Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Menurut Undang-Undang No. 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan
Angkutan Jalan, kecelakaan lalu lintas adalah suatu peristiwa di jalan yang tidak
diduga dan tidak disengaja melibatkan kendaraan dengan atau tanpa pengguna
jalan lain yang mengakibatkan korban manusia dan/atau kerugian harta benda.
Pada tahun 2002 diperkirakan sebanyak 1,18 juta orang meninggal karena
kecelakaan. Angka kecelakaan ini merupakan 2,1% dari kematian global, dan
merupakan indicator penting dalam status kesehatan.
Jumlah orang yang berpergian secara internasional meningkat setiap
tahunnya. Berdasarkan data statistik dari World Tourism Organization, turis
pendatang internasional pada tahun 2006 melampaui 840 juta orang. Pada tahun
2006, mayoritas turis internasional mempunyai tujuan lain seperti mengunjungi
keluarga, urusan ibadah, dan urusan kesehatan. Sisanya sebanyak 8% mempunyai
tujuan yang tidak dapat diklasifikasikan. (WHO 2008)
Pada tahun 1990, kecelakaan lalu lintas menduduki peringkat 9 penyebab
utama faktor resiko, penyakit dan kematian dan meliputi 2,6% dari kehilangan
kualitas hidup secara global. Selain itu pada tahun 2020 diperkirakan angka
kecelakaan lalu lintas menduduki urutan ke 3 diatas masalah kesehatan lain seperti
malaria, tb paru, dan HIV/AIDS berdasarkan proyeksi penyakit secara global.

Masalah dan beban karena kecelakaan lalu lintas bervariasi menurut


wilayah secara geografi. Lebih dari separuh kematian karena kecelakaan lalu
lintas jalan terjadi di Asia Tenggara dan wilayah Pasifik barat dan angka tertinggi
kecelakaan terjadi diwilayah Afrika.
Di Indonesia, sebagian besar 70% korban kecelakaan lalu lintas adalah
pengendara sepeda motor dengan golongan umur 15-55 tahun dan berpenghasilan
rendah, dan cedera kepaka merupakan urutan pertma dari semua jenis cedera yang
dialami korban kecelakaan. Dampak ekonomi karena kecelakaan lalu lintas
meliputi biaya perawatan kesehatan yang lama, kehilangan pencari nafkah,
kehilangan pendapatan karena kecacatan yang secara bersama menyebabkan
keluarga korban menjadi miskin dan hal ini biasanya terjadi di Negara-negara
yang tingkat ekonominya rendah sampai sekarang.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pola Trauma Secara Umum
Korban kecelakaan lalu lintas dapat diduga jenis cederanya dengan meneliti
riwayat trauma dengan cermat. Pada korban kecelakaan lalu lintas biasanya
ditemukan trauma/tanda kekerasan yang dapat dibagi menjadi beberapa
kelompok:
a. Akibat kekerasan pertama oleh kendaraan
Trauma ditimbulkan oleh persentuhan bagian kendaraan dengan tubuh
manusia. Perhatikan bentuk./gambaran luka serta letaknya. Bagian kendaraan
yang sering menyebabkan trauma pertama ini biasanya bumper, kaca spion,
pegangan pintu dan spakbor. Trauma biasanya berupa luka lecet jenis tekan
b. Akibat terjatuh
Pada tubuh korban ditemukan trauma lain yang terjadi akibat terjatuhnya
korban setelah persentuhan pertama dengan kendaraan. Trauma biasanya
merupakan luka lecet jenis geser dan atau luka robek.
c. Akibat terlindas (rollover)
Memberikan gambaran cermat terhadap jejas ban kendaraan, seringkali
dapat membantu pihak yang berwajib untuk mengidentifikasi jenis kecelakan
yang menyebabkan kecelakaan. Deskripsi ban baik mengenai coraknya maupun
ukurannya dengan sketsa atau foto.

Sebagian besar kecelakaan lalu lintas menyebabkan trauma karena


kekerasan benda tumpul. Kekerasan benda keras dan tumpul dapat mengakibatkan
berbagai macam jenis, antara lain :
a. Memar
Salah satu bentuk luka yang ditandai dengan kerusakan jaringan tanpa
disertai diskontinuitas permukaan kulit. Kerusakan tersebut diakibatkan oleh
pecahnya kapiler sehingga darah keluar dan meresap ke jaringan sekitarnya. Luka
memar tidak hanya pada kulit, tapi mungkin juga ditemukan pada organ dalam,
seperti paru-paru, jantung, otak dan otot. Misalnya bila tubuh korban terlindas ban
kendaraan, dimana pada tempat yang terdapat tekanan justru tidak menunjukkan
kelaianan.
b. Luka lecet (abrasi)
Luka yang disebabkan oleh rusaknya atau lepasnya lapisan luar kulit, yang
ciri-cirinya adalah :
Bentuk luka tidak teratur
Batas luka tidak teratur
Tepi luka tidak rata
Kadang ditemukan sedikit perdarahan
Permukaan ditutupi oleh krusta
Warna coklat kemerahan

