Anda di halaman 1dari 19

A. Apa yang dimaksud dengan tinitus?

a.
Definisi Tinitus1,2,3
Tinitus adalah salah satu bentuk gangguan pendengaran berupa
sensasi suara tanpa adanya rangsangan dari luar, dapat berupa sinyal
mekanoakustik maupun listrik. Keluhan suara yang di dengar sangat
bervariasi, dapat berupa bunyi mendenging, menderu, mendesis, mengaum,
atau berbagai macam bunyi lainnya. Suara yang didengar dapat bersifat
stabil atau berpulsasi. Keluhan tinitus dapat dirasakan unilateral dan
bilateral.
Serangan tinitus dapat bersifat periodik ataupun menetap. Kita
sebut periodik jika serangan yang datang hilang timbul. Episode periodik
lebih berbahaya dan mengganggu dibandingkan dengan yang berifat
menetap. Hal ini disebabkan karena otak tidak terbiasa atau tidak dapat
mensupresi bising ini. Tinitus pada beberapa orang dapat sangat
mengganggu kegiatan sehari harinya. Terkadang dapat menyebabkan
timbulnya keinginan untuk bunuh diri
Tinitus dapat dibagi atas tinitus objektif dan tinitus subjektif.
Dikatakan tinitus objektif jika suaranya juga dapat di dengar oleh pemeriksa
dan dikatakan tinitus subjektif jika tinitus hanya dapat didengar oleh
penderita.
b.

Klasifikasi Tinitus1,2,3
Berdasarkan objek yang mendengar, tinitus dapat dibagi menjadi:

1) Tinitus Objektif
Tinitus yang suaranya juga dapat di dengar oleh pemeriksa dengan
auskultasi di sekitar telinga. Tinitus objektif biasanya bersifat vibratorik,
berasal dari transmisi vibrasi sistem muskuler atau kardiovaskuler di sekitar
telinga.
Umumnya tinitus objektif disebabkan karena kelainan vaskular,
sehingga tinitusnya berdenyut mengikuti denyut jantung. Tinitus berdenyut
ini dapat dijumpai pada pasien dengan malformasi arteriovena, tumor
glomus jugular dan aneurisma. Tinitus objektif juga dapat dijumpai sebagai
suara klik yang berhubungan dengan penyakit sendi temporomandibular dan
karena kontraksi spontan dari otot telinga tengah atau mioklonus palatal.
1

Tuba Eustachius paten juga dapat menyebabkan timbulnya tinitus akibat


hantaran suara dari nasofaring ke rongga tengah.
2) Tinitus Subjektif
Tinitus yang suaranya hanya dapat didengar oleh penderita saja.
Jenis ini sering sekali terjadi. tinitus subjektif bersifat nonvibratorik,
disebabkan oleh proses iritatif dan perubahan degeneratif traktus auditoris
mulai sel sel rambut getar sampai pusat pendengaran.
Tinitus subjektif bervariasi dalam intensitas dan frekuensi
kejadiannya.

Beberapa

pasien

dapat

mengeluh

mengenai

sensasi

pendengaran dengan intensitas yang rendah, sementara pada orang yang lain
intensitas suaranya mungkin lebih tinggi.
c.

Etiologi Tinitus1,2,3
Tinitus paling banyak disebabkan karena adanya kerusakan dari
telinga dalam. Terutama kerusakan dari koklea. Secara garis besar, penyebab
tinitus dapat berupa kelainan yang bersifat somatik, kerusakan N.
Vestibulokoklearis, kelainan vascular, tinitus karena obat obatan, dan
tinitus yang disebabkan oleh hal lainnya.
1) Tinitus karena kelainan somatik daerah leher dan rahang
a) Trauma kepala dan Leher
Pasien dengan cedera yang keras pada kepala atau leher mungkin
akan mengalami tinitus yang sangat mengganggu. Tinitus karena cedera
leher adalah tinitus somatik yang paling umum terjadi. Trauma itu dapat
berupa fraktur tengkorak atau whisplash injury.
b) Artritis pada sendi temporomandibular (TMJ)
Biasanya orang dengan artritis TMJ akan mengalami tinitus yang
berat. Hampir semua pasien artritis TMJ mengakui bunyi yang di dengar
adalah bunyi menciut. Tidak diketahui secara pasti hubungan antara artritis
TMJ dengan terjadinya tinitus.
2) Tinitus akibat kerusakan n. Vestibulokoklearis
Tinitus juga dapat muncul dari kerusakan yang terjadi di saraf yang
menghubungkan antara telinga dalam dan korteks serebri bagian pusat
2

