Anda di halaman 1dari 18

Farhan Hadi

0411181419205
PSPD Alpha FK Unsri 2014

ANATOMI DAN FISIOLOGI TELINGA HIDUNG


TENGGOROKAN
A. HIDUNG

Hidung merupakan organ penting yang seharusnya mendapat


perhatian lebih dari biasanya dan hidung merupakan salah satu
organ

pelindung

tubuh

terhadap

lingkungan

yang

tidak

menguntungkan. Hidung terdiri atas hidung luar dan hidung


dalam. Hidung luar menonjol pada garis tengah diantara pipi
dengan bibir atas, struktur hidung luar dapat dibedakan atas tiga
bagian

yaitu:

paling

atas

kubah

tulang

yang

tak

dapat

digerakkan, dibawahnya terdapat kubah kartilago yang sedikit


dapat digerakkan dan yang paling bawah adalah lobolus hidung
yang

mudah

digerakkan

(Ballenger,1994;

Hilger,

1997;

Mangunkusomo,2001; Levine,2005)
1. Hidung Luar.
Hidung luar berbentuk piramid dengan bagian-bagiannya dari
atas ke bawah :
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Pangkal hidung ( bridge )


Dorsum nasi
Puncak hidung ( apeks )
Ala nasi
Kolumela
Lubang hidung ( nares anterior )

Hidung luar dibentuk oleh tulang dan tulang rawan yang dilapisi
oleh kulit, jaringan ikat dan beberapa otot yang berfungsi untuk
melebarkan atau menyempitkan lubang hidung.
Kerangka

tulang

terdiri

dari :
a.

Sepasang os nasalis ( tulang hidung )


b. Prosesus frontalis os maksila
c. Prosesus nasalis os frontalis

Sedangkan kerangka tulang rawan terdiri dari beberapa pasang


tulang rawan
1

Farhan Hadi
0411181419205
PSPD Alpha FK Unsri 2014

yang terletak dibagian bawah hidung, yaitu :


a. Sepasang kartilago nasalis lateralis superior
b. Sepasang kartilago nasalis lateralis inferior ( kartilago alar
mayor )
c. Beberapa pasang kartilago alar minor
d. Tepi anterior kartilago septum nasi

Otot-otot ala nasi terdiri dari dua kelompok yaitu :


1. Kelompok dilator :
a. m. dilator nares ( anterior dan posterior )
b. m. proserus
c. kaput angulare m. kuadratus labii superior
2. Kelompok konstriktor :
a. m. nasalis
b. m. depresor septi
B. Hidung dalam
Rongga hidung atau kavum nasi berbentuk terowongan dari
depan ke belakang, dipisahkan oleh septum nasi dibagian
tengahnya. Kavum nasi bagian anterior disebut nares anterior
dan bagian posterior disebut nares posterior (koana) yang
menghubungkan kavum nasi dengan nasofaring.

a. Vestibulum
Terletak tepat dibelakang nares anterior, dilapisi oleh kulit yang
mempunyai banyak kelenjar sebasea dan rambut-rambut
panjang yang disebut vibrisae.
b. Septum nasi
Septum dibentuk oleh tulang dan tulang rawan.
Bagian tulang terdiri dari :

a.
b.
c.
d.

lamina perpendikularis os etmoid


vomer
krista nasalis os maksila
krista nasalis os palatina

Bagian tulang rawan terdiri dari :


a. kartilago septum ( lamina kuadrangularis )
b. kolumela
c. Kavum nasi
1. Dasar hidung
Dasar hidung dibentuk oleh prosesus palatina os maksila
dan prosesus horisontal os palatum.
2. Atap hidung
Terdiri dari kartilago lateralis superior dan inferior, os nasal,
prosesus frontalis os maksila, korpus os etmoid dan korpus
os sfenoid. Sebagian besar atap hidung dibentuk oleh
lamina kribrosa yang dilalui filamen-filamen n. Olfaktorius
yang berasal dari permukaan bawah bulbus olfaktorius
berjalan

menuju

bagian

teratas

septum

nasi

dan

permukaan kranial konka superior.


