Anda di halaman 1dari 65

BAB VI

SISTEM POLITIK DI INDONSIA

Standar Kompetensi :
6. Menganalisis Sistem Politik di Indonesia.
Kompetensi Dasar :
6.1. Mendeskripsikan supra struktur dan infra struktur politik di
Indonesia.
6.2. Mendeskripsikan perbedaan sistem politik di berbagai negara.
6.3. Menampilkan peran serta dalam sistem politik di Indonesia.

A. PENDAHULUAN

------------------------------- ada gambar suasana kampanye/pemilu


--------------------------------------

Manusia diciptakan Tuhan sebagai makhluk monodualis, artinya di


samping sebagai makhluk pribadi manusia juga merupakan makhluk
sosial. Sebaagai makhluk sosial (homo socius), manusia merupakan
makhluk yang pada dasarnya selalu ingin bergaul dan berkumpul dengan
manusia lain. Sebagai makhluk sosial, sesungguhnya manusia tidak dapat
memenuhi kebutuhannya tanpa bantuan orang lain. Manusia dengan
aktivitasnya, telah membentuk kelompok-kelompok di dalam suatu
wilayah tertentu yang dapat disebut dengan masyarakat. Menurut
Robert Mac Iver, masyarakat adalah suatu sistem hubungan-hubungan
yang tertib/teratur (Society means a system of ordered relations).
Diantara hubungan-hubungan yang dilakukan antarmanusia, terdapat
suatu hubungan yang sangat mempengaruhi sebagian besar aspek
kehidupan manusia. Hubungan tersebut adalah hubungan politik dalam
satu kesatuan sistem. Dalam sistem politik, manusia akan
mengembangkan kegiatan-kegiatan yang diarahkan untuk membuat,
melindungi, dan mengubah aturan yang dimaksudkan untuk kebaikan
bersama. Di dalam sistem politik inilah manusia membentuk hubungan-
hubungan yang mengarah pada terbentuknya suatu masyarakat politik.
Pada sistem politik di Indonesia, peran masyarakat sangat penting
dalam mengembangkan lembaga-lembaga politik formal baik di daerah
maupun di pusat. Pada hakekatnya sistem politik merupakan
seperangkat interaksi yang diabstraksikan dari totalitas perilaku sosial
melalui nilai-nilai yang disebarkan untuk masyarakat. Suatu sistem politik
diharuskan memiliki kemampuan untuk mempertahankan kehidupan,
kelanggengan, berkelanjutan, mempunyai dorongan alamiah, serta

1
bertahan dalam segala kondisi lingkungan yang menekannya sampai
batas tertentu.
Sistem politik identik dengan kehidupan politik masyarakat (social
political life, Infrastruktur) dan kehidupan politik pemerintah
(governmental political life, supra struktur). Pemerintah dalam sistem
politik merupakan mekanisme formal atau mesin resmi negara disamping
pranata sosial-politik lainnya yang tidak resmi.

A. SISTEM POLITIK
Sebelum kita memahami tentang apa dan bagaimana tentang sistem
politik, alangkah baiknya jika pemahaman tentang ”sistem” dan ”politik”
terlebih dahulu telah diketahui. Meskipun dalam kehidupan sehari-hari
istilah ini sering dijumpai, namun penjelasan lebih lanjut tentang sistem
dan politik akan diuraikan sebagai berikut.

Fokus Kita :
Pengertian Sistem dalam Webster,s New Collegiate Dictionary
teridiri dari kata “syn” dan “histanai” (greek) yang berarti to place
together, menempatkan bersama. Dijelaskan lebih lanjut bahwa system
is a complesx of ideas, principle etc forming a coherent whole, as the
American system of government yang artinya adalah suatu kumpulan
pendapat-pendapat, prinsip-prinsip dan lain-lain yang membentuk
suatu kesatuan yang berhubung-hubungan satu sama lain, seperti

Prof. Pamudji mengartikan ”sistem” sebagai suatu kebulatan atau


keseluruhan yang kompleks atau terorganisir, suatu himpunan atau
perpaduan hal-hal atau bagian-bagian yang membentuk suatu kebulatan
atau keseluruhan yang kompleks atau utuh. Suatu kebulatan atau
keseluruhan yang utuh, di mana di dalamnya terdapat komponen-
komponen yang pada gilirannya merupakan sistem tersendiri yang
mempunyai fungsi masing-masing, saling berhubungan satu sama lain
menurut pola, tata atau norma tertentu dalam rangka mecapai suatu
tujuan.
Sistem dapat pula diartikan sebagai kumpulan fakta-fakta, pendapat-
pendapat, kepercayaan-kepercayaan dan lain-lain yang disusun dalam
suatu cara yang teratur; seperti sistem filsafat. Ada juga yang
mengartikan bahwa sistem selalui dimulai dari suatu tempat dan diakhiri
di tempat lain pula. Kalau kita kaitkan langsung dengan sistem politik
bukanlah pekerjaan gampang, sebab sistem politik bukan diatur oleh
orang perorangan, tapi oleh peranan yang telah melembaga. Jadi sistem
dianggap sebagai ”pola yang relatif tetap” dri hubungan antara manusia
yang melibatkan makna yang luas dari kekuasaan, aturan-aturan dan
kewenangan.

