Anda di halaman 1dari 13

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT sehingga penyusunan makalah ini dapat
terselesaikan tepat pada waktunya. Selain itu kami ingin mengucapkan terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada dosen pembimbing mata kuliah HUKUM & KOMUNIKASI atas
bimbingan dan motivasinya. Hukum dan Komunikasi adalah mata kuliah yang sangat perlu
dikembangkan dan di pahami mengingat begitu besar peranannya dalam pendidikan, khususnya
pada bidang Komunikasi dengan kode etiknya dan permasalahannya terutama masalah yang
kami bahas kejahatan elektronik di dunia maya yang sedang marak terjadi akhir-akhir ini tentang
cyber crime.
Penulis menyadari akan kekurangan dalam penysunan makalah ini. Karena itu kami sangat
mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak demi kesempurnaan
makalah ini.

DAFTAR ISI
1

Kata Pengantar................................................................................................................................1
Daftar Isi.........................................................................................................................................2
BAB I
Pendahuluan....................................................................................................................................3
BAB II
Pembahasan.....................................................................................................................................4
MOTIF CYBER CRIME................................................................................................................4
FAKTOR PENYEBAB MUNCULNYA CYBER CRIME............................................................4
MODUS CYBER CRIME..............................................................................................................5
BAB III
STUDY KASUS.............................................................................................................................8
CYBER CRIME DI INDONESIA..................................................................................................8
PENANGANAN CYBER CRIME.................................................................................................9
BAGAIMANA DILUAR NEGERI?.............................................................................................11
BAB III
Kesimpulan....................................................................................................................................12
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................................................13

BAB I
2

PENDAHULUAN
Perkembangan Internet dan umumnya dunia cyber tidak selamanya menghasilkan hal- hal
yang postif. Salah satu hal negatif yang merupakan efek sampingannya antara lain adalah
kejahatan di dunia cybercrime. Hilangnya batas ruang dan waktu di Internet mengubah banyak
hal. Seseorang cracker di Rusia dapat masuk ke sebuah server di Pentagon tanpa ijin. Salahkah
dia bila sistem di Pentagon terlalu lemah sehingga mudah ditembus? Apakah batasan dari sebuah
cybercrime? Seorang yang baru mengetuk pintu (port scanning) komputer anda, apakah sudah
dapat dikategorikan sebagai kejahatan? Apakah ini masih dalam batas ketidaknyamanan saja?
Bagaimana pendapat anda tentang penyebar virus dan bahkan pembuat virus? Bagaimana kita
menghadapi cybercrime ini? Bagaimana aturan / hukum yang cocok untuk mengatasi atau
menanggulangi masalah cybercrime di Indonesia? Banyak sekali pertanyaan yang harus kita
jawab.
Fenomena cybercrime memang harus diwaspadai karena kejahatan ini agak berbeda
dengan kejahatan lain pada umumnya. Cybercrime dapat dilakukan tanpa mengenal batas
teritorial dan tidak diperlukan interaksi langsung antara pelaku dengan korban kejahatan. Bisa
dipastikan dengan sifat global internet, semua negara yang melakukan kegiatan internet hampir
pasti akan terkena imbas perkembangan cybercrime ini.

