Anda di halaman 1dari 9

EFEKTIVITAS EKSTRAK ETANOL RIMPANG KENCUR (Kaempferia

galanga Linn.) DALAM MENGHAMBAT PERTUMBUHAN


Candida albicans

Analisis Jurnal:
a. Tanaman
Sistematika Tanaman :
Kingdom

: Plantae (Tumbuhan)

Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)


Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi

: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

Kelas

: Liliopsida (berkeping satu / monokotil)

Sub Kelas

: Commelinidae

Ordo

: Zingiberales

Famili

: Zingiberaceae (suku jahe-jahean)

Genus

: Kaempferia

Spesies

: Kaempferia galanga L.

Kencur (Kaempferia galanga L.) adalah salah satu jenis empon-empon/tanaman


obat yang tergolong dalam suku temu-temuan (Zingiberaceae). Rimpang atau rizoma
tanaman ini mengandung minyak atsiri dan alkaloid yang dimanfaatkan sebagai stimulan.
b. Komposisi (Kandungan Kimia)
Kandungan kimia Kencur (Kaempferia galanga Linn ):

1) Pati (4,14 %),


2) Mineral (13,73 %),
3) Minyak-minyak atsiri (0,02 %), berupa

a. sineol,
b. asam metil kanil dan penta dekaan,
c. asam sinamat,
d. etil ester,
e. borneol,
f. kamphene,
g. paraeumarin,
h. asam anisat,
i. alkaloid dan
4) gom.
c. Tujuan
Membuktikan bahwa ekstrak etanol rimpang kencur efektif dalam menghambat
pertumbuhan C. albicans secara in vitro
d. Pembahasan
METODE PENELITIAN
Rancangan Penelitian. Penelitian ini menggunakan eksperimental laboratorium secara
in vitro dengan true experiment-post test only control group design, dengan metode
dilusi agar.

Sampel Penelitian. Populasi pada penelitian ini adalah jamur Candida albicans. Sampel
penelitian adalah isolat Candida albicans yang berasal dari penderita kandidiasis vagina.
Bahan untuk Pembuatan Ekstrak Rimpang Kencur dan Uji Antifungi. Bahan untuk
pembuatan ekstrak adalah rimpang kencur, etanol 96%, alkohol 70%, aquadest steril.
Bahan untuk uji antijamur adalah ekstrak rimpang kencur, isolat C. albicans, pewarnaan

gram (kristal violet, lugol, alkohol 96%, safranin), serum plasma mamalia, SDA
(Sabouraud Dextrose Agar), aquades steril.
Alat untuk Pembuatan Ekstrak Rimpang Kencur dan Uji Antifungi. Alat untuk
pembuatan ekstrak meliputi gelas erlenmeyer, labu penampung evaporator, water bath,
evaporator, rotary evaporator, oven. Alat untuk uji antifungi meliputi cawan petri, ose,
mikropipet, bunsen, gelas obyek, mikroskop, inkubator.
Pembuatan Ekstrak Rimpang Kencur dan Uji Antifungi. Rimpang kencur dicuci
bersih kemudian dikupas kulit umbinya dan dipotong menjadi kecil-kecil kemudian
dimasukkan ke dalam oven hingga kering pada suhu 80C. Rimpang kencur yang telah
dikeringkan kemudian dihaluskan hingga menjadi seperti serbuk kemudian ditimbang
dengan timbangan digital sebesar 100 gr sebagai sampel kering. Sampel kering yang
berupa serbuk rimpang kencur yang telah ditimbang dimasukkan ke dalam gelas
erlenmeyer. Direndam dengan larutan etanol 96%. Dikocok sampai tercampur merata
selama 30 menit. Hasil campuran didiamkan semalaman hingga mengendap. Bagian
lapisan teratas dari campuran zat aktif yang telah diperoleh dengan pelarut etanol diambil
dan dimasukkan dalam labu penampung evaporator yang berukuran 1 liter dan labu
evaporasi di pasang pada evaporator. Water bath di isi dengan air hingga penuh dan
memasang seluruh alat meliputi pemanas water bath dan rotary evaporator untuk
disambungkan dengan arus listrik. Pelarut etanol dibiarkan menguap dan ditunggu 2
jam hingga tetesan etanol yang masuk ke dalam labu evaporasi berhenti menetes. Hasil
dari proses evaporasi dimasukkan ke dalam botol penampung yang telah dipersiapkan.
Pembuatan Suspensi Jamur Uji. Sebelum di uji, jamur Candida albicans terlebih
dahulu di identifikasi dengan melakukan pembiakan pada SDA, pewarnaan Gram, dan

