Anda di halaman 1dari 34

SISTEM PERLAKUAN LIMBAH

MAKALAH 6 ELEMEN PENGELOLAAN LIMBAH B3

Disusun oleh :
FADLAN BAHAR

1513004

TEKNOLOGI KIMIA POLIMER


POLITEKNIK STMI JAKARTA
JAKARTA
2015

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT, karena dengan rahmat dan hidayah-Nyalah
penulis dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Shalawat beriring salam
selalu kita panjatkan kepada Rasullullah SAW, karena kegigihan beliau dan ridho-Nyalah
kita dapat merasakan kenikmatan dunia seperti sekarang ini.
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas yang
diberikan oleh Dosen Sistem Perlakuan Limbah, makalah ini juga bertujuan untuk
menambah pengetahuan dan wawasan bagi pembaca sekalian.
Penulis menyadari bahwasanya makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh
karena itu kritik dan saran penulis harapkan dari pembaca sekalian demi terciptanya
kesempurnaan dalam penyusunan makalah ini. Semoga makalah ini bermanfaat bagi yang
memerlukan. Terima kasih.

Jakarta, 6 Januari 2016

Penulis
1

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ............................................................................................. i
DAFTAR ISI ...........................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
Latar Belakang ...................................................................................................... 1
Rumusan Masalah .................................................................................................. 1
Tujuan .................................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN
Umum . 3
Dokumen...... 3
Simbol dan Label..... 5
Pewadahan dan Pengemasan....... 12
Penyimpanan dan Pengumpulan.. 18
Pengangkutan... 25
BAB III PENUTUP
Kesimpulan .............................................................................................................. 28
Saran ........................................................................................................................ 28
Daftar Pustaka ......................................................................................................... 29

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Penggunaan kimia dalam kebudayaan manusia sudah dimulai sejak zaman
dahulu. Kimia merupakan salah satu ilmu pengetahuan alam, yang berkaitan dengan
komposisi materi, termasuk juga perubahan yang terjadi di dalamnya, baik secara
alamiah maupun sintetis. Senyawa-senyawa kimia sintetis inilah yang banyak dihasilkan
oleh peradaban modern, namun materi ini pulalah yang dapat menimbulkan
pencemaran lingkungan yang berbahaya. Dengan mengetahui komposisi dan memahami
bagaimana perubahan terjadi, manusia dapat mengontrol dan memanfaatkannya
untuk kesejahteraan manusia.
Pengalaman negara industri dengan masalah limbah B3 nya hendaknya
memberikan masukan bagi pengambil keputusan atau pihak-pihak terkait di Indonesia
untuk tidak menyebabkan kasus-kasus yang terjadi di negara industri tersebut
terulang lagi di negara Indonesia. Dalam diktat ini, contoh- contoh tentang masalah
limbah B3 dan pengelolaannya diambil dari pengalaman negara industri, khususnya
Amerika Serikat guna memberikan gambaran kepada mahasiswa yang mengambil mata
kuliah ini pada khususnya, atau fihak-fihak lain pada umumnya akan pentingnya
pengelolaan limbah B3 terutama bagi negara Indonesia yang diharapkan akan menjadi
negara industri dalam masa mendatang. Berikut ini akan diberikan illustrasi berbagai
kasus yang menyangkut bahan atau limbah B3 dari negara industri, yang secara
kenyataan telah lebih maju dari Indonesia baik dari segi keberadaan industrinya,
keberadaan peraturan perundang-undangannya ataupun kesiapan masyarakatnya.
Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang akan penulis bahas dalam penulisan makalah ini
adalah :
1. Apa saja elemen-elemen pengelolaaan limbah B3?
2. Bagaimana proses elemen-elemen tersebut dalam mengelola limbah B3?

Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah :
1. Untuk mengetahui elemen-elemen pengelolaan limbah B3.
2. Memahami proses mengelola limbah B3 dengan elemen-elemen yang ada.

BAB II
PEMBAHASAN

UMUM
Untuk memberikan gambaran tentang aspek penyimpanan sampai pengangkutan
bahan berbahaya, maka aturan-aturan yang diberlakukan di USA, khususnya dalam
mengatur transportasi bahan berbahaya yang diatur dalam Hazardous Materials
Transportation Act, dapat digunakan. Menurut US Department of Transportation
(USDOT), bahan berbahaya adalah setiap bahan yang dapat menimbulkan resiko terhadap
kesehatan, keselamatan dan harta benda bila diangkut.
Pada prinsipnya tidak ada perbedaan yang berarti dalam menyimpan dan
mengangkut B3 atau limbah B3. Namun terlihat bahwa pengaturan limbah B3 terkesan
lebih ketat dibandingkan
pengaturan B3, karena pengaturan B3 sudah dilaksanakan sejak lama, dan menjadi standar
baku secara universal, khususnya dalam menangani bahan kimia dan bahan bakar. Dalam
Diktat ini juga diuraikan tata-cara yang berlaku di Indonesia dalam menanangani limbah
B3 yang berasal dari beberapa regulasi yang dikeluarkan sebelum PP 74/2001 dikeluarkan.
Penyimpanan, pengumpulan dan pengangkutan merupakan komponen-komponen teknik
operasional pengelolaan limbah B3 seperti diatur dalam PP 19/1994 dan PP12/1995, yang
kemudian diganti menjadi PP 18/99 dan PP 85/1999. Pengaturan teknis tentang aspek ini
sejak
tahun 1995 diatur dalam:
a) Kep.Kepala Bapedal No.01/Bapedal/09/1995: tentang Tata Cara dan Persyaratan
Teknis Penyimpanan dan Pengumpulan Limbah B3
b) Kep.Kepala Bapedal No.02/Bapedal/09/1995: tentang Dokumen Limbah B3
c) Kep.Kepala Bapedal No.05/Bapedal/09/1995: tentang Simbol dan Label Limbah
B3

DOKUMEN
3

Bahan-bahan berbahaya tersebut bila akan diangkut ke tempat lain, harus


dilengkapi dengan dokumen resmi, yang merupakan legalitas kegiatan pengelolaan
sehingga dokumen ini akan merupakan sarana/alat pengawasan dalam konsep cradle-tograve. Dokumen ini dikenal pula sebagai shipping papers, dengan format yang telah
dibakukan dengan Keputusan Kepala Bapedal No.02/Bapedal/09/1995, yang antara lain
terdiri dari:
a) Bagian yang harus diisi oleh penghasil atau pengumpul limbah B3, antara lain
berisi:
o Nama dan alamat penghasil atau pengumpul limbah B3 yang menyerahkan
limbah B3 Nomor identifikasi (identification number) UN/NA
o

