Anda di halaman 1dari 10

Identifikasi Penyakit Akibat Kerja pada Perempuan yang Mengalami Stress

Shienowa Andaya Sari


102012445/E6
Fakultas Kedoktera Universitas Kristen Krida Wacana
Jalan Terusan Arjuna No. 6, Jakarta Barat. Telp. 021-56942061 Fax. 021-5631731
shienowaandayasari@gmail.com
Pendahuluan
Seiring dengan meningkatnya populasi di Indonesia bahkan dunia, kebutuhan hidup
seseorangpun semakin meningkat. Dengan seiringnya waktu terjadi peningkatan dari segi
ekonomi, sehingga seseorang harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan masing-masing
individu. Pekerjaan yang dilakukan dapat berupa pekerja sebagai buruh kasar, hingga dibalik
meja. Setiap pekerjaan yang dikerjakan mempunyai resiko terkena penyakit. Dilihat dari
keadaan lingkungan kerja yang beraneka ragam seperti kebisingan, panas, uap, debu,
gelombang mikro, infeksi, stress emosional, zat-zat berbahaya dan lain-lain yang dapat
menyebabkan penyakit akibat kerja.
Penyakit akibat kerja berbeda dengan penyakit yang tidak dipengaruhi oleh pekerjaan
sesorang. Sehingga dibutuhkan langkah-langkah khusus untuk memastikan penyakit yang
diderita seseorang diakibatkan pajanan dalam pekerjaan atau tidak. Dengan adanya makalah
ini diharapkan mahasiwa mampu memahami serta mengidentifikasi penyakit akibat kerja dari
berbagai macam penyakit yang diderita sesorang. Kemudian melakukan diagnosis yang tepat,
menentukan penyakit akibat kerja atau tidak, memahami dan melakukan terapi yang tepat
juga dapat memberikan pencegahan serta edukasi yang tepat serta bermanfaat.
Penyakit Akibat Kerja
Penyakit akibat kerja adalah penyakit yang diakibatkan oleh atau dihubungkan dengan
lingkungan kerja.1,2 Data International Labour Organization (ILO) tahun 2003 didapatkan
setiap hari 6000 orang meninggal karena pekerjaan, 1 orang tiap 15 detik dan 2,2 juta per
tahun akibat penyakit atau kecelakaan yang berhubungan dengan pekerjaan. Pekerja
menghabiskan sepertiga waktunya tiap hari di tempat kerja dimana lingkungan kerja berbeda
dengan lingkungan sehari-hari. Pajanan dan proses kerja menyebabkan gangguan kesehatan.
Undang-undang No.23 tahun 1992 tentang Kesehatan, Pasal 23 tentang Kesehatan Kerja
menyatakan bahwa kesehatan kerja diselenggarakan agar setiap pekerja dapat bekerja secara
sehat tanpa membahayakan diri sendiri dan masyarakat sekelilingnya, agar diperoleh
produktivitas yang optimal, sejalan dengan program perlindungan tenaga kerja. Perlindungan

