Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA DASAR

(Refleksi dan Refraksi Cahaya)


Rabu, 27 Mei 2015

Nama Asisten :
1. Indri
Rekan Kerja :
1. Leotaher
2. Reinhart A.

Christofer Hairichi S.
1400510018

LABORATORIUM FISIKA DASAR


PHYSICS-ENERGY ENGINEERING
SURYA UNIVERSITY
2015

I.

Tujuan Praktikum :

II.

Untuk
Untuk
Untuk
Untuk

mempelajari refleksi cahaya


mempelajari refraksi cahaya
menentukkan nilai indeks bias medium
menentukkan fokus lensa konkaf dan konveks

Prinsip Dasar Praktikum


Landasan Teori :
Cahaya adalah energi berbentuk gelombang elektromagnetik yang
kasat mata dengan panjang gelombang sekitar 380750 nm. Pada
bidang fisika, cahaya adalah radiasi elektromagnetik, baik dengan
panjang gelombang kasat mata maupun yang tidak. Cahaya adalah
paket partikel yang disebut foton.
Kedua definisi di atas adalah sifat yang ditunjukkan cahaya secara
bersamaan sehingga disebut "dualisme gelombang-partikel". Paket
cahaya yang disebut spektrum kemudian dipersepsikan secara
visual oleh indera penglihatan sebagai warna.
berikut ini beberapa teori tentang pengertian cahaya:
1.

2.

3.

Teori Korpuskuler (Newton)


Cahaya adalah korpuskelkorpuskel yang dipancarkan oleh
sumber dan merambat lurus dengan kecepatan besar. Teori ini
tidak dapat menerangkan peristiwa interferensi.
Teori Gelombang Elektromagnetik (Maxwell)
Cahaya adalah gelombang elektromagnetik berasal dari medan
listrik dan medan magnet,bergerak dengan kecepatan 310 8
m/s.
Teori Undulasi (Christian Huygens)
Cahaya adalah gelombang yang berasal dari sumber yang
bergetar, merambat dalam medium eter. Teori ini dapat
menjelaskan peristiwa difraksi, interferensi dan polarisasi tetapi
tidak dapatmenerangkan perambatan cahaya lurus.

Adapun sifat-sifat cahaya itu sendiri antara lain:


1.

Dapat merambat dalam ruang hampa (tidak perlu


medium untuk merambat).

2.

Tidak bermuatan listrik.

3.

Merupakan gelombang transversal (arah getarnya tegak


lurus dengan arah perambatannya).

4.

Arah perambatannya tidak dapat dibelokkan pada


medan listrik maupun medan magnet.

5.

Memiliki sifat umum seperti mengalami polarisasi,


pemantulan (refleksi), pembiasan (refraksi), intervensi,
dan pelenturan (difraksi).

Pembiasan cahaya adalah pembelokan arah rambat cahaya karena


memasuki dua medium yang kerapatannya berbeda. Contoh: Pensil
dimasukan ke dalam gelas yang berisi air, maka pensil akan terlihat
seperti bengkok/patah.
Besarnya kecepatan cahaya bergantung pada mediumnya. Semakin
renggang mediumnya, semakin cepat merambatnya tetapi semakin
rapat mediumnya, semakin lambat merambatnya.
Pembiasan cahaya/refraksi dapat terjadi ketika cahaya membentuk
sudut yang tidak tegak lurus terhadap permukaan benda.
Hukum Pembiasan Cahaya ( Hukum Snellius) Pembiasaan Cahaya
pada medium yang berbeda

Gambar 2.1 Hukum Snellius


Keterangan gambar 2.1 :
-

Sinar datang adalah sinar dari medium 1 menuju permukaan


medium 2
Sinar bias adalah sinar yang menjauhi permukaan medium 2
"i" adalah sudut datang: sudut antara sinar datang dengan garis
normal
"r" adalah sudut bias: sudut antara sinar bias dengan garis
normal

