Anda di halaman 1dari 25

Batuk Darah dengan Demam dan Penurunan Berat

Badan pada Laki-Laki 56 Tahun


Richard Simak
102011051
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Ukrida
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
richard_x831@yahoo.co.id

Pendahuluan
Keluhan-keluhan pasien dengan penyakit pada traktus respiratorius dapat beragam mulai dari
keluhan batuk dan sesak nafas, bisa juga dengan keluhan nyeri dada, sakit saat menelan, dan lain
sebagainya. Untuk batuk saja terdapat berbagai kemungkinan penyakit yang bisa menjadi
penyebabnya. Keluhan batuk saja tidak spesifik dalam menentukan penyakit pasien tersebut,
oleh karena itu dibutuhkan data yang lebih untuk memastikan penyakit pasien. Untuk
menentukannya harus dilakukan anamnesis lebih lanjut tentang batuknya tersebut, dan keluhankeluhan lain yang menyertai. Setelah melakukan anamnesis harus pula dilakukan pemeriksaan
fisik untuk mempersempit kemungkinan-kemungkinan penyakit. Bila dengan pemeriksaan fisik
belum ada tanda yang spesifik maka bisa dilanjutkan dengan pemeriksaan penunjang untuk
memperkuat dugaan penyakit yang diderita pasien. Dari scenario 2 diketahui seorang laki-laki 56
tahun datang ke poliklinik RS dengan keluhan batuk darah sekitar setengah gelas air mineral
sejak 1 hari lalu, dengan batuk yang dialami sejak 4 bulan terakhir, terdapat sedikit dahak, tidak
ada sesak dan nyeri dada. Pasien merasa semakin kurus dalam 3 bulan terakhir. Pasien belum
pernah berobat sebelumnya untuk keluhan tersebut. Pasien juga sering merasa badannya terasa
hangat hilang-timbul selama 1 bulan terakhir. Riwayat keluarga dengan penyakit serupa tidak
ada. Dari scenario tersebut ditentukan kemungkinan penyakit yang menderita pasien tersebut
antara lain tuberculosis paru, karsinoma paru, pneumonia, bronchitis kronis. Berikut akan di
jelaskan mengenai penyakit-penyakit tersebut.
1

Isi
Hasil yang didapat dari scenario:
KU tampak sakit ringan, compos mentis, TD 130/90, Nadi 78x/menit, RR 20x/menit, Suhu 37,5o
C
Konjungtiva anemis, KGB membesar
Hb : 10g/dL, Leukosit 9.900/L, Trombosit 158.000/L, LED : 70mm/jam
Anamnesis
1. Identifikasi pasien
Mengidentifikasi data seperti usia, jenis kelamin, pekerjaan, tempat tinggal, status
pernikahan
2. Keluhan utama
Satu atau lebih gejala atau kekhawatiran pasien yang menyebabkan pasien mencari
perawatan.
3. Riwayat penyakit sekarang
Menjelaskan keluhan utama yang dirasa pasien, hal ini mencakup lokasi, onset,
durasi, factor-faktor yang memperburuk,
4. Riwayat penyakit dahulu
Riwayat penyakit yang pernah diderita pasien saat masa kanak-kanak sampai saat
dewasa, mencakup pengobatan yang dilakukan, sembuh tidaknya, apakah ada alergi,
atau pernah sakit yang sama sebelumnya.
5. Riwayat keluarga
Mencari penyakit yang ada pada keluarga, karena beberapa penyakit memiliki
factor resiko bila terdapat keluarga yang memiliki sakit yang sama.
6. Riwayat pribadi dan sosial
Menanyakan tentang tingkat pendidikan, suku bangsa keluarga, keadaan rumah
tangga saat ini, minat individu, dan gaya hidup.
Pemeriksaan fisik
1. Inspeksi
a. Keadaan umum : sakit ringan atau sakit berat
b. Bentuk dada:
2

- Barrel shaped (tong)


- Pectus excavatum (funnel shaped)
- Pectus carinatum (pigeon shaped chest)
c. Sifat dan jenis pernafasan
- Cuping hidung, adanya pelebaran lubang hidung, sering terjadi pada setiap
inspirasi pada saat gawat pernafasan, misalnya pada pneumonia lobaris
yang luas
- Retraksi, gerakan celah iga yang terjadi pada setiap nafas anak yang
mengalami gawat pernafasan
- Grunting, suara pada akhir ekspirasi, paling sering terdengar pada bayi
baru lahir dan bayi yang mengalami gawat pernafasan.1
2. Kulit : warna, lesi primer, lesi sekunder, oedem, pelebaran vena. 1
3. Palpasi
Meraba dada pasien apakah terdapat benjolan, bagaimana konsistensinya, apakah dapat
digerakkan atau tidak, apakah pasien merasa nyeri ketika diraba, meraba apakah terdapat
pembesaran organ-organ tubuh. 1
4. Perkusi
a. Hipersonor, emfisema (asma kronik, PPOK. Kp destroyed lung)
b. Redup, infiltrat (bronkopneumonia, pneumonia, Kp, fungi)
c. Pekak, massa (massa tumor, efusi pleura)
d. Timpani, pneumotoraks luas (paru kolaps) 1
5. Auskultasi
Identifikasi suara nafas tambahan:
a. Rales/crackles/ronkhi basah suara gemericik, biasanya paling baik terdengar pada
akhir inspirasi yang secara umum menunjukkan adanya cairan atau eksudat dalam
alveoli (bronkopneumonia, atelektasis, gagal jantung kongestif). 1
b. Ronkhi, suara inspirasi dan ekspirasi kasar yang disebabkan oleh sekresi pada
saluran nafas bagian atas. Ronkhi sering terdengar pada anak yang sedang
menangis atau mengalami infeksi saluran nafas bagian atas. 1
c. Mengi, vibrasi yang dapat didengar atau diraba, sering bersifat musikal dan terjadi
ketika aliran udara menyempit. Mengi ekspiratorik paling sering terjadi dan
biasanya mencerminkan adanya obstruksi saluran nafas bagian bawah. Mengi
paling sering dijumpai pada asma dan bronkiolitis. Penyebab lain adalah gagal
jantung kongestif dan aspirasi benda asing. 1
Differential diagnosis
3