Germinating Tube Test. Konsentrasi suspensi jamur uji pada penelitian ini adalah 104
CFU/ml. Jamur C. albicans diinokulasi pada SDA kemudian diinkubasi pada suhu 37C
selama 24 jam. Selanjutnya distandarisasi dengan spektrofotometri pada : 530 nm
sehingga siperoleh konsentrasijamur 1 x 106 CFU/ml.
Uji Antifungi.
- Disediakan cawan petri steril yang ditandai dengan KC, I, II, III, IV, V, dan KK (Kontrol
Kencur).
- Cawan petri KC diisi 15 ml SDA yang masih cair) dan biarkan agar memadat kemudian
masukkan dalam inkubator pada suhu 37C selama 24 jam . Agar plate ini digunakan
sebagai kontrol positif.
- Cawan petri I, II, III, IV, V diisi dengan ekstrak etanol rimpang kencur masing-masing
sebanyak 0,15 ml; 0,3 ml; 0,45 ml; 0,6 ml; 0,75 ml.
- Selanjutnya agar plate I, II, III, IV, V dicampur dengan SDA yang masih cair masingmasing sebanyak 14,85 ml; 14,7 ml; 14,55 ml; 14,4 ml; 14,25 ml sehingga konsentrasi
ekstrak etanol rimpang kencur sekarang pada agar plate berturut-turut menjadi 1%, 2%,
3%, 4%, 5%. Homogenkan campuran ekstrak etanol rimpang kencur dengan agar dan
biarkan memadat. Diinkubasikan pada suhu 37C selama 24 jam .
- Teteskan suspensi jamur Candida albicans dengan kepadatan 104 CFU/ml
menggunakan mikropipet pada plate agar KC, I, II, III, IV, V masing-masing sebanyak
10 l dan biarkan suspensi C. albicans meresap ke dalam media agar.
- Cawan petri KK diisi ekstrak etanol rimpang kencur sebanyak 7,5 ml kemudian
dicampur dengan 7,5 ml SDA yang masih cair dan biarkan memadat. Agar plate ini
digunakan sebagai kontrol negatif.

- Ketujuh agar plate diinkubasikan pada suhu 37C selama 24 jam.


- Selanjutnya, semua agar plate dikeluarkan dari inkubator dan diamati pertumbuhan
koloni Candida albicans sehingga KHM dapat ditentukan.
HASIL PENELITIAN
Hasil Identifikasi C. albicans. Dalam penelitian ini, isolat C. albicans diidentifikasi
dengan pembiakan koloni pada SDA plate, pewarnaan Gram, dan Germinating Tube Test.
Pada pembiakan koloni C. albicans dalam SDA plate didapatkan bahwa koloni yang
tumbuh pada SDA berwarna putih kekuningan, licin, agak mengkilat, dan berbau ragi.
Pada pewarnaan Gram ditemukan sel C. albicansberbentuk budding cell berwarna ungu
dan bersifat Gram positif. Hasil uji identifikasi Candida albicans dengan Germinating
Tube Test ditemukan adanya pseudohypha.
Hasil Pengamatan KHM pada Metode Dilusi Agar. Pengamatan pertumbuhan koloni
pada agar plate bertujuan untuk menentukan Kadar Hambat Minimal (KHM) ekstrak
rimpang kencur terhadap pertumbuhan Candida albicans. Hasil dari penghitungan
terhadap jumlah koloni Candida albicans pada Sabouraud Dextrose Agar (SDA) plate
dapat dilihat pada Gambar berikut ini. Hasil pengamatan pertumbuhan koloni jamur pada
agar plate dapat terlihat pada histogram rerata jumlah koloni C. albicans berikut ini.
Analisis Data. Penggunaan Uji Kruskal-Wallis untuk mengetahui pengaruh konsentrasi
ekstrak etanol rimpang kencur terhadap pertumbuhan koloni Candida albicans. Pada
penelitian ini, menggunakan tingkat kepercayaan sebesar 95% (=0,05) sebagai tingkat
signifikansinya. Selanjutnya akan dilakukan uji lanjut menggunakan uji Mann-Whitney
untuk mengetahui ada perbedaan bermakna antar kelompok perlakuan. Hasil daru uji
Mann-Whitney didapatkan bahwa pada antar kelompok konsentrasi secara keseluruhan

