sesuai dengan keinginan dan
cita-citanya serta menyesuaikan dengan tuntutan zaman.
O Lenin mengggunakan bahasa yang sangat agitatif, propagandis dan
berapi-api dalam setiap tulisan dan orasinya.
O Lenin bukan hanya menjadikan ajaran-ajaran Marx menjadi ideologi
perjuangan kaum buruh, namun menjadi ideologi sebuah negara, bahkan
dunia
O Perbedaan anatar Marxisme dan Komunisme (atau Marxisme-Leninis)
terletak pada konsep determinisme-kausal perkembangan sejarah.
O Lenin menolak konsep Marx bahwa sejarah manusia pasti akan melalui
tahapan-tahapan yang sudah diajukan oleh Marx.
O Menurut Lenin, kapitalisme sangat luwes dan pintar, sehingga ia bisa
berkelit dengan sukses dari kebangkrutannya.
O Ditambah lagi oleh, apa yang disebut Lenin, teori imperialisme dan
peranan bank.
O Imperialisme adalah konsep penjajahan yang dilakukan oleh negaranegara kapitalis terhadap negara-negara terbelakang.
O Kapitalisme tidak bangkrut karena ia melakukan imperialisme yang akan
memberikan keuntungan berupa:
O Perluasan dan penciptaan pasar baru
O Memperoleh sumber bahan mentah baru dan murah
O Memperoleh buruh murah
O Memindahkan konflik buruh-kapitalis ke daerah-daerah
jajahan
Sosial Demokrasi
kebangkrutan kapitalisme tidak akan pernah terjadi, oleh sebab itu, perjuangan
kaum buruh dengan propaganda revolusi bisa dilupakan, dan perjuangan kaum
buruh dalam mencapai cita-cita bisa dicapai melalui jalan damai, yaitu
demokrasi Eduard Breinstein
O Semenjak revolusi Oktober 1917, seluruh partai yang menganut
sosialisme, mengalami perubahan hebat. Mereka yang menolak revolusi,
dengan cepat beralih kepada ideologi Sosial Demokrasi, sementara garis
keras dengan cepat menjadi pengikut Lenin dan merubah nama menjadi
partai komunis.

O Kalangan penganut ideologi sosial demokrat pun terpecah menjadi 2


bagian:
O yang pertama tetap dengan tujuan awal menciptakan masyarakat sosialis
paripurna sebagai tujuan akhir dengan cara menyingkirkan kapitalisme,
O yang kedua menganggap kapitalisme baik-baik saja namun perlu terus
menerus dikoreksi dan diperbaiki, seperti kepemilikan negara pada usaha
yang sangat berpengaruh pada hajat kehidupan rakyat, program-program
sosial seperti pendidikan gratis dan jaminan kesehatan.
O

Pada akhirnya hampir semua partai politik penganut sosial demokrasi


mengadopsi karakter yang kedu

Fasisme (serikat)
Fasces : sebuah tongkat yang teridri dari ikatan ranting2 kayu, yang berarti
persatuan rakyat dan pemerintahan kerajaan Romawi, dengan mata kapak
terikat diantaranya, yang berarti hukuman bagi para penentang/ pembangkang
dalam serikat tersebut
Sifat Fasisme :

a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

Reaksioner
Monopoli ideologi
Imperialis
Nasionalisme yang kuat
HAM kontekstual
Peng-kambinghitam-an
Supremasi militer

h.
i.
j.
k.

Kontrol atas masa


Obsesi pada ketahanan sosial
Buruh ditindas
Pengekangan kebebasan akademik
dan seni
l. Kroni dan korupsi

m.
n.
o.
p. Pancasila sebagai Ideologi Terbuka :
q. Pancasila sebagai dasar negara Republik Indonesia adalah sebuah
ideologi, karena memiliki karakteristik sebagai ideologi. Penelaahan
terhadap Pancasila sebagai sebuah ideologi dapat dicapai melalui langkahlangkah:
O Menelaah paradigma-paradigma yang dipakai dalam filsafat Pancasila
sehingga kita dapat mengetahui koherensinya ketika ia menjadi ideologi.
O Menelaah konstitusi sebagai cerminan hubungan antara negara dan
ideologi Pancasila.
O Menelaah kebijakan negara, dan hukum positif
r.