3. Dinding lateral
Dinding lateral dibentuk oleh permukaan dalam prosesus
frontalis os maksila, os lakrimalis, konka superior, konka
media, konka inferior, lamina perpendikularis os palatum
dan lamina pterigoideus medial.
4. Konka
Pada dinding lateral hidung terdapat 4 buah konka. Yang
terbesar dan letaknya paling bawah ialah konka inferior,
kemudian yang lebih kecil ialah konka media dan konka
superior, sedangkan yang terkecil disebut konka suprema.
Konka suprema ini biasanya rudimenter. Konka inferior
merupakan tulang tersendiri yang melekat pada os maksila
dan labirin etmoid, sedangkan konka media, superior dan
suprema merupakan bagian dari labirin etmoid.
5. Meatus nasi
Diantara konka-konka dan dinding lateral hidung terdapat
rongga sempit yang disebut meatus. Meatus inferior

terletak diantara konka inferior dengan dasar hidung dan


dinding

lateral

rongga

terdapat muara

hidung.

duktus

Pada

meatus

inferior

nasolakrimalis. Meatus

media

terletak diantara konka media dan dinding lateral rongga


hidung. Disini terdapat muara sinus maksila, sinus frontal
dan sinus etmoid anterior. Pada meatus superior yang
merupakan ruang diantara konka superior dan konka media
terdapat muara sinus etmoid posterior dan sinus sfenoid.
6. Nares
Nares posterior atau koana adalah pertemuan antara
kavum

nasi

dengan

nasofaring,

berbentuk

oval

dan

terdapat di sebelah kanan dan kiri septum. Tiap nares


posterior

bagian

bawahnya

dibentuk

oleh

lamina

horisontalis palatum, bagian dalam oleh os vomer, bagian


atas oleh prosesus vaginalis os sfenoid dan bagian luar oleh
lamina pterigoideus. (Ballenger JJ,1994)
7. Dinding medial
Dinding medial hidung adalah septum nasi.
Pendarahan Hidung
Pendarahan untuk hidung bagian dalam berasal dari 3 sumber
utama:
1. a. etmoidalis anterior, yang mendarahi septum bagian
superior anterior dan dinding lateral hidung.
2. a. etmoidalis posterior ( cabang dari a. oftalmika ),
mendarahi septum bagian superior posterior.
3. a. sfenopalatina, terbagi menjadi a. nasales posterolateral
yang menuju ke dinding lateral hidung dan a. septi posterior
yang menyebar pada septum nasi.
Bagian bawah rongga hidung mendapat pendarahan dari
cabang a. maksilaris interna, diantaranya ialah ujung a. palatina
mayor

dan

a.

Sfenopalatina

yang

keluar

dari

foramen

sfenopalatina bersama n. sfenopalatina dan memasuki rongga


hidung di belakang ujung posterior konka media. Bagian depan

hidung mendapat pendarahan dari cabang-cabang a. fasialis.


Pada bagian depan septum terdapat anastomosis dari cabangcabang a. sfenopalatina, a. etmoid anterior, a. labialis superior
dan a. palatina mayor, yang disebut pleksus Kiesselbach ( Littles
area ) yang letaknya superfisial dan mudah cedera oleh trauma,
sehingga sering menjadi sumber epistaksis. Vena-vena hidung
mempunyai nama yang sama dan berjalan berdampingan
dengan arterinya. Vena di vestibulum dan struktur luar hidung
bermuara ke vena oftalmika superior yang berhubungan dengan
sinus kavernosus.
Persarafan hidung
1. Saraf motorik oleh cabang n. fasialis yang mensarafi otototot hidung bagian luar.
2. Saraf sensoris.
Bagian depan dan atas rongga hidung mendapat persarafan
sensoris dari n. etmoidalis anterior, merupakan cabang dari
n. nasosiliaris, yang berasal dari n. oftalmika (N.V-1). Rongga
hidung lainnya , sebagian besar mendapat persarafan
sensoris dari n. maksila melalui ganglion sfenopalatina.
3. Saraf otonom.
Terdapat 2 macam saraf otonom yaitu :
a. Saraf post ganglion saraf simpatis ( Adrenergik ).
Saraf simpatis meninggalkan korda spinalis setinggi T1
3, berjalan ke atas dan mengadakan sinapsis pada
ganglion servikalis superior. Serabut post sinapsis berjalan
sepanjang pleksus karotikus dan kemudian sebagai n.
petrosus profundus bergabung dengan serabut saraf
parasimpatis

yaitu

n.

