Anda di halaman 1dari 16

Transport Tembaga (Cu) pada Penyakit Wilson - Menkes

Makalah Bioanorganik

Disusun Oleh : Kelompok 7


-

Asri Lestari (140210120010)


Reinanda H (140210120037)
Rudi Hartono (140210120055)
Benedict Reagan (140210120073)

UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
DEPARTEMEN KIMIA
2015

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala limpahan rahmat-Nya,
sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul Transport
Tembaga (Cu) dalam Penyakit Wilson-Menkes dalam bentuk maupun isinya yang
sangat sederhana.
Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas dari mata kuliah
Bioanorganik. Penulis mengucapkan terimakasih kepada berbagai pihak, baik secara
langsung maupun tidak langsung atas bantuannya sehingga penyusunan makalah dapat
terselesaikan.
Penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini masih jauh dari sempurna.
Untuk itu, kritik dan saran yang membangun dalam perbaikan makalah ini sangat
penulis harapkan. Dan penulis berharap semoga makalah mengenai transport tembaga
(Cu) dalam penyakit Wilson menkes ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca.

Jatinangor, April 2015


Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.......................................................................................... i
DAFTAR ISI.................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN.................................................................................... 1
BAB II ISI....................................................................................................... 3
2.1

Teori Dasar.......................................................................................... 3

2.2

Pembahasan........................................................................................ 6

BAB III PENUTUP......................................................................................... 11


DAFTAR PUSTAKA........................................................................................ 12

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Telah lama diketahui bahwa mineral anorganik mempunyai peranan penting dalam
metabolisme pada makhluk hidup. Kandungan zat-zat mineral dalam tubuh kurang
lebih 3-5%. Logam pada tubuh dikelompokkan menjadi dua yaitu esensial dan
nonesensial. Tembaga merupakan unsur mineral yang dikelompokkan ke dalam elemen
mikro esensial. Walaupun dibutuhkan dalam jumlah sedikit di dalam tubuh, namun bila
berlebihan dapat menjadi toksik dan jika kekurangan maka dapat menyebabkan
defisiensi mineral.
Penyakit Wilson atau hepatolenticular degenerasi adalah kelainan genetik recessive
autosomal di tembaga yang terakumulasi dalam jaringan; ini menyatakan gejala
neurologis atau psikiatri dan penyakit hati.
Sindroma Menkes adalah suatu oenyakit keturunan yang menyebabkan kekurangan
tembaga dalam tubuh. Hal ini dapat menyebabkan kegagalan sintesa enzim yang
memerlukan tembaga sebagai kofaktor, seperti sitokrom-c oksidase, lysyl oksidase,
peptidil-B-amidase dan masih banyak lagi.
Hal di atas menjelaskan pentingnya unsur tembaga bagi tubuh dalam jumlah yang
ideal. Oleh karena itu, makalah ini disusun untuk memberikan informasi mengenai
kgangguan transport tembaga dalam metabolisme tubuh.

1.2 Masalah Penelitian


Penyakit Wilson dan Menkes menyebabkan terjadinya kesalahan pada
metabolisme tembaga (transport tembaga) dalam tubuh.

1.3 Identifikasi Masalah


Berdasarkan latar belakang dan masalah diatas, kami mengidentifikasikan
masalah yang kami bahas sebagai berikut :
1. Penyakit Wilson.
1

2. Transport tembaga dalam tubuh.


3. Gangguan penyakit Wilson pada transport tembaga.

1.4 Tujuan Penelitian


1. Mahasiswa mengetahui apa itu penyakit Wilson.
2. Mahasiswa mengetahui transport tembaga dalam tubuh.
3. Mahasiswa mengetahui efek dari gangguan penyakit wilson pada transport
tembaga.

1.5 Manfaat Penelitian


1. Dapat menghindari resiko yang memicu terjadinya penyakit Wilson
2. Dapat mengetahui gejala-gejala orang terkena penyakit Wilson
3. Dapat mengoptimalkan proses transport tembaga dalam tubuh

BAB II
ISI
2.1

Teori Dasar

Tembaga
Tembaga merupakan salah satu unsur kimia yang terdapat dalam sistem
periodik dengan lambing Cu dan nomor atom 29, Cu berasal dari bahasa latin yaitu
Cuprum.