2
Kata ”politik” berasal dari kata Yunani ”polis” yang berarti kota yang
berstatus negara/negara kota, seperti dalam Webster,s New Collegiate
Dictionary, berasal dari kata “polis” yang berarti “city state” – negara
kota. Segala aktivitas yang dijalankan oleh Polis untuk kelestarian dan
perkembangannya disebut “politike techne” (politika). Berdasarkan
pengertian tersebut, maka politik pada hakikatnya “the art and science of
government” atau seni dan ilmu memerintah.
Dalam pengertian umum, politik adalah “macam-macam kegiatan
dalam suatu sistem politik/negara yang menyangkut proses menentukan
dan sekaligus melaksanakan tujuan-tujuan sistem itu”. Dapat juga
pengambilan keputusan mengenai apa yang menjadi tujuan sistem
politik, seleksi dari beberapa alternatif dan penyusunan skala prioritas
tujuan-tujuan yang telah dipilihnya. Politik juga merupakan proses
pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyarakat yang antara
lain berwujud proses pembuatan keputusan, khususnya dalam negara.
Dalam sudut pandang yang berbeda, politik dapat diartikan sebagai
berikut :
1. Politik adalah seni dan ilmu untuk meraih kekuasaan secara
konstitusional maupun nonkonstitusional.
2. Politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan
kebaikan bersama (teori klasik Aristoteles).
3. Politik adalah hal yang berkaitan dengan penyelenggaraan
pemerintahan dan negara.
4. Politik merupakan kegiatan yang diarahkan untuk mendapatkan dan
mempertahankan kekuasaan di masyarakat.
5. Politik adalah segala sesuatu tentang proses perumusan dan
pelaskanaan kebijakan publik.

1. Pengertian Sistem Politik


Suatu sistem politik terdiri dari interaksi peranan para warga
negara. Orang sama dalam sistem politik dapat sekaligus memainkan
peranan lain seperti dalam sistem ekonomi, sosial, keagamaan dan
lain-lain. Para ahli politik dalam memberikan batasan tentang sistem
politik sangat beragam, antara lain sebagai berikut ;
a. Rusandi Simuntapura
Sistem politik ialah mekanisme seperangkat fungsi atau peranan
dalam struktur politik dalam hubungan satu sama lain yang
menunjukkan suatu proses yang langgeng.
b. Sukarna
Sistem politik ialah suatu tata cara untuk mengatur atau mengolah
bagaimana memperoleh kekuasaan di dalam negara, mengatur
hubungan pemerintah dan rakyat atau sebaliknya, dan mengatur
hubungan antara negara dengan negara atau dengan rakyatnya.
Dengan singkat dapat dikatakan bahwa sistem politik ialah tata
cara mengatur negara.
c. David Easton
Sistem politik dapat diperkenalkan sebagai interaksi yang
diabstraksikan dari seluruh tingkah laku sosial sehingga nilai-nilai
dialokasikan secara otoritatif kepada masyarakat.

3
d. Robert Dahl
Sistem politik merupakan pola yang tetap dari hubungan antara
manusia serta melibatkan sesuatu yang luas dan berarti tentang
kekuasaan, aturan-aturan, dan kewenangan.
e. Almond
Sistem politik adalah sistem interaksi yang ditemui dalam
masyarakat merdeka serta menjalankan fungsi integrasi dan
adaptasi. Fungsi integrasi yang dijalankan oleh sistem politik adalah
untuk mencapai kesatuan dan persatuan dalam masyarakat yang
bersangkutan. Fungsi adaptasi adalah fungsi penyesuaian terhadap
lingkungan.

Fokus Kita :
Sistem politik dapat diartikan sebagai seperangkat interaksi
yang diabstrasikan dari totalitas perilaku sosial melalui nilai-nilai
yang disebarkan untuk suatu masyarakat. Suatu sistem politik
harus mempunyai kemampuan untuk mempertahankan kehidupan
(viability), langgeng dan berkelanjutan serta mempunyai dorongan
alamiah (propensity) bertahan (persisting) dalam segala kondisi

Berdasarkan pengertian tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa


dalam sistem politik mencakup hal-hal sebagai berikut :
a. Fungsi integrasi dan adaptasi terhadap masyarakat, baik ke dalam
maupun keluar.
b. Penerapan nilai-nilai dalam masyarakat berdasarkan kewenangan.
c. Penggunaan kewenangan atau kekuasaan, baik secara sah ataupun
tidak.