petrosus

superfisialis

mayor

membentuk n. vidianus yang berjalan didalam kanalis


pterigoideus. Saraf ini tidak mengadakan sinapsis didalam
ganglion sfenopalatina, dan kemudian diteruskan oleh
cabang palatina mayor ke pembuluh darah pada mukosa

hidung.

Saraf

simpatis

secara

dominan

mempunyai

peranan penting terhadap sistem vaskuler hidung dan


sangat sedikit mempengaruhi kelenjar.
b. Serabut saraf preganglion parasimpatis ( kolinergik ).
Berasal dari ganglion genikulatum dan pusatnya adalah di
nukleus

salivatorius

superior

di

medula

oblongata.

Sebagai n. pterosus superfisialis mayor berjalan menuju


ganglion sfenopalatina dan mengadakan sinapsis didalam
ganglion

tersebut.

menyebar

menuju

Serabut-serabut
mukosa

hidung.

post

ganglion

Peranan

saraf

parasimpatis ini terutama terhadap jaringan kelenjar yang


menyebabkan sekresi hidung yang encer dan vasodilatasi
jaringan

erektil.

Pemotongan

n.

vidianus

akan

menghilangkan impuls sekretomotorik / parasimpatis pada


mukosa

hidung,

sehingga

rinore

akan

berkurang

sedangkan sensasi hidung tidak akan terganggu.


4. Olfaktorius ( penciuman )
Nervus

olfaktorius

turun

melalui

lamina

kribosa

dari

permukaan bawah bulbus olfaktorius dan kemudian berakhir


pada sel-sel reseptor penghidu pada mukosa olfaktorius
didaerah sepertiga atas hidung.
Fisiologi hidung
Berdasarkan teori struktural, teori revolusioner dan teori
fungsional, maka fungsi fisiologis hidung dan sinus paranasal
adalah : 1) fungsi respirasi untuk mengatur kondisi udara (air
conditioning), penyaring udara, humidifikasi, penyeimbang dalam
pertukaran tekanan dan mekanisme imunologik lokal ; 2) fungsi
penghidu, karena terdapanya mukosa olfaktorius (penciuman)
dan reservoir udara untuk menampung stimulus penghidu ; 3)
fungsi fonetik yang berguna untuk resonansi suara, membantu
proses berbicara dan mencegah hantaran suara sendiri melalui

konduksi

tulang

4)

fungsi

statistik

dan

mekanik

untuk

meringankan beban kepala, proteksi terhadap trauma dan


pelindung panas; 5) refleks nasal. (Soetjipto D & Wardani
RS,2007)
B. TELINGA
Telinga merupakan salah satu pancaindra yang berfungsi
sebagai alat pendengaran dan keseimbangan yang letaknya
berada di lateral kepala. Masing-masing telinga terdiri dari tiga
bagian: telinga luar, telinga tengah, dan telinga dalam (Wibowo
dan Paryana, 2007).
1. Telinga luar
Telinga luar (auris externa) terdiri dari daun telinga
(auricula/pinna), liang telinga (meatus acusticus externus)
sampai gendang telinga (membrana tympanica) bagian luar.
Telinga luar terletak pada pars tympanica ossis temporalis
dan pada bagian belakang berbatasan dengan processus
mastoideus (Wibowo dan Paryana, 2007).