Mikroskop : beberapa bagian yang masih ditutupi epitel dan reaksi


jaringan (inflamasi)

Dalam kasus kecelakaan lalu lintas dimana tubuh korban terlindas oleh ban
kendaraan, maka luka lecet yang tertekan pada tubuh korban seringkali
merupakan cetakan dari ban kendaraan tersebut, khususnya bila ban masih dalam
keadaan cukup baik, dimana kembang dari ban tersebut masih tambah jelas,
misalnya bentuk zigzag yang sejajar.

c. Luka terbuka
Luka yang disebabkan karena bersentuhan dengan benda tumpul dengan
kekuatan yang mampu merobek seluruh lapisan kulit dan jaringan dibawahnya,
yang ciri-cirinya sebagai berikut :
Bentuk garis batas luka tidak teratur dan tepi luka tidak rata
Bila ditautkan tidak dapat rapat
Tebing luka tidak rata serta terdapat jembatan jaringan

Disekitar luka ditemukan memar


Lokasi luka lebih mudah terjadi pada daerah yang dekat dengan
tulang.

Perlukisan yang cermat dari luka robek sangat membantu penyidik


khususnya sewaktu dilakukan rekonstruksi. Bila luka robek salah satu tepinya
membuka kearah kanan, kekerasan datang dari arah kiri, jika membuka kearah
depan maka benda tumpul datang dari arah belakang.

d. Patah tulang
Kekerasan benda tumpul yang cukup kuat dapat menyebabkan patah tulang.
Adanya patah tulang dapat diketahui, apabila dijumpai tanda-tanda :
Terdapat kelainan bentuk dibandingkan normal
Terdapat perbedaan ukuran panjang, terutama bila terjadi pada

anggota gerak
Bila digerakkan dapat terdengar bunyi krepitasi

Pola patah tulang tergantung letak patah tulang, apakah terjadi


pada kepala dan wajah, tulang belakang, dada, pinggul, dan

anggota gerak.
Pada tulang tengkorak : fraktur impresi yang dapat menyebabkan
perdarahan dalam rongga tengkorak berupa perdarahan epidural,
subdural, subarachnoid, kerusakan selaput otak dan jaringan otak.5

Pada tulang wajah dapat digolongkan menjadi fraktur dentoalveolar, lefort


I, lefort II, lefort III, dan sagittal. Sedangkan pada anggota gerak, dapat dibedakan
berdasarkan arah dan jumlah garis frakturnya. Pada kasus kecelakaan lalu lintas,
maka patah tulang yang terjadi dapat memberikan arah datanganya kendaraan
yang mengenai tungkai korban. Dengan demikian berdasarkan sifat-sifat patah
tulang dapat diperkirakan dari mana kekerasan itu datang dan mengenai tubuh
korban, ini perlu untuk rekonstruksi peristiwa selain luka akibat benda tumpul,
sebagian luka pada kecelakaan lalu lintas juga dapat disebabkan benda tajam,

misalkan luka iris karena ujung plat kendaraan. Dapat juga terjadi luka bakar
apabila terjadi ledakan paska kecelakaan, ataupun luka bakar ringan akibat
bersentuhan dengan bagian kendaraan yang bersuhu tinggi, misalnya knalpot.6

B. Pola Luka Akibat Kecelakaan Lalu Lintas


1. Definisi
Kecelakaan lalu lintas dibedakan menjadi 2, yaitu : motor-vesicle traffic
accident dan non-motor vesicle traffic accident. Motor vesicle traffic accident
adalah kecelakaan bermotor dijalan raya. Non motor vesicle traffic accident
adalah setiap kendaraan yang tejadi dijalan raya, yang melibatkan pemakai jalan
untuk transportasi atau untuk mengadakan perjalanan, dengan kendaraan yang
bukan kendaraan bermotor.
2. Penyebab
Alkohol atau intoksikasi obat narkotika atau sedative
Faktor manusia ( lalai dalam berkendara)
Faktor alam (jalanan basah, perbaikan jalan, kabut, dll)
Penyakit (stroke, infark miokard)
3. Derajat luka
Terdapat kerusakan pada benda : derajat 1
Terdapat luka non visible : derajat 2