pendengaran. Terdapat beberapa kondisi yang dapat menyebabkan


kerusakan dari N. Vestibulokoklearis, diantaranya infeksi virus pada N. VIII,
tumor yang mengenai N. VIII, dan Microvascular compression syndrome
(MCV). MCV dikenal juga dengan vestibular paroksismal. MCV
menyebabkan kerusakan N. VIII, karena adanya kompresi dari pembuluh
darah. Tapi hal ini sangat jarang terjadi.
3) Tinitus karena kelainan vascular
Tinitus yang di dengar biasanya bersifat tinitus yang pulsatil. Akan
didengar bunyi yang simetris dengan denyut nadi dan detak jantung.
Kelainan vaskular yang dapat menyebabkan tinitus diantaranya:
a) Atherosklerosis
Dengan bertambahnya usia, penumpukan kolesterol dan bentuk
bentuk deposit lemak lainnya, pembuluh darah mayor ke telinga tengah
kehilangan sebagian elastisitasnya. Hal ini mengakibatkan aliran darah
menjadi semakin sulit dan kadang kadang mengalami turbulensi, sehingga
memudahkan telinga untuk mendeteksi iramanya.
b) Hipertensi
Tekanan darah yang tinggi dapat menyebabkan gangguan vaskuler
pada pembuluh darah koklea terminal.
c) Malformasi kapiler
Sebuah kondisi yang disebut AV malformation yang terjadi antara
koneksi arteri dan vena dapat menimbulkan tinitus.
d) Tumor pembuluh darah
Tumor pembuluh darah yang berada di daerah leher dan kepala
juga dapat menyebabkan tinitus. Misalnya adalah tumor karotis dan tumor
glomus jugulare dengan ciri khasnya yaitu tinitus dengan nada rendah yang
berpulsasi tanpa adanya gangguan pendengaran. Ini merupakan gejala yang
penting pada tumor glomus jugulare.
e) Tinitus karena kelainan metabolik
Kelainan metabolik juga dapat menyebabkan tinitus. Seperti
keadaan hipertiroid dan anemia (keadaan dengan viskositas darah sangat
rendah) dapat meningkatkan aliran darah dan terjadi turbulensi. Sehingga

memudahkan telinga untuk mendeteksi irama, atau yang kita kenal dengan
tinitus pulsatil.
Kelainan metabolik lainnya yang bisa menyebabkan tinitus adalah
defisiensi vitamin B12, begitu juga dengan kehamilan dan keadaan
hiperlipidemia.
f) Tinitus akibat kelainan neurologis
Yang paling umum terjadi adalah akibat multiple sclerosis. multiple
sclerosis

adalah

proses

inflamasi

kronik

dan

demielinisasi

yang

mempengaruhi sistem saraf pusat. Multiple sclerosis dapat menimbulkan


berbagai macam gejala, di antaranya kelemahan otot, indra penglihatan yang
terganggu, perubahan pada sensasi, kesulitan koordinasi dan bicara, depresi,
gangguan kognitif, gangguan keseimbangan dan nyeri, dan pada telinga
akan timbul gejala tinitus.
g) Tinitus akibat kelainan psikogenik
Keadaan gangguan psikogenik dapat menimbulkan tinitus yang
bersifat sementara. Tinitus akan hilang bila kelainan psikogeniknya hilang.
Depresi,

anxietas

dan

stress

adalah

keadaan

psikogenik

yang

memungkinkan tinitus untuk muncul.


h) Tinitus akibat obat-obatan
Obat obatan yang dapat menyebabkan tinitus umumnya adalah
obat obatan yang bersifat ototoksik. Diantaranya:
i.

Analgetik, seperti aspirin dan AINS lainnya.

ii.

Antibiotik, seperti golongan aminoglikosid (mycin),


kloramfenikol, tetrasiklin, minosiklin.

iii.

Obat-obatan kemoterapi, seperti Bleomisin, Cisplatin,


Mechlorethamine, Methotrexate, Vinkristin.

iv.

Diuretik,

seperti

Bumatenide,

Ethacrynic

acid,

Furosemide.
v.

Lain-lain, seperti Kloroquin, Quinine, Merkuri, Timah.

i) Tinitus akibat gangguan mekanik


Gangguan mekanik juga dapat menyebabkan tinitus objektif,
misalnya pada tuba eustachius yang terbuka sehingga ketika kita bernafas
akan menggerakkan membran timpani dan menjadi tinitus. Kejang klonus
4

muskulus tensor timpani dan muskulus stapedius serta otot otot palatum
juga akan menimbulkan tinitus.
j) Tinitus akibat gangguan konduksi
Gangguan konduksi suara seperti infeksi telinga luar (sekret dan
edema), serumen impaksi, efusi telinga tengah dan otosklerosis juga dapat
menyebabkan tinitus. Biasanya suara tinitusnya bersifat suara dengan nada
rendah.
k) Tinitus akibat sebab lainnya
i.