Pancasila sebagai sebuah konsep filosofis, secara ontologis


memandang manusia sebagai asas pertama segala sesuatu di dunia
ini.
Manusia monopluralis lah yang memikirkan semuanya, sehingga ia
adalah sebuah entitas yang tak teragukan.
Oleh karena itu, Pancasila sebagai sebuah ideologi tidak
sepenuhnya condong ke arah Liberalisme yang individualistik
dan/atau Sosialisme yang komunistik
Pancasila tidak mengakui adanya supremasi sosial diatas individu.
Hak asasi harus dijunjung tinggi dan secara serius ditanggapi
dengan serangkaian tindakan konkrit, karena hak asasi manusia
adalah eksistensi manusia itu sendiri.
Namun demikian pelaksanaan hak asasi manusia harus sesuai
konteksnya. Sehingga kepentingan individu bukan menjadi satusatunya tolok ukur dalam paradigma berbangsa dan bernegara.
Pancasila sebagai ideologi tidak boleh diterjemahkan secara
monopolistik oleh kekuasaan negara.
Dasar argumentasinya adalah: agar efektif, kekuasaan negara harus
dijalankan oleh sekelompok orang terorganisir, memenuhi syarat
dan memperoleh legitimasi hukum dan pengakuan rakyat.
Sekelompok orang ini adalah pemerintah sebagai pemegang
kekuasaan negara dan mampu menggunakan wewenang yang ada.
Dalam ideologi ada beberapa dimensi, yaitu:
Dimensi Idealistik, yaitu dimensi nilai-nilai intersubyektif yang
menjadi cita-cita manusia Indonesia dalam hidup berbangsa dan
bernegara.
Dimensi Praktis, yaitu dimensi pelaksanaan nilai-nilai
intersubyektif yang menjadi panduan dalam hidup sehari-hari
manusia Indonesia.

Dimensi Flexibilitas, yaitu dimensi ruang yang memberikan


kemampuan sebuah ideologi untuk diterjemahkan secara bebas,
sehingga bersifat kontekstual.
Pancasila sebagai ideologi terbuka, harus mempunyai ruang di
dalamnya, tempat pemikiran politik, ekonomi, sosial, budaya dan
pertahanan-keamanan dapat bermain-main dengan logika yang
runtut, membentuk sebuah pemahaman baru sebagai bentuk
penerjemahan Pancasila sesuai dengan situasi dan kondisi riil di
lapangan. Ruang ini adalah dimensi flexibilitas dalam ideologi.
Melalui dimensi tersebut, dimungkinkan adanya interpretasi nilainilai intersubyektif yang berbeda-beda terhadap Pancasila, namun
tetap mengacu pada nilai-nilai obyektif yang menjadi kesepakatan
bersama seluruh rakyat Indonesia, yaitu kualitas tuhan, manusia,
satu, rakyat dan adil.
Etika politik mempunyai peranan sangat vital pada tahap ini, karena
ia mampu memberikan rambu-rambu pada tindakan interpretasi
yang menjadi dasar kebijakan dan tindakan seseorang.
Etika politik yang bernafaskan Pancasila menjadi metode paling baik
dalam interpretasi Pancasila, karena selain mengkritisi Pancasila,
etika politik Pancasila sendiri bisa dikritik.
Sehingga penerjemahan Pancasila dalam kebijakan dan tindakan
kekuasaan dapat selalu dikontrol oleh konstituennya, yaitu seluruh
bangsa Indonesia.
s.
t. Bab 6 (Filsafat Pancasila (2))
u. Sila-sila dalam Pancasila :

Metafisika, aksiologi dan epistemologi berusaha menyingkap hakikat


terdalam dari Pancasila, sehingga Pancasila dapat dimengerti sebagai
sebuah sistem filsafat.

