Anda di halaman 1dari 11

Organ Paru dan Pemeriksaan Fungsi Paru-Paru

dengan Spirometri
Zeni Ansona
10.2012.192
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jalan Arjuna Utara No.6 Jakarta Barat 11510
Zeni.ansona@civitas.ukrida.ac.id
Abstrak: Paru-paru merupakan salah satu organ yang termasuk didalam sistem pernapasan
manusia dan merupakan tempat pertukaran gas O2 dengan gas CO2. Paru-paru terbagi menjadi
dua yaitu paru-paru (pulmo) kanan dan kiri dan berada didalam rongga toraks. Pada setiap
paru-paru ini terdapat lobus. Paru kanan memiliki 3 buah lobus dan pulmo kiri memiliki 2
buah lobus. Didalam lobus inilah gas O2 dengan CO2 ditukar. Pertukaran kedua gas tersebut
terjadi akibat adanya mekanisme inspirasi atau menarik napas dimana O 2 masuk kedalam
paru-paru dan mekanisme ekspirasi atau menghela napas dimana CO2 dikeluarkan dari paruparu. Banyaknya jumlah udara yang dapat masuk dan dikeluarkan dari paru-paru ditentukan
dari volume dan kapasitas paru. Volume dan kapasitas ini dapat dihitung dengan alat
spirometri. Volume dari paru setiap orang berbeda-beda satu dengan yang lain. Volume pria
dengan wanita berbeda. Selain dilihat dari jenis kelamin, faktor-faktor seperti usia, tinggi
badan dan berat badan juga dapat mempengaruhi volume pernapasan seseorang.
Kata kunci: Paru-paru, spirometri, Mekanisme.
Abstract: Lung is one organ that was included in the human respiratory system and is where
gas exchanges O2 with CO2 gas. The lungs are divided into two, namely the lungs
(pulmonary) and left and right are in the thoracic cavity. At each lung lobe was found. The
right lung has three lobes and fruit have 2 pieces left pulmonary lobes. In the lobe O 2 with
CO2 gas is exchanged. Exchange of gases are the result of inspiration or breathing mechanism
whereby O2 into the lungs and expiratory mechanism or where the CO 2 is exhaled from the
lungs removed. A large amount of air that can enter and expelled from the lungs is determined
from the volume and lung capacity. Volume and capacity can be calculated with a spirometry.
Volume of the lungs every person is different from one another. The volume of men and
women is different. In addition to views of gender, factors such as age, height and weight can
also affect a person's respiratory volume.
Key words: Lungs, spirometry,mechanism.
1

Pendahuluan
Sistem respirasi manusia terbagi atas dua bagian yakni bagian konduksi dan bagian
respirasi. Bagian konduksi merupakan sistem yang menghantarkan O2 dari udara luar menuju
paru-paru. Bagian respirasi merupakan sistem dari pertukaran gas O 2 dengan CO2. Organ yang
termasuk kedalam bagian konduksi adalah hidung, faring, laring, trakea, bronkus principalis
sampai dengan bronkiolus terminalis. Bronkiolus respiratorius sampai dengan alveolus
merupakan bagian respirasi. Dapat dikatakan paru-paru termasuk kedalam bagian respirasi.
Paru-paru terbagi menjadi dua yaitu paru-paru (pulmo) kanan dan kiri dan berada didalam
rongga toraks. Pada setiap paru-paru ini terdapat lobus. Paru kanan memiliki 3 buah lobus
dan pulmo kiri memiliki 2 buah lobus. Didalam lobus inilah gas O 2 dengan CO2 ditukar.
Pertukaran kedua gas tersebut terjadi akibat adanya mekanisme inspirasi atau menarik napas
dimana O2 masuk kedalam paru-paru dan mekanisme ekspirasi atau menghela napas dimana
CO2 dikeluarkan dari paru-paru. Banyaknya jumlah udara yang dapat masuk dan dikeluarkan
dari paru-paru merupakan volume dan kapasitas paru. Volume dan kapasitas ini dapat
dihitung dengan alat spirometri. Volume dari paru setiap orang berbeda-beda satu dengan
yang lain. Volume pria dengan wanita berbeda. Selain dilihat dari jenis kelamin, faktor-faktor
seperti usia, tinggi badan dan berat badan juga dapat mempengaruhi volume pernapasan
seseorang.
Pulmo (Paru-paru)
Makroskopis
Selama hidup pulmo kiri dan kanan lunak, berbentuk seperti spons dan sangat elastis.
Jika rongga thorax dibuka volume pulmo segera mengecil sampai sepertiga atau kurang.
Pada anak-anak, paru berwarna merah muda, tetapi dengan bertambahnya usia pulmo
menjadi gelap dan berbintik-bintik akibat inhalasi partikel-partikel debu yang terperangkap
dalam fagosit pulmo. Pulmo terletak sedemikian rupa sehingga masing-masing paru terletak
di samping kanan dan kiri mediastinum. Masing-masing paru berbentuk kerucut dan
diliputi oleh pleura visceralis, dan terdapat bebas di dalam cavitas pleuralis masing-masing,
hanya dilekatkan pada mediastinum oleh radix pulmonis. Masing-masing paru mempunyai
apex pulmonis yang tumpul, yang menonjol ke atas ke dalam leher sekitar 1 inci di atas
clavicula. Pada basis pulmonis yang konkaf terdapat diafragma. Facies costalis yang konveks
disebabkan

