Anda di halaman 1dari 5

TUGAS

Pengertian Stomatitis
Stomatitis adalah radang yang terjadi di daerah
mukosa mulut, biasanya berupa bercak putih
kekuningan dengan permukaan yang agak
cekung, bercak itu dapat berupa bercak tunggal
maupun kelompok.

4. Alergi, bisa terjadi karena kenaikan kadar IgE


dan keterkaitan antara beberapa jenis makanan
dan timbulnya ulser.
5. Faktor herediter bisa terjadi, misalnya
kesamaan yang tinggi pada anak kembar, dan
pada anak-anak yang kedua orangtuanya
menderita stomatitis aphtosa.
6. Kelainan pencernaan.

Penyebab Stomatitis
7. Faktor psikologis (stress).
Stomatitis merupakan penyakit yang diakibatkan
dengan adanya jamur pada mulut dan saluran
kerongkongan. Jamur yang sekarang kebih
dikenal dengan sebutan Candida albicans
bukanlah jamur yang aneh dan berbahaya.
Hampir di setiap jengkal tubuh kita mengandung
jamur ini termasuk di daerah mukosa mulut dan
alat kelamin, namun adanya jamur ini tidak
menimbulkan keluhan yang berarti. Dulu jamur
ini lebih dikenal dengan sebutan Jamur Monilia.
Jamur ini sering menimbulkan keluhan
dikarenakan daya tahan tubuh manusia (imuno)
yang menurun sehingga pertahanan terhadap
jamur dan bakteri lainnya berkurang. Dengan
demikian penyakit yang ringan pada mulut ini
bisa mengindikasikan penyakit yang lebih berat.
Meski penyakit ini tidak begitu berat namun
tetap saja keberadaan penyakit ini dapat
mengganggu aktifitas sehari-hari.
Faktor Risiko Stomatitis
Ada beberapa faktor-faktor risiko penyebab
yang
dapat
mengakibatkan
stomatitis
diantaranya:
1. Keadaan gigi pasien, karena higiene gigi yang
buruk sering dapat menjadi penyebab timbulnya
sariawan yang berulang.
2. Luka tergigit, bisa terjadi karena bekas dari
tergigit itu bisa menimbulkan ulser sehingga
dapat mengakibatkan stomatitis aphtosa.
3. Mengkonsumsi air dingin atau air panas.

8. Gangguan hormonal (seperti sebelum atau


sesudah menstruasi
9. Pada penderita yang sering merokok.
10. Pada penggunaan obat kumur yang
mengandung
bahan-bahan
pengering
(misal,alkohol, lemon/ gliserin) harus dihindari.
11. Kekurangan vitamin C
12. Kekurangan vitamin B dan zat besi.
Stomatitis ini sering menyerang siapa saja.
Tidak mengenal umur maupun jenis kelamin.
Biasanya daerah yang paling sering timbul
sariawan ini adalah di mukosa pipi bagian
dalam, bibir bagian dalam, lidah serta di langit
langit.
Gejala Stomatitis
Gejalanya berupa rasa panas atau terbakar yang
terjadi satu atau dua hari yang kemudian bisa
menimbulkan luka (ulser) di rongga mulut.
Bercak luka yang ditimbulkan akibat dari
sariawan ini agak kaku dan sangat peka terhadap
gerakan lidah atau mulut sehingga rasa sakit atau
rasa panas yang dirasakan ini dapat membuat
kita susah makan, susah minum, ataupun susah
berbicara. Penderita penyakit ini biasanya juga
banyak mengeluarkan air liur. Biasanya
sariawan ini akan sembuh dengan sendirinya
adalam waktu empat sampai 20 hari. Bila
penyakit ini belum sembuh sampai waktu 20
hari maka penderita harus diperiksa lebih lanjut

untuk menentukan apakah ada sel kankernya


atau tidak.

Macam-macam Stomatitis
a. Mycotic stomatitis
Mycotic stomatitis adalah stomatitis yang
disebabkan oleh adanya infeksi mulut atau
rongga mulut oleh jamur Candida. Mycotic
stomatitis, disebabkan oleh pertumbuhan
Candida albicans , yang merupakan penyebab
stomatitis yang luar biasa pada anjing dan
kucing. Hal ini ditandai dengan adanya bercak
putih kekuningan pada lidah atau membran
mukosa.
Mycotic
stomatitis
biasanya
dihubungkan dengan penyakit mulut yang lain,
penggunaan terapi antibiotik yang lama, atau
pemberian immunosuppression. Pada mycotic
stomatitis sering kali pada jaringan terjadi
kemerahan dan timbul ulsor di bagian rongga
mulut.
b. Gingivostomatitis
Gingivostomatitis merupakan infeksi virus pada
gusi dan bagian mulut lainnya, yang
menimbulkan nyeri. Gusi tampak berwarna
merah terang dan terdapat banyak luka terbuka
yang berwarna putih atau kuning di dalam
mulut.
c. Denture stomatitis atau Chronic stomatitis
Denture stomatitis adalah suatu istilah yang
digunakan untuk menjelaskan perubahanperubahan patologik pada mukosa penyangga
gigi tiruan di dalam rongga mulut. Perubahanperubahan tersebut ditandai dengan adanya
eritema di bawah gigi tiruan lengkap atau
sebagian baik di rahang atas maupun di rahang
bawah.
Budtz-Jorgensenl
mengemukakan
bahwa
denture stomatitis dapat disebabkan oleh
bermacam- macam faktor yaitu: trauma, infeksi,
pemakaian gigi tiruan yang terus-menerus, oral
hygiene jelek, alergi, dan gangguan faktor