Aristoteles berpendapat bahwa yang pertama kali dilakukan adalah


meneliti asal mula konsep yang akan diteliti.

v. Asal mula Pancasila menurut metode Aristoteles :

Causa Materialis: unsur-unsurnya telah terdapat dalam kehidupan seluruh


suku2 bangsa di Nusantara, dalam bentuk adat istiadat, kebudayaan, dan
agama2.

Causa Formalis: bentuk yang terdiri dari 5 kalimat, yang dicetuskan pada
sidang BPUPKI pertama

Causa Effisien: proses pemikiran dari mulai perumusan unsur2 Pancasila


hingga pengesahannya sebagai dasar negara tanggal 18 Agustus 1945

Causa Finalis: tujuan dirumuskan dan disahkannya Pancasila, sebagai


sistem filsafat yang mendasari berdirinya negara baru bernama Indonesia

w. Esensi Pancasila :

Berasal dari rangkaian kata2 yang memiliki makna yang menyusun


Pancasila

Esensi sebagai hakikat terdalam mempunyai beberapa sifat yang


menempel padanya (kualitas).

Kualitas yang ada pada Pancasila adalah Abstrak-umum-universalkonkret-khusus-kolektif

x. Pengertian isi Pancasila, terdiri dari beberapa tingkatan:

Pancasila sebagai dasar falsafah negara, memiliki pengertian umumabstrak atau umum-universal. Pancasila itu tetap dan tidak berubah
dan sama bagi siapapun, dalam keadaan bagaimanapun, di tempat
manapun, dan di waktu kapanpun.

Pancasila sebagai pedoman penyelenggaraan negara, bersifat umumkolektif

Pancasila sebagai kebijakan publik dan tindakan politik pemerintah,


bersifat khusus-konkrit

y. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa :

Esensi: Ketuhanan, Kata dasar: Tuhan.

Tuhan: imanen sekaligus transenden

Tuhan Transenden: eksistensi Tuhan yang kualitasnya abstrak-umumuniversal. Artinya Tuhan sebagai penyebab tidak langsung segala sesuatu
yang menyangkut manusia dan alam semesta

Tuhan Imanen: eksistensi Tuhan yang kualitasnya khusus-konkret-kolektif.


Artinya Tuhan dalam agama-agama yang dimengerti umatnya, yang telah
memberkati dan merestui bangsa dan negara Indonesia untuk
menyatakan kemerdekaan.

z. Konsekuensi logis sila Pertama :

Tidak boleh ada pertentangan dalam hal Ke-Tuhanan, tidak boleh ada sikap
dan perbuatan anti ke-Tuhanan, dan anti keagamaan, dan tidak boleh ada
paksaan agama di dalam negara Indonesia (Toleransi yang sejati).

Tanpa menjadi lembaga keagamaan, negara Indonesia memiliki tertib


negara dan hukum mengenai hukum Tuhan, hukum kodrat, dan hukum
tata susila (hukum Tuhan menjadi dasar hukum positif di Indonesia)

Negara, bangsa, dan rakyat Indonesia menyadari bahwa ada Tuhan


sebagai unsur gaib yang menjadi sumber segala sebab (pandangan hidup
yang bersifat kerohanian, tidak materialistik, atau ateistik)

aa.Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab :

Esensi: Kemanusiaan, kata dasar: Manusia

Pancasila sebagai sebuah sistem filsafat memiliki konsep antropologi


metafisik sendiri, yaitu konsep manusia monopluralis (manusia dilihat dari
berbagai sudut pandang, makhluk multidimensional, dialektis: memiliki
tesis dan antitesis)

Manusia dapat dilihat secara bersamaan sebagai makhluk sosial dan


makhluk individual.

ab.Konsekuensi Logis Sila Kedua :

Ada kesesuaian antara sifat dan keadaan di Indonesia dengan hakikat


manusia monopluralis

Konsep multi dimensional berhubungan dengan kebutuhan yang juga


multi dimensional (kebutuhan jasmani dan rohani; kebutuhan sosial dan
privasi, dsb)

Meski secara individu berlainan wujud, namun sama dalam dasar dan inti
dari kepribadian yang sinergis antara bangsa-Pancasila-kemanusiaan

Tidak dimungkinkan untuk menekankan satu dimensi saja, contoh:


individu (liberalisme, kapitalisme, hedonisme, altruisme), komunal
(marxisme, komunisme), kekuasaan (otoritariansime, fasisme), atau
kelompok SARA.

