Anda di halaman 1dari 31

Laporan Praktikum Faal- Fisiologi

KELOMPOK : B-3 y Mutiara Fadhila y Novia Rizky Z.A y Novi Alvirahmi y Prissilma Tania y Reza Mardany y Syarafina Raihan y Vania Fildza y Tyas Aulia Puspa y Widoretno Larasati y Yudha Ferriansyah (1102010192) (1102010211) (1102010209) (1102010221) (1102010238) (1102010275) (1102009291) (1102010281) (1102009298) (1102010299)

UNIVERSITAS YARSI FAKULTAS KEDOKTERAN 2011/2012

PRAKTIKUM FAAL I. Pengukuran Secara Tidak Langsung Tekanan Darah Arteri Pada Orang TUJUAN Pada akhir latihan ini mahasiswa harus dapat : 1. Mengukur tekanan arteri brakhialis dengan cara auskultasi dengan penilaian menurut metode lama dan metode baru The american Heart Association (AHA) 2. Mengukur tekanan darah arteri brakhialis dengan cara palpasi 3. Menerangkan perbedaan hasil pengukuran cara auskultasi dengan cara palpasi 4. Membandingkan hasil pengukuran tekanan darah arteri brakhialis pada sikap berbaring duduk dan berdiri 5. Menguraikan berbagai faktor penyebab perubahan hasil pengukuran tekanan darah pada ketiga sikap tersebut diatas. 6. Membandingkan hasil pengukuran darah arteri brakhialis sebelum dan sesudah kerja otot 7. Menjelaskan berbagai faktor penyebab perubahan tekanan darah sebelum dan sesudah kerja otot. ALAT 1. Sfigmomanometer 2. Stetoskop TATA KERJA I.1 Pengukuran Tekanan darah arteri brakhialis pada sikap berbaring duduk dan berdiri Berbaring telentang 1. Suruhlah op berbaring terlentang dengan tenang selama 10 menit 2. Selama menunggu, pasanglah manset sfignomamnometer pada lengan op P.III,1,1 Apa yang harus diperhatikan pada waktu memasang manset ? Jawab: Yang harus diperhatikan adalah: - Letak arteri brakhialis - Tombol on pada sfignomanometer - Dan keadaan karet pompa

- Tidak ada penghalang antara manset misalnya pakaian 3. Carilah dengan cara palpasi denyut a.brachialis pada fossa cubiti dan denyut a.brachialis pada pergelangan tangan kanan op. P.III.1.2. Mengapa kita harus meraba letak denyut arteri brachialis dan arteri radialis o.p.? Jawab: Kita harus meraba arteri radialis yang bertujuan memeriksa frekuensi nadi o.p, sedangkan untuk arteri brachialis agar kita dapat menentukan sistolik

palpatoir o.p dan perbedaan antara tekanan sistolik dan diastolik yang dikenal sebagai tekanan nadi dengan cara auskultasi. 4. Setelah op berbaring 10 menit, tetapkanlah kelima fase korotkoff dalam pengukuran darah op tersebut. P.III.1.3. Tindakan apa yang sodara lakukan secara berturut-turut untuk mengukur tekanan darah ini? Jawab: Dengan cara mendengar (auskultasi) bunyi yang timbul pada arteri brachialis yang disebut bunyi Korotkoff. Bunyi ini terjadi akibat timbulnya aliran turbulen dalam arteri yang disebabkan oleh penekanan manset pada arteri brachialis. Saat auskultasi harus diperhatikan bahwa terdapat jarak lebih kurang 5 cm antara manset dan tempat meletakkan stetoskop. Kemudian pompalah manset sehingga tekanannya melebihi tekanan sistolik (yang diketahui dari palpasi). Turunkanlah tekanan manset perlahan-lahan sambil meletakkan stetoskop di atas arteri brachialis pada siku. Mula-mula tidak terdengar suatu bunyi kemudian akan terdengar bunyi mengetuk yaitu ketika darah mulai melewati arteri yang tertekan oleh manset sehingga terjadilah turbulensi. Bunyi yang terdengar disebut bunyi Korotkoff dan dapat dibagi dalam lima fase yang berbeda. P.III.1.4. Sebutkan kelima fase korotkoff. Bagaimana menggunakan fase korotkoff dalam pengukuran tekanan darah dengan penilaian metode lama dan baru? K1 = Suara jelas pertama yang terdengar saat darah mula-mula mengalir melalui pembuluh nadi (sistolik),berbunyi auskultasi, sifatnya lemah, nadanya agak tinggi terdengar. K2 = Suara itu terdengar seperti terhambat dan mungkin menghilang, berubahnya ukuran pembuluh karena tekanan yang baru dilepaskan dapat
2

mengakibatkan suara itu seperti terhambat, menghilangnya suara disebut auskulatory gap, bunyi seperti K1 disertai bising. K3 = Suara menjadi lebih jelas karena tekanan manset yang diperlonggar, pembuluh nadi tetap terbuka/mengembang selama terjadinya kuncup jantung(bunyi berubah menjadi keras, nada rendah, tanpa

bising.merupakan bunyi yang paling kuat terdengar K4 = Bunyi Melemah K5 = Fase diastolic Seluruh suara menghilang karena nadi tetap terbuka selama siklus jantung 5. Ulangi pengukuran sub 4 sebanyak 3 kali untuk mendapat nilai rata-rata dan catat hasilnya. P.III.1.5 Apa yang harus diperhatikan bila kita ingin mengulangi pengukuran tekanan darah?apa sebabnya? Jawab : Faktor-faktor yang mempengaruhi pembacaan tekanan darah, yaitu usia, berat badan, emosi, hereditas, jenis kelamin, viskositas darah, kondisi pembuluh darah. Karna faktor-faktor tersebut bisa menyebabkan tekanan darah meningkat (hipertensi) dan menurun (hipotensi) Duduk 6. Tanpa melepaskan manset op disuruh duduk. Setelah ditunggu 3 menit ukurlah lagi tekanan darah a.brachialisnya dengan cara yang sama. Ulangi pengukuran selama 3 kali untuk mendapat nilai rata-rata da catatlah hasilnya. P.III.1.6. Sebutkan 5 faktor yang menentukan besar tekanan darah arteri? Jawab: Faktor yang mempengaruhi tekanan darah arteri, yaitu: Kerja Jantung Tahanan perifer Kekenyalan dinding pembuluh darah Kekentalan darah Jumlah darah yang bersirkulasi Berdiri