BAB II

PEMBAHASAN
Cybercrime adalah tindakan pidana kriminal yang dilakukan pada teknologi internet
(cyberspace), baik yang menyerang fasilitas umum didalam cyberspace ataupun kepemilikan
pribadi. Secara teknik tindak pidana tersebut dapat dibedakan menjadi off-line crime, semi onlinecrime, dan cybercrime. Masing-masing memiliki karakteristik tersendiri, namun perbedaan
utama antara ketiganya adalah keterhubungan dengan jaringan informasi publik (internet).
Cybercrime dapat didefinisikan sebagai perbuatan melawan hukum yang dilakukan dengan
menggunakan internet yang berbasis pada kecanggihan teknologi komputer dan telekomunikasi.
The Prevention of Crime and The Treatment of Offlenderes di Havana, Cuba pada tahun 1999
dan di Wina, Austria tahun 2000, menyebutkan ada 2 istilah yang dikenal:
1. Cybercrime dalam arti sempit disebut computer crime, yaitu prilaku ilegal/ melanggar
yang secara langsung menyerang sistem keamanan komputer dan/atau data yang
diproses oleh komputer.
2. Cybercrime dalam arti luas disebut computer related crime, yaitu prilaku ilegal/
melanggar yang berkaitan dengan sistem komputer atau jaringan. Dari beberapa
pengertian di atas, cybercrime dirumuskan sebagai perbuatan melawan hukum yang
dilakukan dengan memakai jaringan komputer sebagai sarana/ alat atau komputer
sebagai objek, baik untuk memperoleh keuntungan ataupun tidak, dengan merugikan
pihak lain.
MOTIF CYBER CRIME
Motif pelaku kejahatan di dunia maya (cybercrime) pada umumnya dapat dikelompokkan
menjadi dua kategori, yaitu:
1. Motif intelektual yaitu kejahatan yang dilakukan hanya untuk kepuasan pribadi dan
menunjukkan bahwa dirinya telah mampu untuk merekayasa dan
mengimplementasikan bidang teknologi informasi. Kejahatan dengan motif ini pada
umumnya dilakukan oleh seseorang secara individual.
2. Motif ekonomi, politik dan kriminal yaitu kejahatan yang dilakukan untuk keuntungan
pribadi atau golongan tertentu yang berdampak pada kerugian secara ekonomi dan
politik pada pihak lain. Karena memiliki tujuan yang dapat berdampak besar, kejahatan
dengan motif ini pada umumnya dilakukan oleh sebuah korporasi.
FAKTOR PENYEBAB MUNCULNYA CYBER CRIME
Di jaman sekarang ini, fenomena cyber crime makin marak dan banyak sekali faktor yang
melatarbelakangi kasus cyber crime, dimana hampir terjadi di setiap bidang atau ruang lingkup
kehidupan manusia dan di setiap faktor. Dari mulai faktor sosial, ekonomi, perbankan, teknologi,
politik, dll.
4

Beberapa faktor utama yang menyebabkan timbulnya cyber crime itu sendiri adalah:
1. Kurangnya sosialisasi atau pengarahan baik dari akademi umum seperti sekolah atau
edukasi dari orang tua mengenai manfaat dari internet, sehingga banyak
penyalahgunaan yang terjadi.
2. Semakin maju sebuah negara, tapi tidak diimbangi kesejahteraan masyarakatnya, maka
makin besarnya kemungkinan kesenjangan sosial terjadi.
3. Makin maraknya sosial media, media elektronik, dan media penyimpanan virtual
(cloud), sehingga membuat manusia menjadi makin tergandrungi akan akses internet
didalam kehidupannya.
4. Gaya hidup.
5. Kelalaian daripada manusianya itu sendiri.
6. Adanya keinginan pengakuan dari orang lain.
7. Kian majunya teknologi dan mudahnya mengakses jaringan internet anytime anywhere
tanpa ada batasan waktu.
Jika dipandang dari sudut pandang yang lebih luas, latar belakang terjadinya kejahatan di
dunia maya ini terbagi menjadi dua faktor penting, yaitu:
1. Faktor Teknis
Dengan adanya teknologi internet akan menghilangkan batas wilayah negara yang
menjadikan dunia ini menjadi begitu dekat dan sempit. Saling terhubungnya antara
jaringan yang satu dengan yang lain memudahkan pelaku kejahatan untuk melakukan
aksinya. Kemudian tidak meratanya penyebaran teknologi menjadikan pihak yang satu
lebih kuat dari pada yang lain.
2. Faktor Ekonomi
Cybercrime dapat dipandang sebagai produk ekonomi. Isu global yang kemudian
dihubungkan dengan kejahatan tersebut adalah keamanan jaringan. Keamanan jaringan
merupakan isu global yang muncul bersamaan dengan internet. Sebagai komoditi
ekonomi, banyak negara yang tentunya sangat membutuhkan perangkat keamanan
jaringan. Melihat kenyataan seperti itu Cybercrime berada dalam skenerio besar dari
kegiatan ekonomi dunia.
MODUS CYBER CRIME
Pengelompokan jenis-jenis cybercrime dapat dikelompokkan dalam banyak kategori.
Bernstein, Bainbridge, Philip Renata, Asad Yusuf, sampai dengan seorang Roy Suryo pun telah
5

