Anda di halaman 1dari 24

METODE PENELITIAN

Metode Pengambilan Sampel

Oleh :
Kelompok III (S1 VI-A)

Anggota :
Ade Magdalena (1301001)
Ardani (13010)
Della Aprila (1301018)
Dwi Kartika Sari (131025)
Eka Saputri (1301029)
Elsa Miaqsa (1301030)
M. Ridho Abru Jiwantoro (1301046)
Dosen :
Septi Muharni, M.Farm,Apt

PROGRAM STUDI S1 FARMASI


SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI RIAU
2016

KATA PENGANTAR
Puji syukur saya sampaikan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena
hanya atas rahmat dan petunjuk-Nya kami dapat menyelesaikan karya tulis berupa
makalah yang berjudul Metode Pengambilan Sampel.
Sumber dari makalah ini diambil dari buku-buku yang berhubungan
dengan Metode Penelitian dan lainnya yang ditambah dengan informasi yang
didapat dari pencarian

(browsing) di internet dan sumber-sumber lainnya.

Diantara sumber-sumber tersebut di susunlah semua informasi dalam

satu

makalah sehingga menurut kami makalah ini sudah cukup informatif.


Dalam penulisan makalah ini pastilah ada banyak kendala yang kami
temui namun kami berhasil menghadapinya dan menyelesaikan makalah ini tepat
waktu. Akhir kata jika ada sesuatu yang tidak berkenan di hati pembaca mohon
dimaklumi. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

Pekanbaru, Mei 2016

Penyusun

DAFTAR ISI

Kata Pengantar..................................................................................................i
Daftar Isi ............................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang.......................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah..................................................................................1
1.3 Tujuan ...................................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Definisi...................................................................................................3
2.2 Epidemiologi..........................................................................................3
2.3 Etiologi...................................................................................................4
2.4 Klasifikasi .............................................................................................6
2.5 Patofisiologi...........................................................................................7
2.6 Manisfestasi Klinis................................................................................8
2.7 Faktor Resiko.........................................................................................9
2.8 Diagnostik..............................................................................................11
2.9 Pentalaksanaan.......................................................................................13
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan............................................................................................27
3.2 Saran .....................................................................................................27
Daftar Pustaka

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

LATAR BELAKANG
Salah satu langkah dalam penelitian ilmiah adalah menentukan populasi

dan sampel. Kesalahan dalam menentukan sampel dapat berakibat fatal, karena
sampel menjadi tidak representative, dan hasil penelitian tidak dapat mencermikan
keadaan yang sebenarnya. Oleh karena itu, memilih teknik penentuan sampel
yang

tepat

menjadi sangat

penting

untuk mendapatkan

sampel

yang

representative. Dalam suatu penelitian ada kalanya peneliti meneliti semua


sumber data yang direncanakan, agar data dan informasi yang diperoleh banyak
dan variasi sehingga diharapkan hasilnya tidak jauh dari kenyataan akan tetapi,
dalam kenyataannya semua populasi tidak dapat diteliti karena suatu sebab yang
tidak memungkinkan. Penelitian ilmiah hamper dikata selalu hanya dilakukan
terhadap sebagian saja dari hal- hal yang sebenarnya hendak diteliti.
Makin tidak sama sampel itu dengan populasinya makin besar
kemungkinan kekeliruan dalam generalisasi. Oleh karena itu, teknik penentuan
sampel (Teknik Sampling) menjadi sangat penting dalam penelitian. Berbagai
teknik pentuan sampel hakikatnya adalah cara- cara untuk memperkecil
kekeliruan generalisasi dari sampel ke populasi sehingga diperoleh sampel yang
representative, yaitu sampel yang benar-benar mencerminkan populasinya. Agar
hasil penelitian yang dilakukan terhadap sampel masih tetap bisa dipercaya dalam
artian masih bisa mewakili karakteristik populasi, maka cara penarikan sampelnya
harus dilakukan secara saksama. Cara pemilihan sampel dikenal dengan nama
dengan teknik sampling atau teknik pengambilan sampel. Digunakannya sampel
dalam penelitian adalah untuk mereduksi objek penelitian dan melakukan
generalisasi hasil penelitian, sehingga dapat ditarik suatu kesimpulan umum.

Teknik Pengambilan Sampel

1.2 RUMUSAN MASALAH


1. Apa definisi populasi dan sampel?
2. Apa kegunaan sampel?
3. Apa saja faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan
sampel?
4. Bagaimana prosedur pengambilan sampel?
5. Bagaimana teknik sampling?
6. Bagaimana penentuan besarnya sampel?
1.3

TUJUAN

BAB II
PEMBAHASAN

Teknik Pengambilan Sampel

2.1

POPULASI
Populasi diartikan sebagai sekumpulan unsur atau elemen yang menjadi

obyek penelitian. Elemen populasi ini biasanya merupakan satuan analisis.