Terdapat luka minor visible : derajat 3


Terdapat luka serius visible : derajat 4
Terdapat korban tewas : derajat 5
4. Mekanisme Cedera
Disebabkan karena adanya perbedaan dari pergerakan. Pada kecepatan yang
konstan, bagaimanapun cepatnya, tidak akan menimbulkan efek apapun seperti
pada perjalanan keluar angkasa atau rotasi bumi. Adanya perbedaan perpindahan
gerak yang traumatis, yaitu akselerasi dan deselerasi. Perbedaan ini diukur dengan
gaya gravitasi. Jumlah dimana tubuh manusia dapat mentolerir perubahan ini
sangat tergantung dari arah datang gaya tersebut. Deselerasi dengan kekuatan
300G bisa tidak menimbulkan cedera dan dalam jangka waktu yang pendek gaya
2000G masih bisa tidak menimbulkan cedera bila datangnya dari sudut yang tepat
pada sumbu panjang tubuh. Tulang frontal dapat menahan 8000G tanpa fraktur,
tulang mandibular dan rongga thoraks dapat menahan hingga 800G. misalnya
seorang pengendara mobil dengan kecepatan 80 km/jam, kepala terbentur kaca
seluas 10 cm2 maka kerusakan yang terjadi pasti lebih parah dibandingkan
pengemudi memakai sbauk pengaman sehingga efek tabrakan berkurang.
Rumus G-firce
G = kekuatan yang dihasilkan oleh daya gravitasi
V = kecepatan dalam km/jam
G = (VD2 x=0,034
/ D ditempuh setelah benturan sampai kendaraan
jarak )yang
berhenti dalam meter (m)
5. Pembagian arah benturan
a. Arah depan

Tipe paling umum, 80% dari semua tabrakan kendaraan bermotor. Terjadi
bila 2 kendaraan bertabrakan dua-duanya atau bila bagian depan dari kendaraan
menabrak benda yang tidak bergerak, seperti tembok atau tiang listrik. Sebagai
akibat dari energy gerak, penumpang dari kendaraan bermotor akan terus melaju
dan terjadi benturan pada kemudi, kaca depan, ataupun lampu depan kendaraan.
Pola luka akan terbentuk tergantung dari posisi daripada penumpang dari
kendaraan bermotor.

b. Pengemudi
Kepala dapat membentur kaca depan dan mengakibatkan terbentuknya luka
terpotong arah vertical dan abrasi daerah dahi, hidung dan dagu. Bila ada benturan

dengan kaca spion, pola luka terbentuk akan berbeda. Perlukaan bagian dalam
dapat berupa bentuk fraktur dasar tengkorak dan patah leher. Hiperfleksi
menyebabkan fraktur atlanto-occipital bagian posterior ataupun dislokasi tulang
dan mungkin penyebab kematian pada beberapa kasus. Bagian dada yang
membentur kemudi dengan sangat keras dan menyebabkan abrasi dengan pola
khusus ataupun tidak terlihat adanya perlukaan sama sekali. Sekarang hal ini lebih
jarang terjadi karena adanya penggunaan kemudi yang mudah patah atau
kompresibel. Perlukaan dalam : fraktur transversal dari sternum, fraktur iga
bilateral, atau flail chest. Luka tusuk atau robek pada jaringan paru karena fraktur
iga, cedera pada jantung, rupture aretri coronaria, robeknya aorta distal dari
pangkal arteri subclavia dextra, laserasi atau robekan hati atau limfa, fraktur
tertutup maupun terbuka dari pergelangan tangan.
c. Penumpang depan
Perlukaan hamper sama dengan pengemudi, kecuali pada penumpang yang
tidak bersabuk pengaman akan menghantam dashboard dan bukan kemudi,
sehingga tidak akan ada bentuk cetakan dari kemudi.
d. Penumpang belakang
Jika tidak bersabuk pengaman akan terlempar kedepan, menghantam bagian
belakang dari tempat duduk depan, penumpang depan dan kaca depan.
e. Arah samping
Biasanya terjadi persimpangan kendaraan lain menabrak dari arah samping
atau pun mobil terpelanting dan sisinya menghantam benda tidak bergerak dapat

