Anda di halaman 1dari 40

KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan kasih
karunia-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan makalah PBL kelompok ini sebagaimana
adanya dan tepat pada waktu yang ditetapkan. Makalah ini dibuat sesuai Kurikulum Berbasis
Kompetensi (KBK) sebagai pemenuhan tugas Problem Based Learning (PBL) Blok 30
mengenai Emergency Medicine II.
Dalam menyelesaikan makalah ini, saya sedikit mengalami hambatan tetapi dapat
diatasi berkat bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, saya mengucapkan
banyak terima kasih kepada Tutor PBL, dr. Wani yang telah membimbing saya dan Bapak
perpustakaan yang telah melayani dalam proses peminjaman buku sebagai referensi makalah
ini.
Saya berharap agar makalah ini bisa memberikan manfaat bagi para pembaca dan
dipergunakan sebaik-baiknya. Atas perhatiannya, saya mengucapkan terima kasih.

Penulis

BAB I
1

PENDAHULUAN
Dalam pelaksanaan profesi kedokteran sering kali dijumpai konflik antara dokter
dengan pasien, yang tidak dapat dipecahkan oleh kaidah-kaidah etika. Dalam keadaan seperti
ini maka kaidah hukum dapat diberlakukan, sehingga pembicaraan tidak akan dapat
dilepaskan dari masalah hak dan kewajiban dari pihak-pihak yang terlibat dalam perselisihan
atau perkara tersebut. Hal ini disebabkan karena pada akhirnya penyelesaiannya harus
dikembalikan pada segi-segi hak dan kewenangan yang sebanding engan kewajiban dan
tanggung jawab. Masalahnya adalah seberapa jauh pihak yang terlibat itu (yakni dokter dan
pasien) mengetahui hak dan kewajibannya masing-masing. Lebih penting lagi, seberapa jauh
telah melaksanakannya.
Dahulu, hubungan dokter dengan pasiennya lebih bersifat paternalistik. Pasien
umumnya hanya dapat menerima saja segala sesuatu yang dikatakan dokter tanpa dapat
bertanya apapun. Dengan kata lain, semua keputusan sepenuhnya berada di tangan dokter.
Dengan semakin meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap hak-haknya, mka pola
hubungan demikian ini juga mengalami perubahan yang sangat berarti. Pada saat ini secara
hukum dokter adalah partner dari pasien yang sama atau sederajat kedudukannya, pasien
mempunyai hak dan kewajiban tertentu, seperti halnya dokter. Walaupun seseorang dalam
keadaan sakit, tetapi kedudukan hukumnya tetap sama dengan yang sehat. Sama sekali keliru
jika menganggap seorang yang sakit selalu tidak dapat mengambil keputusan, karena secara
umum sebenarnya pasien adalah subyek hukum yang mandiri dan dpat mengambil keputusan
untuk kepentingannya sendiri. Semua pihak yang terlibat dalam hubungan profesional ini
seyogianya benar-benar menyadari perkembangan tersebut.
Pemahaman terhadap hak dan kewajiban tersebut menjadi semakin penting karena
pada kenyataannya perselisihan yang timbul sebenarnya disebabkan kurangnya pemahaman
mengenai masalah tersebut oleh pihak-pihak yang berselisih. Sering kali terkesan pihak
pasien seperti mencari-cari kesalahan dan kelemahan dokter, untuk kemudian digunakan
sebagai dasar menuntut (biasanya ganti rugi). Apabila tuntutan tersebut gagal, biasanya rasa
kesejawatan dokter yang dikatakan sebagai penyebab kegagalan itu. Sebaliknya, pihak dokter
terkesan berusaha menghidar dari tanggung jawab yang harusnya dipikul. Tidak jarang
perselisihan itu emakain panas akibat ikut campurnya pihak ketiga (yakni media massa),
yang celakanya juga tidak memahami sama sekali tentang hak dan kewajiban itu.1
2

Teknologi kedokteran masa kini telah memungkinkan untuk mempertahankan hidup


seseorang, walaupun otak telah berhenti berfungsi dan orang tersebut hidup hanya oleh detak
jantung dan nafas secara otonom. Di pihak lain, kesadaran akan hak-hak manusia, termasuk
hak untuk mati juga semakin meningkat.
Perbuatan menghentikan atau mencabut segala tindakan atau pengobatan yang
diperlukan untuk mempertahankan hidup manusia merupakan salah satu bentuk euthanasia,
yaitu euthanasia pasif. Euthanasia termasuk dalam masalah di bidang kesehatan yang erat
kaitannya dengan aspek hukum. Dalam beberapa kasus tindakan euthanasia memang
diperlukan, namun di pihak lain tindakan ini tidak dapat diterima, bertentangan dengan
moral, hukum, dan agama.
Jika ditinjau ke belakang, boleh dikatakan bahwa masalah euthanasia sudah ada sejak
kalangan kesehatan menghadapi penyakit yang tidak tersembuhkan, sementara pasien dalam
keadaan merana dan sekarat. Sering dihadapi dalam situasi demikian pasien memohon agar
dibebaskan dari penderitaan dan agar hidupnya tidak diperpanjang lagi. Istilah euthanasia
muncul karena adanya permintaan untuk melepas kehidupan seseorang agar terbebas dari
penderitaannnya atau mati secara baik.
Euthanasia merupakan permasalahan yang dilematis bagi dokter. Dokter menghadapi
kebingungan hal apa yang harus dilakukan saat menghadapi masalah pelik tersebut, misalya
pada kanker stadium terminal dengan penderitaan hebat, namun obat yang dapat
menyembuhkannya belum ditemukan.
Untuk dapat memahami pandangan tentang euthanasia kita perlu mempelajari etika
kedokteran, dampak hukum, informed consent, dan prosedur medis yang dapat
memperpanjang hidup pasien.

BAB II
PEMBAHASAN

Berdasarkan kasus yang didapat, di mana seorang pasien berusia 62 tahun datang ke
rumah sakit dengan karsinoma kolon yang telah terminal. Pasien masih cukup sadar
berpendidikan cukup tinggi. Ia memahami benar posisi kesehatannya dan keterbatasan
kemampuan ilmu kedokteran saat ini. Ia juga memiliki pengalaman pahit sewaktu kakaknya
menjelang ajalnya dirawat ICU dengan peralatan bermacam-macam tampak sangat
menderita, dan alat-alat tersbut tampaknya hanya memperpanjang deritanya saja. Oleh
karena itu ia meminta kepada dokter, apabila dia mendekati ajalnya agar menerima terapi
yang minimal saja (tanpa antibiotika, tanpa peralatan ICU, dan lain-lain ). Dan ia ingin
mati dengan tenang dan wajar. Namun ia tetap saja setuju apabila ia menerima obat-obatan
penghilang rasa sakit bila memang dibutuhkan.
Pada kasus tersebut, penting bagi kita untuk mengetahui :
1. Apakah pasien sadar dalam mengambil dan memutuskan tindakannya tersebut.
2. Dan apakah, pasien benar-benar telah mengerti dan memahami betul tentang
penyakit yang ia derita, kemudian
3. Bagaimana tanggapan dari keluarga pasien tersebut
Jika memang diperlukan, maka kita dapat merujuk pasien pada bagian psikiatri.
Etika kedokteran
Etik (Ethics) berasal dari kata Yunani ethos, yang berarti akhlak, adat kebiasaan,
watak, perasaan, sikap, yang baik, yang layak. Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia
(Purwadarminta, 1953), etika adalah ilmu pengetahuan tentang azas akhlak. Sedangkan
menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
(1988), etika adalah :
1. Ilmu tentang apa yang baik, apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral
2. Kumpulan atau seperangkat asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak
3. Nilai yang benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat
Menurut Kamus Kedokteran (Ramli dan Pamuncak, 1987), etika adalah pengetahuan
tentang perilaku yang benar dalam suatu profesi.

Istilah etika dan etik sering dipertukarkan pemakaiannya dan tidak jelas perbedaan
antara keduanya. Dalam buku ini, yang dimaksud dengan etika adlah ilmu yang mempelajari
azas akhlak, sedangkan etik adalah seperangkat asa atau nilai yang berkaitan dengan akhlak
seperti dalam Kode Etik. Istilah etis biasanya digunakan untuk menyatakan sesuatu sikap atau
pandangan yang secara etis dapat diterima (ethically acceptable) atau tidak dapat diterima
(ethically unacceptable, tidak etis.
Pekerjaan profesi (professio berarti pengakuan) merupakan pekerjaan yang
memerlukan pendidikan dan latihan tertentu, memiliki kedudukan yang tinggi dalam
masyarakat, seperti ahli hukum (hakim, pengacara), wartawan, dosen, dokter, dokter gigi, dn
apoteker.
Pekerjaan profesi umumnya memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Pendidikan sesuai standar nasional


Mengutamakan panggilan kemanusiaan
Berlandaskan etik profesi, mengikat seumur hidup
Legal melalui perizinan
Belajar sepanjang hayat
Anggota bergabung dalam satu organisasi profesi
Dalam pekerjaan profesi sangat dihandalkan etik profesi dalam memberikan

pelayanan kepada publik. Etik profesi merupakan seperangkat perilaku anggota profesi dalam
hubungannya dengan orang lain. Pengamalan etika membuat kelompok menjadi baik dalam
arti moral.
Ciri-ciri profesi adalah sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.