terdapat perbedaan yang signifikan (p < 0,05) kecuali pada konsentrasi 2% dengan 3%
dan 4% dengan 5% yang menunjukkan bahwa tidak berbeda secara signifikan (p > 0,05).
Uji Korelasi Spearman. Uji korelasi Spearman digunakan untuk mengetahui hubungan
antara konsentrasi ekstrak etanol rimpang kencur dengan jumlah pertumbuhan koloni
Candida albicans. Nilai korelasi yang diperoleh adalah sebesar -0,964. Hasil uji korelasi
Spearman didapatkan nilai p sebesar 0,000 yang berarti terdapat hubungan bermakna
antara ekstrak etanol rimpang kencur dengan jumlah pertumbuhan Candida albicans,
yaitu makin tinggi konsentrasi ekstrak etanol rimpang kencur menunjukkan makin rendah
jumlah koloni Candida albicans.
Analisis Hasil dan Kesimpulan:
a. Analisiss Hasil
Pada penelitian ini, bahan uji yang digunakan yaitu rimpang kencur. Metode penyarian
zat aktif bahan uji yang dipilih dalam penelitian ini adalah ekstraksi etanol dikarenakan
sebagian dari zat antimikroba yang terkandung didalam rimpang kencur. Identifikasi C.
albicans telah dilakukan dengan tiga macam cara. Pembiakan koloni C. albicans
pewarnaan Gram, germinating tube.
Pada penelitian ini, hasil identifikasi Candida albicans yang didapatkan sesuai dengan
morfologi jamur Candida albicans. Berdasarkan hasil uji yang telah dilakukan dalam
penelitian ini maka Kadar Hambat Minimal yang diperoleh adalah sebesar 4% yang
merupakan konsentrasi terendah ekstrak etanol rimpang kencur yang mampu
menghambat pertumbuhan Candida albicans. Hal tersebut menunjukkan bahwa kenaikan
konsentrasi ekstrak etanol rimpang kencur yang digunakan dapat menyebabkan
pengurangan jumlah koloni C. albicans.

Dari penelitian yang telah dilakukan oleh Wahyudi dkk (2002) membuktikan bahwa
kandungan zat aktif dalam rimpang temu giring memiliki efek antifungi terhadap
Candida

albicans.

menyebutkan

Sedangkan

penelitian

mengenai

bahwa ekstrak rimpang kencur

tanaman

mempunyai

rimpang

kencur

kemampuan

dalam

menghambat pertumbuhan jamur selain Candida albicans. Berdasarkan hasil penelitian


sebelumnya, kemungkinan bahan aktif dalam rimpang kencur memiliki mekanisme yang
sama dengan kandungan zat aktif yang terdapat dalam rimpang temu giring yang
memiliki kemampuan dalam menghambat pertumbuhan C. albicans.
Salah satu kandungan zat aktif yang terkandung dalam rimpang kencur yaitu tanin
memiliki kemampuan untuk menganggu proses terbentuknya komponen stuktur dinding
sel jamur dengan menghambat sintesis khitin dalam sel jamur. Kandungan sineol dalam
rimpang kencur mempunyai kemampuan untuk menghambat sintesis ergosterol yang
terdapat dalam membran sel jamur dengan mengganggu permeabilitas membran sel
jamur yang mengakibatkan kebocoran sel dengan keluarnya berbagai komponen penting
sel jamur dari dalam membran sel sehingga sel lebih mudah lisis. Saponin memiliki efek
antifungi seperti sineol dalam merusak membran sel jamur. Kemampuan saponin dalam
merusak membran sel yaitu dengan cara menginaktivasikan enzim sel jamur sehingga
permeabilitas membran sel juga terganggu dan mengakibatkan aktivitas kerja sel menjadi
tidak efektif.5,10 Flavonoid dalam rimpang kencur sebagai penghambat sintesis asam
nukleat C. albicans yang mengakibatkan tidak terjadinya proses pembentukan DNA dan
RNA pada sel jamur.
Hasil penelitian secara in vitro merupakan langkah awal dari penggunaan atau penerapan
rimpang kencur dalam menghambat pertumbuhan Candida albicans. Selanjutnya

diharapkan adanya penelitian lebih lanjut dengan uji in vivo sebagai uji praklinik sebelum
nantinya diuji cobakan secara klinik pada manusia. Kekurangan dari penelitian ini adalah
isolat Candida albicans yang digunakan hanya satu isolat. Hal tersebut dikarenakan
terbatasnya isolat yang berasal dari penderita kandidiasis vagina. Sebelumnya, peneliti
juga sudah mengupayakan mencari isolat dari penderita kandidiasis vagina tetapi isolat
tersebut jarang sekali ditemukan. Selain itu, peneliti mengharapkan adanya penelitian
rimpang kencur sebagai antifungi dengan menggunakan rebusan sehingga masyarakat
mudah menggunakannya.
b. Kesimpulan
1. Semakin tinggi konsentrasi ekstrak etanol rimpang kencur (Kaempferia galanga
Linn.) menunjukkan semakin rendah jumlah koloni Candida albicans secara in
2.

vitro.
Kadar Hambat Minimal dari ekstrak etanol rimpang kencur (Kaempferia galanga
Linn.) adalah pada konsentrasi 4%.

TUGAS MIKROBIOLOGI

EFEKTIVITAS EKSTRAK ETANOL RIMPANG KENCUR (Kaempferia


galanga Linn.) DALAM MENGHAMBAT PERTUMBUHAN
Candida albicans

DISUSUN OLEH:

NAMA

: ANDI SRIWAHYUNINGSIH

NIM

: PO.71.3.251.12.1.009

KELAS

: REGULER A

JURUSAN FARMASI
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MAKASSAR
2013