terlihat perlukaan yang sama dengan tabrakan dari arah depan termasuk robeknya
aorta dan fraktur basis cranii. Bila benturan terjadi pada sisi kendaraan pengemudi
akan cendrung mengalami perlukaan pada sisi kiri dan penumpang depan akan
mengalami perlukaan yang lebih sedikit karena pengemudi bersifat sebagai
bantalan. Bila benturan terjadi pada sisi kanan, maka yang terjadi adalah
sebaliknya, demikian juga bila tidak ada penumpang.
f. Terguling
Keadaan ini lebih mematikan dibandingkan dengan tabrakan dari arah
samping terutama bila tidak dipakainya sabuk pengaman dan penumpang
terlempar keluar. Bila terlempar beberapa perlukaan dapat terbentuk pada saat
korban yang terlempar bisa ditemukan hancur atau terperangkap dibawah
kendaraan. Pada kasus seperti ini penyebab kematian mungkin adalah asfiksia
traumatic. Bila terlempar parsial bagian tubuh yang bersangkutan bisa hancur atau
terpotong.
g. Belakang
Hal ini dapat menyebabkan acceleration injuries dan sangat jarang
menimbulkan kematian. Perlukaan yang paling umum adalah whisplash injury
dari leher. Pada benturan dari arah belakang, benturan dikurangi atau terserap oleh
bagian bagasi dan kompartemen penumpang belakang yang dengan demikian
memproteksi penumpang bagian depan dari perlukaan yang parah dan
mengancam jiwa.
6. Pola Luka Pada Berbagai Jenis Kecelakaan
a. Luka Pada Pengendara Mobil
Luka tabrakan tanpa ejeksi
Luka berat terjadi dikarenakan kontak fisik antara korban dengan
bagian dalam kendaraan seperti setir. Penumpang yang umumnya duduk
didepan terluka oleh benturan dengan dashboard dan kaca depan, sedangkan

penumpang yang duduk dibelakang terluka akibat benturan dengan kursi


depan atau terlempar ke bangku depan dan mengenai struktur depan mobil
depan mobil atau menghantam penumpang di bangku depan.
Benturan frontal paling sering pada kecelakaan lalu lintas. Pada
benturan dari samping, tidak ada sandaran kepala yang berfungsi sebagai
bantalan, dan penyebab utama dari perlukaan adalah akibat ekstensi leher
yang berlebihan. Pada kejadian benturan dari samping, tidak ada perbedaan
dalam hal frekuensi maupun lokasi antar penumpang yang duduk dibangku
depan maupun di bangku belakang, walaupun biasanya pengemudi lebih
jarang mengalami luka yang fatal di banding penumpang lainnya.
Kepala, dada, perut dan lutut adalah bagian tubuh yang selalu terluka
pada tabrakan dari depan. Luka kepala pada penumpang depan terjadi pada
tiga dari lima kecelakaan, sedangkan fraktur tulang kepala terjadi dua kali
lebih sering pada pengemudi dibanding pada penumpang depan yang
kepalanya mengenai kaca depan lebih lama terjadi deselarasi sedangkan
pada pengemudi jarang terjadi Karena benturan pada kaca depan karena ada
setir yang menghalangi, sehingga benturan yang dialami adalah kerangka
atap mobil atau rangka jendela yang lebih keras mengakibatkan fraktur
tulang kepala.
Pengemudi mendapatkan luka di dada akibat benturan dengan setir
sedangkan benturan dengan dashboard oleh penumpang bangku depan
sering menyebabkan terjadinya fraktur iga, frakur atau depresi sternum,

robekan pada pleura maupun paru, pneumothorax akut, kontusio jantung


atau rupture dari pembuluh darah besar.
Abdomen terluka pada sepertiga kasus, dimana organ limpa dan hati
adalah yang paling sering terluka. Hati lebih sering terluka dibandingkan
limpa. Luka multiple hanya terjadi pada kurang dari sepertiga kasus.
Organ pelvis sering kali tidak terluka. Fraktur femur sering tidak
terjadi pada penumpang bangku depan akibat benturan lutut ke dashboard dan
struktur mobil bagian depan. Sedangkan pada pengemudi lebih jarang terjadi
karena adanya setir yang menghalangi benturan lutut. Bila pengemudi
menginjak rem sebelum terjadi benturan, sering menyebabkan fraktur dari
tibia dan fibula.

Luka tabrakan dengan ejeksi

Ejeksi menyebabkan luka berat yang multiple, dan ini merupakan


penyebab tersering kedua yang menyebabkan luka parah setelah luka akibat
benturan dengan setir. Bila pada kecelakaan pintu depan kendaraan terbuka,
satu dari tiga penumpang pasti terlempar keluar dari mobil. Perbandingan
resiko terjadinya luka yang fatal antara ejeksi dan non ejeksi adalah 5 : 1.
Fraktur iga terjadi pada dua pertiga kasus korban yang terejeksi, dan
pada separuhnya terjadi luka visceral dada. Pada sepertiga kasus terjadi
laserasi dan memar pada hati dan organ dalam abdomen lainnya.