Berlaku untuk lingkungan profesi


Disusun oleh organisasi profesi bersangkutan
Mengandung kewajiban dan larangan
Menggugah sikap manusiawi
Profesi kedokteran merupakan profesi yang tertua dan dikenal sebagai profesi yang

mulia karena ia berdahapan dengan hal yang paling berharga dalam hidup seseorang yaitu
masalah kesehatan dan kehidupan.
Menurut Pasal 1 butir 11 Undang Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik
Kedokteran profesi kedokteran atau kedokteran gigi adalah suatu pekerjaan kedokteran atau

kedokteran gigi yang dilaksanakn berdasarkan suatu keilmuan, kompetensi yang diperoleh
melalui pendidikan berjenjang dan kode etik yang bersifat melayani masyarakat.
Tujuan pendidikan etika dalam pendidikan dokter adalah untuk menjadikan calon
dokter lebih manusiawi dengan memiliki kematangan intelektual dan emosional. Para
pendidik masa lalu melihat perlu tersedia berbagai pedoman agar anggotanya dapat
menjalankan profesinya dengan benar dan baik. Para pendidik di bidang kesehatan masa lalu
melihat adanya peluang yang diharapkan tidak akan terjadi sehingga merasa perlu membuat
rambu-rambu yang akan mengingatkan para peserta didik yang dilepas di tengah-tengah
masyarakat selalu mengingat pedoman yang membatasi mereka untuk berbuat yang tidak
layak.
Etika profesi kedokteran merupakan seperangkat perilaku para dokterdan dokter gigi
dalam hubungannya dengan pasien, keluarga, masyarakat, teman sejawat dan mitra kerja.
Rumusan perilaku para anggota profesi disusun oleh organisasi profesi bersama-sama
pemerintah menjadi suatu kode etik profesi yang bersangkutan. Tiap-tiap jenis tenaga
kesehatan telah memiliki Kode Etiknya, namun Kode Etik tenaga kesehatan tersebut
mengacu pada Kode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI).2
Prinsip-prinsip etika kedokteran
Kaidah dasar (prinsip) Etika / Bioetik adalah aksioma yang mempermudah penalaran
etik. Prinsip-prinsip itu harus spesifik. Pada praktiknya, satu prinsip dapat dibersamakan
dengan prinsip yang lain. Tetapi pada beberapa kasus, karena kondisi berbeda, satu prinsip
menjadi lebih penting dan sah untuk digunakan dengan mengorbankan prinsip yang lain.
Keadaan terakhir disebut dengan prima facie. Konsil Kedokteran Indonesia, dengan
mengadopsi prinsip etika kedokteran barat, menetapkan bahwa, praktik kedokteran Indonesia
mengacu kepada 4 kaidah dasar moral (sering disebut kaidah dasar etika kedokteran atau
bioetika).
4 kaidah dasar moral itu antara lain adalah:
1. Menghormati martabat manusia (respect for person/autonomy). Menghormati
martabat manusia. Pertama, setiap individu (pasien) harus diperlakukan sebagai
manusia yang memiliki otonomi (hak untuk menentukan nasib diri sendiri), dan

kedua, setiap manusia yang otonominya berkurang atau hilang perlu mendapatkan
perlindungan. Menurut pandangan Kant, otonomi kehendak sama dengan otonomi
moral yakni kebebasan bertindak, memutuskan (memilih) dan menentukan diri sendiri
sesuai dengan kesadaran terbaik bagi dirinya yang ditentukan sendiri tanpa hambatan,
paksaan atau campur-tangan pihak luar (heteronomi), suatu motivasi dari dalam
berdasar prinsip rasional atau self-legislation dari manusia. Sedangkan menurut
pandangan J. Stuart Mill, otonomi tindakan/pemikiran adalah otonomi individu, yakni
kemampuan melakukan pemikiran dan tindakan (merealisasikan keputusan dan
kemampuan melaksanakannya), hak penentuan diri dari sisi pandang pribadi.
a. Menghendaki, menyetujui, membenarkan, mendukung, membela, membiarkan
pasien demi dirinya sendiri = otonom (sebagai mahluk bermartabat).
b. Didewa-dewakan di Anglo-American yang individualismenya tinggi.
c. Kaidah ikutannya ialah : Tell the truth, hormatilah hak privasi liyan, lindungi
informasi konfidensial, mintalah consent untuk intervensi diri pasien; bila
ditanya, bantulah membuat keputusan penting.
d. Erat terkait dengan doktrin informed-consent, kompetensi (termasuk untuk
kepentingan

peradilan),

penggunaan

teknologi

baru,

dampak

yang

dimaksudkan (intended) atau dampak tak laik-bayang (foreseen effects),


letting die.
2. Berbuat baik (beneficence). Selain menghormati martabat manusia, dokter juga harus
mengusahakan agar pasien yang dirawatnya terjaga keadaan kesehatannya (patient
welfare). Pengertian berbuat baik diartikan bersikap ramah atau menolong, lebih
dari sekedar memenuhi kewajiban. Beneficence dibagi menjadi 2 bagian yaitu general
beneficence dan specific beneficence.
a. General beneficence :
i. melindungi & mempertahankan hak yang lain.
ii. mencegah terjadi kerugian pada yang lain.
iii. menghilangkan kondisi penyebab kerugian pada yang lain.
b. Specific beneficence :
i. menolong orang cacat.
ii. menyelamatkan orang dari bahaya.
Prinsip ini mengutamakan kepentingan pasien, memandang pasien/keluarga/sesuatu
tak hanya sejauh menguntungkan dokter/rumah sakit/pihak lain, memaksimalisasi
akibat baik (termasuk jumlahnya yang lebih banyak daripada akibat-buruk), dan
menjamin nilai pokok : apa saja yang ada, pantas (elok) kita bersikap baik
terhadapnya (apalagi ada yg hidup).

3. Tidak berbuat yang merugikan (non-maleficence). Praktik Kedokteran haruslah


memilih pengobatan yang paling kecil risikonya dan paling besar manfaatnya.
Pernyataan kuno: first, do no harm, tetap berlaku dan harus diikuti.Sisi komplementer
beneficence dari sudut pandang pasien, seperti:
a. Tidak boleh berbuat jahat (evil) atau membuat derita (harm) pasien.
b. Minimalisasi akibat buruk
c. Kewajiban dokter untuk menganut ini berdasarkan hal-hal :
i. Pasien dalam keadaan amat berbahaya atau berisiko hilangnya sesuatu
yang penting
ii. Dokter sanggup mencegah bahaya atau kehilangan tersebut
iii. Tindakan kedokteran tadi terbukti efektif
iv. Manfaat bagi pasien lebih besar daripada kerugian dokter (hanya
mengalami risiko minimal).
d. Norma tunggal, isinya larangan.
4. Keadilan (justice). Perbedaan kedudukan sosial, tingkat ekonomi, pandangan politik,
agama dan faham kepercayaan, kebangsaan dan kewarganegaraan, status perkawinan,
serta perbedaan jender tidak boleh dan tidak dapat mengubah sikap dokter terhadap
pasiennya. Tidak ada pertimbangan lain selain kesehatan pasien yang menjadi
perhatian utama dokter. Prinsip ini bertujuan untukmenjamin nilai tak berhingga
setiap pasien sebagai mahluk berakal budi (bermartabat), khususnya : yang-hak dan
yang-baik.
a. Treat similar cases in a similar way = justice within morality.
b. Memberi perlakuan sama untuk setiap orang (keadilan sebagai fairness) yakni:
i. Memberi sumbangan relatif sama terhadap kebahagiaan diukur dari
kebutuhan mereka (kesamaan sumbangan sesuai kebutuhan pasien
yang memerlukan/membahagiakannya)
ii. Menuntut pengorbanan relatif sama, diukur dengan kemampuan
mereka (kesamaan beban sesuai dengan kemampuan pasien).
c. Jenis keadilan:
i. Komparatif (perbandingan antar kebutuhan penerima)
ii. Distributif (membagi sumber): kebajikan membagikan sumber-sumber
kenikmatan dan beban bersama, dengan cara rata/merata, sesuai
keselarasan sifat dan tingkat perbedaan jasmani-rohani; secara material
kepada setiap orang andil yang sama; pada setiap orang sesuai dengan
kebutuhannya; pada setiap orang sesuai upayanya; pada setiap orang
sesuai kontribusinya; pada setiap orang sesuai jasanya; pada setiap
orang sesuai bursa pasar bebas.
iii. Sosial, yaitu kebajikan melaksanakan dan memberikan kemakmuran

dan kesejahteraan bersama:


1. Utilitarian : memaksimalkan kemanfaatan publik dengan
strategi menekankan efisiensi social dan memaksimalkan
nikmat/keuntungan bagi pasien.
2. Libertarian : menekankan hak kemerdekaan social ekonomi
(mementingkan prosedur adil > hasil substantif/materiil).
3. Komunitarian : mementingkan tradisi komunitas tertentu
4. Egalitarian : kesamaan akses terhadap nikmat dalam hidup
yang dianggap bernilai oleh setiap individu rasional (sering
menerapkan criteria material kebutuhan dan kesamaan).
iv. Hukum (umum) yaitu:
1. Tukar
menukar,
yaitu
kebajikan
untuk
memberikan/mengembalikan hak-hak kepada yang berhak.
2. Pembagian sesuai dengan hukum (pengaturan untuk kedamaian
hidup bersama) mencapai kesejahteraan umum.
Prima Facie: dalam kondisi atau konteks tertentu, seorang dokter harus melakukan
pemilihan 1 kaidah dasar etik ter-absah sesuai konteksnya berdasarkan data atau situasi
konkrit terabsah (dalam bahasa fiqh ilat yang sesuai). Inilah yang disebut pemilihan
berdasarkan asas prima facie.
Norma dalam etika kedokteran (EK):
1. Merupakan norma moral yang hirarkinya lebih tinggi dari norma hukum dan norma
sopan santun (pergaulan).
2. Fakta fundamental hidup bersusila
Etika mewajibkan dokter secara mutlak, namun sekaligus tidak memaksa. Jadi dokter
tetap bebas,. Bisa menaati atau masa bodoh. Bila melanggar maka insan kamil
(kesadaran moral = suara hati)nya akan menegur sehingga timbul rasa bersalah,
menyesal, tidak tenang.
Sifat Etika Kedokteran:
1.
2.
3.
4.

Etika khusus (tidak sepenuhnya sama dengan etika umum).


Etika sosial (kewajiban terhadap manusia lain / pasien).
Etika individual (kewajiban terhadap diri sendiri = selfimposed, zelfoplegging).
Etika normatif (mengacu ke deontologis, kewajiban ke arah norma-norma yang
seringkali mendasar dan mengandung 4 sisi kewajiban = gesinnung yakni diri sendiri,

umum, teman sejawat dan pasien/klien & masyarakat khusus lainnya).