oleh dinding thorax yang konkaf dan facies mediastinalis yang konkaf

merupakan cetakan pericardium.1


2

Pulmo dexter sedikit lebih besar dari pulmo sinister dan dibagi oleh fissura obliqua
dan fissura horizontalis. Pulmonis dextra dibagi menjadi tiga lobus, yakni lobus superior,
lobusmedius, dan lobus inferior. Fissura obliqua berjalan dari pinggir inferior ke atas dan ke
belakang menyilang permukaan medial dan costalis sampai memotong pinggir posterior
sekitar 2,5 inci di bawah apex pulmonis. Fissura horizontalis berjalan horizontal menyilang
permukaan costalis setinggi cartilago costalis IV dan bertemu dengan fisura obliqua pada
linea axillaris media. Lobus medius merupakan lobus kecil berbentuk segitiga yang dibatasi
oleh fissura horizontalis dan fissura obliqua. Pulmo sinistra dibagi oleh fissura obliqua
dengan cara yang sama menjadi dua lobus, lobus superior dan lobus inferior. Pada pulmo
sinister tidak terdapat fissura horizontalis.1

Gambar 1. Pulmo Sinister dan Dexter.1


Mikroskopis
Secara mikroskopis pulmo terdiri atas kumpulan alveolus dan bronkiolus. Bronkiolus
mempunyai ciri tidak mengandung

tulang rawan, kelenjar, dan kelenjar limfe. Hanya

terdapat lapisan adventisia tipis yang terdiri dari jaringan ikat. Bronkiolus besar dilapisi oleh
epitel bertingkat torak bersilia dengan sedikit sel goblet, pada brosnkiolus kecil sel goblet
hilang dan sel bersilia merupakan sel kubis. Di antara sel-sel kubis tersebar sel clara yang
berperan dalm pembentukan sekret bronkiolar. Bronkiolus respiratorius merupakan tempat
dimulainya pertukaran gas pada bronkus. Dindingnya dilapisi oleh epitel selapis gepeng dan
pada dindingnya diselingi alveolus.2
Alveolus berbentuk polihedral atau heksagonal dengan letak yang saling berhimpitan
sehingga tidak semua alveolus memiliki dindingnya sendiri. Dinding alveolus merupakan
lapisan epitel selapis gepeng yang sangat tipis. Beberapa alveolus terkadang berkumpul
membentuk sakus alveolaris, celah menuju sakus ini disebut duktus alveolaris dengan dinding
yang tebal. Pada dinding alveolus terdapat stigma alveolaris, stigma ini berupa lubang yang
berfungsi untuk menghubungkan alveolus yang satu dengan yang lain.2
3