Populasi merupakan himpunan semua hal yang ingin diketahui. Dapat berupa
kumpulan semua kota, semua wanita, semua perusahaan.
Populasi dalam penelitian dapat pula diartikan sebagai keseluruhan unit
analisis yang ciri-cirinya akan diduga. Unit analisis adalah unit/satuan yang akan
diteliti atau dianalisis. Berikut beberapa pengertian tentang populasi.
1. Pengertian Populasi menurut para ahli
a) Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau subyek
yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh
peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono.
2005 : 90).
b) Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian (Arikunto, 2002:108).
c) Populasi adalah keseluruhan dari variabel yang menyangkut masalah yang
diteliti (Nursalam. 2003).
d) Populasi adalah semua nilai baik hasil perhitungan maupun pengukuran,
baik kuantitatif maupun kualitatif, dari karakteristik tertentu mengenai
sekelompok objek yang lengkap dan jelas (Husaini Usman. 2006 : 181).
e) Populasi adalah seluruh individu yang menjadi wilayah penelitian akan
dikenai generalisasi (I.B. Netra, 1974 hal 10).
2. Populasi berdasarkan jenisnya
a) Populasi terbatas adalah mempunyai sumber data yang jelas batasnya secara
kuantitif sehingga dapat dihitung jumlahnya.
Contoh ; Jumlah penduduk Kota Padang sebesar 2.500.000jiwa
b) Populasi Tak Terbatas (Tak Terhingga)
Populasi tak terbatas yaitu sumber datanya tidak dapat ditentukan batasbatasnya sehingga relatif tidak dapat dinyatakan dalam bentuk jumlah.
Contoh : Meneliti beberapa liter pasang surut air pada bulan purnama
3. Populasi berdasarkan sifatnya
a) Populasi yang bersifat homogen, yakni populasi yang unsur-unsurnya
memiliki sifat yang sama, sehingga tidak perlu di persoalkan jumlahnya
secara kuantitatif. Misalnya, seorang dokter yang akan melihat golongan
darah seseorang, maka ia cukup mengambil setetes darah saja. Dokter itu

Teknik Pengambilan Sampel

tidak perlu mengambil satu botol darah, karena baik setetes maupun satu
botol hasilnya akan sama saja.
b) Populasi yang bersifat heterogen, yakni populasi yang unsur-unsurnya
memiliki sifat atau keadaan yang bervariasi, sehingga perlu di tetapkan
batas-batasnya, baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Penelitian di
bidang sosial yang objeknya manusia atau gejala-gejala dalam kehidupan
manusia menghadapi populasi yang heterogen.

2.2

SAMPEL

2.2.1 Pengertian Sampel


Menurut Suharsimi Arkunto, sampel adalah bagian dari populasi (sebagian
atau wakil populasi yang diteliti). Sampel penelitian adalah sebagian dari populasi
yang diambil sebagai sumber data dan dapat mewakili seluruh populasi. Menurut
Sugiyono, sampel adalah sebagian dari karakteristik yang dimiliki oleh populasi.
Keuntungan dalam menggunakan sampel yaitu: memudahkan peneliti,
penelitian lebih efisien, lebih teliti dan cermat dalam pengumpulan data, serta
penelitian lebih efektif.
2.2.2 Manfaat Sampel (belum fix)
Masalah sampel dalam suatu penelitian timbul disebabkan hal berikut ini :
a. Penelitian bermaksud mereduksi objek penelitian sebagai akibat dari besarnya
jumlah populasi sehingga harus meneliti sebagian saja dari populasi.
b. Penelitian bermaksud mengadakan generalisasi dari hasil

hasil

kepenelitiannya, dalam arti menegakkan kesimpulan kesimpulan kepada


objek,gejala atau kejadian yang lebih luas.
Adapun alasan-alasan penelitian dilakukan dengan mempergunakansampel
beikut ini
a. Ukuran populasi
Dalam hal populasi tak terbatas (tak terhingga) beruppa parameter yang
jumlahnya tidak diketahui dengan pasti, pada dasarnya bersifat konseptual.
Karena itu

sama sekali tidak mungkin mengumpulkan data dari populasi

seperti itu.demikian juga dalam populasi terbatas (terhingga) yang jumlahnya

Teknik Pengambilan Sampel

sangat besar ,tidak praktis untuk mengumpulkan data dari populasi 50 juta
murid sekolah dasar yang tersebar diseluruh pelosok Indonesia misalnya.
b. Masalah biaya
Besar-kecilnya biaya tergantung juga dari banyak sedikitnya objek yang
diselidiki. Semakin besar jumlah objek, maka semakin besar biaya yang
diperlukan, lebih lebih bila objek itu tersebar diwilayah yang cukup luas. Oleh
karena itu, sampling ialah satu cara untuk mengurangi biaya.
c. Masalah waktu
Penelitian sampel selalu memerlukan waktu yang lebih sedikit daripada
penelitian populasi. Sehubungan dengan hal itu,apabila waktu yang tersedia
terbatas, dan kesimpulan diinginkan dengan segera, maka penelitian
sampel,dalam hal ini, lebih cepat.
d. Percobaan yang sifatnya merusak
Banyak penelitian yang tidak dapat dilakukan pada seluruh populasi karena
dapat merusak atau merugikan. Misalnya, tidak mungkin mengeluarkan semua
darah dari tubuh seseorang pasien yang akan dianalisis keadaan darahnya, juga
tidak mungkin mencoba seluruh neon untuk diuji kekuatannya. Karena itu
penelitian harus dilakukan hanya pada sampel.