Tembaga merupakan konduktor panas dan listrik yang

baik.

Selain

itu unsur ini memiliki tingkat korosi yang cepat sekali. Tembaga murni sifatnya
halus dan lunak, dengan permukaan berwarna jingga kemerahan. Ion Tembaga(II)
dapat berlarut ke dalam air, dimana fungsi mereka dalam konsentrasi tinggi adalah
sebagai agen anti bakteri,fungisi, dan bahan tambahan kayu. Dalam konsentrasi
tinggi maka tembaga akan bersifat racun, tapi dalam jumlah sedikit tembaga
merupakan nutrien yang penting bagi kehidupan manusia dan tanaman tingkat
rendah. Di dalam tubuh, tembaga biasanya ditemukan di bagian hati, otak, usus,
jantung, dan ginjal.

Manfaat Tembaga
Manfaat Mineral (Cu) Tembaga Untuk Kesehatan Zat Tembaga memiliki
banyak peran penting untuk menjaga kesehatan tubuh dan beberapa manfaatnya antara
lain:

Arthritis: Manfaat kesehatan dari zat tembaga sangat berhubungan dengan


anti-inflamasi, tindakan untuk membantu mengurangi gejala radang sendi.
gelang tembaga serta aksesoris lainnya bisa untuk menyembuhkan penyakit
ini. Tembaga juga bekerja sebagai obat alami untuk arthritis, air yang

disimpan dalam wadah tembaga selama semalam akan terakumulasi jejak

zat tembaga yang bermanfaat untuk memperkuat sistem otot.


Pertumbuhan yang tepat: Zat Tembaga sangat penting bagi pertumbuhan
normal dan kesehatan. Dengan demikian, sudah pasti penting untuk
memasukkan mineral dalam bentuk yang seimbang dalam diet teratur. Hal

ini membantu dalam perlindungan sistem tulang, saraf dan kardiovaskular.


Pigmentasi pada rambut dan mata: Tembaga merupakan unsur penting dari
melanin gelap alami, pigmen, yang menanamkan warna kulit, rambut, dan
mata. Melanin dapat diproduksi oleh melanosit hanya dengan cuproenzyme
disebut tyrosinase. Asupan suplemen tembaga membantu dalam melindungi

rambut beruban.
Jaringan ikat: Tembaga adalah nutrisi penting yang memiliki peran penting
dalam sintesis hemoglobin, mielin, melanin pigmen tubuh dan kolagen. Ini
membantu untuk melindungi selubung mielin yang mengelilingi saraf. Zat

tembaga ini juga aktif terlibat dalam produksi unsur jaringan ikat, elastin.
Stimulasi Otak: Mineral Tembaga secara luas dikenal sebagai stimulan otak.
Hal ini juga dinyatakan sebagai "Brain food". Namun, Kandungan zat
tembaga dalam makanan harus dalam proporsi yang tepat. Terlalu banyak
zat tembaga juga tidak sehat bagi otak. mineral ini memiliki fungsi kontrol
untuk otak dan karenanya tingkat asupan suplemen tembaga harus

seimbang.
Pemanfaatan zat besi dan gula: Tembaga membantu dalam penyerapan zat
besi dari saluran usus dan melepaskan dari daerah utama penyimpanan

seperti hati. Hal ini juga membantu dalam pemanfaatan gula dalam tubuh.
Reaksi enzimatik: Zat Tembaga merupakan salah satu elemen atau kofaktor
dari sebanyak 50 enzim berbeda yang mengambil bagian dalam berbagai
reaksi biologis dalam tubuh. Enzim ini dapat berfungsi dengan baik hanya

dengan Zat tembaga (Cu).


Membantu dalam menunda penuaan: Tembaga merupakan antioksidan yang
kuat, yang bekerja dengan enzim antioksidan, dismutase superoksida, untuk
melindungi membran sel dari radikal bebas.
4

Meningkatkan produksi energi: Mineral Tembaga sangat penting untuk


sintesis adenosin trifosfat, yang merupakan gudang energi dalam tubuh
manusia. cuproenzyme, sitokrom c oksidase, mempengaruhi produksi energi
intraselular. Ini bertindak sebagai katalis dalam pengurangan oksigen
molekul air, di mana enzim menghasilkan listrik yang digunakan oleh

mitokondria untuk mensintesis molekul penyimpan energi vital, ATP.