Negara dan aparaturnya, pemerintah, dan masyarakat harus menghormati


dan melaksanakan kebijakan HAM yang berkepribadian Pancasila

ac. Sila Persatuan Indonesia :

Ensensi: persatuan, kata dasar: satu

Eksistensi manusia monopluralis adalah eksistensi yang beradabersama.

Keberadaan suatu negara menjadi eksis ketika masing2 mengakui


keberadaan individu lainnya, dan pada saat yang bersamaan mengakui
keberadaan dirinya

ad.Konsekuensi Logis Sila Ketiga :

Tidak dimungkinkan adanya kepentingan apapun yang lebih tinggi dai


kepentingan bangsa dan negara yang berjiwa Pancasila

Secara ontologis, hakikat bangsa adalah manusia-manusia monopluralis


(jamak), yang berbeda satu sama lain, sehingga perbedaan adalah suatu
realitas yang harus diterima

Mengusahakan terus integrasi nasional dalam segala segi.

Meningkatkan terus dialog sebagai media komunikasi yang adil dan


setara.

ae.Sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam


Permusyarawatan/Perwakilan :

Esensi: kerakyatan, kata dasar: rakyat

Kata kunci: satu untuk semua, semua untuk satu, dan semua untuk
semua; gotong royong, dan musyawarah-mufakat

Demokrasi Pancasila mementingkan dicapainya sebuah persetujuan yang


mengakomodasi kepentingan semua pihak tanpa ada yang merasa
dirugikan

af. Konsekuensi Logis Sila Keempat :

Demokrasi di Indonesia adalah demokrasi Pancasila, yang mengakui


manusia sebagai makhluk individual tanpa mengabaikan kepentingan
mendasar individu yang dielaborasi dalam konsep HAM

Demokrasi Pancasila tidak dimungkinkan adanya pemerintahan yang tidak


berasal dari rakyat karena secara ontologis negara adalah manifestasi dari
rakyat

Rakyat adalah pemegang kekuasaan tertinggi negara

Setiap pengambilan keputusan diambil dengan cara musyarawah mufakat,


dilaksanakan secara konsekuen oleh semua pihak dengan cara gotong
royong

ag.Sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia :

Esensi: keadilan, kata dasar: adil

Keadilan distributif: pemenuhan hak dan kewajiban negara terhadap


warga negara

Keadilan legal: pemenuhan hak dan kewajiban warganegara terhadap


negara

Keadilan komutatif: pemenuhan hak dan kewajiban warganegara terhadap


sesamanya

Sila keadilan sosial merupakan tujuan dari keempat sila yang


mendahuluinya. (konsep kesetaraan)

ah.Konsekuensi Logis Sila Kelima :

Kesetaraan kesempatan dan peluang bagi semua warganegara dalam


upayanya meningkatkan kesejahteraan harus dipenuhi negara

Negara menyediakan kebutuhan dasar yang menguasai hajat hidup orang


banyak bagi kepentingan seluruh warga negara

Warganegara berhak dan wajib melaksanakan semua hak dan


kewajibannya terhadap negara dan sesama warganegara.

ai. Bab 7 (ETIKA POLITIK PANCASILA)


aj. PENGERTIAN ETIKA :

Sebuah paradigma / metode kritis yang dipakai untuk menganalisis suatu


perbuatan / tindakan seseorang, sekelompok orang, atau negara.

Metode kritis yang dipakai untuk meneliti sebuah penilaian seseorang,


sekelompok orang atau negara.

Etika sebagai sebuah ranting dalam filsafat, berusaha mengungkap


sampai pada tingkat terdalam hakikat suatu pemikiran dan/atau tindakan
seseorang. Etika meneliti tentang etis tidaknya klaim / penilaian /
pemaknaan seseorang terhadap suatu fenomena, dan sekaligus meneliti
perbuatan dan sikap seseorang tersebut.

