Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI

BLOK 8 KARDIOVASKULAR-1
KESANGGUPAN KARDIOVASKULAR
Disusun oleh :
Kelompok B-8
Felyanto 10 2008 010
Rendy Aprianus 10 2008 020
Susanto Wijaya 10 2008 023
Wendy Purnama 10 2008 032
Gilang Bhaskara 10 2008 095
Tiffani R.E Rihulay 10 2008 140
Samuel Williarto 10 2008 154
Yohana Chirstanti 10 2008 205
Putri Chairani 10 2008 219
Tabita Jane 10 2007 128
Jhon Henry 10 2007 028

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA
2009

TUJUAN:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Mengukur tekanan darah arteri brachialis pada sikap berbaring


Memberikan rangsangan pendinginan pada tangan selama satu menit
Mengukur tekanan darah a.Brachialis selama perangsangan pada sub .2
Menetapkan waktu pemulihan tekanan darah a.Brachialis
Menggolongkan orang percobaan dalam golongan hiperreaktor atau hiporeaktor
Melakukan percobaan naik turun bangku
Menetapkan indiks kesanggupan badan manusia dengan cara lambat dan cara cepat
Menilai indiks kesanggupan badan manusia berdasarkan hasil sub.7.

ALAT YANG DIPERLUKAN


1.
2.
3.
4.
5.

Sfigmomanometer dan stetoskop


Ember kecil berisi air es dan thermometer kimia
Pengukur waktu (arloji atau stopwatch)
Bangku setinggi 19 inci
Metronom (frekuensi 120/menit)

TATA KERJA
1. TES PENINGGIAN TEKANAN DARAH DENGAN PENDINGINAN

(COLD-PRESSOR TEST)

1. Surulah orang percobaan berbaring telentang dengan tenang selama 20 menit


2. Selama menunggu pasang lah manset sfigmomanometer pada lengan kanan atas OP
3. Setelah OP berbaring 20 menit ,tetapkanlah tekanan darah setiap 5 menit sampai
mendapat hasil yang sama 3 kali berturut-turut (tekanan basal)
4. Tanpa membuka maset suruhlah OP memasukan tangan kirinya kedalam air es (4 oC)
sampai pergelangan tangan.
5. Pada detik ke 30 dan detik ke 60 pendinginan,tetapkanlah tekanan sistolik dan
diastoliknya.
6. Catatlah hasil pengukuran tekanan darah OP selama pendinginan. Bila pada
pendinginan tekanan sistolik naik lebih dari 20 mmHg dan tekanan diastolik lebih
dari 15 mmHg dari tekanan basal ,maka OP termasuk golongan hiperreaktor.
Bila kenaikan tekanan darah OP masih di bawah angka-angka tersebut di atas,maka
OP termasuk hiporeaktor.
7. Suruhlah OP segera mengeluarkan tangan kirinya dari es dan tetapkanlah tekanan
sistolik dan diastoliknya setiap 2 menit sampai kembali ke tekanan darah basal.
8. Bila terdapat kesukaran pada waktu mengukur sistolik dan diastolik pada detik ke 30
dan detik ke 60 pendinginan,percobaan dapat di lakukan dua kali.
Pada percobaan pertama hanya dilakuakan penetapan tekanan sistolik pada setik ke
30 dan ke 60 pandinginan.
Suruhlah OP segera mengeluarkan tangan kirinya dari es dan tetapkanlah tekanan
sistoliknya dan diastoliknya setiap 2 menit sampai kembali ketekanan darah basal.
Setelah tekanan darah kembali ke tekanan basal,lakukan percobaan yang kedua
umtuk menetapkan tekanan diastolik pada detik ke 30 dan detik ke 60 pendinginan.

HASIL:
Tekanan darah 3 kali berturut-turut:
Tekanan basal 130/70 mmHg
1. 130/70 mmHg
2. 125/70 mmHg
3. 130/70 mmHg

Pengukuran tekanan darah OP selama pendinginan 150/90 mmHg (Hiperreaktor)


Pemulihahan selama 4 menit untuk kembali ke tekanan basal.
PEMBAHASAN:
Dari hasil diatas, dapat dilihat bahwa ketika direndam dengan air es, pembuluh darah akan
mengkerut karena dingin sehingga darah akan sulit lewat, untuk itu, tekanan pembuluh dara
otomatis naik sehingga darah dapat melewati pembuluh darah yang sempit itu