Tuli akibat bising


Disebabkan terpajan oleh bising yang cukup keras dan
dalam jangka waktu yang cukup lama. Biasanya diakibatkan oleh
bising lingkungan kerja. Umumnya terjadi pada kedua telinga.
Terutama

bila

intensitas

bising

melebihi

85db,

dapat

mengakibatkan kerusakan pada reseptor pendengaran korti di


telinga dalam. Yang sering mengalami kerusakan adalah alat korti
untuk reseptor bunyi yang berfrekuensi 3000Hz sampai dengan
6000Hz. Yang terberat kerusakan alat korti untuk reseptor bunyi
yang berfrekuensi 4000Hz.
ii.

Presbikusis
Tuli saraf sensorineural tinggi, umumnya terjadi mulai
usia 65 tahun, simetris kanan dan kiri, presbikusis dapat mulai pada
frekuensi 1000Hz atau lebih. Umumnya merupakan akibat dari
proses degenerasi. Diduga berhubungan dengan faktor faktor
herediter, pola makanan, metabolisme, aterosklerosis, infeksi,
bising, gaya hidup atau bersifat multifaktor. Menurunnya fungsi
pendengaran berangsur dan kumulatif. Progresivitas penurunan
pendengaran lebih cepat pada laki laki disbanding perempuan.

iii.

Sindrom Meniere
Penyakit ini gejalanya terdiri dari tinitus, vertigo dan tuli
sensorineural. Etiologi dari penyakit ini adalah karena adanya
hidrops endolimf, yaitu penambahan volume endolimfe, karena
gangguan biokimia cairan endolimfa dan gangguan klinik pada
membran labirin.

Gambar 2.4 Etiologi tinitus1,2,3


d.

Patofisiologi Tinitus1
Pada tinitus terjadi aktivitas elektrik pada area auditoris yang
menimbulkan perasaan adanya bunyi, namun impuls yang ada bukan berasal
dari bunyi eksternal yang ditransformasikan, melainkan berasal dari sumber
impuls abnormal di dalam tubuh pasien sendiri. Impuls abnormal itu dapat
ditimbulkan oleh berbagai kelainan telinga. Tinitus dapat terjadi dalam
berbagai intensitas. Tinitus dengan nada rendah seperti bergemuruh atau

nada tinggi seperti berdenging. Tinitus dapat terus menerus atau hilang
timbul.
Tinitus biasanya dihubungkan dengan tuli sensorineural dan dapat
juga terjadi karena gangguan konduksi. Tinitus yang disebabkan oleh
gangguan konduksi, biasanya berupa bunyi dengan nada rendah. Jika
disertai dengan inflamasi, bunyi dengung ini terasa berdenyut (tinitus
pulsatil).
Tinitus dengan nada rendah dan terdapat gangguan konduksi,
biasanya terjadi pada sumbatan liang telinga karena serumen atau tumor,
tuba katar, otitis media, otosklerosis dan lain-lainnya. Tinitus dengan nada
rendah yang berpulsasi tanpa gangguan pendengaran merupakan gejala dini
yang penting pada tumor glomus jugulare.
Tinitus objektif sering ditimnbulkan oleh gangguan vaskuler.
Bunyinya seirama dengan denyut nadi, misalnya pada aneurisma dan
aterosklerosis. Gangguan mekanis dapat juga mengakibatkan tinitus
objektif, seperti tuba eustachius terbuka, sehingga ketika bernapas membran
timpani bergerak dan terjadi tinitus.
Kejang klonus muskulus tensor timpani dan muskulus stapedius,
serta otot otot palatum dapat menimbulkan tinitus objektif. Bila ada
gangguan vaskuler di telinga tengah, seperti tumor karotis (carotid body
tumor), maka suara aliran darah akan mengakibatkan tinitus juga.
Pada intoksikasi obat seperti salisilat, kina, streptomisin, dehidro
streptomisin, garamisin, digitalis, kanamisin, dapat terjadi tinitus nada
tinggi, terus menerus atupun hilang timbul. Pada hipertensi endolimfatik,
seperti penyakit meniere dapat terjadi tinitus pada nada rendah atau tinggi,
sehingga terdengar bergemuruh atau berdengung. Gangguan ini disertai
dengan vertigo dan tuli sensorineural.
Gangguan vaskuler koklea terminal yang terjadi pada pasien yang
stres

akibat

gangguan

keseimbangan

endokrin,

seperti

menjelang

menstruasi, hipometabolisme atau saat hamil dapat juga timbul tinitus dan
gangguan tersebut akan hilang bila keadaannya sudah normal kembali.
e.