membuat pengelompokkan masing-masing terkait dengan cybercrime ini. Salah satu pemisahan
jenis cybercrime yang umum dikenal adalah kategori berdasarkan motif pelakunya:
a.Unauthorized Access to Computer System and Service.
Kejahatan yang dilakukan dengan memasuki/menyusup ke dalam suatu sistem jaringan
komputer secara tidak sah, tanpa izin atau tanpa sepengetahuan dari pemilik sistem
jaringan komputer yang dimasukinya. Biasanya pelaku kejahatan (hacker) melakukannya
dengan maksud sabotase ataupun pencurian informasi penting dan rahasia. Namun begitu,
ada juga yang melakukan hanya karena merasa tertantang untuk mencoba keahliannya
menembus suatu sistem yang memiliki tingkat proteksi tinggi. Kejahatan ini semakin
marak dengan berkembangnya teknologi internet/intranet.
b. Illegal Contents.
Merupakan kejahatan dengan memasukkan data atau informasi ke internet tentang
sesuatu hal yang tidak benar, tidak etis, dan dapat dianggap melanggar hukum atau
mengganggu ketertiban umum. Sebagai contohnya adalah pemuatan suatu berita bohong
atau fitnah yang akan menghancurkan martabat atau harga diri pihak lain, hal-hal yang
berhubungan dengan pornografi atau pemuatan suatu informasi yang merupakan rahasia
negara, agitasi dan propaganda untuk melawan pemerintahan yang sah, dan sebagainya.
c.Data Forgery.
Merupakan kejahatan dengan memalsukan data pada dokumen-dokumen penting yang
tersimpan sebagai scriptless document melalui internet. Kejahatan ini biasanya ditujukan
pada dokumen-dokumen e-commerce dengan membuat seolah-olah terjadi salah ketik
yang pada akhirnya akan menguntungkan pelaku.
d.Cyber Espionage.
Merupakan kejahatan yang memanfaatkan jaringan internet untuk melakukan kegiatan
mata-mata terhadap pihak lain, dengan memasuki sistem jaringan komputer(computer
network system) pihak sasaran. Kejahatan ini biasanya ditujukan terhadap saingan bisnis
yang dokumen ataupun data-data pentingnya tersimpan dalam suatu sistem yang
computerized.
e.Cyber Sabotage and Extortion.
Kejahatan ini dilakukan dengan membuat gangguan, perusakan atau penghancuran
terhadap suatu data, program komputer atau sistem jaringan komputer yang terhubung
dengan internet. Biasanya kejahatan ini dilakukan dengan menyusupkan suatu logic
6

