Anda di halaman 1dari 13

*Part 2

tersebut terutama mencerminkan perbedaan lamanya fase folikel; lama (durasi) fase luteal
hampir konstan. Menifestasi nyata perubhan siklus yang terjadi di uterus adalah pendarahan haid
yang berlangsung sekali setiap daur haid (sekali sebulan). Namun, selama siklus tersebut, terjadi
perubahan-perubahan yang kurang nyata, ketika uterus dipersiapkan untuk menerima implantasi
ovum yang dibuahi dan kemudian lapisannya dilepaskan jika tidak terjadi pembuahan (haid),
hanya untuk memperbaiki dirinya kembali dan mulai mempersiapkan diri untuk ovum yang akan
dikeluarkan pada siklus berikutnya.

Uterus terdiri dari dua lapisan: miometrium lapisan otot polos di sebelah luar, dan endometrium
lapisan bagian dalam yangm mengandung banyak pembuluh darah dan kelenjar. Esrtrogen
merangsang pertumbuhan miometrium dan endometrium. Hormon ini juga meningkatkan
sintesis reseptor progesteron di endometrium. Dengan demikian, progesteron hanya mampu
mempengaruhi endometrium setelah endometrium dipersiapkan oleh estrogen.
Progesteron bekerja pada endometrium yang telah dipersiapkan oleh estrogen untuk
mengubahnya menjadi lapisan yang ramah dan mengandung gbanyak nutrisi bagi ovum yang
sudah dibuahi. Di bawah pengaruh progesteron, jaringan ikat endometrium menjadi longgar dan
edematosa akibat penimbunan elektrolit dan air yang mempermudah implantasi ovum yang
dibuahi. Progesteron juga mempersiapkan endometrium untuk menampung mudighah yang baru

berkembang dengan merangsang kelenjar-kelenjar endometrium agar mengeluarkan dan


menyimpan glikogen dalam jumlah yang besar dan dengan mneybabkan pertumbuhan besarbesaran pembuluh darah endometrium. Progesteron juga menurunkan kontraktilitas uterus agar
lingkungan di uterus tenang dan kondusif untuk implantasi dan pertumbuhan mudighah.

Daur haid terdiri dari 3 fase (fase menstruasi/haid, fase proliferasi, dan fase sekresi atau
progestasional). Fase menstruasi adalah fase yang paling jelas karean ditandai oleh pengeluaran
darah dan debris edometrium dari vagina. Berdasarkan perjanjian, hari pertama haid dianggap
sebagai awal siklus baru. Fase ini bersamaan dengan berakhirnya fase luteal ovarium dan
permulaan fase folikel. Sewaktu korpus luteum berdegenerasi karena tidak terjadi pebuahan dan
implantasi ovum yang dikeluarkan dari siklus sebelumnya, kadar estrogen dan progesteron turun
drastis. Karena efek netto estrogen dan progesteron adalah mempersiapkan endometrium untuk
implantasi ovum yang dibuahi, penarikan kembali kedua hormon steroid tersebut menyebabkan
lapisan endometrium yang kaya akan nutrisi dan pembuluh darah itu tidak lagi ada yang
mendukung secara hormonal. Penurunan kadar hormon-hormon ovarium itu juga merangsang
epngeluaran prostaglandin uterus yang menyebabkan vasokonstriksi pembuluh-pembuluh
endometrium sehingga aliran darah ke endometrium terganggu. Penurunan pengaliran oksigen
yang terjadi menyebabkan kematian endometrium, termasuk pembuluh-pembuluh darah.
Pendarahan yang timbul melalui disintegrasi pembuluh darah itu membilas jaringan
endometrium yang mati kedalam lumen uterus. Pada setiap kali haid, seluruh lapisan