Sinar datang, sinar bias, dan garis normal terletak pada satu bidang
datar dan berpotongan di satu titik. Sinar datang dari medium
kurang rapat (renggang) ke medium lebih rapat akan dibiaskan

mendekati garis normal. Sebaliknya, sinar datang dari medium rapat


ke medium renggang akan dibiaskan menjauhi garis normal.
Pembiasan cahaya pada berbagai medium :
Pembiasaan pada Lensa adalah pembiasaan cahaya dapat terjadi
pada lensa. Lensa merupakan benda bening yaitu benda yang dapat
meneruskan hampir semua cahaya. Lensa terdiri dari :
1. Lensa Cembung (Konvergen)
Sifat lensa cembung hampir sama dengan cermin cekung yaitu:
-

mengumpulkan cahaya (konvergen)


Fokusnya bernilai positif
memiliki tiga sinar istimewa yaitu:
o Sinar datang sejajar sumbu utama akan dibiaskan melalui
titik fokus
o Sinar datang melalui titik fokus akan dibiaskan sejajar
sumbu utama
o Sinar datang melalui titik pusat lensa akan diteruskan.
Berikut adalah gambar sinar istimewa pada lensa cembung :
Gambar 2.2 Sinar Istimewa Lensa Cembung

2. Lensa Cekung
Sifat lensa cekung hampir sama dengan cermin cembung yaitu:
-

menyebarkan cahaya (divergen)


fokusnya bernilai negatif

memiliki tiga sinar istimewa yaitu:


o Sinar datang sejajar sumbu utama akan dibiaskan seolaholah dari titik fokus
o Sinar datang seolah-olah menuju titik fokus akan dibiaskan
sejajar sumbu utama
o Sinar datang melalui titik pusat lensa (O) akan diteruskan.
Berikut adalah sinar istimewa pada lensa cekung :

Gambar 2.3 Sinar Istimewa Lensa Cekung

REFLEKSI GELOMBANG
Gelombang dapat berinteraksi. Salah satu interaksi gelombang
adalah
pemantulan
gelombang
atau
refleksi
gelombang.
Pemantulan gelombang biasanya terjadi ketika gelombang yang
sedang berjalan dari satu tempat ke tempat yang lain menabrak
suatu penghalang. Contohnya gelombang pada air. Gelombang pada
air laut yang terpantul ketika menabrak karang atau sisi kapal,
gelombang air yang terpantul dari sisi kolam renang atau bak
mandi. Dan masih banyak contoh pemantulan yang bisa kita temui
dalam kehidupan sehari-hari.
Dari contoh gelombang tersebut dapat dikatakan bahwa,
pemantulan (Refleksi) gelombang adalah peristiwa pengembalian
seluruh atau sebagian dari suatu gelombang jika gelombang
tersebut bertemu dengan bidang batas antara dua medium.
Ada beberapa fenomena dalam refleksi gelombang diantaranya:
1.
-

FENOMENA REFLEKSI PADA GELOMBANG AIR


Gelombang bidang datar permukaan datar

Gelombang yang terpantul pada permukaan yang datar dipantulkan


secara teratur. Dari gambar dapat dilihat pemantulan pada bidang
yang datar akan memantulkan gelombang dengan sudut datang dan
sudut pantulan sama.
-

Gelombang bidang datar oleh permukaan cekung

Gelombang yang terpantul akan membentuk perrmukaan bidang


pantul ketika memantul pada bidang tersebut.
-

Gelombang bidang datar oleh pemukaan cembung

Gelombang yang terpantul akan membentuk perrmukaan bidang


pantul ketika memantul pada bidang tersebut. pada gambar,
permukaan bidang pantul berbentuk cembung, sehingga pantulan
gelombangnya pun berbentuk bidang cembung tersebut.
2.