Kelompok kemasan (packing group),

o Kuantitas (berat, volume dan sebagainya)


o Kelas 'bahaya' dari bahan itu (hazard class), Tanggal penyerahan limbah
o Tanda tangan pejabat penghasil atau pengumpul, dilengkapi tanggal, untuk
menyatakan bahwa limbahnya telah sesuai dengan keterangan yang ditulis
serta telah dikemas sesuai peraturan yang berlaku
Bila pengisi dokumen adalah pengumpul yang berbeda dengan penghasil, maka dokumen
tersebut dilengkapi dengan salinan penyerahan limbah tersebut dari penghasil limbah.
b) Bagian yang harus diisi oleh pengangkut limbah B3, antara lain berisi :
o Nama dan alamat pengangkut limbah B3
o Tanggal pengangkutan limbah
o Tanda tangan pejabat pengangkut limbah
c) Bagian yang harus diisi oleh pengolah atau pengumpul atau pemanfaat limbah B3,
antara lain berisi:
o Nama dan alamat pengolah atau pengumpul atau pemanfaat limbah B3

o Tanda tangan pejabat pengolah, pengumpul atau pemanfaaat, dilengkapi


tanggal, untuk menyatakan bahwa limbah yang diterima sesuai dengan
keterangan dari penghasil dan akan diproses sesuai peraturan yang berlaku
d) Apabila limbah yang diterima ternyata tidak sesuai dan tidak memenuhi
syarat,maka limbah
tersebut dikembalikan lagi kepada penghasil, disertai keterangan:
o Jenis limbah dan jumlahnya
o Alasan penolakan
o Tanda tangan pejabat pengolah atau pemanfaat dan tanggal pengembalian
Surat-surat dokumentasi pengangkutan tersebut ditempatkan di kendaraan angkut
sedemikian rupa sehingga cepat didapat dan tidak tercampur dengan surat-surat lain.
Penghasil limbah B3 akan menerima kembali dokumen limbah B3 tersebut dari pengumpul
atau pengolah selambat-lambatnya 120 hari sejak limbah tersebut diangkut untuk dibawa
ke pengumpul atau pengolah atau pemanfaat.
Nomor identifikasi mempunyai kode UN (United Nation) atau NA (North America)
diikuti oleh 4 digit angka, yang secara cepat akan dapat memberikan informasi bila terjadi
kecelakaan. Diharapkan Tim yang bertanggungjawab dalam menangani kecelakaan, secara
cepat dapat mengidentifikasi sifat bahan berbahaya itu serta cara penanggulangannya.
SIMBOL DAN LABEL
Label Versi US-DOT:
Guna keamanan dan memudahkan pengenalan secara cepat bahan berbahaya
tersebut, maka United States - Department of Transportation (US-DOT) digunakan tandatanda dalam bentuk simbol dan label. Simbol berbentuk bujur sangkar diputar 45 derajat
sehingga membentuk belah ketupat. Pada keempat sisi belah ketupat tersebut dibuat garis
sejajar yang menyambung sehingga membentuk bidang belah ketupat dalam ukuran 95
persen dari ukuran belah ketupat bahan. Warna garis yang membentuk belah ketupat
dalam sama dengan warna simbol. pada bagian bawah simbol terdapat blok segilima
dengan bagian atas mendatar dari sudut terlancip terhimpit dengan garis sudut bawah belah
ketupat bagian dalam. Simbol yang dipasang pada kemasan minimal berukuran 10 cm x 10
cm, sedangkan simbol pada kendaraan pengangkut tempat penyimpanan minimal 25 cm x
5

25 cm. Sedang label merupakan penandaan pelengkap yang berfungsi memberikan


informasi dasar mengenai kondisi kualitatif dan kuantitatif dari suatu bahan yang dikemas.
Simbol atau label tersebut pada dasarnya dibagi berdasarkan kelas bahaya dari
limbah yang akan diangkut. Terdapat 9 klasifikasi bahan berbahaya menurut versi USDOT
yaitu:
a) Kelas-1: bahan yang mudah meledak (explosive), terbagi lagi menjadi 5 divisi
dengan nomor 1.1 sampai 1.5 sesuai dengan jenis akibat yang dapat ditimbulkan
oleh eksplosif tersebut. Definisi eksplosif menurut USDOT adalah setiap senyawa
kimia, campuran atau peralatan, yang penggunaannya adalah dengan
memfungsikan ledakannya.
b) Kelas-2: gas, terbagi menjadi 3 divisi dengan nomor 2.1 sampai 2.3 sesuai dengan
sifat- sifatnya, yaitu:
o Divisi 2.1: flammable gas (gas mudah terbakar) yaitu bahan berupa gas
yang pada temperatur -20 C dan tekanan 1 atmosfir akan terbakar bila
bercampur dengan udara sekitar 13 % volume atau kurang
o Divisi 2.2: nonflammable compressed gas yaitu setiap bahan atau campuran
yang dikemas pada tabung gas dengan tekanan dan tidak termasuk ke
dalam divisi 2.1 dan 2.
o

Divisi 2.3: poisonous gas (gas beracun) yaitu bahan berupa gas yang pada
temperatur -20 C dengan tekanan 1 atmosfir akan merupakan bahan toksik
pada manusia, atau dianggap toksik pada manusia dengan adanya
pengujian pada binatang di laboratorium dengan harga LC50< 5000 ppm.

c) Kelas-3: cairan mudah terbakar (flammable). Kriteria cairan yang mudah terbakar
adalah setiap cairan dengan titik nyala (flash point) tidak lebih dari 60,5 C.
d) Kelas-4: padatan mudah terbakar atau berbahaya bila lembab, terbagi menjadi 3
divisi dengan nomor 4.1 sampai 4.3 sesuai dengan sifat-sifatnya, yaitu :
o Divisi 4.1: flammable solid yaitu bahan padat, bukan peledak, yang bila
pada kondisi
normal terjadi kecelakaan akan menyebabkan terbentuknya api akibat

gesekan dan
sebagainya, atau bila dibakar akan menyala segera dan cepat.
o Divisi 4.2: spontaneously combustible materials yaitu bahan yang bila pada
kondisi normal terjadi kecelakaan secara spontan akan menjadi panas akibat
berkontak dengan udara misalnya bahan yang termasuk pyrophoric.
o Divisi 4.3: dangerous when wet materials yaitu bahan yang secara spontan
menyala
atau memberikan gas bila berkontak dengan air.
e) Kelas-5: pengoksidasi dan peroksida organik, terbagi menjadi 2 divisi. Oksidator
adalah bahan kimia seperti khlorat, permanganat, peroksida organik, nitrat dan
sebagainya yang dapat mengoksidasi materi organik, sedang peroksida organik
adalah senyawa yang mengandung struktur - O - O - .
f) Kelas-6: bahan racun dan menular, terbagi menjadi 2 divisi. Kelompok berikutnya
adalah bahan beracun (di luar gas) yang diketahui toksik pada manusia, dan bahan
menular baik berupa mikroorganisme atau toxin yang dapat mendatangkan penyakit
pada manusia.
g) Kelas-7: bahan radioaktif. Bahan radioaktif (termasuk kelas-7) menurut versi
USDOT adalah setiap materi atau kombinasi materi yang secara spontan
mengionisasi radiasi dengan aktivitas spesifik lebih besar dari 0,002 microcurie
per-gram. Plakat yang digunakan berlabelkan Radioactive white-I, Radioactive
yellow-II dan Radioactive yellow-III. Radioactive white-I dengan bahaya
minimum, dengan plakat warna putih dan simbol hitam. Radioactive Yellow-III
adalah dengan bahaya maksimum. Plakat Radioactive yellow-II dan Radioactive
yellow-III berwarna kuning di atas, dan putih di bawah dengan simbol hitam,
sedang tulisan I, II atau III dengan warna merah.
h) Kelas-8: bahan korosif. Bahan korosif (kelas-8), baik cair atau padat, menurut versi
USDOT didefinisikan sebagai bahan yang dapat menyebabkan kerusakan visibel ke
materi yang kontak dengannya.