Diagnosis Tinitus

Protokol dalam mendiagnostik Tinitus antara lain anamnesis,


pemeriksaan

fisik,

identifikasi

kondisi

psikologis

atau

psikiatrik

(menggunakan pengukuran derajat beratnya dan keparahan tinitus, dan


pengukuran kecemasan dan depresi), dan pengukuran psikoakustik dari
tinitus.4
Tidak ada tes objektif untuk kebanyakan kasus tinitus, dan
diagnosis dibuat hanya berdasarkan anamnesis dan penilaian terhadap
kondisi pasien dan keluarganya. Pertanyaan penting seputar tinitus antara
lain; lokasi dan karakteristik tinitus, dengan komponen ritmik atau pulsatil.
Tinitus pulsatil termasuk kasus yang jarang dan dapat dideteksi dengan
auskultasi. Pertanyaan penting seputar akibat dari tinitus termasuk efek
terhadap tidur dan konsentasi. Beberapa kuesioner kesehatan menilai efek
dari tinitus, antara lain; tinnitus handicap inventory dan tinnitus functional
index. Kuesioner untuk menilai gejala yang berkaitan seperti hiperakusis
dan distres psikologis. Audiometri nada murni seharusnya dilakukan, dan
karena beberapa pasien mengeluhkan sensasi tersumbat pada telinga,
timpanometri juga dapat diterapkan. Pasien dengan tinitus asimetris,
pendengaran asimetris dengan audiometri nada-murni, atau gejala dan tanda
yang berkaitan dengan kelainan neurologis perlu digali lebih lanjut, dan
umumnya memerlukan modalitas MRI.3

Riwayat kasus
+

Penilaian beratnya tinitus


Tinnitus handicap inventory
Tinnitus questionnaire
Tinnitus handicap questionnaire
Tinnitus functional index

Pemeriksaan Klinis
Pemeriksaan otologi
Auskultasi
+ Pemeriksaan kraniomandibular
dan leher

Debilitating tinnitus?
Tinitus akut dengan
kehilangan pendengaran
mendadak akut?
Tinitus post trauma?
Tinitus pulsatil akut?
Tinitus non pulsatil

Tinitus akut dengan


kehilangan
pendengaran akut

Terapi awal
kehilangan
pendengaran akut

Tinitus dengan
gangguan
pendengaran

Tinitus dengan
hearing aid,
cochlear implant,
dll

Pemeriksaan Audiologi
Audiometri dan speech
audiometry
+ Tinnitus matching
Minimum masking level
Timpanometri

Tida
k

Tinitus pulsatil

Ya

Tinitus
dengan
vertigo

Tinitus
dengan nyeri
kepala

Tinitus dengan
komorbiditas
psikiatrik

Tinitus dengan
komponen
somatosensorik

Tinitus post
traumatik

Diagnostik
vestibular

Diagnosa
banding
nyeri kepala

Diagnosa
banding

Diagnostik
fungsional leher
dan mandibular

Diagnosa
banding

Terapi
spesifik,
Menieres
disease

Terapi
spesifik jika
mungkin

Terapi spesifik
komorbiditas
psikiatrik

Terapi spesifik

Terapi spesifik
sekuele trauma

Jika pasien masih mengidap tinitus: terapi berorientasi pada gejala


Cognitive behavioural therapy

Stimulasi akustik atau terapi suara

Tidak perlu ditindaklanjuti

Neuromodulasi atau neurostimulasi

Gambar 2.5 Algoritma untuk diagnosa dan manajemen terapi pasien dengan tinitus2

Diagnosa
neurovaskuler,
jantung

Terapi spesifik
penyakit
vaskuler

Ko
nse
lin
g

Tabel 2.1 Hal hal yang berkaitan dengan riwayat pasien tinitus2
Latar belakang

Usia dan jenis kelamin

Riwayat tinitus

Riwayat keluarga dengan tinitus (orang tua, saudara, anak)


Durasi
Onset awal: berangsur angsur atau mendadak? Adakah hal
yang berkaitan dengan tinitus? Perubahan pendengaran?
Trauma akustik? Otitis media, trauma kepala, whiplash,
terapi gigi, stress, dan lainnya?
Pola: pulsatil? Intermiten atau konstan? Fluktuan atau non
fluktuan? Lainnya?
Sisi: telinga kanan? Telinga kiri? Kedua telinga (simetris)? Di
dalam kepala?
Kencangnya suara: skala 1 100. Terburuk dan terbaik?
Kualitas suara: nada murni atau noise? Tidak pasti atau
polifonik?
Tingginya nada: sangat tinggi, tinggi, sedang, rendah?
Proporsi waktu terganggu dengan tinitus

Modifikasi

Terapi tinitus sebelumnya (tidak ada, beberapa, atau banyak)


Masking alamiah? Musik, suara sehari hari, suara lainnya?

pengaruh

Dipicu oleh suara keras?


Diubah oleh pergerakan kepala dan leher atau sentuhan
terhadap kepala atau tungkai atas?
Efek tidur malam hari dan istirahat siang terhadap tinitus?
Efek stress?

Kondisi
berkaitan

yang

Efek obat obatan?