PEMANTULAN PADA TALI

Pemantulan gelombang pada ujung tetap akan mengalami


perubahan bentuk atau fase. Akan tetapi pemantulan gelombang
pada ujung bebas tidak mengubah bentuk atau fasenya. Ketika
gelombang yang merambat pada sebuah medium bertemu
penghalang atau rintangan maka gelombang dapat mengalami
transmisi (diteruskan) atau dapat mengalami refleksi (pemantulan)
atau juga mengalami kedua-duanya. Tegangan pada kedua tali, baik
tali tipis maupun tali tebal adalah sama sehingga perbandingan
kecepatan perambatan gelombang pada kedua tali, hanya
ditentukan oleh massa jenis masing-masing tali.
Setelah pulsa menemui rintangan atau halangan yaitu titik batas
antara tali tipis dan tali tebal, pulsa tersebut ada yang dipantulkan
dan ada pula yang diteruskan. Dari pengamatan dapat diperoleh
bahwa pulsa yang dipantulkan mengalami perubahan sudut fase ,
sedangkan pulsa transmisi tidak mengalami peruabahn fase.
Peristiwa ini sama dengan pemantulan gelombang pada ujung tali
terikat. Kecepatan perambatan pulsa pada tali tebal yaitu kecepatan
pulsa transmisi lebih rendah dibandingkan kecepatan pulsa pada tali
tipis, yaitu pulsa pantul.
3. FENOMENA REFLEKSI PADA CAHAYA
- Pemantulan oleh permukaan rata
Ketika anda bercermin pada cermin yang permukaannya datar,
maka bayangan yang terpantul adalah bayangan anda dan
bayangan tersebut tepat berada didepan anda. hal itu membuktikan
bahwa gelombang yang terpantul pada permukaan yang datar
dipantulkan secara teratur.
Berikut adalah contoh gambar untuk pemantulan gelombang pada
cermin datar.

Gambar 2.4 Pemantulan Cahaya pada Cermin Datar

HUKUM SNELLIUS UNTUK REFLEKSI


Pada peristiwa pemantulan, berlaku suatu ketetapan
o Sinar datang, sinar pantul dan garis normal terhadap
bidang batas pemantul pada titik jatuh, semuanya berada
dalam satu bidang.
o Sudut datang sama dengan sudut pantul .

Pemantulan oleh permukaan cekung

Dalam mempelajari gejala pemantulan cahaya pada cermin cekung


anda harus mengetahui jalan sinar atau gelombang cahaya pada
cermin cekung hal ini sangat diperlukan agar lebih mudah untuk
memahami pembentukan serta sifat-sifat bayangan yang terjadi
akibat pemantulan cahaya pada cermin cekung.
Cermin cekung memiliki sifat convergen atau mengumpulkan sinar
yaitu bila ada sinar datang yang sejajar sumbu utama maka sinar
tersebut akan dipantulkan dengan sinar pantul menuju ke titik focus.
Titik fokus pada cermin cekung besarnya setengah kali dari jari jari
kelengkungan cermin, karena cermin cekung adalah sebagai busur
dari bangun bola.
Ada tiga sinar istimewa pada cermin cekung

1. Sinar datang sejajar sumbu utama akan dipantulkan melalui titik

fokus
Gambar 2.5 Pemantulan Cermin Cekung Sifat pertama
2. Sinar datang melalui titik fokus akan dipantulkan sejajar sumbu
utama

Gambar 2.6 Pemantulan Cermin Cekung Sifat Kedua


3. Sinar datang melalui pusat kelengkungan dipantulkan melalui

titik yang sama


Gambar 2.7 Pemantulan Cermin Cekung Sifat Ketiga
-

Pemantulan oleh permukaan cembung

Cermin cembung memiliki sifat divergen atau menyebarkankan


sinar yaitu bila ada sinar datang yang sejajar sumbu utama maka
sinar tersebut akan dipantulkan seolah olah berasal dari titik fokus
kebalikan
dari
pemantulan
pada
cermin
cekung
yang
mengumpulkan sinar. Titik fokus pada cermin cembung besarnya

setengah kali dari jari jari kelengkungan cermin, karena cermin


cembung adalah sebagai busur dari bangun bola. Ada tiga sinar
istimewa pada cermin cembung :
1. Sinar datang sejajar sumbu utama akan dipantulkan seolah-olah
sinar tersebut berasal dari titik fokus

Gambar 2.8 Pemantulan Cermin Cembung Sifat Pertama


2. Sinar datang menuju titik fokus akan dipantulkan sejajar sumbu

utama
Gambar 2.9 Pemantulan Cermin Cembung Sifat Kedua
3. Sinar datang menuju pusat kelengkungan dipantulkan melalui
titik yang sama