utamanya ditujukan pada penyakit akibat kerja atau akibat hubungan kerja dan kecelakaan
akibat kerja.
Penyakit Akibat Hubungan Kerja
WHO menggolongkan penyakit yang berhubungan dengan pekerjaan bersifat
multifaktorial.3 Penyakit ini adalah penyakit dengan faktor tempat kerja yang dapat
dikaitkan sebagai penyebab timbulnya penyakit namun tidak merupakan faktor resiko setiap
kasus. Penyakit ini sering ditemukan di masyarakat umum. Penyakit berhubungan dengan
pekerjaan semacam itu antara lain tekanan darah tinggi, penyakit jantung koroner, penyakit
psikosomatik, kelainan muskuloskeletal, penyakit pernapasan kronis tidak spesifk/bronquitis
kronik. Pada penyakit ini, pekerjaan dapat merupakan penyebab atau bisa memperberat
kondisi penyakit yang telah ada.
Faktor-faktor Penyebab Penyakit Akibat Kerja
Faktor Penyebab terjadinya Penyakit Akibat Kerja dan Kecelakaan Akibat Kerja
antara lain faktor manusia (pekerja), jenis pekerjaan yang dilakukan dan proses kerja (bahan
baku, peralatan kerja dan lingkungan tempat kerja).2 Pada umumnya faktor penyebab dapat
dikelompokkan dalam 5 golongan yaitu golongan fisik contohnya suara (bising), radiasi, suhu
(panas/dingin), tekanan yang sangat tinggi, vibrasi, penerangan lampu yang kurang baik.
Golongan kimiawi berupa bahan kimiawi yang digunakan dalam proses kerja, maupun yang
terdapat dalam lingkungan kerja, dapat berbentuk debu, uap, gas, larutan dan kabut. Golongan
biologis seperti bakteri, virus atau jamur. Golongan fisiologis atau ergonomic biasanya
disebabkan oleh penataan tempat kerja dan cara kerja. Terakhir golongan psikososial seperti
lingkungan kerja yang mengakibatkan stress.
Identifikasi Penyakit Akibat Kerja
Diagnosis dini pada beberapa keluhan penyakit akibat kerja sangat membantu
prognosis dan kecacatan penyakit akibat kerja.1 Untuk dapat mendiagnosis Penyakit Akibat
Kerja pada individu perlu dilakukan suatu pendekatan sistematis untuk mendapatkan
informasi yang diperlukan dan menginterpretasinya secara tepat. Berupa pendekatan
epidemiologis yang mencakup identifikasi hubungan kausal antara pajanan dan penyakit.
Kemuadian pendekatan klinis, pendekatan tersebut dapat disusun menjadi 7 langkah yang
dapat digunakan sebagai pedoman.4
1.
Diagnosis klinis

Dalam hal ini seorang dokter menentukan diagnosis klinis seperti biasa didahului
dengan anamnesis, pemeriksaan fisik terkait, pemeriksaan penunjang, pemeriksaan tempat
kerja.
1.1
Anamnesis
Anamnesis mempunyai peran yang sangat penting untuk mengetahui diagnosis awal
suatu penyakit. Anamnesis yang dilakukan dapat berupa autoanamnesis maupun
alloanamnesis dimana dengan anamnesis 80% seorang dokter dapat menegakan diagnosis.
Pertanyaan mencakup identitas pasien, keluhan utama, keluhan penyerta, riwayat penyakit
sekarang, riwayat penyakit dahulu, riwayat penyakit keluarga, riwayat penggunaan obat,
riwayat sosial, faktor resiko mencakup riwayat pekerjaan.5
Identitas pasien penting ditanyakan secara lengkap dari nama, usia, jenis kelamin,
alamat, suku bangsa, agama, status perkawinan, pendidikan terakhir, dan pekerjaan,. Hal ini
penting ditanyakan bilamana terdapat penyakit yang berhubungan dengan lingkungan pasien,
pekerjaan, dan lain-lain. Pada skenario diketahui seorang perempuan bernama Citra, usia 30
tahun, alamat di jalan Guji Baru. Suku Bali beragama Kristen dan sudah menikah. Pendidikan
terakhir adalah SI dan sekarang bekerja sebagai karyawati di Sudirman bagian administrasi.
Keluhan utama adalah alasan utama yang menyebabkan pasien memeriksakan diri
atau dibawa keluarganya ke dokter atau rumah sakit. Keluhan utama merupakan titik tolak
penelusuran informasi mengenai penyakit yang diderita pasien. Keluhan utama yang
membuat pasien datang adalah keluhan gastrointestinal yaitu pasien merasa mual berulang
sejak 1 bulan yang lalu. Keluhan yang menyertai yaitu pusing dan susah tidur. Pasien
mengaku stress dikarenakan ada masalah dalam pekerjaannya dan juga permasalahan dialam
keluarganya.
Riwayat penyakit sekarang adalah perjalanan penyakit sangat penting diketahui.
Ditentukan kapan dimulainya perjalanan penyakit yang dimulai dari kapan saat terakhir
pasien merasa sehat. Pernyataan terakhir penting, karena sering kali yang disampaikan pasien
dalam keluhan utamanya tidak menggambarkan dimulainya penyakitnya, tetapi lebih
berhubungan dengan munculnya kondisi yang dirasakan mengganggunya. Pasien mengatakan
bahwa keluhannya hanya timbul bila dia memikirkan masalah dengan pakerjaan dan
keluarganya. Riwayat penyakit dahulu juga perlu diatnyakan untuk mengetahui adakah
hubungan penyakit yang dahulu dengan yang sekarang timbul. Begitu juga dengan riwayat
penyakit keluarga dan riwayat social. Tanyakan juga riwayat penggunaan obat. Pasien sudah
berobat sebelumnya tetapi keluhan tidak kunjung berkurang.
3