Sebagai sebuah metode kritis yang dipakai untuk menilai sebuah


pemikiran/penilaian seseorang tentang suatu permasalahan, etika tidak

bisa lepas dari nilai itu sendiri, maka pertanyaan pertama yang harus
dijawab adalah pertanyaan tentang nilai itu sendiri.

Apakah nilai itu? Darimana datangnya nilai itu? Bagaimana proses


munculnya sebuah nilai?

Pertanyaan-pertanyaan ini harus dijawab terlebih dahulu sebelum


menelaah lebih lanjut tentang etika, karena bila tidak mampu memberikan
sebuah pengertian terhadap nilai, maka etika sebagai kegiatan penilaian
tidak dapat dimengerti.

ak.

Nilai dan Penilaian :

Seseorang ketika memikirkan sesuatu, tentu melakukan penilaian.


Penilaian tersebut muncul karena ia melakukan pemaknaan terhadap
sesuatu benda atau suatu masalah. Pemaknaan timbul dari pengamatan.

Pengamatan mengandaikan adanya subyek yang mengamati, yaitu orang


tersebut dan obyek yang diamati (yaitu suatu benda atau fenomena).

Hubungan antara subyek dan obyek adalah hubungan intensional.


Keduanya harus sama-sama merupakan realitas, yang satu
mengkualifikasi yang lain.

Apabila hanya subyek yang benar-benar ada, sementara obyek hanyalah


khayalan, maka tidak akan terjadi pengamatan, karena tidak ada yang
diamati.

Namun bila hanya obyek yang ada sementara subyek tidak real, maka
tidak akan ada pengamatan, karena tidak ada yang mengamati. Dengan
adanya kedua hal tersebut, maka terjadilah pengamatan.

Pengamatan selalu tertuju pada suatu obyek. Tanpa ada obyek takkan ada
pengamatan.

Pengamatan mengandaikan adanya kesadaran subyek. Pengamatan harus


berada dalam kesadaran. Seseorang yang berada dalam keadaan tidur
atau pingsan, tidak mempunyai kesadaran, maka tidak melakukan
pengamatan.

Kesadaran seseorang selalu tertuju pada suatu obyek. Manusia tidak bisa
berpikir tanpa memikirkan sesuatu, bahkan ketika manusia menjawab
bahwa ia tidak memikirkan apa-apa, ia sebenarnya sedang memikirkan
bahwa ia tidak memikirkan apa-apa. Jadi sering kali manusia justru sedang
memikirkan pikirannya itu sendiri.

Setelah melakukan pengamatan, seseorang melakukan pemaknaan.


Pemaknaan adalah proses dialektis antara nilai dan penilaian. Sebuah
obyek yang diamati tentu mempunyai nilai yang melekat pada dirinya.

Sementara itu, subyek yang berkesadaran yang melakukan pengamatan,


pada saat yang bersamaan melakukan penilaian. Pada saat terjadinya
pemaknaan, kualitas yang melekat pada obyek (yang disebut nilai
obyektif), dinilai oleh subyek yang mengamati.

Karena itu, nilai tidak bisa dipandang sebagai sesuatu yang sifatnya pasif.
Nilai adalah kegiatan penilaian.

Hubungan antar manusia adalah koeksistensi. Manusia satu dan manusia


lain berada bersama dalam sebuah ruang. Maka antar manusia ini
muncul pula hubungan. Hubungan antar manusia ini sifatnya adalah saling
mengkualifikasi. Manusia jadi manusia karena ada manusia lain.

Seorang manusia dapat melakukan penilaian kepada manusia lain. Namun


manusia yang diamati ini bukanlah obyek. Ia juga tentu mengamati. Maka
masing-masing manusia mempunyai dunianya sendiri, hanya saja dunia
ini akan saling berpotongan.

Perpotongan dunia ini mengakibatkan terjadinya pemaknaan dialektis,


pemaknaan timbal balik. Perpotongan ini pula yang memunculkan sebuah
pemaknaan bersama, contohnya ketika seseorang menyetujui pendapat
orang lain. Pemaknaan ini pula yang mendorong terjadinya nilai
intersubyektif.