i) Kelas-9: lain-lain. Kelompok lain-lain (kelas-9) adalah bahan yang yang dapat
menyebabkan bahaya, tetapi belum termasuk dalam katagori kelas sebelumnya,
seperti obat bius dan sebagainya.
Disamping itu, terdapat bahan yang tidak termasuk dalam kelas tersebut (tertulis 'none'),
yaitu:
o Bahan-bahan terlarang
o Bahan-bahan eksplosif terlarang
o Bahan-bahan dengan aturan lain, dengan kode ORM (other regulated materials)
ORM-D: komuditas konsumer seperti hair spray ORM-E: lain-lain yang diatur oleh
USDOT
Label Versi NFPA:
Disamping US-DOT, maka di Amerika Serikat the National Fire Protection
Association (NFPA) mengembangkan pula label berwarna dengan kode, untuk
mengindikasikan bahaya bahan kimia terhadap kesehatan, flammabilitas, dan reaktivitas.
Label dibutuhkan dipasang pada seluruh bahan kimia yang ada di sebuah laboratorium,
bila belum mencantumkan label yang sesuai, maka label NFPA ini merupakan label yang
perlu dipasang. Bentuk belah ketupat yang dibagi empat, dengan warna masing-masing
kotak berbeda. Untuk menujukkan derajad bahaya maka digunakan angka:
o Setiap kotak diberi warna: biru (bahaya terhadap kesehatan), merah (fbahaya
terhadap kebakaran), kuning (bahaya terhadap reaktivitas), dan putih (bahaya
khsusus)
o Angka dan notasi yang terdapat pada masing-masing kotak adalah:
a) Bahaya terhadap kesehatan:
o 0 = minimal, artinya tidak terdapat bahaya toksisitas
o 1 = ringan, artinya mempunyai karakter dapat menyebabkan iritasi, tetapi
hanya berakibat minor bahkan tanpa perawatan, dan/atau tidak berbahaya
bila digunakan secara hati-hati dan bertanggung jawab
o 2 = moderat, artinya artinya mempunyai karakter yang dapat menyebabkan
bahaya
8

bila paparan berlanjut, dan mungkin menyebabkan luka atau kerusakan


kecuali dilakukan pengobatan
o 3 = serius, artinya mempunyai karakter yang dapat menyebabkan luka atau
kerusakan pada paparan yang singkat walau dilakukan pengobatan, dan/atau
diketahui mempunyai efek karsinogen, mutagen atau teratogen pada
binatang
o 4 = ekstrim, merupakan bahan yang sangat toksik, yang dapat menyebabkan
kematian atau kerusakan dalam paparan yang sangat singkat, dan dilakukan
pengobatan
b) Bahaya terhadap timbulnya kebakaran:
o 0 = minimal, artinya tidak terbakar, tidak menyebabkan flash point, tidak
terbakar di udara bila terpapar pada 815,5oC selama 5 menit.
o 1 = ringan, artinya baru dapat terbakar bila dipanaskan terlebih dahulu,
dan/atau akan terbakar di udara terbuka bila terpapar pada 815,5oC selama
5 menit, dan/atau mempunyai flash point di bawah 93,4oC
o 2 = moderat, artinya bahan tidak mudah terbakar yang mempunyai karakter
dapat
terbakar bila terpapar panas terlebih dahulu, atau perlu terpapar pada
temperatur
tinggi agar kebakaran terjadi, dan/atau bahan padat yang menghasilkan uap
mudah
terbakar, dan/atau mempunyai flash point di atas 37,8oC tetapi lebih kecil
dari 93,4oC
o 3 = serius, artinya bahan mudah terbakar yang mempunyai karakter
menghasilkan uap yang mudah terbakar dalam kondisi biasa, dan/atau dapat
membentuk ledakan yang terbakar dengan cepat di udara, dan/atau siap
terbakar dengan sendirinya akibat kandungan oksigen di dalamnya, dan/atau
mempunyai flash point di atas 22,8oC, tetapi di bawah 37,8oC

o 4 = ekstrim, merupakan bahan yang mudah terbakar dengan flash point di


bawah 22,8oC
c) Bahaya terhadap adanya air (reaktif terhadap air):
o 0 = minimal, artinya bahan yang stabil, dan tidak reaktif terhadap air.
o 1 = ringan, artinya bahan yang stabil yang menjadi tidak stabil bila terpapar
pada temperatur tekanan tinggi.
o 2 = moderat, artinya bahan yang tidak stabil dan akan cepat berubah tetapi
tidak menimbulkan ledakan, dan/atau bahan yang akan berobah kompisisi
kimianya dengan melepaskan enersi yang dikandungnya pada temperatur
dan tekanan normal, dan/atau akan bereaksi dengan keras bila terdapat air,
dan/atau akan menghasilkan ledakan bila bercampur dengan air.
o 3 = serius, artinya bahan yang dapat meledak namun membutuhkan
penyulut yang
kuat agar eterjadi, atau dapat menyimpan panas sebelum terjadi kebakaran,
dan/atau bahan yang sensitive terhadap panas, atau terhadap kejutan
mekanis pada temperatur tinggi, dan/atau bahan yang bereaksi dengan
sendirinya dengan air tanpa membutuhkan panas terlebih dahulu.
o 4 = ekstrim, bahan yang dapat meledak dan terdekomposisi secara keras
pada temperatur dan tekanan normal, dan atau bahan yang dapat
menghasilkan reaksi eksotermis dengan sendirinya bila berkontak dengan
bahan tanpa atau adanya biasa biasa, dan/atau bahan yang sensitive terhadap
perubahan kejutan mekanis atau panas pada temperatur dan tekanan normal.
d) Bahaya spesial, yaitu:
o Reaktif terahadap air (dengan kode: W)
o Bahan oksidator (dengan kode: Ox)
o Bahan radioaktif (dengan kode tanda radioaktif) o Bahan racun (dengan
kode tanda racun)
Contoh:
10

Label Versi KepBapedal 05/09/1995:


Di Indonesia, berdasarkan keputusan Kepala Bapedal No.05/Bapedal/09/1995 terdapat
delapan jenis simbol, yaitu (Gambar 1):
o Simbol klasifikasi limbah B3 mudah meledak : warna dasar oranye. Simbol berupa
gambar berwarna hitam suatu materi limbah yang menunjukkan meledak, yang
terdapat ditepi antara
sudut atas dan sudut kiri belah ketupat bagian dalam. Pada bagian tengah terdapat
tulisan
MUDAH MELEDAK berwarna hitam yang diapit oleh 2 garis sejajar berwarna
hitam sehingga membentuk 2 buah bangun segitiga sama kaki pada bagian dalam
belah ketupat.
o Simbol klasifikasi limbah B3 yang mudah terbakar : terdapat 2 (dua) macam
simbol untuk klasifikasi limbah yang mudah terbakar, yaitu simbol untuk cairan
mudah terbakar dan padatan mudah terbakar:

simbol cairan mudah terbakar: bahan dasar merah. gambar simbol berupa
lidah api berwarna putih yang menyala pada suatu permukaan berwarna
putih. Gambar terletak di bawah sudut atas garis ketupat bagian dalam. Pada
bagian tengah terdapat tulisan
CAIRAN.. dan dibawahnya terdapat tulisan MUDAH TERBAKAR
berwarna putih. Blok segilima berwarna putih.

