Anda di halaman 1dari 39

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA
Dalam bab ini akan diuraikan tentang beberapa konsep diantaranya adalah
konsep ibu bersalin, konsep persalinan, konsep primigravida, konsep fase aktif
memanjang, konsep manajemen asuhan kebidanan ibu bersalin primigravida
dengan kala I fase aktif memanjang.
2.1 Konsep Persalinan Normal
2.1.1 Pengertian
Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan plasenta)
yang telah cukup bulan atau dapat hidup diluar kandungan melalui jalan lahir atau
jalan lain, dengan bantuan atau tanpa bantuan (kekuatan sendiri) (Manuaba IBG,
2010 : 164).
Persalinan dan kelahiran merupakan kejadian fisiologi yang normal dalam
kehidupan. Kelahiran seorang bayi juga merupakan peristiwa sosial bagi ibu dan
keluarga. Persalinan adalah proses membuka dan menipisnya servik, dan janin
turun ke jalan lahir. Kelahiran adalah proses dimana janin dan ketuban didorong
keluar melalui jalan lahir. Dengan demikian bisa dikatakan bahwapersalinan
adalah ranagkaian peristiwa mulai dari kenceng-kenceng teratur sampai
dikeluarkannya produk konsepsi (janin, plasenta, ketuban dan cairan ketuban) dari
uterus ke dunia luar melalui jalan lahir atau melalui jalan lain dengan bantuan atau
dengan kekuatan sendiri (Sumarah, 2009: 1).
2.1.2 Bentuk Persalinan
1. Persalinan berdasarkan teknik.
a. Partus spontan, yaitu persalinan berlangsung dengan kekuatan ibu sendiri
dan melalui jalan lahir.
b. Persalinan buatan, yaitu persalinan dengan tenaga dari luar dengan
ekstraksi forceps, ekstraksi vakum dan seksio sesaria.
c. Persalinan anjuran yaitu persalinan tidak dimulai dengan sendirinya
tetapi baru berlangsung setelah memecahkan ketuban, pemberian pitocin
aprostaglandin (Rukiyah, 2014: 2)
2. Persalinan berdasarkan umur kehamilan.
a. Abortus : Pengeluaran buah kehamilan sebelum kehamilan 22 minggu
atau bayi dengan berat badan kurang dari 500 gram.
b. Partus Immaturus : Pengeluaran buah kehamilan antara 22 minggu dan
28 minggu atau bayi dengan berat badan antara 500 gram dan 999 gram.
c. Partus prematurus : Pengeluaran buah kehamilan antara 28 minggu dan
37 minggu atau bayi dengan berat badan antara 1000 gram dan 2499
gram.
d. Partus Maturs atau aterm : Pengeluaran buah kehamilan antara 37
minggu dan 42 minggu dengan berat badan bayi diatas 2500 gram.
e. Partus postmaturus (serotinus) : Pengeluaran buah kehamilan setelah 2
minggu atau lebih dari waktu persalinan yang ditaksirkan (Rukiyah,
2014: 2-3)

2.1.3 Klasifikasi Persalinan


Partus matur atau aterm adalah partus dengan kehamilan 37-40 minggu,
janin matur, berat janin diatas 2500 gram. Partus prematur adalah dari hasil
konsepsi yang dapat hidup tetapi belum aterm/cukup bulan, berat janin 100-2500
gram atau umur kehamilan 28-36 minggu. Partus post matur/serotinus adalah
partus terjadi dua minggu atau lebih dari waktu yang telah diperkirakan atau
taksiran partus. Abortus adalah penghentian kehamilan sebelum janin viabel, berat
janin kurang dari 1000 gram, umur kehamilan kurang dari 28 minggu (Rukiyah,
2014: 3).
2.1.4 Faktor-faktor yang mempengaruhi persalinan
Pada setiap persalinan harus diperhatikan faktor-faktor yang
mempengaruhinya. Tiga faktor utama yang menentukan prognosis persalinan
adalah jalan lahir (passage), janin (passanger), dan kekuatan (power) (Sumarah,
2009 : 23).
1. Passage (jalan lahir)
Jalan lahir terdiri dari panggul ibu, yakni bagian tulang padat, dasar
panggul, vagina dan introitus (lubang luar vagina). Meskipun jaringan lunak,
khususnya lapisan-lapisan otot dasar panggul ikut menunjang keluarnya bayi,
tetapi panggul ibu jauh lebih berperan dalam proses persalinan. Janin harus
berhasil menyesuaikan dirinya terhadap jalan lahir yang relative kaku. Oleh
karena itu ukuran dan bentuk panggul harus ditentukan sebelum persalinan
dimulai (Sumarah, 2009 : 23).
2. Passanger (janin dan plasenta)
Passanger atau janin bergerak sepanjang jalan lahir merupakan akibat
interaksi beberapa faktor, yakni ukuran kepala janin, presentasi, letak, sikap
dan posisi janin. Karena plasenta juga harus melewati jalan lahir, maka ia
sanggup juga sebagai bagian dari passanger yang menyertai janin. Namun
plasenta jarang menghambat proses persalinan pada kehamilan normal
(Sumarah, 2009 : 35).
3. Power (kekuatan)
Kekuatan terdiri dari kemampuan ibu melakukan kontraksi involunter
dan volunteer secara bersamaan untuk mengeluarkan janin dan plasenta dari
uterus. Kontraksi involunter disebut juga kekuatan primer, menandai
dimulainya persalinan. Apabila serviks berdilatasi, usaha volunteer dimulai
untuk mendorong yang disebut kekuatan sekunder, dimana kekuatan ini
memperbesar kekuatan kontraksi involunter (Sumarah, 2009 : 42).
2.1.5 Tanda-tanda Permulaan Persalinan
Sebelum terjadi persalinan yang sebenarnya, beberapa minggu
sebelumnya, wanita memasuki bulannya atau minggunya atau harinya yang
disebut kala pendahuluan (preparatory stage of labor).
Kala pendahuluan memberikan tanda-tanda sebagai berikut :

1) Lightening atau settling atau dropping, yaitu kepala turun memasuki


pintu atas panggul terutama pada primigravida. Pada multipara hal
tersebut tidak begitu jelas.
2) Perut kelihatan lebih melebar, fundus uteri turun.
3) Sering buang air kecil atau sulit berkemih (polakisuria) karena kandung
kemih tertekan oleh bagian terbawah janin.
4) Perasaan nyeri diperut dan dipinggang oleh adanya kontraksi-kontraksi
lemah, uterus, kadang-kadang disebut false labor pains.
5) Serviks menjadi lembek, mulai mendatar dan sekresinya bertambah,
mungkin bercampur darah (bloody show) (Sofian A, 2012 : 70).
2.1.6 Perubahan Fisiologis Dalam Persalinan
1. Perubahan tekanan darah
Tekanan darah meningkat selama terjadinya kontraksi uterus dengan
kenaikan sistolik rata-rata sebesar 10-20 mmHg dan tekanan diastolik ratarata 5-10 mmHg. Diantara kontraksi-kontraksi uterus, tekanan darah akan
turun seperti sebelum masuk persalinan dan akan naik bila terjadi kontraksi.
Jika seorang ibu dalam keadaan sangat takut/khawatir, pertimbangkan
kemungkinan rasa takutnyalah yang menyebabkan kenaikan tekanan darah.
Dalam hal ini perlu dilakukan pemeriksaan lainnya untuk mengesampingkan
pre eklampsia, oleh karena itu diperlukan asuhan yang mendukung yang
dapat menimbulkan ibu rileks atau santai (Sumarah, 2009 : 58).
2. Perubahan metabolisme
Selama persalinan baik metabolisme karbohidrat aerobik maupun
anaerobik akan naik secara perlahan. Kenaikan ini sebagian besar disebabkan
karena oleh kecemasan serta kegiatan otot kerangka tubuh. Kegiatan
metabolisme yang meningkat tercermin dengan kenaikan suhu badan, denyut
nadi, pernafasan, kardiak out put dan kehilangan cairan (Sumarah, 2009 : 59).
3. Perubahan suhu tubuh
Suhu badan akan sedikit meningkat selama persalinan, suhu mencapai
tertinggi selama persalinan dan segera setelah kelahiran. Kenaikan ini
dianggap normal asal tidak melebihi 0,5-10C. Suhu badan yang naik sedikit
merupakan keadaan yang wajar, namun bila keadaan ini berlangsung lama,
kenaikan suhu ini mengindikasikan adanya dehidrasi. Parameter lainnya harus
dilakukan antara lain selaput ketuban sudah pecah atau belum karena hal ini
bisa merupakan tanda infeksi (Sumarah, 2009 : 59).
4. Denyut jantung
Perubahan yang menyolok selama kontraksi dengan kenaikan denyut
jantung, penurunan selama acme sampai satu angka yang lebih rendah dan
angka antara kontraksi. Penurunan yang menyolok selama acme kontraksi
tidak terjadi jika ibu berada dalam posisi miring bukan posisi terlentang
(Sumarah, 2009 : 59).

5.

Pernafasan
Pernafasan terjadi kenaikan sedikit dibanding dengan sebelum
persalinan, kenaikan pernafasan ini dapat disebabkan karena adanya rasa
nyeri, kekhawatiran serta penggunaan tehnik pernafasan yang tidak benar.
Untuk itu diperlukan tindakan untuk mengendalikan pernafasan (untuk
menghindari hiperventilasi yang ditandai oleh adanya perasaan pusing)
(Sumarah, 2009 : 60).
6. Perubahan renal
Polyuri sering terjadi selama persalinan, hal ini disebabkan oleh
kardiak output yang meningkat, serta disebabkan karena filtrasi glomelurus
serta aliran plasma ke renal. Polyuri tidak begitu kelihatan dalam posisi
terlentang, yang mempunyai efek mengurangi aliran urine selama kehamilan
(Sumarah, 2009 : 60).
7. Perubahan gastrointestinal
Kemampuan pergerakan gastrik serta penyerapan makanan padat
berkurang akan menyebabkan pencernaan hampir berhenti selama persalinan
dan menyebabkan konstipasi. Lambung yang penuh dapat menimbulkan
ketidaknyamanan, oleh karena itu ibu dianjurkan tidak makan terlalu banyak
atau minum berlebihan, tetapi makan terlalu banyak atau minum berlebihan,
tetapi makan dan minum semaunya untuk mempertahankan energi dan hidrasi
(Sumarah, 2009 : 60).
8. Perubahan hematologi
Haemoglobin akan meningkat 1,2 gr/100 ml selama persalinan dan
kembali ketingkat pra persalinan pada hari pertama setelah persalinan apabila
tidak terjadi kehilangan darah selama persalinan, waktu koagulasi berkurang
dan akan mendapat tambahan plasma selama persalinan. Jumlah sel-sel darah
putih meningkat secara progesif selama kala satu persalinan sebesar 5000 s/d
15.000 WBC sampai dengan akhir pembukaan lengkap, hal ini tidak
berindikasi adanya infeksi (Sumarah, 2009 : 60-61).
9. Kontraksi uterus
Kontraksi uterus terjadi karena adanya rangsangan pada otot polos
uterus dan penurunan hormon progesteron yang menyebabkan keluarnya
hormon oksitosin. Kontraksi uterus dimulai dari fundus uteri menjalar
kebawah, fundus uteri bekerja kuat dan lama untuk mendorong janin
kebawah, sedangkan uterus bagian bawah pasif hanya mengikuti tarikan dan
segmen atas rahim, akhirnya menyebabkan serviks menjadi lembek dan
membuka. Kerjasama antara uterus bagian atas dan uterus bagian bawah
disebut polaritas (Sumarah, 2009 : 61).
2.1.7 Sebab Mulainya Persalinan
Sebab yang mendasari terjadinya partus secara teoritis masih merupakan
kumpulan teoritis yang kompleks teori yang turut memberikan andil dalam proses
terjadinya persalinan antara lain : teori hormonal, prostaglandin, struktur uterus,
sirkulasi uterus, pengaruh saraf dan nutrisi hal inilah yang diduga memberikan
pengaruh sehingga partus dimulai :
1. Penurunan kadar progesteron