Struktur Paru-Paru
Paru-paru merupakan organ elastis, berbentuk kerucut dan berada dalam rongga
thorak. Paru terdiri atas paru kiri dan paru kanan. Setiap paru memiliki, (1) apeks, (2)
permukaan costo-vertebral, (3) permukaan mediastinal dan (4) basis. Apeks merupakan
daerah yang mencapai sterna kosta ke-1, permukaan costo-vertebral adalah permukaan yang
menempel pada dinding dada, permukaan mediastinal yang menempel pada perkardium dan
jantung dan memisahkan paru kanan dengan kiri, dan basis terletak diatas diafragma.
Paru-paru dilapisi oleh suatu membran serosa yang disebut pleura.Pleura melapisi
paru-paru dalam dua lapisan yaitu lapisan viseral dan lapisan parietal. Pleura viseral
merupakan lapisan yang menempel erat pada permukaan paru dan masuk kedalam fissura
menyebabkan terpisahnya lobus satu dengan lainnya yang kemudian pleura viseral ini
kemudian melipat kembali di daerah tampuk dan membentuk pleura parietal yang melapisi
permukaan dalam dinding dada. Kedua lapisan ini dipisahkan oleh kavum pleura yang
merupakan rongga diantara kedua lapisan ini. Rongga atau ruangan ini hanyalah ruang yang
tidak nyata dan diantara kedua pleura ini terdapat eksudat yang berfungsi sebagai pelumas
sehingga tidak terjadi gesekan antara paru-paru dengan dinding dada. Kedua lapisan ini juga
bersatu di hilus paru. Dimana hilus paru merupakan tempat masuknya alat-alat seperti
bronkus, arteri pulmonalis, vena pulmonalis, pembuluh limfe dan saraf. Selain kedua pleura
tersebut juga terdapat pleura kostalis yang melapisi iga-iga dan pleura diafragmatica yang
menutupi diafragma dan pleura servikalis yang terletak di bagian leher. Pleura tersusun atas
jaringan ikat fibrosa dengan serat elastin dan serat kolagen juga terdapat sel fibroblas. Paru
kiri terbagi menjadi dua buah lobus, yaitu lobus superior dan lobus inferior yang dipisahkan
oleh fissura oblique. Sementara paru kanan terbagi atas tiga lobus yaitu lobus superior, lobus
medius dan lobus inferior dimana antara lobus superior dengan lobus medius dipisahkan oleh
fissura horizontalis dan antara superior dan medius dengan inferior dipisahkan oleh fissura
oblique. Didalam setiap lobus ini terdapat cabang atau saluran udara yang bercabang dari
trakea yaitu bronkus. Terdapat beberapa bronkus, yang pertama yang merupakan percabangan
pertama dari trakea adalah bronkus principalis, yang kemudian masuk kedalam tiap lobus
paru menjadi bronkus lobaris. Pada paru kanan terdapat tiga bronkus lobaris, sedang di kiri
terdapat dua bronkus lobaris. Bronkus lobaris ini dipercabangkan lagi menjadi bronkus
segmentorum. Paru kanan memiliki 10 bronkus segmentorum dan pada paru kiri terdapat 8
bronkus segmentorum. Bronkus segmentorum kemudian bercabang menjadi bronkiolus
terminalis dan respiratorius.3
4

Dari bronkus respiratorius ini berlanjut dengan duktus alveolaris kemudian sakus
alveolaris dan alveolus-alveolus. Alveolus pada tiap paru berjumlah sekitar 300-500 juta.
Pertukaran antara gas O2 dengan gas CO2 terjadi di alveolus. Alveolus merupakan kantung
kecil yang disusun oleh sel epitel selapis gepeng. Pada daerah sekitar alveolus terdapat serat
elastin yang memungkinkan alveolus untuk mengembang saat proses inspirasi dan menciut
disaat ekspirasi. Tetapi bila alveolus meregang berlebihan dapat menyebabkan pecahnya
alveolus, karena terdapat serat kolagen yang berfungsi sebagai pencegah regangan yang
berlebihan. Pada dinding alveolus terdapat sebuah lubang kecil berbentuk lonjong dengan
diameter 10-15 mikrometer yang disebut stigma alveolus. Stigma alveolus berfungsi sebagai
penghubung antara alveolus yang satu dengan yang lain. Pada dinding alveolus terdapat
beberapa sel yang dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop electron, antara lain sel
alveolar tipe 1, sel alveolar tipe 2, sel alveolar fagosit dan sel endotel kapiler.3