Riwayat pekerjaan yang perlu ditanyakan yaitu sudah berapa lama bekerja, riwayat
pekerjaan sebelumnya, dalam sehari berapa jam kerja yang jalani, kemudian tanyakan juga
alat kerja, bahan kerja, proses kerja, kemungkinan pajannan yang dialami, APD (Alat
Pelindung Diri) yang digunakan, hubungan gejala dan waktu kerja, serta apakah pekerja lain
juga mengalami hal yang sama. Dalam kasus ini pasien sudah bekerja di bagian administrasi
selama 1 bulan di tempat kerjanya, dan lama kerja pasien dalam sehari yaitu dimulai dari jam
8.00 pagi- 17.00 sore hari (9 jam).
1.2

Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik yang dilakukan pada pasien adalah pemeriksaan keadaan umum, kesadaran,

sclera dan konjungtiva, tanda-tanda vital yang meliputi tekanan darah, frekuensi napas, suhu, dan
nadi, juga melakukan pemeriksaan rongga abdomen berupa inspeksi, palpasi, dan auskultasi.4
Inspeksi adalah pemeriksaan yang dilakukan dengan cara melihat bagian tubuh yang diperiksa
melalui pengamatan. Cahaya yang adekuat diperlukan agardapat membedakan warna, bentuk dan
kebersihan tubuh pasien. Fokus inspeksi pada setiap bagian tubuh meliputi ukuran tubuh, warna,
bentuk, posisi, simetris. Dan perlu dibandingkan hasil normal dan abnormal bagian tubuh satu dengan
bagian tubuh lainnya.

Palpasi adalah suatu teknik yang menggunakan indera peraba. Tangan dan jari-jari
adalah instrumen yang sensitif digunakan untuk mengumpulkan data, misalnya tentang:
temperatur, turgor, bentuk, kelembaban, vibrasi, ukuran. Perkusi adalah pemeriksaan dengan
jalan mengetuk bagian permukaan tubuh tertentu untuk membandingkan dengan bagian tubuh
lainnya (kiri kanan) dengan tujuan menghasilkan suara. Perkusi bertujuan untuk
mengidentifikasi lokasi, ukuran, bentuk dan konsistensi jaringan.
Auskultasi adalah pemeriksaan fisik yang dilakukan dengan cara mendengarkan suara
yang dihasilkan oleh tubuh. Biasanya menggunakan alat yang disebut dengan stetoskop. Halhal yang didengarkan adalah : bunyi jantung, suara nafas dan bising usus.Pada kasus tidak
ditemukannya kelainan pada pemeriksaan fisik.dengan kata lain pemeriksaan fisik yang
didapat pada ksus kali ini adalah normal.