Telinga luar berfungsi sebagai penyalur suara dan


sebagai proteksi telinga tengah. Fungsi telinga luar sebagai
penyalur suara tergantung dari intensitas, frekuensi, arah,
dan ada atau tidaknya hambatan dalam penyalurannya ke
gendang telinga. Sedangkan fungsinya sebagai proteksi
telinga tengah yaitu menahan atau mencegah benda asing
yang masuk ke dalam telinga dengan memproduksi serumen,
menstabilkan lingkungan dari input yang masuk ke telinga
tengah, dan menjaga telinga tengah dari efek angin dan
trauma fisik (Emanuel dan Letowski, 2009).
2. Telinga tengah
Telinga tengah (auris media) berada di sebelah dalam
gendang telinga sekitar 3-6 mm. Atap rongga telinga tengah
adalah tegmen tympani dari pars petrosa ossis temporalis
yang berbatasan dengan cavitas cranii. Dinding lateral telinga
tengah berbatasan dengan gendang telinga beserta tulang di
sebelah atas dan bawahnya. Dinding depannya berbatasan
dengan canalis caroticus yang di dalamnya terdapat arteri
karotis interna. Dinding medial telinga tengah ini berbatasan
dengan

tulang

pembatas

telinga

dalam

yang

terlihat

menonjol karena terdapat prominentia canalis facialis di


bagian posterior atas. Telinga tengah ini juga secara langsung
berhubungan

dengan

nasofaring

yaitu

eustachius (Wibowo dan Paryana, 2007).

melalui

tuba

Telinga tengah berfungsi untuk menyalurkan suara dari


udara dan memperkuat energi suara yang masuk sebelum
menuju ke telinga dalam yang berisi cairan. Fungsi telinga
tengah dalam memperkuat energi suara dibantu oleh tulangtulang kecil seperti maleus, incus, dan stapes sehingga energi
suara tadi dapat menggetarkan cairan di koklea untuk proses
mendengar (Sherwood, 2011).
3. Telinga dalam
Telinga dalam dibatasi oleh tulang temporal (pars
petrosa) (Wibowo dan Paryana, 2007). Telinga dalam terdiri
dari koklea dan aparatus vestibularis yang memiliki dua
fungsi sensorik yang berbeda. Koklea berfungsi sebagai
sistem pendengaran karena mengandung reseptor untuk
mengubah suara yang masuk menjadi impuls saraf sehingga
dapat didengar. Aparatus vestibularis berfungsi sebagai
sistem keseimbangan yang terdiri dari tiga buah canalis
semisirkularis, dan organ otolit yaitu sacculus dan utriculus
(Sherwood, 2011).

Koklea (rumah siput) berbentuk dua setengah lingkaran. Ujung


atau

puncak

koklea

disebut

helikotrema,

menghubungkan

perilimfa skala vestibuli (sebelah atas) dan skala timpani


(sebelah bawah). Diantara skala vestibuli dan skala timpani
terdapat skala media (duktus koklearis) (Sherwood L., 2001).
Skala

vestibuli

dan

skala

timpani

berisi

perilimfa

dengan

konsentrasi K+ 4 mEq/l dan Na+ 139 mEq/l, sedangkan skala


media berisi endolimfa dengan konsentrasi K+ 144 mEq/l dan
Na+ 13 mEq/l. Hal ini penting untuk pendengaran. Dasar skala
vestibuli disebut membrana vestibularis (Reissners Membrane)
sedangkan dasar skala media adalah membrana basilaris. Pada
membran ini terletak organ corti yang mengandung organelorganel penting untuk mekanisme saraf perifer pendengaran.
Organ Corti terdiri dari satu baris sel rambut dalam yang berisi
3000 sel dan tiga baris sel rambut luar yang berisi 12000 sel.
Ujung saraf aferen dan eferen menempel pada ujung bawah sel
rambut. Pada permukaan sel-sel rambut terdapat stereosilia yang
melekat pada suatu selubung di atasnya yang cenderung datar,
dikenal sebagai membran tektoria. Membran tektoria disekresi
dan disokong oleh suatu panggung yang terletak di medial
disebut sebagai limbus (Lee KJ, 2008).

Vaskularisasi telinga dalam


Vaskularisasi telinga dalam berasal dari A. Labirintin cabang A.
Cerebelaris anteroinferior atau cabang dari A. Basilaris atau A.
Verteberalis. Arteri ini masuk ke meatus akustikus internus dan
terpisah menjadi A. Vestibularis anterior dan A. Kohlearis
communis yang bercabang pula menjadi A. Kohlearis dan A.
Vestibulokohlearis. A. Vestibularis anterior memperdarahi N.
Vestibularis,

urtikulus

dan

sebagian

duktus

semisirkularis.