Gambar2. Struktur Paru-Paru.3


Mekanisme Kerja Paru-Paru
Tujuan utama bernapas adalah mendatangkan O2 ke darah di paru-paru dan membuang
CO2. O2 akan berdifusi dari alveoli kedalam darah sedang CO 2 akan berdifusi dari darah ke
alveoli. Ini merupakan suatu sistem dalam bernapas atau respirasi. Peristiwa menghirup udara
segar yang kaya akan oksigen merupakan proses inspirasi, sedangkan mengeluarkan udara
yang mengandung karbondioksida merupakan proses ekspirasi. Respirasi terjadi karena
terdapatnya perbedaan tekanan antara rongga pleura dengan paru. Proses pergerakan gas
kedalam dan keluar paru dipengaruhi oleh tekanan dan volume. Tekanan yang dimaksudkan
adalah tekanan intrapleura, tekanan luar (atmosfer), dan tekanan intra alveoli. Untuk volume
dipengaruhi oleh volume dari volume rongga thorak. Tekanan dan volume ini berubah
sepanjang aktivitas dari otot respirasi. Perubahan tekanan bergantung daripada perubahan
volume yang terjadi.4

Selama inspirasi berlangsung otot disekitar daerah iga berkontraksi yaitu otot
intercostals eksterna. Kontraksi dari otot ini menyebabkan naiknya iga/costa keatas dan kea
rah depan. Pada saat yang bersamaan, diafrgama yang berbentuk menyerupai kubah
berkontraksi hingga bentuknya menjadi mendatar. Kontraksi dari kedua otot ini
meningkatakan volume dari rongga thorak. Dengan pertambahan volume, paru yang elastic
menjadi ikut teregang yang juga sekaligus mengakibatkan pertambahan volume saluran udara
dan volume alveoli. Pertambahan volume ini diikuti dengan penurunan tekanan intra alveoli
dan tekanan intrapleura sehingga kedua tekanan ini menjadi lebih rendah dari tekanan udara
luar dan udara yang bergerak dari tekanan yang lebih tinggi menuju tekanan yang lebih
rendah bebas masuk menuju alveoli didalam paru-paru. Setelah terjadi pertukaran gas maka
selanjutnya akan terjadi proses ekspirasi. Pada waktu respirasi otot intercosta eksternal dan
diafragma berelakasasi. Relaksasi dari keduanya menurunkan volume rongga thorak dan juga
sekaligus menurunkan volume paru-paru. Penurunan ini berdampak pada peningkatan
tekanan intrapleura dan tekanan intra alveoli menyebabkan tekanan luar menjadi lebih kecil
sehingga udara mengalir keluar dari alveoli dan paru.
Setelah udara masuk kedalam paru maka akan terjadi pertukaran gas. Di alveoli akan
terjadi proses difusi gas oksigen dan difusi dari karbondioksida. Kedua gas ini berdifusi dari
area bertekanan tinggi ke area dengan tekanan tinggi.4

Gambar3. Proses Inspirasi dan Ekspirasi.4


Transportasi O2
Pada keadaan normal, sekitar 97% oksigen yang diangkut dari paru ke jaringan,
dibawa dalam campuran kimiawi dengan hemoglobin di dalam sel darah merah. Sebanyak
3% sisanya diangkut dalam bentuk terlarut dalam cairan plasma dan sel darah. Dengan
demikian, pada keadaan normal hampir seluruh oksigen yang dibawa ke jaringan diangkut
hemoglobin.5
6