7. Tanpa melepaskan manset op disuruh berdiri setelah ditunggu

3menit ukurlah

tekanan darah a.brachialisnya dengan cara yang sama. Ualngi oengukuran sebanyak 3x unruk mendapatkan nilai rata-rata dan catatlah hasilnya. P.III.1.7 Mengapa pengukuran dilakukan beberapa saat setelah berdiri ? Jawab: Agar aliran darah pada tubuh dapat distabilkan sebelum dilakukan pengukuran Bandingkanlah hasil pengukuran tekanan darah op pada ketiga sikap yang berbeda diatas.

I.2 Percobaan mengayuh sepeda statis 1. Ukurlah tekanan darah a,brachialis op dengan penilaian menurut metode baru pada sikap duduk (o.p tidak perlu yang sama). 2. Tanpa melepaskan manset suruhlah op berlari ditempat dengan frekwensi kurang lebih 120 loncatan permenit selama 2 menit. Segera setelah selesai op disuruh duduk dan ukurlah tekanan darahnya. 3. Ulangi pengukuran tekanan darah ini tiap menit sampai tekanan darahnya kembali seperti semula. Catatlah hasil pengukuran tersebut. P.III.1.8 Bagaimana tekanan darah seseorang setelah melakukan kerja otot ? Jawab : tekanan darah akan meningkat karena pada saat kerja otot jantung memompa darah lebih cepat daripada normal

Saat berolahraga, terjadi peningkatan

metabolisme dalam tubuh.

Hal ini

mempengaruhi tekanan darah, dan termasuk sebagai pengaruh lokal kimiawi. Sebab olahraga menyebabkan: a. Penurunan O2 oleh karena sel-sel yang aktif melakukan metabolisme Peningkatan CO2 sebagai produk sampingan fosforilasi oksidatif Peningkatan asam lebih banyak asam karbonat yang dihasilkan dari

menggunakan lebih banyak O2 untuk fosforilasi oksidatif untuk menghasilkan ATP. b. c.

peningkatan produksi CO2 akibat peningkatan aktivitas metabolic. Juga terjadi penimbunan asam laktat apabila yang digunakan untuk menghasilkan ATP adalah jalur glikolitik. d. Peningkatan K+ -- potensial aksi yang terjadi berulang-ulang dan mengalahkan kemampuan pompa Na+ untuk mengembalikan gradient konsentrasi istirahat, menyebabkan peningkatan K+ di cairan jaringan.
4

e.

Peningkatan osmolaritas ketika metabolism sel meningkat karena meningkatnya

pembentukan partikel-partikel yang secara osmotis aktif. f. Pengeluaran adenosin sebagai respon terhadap peningkatan aktivitas metabolism

atau kekurangan O2, terutama di otot jantung. g. Pengeluaran prostaglandin

Tujuan 1. mengetahui pengaruh olah raga terhadap tekanan darah

Alat yang diperlukan: 1. 2. 3. Speda statis Sfignomanometer Sthetoscop

Tata kerja 1. 2. 3. 4. Melakukan pengukuran darah sebelum op mangayuh speda OP mulai mengayuh speda dengan kecepatan 15 km/jam selama 15 menit Melakukan pengukuran tekanan darah setiap 3 menit Setelah selesai 15 menit aktifitas mengayus spedah, op diperintahkan untuk

intirahat dan dilakukan pengukuran kembali setiap 3 menit

HASIL

Menit

Spd

Dst

Pulse

Kalor

Tekanan darah (mmHg)

0 1 2 3 4 5 6

14,4 14,3 14,4 15,1 15,7 15,7

16,16 16,6 17,26 17,55 18,05 18,53

76 123 125 128 130 134

266,7 277,4 288,6 293,2 301,4 309,4

110/80

120/80

130/80
5

7 8 9 10 11 12 13 14 15

15,9 15,1 15,9 15,4 15,4 15,1 15,3 15,6 15,6

19,25 19,35 20,08 20,67 21,10 21,62 22.13 22,64 23,17`

137 134 137 130 132 128 134 134 134

319,3 326,4 335,4 334,3 352,1 360,9 369,4 377,8 336,7 160/110 150/100 140/100

Tekanan darah pada saat istirahat (pemeriksaan setiap 3 menit)

18 21 24 27 30

120/80 mmHg 130/100 mmHg 120/90 mmHg 110/80 mmHg 110/80 mmHg

Kesimpulan Pada saat melakukan exercise, akan terjadi peningkatan kebutuhan oksigen pada otot untuk metabolisme sel otot. Hal tersebut menyebabkan peningkatan suplai darah ke ekstremitas, sehingga terjadi pelebaran pembuluh darah dan mengakibatkan turunnya preload dan afterload. Kemudian curah jantung akan menurun, dan baroreseptor akan segera bereaksi terhadap keadaan tersebut dengan meningkatkan aktivitas simpatis dan menurunkan aktivitas parasimpatis. Akibatnya terjadi peningkatan frekuensi denyut jantung dan nadi untuk meningkatkan curah jantung. Hal tersebut juga akan memicu peningkatan tekanan darah.