simbol padatan mudah terbakar: dasar simbol terdiri dari warna merah dan
putih yang berjajar vertikal berselingan. Gambar simbol berupa lidah apai
berwarna hitam yang menyala pada satu bidang berwarna hitam. Pada
11

bagian tengah terdapat tulisan PADATAN dan dibawahnya terdapat


tulisan MUDAH TERBAKAR berwarna hitam. Blok segilima berwarna
kebalikan dari warna dasar simbol.
o Simbol klasifikasi limbah B3 reaktif: bahan dasar berwarna kuning dengan blok
segilima berwarna merah. Simbol berupa lingkaran hitam dengan asap berwarna
hitam mengarah ke atas yang terletak pada suatu permukaan garis berwarna hitam.
Di sebelah bawah gambar simbol terdapat tulisan REAKTIF berwarna hitam.
o Simbol klasifikasi limbah B3 beracun: bahan dasar putih dengan blok segilima
berwarna merah. Simbol berupa tengkorak manusia dengan tulang bersilang
berwarna hitam. Garis tepi simbol berwarna hitam. Pada sebelah bawah gambar
terdapt tulisan BERACUN berwarna hitam.
o Simbol klasifikasi limbah B3 korosif: belah ketupat terbagi pada garis horizontal
menjadi dua
bidang segitiga. Pada bagian atas yang berwarna putih terdapat 2 gambar, yaitu
disebelah kiri adalah gambar tetesan limbah korosif yang merusak pelat bahan
berwarna hitam, dan disebelah kanan adalah gambar lengan yang terkena tetesan
limbah korosif. pada bagian bawah, bidang segitiga berwarna hitam, terdapat
tulisan KOROSIF berwarna putih, serta blok segilima berwarna merah.
o Simbol klasifikasi limbah B3 menimbulkan infeksi: warna dasar bahan adalah putih
dengan garis pembentuk belah ketupat bagian dalam berwarna hitam. Simbol
infeksi berwarna hitam terletak di sebelah bawah sustu atas garis belah ketupat
bagian dalam. pada bagian tengah terdapat tulisan INFEKSI berwarna hitam, dan
dibawahnya terdapat blok segilima berwarna merah.
o Simbol limbah B3 klasifikasi campuran: warna dasar bahan adalah putih dengan
garis pembentuk belah ketupat bagian dalam berwarna hitam. gambar simbol
berupa tanda seru berwarna hitam terletak di sebelah bawah sudut atas garis belah
ketupat bagian dalam. Pada bagian tengah bawah terdapat tuliasan CAMPURAN
berwarna hitam serta blok segilima berwarna merah.
Menurut peraturan yang digunakan di Indonesia, terdapat 3 jenis label yang berkaitan
dengan sistem pengemasan limbah B3, yaitu:
12

o Label identitas limbah: berfungsi untuk memberikan informasi tentang asal usul
limbah, identitas limbah serta kuantifikasi limbah dalam suatu kemasan limbah B3.
Label identitas limbah berukuran minimum 15 cm x 20 cm atau lebih besar, dengan
warna dasar kuning dan tulisan serta garis tepi berwarna hitam, dan tulisan
PERINGATAN ! dengan huruf yang
lebih besar berwarna merahdiisi dengan huruf cetak dengan jelas terbaca dan tidak
mudah terhapus serta dipasang pada setiap kemasan limbah B3 yang disimpan di
tempat penyimpanan, dengan mencantumkan antara lain: nama dan alamat
penghasil, jumlah dan jenis limbah serta tanggal pengisian. Label identitas dipasang
pada kemasan di sebelah atas simbol dan harus terlihat dengan jelas.
o Label untuk penandaan kemasan kosong : bentuk dasar label sama dengan bentuk
dasar simbol dengan ukuran sisi minimal 10 x 10 cm2 dan tulisan KOSONG
berwarna hitam ditengahnya. Label harus dipasang pada kemasan bekas
pengemasan limbah B3 yang telah dikosongkan dan atau akan digunakan untuk
mengemas limbah B3.
o Label penunjuk tutup kemasan: berukuran minimal 7 x 15 cm2 dengan warna dasar
putih dan warna gambar hitam. Gambar terdapat dalam frame hitam, terdiri dari 2
(dua) buah anak panah mengarah ke atas yang berdiri sejajar di atas balok hitam.
Label terbuat dari bahan yang tidak mudah rusak karena goresan atau akibat
terkena limbah dan bahan kimia lainnya. Label dipasang dekat tutup kemasan
dengan arah panah menunjukkan posisi penutup kemasan. Label harus terpasang
kuat pada setiap kemasan limbah B3, baik yang telah diisi limbah B3, maupun
kemasan yang akan digunakan untuk mengemas limbah B3.

13

PENGEMASAN DAN PEWADAHAN


Pengemas B3:
Pengemasan (packaging) juga diatur dan perlu dicantumkan dalam surat
pengangkutan. Alat pengemas dapat berupa: drum baja, kotak kayu, drum fiber, botol gelas
dan sebagainya. Pengemasan yang baik mempunyai kriteria:
o Bahan tersebut selama pengangkutan tidak terlepas ke luar Keefektifannya tidak
berkurang
o Tidak terdapat kemungkinan pencampuran gas dan uap Terdapat 3 jenis kelompok
pengemasan, yaitu:

Kelompok I: derajat bahaya besar

Kelompok II: derajat bahaya sedang

Kelompok III: derajat bahaya kecil.

Menjamin keselamatan transportasi bahan berbahaya merupakan aktivitas yang kompleks.


Kecelakaan akibat bahan berbahaya ini akan menimbulkan masalah serius bagi manusia,
hak milik dan lingkungan. Dengan demikian, aturan tata cara serta konstruksi dan
penggunaan kontainer untuk bahan berbahaya harus ketat. Kecelakaan limpahan bahan
berbahaya yang sering terjadi adalah karena kecelakaan lalu-lintas yang umumnya akibat
kesalahan manusia dan atau alat/perlengkapan yang kurang sempurna.
14