endometrium terlepas, kecuali satu lapisan dalam dan tipis yang terdiri dari sel-sel epitel dan
kalenjar yang akan menjadi bakal regenerasi endometrium.
Prostaglandin juga merangsang kontraksi ritmik ringan miometrium. Kontraksi-kontraksi ini
membantu mengeluarkan darah dan debris endometrium dari rongga uterus melalui vagina
sebagai darah haid. Kontrasksi uterus yang kuat akibat pembentukan prostaglandin yang
berlebihan menyebabkan kejang haid (dismenore) yang dialami oleh sebagian wanita.
Jumlah rata-rata darah yang keluar setiap kali haid adalah 50-150 ml. Darah yantg mengalir
lambat melalui endometrium akan membeku di dalam rongga uterus. Fibrinolisin, suatu pelarut
fibrin yang menguraikan fibrin yang membentuk jaringan bekuan, akan bekerja pada bekuan ini.
Dengan demikian, darah haid tidak lagi membeku karena darah tersebut sudah membeku dan
sudah dicairkan setelah keluar dari vagina. Namun, apabila darah terlalu cepat mengalir keluar,
fibrinolisin mungkin belum memiliki cukup waktu untuk bekerja, sehingga darah haid dapat
membeku jiuka jumlahnya sangat banyak. Selain darah dan debris endometrium, darah haid
mengandung banyak leukosit. Sel-sel darah putih ini berperan penting dalam pertahanan
endometrium terhadap infeksi.
Haid biasanya berlangsung selama lima sampai tujuh hari setelah degenerasi korpus luteum
bersamaan dengan bagian awal fase folikel ovarium. Penurunan estrogen dan progesteron akibat
degenerasi korpus luteum secara simultan menyebabkan terlepasnya endometrium (haid) dan
perkembangan folikel-folikel baru di ovarium dai bawah pengaruh hormon-hormon
gonadotropik yang kadarnya meningkat. Penurunan sekresi hormon gonad menghilangkan
inhibisi pada hipothalamus dan hipofisis anterior sehingga sekresi FSH dan LH meningkat dan
fase folikel baru kembali dimulai. Setelah lima sampai tujuh hari di bawah pengaruh FSH dan
LH, folikel-folikel yang baru berkembang mengeluarkan cukup banyak estrogen untuk
mendorong pemulihan dan pertumbuhan endometrium.
Dengan demikina, haid berhenti dan fase proliferatif siklus uterus dimulai bersamaan dengan
bagia terakhir fase folikel ovarium pada saat endometrium mulai memperbaiki dirinya dan
mengalami proliferasi di bawah pengaruh estrogen yang berasal dari folikel-folikel baru yang
sedang tumbuh. Sewaktu darah haid berhenti di uterus, tertinggal satu lapisan tipis endometrium
setebal kurang dari 1mm. Estrogen merangsang proliferasi sel pitel, kalenjar, dan pembuluh

darah di endometrium sehingga ketebalan lapisan ini dapat mencapai sampai 3 hingga 5 mm.
Fase proliferasi yang didominasi oleh estrogen berlangsung dari akhir haid sampai ovulasi.
Kadar estrogen puncak memicu lonjakan LH yang menyebabkan ovulasi.
Setelah ovulasi, pada saat sebuah korpus luteu terbentuk, uterus memasuki fase sekretorik atau
progestasional yang bersamaan waktunya dengan fase luteal ovarium. Korpus luteum
mengeluarkan sebagian besar hormon progesteron dan estrogen. Progesteron bekerja pada
endometrium tebal yang sudah dipersiapkan oleh estrogen untuk mengubahnya menjadi jaringan
yang kaya pembuluh dan glikogen. Periode ini disebut fase sekretorik, karena kalenjar-kalenjar
endometrium secara aktif mengeluarkan glikogen, atau fase progestasional (sebelum kehamilan),
dalam kaitannya dengan pembentukan endometrium yanag subur yang mampu menunjang
perkembangan mudighah. Jika tidak terjadi pembuahan dan implantasi, korpus luteum
berdegenerasi dan fase folikel dan fase haid kembali dimulai.

FAKTA OVULASI

Telur cuma berupaya hidup 12-24 jam selepas dilepaskan dari ovari.

Selalunya cuma satu telur sahaja yang dilepaskan setip kali ovulasi.

Ovulasi boleh dipengaruhi oleh tekanan, sakit atau kiranya terdapat gangguan pada rutin
seharian.

Sesetengah wanita mungkin mengalami pendarahan faraj semasa ovulasi.

Implantasi selalunya terjadi 6-12 hari selepas ovualsi.

Setiap wanita dilahirkan dengan berjuta-juta telur yang tidak matang yang menunggu
untuk dilepaskan.

Haid masih boleh berlaku walaupun ovulasi tidak berlaku.

