Anda di halaman 1dari 24

RHEUMATOID

ARTHRITIS
Kelompok 12

Overview case
Data

Keterangan

Wanita 50th

Insidensi

KU : nyeri pada seluruh persedian

DD : Rheumatoid Arthritis , Osteo
Arthritis, Gout Arthritis, Poliarthritis

Dirasakan sejak 3 bulan yang lalu
dan dirasakan semakin memberat

Bersifat progresif

Panas badan yg tidak terlalu
tinggi, nafsu
makan berkuang,
badan terasa lemah

Gejala konstitusional

2 minggu yang lalu merasa cepat
lelah dan belum pernah pasien
rasakan sebelumnya

Peningkatan BMR

Keluhan awalnya hanya
dipergelangan tangan, lama
kelamaan hampir seluruh
persendian terasa sakit

Gejala Klinis RA

1 bulan yg lalu sering terjadi
Kriteria diagnosis RA
kekakuan pada lutut/persendian yg
biasa digerakan dengan kekakuan
>1jam

5 Meringis kesakitan setiap persendian digerakan Tampak beberapa jari tangan kanan dan kiri menyerupai leher angsa. piroksikam. dan prednisone Obat rheumatoid tidak adekuat Analgetik. dan sesudah itu nyeri lagi Eksaserbasi Obat yg pernah diminum.Data Keterangan Nyeri berkurang selama minum obat. deformitas Boutonniere (+) Dbn Dbn Takipneu Subfebris (Manifestasi Infeksi) Kelainan RA stadium deformitas Mata : Konjungtiva anemis +/+ Sklera kemerahan +/+ Tanda anemia Skleritis Leher : a/r cervicalis teraba masa 3 buah Nodul subkutan (kriteria RA . Paracetamol. dexametason. Kortikosteroid Status Generalis TD : 120/80 N : 100x R : 30 S : 37.

VR menurun Abdomen : Splenomegali Ekstremitas : A/r genu o/s : udem .Data Thorax : Hemthooraks kanan Inspeksi : pergerakan tertinggal Palpasi : sela iga menyemput . VF menurun Perkusi : ICS 2 kebawah dull Auskultasi : suara nafas menurun . kalor. rubor. dolor. kenyal. (-) kemerahan Keterangan Menunjukan adanya fibrosis pleura Gejala sistemik menyebabkan anemia     Inflamasi Tanda Rheumatoid Arthritis Nodul subkutan (Kriteria RA menurut ACR) . dolor. rubor. (-) nyeri . kalor. ROM terbatas Tampak beberapa jari tangan alami deformitas swan neck finger dan dwformitas swan nek finger dan bouonniere A/r sikut kanan : nodul ukuran 2x2cm . ROM terbatas A/r wrist joint d/s : udem.

Rheumatoid Arthritis .Gout Arthritis DK : Rheumatoid Arthritis Keterangan Menurun (Anemia) Meningkat (Infeksi kronis) Leukositosis (Infeksi) Menurun Dbn Anemia penyakit kronis Tanda glomerulonefritis Meningkat reaksi fase akut Meningkat Gambaran Rheumatoid Arthritis   Menurun Menurun Normal .Data Laboratorium: Hb : 8gr/dl LED 80 Leukosit 12000 Ht 24% Trombosit 200. protein (+) CRP : 1pg/ml RF : 100 u/ml Fwj : gambar erosi F.genu : (x) erosi (x) dekalsifikasi Fe serum Feritin TIBC DD : . (-) normoblas Urin rutin : eitrosit 10-15 .Osteo Arthritis .000 SADT : normokrom normositer.

Definisi Artritis Reumatoid atau Rheumatoid arthritis (RA) adalah penyakit autoimun sistemik (Symmons. 2012) . 2008). Penyakit ini merupakan peradangan sistemik yang paling umum ditandai dengan keterlibatan sendi yang simetris (Dipiro. 2008). Penyakit RA ini merupakan kelainan autoimun yang menyebabkan inflamasi sendi yang berlangsung kronik dan mengenai lebih dari lima sendi (poliartritis) (Pradana. 2006) RA merupakan salah satu kelainan multisistem yang etiologinya belum diketahui secara pasti dan dikarateristikkan dengan destruksi sinovitis (Helmick.

atau PIP joint) 4. tampak gambar erosi atau dekalsifikasi tulang Diagnosis AR bisa ditegakan bila : . pada daerah ekstensor atau juksraartikular 6. Kaku sendi pagi hari. Nodul Rheumatoid : nodul subkutan.Kriteria 1-4 harus ada sedikitnya selama 6bulan . Artitis pada sendi sendi jari tangan(wrist. bisa sampai 1jam 2.Ditemukan 4 dari 7 kriteria . Arthritis yang simetris dan bilateral 5. Artitis yang meliputi 3sendi atau lebih 3.Kriteria diagnosis American College Rhematology (ACR) 1. Faktor rheumatoid positif 7. MCP. Radiografi.Curiga bila terdapat 2 kriteria diatas .