USDOT menggariskan bahwa kontainer yang digunakan untuk mengangkut bahan


berbahaya dirancang dan dibuat sedemikian rupa sehingga bila terjadi kecelakaan pada
kondisi transportasi yang normal, maka:
o Tidak menimbulkan penyebaran bahan tersebut ke lingkungan sekitarnya
Keefektifan pengemasan tidak berkurang selama perjalanan
o Tidak terjadi pencampuran gas atau uap dalam kemasan, yang dapat menimbulkan
reaksi spontan (kenaikan panas atau ledakan) sehingga mengurangi keefektifan
pengemasan; pengemasan tersebut harus menjamin tidak terjadi reaksi kimiawi di
dalamnya.
Kadangkala bahan berbahaya disimpan (diakumulasi) dalam drum atau kontainer.
Drum yang biasa, biasanya korosif dan dapat menimbulkan masalah pada kesehatan
manusia dan lingkungan. Oleh karenanya bahan berbahaya harus ditempatkan dalam drum
dan kontainer yang kompatibel atau sesuai. Dibutuhkan inspeksi secara berkala. Banyak
terjadi bahwa drum yang digunakan adalah drum bekas (walaupun kompatibel) untuk itu
perlu diperhatikan efek jangka panjang dari drum tersebut.
Ditinjau dari tonase, maka kemasan kecil di USA hanya merupakan sebagian kecil
yang digunakan untuk menangani bahan berbahaya yang diangkut. Hampir setengah bahan
berbahaya kemasan kecil ini diangkut melalui jalan darat serta sebagian lagi melalui udara.
Bahan pengemasan yang digunakan adalah: fiberboard, plastik, kayu, kaca, fiberglass dan
logam. Kombinasi container sering digunakan, misalnya botol- botol gelas dimasukkan
dalam peti-peti fiberboard. Kemasan komposit seperti drum-drum dari plastik berlapis baja
kadang digunakan. Kemasan dari satu jenis bahan juga banyak digunakan, seperti drum
baja atau silinder untuk gas terkompres.
Rancangan kontainer yang digunakan harus terkait dengan sistem transportasi terutama
dimensi dan beratnya. Produk yang diproduksi dengan kuantitas kecil biasanya dikemas
dalam kuantitas tersebut. Oleh karenanya kontainer yang digunakan dirancang untuk
memudahkan loading, unloading, dan bagaimana menggunakan ruang transportasi yang
efisien. Drum baja 55 gallon (208 liter) merupakan kapasitas terbesar yang biasa
digunakan.
Faktor kesalahan manusia pada pengemasan bahan berbahaya yang dikemas dalam
kuantitas kecil relatif akan lebih tinggi, misalnya pengemasan yang tidak betul dan
sebagainya. Beberapa temuan yang terdapat di USA adalah:
o Ketidak tepatan dalam menayangkan label
15

o Ketidak tepatan dalam mengelompokkan kontainer berbahaya Kebocoran pada


valve
o Tidak tepat dalam mendeskripsikan bahan yang diangkut Tidak tepat dalam
pengisian shiping paper
o Radiasi berlebihan di kabin truk.
Pengemas dan Pewadah Limbah B3 Versi Kep No.01/Bapedal/09/1995:
Di Indonesia, ketentuan tentang pengemasan dan pewadahan limbah B3 diatur
dalam Kep. No.01/Bapedal/09/1995. Ketentuan dalam bagian ini berlaku bagi kegiatan
pengemasan dan pewadahan limbah B3 di fasilitas:
a. Penghasil, untuk disimpan sementara di dalam lokasi penghasil;
b. Penghasil, untuk disimpan sementara di luar lokasi penghasil tetapi tidak sebagai
pengumpul;
c. Pengumpul, untuk disimpan sebelum dikirim ke pengolah;
d. Pengolah, sebelum dilakukan pengolahan dan atau penimbunan;
Setiap penghasil/pengumpul limbah B3 harus dengan pasti mengetahui karakteristik
bahaya dari setiap limbah B3 yang dihasilkan/dikumpulkan. Apabila ada keragu-raguan
dengan karakteristik limbahnya, maka harus dilakukan pengujian. Bagi penghasil yang
menghasilkan limbah B3 yang sama secara terus menerus, maka pengujian dapat dilakukan
sekurang-kurangnya satu kali. Apabila dalam perkembangannya terjadi perubahan kegiatan
yang diperkirakan mengakibatkan berubahnya karakteristik limbah yang dihasilkan, maka
terhadap masing-masing limbah B3 hasil kegiatan perubahan tersebut harus dilakukan
pengujian kembali terhadap karakteristiknya.
Bentuk, ukuran dan bahan kemasan limbah B3 disesuaikan dengan karakteristik
limbah B3 yang akan dikemasnya dengan mempertimbangkan segi kemanan dan
kemudahan dalam penanganannya. Kemasan dapat terbuat dari bahan plastik (HPDE, PP
atau PVC) atau bahan logam (teflon, baja karbon, SS304, SS316, atau SS440) dengan
syarat bahan kemasan yang dipergunakan tersebut tidak bereaksi dengan limbah B3 yang
disimpannya.
Kemasan yang telah diisi atau terisi penuh dengan limbah B3 harus ditandai dengan
simbol dan label yang sesuai dengan ketentuan mengenai penandaan pada kemasan limbah
16

B3. Kemasan tersebut selalu dalam keadaan tertutup rapat dan hanya dapat dibuka jika
akan dilakukan penambahan atau pengambilan limbah dari dalamnya, kemudian disimpan
di tempat yang memenuhi persyaratan untuk penyimpanan limbah B3 serta mematuhi tata
cara penyimpanannya. Gambar 2 berikut adalah contoh drum pengemas limbah B3.
Kemasan yang digunakan untuk pengemasan limbah dapat berupa drum/tong dengan
volume 50 liter, 100 liter atau 200 liter, atau dapat pula berupa bak kontainer berpenutup
dengan kapasitas 2 M3, 4 M3 atau 8 M3. Limbah yang disimpan dalam satu kemasan
adalah limbah yang sama, atau dapat pula disimpan bersama-sama dengan limbah lain
yang memiliki karakteristik yang sama atau saling cocok. Untuk mempermudah pengisian
limbah ke dalam kemasan, serta agar lebih aman, limbah dapat terlebih dahulu dikemas
dalam kantong kemasan yang tahan terhadap sifat limbah sebelum kemudian dikemas
dalam kemasan tersebut. Pengisian limbah dalam satu kemasan harus mempertimbangkan
karakteristik dan jenis limbah, pengaruh pemuaian, pembentukan gas dan kenaikan tekanan
selama penyimpanan. Untuk limbah yang bereaksi sendiri sebaiknya tidak menyisakan
ruang kosong dalam kemasan. Untuk limbah yang mudah meledak, kemasan dirancang
tahan akan kenaikan tekanan.

Drum/tong atau bak kontainer yang telah berisi limbah B3 dan disimpan di tempat
penyimpanan harus dilakukan pemeriksaan kondisi kemasan sekurang-kurangnya 1 (satu)
minggu satu kali. Apabila diketahui ada kemasan yang mengalami kerusakan (karat atau
bocor), maka isi limbah B3 tersebut harus segera dipindahkan ke dalam drum/tong yang
baru, dan tumpahan limbah tersebut harus segera diangkat dan dibersihkan, kemudian
disimpan dalam kemasan limbah B3 terpisah. Kemasan bekas mengemas limbah B3 dapat