5. Etika profesi (biasa):
a. Bagian etika sosial tentang kewajiban & tanggungjawab profesi.
b. Bagian etika khusus yang mempertanyakan nilai-nilai,

norma-

norma/kewajiban-kewajiban dan keutamaan-keutamaan moral.


c. Sebagian isinya dilindungi hukum, misal hak kebebasan untuk menyimpan
rahasia pasien/rahasia jabatan (verschoningsrecht).
d. Hanya bisa dirumuskan berdasarkan pengetahuan & pengalaman profesi
kedokteran.
e. Untuk menjawab masalah yang dihadapi (bukan etika apriori); karena telah
berabad-abad, yang-baik & yang-buruk tadi dituangkan dalam kode etik
(sebagai kumpulan norma atau moralitas profesi).
f. Etika profesi berisi 2 norma pokok yaitu sikap bertanggungjawab atas hasil
pekerjaan dan dampak praktek profesi bagi orang lain dan bersikap adil dan
menghormati Hak Asasi Manusia (HAM).
6. Etika profesi luhur/mulia
Prinsip ini berisi 2 norma etika profesi biasa ditambah dengan bebas pamrih
(kepentingan pribadi dokter) dan ada idealisme : tekad untuk mempertahankan citacita luhur/etos profesi yaitulesprit de corpse pour officium nobile.
Ruang lingkup kesadaran etis : prihatin terhadap krisis moral akibat pengaruh teknologisasi
dan komersialisasi dunia kedokteran.4
Etika Klinik
Dalam pembuatan keputusan etik, terutama dalam situasi klinik, dapat juga dilakukan
pendekatan yang berbeda dengan pendekatan kaidah dasar moral. Terdapat 4 topik yang
esensial dalam pelayanan klinik menurut Jonsen, Siegler, dan Winslade, yaitu:
1. Indikasi medis (Medical indication)
2. Pilihan pasien (Patient preferences)
3. Kualitas (Quality of life)
4. Gambaran kontekstual (Contextual features)
Pada topik indikasi medis dibahas mengenai masalah medis pasien, prosedur
diagnostik dan terapi yang sesuai untuk mengevaluasi keadaan pasien dan mengobatinya,
kemungkinan akan keberhasilan pengobatan. Penilaian aspek indikasi medis ditinjau
menggunakan kaidah beneficence dan nonmaleficence. Seluruh informasi selayaknya
disampaikan kepada pasien pada doktrin inform consent.
Pada topik pilihan pasien kita memperhatikan nilai dan penilaian pasien tentang
manfaat dan risiko yang akan diterimanya, yang berarti cerminan kaidah autonomy. Jika

10

pasien tidak kompeten harus dipertimbangkan siapa yang akan mewakilinya. Dokter perlu
mengetahui alas an pasien tidak mau atau tidak mampu menerima pengobatan.
Topik kualitas hidup merupakan perwujudan tujuan kedokteran yaitu memperbaiki,
menjaga atau meningkatkan kualitas hidup insani. Bagaimana melakukan penilaian kualitas
hidup merupakan pertanyaan etik sekitar prognosis, yang berkaitan dengan beneficence,
nonmaleficence, dan autonomy.
Gambaran kontekstual membahas pertanyaan etik seputar aspek non medis yang
mempengaruhi keputusan, seperti faktor keluarga, ekonomi, agama, budaya, kerahasiaan,
alokasi sumber daya dan faktor hukum.2,4
Etik pada Akhir Kehidupan
Persoalan yang dihadapi professional kesehatan pada akhir kehidupan dapat berupa
masalah sederhana, seperti bolehkah kita menghentikan terapi cairan dan nutrisi pada
pasien?, persoalan yang lebih rumit seperti seberapa jauh keluarga berperan dalam
membuat keputusan medis terhadap pasien?, apa sikap dokter bila pasien meminta terapi
minimal? yang kemudian dihubungkan dengan isu tentang letting die naturally, physician
assisted suicide, physician assisted death, euthanasia, masalah fulitity, dan barin death.
Tindakan medis yang diketahui sebagai tindakan sia-sia (futile) saat ini
dipertimbangkan untuk tidak lagi dilanjutkan dan secara moral dapat dibenarkan apabila
tindakan tersebut dihentikan. Namun keputusan bahwa suatu tindakan medis adalah tindakan
sia-sia haruslah diambil dengan melalui pertimbangan yang ketat.4
Hak dan Kewajiban Dokter dan Pasien
Akhir-akhir ini keluhan masyarakat terhadap para dokter makin sering terdengar,
antara lain mengenai kurangnya waktu dokter yang disediakan untukpasiennya, kurang
lancarnya

komunikasi,

kurangnya

informasi

yang

diberikan

dokter

kepada

pasien/keluarganya, dan tingginya biaya pengobatan. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya
taraf pendidikan dan kesadaran hukum masyarakat, yaitu masyarakat lebih menyadari akan
haknya seiring dengan munculnya masalah-masalah hak asasi manusia di seluruh dunia,
lebih-lebih dalam dasawarsa terakhir ini.2
Hak pasien
Dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar R.I 1945 dengan tegas dicantumkan Sila
ke 2 Pancasila, yaitu kemanusiaan yang adil dan beradab. Dalam Declaration of Human
Rights Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB, 1948) dengan jelas dirumukan hak-hak asasi
manusia, yang antara lain berbunyi sebagai berikut:
11

Setiap orang dilahirkan merdeka dan memiliki hak yang sama. Mereka dikaruniai akal

dan busi dan hendaknya bergaul satu sama lain dalam persaudaraan.
Manusia dihormati sebagai manusia tanpa memperhatikan wilayah asal dan

keturunannya.
Setiap orang tidak boleh diperlakukan secara kejam.
Setiap orang diperlakukan sama di depan hukum dan tidak boleh dianggap bersalah,

kecuali pengadilan telah menyalahkannya.


Setiap orang berhak mendapat pendidikan, pekerjaan, dan jaminan sosial.
Setiap orang berhak memberikan pendapat.
Setiap orang berhak mendapat pelayanan dan perawatan kesehatan bagi dirinya dan
keluarganya, juga jaminan ketika menganggur, sakit, cacat, menjadi janda, usia lanjut
atau kekurangan nafkah yang disebabkan oleh hal-hal yang di luar kekuasaannya.

Dalam KODEKI terdapat pasal-pasal tentang kewajiban dokter terhadap pasien yang
merupakan pula hak-hak pasien yang perlu diperhatikan. Pada dasarnya hak-hak pasien
adalah sebagai berikut:
1. Hak untuk hidup, hak atas tubuhnya sendiri, dan hak untuk mati secara wajar.
2. Memperoleh pelayanan kedokteran yang manusiawi sesuai dengan standar profesi
kedokteran.
3. Memperoleh penjelasan tentang diagnosis dan terapi dari dokter yang menngobatinya.
4. Menolak prosedur diagnosis dan terapi yang direncanakan, bahkan dapat menarik diri
dari kontrak terapeutik.
5. Memperoleh penjelasan tentang riset kedokteran yang akan diikutinya.
6. Menolak atau menerima keikutsertaannya dalam riset kedokteran.
7. Dirujuk kepada dokter spesialis kalau diperlukan, dan dikembalikan kepada dokter
yang merujuknya setelah selesai konsultasi atau pengobatan untuk memperoleh
perawatan atau tindak lanjut.
8. Kerahasiaan dan rekam mediknya atas hal pribadi.
9. Memperoleh penjelasan tentang peraturan rumah sakit.
10. Berhubungan dengan keluarga, penasihat, atau rohaniawan, dan lain-lainyang
diperlukan selama perawatan di rumah sakit.
11. Memperoleh penjelasan tentang perincian biaya rawat inap, obat, pemeriksaan
laboratorium, pemeriksan Rontgen, Ultrasonografi (USG), CT-scan, Magnetic
Resonance Imaging (MRI), dan sebagainya, (kalau dilakukan) biaya kamar bedah,
kamar bersalin, imbalan jasa dokter, dan lain-lainnya.

12

Dalam memberikan informasi kepada pasien, kadang kala agak sulit menentukan informasi
yang mana yang harus diberikan, karena sangat bergantung pada usia, pendidikan, keadaan
umum pasien dan mentalnya. Namun, pada umumnya dapat dipedomani hal-hal berikut:
1. Informasi yang diberikan haruslah dengan bahasa yang dimengerti oleh pasien
2. Pasien harus dapat memperoleh infomasi tentang penyakitnya, tindakan-tindakan
yang akan diambil, kemungkinan komplikasi dan resiko-resikonya
3. Untuk anak-anak dan pasien penyakit jiwa, informasi diberikan kepada orang tua atau
walinya.2
Kewajiban pasien
Jika ada hak, tentu ada kewajiban. Dalam kontak terapeutik antara pasien dan dokter,
memang dokter mendahulukan hak pasien karena tugasnya merupakan panggilan
perikemanusiaan. Namun, pasien yang telah mengikatkan dirinya dengan dokter, perlu pula
memperhatikan kewajiban-kewajibannya sehingga hubungan dokter dan pasien yang sifatnya
saling hormat-menghormati dan saling percaya-mempercayai terpelihara baik.
Kewajiban-kewajiban pasien pada garis besarnya adalah sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.

Memeriksakan diri sedini mungkin pada dokter


Memberikan informasi yang benar dan lengkap tentang penyakitnya
Mematuhi nasihat dan petunjuk dokter
Menandatangani surat-surat PTM, surat jaminan dirawat di rumah sakit, dan lain-

lainnya
5. Yakin pada dokternya dan yakin akan sembuh
6. Melunasi biaya perawatan di rumah sakit, biaya pemeriksaan dan pengobatan serta
honorarium dokter2
Hak Dokter
Sebagai manusia biasa dokter memiliki tanggung jawab terhadap pribadi dan
keluarga, di samping tanggung jawab profesinya terhadap masyarakat sekitarnya.
Hak-hak dokter adalah sebagai berikut:
1. Melakukan praktik dokter setelah memperoleh Surat Izin Dokter (SID) dan Surat Izin
Praktik (SIP).
2. Memperoleh informasi yang benar dan lengkap dari pasien/keluarga tentang
penyakitnya.
3. Bekerja sesuai standar profesi.