I.3 Pengukuran tekanan darah a.brachialis dengan cara palpasi 1. Ukurlah tekanan darah a.brachialis op pad asikap duduk dengan cara auskultasi (sub I). 2. Ukurlah tekanan darah arteri brachialis op pada sikap yang sama dengan cara palpasi.
6

P.III.1.9 Bagaimana sdr. Melakukan pengukuran tekanan darah dengan cara palpasi? Jawab: Melalui palpasi tangan dapat dilakukan pengukuran yang lembut dan sensitif terhadap tanda fisik. Pada saat melakukan palpasi, o.p diposisikan dengan nyaman karena ketegangan otot akan mengganggu keefektifan palpasi. Pada pengkajian terkait sistem sirkulasi, dapat dilakukan perhitungan jumlah denyut nadi o.p per menit. Untuk menghitung denyut nadi per menit menggunakan ketiga jari (telunjuk,tengah dan jari manis) untuk menemukan arteri radialis di tangan.

HASIL PERCOBAAN Hasil Pengukuran Tekanan Darah A.Brachialis pada Sikap Berbaring, Duduk dan Berdiri Biodata o.p: Nama : Prissilma Tania Jonardi

Jenis Kelamin : Perempuan Usia : 19 tahun

Berat Badan : 66 kg
Tabel Pengamatan

Keadaan Berbaring Duduk Berdiri

Tekanan Dara (mmHg) 1 110/80 120/70 110/60 2 120/70 120/70 110/70

Rata-Rata (mmHg) 115/75 120/70 110/65

Hasil Pengukuran Tekanan Darah Sesudah Kerja Otot

Kesimpulan : Berdasarkan data yang kami peroleh dari hasil percobaan, menunjukkan bahwa pada sikap berdiri, tekanan darah o.p menunjukan keadaan terendah akibat adanya gaya gravitasi yang sejajar dengan gaya dorong pembuluh darah menuju jantung. Pada saat seseorang berdiri, gaya gravitasi akan menyebabkan darah berkumpul di kaki. Hal ini akan menurunkan tekanan darah karena hanya sedikit sirkulasi darah yang kembali ke jantung untuk memompa.Saat yang paling baik untuk mengukur tekanan darah adalah saat Anda istirahat dan dalam keadaan duduk atau berbaring.

II. Kesanggupan Kardiovaskular TUJUAN Pada akhir latihan ini mahasiswa harus dapat : 1. Mengukur tekanan darah arteri brachialias pada sikap berbaring 2. Memberikan rangsang pendinginan pada tangan selama satu menit. 3. Mengukur tekanan darah a.brachialis selama perangsangan 4. Menetapkan waktu pemulihan tekanan darah a.brachialis 5. Menggolongkan orang percobaan dalam golongan hiperreaktor atau hiporeaktor. 6. Melakukan percobaan naik turun bangku 7. Menetapkan indeks kesanggupan badan manusia dengan cara lambat dan cara cepat. 8. Menilai indeks kesanggupan badan manusia berdasarkan hasil sub 7. ALAT 1. Sfigmomanometer dan stetoskop. 2. Ember kecil berisi air es dan thermometer kimia. 3. Pengukur waktu (arloji atau stopwatch). 4. Bangku setinggi 19 inci. 5. Metronom (frekuensi 120x/menit TATA CARA II.1 Test Peninggian tekanan darah dengan pendinginan (Cold Pressure Test) 1. Suruh o.p berbaring terlentang dengan tenang selama 20 menit. P.III.2.1. mengapa o.p harus berbaring selama 20 menit? Jawab: Agar tekanan darah benar-benar normal dalam keadaaan istirahat 2. Selama menunggu pasanglah manset sfignomanometer pada lengan kanan atas o.p. 3. Setelah o.p berbaring 20 menit, tetapkanlah tekanan darahnya setiap 5 menit sampai terdapat hasil yang sama 3 kali berturut-turut (tekanan basal). P.III.2.2. Apa kontriindikasi untuk melakukan cold pressure test? Jawab: Pada Keadaan peningkatan tekanan darah contoh : hipertensi, kondisi demam,iskemi dll 4. Tanpa membuka manset, suruhlah o.p memasukan tangan kirinya kedalam air es (40 ) sampai pergelangan tangan.

5. Pada detik ke 30 dan ke 60 pendinginan, tetapkanlah tekanan sistolik dan diastoliknya. P.III.2.3 Bagaimana caranya supaya saudara dapat mengukur tekanan darah o.p dengan cepat? Jawab: Caranya dengan tetap menggunakan manset sfignomanometer pada lengan kanan atas selama menunggu waktu pendinginan P.III.2.4. Apa yang diharapkan terjadi pada tekanan darah o.p selama pendinginan, terangkan mekanismenya? Jawab: Diharapkan tekanan darah menjadi naik akibat suhu yang dingin (rendah). 6. Catatlah hasil pengukuran tekanan darah o.p selama pendinginan. P.III.2.5. apa gunanya kita mengetahui bahwa seseorang termasuk golongan hiperreaktor dan hiporeaktor? Jawab: Untuk mencurigai kemungkinan terjadinya hipertensi pada o.p di kemudian hari, jika hasil pemeriksaannya menunjukkan bahwa o.p hiperreaktor 7. Suruhlah o.p segera mengeluarkan tangan kirinya dari es dan tetapkanlah tekanan sistolik dan diastoliknya setiap 2 menit sampai kembali ke tekanan darah basal. 8. Bila terdapat kesukaran pada waktu mengukur tekanan sistolik dan diastolic pada detik ke 30 dan detik ke 60 pendinginan, percobaan dapat dilakukan 2 kali. Pada percobaan pertama hanya dilakukan penetapan tekanan sistolik pada detik ke 30 dan detik ke 60 pendinginan. Suruhlah o.p segera mengeluarkan tangan kirinya dari es dan tetapkanlah tekanan sistolik dan diastoliknya setiap 2 menit sampai kembali ke tekanan daerah basal. Setelah tekanan darah kembali ke tekanan basal, lakukan percobaan yang kedua untuk menetapkan tekanan diastolic pada detik ke 30 dan detik ke 60 pendinginan II.2 Percobaan naik turun tangga bangku (Harvard Step Test) TATA CARA 1. Suruhlah o.p berdiri menghadap bangku setinggi 19 inci sambil mendengarkan detakan sebuah metronom dengan frekuensi 120x/menit. 2. Suruhlah o.p menempatkan salah satu kakinya di bangku, tepat pada suatu detakan metronom.