Luka akibat penggunaan sabuk pengaman


Penggunaan sabuk pengaman mengurangi luka yang terjadi akibat

benturan dengan bagian kendaraan dan akibat ejeksi. Tetapi sabuk


pengaman juga dapat menyebabkan luka.

Deselerasi dapat mendorong usus kecil ke dalam rongga pelvis


sehingga terjadi obstruksi usus transien atau dapat meningkatkan tekanan
intraluminal. Dapat juga terjadi terpotongnya usus secara parsial maupun
komplit pada penggunaan sabuk pengaman yang tidak benar. Pada
penggunaan yang benar, umumnya perlukaan terjadi pada abdomen bagian
bawah, dan yang paling sering adalah perforasi dari usus kecil, rupture
kandung kencing, atau kolon sigmoid dan perlukaan pada spinal segmen
lumbal. Memar pada dinding abdomen dapat menimbulkan ileus paralitik.
Eksplorasi harus dilakukan pada kasus dimana dicurigai adanya perlukaan
intraabdominal.
Luka akibat sabuk pengaman dapat dibedakan menurut tipe yang digunakan :
1. Lap belts
Lumbal
Fraktur tulang ekstremitas
Fraktur pelvis
Memar pada limpa, pancreas, uterus, uretra dan arteri iliaka
2. Shoulder restrains
Fraktur iga, spinal segmen servikal, lumbal dan sternum
Luka pada kulit dan jaringan subkutan berupa abrasi memar dan
hematoma
Lesi organ dalam seperti dalam seperti laring, hati, limpa, ginjal,
pembuluh darah besar dan diafragma
3. Three point belts
Fraktur iga, sternum, klavikula
Luka abdomen
Abrasi dan memar pada dinding dada, bahu, leher dan punggung
b. Luka pada pejalann kaki
Kelainan yang terjadi pada pejalan kaki dapat dibagi menurut
mekanismenya :

1. Luka pada impak primer, yaitu benturan yang pertama terjadi


antara korban dan kendaraan.
2. Luka karena impak sekunder, yaitu benturan korban yang
kedua kalinya karena kendaraan.
3. Luka sekunder, yaitu luka yang terjadi setelah korban jatuh ke
atas jalan
Korban dewasa umumnya tertabrak dari belakang atau samping sehingga
umumnya luka hebat terjadi ditungkai bawah, dapat sampai terjadi fraktur tertutup
maupun terbuka. Korban yang tergeletak dijalan dapat terlindas dan menimbulkan
trauma berupa jejas ban. Bila kendaraan yang menabrak termasuk kendaraan berat
maka dapat terjadi crush injuries atau compression injuries dimana tubuh
seluruhnya hancur dan sukar dikenali. Bila bagian bawah kendaraan penabrak
sangat rendah, tubuh korban dapat terseret dan terputar sehingga terjadi
pengelupasan kulit dan otot yang hebat, yang dikenali sebagai rolling injuries.
Pada daerah lipatan kulit bila terlindas maka kulit akan terengang sehingga
menimbulkan kelainan yang disebut striae like tears dimana sebenarnya daerah
yang terlindas bukan dilipatan kulit tersebut melainkadidaerah yang berdekatan.
Faktor-faktor yang menyebabkan kecelakaan menimpa pejalan kaki
termasuk diantaranya adalah pada kondisi cuaca yang buruk, penerangan pada
jalan dan pada kendaraan yang tidak adekuat, dan pada korban yang menyebrang
jalan sembarangan.

c. Kecelakaan pengendara sepeda

Luka yang terjadi umumnya ringan, tetapi kadang-kadang dapat berbahaya


dan menyebabkan patah tulang atau cedera jaringan lunak yang berat. Perlukaan
disebabkan gesekan antara kulit tubuh dan permukaan tanah, dan pada udara yang
panas dapat membakar kulit terutama yang sensitive seperti anak-anak. Bila
sepeda tertabrak kendaraan bermotor maka impak primer terjadi ketika tabrakan
dan impak sekunder didapat saat sepeda dan pengendara jatuh mengenai tanah.
Luka yang sering terjadi adalah luka kompresi pada bagian kaki bagian malleolus
mediales atau lateralis, tendon achiles atau bagian lateral dari kaki.
d.