13

4. Menolak melakukan tindakan medik yang bertentangan dengan etika, hukum, agama,
dan hati nuraninya.
5. Mengakhiri hubungan dengan seorang pasien jika menurut penilaiannya kerja sama
pasien dengannya tidak berguna lagi, kecuali dalam keadaan gawat darurat.
6. Menolak pasien yang bukan bidang spesialisasinya, kecuali dalam keadaan darurat
atau tidak ada dokter lain yang mampu menanganinya.
7. Hak atas kebebasan pribadi (privacy) dokter.
8. Ketenteraman bekerja.
9. Mengeluarkan surat-surat keterangan dokter.
10. Menerima imbalan jasa.
11. Menjadi anggota perrhimpunan profesi.
12. Hak mambela diri.2
Kewajiban Dokter
Dokter yang membuktikan hidupnya untuk perikemanusiaan tentulah akan selalu
lebih mengutamakan kewajiban di atas hak-hak ataupun kepentingan pribadinya.
Dalam menjalankan tugasnya, bagi dokter berlaku Aegroti Lex Suprema, yamg
berarti keselamatan pasien adalah hukum yang tertinggi (yang utama). Kewajiban dokter
yang terdiri dari kewajiban umum, kewajiban terhadap pasien, kewajiban terhadap teman
sejawat, dan kewajiban terhadap diri sendiri telah dibahas secara terinci dalam Bab 3 tentang
Kode Etik Kedokteran Indonesia.
Dalam Undang-Undang No. 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran Pasal 51
dinyatakan bahwa kewajiban dokter atau dokter gigi adalah:
a. Memberikan pelayanan medis sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur
operasional serta kebutuhan medis pasien
b. Merujuk pasien ke dokter atau dokter gigi lain yang mempunyai keahlian atau
kemampuan yang lebih baik, apabila tidak mampu melakukan suatu pemeriksan atau
pengobatan
c. Merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang pasien, bahkan juga setelah
pasien itu meninggal dunia
d. Melakukan pertolongan darurat atas dasar perikemanusiaan, kecuali bila ia yakin pada
orang lain yang bertugas dan mampu melakukannya, dan
e. Menambah ilmu pengetahuan dan mengikuti perkembangan ilmu keokteran atau
kedokteran gigi2

14

KODEKI (Kode etik kedokteran indonesia)


Kewajiban umum
Pasal 1
Setiap dokter harus menjunjung tinggi, menghayati dan mengamalkan sumpah dokter.
Pasal 2
Seorang dokter harus senantiasa berupaya melaksanakan profesinya sesuai dengan standar
profesi yang tertinggi.
Pasal 3
Dalam melakukan pekerjaan kedokterannya, seorang dokter tidak boleh dipengaruhi oleh
sesuatu yang mengakibatkan hilangnya kebebasan dan kemandirian profesi.
Pasal 4
Setiap dokter harus menghindarkan diri dari perbuatan yang bersifat memuji diri.
Pasal 5
Tiap perbuatan atau nasehat yang mungkin melemahkan daya tahan psikis maupun fisik
hanya diberikan untuk kepentingan dan kebaikan pasien, setelah memperoleh persetujuan
pasien.

Pasal 6
Setiap dokter harus senantiasa berhati-hati dalam mengumumkan dan menerapkan setiap
penemuan teknik atau pengobatan baru yang belum diuji kebenarannya dan hal-hal yang
dapat menimbulkan keresahan masyarakat.
Pasal 7
Seorang dokter hanya memberi surat keterangan dan pendapat yang telah diperiksa sendiri
kebenarannya.
Pasal 7a
Seorang dokter harus dalam setiap praktik medisnya memberikan pelayanan medis yang
kompeten dengan kebebasan teknis dan moral sepenuhnya, disertai rasa kasih sayang
(compassion) dan penghormatan atas martabat manusia.
Pasal 7 b
Seorang dokter harus bersikap jujur dalam berhubungan dengan pasien dan sejawatnya, dan
berupaya untuk mengingatkan sejawatnya yang dia ketahui memiliki kekurangan dalam

15

karakter atau kompetensi, atau yang melakukan penipuan atau penggelapan, dalam
menangani pasien.
Pasal 7c
Seorang dokter harus menghormati hak-hak pasien, hak-hak sejawatnya, dan hak tenaga
kesehatan lainnya, dan harus menjaga kepercayaan pasien.
Pasal 7d
Setiap dokter harus senantiasa mengingat akan kewajiban melindungi hidup makhluk insani.
Pasal 8
Dalam melakukan pekerjaannya seorang dokter harus memperhatikan kepentingan
masyarakat dan memperhatikan semua aspek pelayanan kesehatan yang menyeluruh
(promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif), baik fisik maupun psiko-sosial, serta berusaha
menjadi pendidik dan pengabdi masyarakat yang sebenar-benarnya.
Pasal 9
Setiap dokter dalam bekerja sama dengan para pejabat di bidang kesehatan dan bidang
lainnya serta masyarakat, harus saling menghormati.
Pasal 10
Setiap dokter wajib bersikap tulus ikhlas dan mempergunakan segala ilmu dan
ketrampilannya untuk kepentingan pasien. Dalam hal ini ia tidak mampu melakukan suatu
pemeriksaan atau pengobatan, maka atas persetujuan pasien, ia wajib merujuk pasien kepada
dokter yang mempunyai keahlian dalam penyakit tersebut.
Pasal 11
Setiap dokter harus memberikan kesempatan kepada pasien agar senantiasa dapat
berhubungan dengan keluarga dan penasehatnya dalam beribadat dan atau dalam masalah
lainnya.
Pasal 12
Setiap dokter wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang seorang pasien,
bahkan juga setelah pasien itu meninggal dunia.
Pasal 13
Setiap dokter wajib melakukan pertolongan darurat sebagai suatu tugas perikemanusiaan,
kecuali bila ia yakin ada orang lain bersedia dan mampu memberikannya.
Kewajiban dokter terhadap teman sejawat
Pasal 14

16

Setiap dokter memperlakukan teman sejawatnya sebagaimana ia sendiri ingin diperlakukan.


Pasal 15
Setiap dokter tidak boleh mengambil alih pasien dari teman sejawat, kecuali dengan
persetujuan atau berdasarkan prosedur yang etis.
Pasal 16
Setiap dokter harus memelihara kesehatannya, supaya dapat bekerja dengan baik.
Pasal 17
Setiap dokter harus senantiasa mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
kedokteran/kesehatan.
Penjelasan kode etik kedokteran indonesia
Pasal demi pasal
Pasal 1
Sumpah dokter di Indonesia telah diakui dalam PP No. 26 Tahun 1960. Lafal ini terus
disempurnakan sesuai dengan dinamika perkembangan internal dan eksternal protesi
kedokteran baik dalam lingkup nasional maupun internasional. Penyempurnaan dilakukan
pada Musyawarah Kerja Nasional Etik Kedokteran II tahun 1981, pada Rapat Kerja Nasional
Majelis Kehormatan Etika Kedokteran (MKEK) dan Majelis Pembinaan dan Pembelaan
Anggota (MP2A) tahun 1993, dan

pada Musyawarah Kerja Nasional Etik Kedokteran III,

tahun 2001.
Pasal 2
Yang dimaksud dengan ukuran tertinggi dalam melakukan protesi kedokteran mutakhir, yaitu
yang sesuai dengan perkembangan IPTEK Kedokteran, etika umum, etika kedokteran, hukum
dan agama, sesuai tingkat/jenjang pelayanan kesehatan, serta kondisi dan situasi setempat.
Pasal 3
Perbuatan berikut dipandang bertentangan dengan etik
1. Secara sendiri atau bersama-sama menerapkan pengetahuan dan ketrampilan kedokteran
dalam segala bentuk.
2. Menerima imbalan selain dari pada yang layak, sesuai dengan jasanya, kecuali dengan
keikhlasan dan pengetahuan dan atau kehendak pasien.

17

3. Membuat ikatan atau menerima imbalan dari perusahaan farmasi/obat, perusahaan alat
kesehatan/kedokteran atau badan lain yang dapat mempengaruhi pekerjaan dokter.
4. Melibatkan diri secara langsung atau tidak langsung untuk mempromosikan obat, alat atau
bahan lain guna kepentingan dan keuntungan pribadi dokter.
Pasal 4
Seorang dokter harus sadar bahwa pengetahuan dan ketrampilan profesi yang dimilikinya
adalah karena karunia dan kemurahan Tuhan Yang Maha Esa semata dengan demikian
imbalan jasa yang diminta harus di dalam batas-batas yang wajar.
Hal-hal berikut merupakan contoh yang dipandang bertentangan dengan Etik
a. Menggunakan gelar yang tidak menjadi haknya.
b. Mengiklankan kemampuan, atau kelebihan-kelebihan yang dimilikinya baik
lisan maupun dalam tulisan.
Pasal 5
Sebagai contoh, tindakan pembedahan pada waktu operasi adalah tindakan demi kepentingan
pasien.
Pasal 6
Yang dimaksud dengan mengumumkan ialah menyebarluaskan baik secara lisan, tulisan
maupun melalui cara lainnya kepada orang lain atau masyarakat.
Pasal 7 Cukup jelas.
Pasal 7a Cukup jelas.
Pasal 7b Cukup jelas.
Pasal 7c Cukup jelas.
Pasal 7d Cukup jelas.
Pasal 8 Cukup jelas.
Pasal 9 Cukup jelas.
Pasal 10
Dokter yang mempunyai keahlian dalam penyakit tersebut adalah dokter yang mempunyai
kompetensi keahlian di bidang tertentu menurut dokter yang waktu itu sedang menangani
pasien.
Pasal 11 Cukup jelas.
Pasal 12

18

Kewajiban ini sering disebut sebagai kewajiban memegang teguh rahasia jabatan yang
mempunyai aspek hukum dan tidak bersifat mutlak.
Pasal 13
Kewajiban ini dapat tidak dilaksanakan apabila dokter tersebut terancam jiwanya
Pasal 14 Cukup jelas.
Pasal 15
Secara etik seharusnya bila seorang dokter didatangi oleh seorang pasien yang diketahui telah
ditangani oleh dokter lain, maka ia segera memberitahu dokter yang telah terlebih dahulu
melayani pasien tersebut.
Hubungan dokter-pasien terputus bila pasien memutuskan hubungan tersebut.
Dalam hal ini dokter yang bersangkutan seyogyanya tetap memperhatikan kesehatan pasien,
yang bersangkutan sampai dengan saat pasien telah ditangani oleh dokter lain.5
Aspek Hukum
Sesuai dengan makin meningkatnya kesadaran akan hak untuk menentukan nasib
sendiri (self determination) di banyak negara mulai timbul gerakan dan penghargaan atas hak
seseorang untuk mengakhiri hidup. Dibeberapa negara hak ini diakui oleh pemerintah karena
diatur dalam undang-undang. Kitab Undang-undang Hukum Pidana mengatur seseorang
dapat dipidana atau dihukum jika ia menghilangkan nyawa orang lain dengan sengaja
ataupun kurang hati-hati. Ketentuan pelanggaran pidana yang berkaitan langsung dengan
euthanasia aktif terdapat pada pasal 344 KUHP.
Pasal 344 KUHP :
Barangsiapa menghilangkan jiwa orang lain atas permintaan orang itu sendiri, yang
disebutnya dengan nyata dan dengan sungguh-sungguh, dihukum penjara selama-lamanya
dua belas tahun.
Untuk jenis euthanasia aktif maupun pasif tanpa permintaan, beberapa pasal dibawah
ini perlu diketahui oleh dokter:
Pasal 338 KUHP:
Barangsiapa dengan sengaja menghilangkan jiwa orang lain, dihukum karena makar
mati, dengan penjara selama-lamanya lima belas tahun.
Pasal 340 KUHP :
Barangsiapa dengan sengaja dan direncanakan lebih dahulu menghilangkan jiwa
orang lain, dihukum, karena pembunuhan direncanakan (moord) dengan hukuman mati atau