Sifat bakterisida: Penelitian telah menunjukkan bahwa tembaga dapat
menghancurkan atau menghambat pertumbuhan strain bakteri seperti E

Coli.
Kelenjar tiroid: Zat Tembaga memiliki peran penting dalam memastikan

berfungsinya kelenjar tiroid.


Formasi RBC: Tembaga membantu dalam produksi hemoglobin sel darah

merah dan tulang.


Kekebalan: Zat Tembaga

memiliki

peran

penting

dalam

proses

penyembuhan dan dengan demikian, menjamin penyembuhan luka yang


lebih cepat dan lebih baik. Tembaga bertindak sebagai pembangun
kekebalan yang sangat baik. Ia juga bekerja sebagai obat untuk masalah

anemia.
Mengurangi kolesterol: Menurut Studi penelitian telah menunjukkan bahwa
tembaga dapat mengurangi kadar kolesterol jahat dan membantu dalam
meningkatkan kolesterol baik yang menguntungkan.

Metabolisme Tembaga
Unsur tembaga yang terdapat dalam makanan melalui saluran pencernaan
diserap dan diangkut melalui darah. Segera setelah masuk peredaran darah, unsur
tembaga akan berikatan dengan protein albumin. Kemudian diantarkan dan dilepaskan
kepada jaringanjaringan hati dan ginjal lalu berikatan dengan protein membentuk
enzim-enzim, terutama enzim seruloplasmin yang mengandung 90 94% tembaga dari
total kandungan tembaga dalam tubuh. Ekskresi utama unsur ini ialah melalui empedu,

sedikit bersama air seni dan dalam jumlah yang relatif kecil bersama keringat dan air
susu. Jika terjadi gangguan-gangguan pada rute pembuangan empedu, unsur ini akan
diekskresi bersama air seni.

2.2

Pembahasan

Telah lama diketahui bahwa mineral anorganik mempunyai peranan penting dalam
kehidupan hewan maupun makhluk hidup lain. Kandungan zat-zat mineral dalam tubuh
mahluk hidup kurang lebih 3-5%. Logam dalam tubuh dikelompokkan menjadi dua
bagian yaitu esensial dan nonesensial. Logam esensial diperlukan dalam proses
fisiologis, sehingga logam dalam kelompok ini merupakan unsur nutrisi yang penting
dalam proses metabolisme. Sedangkan kelompok nonesensial adalah kelompok logam
yang tidak berguna atau belum diketahui kegunaannya dalam tubuh.
Tembaga merupakan unsur mineral yang dikelompokkan ke dalam elemen mikro
esensial. Walaupun dibutuhkan dalam jumlah sedikit di dalam tubuh, kelebihan
tembaga dapat bersifat racun, tetapi bila kekurangan tembaga dalam darah dapat
menyebabkan anemia yang merupakan gejala umum, akan terjadi pertumbuhan yang
terganggu, kerusakan tulang, depigmentasi rambut, wool atau bulu, pertumbuhan
abnormal dari bulu atau wool, gangguan gastrointestinal
Tembaga digolongkan sebagai mineral mikro karena jumlahnya yang kecil didalam
tubuh, tetapi kelebihan serta kekurangan tembaga dalam tubuh dapat menyebabkan
beberapa gangguan. Pentingnya tembaga untuk metabolismee sel normal digambarkan
oleh adanya kelainan genetik di mana distribusi normal tembaga terganggu.
Makanan sehari-hari mengandung kurang lebih 1 mg tembaga. Sebanyak 35-70%
diabsorpsi. Absorpsi sedikit terjadi di dalam lambung dan sebagian besar di bagian atas
usus halus secara aktif dan pasif. Absorpsi terjadi dengan alat angkut protein pengikat