Kecelakaan pengendara sepeda motor


Seperti diketahui sepeda motor merupakan seluruh alat transportasi yang
ditopang oleh dua buah roda yang sejajar sehingga mempunyai tingkat kestabilan
yang rendah dibanding kendaraan roda empat. Dari design ini akan
mengakibatkan kecelakaan yang menghasilkan suatu cedera berat pada sepeda
motor tetapi mungkin hanya kecelakaan rindan pada kendaraan rongga empat lain.
Pada umumnya korban selalu terlempar dari kendaraannya sehingga dapat
mengenai seluruh anggota tubuh khusunya kepala, extremitas atas, bawah dada
dan abdomen. Penyebab kecelakaan motor adalah alcohol, obat-obatan, faktor
lingkungan, cara mengendarai dan kegagalan kendaraan lain untuk melihat motor.
Cedera yang berbahaya dan mengancam jiwa adalah cedera kepala oleh
karena pengendara jatuh ketanah yang menurut bothwel 80% penyebab kematian
daerah terbanyak pada temporoparietal dengan komplikasi fraktur basis cranii,
yang biasa dikenal dengan motor cyclis fracuture. Fraktur ini merupakan fraktur

transversal pada basis crania, berpotongan dengan basis petrosus atau dibelakang
tulang sphenoid melalui fossa pituitary kesisi berlawan. Tipe lain adalah fraktur
lingkaran pada foramen magnum difossa posterior oleh karena tumbukan pada
puncak kepala. Pada leher sering didapatkan fraktur pada tulang belakang bagian
cervical pada kasus.
Helm dikatakan dapat mengurangi angka kematian tetapi sifatnya hanya
melindungi kepala pada saat tumbukan dengan kecepatan rendah atau tumbukan
dengan arah tangensial.
Cedera yang sering terjadi pada kendaraan motor adalah tail gating accident.
Gambaran cedera tipe ini adalah pada saat pengendara motor sedang berada di
belakang truk, dan menabrak truk dari belakang, yang terjadi kemudian adalah
motor menyelip dibawah truk, tetapi kepala pengendara mengenai bumper
belakang truk, cedera yang terjadi berupa dekapitasi, cedera kepala dan leher.
Trauma kaki sering dikenal dengan bumper fraktur dengan gambaran multiple
fraktur pada tibia fibula dengan garis fraktur setinggi bumper mobil. Gambaran
fraktur pada tibia berbentuk baji dengan basis dari baji mengindikasikan arah
tumbukan, pada femur juga dapat terjadi dimana umumnya terjadi pada anakanak. Pada saat tertentu didapatkan tinggi dari cedera dibawah tinggi normal
kebanyakan bumper mobil, hal ini disebabkan karena kendaraan yang berhenti
secara tiba-tiba dan terjadi penurunan bumper depan mobil oleh karena efek
suspensi. Fraktur pada tibia mempunyai bentuk oblik, jika kaki terangkat, makan
tumbukan cenderung berbentuk transversal.2

Cedera jaringan lunak :


Mempunyai gambaran cedera mulai dari abrasi, laserasi, memar, luka remuk.
Gambaran tersering adalah flying injury yaitu berupa luka lecet yang luas
dikarenakan korban terseret dijalanan, dimana terjadi oleh efek benturannya roda
dari kendaraan yang merobek kulit dan otot dari tubuh atau kepala. Jika mobil
melindas abdomen atau pelvis dapat mengakibatkan striae parallel multiple atau
laserasi yang dangkal oleh karena tekanan yang merobek pada kulit.2
Kerusakan tubuh bagian dalam :
Kerusakan yang hebat pada saat roda melewati pelvis, abdomen, ataupun kepala,
walaupun disertai cedera permukaan yang ringan, berat dari kendaraan tersebut
dapat menghancurkan tulang tengkorak dan sering disertai keluarnya otak dan
luka laserasi, patah tulang simpleks, terputusnya sendi sakroiliaca, pada organ
dalam dapat terjadi fraktur iga yang dapat melukai paru dan jantung.6
Luka yang dialami pejalan kaki akibat tabrakan motor tidaklah berbeda dengan
luka yang didapat akibat tabrakan mobil.
C. Pemeriksaan pada korban kecelakaan lalu lintas
Pemeriksaan harus ditujukan pada :
1.
Pola dari luka yang ditemukan
2. Adanya penyakit yang mendasari terjadinya kecelakaan tersebut,
3.
4.
5.

misalnya seperti serangan jantung


Adanya kemungkinan percobaan bunuh diri
Adanya kemungkinan pembunuhan
Adanya intoksikasi zat
D. Pemeriksaan laboratorium pada korban kecelakaan lalu lintas
1. Pemeriksaan toksikologi