Gambar 2.10 Pemantulan Cermin Cembung Sifat Ketiga

Alat Eksperimen :

Laser (singkatan dari bahasa Inggris: Light Amplification


by Stimulated Emission of Radiation) merupakan
mekanisme suatu alat yang memancarkan radiasi
elektromagnetik, biasanya dalam bentuk cahaya yang
tidak dapat dilihat maupun dapat lihat dengan mata

normal, melalui proses pancaran terstimulasi. Pancaran


laser biasanya tunggal, memancarkan foton dalam
pancaran koheren.
Power Supply : Pemberi energi untuk menyalakan laser.
Kertas HVS : Kertas digunakan sebagai metode untuk
pengambilan data (sinar datang, sinar yang dibiaskan, &
sinar yang dipantulkan).
Lensa cembung : Lensa cembung digunakan untuk
mempelajari sinar yang dibiaskan dari sinar datang
(sifat/karakteristik dari lensa cembung).
Lensa Cekung : Lensa cekung digunakan untuk
mempelajari sinar yang dipantulkan dari percobaan
(sifat/karakteristik dari lensa cekung).
Trapesium Akrylic : Digunakan sebagai medium dalam
percobaan dan mempelajari sinar yang akan dibiaskan
dari medium tersebut.
Balok Akrylic Kecil & Besar berisi Air : Digunakan
sebagai medium dalam percobaan dan mempelajari
sinar yang akan dibiaskan dari medium tersebut. ( di
dalam balok diisi air)

Langkah Kerja :
Mengecek alat alat yang akan digunakan di laboratorium
Memasang alat - alat yang diperlukan
Dalam percobaan pertama, susun secara berurutan pada jalur
: laser, polarisator, dan layar. Nyalakan laser dan arahkan
hingga mengenai polarisator dan layar. Kemudian putar
polarisator hingga cahaya terlihat redup, putar dari 0 sampai
0. Lalu catat setiap sudut yang membuat cahaya meredup.
Percobaan kedua, susun secara berurutan pada jalur : laser,
polarisator pertama (sudut 0), polarisator kedua, dan layar.
Nyalakan laser dan arahkan sampai mengenai seluruh
komponen yang terpasang pada jalur. Kemudian putar
polarisator kedua hingga cahaya tidak terlihat. Lalu catat
setiap suduth yang membuat cahaya tidak terlihat.
Percobaan ketiga, susun secara berurutan pada jalur : laser,
polarisator pertama (sudut 0), polarisator kedua, polarisator
ketiga (sudut 90), layar. Kemudian nyalakan laser dan
arahkan hingga melewati setiap komponen pada jalur. Lalu
putar polarisator kedua hingga cahaya berada pada kondisi
optimal, catatlah setiap sudut yang membuat rambatan
cahaya optimal.

Percobaan keempat, susun secara berurutan pada jalur : laser,


balok akrilik, layar. Kemudian tembakan laser ke balok akrilik
hingga mengenai layar. Lalu balok akrilik diputar hingga
cahaya yang dipantulkan padam. Setelah itu, catat sudut yang
diperlukan untuk membuat cahaya padam dan hitunglah
indeks bias cahaya.
Percobaan kelima, susun secara berurutan pada jalur : laser,
polarisator pertama (sudut 0), selembar plastik, polarisator
kedua, layar. Kemudian nyalakan laser dan arahkan. Lalu
putar polarisator kedua hingga cahaya tidak terlihat. Setelah
itu, catat sudut yang diperlukan untuk membuat cahaya tidak
terlihat dan bandingkan dengan nilai yang didapat pada
percobaan kedua.
Percobaan keenam, susun secara berurutan pada jalur : laser,
apparatus celah tunggal, layar. Lalu nyalakan laser dan
arahkan hingga melewati celah. Perhatikan apakah cahaya
yang sampai pada layar terdifraksi atau tidak. Jika tidak
jauhkan layar hingga cahaya tampak terdifraksi. Kemudian
catat jarak cahaya sampai layar saat terjadi difraksi dan catat
juga diameter yang terbentuk oleh difraksi dan ulangi
percobaan dengan menambah jarak laser ke layar.
Percobaan ketujuh, susun secara berurutan pada jalur : laser,
apparatus celah ganda, layar. Lalu nyalakan laser dan arahkan
hingga melewati kedua celah apparatus. Kemudian gerakan
layar menjauh hingga cahaya yang sampai menyatu dan
membentuk difraksi. Setelah itu, catat jarak cahaya ke layar
sampai membentuk difraksi dan catat diamter difraksi yang
terbentuk dan ulangi kembali percobaan dengan menambah
jarak laser ke layar
Percobaan kedelapan, susun secara berurutan pada jalur :
laser, kisi difraksi, layar. Kemudian catat jarak laser ke layar
serta kisi difraksi yang tertulis pada alat. Perhatikan cahaya
yang terbentuk pada layar dan ukur jarak tiap cahaya yang
terdifraksi. Lalu hitung nilai kisi difraksi dan bandingkan
dengan kisi difraksi yang tertulis pada alat percobaan dan
setelah itu, ulangi kembali percobaan dengan menambah
jumlah kisi difraksi.