17

digunakan kembali untuk mengemas limbah B3 yang mempunyai karakteristik sama


(kompatibel) dengan limbah B3 sebelumnya.
Jika akan digunakan untuk mengemas limbah B3 yang tidak saling cocok, maka
kemasan tersebut harus dicuci bersih terlebih dahulu sebelum dapat digunakan sebagai
kemasan limbah B3 dengan memenuhi ketentuan butir 1 di atas. Kemasan yang akan
dikosongkan apabila akan digunakan kembali untuk mengemas limbah B3 lain dengan
karakteristik yang sama, harus disimpan di tempat penyimpanan limbah B3. Jika akan
digunakan untuk menyimpan limbah B3 dengan karakteristik yang tidak saling sesuai
dengan sebelumnya, maka kemasan tersebut harus dicuci bersih terlebih dahulu dan
disimpan dengan memasang label KOSONG sesuai dengan ketentuan penandaan
kemasan limbah B3. Bentuk wadah berupa tangki biasa digunakan dalam pengemasan
limbah B3. Sebelum melakukan pemasangan tangki penyimpanan limbah B3, pemilik atau
operator harus mengajukan permohonan rekomendasi kepada Kepala Bapedal dengan
melampirkan laporan hasil evaluasi terhadap rancang bangun dan sistem tangki yang akan
dipasang untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan. Laporan tersebut sekurangkurangnya meliputi:
o Rancang bangun dan peralatan penunjang sistem tangki yang akan dipasang;
o Karakteristik limbah B3 yang akan disimpan;
o Jika sistem tangki dan atau peralatan penunjangnya terbuat dari logam dan
kemungkinan
dapat terkontak dengan air dan atau tanah, logam dan kemungkinan harus
mencakup pengukuran potensi korosi yang disebabkan oleh faktor lingkungan serta
daya tahan bahan
tangki terhadap korosi tersebut
o Perhitungan umur operasional tangki;
o Rencana penutupan sistem tangki setelah masa operasionalnya berakhir;
Jika tangki dirancang untuk dibangun di dalam tanah, maka harus dengan
memperhitungkan dampak kegiatan di atasnya serta menerapkan rancang bangun atau
kegiatan yang dapat melindungi sistem tangki terhadap potensi kerusakan. Selama masa
konstruksi berlangsung, maka harus dipastikan agar selama pemasangan tangki dan sistem
penunjangnya telah diterapkan prosedur penanganan yang tepat untuk mencegah terjadinya
18

kerusakan selama tahap konstruksi. Sistem tangki harus ditunjang kekuatan rangka yang
memadai, terbuat dari bahan yang cocok dengan karakteristik limbah yang akan disimpan
atau diolah, dan aman terhadap korosi sehingga tangki tidak mudah rusak. Tangki dan
sistem penunjangnya harus terbuat dari bahan yang saling cocok dengan karakteristik dan
jenis limbah B3 yang dikemas/disimpannya. Limbah-limbah yang tidak saling cocok tidak
ditempatkan secara bersama-sama di dalam tangki. Apabila tangki akan digunakan untuk
menyimpan limbah sebelumnya, maka tangki harus terlebih dahulu dicuci bersih. Tidak
digunakan untuk menyimpan limbah mudah menyala atau reaktif kecuali :
o Limbah tersebut telah diolah atau dicampur terlebih dahulu sebelum/segera setelah
ditempatkan di dalam tangki, sehingga olahan atau campuran limbah yang
terbentuk tidak
lagi berkarakteristik mudah menyala atau reaktif; atau
o Limbah disimpan atau diolah dengan suatu cara sehingga tercegah dari kondisi atau
bahan
yang menyebabkan munculnya sifat mudah menyala atau reaktif.
Untuk mencegah terlepasnya limbah B3 ke lingkungan, tangki wajib dilengkapi dengan
penampung sekunder. Penampung sekunder dapat berupa pelapisan di bagian luar tangki,
tanggul atau berdinding ganda. Persyaratan penampungan sekunder tersebut adalah:
o Dibuat atau dilapisi dengan bahan yang saling cocok dengan limbah yang disimpan
serta memiliki ketebalan dan kekuatan memadai untuk mencegah kerusakan akibat
pengaruh tekanan;
o

Ditempatkan pada pondasi yang dapat mendukung ketahanan tangki terhadap


tekanan dari
atas dan bawah dan mampu mencegah kerusakan yang diakibatkan karena
pengisian, tekanan atau uplift;

o Dilengkapi dengan sistem deteksi kebocoran yang dioperasikan 24 jam sehingga


mampu mendeteksi kerusakan pada struktur tangki primer dan sekunder, dan
lepasnya limbah B3 dari sistem penampungan sekunder.
o Penampungan sekunder, dirancang untuk dapat menampung dan mengangkat
cairan-cairan
yang berasal dari kebocoran, ceceran dan presipitasi.
19

Pemeriksaan rutin dilakukan sekurang-kurangnya 1 kali selama sistem tangki


dioperasikan, khususnya terhadap peralatan pengendalian luapan/tumpahan, deteksi korosi
atau lepasnya limbah dari tangki. Disamping itu, monitoring dilakukan terhadap bahan
konstruksi dan areal seputar sistem tangki termasuk struktur pengumpul sekunder untuk
mendeteksi pengikisan atau tanda-tanda terlepasnya limbah misalnya bintik lembab,
kematian vegetasi.
Bila sistem tangki atau sistem tangki pengumpul sekunder mengalami kebocoran atau
gangguan yang menyebabkan limbah terlepas, maka harus segera melakukan:
o Penghentian operasional sistem tangki dan mencegah aliran limbah;
o Memindahkan limbah B3 dari sistem tangki atau sistem penampungan sekunder
o Mewadahi limbah yang terlepas ke lingkungan, mencegah terjadinya perpindahan
tumpahan
ke tanah atau air permukaan, serta mengangkat tumpahan yang terlanjur masuk ke
tanah
atau air permukaan.
o Membuat catatan dan laporan mengenai kecelakaan dan penanggulangan yang telah
dilakukan.

PENYIMPANAN DAN PENGUMPULAN


Penyimpanan kemasan menurut Keputusan Bapedal No.01/Bapedal/09/1995
dibuat dengan sistem blok. Setiap blok terdiri atas 2 (dua) x 2 (dua) kemasan (Gambar 3),
sehingga dapat dilakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap setiap kemasan. Dengan
demikian jika terdapat kerusakan kecelakaan dapat segera ditangani. Lebar gang antar blok
minimal 60 cm untuk memudahkan petugas melaluinya, sedang lebar gang untuk lalu
lintas kendaraan pengangkut (forklift) disesuaikan dengan kelayakan pengoperasiannya.
Penumpukan kemasan harus mempertimbangkan kestabilan tumpukan kemasan.
Jika kemasan berupa drum logam (isi 200 liter), maka tumpukan maksimum adalah 3 lapis
dengan tiap lapis dialasi palet, dan setiap palet mengalasi 4 drum. Jika tumpukan lebih dan
3 lapis atau kemasan terbuat dari plastik, maka harus dipergunakan rak (Gambar 4). Jarak
tumpukan kemasan tertinggi dan jarak blok kemasan terluar terhadap atap dan dinding
bangunan penyimpanan tidak boleh kurang dari 1 m.
20