1.3

Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan pennunjang disini diperlukan tergantung penyakit yang diderita. Bila

dokter memang perlu menggunakan pemeriksaan penunjang maka baru dilakukan, tetapi jika
dokter sudah bisa menentukan melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik maka tidak
diperlukan pemeriksaan pennunjang. Pemeriksaan laboratorium mulai dari darah lengkap,
USG, dan endoskopi untuk keluhan gangguan pada gastrointestinal.6
1.4
Working Diagnosis
Diagnosis klinis yang didapatkan yaitu pasien mengalami stress akibat kerja. Keadaan
stress ini terkait dengan adanya gangguan psikosomatik. Stress psikis adalah suatu respon
tubuh yang bersifat adaptif padasetiap perlakuan yang menimbulkan perubahan fisis atau
emosi yang bertujuan untuk mempertahankan kondisis fisis yang optimal suatu organisme.
Reaksi fisiologis ini disebut sebagai general adaption syndrome. Respon tubuh terhadap
perubahan-perubahan tersebut dibagi menjadi 3 fase yaitu alarm reaction (reaksi penringatan)
pada fase ini tubuh dapat mengatasi stressor (perubahan) dengan

baik. The stage of

resistance (reaksi pertahanan) merupakan reaksi terhadap stressor sudah mencapai/melampaui


tahap kemampuan tubuh. Pada keadaan ini sudah dapat timbul gejala-gejala psikis dan
somatic. Stage of exhaustion (reaksi kelelahan) pada fasse ini gejala-gejala psikosomatik
tampak dengan jelas.7
Unttuk diagnosis memerlukan hal-hal sebagai berikut adanya gejala-gejala bangkitan
ototnomik seperti palpitasi, berkeringat, tremor, muka panas/flushing. Biasanya gejala
subjektif tambahan mengacu pada system atau organ tertentu seperti pada kasus yaitu system
pencernaan. Biasanya tidak terpengaruh oleh hasil pemeriksaan-pemeriksaan berulang,
maupun penjelasan-penjelasan para dokter. Serta tidak terbukti adanya gangguan dari struktur
atau fungsi organ yang dimaksud.7
2.
Pajanan yang dialami
Pengetahuan mengenai pajanan yang dialami oleh seorang tenaga kerja adalah
esensial untuk dapat menghubungkan suatu penyakit dengan pekerjaannya. Untuk ini perlu
dilakukan anamnesis mengenai riwayat pekerjaannya secara cermat dan teliti, yang mencakup
penjelasan mengenai semua pekerjaan yang telah dilakukan oleh penderita secara kronologis,
lama menekuni pekerjaan tersebut, bahan yang diproduksi, materi (bahan baku) yang
digunakan, jumlah pajanannya, pemakaian alat perlindungan diri, pola waktu terjadinya
gejala, informasi mengenai tenaga kerja lain (apakah ada yang mengalami gejala serupa),
informasi tertulis yang ada mengenai bahan-bahan yang digunakan (Material Safety Data
Sheet/MSDS), label, dan sebagainya.
Dari kasus pekerjaan yang dilakukan adalah sebagai administrasi dimana pasien
tersebut biasa bekerja dibalik meja, pasien sudah menekuni pekerjaan tesebut selama 1 bulan
5