III.

Pengamatan dan Pengolahan Data

3.1 Penentuan Indeks Bias Medium


3.1.1 Penentuan Indek Bias Trapesium
Percobaan ini mencari besar indeks bias ketika cahaya yang
melewati balok trapesium. Besar sudut yang dicari menggunakan
rumus pitagoras segitiga. Maka untuk mencari besar indeks bias
digunakan rumus :
n2=

sin
sin

n(literatur )
n relatif =

nn (literatur )

Tabel 3.1.1.1 Data Panjang Sudut


no

a1
(cm)

a2
(cm)

no

b1
(cm)

b2
(cm)

0,21

3,4

0,9

3,4

1,3

3,4

1,45

a3 (cm)
3,51283
4
1,61554
9
1,80277
6
2,08626
5

3,5

0,3

1,5

0,6

1,5

1,5

1,6

3,4

1,5

3,6

3,9

2,5

3,4

b3 (cm)
3,4064
79
3,5171
01
3,6400
55
3,7576
59
4,2201
9

b2
a2

a3

b1
b3

a1
Gambar 3.1.1.1.1 Sinar yang dibentuk sebagai segitiga siku-siku
Tabel 3.1.1.1 Nilai Indeks Bias
no
.
1
2
3
4
5

sin a

sin b

n2

nlitelatur

0,09

0,06

1,39

1,49

0,37

0,26

1,45

1,49

0,55

0,36

1,55

1,49

0,70

0,43

1,63

1,49

0,92

0,59

1,56

1,49

n
relatif
7%
3%
4%
10%
5%

Rata - rata

1,49

1,52

Standar Deviasi

6%

0,10

Prisma Trapesium
0.70
0.60
f(x) = 0.62x + 0.01

0.50
0.40
sin

0.30
0.20
0.10
-

0.10 0.20 0.30 0.40 0.50 0.60 0.70 0.80 0.90 1.00
sin

n2 = 1,614726

3.1.2 Penentuan Indek Balok Akrilik Besar (Diisi Air)


Percobaan ini mencari besar indeks bias ketika cahaya yang
melewati balok akrilik berukuran besar. Besar sudut yang dicari
menggunakan rumus pitagoras segitiga. Maka untuk mencari besar
indeks bias digunakan rumus :
n2=

sin
sin

n(literatur )
n relatif =

nn (literatur )

Tabel 3.1.2.1 Data Panjang Sudut

b2

no

a1
(cm)

a2
(cm)

1,4

0,3

1,4

0,51

1,4

0,9

1,4

1,5

1,4

2,7

a3 (cm)
1,4317
82

no

b1
(cm)

b2
(cm)