Kemasan-kemasan berisi limbah B3 yang tidak saling cocok harus disimpan secara
terpisah, tidak dalam satu blok, dan tidak dalam bagian penyimpanan yang sama.
Penempatan kemasan diatur agar tidak ada kemungkinan bagi limbah-limbah tersebut jika
terguling/tumpah akan tercampur/masuk ke dalam bak penampungan bagian penyimpanan
lain.
Penyimpanan limbah cair dalam jumlah besar disarankan menggunakan tangki
(Gambar 5) dengan ketentuan sebagai berikut:
o Disekitar tangki harus dibuat tanggul dengan dilengkapi saluran pembuangan yang
menuju bak penampung.
o Bak penampung harus kedap air dan mampu menampung cairan minimal 110%
dan kapasitas maksimum volume tangki
o Tangki harus diatur sedemikian rupa sehingga bila terguling akan terjadi di daerah
tanggul dan tidak akan menimpa tangki lain.
o Tangki harus terlindung dari penyinaran matahari dan masuknya air hujan secara
langsung. Persyaratan bangunan penyimpanan kemasan limbah B3 adalah (Gambar
6):
o Memiliki rancang bangun dan luas ruang penyimpanan yang sesuai dengan jenis,
karakteristik dan jumlah limbah B3 yang dihasilkan/akan disimpan;
o Terlindung dari masuknya air hujan baik secara langsung maupun tidak langsung;
o Dibuat tanpa plafon dan memiliki sistem ventilasi udara yang memadai untuk
mencegah terjadinya akumulasi gas di dalam ruang penyimpanan, serta memasang
kasa atau bahan lain untuk mencegah masuknya burung atau binatang kecil lainnya
ke dalam ruang penyimpanan;
o Memiliki sistem penerangan (lampu/cahaya matahari) yang memadai untuk
operasional atau inspeksi rutin. Jika menggunakan lampu, maka lampu penerangan
harus dipasang minimal 1 meter di atas kemasan, sakelar harus terpasang di sisi
luar bangunan;
o Dilengkapi dengan sistem penangkal petir;

21

o Pada bagian luar tempat penyimpanan diberi penandaan (simbol) sesuai dengan tata
cara yang berlaku.
o Lantai bangunan penyimpanan harus kedap air, tidak bergelombang, kuat dan tidak
retak. Lantai bagian dalam dibuat melandai kearah bak penampungan dengan
kemiringan maksimum 1%. Pada bagian luar bangunan, kemiringan lantai diatur
sedemikian rupa sehingga air hujan dapat mengalir menjauhi bangunan
penyimpanan.

22

23

Tempat penyimpanan yang digunakan untuk menyimpan lebih dari 1 karakteristik


limbah B3, mempunyai beberapa persyaratan:
o Terdiri dari beberapa bagian penyimpanan, dengan ketentuan bahwa setiap bagian
penyimpanan hanya diperuntukkan menyimpan 1 karakteristik limbah B3, atau
limbahlimbah B3 yang saling cocok.
o Antara bagian penyimpanan satu dengan lainnya dibuat tanggul atau tembok
pemisah untuk menghindarkan tercampurnya atau masuknya tumpahan limbah ke
bagian lainnya.
o Setiap bagian penyimpanan harus mempunyai bak penampung tumpahan limbah
dengan kapasitas yang memadai.
o Sistem dan ukuran saluran yang ada dibuat sebanding dengan kapasitas maksimum
limbah B3 yang tersimpan sehingga cairan yang masuk ke dalamnya dapat
mengalir dengan lancar ke tempat penampungan yang telah disediakan.
o Sarana lain yang harus tersedia adalah: peralatan dan sistem pemadam kebakaran,
pagar pengaman, pembangkit listrik cadangan, fasilitas pertolongan pertama,
peralatan komunikasi, gudang tempat penyimpanan peralatan dan perlengkapan,
pintu darurat, dan alarm.
o Persyaratan bangunan penyimpanan limbah B3 mudah terbakar:
24

o Jika bangunan berdampingan dengan gudang lain maka harus dibuat tembok
pemisah tahan
api, berupa tembok beton bertulang (tebal minimum 15 cm) atau tembok bata
merah (tebal minimum 23 cm) atau blok-blok (tidak berongga) tak bertulang (tebal
minimum 30 cm).
o Pintu darurat dibuat tidak pada tembok tahan api.
o Jika bangunan dibuat terpisah dengan bangunan lain, maka jarak minimum dengan
bangunan lain adalah 20 meter.
o Untuk kestabilan struktur pada tembok penahan api dianjurkan digunakan tiangtiang beton bertulang yang tidak ditembusi oleh kabel listrik.
o Struktur pendukung atap terdiri dari bahan yang tidak mudah menyala. Konstruksi
atap dibuat ringan, dan mudah hancur bila ada kebakaran, sehingga asap dan panas
akan mudah keluar.
o Menggunakan instalasi yang tidak menyebabkan ledakan/percikan listrik
o Dilengkapi dengan: sistem pendeteksi dan pemadam kebakaran, persediaan air
untuk pemadam api, hidran pemadam api dan perlindungan terhadap hidran.
Rancang bangun untuk penyimpanan limbah B3 mudah meledak:
o Konstruksi bangunan dibuat tahan ledakan dan kedap air. Konstruksi lantai dan
dinding dibuat lebih kuat dari konstruksi atap, sehingga bila terjadi ledakan yang
sangat kuat akan mengarah ke atas dan tidak ke samping.
o Suhu dalam ruangan harus tetap dalam kondisi normal. Desain bangunan
sedemikian rupa sehingga cahaya matahari tidak langsung masuk ke ruang gudang.
Rancang bangun khusus untuk penyimpan limbah B3 reaktif, korosif dan beracun:
o Konstruksi dinding dibuat mudah dilepas guna memudahkan pengamanan limbah
dalam keadaan darurat.
o Konstruksi atap, dinding dan lantai harus tahan terhadap korosi dan api.
Persyaratan bangunan untuk penempatan tangki:

25

o Tangki penyimpanan limbah B3 harus terletak di luar bangunan tempat


penyimpanan limbah
o Merupakan konstruksi tanpa dinding, memiliki atap pelindung dengan lantai yang
kedap air
o Tangki dan daerah tanggul serta bak penampungannya terlindung dari penyinaran
matahari secara langsung serta terhindar dari masuknya air hujan langsung maupun
tidak langsung
Lokasi bangunan tempat penyimpanan kemasan drum/tong, bangunan tempat
penyimpanan bak kontainer dan bangunan tempat penyimpanan tangki:
o Merupakan daerah bebas banjir, atau diupayakan aman dari kemungkinan terkena
banjir;
o Jarak minimum antara lokasi dengan fasilitas umum adalah 50 meter.
Dalam hal limbah B3 dikumpulkan terlebih dahulu di sebuah tempat di luar lokasi
penghasil limbah B3, maka beberapa persyaratan adalah:
o Luas tanah termasuk untuk bangunan penyimpanan dan fasilitas lainnya sekurangkurangnya 1 (satu) hektar;
o Area secara geologis merupakan daerah bebas banjir tahunan;
o Lokasi harus cukup jauh dari fasilitas umum dan ekosistem tertentu.
o Jarak terdekat yang diperkenankan adalah (a) 150 meter dari jalan utama atau jalan
tol, (b) 50 meter dari jalan lainnya, (c) 300 meter dari fasilitas umum seperti
daerah pemukiman, perdagangan, rumah sakit, pelayanan kesehatan atau kegiatan
sosial, (d) 300 meter dari perairan, garis pasang tertinggi laut, sumber air , (e) 300
meter dari daerah yang dilindungi seperti cagar alam, hutan lindung, kawasan suaka
o Seperti halnya fasilitas penyimpanan yang telah diuraikan di atas, maka fasilitas
pengumpulan merupakan fasilitas khusus yang harus dilengkapi dengan berbagai
sarana untuk penunjang dan tata ruang yang tepat sehingga kegiatan pengumpulan
dapat berlangsung dengan baik dan aman bagi lingkungan (gambar 7).