19

penjara selama-lamanya seumur hidup atau penjara sementara selama-lamanya dua puluh
tahun.
Pasal 359 KUHP:
Barangsiapa karena salahnya menyebabkan matinya orang dihukum penjara selamalamanya lima tahun atau kurungan selama-lamanya satu tahun.
Selanjutnya dibawah ini dikemukakan sebuah ketentuan hukum yang mengingatkan
kalangan kesehatan untuk berhati-hati menghadapi kasus euthanasia.2,5
Pasal 345 KUHP:
Barangsiapa dengan sengaja menghasut orang lain untuk membunuh diri,
menolongnya dalam perbuatan itu, atau memberikan daya upaya itu jadi bunuh diri, dihukum
penjara selama-lamanya empat tahun.
Pasal ini mengingatkan dokter, jangankan melakukan euthanasia, menolong atau memberi
harapan kearah perbuatan itu sajapun sudah mendapat ancaman pidana.
Meskipun dalam KUHP pasal 344 jelas menyatakan bahwa Euthanasia diperbolehkan
jika dibawah permintaan pasien. Dalam hal ini apakah dokter harus menghilangkan nyawa
pasien atau euthanasia dengan teknik yang ada atau membiarkan pasien begitu saja atau
menyuruh pulang kembali ketengah keluarganya. Menyadari hal itu kewajiban dokter adalah
menghormati dan melindungi setiap insan dengan menjalankan tugasnya semata-mata hanya
untuk menyembuhkan dan mengurangi penderitaan pasien dengan ilmu pengetahuan yang
dimilikinya dan berdasarkan sumpah jabatan dan kode etik kedokteran.
Sehingga dalam ilmu kedokteran, bagi seorang dokter yg berkewajiban untuk
menghormati dan melindungi setiap insan dalam menjalankan tugasnya untuk melakukan
Euthanasia tidak dapat dihukum. Hal ini dapat dilihat dalam KUHP yang meberi
pengecualian dari hukuman dan deskriminalisasi yang dasar pemberiannya diperoleh baik
dalam KUHP itu sendiri.
Pasal 48 KUHP:
Barang siapa yang melakukan suatu perbuatan dibawah pengaruh suatu keadaan yang
memaksa.
Pasal 50 KUHP:

20

Barang siapa yang melakukan suatu perbuatan untuk melaksanakan ketentuan


undang-undang, tidak dipidana.
Apa yang dimaksudkan dalam pasal 50 KUHP ini dapat dilihat dari petugas pelaksana
hukuman mati. Dia membunuh karena diperintahkan oleh hukum sehingga ia membunuh tapi
ia tidak dapat dihukum.2,6
Sanksi seorang dokter tidak memperoleh persetujuan tindakan kedokteran:
1. Sanksi pidana
-

penyerangan (assault)

kalau seorang dokter melakukan operasi kepada pasien tanpa persetujuan


tindakan kedokteran dapat kena sanksi pidana Pasal 351 KUHP tentang
penganiayaan.

2. Sanksi perdata
-

Pasal 1365 KUH Perdata

Pasal 1367 KUH Perdata

Pasal 1370 KUH Perdata

Pasal 1371 KUH Perdata

3. Sanksi Administratif
a. Pasal 69 UU RI No.29 tahun 2004
1. Keputusan Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia mengikat dokter, dokter
gigi dan Konsil Kedokteran Indonesia.
2. Keputusan sebagaimana dimaksud pada ayat 1 dapat berupa dinyatakan tidak bersalah atau
pemberian sanksi disiplin.
3. Sanksi disiplin sebagaimana dimaksud pada ayat 2 dapat berupa:
- pemberian peringatan tertulis
- rekomendasi pencabutan surat tanda registrasi atau surat izin praktik
- kewajiban mengikuti pendidikan atau pelatihan di institusi pendidikan kedokteran atau
kedokteran gigi.
Pasal 25 Permenkes No.1419/Menkes/Per/IX/2005
1. Dalam rangka pembinaan dan pengawasan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dapat
mengambil tindakan administratif terhadap pelanggaran peraturan ini.

21

2. Sanksi administratif sebagaimana dimaksud ayat 1 dapat berupa peringatan lisan, tertulis
sampai dengan pencabutan SIP.
3. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dalam memberikan sanksi administratif sebagaimana
dimaksud ayat 2 terlebih dahulu dapat mendengar pertimbangan organisasi profesi.
Pasal 26 Permenkes No.1419/Menkes/Per/IX/2005
Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dapat mencabut SIP dokter dan dokter gigi:
a. Atas dasar keputusan MKDKI
b. STR dokter atau dokter dicabut oleh Konsil Kedokteran Indonesia
c. Melakukan tindakan pidana.12
Rekam Medis
Dalam penjelasan Pasal 46 ayat (1) UU Praktik Kedokteran, yang dimaksud dengan
rekam medis adalah berkas yang berisi catatan dan dokumen tentang identitas pasien,
pemeriksaan, pengobatan, tindakan dan pelayanan lain yang telah diberikan kepada pasien.
Dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 749a/Menkes/Per/XII/1989 tentang Rekam
Medis dijelaskan bahwa rekam medis adalah berkas yang berisikan catatan dan dokumen
tentang identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan dan pelayanan lain kepada
pasien pada sarana pelayanan kesehatan. Kedua pengertian rekam medis diatas menunjukkan
perbedaan yaitu Permenkes hanya menekankan pada sarana pelayanan kesehatan, sedangkan
dalam UU Praktik Kedokteran tidak.
Ini menunjukan pengaturan rekam medis pada UU Praktik Kedokteran lebih luas, berlaku
baik untuk sarana kesehatan maupun di luar sarana kesehatan.

Isi Rekam Medis


Catatan, merupakan uraian tentang identitas pasien, pemeriksaan pasien,
diagnosis, pengobatan, tindakan dan pelayanan lain baik dilakukan oleh dokter
dan

dokter gigi

maupun

tenaga

kesehatan

lainnya

sesuai

dengan

kompetensinya.
Dokumen, merupakan kelengkapan dari catatan tersebut, antara lain foto
rontgen, hasil laboratorium dan keterangan lain sesuai dengan kompetensi
keilmuannya.

Jenis Rekam Medis

Rekam medis konvensional

22

Rekam medis elektronik

Pembuat Rekam Medis


Dokter dan Dokter Gigi
Pengertian dokter dan dokter gigi sebagaimana dimaksud dalam UU Praktik
Kedokteran adalah dokter, dokter spesialis, dokter gigi dan dokter gigi spesialis
lulusan pendidikan kedokteran atau kedokteran gigi baik di dalam maupun diluar
negeri yang diakui Pemerintah Republik Indonesia sesuai dengan peraturan
perundangundangan.
Tenaga Kesehatan
Dalam UU Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan ditegaskan bahwa tenaga
kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta
memiliki pengetahuan dan atau keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan
yang untuk jenis tuntutan memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya
kesehatan. Tenaga kesehatan yang diatur dalam Pasal 2 ayat (2) sampai dengan ayat
(8) Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan terdiri
dari :
Tenaga medis meliputi dokter dan dokter gigi;
Tenaga keperawatan meliputi perawat dan bidan;
Tenaga kefarmasian meliputi apoteker, analis farmasi dan asisten apoteker;
Tenaga kesehatan masyarakat meliputi epidemiolog kesehatan, entomolog
kesehatan,

mikrobiolog

kesehatan,

penyuluh

kesehatan,

administrator

kesehatan dan sanitarian;


Tenaga gizi meliputi nutrisionis dan dietisien;
Tenaga keterapian fisik meliputi fisioterapis, okupasiterapis dan terapis
wicara;
Tenaga keteknisian medis meliputi radiografer, radioterapis, teknisi gigi,
teknisi elektromedis, analis kesehatan, refraksionis optisien, othotik prostetik,
teknisi tranfusi dan perekam medis;
Dalam UU Praktik Kedokteran yang dimaksud dengan Petugas adalah
dokter, dokter gigi atau tenaga kesehatan lain yang memberikan pelayanan langsung
23

kepada pasien. Bila menyimak ketentuan perundangundangan yang ada (PP No. 32
Tahun 1996), maka yang dimaksud petugas dalam kaitannya dengan tenaga kesehatan
adalah dokter, dokter gigi, perawat, bidan, dan keteknisian medis.
Menurut UU Praktik Kedokteran yang dimaksud Sarana Pelayanan Kesehatan
adalah tempat penyelenggaraan upaya pelayanan kesehatan yang dapat digunakan
untuk praktik kedokteran atau kedokteran gigi. Sarana tersebut meliputi balai
pengobatan, pusat kesehatan masyarakat, rumah sakit umum, rumah sakit khusus dan
praktik dokter (sesuai dengan UU Kesehatan).

Manfaat Rekam Medis


Pengobatan Pasien
Rekam medis bermanfaat sebagai dasar dan petunjuk untuk merencanakan dan
menganalisis penyakit serta merencanakan pengobatan, perawatan dan
tindakan medis yang harus diberikan kepada pasien.

Peningkatan Kualitas Pelayanan


Membuat Rekam Medis bagi penyelenggaraan praktik kedokteran dengan
jelas dan lengkap akan meningkatkan kualitas pelayanan untuk melindungi
tenaga medis dan untuk pencapaian kesehatan masyarakat yang optimal.

Pendidikan dan Penelitian


Rekam medis yang merupakan informasi perkembangan kronologis penyakit,
pelayanan medis, pengobatan dan tindakan medis, bermanfaat untuk bahan
informasi bagi perkembangan pengajaran dan penelitian di bidang profesi
kedokteran dan kedokteran gigi.

Pembiayaan
Berkas rekam medis dapat dijadikan petunjuk dan bahan untukn menetapkan
pembiayaan dalam pelayanan kesehatan pada sarana kesehatan. Catatan
tersebut dapat dipakai sebagai bukti pembiayaan kepada pasien.

Statistik Kesehatan

24

Rekam medis dapat digunakan sebagai bahan statistik kesehatan, khususnya


untuk

mempelajari

perkembangan

kesehatan

masyarakat

dan

untuk

menentukan jumlah penderita pada penyakit-penyakit tertentu.