0,55

3,7

1,49
1,6643
32
2,0518
28
3,0413
81

0,9

3,7

1,6

3,7

2,15

3,7

2,9

3,7

b3 (cm)
3,7406
55
3,8078
87
4,0311
29
4,2793
11
4,7010
64

a2

a3

b1
b3

a1
Gambar 3.1.2.1 Sinar yang dibentuk sebagai segitiga siku-siku
Tabel 3.1.2.2 Nilai Indeks Bias
no
1
2
3
4
5

sin a

sin b

n2

nlitelatur

0,21

0,15

1,43

1,33

0,34

0,24

1,45

1,33

0,54

0,40

1,36

1,33

0,73

0,50

1,46

1,33

0,89

0,62

1,44

1,33

Rata - rata

1,43

Standar Deviasi

1,33

n
relatif
7%
9%
2%
9%
8%
7%

0,04

Balok Akrilik Besar


0.70
0.60

f(x) = 0.72x - 0.02

0.50
0.40
sin

0.30
0.20
0.10
0.20

0.30

0.40

0.50

0.60

0.70

0.80

0.90

1.00

sin

n2 = 1,39840582

3.1.3 Penentuan Indek Bias Balok Akrilik Kecil (Diisi Air)


Percobaan ini mencari besar indeks bias ketika cahaya yang
melewati balok akrilik berukuran kecil. Besar sudut yang dicari

menggunakan rumus pitagoras segitiga. Maka untuk mencari besar


indeks bias digunakan rumus :
n2=

sin
sin

n(literatur )
n relatif =

nn (literatur )

Tabel 3.1.3.1 Data Panjang Sudut


no

a1
(cm)

a2
(cm)

1,4

0,4

1,4

0,7

1,4

1,15

1,4

1,75

1,4

3,9

a3 (cm)
1,4560
22
1,5652
48
1,8117
67
2,2410
93
4,1436
7

no

b1
(cm)

b2
(cm)

0,8

4,5

1,4

4,5

2,2

4,5

2,8

4,5

3,9

4,5

b3 (cm)
4,5705
58
4,7127
49
5,0089
92
5,3
5,9548
3

b2
a2

a3

b1
b3

a1
Gambar 3.1.3.1 Sinar yang dibentuk sebagai segitiga siku-siku
Tabel 3.1.3.2 Nilai Indeks Bias
no
1
2
3
4
5

sin a

sin b

n2

nlitelatur

0,27

0,18

1,57

1,33

0,45

0,30

1,51

1,33

0,63

0,44

1,45

1,33

0,78

0,53

1,48

1,33

0,94
0,65
Rata - rata

1,44

1,33

n
relatif
18%
13%
9%
11%
8%
12%

1,49
Standar Deviasi

1,33

0,05

Balok Akrilik Kecil


0.70
0.60

f(x) = 0.69x + 0.01

0.50
0.40
sin

0.30
0.20
0.10
0.10 0.20 0.30 0.40 0.50 0.60 0.70 0.80 0.90 1.00
sin

n2 = 1,447807
3.2 Pemantulan Ganda (Multiple Reflection)
3.2.1 Pemantulan Ganda pada Medium Trapesium
Percobaan ini mencari besar indeks bias ketika cahaya yang
melewati balok akrilik trapesium. Maka untuk mencari besar indeks
bias digunakan rumus:

2 x d x sin x cos 2
n= (
) +sin 2
a

nliteratur
n relatif =

n literaturn

d = 3,3 cm

Tabel 3.2.1 Nilai Indeks Bias pada Tiga Polarisator


no
.
1
2
3
4

sin a
0,09
0,37
0,55
0,70

a (cm)
0,55
1,3
2,05
2,25

cos a

0,9963
47
0,9284
77
0,8320
5
0,7189
88

1,024634
896
1,789623
544
1,586088
404
1,622250
417

n
literatu
r

relatif

1,49

31%

1,49

20%

1,49

6%

1,49

9%

0,3846
15
0,7720
95
0,2404
68

10

0,92
Rata - rata

Standar Deviasi

0,952353
215
1,394990
095
0,379799
867

1,49

36%

1,49

21%

3.2.2 Pemantulan Ganda pada Medium Balok Akrilik Besar


Percobaan ini mencari besar indeks bias ketika cahaya yang
melewati balok akrilik trapesium. Maka untuk mencari besar indeks
bias digunakan rumus:

2 x d x sin x cos 2
n= (
) +sin 2
a

nliteratur
n relatif =

n literaturn

d = 5 cm
Tabel 3.2.2 Nilai Indeks Bias pada Tiga Polarisator
no
.
1
2
3

3.3

4
5

sin a
0,2747
21
0,4472
14
0,6347
39
0,7808
69
0,9411
95

a
2,2
3
3,6
4,1
4,8

Rata - rata
Standar Deviasi

cos a

0,9615
24
0,8944
27
0,7727
26
0,6246
95
0,3378
65
0,7182
47
0,2483
11

1,231713
775
1,406334
874
1,503046
112
1,423131
751
1,150975
244
1,343040
351
0,146035
342

sempurna (Total internal reflection)

n
literatu
r

relatif

1,33

7%

1,33

6%

1,33

13%

1,33

7%

1,33

13%

1,33

9%

Peman
tulan

r1 (m)
no
.
1
2
3
4
5

n
literat
ur
1,515

r0 (m)

f (m)

0,017

1,515

0,017

0,01

1,515

0,017

0,011

1,515

0,017

0,012

1,515

0,017

0,1309
71
0,1309
71
0,1309
71
0,1309
71
0,1309
71
0,1309
71

L (m)
0,034
0,046
8
0,060
3
0,072
2
0,087
7

0,007
5
0,009

RATA-RATA

r0 relatif

Pemantulan Sempurna

3.4 Diverging Beam


Penyinaran yang ditembakan ke lensa konkaf
Tabel 3.4.1

15%
15%
15%
15%
15%
15%

Gambar
3.3.1
Pola

Grafik perbandingan L dan R


0.01
0.01

f(x) = 0.08x + 0

0.01
0.01
R

0.01
0
0
0
0.03

0.04

0.05

0.06

0.07

0.08

0.09

0.1

3.5

Pengukuran kelengkungan dan indeks bias lensa

Berikut ini adalah data hasil pengukuran pemantulan dari lensa konkaf. Untuk
mencari besar nilai indeks bias digunakan rumus :
R
n= +1
f

Keterangan :
-

n : indeks bias
R : Jari jari Lensa
f : fokus lensa

Tabel 3.5.1 Menentukkan Nilai Indeks Bias Berdasarkan Titik Fokus

sin a

n
literat
ur

3,60

0,22

1,49

1,31

0,04

12%

1,30

3,60

0,36

1,49

1,27

0,04

14%

1,80

3,90

0,54

1,49

1,26

0,03

15%

2,20

4,20

0,69

1,49

1,24

0,03

17%

2,60

4,60

0,76

1,49

1,26

0,03

15%

no
.

0,90

R(m)

n
relatif

Rata-Rata

1,27

0,04

15%

3.6 Teleskop Galilean


Percobaan ini mencari besar sudut ketika cahaya yang
melewati dua

IV.

Analisa Data
Pada percobaan pertama pengukuran sudut dilakukan dengan cara mengukur
panjang garis-garis sinar, kemudian menggunakan rumus pitagoras untuk mencari
kemiringan dari segitiga yang dibentuk. Lalu mencari nilai sin pada segitiga sehingga
dapat ditentukan besar sudut yang dihasilkan. Setelah itu, percobaan ini menggunakan
tiga buah medium berbahan akrilik yang berbeda bentuk, yaitu : trapesium, balok
akrilik besar dan kecil yang diisikan air. Jika dilihat secara kasar nilai sin a selalu
lebih besar dibandingkan sin b. Hal ini dikarenakan sudut sinar datang lebih besar
dibanding sudut pembiasan sinar. Pembiasan terjadi karena perbedaan kerapatan
medium. Karena medium yang digunakan lebih rapat dibandingkan udara
menyebabkan sinar terbias. Hasil nilai indeks bias yang didapatkan memiliki relatif
yang mendekati nilai indeks bias secara literatur(terori) maka nilai yang didapat sudah
dapat dikatakan benar. Dan nilai plot antara sin a terhadap sin b menunjukkan rumus
bahwa y=mx +c dimana y adalah sin b, x adalah sin a, dan m adalah satu dibagi n 2
(nilai indeks bias medium). Hasil yang didapat berdasarkan grafik juga mendekati
nilai indeks bias secara literatur yaitu 1,61 untuk trapesium, 1,39 untuk balok besar,
dan 1,44 untuk balok kecil.
Pada percobaan kedua menggunakan dua buah medium berbahan akrilik yang
berbeda bentuk, yaitu : trapesium dan balok akrilik besar yang diisikan air. Dalam
percobaan ini pengukuran jarak dari hasil pemantulan ganda dengan menggunakan
rumus :