Progesteron menimbulkan relaksasi otot-otot rahim, sebaliknya


estrogen meningkatkan kontraksi otot rahim. Selama kehamilan, terdapat
keseimbangan antara kadar progesteron dan estrogen didalam darah tetapi
pada akhir kehamilan kadar progesteron menurun sehingga timbul his.
2. Teori oxcytosin
Pada akhir kehamilan kadar oxcytosin bertambah. Oleh karena itu
timbul kontraksi otot-otot rahim.
3. Peregangan otot-otot
Dengan majunya kehamilan, maka makin tereganglah otot-otot rahim
sehingga timbullah kontraksi untuk mengeluarkan janin (Rukiyah, 2014: 4).
4. Pengaruh janin
Hipofise dan kadar suprarenal janin rupanya memegang peranan
penting oleh karena itu pada ancephalus kelahiran sering lebih lama
(Rukiyah, 2014: 4).
5. Teori prostaglandin
Kadar prostaglandin dalam kehamilan dari minggu ke-15 hingga
aterm terutama saat persalinan yang menyebabkan kontraksi miometrium
(Rukiyah, 2014: 4).
6. Hormon-hormon yang dominan pada saat kehamilan yaitu :

Estrogen
Berfungsi untuk meningkatkan sensitivitas otot rahim dan memudahkan
penerimaan rangsangan dari luar seperti rangsangan oksitosin, rangsangan
prostaglandin, rangsangan mekanis.

Progesteron
Berfungsi meurunkan sensitivitas otot rahim, menyulitkan penerimaan rangsangan
dari luar seperti oksitosin, prostaglandin, rangsangan mekanis, dan menyebabkan
otot rahim dan otot polos relaksasi.
Pada saat kehamilan kedua hormon tersebut berada dalam keadaan yang
seimbang, sehingga kehamilan bisa dipertahankan. Perubahan keseimbangan
kedua hormon tersebut menyebabkan oksitosin yang dikeluarkan oleh hipofise
parst posterior dapat menimbulkan kontraksi dalam bentuk braxton hicks.
(Sumarah. 2009: 2)
2.1.3.2 Teori yang memungkinkan terjadinya persalinan :

Teori keregangan
Otot rahim mempunyai kemampuan meregang dalam batas tertentu. Setelah
melewati batas waktu tersebut terjadi kontraksi sehingga persalinan dapat dimulai.
Hal ini mungkin merupakan faktor yang dapat menggangu sirkulasi
uretroplasenter sehinggan plasenta mengalami degenerasi

Teori prenurunan progesteron


Proses penurunan plasenta terjadi mulai umur kehamilan 28 minggu, dimana
terjadi proses penimbunan jaringan ikat, pembuluh darah mengalami penyempitan
dan buntu. Vili kariales mengalami perubahan-perubahan dan produksi
progesteron mengalami penurunan, sehingga otot rahim lebih sensitif terhadap
oksitosin.

Teori oksitosi internal

Oksitosin dikeluarkan oleh kelenjar parst hipofise posterior. Perubahan


keseimbangan progesteron dan estrogen dapat mengubah sensitivitasotot rahim,
sehingga sering terjadi brakton hiks. Menurunya konsentari progesteron akibat
tuanya kehamilan maka oksitosin dapat meningkatkan aktivitas, sehingag
persalinan dimulai.
Teori prostaglandin
Konsentrasi prostaglandin meningkat sejak umur kehamilan 15 minggu yang
dikeluarkan oleh desidua. Prostaglandin dianggap dapat memicu kejadian
persalinan.
Teori hipotalamus-pituitari dan glandula suprarenalis
Dari beberapa percobaan tersebut disimpulkan adanya hubungan antara
hipotalamus pituitari dengan mulainya persalinan.
Teori berkurangnya nutrisi
Berkurang nya nutrisi pada janin dikemukakan oleh hipokrates untuk pertama
kalinya. Bila nutrisi pada janin berkurang maka hasil konsepsi akan segera
dikeluarkan.
Faktor lain
Tekanan pada ganglionservikale pada fleksus frankenhauser yang terletak
dibelakang servik. Bila ganglion ini tertekan maka kontarksi dapat dibangkitkan.
(Sumarah. 2009: 2-4)
2.1.8 Tahapan Persalinan
Persalinan dibagi menjadi 4 tahap. Pada kala I servik membuka dari
pembukaan 0-10 cm. Kala I dinamakan juka kala pembukaan, kala II disebut kala
pengeluaran, kala III disebut juga kala pengeluaran urie, sedangkan kala IV
dimulai dari lahirnya plasenta sampai 2 jam kemudian (Sumarah. 2009: 4-5)
1. Kala I (Pembukaan)
Pasien dikatanya dalam persalina kala I, jika sudah terjadi pembukaan
servik dan kontraksi terjadi teratur minimal 2 kali dalam 10 menit selama 40
detik. Kala I adalah kala pembukaan yang berlangsung antara 0-10 cm. Proses
ini terbagi menjadi 2 fase, yaitu fase laten (8 jam) dimana servik membuka
sampai 3 cm dan fase aktif (6 jam) dimana servik membuka dari 3-10
cm (Sulistyowati, 2010: 7). Fase aktif dibagi dalam 3 fase yaitu :
a. Fase akselerasi, dalam waktu 2 jam pembukaan 3 cm menjadi 4 cm.
b. Fase dilatasi maksimal, dalam 2 jam pembukaan berlangsung sangat
cepat. Dari 4 cm menjadi 9 cm.
c. Fase deselerasi, pembukaan melambat kembali. Dalam 2 jam pembukaan
dari 9 cm menjadi 10 cm (Sulistyawati, 2010: 65)
2. Kala II
Kala II adalah kala pengeluaran bayi dimulai dari pembukaan lengkap
sampai bayi lahir. Proses ini berlangsung 2 jam pada primigravida dan 1 jam
pada multigravida. Diagnosa kala II ditegakkan dengan melakukan
pemeriksaan dalam untuk memastikan pembukaan lengkap dan kepala janin
sudah tampak divulva denagn diameter 5-6 cm (Sulistyowati, 2010: 7-8).
Gejala utama kala II adalah sebagai berikut :
a. His semakin kuat dengan interval 2-3 menit dengan durasi 50- 100 detik.

b.

Menjelang akhir kala I ketuban pecah yang ditandai dengan pengeluaran


cairan secara mendadak.
c. Ketuban pecah pada pembukaan mendekati lengkap diikuti keinginan
meneran.
d. Dua kekuatan yaitu, his dan meneran akan mendorong kepala bayi
sehingga kepala beyi membuka pintu berturut-turut ubun-ubun besar,
dahi, hidung, muka, serta kepala seluruhnya.
e. Kepala lajir seluruhnya dan diikuti dengan putar paksi luar yaitu
penyesuaian kepala dan punggung.
f. Setelah putar paksi luar, maka persalinan bayi ditolong dengan jalan
berikut.
1) Pegang kepala pada tulang oksiput dan bagian bawah dagu,
kemudian tarik cunam kebawah untuk melahirkan bahu depan dan
cunam keatas untuk melahirkan bahu belakang.
2) Setelah kedua bahu lahir, ketiak dikait untuk melahirkan sisa badan
bayi.isa air ketuban.
3) Bayi lahir diikuti sisa air ketuban.
g. Lamanya kala II untuk primigravida 50 menit dan multigravida 30 menit
(Sulistyawati. 2010: 8)
3. Kala III (Pelepasan plasenta)
Kala III adalah waktu untuk pelepasan dan pengeluaran plasenta.
Lepasnya plasenta sudah dapat diperkirakan dengan memperhatikan tandatanda sebagai berikut :
a. Uterus berbentuk bundar.
b. Uterus terdorong keatas, karena plasenta terlepaske segmen bawah
rahim.
c. Tali pusat bertambah panjang.
d. Terjadi perdarahan.
e. Melahirkan plasenta dilakukan dengan dorongan ringan secara kradepada
fundus uteri (Sulistyowati.2010: 8)
4. Kala IV (Observasi)
Kala IV mulai dari lahirnya plasenta selama 1-2 jam. Pada kala IV
dilakukan observasi terhadap pascapersalianan, paling sering terjadi pada 2
jam pertama. Observasi yang dilakukan adalah sebagai berikut :
a. Tingkat kesadaran pasien.
b. Pemeriksaan tanda-tanda vital : tekanan darah, nadi, suhu dan
pernafasan.
c. Kontraksi uterus.
d. Terjadinya perdarahan, perdarahan dianggap normal bila jumlahnya tidak
melebihi 400-500 cc (Sulistyawati. 2010: 9).
2.1.9 Partograf
Partograf dipakai untuk memantau kemajuan persalinan dan membantu
petugas kesehatan dalam menentukan keputusan dalam pelaksanaan. Partograf
memberi peringatan pada petugas kesehatan bahwa suatu persalinan berlangsung
lama, adanya gawat ibu dan janin, bahwa mungkin ibu perlu dirujuk (Saifuddin,

AB, 2010: 104). Untuk menggunakan partograf dengan benar, petugas harus
mencatat kondisi ibu dan janin sebagai berikut :
1. Informasi pasien : isi nama, status gravida, status paritas, nomer register,
tanggal dan jam masuk rumah sakit, serta jam pecah ketuban atau lama waktu
ketuban pecah (apabila pecah ketuban terjadi sebelum pencatatan pada
partograf dibuat). (Yulianti, devi. 2005 : 67)
2. Denyut jantung janin. Catat setiap jam.
3. Air ketuban. Catat warna air ketuban setiap melakukan pemeriksaan vagina :
U : selaput Utuh
J : selaput pecah, air ketuban Jernih
M : air ketuban bercampur Mekoneum
D : air ketuban bernoda Darah
4. Perubahan bentuk kepala janin (molding atau molase):
1: sutura (pertemuan dua tulang tengkorak) yang tepat atau bersesuaian
2 : sutura tumpang tindih tetapi dapat diperbaiki
3 : sutura tumpang tindih dan tidak dapat diperbaiki
5. Pembukaan mulut rahim (serviks). Dinilai pada setiap pemeriksaan vaginam
dan diberi tanda (x).
6. Penurunan. Mengacu pada bagian kepala (dibagi 5 bagian) yang teraba (pada
pemeriksaan abdomen/luar) di atas simfisis pubis; catat dengan tanda
lingkaran (O) pada setiap pemeriksaan dalam.
7. Waktu : menyatakan berapa jam waktu yang telah dijalani sesudah pasien
diterima.
8. Jam : Catat jam sesungguhnya.
9. Kontraksi. Catat setiap setengah jam; lakukan palpasi untuk menghitung
banyaknya kontraksi dalam 10 menit dan lamanya masing-masing kontraksi
dalam hitungan detik.
Kurang dari 20 detik :
Antara 20 dan 40 detik :
Lebih dari 40 detik :
10. Oksitosin. Bila memakai oksitosin, catatlah banyaknya oksitosin per volume
cairan infuse dan dalam tetesan per menit.
11. Obat yang diberikan. Catat semua obat lain yang diberikan.
12. Nadi. Catatlah setiap 30-60 menit dan ditandai dengan sebuahtitik besar ().
13. Tekanan darah. Catatlah setiap 4 jam dan ditandai dengan anak panah.
14. Suhu badan. Catatlah setiap dua jam.
15. Protein, aseton, dan volume urine. Catatlah setiap kali ibu berkemih.
Bila temuan-temuan melintas ke arah kanan dari garis waspada, petugas kesehatan
harus melakukan penilaian terhadap kondisi ibu dan janin dan segera mencari
rujukan yang tepat (Saifuddin AB, 2010: 104).
2.1.10
2.2 Konsep Primigravida
2.2.1 Pengertian Primigravida
Primigravida adalah perempuan yang pertama kali hamil (Wirakusumah,
2014: 83).