dalam durasi selama 9 jam/hari. Pajanan yang menyebabkan keluhan pasien yaitu faktor
psikososial, dalam kasus pasien mengaku mempnyai masalah dalam pekerjaannya.
3.
Hubungan pajanan dengan penyakit
Dalam hal ini kita menentukan apakah pajanan-pajanan yang dalam pekerjaannya
memang dapat menyebabkan penyakit tersebut. Mulai dari pajanan fisik, kimia, biologi,
ergonomic, hingga psikososial. Lihat bila terdapat bukti-bukti ilmiah dalam kepustakaan yang
mendukung pendapat bahwa pajanan yang dilami menyebabkan penyakit yang diderita. Jika
dalam kepustakaan tidak ditemukan adanya dasar ilmiah yang menyatakan hal tersebut, maka
tidak dapat ditegakkan diagnosis penyakit akibat kerja. Jika memang ada yang mendukung,
perlu ditinjau lebih lanjut secara khusus mengenai pajanan sehingga dapat menyebabkan
penyakit yang diderita.
Dilihat pada hasil anamnesis pajanan yang bisa saja menyebabkan pasien mengeluh
mual, pusing, dan susah tidur, dan pasien merasa stress. Pencetus dari keluhan tersebut bisa
dilihat dari faktor-faktor penyebab penyakit akibat kerja yang sudah dijelaskan sebelumnya.
Dari faktor-faktor yang telah dijelaskan sebelumnya yang paling mendekati dengan kondisi
pasien saat ini adalah pajanan psikososial yang menyebabkan stress psikis yaitu dari
pekerjaan pasien sendiri dapat menimbulkan keluhan pasien tersbut.
4.
Besarnya jumlah pajanan untuk dapat mengakibatkan penyakit tersebut
Jika penyakit yang diderita hanya dapat terjadi pada keadaan pajanan tertentu, maka
pajanan yang dialami pasien di tempat kerja menjadi penting untuk diteliti lebih lanjut dan
membandingkannya dengan kepustakaan yang ada untuk dapat menentukan diagnosis
penyakit akibat kerja. Perlu diketahui patofisiologi dari penyakit dan bukti epidemiologi yang
terkait. Dapat dengan kualitatif dilihat bagaimana cara kerja, proses kerja, dan bagaimana
lingkungan kerja. Serta pemakaian alat pelindung diri yang tepat. Besarnya pajanan cukup
besar dikarenakan pasien setiap hari selalu menghadapi pekerjaannya sehingga sangat terlihat
dampak yang ditimbulkan dari keluhan pasien yang mengatakan keluhan tersebut muncul bila
pasien memikirkan maslaah pekerjaannya.
4.1 Patofisiologi
Adanya stress akut dapat mempegaruhi fungsi gastrointestinal dan mencetuskan
keluhan pada orang sehat. Dengan adanya penurunan kontraktilitas lambung yang
mendahului keluhan mual setelah stimulus stress sentral. Tetapi korelasi antara faktor
psikologik stress kehidupan, fungsi otonom dan motilitas tetap masih kontroversial.7
4.2 Epidemiologi
Untuk mendukung bahwa faktor psikis berperan terdapat data-data sebagai berikut.
Fisher dkk melakukan endoskopi pada 3367 pasien dengan dyspepsia ternyata 33,6% hasil
endoskopi psien tersebut normal. Djayapranata mendapatkan data dari 351 pasien dispesia
non ulkus yang dilakukan endoskopi ternyata 162 pasien yang mengalami gastroduodenitis,
6