10

3. Pada detakan beriikutnys (dianggap sebagai detakan kedua) kaki lainya di naikan ke bangku sehingga o.p berdiri tegak di atas bangku. 4. Pada detakan ketiga, kaki yang pertama kali naik diturunkan. 5. Pada detakan keempat, kaki yang masih diatas bangku diturunkan sehingga o.p berdiri tegak lagi didepan bangku. 6. Siklus tersebut diulang terus-menerus sampai o.p tidak kuat lagi tetapi tidak lebih dari 5 menit. Catat berapa lama percobaan tersebut dilakukan dengan menggunakan stopwatch. 7. Segera setelah itu, o.p disuruh duduk. Hitunglah dan catatlah frekuensi denyut nadinya selama 30 detik sebanyak 3 kali masing-masing dari 1-130,dari 2-230 dan 3-330. 8. Hitunglah indeks kesanggupan o.p serta berikan peniilainnya menurut 2 cara berikut ini : a. Cara lambat Indeks kesanggupan badan = lama naik turun bangku (dlm detik) x 100 2 x jumlah ketiga denyut nadi tiap 30 Penilaian : < 55 55-64 65-79 80-89  90 b. Cara cepat Indeks kesanggupan badan = lama naik turun bangku (dlm detik) x 100 5,5 x denyut nadi selama 30 pertama Penilaian : < 50 50-80 80 = kurang = sedang = baik = kesanggupan kurang = kesanggupan sedang = kesanggupan cukup = kesanggupan baik = kesanggupan amat baik

11

 Dengan daftar

Pemulihan denyut nadi dari 1 menit hingga 11 menit Lamanya Percobaan 0 - 29 030 - 059 10 - 129 130 - 159 20 - 229 230 - 259 30 - 329 330 - 359 40 - 429 430 459 50 4044 5 20 30 45 60 70 85 100 110 125 130 4549 5 15 30 40 50 64 75 85 100 110 115 5054 5 15 25 40 45 60 70 80 90 100 105 5559 5 15 25 35 45 55 60 70 80 90 95 6064 5 15 20 30 40 50 55 65 75 85 90 6569 5 10 20 30 35 45 55 60 70 75 80 7074 5 10 20 25 35 40 50 55 65 70 76 7579 5 10 15 25 30 40 45 55 60 65 70 8084 5 10 15 25 30 35 45 50 55 60 65 8589 5 10 15 20 30 35 40 45 55 60 65 5 10 15 20 25 35 40 45 50 55 60 90-

Petunjuk-petunjuk : Carilah baris yang berhubungan dengan lamanya percobaan Carilah lajur yang berhubungan dengan banyaknya denyut nadi selama 30 pertama. Indeks kesanggupan badan terdapat di persilangan baris dan lajur. Penilaian : kurang dari 50 50 80 lebih dari 80 = kurang = sedang = baik

P.III.2.6 hitung indeks kesanggupan badan seseorang dengan cara lambat dan cepat dengan ada data sebagai berikut : Lama naik turun bangku Denyut nadi pada 1-130 2-230 3-330 = 75 = 60 = 40

12

HASIL PERCOBAAN Cold Pressure Test Biodata o.p: Nama : Tyas Aulia

Jenis Kelamin : Perempuan Usia : 19 tahun

Berat Badan : 45 kg * Tabel Pengamatan Sebelum Pendinginan WAKTU (menit) 5 10 15 Tekanan Dara (mmHg) Sistol 110 110 100 Diastol 80 70 70 * Tabel Pengamatan Saat Pendinginan WAKTU (menit) 30 60 Tekanan Dara (mmHg) Sistol 110 120 Diastol 70 70

* Tabel Pengamatan Setelah Pendinginan WAKTU (menit) 2 Tekanan Dara (mmHg) Sistol 110 Diastol 70

(o.p ini tidak termasuk golongan hiperreaktor, karena tekanan darah o.p sebelum pendinginan dan setelah pendinginan tidak mengalami peningkatan sistol > 20 mmHg, dan diastol >15 mmHg, sehingga tidak ada kecurigaan hipertensi pada o.p ini )

Hardvard Step Test I Biodata o.p Nama : Tyas Aulia Waktu (detik) 30 60 90 Total : Frekuensi Nadi 79 68 59 206

Jenis Kelamin : Perempuan Usia : 19 tahun

Berat Badan : 45 kg

Waktu pelaksanaan 2 menit 29 detik

13

Indeks Kesanggupan Badan * Cara cepat = = = * Cara lambat = = = lama naik turun bangku (dlm detik) x 100 5,5 x denyut nadi selama 30 pertama 89 x 100 5,5 x 79 20,4 = 20 lama naik turun bangku (dlm detik) x 100 2 x jumlah ketiga denyut nadi tiap 30 89 x 100 2 x 206 22