2. Ciri-ciri Umum Sistem Politik.


Sistem politik baik modern maupun primitif sifatnya memiliki ciri-ciri
yang ada padanya – Almond dalam The Politics of Developing Areas,
mengatakan ada 4 (empat) ciri dalam sistem politik :
a. Semua sistem politik termasuk yang paling sederhana
mempunyai kebudayaan politik. Dalam pengertian bahwa
masyarakat yang paling sederhanapun mempunyai tipe struktur
politik yang terdapat dalam masyarakat yang paling kompleks
sekalipun. Tipe-tipe tersebut dapat diperbandingkan satu sama lain
sesuai dengan tingkatan dan bentuk pembidangan kerja yang
teratur.
b. Semua sistem politik menjalankan fungsi-fungsi yang
sama walaupun tingkatannya berbeda-beda yang ditimbulkan
karena perbedaan struktur. Hal ini dapat diperbandingkan yaitu
bagaimana fungsi-fungsi itu tadi sering dilaksanakan atau tidak dan
bagaimana gaya pelaksnaannya.
c. Semua struktur politik biar bagaiamanapun juga
dispesialisasikannya baik pada masyarakat yang primitif maupun
yang yang modern melaksanakan banyak fungsi. Oleh karena itu

4
sistem politik dapat membandingkan sesuai dengan tingkat
kekhususan tugas.
d. Semua sistem politik adalah sistem campuran dalam
pengertian kebudayaan. Secara rasional tidak ada struktur dan
kebudayaan yang semuanya modern atau semuanya primitif
melainkan dalam pengertian tradisional, semuanya adalah
campuran atara unsur modern dan tradisional.
Dalam memahami cara kerja sistem politik pada umumnya, peran
input dan output mempunyai pengaruh besar terhadap kebijakan
publik. Hoogerwerf berpendapat bahwa ”input” bisa berasal dari
sistem lain, misalnya sistem ekonomi, misalnya sistem ekonomi.
Sistem ekonomi yang terkena dampak dari kebijaksanaan pemerintah
akan memberikan reaksi tertentu, mungkin memperkuat atau
bertentangan. Reaksi ini merupakan input bagi sistem politik untuk
diproses lebih lanjut. Di samping itu, input juga bisa berasal dari
perilaku politik berupa unjuk rasa/demonstrasi atau tindakan makar
sebagai dampak dari output sistem politik.
Cara kerja sistem politik berdasarkan input dan output yang
demikian, digambarkan oleh Hoogerwerf sebagai berikut :

SISTEM
EKONO
MASUKAN (INPUT) MI

UMPAN BALIK Dampak


kebijaksan
aan
Sistem
pemerinta
Budaya
HASILh
MASUKAN (Input) Politik
(Output)
Referensi Struktur Kebijaksanaa
Kebijaksanaan Politik
Penge Integ- n
sarana kekuasaan m- rasi pemerintah
bangan Dampak
kebijaksan
Politik
aan
pemerinta
UMPAN BALIK h

SISTEM
TEKNIS

3. Macam-macam Sistem Politik


Macam-macam sistem politik yang hendak diuraikan, sesungguhnya
merupakan tipe, atau model yang mendasarkan pada sudut kesejarahan
dan perkembangan sistem politik dari berbagai negara yang disesuaikan
dengan perkembangan kultur dan struktur masyarakatnya.

5
 Almond dan Powell, membagi 3 (tiga) katagori sistem
politik yakni :
a. Sistem-sistem primitif yang intermittent (bekerja dengan
sebentar-sebentar istirahat). Sistem politik ini sangat kecil
kemungkinannya untuk mengubah peranannya menjadi
terspesialisasi atau lebih otonom. Sistem ini lebih mencerminkan
suatu kebudayaan yang samar-samar dan bersifat keagamaan
(parachiale).
b. Sistem-sistem tradisional dengan struktur-struktur bersifat
pemerintahan politik yang berbeda-beda dan suatu kebudayaan
“subyek”.
c. Sistem-sistem modern di mana struktur-struktur politik
yang berbeda-beda (partai-partai politik, kelompok-kelompok
kepentingan dan media massa) berkembang dan mencerminkan
aktivitas budaya politik “participant”.
 Alfian, mengklasifikasikan sistem politik menjadi 4
(empat) tipe, yakni :
a. Sistem politik otoriter/totaliter
b. Sistem politik anarki
c. Sistem politik demokrasi
d. Sistem politik demokrasi dalam transisi.