2.2.2 Diagnosis Kehamilan Pada Primigravida


1. Buah dada tegang
2. Puting susu runcing
3. Perut tegang dan menonjol kedepan
4. Striae livide
5. Perineum utuh
6. Vulva tertutup
7. Hymen perforatus
8. Vagina sempit dan teraba rugae
9. Portio runcing, ostium externum tertutup (Wirakusumah, 2014: 105).
Pada primigravida, kepala anak pada bulan terakhir berangsur-angsur
turun ke dalam rongga panggul. Hal ini disebabkan karena rahim, lig. Rotundum
dan dinding perut makin teregang dan karena kekenyalannya mendesak isisnya ke
bawah. Kekuatan ini juga dibantu oleh kekuaran mengejan sewaktu buang air
besar (Wirakusumah, 2014: 106).
Pada primigarvida, jika kepala belum turun pada akhir kehamilan, harus
diingat kemungkinan panggul sempit atau adanya keadaan patologis lain (Plasenta
previa, hidramnion, dan gemeli) (Wirakusumah, 2014: 106).
2.2.3 Bahaya ibu hamil Primigravida
1. Kelainan letak, persalinan letak lintang.
2. Robekan rahim pada kelainan letak lintang
3. Persalinan lama
4. Perdarahan pasca salin
(Poedji Rochjati, 2011: 64-65).
2.3 Konsep Persalinan dengan Kala I Fase Aktif Memanjang
2.3.1 Pengertian
Persalinan fase aktif (atau persalinan aktif) biasanya mengacu pada
pembukaan serviks lebih dari 3 cm disertai kontraksi yang mengalami kemajuan,
yakni kontraksi yang menjadi semakin lama, kuat dan sering. Perlu diketahui
bahwa pada multipara terkadang pembukaan mencapai 3, 4 atau bahkan 5 cm
tanpa kontraksi yang mengalami kemajuan. Mereka belum memasuki persalinan
sampai dengan mereka mengalami kontraksi dengan kemajuan dan serviks
membuka semakin lebar seiring dengan kontraksi (Obstetriginekologi.com).
Istilah persalinan aktif memanjang mengacu pada laju pembukaan yang
tidak adekuat setelah persalinan aktif didiagnosis. Diagnosis laju pembukaan tidak
adekuat bervariasi: kurang dari 1 cm setiap jam selama sekurang-kurangnya 2 jam
setelah kemajuan persalinan, kurang dan 1,2 cm per jam pada primigravida dan
kurang dari 1,5 cm per jam pada multipara 2 lebih dan 12 jam sejak pembukaan 4
cm
sampai
pembukaan
lengkap
(rata-rata
0,5
cm
per
am)
(Obstetriginekologi.com)
2.3.2 Masalah
Persalinan lama
1. Fase laten lebih dari 8 jam.

2.

Persalinan telah berlangsung 12 jam atau lebih tanpa kelahiran bayi


(persalinan lam).
3. Dilatasi servik dikanan garis waspada (Saifuddin AB, 2010: M-47).
2.3.3 Diagnosis
Faktor-faktor penyebab persalinan lama :
1. His tidak efisien/adekuat.
2. Faktor janin.
3. Faktor jalan lahir. (Saifuddin AB, 2010: M-48)
Tabel 2.1 Diagnosis Kala I Fase Aktif Memanjang
Tanda dan Gejala
Diagnosis
Servik tidak membuka
Tidak didapatkan his/his tidak teratur
Belum inpartu
Pebukaan servik tidak melebihi 4cm sesudah 8 jam
inpartu dengan his teratur
Fase laten memanjang
Fase aktif memanjang

Pembukaan servik melewati kanan garis waspada


Inersia uteri
partograf.
Frekuensi his kurang dari 3 his per 10 menit
Disproporsi sefalo pelvik
lamanya kurang dari 40 detik.
Pembukaan servik dan turunnya bagian janin
yang dipresentasi tidak maju sedangkan his baik
Obstruksi kepala
Pembukaan servik dan turunya bagian janin
yang di presentasi tidak maju dengan takut, terdapat
moulase hebat, odema servik, tanda rupture uteri
iminen, gawat janin.
Kelainan presentasi (selain vertek dengan
Malpretasi atau malposisi
oksiput anterior)
Pembukaan servik lengkap ibu ingin mengejan tapi
tidak ada kemajuan penurunan
Kala II lama

2.3.4 Penanganan umum


1. Nilai dengan segera keadaan umum ibu hamil dan janin (termasuk tanda vital
dan tingkat hidrasi).
2. Kaji kembali partograf, tentukan apakah pasien berada dalam persalinan.
3. Nilai frekuensi dan lamanya his.
4. Perbaiki keadaan umum dengan :
a. Dukungan emosional, perubahan posisi (sesuai dengan penanganan
persalinan normal).
b. Periksa keton dalam urine dan berikan cairan, baik oral maupun
parenteral,dan upayakan buang air kecil (kateterisasi bila perlu).
5. Berikan analgesik : tramadol atau penitidin 25 mg I.M (maksimum 1 mg/
kgBB) atau morfin 10 mg I.M, jika pasien merasakan nyeri yang sangat.
(Saifuddin AB, 2010: M-47)
2.3.5 Menentukan Keadaan Janin

1.

Periksa denyut jantung janin selama atau segera setelah his. Hitung
frekuensinya sekurang kurangnya sekali dalam 30 menit selama fase aktif dan
tiap 5 menit selama kala II.
2. Jika terdapat gawat janin, lakukan secsio sesaria. Kecuali jika syarat-syarat
dipenuhi lakukan ekstraksi vacum atau forcep.
3. Jika ketuban sudah pecah, air ketuban kehijau-hijauan atau bercampur darah.
Pikirkan kemungkinan gawat janin.
4. Jika tidak ada ketuban yang mengalir setelah selaput ketuban pecah,
pertimbangkan adanya indikasi penurunan jumlah air ketuban yang mungkin
menyebabkan gawat janin.
a. Perbaiki keadaan umum dengan memberikan dukungan emosional.
b. Bila keadaan masih memungkinkan anjurkan bebas bergarak, duduk
dengan posisi berubah.
c. Berikan cairan baik secara oral atau parenteral dan upaya buang air kecil.
5. Bila penderita merasakan nyeri yang sangat berikan analgesik : tramadol atau
penitidin 25mg dinaikkan samapai maksimum 1 mg/Kg atau morfin 10 mg
IM.
a. Lakukan pemeriksaan vagina untuk mnentukan kala persalinan.
b. Lakukan penilaian frekuensi dan lamanya kontraksi berdasarkan
partograf.
(Saifuddin AB, 2010: 184-185)
2.3.6 Penanganan Khusus
1. Jika tidak ada tanda-tanda disproporsi sefalopelvik atau obstruksi dan ketuban
masih utuh, pecahkan ketuban.
2. Nilai his :
a. Jika his adekuat (kurang dari 3 his dalam 10 menit dan lamanya kurang
dari 40 detik) pertimbangkan adanya inersia uteri.
b. Jika his adekuat (3 kali dalam 10 mmenit dan lamanya lebih dari 40
detik), pertimbangkan adanya disproporsi, obstruksi, malposisi, dan mal
presentasi.
3. Lakukan penanganan umum yang akan memperbaiki his dan mempercepat
kemajuan persalinan (Saifuddin AB, 2010: Mk-49).
2.3.7 Gejala Utama yang Perlu Diperhatikan
Gejala utama yang perlu diperhatikan pada persalinan yang lama diantaranya
adalah sebagai berikut :
1. Dehidrasi
2. Tanda infeksi
a. Temperatur tinggi
b. Nadi dan pernafasan
c. Abdomen meteorismus
3. Pemeriksaan abdomen
a. Meteorismus
b. Lingkaran bandle tinggi
c. Nyeri segmen bawah rahimi
4. Pemeriksaan lokal vulva- vagina
a. Odema vulva

5.

6.
7.

b. Cairan ketuban berbau


c. Cairan ketuban bercaampur mekonium
Pemeriksaan dalam
a. Edema serviks
b. Bagian terendah sulit didorong ke atas
c. Terdapat kaput pada bagian terendah
Keadaan janin dalam rahim
a. Asfiksia sampai terjadi kematian
Akhir dari persalinan lama
(Manuaba IBG, 2010 : -).

2.3.8
2.4 Konsep Managemen Asuhan Kebidanan Pada Ibu Bersalin Primigravida
Dengan Kala I Fase Aktif Memanjang
2.4.1 Pengertian Manajemen Asuhan Kebidanan
Manajemen asuhan kebidanan adalah pendekatan dan kerangka pikir yang
digunakan oleh bidan dalam memberikan asuhan kebidanan secara sistematis,
mulai mengumpulkan data, menganalisis data, menegakkan diagnosis kebidanan,
menyusun rencana asuhan, melaksanakanan rencana asuhan, mengevaluasi
keefektifan pelaksanaan rencana asuhan dan mendokumentasikan asuhan
(Mangkuji, 2013: 2).
2.4.2 Pengertian Asuhan Kebidanan
Asuhan pada ibu bersalin yaitu asuhan yang dibutuhkan ibu saat persalinan
(Rukiyah, 2014: 85).
2.4.3 Langkah-langkah manajemen asuhan kebidanan ibu bersalin primigravida
dengan kala I fase aktif memanjang
Langkah-langkah manajemen kebidanan merupakan suatu proses
penyelesaian masalah yang menuntut bidan untuk lebih kritis didalam
mengantisipasi masalah (Mangkuji, 2013: 5). Ada tujuh langkah dalam
manajemen kebidanan menurut Varney. Langkah manajemen asuhan kebidanan
ibu bersalin primigravida dengan kala I fase aktif memanjang, adalah sebagai
berikut :
1. Pengkajian
a. Data Subjektif
1) Biodata
a) Nama
: Nama jelas dan lengkap, bila perlu nama
panggilan sehari-hari agar tidak keliru dalam
memberikan penanganan.
b) Umur
: Dicatat dalam tahun untuk mengetahui adanya
resiko seperti kurang dari 20 tahun, alat-alat
reproduksi belum matang, mental dan
psikisnya belum siap (Anggraini Y, 2010:
135).

c) Agama
d) Pendidikan

e) Suku/bangsa
f)

Pekerjaan

g) Alamat

: Untuk mengetahui keyakinan pasien tersebut


untuk membimbing atau mengarahkan pasien
dalam berdoa.
: Berpengaruh dalam tindakan kebidanan dan
untuk mengetahui sejauhmana tingkat
intelektulitasnya, sehingga bidan dapat
memberikan
konseling
sesuai
dengan
pendidikannya.
: Berpengaruh pada adat istiadat atau kebiasaan
sehari-hari
: Gunanya untuk mengetahui dan mengukur
tingkat sosial ekonominya, karena ini juga
mempengaruhi dalam gizi pasien tersebut.
: Ditanyakan untuk mempermudah kunjungan
rumah bila diperlukan.