Pemeriksaan toksilogi ditujukan untuk mencari data apakah pada korban


terdapat obat, yang mampu menimbulkan gangguan kapabilitas didalam
mengemudikan kendaraan. Adapun zat yang seringg didapatkan pada pemeriksaan
toksilogi antara lain :
a. Alcohol
b. Karbonmonoksida
c. Sianida
d. Feniotiazin
e. Salisilat
2. Pemeriksaan histopatologis
Bertujuan untuk mengetahui apa terdapay penyakit tertentu pada korban
yang memungkinkan terjadinya kecelakaan. Insiden terjadinya kecelakaan lalu
lintas yang disebabkan kematian alamiah pengemudi adalah 6 dari 100.000.
kemungkinan ini haruslah dipikirkan apalagi bila pada pemeriksaan, luka tidak
ditemukan atau sangat minimal dan kendaraan terlibat hanya rusak ringan.
Penyebab tersering dari kematian alamiah ini antara lain penyakit kardiovaskuler
seperti oklusi arteri koroner, iskemi miokard, aritmia jantung, rupture dari
aneurisma, penyakit cerecro vaskuler, epilepsy, serangan hipoglikemik pada
penderita diabetes atau rupture dari aneurisma aorta.
E. Aspek medis luka
Konsekunsi dari louka yang ditimbulkan oleh trauma dapat berupa :
1. Kelainan fisik organic
Bentuk dari kelainan fisik atau organic dapat berupa :
Hilangnya jaringan atau bagian dari tubuh
Hilangnya sebagian atau seluruh organ tertentu
2. Gangguan fungsi dari organ tertentu
Bentuk gangguan fungsi ini tergantung dari organ atau bagian tubuh
yang terkena trauma. Contoh dari gangguan fungsi antara lain : lumpuh,
buta tuli, atau gangguan fungsi organ dalam
3. Infeksi

Seperti diketahui bahwa kulit atau membrane mukosa merupakan


barrier terhadap infeksi. Bila kulit atau membrane itu rusak maka kuman
akan masuk lewat pintu itu. Bahkan kuman dapat masuk lewat daerah
memar atau bahkan iritasi akibat benda yang terkontaminasi kuman, jenis
kuman dapat berupa streptococcus, staphylococcus, e.coli, proteus vulgaris,
clostridium tetani serta kuman yang menyebabkan gas ganggren.
4. Penyakit
Trauma sering dianggap sebagai precipitating faktor terjadinya
penyakit jantung walaupun causanya sulit di terangkan dan masih dalam
kontroversi
5. Kelainan fisik
Precipitating factor dari terjadinya kelainan mental yang spectrum
amat luas ; yaitu dapat berupa neurosis terkompensasi, anxietas neurosis,
demensia precock, manic depresi atau psikosis. Kepribadiaan serta potensi
individu terjadinya reaksi mental yang abnormal merupakan faktor utama
gangguan. Oleh sebab itu pada gangguan mental post trauma perlu dikaji
elemen-elemen dasarnya yang terdiri atas latar belakang mental dan emosi
serta nilai relative bagi yang bersangkutan atas jaringan atau organ yang
terkena trauma.
Secara umum dapat diterima bahwa hubungan antara kerusakan jaringan
tubuh atau organ dengan psikosis post trauma didasarkan atas:
Keadaan mental benar-benar sehat sebelum trauma
Trauma telah merusak susunan saraf pusat
Trauma tanpa mempersoalkan lokasinya, mengancam kehidupan

seseorang
Trauma menimbulkan kerusakan pada bagian yang struktur atau
fungsinya dapat mempengaruhi fungsi organ genital, payudara, mata,
tangan atau wajah

Korban cemas akan lamanya waktu penderitaan


Psikosis terjadi dalam tenggang waktu yang masuk akal
Korban dihantui oleh kejadian yang menimpanya
F. Aspek yuridis luka
Jika dari sudut medic, luka merupakan kerusakan jaringan akibat trauma,
maka dari sudut hukum, merupakan kelainan yang dapat disebabkan oleh suatu
tindak pidana, baik yang bersifat intensional, recklessness, atau neglicence. Untuk
menentukan berat ringannya hukuman perlu ditentukan lebih dahulu berat
ringannya luka.
Kebijakan hukum pidana didalam penentuan berat ringannya luka
didasarkan atas pengaruhnya terhadap :
Kesehatan jasmani
Kesehatan rohani
Estetika jasmani
Pekerjaan jabatan atau pekerjaan mata pencaharian
Fungsi alat indera
1. Luka ringan
Adalah luka yang tidak menimbulkan penyakit atau halangan dalam
menjalankan pekerjaan jabatan atau mata pencahariannya
2. Luka sedang
Adalah luka yang mengakibatkan penyakit atau halangan dalam
menjalankan pekerjaan jabatan atau mata pencahariaan untuk sementara waktu.
3. Luka berat
Adalah luka yang sebagaimana diuraikan didalam pasal 90 KUHP yang
terdiri atas :
a. Luka yang tidak diharapkan akan sembuh dengan sempurna. Pengertian tidak
akan sembuh sempurna lebih ditujukan pada fungsinya. Contohnya trauma pada
satu mata yang menyebabkan kornea robek. Sesudah dijahit sembuh tetapi mata
tersebut ridak dapat melihat.
b. Luka yang dapat mendatangkan bahaya maut
Pengertiannya yang memiliki potensi untuk menimbulkan kematian, tetapi
setelah diobat dapat sembuh.