Ramlan Surbakti dalam mengklasifikasikan sistem politik


menggunakan model sistem politik dengan empat macam kriteria,
sebagai berikut :
Perbandingan Sistem Politik
Jenis Sispol Sistem Sistem Sispol
Variabel Otokrasi Politik Politik Negara
Tradisional Totaliter Demokrasi Berkemban
g
Kebaikan Tidak ada Tidak ada Ada Tidak tetap/
Bersama persa-maan persa-maan persamaan mencari
dan kebeba- dan kebeba- dan bentuk.
san politik. san politik. kebebasan Tidak tentu.
Ada Sama rata politik. Tidak
stratifikasi dan sama ada
ekono-mi, rasa dalam stratifikasi
nilai & moral. kebutuhan ekono-mi
materiil. materiil/
moril.

Identitas Primordial Bersifat Bersatu Campur


Bersama (sara). sakral. dalam tangan
Pemimpin Ideologi perbedaan. pemerintah
lam-bang sebagai begitu luas.
kebersama- agama politik.
an.

6
Hubungan Pribadi Monopoli, Distribusi. Dominatif,
Kekuasaa negatif, sentral, Kekua-saan ne-gatif,
n sedikit tunggal dan yang relatif paksaan ta-
konsensus non- merata. Ada pi dapat
Ada pada konsensus. pada dengan
Raja/ Emir. Ada Pimpinan Presiden/ konsensus.
partai. Perda-na Ada pada
Menteri. Presiden/
PM.

Legitimasi Otokrat, Totaliter, Rule of law Belum ada


Kewena- berdasar doktri-ner dan dan pola/ pihak
ngan. tradisi. paksaan. konstitusional penguasa.
.

Hubungan Penguasa Partai Rakyat ambil Pola


Politik & kaya dan pengendali bagi-an hubungan,
Ekonomi. rakyat miskin. politik dan secara aktif/ baru
ekono-mi mekanisme mencari
rakyat. pasar. bentuk
(sentral/
desentralisas
i).

Bonus Info Kewarganegaraan


David Easton dalam buku A Systems Analysis of Political Life,
mengatakan “Sistim politik adalah keseluruhan dari interaksi-interaksi
yang mengatur pembagian nilai-nilai secara autoritatif (berdasarkan
wewenang) untuk dan atas nama masyarakat”.
Tentang “Bidang-bidang Ilmu Politik”, dalam Contemporary
Political Science (terbitan UNESCO 1950), ilmu politik dibagi dalam
empat bidang :
1. Teori Politik :
a. Teori politik
b. Sejarah perkembangan idee-idee politik.
2. Lembaga-lembaga politik :
a. Undang-Undang Dasar
b. Pemerintahan Nasional
c. Pemerintah Daerah dan Lokal
d. Fungsi ekonomi dan sosial dari pemerintah
e. Perbandingan lembaga-lembaga politik.
3. Partai-partai, Golongan-golongan (groups) dan Pendapat Umum :
Partai-partai Politik
a. Golongan-golongan dan Asosiasi-asosiasi
b. Partisipasi warga negara dalam pemerintah dan administrasi
c. Pendapat umum
4. Hubungan Internasional :

7
a. Politik Internasional
b. Organisasi-organisasi dan Administrasi Internasional
c. Hukum Internasional

Menurut Almond dan Coleman terdapat bermacam-macam sistem


politik yang terpenting, khususnya yang banyak berlaku di negara-negara
berkembang. Diantara sistem politik yang ada antara lain sebagai
berikut :

Nama
N
Sistem Uraian/Keterangan
o
Politik
a. Demokrasi Demokrasi Politik adalah suatu sistem di mana ada
Politik kekuasaan legislatif, eksekutif, dan yudikatif yang
berfungsi. Kekuasaan legislatif dipiliih secara periodik
dalam pemilu yang bebas. Badan tersebut
mengontrol eksekutif. Terdapat macam-macam
kelompok dengan kepentingan yang sama yang
otonom, partai-partai politik, dan sarana-sarana yang
bebas untuk pembentukan pendapat/opini.

b. Demokrasi Struktur formal sistem ini boleh dikatakan sama


Terpimpin dengan demokrasi politik. Karena kesulitan tertentu
diusahakan untuk menyesuaikan dengan struktur
formal dan prakteknya untuk menjalin ada
pemerintahan secara efektif. Di sini kekuasaan lebih
terkonsentrasi kepada eksekutif dan ikatan
kekuasaan eksekutif lebih erat dengan partai
pemerintah dengan ruang gerak terbatas kepada
oposisi. Pendapat umum didominasi oleh pemerintah.