2) Keluhan Utama
Pada proses persalinan keluhan utama yang biasa muncul
ditandai dengan pengeluaran lendir, lendir bercampur darah, dapat
juga disertai ketuban pecah. Sebagian besar ketuban baru pecah
menjelang pembukaan lengkap. Dengan pecahnya ketuban
diharapkan persalinan berlangsung dalam waktu 24 jam (Manuaba
IBG, 2010: 165).
3) Riwayat kesehatan yang lalu
Data dari riwayat kesehatan ini dapat kita gunakan sebagai
penanda (warning) akan adanya penyulit masa hamil (Sulistyawati
A, 2009 : 168).
4) Riwayat kesehatan keluarga
Kaji riwayat kesehatan keluarga melalui genogram. Dari
genogram tersebut dapat di identifikasi megenai penyakit turunan
dan menular yang terdapat dalam keluarga (Hutahaen S, 2013: 98).
5) Riwayat haid :
a) Menarche
: usia waktu pertama kalinya mendapat haid
(menarche) bervariasi, yaitu antara 10-16
tahun, tetapi rata-ratanya 12,5 tahun.
b) Dismenorhea : rasa nyeri dan sakit pada bagian perut saat
menstruasi. Dismenorhea primer terjadi
setelah menarche biasanya setelah 12 bulan
atau lebih (Prawirohardjo S, 2009: 103).
c) Siklus
: haid dikatakan normal bila didapatkan siklus
haid, tidak kurang dari 24 hari, tetapi tidak
melebihi 35 hari.
d) Lama
: lama haid biasanya antara 3-7 hari.
e) Jumlah darah : jumlah darah selama haid berlangsung tidak
melebihi 80 ml ganti pembalut 2-6 kali per
hari. (Prawirohardjo S, 2011 : 73).

f) HPHT
6)

7)

8)

9)

: untuk mengetahui usia kehamilan dan taksiran


persalinan (Ningsih R, 2013).
Riwayat pernikahan
Yang perlu dikaji adalah beberapa kali menikah, status
menikah sah atau tidak, karena bila melahirkan tanpa status jelas
akan berkaitan dengan psikologisnya.
Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu
Berapa kali ibu hamil, apakah pernah abortus, jumlah anak,
cara persalinan yang lalu, penolong persalinan, keadaan nifas yang
lalu (Anggraini Y, 2010 : 136). Data ini penting untuk diketahui oleh
bidan sebagai data acuan untuk memprediksi jalannya proses
persalinan dan untuk mendeteksi apakah ada kemungkinan penyulit
selama proses persalinan (Sulistyawati A, 2010: 221)
Riwayat kehamilan sekarang
Untuk mengetahui kondisi dan perkembangan kehamilan ibu
saat ini. Adapun hal-hal yang perlu dikaji adalah :
a) Hari pertama haid terakhir (HPHT) dan taksiran persalinan (TP),
untuk mengetahui usia kehamilan ibu saat berkunjung,
kesesuaian perbesaran perut dengan usia kehamilan ibu sesuai
dengan trimesternya dan keluhan-keluhan yang mungkin
muncul (Aldrin GC, 2013).
Menghitung perkiraan tanggal persalinan dengan metode
kalender menggunakan rumus Naegle: hari pertama haid
terakhir +7, bulan -3 = tanggal persalinan (Dewi V, 2011: 153).
b) Keluhan pada trimester I, trimester II, dan trimester III, untuk
mengetahui apakah keluhan-keluhan tersebut fisiologis atau
patologis.
c) Pergerakan janin pertama kali, secara tidak langsung dapat
mengetahui apakah ibu pertama kali hamil (primigravida) aau
sudah pernah hamil sebelumnya (multigravida) dan mengetahui
kesesuaian pergerakan janin dengan usia kehamilan, dan untuk
memantau perkembangan janin.
d) Obat yang dikonsumsi, untuk mengetahui obat/ suplemen yang
dikonsumsi ibu selama hamil dan pengaruhnya terhadap
kehamilan dan kondisi ibu.
e) Imunisasi, untuk mengetahui apakah ibu sudah/belum
mengimunisasikan dirinya, sehingga kecil kemungkinan ibu dan
janin terinfeksi.
Riwayat KB
Untuk mengetahui apakah ibu pernah menggunakan
kontrasepsi dan jenis kontrasepsi yang pernah digunakan ibu. Secara
tidak langsung dapat diketahui apakah kehamilan ibu saat ini
diterima atau tidak, baik oleh ibu maupun oleh suami dan
keluarganya. Indikasinya yaitu jika ibu sedang menggunakan
kontrasepsi dan ibu hamil, kemungkinan besar ibu tidak menerima

kehamilannya, jika ibu tidak sedang menggunakan kontrasepsi maka


ibu menerima kehamilannya. Hal-hal yang ditanyakan, meliputi :
a) Jenis kontrasepsi.
b) Lama pemakaiannya, dan
c) Keluhan-keluhan yang ada setelah menggunakan kontrasepsi.
(Aldrin GC, 2013).
10) Pola Kebiasaan
a) Pola makan
Ini penting untuk diketahui supaya kita mendapatkan
gambaran bagaimana pasien mencukupi asupan gizinya selama
hamil. Kita bisa menggali dari pasien tentang makanan yang
disukai dan yang tidak sukai. Beberapa hal yang perlu ditanykan
pada pasien berkaitan dengan pola makan adalah :
(1) Menu
Ini dikaitkan dengan pola diet seimbang bagi ibu
hamil. Jika pengaturan menu makan yang dilakukan kurang
seimbang sehingga ada kemungkinan beberapa komponen
gizi tidak akan terpenuhi.
(2) Frekuensi
Data ini akan memberi petunjuk bagi kita tentang
seberapa banyak asupan makanan yang dikonsumsi ibu.
(3) Pantangan
Data ini memberi informasi seberapa banyak
makanan yang ibu makan dalam waktu satu kali makan.
Untuk mendapatkan gambaran total makanan yang ibu
makan (Romauli, 2011: 470-471).
b) Pola minum
Dalam masa kehamilan asupan cairan yang cukup sangat
dibutuhkan. Beberapa hal yang perlu ditanyakan pada pasien
berkaitan dengan pola minum adalah frekuensi, jumlah per hari,
dan jenis minuman.
c) Pola istirahat
Bidan perlu menggali kebiasaan istirahat ibu supaya
diketahui hambatan yang mungkin muncul jika didapatkan data
yang senjang tentang pemenuhan kebutuhan istirahat. Bidan
dapat menanyakan tentang berapa lama tidur malam dan siang
hari.
d) Aktifitas sehari-hari
Data ini memberikan gambaran tentang seberapa berat
aktifitas yang biasa dilakukan pasien dirumah. Aktifitas yang
terlalu berat dapat menyebabkan abortus dan persalinan
prematur (Sulistyawati A, 2009: 170).
e) Personal hygiene
Jika pasien mempunyai kebiasaan yang kurang baik
maka bidan harus memberikan bimbingan mengenai cara
perawatan kebersihan diri dan bayinya sedini mungkin.

b.

Data Objektif
Setelah data subjektif kita dapatkan, untuk melengkapi data kita
dalam menegakkan diagnosis, maka kita harus melakukan pengkajian
data objektif melalui pemeriksaan inspeksi, palpasi, auskultasi dan
perkusi yang dilakukan secara berurutan (Sulistyawati A, 2009 : 171174).
1) Pemeriksaan umum
a) Keadaan umum
Sadar dan mampu melakukan komunikasi. Tidak
tampak sakit. Tidak terdapat kelainan bentuk tubuh yang dapat
mengganggu jalannya persalinan. Status gizinya baik (Manuaba
IBG, 2010 : 210).
b) Kesadaran
Dalam keadaan normal, pemeriksaan ini dilakukan pada
tingkat kesadaran mulai dari diam hingga sadar penuh (Uliyah
M, 2008 : 147). Penilaian status kesadaran secara kualitatif
antara lain :
(1) Composmentis : mengalami kesadaran penuh dengan
memberikan respons yang cukup
terhadap stimulasi yang diberikan.
(2) Apatis
: mengalami acuh tak acuh terhadap
keadaan sekitarnya.
(3) Somnolen
: memiliki kesadaran yang lebih rendah,
ditandai
dengan
anak
tampak
mengantuk, selalu ingin tidur, dan tidak
responsif terhadap rangsangan ringan.
(4) Sopor
: tidak memberikan respons ringan
maupun
sedang
tetapi
masih
memberikan respons sedikit terhadap
rangsangan yang kuat dengan adanya
refleks pupil terhadap cahaya yang
masih positif.
(5) Koma
: tidak dapat bereaksi terhadap stimulus
atau rangsangan apa pun sehingga
refleks pupil terhadap cahya tidak ada.
(6) Delirium
: tingkat kesadaran yang paling bawah,
ditandai dengan disorientasi yang sangat
iritatif, kacau, dan salah persepsi
terhadap rangsangan sensorik (Uliyah M,
2008: 153).
c) Tanda-tanda vital :
(1) Tekanan darah
Tekanan darah meningkat selama terjadinya
kontraksi uterus dengan kenaikan sistolik rata-rata sebesar
10-20 mmHg dan tekanan diastolik rata-rata 5-10 mmHg