(Indeks Kesanggupan Badannya Kurang karena nilainya kurang dari 50) Hardvard Step Test II Biodata o.p Nama : Yudha Ferriansyah Waktu (detik) 30 60 90 Total : Frekuensi Nadi 68 51 48 167

Jenis Kelamin : Laki-Laki Usia : 18 tahun

Berat Badan : 63 kg

Waktu pelaksanaan 2 menit 30 detik

Indeks Kesanggupan Badan * Cara cepat = = = * Cara lambat = = lama naik turun bangku (dlm detik) x 100 5,5 x denyut nadi selama 30 pertama 90 x 100 5,5 x 68 24 lama naik turun bangku (dlm detik) x 100 2 x jumlah ketiga denyut nadi tiap 30 90 x 100 2 x 167

= 27 (Indeks Kesanggupan Badannya Kurang karena nilainya kurang dari 50)

14

Kesimpulan : Jika sebelum dan sesudah pendinginan pada o.p yang mengikuti cold pressure test terjadi peningkatan sistol > 20 mmHg dan diastol > 15 mmHg, maka o.p ini dicurigai akan mengalami hipertensi di kemudian hari. Kemudian pada Hardvard Step Test, kesanggupan badan seseorang dapat dinyatakan dengan Indeks Kesanggupan Badan (IKB). Semakin besar nilai IKB, semakin baik kesanggupan badan seseorang.

3. PENGARUH PERANGSANGAN N.VAGUS PADA JANTUNG KURA-KURA PENDAHULUAN : DASAR TEORI Frekuensi Jantung Jantung dipersarafi oleh kedua divisi system saraf otonom,yang dapat memodifikasi kecepatan (serta kekuatan) kontraksi,walaupun untuk memulai kontraksi tidak memerlukan stimulasi saraf.

Efek Sistem Saraf Otonom pada Jantung dan Struktur yang Mempengaruhi Jantung

Daerah yang Terpengaruh Nodus SA

Efek Stimulasi Parasimpatis Penurunan depolarisasi penurunan denyut jantung ke

Efek stimulasi Simpatis kecepatan

kecepatan Peningkatan

ambang; depolariasasi ke ambang; kecepatan peningkatan denyut jantung kecepatan

Nodus AV

Penurunan peningkatan nodus AV

eksitabilitas; Peningkatan perlambatan penurunan nodus AV

eksitabilitas; perlambatan

Jalur penghantar ventrikel

Tidak ada efek

Mrningkatkan eksitabilitas; meningkatkan hantaran

melalui berkas his dan sel purkinje Otot atrium Penurunan kontraktilitas;melemahkan kontraksi Meningkatkan kontraktilitas; memperkuat kontraksi

15

Otot ventrikel

Tidak ada efek

Meningkatkan kontraktilitas; memperkuat kontraksi

Medula adrenal

Tidak ada efek

Mendorong

sekresi

epinefrin, suatu hormone yang memperkuat efek

system saraf simpatis pada jantung, adrenal Vena Tidak ada efek Meningkatkan aliran balik vena, yang meningkatkan kekuatan kontraksi jantung mealui makanisme FrankStarling TUJUAN Pada akhir latihan ini mahasiswa harus dapat : 1. Membebaskan N.Vagus (N.X) kiri dan kanan 2. Membuktikan pengaruh kegiatan N.X. yang terus menerus ( vagotonus) pada jantung. 3. Mencatat dan menjelaskan pengaruh perangsangan lemah dan kuat N.X. pada jantung dalam hal : a. Masa laten b. Akibat ikutan (after effect) c. Frekuensi denyut d. Kekuatan kerutan 4. Mendemonstrasikan peristiwa lolos vagus Alat dan binatang percobaan yang diperlukan : 1. Kura-kura + meja operasi kura + tali pengikat 2. Kimograf rangkap + kertas + perekat + kipas kimograf + statif dan klem. 3. 2 pencatat jantung + 2 penjepit jantung 4. 2 sinyal maknit : - 1 untuk mencatat waktu ( waktu= 1 detik) 1 untuk mencatat tanda rangsang 5. Stimulator induksi + elektroda perangsang + kawat-kawat. 6. Botol plastik berisi larutan Ringer + pipet.
16

oleh

medulla

7. Benang + malam + kapas. Tata kerja 1 pengaruh kegiatan N.X. yang terus menerus pada jantung

1. Ikatlah keempat kaki kuar-kura yang telah dirusak otaknya dan dibor perisai dadanya pada meja operasi. 2. Lepaskan perisai dada kura-kura yang telah di bor dari jaringan di bawahnya dengan menggunakan pinset dan scalpel tanpa menimbulkan banyak pendarahan. 3. Bukalah dengan gunting pericardium yang membungkus jantung secara hati-hati agar jangan terjadi perdarahan. Sekarang terlihat denyut jantung berdenyut dengan jelas. 4. Bebaskan kedua N.X. sesuai dengan petunjuk umum. 5. Buatlah 2 ikatan longgar ada setiap N.X. 6. Buktikanlah bahwa kedua saraf yang saudara bebaskan benar-benar N.X. dengan cara merangsangnya dengan arus faradic yang cukup kuat dan cukup lama untuk memperlihatkan efek N.X. terhadap jantung. P.III.3.1. Apakah N.X. termasuk golongan saraf kolinergik? Ya, nervus X termasuk saraf kolinergik P.III.3.2. Bagaimana pengaruh N.X. pada jantung berdasarkan pembagian saraf adrenergic dan kolinergik? N.X termasuk saraf kolinergik yang berarti menurunkan kontraksi otot jantung dan kecepatan denyut jantung saraf adrenergik yang berarti meningkatkan kontraksi otot jantung dan kecepatan denyut jantung P.III.3.3. Apa yang saudaar harapkan dapat dilihat pada jantung kura-kura bila N.X. di rangsang? Denyut jantung akan menjadi semakin lambat (bradikardia) 7. Hitunglah frekuensi denyut jantung. 8. Ikatlah kuat-kuat semua ikatan longgar tersebut di atas dan guntinglah kedua N.X. diantara dua ikatan. 9. Tunggulah 1 menit dan hitunglah kembali frekuensi denyut jantung. P.III.3.4. Mengapa harus menunggu 1 menit sebelum menghitung kembali frekuensi denyut jantung? Karena efek dari pemotongan nervus vagus baru terjadi P.III.3.5. Perubahan apa yang saudara harapkan terjadi ada frekuensi denyut setelah
17