c. Oligarki Sistem ini digunakan dengan mengingat masalah-


Pembangu masalah mengenai pelaksanaan demokrasi dan
nan perlunya mengadakan modernisasi dengan cepat.
Konsentrasi kekuasaan di tangan pemerintah yang
dianggap syarat pembangunan dan persatuan.
Sistem pengawasan ada di tangan militer atau rezim
sipil yang didukung oleh elit yang besar jumlahnya.
Parlemen tidak punya kekuasaan lagi dan hanya
sebagai persetujuan serta pemberi nasihat rencana
peraturan. Tidak ada tempat untuk oposisi. Sebagai
pelaksanaan kekuasaan tergantung kepada birokrasi
yang ada. Kekuasaan yudikatif tidak bebas lagi.
Militer dan politik bekerja menumpas gerakan di
bawah tanah. Kampanye dari nasional dan
melancarkan proyek-proyek pembangunan.

d. Oligarki Terdapat kekuasaan kepada rezim totaliter


Totaliter tradisional, seperti rezim fasis di jerman dan Italia
dahulu serta rezim nasionalis jepang sebelum PD II.

8
Rezim ini tidak mentolelir ada kekuasaan lain di
sampingnya. Elite politiknya mempunyai ideologi
yang konsisten dan terperinci dan menjabarkan
sistem pemerintahan.
e. Oligarki Sistem politik ini peninggalan dari kebudayaan
Tradisional pramodern. Elite dinasti dapat bertahan lama karena
dapat menghindar dari penjajahan, seperti Etiopia.
Kekuasaan raja mendapat pengesahan karena tradisi,
aparat negara terbatas kewajibannya, desa-desa
tidak mendapat perhatian dan tak banyak mendapat
pengaruh. Pengangkatan jabatan atas pertimbangan
pribadi.

4. Demokrasi Sebagai Sistem Politik


Kata demokrasi dalam sistem politik, memiliki makna umum yaitu :
adanya perlindungan hak asasi manusia, menjunjung tinggi hukum,
tunduk terhadap kemauan orang banyak, tanpa mengaikan hak
golongan kecil agar tidak timbul diktator mayoritas. Sebuh sistem
politik demokrasi yang kuat, yaitu apabila bersumber pada “kehendak
rakyat” dan bertujuan untuk mencapai kebaikan atau kemaslahatan
bersama. Untuk itu, demokrasi selalu berkaitan dengan persoalan
perwakilan kehendak rakyat.
Sistem politik demokrasi, menurut Bingham Powel, Jr. ditandai
dengan ciri-ciri sebagai berikut :
a. Legitimasi pemerintah didasarkan pada klaim bahwa pemerintah
tersebut mewakili keinginan rakyatnya, artinya klaim pemerintah
untuk patuh pada aturan hukum didasarkan pada penekanan
bahwa apa yang dilakukan merupakan kehendak rakyat.
b. Pengaturan yang mengorganaisasikan perundingan
(bargaining)untuk memperoleh legitimasi dilaksanakan melalui
pemilihan umum yang kompetitif. Pemilihan dipilih dengan interval
yang teratur, dan pemilih dapat memilih diantara beberapa
alternatif calon. Dalam praktiknya, paling tidak terdapat dua partai
politik yang mempunyai kesempatan untuk menang sehingga
pilihan tersebut benar-benar bermakna.
c. Sebagian besar orang dewasa dapat ikut serta dalam proses
pemilihan, baik sebagai pemilih maupun sebagai calon untuk
menduduki jabatan penting.
d. Penduduk memilih ecara rahasia dan tanpa dipaksa.
e. Masyarakat dan pemimpin menikmati hak-hak dasar, seperti
kebebasan berbicara, berkumpul, berorganisasi dan kebebasan
pers. Baik partai politik yang lama maupun yang baru dapat
berusaha untuk memperoleh dukungan.

9
Penugasan Praktik 1
Kewarganegaraan
Setelah mempelajari materi-materi tentang : Sistem Politik
(Pengertian Sistem Politik, Ciri-ciri Umum Sistem Politik, dan
Macam-macam Sistem Politik, dilanjutkan Penugasan dengan
menjawab pertanyaan atau pernyataan sebagai berikut :

1. Berikan pengertian tentang “sistem politik” sesuai pendapat


anda dan tokoh-tokoh terkenal !
Pendapat anda tentang sistem
politik ? ............................................................................................
.................................................................................................................
.................................................

No Tokoh Uraian Singkat


1.
2.