(Sumarah, 2009 : 58). Jika tekanan darah ibu menurun,


curigai adanya perdarahan (Saifuddin AB, 2010: N-13).
(2) Suhu
Suhu tubuh normal adalah 36,5037,50C. Untuk
mengukur hipotermi diperlukan termometer ukuran rendah
(low reading thermometer) yang dapat mengukur sampai
250C (Kusmiyati, 2008: 151).
(3) Nadi
Jika denyut nadi ibu meningkat, mungkin ia sedang
dalam keadaan dehidrasi atau kesakitan. Pastikan hidrasi
yang cukup melalui oral atau I.V dan berikan analgesia
secukupnya (Saifuddin AB, 2010: N-13).
(4) Pernapasan
Untuk mengetahui sistem fungsi pernafasan yang
terdiri dari mempertahankan pertukaran gas. Pernafasan
normal 16-20 x/menit (Kusmiyati, 2008: 161).
2) Pemeriksaan khusus
a) Inspeksi : memeriksa dengan cara melihat atau memandang.
Tujuannya untuk melihat keadaan umum klien, gejala kehamilan
dan adanya kelainan.
Inspeksi/pemeriksaan pandang tersebut meliputi :
(1) Rambut
Bersih atau kotor, pertumbuhan, warna, mudah
rontok atau tidak. Rambut yang mudah dicabut
menandakan kurang gizi atau ada kelainan tertentu.
(2) Muka
Tampak cloasma gravidarum sebagai akibat deposit
pigmen yang berlebihan, tidak sembab. Bentuk simetris bila
tidak menunjukkan kelumpuhan (Romauli, 2011: 174).
(3) Mata
Periksa pada conjungtiva normalnya berwarna
merah muda, sklera normal berwarna putih, menyuruh ibu
untuk melihat ke atas saat dua jari pemeriksa menarik
kelopak mata ke arah bawah.
(4) Hidung
Periksa lubang hidung ibu hamil menggunakan
spekulum hidung lihatlah apakah ada septum, deviasi, polip,
perdarahan dan secret.
(5) Telinga
Periksa liang telinga ibu dengan menggunakan
senter lihat kebersihan dan adanya serumen, lakukan
pemeriksaan ketajaman pendengaran dengan tes berbisik
(Hutahaen, 2013: 180).
(6) Mulut
Periksa rongga mulut, lidah, gigi yang tanggal dan
gigi yang berlubang, serta karies gigi. Selain di lihat

pemeriksa juga perlu mencium adanya bau mulut yang


menyengat.
(7) Leher
Periksa kelenjar tiroid dengan tiga jari kedua
tangan pada ke dua sisi trakea sambil berdiri di belakang
ibu. Anjurkan ibu menelan dan merasakan benjolan yang
teraba saat ibu menelan (Hutahaen, 2013 : 180).
(8) Dada
Normal bentuk simetris, hiperpigmentasi areola,
putting susu bersih dan menonjol (Romauli, 2011: 174).
(9) Abdomen
Perhatikan apakah perut ibu simetris atau tidak, ada
hiperpigmentasi pada abdomen atau linea nigra atau tidak,
dan apakah terdapat luka operasi, jaringan parut atau tidak,
perhatkan pula bentuk, pembesaran pada abdomen.
(Hutahaen, 2013 : 180).
(10) Genetalia
Normal tidak terdapat varises pada vulva dan
vagina, tidak odema, tidak ada condiloma akuminata, tidak
ada condiloma lata (Romauli, 2011: 175).
(11) Anus
Normal tidak ada benjolan atau pengeluaran darah
dari anus.
(12) Ekstremitas
Normal simetris dan tidak ada odema, ada varises
atau tidak.
b) Palpasi : pemeriksaan yang dilakukan dengan cara meraba.
Tujuannya untuk mengetahui adanya kelainan, mengetahui
perkembangan kehamilan.
Pemeriksaan palpasi tersebut meliputi :
(1) Leher : untuk mengetahui ada tidaknya pembesaran kelenjar
tiroid. Pembesaran kelenjar limfe dan ada tidaknya
bendungan pada vena jugularis (Romauli, 2011: 175).
(2) Dada : mengetahui ada tidaknya benjolan atau massa pada
payudara. Periksa bentuk dada ibu, periksa payudara ibu
meliputi ukuran, puting menonjol atau masuk ke dalam,
adanya retraksi, nodul aksila, hiperpigmentasi areola dan
kebersihan, periksa kolostrum dengan menekan areola
mammae dengan jari telunjuk dan ibu jari kemudian
memencetnya (gunakan sarung tangan).
(Hutahaen, 2013: 180)
(3) Abdomen :
Pemeriksaan palpasi pada persalinan, pemeriksaan
kontraksi uterus (his) perlu dilakukan untuk mengetahui
kontraksi uterus ibu beik atau lemah. Pemeriksaan leopold
dilakukan dengan sistematika berikut ini.

(a) Leopold I
Menentukan tinggi fundus dan meraba bagian
janin yang berada di fundus dengan kedua telapak
tangan.
(b) Leopold II
Kedua telapak tangan menekan uterus dari kirikanan, jari kea rah kepala pasien, mencari sisi bagian
besar (biasanya punggung) janin, atau mungkin bagian
keras bulat (kepala) janin.
(c) Leopold III
Satu tangan meraba bagian janin apa yang
terletak di bawah (di atas simfisis) sementara tangan
lainnya menahan fundus untuk fiksasi.
(d) Leopold IV
Kedua tangan menekan bagian bawah uterus
dari kiri-kanan, jari kea rah kaki pasien, untuk
konfirmasi bagian terbawah janin dan menentukan
apakah bagian tersebut sudah masuk/melewati pintu
atas panggul (biasanya dinyatakan dengan satuan x/5)
(Dewi V, 2011: 155).
c) Auskultasi
Denyut jantung janin menunjukan status kesehatan dan
posisi janin terhadap ibu. Dengarkan denyut jantung janin sejak
kehamilan 20 minggu. Jantung janin biasanya berdenyut 120160x/menit (Hutahaen, 2013: 184).
Dalam keadaan normal, frekuensi DJJ berkisar antara
120-160 kali permenit. Berdasarkan partograf WHO, denyut
<120 kali permenit (bradikardi) dan >160 kali permenit
(takikardi) saat ibu tidak sedang his menunjukkan adanya gawat
janin (Mansjoer, 2009 : 258). Jika didapati denyut jantung janin
tidak normal (kurang dari 100 atau lebih dari 180 denyut per
menit), curigai adanya gawat janin (Saifuddin AB, 2010 : N-13).
d) Perkusi
Reflek patella.
Normal : tungkai bawah akan bergerak sedikit ketika tendon
diketuk (Romauli, 2011: 176).
e) Pemeriksaan Dalam
Pemeriksaan dalam dilakukan pada setiap parturien yang
baru datang dengan tujuan menetapkan apakah parturien inpartu,
menetapkan titik awal rencana persalinan, dan menetapkan
ramalan perjalan persalinan. Selanjutnya pemeriksaan dalam
dilakukan berdasarkan petunjuk (indikasi) sehingga dapat
menghindari infeksi. Indikasi pemeriksaan dalam berdasarkan :
(1) Bila ketuban pecah sebelum waktunya.
(2) Untuk mengevaluasi pembukaan.

2.

(3) Terjadi indikasi untuk menyelesaikan persalinan atau


rencana melakukan rujukan.
(4) Petunjuk partograf WHO setiap 4 jam (Manuaba IBG,
2010 : 170).
Yang dicari pada pemeriksaan dalam, diantaranya adalah
sebagai berikut :
(1) Perabaan serviks
(a) Apakah serviks lunak atau kaku.
(b) Apakah serviks telah mendatar.
(c) Apakah serviks masih tebal atau telah tipis.
(d) Berapa pembukaan serviks.
(e) Kemana arah serviks
(2) Keterangan tentang ketuban
(a) Apakah ketuban sudah pecah atau belum, dilihat saat
tidak dalam his.
(b) Bila pembukaan lengkap/hampir lengkap dan bagian
bawah anak sudah didasar panggul bisa dipecahkan.
(3) Bagian terendah dan posisinya
(a) Menetapkan bagian yang terendah sudah dapat
ditentukan dengan pemeriksaan Leopold III dan IV.
(b) Kepala dikenal dengan keras, bulat dan terdapat sutura
dan ubun-ubun kecil atau besar; posisi kepala; letak
denominator dan penurunan kepala.
(c) Pada letak kepala dicara : penurunan berdasarkan
bidang Hodge; apakah terdapatu kaput suksedanum
(seberapa besarnya); apakah terdapat letak kombinasi
antara kepala tangan/lengan menumbung, kepala dan
kaki, kepala tali pusat (Manuaba IBG, 2010: 171-172).
Interprestasi Data
Pada langkah ini kegiatan yang dilakukan adalah mengintrepestasikan
semua data dasar yang telah dikumpulkan sehingga ditemukan diagnosis atau
masalah. Diagnosis yang dirumuskan adalah diagnosis dalam lingkup praktik
kebidanan yang tergolong pada nomenklatur standar diagnosis, sedangkan
perihal yang berkaitan dengan pengalaman klien ditemukan dari hasil
pengkajian (Mangkuji, 2012: 5).
Dalam langkah kedua ini bidan membagi interpretasi data dalam tiga
bagian, yaitu sebagai berikut :
a. Diagnosis kebidanan atau nomenklatur
Diagnosis inersia uteri paling sulit ditegakkan pada masa laten.
Kontraksi uterus yang disertai dengan rasa nyeri, tidak cukup untuk
menjadi dasar utama diagnosis bahwa persalinan sudah dimulai. Untuk
sampai pada kesimpulan ini diperlukan kenyataan bahwa sebagai akibat
kontraksi itu terjadi perubahan pada serviks yakni pendataran dan/atau
pembukaan. Kesalahan yang sering dibuat ialah mengobati seorang
penderita untuk inersia uteri padahal persalinan belum mulai
(Prawirohardjo S, 2010: 564).

3.

Dalam bagian ini yang disimpulkan oleh bidan antara lain sebagai
berikut :
1) Paritas, adalah riwayat reproduksi seorang wanita yang berkaitan
dengan kehamilannya (jumlah kehamilan). Dibedakan dengan
primigravida (hamil pertama kali), dan multigravida (hamil yang
kedua atau lebih) (Sulistyawati, 2009: 177).
2) Cara penulisan paritas dalam interpretasi data adalah sebagai berikut
a) Primigravida : G1P0A0
(1) G1 (gravid 1) atau hamil yang pertama kali.
(2) P0 (partus nol) berarti belum pernah partus atau melahirkan.
(3) A0 (Abortus nol) berarti belum pernah mengalami abortus
(Sulistyawati, 2009: 177).
b) Multigravida : G3P1A1
(1) G3 (gravida 3) atau ini adalah kehamilannya yang ketiga.
(2) P1 (partus 1) atau sudah pernah mengalami persalinan satu
kali.
(3) A1 (abortus 1) atau sudah pernah mengalami abortus satu
kali (Sulistyawati, 2009: 178).
3) Usia kehamilan dalam minggu.
4) Kehamilan tunggal
5) Intra uterine
6) Keadaan janin
7) Letak kepala sudah masuk PAP apa belum
8) Keadaan jalan lahir
9) Keadaan umum
Diagnosa potensial yang mungkin terjadi pada pada ibu bersalin
dengan kelainan his antara lain inersia uteri hipotonis atau inersia uteri
hipertonis (Martaadisoebrata, 2014: 134).
b. Masalah
Dalam asuhan kebidanan digunakan istilah masalah dan
diagnosis. Kedua istilah tersebut dipakai karena beberapa masalah
tidak dapat diidentifikasikan sebagai diagnosis, tetapi tetap perlu
dipertimbangkan untuk membuat rencana yang menyeluruh. Masalah
sering berhubungan dengan bagaimana wanita itu mengalami kenyataan
terhadap diagnosisnya (Sulistyawati A, 2009: 178). Masalah yang
mungkin terjadi pada ibu bersalin dengan inersia uteri adalah adanya
nyeri saat his.
c. Kebutuhan pasien
Dalam bagian ini bidan menentukan kebutuhan pasien
berdasarkan keadaan dan masalahnya (Sulistyawati A, 2009: 180).
Contohnya kebutuhan untuk KIE dan bimbingan untuk menghadapi
persalinannya dan pengawasan kala I dengan partogram
(Martaadisoebrata, 2014: 133)
Merumuskan Diagnosis atau masalah potensial
Pada langkah ini kita mengidentifikasi masalah atau diagnosis
potensial lain berdasarkan rangkaian masalah yang lain juga. Langkah ini

4.