Pembuktian Masalah Hukum, Disiplin dan Etik


Rekam medis merupakan alat bukti tertulis utama, sehingga bermanfaat dalam
penyelesaian masalah hukum, disiplin dan etik.

Isi Rekam medis

Rekam Medis Pasien Rawat Jalan


Isi rekam medis sekurang-kurangnya memuat catatan/dokumen tentang:
- identitas pasien;
- pemeriksaan fisik;
- diagnosis/masalah;
- tindakan/pengobatan;
- pelayanan lain yang telah diberikan kepada pasien.

Rekam Medis Pasien Rawat Inap


Rekam medis untuk pasien rawat inap sekurang-kurangnya memuat:
- identitas pasien;
- pemeriksaan;
- diagnosis/masalah;
- persetujuan tindakan medis (bila ada);
- tindakan/pengobatan;
- pelayanan lain yang telah diberikan kepada pasien.

Selain dokter dan dokter gigi yang membuat/mengisi rekam medis, tenaga
kesehatan lain yang memberikan pelayanan langsung kepada pasien dapat

25

membuat/mengisi rekam medis atas perintah/pendelegasian secara tertulis dari dokter


dan dokter gigi yang menjalankan praktik kedokteran.

Tata cara penyelenggaraan rekam medis


Pasal 46 ayat (1) UU Praktik Kedokteran menegaskan bahwa dokter dan dokter
gigi wajib membuat rekam medis dalam menjalankan praktik kedokteran. Setelah
memberikan pelayanan praktik kedokteran kepada pasien, dokter dan dokter gigi
segera melengkapi rekam medis dengan mengisi atau menulis semua pelayanan
praktik kedokteran yang telah dilakukannya. Setiap catatan dalam rekam medis harus
dibubuhi nama, waktu, dan tanda tangan petugas yang memberikan pelayanan atau
tindakan. Apabila dalam pencatatan rekam medis menggunakan teknlogi informasi
elektronik, kewajiban membubuhi tanda tangan dapat diganti dengan menggunakan
nomor identitas pribadi/personal identification number (PIN).
Dalam hal terjadi kesalahan saat melakukan pencatatan pada rekam medis,
catatan dan berkas tidak boleh dihilangkan atau dihapus dengan cara apapun.
Perubahan catatan atas kesalahan dalam rekam medis hanya dapat dilakukan dengan
pencoretan dan kemudian dibubuhi paraf petugas yang bersangkutan. Lebih lanjut
penjelasan tentang tata cara ini dapat dibaca pada Peraturan Menteri Kesehatan
tentang Rekam Medis dan pedoman pelaksanaannya.

Kepemilikan Rekam Medis


Sesuai UU Praktik Kedokteran, berkas rekam medis menjadi milik dokter,
dokter gigi, atau sarana pelayanan kesehatan, sedangkan isi rekam medis dan
lampiran dokumen menjadi milik pasien.

Penyimpanan Rekam Medis


Rekam medis harus disimpan dan dijaga kerahasiaan oleh dokter, dokter gigi
dan pimpinan sarana kesehatan. Batas waktu lama penyimpanan menurut Peraturan
Menteri Kesehatan paling lama 5 tahun dan resume rekam medis paling sedikit 25
tahun.

26

Pengorganisasian Rekam medis


Pengorganisasian rekam medis sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan
Nomor 749a/Menkes/Per/XII/1989 tentang Rekam Medis (saat ini sedang direvisi)
dan pedoman pelaksanaannya.

Pembinaan, pengendalian, dan pengawasan


Untuk Pembinaan, Pengendalian dan Pengawasan tahap Rekam Medis
dilakukan oleh pemerintah pusat, Konsil Kedokteran Indonesia, pemerintah daerah,
organisasi profesi.

Aspek Hukum, Disiplin, Etik dan Kerahasiaan Rekam Medis

Rekam Medis Sebagai Alat Bukti


Rekam medis dapat digunakan sebagai salah satu alat bukti tertulis di
pengadilan.

Kerahasiaan Rekam Medis


Setiap dokter atau dokter gigi dalam melaksanakan praktik kedokteran wajib
menyimpan kerahasiaan yang menyangkut riwayat penyakit pasien yang
tertuang dalam rekam medis. Rahasia kedokteran tersebut dapat dibuka hanya
untuk kepentingan pasien untuk memenuhi permintaan aparat penegak hukum
(hakim majelis), permintaan pasien sendiri atau berdasarkan ketentuan
perundang-undangan yang berlaku. Berdasarkan Kitab Undang-Undang
Hukum Acara Pidana, rahasia kedokteran (isi rekam medis) baru dapat dibuka
bila diminta oleh hakim majelis di hadapan sidang majelis. Dokter dan dokter
gigi bertanggung jawab atas kerahasiaan rekam medis sedangkan kepala
sarana pelayanan kesehatan bertanggung jawab menyimpan rekam medis.

Sanksi Hukum
Dalam Pasal 79 UU Praktik Kedokteran secara tegas mengatur bahwa setiap
dokter atau dokter gigi yang dengan sengaja tidak membuat rekam medis
dapat dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun atau denda
paling banyak Rp 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah).

27

Selain tanggung jawab pidana, dokter dan dokter gigi yang tidak membuat
rekam medis juga dapat dikenakan sanksi secara perdata, karena dokter dan
dokter

gigi

tidak

melakukan

yang

seharusnya

dilakukan

(ingkar

janji/wanprestasi) dalam hubungan dokter dengan pasien.

Sanksi Disiplin dan Etik


Dokter dan dokter gigi yang tidak membuat rekam medis selain mendapat
sanksi hukum juga dapat dikenakan sanksi disiplin dan etik sesuai dengan UU
Praktik Kedokteran, Peraturan KKI, Kode Etik Kedokteran Indonesia
(KODEKI) dan Kode Etik Kedokteran Gigi Indonesia (KODEKGI).
Dalam Peraturan Konsil Kedokteran Indonesia Nomor 16/KKI/PER/VIII/2006
tentang Tata Cara Penanganan Kasus Dugaan Pelanggaran Disiplin MKDKI
dan MKDKIP, ada tiga alternatif sanksi disiplin yaitu :
o Pemberian peringatan tertulis.
o Rekomendasi pencabutan surat tanda registrasi atau surat izin praktik.
o Kewajiban mengikuti pendidikan atau pelatihan di institusi pendidikan
kedokteran atau kedokteran gigi.
Selain sanksi disiplin, dokter dan dokter gigi yang tidak membuat rekam
medis dapat dikenakan sanksi etik oleh organisasi profesi yaitu Majelis
Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) dan Majelis Kehormatan Etik
Kedokteran Gigi (MKEKG).3

INFORM CONSENT
Informed consent adalah suatu proses yang menunjukkan komunikasi yang efektif
antara dokter dengan pasien, dan bertemunya pemikiran tentang apa yang akan dan apa yang
dilakukan terhadap pasien. Ia bukanlah perjanjian antara dua pihak, melainkan lebih kea rah
persetujuan sepihak atas layanan yang ditawarkan pihak lain:
Informed consent memiliki tiga elemen, yaitu :
1. Threshold elements

28

Elemen ini sebenarnya tidak tepat dianggap sebagai elemen, oleh karena sifatnya
lebih kea rah syarat, yaitu pemberi consent haruslah seseorang yang kompeten,
bermaksud bias membuat keputusan (medis). Secara hukum seseorang dianggap
kompeten adalah apabila telah dewasa sadar dan berada dalam keadan mental yang
tidak di bawah pengampunan. Dewasa berarti sebagai usia telah mencapai 21 tahun
atau telah pernah menikah. Sedangkan keadaan mental yang dianggap tidak kompeten
adalah apabila ia mepunyai penyakit mental sedemikian rpa atau perkembangan
mentalnya terbelakang sedemikian rupa, sehingga kemampuan untuk membuat
keputusan terganggu.
2. Information elements
Elemen ini terdiri dari bagian, yaitu disclosure (pengungkapan) dan understanding
(pemahaman). Dalam hal ini seberapa baik informasi harus diberikan agar pasien
dapat dilihat dari 3 standar , yaitu:

Standar Praktek Profesi


Kewajiban meberikan informasi dan kriteria ke-adekuat-an informasi
ditentukan bagaimana biasa dilakukan dalam komunitas tenaga medis, tanpa
dan memperhatikan keingintahuan dan kemampuan pemahaman individu yang
diharapkan menerima informasi tersebut. Kemungkinan bahwa kebiasaan
tersebut tidak sesuai dengan nilai sosial setempat.

Standar Subjektif
Keputusan harus didasarkan atas nilai nilai yang dianut oleh pasien secara
pribadi sehingga informasi yang diberikan harus memadai untuk pasien
tersebut mengambil keputusan. Sebaliknya dalah sukar untuk tenaga medis
melaksanakan standar ini karena adalah mustahil untuk memahami nilai-nilai
yang secara individual dianut oleh pasien.

Standar pada Reasonable Person

29

Ini adalah hasil kompromi dari kedua standar sebelumnya, yaitu dianggap
cukup apabila informasi yang diberikan telah memenuhi kebutuhan pada
umumnya orang awam.Subelemen pemahaman dipengaruhi oleh penyakitnya,
irrasionalitas dan imaturitas. Jika elemen ini tidak dilaksanakan maka dokter
diangap telah lalai melaksanakan tugasnya member informasi adekuat.
3. Consent Elements
Terdiri dari dua bagian yaitu voluntariness (kesukarelaan, kebebasan) dan
authorization (persetujuan). Pasien harus bebas dari tekanan yang dilakukan oleh
tenaga medis . persuasi yang tidak berlebihan masih dapat dibenarkan secara moral.
Consent dapat diberikan:
a) Dinyatakan
Secara lisan
Secara bertulis, apabila diperlukan bukti dikemudian hari, umujmnya pada
tindakan invasive atau tindakan yang mempengarui kesehatan pasien secara
bermakna. Permenkes tentantg persetujuan Tindakan Medis menyatakan
bahwa semua jenis tindakan operatf harus memperoleh persetujuan tertulis.
b) Tidak dinyatakan (implied)
pasien tidak menyatakannya, baik secara lisan maupon tertulis, namun
melakukan tingkah laku (gerakan) yang menunjukkan jawabannya. Meskipon
consent jenis ini tidak memiliki bukti, namun consent jenis inilah yang paling
banyak dilakukan dalam praktek sehari-hari.Misalnya adalah seseorang yang
menggulung lengan bajunya dan mengulurkan lengannya ketika diambil
darahnya.
Informed consent memiliki lingkup terbatas pada hal-hal yang telah dinyatakan
sebelumnya, tidak dapat di anggap sebagai persetujuan atas semua tindakan yang akan
dilakukan. Dokter dapat bertindak melebihi yang telah disepakati hanya apabila gawat darurat
dan keadaan tersebut membutuhkan waktu yang singkat untuk mengatasinya.