A.Vestibulokohlearis sampai di mediolus daerah putaran basal


kohlea terpisah menjadi cabang terminal vestibularis dan cabang
kohlear. Cabang vestibular memperdarahi sakulus, sebagian
besar kanalis semisirkularis dan ujung basal kohlea. Cabang
kohlear memperdarahi ganglion spiralis, lamina spiralis ossea,
limbus dan ligamen spiralis. A. Kohlearis berjalan mengitari N.
Akustikus di kanalis akustikus internus dan didalam kohlea
mengitari modiolus (Santi PA, 1993; Lee K.J, 1995).
Vena dialirkan ke V.Labirintin yang diteruskan ke sinus petrosus
inferior

atau

sinus

sigmoideus.

Vena-vena

kecil

melewati

akuaduktus vestibularis dan kohlearis ke sinus petrosus superior


dan inferior (Santi PA, 1993 ; Lee K.J, 1995).

Persarafan telinga dalam


N.Vestibulokohlearis (N.akustikus) yang dibentuk oleh bagian
kohlear dan vestibular, didalam meatus akustikus internus
bersatu pada sisi lateral akar N.Fasialis dan masuk batang otak
antara pons dan medula. Sel-sel sensoris vestibularis dipersarafi
oleh N.Kohlearis dengan ganglion vestibularis (scarpa) terletak
didasar dari meatus akustikus internus.
Sel-sel sensoris pendengaran dipersarafi N.Kohlearis dengan
ganglion spiralis corti terletak di modiolus (Santi PA,1993; Wright
A, 1997; Mills JH et al,1998).
Fisiologi pendengaran normal
Daun telinga mengumpulkan suara dan menyalurkannya ke
saluran telinga luar kemudian membrana timpani bergetar
sewaktu terkena getaran suara. Daerah-daerah gelombang suara
yang

bertekanan

tinggi

dan

rendah

berselang-seling

menyebabkan gendang telinga yang sangat peka tersebut


menekuk keluar masuk seirama dengan frekuensi gelombang
suara. Telinga tengah memindahkan gerakan bergetar membrana
timpani ke cairan di telinga dalam. Pemindahan ini dipermudah
oleh tulang-tulang pendengaran (maleus, inkus, dan stapes) yang
berjalan melintasi telinga tengah. Ketika membrana timpani
bergetar sebagai respons terhadap gelombang suara, rantai
tulang-tulang tersebut juga bergerak dengan frekuensi yang
sama, memindahkan frekuensi gerakan tersebut dari membrana
timpani ke jendela oval. Tekanan di jendela oval akibat setiap
getaran

yang

dihasilkan

menimbulkan

gerakan

seperti

gelombang pada cairan telinga dalam dengan frekuensi yang


sama dengan frekuensi gelombang suara semula. Namun,
diperlukan tekanan yang lebih besar untuk menggerakkan cairan.
Tekanan tambahan ini cukup untuk menyebabkan pergerakan
cairan koklea (Sherwood L., 2001).

Gerakan cairan di dalam perilimfe ditimbulkan oleh getaran


jendela oval mengikuti dua jalur : (1) gelombang tekanan
mendorong perilimfe pada membrana vestibularis ke depan
kemudian mengelilingi helikotrema menuju membrana basilaris
yang akan menyebabkan jendela bundar menonjol ke luar dan ke
dalam

rongga

telinga

tengah

untuk

mengkompensasi

peningkatan tekanan, dan (2) jalan pintas dari skala vestibuli


melalui membrana basilaris ke skala timpani. Perbedaan kedua
jalur ini adalah transmisi gelombang tekanan melalui melalui
membrana basilaris menyebabkan membran ini bergetar secara
sinkron dengan gelombang tekanan (Tortora dan Derrickson,
2009).
Organ corti menumpang pada membrana basilaris, sehingga
sel-sel rambut juga bergerak naik turun sewaktu membrana
basilaris bergetar. Rambut-rambut tersebut akan membengkok ke
depan dan ke belakang sewaktu membrana basilaris menggeser
posisinya

pada

membran

tektorial

sehingga

menyebabkan

saluran-saluran ion gerbang-mekanis terbuka dan tertutup secara


bergantian.