2. Di dalam salah satu pengertian politik dikatakan bahwa politik


merupakan seni dan ilmu untuk meraih kekuasaan secara
konstitusional maupun nonkonstitusional. Berikan penjelasn
singkatnya !
a. Secara
Konstitusional : ..................................................................................
...............................
...........................................................................................................
.................................................
b. Nonkonstitusional : ........................................................................
................................................
............................................................................................................
................................................

3. Dalam perkembangan lebih lanjut tentang macam-macam


sistem politik, terdapat antara lain Oligarki Totaliter dan Oligarki
Tradisional. Beri penjelasan singkat pada kolom di bawah ini!
Oligarki Totaliter Oligarki Tradisional
..................................................... ......................................................
......................... ........................
..................................................... ......................................................
......................... ........................
..................................................... ......................................................
......................... ........................
..................................................... ......................................................
......................... ........................

4. Berikan tanggapan penjelasan, mengapa dalam sistem politik


faktor input dan output sangat berpengaruh terhadap kebijaksanaan
pemerintah ! ..........................................................................

1
.................................................................................................................
..................................................
.................................................................................................................
..................................................
.................................................................................................................
..................................................

5. Tuliskan pendapat Almond berkaitan dengan ciri-ciri umum


sistem politik di bawah ini, dan jelaskan sesuai pendapat anda !

Mempunyai Kebudayaan Melaksanakan Fungsi-fungsi


Politik Politik
..................................................... .......................................................
........................ .........................
..................................................... .......................................................
........................ .........................
..................................................... .......................................................
........................ .........................
..................................................... .......................................................
........................ .........................
..................................................... .......................................................
........................ .........................
B. SUPRA STRUKTUR DAN INFRA STRUKTUR POLITIK DI
INDONESIA

Pada setiap sistem politik negara-negara dunia, akan selalu dijumpai


adanya struktur politik. Struktur politik di dalam suatu negara, adalah
pelembagaan hubungan organisasi antara komponen-komponen yang
membentuk bangunan politik. Struktur politik sebagai bagian dari struktur
yang pada umumnya selalu berkenaan dengan alokasi nilai-nilai yang
bersifat otoritatif, yaitu yang dipengaruhi oleh distribusi serta
penggunaan kekuasaan.
Permasalahan politik menurut Alfian, dapat dikaji melalui berbagai
pendekatan yaitu dapat didekati dari sudut kekuasaan, struktur politik,
komunikasi politik, konstitusi, pendidikan dan sosialisasi politik, pemikiran
dan kebudayaan politik.

Fokus Kita :
Struktur adalah suatu cara bagaimana sesuatu itu
disusun/dibangun atau merupakan pola peranan yang kait-mengkait
atau hubungan yang sudah mapan diantara orang seorang dan atau
organisasi. Di dalam suatu situasi, struktur ini relatif mempunyai unsur-
unsur yang stabil, seragam dan terpola.
Sistem politik yang pada umumnya berlaku di setiap negara, meliputi
dua struktur kehidupan politik yakni ; Infra Struktur Politik dan Supra
Struktur Politik.

1
1. Infra Struktur Politik
Di dalam suatu kehidupan politik rakyat (the social – political
sphere), akan selalu ada sangkut paut atau bersinggungan dengan
kelompok-kelompok anggota masyarakat lain ke dalam berbagai
macam golongan yang biasanya disebut “kekuatan sosial politik
masyarakat”. Kelompok masyarakat tersebut yang merupakan
kekuatan politik riil di dalam masyarakat, disebut “infra struktur
politik”. Berdasarkan teori politik, infra struktur politik mencakup 5
(lima) unsur atau komponen sebagai berikut : a) partai politik (political
party), b) kelompok kepentingan (interest group), c) kelompok
penekan (pressure group), d) media komunikasi politik (political
communication media), dan e) tokoh politik (political figure).

 Partai Politik (Political Partai) di Indonesia


Partai politik sebagai institusi, mempunyai hubungan yang sangat
erat dengan masyarakat dalam mengendalikan kekuasaan. Hubungan
ini banyak dipengaruhi oleh kebudayaan masyarakat yang
melahirkannya. Kalau kelahiran partai politik sebagai
pengejawantahan dari kedaulatan rakyat dalam politik formal, maka
semangat kebebasan selalu dikaitkan orang dalam membicarakan
partai politik sebagai pengendali kekuasaan.