tembaga metalotionein yang juga berfungsi dalam absorpsi seng dan kadnium. Jumlah
tembaga yang diabsorpsi diduga dipengaruhi oleh banyaknya metalotionein di dalam
sel mukosa usus halus.
Dalam kondisi normal, tembaga yang berasal dari makanan akan diproses di hati.
Transpor tembaga ke hati terutama menggunakan alat angkut albumin dan transkuprein.
Penyimpanan sementara tembaga adalah dalam bentuk kompleks albumin-tembaga.
Simpanan dalam hati berupa metalotionein dan seruloplasmin. Tembaga diangkut ke
seluruh tubuh oleh seruloplasmin dan transkuperin. Tembaga juga dikeluarkan dari hati
sebagai bagian dari empedu. Di dalam saluran cerna, tembaga dapat diabsorpsi kembali
atau dikeluarkan dari tubuh bergantung kebutuhan tubuh. Pengeluaran melalui empedu
meningkat bila terdapat kelebihan tembaga dalam tubuh.
Sedikit tembaga dikeluarkan melalui urin, keringat, dan darah haid. Tembaga dapat
diabsorpsi kembali oleh ginjal bila tubuh membutuhkan. Tembaga yang tidak
diabsorpsi dikeluarkan melalui feses. Tembaga berinteraksi dengan banyak zat gizi
seperti seng, besi, dan vitamin C. Hal ini perlu diperhatikan dalam menggunakan
suplementasi vitamin dan mineral di atas AKG. Seng dan besi dalam jumlah berlebihan
menghambat absorpsi tembaga dan dapat menyebabkan defisiensi tembaga. Asam
askorbat dalam jumlah berlebihan menurunkan kemampuan oksidasi tembaga, dengan
demikian kemampuan fungsional seruloplasmin. Serat dan fitat ternyata berpengaruh
terhadap absorpsi tembaga.
Proses pencernaan tembaga ini kemudian berlanjut di dalam empedu. Di sini, proses
pencernaan terjadi bersama komponen dari empedu (suatu cairan yang dihasilkan oleh
jaringan hati, yang kemudian diteruskan ke usus halus untuk membantu proses
pencernaan). Saat kantong empedu mengosongkan isinya untuk proses awal di usus
halus (duodenum), tembaga di dalam empedu akan keluar dan masuk ke dalam usus
halus bersama dengan sisa-sisa pencernaan lainnya. Pada orang yang sehat, tembaga
akan dikeluarkan dari tubuh bersama dengan tinja.

Tembaga dapat mengikat protein baik dalam bentuk tereduksi ion Cu+ atau dalam
bentuk teroksidasi ion Cu2+. Kemampuan tembaga terdapat dalam keadaan teroksidasi
yang berbeda-beda yang menimbulkan oksidasi tembaga dapat terjadi di jalur sekresi
atau organel intraseluler lain sebagai langkah terakhir dari proses transportasi tembaga.
Tembaga dapat mengikat WNDP dan MNKP dalam bentuk tereduksi dan diangkut
dalam bentuk yang sama. Tembaga kemudian dilepaskan dari pengangkut dengan
perubahan keadaan oksidasi, dan tembaga dimasukkan tegantung oleh enzim .
Kemungkinan alternatif adalah tembaga diambil dari ATPase melalui interaksi
antarmolekul langsung baik oleh protein target atau oleh operator tembaga molekul
rendah-berat.
Penyakit Wilson merupakan penyakit hati keturunan dengan gejala neurologis,
yang pertama dijelaskan oleh Kinnear Wilson pada tahun 1912. Gangguan metabolisme
tembaga ini ditandai dengan akumulasi racun tembaga di berbagai jaringan seperti hati,
ginjal, otak, dan plasenta akibat kurangnya ekskresi tembaga dari tubuh pada empedu.
Tingginya kadar tembaga pada urin diamati karena tingginya akumulasi tembaga pada
ginjal, dan terdapat gangguan pada penggabungan tembaga ke seluruh plasmin yang
menyebabkan kadar serum tembaga turun. Peningkatan konsentrasi tembaga pada hati
diakibatkan oleh kurangnya ekskresi empedu. Hal ini disebabkan oleh mutasi dalam
gen ATP7B, yang mengacu pada perubahan untaian rantai basa pada gen ATP7B.
seiring dengan berjalnnya waktu, penyakit Wilson dapat mengancam jiwa karena kadar
tembaga yang tinggi dalam darah, yang dapat menyebabkan kerusakan organ.
Kekurangan tembaga jarang terjadi pada orang sehat. Paling sering terjadi pada
bayi premature atau bayi yang sedang dalam masa penyembuhan dari malnutrisi yang
berat. Sindroma Menkes adalah suatu penyakit keturunan yang menyebabkan
kekurangan tembaga dalam tubuh. Hal ini dapat menyebabkan kegagalan sintesa enzim
yang memerlukan tembaga sebagai kofaktor, seperti sitokrom-c oksidase, lysyl
oksidase, peptidil-B-amidase dan masih banyak lagi. Kekurangan tembaga dapat diatasi