bomb, virus komputer ataupun suatu program tertentu, sehingga data, program komputer
atau sistem jaringan komputer tidak dapat digunakan, tidak berjalan sebagaimana
mestinya, atau berjalan sebagaimana yang dikehendaki oleh pelaku. Dalam beberapa
kasus setelah hal tersebut terjadi, maka pelaku kejahatan tersebut menawarkan diri
kepada korban untuk memperbaiki data, program komputer atau sistem jaringan
komputer yang telah disabotase tersebut, tentunya dengan bayaran tertentu. Kejahatan ini
sering disebut sebagai cyberterrorism.
f. Offense against Intellectual Property.
Kejahatan ini ditujukan terhadap Hak atas Kekayaan Intelektual yang dimiliki pihak lain
di internet. Sebagai contoh adalah peniruan tampilan pada web page suatu situs milik
orang lain secara ilegal, penyiaran suatu informasi di internet yang ternyata merupakan
rahasia dagang orang lain, dan sebagainya. Contoh kasus : Pembajakan Software dan
Pencurian Source Program.
g. Infringements of Privacy.
Kejahatan ini ditujukan terhadap informasi seseorang yang merupakan hal yang sangat
pribadi dan rahasia. Kejahatan ini biasanya ditujukan terhadap keterangan pribadi
seseorang yang tersimpan pada formulir data pribadi yang tersimpan secara
computerized,yang apabila diketahui oleh orang lain maka dapat merugikan korban
secara materilmaupun immateril, seperti nomor kartu kredit, nomor PIN ATM, cacat atau
penyakittersembunyi dan sebagainya.
h.Cracking. (Malware dan Spiware)
Kejahatan dengan menggunakan teknologi komputer yang dilakukan untuk merusak
sistem keamaanan suatu sistem komputer dan biasanya melakukan pencurian, tindakan
anarkis begitu merekan mendapatkan akses. Biasanya kita sering salah menafsirkan
antara seorang hacker dan cracker dimana hacker sendiri identetik dengan perbuatan
negatif, padahal hacker adalah orang yang senang memprogram dan percaya bahwa
informasi adalah sesuatu hal yang sangat berharga dan ada yang bersifat dapat
dipublikasikan dan rahasia..
i. Carding. (Phising dan Typo Site)
Adalah kejahatan dengan menggunakan teknologi komputer untuk melakukan transaksi
dengan menggunakan card credit orang lain sehingga dapat merugikan orang tersebut
baik materil maupun non materil.

BAB III
STUDY KASUS
CYBER CRIME DI INDONESIA
Ada beberapa contoh fakta kasus cyber crime yang terjadi di Indonesia, diantaranya adalah:
1. Pencurian Account User Internet Merupakan salah satu dari kategori Identity Theft and
fraud (pencurian identitas dan penipuan), hal ini dapat terjadi karena pemilik user kurang
sigap terhadap keamanan di dunia maya, dengan membuat user dan password yang
identik atau gampang ditebak memudahkan para pelaku kejahatan dunia maya ini
melakukan aksinya.
2. Deface (Membajak situs web) Metode kejahatan deface adalah mengubah tampilan sesuai
keinginan pelaku kejahatan. Bisa menampilkan tulisan-tulisan provokative atau gambargambar lucu. Merupakan salah satu jenis kejahatan dunia maya yang paling favorit
karena hasil kejahatan dapat dilihat secara langsung oleh masyarakat.
3. Probing dan Port Scanning Salah satu langkah yang dilakukan cracker sebelum masuk ke
server yang ditargetkan adalah melakukan pengintaian. Cara yang dilakukan adalah
dengan melakukan port scanning atau probing untuk melihat servis-servis apa saja
yang tersedia diserver target. Sebagai contoh, hasil scanning dapat menunjukkan bahwa
server target menjalankan program web server Apache, mail server Sendmail, dan
seterusnya. Analogi hal ini dengan dunia nyata adalah dengan melihat-lihat apakah pintu
rumah anda terkunci, merek kunci yang digunakan, jendela mana yang terbuka, apakah
pagar terkunci (menggunakan firewall atau tidak) dan seterusnya.
4. Virus dan Trojan. Virus komputer merupakan program komputer yang dapat
menggandakan atau menyalin dirinya sendiri dan menyebar dengan cara menyisipkan
salinan dirinya ke dalam program atau dokumen lain. Trojan adalah sebuah bentuk
perangkat lunak yang mencurigakan (malicious software) yang dapat merusak sebuah
sistem atau jaringan. Tujuan dari Trojan adalah memperoleh informasi dari target
(password, kebiasaan user yang tercatat dalam system log, data dan lain-lain), dan
mengendalikan target (memperoleh hak akses pada target).
5. Denial of Service (DoS) attack adalah jenis serangan terhadap sebuah komputer atau
server di dalam jaringan internet dengan cara menghabiskan sumber (resource) yang
dimiliki oleh komputer tersebut sampai komputer tersebut tidak dapat menjalankan
fungsinya dengan benar sehingga secara tidak langsung mencegah pengguna lain untuk
memperoleh akses layanan dari komputer yang diserang tersebut.
6. Carding adalah aktifitas pembelian barang di Internet menggunakan kartu kredit bajakan.
Kartu kredit tersebut diperoleh dengan cara meminta dari carder lain (dengan catatan
harus tergabung dalam komunitas carder pada server IRC tertentu), ataupun dengan
menggunakan kemampuan social engineering yang dimiliki oleh carder. Kejahatan
8