sistemik. Oleh karena itu, gambaran klinis


maupun
gambaran
histopatologis
juga
bervariasi, sehingga perawatannyapun perlu
dilakukan dengan berbagai cara sesuai dengan
kemungkinan penyebabnya.
d. Aphthous stomatitis.
Apthous stomatitis (sariawan) adalah stomatitis
yang paling umum sering terjadi. Sariawan ini
adalah jenis ulkus yang sangat nyeri pada
jaringan lunak mulut, bibir, lidah, pipi bagian
dalam, pharing, dan langit-langit mulut halus.
Tipe sariawan ini tidak menular.
Stomatitis aphtosa ini mempunyai 2 jenis tipe
penyakit, diantaranya:
1. Sariawan akut bisa disebabkan oleh trauma
sikat gigi, tergigit, dan sebagainya. Pada
sariawan akut ini bila dibiarkan saja akan
sembuh dengan sendirinya dalam beberapa hari.
2. Sariawan kronis akan sulit sembuh jika
dibiarkan tanpa diberi tindakan apa-apa.
Sariawan jenis ini disebabkan oleh xerostomia
(mulut kering). Pada keadaan mulut kering,
kuantitas saliva atau air ludah berkurang.
Akibatnya kualitasnya pun juga akan berkurang.
Penyebab dari xerostomia ini bisa disebabkan
gangguan psikologis (stress), perubahan
hormonal, gangguan pencernaan, sensitif
terhadap makanan tertantu dan terlalu banyak
mengonsumsi antihistamin atau sedatif.
Adapun secara klinis stomatitis aphtosa ini dapat
dibagi menjadi 3 subtipe, diantaranya:
1. Stomatitis aphtosa minor (MiRAS)
Sebagian besar pasien menderita stomatitis
aphtosa bentuk minor ini. Yang ditandai oleh
luka (ulser) bulat atau oval, dangkal, dengan
diameter kurang dari 5mm, dan dikelilingi oleh
pinggiran yang eritematus. Ulserasi pada
MiRAS cenderung mengenai daerah-daerah
non-keratin, seperti mukosa labial, mukosa
bukal dan dasar mulut. Ulserasi bisa tunggal
atau merupakan kelompok yang terdiri atas

empat atau lima dan akan sembuh dalam jangka


waktu 10-14 hari tanpa meninggal bekas.
2. Stomatitis aphtosa major (MaRAS)
Hanya sebagian kecil dari pasien yang terjangkit
stomatitis aphtosa jenis ini. Namun jenis
stomatitis aphtosa pada jenis ini lebih hebat
daripada stomatitis jenis minor (MiRAS). Secara
klasik, ulser ini berdiameter kira-kira 1-3 cm,
dan berlangsung selama 4minggu atau lebih dan
dapat terjadi pada bagian mana saja dari mukosa
mulut, termasuk daerah-daerah berkeratin.
Stomatitis aphtosa major ini meninggalkan
bekas, bekas pernah adanya ulser seringkali
dapat dilihat penderita MaRAS; jaringan parut
terjadi karena keseriusan dan lamanya lesi.
3. Ulserasi herpetiformis (HU)
Istilah herpetiformis digunakan karena bentuk
klinis dari HU (yang dapat terdiri atas 100 ulser
kecil-kecil pada satu waktu) mirip dengan
gingivostomatitis herpetik primer, tetapi virusvirus herpes initidak mempunyai peran etiologi
pada HU atau dalam setiap bentuk ulserasi
aphtosa.
Cara Mengatasi Stomatitis
a. Bentuk Pengobatan

sariawan terlanjur parah, dapat digunakan


antibiotik dan obat penurun panas (bila disertai
demam), sariawan umumnya akan sembuh
dalam waktu 4 hari, namun bila sariawan tidak
kunjung sembuh, segera periksa ke dokter
karena hal itu dapat menjadi gejala awal adanya
kanker mulut.
b. Pencegahan Stomatitis
Cara mencegah penyakit ini dengan
penyebabnya,
apabila
kita
penyebabnya diharapkan kepada
menghindari timbulnya sariawan ini
dengan :

mengetahui
mengetahui
kita untuk
diantaranya

1. Menjaga kebersihan mulut


2. Mengkonsumsi nutrisi yang cukup, terutama
yang mengandung vitamin B12, vitamin C dan
zat besi
3. Menghadapi stress dengan efektif
4. Menghindari luka pada mulut saat menggosok
gigi atau saat menggigit makanan
5. Menghindari makanan yang terlalu panas atau
terlalu dingin

Bentuk-bentuk pengobatan stomatitis :

6. Menghindari makanan dan obat-obatan atau


zat yang dapat menimbulkan reaksi alergi pada
rongga mulut.