derngan pemberian asupan tembaga selama beberapa minggu, namun penderita


sindrom Menkes tidak memberikan respon yang baik terhadap penambahan tembaga.
Penyakit Wilson merupakan penyakit autosomal dimana homeostasis tembaga
terpengaruh dan dikaraterisasi dari ketidakmampuan hepatosit dalam berikatan dengan
tembaga menghasilkan seruloplasmin atau secara efektif mengeluarkan tembaga dari
hati. Pada penyakit Wilson, disfungsi ATP7B menyebabkan biliary copper clearance,
menyebabkan tembaga terakumulasi dalam hati.
Penyakit Wilson merupakan penyakit yang disebabkan mutasi gen ATP7B. Gen
ATP7B merupakan gen yang berisi informasi dalam pembentukan protein yang disebut
copper-transporting ATPase 2. Gen ini termasuk ke dalam ATP-ase tipe P, yaitu
kelompok protein yang mentranspor logam ke dalam dan keluar sel menggunakan
energi yang tersimpan dalam molekul adenosin trifosfat (ATP). Copper-transporting
ATPase 2 ditemukan terutama dalam hati, ginjal, dan plasenta. Struktur ATP7B mirip
dengan ATP7A yang menjadi penyebab penyakit transpor tembaga lainnya yang disebut
dengan penyakit Menkes. Protein ATP7B terletak pada jaringan trans golgi di mana Cu
ditranspor ke lumen dalam golgi.
Saat konsentrasi Cu meningkat, ATP7B akan ditranslokasikan ke ruangan vesikular
yang berhubungan secara langsung dengan membran plasma yang dpaat mentranspor
Cu ke kompartemennya. Lalu Cu bisa dilepaskan dengan ekistosis. Saat Cu ditranspor
dari eritrosit intestinal ke plasma melalui aksi protein ATP7A, Cu terikat dengan
albumin dan di bawa ke hati.
Di dalam liver, Cu ditransfer ke tempat penyimpnan intraselular oleh ATOX 1. Cu
terikat secara intraseluler dengan protein metalotionin. Kelebihan Cu pada kapasitas
ikatan metalotionin disekresi ke bilary canaliculi melalui transpor ATP7B. ATP7B
memfasilitasi transfer Cu ke plasma Cu yang bebas ferroksidase, seruloplasmin.
Seruloplasmin yang tidak berikatan dengan Cu adalah aposeruloplasmin. Lalu

seruloplasmin dilepas ke dalam aliran darah. 90% Cu dalam darah terikat pada
seruloplasmin.
Kurangnya aktivitas seruloplasmin berhubungan dengan transfer Fe yang tidak
sempurna ke jaringan penting seperti otak dan ginjal. Defisiensi ATP7B menyebabkan
peningkatan jumlah aposeruloplasmin dan terbentuknya racun Cu dalam hepatosit
karena transfer ke bilary canaliculi yang tidak sempurna.
Berbagai perawatan tersedia untuk Wilson's disease. Beberapa meningkatkan
penghapusan tembaga dari tubuh, sementara orang lain mencegah penyerapan tembaga
dari makanan. Secara umum, diet rendah mengandung tembaga makanan (jamur,
kacang-kacangan, cokelat, buah-buahan kering, hati, dan kerang) dianjurkan. Obat ini
mengikat tembaga (chelation) dan mengarah ke ekskresi tembaga dalam urin. Oleh
karena itu, pemantauan jumlah tembaga dalam urin dapat dilakukan untuk memastikan
dosis yang cukup tinggi diambil. Alasan penicillamine jarang digunakan, karena sekitar
20% dari pasien mengalami efek samping atau komplikasi penicillamine perawatan,
seperti obat induced lupus (menyebabkan nyeri sendi dan ruam kulit) atau myasthenia
(suatu kondisi saraf mengarah ke kelemahan otot).