e. Masalah ketelitian
Adalah salah satu segi yang diperlukan agar kesimpulan cukup dapat
dipertanggung jawabkan. Ketelitian ,dalam hal ini, meliputi pengumpulan,
pencatatan, dan analisis data. Penelitian terhadap populasi belum tentu
ketelitian terselengar. Boleh jadi peneliti akan menjadi bosan dlam
melaksanakan tugasnya. Untuk menghindarkan itu semua,penelitian terhadap
sampel memungkinkan ketelitian dalam suatu penelitian.
f. Masalah ekonomis
Pertanyaan yang harus selalu diajukan oleh seseorang penelitian; apakah
kegunaan dari hasil penelitian sepadan dengan biaya ,waktu, dan tenaga yang
telah dikeluarkan? Jika tidak, mengapa harus dilakukan penelitian? Dengan
kata lain penelitian

sampel pada dasarnya akan lebih ekonomis daripada

penelitian populasi (sudjana, 1975:159-161); ( Hadari Nawawi,1923: 146-148).

Teknik Pengambilan Sampel

2.2.3 Syarat Sampel yang Baik


Secara umum, sample yang baik adalah yang dapat mewakili sebanyak
mungkin karakteristik populasi. Dalam bahasa pengukuran, artinya sample harus
valid, yaitu bisa mengukur sesuatu yang seharusnya diukur. Sample yang valid
ditentukan oleh dua pertimbangan, meliputi :
1) Akurasi atau ketepatan
Yaitu tingkat ketidakadaan bias (kekeliruan) dalam sample. Dengan
kata lain makin sedikit tingkat kekeliruan yanga ada dalam sample, makin
akurat sample tersebut. Tolak ukur adanya bias atau kekeliruan adalah
populasi.
2) Presisi
Kriteria kedua sampel yang baik adalah memiliki tingkat presisi estimasi.
Presisi mengacu pada persoalan sedekat mana estimasi kita dengan
karakteristik populasi. Presisi=standard error, Nilai rata-rata populasi
dikurangi nilai rata-rata sampel
Teknik (metode) penentuan sampel yang ideal memiliki ciri-ciri dapat
memberikan gambaran yang akurat tentang populasi, dapat menentukan presisi,
sederhana sehingga mudah dilaksanakan, dan dapat memberikan keterangan
sebanyak mungkin dengan biaya murah.
Jumlah/Besar sampel perlu mempertimbangkan hal-hal sbb:
a) Derajat keseragaman (degree of homogenity) dari populasi
b)
c)
d)
e)

completely heterogeneous
Presisi yang dikehendaki dari penelitian
Rencana analisis
Tenaga, biaya dan waktu
Besar populasi

Semakin besar sampel semakin tinggi tingkat presisi yang didapatkan.


2.2.4 Petunjuk Pengambilan Sampel
Kesalahan dalam menentukan sampel akan mengakibatkan kesalahan fatal
pula dalam menarik kesimpulan hasil penelitian. Untuk itu sangat perlu dikatahui
bagaiamana cara mengambil sample yang representatif. Menurut Winarno
Surachmad yang dikutip oleh Agus Suradika (2000:39) untuk mendapatkan

Teknik Pengambilan Sampel

sampel yang representatif perlu dipahami langkah-langkah umum berikut, (1)


Bagaimana peneliti menetapkan sifat-sifat populasi, kemudian (2) Menetapkan
perhitungan statistik untuk pengolahan data sample dan akhirnya (3) menetapkan
teknik penarikan sample.
Adapun menurut Sumadi Suryabana (1998:83) dan Margono (1997:87),
ada 4 parameter yang bias dianggap menentukan representativness, yaitu :
a) Variabilitas Populasi
Dari keempat parameter tersebut, variabilitas populasi merupakan hal yang
given, artinya peneliti harus menerima sebagaimana adanya, tidak dapat
mengatur atau memanipulasinya. Sedangkan ke-empat variable yang lain dapat
diatur atau dimanipulasi oleh peneliti untuk mendapatkan sample yang
representatif.
b) Kecermatan untuk memasukkan ciri-ciri populasi
Kecermatan memasukkan ciri-ciri populasi ke dalam sample menentukan
tingkat representatifnya sample.
c) Besar-kecilnya sample
Semakin besar sample yang diambil untuk populasi yang heterogen maka
semakin tinggi taraf representatifnya sample. Untuk populasi yang homogen
sempurna sample cukup kecil saja.
d) Teknik penentuan sample
Teknik penentuan sample (teknik sampling) adalah cara menentukan sample
yang jumlahnya sesuai dengan ukuran sample yang akan dijadikan sumber data
sebenarnya, dengan memperhatikan sifat-sifat penyebaran populasi agar
diperoleh sample yang representatif.
Menurut Aminuddin Rosyad (1987), penggunaan sample dalam penelitian, bila :
1) Jumlah populasi yang akan diteliti terlalu banyak
2) Daerah populasi amat luas dan terpencar-pencar sulit dijangkau
3) Waktu penelitian yang tersedia tidak memadai
4) Dana yang amat terbatas
5) Tenaga peneliti tidak mencukupi
6) Fasilitas yang tersedia tidak memadai

