Anda di halaman 1dari 3

Cinta yang Mengalahkan AIDS

Oleh Syaiful W. Harahap*

Jakarta, 16/6-2002. Epidemi HIV sudah menyentuh semua lapisan masyarakat. Secara
global kasus kumulatif HIV/AIDS sampai akhir 1999 sudah mencapai 34,3 juta.
Sedangkan di Indonesia sampai 30 September 2001 sudah mencapai 2.313.
Bagaimanapun, epidemi HIV akan bersinggungan dengan hubungan antar manusia yang
sangat pribadi.

Ketika epidemi HIV dipublikasikan di Amerika Serikat pada tahun 1981 masyarakat
dunia masih adem-ayem karena banyak yang belum terkait langsung dengan AIDS.
Apalagi, ketika itu kasus-kasus awal AIDS dideteksi di kalangan pria gay.

Banyak orang yang tidak peduli. Tetapi, ketika infeksi HIV ditemukan di kalangan
pekerja seks wanita masyarakat mulai panik. Soalnya, maaf, siapa tahu pacar atau suami
tercinta pernah bermain cinta dengan pekerja seks. Sebagai virus, ketika itu penularan
HIV sudah diketahui antara lain melalui hubungan seks (sanggama) yang tidak aman
(tidak memakai kondom).

Lambat laun epidemi HIV muncul juga di negeri ini. Catatan resmi pemerintah
menyebutkan kasus pertama AIDS ditemukan pada seorang turis asing di Bali (1987).
Masyarakat mulai menyadari AIDS sudah ada di Indonesia. Apalagi setahun kemudian
seorang warga negara Indonesia juga meninggal karena AIDS. Kasus-kasus berikutnya
diidentifikasi di kalangan pekerja seks wanita. Berbagai tanggapan dan komentar yang
muncul pun akhirnya bermuara kepada stigma (cap negatif) terhadap Orang dengan
HIV/AIDS (Odha). Mitos (anggapan yang salah) tentang HIV/AIDS, seperti AIDS
penyakit bule, AIDS ada di lokalisasi pelacuran, dll. pun tumbuh subur sehingga banyak
orang yang mengabaikan HIV sebagai fakta medis.

Di tengah galau dan hiruk-pikuk stigma terhadap Odha nun di sebuah kota di belahan
timur Nusantara ada sepasang anak manusia, sebut saja Tono dan Tina, memadu asmara.
Tono tahu persis kalau pacarnya, seorang mantan pekeja seks, didiagnosis HIV-positif.
Bahkan, benih cinta mereka bersemi di pusat rehabilitasi sosial di kota itu.

Sebagaimana layaknya cerita roman ternyata cinta bisa mengalahkan segalanya. Stigma
dan mitos tentang HIV/AIDS sama sekali tidak membuat pasangan yang dilanda asmara
ini untuk mengurungkan niat mereka membentuk mahligai rumah tangga. Tono dan Tini
pun sepakat untuk melanjutkan asmara mereka ke pelaminan.

Ketika rencana mereka untuk menikah dipublikasikan media massa banyak kalangan
yang kalang kabut. Mulai dari aparat pemda, pakar hukum sampai tokoh agama. Semua
memberikan pendapat dan komentar yang terkadang tidak objektif. Persiapan pernikahan
mereka terus berjalan. Tono dan Tini sudah bersikukuh untuk tetap menikah yang
merupakan perwujudan cinta mereka.
Orang-orang yang buka mulut itu rupanya tidak tahu kalau Tono dan Tini sudah lama
mendapat konseling dari sebuah LSM di sana tentang HIV/AIDS sehingga pasangan ini
pun tahu persis risiko yang akan timbul dan cara pencegahannya. Mereka sudah
mengetahui tidak akan bisa mempunyai belahan hati karena kalau Tini hamil maka ada
kemungkinan janinnya tertular HIV. Tono pun tahu persis kalau suatu saat Tini akan
menunjukkan gejala-gejala penyakit yang terkait dengan AIDS. Inilah yang mereka
dapatkan dari konseling selama empat bulan sebelum akhirnya mereka memutuskan
untuk mengikat janji di depan tuan kadi.

Pernikahan mereka agak terhambat bahkan nyaris gagal karena KUA (Kantor Urusan
Agama) setempat enggan menikahkan pasangan ini. Padahal, dalam UU Perkawinan
tidak ada satu ayat pun yang menyebutkan pasangan HIV tidak boleh menikah. Berkat
dukungan LSM Tono dan Tini pun mengikat janji sehidup semati (1997). Rupanya, niat
mulia mereka dihadang orang-orang yang berpandangan sempit dan hanya melihat
HIV/AIDS dari sisi yang tidak akurat.

Syukurlah, jalan yang mereka pilih untuk menghindarkan diri dari perzinaan itu akhirnya
dikukuhkan oleh KUA setempat. Ketika hendak menikah yang mereka persiapkan adalah
kondom karena benda itulah yang dapat merekatkan cinta mereka mengarungi bahtera
rumah tangga. LSM yang mendampingi pasangan ini sudah membelaki mereka dengan
persediaan kondom yang lebih dari cukup. Inilah yang tidak diketahui oleh pakar dan
tokoh agama di sana ketika rencana mereka untuk menikah menjadi berita utama di
media massa nasional.

Pasangan Tini dan Tono terus-menerus dipantau oleh dr. Syabir Siwu, psikiater di
Makassar, Sulawesi Selatan. Setiap priode darah pasangan itu dites. Syukurlah. Sudah
empat tahun lebih mereka menikah Tono tetap HIV-negatif. Ini menunjukkan mereka
tetap memakai kondom ketika melakukan hubungan suami-istri yang merupakan bagian
dari cinta kasih mereka. Ini lagi-lagi membuktikan HIV pencegahan HIV dapat dilakukan
dengan cara-cara yang sangat realistis.

Perjalanan hidup pasangan ini rupanya tidak mulus. Penduduk di sekitar rumah
kontrakan mereka rupanya curiga melihat Tini yang sering memakai T-shirt yang ada
tulisan AIDS. Ada penduduk yang membanding-bandingkan wajah Tini dengan foto
pernikahan mereka yang dimuat oleh media cetak setempat. Celaka. Wajah Tini sama
seperti foto pengantin itu. Pasangan ini pun diusir. Padahal, Tini sangat bangga memakai
kaos itu karena kaos itu merupakan kenang-kenangan dari Bali ketika dia diundang
mengikuti pertemuan Odha. Namun, kaos itu pula yang membawa malapetaka.

Setelah mendapat kontrakan baru hati pasangan ini lega dan mereka memulai hidup baru.
Tetapi, lagi-lagi ketengangan mereka terusik karena ada pula tetangga yang yakin Tini
adalah pasangan Odha yang menikah. Pasangan ini pun kembali diusir. Rupanya,
masyarakat selama ini menerima informasi yang keliru tentang HIV/AIDS. Jangankan
bergaul bertetangga pun masyarakat tidak rela. Padahal, sudah terbukti selama empat
tahun lebih sebagai suami-istri pun tidak terjadi penularan selama cara-cara pencegahan
diterapkan dengan benar.
Kalau pasangan itu tetap konsisten memakai kondom ketika melakukan hubungan seks
maka risiko penularan HIV dari Tini ke Tono pun dapat ditekan. Api asmara mereka
tetap menyala-nyala yang diwujudkan dengan hubungan seks walaupun salah satu dari
pasangan itu HIV-positif.

* Penulis pemerhati masalah HIV/AIDS melalui LSM (media watch) ”InfoKespro”


Jakarta (E-mail: infokespro@yahoo.com).