Gangguan pendengaran?
Alat bantu pendengaran (tidak ada, telinga kiri, telinga kanan,
atau kedua telinga; efek terhadap tinitus)?
Suara mengganggu atau intoleransi? Suara yang menginduksi
nyeri? Hiperakusis?
Vertigo atau pusing
Gangguan temporomandibular?
10

Nyeri leher?
Sindrom nyeri lainnya?
Dibawah terapi gangguan psikiatri?

Apakah tinitus anda mengganggu?

Tidak

Tingkat I
Tidak mengganggu

Ya
Apakah tinitus anda memiliki
dampak negatif terhadap hidup
anda?

Tingkat II
Sedikit mengganggu
Terkadang menggganggu dalam
beberapa kondisi seperti dalam
suasana sepi atau dalam situasi
stres

Tidak

Ya
Apakah anda dapat bekerja?
Dapatkah anda mengerjakan
pekerjaan rumah?
Dapatkah anda merawat keluarga
anda?

Tingkat III
Gangguan permanen dengan
gangguan dalam area khusus dan
profesional

Ya

Tidak
Tingkat IV
Gangguan berat
Gangguan berat dalam kehidupan
dan pekerjaan, tidak dapat bekerja

Gambar 2.6 Menilai derajat beratnya tinitus2


Tinitus dapat menjadi sebuah gejala dari banyak patologi mendasar dan
diikuti oleh banyak variasi komorbid. Oleh karena itu, pendekatan terintegrasi dan
multidisipliner diperlukan untuk mendiagnosis tinitus secara komprehensif. Tinitus
dapat menjadi tanda awal dari penyakit yang berpotensial untuk mengancam
kehidupan seperti stenosis karotis atau vestibular schwannoma. Kondisi tinitus yang
tidak terdiagnosis dan diterapi akan mengancam kehidupan jika diikuti dengan
depresi berat dan kecenderungan bunuh diri, namun hal ini jarang terjadi. Diagnosis
banding tinitus seharusnya juga difokuskan pada subgroup spesifik dari tinitus
dengan penyebab yang berasal dari terapi spesifik seperti pengeluaran serumen prop

11

dari liang telinga, implan koklea pada tuli unilateral, dan bunyi tinitus seperti mesin
ketik yang disebabkan oleh penggunaan karbamazepin dan disebabkan oleh
kompresi vaskuler dari saraf auditorik.2
Langkah langkah pendekatan managemen tinitus secara klinis dapat
menggunakan (lihat gambar 2.5). Langkah langkah diagnostik dasar yang
direkomendasikan untuk semua pasien yaitu: menggali riwayat kasus (lihat tabel
2.1), menilai derajat beratnya tinitus (lihat gambar 2.6), pemeriksaan klinis telinga,
dan pengukuran audiologi tinitus dan fungsi telinga.2
Untuk beberapa pasien langkah diagnostik awal seperti ini cukup untuk
diagnosa, dan konseling cukup membantu dalam terapi. Langkah diagnostik
kedepannya disarankan jika penemuan diagnostik dasar mengindikasikan tinitus
akut, dengan kondisi mendasar yang membahayakan (seperti diseksi karotis), terapi
yang memungkinkan menjadi penyebab. Tindakan segera diperlukan pada tinitus
dengan kehilangan pendengaran secara mendadak pada tinitus post-traumatik akut;
dan pada kasus dengan kecenderungan untuk bunuh diri.2
Langkah

berikutnya

dalam

hirarki

algoritma

diagnostik

adalah

membedakan antara tinitus pulsatil dan non pulsatil. Pada tinitus pulsatil, persepsi
suara sejalan dengan irama detak jantung dan pemeriksaan neurovaskuler
diperlukan. Penyakit seperti malformasi arterivena, trombosis sinus vena, hipertensi
intrakranial jinak, dan tekanan jugularis yang tinggi dapat menyebabkan tinitus
pulsatil. Tinitus non pulsatil lebih sering terjadi dibandingkan dengan tinitus non
pulsatil dan harus dibedakan menurut durasi, gejala, dan faktor peenyebabnya.
Tinitus akut yang diikuti oleh kehilangan pendengaran akut, diagnostik dan prosedur
terapi akan difokuskan pada kehilangan pendengarannya dan seharusnya tidak
ditunda.2
Tinitus paroksismal dapat menjadi sebuah gejala kompresi saraf auditorik,
sindrom dehisensi kanal superior, penyakit Mnire, mioklonus palatum, migraine,
atau epilepsi. Untuk diagnosis banding, MRI, auditory evoked potentials, tes
vestibuler, dan elektroensefalografi dapat diindikasikan.2
Tinitus non pulsatil yang bersifat konstan dapat diikuti oleh kehilangan
pendengaran konduktif atau sensorineural. Gangguan pendengaran konduktif dapat
disebabkan oleh otosklerosis, bentuk lain dari otitis, atau disfungsi tuba eustasius.
Pada gangguan pendengaran sensorineural, prosedur diagnostik kedepannya
diindikasikan untuk mengidentifikasi penyebab pastinya, termasuk MRI dan
12

otoacoustic emissions untuk menilai fungsi sel rambut luar. Tinitus dapat terjadi
bersamaan dengan vertigo yang mengindikasikan abnormalitas patologi, seperti
penyakit