dipersatukan oleh jaringan ikat. cartilago) atau gabungan tulang rawan dan jaringan fibrosa. Sendi digolongkan menurut jenis bahan pemersatu tulang yang bersendi. Sendi kondral (kartilago). Sendi fibrosa. 3. 2. dipersatukan oleh tulang rawan (chondrum. Degnan demikian dapat dibedakan tiga jenis sendi.Basic Science     Sendi adalah hubungan antara setiap bagian yang kaku (tulang atau tulang rawan) pada kerangka. yaitu: 1. Sendi sinovial. dipersatukan oleh tulang rawan dengan membrana sinovialis yang melapisi cavitas articularis .

Norm al Arthriti s .

tetapi oleh jaringan ikat khusus yaitu membran sinovial yang menjulurkan lipatan dan vili ke dalam rongga tersebut dan menyekresi cairan sinovial sebagai pelumas. Serat kolagen pada kartilago hialin sendi berfungsi untuk membantu mendistribusikan daya yang dihasilkan oleh tekanan pada sendi tersebar merata. . asam hialuronat dan komponen dasar lainnya. Membran sinovial yang berhubungan dengan cairan sinovial.    Rongga sendi tidak dilapisi oleh epitel. jaringan tersebut biasanya mendapat banyak perdarahan. Di antara kapiler terdapat banyak sinoviosit fibrositik yang dikhususkan untuk menghasilkan glikosaminoglikan (GAG) yang panjang dan tidak tersulfasi.

.

.Etiologi    Faktor genetik dan beberapa faktor lingkungan Diduga karena terdapatnya hubungan antara produk kompleks histokompatibilitas utama kelas II. khususnya HLA-DR4 dengan AR seropositif. Faktor keseimbangan homoral Estrogen dan progesteron menstimulasi respons imun humoral (Th2) dan menghambat respons imun selular (Th1). Faktor infeksi Organisme ini diduga menginfeksi sel induk semang (host) dan merubah reaktivitas atau respons sel T sehingga mencetuskan timbulnya penyakit. Oleh karena pada AR respons Th1 lebih dominan sehingga estrogen dan progesteron mempunyai efek yang berlawanan terhadap perkembangan AR.

superantigen Parpovirus B19 Infeksi sinovial langsung Retrovirus Infeksi sinovial langsung Enteric bacteria Kemiripan molekul Mycobacteria Kemiripan molekul Epstein-Barr virus Kemiripan molekul Bacterial cell walls Aktivasi makrofag .Etiologi: faktor infeksi Agen Infeksi yang Diduga sebagai Penyebab Artritis Reumatoid Agen infeksi Mekanisme Patogenik Mycoplasma Infeksi sinovial langsung.

khususnya kopi decaffeinated mungkin juga berisiko .Faktor resiko       Jenis kelamin perempuan Ada riwayat keluarga yang menderita AR Umur lebih tua Paparan salisilat Merokok Konsumsi kopi lebih dari tiga cangkir sehari.

IL-3. IL-4. GM-CSF aktivasi sel B u/ memproduksi antibodi Bentuk kompleks imun yg berdifusi ke dlm ruang sendi & mengendap merangsang makrofag u/ meningkatkan aktivitas fagositosisnya Terjadi inflamasi sistemik manifestasi ekstraartikular .Patofisiologi Antigen diproses o/ APC HLA-DR disajikan oleh MHC Dikenali & diikat o/ sel CD4+ Sel CD4+ teraktivasi Membentuk kompleks antigen trimolekular Ekspresikan reseptor IL-2 pada permukaan CD4+ IL-2 berikatan dgn reseptornya pada membran CD4+ Mitosis & proliferasi CD4+ Sekresikan limfokin: IFN-γ. TNF-β.

darah mengalami oklusi oleh bekuan kecil/sel-sel inflamasi Pembentukan & pembebasan radikal O2 bebas. prostaglandin & protease neutral (colegenase & stromelysin) depolimerase hialuronat Terjadi pertumbuhan yg irregular membentuk pannus penurunan viskositas cairan sendi Radikal O2 bebas merusak kolagen & proteoglikan rawan sendi PGE2 merangsang terjadinya resopsi tulang osteoklastik dgn bantuan IL-1 dan TNF-β   .Bentuk kompleks imun yg berdifusi ke dlm ruang sendi & mengendap Limfosit menginfiltrasi perivaskular & terjadi proliferasi sel endotel Aktivasi komplemen: C5a Meningkatkan permeabilitas vaskular menarik sel PMN & monosit Terjadi neovaskularisasi Pemb. leukotrien.