pemotongan kedua N.X? Frekuensi jantung akan semakin cepat (takikardia) yang disebabkan oleh pengaruh saraf otonom (saraf simpatis).

2. Pengaruh perangsangan N.X. pada atrium dan ventrikel

1. Pasanglah berbagai alat sesuai dengan gambar sehingga saudara dapat mencatat : a. Mekanomiogram atrium b. Mekanomiogram ventrikel c. Tanda rangsang d. Tanda waktu ( 1 detik ) Usahakan supaya ke empat pencatat di atas mempunyai titik sinkron yang sedapat dapatnya terletak pada 1 garis ventrikel. 2. Tanpa menjalankan tromol, rangsanglah N.X. kanan bagian perifer dengan rangsang faradic lemah, sehingga terlihat jelas timbulnya bradikardi. 3. Jalankan tromol dengan kecepatan yang tepat untuk mencatat 10 denyut jantung sebagai control. Tanpa menghentikan tromol rangsanglah N.X. kanan bagian perifer dengan rangsang sub.2 selama jantung yang sempurna. Perhatikan : a. Masa laten b. akibat ikutan ( after effect ) c. frekuensi denyut d. kekuatan kerutan P.III.3.6. Apa yang dimaksud dengan: a. Masa laten b. akibat ikutan? 5 detik, hentikan tromol setelah terjadi pemulihan

a. Masa laten : Adalah periode antara pemberian rangsang hingga timbul kontraksi yang pertama b. Akibat ikutan vagal escape 4. Tanpa menjalankan tromol rangsanglah N.X. kanan bagian perifer dengan rangsang faradic yang cukup kuat sehingga terlihat jelas timbulnya henti jantung. 5. Setelah menunggu 5 menit ulangi percobaan sub.3 dengan menggunakan rangsang faradic sub.4. sehingga terjadi henti jabtung 9 cardiac arrast ). P.III.3.7. Bagaimana mekanisme terjadi henti jantung?
18

: Adalah denyut ikutan yang lebih kuat setelah terjadinya

Henti jantung terjadi setelah jantung kura-kura dirangsang dengan arus listrik pada saat diastole berkali-kali. Jika arus tegangannya semakin meningkat dan melebihi batas kesanggupan jantung untuk berkontraksi, maka terjadilah cardiac arrest. 3. Lolos Vagus ( Vagal Escape ) 1. Jalankan tromol kecepatan yang tepat untuk mencatat 10 denyut jantung sebagai kontrol. Tanpa mengentikan tromol rangsanglah N.X. kanan bagian perifer dengan rangsang faradic cukup kuat (sub.II.4 ) sehingga terjadi henti jantung. Teruskan perangsangan dan pencatatan sehingga timbul lolos vagus. Bila perngsangan sudah berlangsung 30 detik tanpa terjadi lolos vagus hentikan perangsangan. P.III.3.8. Apa yang dimaksud dengan lolos vagus? Adalah denyut pertama setelah terjadinya cardiac arrest P.III.3.9. Bagaimana mekanisme terjadinya lolos vagus? Pada saat cardiac arrest, tidak terjadi denyut. Tetapi dalam keadaan ini darah terus mengalir dari atrium ke ventrikel, sehingga katup semilunar pun terbuka dan terjadilah kontraksi denyut sitole pertama yang tidak begitu kuat 2. Bila pada asaha saudara yang pertama lolos vagus tidak terjadi, maka boleh dicoba 2x lagi dengan waktu rangsang yang lebih lama, dan bila masih juga belum berhasil hentikanlah percobaan saudara. P.III.3.10. Faktor apa yang menghilangkan kemungkinan terjadinya lolos vagus? Faktor adanya aliran darah di jantung dan impuls listrik jantung yang kurang untuk merangsang kontraksi, dan juga pemberian rangsangan yang tidak kontinyu.

19

HASIL PRAKTIKUM & ANALISA A. Pengaruh Kegiatan N. X yang Terus-Menerus pada Jantung Percobaan dilakukan dengan mengamati tayangan video mengenai topik terkait. B. Pengaruh Perangsangan N. X pada Atrium dan Ventrikel Percobaan dilakukan dengan mengamati tayangan video mengenai topik terkait. C. Lolos Vagus (Vagal Escape)

Pada perangsangan parasimpatis multipel, jantung akan mengalami masa laten dan bradikardi pada mulanya, kemudian cardiac arrest. Setelah beberapa saat, akan timbul suatu denyutan baru yang tidak dipengaruhi oleh Nervus Vagus (padahal ketika itu, Nervus Vagus masih dirangsang). Denyutan itu disebut sebagai Vagal Escape. Setelah terjadi vagal escape, terdapat denyutan bradikardi sebagai akibat intervensi kembali Nervus Vagus. Hal tersebut disebut dengan after effect. Setelah itu, denyut jantung kembali seperti semula.