Molekul oksigen bergabung secara longgar dan reversibel dengan bagian heme dari
hemoglobin. Bila PO2 tinggi, seperti dalam kapiler paru, oksigen berikatan dengan
hemoglobin. Akan tetapi bila PO2 rendah, seperti dalam kapiler jaringan, oksigen dilepaskan
dari hemoglobin.
Setiap gram hemoglobin bergabung dengan 13,4 mL oksigen, sehingga dengan
konsentrasi hemoglobin sebesar 15g/dL, darah mengandung maksimum 20 mL/dL oksigen
yang terikat dengan hemoglobin. Keadaan tersebut dikenal sebagai kapasitas oksigen, yang
bervariasi sesuai dengan Hb. Jumlah sebenarnya ikatan oksigen juga bergantung pada PO 2.
Persentase tempat pengikatan yang tersedia dan telah berikatan dengan oksigen disebut
saturasi oksigen. Kandungan oksigen dalam darah setara dengan jumlah oksigen yang terikat
hemoglobin dan sedikit oksigen yang terlarut. Kecepatan peningkatan kandungan oksigen
dengan peningkatan tekanan parsial bergantung pada jumlah tempat pengikatan hemoglobin
bebas yang tersisa dan afinitasnya untuk oksigen. Sebaliknya seiring dengan terikatnya setiap
molekul oksigen dengan empat gugus hem, struktur kuartener berubah dan afinitas tempat
pengikatan yang tersisa untuk oksigen meningkat. Pengikatan kooperatif tersebut
meningkatkan kecuraman kurva disosiasi oksigen-hemoglobin di tengah, tetapi kurva
kembali mendatar pada tekanan parsial di atas 60 mmHg karena terdapat beberapa sisa
tempat pengikatan yang tidak terisi.5

Gambar 3. Kurva Disosiasi Oksihemoglobin.5


Dalam darah arteri, PO2 normal sekitar 100 mmHg, saturasi oksigen sekitar 97%, dan
dengan Hb normal kandungan oksigennya sekitar 20mL/dL. Peningkatan atau penurunan
sedang tekanan oksigen dari nilai normal, misalnya selama hiperventilasi atau hipoventilasi
ringan, menyebabkan sedikit perubahan oksigen arterial karena kurva disosiasi mendatar
pada regio ini. Penurunan PO2 yang lebih parah, sampai tingkat pada regio curam,
berhubungan dengan penurunan kandungan dan saturasi oksigen yang signifikan. Akibatnya,
udara yang kaya oksigen pada pernapasan secara signifikan dapat meningkatkan kandungan
oksigen arterial.5
7

PO2 rendah dalam kapiler jaringan menyebabkan pelepasan oksigen dari hemoglobin,
sedangkan PO2 tinggi dalam kapiler pulmonal menyebabkan pengikatan oksigen. Afinitas
hemoglobin untuk oksigen dan posisi kurva disosiasi bervariasi sesuai keadaan lokal.
Penurunan afinitas oksigen, diperlihatkan oleh pergeseran kurva ke kanan, disebabkan oleh
penurunan pH, peningkatan PCO2 (efek Bohr), atau kenaikan temperatur. Perubahanperubahan tersebut terjadi di jaringan yang aktif secara metabolik seperti otot yang bergerak
dan mendorong pelepasan oksigen. Di dalam paru, ambilan oksigen dibantu oleh afinitas
hemoglobin untuk oksigen yang meningkat, disebabkan oleh penurunan PCO 2 dan temperatur
serta peningkatan pH dan direfleksikan dengan pergerakan kurva ke kiri. PO2 pada keadaan
hemoglobin 50% jenuh disebut P50. Dalam keadaan arterial normal (pH =7,4, PCO2 = 40
mmHg, temperatur =37C) P50 = 26,3 mmHg; pergeseran ke kanan meningkatkan P50 dan
pergeseran ke kiri menurunkannya. Peningkatan konsentrasi 2,3-diphospogliserat (2,3-DPG),
yang merupakan produk sampingan gliolisis dalam sel darah merah juga menyebabkan
pergeseran kurva ke kanan.5
Transportasi CO2
Karbon dioksida (CO2) dihasilkan oleh jaringan dan dibawa di dalam darah ke paru
untuk diekspirasi. Jumlah CO2 yang dapat dibawa dalam darah jauh lebih besar daripada
jumlah O2 yang, seperti yang terlihat pada kurva disosiasi CO 2. Kurva disosiasi CO2 lebih
linear dan tidak mencapai plateau. CO 2 di bawa di dalam darah sebagai ion bikarbonat,
setelah senyawa karbamino bercampur dengan protein atau benar-benar terlarut dalam
plasma. Di dalam darah vena campuran sekitar 60%