BAB III
PENUTUP
Demikianlah yang dapat kami sampaikan mengenai materi dengan judul
Transport Tembaga (Cu) pada Penyakit Wilson Menkes yang menjadi bahasan
10

dalam makalah ini, tentunya banyak kekurangan dan kelemahan kerena terbatasnya
pengetahuan kurangnya rujukan atau referensi yang kami peroleh hubungannya dengan
makalah ini. Penulis banyak berharap kepada para pembaca yang budiman memberikan
kritik saran yang membangun kepada kami demi sempurnanya makalah ini. Semoga
makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis para pembaca khusus pada penulis. Aamiin

Jatinangor, April 2015,


Penulis

DAFTAR PUSTAKA
Wilson SAK. Progressive lenticular degeneration: a familial nervous disease
associated with cirrhosis of the liver. Brain 34:295508 (1912).

11

Schilsky ML. Wilson disease: genetic basis of copper toxicity and natural history.
Semin Liver Dis 16:8395 (1996).
Walshe JM. Penicillamine, a new oral therapy for Wilson disease. Am J Med 21:487
495 (1956).
Walshe JM. Penicillamine: the treatment of first choice for patients with Wilsons
disease. Mov Disord 14:545550 (1999).
Walshe JM. Treatment of Wilsons disease with trientine (triethylene tetramine)
dihydrochloride. Lancet 1:643647 (1982).
Scheinberg IH, Jaffe ME, Sternlieb I. The use of trientine in preventing the effects of
interrupting penicillamine therapy in Wilsons disease. N Engl J Med 317:209213
(1987).
Hoogenraad TU. Zinc treatment of Wilsons disease. J Lab Clin Med 132:240241
(1998).
Brewer GJ, Hill GM, Prasad AS, Cossack ZT, Rabbani P. Oral zinc therapy for
Wilsons disease. Ann Intern Med99:314319 (1983).
Lipsky MA, Gollan JL. Treatment of Wilsons disease: in D-penicillamine we trust
what about zinc? Hepatology 7:593595 (1987).
Bull PC, Thomas GR, Rommens JM, Forbes JR, Cox DW. The Wilson disease gene is
a putative copper transporting P-type ATPase similar to the Menkes gene. Nat
Genet5:327337 (1993).
Tanzi RE, Petrukhin K, Chernov I, Pellequer JL, Wasco W, Ross B, Romano DM,
Parano E, Pavone L, Brzustowicz LM, et al. The Wilson disease gene is a copper
transporting ATPase with homology to the Menkes disease gene. Nat Genet 5:344
350 (1993).
Petrukhin K, Lutsenko S, Chernov I, Ross BM, Kaplan JH, Gilliam TC.
Characterization of the Wilson disease gene encoding a P-type copper transporting
ATPase: genomic organization, alternative splicing, and structure/function
predictions. Hum Mol Genet 3:16471656 (1994).
Hung IH, Suzuki M, Yamaguchi Y, Yuan DS, Klausner RD, Gitlin JD. Biochemical
characterization of the Wilson disease protein and functional expression in the
yeast Saccharomyces cerevisiae. J Biol Chem 272:2146121466 (1997).
Nagano K, Nakamura K, Urakami KI, Umeyama K, Uchiyama H, Koiwai K, Hattori S,
Yamamoto T, Matsuda I, Endo F. Intracellular distribution of the Wilsons disease
12

gene product (ATPase7B) after in vitro and in vivo exogenous expression in


hepatocytes from the LEC rat, an animal model of Wilsons disease. Hepatology
27:799807 (1998).

13