Mnire,

dehisensi

kanalis

superior,

atau

kerusakan

sistem

vestibulokoklear, dan memerlukan penilaian mendetil dari fungsi vestibuler.2


Jika tinitus muncul bersamaan dengan nyeri kepala, space occupying
lesions, hipertensi intrakranial jinak, gangguan sirkulasi CSF, dan anomaly
kranioservikal seharusnya dieksklusi dengan MRI. Pada kasus nyeri kepala dengan
lateralisasi bersamaan dengan tinitus pada sisi yang sama dan dengan waktu yang
sama, sindrom nyeri kepala trigemino autonomal seharusnya dipertimbangkan dan,
jika benar, harus diterapi secara spesifik.2
Gangguan psikiatri yang dapat muncul secara bersamaan, seperti depresi,
kecemasan, dan insomnia, seharusnya dicari tahu dan diterapi secara spesifik jika
ada, karena gangguan tersebut berperan dalam penting dalam tinitus yang
mengganggu kualitas hidup. Hiperakusis dan fonofobia sering bersamaan dengan
tinitus dan terkadang mengindikasikan gangguan kecemasan. Rujukan ke psikiatri
segera diperlukan ketika pasien memiliki ide bunuh diri.2
Ketika tinitus berkaitan dengan disfungsi leher atau temporomandibuler
atau nyeri, seharusnya diperiksa lebih lanjut oleh dokter gigi dan psikoterapi.C
Tes diagnostik spesifik jika tinitus terjadi atau memburuk dalam waktu tiga
bulan setelah kejadian traumatis. Kejadian trauma dapat menyebabkan tinitus dalam
berbagai cara. Indikasi untuk prosedur diagnostik lanjutan tergantung dari
mekanisme trauma; trauma telinga, kepala, leher, atau trauma emosional, atau
kombinasi trauma tersebut seharusnya dipertimbangkan untuk pemeriksaan lanjutan.
Pada kasus tinitus pulsatil post traumatik, pemeriksaan diagnosis mendalam untuk
perubahan patologis vaskuler (terutama diseksi karotis) diperlukan segera.2
Tabel 2.2 Ringkasan panduan dalam diagnostik tinitus1
Pernyataan
Tindakan
Kekuatan
Anamnesis
Klinisi seharusnya melakukan anamnesis dan Direkomendasikan
dan

pemeriksaan fisik yang terarah untuk evaluasi

pemeriksaan awal pasien dengan tinitus primer untuk


fisik

mengidentifikasi kondisi apabila memerlukan


identifikasi dan managemen segera dalam
meringankan tinitus
13

Pemeriksaan Klinisi seharusnya melakukan pemeriksaan Direkomendasikan


audiologi

audiologi komprehensif segera pada pasien

segera

dengan tinitus unilateral, menetap ( 6 bulan),

atau berkaitan dengan gangguan mendengar


Pemeriksaan Klinisi dapat melakukan pemeriksaan audiologi Pilihan
audiologi

awal secara komprehensif pada pasien dengan

rutin
tinitus
Pemeriksaan Klinisi
radiologis

seharusnya

tidak

melakukan Sangat

pemeriksaan radiologis kepala dan leher pada direkomendasikan


pasien

dengan

tinitus,

terutama

untuk

mengevaluasi tinitus, kecuali pasien tersebut


memiliki satu atau lebih gejala berikut: tinitus
yang terlokalisir pada satu telinga, tinitus
pulsatil, abnormalitas neurologis fokal, atau
kehilangan pendengaran asimetris
2.8

Tatalaksana Tinitus
Penatalaksanaan tinitus merupakan masalah yang kompleks dan merupakan
fenomena psikoakustik murni sehingga tidak dapat diukur. Perlu diketahui penyebab
tinitus agar dapat diobati sesuai penyebabnya. Terapi definitif untuk menghilangkan
tinitus sampai saat ini belum ada. Tujuan dari tatalaksana tinitus saat ini adalah
untuk menurunkan gangguan yang diakibatkan oleh tinitus sehingga dapat
memperbaiki kualitas hidup. Pendekatan manajemen tinitus saat ini berupa
gabungan dari beberapa pendekatan yaitu psikologis, stimulasi auditorik,
farmakologi, dan stimulasi otak. Pendekatan pendekatan ini telah diteliti mampu
mengurangi tingkat keparahan dan memperbaiki kualitas hidup dari penderita
tinitus.1,13 (Gambar 2.5)
1.