Differential diagnosis yang telah disusun adalah tuberculosis paru, ca paru, pneumonia,
bronchitis kronis
Tuberkulosis
Tuberkulosis adalah penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis
yang merupakan kuman batang aerobic tahan asam.
Epidemiologi
Indonesia adalah negeri dengan prevalensi TB ke-3 tertinggi di dunia setelah China dan India.
Perkiraan kejadian BTA di sputum yang positif di Indonesia adalah 266.000 tahun 1998.
Berdasarkan survey kesehatan rumah tangga 1985 dan survey kesehatan nasional 2001, TB
menempati ranking nomor 3 sebagai penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Prevalensi
nasional terakhir TB paru diperkirakan 0,24%. Sampai sekarang angka kejadian TB di Indonesia
relative terlepas dari angka pandemic infeksi HIV karena masih relative rendahnya infeksi HIV,
tapi hal ini mungkin akan berubah dimasa datang melihat semakin meningkatnya laporan infeksi
HIV dari tahun ketahun. 2
Patogenesis
Tuberkulosis Primer
M. tuberculosis ditularkan dari orang ke orang melalui jalan pernafasan. Basilus tuberkel
di sekret pernafasan membentuk nuklei droplet cairan yang dikeluarkan selama batuk, bersin
dan berbicara. Basilus yang dikeluarkan dapat tetap berada di udara untuk waktu yang lama.
jumlah basilus yang dikeluarkan oleh kebanyakan orang yang terinfeksi tidak banyak, diperlukan
kontak rumah tangga selama beberapa bulan untuk penularannya. 2,3
Mikobakterium rentan terhadap penyinaran ultraviolet, dan penularan infeksi di luar
rumah jarang terjadi pada siang hari. Ventilasi yang memadai merupakan tindakan yang
terpenting untuk mengurangi tingkat infeksi lingkungan. Penularan infeksi M. bovis terkait
dengan konsumsi susu sapi yang tercemar. Organisme ini bukan lagi penyebab penyakit pada
manusia yang utama di kebanyakan daerah dunia. 2,3

Jalan masuk awal bagi basilus tuberkel ke dalam paru atau tempat lainnya pada individu
yang sehat menimbukkan respons peradangan akut nonspesifik dengan sedikit atau tanpa gejala.
Basilus mula-mula akan dihadapi oleh neutrofil kemudian oleh makrofag. Kebanyakan partikel
ini akan mati atau dibersihkan oleh makrofag keluar dari percabangan trakeobronkial bersama
gerakan silia dan sekretnya. Bila kuman menetap di jaringan paru akan berkembang biak dalam
sitoplasma makrofag. Dari sini basilus dapat terbawa masuk ke organ tubuh lainnya. Kuman
yang bersarang di paru akan berbentuk sarang tuberkulosis pneumonia kecil yang disebut fokus
primer. Dari fokus primer akan timbul peradangan saluran getah bening menuju hilus
(limfangitis lokal) dan diikuti pembesaran kelenjar getah bening hilus (limfadenitis regional).
Fokus primer disertai dengan limfangitis lokal dan limfadenitis regional disebut kompleks
primer. Semua proses ini memakan waktu 3-8 minggu. Kompleks primer selanjutnya dapat
menjadi sebagai berikut. 2,3

Sembuh tanpa meninggalkan cacat sama sekali. Ini yang banyak terjadi.
Sembuh dengan meninggalkan sedikit bekas berupa garis-garis fibrotik,
kalsifikasi di hilus. 10% di antaranya dapat terjadi reaktivasi lagi karena

kuman yang dormant.


Berkomplikasi dan menyebar secara perkontinuitatum, yaitu menyebar ke
sekitarnya, menyebar secara bronkogen pada paru yang bersangkutan ataupun
paru sebelahnya. Kuman dapat juga tertelan bersama sputum dan ludah
sehingga menyebar ke usus. Penyebaran secara limfogen ataupun hematogen
ke organ tubuh lainnya.

Tuberkulosis sebagai penyakit klinis timbul pada sebagian kecil individu yang tidak
mengalami infeksi primer. Pada kebanyakan orang, organisme tetap dorman selama bertahuntahun setelah infeksi infeksi primer kemudian memasuki fase multiplikasi eksponensial yang
menyebabkan penyakit. Pada bayi, infeksi tuberkulosis sering cepat berkembang menjadi
penyakit dan berisiko tinggi menderita penyakit diseminata seperti meningitis dan tuberkulosis
miliaris. Pada anak di atas usia 1 atau 2 tahun sampai sekitar usia pubertas, lesi tuberkulosis
primer hampir selalu sembuh, sebagian besar akan menjadi tuberkulosis pada masa akil balik
atau dewasa muda. Individu yang terinfeksi pada masa dewasa memiliki resiko untuk terjadinya
tuberkulosis dalam waktu sekitar 3 tahun setelah infeksi. 2,3

Tuberkulosis Pasca Primer (Sekunder)


Kuman yang dorman pada tuberkulosis primer akan muncul bertahun-tahun kemudian
sebagai infeksi endogen menjadi tuberkulosis dewasa. Mayoritas reinfeksi mencapai 90%.
Tuberkulosis sekunder terjadi karena imunitas menurun, alkohol, penyakit keganasan, diabetes,
AIDS, gagal ginjal. Dimulai dengan sarang dini yang berlokasi di regio atas paru (bagian apikalposterior lobus superior atau inferior). Invasinya ke daerah parenkim paru dan tidak ke nodus
hilus paru. 2,3
Sarang dini ini mula-mula berbentuk sarang pneumonia kecil, dalam 3-10 minggu
menjadi tuberkel yaitu granuloma yang terdiri dari sel-sel Histiosit dan sel Datia-Langhans
dikelilingi sel-sel limfosit dan berbagai jaringan ikat. Sarang yang mula-mula meluas dapat
sembuh menjadi jaringan fibrosis. Ada yang membungkus diri menjadi keras dan menimbulkan
kalsifikasi. Sarang dini yang meluas sebagai granuloma menghancurkan jaringan ikat sekitarnya
dan bagian tengahnya mengalami nekrosis menjadi lembek membentuk jaringan keju. Bila
jaringan keju dibatukkan keluar akan terjadi kavitas. Kavitas dapat menimbulkan dua keadaan. 2,3
1. Kavitas dapat meluas kembali dan menimbulkan sarang pneumonia baru. Isi kavitas
dapat menyebar secara hematogen menyebabkan TB milier, masuk ke paru sebelahnya,
atau tertelan menjadi TB usus. Bisa juga terjadi TB endobronkial, endotrakeal, empiema
bila ruptur ke pleura.
2. Terjadi pemadatan dan membungkus diri sehingga menjadi tuberkuloma. Tuberkuloma
dapat mengapur, menyembuh, atau dapat aktif kembali menjadi cair dan terbentuk kavitas
kembali.
Manifestasi klinis
Demam : biasanya subfebril menyerupai demam influenza. Serangan demam pertama sembuh
sebentar, tetapi kemudian dapat timbul lagi. Begitu seterusnya demam dapat hilang timbul.
Batuk/batuk darah : gejala ini banyak ditemukan. Batuk terjadi karena ada iritasi pada bronkus.
Sifat batuk dimulai dari batuk kering (non-produktif) kemudian setelah timbul peradangan
menjadi produktif (menghasilkan sputum). Keadaan yang lanjut adalah berupa batuk darah
karena terdapat pembuluh darah yang pecah. Kebanyakan batuk darah pada tuberculosis terjadi
pada kavitas, tetapi dapat juga terjadi pada ulkus dinding bronkus.2
6