Teknik Pengambilan Sampel

7) Sarana penelitian tidak mencukupi


8) Keamanan untuk melakukan penelitian tidak terjamin.
2.2.5 Prosedur Pengambilan Sampel
Proses pengambilan sample merupakan cara-cara kita dalam memilih
sample untuk studi tertentu. Proses terdiri dari beberapa tahapan sebagai berikut :
Tahap 1 : Memilih populasi
Proses awal ialah menentukan populasi yang menarik untuk dipelajari. Suatu
populasi yang baik ialah mencakup rancangan eksplisit semua elemen yang
terlibat; biasanya meliputi empat komponen, yaitu : elemen, unit sampling,
keluasan skop dan waktu.

Tahap 2 : Memilih unit-unit sampling


Unit-unit sampling adalah unit analisa dari mana sample diambil atau berasal.
Karena kompleksitas penelitian dan banyaknya desain sample, maka pemilihan
unit-unit sampling harus dilakukan dengan seksama.
Tahap 3: Memilih kerangka sampling
Pemilihan kerangka sampling merupakan tahap yang penting karena jika
kerangka sampling yang dipilih secara memadai tidak mewakili populasi.
Maka generalisasi hasil penelitian meragukan. Kerangka sampling dapat
berupa daftar nama populasi seperti buku telepon atau database nama lainnya.
Tahap 4 : Memilih desain sample
Desain sample merupakan tipe metode atau pendekatan yang digunakan untuk
memilih unit-unit analisa studi. Desainsample sebaiknya dipilih sesuai dengan
tujuan penelitian.
Tahap 5 : Memilih ukuran sample
Ukuran sampel tergantung beberapa faktor yang mempengaruhi diantaranya
ialah :

Teknik Pengambilan Sampel

1) Homogenitas unit-unit sample : secara umum semakin mirip unit-unit


sample; dalam suatu populasi semkain kecil sample yang dibutuhkan untuk
memperkirakan parameter-parameter populasi.
2) Kepercayaan: kepercayaan mengacu pada suatu tingkatan tertentu dimana
peneliti ingin merasa yakin bahwa yang bersangkutan memperkirakan
secara nyata parameter populasi yang benar. Semakin tinggi tingkat
kepercayaan yang diinginkan, maka semakin besar ukuran sample yang
diperlukan.
3) Presisi : presisi mengacu pada ukuran kesalahan standar estimasi. Untuk
mendapatkan presisi yang besar dibutuhkan ukuran sample yang besar pula.
4) Kekuatan statistik: ialah ini mengacu pada adanya kemampuan mendeteksi
perbedaan dalam situasi pengujian hipotesis. Untuk mendapatkan kekuatan
yang tinggi, peneliti memerlukan sample yang besar.
5) Prosedur analisa : tipe prosedur analisa yang dipilih untuk analisa data dapat
juga mempengaruhi seleksi ukuran sample.
6) Biaya, waktu dan personil : pemilihan ukuran sample juga harus
mempertimbangkan biaya, waktu dan personil. Sample besar akan menuntut
biaya besar, waktu banyak dan personil besar juga.
Tahap 6 : Memilih rancangan sampling
Rancangan sampling menentukan prosedur operasional dan metode untuk
mendapatkan sample yang diinginkan. Jika dirancang dengan baik, rancangan
sampling akan menuntun peneliti dalam memilih sample yang digunakan
dalam studi, sehingga kesalahan yang akan muncul dapat ditekan sekecil
mungkin.
Tahap 7 : Memilih sample
Tahap akhir dalam proses ini ialah penentuan sample untuk digunakan pada
proses penelitian berikutnya, yaitu koleksi data.
2.2.6

Teknik Penentuan Sample


Untuk memperoleh secara maksimal sample yang representatif yang tidak

didasari oleh keinginan peneliti, ada dua teknik sampling, yaitu :


1) Random sampling (propbiality sampling)
2) Nonrandom sampling (nonprobiality sampling)

Teknik Pengambilan Sampel

Random sampling, adalah pengambilan sample secara acak. Dalam teknik


random sampling, semua individu dalam populasi baik secara sendiri-sendiri atau
bersama-sama diberik kesempatan yang sama untuk dipilih menjadi anggota
sample. Teknik ini sampai sekarang dipandang sebagian teknik yang paling baik.
Untuk menentukan anggota sample dalam random sampling dapat dilakukan
dengan cara undian, ordinal, randomisasi dari tabel bilangan random (Sutrisno
Hadi, 1980 :76, dikutip oleh Margono, 1997:125).
Sedangkan nonrandom sampling adalah teknik pengambilan sample
dimana tidak semua individu dalam populasi diberi peluang yang sama untuk
dipilih menjadi anggota sample. Teknik ini mempunyai kemungkinan lebih rendah
dalam menghasilkan sample yang representatif.