Terapi Psikologis

Konseling dan Psikoedukasi


Konseling dilakukan oleh audiologis atau otologis mengenai
penjelasan informasi tentang tinitus. Penjelasan informasi yang diberikan
biasanya berupa anatomi dan patologi koklea, hilang pendengaran, proses
mekanisme bagaimana suara dapat didengar, mekanisme tinitus, stress,
serta manajemennya. Pentingnya melakukan konseling ini sebelum
memulai terapi lain agar pasien mendapatkan penjelasan yang baik
14

mengenai gejala ini sehingga termotivasi pula dalam program yang akan
dijalankan.1,2

Tinnitus Retraining Therapy (TRT)


Penatalaksanaan terkini yang dikemukakan oleh Jastreboff,
berdasar pada model neurofisiologi adalah kombinasi konseling terpimpin,
terapi akustik, dan medikamentosa bila diperlukan. Metode ini dikenal
dengan Tinnitus Retraining Therapy (TRT). Tujuan dari TRT adalah
memicu dan menjaga reaksi habituasi dan persepsi tinitus dan atau suara
lingkungan yang mengganggu. Habituasi diperoleh sebagai hasil dari
modifikasi hubungan sistem auditorik ke sistem limbik dan sistem saraf
otonom. TRT walau tidak dapat menghilangkan tinitus dengan sempurna,
tetapi dapat memberikan perbaikan yang bermakna berupa penurunan
toleransi terhadap suara.2,13
TRT dimulai dengan anamnesis awal untuk mengidentifikasi
masalah dan keluhan pasien, menentukan pengaruh tinitus dan penurunan
toleransi terhadap suara di sekitarnya, mengevaluasi kondisi emosional dan
derajat stres pasien, mendapatkan informasi untuk memberikan konseling
yang tepat dan membuat data dasar yang akan digunakan untuk evaluasi
terapi.2,13

Cognitive Behavioral Therapy (CBT)


Cognitive Behavioral Therapy (CBT) merupakan suatu pendekatan
untuk membantu mengubah pola pikir penderita terhadap tinitus dengan
cara meminimalisir pikiran negatif penderita terhadap gejala tinitus.
Pendekatan ini terutama dilakukan dengan bantuan psikolog dan harus rutin
dijalankan beberapa waktu. Beberapa literatur menunjukkan bahwa dengan
gabungan antara CBT dan sound therapy/stimulasi auditorik menunjukkan
peningkatan kualitas hidup pada pasien yang terganggu.2,5
2.

Stimulasi Auditorik

Sound Therapy
Baik suara dari lingkungan atau suara yang dibuat sendiri
keduanya dapat dipakai untuk penanganan tinitus. Penghasil suara
lingkungan merupakan suatu alat kecil yang menghasilkan suara alam
seperti bunyi ombak, air terjun, hujan, dan bunyi lainnya yang bertujuan
untuk merelaksasi dan menurunkan persepsi pasien terhadap suara tinitus.2

Alat Bantu Dengar

15

Alat bantu dengar sudah banyak dipakai untuk tatalaksana pasien


tinitus yang disertai dengan kehilangan pendengaran (baik unilateral atau
derajat ringan) untuk mengkompensasi input auditorik pada batas frekuensi
yang terganggu. Namun, suara amplifikasi yang dihasilkan oleh alat bantu
dengar terbatas pada frekuensi tinggi dan tidak dapat memunculkan input
auditorik pada beberapa kasus kehilangan rambut organ korti. Sebuah studi
observasi menunjukkan manfaat dari penggunaan alat bantu dengar pada
pasien dengan tinitus hanya dapat kurang dari 6000 Hz dan harus di dalam
jarak amplifikasi alat bantu dengar. Masih dibutuhkan studi studi dengan
randomized controlled trial untuk membuktikan efekasi dari alat bantu
dengar ini.2,5

Cochlear Implants
Pada pasien dengan sensorineural hearing loss disertai tinitus,

sebuah penelitian melaporkan penurunan dari derajat tinitus dengan


dilakukannya cochlear implant. Studi lain juga membuktikan manfaat
implan koklear pada kasus berkurangnya pendengaran sebelah dengan. Hal
ini membuktikan implantasi koklear menawarkan supresi tinitus yang
bersifat jangka panjang pada pasien dengan SNHL berat dengan cara
merestorasi input auditorik ke sistem pendengaran pusat.2
3.

Farmakologi
Saat ini belum ada terapi medikamentosa untuk tinitus. Terapi
farmakologis yang ada bertujuan untuk meringankan gejala tambahan
seperti stres dan cemas yang diakibatkan oleh tinitus dengan penggunaan
obat golongan benzodiazepine atau carbamazepine. Beberapa penelitian
menyebutkan obat obatan tersebut juga meningkatkan reaksi individu
tersebut terhadap tinitus, namun karena efek samping dan ketergantungan
maka tidak disarankan obat obatan tersebut untuk menjadi terapi primer
bagi tinitus.1,2
Pada penderita tinitus penggunaan berlebih dari alkohol, kafein,
atau obat yang merangsang sistem saraf pusat harus dihindari. Beberapa
obat yang sering dipakai sehari hari seperti aspirin, juga diketahui dapat
menyebabkan tinitus.1

4.