Ovulasi juga masih boleh berlaku walaupun haid tidak datang.

Sesetengah wanita mungkin merasa sedikit sakit pada bawah perut semasa ovulasi terjadi.

Sekiranya telur tidak disenyawakan, ia akan diserap kedalam dinding rahim dan akan
gugur bersama-sama darah hai

Ovulasi dan luteinisasi selanjutnya folikel yang ruptur dipicu oleh peningkatan sekresi LH yang
masif dan mendadak. Lonjakan LH ini menyebabkan empat perubahan utama pada folikel:
1. Lonjakan tersebut menghentika sintesis estrogen oleh folikel
2. Memulai kembali meiosis di oosit pada folikel yang sedang berkembang, tampaknya
dengan menghambat pengeluaran oocyte maturation-inhibitng substance oleh sel-sel
granulosa. Zat ini diperkirakan menjadi penyebab terhentinya meiosis do oosit primer
setelsh oosit terbungkus di dalam sel-sel granulosa pada ovarium janin.
3. Memicu pembentukan prostaglandin spesifik yang bekerja lokal. Prostaglandin tersebut
menginduksi

ovulasi

dengan

mendorong

perubahan-perubahan

vaskular

yang

menyebabkan pembengkakan folikel dengan cepat sementara menginduksi pencernaan


dinding folikel oleh enzim-enzim. Efek-efek ini bersama-sama menyababkan rupturnya
dinding yang membungkus folikel.

4. Menyebabkan differensiasi sel-sel folikel menjadi sel-sel luteal. Karena lonjakan LH


memicu ovulasi dan luteinisasi, pembentukan korpus luteum secara otomatis mengikuti
ovulasi. Dengan demikian, lonjakan LH pada pertengahan siklus adalah titik dramatis;
menghentikan fase folikel dan memulai fase luteal.
Dua cara sekresi LH yang berbeda (sekresi tonik LH yang menyebabkan sekresi hormon
ovarium dan lonjakan LH yang menyebabkan ovulasi). Tidak hanya berlangsung saat yang
berbeda dan menimbulkan efek yang berlainan pada ovarium tetapi juga dikontrol oleh
mekanisme yang berbeda. Sekresi LH tonik ditekan secara parsial oleh estrogen kadar rendah
selama fase folikel danj ditekan secara total oleh progesteron yang kadarnya meningkat selama
fase luteal. Karena sekresi LH tonik merangsang sekresi estrogen dan progesteron, hal ini adalah
khas untuk sistem umpan balik negatif.
Sebaliknya, lonjakan LH dipicu oleh efek umpan balik positif. Kadar estrogen yang rendah dan
meningkat pada awal fase folikel menghambat sekresi LH, tapi kadar estrogen yang tinggi pada
saat puncak sekresi pada akhir fase folikel merangsang sekresi LH dan menimbulkan lonjaka
LH. Dengan demikian LH meningkatkan produksi estrogen oleh folikel, dan konsentrasi
estrogen puncak merangsang sekresi LH.

Konsentrasi estrogen plasma yang tinggi bekerja langsung pada hipothalamus untuk
meningkatkan frekuensi denyut sekresi GnRH sehingga meningkatkan sekresi LH dan FSH.
Kadar tersebut juga bekerja langsung pada hipofisis anterior untuk secara spesifik meningkatkan
kepekaan sel penghasil LH terhadap GnRH. Efek yang terakhir merupakan penyebab lonjakan
sekresi LH yang jauh lebih besar daripada sekrei FSH pada pertengahan siklus. Karena hanya
folikel praovulasi matang, buka folikel-folikel pada tahap awal perkembangan yang mampu
mengeluarkan estrogen dalam jumlah yang cukup untuk memicu lonjakan LH, maka ovulasi
tidak terjadi sampai sebuah folikel mencapai ukuran dan tingkat kematangan yang sesuai.
Dengan cara ini, folikel memberitahu hipothalamus lkapan ia siap dirangsang untuk berovulasi.
Lonjakan LH hanya berlangsung satu atau dua hari pada pertengahn siklus, sesaat sebelum
ovulasi.
Selama siklus ovarium, juga terjadi perubahan di serviks akibat pengaruh hormon. Di bawah
pegaruh estrogen selama fase folikel, mukus yang disekresikan oleh serviks berjumlah banyak,
jernih dan encer. Perubahan ini yang jelas ketika kadar estrogen berada di puncaknya dan ovulasi
akan terjadi, mempermudah sperma melewati kanalis servikalis. Setelah ovulasi, di bawah
pengaruh progesteron dari korpus luteum, mukus menjadi kental dan lengket, sehingga sehingga
pada dasarnya membentuk sumbat yang menutupi lubang serviks. Sumbat ini merupakan
mekanisme pertahanan penting untuk mencegah masuknya bakteri dari vagina ke uterus yang
dapat mengancam kehamilan sekiranya terjadi konsepsi. Sperma juga tidak dapat menembus
sawar mukus yang tebal ini.