Nilai intersubyektif ini diakui kebenarannya, sehingga nilai tersebut mulai


tersusun dengan nilai-nilai bersama yang lain. Susunan nilai ini
menghasilkan sebuah sistem pemikiran, dimana sistem pemikiran ini
diakui pula kebenarannya oleh semua manusia, hingga akhirnya
dibakukan menjadi norma.

al. Nilai Obyektif

Nilai obyektif yang melekat pada suatu benda adalah kualitas yang dipakai
untuk kegiatan pemaknaan, sekaligus merupakan nilai yang teramati.
Kualitas-kualitasnya terbuka sehingga subyek dapat mencerapnya melalui
pancaindra. Nilai ini adalah prasyarat penilaian, karena tanpa kualitas ini,
pemaknaan tidak terjadi.

Nilai obyektif setelah dicerap oleh pengamatan subyek, masuk ke dalam


kesadaran dan dikonsepkan oleh kesadaran menjadi konsep. Ini disebut
fenomena. Fenomena inilah konsep yang mewakili nilai obyektif sebuah
obyek di dalam kesadaran seorang manusia.

Masing-masing individu mempunyai sudut pandang tersendiri, karena


memang setiap manusia mempunyai dunia tersendiri yang harus dimaknai
secara individual. Namun demikian, seorang manusia sering mengalami
perpotongan dengan manusia lain, yaitu ketika ia mengamati orang lain
tersebut, dan atau ketika kedua manusia mengamati sebuah realitas yang
sama.
am.

an.Nilai Subjektif

Nilai intersubyektif adalah nilai yang terjadi ketika sebuah subyek


berpotongan dengan subyek lain dalam mengamati sebuah obyek. Dunia
manusia yang satu berpotongan dengan dunia manusia lainnya ketika
mengamati sebuah kualitas yang melekat pada obyek yang sama.

Masing-masing manusia akan mengamati kualitas yang terbuka itu, dan


mengonsepkannya dalam kesadaran masing-masing, memaknai fenomena
tersebut, dan melakukan sesuatu untuk menyikapi fenomena itu. Nilai
intersubyektif ini yang sering dipahami sebagai nilai di masyarakat.

Nilai-nilai selalu dimengerti oleh manusia, dan dimaknai oleh manusia,


karena secara ontologis, manusialah hakikat semua konsep dan nilai.
Hanya manusialah mahluk yang mengerti dan mempergunakan bahasa
karena ia satu-satunya mahluk yang berpikir.

ao.

Norma :

Nilai-nilai intersubyektif ini, akhirnya tersusun secara sistematis menjadi


norma, karena manusia-manusia yang mengakui pemaknaan yang sama
terhadap sebuah realitas yang sama, sepakat untuk menyamakan
pemaknaan.

Pemaknaan yang sama menimbulkan nilai yang sama, sehingga


menghasilkan sebuah kesepakatan diantara manusia untuk membakukan
nilai-nilai yang sama tersebut sebagai acuan penilaian, inilah yang disebut
norma.

Norma agama adalah sebuah pedoman yang menjadi acuan penilaian


untuk mengukur pikiran dan tindakan manusia sebagai penganut
kepercayaan dan agama tertentu. Seorang manusia yang mengakui
keberadaan Tuhan sebagai Causa Prima, mempergunakan nilai-nilai
intersubyektif yang disepakati dalam agamanya.

Agama adalah wahyu Tuhan, sehingga konsekuensi logis yang harus


ditempuh, manusia sebagai ciptaannya dan menganut sebuah agama
tertentu, wajib melaksanakan perintah-perintahNya yang telah dituangkan
dalam kitab suci agama masing-masing.

Agama dan etika adalah komplementer. Sebuah agama memerlukan etika


sebagai metode kritis yang dipakai oleh umat untuk menelaah setiap
keputusan yang diambil oleh para pemukanya. Etika memberikan sebuah
jalan untuk menjembatani terwujudnya dialog antar umat beragama,
dengan mengetengahkan persoalan tentang harkat dan martabat
manusia, sehingga setiap agama dapat mempunyai titik temu untuk
berdialog.

