Anda di halaman 1dari 6

MAKALAH NEGOSIASI

DIPLOMATIK DAN RESOLUSI ACEH


18 AGUSTUS 2008

Disusun Oleh : Siget Wahyu Sianipar//14600083

UNIVERSITAS TAMA JAGAKARSA


Jl. LetjenT.B.Simatupang No. 152 Tanjung Barat, Jakarta
Selatan 12530
TAHUN PELAJARAN 2016

Damai Aceh Sebagai Contoh Keberhasilan Negosiasi Diplomatik Dan Resolusi


Konflik Di Indonesia August 18, 2008
Perjanjian damai antara Pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka fakta
perdamaian tersebut telah memasuki usia tiga tahun 15 Agustus 2008. Simpul penting
transformasi konflik menuju proses damai yang lebih stabil dan berkelanjutan telah dilalui. Kini,
yang tak kalah pentingnya adalah bagaimana mengikat komitmen damai bagi semua peace
process for all-, bukan hanya pihak yang bertikai. Sejak fakta perdamaian ditandatangani pada 15
Agustus 2005 di Helsinki, nafas persengketaan dan permusuhan yang telah berakar lebih dari 30
tahun di Aceh mulai berhenti. Ia tergantikan dengan angin perubahaan yang jauh lebih signifikan
dan makin melegakan. Simpul penting transformasi konflik menuju proses damai yang lebih
stabil dan berkelanjutan telah dilalui. Damai ini mesti direfleksikan dengan rasa syukur oleh
seluruh bangsa yang yang bermartabat.Cahaya perdamaian itu makin bersinar ketika pilkada
paling demokratis telah mampu memberi ruang baru bagi sirkulasi kekuasaan di Aceh.
Para pemimpin yang terpilih dapat dikatakan sebagai representasi terbaik keinginan
rakyat. Proses pemilihan yang nyaman dan belum
pernah dialami bumi Iskandar Muda ini sejak
pemilu 1955, menggembirakan semua pihak:
Jakarta, para stakeholders rehabilitasi dan
rekonstruksi, kelompok sipil demokratis, dan akar
rumput. Pilkada pun melahirkan pemimpin yang
beragam, mulai dari kelompok yang selama ini
terbuang dari siklus kekuasaan (outsider) hingga
masyarakat sipil yang dianggap berprestasi untuk
menjaga momentum recovery Aceh.Kemenangan
calon independen dalam pilkada lalu menunjukkan besarnya keinginan dari masyarakat sipil
Aceh untuk menyongsong perubahan politik pemerintahan dan mengharapkan adanya visi
pembangunan yang lebih mengakar pada kepentingan masyarakat luas dan korban dari kebijakan
pro-Jakarta di masa lalu.
Disadari atau tidak, konflik Aceh telah berkembang menjadi problem sosial.Oleh karena
itu, rekonsiliasi merupakan salah satu jalan yang amat penting untuk ditempuh. Untuk itu,
pelibatan semua komponen masyarakat dalam proses perdamaian merupakan perekat yang dapat
mencegah rusaknya perdamaian. Pelibatan masyarakat itu sendiri tercermin dari orientasi
pembangunan yang berbasis pemberdayaan. Namun, masih terdapat beberapa persoalan penting
di depan. Dalam fakta jalan damai yang mestinya sudah dibangun, keberadaan partai politik
lokal dan persaingan politik di antara parpol nasional pada pemilu 2009.akan mewarnai
konstalasi politik Aceh ke depan dan bagaimana pemerintahan nasional menghadapi
pemerintahan Aceh pasca-pemilu. Sebab, tidak semua masalah Aceh diselesaikan di tanah Aceh
sendiri, pastilah masuk kedalam sistem politik nasional. Bagaimanapun, Nota Kesepahaman