carding juga seringkali dilakukan dengan sistem Phishing yaitu dengan penyadapan
melalui situs website aspal (asli-tapi palsu) agar personal data nasabah dapat di curi.
Kasus yang pernah terjadi adalah pengubahan nama situs www.klikbca.com menjadi
www.kilkbca.com.
PENANGANAN CYBER CRIME
Cybercrime adalah masalah dalam dunia internet yang harus ditangani secara serius. Sebagai
kejahatan, penanganan terhadap cybercrime dapat dianalogikan sama dengan dunia nyata, harus
dengan hukum legal yang mengatur. Berikut ini ada beberapa Cara Penanganan Cybercrime:
a. Dengan Upaya non Hukum
Adalah segala upaya yang lebih bersifat preventif dan persuasif terhadap para pelaku,
korban dan semua pihak yang berpotensi terkait dengan kejahatan dunia maya.
b. Dengan Upaya Hukum (Cyberlaw)
Adalah segala upaya yang bersifat mengikat, lebih banyak memberikan informasi
mengenai hukuman dan jenis pelanggaran/kejahatan dunia maya secara spesifik.
Cyberlaw merupakan istilah hukum yang terkait dengan pemanfaatan TI. Istilah lain
adalah hukum TI (Law of IT), Hukum Dunia Maya (Virtual World Law) dan hukum
mayantara. Perkembangan teknologi yang sangat pesat membutuhkan pengaturan hukum
yang berkaitan dengan pemanfaatan teknologi tersebut. Hanya saja, hingga saat ini
banyak negara yang belum memiliki perundang-undangan khusus di bidang teknologi
informasi, baik dalam aspek pidana maupun perdata-nya.
Ruang lingkup dari cyberlaw adalah:
1. hak cipta, hak merek, pencemaran nama baik (defamation), hate speech(fitnah, penistaan
dan penginaan),
2. serangan terhadaap fasilitas komputer (hacking, viruses, ilegal acccess), pengaturan
sumber daya internet IP addrees, domain name),
3. kenyaman individu (privacy), tindakan kriminal yang biasa menggunakan TI sebagai alat,
4. isu prosedural (yurisdiksi, pembuktian, penyidikan), transaksi elektronik dan digital,
pornografi,
5. perlindungan konsumen, pemanfaatan internet dalam aktifitas keseharian (e-commerce,
e-government, e-education, e-medics).
Contoh cyberlaw di Amerika adalah:
a. US Child Onleine Protection Act (COPA): adults verification required on porn sites.

b. US Child Pornography Protection Act: extend law to include computer-based child


porn.
c. US Child Internet Protection Act (CIPA): requires schools dan libraries to filter.
d. US New Laws and Rulemaking: spam. deceptive, tactics, mousetrapping.
Beberapa contoh yang dapat dilakukan terkait dengan cara pencegahan cyber crime
adalah sebagai berikut:
1. Untuk menanggulangi masalah Denial of Services (DoS), pada sistem dapat
dilakukan dengan memasang firewall dengan Instrussion Detection System (IDS)
dan Instrussion PreventionSystem (IPS) pada Router.
2. Untuk menanggulangi masalah virus pada sistem dapat dilakukan dengan
memasang anti virus dan anti spy ware dengan upgrading dan updating secara
periodik.
3. Untuk menanggulangi pencurian password dilakukan proteksi security system
terhadap password dan/ atau perubahan password secara berkala.Pemanfaatan
Teknologi Informasi dalam kehidupan sehari-hari kita saatini. Contoh:
penggunaan mesin ATM untuk mengambil uang; handphone untuk berkomunikasi
dan bertransaksi (mobile banking); Internet untuk melakukan transaksi (Internet
banking, membeli barang), berikirim e-mail atau untuk sekedar menjelajah
Internet; perusahaan melakukan transaksi melalui Internet (e-procurement).
Namun demikian segala aktivitas tersebut memiliki celah yang dapat
dimanfaatkan oleh orangyang tidak bertanggung jawab untuk melakukan
kejahatan dunia maya(cybercrime), misalnya: Penyadapan email, PIN (untuk
InternetBanking), Pelanggaran terhadap hak-hak privacy, dll.
Maka dari itu diperlukan sebuah perangkat hukum yang secara legal melawan
cybercrime. Dalam hal ini cyberlaw tercipta.
c. Perlunya Dukungan Lembaga Khusus
Lembaga khusus yang dimaksud adalah milik pemerintah dan NGO (Non Government
Organization) diperlukan sebagai upaya penanggulangan kejahatan di internet. Lembaga ini
diperlukan untuk memberikan informasi tentang cybercrime, melakukan sosialisasi secara
intensif kepada masyarakat, serta melakukan riset-riset khusus dalam penanggulangan
cybercrime. Indonesia sendiri sudah memiliki IDCERT (Indonesia Computer Emergency
Response Team) yang diperlukan bagi orang-orang untuk melaporkan masalah-masalah
keamanan komputer.