MENOPAUSE
Penghentian daur haid seorang wanita pada usia sekitar empat puluh lima sampai lima puluh
lima tahun disebabkan oleh terbatasnya pasokan folikel ovarium yang terdapat saat lahir. Setelah
reservior ini habis, siklus ovarium dan tentu sahaja daur haid terhenti. Dengan demikian,
penghentian potensi reproduksi pada wanita usia pertengahan sudah diprogramkan sebelumnya
sejak ia lahir. Secara evolusi. Menopause mungkin berkembang sebagai satu mekanisme untuk
mencegah kehamilan pada wanita melebihi waktu yang mereka dapat sediakan untuk mengasuh
anak sebelum kematian datang.

Menopause didahului oleh satu periode kegagalan ovarium progresif yang ditandai oleh semakin
seringnya daur yang tidak teratur, penurunan kadar estrogen, serta sejumlah perubahan fisik dan
emosi. Keseluruhan periode transisi dari kematangan seksual sampai pada penghentian
kemampuan reproduksi dikenal sebagai klimekterium. Tidak adanya estrogen ovarium
merupakan penyebab timbulnya perubahan-perubahan pascamenopause, misalnya kekeringan
vagina yang dapat menimbulkan rasa tidak nyaman sewaktu berhubungan kelamin, dan atrofi
gradual organ-organ genitalia. Namun, wanita pasca menopause tetap memiliki dorongan seks
karena androgen adrenal mereka. Masih tidak jelas, apakan gejala-gejala emosional yang
berkaitan dengan penurunan fungsi ovarium, misalnya depresi dan iritabilitas, disebabkan oleh
penurunan estrogen atau merupaka reaksi psikologis terhadap dampak menopause.
Pria tidak mengalami kegagalan gonad totalserupa karena dua alasan. Pertama, pasokan sel
germinativum mereka tidak terbatas karena aktivitas mitosis spermatogonia yang berlangsung
terus menerus. Kedua, sekresi hormon gonad pada pria tidak bergantung pada gametogenesis,
sepert pada wanita. Jika hormon seks wanita dihasilkan oleh jaringan yang berbeda dan tidak
berkaitan dengan jaringan yang bertanggungjawab untuk gametogenesis, seperti yang terjadi
pada pria, penghentian sekresi estrogen dan progesteron tidak secara otomatis menyertai
penghentoian oogenesis.
KELAINAN HAID
I.

Siklus tanpa telur (anovulatory cycles)

II.

Siklus haid cukuo teratur, tapi tanoa ovulasi


Biasa terjadi selama 1-2 tahun setelah menarche dan menjelang monopause
Amenorrhea

Tidak terjadi menstruasi

Terbagi kepada amenorrhea primer dan amenorrhea sekunder

amenorrhea primer

Belum mendapat haid dan tidak berkembangnya sifat kelamin sekunder seperti
pembesaran payu dara dan pertumbuhan bulu pubis pada wanita umur sekitar 14 tahun

Tidak mendapat haid tapi sifat kelamin sekunder tetap berkembang pada wanita umur
sekitar 16 tahun.

amenorrhea sekunder

Haid berhenti (tidak mendapat haid lagi) setelah pernah mendapat haid-haid normal
sebelumnya.

Simptom-simptom

Galactorrhea, penghasilan susu pada wanita yang tidak mengandung atau tidak
menyusui

Sakit kepala

Pertumbuhan bulu seperti pada pria mungkin disebabkan oleh pengeluaran hormon
androgen

Kekeringan vagina

III.