5.

membutuhkan antisipasi bila memungkinkan dilakukan pencegahan, sambil


terus mengamati kondisi klien. Bidan diharapkan dapat bersiap-siap bila
diagnosis atau masalah potensial benar-benar terjadi. Pada kasus ini masalah
potensial yang mungkin terjadi pada ibu bersalin dengan persalinan yang
berlangsung lama atau pemanjangan fase aktif, ibu kehabisan tenaga dan
dehidrasi yang ditandai oleh peningkatan denyut nadi, demam, asetonuria,
nafas cepat, meteorismus dan penurunan turgor (Martaadisoebrata, 2014:
133).
Mengidentifikasi Dan Menetapkan kebutuhan yang memerlukan penanganan
segera
Dalam pelaksanaannya terkadang bidan dihadapkan pada beberapa
situasi yang memerlukan penanganan segera dimana bidan harus segera
melakukan tindakan untuk menyelematkan pasien, namun kadang juga berada
pada situasi pasien yang memerlukan tindakan segera menunggu instruksi
dokter, atau bahkan mungkin juga situasi pasien yang memerlukan konsultasi
dengan tim kesehatan lain. Disini bidan sangat dituntut untuk dapat selalu
melakukan evaluasi keadaan pasien agar asuhan yang diberikan tepat dan
aman (Sulistyawati A, 2009: 182).
Pada kasus ini penanganan segera yang bisa dilakukan oleh bidan
adalah memperbaiki keadaan umum pasien, persiapan menjalani proses
persalinan, pemberian drip oksitosin kedalam 500cc glukosa 5%
(Martaadisoebrata, 2014: 133).
Merencanakan Asuhan kebidanan atau intervensi
Semua perencanaan yang dibuat harus berdasarkan pertimbangan
yang tepat, meliputi pengetahuan, teori yang up to date, perawatan
berdasarkan bukti (evidence based care), serta divalidasikan dengan asumsi
mengenai apa yang diinginkan dan tidak diinginkan oleh pasien (Sulistyawati
A, 2009 : 182). Pada kasus ini perencanaan asuhan harus terarah dan yang
dibutuhkan untuk ibu bersalin primigravida dengan kala I fase aktif
memanjang. Berikut beberapa perencanaan yang dapat ditentukan sesuai
dengan kondisi pasien :
a. Jelaskan pada ibu tentang kondisinya saat ini
Rasional : ibu mengetahui kondisinya saat ini
b. Jelaskan pada ibu mengenai hal-hal yang mungkin dapat terjadi selama
proses persalinan.
Rasional : ibu lebih kooperatif
c. Perbaiki keadaan umum ibu
Rasional : pemenuhan kebutuhan kalori bagi ibu
d. Kosongkan kandung kencing dan rektum
Rasional : Memperbaiki his ibu
e. Anjurkan ibu untuk berjalan-jalan
Rasional : Alih posisi untuk memperbaiki his dan penurunan kepala
f. Kolaborasi dengan dokter spesialis kandungan untuk pemberian oksitosin
drip oksitosin drip dalam 500 cc glukosa 5%, bila tindakan 3,4 dan 5
tidak ada perbaikan his
Rasional : melaksanakan fungsi dependen.

6.

Melaksanakan asuhan
Setelah membuat rencana asuhan, laksanakan rencana tersebut secara
tepat waktu dan aman. Hal ini akan menghindarkan terjadinya penyulit dan
memastikan bahwa ibu dan/atau bayinya yang baru lahir akan menerima
asuhan atau perawatan yang mereka butuhkan. Jelaskan pada ibu dan
keluarga tentang beberapa intervensi yang dapat dijadikan pilihan untuk
kondisi yang sesuai dengan apa yang sedang dihadapi sehingga mereka dapat
membuat pilihan yang baik dan benar.
7. Evaluasi
Pada lngkah ini rencana asuhan menyeluruh seperti yang telah
diuraikan pada langkah kelima dilaksanakan secara efisien dan aman
(Sulistyawati A, 2009: 184).
Diberikan meliputi pemenuhan kebutuhan akan bantuan apakah benar
telah dipenuhi sesuai dengan kebutuhan sebagaimana rencana tersebut dapat
dianggap efektif dalam pelaksanaannya (Yulifah,2013: 135). Evaluasi pada
ibu bersalin dengan inersia uteri adalah pemahaman ibu terhadap penjelasan
petugas kesehatan yang dapat di evaluasi dengan petugas kesehatan meminta
ibu menerangkan kembali penjelasan dari petugas kesehatan. Selain itu
petugas dapat mengevaluasi apakah ibu melakukan apa yang sudah
dianjurkan petugas kesehatan.
2.4.4 Catatan Perkembangan
Dokumentasi, dibuat sebagai catatan perkembangan yang menggambarkan
urutan kejadian pasien dari masuk pelayanan kesehatan sampai pulang atau pulih
(Syafrudin dan Hamidah, 2012: 74).
Metode pendokumentasian yang digunakan dalam kebidanan meliputi
SOAP (Subjektif, objektif, assessment, planning), SOAPIER (subjektif, objektif,
assessment, planning, intervensi/implementasi, evaluasi dan revisi), atau
SOAPIED (ditambahkan dokumentasi).
Subjektif, menggambarkan pendokumentasian hasil pengumpulan data
melalui anamnesis dan merupakan ekspresi pasien mengenai kekhawatiran dan
keluhan yang dicatat sebagai kutipan langsung atau ringkasan yang berhubungan
dengan diagnosis.
Objektif, menggambarkan pendokumentasian hasil pemeriksaan, hasil
analisis, dan interpretasi objektif dalam suatu identifikasi.
Planning atau perencanaan, dibuat pada saat itu atau yang akan datang.
Proses ini termasuk kriteria tujuan tertentu dari kebutuhan pasien dan tindakan
yang diambil harus membantu pasien mencapai kemajuan dalam kesehatan dan
harus mendukung rencana dokter jika ada dalam manajemen kolaborasi atau
rujukan.
Intervensi, adalah pelaksanaan rencana tindakan untuk mengatasi masalah,
keluhan, atau mencapai tujuan pasien. Tindakan ini harus disetujui oleh pasien.
Oleh karena itu, jika pasien mengubah pilihannya, intervensi mungkin juga harus
diubah.
Evaluasi, adalah tafsiran dari efek tindakan yang telah dilakukan. Ini
penting untuk menilai keefektifan asuhan yang diberikan. Analisis dari hasil yang

masuk BPS

engkajian
Masuk

dicapai menjadi fokus penilaian terhadap ketepatan tindakan. Jika kriteria tujuan
tidak tercapai, proses evaluasi dapat menjadi dasar untuk tindakan alternatif
sehingga dapat mencapai tujuan.
Revisi, adalah komponen evaluasi yang dapat menjadi petunjuk perlunya
perbaikan dan perubahan tindakan, perubahan dari rencana awal, kolaborasi baru
atau rujukan.

2.4.5 Catatan Perkembangan


2.4.6
BAB III
TINJAUAN KASUS
: 28-04-2012
: 10.00 WIB
: 28-04-2012
: GI P0000
I.
PENGKAJIAN
A. Data Obyektif
1. Identitas (Biodata)
: Ny. J
:
: 25 th
:
: Islam
:
Suku / Bangsa : Jawa / Indonesia
Suku / Bangsa :
: SMA
:
: IRT
:
::
Alamat rumah : Dsn. Besuk, Toyoresmi, NgasemAlamat
Kediri rumah :
2.

Tn. S
30 th
Islam
Jawa / Indonesia
SMA
Wiraswasta
Dsn. Besuk, Toyoresmi, Ngasem Kediri

Keluhan Utama
Ibu mengatakan perutnya terasa kenceng-kenceng dan nyeri pada perut bagian
bawah yang menjalar sampai ke pinggang sejak pukul 04.00 WIB. Ibu
mengatakan terdapat lendir dan bercak darah pada celana dalamnya.

3.
Riwayat Menstruasi
Menarche
: 12 tahun
Lama haid
: 6 7 hari
Banyaknya
: 2 3 x ganti pembalut
Siklus
: 30 hari
Teratur / tidak : teratur
Dismenorhea
: ya
Fluor albus
: ada
Jumlah
: banyak
Warna/bau
: merah / khas
HPHT
: 20-07-2011

HPL/HTP

: 27-04-2012

4.

Riwayat Kehamilan Sekarang


Ibu mengatakan hamil yang ke-1 dengan umur kehamilan 9 bulan, hasil tes
kehamilan + tanggal -. Gerakan anak pertama dirasakan pertama kali saat umur
kehamilan 5 bulan, gerakan anak sekarang aktif.
Selama kehamilan memeriksakan kehamilannya di BPS.
TM I
Berapa kali : 3x
Keluhan
: mual mual
Terapi
: B6, kalk
TM II
Berapa kali : 3x
Keluhan
: tidak ada
Terapi
: Fe, Kalk, Bc
TM III Berapa kali : 5x
Keluhan
: nyeri punggung
Terapi
: Fe, Kalk, Bc
Imunisasi TT Berapa kali : 3x (SD, TT CPW, TM I)
Dimana : Kapan : Obat-obatan yang dikonsumsi selama hamil : obat-obatan yang diberikan Bidan
Penyuluhan yang didapat : makan bergizi, istirahat cukup, perkembangan janin
5.

6.

Riwayat Persalinan Sekarang


Ibu mengatakan perutnya terasa kenceng-kenceng dan nyeri pada perut bagian
bawah yang menjalar sampai ke pinggang sejak pukul 04.00 WIB. Ibu
mengatakan terdapat lendir dan bercak darah pada celana dalamnya. Ibu datang ke
rumah Bidan pukul 10.00WIB dengan diantar suami dan keluarganya.
Riwayat Kehamilan, Persalinan, Nifas yang Lalu
Suami
ke-

No

Kehamilan

Persalinan

Nifas

Umur Penyul Penol Jenis Temp Penyul Penyul Seks BB/PB

HAMIL
INI

7.
Riwayat KB
Alat Kontrasepsi yang pernah digunakan
: ibu mengatakan belum pernah
Rencana alat kontrasepsi yang akan digunakan : ibu mengatakan belum tahu
8.
Riwayat Psikososial
Apakah kehamilan itu direncanakan / diinginkan : iya
Apakah kehamilan ini diharapkan : iya
Harapan terhadap kehamilan sekarang : laki-laki perempuan sama saja
Status perkawinan
: kawin

Jumlah
: 1 kali
Lama perkawinan
: 1 tahun
Jumlah keluarga ayang tinggal serumah : 2 orang
Susunan keluarga yang tinggal serumah :
Jenis
Umur
Hubungan
No.
Kelamin
(tahun)
Keluarga
1.
2.

L
L
9.