Jenis-jenis sample yang diperoleh dari teknik random sampling (probiality


sampling) ada tiga, yaitu simple random sampling, stratified random sampling
dan cluster random sampling. Sedangkan jenis-jenis sample non random sampling
(non probiality sampling) adalah : sampling sistematis, sampling kuota, sampling
aksidental, purposive sampling, sampling jenuh, dan snowball sampling
(Sugiyono, 2002; 61-63).
Penjelasan dari teknik-teknik sampling tersebut adalah sebagai berikut :
A. Probability Sampling
a) Simple random sampling
Dikatakan simple (sederhana) karena cara pengambilan sample dari semua
anggota populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada
dalam anggota populasi. Cara demikian dilakukan bila anggota populasi dianggap
homogen (Sugiyono, 2002:59). Mengenai simple random sampling (Margono,
1997: 126) menjelaskan teknik ini untuk mendapatkan sample yang langsung
dilakukan pada unit sampling. Dengan demikian setiap unit sampling sebagai
unsur populasi yang terkecil memperoleh peluang yang sama untuk menjadi
sample atau untuk mewakili populasi. Teknik ini dapat dipergunakan bilamana
jumlah unit sampling didalam suatu populasi tidak terlalu besar.

Teknik Pengambilan Sampel

10

Keuntungan menggunakan teknik ini adalah;


-

peneliti tidak membutuhkan pengetahuan tentang populasi sebelumnya;


bebas dari kesalahan-kesalahan klasifikasi yang kemungkinan dapat terjadi;
dan dengan mudah data dianalisa serta kesalahan-kesalahan yang dapat
dihitung.

Kelemahan dalam teknik ialah;


-

peneliti tidak dapat memanfaatkan pengetahuan yang dimilikinya tentang


populasi dan tingkat kesalahan dalam penentuan ukuran sample lebih besar.

b) Stratified random sampling


Dalam stratified random sampling dapat dipakai daua cara, yaitu
proposionate stratified random sampling dan disproportionate random sampling.
1) Proportionate stratified random sampling
Teknik ini digunakan bila populasi mempunyai anggota/unsur yang tidak
homogen dan berstrata secara proposional. Suatu organisasi mempunyai
pegawai dilihat dari latar belakang pendidikannya, maka populasi pegawai
tersebut berstrata. Misalnya jumlah pegawai yang lulusan S2=30, S1= 40,
STM=800, ST=900, SMEA=400, SD=300. Jumlah sample yang harus diambil
harus meliputi strata pendidikan tersebut yang diambil secara proporsional.
Keuntungannya ialah aspek representatifnya lebih meyakinkan sesuai
dengan

sifat-sifat

mengklasifikasikannya,

yang

membentuk

sehingga

dasar

mengurangi

unit-unit

yang

keanekaragamannya.

Karakteristik masing-masing strata dapat diestimasikan sehingga dapat dibuat


perbandingan.
Kerugiannya ialah membutuhkan informasi yang akurat pada proporsi
populasi untuk masing-masing strata. Jika hal tersebut diabaikan maka
kesalahan akan muncul.
2) Disproportionate random sampling
Teknik ini digunakan untuk menentukan jumlah sample, bila populasi
berstrata tetapi kurang proporsional. Misalnya populasi pegawai dari PT
tertentu berlatar pendidikan S3=3 orang, S2=4 orang, S1=90 orang, SLTA=800