199 sisanya pasien normal. Hasil endoskopi dari pasien yang mengalami refluks 50%
dnyatakan normal. Dari data-data diatas sangat mungkin pasien dengan keluhan-keluhan
saluran cerna bagian atas dilatarbelkangi oleh faktor psikososisal. Jadi keluhan-keluhan
gastrointestinal dapat pula merupakan manifestasi somatic dari kelaian psikis.7
5.
Peranan faktor individu
Apakah ada keterangan dari riwayat penyakit maupun riwayat pekerjaannya, yang
dapat mengubah keadaan pajanannya, apakah kebiasaan yang pasien lakukan untuk
mengurangi dampak dari pajanan berupa stressor. Harus ditanyakan status kesehatan fisik
pekerja tersebut adakah dia memiliki riwayat alergi atau tidak, apakah dia biasa berolahraga
atau tidak, bagaimana riwayat penyakit dalam keluarganya. Serta menanyakan bagaimana
hygiene perorangan dan status mental.
Untuk faktor individu ini lebih mengarah ke arah psikologi seseorang pada saat
melakukan pekerjaannya sehari-hari. Stress di lingkungan kerja berkaitan dengan lingkungan
fisik tempat kerja, bekerja dalam shift, beban kerja yang berlebihn, bekerja monoton, mutasi
dalam pekerjaan, tidak jelasnya peran kerja, konflik dengan teman kerja dan lain-lain.
6.
Faktor lain diluar pekerjaan
Bila pasien mengalami pajanan lain diluar pekerjaan perlu ditanyakan untuk dapat
mengetahui hubungan dengan penyakit. Meskipun demikian, adanya penyebab lain tidak
selalu dapat digunakan untuk menyingkirkan penyebab di tempat kerja. Pada kasus ini, bisa
tanyakan kepada pekerja apakah hobinya sehari-hari. Tanyakan kepadanya apakah dia
mempunyai kerja sambilan yang lain. Bila ada, bisa diperkirakan bahwa dia itu tidak
mendapat rehatnya yang cukup. Jika tidak mendapatkan rehat yang cukup, maka dia akan
menjadi kurang bertenaga dan kurang fokus apabila kembali bekerja. Ini akan menyebabkan
kualitas kerja akan menurun.
Selain itu ditanyakan apakah dia mempunyai kebiasaan merokok. ditanyakan juga
keadaan di rumahnya itu bagaimana. Adakah higienenya baik atau pun tidak. Kemudian perlu
ditanyakan pajanan psikososial di lingkungan seperti hubungan dengan keluarga ada masalah
atau tidak, atau dengan komunitas lain di luar pekerjaan. Pada kasus ini ditemukan bahwa
faktor lain yang mempengaruhi pasien mempunyai masalah dengan keluarganya.
7.
Diagnosis okupasi
Sesudah menerapkan ke enam langkah di atas perlu dibuat suatu keputusan
berdasarkan informasi yang telah didapat yang memiliki bukti dan referensi. Maka akan hasil
yang didapat berupa empat pilihan yaitu pertama penyakit akibat kerja atau penyakit akibat
hubungan kerja, kedua yaitu penyakit yang diperberat pajanan di tempat kerja, ketiga belum
dapat ditegakkan dan masih membutuhkan informasi tambahan, kemudian yang terakhir
bukan penyakit akibat kerja.
7

Hal ini perlu dibedakan pada waktu menegakkan diagnosis. Suatu pekerjaan/pajanan
dinyatakan sebagai penyebab suatu penyakit apabila tanpa melakukan pekerjaan atau tanpa
adanya pajanan tertentu, pasien tidak akan menderita penyakit tersebut pada saat ini.
Sedangkan pekerjaan dinyatakan memperberat suatu keadaan apabila penyakit telah ada atau
timbul pada waktu yang sama tanpa tergantung pekerjaannya, tetapi pekerjaannya/pajanannya
memperberat/mempercepat timbulnya penyakit. Pada kasus ini diagnosis lebih mengarah
kepada penyakit yang dperberat pajanan di tempat kerja
Penatalaksanaan
Penatalaksanaan atau terapi yang dilakukan dapat berupa terapi medikamentosa dan
non medikamentosa Untuk terapi medikamentosa pada gangguan stress akibat kerja dapat
diberikan obat-obat seperti anti ansietas, anti depresan, anti psikotika. Pemberian biasanya
dalam dosis kecil terlebih dahulu kemudian ditingkatkan dalam dosis optimal kemudian
diturunkan secara perlahan-lahan untuk dosis maintenance. Bila keadaan pasien sudah stabli
maka pemberian obat dapat dihentikan.7
Sedangkan terapi non medikamentosa dapat berupa konseling dan psikoterapi. Pada
kasus yang ringan dapat diberikan psikoterapi jenis suportif yang singkat saja. Pada kasus
kronis dan berat perlu dirujuk ke dokter spesialis jiwa untuk psikoterapi psikoanalisis. Dapat
pula diberikan terapi kelompok (Group Theraphy) yang dapat digunakan untuk
menghilangkan distress, meningkatkan kepercayaan diri, serta memperbaiki relasi social dan
perilaku seseorang.7