60
30

Ayah kandung
Suami

Pendidikan

Pekerjaan

Ket

SD
SMA

Wiraswasta
Wiraswasta

Riwayat Kesehatan Keluarga


a. Keturunan Kembar
: Ibu mengatakan tidak ada riwayat keturunan
kembar
Dari pihak siapa
: Tidak ada dari pihak manapun
b.Penyakit Keturunan
: Ibu mengatakan tidak ada penyakit keturunan
Jenis penyakit
: Ibu mengatakan tidak ada
Dari pihak siapa
: ibu mengatakan tidak ada
c. Penyakit lain dalam keluarga : Ibu mengatakan tidak ada penyakit lain dalam
keluarga
Jenis penyakit
: Ibu mengatakan tidak ada
Yang menderita
: Ibu mengatakan tidak ada

10. Riwayat Kesehatan yang Lalu


Penyakit menahun : ibu mengatakan tidak pernah menderita penyakit menahun
(mis. Jantung, ginjal, Paru)
Penyakit menurun : ibu mengatakan tidak pernah menderita penyakit menurun
(mis. Asma, DM, Hipertensi)
Penyakit Menular : ibu mengatakan tidak pernah menderita penyakit menular
(mis. TBC, hepatitis, HIV/AIDS)
11. Latar Belakang Sosial Budaya dan Dukungan Keluara
Kebiasaan/upacara adat istiadat saat hamil : ada upacara selamatan 3&7 bulanan.
Kebiasaan keluarga yang menghambat : ibu mengatakan tidak ada
Kebiasaan keluarga yang menunjang : ibu mengatakan ada, yaitu selamatan
Dukungan dari suami : ibu mengatakan suami mendukung
Dukungan dari keluarga yang lain : ibu mengatakan keluarga yang lain juga
mendukung
12. Pola Kebiasaan Sehari-hari
a. Pola Nutrisi
Selama hamil : 3-4x/hari porsi sedang (nasi, lauk, sayur) / 6-8gls/hari (air putih,
susu).
Sebelum hamil : 2x/hari porsi sedang (nasi, lauk, sayur) / 4-5gls/hari (air putih)
Masalah yang dirasakan : ibu mengatakan tidak ada masalah
b. Pola Eliminasi

Selama hamil

: BAB 2-3hari sekali (lunak, kuning, bau khas) / BAK 7-8x/hari (kuning jernih,
bau khas)
Sebelum hamil :BAB1x/hari (lunak, kuning, bau khas) / BAK 3-5x/hari (kuning, bau khas)
Masalah yang dirasakan : ibu mengatakan tidak ada masalah
c. Pola Istirahat Tidur
Selama hamil : siang 1-2 jam / malam 6-8 jam
Sebelum hamil : siang 1-2 jam / malam 6-8 jam
Masalah yang dirasakan : ibu mengatakan tidak ada masalah
d. Pola Aktivitas
Selama hamil : ibu melakukan kegiatan rumah tangga (memasak, menyapu)
Sebelum hamil : ibu melakukan kegiatan rumah tangga (memasak, menyapu)
Masalah yang dirasakan : ibu mengatakan tidak ada masalah
e. Pola Seksualitas
Selama hamil : jarang (1x/minggu)
Sebelum hamil : 2-3x/minggu
Masalah yang dirasakan : ibu mengatakan tidak ada masalah
f.

Perilaku Kesehatan
Penggunaan obat2an/alkohol/jamu/rokok/sirih/kopi/,dll selama hamil tidak pernah
Penggunaan obat2an/ alkohol/ jamu/ rokok/ sirih/ kopi/ ,dll sebelum hamil tidak
pernah
Lain-lain (personal hygiene) : mandi dan gosok gigi : 2x/hari
ganti celana dalam
: 2x/hari
keramas
: 2hari sekali

B. Data Obyektif
a.
Pemeriksaan Umum
1. Keadaan umum
2. Kesadaran
3. Keadaan emosional
4. Tekanan darah
5. Suhu tubuh
6. Denyut Nadi
7. Pernapasan
8. Tinggi badan
9. BB sekarang
10. BB sebelum hamil
11. Lila
b. Pemeriksaan Khusus
1.
Inspeksi
- Kepala
Warna rambut
Ketombe
Benjolan
Rontok

:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:

Baik
Composmentis
Stabil
120/80 mmHg
36,7 0C
86x / mnt
22 x / mnt
158 cm
64 kg
52 kg
32 cm

: hitam
: tidak ada
: tidak ada
: tidak

Chloasma Gravidarum
: tidak ada
- Mata
Kelopak mata kanan dan kiri : tidak ada oedema/tidak ada oedema
Konjungtiva kanan dan kiri : warna merah muda, tidak anemis.
Sklera kanan dan kiri
: warna putih, tidak ikterus.
- Hidung
Simetris
: ya
Sekret
: tidak ada
Polip
: tidak ada
Kebersihan
: bersih
Hipersalivasi
: tidak ada
Gigi
: putih, tidak ada karies dan karang gigi
Gusi
: warna merah muda, tidak oedem, tidak lesi
Stomatitis
: tidak ada
Bibir
: lembab, tidak pucat, tidak ada lesi
Lidah
: warna merah muda, tidak ada luka
- Telinga
Bentuk
: simetris
Serumen kanan dan kiri
: tidak ada
Kebersihan
: bersih
- Leher
Pembesaran kelenjar thyroid : tidak ada
Pembesaran vena jugularis
: tidak ada
- Axilla
Pembesaran kelenjar limfe : tidak terjadi ka/ki
Kebersihan
: bersih
- Payudara
Bentuk
: simetris (kanan dan kiri)
Pembesaran
: ada (kanan dan kiri)
Hiperpigmentasi
: ada pada areola (kanan dan kiri)
Papilla mamae
: menonjol (kanan dan kiri)
Benjolan / tumor
: tidak ada (kanan dan kiri)
Keluaran
: tidak ada (kanan dan kiri)
Kebersihan
: kurang bersih (kanan dan kiri)
- Perut
Pembesaran
: ada sesuai dengan usia kehamilan
Striae
: livide
Linea
: nigra
Bekas luka operasi
: tidak ada
Pembesaran lien/liver
: tidak ada
- Punggung
Posisi tulang belakang
: lordosis
Vulva dan vagina warna : merah kecoklatan

Luka parut
: tidak ada
Varices
: tidak ada
Oedem
: tidak ada
Keluaran
: lendir bercampur bercak darah
: tidak ada
Hemoroid
: tidak ada
Kebersihan
: kurang bersih
- Ekstremitas atas dan bawah
Oedem
: atas tidak ada (ka/ki), bawah tidak ada (ka/ki)
Varices
: atas tidak ada (ka/ki), bawah tidak ada (ka/ki)
Simetris
: iya (ka/ki), iya (ka/ki)

nan

2. Palpasi
- Leher
Pembesaran kelenjar thyroid : tidak ada
Pembesaran vena jugularis : tidak ada
- Payudara
Benjolan / tumor
: tidak ada (kanan dan kiri)
Keluaran
: ada kolostrum (kanan dan kiri)
- Perut
Pembesaran lien/liver
: tidak ada
Kontraksi Uterus
: 2 kali dalam 10 menit lamanya 20 detik
Leopold I
: pertengahan px-pusat, fundus teraba bokong
Leopold II
: puka
Leopold III
: letkep ( U )
Leopold IV
: devergent
TFU Mc. Donald
: 33 cm
TBJ
: (33-11) x 155 = 3410 gr
- Ekstremitas atas dan bawah
Oedem
: atas tidak ada (ka/ki), bawah tidak ada (ka/ki)
3. Auskultasi
Punctum maximum
: dibawah pusat sebelah kanan perut ibu
Frekuensi
: 11-12-11 (136 x/mnt)
Teratur / tidak
: teratur
4. Perkusi
Refleks Patella kanan / kiri : tidak dikaji
c.

Pemeriksaan Dalam (Bila ada indikasi)


Vulva
: warna merah kecoklatan
Vagina
: tidak oedem
Porsio
: lunak
Pembukaan
: 4 cm
Efacement
: 25%
Ketuban
: utuh
Presentasi
: kepala
Denominator
:-

Hodge
Bloodslym

:I
:+

d.

Pelvimetri Klinis (bila ada indikasi)


Promotorium
: tidak dilakukan
Linea Inominata
: tidak dilakukan
Comungata Vera
: tidak dilakukan
Dinding samping
: tidak dilakukan
Sakrum
: tidak dilakukan
Spinaischiadiaka
: tidak dilakukan
Oscoccygus
: tidak dilakukan
Arcus pubis
: tidak dilakukan
e.
-

Pemeriksaan Panggul Luar


Distansia Spinarum
Distansia cristarum
Konungata externa
Lingkar pinggul
Distansia tuberum

: tidak dilakukan
: tidak dilakukan
: tidak dilakukan
: tidak dilakukan
: tidak dilakukan

f. Pemeriksaan Lab.
Darah
Hb
: tidak dilakukan
Golongan darah
: tidak dilakukan
WR
: tidak dilakukan
VDRL
: tidak dilakukan
Urien
Protein
: tidak dilakukan
Reduksi
: tidak dilakukan
g. Pemeriksaan Penunjang Lain
- USG
: tidak dilakukan
- NST
: tidak dilakukan
- Rotgent foto
: tidak dilakukan
h. Kesimpulan
Ny. J GI P0000 UK : 40 1/7 mg.T/H/I, presentasi kepala, KU ibu baik

II.

INTEPRETASI DATA
Tanggal/
Dx/Mx
Jam
Data Dasar
/Kebutuhan
28-04-2012
DS : - Ibu mengatakan ini adalah kehamilan pertamanya Dx: Ny.J
10.20 WIB
dengan usia kehamilan 9 bulan.
GI P0000UK:40 1/7
- Ibu mengatakan perutnya terasa kenceng-kenceng danmg T/H/I,
nyeri pada perut bagian bawah yang menjalar sampai kepresentasi kepala,
pinggang sejak pukul 04.00 WIB. Ibu mengatakan KU ibu baik
terdapat lendir dan bercak darah pada celana dalamnya. dengan inpartu kala
- Ibu mengatakan hari pertama haid terakhir tanggal 20-7-I fase aktif
2011
akselerasi
: KU
: Baik
Kesadaran
: composmentis
Keadaan emosional: stabil
TD
: 120/80 mmHg
N
: 86 x/mnt
S
: 36,7 0C
RR
: 22 x/mnt
Pemeriksaan khusus
Inspeksi :
: ada sesuai dengan usia kehamilan
: livide
: nigra
Bekas luka operasi : tidak ada
Pembesaran lien/liver : tidak ada
Vulva dan vagina warna : merah kecoklatan
Luka parut : tidak ada
Varices
: tidak ada
Oedem
: tidak ada
Keluaran
: lendir bercampur bercak darah
: tidak ada
Hemoroid
: tidak ada
Kebersihan
: kurang bersih
Palpasi:
Pembesaran lien/liver : tidak ada
Kontraksi uterus : 2 kali dalam 10 menit lamanya 20 detik
Leopold I : pertengahan px-pusat, fundus teraba bokong
Leopold II : puka
Leopold III : letkep ( U )
Leopold IV : devergent
TFU Mc. Donald : 33 cm
: (33-11) x 155 = 3410 gram
- Ekstremitas atas dan bawah

Oedem : atas tidak ada (ka/ki), bawah tidak ada (ka/ki)


Auskultasi:
Punctum maximum : kanan bawah pusat
Frekuensi
: 11-12-11 (136 x/mnt)
Teratur / tidak
: teratur
Perkusi:
Reflek patella : tidak dikaji
Pemeriksaan Dalam
Vulva
: warna merah kecoklatan
Vagina
: tidak oedem
Porsio
: lunak
Pembukaan
: 4 cm
Efacement
: 25%
Ketuban
: utuh
Presentasi
: kepala
Denominator
:Hodge
:I
Bloodslym
:+
III.