30

Proxy consent adalah consent yang diberikan oleh orang yang bukan si pasien itu
sendiri, dengan syarat bahwa pasien tidak mampu memberikan consent secara pribadi dan
consent tersebut harus mendekati apa yang sekiranya akan diberikan oleh pasien apabila ia
mampu memberikannya(baik buat pasien bukan baik buat orang banyak). Umumnya urutan
orang yang dapat memberikan proxy consent adalah suami/isteri, anak, orang tua, saudara
kandung dan lain-lain. Proxy consent hanya boleh dilakukan dengan pertimbangan yang
matang dan ketat. Hak menolak terapi lebih sukar diterima oleh profesi kedokteran daripada
hak menyetujui terapi. Banyak ahli yang mengatakan bahwa hak menolak terapi bersifat tidak
absolute artinya masih dapat ditolak atau tidak diterima oleh dokter. Hal ini karena dokter
akan mengalami konflik moral dengan kewajiban menghormati kehidupan, kewajiban untuk
mencegah perbuatan yang bersifat bunuh diri atau self inflicted, kewajiban melindungi pihak
ketiga dan integritas etis profesi dokter.
Pengaruh Konteks
Doktrin informed consent tidak berlaku pada 5 keadaan yaitu:
1)
2)
3)
4)
5)

Keadaan darurat medis


Ancaman terhadap kesehatan masyarakat
Pelepasan hak memberikan consent
Clinical privilege
Pasien yang tidak kompeten memberikan consent
Contextual circumstances juga seringkali mempengaruhi pola perolehan informed

consent. Seorang yang dianggap sudah pikun, orang yang dianggap memiliki mental yang
lemah untuk dapat menerima kenyataan, dan orang dalam keadaan terminal seringkali tidak
dianggap cakap menerima informasi yang benar apalagi membuat keputusan medis. Banyak
keluarga pasien melarang dokter untuk berkata benar kepada pasien tantang keadaan
sakitnya. Pengaruh budaya Timur pada umumnya sangat terasa dalam praktek informed
consent. Umumnya keputusan medis dipahami sebgai proses dalam keluarga, pasien sendiri
umumnya mendesak untuk berkonsultasi dahulu dengan keluarganya untuk menjaga
keharmonisan keluarga. Persetujuan tindakan medis umumnya diberikan oleh keluarga dekat
pasien oleh karena pasien cenderung untuk menyerahkan permasalahan medisnya kepada
keluarga terdekatnya. Nilai yang lebih bersifat kolektif seperti ini juga terlihat pada rahsia
kedokteran. Budaya, kebiasaan dan tingkat pendidikan juga mempengaruhi cara dan

31

keadekuatan berkomunikasi antara dokter dan pasien. Keluhan pasien tentang proses
informed consent adalah:
Bahasa yang digunakan untuk menjelaskan terlalu teknis
Perilaku dokter yang terlihat terburu-buru atau tidak perhatian atau tidak ada
waktu untuk tanya jawab
Pasien sedang stress emosional sehingga tidak mampu mencerna informasi
Pasien dalam keadaan tidak sadar atau mengantuk
Sebaliknya dokter juga mengeluhkan hal-hal seperti:

Pasien tidak mau diberitahu


Pasien xmampu memahami
Risiko terlalu umum atau terlalu jarang terjadi
Situasi gawat darurat atau waktu yang sempit

Contoh Informed Consent


SURAT PERSETUJUAN/PENOLAKAN MEDIS KHUSUS
Saya yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama
:
(L/P)
Umur
:
Alamat
:
Telp
:
Menyatakan dengan sesungguhnya dari saya sendiri/*sebagai orang tua/*suami/*istri/*anak/*wali
dari :
Nama
:
(L/P)
Umur
:
Dengan

ini

menyatakan

SETUJU/MENOLAK

32

untuk

dilakukan

Tindakan

Medis

berupa.
Dari penjelasan yang diberikan, telah saya mengerti segala hal yang berhubungan dengan penyakit
tersebut, serta tindakan medis yang akan dilakukan dan kemungkinana pasca tindakan yang dapat
terjadi sesuai penjelasan yang diberikan.
Jakarta,.20
Dokter/Pelaksana,
Yang membuat pernyataan,
Ttd

Ttd

()
*Coret yang tidak perlu

(..)

Euthanasia
Berasal dari bahasa Yunani, eu yang berarti baik dan thanatos yang berarti
kematian. Hippokrates pertama kali menggunakan istilah "eutanasia" ini pada "sumpah
Hippokrates" yang ditulis pada masa 400-300 SM. 4 Sumpah tersebut berbunyi: "Saya tidak
akan menyarankan dan atau memberikan obat yang mematikan kepada siapapun meskipun
telah dimintakan untuk itu". Berdasarkan sejarah hukum Inggris yaitu common law sejak
tahun 1300 hingga saat "bunuh diri" ataupun "membantu pelaksanaan bunuh diri" tidak
diperbolehkan. Kemudian, sejak abad ke-19, eutanasia telah memicu timbulnya perdebatan
dan pergerakan di wilayah Amerika Utara dan di Eropa Pada tahun 1828 undang-undang anti
eutanasia mulai diberlakukan di negara bagian New York, yang pada beberapa tahun
kemudian diberlakukan pula oleh beberapa negara bagian. Setelah masa Perang Saudara,
beberapa advokat dan beberapa dokter mendukung dilakukannya eutanasia secara sukarela.

33

Kelompok-kelompok pendukung eutanasia mulanya terbentuk di Inggris pada tahun 1935 dan
di Amerika pada tahun 1938 yang memberikan dukungannya pada pelaksanaan eutanasia
agresif, walaupun demikian perjuangan untuk melegalkan eutanasia tidak berhasil digolkan di
Amerika maupun Inggris. Pada tahun 1937, eutanasia atas anjuran dokter dilegalkan di Swiss
sepanjang pasien yang bersangkutan tidak memperoleh keuntungan dari padanya. Pada era
yang sama, pengadilan Amerika menolak beberapa permohonan dari pasien yang sakit parah
dan beberapa orang tua yang memiliki anak cacat yang mengajukan permohonan eutanasia
kepada dokter sebagai bentuk "pembunuhan berdasarkan belas kasihan". Pada tahun 1939,
pasukan Nazi Jerman melakukan suatu tindakan kontroversial dalam suatu "program"
eutanasia terhadap anak-anak di bawah umur 3 tahun yang menderita keterbelakangan
mental, cacat tubuh, ataupun gangguan lainnya yang menjadikan hidup mereka tak berguna.
Program ini dikenal dengan nama Aksi T4 ("Action T4") yang kelak diberlakukan juga
terhadap anak-anak usia di atas 3 tahun dan para jompo / lansia. Setelah dunia menyaksikan
kekejaman Nazi dalam melakukan kejahatan eutanasia, pada era tahun 1940 dan 1950 maka
berkuranglah dukungan terhadap eutanasia, terlebih-lebih lagi terhadap tindakan eutanasia
yang dilakukan secara tidak sukarela ataupun karena disebabkan oleh cacat genetika.

Eutanasia dapat dibagi menjadi 3, yaitu :


a. Euthanasia pasif, di mana tidak dilakukannya suatu tindakan medis, atau hanya
melaksanankan tindakan medis yang minimal. Ini serinng ditemukan pada pasien
yang menolak untuk diberikan terapi.
b. Euthanasia tidak langsung: Usaha untuk memperingan kematian dengan efek
sampingan. Dengan harapan, pasien barangkali meninggal lebih cepat. Dalam hal
ini termasuk pemberian segala macam obat narkotika, hipnotika, dan analgetika
yang secara tidak langsung dapat memperpendek kehidupan walaupun hal
tersebut tidak disengaja.
c. Euthanasia aktif: Proses kematian diperingan dengan memperpendek kehidupan

secara terarah dan langsung.7

34

Kemudian, juga ada yang membaginya ke dalam empat metode :

Euthanasia sukarela: ini dilakukan oleh individu yang secara sadar menginginkan
kematian.

Euthanasia non sukarela: ini terjadi ketika individu tidak mampu untuk menyetujui
karena faktor umur, ketidak mampuan fisik dan mental. Sebagai contoh dari kasus ini
adalah menghentikan bantuan makanan dan minuman untuk pasien yang berada di
dalam keadaan vegetatif (koma).

Euthanasia tidak sukarela: ini terjadi ketika pasien yang sedang sekarat dapat
ditanyakan persetujuan, namun hal ini tidak dilakukan. Kasus serupa dapat terjadi
ketika permintaan untuk melanjutkan perawatan ditolak.