c. Luka yang menimbulkan rintangan tetap dalam menjalankan pekerjaan jabatan


atau mata pencahariannya.
d. Luka yang dari sudut medic tidak membahayakan jiwa, dari sudut hukum dapat
dikategorikan sebagai luka berat contohnya trauma pada tangan kiri pemain biola
atau pada wajah seorang pragawati dapat dikategorikan luka berat jika akibatnya
mereka tidak dapat lagi menjalankan pekerjaan tersebut selamanya.
e. Kehilangan dari salah satu panca indra
Jika trauma menimbulkan kebutaan satu mata atau kehilangan pendengaraan
satu telinga, tidak dapat digolongkan kehilangan indra. Meskipun demikian tetap
digolongan sebagai luka berat berdasarkan butir (A) diatas.
f. Cacat besar
g. Lumpuh
h. Gangguan daya pikir lebih dari empat minggu lamanya
Gangguan daya pikir tidak harus berupa kehilangan kesadaran tetapi dapat
juga berupa amnesia, disorientasi, depresi, atau gangguan jiwa lainnya.
i. Keguguran atau kematian janin seorang perempuan
Yang dimaksud dengan keguguran adalah keluarnya janin sebelum
waktunya, yaitu tidak didahului oleh proses sebagaimana umumnya seorang
wanita ketika melahirkan. Sedangkan wanita ketika melahirkan. Sedangkan
kematian janin mengandung pengertian bahwa janin tidak lagi menunjukkan
tanda-tanda hidup. Tidak dipersoalkan bayi keluar atau tidak dari perut ibunya.

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
1. Jumlah kecelakaan lalu lintas di Indonesia hingga saat ini masih sangat
tinggi, sehingga penting bagi seorang dokter untuk mengetahui
bagaimana pola-pola luka secara umum dan pola luka pada berbagai
jenis kecelakaan lalu-lintas darat, sehingga dapat membantu penyidik
dalam penyelidikan kasus kecelakaan.
2. Korban kecelakaan lalu lintas dapat diduga jenis cederanya dengan
meneliti riwayat trauma dengan cermat. Pada korban kecelakaan lalu
lintas, biasanya dapat ditemukan luka / tanda kekerasan yang dapat
dibagi menjadi beberapa kelompok.
3. Pada investigasi pada kecelakaan lalu lintas maka pemeriksaan harus
ditujukan pada : pola dari trauma yang ditemukan, adanya penyakit
yang mendasari terjadinya kecelakaan tersebut, misalnya seperti
serangan jantung, adanya kemungkinan percobaan bunuh diri, adanya
kemungkinan pembunuhan, adanya intoksikasi zat.

DAFTAR PUSTAKA
1. Idries AM. Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi Pertama. Jakarta :
Binarupa Aksara. 1997 : 303-21
2. Pranolo J. Cedera Pada Pengendara Motor dan Pejalan Kaki. Available at
: http://www.freewebs.com/cederapadapengendaramotorhtm. Diakses
tanggall 21 Agustus 2015.
3. Sjamsuhidajat R., de Jong W. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi Revisi.
Jakarta : EGC. 1997 : 108-9.
4. Dahlan S. Ilmu Kedokteran Forensik Pedoman bagi Dokter dan Penegak
Hukum. Semarang : Badan Penerbit Universitas Diponegoro. 2000 : 67-91
5. Budiyanto A, Widiatmaka W, Sudiono S., dkk. Ilmu Kedokteran Forensik.
Jakarta : bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. 1997 : 37-44
6. DiMaio V., DiMaio D. Forensic Pathology. Second edition. Wahington
DC : CRC Press. 2000 (4) : 275-94\
7. Tedeschi CG, Eckert WG, Tedeschi L.G. Forensic Medicine, a study in
trauma and environmental hazards. Volume 2, Physical Trauma. Chapter
p853-863, Philadelphia : W.B. Saunders Company. 1977 (30) : 853-63
8. James SH, Nordby JJ. Forensic Science, An Introduction to Scientific and
Investigative Techniques. Washington DC : CRC Press. 2003.