20

KESIMPULAN Nervus Vagus memiliki serabut parasimpatis yang berfungsi untuk memperlambat denyut jantung. Jika Nervus Vagus dipotong, maka tidak ada lagi yang menstimulasi agar jantung memperlambat kinerjanya sehingga kontraksi akan terus cepat dan frekuensi pun meningkat. Cardiac arrest terjadi karena perangsangan faradic yang kuat, kemudian terjadi hiperpolarisasi yang justru tidak menimbulkan potensial aksi. Vagal escape dapat terjadi karena jantung memiliki sifat otoritmisitas, jantung akan memompa dirinya sendiri tanpa stimulasi dari SA Node. Kontraksi jantung yang terjadi merupakan akibat dari venous return yang terus terjadi sehingga volume end diastolic pun lebih besar dan merangsang jantung untuk berdenyut.

4.Hukum starling Percobaan ini tidak dilakukan karena tidak adanya alat

21

5.URUTAN DENYUT KERUTAN BERBAGAI BAGIAN JANTUNG DAN DENYUT EKTOPIK PADA JANTUNG KURA-KURA PENDAHULUAN : DASAR TEORI Aktivitas Listrik Jantung Terdapat dua jenis khusus sel otot jantung : a. 99% sel otot jantung adalah sel kontraktil, yang melakukan kerja mekanis, yaitu

memompa. Sel sel pekerja ini dalam keadaan normal tidak menghasilkan sendiri potensial aksi. b. Sebaliknya, sebagian kecil sel sisanya, sel otoritmik, tidak berkontraksi tetapi

mengkhususkan diri mencetuskan dan menghantarkan potensial aksi yang bertanggung jawab untuk kontraksi sel sel pekerja. Contohnya nodus sinoatrium, c. Nodus atrioventrikel, berkas His dan serat purkinje.

Penyebaran Eksitasi Jantung Sebuah potensial aksi yang dimulai di nodus SA pertama kali menyebar ke kedua atrium. Penyebaran impuls tersebut di permudah oleh dua jalur penghantar atrium khusus, jalur antaratrium dan jalur antar nodus. Nodus AV adalah satu satunya titik tempat potensial aksi dapat menyebar dari atrium ke venrikel. Dari nodus AV, potensial aksi menyebar cepat keseluruh ventrikel, diperlancar oleh sistem penghantar vetrikel khusus yang terdiri dari berkas His dan serat purkinje. Daerah yang mengalami aksiasi abnormal, yakni fokus ektopik, mencetuskan potensial aksi prematur yang menyebar ke seluruh bagian jantung lainnya sebelum nodus SA dapat menghasilkan potensial aksi.

Proses Mekanis Pada Siklus Jantung Siklus jantung tediri dari tiga kejadian penting: 1 Pembentukan aktifitas listrik sewaktu jantung secara otortmes mengalami

depolarisasi dan repolarisasi. 2 Aktivitas mekanis yang terdiri dari periode sistle (kontraksi dan pengosongan) dan

diastole (relaksasi dan pengisian) berganti ganti, yang dicetuskan oleh siklus listrik yang berirama. 3 Arah aliran darah melintasi bilik bilik jantung yang ditentukan oleh pembukaan dan

pentupan katup-katup akibat perubahan tekanan yang dihasilkan oleh aktivitas mekanis.
22

PELAKSANAAN PRAKTIKUM TUJUAN Pada akhir latihan ini mahasiswa harus dapat : 1. Membuat sediaan jantung kura sesuai dengan petunjuk umum. 2. Menetapkan urutan berbagai bagian jantung kura atas dasar pengamatan sendiri. 3. Mencatat mekanokardiogram atrium dan ventrikel kura. 4. Merangsang atrium dan ventrikel jantung dengan arus buka pada berbagai fase :     Sistole Puncak sistole Diastole Akhir diastole

5. Membedakan peka rangsangan atrium dan ventrikel jantung pada berbagai fase kontraksi tersebut diatas. 6. Menerangkan terjadinya perbedaan kepekaan pada berbagai fase tersebut diatas. ALAT & BAHAN 1. 2. 3. 4. Kura-kura + meja operasi kura + tali pengikat Kimograf rengkap + kapas kimograf + kertas + perekat Statif + klem Dua sinya maknit : 1 untuk mencatat waktu 1 untuk mencatat tanda 5. Kawat listrik 6. Stimulator induksi + elektroda perangsang 7. Dua pencatat jantung + penjepit jantung 8. Batang kuningan berbentuk huruf L 9. Benang + malam 10. Botol plastik berisi larutan Ringer + pipet 5.1. URUTAN KERUTAN BERBAGAI BAGIAN JANTUNG TATA CARA 1. Ikatlah ke 4 kaki kura yang telah dirusak otaknya dan dibor perisai dadanya, ada meja operasi.

23

2. Lepaskan perisai dada kura-kura yang telah dibor dari jaringan dibawahnya dengan menggunakan pinset dan scalpel tanpa menimbulkan banyak perdarahan. P.III.5.1. Bagaimana cara yang baik untuk menghindarkan perdarahan pada tindakan ini ? Cara menghindari perdarahannya adalah dengan membor secara hati hati perisai dada dari kura kura dan hindari jangan sampai jaringan dibawahnya terkena. Jaringan dibawah dibuka menggunakan pinset dan skapel sehingga mengurangi pendarahan. 3. Bukalah dengan gunting pericardium yang membungkus jantung secara hati-hati agar jangan terjadi perdarahan. Sekarang terlihat jantung berdenyut dengan jelas. P.III.5.2. Apa beda anatomi yang penting antara jantung kura-kura dengan jantung