BAGAIMANA DILUAR NEGERI ?


10

Berikut ini adalah beberapa contoh pendekatan terhadap cybercrime (khususnya) dan
security (umumnya) di luar negeri.
Amerika Serikat memiliki Computer Crime and Intellectual Property Section (CCIPS) of
the Criminal Division of the U.S. Departement of Justice. Institusi ini memiliki situs web
<http://www.cybercrime.gov> yang memberikan informasi tentang cybercrime. Namun
banyak informasi yang masih terfokus kepada computer crime.
National Infrastructure Protection Center (NIPC) merupakan sebuah institusi pemerintah
Amerika Serikat yang menangani masalah yang berhubungan dengan infrastruktur.
Institusi ini mengidentifikasi bagian infrastruktur yang penting ( critical ) bagi negara
(khususnya bagi Amerika Serikat). Situs web: <http://www.nipc.gov>. Internet atau
jaringan komputer sudah dianggap sebagai infrastruktur yang perlu mendapat perhatian
khusus. Institusi ini memberikan advisory
The National Information Infrastructure Protection Act of 1996 CERT yang memberikan
advisory tentang adanya lubang keamanan (Security holes).
Korea memiliki Korea Information Security Agency yang bertugas untuk melakukan
evaluasi perangkat keamanan komputer & Internet, khususnya yang akan digunakan oleh
pemerintah.

BAB IV
11

PENUTUP
KESIMPULAN
Berdasarkan data yang telah dibahas dalam makalah ini, maka dapat saya simpulkan
bahwa cybercrime merupakan kejahatan yang timbul karena dampak negatif pemanfaatan
teknologi internet. Cybercrime ini bukan hanya kejahatan terhadap komputer tetapi juga
kejahatan terhadap sistem jaringan komputer dan pengguna.
Pelaku cybercrime saat ini melakukan kejahatan tersebut bukan hanya karna mempraktekan
keahlian yang dimiliki tetapi juga karena motif lain seperti uang, dendam, politik, iseng, dan
sebagainya. Cybercrime dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kemampuan tinggi terhadap
komputer dan jaringannya.
Oleh karena itu dalam penanggulangannya dibutuhkan pengaturan hukum yang berkaitan
dengan pemanfaatan teknologi tersebut, selain itu juga diperlukan adanya kerjasama dengan
lembaga khusus untuk memberikan informasi tentang cybercrime, melakukan sosialisasi secara
intensif kepada masyarakat, serta melakukan riset-riset khusus dalam penanggulangan
cybercrime.

DAFTAR PUSTAKA

12

Widodo. 2013. Memerangi Cybercrime: Karakteristik, Motivasi, dan Strategi Penanganan dalam
Perspektif Kriminologi, Aswaja Pressindo, Yogyakarta.
http://13gigabyte.blogspot.com
http://cumiyu21.blogspot.com/2012/11/makalah-cybercrime.html
http://freezcha.wordpress.com/2011/02/28/penanggulangan-cybercrime/

13