26

o Beberapa fasilitas tambahan yang diperlukan adalah laboratorium analisa, fasilitas


pencucian peralatan, fasilitas bongkar muat dan fasilitas lain seperti diuraikan di
atas.

PENGANGKUTAN
Di Amerika Serikat, aturan-aturan yang dikeluarkan oleh DOT telah meliputi lebih
dari 30.000 jenis bahan berbahaya. Bahan-bahan ini diangkut melalui udara, laut, darat
(termasuk kereta api). Produk-produk berbahaya tersebut diangkut dengan berbagai
container seperti : vessel, tank car, tank truck, intermodal portable tank, cylinder, drum,
barrel, can, box, botle dan cask. Dalam hal ini Research and Special Programs
Administration (RSPA) dari USDOT mengeluarkan dan bertanggungjawab untuk
mengembangkan aturan-aturan, acuan-acuan teknik yang standar serta pengujian untuk itu.
Transportasi bahan berbahaya yang bervolume besar (bulky) dapat dilakukan
melalui segala jenis angkutan, seperti melalui darat, kereta api atau laut. Cargo tank
merupakan sarana yang biasa digunakan di darat, dan biasanya terbuat dari baja atau
27

campuran alumunium atau dapat pula dari bahan lain seperti titanium, nikel atau stainless
steel. Kapasitas yang digunakan di USA adalah antara 4000 sampai 12000 gallon (15
sampai 50 m3). Beban kendaraan biasanya dibatasi sampai 80.000 pound (36 ton).
Sekitar 80 % dari pengangkutan bahan berkapasitas besar menggunakan tank car
yang mempunyai masa layan 30 - 40 tahun. Kapasitas tank car ini dibatasi 34.500 gallon
(130 m3) dengan berat kotor 236.000 pound (107 ton). Perbedaan utama dari rail tank car
ini adalah ada yang menggunakan tekanan (untuk gas) dan tanpa tekanan (untuk cair).
Hampir 90 % dari tank car ini terbuat dari baja, bahan berikutnya yang sering digunakan
adalah alumunium. Sekitar 66 % (berat) bahan yang diangkut di USA adalah bahan kimia
(sebagian korosif) sedang 23 % merupakan produk minyak (bahan bakar).
Container bulky melalui air yang terbesar adalah dengan tanker dan tank-barges,
yang mencakup sekitar 91 %. Tank-barges berkapasitas antara 300.000-600.000 gallon
(1135-2270 m3) sedang tanker berkapasitas sampai 10 kali lebih besar. Lebih dari 90 %
(berat) dalam transport laut ini terdiri dari produk petroleum dan minyak mentah. Sisanya
adalah bahan kimia semacam asam sulfat, pupuk, NaOH, alkohol, benzene, toluene dan
sebagainya. Cara ini relatif memungkinkan pengangkutan dengan kapasitas yang besar.
Secara statistik, cara ini adalah yang teraman, baik dari jumlah kecelakaan maupun
banyaknya limpahan dalam satuan ton-mile, walaupun bila terjadi kecelakaan maka
impahannya akan menyebar secara luas. Aturan-aturan yang ada menyangkut kegiatan
selama loading serta pelatihan bagi awak kapalnya.
Kemungkinan kecelakaan yang mungkin terjadi di sektor transportasi ini perlu
mendapat perhatian, karena dapat mencelakakan manusia atau lingkungan yang tidak
terlibat langsung dengan kecelakaan. Peraturan-peraturan yang digunakan dalam
transportasi hendaknya mengantisifasi kemungkinan timbulnya masalah ini. Bila terjadi
kecelakaan lalu-lintas, maka respon aparat terkait (polisi, pemadam kebakaran dan
sebagainya) akan tergantung pada apakah aparat tersebut terlatih untuk jenis kecelakaan
itu, demikian juga kegiatan penanganan korban akibat terpapar dengan bahan berbahaya
akan tergantung apakah paramedis terkait telah mendapat pelatihan menangani korban
semacam itu.
Sebagai contoh adalah kecelakaan lalu-lintas yang terjadi di USA pada bulan
Desember 1981 yang menimpa sebuah truk pembawa 40.000 pound toluene diisocyanate
(TDI) yang tergelincir dan menumpahkan sebagian isinya. Penanganannya adalah truk
tetap dipanaskan dan diisolasi agar TDI ini tetap dalam kondisi cair. Pada saat truk
dibalikkan, limpahan TDI ternyata terpapar pada tanah yang dingin, mengkontaminasi
28

daerah sekitarnya serta baju 2 orang petugas. Setelah mereka kembali ke kendaraan yang
hangat, TDI yang melekat pada sepatu dan baju menguap dan terhiruplah gas toksik. TDI
masuk de dalam sel jaringan, mengiritasi mata, dan dapat merusak paru- paru. Kedua
petugas tersebut mengalami gangguan pernafasan yang permanen dan tidak dapat lagi aktif
bekerja. Respons terhadap bentuk kecelakaan itu harus dikembangkan sesuai dengan
kebutuhan agar dapat menangani masalah yang timbul secara cepat dan tepat. Demikian
juga peralatan tim harus sesuai dengan kebutuhan/jenis bahan atau limbah yang diangkut.

29

BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Untuk memberikan gambaran tentang aspek penyimpanan sampai pengangkutan
bahan berbahaya, maka aturan-aturan yang diberlakukan di USA, khususnya dalam
mengatur transportasi bahan berbahaya yang diatur dalam Hazardous Materials
Transportation Act, dapat digunakan. Menurut US Department of Transportation
(USDOT), bahan berbahaya adalah setiap bahan yang dapat menimbulkan resiko terhadap
kesehatan, keselamatan dan harta benda bila diangkut.
Bahan-bahan berbahaya dan beracun bila akan diangkut ke tempat lain, harus
dilengkapi dengan dokumen resmi, yang merupakan legalitas kegiatan pengelolaan
sehingga dokumen ini akan merupakan sarana/alat pengawasan dalam konsep cradle-tograve. Pengemasan (packaging) juga diatur dan perlu dicantumkan dalam surat
pengangkutan. Alat pengemas dapat berupa: drum baja, kotak kayu, drum fiber, botol gelas
dan sebagainya.
Di Amerika Serikat, aturan-aturan yang dikeluarkan oleh DOT telah meliputi lebih
dari 30.000 jenis bahan berbahaya. Bahan-bahan ini diangkut melalui udara, laut, darat
(termasuk kereta api). Produk-produk berbahaya tersebut diangkut dengan berbagai
container seperti : vessel, tank car, tank truck, intermodal portable tank, cylinder, drum,
barrel, can, box, botle dan cask. Dalam hal ini Research and Special Programs
Administration (RSPA) dari USDOT mengeluarkan dan bertanggungjawab untuk
mengembangkan aturan-aturan, acuan-acuan teknik yang standar serta pengujian untuk itu.

SARAN

30

Semoga makalah ini menjadi penambahan pengetahuan pembaca dalam


mengetahui dan memahami elemen-elemen pengelolaan limbah B3 serta dapat

mensosialisasikannya pada orang lain.


Semoga makalah ini menjadi sebuah inspirasi dan referensi dapat penulisan
makalah berikutnya.

DAFTAR PUSTAKA

Damanhuri, Enri. 2010. PENGELOLAAN BAHAN BERBAHAYA DAN


BERACUN(B3). Bandung.

31