Fokus Kita :
Partai politik sering dianggap sebagai salah satu atribut negara
demokrasi modern, karena diperlukan kehadirannya bagi negara-
negara yang berdaulat. Bagi negara-negara yang merdeka dan
berdaulat, eksistensi partai politik merupakan prasyarat baik
sebagai sarana untuk menyalurkan aspirasi rakyat, juga terlibat
langsung dalam proses penyelenggaraan negara melalui wakil-

Sebagaimana dikatakan oleh Husazar dan Stevenson dalam


bukunya Political Science, bahwa partai politik (parpol) adalah
sekelompok orang yang terorganisir serta berusaha untuk
mengendalikan pemerintahan agar supaya dapat melaksanakan
program-programnya dan menempatkan/mendudukkan anggota-
anggotanya dalam jabatan pemerintah. Suatu partai politik berusaha
untuk memperoleh kekuasaan dengan dua cara; pertama, ikut serta
dalam pelaksanaan pemerintahan secara sah, dengan tujuan bahwa
dalam pemilu memperoleh suara mayoritas dalam badan legislatif.
Dan kedua, mungkin bekerja secara tidak sah/melakukan subversib
untuk memperoleh kekuasaan tertinggi dalam negara yaitu melalui
revolusi atau coup d`etat.
Berdasarkan perjalanan sejarah kehidupan partai politik di
Indonesia, secara garis besar dapat dijelaskan sebagai berikut :
a. Masa Pra Kemerdekaan

1
Organisasi modern pertama di Indonesia yang melakukan
perlawanan terhadap penjajah (tidak secara fisik) adalah Budi
Utomo yang di dirikan di Jakarta pada tanggal 20 Mei 1908. Pada
awalnya, organisasi ini berkembang di kalangan pelajar dalam
bentuk studieclub dan organisasi pendidikan. Namun dalam
perkembangan berikutnya menjadi partai-partai politik yang
didukung kaum terpelajar dan massa buruh tani.
Berikut adalah partai-partai yang berkembang sebelum
kemerdekaan dengan tiga aliran besar, yaitu Islam, Nasionalis, dan
Marxisme/Komunisme.
N Nama Parpol Uraian / Keterangan
o
1. Sarekat Islam Partai Sarekat Islam (SI) dianggap pelopor
(1912), partai yang beraliran Islam. Hal yang menarik
Muhammadiy dari partai SI, adalah mampu mengidentifikasi
ah (1912) dirinya dengan aspirasi politik Bumi Putera
untuk memperjuangkan kemerdekaan.
2. PKI (1921) Partai yang bercorak ideologi
Marxisme/Komunisme, awalnya berhasil
mempengaruhi massa rakyat dengan
memperke-nalkan analisa Lenin dan Bucharin
tentang imperalisme sebagai tingkat terakhir
dari kapitalisme. PKI awalnya mencoba
mempelopori perjuangan anti kolonialisme
/imperialisme. Namun pada tahun 1926-1927
kehilangan simpati rakyat setelah melakukan
pemberontakan berdarah.
3. Indische Partij Merupakan partai yang beraliran nasionalisme
(1912), PNI dengan perjuangan utama adalah untuk
(1927) ,Partai mencapai kemerdekaan dari
Indonesia kolonialisme/imperialisme bangsa penjajah.
(1931), Partai Golongan nasionalis yang dipersonifikasikan
Ra-kyat dengan Sukarno-Hatta, dianggap sebagai
Indonesia/ PRI rival utama golongan Islam karena digerakan
(1930), Partai oleh kaum terpelajar yang berasal dari
Indonesia berbagai agama dan golongan. Dilihat dari
Raya/ pengikutnya, merupakan runner up dari
Parindra setelah golongan Islam, kendatipun tokoh-
(1931). tokohnya belum melebihi dari golongan Islam
sekaliber Mohammad Natsir.

b. Masa Pasca Kemerdekaan (Tahun 1945 – 1965)


Tumbuh suburnya partai-partai politik pasca kemerdekaan,
didasarkan pada Maklumat Pemerintah tertanggal 3 November 1945
yang ditandatangani Wakil Presiden Moh. Hatta yang antara lain
memuat keinginan pemerintah akan kehadiran partai politik agar
masyarakat dapat menyalurkan aspirasi (aliran pahamnya) secara