Nyeri dada : jarang ditemukan. Nyeri dada timbul bila infiltrasi radang sudah sampai ke pleura
sehingga menimbulkan pleuritis. Terjadi gesekan pleura sewaktu pasien menarik/melepaskan
napasnya2
Malaise : gejala malaise sering ditemukan berupa anoreksia tidak ada nafsu makan, badan makin
kurus (berat badan turun), sakit kepala, meriang, nyrei otot, keringat malam dll. Gejala malaise
ini makin lama makin berat dan terjadi hilang timbul secara tidak teratur.2
Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan konjungtiva atau kulit yang pucat karena anemia, suhu
demam (subfebris), badan kurus atau berat badan menurun. Pada pemeriksaan fisis pasien sering
tidak menunjukkan suatu kelainan pun terutama pada kasus-kasus dini atau yang sudah
terinfiltrasi secara asimtomatik. Demikian juga bila sarang penyakit terletak di dalam, akan sulit
menemukan kelainan pada pemeriksaan fisis, karena hantaran getaran/suara yang lebih dari 4 cm
ke dalam paru sulit dinilai secara palpasi, perkusi, dan auskultasi. Secara anamnesis dan
pemeriksaan fisis, TB paru sulit dibedakan dengan pneumonia biasa.2
Kelainan lesi TB paru paling dicurigai adalah bagian apeks paru. Bila dicurigai adanya infiltrate
yang agak luas, maka didapatkan perkusi redup dan auskultasi suara napas bronkial. Akan
didapatkan juga suara napas tambahan berupa ronki basah, kasar, nyaring. Tetapi bila infiltrate
ini diliputi oleh penebalan pleura, suara napasnya menjadi vesicular melemah.
Pada tuberculosis paru yang lanjut juga dapat ditemukan atrofi dan retraksi otot-otot intercostal.
Pemeriksaan penunjang
a. Tes Tuberkulin
Pemeriksaan ini masih banyak dipakai untuk membantu menegakkan diagnosis
tuberkulosis terutama pada anak-anak. Biasanya dipaka tes Mantoux yaitu dengan
menyuntikan 0,1 cc tuberkulin P.P.D. (Purified Protein Derivative) intrakutan
berkekuatan 5 T.U (intermediate strength). Bila ditakutkan reaksi hebat dapat diberikan
dulu 1 atau 2 T.U (first strength). Kadang-kadang bila dengan 5 T.U masih memberikan
hasil negatif dapat diulangi dengan 250 T.U. bila dengan 250 T.U hasil masih negatif
berarti tuberkulosis dapat disingkirkan. 2

Tes tuberkulin hanya menyatakan apakah seseorang individu sedang atau pernah
mengalami infeksi M. tuberculosis, M. bovis, vaksinasi BCG dan Mycobacteria patogen
lainnya. Dasar reaksinya adalah reaksi alergi tipe lambat. Pada penularan dengan kuman
patogen baik yang virulen ataupun tidak tubuh manusia akan mengadakan reaksi
imunologi dengan dibentuknya antibodi selular pada permulaan dan diikuti pembentukan
antibodi humoral yang dalam perannya akan menekankan antibodi selular. 2
Setelah 48-72 jam tuberkulin disuntikkan, akan timbul reaksi berupa indurasi
kemerahan yang terdiri dari infiltrat limfosit yaitu reaksi antara antibodi selular dan
antigen tuberkulin. Banyak sedikitnya reaksi antibodi selular dan antigen tuberkulin
sangat dipengaruhi oleh antibodi humoral, makin besar pengaruh antibodi humoral,
makin kecil indurasi yang ditimbulkan. 2
Hasil dari Tes Mantoux:
a. Indurasi 0-5 mm: Mantoux negatif. Golongan no sensitivity. Peran antibodi
humoral masih menonjol.
b. Indurasi 6-9 mm: hasil meragukan. Golongan low grade sensitivity. Peran
antibodi humoral masih menonjol.
c. Indurasi 10-15 mm: Mantoux positif. Golongan normal sensitivity. Peran kedua
antibodi seimbang.
d. Indurasi lebih dari 15 mm: Mantoux positif kuat. Golongan hypersensitivity. Peran
antibodi selular paling menonjol.
Biasanya hampir seluruh pasien tuberkulosis memberikan hasil yang positif
(99,8%). Pada pasien dengan HIV positif. Tes Mantoux 5 mm dinilai positif. Hal-hal yang
memberikan reaksi negatif palsu yaitu. 2

Pasien yang baru 2-10 minggu terpajan tuberkulosis.


Anergi, penyakit sistemik berat.
Penyakit eksantematous dengan panas yang akut: morbili, cacar air,

poliomielitis.
Reaksi hipersensitivitas menurun pada penyakit limforetikular (Hodgkin).
Pemberian kortikosteroid yang lama, pemberian obat imunosupresi lainnya.
Usia tua, malnutrisi, uremia, penyakit keganasan.

b. Pemeriksaan Laboratorium
a. Darah

Pemeriksaan darah kurang mendapat perhatian dikarenakan hasilnya


kadang-kadang meragukan, tidak sensitif dan juga tidak spesifik.
Pada saat tuberkulosis paru baru aktif didapatkan leukosit sedikit meninggi

dengan pergeseran ke kiri.


Jumlah limfosit masih di bawah normal.
Laju endap darah mulai meningkat. Bila penyakit mulai sembuh, leukosit
kembali normal dan jumlah limfost masih tinggi, laju endap darah mulai
normal kembali.
Anemia ringan dengan normokrom dan normositer, gama globulin
meningkat, kadar natrium darah menurun (tidak spesifik).
Pemeriksaan serologis yang banyak digunakan adalah Peroksidase Anti