INTERVENSI
Tangal/
Jam

Dx / Mx / Keb

Intervensi

Rasional

Tujuan : Ibu dapat melewati


persalinan dengan lancar dan tanpa
ada komplikasi bayi yang dilahirkan
normal
Kriteria hasil

KU : baik

Kesadaran : Composmentis

TTV :
TD : 110/70 140/90 mmHg
S : 365-375 0 C
N : 60-100x/mnt
Dx: Ny.J
RR : 16-24 x/ mnt
GIP0000 UK:40 1/7
TFU sesuai usia kehamilan
mg T/H/I,

Kontraksi uterus 3-4 kali dalam


presentasi kepala, 10 menit lamanya >40 detik.
KU ibu baik

Pembukaan 10 cm
dengan inpartu
Effacement 100%
28-04-2012 kala I fase aktif
Kepala Hodge IV
10.25 WIB akselerasi

DJJ teratur (f:120-160x/mnt)


Dengan
menjalin
hubungan baik dengan
ibu
dan
keluarga
menumbuhkan
rasa
percaya klien terhadap
Intervensi:
tindakan yang akan kita
1. Jalin hubungan baik dengan pasien lakukan
Dengan
memberikan
penjelasan kepada ibu
tentang
hasil
pemeriksaan ibu dapat
mengetahui keadaannya
2. Beritahu ibu hasil pemeriksaan
dan bayinya.
3. Anjurkan ibu untuk berjalan-jalan
bila mampu, jongkok, atau miring keDapat
mempercepat
kiri saat berbaring
proses penurunan kepala
Ajarkan teknik relaksasi danDapat mengurangi rasa
berikan masase pada punggung ibu nyeri
Libatkan suami dan keluargaIbu merasa nyaman
selama proses persalinan dan berikandengan kehadiran orang-

orang
terdekat
dan
merasa tidak sendiri
Mencegah dehidrasi dan
memenuhi
kebutuhan
Berikan asupan nutrisi
energi ibu.
Anjurkan ibu untuk tidak menahanDapat
menghambat
kencing
proses penurunan kepala
Dapat dengan cepat dan
tepat
mengambil
Lakukan pemantauan kemajuankeputusan jika terdapat
persalinan, keadaan ibu dan janintemuan-temuan
pada lembar partograf
abnormal.
dukungan emosional.

IV.

IMPLEMENTASI
Tanggal/Jam
Dx / Mx / Kebutuhan
Implementasi
Dx: Ny.J GI P0000 UK:40 1/7 mg
T/H/I, presentasi kepala, KU ibu
24-04-2012 baik dengan inpartu kala I fase
1. Menjalin hubungan baik dengan pasien untuk
11.30 WIB
aktif akselerasi
meningkatkan kepercayaan klien terhadap kita
2. Memberitahu ibu hasil pemeriksaan bahwa
kondisi ibu baik janinnya juga sehat, dari hasil
pemeriksaan didapatkan pembukaan 4 cm, jadi
ibu diharap tinggal dan mempersiapkan diri
11.30 WIB
menghadapi persalinan.
Menganjurkan ibu untuk berjalan-jalan,
jongkok, atau tidur miring ke kiri, hal tersebut
dapat mempercepat proses penurunan kepala
11.40 WIB
janin.
Mengajarkan ibu teknik relaksasi saat terjadi
kontraksi dengan cara menarik napas panjang
lewat hidung, kemudian keluarkan lewat
mulut dan memberikan masase pada punggung
11.45 WIB
ibu untuk mengurangi rasa nyeri.
Melibatkan suami dan keluarga dan
memberikan dukungan emosional selama
proses persalinan berlangsung, kehadiran dari
orang-orang terdekat dapat menambah rasa
11.45 WIB
percaya diri ibu.
6. Memberikan asupan nutrisi pada ibu, berupa
makanan dan minuman untuk memenuhi
12.00 WIB
kebutuhan energi selama persalianan.
7. Menganjurkan ibu untuk tidak menahan
kencing, kandung kemih yang penuh dapat
12.00 WIB
menghambat proses penurunan kepala.

8. Melakukan pemantauan kemajuan persalinan,


keadaan ibu dan janin dengan partograf, serta
mencatat setiap temuan yang ada.

11.30 WIB
EVALUASI
Tanggal / jam

24-04-2012
21.00 WIB

Dx / Mx / Keb

Evaluasi
- Ibu mengatakan perutnya sakit, dan
badannya terasa lemas
: KU ibu cukup
Kesadaran : composmetis
Keadaan emosional stabil
TTV : TD
: 100/70 mmHg
Suhu : 36 0 C
Nadi : 92 x /mnt
RR
: 20 x / mnt
Ekspresi wajah ibu tambak kesakitan
Kontraksi uterus : 3x dalam 10 menit
lamanya 25 detik
DJJ : 92x/mnt (gawat janin
Pemeriksaan dalam :
Pembukaan : 6 cm
Penurunan kepala : 3/5
Ketuban pecah (jam 21.00) : bercampur
mekoneum
Molase : derajat 2
Dx: Ny.J
Ny.J GI P0000 UK:40 1/7 mg T/H/I,
GI P0000UK:40 1/7 presentasi kepala, KU ibu baik dengan
mg T/H/I,
inpartu kala I fase aktif memanjang
presentasi kepala, Jelaskan hasil pemeriksaan
KU ibu baik
- Minta informed concent pada ibu dan
dengan inpartu kala keluarga
I fase aktif
- Segera bawa ibu ke tempat rujukan dan
akselerasi
dampingi ibu

BAB IV
PEMBAHASAN

Dalam melaksanakan asuhan kebidanan pada Ny.J GI P0000 UK:40 1/7 mg


T/H/I, presentasi kepala, KU ibu baik dengan inpartu kala I fase aktif
memanjang dan membandingkan antara teori dan kasus yang ada dilapangan,
Pada pengkajian didapatkan keluhan utama berupa : Ibu mengatakan perutnya
terasa kenceng-kenceng dan nyeri pada perut bagian bawah yang menjalar sampai
ke pinggang, ibu mengatakan terdapat lendir dan bercak darah pada celana
dalamnya. Pada kasus didapatkan ibu mengalami keluhan seperti pada teori.
Pada intervensi data dasar antara teori dan kasus tidak terdapat
kesenjangan dan sudah sesuai dengan managemen. Pada implementasi antara teori
dan kasus tidak ada kesenjangan karena semua yang di intervensikan dilaksanakan
sesuai dengan kebutuhan klien. Dan pada evaluasi antara teori dan kasus yang ada
tidak terdapat kesenjangan. Pada evaluasi pasien dirujuk karena terjadi gawat
janin dengan DJJ 92x/mnt dan adanya cairan ketuban bercampur mekoneum.

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Persalinan adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan uri)
yang dapat hidup di dunia luar rahim melalui jalan lahir atau jalan lain.
Setelah melakukan asuhan kebidanan, mahasiswa dapat melakukan
pengkajian data secara lengkap, yaitu Ny.J GI P0000 UK:40 1/7 mg T/H/I,
presentasi kepala, KU ibu baik dengan inpartu kala I fase aktif akselerasi. Dari
hasil pemeriksaan didapatkan , KU : Baik, kesadaran : composmentis, TD :

120/80 mmHg, N: 86 x/mnt, S : 36,7 0C, RR : 22 x/mnt.Pembesaran : ada sesuai


dengan usia kehamilan,Pengeluaran : lendir bercampur bercak darah. Kontraksi
uterus : 2 kali dalam 10 menit lamanya 20 detik, Leopold I : pertengahan pxpusat, fundus teraba bokong, Leopold II : puka, Leopold III : letkep ( U ), Leopold
IV : devergent, TFU Mc. Donald
: 33 cm, DJJ Frekuensi : (136
x/mnt) teratur. Pemeriksaan Dalam Vulva : warna merah kecoklatan, Vagina :
tidak oedem, Porsio: lunak,Pembukaan: 4 cm, Efacement : 25%, Ketuban : utuh,
Presentasi :kepala, Denominator : - , Hodge : I, Bloodslym : +
Dari pengkajian tersebut didapatkan Diagnosa Ny.J GI P0000 UK:40
1/7 mg T/H/I, presentasi kepala, KU ibu baik dengan inpartu kala I fase aktif
akselerasi. Petugas kesehatan memberikan penyuluhan dengan intervensi dan
rasionalnya. Serta mengimplementasikan hasil evaluasi dan tindakan yang telah
dilakukan ibu mengatakan merasa sakit pada perutnya, dan merasa lemas. Pada
pemeriksaan didapatkan hasil KU ibu cukup,Kesadaran : composmetis, Keadaan
emosional stabil, TD: 100/70 mmHg, Suhu : 36 0C, Nadi : 92 x /mnt, RR : 20 x /
mnt, Ekspresi wajah ibu tambak kesakitan, Kontraksi uterus : 3x dalam 10 menit
lamanya 25 detik, DJJ : 92x/mnt (gawat janin), Pembukaan : 6 cm, Penurunan
kepala : 3/5, Ketuban pecah (jam 21.00) : bercampur mekoneum, Molase : derajat
2. Sehingga diambil keputusan tindakan untuk merujuk ibu ke fasilitas pelayanan
kesehatan yang lebih lengkap untuk dilakukan tindakan operasi Sectio Caesaria.
Bayi lahir jam 21.20 WIB secara Sc, jenis kelamin perempuan, Berat 2600 gram,
panjang badan 42 cm.

5.2 Saran
5.2.1 Saran untuk mahasiswa
Dalam melakukan asuhan kebidanan, mahasiswa harus mampu memberikan
asuhan yang dapat memotivasi ibu agar menjadi yang lebih baik.
Mahasiswa harus bisa memberikan penyuluhan dan informasi sejelas mungkin
dan mudah dipahami
5.2.2 Saran untuk klien dan keluarga
Ibu dan keluarga hendaknya punya kesadaran tinggi akan kesehatannya untuk
memperkecil resiko komplikasi
Bila terjadi komplikasi sarankan ibu untuk segera datang ke bidan atau petugas
kesehatan terdekat.
5.2.3 Saran untuk tenaga kesehatan
Untuk petugas kesehatan diharapkan dapat meningkatkan pelayanan
kesehatan.
5.2.4 Saran untuk institusi
Diharapkan dari kasus yang diambil pada persalinan dengan inpartu kala I fase
aktif memanjang, pihak institusi bisa lebih melengkapi buku buku yang
berhubungan dengan kebidanan.

DAFTAR PUSTAKA
Manuaba, ida bagus, dkk. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan, Keluarga Berencana
untuk Pendidikan Bidan. Jakarta : EGC
Nugraheny, esti. 2010. Asuhan Kebidanan Patologi. Yogyakarta : Pustaka Rihama
Saifuddin, abdul bari,dkk. 2006. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan
Neonatal. Edisi 2. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo
Saifuddin, abdul bari,dkk. 2008. BukuAcuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan
Neonatal. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo
Sulistyawati, dkk. 2010. Asuhan Kebidanan pada Ibu Bersalin. Jakarta : Salemba Medika
Sumarah, dkk. 2009. Perawatan Ibu Bersalin (Asuhan Kebidanan Pada Ibu Bersalin).
Yogyakarta : Fitramaya
Wiknjosastro, gulardi,dkk. 2008. Asuhan Persalinan Normal. Asuhan Esensial, Pencegahan
dan Penanggulangan Segera Komplikasi Persalinan dan Bayi Baru Lahir. Jakarta
: JNPK-KR

ALAMAT INTERNET : PADA IBU BERSALIN dengan FASE AKTIF


MEMANJANG
Jumat, 22 November 2013 | levpc68 di 11/22/2013 02:37:00 AM |
http://levii-medical.blogspot.co.id/2013/11/pada-ibu-bersalin-dengan-fase-aktif.html