Bantuan bunuh diri: ini sering diklasifikasikan sebagai salah satu bentuk euthanasia.
Hal ini terjadi ketika seorang individu diberikan informasi dan wacana untuk
membunuh dirinya sendiri. Pihak ketiga dapat dilibatkan, namun tidak harus hadir
dalam aksi bunuh diri tersebut. Jika dokter terlibat dalam euthanasia tipe ini, biasanya
disebut sebagai bunuh diri atas pertolongan dokter. Di Amerika Serikat, kasus ini
pernah dilakukan oleh dr. Jack Kevorkian.8
Berdasarkan hukum di Indonesia maka eutanasia adalah sesuatu perbuatan yang

melawan hukum, hal ini dapat dilihat pada peraturan perundang-undangan yang ada yaitu
pada Pasal 344 Kitab Undang-undang Hukum Pidana yang menyatakan bahwa "Barang siapa
menghilangkan nyawa orang lain atas permintaan orang itu sendiri, yang disebutkannya
dengan nyata dan sungguh-sungguh, dihukum penjara selama-lamanya 12 tahun". Juga
demikian halnya nampak pada pengaturan pasal-pasal 338, 340, 345, dan 359 KUHP yang
juga dapat dikatakan memenuhi unsur-unsur delik dalam perbuatan eutanasia. Dengan
demikian, secara formal hukum yang berlaku di negara kita memang tidak mengizinkan
tindakan eutanasia oleh siapa pun. Ketua umum pengurus besar Ikatan Dokter Indonesia
(IDI) Farid Anfasal Moeloek dalam suatu pernyataannya yang dimuat oleh majalah Tempo
Selasa 5 Oktober 2004 menyatakan bahwa : Eutanasia atau "pembunuhan tanpa penderitaan"
hingga saat ini belum dapat diterima dalam nilai dan norma yang berkembang dalam
masyarakat Indonesia. "Euthanasia hingga saat ini tidak sesuai dengan etika yang dianut oleh

35

bangsa dan melanggar hukum positif yang masih berlaku yakni KUHP. Dalam KODEKI
pasal 2 dijelaskan bahwa; seorang dokter harus senantiasa berupaya melaksanakan
profesinya sesuai dengan standar profesi tertinggi. Jelasnya bahwa seorang dokter dalam
melakukan kegiatan kedikterannya sebagai seorang profesi dokter harus sesuai dengan ilmu
kedikteran mutakhir, hukum dan agama. KODEKI pasal 7d juga menjelaskan bahwa setiap
dokter harus senantiasa mengingat akan kewajiban melindungi hidup insani. Artinya dalam
setiap tindakan dokter harus bertujuan untuk memelihara kesehatan dan kebahagiaaan
manusia. Jadi dalam menjalankan prifesinya seorang dokter tidak boleh melakukan;
Menggugurkan kandungan (Abortus Provocatus),
mengakhiri kehidupan seorang pasien yang menurut ilmu dan pengetahuan tidak
mungkin akan sembuh lagi (euthanasia).7,9
Penatalaksanaan pada kanker kolon terminal
Terapi pada kanker kolon bergantung pada stadiumnya. Stadium

IV merupakan

stadium terminal pada kanker dan dokter mencoba semua cara untuk mengobati pasien.
Pembedahan dilakukan untuk menghilangkan bagian tumor atau bagian dari organ yang
terpengaruh, seperti hepar, paru-paru. Radiasi ataupun kemoterapi diberikan sebagai terapi
paliatif untuk meningkatkan kualitas hidup pasien dan menghilangkan gejala dari kanker
tersebut. Jika kanker kolon telah menyebar ke hepar dilakukan pengobatan khusus seperti
ablasi, kemoterapi atau radiasi langsung ke heper, dan juga cryotherapy. Pada beberapa
kasus, kanker stadium IV tidak dapat diobati. Kemoterapi di gunakan untuk mengobati pasien
dengan kanker kolon stadium IV untuk memperbaiki gejala dan memperpanjang survival.
Five years survival rate pada kanker kolon stadium IV sangatlah rendah. Pasien dengan
kanker yang tidak dapat dilakukan penanganan kuratif, dapat dilakukan penanganan
pembedahan palliatif untuk mencegah obstruksi, perforasi, dan perdarahan.10,11
Kesimpulan
Pada kasus seperti ini, komunikasi antar dokter dan pasien sangatlah penting. Untuk
menghadapi pasien seperti ini perlu adanya komunikasi yang baik agar tercipta rasa percaya
pasien kepada dokter (trust). Pertama-tama, pasien perlu diberikan edukasi tentang penyakit
yang diderita. Penyakit yang diderita pasien termasuk penyakit yang memiliki survival rate
tidak terlalu tinggi, apalagi mengingat penyakit pasien sudah pada tahap terminal. Namun
demikian, tetap saja ada sedikit harapan apabila dilakukan pengobatan karena itu pasien

36

boleh memilih untuk bersedia dilakukan pengobatan atau tidak. Dokter juga boleh
menjelaskan kepada pasien sejujur-jujurnya tentang keadaan pasien, jenis pengobatan apa
yang dapat dilakukan, dan survival rate apabila dilakukan pengobatan. Pasien sebaiknya
dianjurkan untuk memikirkan baik-baik keputusan apa yang ingin diambil. Apabila pasien
dalam keadaan yang terlalu emosional untuk mengambil keputusan, misalkan pasien dalam
keadaan depresi, boleh dipertimbangkan untuk merujuk ke bagian psikiatri untuk
memperbaiki keadaan mental pasien agar dapat mengambil keputusan yang benar-benar
dengan pemikiran matang. Sebagai dokter, kewajiban untuk melindungi nyawa pasien
sangatlah besar. Karena itu apabila pasien memilih tindakan yang bersifat bunuh diri atau self
inflicting, pastinya sebagai dokter akan secara alamiah akan berusaha untuk mencegah pasien
mengambil keputusan yang bersifat bunuh diri. Pada kasus penyakit karsinoma kolon
terminal, walaupun survival rate cukup rendah, ada baiknya tindakan pengobatan pasien tetap
diusahakan untuk didapatkan consent dari pasien karena pasien masih memiliki harapan
untuk dilakukan pengobatan.
Dipandang dari sudut kemanusiaan Euthanasia tampaknya merupakan perbuatan yang
harus dipuji yaitu menolong sesama manusia mengakhiri kesengsaraannya dan ini diaanggap
sebagai satu bentuk rasa kasih. Tetapi keputusan euthanasia tidak boleh hanya berdasarkan
rasa kemanusiaan saja sekalipun dimasukkan kedalamnya pengertian yang tinggi seperti
menolong sesama lepas dari penderitaannya, kasih, tindakan sepatutnya dan wajar.
KODEKI sebagai paduan etik bagi dokter menekankan bahwa dokter tidak boleh
melakukan berbuatan euthanasia. Oleh karena itu, kita sebagai dokter hendaknya juga
menaati aturan KODEKI. Namun berhubungan dengan hak pasien untuk menolak terapi,
maka ada baiknya jika dokter yang menangani pasien dengan kanker kolon stadium lanjut
mengadakan komunikasi yang baik dengan pasien dan memberikan informed consent untuk
penolakan terapi kepada pasien.

37

BAB III
PENUTUP
Pada kasus, di mana seorang pasien berjenis kelamin laki-laki berusia 62 tahun
menderita karsinoma kolon stadium terminal, yang seharusnya mendapatkan perawatan
medis seperti kemoterapi dan atau operasi, akan tetapi pasien tersebut menolak untuk
dilakukan terapi yang intensif dengan berbagai alasannya. Secara etika, do no harm adalah
kewajiban utama dari setiap dokter. Dan juga dokter memiliki kewajiban terharap pasiennya
untuk menjaga kesehatan termasuk menjaga dan menyelamatkan nyawa pasien. Dalam UU
no 36 tahun 2009 juga mengatur tentang makna kesehatan, upaya kesehatan, dan hak pasien.
KUHP juga mengatur tentang euthanasia dan bunuh diri, dimana euthanasia dan bunuh diri
masih dilarang secara hukum. Walaupun secara medis euthanasia terkadang sebenarnya bisa
menjadi jalan yang baik untuk menyudahi penderitaan pasien namun secara etis, euthanasia
masih dianggap sebagai tindakan pencabutan nyawa seseorang. Maka dari itu, pengambilan
keputusan untuk melakukan tindakan yang dapat digolongkan sebagai euthanasia haruslah
hati-hati karena tidak semua pasien mau benar dan pantas untuk dilakukan euthanasia dan

38

malah bisa dianggap menghilangkan nyawa pasien apabila tidak tepat. Oleh sebab itu
janganlah lupa untuk informed consent.
Fred Ameln, salah seorang pakar etika dan hukum kedokteran Indonesia, menyatakan
bahwa dalam hal euthanasia tidak akan pernah dicapai kesatuan pendapat etis sepanjang asa.
Namun hal ini tentu tidak berarti bahwa kita berhenti berupaya mencari dasar-dasar etika,
moral maupun hukum terhadap masalah euthanasia yang tampaknya akan semakin sering
dihadapi para dokter. Sebagai perbandingan di AS tercatata 80% dokter menyetujui dan
bahkan pernah mempraktikkan euthanasia negatif, sedangkan 18% lainnya menyatakan setuju
terhadap euthanasia dan akan melakukannya bila memperoleh kesempatan.
Yang terpenting sebenarnya adalah rambu-rambu etika, moral, maupun hukum yang
tegas bagi para dokter, agar terdapat kejelasan tentang euthanasia. Kemajuan ilmu dan
teknologi masa kini sudah saatnya diantisipasi sejak dini dengan rumusan-rumusan etika dan
hukum. Diakui atau tidak, masalah euthanasia hampir selalu dihadapi oleh para dokter ketika
bertugas. Rasanya kurang tepat jika kita masih saja mengatakan belum waktunya atau
belum saatnya membicarakan tentang etika, moral, dan khususnya hukum yang berkaitan
dengan euthanasia.
DAFTAR PUSTAKA
1. Achadiat C. Dinamika etika dan hukum kedokteran dalam tantangan zaman; editior,
Huriawati hartanto. Jakarta: EGC.2006.
2. Hanafiah J, Amir A. Etika kedokteran dan hukum kesehatan. 4th ed. Jakarta:EGC.
2008
3. Suprapti R. Etika kedokteran Indonesia. 2nd ed. Jakarta:Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo. 2001.
4. Sampurna B, Syamsu Z, Siswaja TD. Bioetik dan hukum kedokteran: Pengantar bagi
mahasiswa kedokteran dan hukum. Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik FKUI; 2007.
5. Kode etik kedokteran diunduh dari http://www.iditangerang.or.id/visi/kep_pbidi.php
6. Staf pengajar bagian kedokteran forensik. Peraturan Perundang-undangan Bidang
Kedokteran. Cetakan ke-2. Jakarta: Penerbit Bagian Kedokteran Forensik Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia, 1994.
7. http://id.wikipedia.org/wiki/Eutanasia#Asal-usul_kata_eutanasia,

Januari

2011.diunduh 25 Januari 2011.


8. http://netsains.com/2007/11/euthanasia-dan-kematian-bermartabat-suatu-tinjauanbioetika/.diunduh 25 Januari 2011.

39

9. Anomin. Peraturan Perundang-Undangan Bidang Kedoteran, cetakan kedua.


Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta, 1994. Hal
41.
10. Stage defines the colon carcinoma treatment. Diunduh dari

http://colon-

carcinomas.com/stage-defines-the-colon-carcinoma-treatment, 19 Februari 2010.


11. Zieve
David.
Colon
cancer.
Diunduh
dari
http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/000262.htm, 5 November 2009.
12. Sudjari Solichin. Persetujuan tindakan kedokteran (informed consent). Diunduh dari:
http://fk.uwks.ac.id/elib/Arsip/Departemen/Forensik/PERSETUJUAN
%20TINDAKAN%20KEDOKTERAN.pdf

40