Anda di halaman 1dari 4

PEMBAHASAN

1. Neutrofil
Neutrofil merupakan jenis sel granulosit yang dominan perannya dalam
fagosit antigen. Neutrofil adalah sel fagositik. Karena faktor kemotaktik, neutrofil
ditarik ketempat mikroorganisme, khususnya bakteri, kemudian difagositosis dan
dihancurkan (Eroschenko, 2003).

Berdasarkan tabel dari hasil penelitian, rata-rata persentase neutrofil semua


kelompok perlakuan dan kontrol masih dalam rentang nomal walaupun terdapat
persentase neutrofil yang hampir melebihi batas normal seperti pada kelompok
kontrol2/negatif dengan persentase rata-rata persentase 39,5%. Kelompok
perlakuan memiliki persentase neutrofil yang lebih kecil jika dibandingkan
kelompok kontrol. Persentase neutrofil terendah terdapat pada kelompok
perlakuan 1 dengan persentase sebesar 23,5%. Selanjutnya diikuti oleh kelompok
perlakuan 3 dengan persentase 29,5%, kelompok perlakuan 1 dengan persentase
31,5%, kelompok perlakuan 2 dengan persentase 34,5% dan kelompok

kontrol1/positif dengan persentase 36,67%. Secara statistik, persentase neutrofil


pada penelitian ini menunjukkan adanya perbedaan bermakna yang terjadi antara
kelompok perlakuan 2 dengan kelompok perlakuan 4 (P<0,05), kelompok
perlakuan 4 dengan kelompok kontrol 1 (P<0,05), kelompok perlakuan 4 dengan
kelompok kontrol 2 (P<0,05).
Terikait dengan persentase neutrofil yang masih dalam rentang normal
pada penelitian ini kemungkinan terkait peran dari neutrofil terhadap Plasmodium
berghei itu sendiri. Adapun penjelasannya terdapat penelitian yang dilakukan
oleh Darlina (2011) mengenai perubahan

jenis

leukosit pada mencit yang

diimunisasi dengan plasmodium berghei yang diradiasi, penelitian tersebut


menyatakan persentase neutrofil pada penelitian tersebut tidak mengalami
peningkatan bahkan terjadi sedikit penurunan. Hal ini menunjukkan sel neutrofil
tidak terlalu berperan dalam proses pertahanan hewan coba terhadap Plasmodium
berghei terkait kemungkinan karena neutrofil lebih berperan dalam melawan
bakteri (Darlina et al, 2011). Selain itu hal-hal yang menyebabkan penurunan
neutrofil pada kasus infeksi diantaranya virus hepatitis, influenza, HIV (Hoffbrand
et al, 2005). Walaupun demikian respon imun yang diperlukan untuk eliminasi
parasit malaria membutuhkan interaksi antara respon imun alamiah yang salah
satunya neutrofil dengan respon imun spesifik (Kwiatkowski, 1999).

Hasil penelitian ini menunjukkan adanya efek pada pemberian ekstrak


jintan hitam (Nigella sativa) pada hewan coba sehingga berpengaruh pada
persentase neutrofilnya yang dibuktikan dengan adanya perbedaan bermakna yang
terdapat pada kelompok perlakuan 4 dengan kelompok kontrol 1 dan 2. Kelompok
kontrol 1/positif yang diberikan klorokuin memiliki persentase neutrofil yang
lebih tinggi dibandingkan perlakuan 4 dengan ekstrak jintan hitam kemungkinan
disebabkan oleh perbedaan jumlah parasitemia yang cukup jauh antar 2 kelompok
walaupun pemberian klorokuin juga memiliki efek yang dapat menurunkan
neutrofil (Fraser et al, 2008) . Sedangkan kelompok perlakuan 2 menunjukkan
adanya perbedaan bermakna dengan perlakuan 4, kemungkinan terkait dengan
persentase parasitemia kelompok perlakuan 2 yang jauh lebih tinggi dibandingkan
dengan pelakuan 4 (Rastini, 2014).
Ekstrak jintan hitam tersebut memiliki efek antiinflamasi/peradangan dan
memiliki efek antimalaria. Selain kandungan alkaloid,

jintan hitam juga

mengandung phenolic, telah terbukti sebagai anti antiinflammasi, dan antiparasit

(Nergiz, 1993 ; Ma & Kinner, 2002 ; Abdulellah, 2007). Hal ini mengakibatkan
penurunan jumlah parasit dan inflamasi pada hewan coba sehingga berpengaruh
terhadap penurunan neutrofil. Penelitian lainnya juga menyebutkan bahwa jintan
hitam dan jintan hitam dikombinasikan dengan madu dapat menurunkan jumlah
neutrofil (Mayasafira, 2012).