Norma moral adalah sebuah acuan penilaian yang mengukur seseorang


berpikir dan bertindak sebagai manusia. Seorang manusia adalah mahluk
bermoral. Akibatnya, kriteria penilaian norma ini bersangkutan dengan
manusia sebagai manusia.

Universalitas norma moral mengakibatkan ia justru tidak membumi dan


teoritis, sehingga aturan-aturan detailnya malah menjadi sangat kabur.
Dengan kata lain, norma moral membutuhkan norma-norma lain yang
lebih khusus dan sifat intersubyektifnya terbatas, sehingga ia bisa
diwujudkan secara efektif dalam kehidupan manusia.

Etika dan norma moral komplementer, karena keduanya mempunyai


kesamaan permasalahan dan tujuan. Etika adalah sebuah metode kritis
untuk menilai penilaian dan tindakan seseorang, agar tindakan dan
penilaian itu selalu mengacu pada nilai-nilai obyektif. Sementara norma
moral adalah sebuah ajaran yang memberikan pedoman sebuah penilaian
dan tindakan manusia supaya ia menjadi manusia. Keduanya memberikan
kontribusi yang besar bagi kehidupan manusia.

Norma sosial adalah acuan penilaian yang mengukur seseorang


bertindak dan berpikir sebagai anggota masyarakat. Seorang manusia
sebagai mahluk sosial, pasti menjadi anggota masyarakat tertentu.

Walaupun norma ini lebih khusus dibanding norma moral, namun


kelemahannya justru terletak pada kesepakatan para konstituennya.
Sebuah masyarakat tidak melibatkan kekuasaan secara khusus dalam
kehidupan sehari-hari manusia anggotanya, sehingga ikatan mereka
lemah, karena kesepakatan ini sifatnya tidak mengikat.

Karena lemahnya kesepakatan, konflik dan pelanggaran yang terjadi


seringkali tidak dapat diselesaikan secara tuntas karena tidak adanya
penegakan terhadap sanksi.

Norma hukum adalah acuan penilaian yang mengukur seseorang


bertindak dan berpikir sebagai warganegara. Seorang manusia sebagai
mahluk sosial, hidup dalam sebuah organisasi yang terstruktur, sistematis
dan berkuasa penuh.

Hal ini adalah manusiawi, karena selain sebagai mahluk sosial, manusia
monopluralis adalah mahluk individu, sehingga kepentingannya sebagai
individu seringkali muncul dan mengakibatkan konflik.

Konflik ini muncul secara hakiki disebabkan oleh karena perbedaan


pemaknaan, yang disertai pelaksanaan pemahaman individu tersebut,
yang memaksa individu lain untuk mengakui pemahaman individu yang
satu.

Etika membantu norma hukum dalam menyelesaikan persoalan-persoalan


hukum baru yang belum pernah terjadi dalam sejarah manusia dengan
mengedepankan harkat dan martabat manusia. Etika mengkritisi norma
hukum dalam hal dasar-dasar legitimasinya serta memberikan
pertimbangan-pertimbangan terhadap setiap putusan hukum.

ap.

ETIKA POLITIK

Etika politik adalah sebuah cabang dalam ilmu etika yang membahas
tentang hakikat manusia sebagai mahluk yang berpolitik, dan dasar-dasar
norma yang dipakai dalam kegiatan politik.

Etika politik sangat penting karena ia mempertanyakan hakikat manusia


sebagai mahluk sosial dan mempertanyakan atas dasar apa sebuah norma
dipakai untuk mengontrol perilaku politik.

Etika politik menelusuri batas-batas ilmu politik, kajian ideologi, azas-azas


dalam ilmu hukum, peraturan-peraturan ketatanegaraan, asumsi-asumsi
dan postulat-postulat tentang masyarakat, dan kondisi psikologis manusia
sampai ke titik terdalam dari manusia, melalui pengamatan terhadap
perilaku, sikap, keputusan, aksi dan kebijakan politik

aq.