Teknik Pengambilan Sampel

11

orang, SLTP=700, maka 3 orang S3 dan 4 orang S2 diambil semuanya sebagai


sample, karena dua kelompok ini terlalu kecil bila dibandingkan dengan
kelompok S1, SLTA, dan SLTP. Strategi pengambilan sample sama dengan
proporsional. Perbedaannya ialah terletak pada ukuran sample yang tidak
proporsional terhadap ukuran unit sampling karena untuk kepentingan
pertimbangan analisa dan kesesuaian.
c) Cluster Sampling (sampling daerah)
Teknik sampling daerah digunakan untuk menentukan sample bila obyek
yang akan diteliti atau sumber data sangat luas, misalnya penduduk dari suatu
Negara, Propinsi atau Kabupaten. Untuk menentukan penduduk mana yang akan
dijadikan sumber data, maka pengambilan samplenya berdasarkan daerah dari
populasi yang telah ditetapkan. Misal di Indonesia ada 30 Propinsi dan samplenya
akan menggunakan 10 propinsi, maka pengambilan 10 Propinsi itu dilakukan
secara random. Tetapi perlu diingat karena Propinsi-propinsi di Indonesia itu
berstrata, maka pengambilan samplenya harus perlu menggunkan stratified
random sampling.
Teknik sampling daerah ini sering dilakukan melalui dua tahap, yaitu tahap
pertama menentukan sample daerah, dan tahap berikutnya menentukan orangorang yang ada di daerah itu secara random juga.
Keuntungan menggunakan teknik ialah jika kluster-kluster didasarkan
pada perbedaan geografis maka biaya penelitiannya menjadi lebih murah.
Karakteristik kluster dan populasi dapat diestimasi.
Kelemahannya ialah membutuhkan kemampuan untuk membedakan
masingmasing anggota populasi secara unik terhadap kluster, yang akan
menyebabkan kemungkinan adanya duplikasi atau penghilangan individu-individu
tertentu.
B. Non Probability sampling
a) Sampling sistematis

Teknik Pengambilan Sampel

12

Sampling sistematis adalah teknik penentuan sample berdasarkan urutan


dari anggota populasi yang telah diberi nomor urut. Misalnya anggota populasi
yang terdiri dari 100 orang. Dari semua anggota itu diberi nomor urut 1 sampai
dengan 100 orang. Pengambilan sample dapat dilakukan dengan nomor ganjil
saja, atau genap saja, atau kelipatan dari bilangan tertentu, misalnya kelipatan 5,
maka yang dijadikan sample adalah anggota nomor 5, 10, 15, 20, 25 dan
seterusnya.
Keuntungan menggunakan sample ini ialah peneliti menyederhanakan
proses penarikan sample dan mudah dichek; dan menekan keanekaragaman
sample. Kerugiannya ialah apabila interval berhubungan dengan pengurutan
perdiodik suatu populasi, maka akan terjadi keanekaragaman sample.

b) Sampling kuota
Teknik quota sampling adalah teknik pengambilan sample dengan cara
menentapkan jumlah tertentu sebagai target yang harus dipenuhi dalam
pengambilan sample dri populasi (khususnya yang tidak terhingga atau tidak
jelas), kemudian dengan patokan jumlah tersebut peneliti mengambil sample
secara sembarang asal memenuhi persyaratan sabagai sample dari populasi
tersebut. Sampling quota adalah teknik untuk menentukan sample dari populasi
yang mempunyai cirri-ciri tertentu sampai jumlah (kuota) yang diinginkan.
Sebagai contoh akan melakukan penelitian terhadap pegawai golongan II
dan penelitian dilakukan secara kelompok. Setelah sample ditentukan umpamanya
100 orang, dan jumlah anggota peneliti 5 orang, maka setiap anggota peneliti
dapat memilih sample secara bebas sesuai dengan karakteristik yang ditentukan
(golongan II) sebanyak 20 orang. Pada kuota sampling banyaknya sampleyang
ditetapkan itu hanya sekedar perkiraan aka relative memadai untuk mendapatkan
data yang diperlukan yang diperkirakan dapat mencerminkan populasinya, tidak
bisa diperhitungkan secara tegas proporsinya dari populasi, karena jumlah anggota
populasi tidak diketahui secara pasti tadi. Quota sampling pasti, karenanya,
nonrandom sampling.

Teknik Pengambilan Sampel

13

c) Sampling aksidental
Sampling aksidental adalah teknik penentuan sample berdsarkan
kebetulan, yaitu siapa saja secara kebetulan bertemu dengan peneliti dapat
digunakan sebagai sample, bila dipandang ornag tersebut cocok sebagai sumber
data.
d) Purposive sampling
Purposive smapling adalah teknik penentuan sample untuk tujuan tertentu
saja. Misalnya akan melakukan penelitian tentang disiplin pegawai, maka sample
yang dipilih adalah orang yang ahli dalam kepegawaian saja.
e) Snowball sampling
Snowball sampling adalah teknik penentuan smaple yang mula-mula
jumlahnya kecil, kemudian smaple ini disuruh memilih teman-temannya untuk
dijadikan sample. Begitu seterusnya sehingga jumlah sample semakin banyak.
Ibarat bola salju yang menggelinding, makin lama makin besar.
Dalam analisis kekeliruan ketika melakukan generalisasi dari sample ke
populasi itu disebut kekeliruan baku atau galat baku (standard error). Dasar
teoritis yang dipergunakan untuk memperkirakan kekeliruan baku itu ialah teori
probabilitas. Sampel-sample tunduk pada hokum probabilitas (Sumardi Surya
Brata, 1998:84).
Keuntungannya ialah hanya digunakan dalam situasi-situasi tertentu.
Kelemahannya ialah keterwakilan dari karakteristik langka dapat tidak terlihat
disample yang sudah diplih. Disetiap jenis teknik pemilihan tersebut, terdpat
beberapa teknik yang lebih spesifik lagi. Pada sample acak (random sampling)
dikenal dengan istilah simple random sampling, stratified random sampling,
cluster sampling, systematic sampling, dan area sampling. Pada nonprobability
sampling dikenal beberapa teknik, antara lain adalah convience sampling,
purposive sampling, quota sampling, snowball sampling.
2.3