(MoU) ataupun UU No. 11/2006 adalah bagian dari kebijakan politik nasional, sekalipun
dorongan dan masukan dari unsur-unsur masyarakat Aceh juga tidak bisa diabaikan dan
signifikan. Aceh yang terlahir sebagai indentitas plural dan jamak telah melalui sejarahnya
dengan panjang dan unik.Aceh tidak tunggal dalam memaknai perjalanan dirinya, karena Aceh
adalah kumpulan keberagaman.Baik itu etnis, ras, suku, agama, sejarah bangsa bahkan juga
pandangan politik.Dimasa-masa awal Aceh, keberagaman ini dapat dimaknai dan diapresiasi
secara positif, sehingga Aceh lahir menjadi titik tolak peradaban bagi wilayah sekitarnya.
Kini kedewasaan tersebut mendapat tantangan, karena Aceh sudah berada pada fase yang
manentukan, pasca konflik dan tsunami.Bahwa kini di Aceh dituntut kembali untuk menmgelola
keberagamannya, seperti masa-masa awal.Pengelolaan secara positif ini dinamai dengan
multikulturalisme. Paham yang menerangkan akan pentingnya apresiasi positif terhadap
perbedaan, dengan kacamata kesetaraan. menjelang Pemilu 2009 semua pihak ramai-ramai
membicarakan dinamika perpolitikan di Aceh. Pertemuan Helsinki memberikan afirmasi bahwa
tujuan dialog tidak lain adalah peletakan prioritas dasar terciptanya kondisi perdamaian secara
komprehensif di Aceh dengan mengimplementasikan solusi-solusi yang berkelanjutan
(sustainable). Hasil ini diharapkan menunjang proyek rekonstruksi Aceh pasca-tsunami agar
dapat berhasil.
Korban konflik mampu memaksimalkan ruang publik (public sphere) yang dimilikinya.
Belum semua mampu mengakses proses komunikasi, informasi dan kebijakan dari Badan
Reintegrasi Aceh (BRA) atau Badan Reintegrasi Damai Aceh (BRDA), di tingkat pusat/propinsi
maupun local/kabupaten-kota. Pola partisipatif, sosialiasi lembaga, peran, transparansi,
keihklasan pada tingkat penguasa dan lain lain belum berjalan sebagaimana mestinya. Mungkin,
di Aceh, terutama di daerah konflik, sepertinya ada kondisi pseudo-neurotik yang menyebabkan
mereka terpasung dan tertekan secara psikologis. Mereka masih merasa tak memiliki siapapun
dan apapun yang bisa mengangkat keresahan, harga diri, kepercayaan diri dan
keinginannya.Ilustrasi di bawah ini memperlihatkan makin jelas tentang ironisme ruang publik
untuk mengakses pemberdayaan korban konflik termasuk mantan combatan yang tersangkut di
hangar kekerasan dan dominasi kekuasaan.Karenanya, pengabaian peristiwa kekerasan yang
membawa Aceh pada situasi sulit beberapa tahun lalu, harus dialami dengan penuh getir.
Terkait dengan itu, yang mendesak kita lakukan sebagai langkah preventif adalah
penyadaran publik.Penyadaran ini kita tujukan kepada masyarakat umum agar tidak terpancing
dengan keadaan yang provokatif itu, secara sadar atau tidak sadar memiliki potensi untuk
menciptakan suasana chaos, baik karena motivasi psikologis, ekonomis ataupun
politis.Harapannya agar semua menyadari betapa mahalnya harga perdamaian yang telah kita
capai ini, dan cita-cita mempermanenkan kedamaian.Catatan ini hendak menyegarkan ulang
memori kita tentang satu alternatif pemikiran agar Aceh bisa meninggalkan masa transisi ini sesegera mungkin.Intervensinya diarahkan pada usaha menemukan domain yang lebih
efektif.Renungan/merefleksikan bersama untuk memperingati tiga tahun damai Aceh adalah

salah satu bentuk kegiatan untuk mengkomunikasi pentingnya menjaga perdamaian Aceh sebagai
contoh keberhasilan negosiasi diplomatik dan resolusi konflik di Indonesia. Di sisi lain,
pentingnya menjaga keterbukaan informasi dalam mencari jalan keluar dari kebuntuan politik.
Perdamaian di Aceh dan di seluruh Indonesia harus selalu digaungkan agar kita bisa
mewaspadai riak-riak penghancur damai sendiri.

Rangkuman
Boleh disimpulkan secara pragmatis, dialog Helsinki berdiri di atas faktor ekonomi
yang kemudian menentukan proses-proses politik seperti penghentian kekerasan hingga
rekonsiliasi. Sejak awal pihak donor membuat pernyataan bersama bahwa bantuan rehabilitasi
dan rekonstruksi di Aceh akan dihambat jika pemerintah tidak mampu menjamin keamanan di
daerah ini. Mungkin salah satu tonggak bersejarah penting untuk membangun kembali Aceh
lebih baik merupakan pasca-penandatanganan kesepakatan perdamaian di Helsinki antara
Pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) pada tanggal 15 Agustus lalu adalah
mempertahankannya sehingga menjadi sesuatu yang bersejarah bagi masyarakat Aceh.
Kesepakatan-kesepakatan yang lampau tidak bertahan dan harus dikoreksi dan dipelajari
pada perjanjian sekarang. Karena kita membutuhkan redefinisi ulang beberapa hal seperti, istilah
nasionalisme Aceh (Bentuk kegagalan Negara dan alkuturasi kekerasan masyarakat terhadap
tuntutan yang tidak pernah didengar) dalam kontek NKRI sepertinya kurang enak
didengarkan.Menyebut nasionalisme Aceh seperti menangkap sesuatu yang ganjil, tabu, sok
subjektif, dan tentu saja bermasalah bila dihadapkan dengan wacana pedoman, penghayatan dan
pengalaman Pancasila, apalagi pada sila ketiga Persatuan Indonesia. Di sini maknanya
seringkali hanya pembenaran bagi seluruh ethnic, bahasa, subculture, dari kontinen Sabang
hingga Merauke. Mereka seluruhnya seperti harus menyifatkan Indonesia.Tidak ada
nasionalisme bagi etnis-etnis, yang ada hanya nasionalisme Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA
https://znain.wordpress.com/2008/08/18/jadikan-perdamaian-aceh-sebagai-iconkeberhasilan-negosiasi-diplomatik-dan-resolusi-konflik-di-indonesia/
https://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Aceh
http://acehsky.blogspot.co.id/2012/08/diplomasi-aceh-tempo-dulu.html