Obat kumur :

Konsep Asuhan Keperawatan

Obat-obat pelindung

a. Pengkajian

Anestetik local

1. Riwayat

Obat-obat antibakteri atau antijamur

Kebersihan rongga mulut meliputi : mukosa pipi


bagian dalam, bibir bagian dalam, lidah serta di
langit langit

Kortikosteroid
Untuk
mengatasi
penyakit
ini
dapat
menggunakan beberapa jenis obat baik dalam
bentuk salep, obat tetes maupun obat kumur.
Saat ini sudah tersedia pasta gigi yang dapat
mengurangi terjadinya sariawan, jika ternyata

Frekuensi kunjungan ke dokter gigi


Kesadaran akan adanya lesi atau area iritasi pada
mulut, lidah, atau tenggorokan.

Masukan makanan setiap hari meliputi: jenis


makanan, asupan vitamin dan mineral (vit.c,
vit.b, dan zat besi)

5. Kerusakan komunikasi verbal


berhubungan dengan pengobatan.

yang

Penggunaan alcohol dan tembakau.

6. Risiko terhadap infeksi yang behubungan


dengan penyakit.

Pemeriksaan fisik

7. Kurang pengetahuan tentang proses penyakit.

Bibir
Dimulai dengan insfeksi terhadap bibir untuk
kelembapan, hidrasi, warna, tekstur, simetrisitas
dan adanya ulserasi atau fisura.

d. Intervensi Keperawatan

Gusi diinspeksi terhadap inflamasi, perdarahan,


retraksi, dan perubahan warna.

1. Perubahan membran mukosa oral yang


berhubungan dengan kondisi patologis, infeksi
atau trauma kimia atau mekanis. yang
berhubungan dengan ketidakmampuan untuk
mencerna nutrisi adekuat akibat kondisi oral
atau gigi.

Lidah

Intervensi keperawatan :

Dorsal (punggung) diinspeksi untuk tekstur,


warna dan lesi.

Peningkatan perawatan mulut

Gusi

Menjamin masukan makanan dan cairan adekuat


Rongga Mulut
Meningkatkan control infeksi
Inspeksi bagian mutut terhadap adanya lesi,
bercak putih terutama pada bagian mukosa pipi
bagian dalam, bibir bagian dalam, lidah serta di
langit langit.

2. Perubahan nutrisi, kurang dari kebutuhan


tubuh,
Peningkatan perawatan mulut

b. Diagnosa Keperawatan
Menjamin masukan makanan dan cairan adekuat
1. Perubahan membran mukosa oral yang
berhubungan dengan kondisi patologis, infeksi
atau trauma kimia atau mekanis.
2. Perubahan nutrisi, kurang dari kebutuhan
tubuh,
yang
berhubungan
dengan
ketidakmampuan untuk mencerna nutrisi
adekuat akibat kondisi oral atau gigi.
3. Gangguan cairan tubuh berhubungan dengan
intake cairan yang kurang.
4. Nyeri yang berhubungan dengan lesi oral atau
pengobatan.

3. Gangguan cairan tubuh berhubungan dengan


intake cairan yang kurang.
Intervensi keperawatan :
Menjamin masukan makanan dan cairan adekuat
Control intake dan output cairan pasien
4. Nyeri yang berhubungan dengan lesi oral atau
pengobatan.
Intervensi keperawatan :
Meminimalkan ketidaknyamanan dan nyeri

Melakukan tindakan distraksi dan mengajarkan


klien melakukan teknik relaksasi untuk
meminimalisir nyeri
5. Kerusakan komunikasi verbal
berhubungan dengan pengobatan.

3. Mempunyai cirri diri positif


4. Mendapatkan tingkat kenyamanan yang dapat
diterima

yang
5. Mengalami penurunan rasa takut yang
berhubungan dengan nyeri, isolasi dan
ketidakmampuan.

Intervensi keperawatan :

6. Bebas dari infeksi.

Mendukung citra diri positif

7. Mendapatkan informasi tentang


penyakit dan program pengobatan.

Meningkatkan komunikasi efektif


6. Risiko terhadap infeksi yang behubungan
dengan penyakit.
Intervensi keperawatan :
Peningkatan perawatan mulut
Meminimalkan ketidaknyamanan dan nyeri
Meningkatkan control infeksi.
7. Kurang pengetahuan tentang proses penyakit.
Intervensi keperawatan :
Pendidikan kesehatan dan pertimbangan
perawatan di rumah tentang pentingnya
perawatan kebersihan mulut, rongga mulut, dan
gigi.
Mengajarkan teknik menggosok gigi yang benar
c. Implementasi
Sasaran : sasaran utama untuk pasien mencakup
perbaikan pada kondisi membran mukosa oral.
e. Evaluasi
1. Menunjukkan bukti membran mukosa secara
utuh.
2. Mencapai dan mempertahankan berat badan
yang diinginkan

proses