Peroksida (PAP TB) dengan nilai sensitivitas dan spesifisitas cukup tinggi (8585%). Prinsip pemeriksaan ini adalah dengan menentukan adanya antibodi IgG
spesifik terhadap antigen M. tuberculosis (menggunakan antigen M. tuberculin
var bovis BCG). Namun pemeriksaan ini kurang bermanfaat bila digunakan
sebagai sarana tunggal untuk diagnosis. Hasil uji dinyatakan patologis bila ada
titer 1: 10.000 didapatkan hasil uji PAP-TB positif. Hasil positif palsu masih
didapatkan pada pasien reumatik, kehamilan, dan masa 3 bulan revaksinasi BCG.
Uji serologis lainnya yang digunakan adalah uji Mycodot. Menggunakan antigen
LAM (lipoarabinomannan) yang dilekatkan pada suatu alat berbentuk sisir plastik
kemudian dicelupkan ke dalam serum pasien. Hasil akan tedeteksi sebagai
perubahan warna pada sisir yang intensitasnya sesuai jumlah antibody. 2
b. Sputum
Tuberkulosis sering secara sementara didiagnosis dengan melihat basil
tahan-asam pada apusan sputum atau spesimen klinis lainnya dengan memakai
pewarnaan Ziehl-Neelsen. Bahan masih harus dibiak karena perwarnaan tahan
asam relatif tidak sensitif dalam mendeteksi tuberkulosis dan perlu untuk
menumbuhkan organisme sehingga bisa dikenali, terutama dalam hal kepekaan
terhadap obat. Kultur konvensional membutuhkan waktu 3-4 minggu untuk
pertumbuhan yang dapat dideteksi. 2
Dianjurkan satu hari sebelum pemeriksaan sputum, pasien minum air
sebanyak 2 liter dan diajarkan melakukan refleks batuk. Dapat juga dengan
9

memberikan tambahan obat-obat mukolitik ekspektoran atau dengan inhalasi


larutan garam hipertonik 20-30 menit. Bila masih sulit, sputum dapat diperoleh
dengan cara bronkoskopi atau dengan cara bilasan lambung. Pengambilan sputum
dengan metode bilasan lambung sering dilakukan pada anak-anak karena mereka
sulit mengeluarkan dahaknya. 2
Penatalaksanaan
Penatalaksanaan pada pasien yang baru pertama kali terkena TB paru pengobatan bisa dilakukan
dengan pilihan pengobatan 2EHRZ untuk fase awal dan fase lanjutan 6HE atau 2EHRZ fase
awal dan 4HR fase lanjutan (E:etambutol, H:isoniazid, R: rifampisin, Z: pirazinamid). Dengan
dosis harian Isoniazid untuk BB<50kg:300 mg, BB>50kg:400mg, Rifampisin BB<50kg:450mg,
BB>50kg:600mg, pirazinamid BB<50kg:1000mg, BB>50kg:2000mg, etambutol BB<50kg:
750mg, BB>50kg: 1000mg. Menggunakan metode DOTS dimana pasien diawasi secara ketat
dalam meminum obat sesuai dosis terapi. 2,4
Pneumonia
Adalah peradangan parenkim paru yang disebabkan oleh mikroorganisme seperti bakteri, jamur,
parasit, namun pneumonia juga dapat disebabkan oleh bahan kimia atauput karena paparan fisik
seperti suhu atau radiasi. Peradangan parenkim paru yang disebabkan oleh penyebab selain
mikroorganisme sering disebut pneumonitis.
Epidemiologi
Penyakit saluran napas menjadi penyebab angka kematian dan kecacatan yang tinggi di seluruh
dunia. Sekitar 80% dari seluruh kasus baru praktek umum berhubungan dengan infeksi saluran
napas yang terjadi di masyarakat (PK) atau di dalam rumah sakit/nosokomial (PN). Pneumonia
yang merupakan bentuk infeksi saluran napas bawah akut di parenkim paru yang serius dijumpai
sekitar 15-20%.2
Etiologi

10

Cara terjadinya penularan berkaitan pula dengan jenis kuman, misalnya infeksi melalui droplet
sering disebabkan Streptococcus pneumonia, melalui selang infus oleh Staphylococcus aureus
sedangkan infeksi pada pemakaian ventilator oleh P.aeruginosa dan Enterobacter.2
Etiologi pneumoni komunitas
Diketahui berbagai pathogen yang cenderung dijumpai pada factor resiko tertentu misalnya H.
influenza pada pasien perokok, pathogen atipikal pada lansia, gram negative pada pasien jompo.
Ps. Aeruginosa pada pasien dengan bronkiektasis, terapi steroid (>10mg/hari), malnutrisi dan
imunosupresi dengan disertai leukopeni. Streptococcus pneumonia dijumpai pada 20-60% kasus,
H. influenzae (3-10%), dan oleh S. aureus, M. pneumoniae, C. pneumonia, Legionella dan virus
sebesar 10%.2
Pneumonia dibagi menjadi Pneumonia bacterial dan pneumonia atipikal
Pneumonia bacterial
Community acquired pneumonia atau pneumonia komunitas (PK)
Pneumonia yang sering diderita oleh anggota masyarakat umumnya disebabkan oleh
Streptococcus pneumonia (suatu pneumokokus) dan biasanya menimbulkan pneumonia lobar.
Pneumonia yang disebabkan oleh pneumokokus terjadinya akut, sering disertasi dengan gejala
menggigil dan diikuti demam yang tinggi. Pada foto toraks sering ditemukan konsolidasi.
Sputum biasanya purulent dan berwarna seperti karat besi. Pada preparat apusan sputum, dengan
pewarnaan Gram serign dijumpai diplokokus gram positif dengan laukosit polimorfonuklear.
Kultur sputum mungkin akan mendapatkan Streptococcus pneumonia, tetapi jika negative tidak
berarti diagnosisnya bukan pneumonia komunitas. 2,5
Mikroorganisme lain penyebab pneumonia komunitas walau jarang adalah Haemophilus
influenza, Klebsiella pneumonia, Legionella pneumophila dan bakteri gram negative meskipun
tidak terlalu banyak.
Pada aspirasi muntahan akibat mabuk karena alcohol, serangan epilepsy atau akibat tidak sadar,
mikroorganisme penyebab yang terbanyak adalah bakteri anaerob. Staphylococcus jarang
menyebabkan pneumonia pada orang yang sebelumnya sehat, tetapi sering sebagai penyebab
11

pneumonia pada penderita influenza saat epidemic dan pada pecandu narkoba secara intravena.
Legionella pneumophila menyebabkan penyakit Legionnaires, yaitu suatu bentuk pneumonia
yang juga dapat bersifat hospital acquired. Kumannya sering masuk melalui inhalasi droplet
aerosol yang mengandung organisme ini. Droplet aerosol biasanya berasal dari mesin penyejuk
udara (air conditioning).2,5
Pneumonia nosocomial
Penyakit ini adalah pneumonia yang kejadiannya bermula di rumah sakit. Penyakit ini
merupakan penyebab kematian yang terbanyak pada pasien rumah sakit. Mikroorganisme
penyebab biasanya bakteri gram negative dan stafilokokus.2
Pneumonia atipikal
Yang termasuk dalam grup ini adalah pneumonia yang disebabkan Mycoplasma pneumonia,
Chlamydia, Legionella pneumophila. Beberapa buku memasukkan pneumonia yang disebabkan
virus ke dalam golongan pneumonia atipikal.
Pneumonia atipikal ditandai dengan demam antara 38,3-40oC, batuk nonproduktif, sesak napas,
malaise dan biasanya myalgia. Sakit kepala biasanya menyertai pneumonia yang disebabkan
virus influenza.
Pneumonia yang disebabkan Mycoplasma pneumonia menimbulkan ronkhi terbatas dan gejala
proses konsolidasi, tetapi pada foto paru, gambaran prosesnya menyebar (diffuse). Terkadang
juga terdengar bising gesek pleura.2,5
Patogenesis
Proses petogenesis pneumoni terkait dengan 3 faktor yaitu keadaan (imunitas) inang,
mikroorganisme yang menyerang pasien dan lingkungan yang berinteraksi satu sama lain.
Interaksi ini akan menentukan klasifikasi dan bentuk manifestasi dari pneumonia, berat
ringannya penyakit, diagnosis empiric, rencana terapi secara empiris serta prognosis dari pasien.
Cara terjadinya penularan berkaitan dengan jenis kuman, misalnya infeksi melalui droplet sering
disebabkan Streptococcus pneumonia, melalui selang infus oleh Staphylococcus aureus
sedangkan infeksi pada pemakaian ventilator oleh P. aeruginosa dan Enterobacter. 2
12