TEKNIK PENGAMBILAN SAMPEL


Tujuan Agar sampel yang diambil dari populasinya "representatif"

(mewakili), sehingga dapat diperoleh informasi yang cukup untuk mengestimasi

Teknik Pengambilan Sampel

14

populasinya. Pemilihan teknik pengarnbilan sample merupakan upaya penelitian


untuk

mendapat

sample

yang

representatif

(mewakili),

yang

dapat

menggambarkan populasinya. Teknik pengambilan sampel tersebut dibagi atas 2


kelompok besar, yaitu:
1) Probability Sampling (Random Sample)
2) Non Probability Sampling (Nonrandom Sample)
2.3.1

Probability Sampling
Pada pengambilan sampel secara random, setiap unit populasi, mempunyai

kesempatan yang sama untuk diambil sebagai sampel. Faktor pemilihan atau
penunjukan sampel yang mana akan diambil, yang semata-mata atas
pertimbangan peneliti, disini dihindarkan. Bila tidak, akan terjadi bias.
Dengan cara random, bias pemilihan dapat diperkecil, sekecil mungkin. Ini
merupakan salah satu usaha untuk mendapatkan sampel yang representatif.
Keuntungan pengambilan sample dengan probability sampling adalah sebagai
berikut:
- Derajat kepercayaan terhadap sample dapat ditentukan.
- Beda penaksiran parameter populasi dengan statistik sample, dapat diperkirakan.
- Besar sample yang akan diambil dapat dihitung secara statistik.
a) Penyimpangan (Error)
Dari hasil pengukuran terhadap unit-unit dalam sample diperoleh nilainilai statistik. Nilai statistik ini tidak akan persis sama dengan nilai parameternya.
Perbedaan inilah yang disebut sebagai Penyimpangan (Sampling Error)
Sedangkan pada non probability sampel, penyimpangan nilai sample terhadap
populasinya tidak mungkin diukur. Pengukuran penyimpangan ini merupakan
salah satu bentuk pengujian statistik. Penyimpangan yang terjadi pada
perancangan kwisioner, kesalahan petugas pengumpul data dan pengola data
disebut Non Sampling Error.
b) Cara Pengambilan Sample

Teknik Pengambilan Sampel

15

Ada 5 cara pengambilan sample yang termasuk secara random, yaitu


sebagai berikut:
1) Sample Random Sederhana (Simple Random Sampling)
Proses pengambilan sample dilakukan dengan memberi kesempatan yang sama
pada setiap anggota populasi untuk menjadi anggota sample. Jadi disini proses
memilih sejumlah sample (n) dari populasi (N) yang dilakukan secara random.
Ada 2 cara yang dikenal yaitu:
a) Bila jumlah populasi sedikit, bisa dilakukan dengan cara mengundi
"Cointoss".
b) Tetapi bila populasinya besar, perlu digunakan label "Random Numbers"
yang prosedurnya adalah sebagai berikut:
Misalnya populasi berjumlah 300 (N=300).
tentukan nomor setiap unit populasi (dari 1 s/d 300 = 3 digit/kolom).
tentukan besar sample yang akan diambil. (Misalnya 75 atau 25 %)
tentukan skema penggunaan label random numbers.
Keuntungan : Prosedur estimasi mudah dan sederhana
Kerugian : Membutuhkan daftar seluruh anggota populasi, sample mungkin
tersebar pada daerah yang luas, sehingga biaya transportasi besar.
2) Sample Random Sistematik (Systematic Random Sampling)
Proses pengambilan sample, setiap urutan ke K" dari titik awal yang
dipilih secara random, dimana:

K=

N (Jumlah anggota populasi)


n (Jumlah anggota sampel)

Misalnya, setiap pasien yang ke tiga yang berobat ke suatu Rumah Sakit, diambil
sebagai sample (pasien No. 3,6,9,15) dan seterusnya.
Cara ini dipergunakan :
Bila ada sedikit Stratifikasi Pada populasi.
Keuntungan : - Perencanan dan penggunaanya mudah.
- Sample tersebar di daerah populasi.

Teknik Pengambilan Sampel

16

Kerugian :

- Membutuhkan daftar populasi.