2. PERCOBAAN NAIK TURUN BANGKU (HARVARD STEP TEST)

1. Suruhlah OP berdiri menghadap bangku setinggi 19 inci sambil mendengarkan detakan


sebuah metronom dengan frekuensi 120 kali per menit.
2. Suruhlah OP menetapkan salah satu kakinya di bangku,tepat pada suatu detakan
metronom.
3. Pada detakan berikutnya (dianggap sebagai detakan kedua) kaki lainnya di nakikan ke
bangku sehingga OP berdiri tegak di atas bangku.
4. Pada detakan ketiga,kaki yang pertama kali naik diturunkan.
5. Pada detakan ke empat,kaki yang masih dia atas bangku diturunkan pula sehingga OP
berdiri tegak lagi di depan bangku.
6. Siklus tersebut di ulangi terus-menerus sampai OP tidak kuat lagi tetapi tidak lebih dari 5
menit.catatlah beberapa lama percobaan tersebut dilakukan dengan menggunakan sebuah
stopwatch.
7. Segera setelah itu OP disuruh duduk. Hitunglah dan catatlah frekunsi denyut nadinya
setelah 30 detik sebanyak 3 kali masing-masing dari 0-30,dari 1-30 dan dari 2-230.
HASIL:
Denyut normal:40/menit
OP naik turun bangku selama 135

Frekuensi denyut nadi:


1. 71 kali/30 detik
2. 65 kali/30 detik
3. 64 kali/30 detik
Hitung indeks kesanggupan OP
1. Cara lambat:
Lama naik turun (dalam detik)*100 :90*100 :9000 :22,5
2*jumlah ketiga harga denyut nadi 2*200 400
2. Cara cepat:
Lama naik turun (dalam detik)*100 : 90*100 : 9000 :23,05
5,5*harga denyut selama 30 pertama 5,5*71 390,5
3. Dengan daftar 25
130-159 (lama percobaan)
70-74 (pemulihan denyut nadi dari 0-30

PEMBAHASAN:
Denyut nadi OP sebelum melakukan percobaan adalah 40kali/detik. Setelah orang coba
melakukan naik turun bangku Harvard selama 135, maka denyut nadi diukur kembali. (F1)= 71
kali/30detik, setelah 2 menit (F2)= 65/30detik, dan setelah 3 menit (F3)=64/30detik. Kemudian
dilakukan penghitungan indeks kesanggupan badan OP dan hasilnya adalah 25 atau kesanggupan
tubuh kurang.
Pada OP dapat dilihat bahwa terjadi peningkatan denyut nadi. Hal ini disebabkan karena cardiac
output jantung karena aktivitas yang meningkat, organ tubuh lain juga akan memerlukan suplai
O2 dan nutrisi dari jantung. Oleh karena itu, cardiac output juga perlu ditingkatkan agar
kebutuhan tersebut terpenuhi. Cardiac output (curah jantung) adalah jumlah darah yang
dipompakan ventrikel tiap menit. Karena peningkatan cardiac output inilah dimana darah akan
lebih banyak dipompa melalui aorta sehingga berpengaruh dalam peningkatan tekanan darah
dimana peningkatan ini mengakibatkan gelombang tekanan yang berjalan di sepanjang arteri

semakin cepat dan selanjutnya akan mengakibatkan denyut nadi meningkat. Dalam pengaliran
darah ke seluruh tubuh ketika beraktivitas, pembuluh darah di sekitar otot akan mengalami
vasodilatasi (lebih besar) agar darah lebih banyak dialirkan. Vasodilatasi ini akan berlanjut pada
penurunan tahanan perifer. Selain itu peningkatan cardiac output juga dipengaruhi oleh
peningkatan aliran balik vena akibat dari meningkatnya tonus otot karena pergerakan fisik dan
penurunan tekanan intratorak. Penurunan tekanan intratorak merupakan akibat dari reaksi tubuh
yaitu inspirasi yang dalam pemenuhan kebutuhan O 2 untuk menghasilkan energi. Udara mengalir
dari atmosfir ke paru-paru juga karena tekanan di atmosfir lebih tinggi dibandingkan tekanan
intratorak. Karenan penurunan tekanan ini maka tekanan pada vena pada bagian ekstremitas
bawah akan lebih tinggi sehingga akan meningkatkan aliran darah ke jantung. Peningkatan
cardiac output juga dipengaruhi oleh saraf otonom yang akan merangsang saraf simpatis
sehingga denyut nadi meningkat. Perlu diketahui bahwa perangsangan saraf simpatis akan
menyebabkan vasokontriksi pembuluh darah pada bagian tubuh yang lain.
Kesanggupan sesorang untuk melakukan kerja dengan se-efesien mungkin hingga batas
kemampuan kerja merupakan kapasitas kerja. Dalam percobaan ini, indeks kesanggupan badan
orang coba setelah dilakukan perhitungan yaitu 25 atau kesanggupan badan kurang. Suatu
aktivitas dapat mengakibatkan peningkatan cardiak output (CO) karena peningkatan diastole
sebagai akibat dari peningkatan tonus otot dan tekanan intratorak yang menurun. Selain itu,
karena adanya rangsangan otonom yang meningkatkan kerja saraf simpatis sehingga denyut
jantung juga meningkat.

DAFTAR PUSTAKA:
Sherwood. Fisologi Manusia dari Sel ke System Edisi 2 Cetakan I. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC; 2001.
Guyton, Hall. 1997. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Guyton. Jakarta : EGC