Stimulasi Otak
16

Stimulasi otak terapetik memungkinkan modulasi fokal dari


aktivitas neuronal dan diteliti dapat menormalisasi tinitus yang terkait
dengan abnormalitas dari aktivitas neuronal. Repetitive transcranial
magnetic stimulation dalam sebuah studi randomized trial menunjukkan
penurunan derajat keparahan tinitus setelah dilakukan terapi ini.
Kekurangan dari tatalaksana ini adalah variasi efek antar individu yang
tinggi, durasi dari efek yang sangat singkat sehingga harus dilakukan secara
berulang dengan biaya yang cukup mahal.2
American Academy of Otolaryngology-Head and Neck Surgery
merekomendasikan beberapa hal dalam guideline mengenai manajemen
pada tinitus.1 (Tabel 2.3)

Tabel 2.3 Rekomendasi manajemen dan tatalaksana tinitus2

17

Pemakaian imaging untuk mendiagnosis tinitus sangat tidak


disarankan kecuali pasien memiliki salah satu dari gejala seperti tinitus
yang terlokalisasi pada 1 telinga, tinitus pulsatil, adanya defisit fokal
neurologis, atau kehilangan pendengaran sebelah. Dimana gejala gejala
tersebut menunjukkan suatu tinitus objektif yang jika dihilangkan
penyebabnya, dapat menghilangkan gejala tinitus dari pasien. Pemakaian
obat obatan seperti antidepresan, antikonvulsan, anti cemas atau medikasi
intratimpani tidak disarankan untuk pengobatan primer tinitus persisten.
Suplemen seperti Ginkgo biloba, melatonin, zinc, juga tidak disarankan
karena belum jelas manfaatnya secara signifikan dalam menurunkan gejala
tinitus serta masih sedikitnya penelitian yang dilakukan mengenai zat zat
tersebut. Terapi akupuntur juga masih belum direkomendasikan oleh
literatur. Pemakaian Transcranial Magnetic Stimulation (TMS) tidak
disarankan untuk pengobatan rutin, karena sedikitnya manfaat yang
diterima dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan.1

DAFTAR PUSTAKA
1.

Iskandar N, Sopeardi EA, Bashiruddin J, Restuti RD. Buku Ajar Ilmu Kesehatan

2.

Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala dan Leher. Edisi Ketujuh. FKUI Jakarta 2012.
Crummer RW, Hassan GA. 2004. Diagnostic Approach to Tinnitus. Am Fam

3.

Physician. Vol 69(1):120-126.


Flint PW, Haughey BH, Lund VJ, et. al. Cummings Otolaringology Head and Neck
Surgery. Edisi Kelima. Philadelphia: Elsevier; 2010.

4.

Hoare DJ, Hall DA. Clinical Guidelines and Practice: A Commentary of the
Complexity of Tinnitus Management. Evaluation & the Health Professions
2011;34(4):413-420.

5.

Soepardi E., Iskandar N. Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher Edisi ke Enam.
2004. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.

B. Pada frekuensi berapa presbikusis terjadi?


Presbikusis adalah tuli sensorineural frekuensi tinggi, umumnya terjadi mulai usia
65 tahun, simetris pada telinga kiri dan kanan. Presbikusis dapat mulai pada frekuensi 1000
Hz atau lebih.
18

C. Pada frekuensi berapa NIHL terjadi?


Gangguan pendengaran akibat bising (noise induced hearing loss) ialah gangguan
pendengaran yang disebabkan akibat terpajan oleh bising yang cukup keras dalam jangka
waktu yang cukup lama dan biasanya diakibatkan oleh bising lingkungan kerja. Pada
pemeriksaan audiometri nada murni didapatkan tuli sensorineural pada frekuensi 3000 Hz
sapai dengan 6000 Hz dan pada frekuensi 4000 Hz sering terdapat takik (notch) yang
patognomonik untuk jenis ketulian ini.

D. Berapa nilai air bone gap pada CHL dan MHL?


Dari hasil pemeriksaan audiogram disebut ada gap apabila antara AC dan BC
terdapat perbedaan lebih atau sama dengan 10 dB, minimal pada 2 frekuensi yang
berdekatan.
DAFTAR PUSTAKA
Iskandar N, Sopeardi EA, Bashiruddin J, Restuti RD. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga,
Hidung, Tenggorok, Kepala dan Leher. Edisi Ketujuh. FKUI Jakarta 2012

19