mammalia ? Beda jantung kura kura dengan jantung mamalia adalah jantung kura kura hanya memiliki 1 ventrikel sedangkan mamalia 2 ventrikel. 4. Pelajari anatomi jantung kura-kura dengan bantuan petunjuk umum. Untuk mempelajari bagian dorsal angkatlah ventrikel keatas dengan benda tumpul. P.III.5.3. Apa bahaya manipulasi yang terlalu sering dan kasar terhadap jantung ? Jika terjadi manipulasi yang terlalu sering dan kasar maka mengakibatkan kerusakan jantung sampai henti jantung. 5. Nyatakan urutan kerutan berbagai bagian jantung. 5.2. DENYUT EKTOPIK ATRIUM DAN VENTRIKEL TATA CARA 1. Pasanglah pelbagi alat sesuai dengan gambar sehingga saudara dapat mencatat : a. Mekanokardiogram atrium b. Mekanokardiogram ventrikel c. Tanda rangsang d. Tanda waktu Usahakan supaya ke 4 pencatat itu mempunyai titik sinkron yang terletak pada satu garis vertikal.

24

P.III.5.4. Apa yang dimaksud dengan titik sinkron ? Titik sinkron adalah sejumlah titik akhir systole yang sejajar yang terjadi pada ambang batas maksimum otot jantung dimana semua otot jantung telah berkontraksi. 2. Tanpa menjalankan tromol kimogrof, carilah kekuatan rangsang buka yang dapat menimbulkan denyut etopik atrium. Berlatihlah sebaik-baiknya dalam memberikan rangsang dalam arus buka pada : a. Sistole atrium b. Puncak sistole atrium c. Diastolik atrium d. Akhir diastolik atrium P.III.5.5. Apa yang dimaksud dengan denyut ektopik atrium ? Denyut ektopik

adalah denyut yang timbul akibat ransangan pada otot otot diluar SA Node saat terjadi diastole. P.III.5.6. Pasa saat apa sebaiknya perangsangan diberikan untuk menghasilkan denyut ektopik ? Untuk menghasilkan denyut ektopik, perangsangan sebaiknya diberikan pada saat 1/3 diastole sampai 2/3 diastole. P.III.5.7. Apa yang dimaksud dengan interval AV ? dan bagaimana mengukurnya ? Interval AV adalah jarak waktu dibutuhkan atrium dan ventrikel untuk melakukan systole dan diastole. Cara yang dilakukan dengan menggunakan mekanokardiogram atrium dan ventrikel. 3. Jalankan tromol dengan kecepatan yang tepat (lihat gambar) untuk mencatat 10 denyut jantung sebagai kontrol. Tanpa menghentikan tromol rangsanglah atrium dengan kekuatan rangsang sub.2 pada : a. Sistole atrium b. Puncak sistole atrium c. Diastole atrium d. Akhir diastolik atrium Setiap kali setelah perangsangan biarkanlah jantung berdenyut 5 6 kali.

25

4. Tanpa menjalankan tromol carilah rangsang buka yang dapat menimbulkan denyut ektopik ventrikel 5.8 Apa yang dimaksud dengan denyut ektopik ventrikel? Jawaban: Denyut ektopik yang mucul pada fase diastolik ventrikel 5.9 Mengapa ventrikel tidak boleh dirangsang dengan rangsang faradic? Jawaban: Karena rangsangannya akan berlebihan

5.10

Apakah denyut ektopik ventrikel diikuti oleh denyut ektopik atrium? Jawaban:Tidak, denyut ektopik atrium mendahului ventrikel

5.11 Apa yang dimaksud dengan rehat kompensasi? Jawab : rehat kompensasi adalah istirahat saraf setelah melakukan denyut ektopik untuk menghindari rangsang berlebihan 5.12 Bila rehat kompensasi penuh dan tidak penuh? Jawab :

5.13

Apakah ada hubungan antara saat perangsangan dengan amplitudo denyut

ektopik yang dihasilkanya? Jawab : Iya. Amplitudo lebih tinggi pada saat dirangsang di pertengahan atau 2/3 diastol

KENDALA y Percobaan dilakukan dengan mengamati tayangan video saja sehingga ilmu yang diserap tidak sebaik jika terlibat langsung. HASIL PRAKTIKUM & ANALISA A. Urutan Kerutan Berbagai Bagian Jantung Percobaan dilakukan dengan mengamati tayangan video mengenai topik terkait. B. Denyut Ektopik Atrium dan Ventrikel ATRIUM y Atrium sistole : Tidak ada denyut ektopik
26

y y y

Atrium puncak sistole : Tidak ada denyut sistole Atrium diastole : Ada denyut ektopik pada kekuatan 7.5 mV

Atrium akhir diastole : Ada denyut ektopik

VENTRIKEL y y y y Ventrikel sistole Ventrikel puncak sistol Ventrikel diastole Ventrikel akhir diastole : Tidak ada denyut ektopik : Tidak ada denyut ektopik : Ada denyut ektopik pada kekuatan 5mV : Tidak ada denyut ektopik

Denyut ektopik : sistol maksimal dan sistol

27

Denyut ektopik : diastole

Denyut ektopik : sistol maksimum dan diastole maksimum

28

KESIMPULAN Denyut ektopik merupakan kelainan denyut yang timbul di luar sistol dan diastol (denyut ekstra sistol). Denyut tersebut dapat dirangsang pada masa di luar refrakter absolut. Hal ini dapat terjadi pada manusia jika saraf simpatis dirangsang secara kontinu (dengan konsumsi kopi dan stress yang terus menerus).

29

DAFTAR PUSTAKA Cameron, J.R.et al. 2006. Fisika Tubuh Manusia. Jakarta : EGC Sherwood Lauralee, 2001. Fisiologi, Jakarta, penerbit EGC Ganong.2008.Buku Ajar Fisiologi Kedokteran.Jakarta:EGC.

30