3) Sample Random Berstrata (Stratified Random Sampling)


Populasi dibagi strata-strata, (sub populasi), kemudian pengambilan
sample dilakukan dalam setiap strata baik secara simple random sampling,
maupun secara systematic random sampling. Misalnya kita meneliti keadaan gizi
anak sekolah Taman Kanak-kanak di Kota Madya Medan ( 4-6 tahun). Karena
kondisi Taman Kanak-kanak di Medan sangat berbeda (heterogen) maka buatlah
kriteria yang tertentu yang dapat mengelompokkan sekolah Taman Kanak-kanak
ke dalam 3 kelompok (A = baik, B = sedang, C = kurang). Misalnya untuk Taman
Kanak- Kanak dengan kondisi A ada : 20 buah dari 100 Taman Kanak-Kanak
yang ada di Kota Madya Medan, kondisi B = 50 buah C = 30 buah. Jika
berdasarkan perhitungan besar sample, kita ingin mengambil sebanyak 25 buah
(25%), maka ambilah 25% dari masing-masing sub populasi tersebut diatas. Cara
pengambilan sample 5 Kelompok A, 12-13 Kelompok B, dan 7 . 8. Kelompok C
adalah secara random karena sub populasi sudah homogen.
Keuntungan : - Taksiran mengenai karakteristik populasi lebih tepat.
Kerugian :

- Daftar populasi setiap strata diperlukan


- Jika daerah geografisnya luas, biaya transportasi tinggi.

4) Sampel Random Berkelompok (Cluster Sampling)


Pengambilan sample dilakukan terhadap sampling unit, dimana sampling
unitnya terdiri dari satu kelompok (cluster). Tiap item (individu) di dalam
kelompok yang terpilih akan diambil sebagai sample. Cara ini dipakai : bila
populasi dapat dibagi dalam kelompok-kelompok dan setiap karakteristik yang
dipelajari ada dalam setiap kelompok. Misalnya ingin meneliti gambaran
karakteristik (umur, suku, pendidikan dan pekerjaan) orang tua mahasiswa FK
USU. Mahasiswa FK dibagi dalam 6 tingkat (I s/d VI). Pilih secara random salah
satu tingkat (misal tingkat II). Maka orang tua semua mahasiswa yang berada
pada tingkat II diambil sebagai sample (Cluster).
Keuntungan : - Tidak memerlukan daftar populasi.

Teknik Pengambilan Sampel

17

- Biaya transportasi kurang


Kerugian :

- Prosudur estimasi sulit.

5) Sampel Bertingkat (Multi Stage Sampling)


Proses pengambilan sample dilakukan bertingkat, baik bertingkat dua
maupun lebih. Misalnya: Provinsi Kabupaten Kecamatan desa Lingkungan KK.
Misalnya kita ingin meneliti Berat badan dan Tinggi badan murid SMA. Sesuai
kondisi dan perhitungan, maka jumlah sample yang akan diambil lebih kurang
2000.
Cara ini dipergunakan bila:
- Populasinya cukup homogen
- Jumlah populasi sangat besar
- Populasi menempati daerah yang sangat luas
- Biaya penelitian kecil
Keuntungan : - Biaya transportasi kurang
Kerugian :

- Prosedur estimasi sulit


- Prosedur pengambilan sample memerlukan perencanaan yang
lebih cermat

2.3.2

Non Probability Sample (Selected Sample)


Pemilihan sample dengan cara ini tidak menghiraukan prinsip-prinsip

probability. Pemilihan sample tidak secara random. Hasil yang diharapkan hanya
merupakan gambaran kasar tentang suatu keadaan. Cara ini dipergunakan : Bila
biaya sangat sedikit, hasilnya diminta segera, tidak memerlukan ketepatan yang
tinggi, karena hanya sekedar gambaran umum saja. Cara-cara yang dikenal adalah
sebagai berikut :
1) Sample Dengan Maksud (Purposive Samping)
Pengambilan sample dilakukan hanya atas dasar pertimbangan penelitinya saja
yang menganggap unsur-unsur yang dikehendaki telah ada dalam anggota
sample yang diambil.
2) Sample Tanpa Sengaja (Accidental Sampling)

Teknik Pengambilan Sampel

18

Sample diambil atas dasar seandainya saja, tanpa direncanakan lebih dahulu.
Juga jumlah sample yang dikehenadaki tidak berdasarkan pertimbangan yang
dapat dipertanggung jawabkan, asal memenuhi keperluan saja. Kesimpulan
yang diperoleh bersifat kasar dan sementara saja.
3) Sample Berjatah (Quota Sampling).
Pengambilan sample hanya berdasarkan pertimbangan peneliti saja, hanya
disini besar dan kriteria sample telah ditentukan lebih dahulu. Misalnya Sample
yang akan di ambil berjumlah 100 orang dengan perincian 50 laki dan 50
perempuan yang berumur 15-40 tahun. Cara ini dipergunakan kalau peneliti
mengenal betul daerah dan situasi daerah dimana penelitian akan dilakukan.
2.4

PENENTUAN BESARNYA SAMPEL

Teknik Pengambilan Sampel

19

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan

3.2 Saran

Teknik Pengambilan Sampel

20

DAFTAR PUSTAKA

Teknik Pengambilan Sampel

21