Penegakan diagnosis
Anamnesis ditujukan untuk mengetahui kemungkinan kuman penyebab yang berhubungan
dengan factor infeksi:
a.

evaluasi factor pasien/predisposisi: PPOK (H.influenzae), penyakit kronik (kuman


jamak), kejang/tidak sadar (aspirasi Gram negatif, anaerob), penurunan imunitas (kuman

Gram negative), Legionella, kecanduan obat bius (Staphylococcus)


b. Bedakan lokasi infeksi : PK (Streptococcus pneumoniae, H. influenzae, M. pneumoniae),
rumah jompo, PN (Staphylococcus aureus), Gram negatif
c. Usia : bayi (virus), muda (M. pneumonia), dewasa (S. pneumoniae)
d. Onset : cepat, akut dengan rusty coloured sputum (S.pneumoniae); perlahan, dengan
batuk, dahak sedikit (M.pneumoniae)
Bisa diketahui pula gejala pneumonia didahului oleh gejala infeksi saluran pernapasan akut
bagian atas, nyeri menelan, kemudian demam dengan suhu sampai di atas 40oC, menggigil.
Batuk yang disertai dahak yang kental, kadang-kadang bersama pus atau darah. 2,5
Pemeriksaan fisik
Perhatikan gejala klinis yang mengarah pada tipe kuman penyebab/ patogenitas kuman dan
tingkat berat penyakit:
a. Onset akut biasanya oleh kuman pathogen seperti S.pneumoniae, Staphylococcus.
Pneumonia virus ditandai dengan myalgia, malaise, batuk kering dan nonproduktif.
b. Gejala lebih ringan pada orang tua/imunitas menurun akibat kuman yang kurang
pathogen (oportunistik), misalnya Klebsiella, Pseudomonas, Enterobacteriaceae, kuman
anaerob, jamur
c. Tanda-tanda fisik pada tipe pneumonia klasik bisa didapatkan berupa demam, sesak
napas, tanda-tanda konsolidasi paru (perkusi paru yang pekak, ronki nyaring, suara
pernapasan bronkial).
d. Warna, konsistensi dan jumlah sputum penting untuk diperhatikan
Pada pemeriksaan fisik juga dapat terlihat ekspansi dada tertinggal pada sisi yang terkena radang,
terdapat bunyi redup pada perkusi, dan pada auskultasi terdengar napar bronkial disertai ronkhi.
2,5

13

Pemeriksaan penunjang
Gambaran efusi pleura dengan pneumonia sering ditimbulkan oleh S. pneumoniae. Pada
pemeriksaan darah dapat ditemukan peningkatan jumlah leukosit hingga 30.000/L pada infeksi
bakteri, sedangkan pada infeksi yang disebabkan virus, peningkatan leukositnya tidak terlalu
tinggi, bahkan ada yang menurun.5
Pemeriksaan kultur kuman dari bahan sputum atau darah merupakan pemeriksaan yang utama
dilakukan untuk menentukan pilihan terapi yang sesuai dengan penyebab.
Penatalaksanaan
Pada pasien ini diketahui tidak pernah mendapat antimikroba sebelumnya dan belum pernah
sakit sebelumya, jadi jika dicurigai terkena pneumonia sebaiknya diberikan terapi
makrolid(eritromisin, azitromisin, klaritromisin)/doksisiklin atau fluorokuinolon, atau
amoksisilin dosis tinggi, atau amoksisilin-klafulanat.2
Keganasan paru
Anamnesis
Anamnesis terdiri dari identitas, keluhan utama, riwayat penyakit sekarang, riwayat penyakit
dahulu dan riwayat penyakit keluarga. Dari anamnesis akan didapatkan keluhan utama dan
perjalanan penyakit, serta faktor-faktor lain yang sering membantu tegaknya diagnosis.

Identitas Pasien
Identitas pasien meliputi nama, tanggal lahir, umur, suku, agama, alamat, pendidikan,
dan pekerjaan

Keluhan utama
Batuk darah sejak 1 hari yang lalu, batuk sejak 4 bulan terakhir.

Riwayat penyakit sekarang6


1. Ada tidaknya batuk ? sejak kapan , intensitasnya bagaimana, batuk terus menerus
atau hanya sesaat, apakah batuk produktif atau nonproduktif ?
2. Apakah adanya dahak ? warna, dan jumlah dahak bagaimana ?

14

3. Ada tidaknya demam ? sejak kapan, intensitas demam bagaimana, demam tinggi
4.
5.
6.
7.
8.
9.

atau ringan ?
Adakah hemoptisis ? berapa banyak ?
Ada tidaknya nyeri dada ?
Ada tidaknya sesak napas ? perubahan suara menjadi serak ?
Ada tidaknya benjolan bagian leher (pembesaran KGB) ?
Adak tidaknya penurunan nafsu makan, penurunan berat badan yang drastis ?
Ada tidaknya ikterus ?

Riwayat Penyakit Dahulu6


1. Adakah riwayat batuk darah sebelumnya ?
2. Apa ada riwayat merokok ? jika ada sejak kapan, jumlah rokok yang dihisap perhari
?
3. Apakah pernah menjalani operasi, radioterapi, kemoterapi ?
4. Lingkungan rumah, pekerjaan bagaimana ? apakah adanya kontak dengan asap

rokok ?
5. Adakah riwayat minum alcohol?
6. Ada tidaknya riwayat pengobatan ?
7. Ada tidaknya alergi ?
Riwayat Penyakit Keluarga6
1. Apakah ada dalam keluarga yang merokok ?
2. Apakah ada dalam keluarga yang menderita penyakit infeksi seperti tuberkulosis ?
3. Apakah ada dalam keluarga yang mengalami kelainan alergi seperti asma bronkhial
?
4. Apah ada yang menderita bronkitis kronis ?
Pemeriksaan fisik
Keadaan umum pasien bagaimana, apakah tampak sakit berat, sedang atau ringan. Lalu
bagaimana kesadaraan apakah kompos mentis, apatik, samnolen sopor, koma, derilium. Dan
pastinya juga dilakukan pemeriksaan tanda-tanda vital: suhu, memeriksa tekanan darah, berat
badan, tinggi badan, frekuensi pernafasan, frekuensi nadi. 2
1.