Hal

ini

mengakibatkan

perubahan

potensial

berjenjang di reseptor, yang menimbulkan perubahan potensial


berjenjang di reseptor, sehingga terjadi perubahan pembentukan
potensial aksi yang merambat ke otak. Gelombang suara
diterjemahkan menjadi sinyal saraf yang dipersepsikan otak
sebagai sensasi suara (Sherwood L., 2001).
C. FARING
Faring adalah suatu kantong fibromuskuler yang bentuknya
seperti corong, yang besar di bagian atas dan sempit di bagian
bawah serta terletak pada bagian anterior kolum vertebra (Arjun
S Joshi, 2011).
Kantong ini mulai dari dasar tengkorak terus menyambung ke
esophagus setinggi vertebra servikal ke-6. Ke atas, faring

berhubungan dengan rongga hidung melalui koana, ke depan


berhubungan dengan rongga mulut melalui ismus orofaring,
sedangkan dengan laring di bawah berhubungan melalui aditus
laring dan ke bawah berhubungan dengan esophagus. Panjang
dinding posterior faring pada orang dewasa kurang lebih 14 cm;
bagian ini merupakan bagian dinding faring yang terpanjang.
Dinding faring dibentuk oleh (dari dalam keluar) selaput lendir,
fasia

faringobasiler,

pembungkus

otot

dan

sebagian

fasia

bukofaringeal (Rusmarjono dan Bambang Hermani, 2007).


Faring terbagi atas nasofaring, orofaring dan laringofaring
(hipofaring) (Arjun S Joshi, 2011). Unsur-unsur faring meliputi
mukosa, palut lendir (mukosa blanket) dan otot (Rusmarjono dan
Bambang Hermani, 2007).

Faring terdiri atas :


1. Nasofaring
Batas nasofaring di bagian atas adalah dasar tengkorak,
di bagian bawah adalah palatum mole, ke depan adalah
rongga hidung sedangkan ke belakang adalah vertebra
servikal. Nasofaring yang relatif kecil, mengandung serta
berhubungan erat dengan beberapa struktur penting,
seperti adenoid, jaringan limfoid pada dinding lateral faring
dengan resesus faring yang disebut fosa Rosenmuller,
kantong

Rathke,

yang

merupakan

invaginasi

struktur

embrional hipofisis serebri, torus tubarius, suatu refleksi

mukosa faring di atas penonjolan kartilago tuba Eustachius,


koana, foramen jugulare, yang dilalui oleh n. glosofaring, n.
vagus dan n.asesorius spinal saraf cranial dan v.jugularis
interna,

bagian

petrosus

os

temporalis

dan

foramen

laserum dan muara tuba Eustachius (Rusmarjono, 2007;


Arjun S Joshi, 2011; Rospa Hetharia, 2011).
2. Orofaring
Orofaring disebut juga mesofaring dengan batas atasnya
adalah palatum mole, batas bawah adalah tepi atas
epiglottis, ke depan adalah rongga mulut, sedangkan ke
belakang adalah vertebra sevikal. Struktur yang terdapat di
rongga orofaring adalah dinding posterior faring, tonsil
palatine, fosa tonsil serta arkus faring anterior dan
posterior,

uvula,

tonsil

lingual

dan

foramen

sekum

(Rusmarjono dan Bambang Hermani, 2007; Rospa Hetharia,


2011).
3. Laringofaring (Hipofaring)
Batas laringofaring di sebelah superior adalah tepi atas
epiglotis, batas anterior ialah laring, batas inferior ialah
esofagus, serta batas posterior ialah vertebra servikal.
Struktur pertama yang tampak di bawah lidah ialah
valekula. Bagian ini merupakan dua cengkungan yang
dibentuk oleh ligamentum glosoepiglotika medial dan
ligamentum glosoepiglotika lateral pada tiap sisi. Valekula
disebut juga kantong pil (pill pockets) sebab pada
beberapa orang, kadang kadang bila menelan pil akan
tersangkut di situ. Di bawah valekula terdapat epiglotis.
Pada