Leukosit 5. Rheumatoid faktor positif. c. Tes faktor reuma biasanya positif pada lebih dari 75% pasien artritis rheumatoid terutama bila masih aktif.   b. b. penyakit kolagen. Sisanya dapat dijumpai pada pasien lepra. lues. Anti CCP antibody positif telah dapat ditemukan pada arthritis rheumatoid dini. Warna kuning sampai putih dengan derajat kekeruhan yang menggambarkan peningkatan jumlah sel darah putih. dan sarkoidosis. endokarditis  bakterialis.    Pemeriksaan kadar sero-imunologi a. hepatitis infeksiosa. menggambarkan adanya proses inflamasi yang didominasi oleh sel neutrophil (65%).  . kadarnya lebih tinggi dari serum dan berbanding terbalik dengan cairan sinovium.000 – 50. sirosis hepatis. tuberkulosis paru.000/mm3.Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan cairan sinovial a.

e. Trombosit meningkat. d.  . Leukosit : normal atau meningkat sedikit   b. Anemia normositik atau mikrositik. LED meningkat. Protein C-reaktif biasanya positif. c. Kadar albumin serum turun dan globulin naik. f.Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan darah tepi: a. tipe penyakit kronis.

3 sampai 2.000 pria. Artritis Reumatoid lebih sering dijumpai pada wanita.5 juta wanita mempunyai artritis reumatoid yang dibandingkan dengan 600. dengan perbandingan wanita dan pria sebesar 3:1.Epidemiologi     Prevalensi Artritis Reumatoid adalah sekitar 1 persen populasi (berkisar antara 0. 1. Serangan pada umumnya terjadi di usia pertengahan. nampak lebih sering pada orang lanjut usia. Perbandingan ini mencapai 5:1 pada wanita dalam usia subur. .1 persen).

. DMARD (Disease Modifying Anti Rheumatic Drugs) digunakan untuk melindungi rawan sendi dan tulang dari proses destruksi akibat artritis reumatoid.Penatalaksanaan    Pendidikan pada pasien mengenai penyakitnya dan penatalaksanaan yang akan dilakukan sehingga terjalin hubungan baik dan terjamin ketaatan pasien untuk tetap berobat dalam jangka waktu yang lama. OAINS (Obat Anti Inflamasi Non Steroid) diberikan sejak dini untuk mengatasi nyeri sendi akibat inflamasi yang sering dijumpai.

D-penisilamin. sampai mencapai dosis 4×500 mg.Penatalaksanaan    Klorokuin. Digunakan dalam dosis 250-300 mg/hari. paling banyak digunakan karena harganya terjangkau. . Dosis anjuran klorokuin fosfat 250 mg/hari hidroklorokuin 400 mg/hari. Sulfasalazin dalam bentuk tablet bersalut enterik digunakan dalam dosis 1×500 mg/hari. kurang disukai karena bekerja sangat lambat. namun efektivitasnya lebih rendah dibandingkan dengan yang lain. ditingkatkan 500 mg per minggu.

Resep 50 tahun .

Prognosis Prediktor prognosis buruk pada stadium sini AR antara lain:  skor fungsional yang rendah  melibatkan banyak sendi  nilai CRP atau LED tinggi saat permulaan penyakit  RF atau anti-CCP positif  ada nodul reumatoid/ manifestasi ekstraartikular lainnya Pada kasus Quo Ad Vitam: dubia ad malam Quo Ad Functionam: dubia ad malam .

pemeriksaan fisik. begitu juga tentang penjelasan mengenai penyakit dan terapi. Justice: dokter mampu mempertimbangkan keadaan pasien. dan pemeriksaan penunjang khususnya kriteria diagnosis mrnurut ACR (American College of Reumatology) sehingga dokter dapat menegakkan diagnosis dengan tepat mengingat banyaknya diagnosis differensial dari nyeri sendi. perlu dipikirkan pula mengenai komplikasi yang sudah dialami pasien dan komplikasi yang dapat terjadi. . maka penjelasan mengenai terapi juga perlu diberikan kepada pihak keluarga.Bioetika dan Humaniora     Beneficence: Dokter menerapkan golden rule principle yaitu pengetahuan mengenai artritis reumatoid yang dikaitkan dengan anamnesis. maka informed consent ditanyakan langsung kepada pasien sebelum dilakukan tindakan. Mengingat pasien sudah lebih dari 40 tahun maka pelayanan sampai penanganan penyakit perlu mempertimbangkan hal tersebut. Non maleficence: Dokter mampu melayani pasien dengan baik sehingga tidak terjadi keadaan yang memburuk mengingat pasien sudah mengalami manifestasi ekstraartrikular yang cukup serius yang juga dapat diinterspretasikan sebagai komplikasi. Manifestasi ekstraartikular yang terjadi pada penderita AR dapat menentukan buruknya pronosis. dalam hal ini mungkin yang paling perlu diperhatikan adalah usia pasien. Autonomy: Pasien berusia 50 tahun diaggap kompeten dalam mengambil keputusan medis. Mengingat terapi utnuk kasus AR ini diberikan seumur hidup.