CO2 dibawa dalam bentuk ion

bikarbonat. CO2 dan air bercampur membentuk asam karbonat (H 2CO3) dan kemudian
bikarbonat (HCO3 ). Asam karbonat terbentuk dari reaksi CO2 dengan H2O yang dibantu
oleh enzim karbonat anhidrase, enzim ini terdapat pada sel darah merah. Ionisasi asam
karbonat menjadi ion bikarbonat dan H+ berlangsung cepat pada keadaan tanpa enzim. Oleh
karena itu, ion bikarbonat cenderung terbentuk di dalam sel darah merah, kemudian secara
mudah berdifusi ke plasma. Namun, membran sel darah merah tidak permeabel terhadap ion
H+ sehingga ion-ion ini menetap di dalam sel.6
Untuk mempertahankan netralitas listrik, ion Cl berdifusi ke dalam sel darah merah
untuk menggantikan ion bikarbonat, suatu efek yang dikenal sebagai pergeseran klorida.
Penambahan H+ dalam sel darah merah akan mengganggu keseimbangan kimia sehingga
membatasi pembentukan ion bikarbonat. Namun H+ berikatan kuat dengan hemoglobin
tereduksi (mengalami deoksigenasi), yaitu hemoglobin yang bekerja sebagai suatu
8

penyangga, sehingga peningkatan konsentrasi H + terbatas dan lebih banyak ion bikarbonat
yang dapat terbentuk. Hemoglobin teroksigenasi tidak mengikat H + dengan baik karena
bersifat lebih asam. Keadaan tersebut berperan pada efek Haldane yang menyatakan bahwa
pada PCO2 berapa pun, kandungan CO2 dalam darah yang terdeoksigenasi lebih besar
daripada dalam darah yang teroksigenasi. Sebagai akibatnya, bila darah melepaskan oksigen
ke jaringan yang berespirasi, yaitu menjadi terdeoksigenasi, maka darah mampu mengambil
lebih banyak CO2 yang dihasilkan oleh jaringan. Sebaliknya, oksigenasi hemoglobin dalam
paru membantu mengeluarkan CO2 dari darah sehingga dapat diekspirasi. Sebagai akibat dari
keadan tersebut, sel-sel darah merah yang mengalami deoksigenasi memiliki osmolalitas
intraselular yang lebih tinggi sehingga air masuk, menyebabkan sel sedikit membesar. Di
dalam paru, CO2 dilepaskan, osmolalitas berkurang, dan sel darah merah mengecil kembali.6

Gambar 4. Kurva disosiasi CO2.6


CO2 bercampur secara cepat dengan gugus amino terminal pada protein untuk
membentuk senyawa karbamino. Di dalam darah, protein yang paling lazim adalah
hemoglobin,

yang

bercampur

karbaminohemoglobin.2,6,10Hemoglobin

dengan
tereduksi

CO 2
lebih

mudah

untuk

membentuk

membentuk

senyawa

karbamino daripada hemoglobin yang teroksigenasi dan hal tersebut juga memberi kontribusi
pada efek Haldane. Sekitar 30% dari CO2 ekspirasi dibawa ke paru sebagai senyawa
karbamino.10 CO2 sekitar 20 kali lebih larut dalam air dibandingkan O 2. Oleh karena itu, CO2
ekshalasi dalam proporsi signifikan akan dibawa ke paru dan larut dalam plasma. Akibat efek
Haldane, proporsi CO2 yang dibawa dalam darah sebagai ion bikarbonat, senyawa
karbamino, dan yang mudah larut berbeda antara darah arterial teroksigenasi dan darah vena
campura yang teroksigenasi.6
9

Volume Kapasitas Paru-Paru


Pemeriksaan Menggunakan Spirometri
dikatakan statis dan dinamis. Statis merujuk kepada tes yang berdasarkan volume paru-paru,
sedang dinamis merujuk kepada tes yang berdasarkan aliran udara terhadap waktu selama tes
spirometri. Pada mekanisme statis yang diukur adalah volume tidal (VT), volume cadangan
inspirasi (IRV), volume cadangan ekspirasi (ERV), volume residu (RV), kapasitas total paru
(LTC), kapasitas vital (VC), kapasitas inspirasi (IC), dan kapasitas residu fungsional (FRC).
Hanya volume residu yang tidak dapat dihitung menggunakan spirometri. Mekanisme
dinamis lebih sensitif dalam peramalan disfungsi paru pasca bedah. Ukuran yang dilihat
dalam mekanisme dinamis adalah kapasitas vital paksa, volume ekspirasi paksa, dan ventilasi
volunter maksimum. Kapasitas vital paksa (FCV) adalah volume udara maksimum yang dapat
dihembuskan secara paksa dengan usaha ekspirasi maksimum. Volume ekspirasi paksa (FEV)
adalah volume udara yang dapat diekspirasi paksa dengan dalam satu detik pertama. Ventilasi
volunter maksimum (MVV)