PANCASILA SEBAGAI ETIKA POLITIK

Pancasila adalah sebuah ideologi berkarakter terbuka. Hal ini


mengakibatkan Pancasila sebagai sebuah ideologi dapat beradaptasi
terhadap perubahan zaman, dan tidak kaku. Namun sebagai ideologi
terbuka, Pancasila terbuka terhadap kritik dan tafsiran. Tafsiran dan
interpretasi terhadap ideologi hanya dapat dilakukan oleh

seseorang/organisasi yang mempunyai kekuasaan. Sementara pemegang


kekuasaan tertinggi, adalah negara. Sehingga, hanya negara lah yang
mampu menafsirkan Pancasila secara efektif.

Tahapan penafsiran kekuasaan negara terhadap Pancasila sebagai ideologi


inilah titik paling krusial. Kesalahan Orde Baru di masa lalu adalah sifat
monolitik penafsiran terhadap Pancasila.
ar.

as.

Kendala-kendala Etika Politik Pancasila :

Etika politik terjebak menjadi sebuah ideologi tersendiri. Ketika seseorang


mengkritik suatu ideologi, ia pasti akan mencari kelemahan-kelemahan
dan kekurangannya, baik secara konseptual maupun praxis. Demikian
pula ketika ia menghadapi sebuah ideologi yang lain. Hal ini terus terjadi,
hingga sebuah keyakinan muncul bahwa etika politik menjadi satusatunya cara yang efektif dan efisien dalam mengkritik ideologi, sehingga
etika politik menjadi sebuah ideologi tersendiri.

Pancasila merupakan sebuah sistem filsafat yang lebih lengkap dibanding


etika politik Pancasila, sehingga, kritik apapun yang ditujukan kepada
Pancasila oleh etika politik Pancasila, tidak mungkin berangkat dari
Pancasila sendiri, karena kritik itu tidak akan membuahkan apa-apa.

at. Pelaksanaan Etika Politik Pancasila :

Pertama adalah mempertanyakan tingkatan dijalankannya prinsip moral


menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia. Apakah sebuah
tindakan yang dilakukan sebuah lembaga pemerintahan telah menjunjung
tinggi harkat dan martabat manusia?.

Kedua adalah mempertanyakan tingkatan kesesuaian antara nilai obyektif


dan nilai intersubyektif. Apakah sebuah tindakan yang dilakukan lembaga
pemerintahan yang berdasarkan prinsip nilai intersubyektif keadilan
sesuai dengan nilai obyektif adil?

Sila Ketuhanan Yang Maha Esa ,

au.Nilai obyektif: Tuhan, Nilai intersubyektif:Ketuhanan, mengandung


makna: keyakinan terhadap eksistensi Tuhan Yang Maha Esa sebagai
Causa Prima

Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab

av. Nilai obyektif: manusia, Nilai intersubyektif: Kemanusiaan, mengandung


makna: pengakuan terhadap adanya harkat dan martabat manusia,
pengakuan terhadap azas kesamaan dan kebebasan manusia

Sila Persatuan Indonesia

aw.
Nilai obyektif: satu , Nilai intersubyektif: Persatuan, mengandung
makna: pengakuan terhadap perbedaan sebagai hakikat, pengakuan akan
sifat koeksistensi manusia

Sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam


Permusyawaratan / Perwakilan

ax. Nilai obyektif: rakyat, Nilai intersubyektif: Kerakyatan, mengandung


makna: pengakuan bahwa kedaulatan negara adalah di tangan rakyat,
musyawarah untuk mufakat dalam permusyawaratan wakil-wakil rakyat,
penjaminan tidak adanya tirani minoritas dan dominasi mayoritas

Sila Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia

ay. Nilai obyektif: adil, Nilai intersubyektif: Keadilan, mengandung makna:


pengakuan kesamaan hak dan kesempatan bagi seluruh rakyat Indonesia
di bidang agama, ekonomi, politik, sosial-budaya dan pertahanankeamanan.
az.
ba.
bb.
bc.
bd.
be.