Inspeksi
Menilai bagaiamana bentuk thoraks, warna kulit, ada tidaknya lesi atau luka bekas
operasi. Kemudian melihat pergerakan dada simetris tidaknya, dan melihat ada tidaknya
retraksi intercostal. Kemudian melihat adak tidanya masa, atau pembekakan.

2. Palpasi

15

Palpasi dilakukan untuk mengkasi kesimetrisan pergerakan dada dan mengabnormalitas,


mengidentifikasi keadaan kulit, serta vocal fermitus. Palpasi thoraks berguna unutk
mengetahui abnormalitas yang terkaji saat inspeksi baik itu berupa massa, lesi, bengkak,
dan perlu dikaji jika pasien mengeluh rasa sakit pada saat dilakukannya palpasi.
3. Perkusi
Perkusi untuk mengkasi resonansi pulmoner, organ yang ada disekitarnya, dan
pengembangan diafragma. Suara perkusi abnormal bisa hipersonor yaitu timbul pada
bagaian paru yang berisi udara.
4. Auskultasi
Pada auskultasi akan didapatkan wheezing atau stridor hal ini terjadi karena adanya
obstruksi saluran napas. 2
Pemeriksaan penunjang
1. Pemeriksaan CT
Pemeriksaan CT scan toraks kini metode baku untuk memperkirakan luas dan
derajat invasi ontratorakal karsinoma paru, terutama dalam penentuan karsinoma
paru. CT scan dapat mendeteksi tumor dengan ukuran lebih kecil dari 1 cm secara
lebih tepat. Demikian juga tanda-tanda proses keganasan juga tergambar secara
lebih baik, bahkan bila terdapat penekanan terhadap bronkus, tumor intrabronkial,
atelektasis, efusi pleura yang tidak masif dan terjadi invasi ke mediastinum dan
dinding dada meski tanpa gejala.2
2. Pemeriksaan MRI
Pemeriksaan MRI toraks memiliki keunggulan besar dibandingkan CT scan
adalah lebih mudag membedakan hubungan antara tumor padat dan pembuluh
darah, dan dapat dapat memperlihatkan trakeobronkus serta pembuluh darah yang
terkena, bergeser dn terobstruksi. Tapi da;am emmeriksan nodul kecil dalam paru
hasilnya tidak sebaik CT.2
a. Pemeriksaan sitologi sputum
Sitologi sputum adalah tindakan diagnostik yang paling mudah dan paling murah.
Kekurangan pemeriksaan ini terjadi bila tumor ada di perifer, penderita batuk kering dan
tehnik pengumpulan dan pengambilan sputum yang tidak memenuhi syarat. Dengan
16

bantuan inhalasi NaCl 3% untuk merangsang pengeluaran sputum dapat ditingkatkan.


Semua bahan yang diambil tersebut harus dikirim ke laboratoirum patologi anataomi
untuk pemeriksaan sitologi atau histologi. Pengambilan sputum yang baik adalah saat
bangun pagi membatukan sputum dari dalam paru dengan sputum berserat darah.
Pemeriksaan sitologi sputum berturut-turut 3-5 hari dapat meningkatkan angka temuan
positif.2
3. Pemeriksaan endoskopi
a. Bronkoskopi
Bronkoskopi adalah pemeriksan dengan tujuan diagnostik sekaligus dapat
dihandalkan untuk dapat mengambil jaringan atau bahan agar dapat dipastikan ada
tidaknya sel ganas. Bronkoskopi dapat melihat langsung lesi di saluran
trakeobronkial. Pemeriksaan ada tidaknya masa intrabronkus atau perubahan
mukosa saluran napas, seperti terlihat kelainan mukosa tumor misalnya, berbenjolbenjol, hiperemis, atau stinosis infiltratif, mudah berdarah. 2
b. Mediastinoskopi
Suatu cara diagnosis melalui suatu lubang artifisial di celah depan trakea dimasukan
mediastinoskopi untuk melihat sekitar trakea melalui insisi supra sternal, sekaligus
melakukan biopsi. Pemeriksaan ini sangat berguna dalam memastikan ada tidaknya
metastasi kelenjar limfe mediastinum pada karsinoma paru, merupakan teknik
penting dalam menentukan stadium kanker paru, dan juga untuk diagnosis banding.
Lebih dari 20% kanker paru bermetastasis ke mediastinum, terutama Small Cell Ca
dan Large Cell Ca. 2
c. Torakoskopi
Merupakan suatu tindakan invasif, maka pemeriksaan torakoskopi yang bertujuan
diagnosis umumnya baru dipertimbangkan dikerjakan jika teknik pemeriksaan
noninvasif lainnya belum dapat menegakan diagnosis suatu penyakit. Dengan
tindakan ini massa tumor di bagaian perifer paru, pleura viseralis, pleura parietal
dan mediastinum dapat dilihat dan dibiopsi.
Kanker paru adalah pertumbuhan sel kanker yang tidak terkendali dalam jaringan paru
yang disebabkan oleh sejumlah karsinogen lingkungan, terutama asap rokok. Menurut WHO
kanker paru merupakan penyebab kematian utama dalam kelompok kanker baik pada pria
17

maupun wanita. Sebagian besar kanker paru berasal dari sel-sel dalam paru, tetapi bisa juga
berasal dari kanker di bagian tubuh lain yang menyebar ke paru. Terdapat empat jenis umum
kanker paru: tiga karsinoma sel besar dan satu karsinoma sel kecil.2

Small Cell Lung Cancer (SCLC)


Gambaran histologinya yang khas adalah dominasi sel-sel kecil yang hampir semua
diisi oleh mukus dengan sebaran kromatin yang sedikit sekali tanpa nukleoli. Disebut
juga oat cell carsinoma karena bentuknya mirip dengan bentuk biji gandum, sel kecil
ini cenderung berkumpul sekeliling pembuluh darah halus menyerupai pseudoroset.
SCLC sejenis tumor yang bersifat sangat anaplastik, atau embrionik, sehingga
memperlihatkan insiden metastasis yang tinggi. Walaupun biasanya telah mencapai
metastasis pada saat didiagnosis karena perjalanan penyakit yang agresif dan
pertumbuhannya yang cepat, SCLC merupakan tipe kanker paru yang paling sensitif
terhadap kemoterapi dan radiasi, oleh karena itu kanker ini sering terjadi pada bagian
tengah dari toraks, biasanya akan terjadi pneumonia pascaobstruktif dan atelektasis.
Tempat-tempat sebagai manisfestasi metastasis jauh adalah otak, hari, sumsusm tulang.
Manisfestasi paru yang timbul pada tumor ini juga disebabkan obstruksi aliran udara.
Tumor jenis ini mungkin merupakan jenis yang paling sering dijumpai pada perokok,
dan memiliki prognosis paling buruk.2