adalah jumlah udara yang dapat dihirup dengan usaha

maksimum dalam satu menit. Pada MVV yang dihitung adalah 15 detik setelah ventilasi yang
sebenarnya. Tes spirometri dilakukan dengan memasangkan mouthpiece kedalam mulut
pasien. Sebelumnya dilakukan anamnesa terlebih dahulu dan mencatat pula tinggi dan berat
badan pasien. Masukkan data jenis kelamin, umur, tinggi badan dan berat badan pasien, maka
spirometri akan menghitung nilai prediksi volume dan kapasitas pasien. Setelah mouthpiece
telah terpasang pada mulut pasien, jepitlah hidung pasien dengan penjepit hidung.
Selanjutnya pasien diminta untuk menarik napas dalam dan menghembuskannya. Yang akan
dicontohkan berikut adalah pengukuran statis dan FCV dengan FEV. Untuk mengukur
volume tidal maka pasien diminta menarik dan mengeluarkan napas dengan normal dan
dilakukan sekitar tiga kali. Kemudian minta pasien menarik napas yang dalam dan
mengeluarkannya dengan kuat. Ini dilakukan untuk mengukur IRV dan ERV.7
Kesimpulan
Respirasi terjadi di dalam paru-paru yang dikendalikan oleh medulla oblongata dan
terdapat dua pusat pernapasan lain yang terletak lebih tinggi di batang otak di pons, yakni
pusat pneumotaksik dan pusat apneustik. Kedua pusat di pons ini mempengaruhi sinyal
keluar dari pusat pernapasan di medulla. Pada respirasi,terdapat otot-otot yang berperan. Pada
manusia, udara maksimal yang dapat ditampung paru adalah sekitar 5,7 liter pada pria dan
4,2 liter pada wanita. Dan terdapat jenis volume pada respirasi. Antara lain,volume
tidal,dimana volume tidal merupakan volume udara paru yang didapat dari inspirasi dan
ekspirasi biasa,jumlah udara yang masih dapat masuk ke dalam paru pada inspirasi maksimal,
10

setelah inspirasi biasa disebut volume cadangan inspirasi (inspiratory reserve volume / IRV).
Jumlah udara yang dapat dikeluarkan secara aktif dari dalam paru melalui kontraksi otot
ekspirasi, setelah ekspirasi biasa disebut volume cadangan ekspirasi (expiratory reserve
volume / ERV), Udara yang masih tertinggal di dalam paru setelah ekspirasi maksimal disebut
volume residu (residual volume). Untuk mengukur volume tersebut dapat melakukan
pemeriksaan spirometri. Dimana pemeriksaan spirometri digunakan untuk mengetahui
kapasitas paru.
Daftar Pustaka
1. Sloane E. Anatomi dan Fosiologi untuk pemula. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC;
2004.Hal.266-77.
2. Snell RS. Anatomi klinik untuk mahasiswa kedokteran. Ed-6. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC; 2006.Hal 84-90, 795-809.
3. Gibson J. Fisiologi dan anatomi modern untuk perawat. Edisi 2. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC; 1990. Hal 144-51.
4. Pearce EC. Anatomi dan fisiologi untuk paramedis. Jakarta: PT Gramedia; 2008. Hal 21922.
5. Ward JPT, Ward J, Leach RM, Wiener CM. At a glance: Sistem Respirasi. Ed-2. Jakarta:
Penerbit Erlangga;2008.Hal.24-32.
6. Ganong WF. Buku ajar Fisiologi Kedokteran. Ed-20. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
EGC; 2003.Hal.586-94.
7. Sherwood L. Fisiologi manusia dari sel ke ke sistem. Ed-6. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC; 2011.Hal.497-544.

11