2 x d x sin x cos 2
n= (
) +sin 2
a

Sistematika dari pemantulan ganda ini adalah ketika sinar masuk sebagai sinar datang
yang telah melewati lapisan pertama (akrilik) dan kemudian akan dipantulkan oleh
lapisan akrilik dalam bagian bawah dari medium tersebut. Jika dibandingkan dengan
percobaan pertama, hasil indeks bias yang didapatkan memiliki relatif yang lebih

besar dibandingkan dengan relatif indek bias pada percobaan pertama. Hal ini
dikarenakan mengabaikan medium air yang ada di dalam akrilik yang seharusnya
mempengaruhi pembiasan yang terjadi.
Pada percobaan ketiga, pembuktian mengenai tentang pemantulan sempurna
atau dapat dikatakan Total Internal Reflection. Dengan menggunakan medium
segitiga sama kaki dengan sudut 450 450 900. Ketika sinar masuk ke dalam
medium sinar tersebut lalu terpantul sisi pertama yang mengarahkan sinar ke sisi
sebelahnya dan kemudian dipantulkan lagi keluar tanpa perubahan sudut sinar yang
keluar, maka pemantulan tersebut dapat dikatakan sebagai pemantulan sempurna.
Pada percobaan keempat, setelah mencari data nilai dari jarak lensa ke layar
(L) dan diameter (r1), lalu nilai-nilai tersebut diplotkan menjadi sebuah grafik.
Sehingga menghasilkan persamaan garis liner yaitu y = 0,1298x + 0,017.
Persamaan ini dibandingkan dengan rumus : r =

r0
L+ r 0 . Berdasarkan persamaan
f

tersebut c bernilai sebagai konstanta dan c adalah jari-jari kelengkungan dari lensa
yang digunakan, nilai m(0,1298) pada persamaan adalah r0/f , kemudian dapat
diperoleh besar nilai fokus lensa dengan cara membagi r0 dengan m.
Pada percobaan kelima yaitu menentukan kelengkungan dan indek bias lensa. Lensa
yang digunakan tersebut memiliki indeks bias sebesar 1,49. Pada percobaan ini kita
dapat menggunakan nilai focus lensa yang didapat dari percobaan keempat sebesar
0,11471. Dari data awal diketahui nilai a dan sin , maka kita dapat mencari
a
kelengkungan lensa tersebut dengan menggunakan rumus R = sin . Sehingga di
peroleh rata-rata kelengkungan lensa tersebut sebesar 4 cm. Setelah itu untuk
memperoleh nilai n dari data tersebut dapat menggunakan rumus n =

R
+1 . Hasil n
f

yang diperoleh dari percobaan tersebut sebesar 1,31 dan jika dibandingkan dengan
literatur nilai tersebut memiliki kesalahan sebesar 12%.

Pada percobaan keenam yaitu teropog galileo, dapat menggunakan 2 buah lensa yaitu
plan konkav dan plan konveks. Ketika lensa tersebut disusun, sinar datang pertama
akan menyinari lensa cembung datar kemudian dilanjutkan dengan lensa cekung datar.
Pada percobaan ketika kedua lensa tersebut maka akan menghasilkan nilai focus yang
sama, namun jika kedua lensa renggang atau dikatakan memiliki jarak. Maka focus
yang dihasilkan akan berbeda. Dapat dilihat pada rumus L + f1 = f2 jika memiliki
jarak, dimana L sebagai jarak antara kedua lensa tersebut. Dan jika kedua lensa tidak
memiliki jarak, maka f1 = f2.

V.

Kesimpulan

VI.

Saran
Praktikum ini sebaiknya dilakukan pada ruangan yang tidak
terlalu terang agar memudahkan praktikan melihat sinar cahaya
yang sedang digunakan.

VII.

Referensi
Petunjuk Praktikum Fisika Dasar II Surya University