bayi

epiglotis

ini

berbentuk

omega

dan

pada

perkembangannya akan lebih melebar, meskipun kadang


kadang bentuk infantile (bentuk omega) ini tetap sampai
dewasa. Dalam perkembangannya, epiglotis ini dapat
menjadi demikian lebar dan tipisnya. Epiglotis berfungsi

juga untuk melindungi glotis ketika menelan minuman atau


bolus makanan, pada saat bolus tersebut menuju ke sinus
piriformis dan ke esophagus (Rusmarjono dan Bambang
Hermani, 2007).
Vaskularisasi
Berasal dari beberapa sumber dan kadang-kadang tidak
beraturan. Yang utama berasal daricabang a. Karotis ekstern
serta dari cabang a.maksilaris interna yakni cabang palatine
superior.
Persarafan
Persarafan motorik dan sensorik daerah faring berasal dari
pleksus faring yang ekstensif. Pleksus ini dibentuk oleh cabang
dari n.vagus, cabang dari n.glosofaringeus dan serabut simpatis.
Cabang faring dari n.vagus berisi serabut motorik. Dari pleksus
faring yang ekstensif ini keluar untuk otot-otot faring kecuali
m.stilofaringeus

yang

dipersarafi

langsung

oleh

cabang

n.glossofaringeus.
Fisiologi Tenggorokan
Fungsi faring yang terutama ialah untuk respirasi, waktu
menelan, resonasi suara dan untuk artikulasi.8
a. Proses menelan
Proses penelanan dibagi menjadi tiga tahap. Pertama
gerakan makanan dari mulut ke faring secara volunter. Tahap
kedua, transport makanan melalui faring dan tahap ketiga,
jalannya bolus melalui esofagus, keduanya secara involunter.
Langkah yang sebenarnya adalah: pengunyahan makanan
dilakukan pada sepertiga tengah lidah. Elevasi lidah dan
palatum mole mendorong bolus ke orofaring. Otot supra hiod
berkontraksi,

elevasi

tulang

hioid

dan

laring

intrinsik

berkontraksi dalam gerakan seperti sfingter untuk mencegah

aspirasi. Gerakan yang kuat dari lidah bagian belakang akan


mendorong makanan kebawah melalui orofaring, gerakan
dibantu oleh kontraksi otot konstriktor faringis media dan
superior. Bolus dibawa melalui introitus esofagus ketika otot
konstriktor faringis inferior berkontraksi dan otot krikofaringeus
berelaksasi. Peristaltik dibantu oleh gaya berat, menggerakkan
makanan melalui esofagus dan masuk ke lambung.9
b. Proses Berbicara
Pada saat berbicara dan menelan terjadi

gerakan

terpadu dari otot-otot palatum dan faring. Gerakan ini antara


lain berupa pendekatan palatum mole kearah dinding belakang
faring. Gerakan penutupan ini terjadi sangat cepat dan
melibatkan mula-mula m.salpingofaring dan m.palatofaring,
kemudian m.levator veli palatine bersama-sama m.konstriktor
faring superior. Pada gerakan penutupan nasofaring m.levator
veli palatini menarik palatum mole ke atas belakang hampir
mengenai dinding posterior faring. Jarak yang tersisa ini diisi
oleh tonjolan (fold of) Passavant pada dinding belakang faring
yang terjadi akibat 2 macam mekanisme, yaitu pengangkatan
faring

sebagai

hasil

gerakan

m.palatofaring

(bersama

m,salpingofaring) oleh kontraksi aktif m.konstriktor faring


superior. Mungkin kedua gerakan ini bekerja tidak pada waktu
bersamaan.
Ada yang berpendapat bahwa tonjolan Passavant ini
menetap pada periode fonasi, tetapi ada pula pendapat yang
mengatakan tonjolan ini timbul dan hilang secara cepat
bersamaan dengan gerakan palatum.

DAFTAR PUSTAKA