Oligomenorrhea

Haid dengan pendarahan yang sedikit dalam siklus haid normal

IV.

V.

Menorrhagia

Haid dengan pendarahan yang banyak

Metrorrhagia

Pendarahan vagina diantara saat-saat haid biasa

VI.

Menometrorrhagia

VII.

Gabungan menorrhagia dan metrrhagia

Dismenorrhea

Haid yang menimbulkan rasa nyeri

DIAGNOSIS KELAINAN SIKLUS HAID


Riwayat dan pemeriksaan fisik secara total memberi petunjuk pada dokter mengenai penyebab
perdarahan haid yang tidak biasa, sehingga dapat menyarankan semua tes tambahan. Tes dan
skrining tambahan ini mencakup:
1) Tes darah

Hitung darah lengkap untuk skrining anemia, jumlah trombosit yang rendah
Penelitian endokrin untuk mencek berbagai tingkat kelainan hormon
Penelitian koagulasi untuk mencek penyumbatan darah

2) Pemeriksaan rahim

Pengumpulan contoh untuk tes IMS


Tes pap untuk skrining kanker rahim
Palpasi (periksa dengan jalan meraba) uterus dan indung telur untuk kelainan

3) Ultrasound (USG) rahim (bila dibutuhkan)


Alat pemeriksaan USG dimasukkan ke dalam vagina untuk menilai ukuran uterus, timbulnya
fibroid, ketebalan dinding rahim, kelainan indung telur, dan timbulnya endometriosis.
4) Biopsi endometrius (bila dibutuhkan)

Pipa kecil dimasukkan melalui leher rahim ke dalam uterus dan contoh dari endometrius
(dinding rahim) dikumpulkan untuk tes terhadap kelainan, misalnya peradangan atau kanker
5) histerosalpingografi
pemeriksaan HSG kini telah merupakan pemeriksaan rutin di tiap rumah sakit yang mempunyai
peralatan rontgen yang cukup besar. Waktu yang optimum untuk melakukan HSG adalah pada
hari ke 9-10 sesudah haid mulai. Pada saat itu, biasanya haid sudah berhenti dan selaput lendir
uterus sifatnya tenang. Bilamana masih ada pendarahan, dengan sendirinya HSG tidak dapat
dilakukan karena ada kemungkinan masuknya kontras ke dalam pembuluh balik. Bahan kontras
yang dipakai adalah lipiodol ultrafluid.
Indikasi HSG yang paling sering ialah dalam genekologi untuk melihat potensi tuba. Pada tuba
yang paten akan terjadi perlimpahan kontras dari tuba ke dalam rongga peritoneum. Hal ini
memberikan gambaran yang khas karena bahan kontras akan tersebar di antara lingkaranlingkaran usus di dalam perut. Selain itu HSG juga memberikan gambaran tentang kelainankelainan uterus dan kanalis cervicis.

DAFTAR PUSTAKA
1.

Lauralee Sherwood. Human physiology : from cells to systems 2nd Edition. Alih bahasa
oleh dr. Brahm U.Pendit, Sp.KK. Penerbit Buku Kedokteran 2001;(2):710-717

2.

Pengetahuan ibu tentang masa premonopause. 26 Agustus 2009. Diunduh dari


http://luluvikar.wordpress.com. 5 Oktober 2009.

3.

Dr. Fajar Arifin Gunawijaya, MS ; Dr. Elna Kartawiguna. Penuntun Praktikum Kumpulan
Foto Mikroskopik Histologi. Penerbit Universitas Trisakti 2007:184-191

4.

Sjahriar Rasad. Radiologi diagnostik. Balai penerbit FKUI, Jakarta. Edisi kedua, cetakan
ketiga 2008; 321-322

5.

Menstruasi.2008. diunduh dari http://biohealthworld.com. 4 Oktober 2009.

.Genycological health. 2009. Diunduh dari http://www.healthsystem.virginia.edu.


4 Oktober 2009.

7.

Menstruation, menopause, and HIV. San Francisco haid foundation 2007. Diunduh dari
http://www.sfaf.org/beta/2007_win/menstruation.html. 4 Oktober 2009.

8.

Pengaruh stress pada menstruasi. 2008. Diunduh dari http://www.digilib.unsri.ac.id.


4 Oktober 2009.