Pencegahan
Penerapan konsep lima tingkatan pencegahan penyakit (five level of prevention
diseases) pada penyakit akibat kerja.3,8 Peningkatan kesehatan (health promotion) misalnya
pendidikan kesehatan jiwa, meningkatkan gizi yang baik, pengembangan kepribadian,
lingkungan kerja yang memadai, rekreasi. Kemudian perlindungan khusus (specific
protection) misalnya imunisasi, hygiene perorangan, sanitasi lingkungan, serta proteksi
terhadap bahaya dan kecelakaan kerja dengan menggunakan alat pelindung diri.
Diagnosis (deteksi) dini dan pengobatan yang tepat (early diagnosis and prompt
treatment) misalnya pemeriksaan kesehatan awal, pemeriksaan kesehatan berkala, pelayanan
kesehatan/poliklinik dan kb, diagnosis dini setiap keluhan dan pengobatan segera serta
pembatasan titik-titik lemah untuk terjadinya komplikasi. Membatasi kemungkinan cacat
(disability limitation) misalnya memeriksa dan mengobati tenaga kerja secara komperhensif,
mengobati tenaga kerja secara sempurna, dan pendidikan kesehatan. Pemulihan kesehatan
(rehabilitation) misalnya rehabilitasi dan mempekerjakan kembali para pekerja yang
menderita cacat. Sedapat mungkin perusahaan mencoba menempatkan karyawan-karyawan
cacat di jabatan-jabatan yang sesuai.
Kesimpulan
Dari hasil pembahasan para pekerja yang menderita penyakit akibat kerja atau yang
berhubungan dengan kerja berhak untuk mendapatkan perlindungan. Faktor-faktor yang
menjadi penyebab penyakit akibat kerja yaitu faktor fisik, kimiawi, biologic, ergonomic, dan
psikologik. Terkait dalam scenario yaitu seorang perempuan usia 30 tahun, datang ke klinik
dengan keluhan utama mual berulang sejak 1 bulan yang lalu. Setelah menentukan sesuai
dengan tujuh langkah untuk menetukan diagnosis penyakit akibat kerja dimulai dari diagnosis
klinis pasien mengalami stress akibat kerja kemudian diagnosis okupasi dinyatakan stress
yang diperberat pajanan di tempat kerja

Daftar Pustaka
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Karjadi TH, Djauzi S. Buku ajar ilmu penyakit dalam: dasar-dasar penyakit akibat
kerja. Edisi 5. Jakarta: EGC; 2009.h.130-2.
International Labour Organization. Identification and recognition of occupational
diseases: criteria for incorporating diseases in the ILO list of occupational diseases.
Geneva: Merlod; 2009.
Jeyaratnam J, Koh D. Buku ajar praktikum kedokteran kerja.Jakarta: EGC; 2010.h.7087.
Bickley L.S. Buku saku pemeriksaan fisik dan riwayat kesehatan Bates. Edisi 5.
Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2006. h.155-75.
Gleadle J. At a glance anamnesis dan pemeriksaan fisik. Jakarta: Penerbit Erlangga;
2007.
Ndraha S. Bahan ajar gastroenterohepatologi. Jakarta: Bagian Ilmu Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran UKRIDA; 2013.h.26-7.
Mudjaddid E, Shatri H. Buku ajar ilmu penyakit dalam: gangguan psikosomatik:
gambaran umum dan patofisiologinya. Edisi 5. Jakarta: EGC; 2009.h.2094-6.
Chandra B. Ilmu kedokteran pencegahan & komunitas. Jakarta: EGC; 2009.h.214-5.

10