Non Small Cell Lung Cancer (NSCLC)


1. Squamous cell carcinoma
Karsinoma sel skuamosa berciri khas proses keratinisasi dan pembentukan
bridge intraseluler, studi sitologi memperlihatkan perubahan yang nyata dari
displasia skuamosa ke karsinoma insitu. Berdiferensiasi sedang atau buruk,
terdapat pada bagian tengah paru, dapat timbul sebagai tumor pancoast dan
dapat menyebabkan awitan hiperkalemia yang tiba-tiba.2
2. Adenocarcinoma
Tumor epitel ganas dengan diferensiasi kelenjar atau pembentukan musin oleh
sel tumor. Meperlihatkan pola pertumbuhan, baik murni atau yang lebih sering
campuran.2
3. Bronchoalveolar carcinoma

18

Merupakan suatu subtipe dari adenokarsinoma, meliputi parenkim paru tanpa


menginvasi atau merusak jaringan paru. 2
4. Large cell carcinoma
Ini suatu subtipe yang gambaran histyologinya dibuat secara ekslusi. Dia
termasuk NSCLC tapi tidak ada gambaran diferensiasi skuamosa atau glandulae,
sel bersifat anaplastik, tak berdiferensiasi, biasanya disertai infiltrasi sel netrofil.2
Etiologi
Meskipun etiologi sebenarnya dari kanker paru belum diketahui, tetapi ada beberapa faktor yang
agaknya bertanggung jawab dalam peningkatan insiden kanker paru :
1.

Merokok
Tak diragukan lagi merupakan faktor utama. Suatu hubungan statistik yang defenitif telah
ditegakkan antara perokok berat (lebih dari dua puluh batang sehari) dari kanker paru
(karsinoma bronkogenik). Perokok seperti ini mempunyai kecenderung sepuluh kali lebih
besar dari pada perokok ringan. Selanjutnya orang perokok berat yang sebelumnya dan
telah meninggalkan kebiasaannya akan kembali ke pola resiko bukan perokok dalam
waktu sekitar 10 tahun. Hidrokarbon karsinogenik telah ditemukan dalam ter dari
tembakau rokok yang jika dikenakan pada kulit hewan, menimbulkan tumor.2

2.

Kontak industrial
Asbestos, arsen, uranum, nikel, kronium, adalah faktor resiko penyebab karsinoma paru.

3.

Polusi udara
Mereka yang tinggal di kota mempunyai angka kanker paru yang lebih tinggi dari pada
mereka yang tinggal di desa dan walaupun telah diketahui adanya karsinogen dari
industri dan uap diesel dalam atmosfer di kota.2

4.

Genetik
Terdapat bukti bahwa anggota keluarga pasien kanker paru berisiko lebih besar terkena
penyakit ini. Penelitian sitogenik dan genetik molekuler memperlihatkan bahwa mutasi
pada protoonkogen dan gen-gen penekan tumor memiliki arti penting dalam timbul dan
berkembangnya kanker paru. Tujuan khususnya adalah pengaktifan onkogen (termasuk
juga gen-gen K-ras dan myc) dan menonaktifkan gen-gen penekan tumor (termasuk gen
rb, p53, dan CDKN2). 2

7. Teori onkogenesis
19

Terjadinya kanker paru didasari oleh tampilnya gen suppresor tumor dalam genom
(onkogen). Adanya inisiator mengubah gen supresor tumor dengan cara menghilangkan
(delesi/del) atau penyisipan (insersi/ inS) sebagian susunan pasangan basanya, tampilnya
gen erbB1 dan atau neu/erbB2 berperan dalam anti apoptosis (mekanisme sel untuk mati
secara alamiah- programmed cell death). Perubahan tampilan gen kasus ini menyebabkan
sel sasaran dalam hal ini sel paru berubah menjadi sel kanker dengan sifat pertumbuhan
yang otonom.2
6.

Diet
Dilaporkan bahwa rendahnya konsumsi betakaroten, selenium dan vitamin A
menyebabkan tingginya resiko terkena kanker paru.2

Manisfestasi klinis
Pada fase awal kebanyakan kanker paru tidak menunjukan gejala klinis. Bila sudah
menampakan gejala berarti pasie dalam stadium lanjut. gejala-gejala dapat bersifat :

Lokal (tumor tumbuh setempat)2


Batuk , akan lebih hebat pada batuk kronis
Hemoptosis
Mengi (wheezing, stridor) karena adanya obstruksi saluran napas
Kadang terdsapat kavitas seperti abses paru
Atelektasis
Invasi lokal2
Nyeri dada
Dispnea karena efusi pleura
Invasi ke perikardium terjadi tamponade atau aritmia
Sindroma vena cava superior
Sindroma horner (facial anhidrosis, ptosis, miosis)
Suara serak, karena penekanan pasa nervus laryngeal recurrent
Sindrom panciast, karena invasi pada pleksus brakhialis dan saraf simpatis
servikalis
Gejala penyakit metastasis2
Pada otak, tulang, hati, adrenal
Limfadenopati servical dan supraklavikula
Gambar 1.Staging TNM Ca Paru. Sumber: Google Image

20

Penatalaksanaan
Terapi kanker paru harus berdasarkan kondisi fisik pasien, klasifikasi hasil pencitraan, tipe
patologik dan stadium TNM untuk mempertimbangkan secara menyeluruh, diberikan terapi
gabungan multidisiplin. Pada umumnya karsinoma paru NSCLC dilakukan operasi sebagai terapi
utama dalam terapi gabungan, sedangkan SCLC dengan kemoterapi sebagai utama dalam tergapi
gabungan. 7
1. Pembedahan

21

Pembedahan pada kanker paru bertujuan untuk mengangkat tumor secara total berikut
kelenjar getah bening disekitarnya. Hal ini biasanya dilakukan pada kanker paru yang
tumbuh terbatas pada paru yaitu stadium I (T1 N0 M0 atau T2 N0 M0), kecuali pada
kanker paru jenis SCLC. Luas reseksi atau pembedahan tergantung pada luasnya
pertumbuhan tumor di paru. Pembedahan dapat juga dilakukan pada stadium lanjut, akan
tetapi lebih bersifat paliatif. Pembedahan paliatif mereduksi tumor agar radioterapi dan
kemoterapi lebih efektif, dengan demikian kualitas hidup penderita kanker paru dapat
menjadi lebih baik. 7
Pembedahan untuk mengobati kanker paru dapat dilakukan dengan cara : 2,7
a. Wedge Resection, yaitu melakukan pengangkatan bagian paru yang berisi tumor,
bersamaan dengan margin jaringan normal.
b. Segmentectomy atau reseksi baji, yaitu pengangkatan bagian dari suatu lobus
c. Lobectomy, yaitu pengangkatan keseluruhan lobus dari satu paru.
d. Pneumonectomy, yaitu pengangkatan paru secara keseluruhan. Hal ini dilakukan
jika diperlukan dan jika pasien memang sanggup bernafas dengan satu paru.
2. Radioterapi
Radioterapi merupakan salah satu metode terapi penting karsinoma paru, terutama untuk
stadium klinis I, II, jika karena berbagi sebab pasien tidak dapat atau tidak menghendaki
untuk operasi, harus dipilih radioterapi. Radioterapi dilakukan sebagai pengobatan kuratif
dan bisa juga sebagai terapi adjuvan atau paliatif pada tumor dengan komplikasi seperti
mengurangi efek obstruksi atau penekanan terhadap pembuluh darah atau bronkus. Terapi
radiasi dilakukan dengan menggunakan sinar X untuk membunuh sel kanker. Pada
beberapa kasus, radiasi diberikan dari luar tubuh (eksternal). Tetapi ada juga radiasi yang
diberikan secara internal dengan cara meletakkan senyawa radioaktif di dalam jarum,
dengan menggunakan kateter dimasukkan ke dalam atau dekat paru-paru. Terapi radiasi
banyak dipergunakan sebagai kombinasi dengan pembedahan atau kemoterapi. 2
3. Kemoterapi
Kemoterapi pada kanker paru merupakan terapi yang paling umum diberikan pada SCLC
atau pada kanker paru stadium lanjut yang telah bermetastasis ke luar paru seperti otak,
ginjal, dan hati. Kemoterapi dapat digunakan untuk memperkecil sel kanker,
memperlambat pertumbuhan, dan mencegah penyebaran sel kanker ke organ lain.

22

Kadang-kadang kemoterapi diberikan sebagai kombinasi pada terapi pembedahan atau


radioterapi. 2,7

Bronkitis Kronis
Bronkitis kronik didefinisikan sebagai adanya sekresi mucus yang berlebihan pada saluran
pernapasan secara terus-menerus dengan disertai batuk. Pengertian terus-menerus adalah terjadi
sepanjang hari selama tidak kurang dari tiga bulan dalam setahun dan telah berlangsung selama
dua tahun berturut-turut. Batasan ini tidak mencakup sekresi mucus berlebihan disebabkan oleh
kanker paru, tuberculosis dan penyakit gagal jantung kongestif. Batasan yang digunakan adalah
tiga bulan dalam setahun karena yang menyusung batasan ini adalah para ahli yang menangani
pasien di daerang empat musim. 5
Patologi
Bronchitis adalah suatu penyakit yang mempunyai gambaran histologi berupa hipertrofi kelenjar
mukosa bronkial dan peradangan peribronkial yang menyebabkan kerusakan lumen bronkus
berupa metaplasia skuamosa, silia menjadi abnormal, hyperplasia otot polos saluran pernapasan,
peradangan dan penebalan mukosa bronkus. Sel neutrophil banyak ditemukan pada lumen
bronkus dan infiltrate neutrophil pada submukosa. Pada bronkiolus respiratorius terjadi
peradangan, banyak ditemukan sel mononuclear, banyak sumbatan mucus, metaplasia sel goblet,
dan hyperplasia otot polos. Seluruh kelainan ini akan menyebabkan obstruksi saluran
pernapasan.5
Manifestasi klinis
Batuk terus-menerus yang disertai dahak dalam jumlah banyak dan batuk terbanyak terjadi pada
pagi hari. Sebagian besar penderita bronchitis kronik tidak mengalami obstruksi aliran
pernapasan, namun 10-15% perokok merupakan golongan yang mengalami penurunan aliran
napas. Penderita batuk produktif kronik yang mempunyai aliran napas normal disebut bronchitis
kronik simpleks, sedangkan yang disertai dengan penurunan aliran napas yang progresif disebut
penderita bronchitis kronik obstruktif.5

23

Pemeriksaan fisik tidak sensitive untuk bronchitis kronik yang ringan sampai sedang, tetapi pada
penderita yang mengalami obstruksi napas, gejalanya telah tampak pada saat inspeksi, yaitu
digunakannya otot pernapasan tambahan (accessory repiratory muscle).5
Bronkitis kronik merupakan penyakit yang digolongkan dalam Penyakit Paru Obstruktif Kronik
(PPOK). Oleh karena itu tanda-tanda klinisnya hampir sama dengan PPOK yaitu adanya batuk,
dengan produksi sputum berlebihan, dyspnea, dan obstruksi saluran napas yang prograsif
Penatalaksanaan
Walaupun tidak dapat disembuhkan dan seiring menjadi irreversible, dapat diupayakan agar
progresifitas perburukan fungsi pernapasan diperlambat dan exercise tolerance ditingkatkan.
Penatalaksanaannya mencakup penghentian merokok, vaksin pneumokokus, bronkodilatos, dan
kortikosteroid, terapi oksigen, pengontrolan sekresi, serta latihan fisik dan latihan napas. Upaya
mengontrol sekresi dilakukan dengan pencukupan asupan cairan dan kelembapan, drainase
postural, serta pemberian obat mukolitik untuk mengencerkan secret.5

Kesimpulan
Dari beberapa differential diagnosis diatas, jika dilihat dari gejala-gejala dan hasil pemeriksaan
yang didapat lebih mengarah ke suspek TB walaupun kemungkinan-kemungkinan lain juga
memiliki manifestasi yang hamper sama. Walaupun belum bisa menentukan diagnosis pasti tapi
ada dua diagnosis yang mendekati yaitu tuberculosis dan karsinoma paru, dan dari kedua
diagnosis tersebut yg paling mendekati adalah tuberculosis.

24

Daftar Pustaka
1. Bickley, Lynn S. Buku ajar pemeriksaan fisik & riwayat kesehatan Bates. Edisi ke-8.
Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2009.h.220-49.
2. Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia. Buku ajar ilmu penyakit
dalam. Edisi ke-6, Jilid 2. Jakarta: Internal Publishing; 2014
3. Price SA, Wilson LM. Patofisiologi konsep klinis proses-proses penyakit. Edisi ke-6
Volume ke-1. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2006.h.852-61.
4. Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia. Jurnal tuberculosis
Indonesia.2010.vol.7
5. Djojodibroto RD. Respirologi. Jakarta : EGC.2009.h.136-43
6. Gleadle J. At a glance anamnesis dan pemeriksaan fisik. Jakarta: Erlangga; 2005.h. 171
7. Desen W. Buku ajar onkologi klinis. Edisi 2. Jakarta. FKUI; 2008.h. 337-50.

25