1
teratur. Sejak dikeluarkannya Maklumat Pemerintah tersebut, dapat
diklasifikasi sejumlah partai politik yang ada sebagai berikut :
1) Dasar Ketuhanan : a) Partai Masjumi, b) Partai Sjarikat Indonesia,
c) Pergerakan Tarbiyan Islamiah (Perti), d) Partai Kristen Indonesia
(Parkindo), Nahdlatul Ulama (NU)
dan e) Partai Katholik.
2) Dasar Kebangsaan : Alfian, mengelompokkan
 Partai Nasional Indonesia (PNI) partai politik hasil Pemilu
 Partai Indonesia Raya (Parindra) 1955, sebagai berikut :
 Persatuan Indonesia Raya (PIR) 1. Aliran Nasionalis :
 Partai Rakyat Indonesia (PRI) PNI, PRN, PIR Hazairin,
 Partai Demokrasi Rakyat (Banteng) Parindra, Partai Buruh,
 Partai Rakyat Nasional (PRN) SKI, dan PIR-
Wongsonegoro.
 Partai Wanita Rakyat (PWR)
2. Partai Islam : Masjumi,
 Partai Kebangsaan Indonesia (Parki)
NU, PSII, dan Perti.
 Partai Kedaulatan Rakyat (PKR) 3. Aliran Komunis : PKI,
 Serikat Kerakyatan Indonesia (SKI) SOBSI dan BTI.
 Ikatan Nasional Indonesia (INI) 4. Aliran Sosialis : PSI,
 Partai Rakyat Jelata (PRJ) dan GTI.
 Partai Tani Indonesia (PTI)
 Wanita Demokrasi Indonesia (PTI)
3) Dasar Marxisme :
 Partai Komunis Indonesia (PKI)
 Partai Sosialis Indonesia
 Partai Murba
 Partai Buruh
 Persatuan Rakyat Marhaen Indonesia (Permai)
4) Dasar Marxisme :
 Partai Demokrat Tionghoa (PTDI)
 Partai Indonesia Nasional (PIN)
 Partai Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI)

Salah satu ciri utama kehidupan politik masa demokrasi liberal


ditandai dengan pergantian kabinet yang berulang kali rata-rata
berumur 8 (delapan) bulan. Persaingan antar elit partai politik besar
(nasionalis, Islam dan Komunis), telah membawa negara pada
instabilitas politik berkepanjangan. Hal ini berakibat mandeknya
pembangunan ekonomi dan rawannya keamanan, karena perhatian
lebih ditujukan pada pembenahan bidang politik.
Melihat konflik yang berkepanjangan di tubuh Badan Konstituante
dalam merumuskan UUD yang bersifat tetap tidak segera terwujud,
mendorong Presiden Soekarno menggunakan kekuasaan ekstra-
konstitusional dengan Dekrit Presiden 5 Juli 1959 yang selanjutnya
melahirkan demokrasi terpimpin. Dalam kurun waktu 1959 – 1965,
tampak antara Soekarno, PKI dan TNI AD saling bersaing, sementara
itu partai politik lain kurang menunjukkan aset yang berarti dalam
percaturan politik.

1
Fokus Kita :
Pemilu Tahun 1955, mengangkat posisi NU dan PKI ke
panggung politik dan mendesak PSI ke luar, karena partai ini sangat
merosot dalam perolehan suara. Karena tidak ada partai yang
mayoritas dalam pemilu, membuka peluang adanya koalisi. Kondisi
semacam ini menjadi salah satu penyebab sering terjadinya
pergantian kabinet, dalam bahasa Orde Baru tidak mungkin

PKI dengan kelihaiannya telah mampu memobilisasi massa sampi


pelosok desa dengan kader-kadernya yang militan dengan memberi
keyakinan kemenangan segera diraih, akhirnya melakukan pengucilan
kekuatan TNI dan melakukan pemberontakan G 30S/PKI dengan
jatuhnya 7 (tujuh) korban perwira tinggi dan menengah TNI – AD. Dari
malapetaka G 30S/PKI, mendorong segenap potensi bangsa yang
terdiri dari Militer, Angkatan 66, Umat Islam dan ditambah kekuatan
sosial keagamaan lain bergerak menumpas PKI. Kehancuran Orde lama
ditandai dengan surutnya politisi sipil dari gelanggang politik dan
naiknya peranan militer yang oleh Alfian, diberi istilah dengan “format
politik baru”.

c. Masa Orde Baru (Tahun 1966 - 1998)


Awal kebangkitan Orde Baru (1966) dalam melakukan pembenahan
institusi politik, tetap berpandangan bahwa jumlah partai politik yang
terlalu banyak, tidak menjamin stabilitas politik. Usaha pertama
disamping memulihkan partai-partai yang tidak secara resmi dilarang,
adalah menyusun undang-undang tentang pemilu yang dianggap
sesuai dengan perkembangan masyarakat saat itu. Dan pemilu yang
direncanakan dilakanakan dalam waktu dekat, ternyata baru
terlaksana tahun 1971 dengan peserta sebanyak 10 partai politik,
yaitu :
1. Golongan Karya (Golkar)
2. Partai Nasional Indonesia (PNI)
3. Nahdatul Ulama (NU)
4. Partai Katolik
5. Partai Murba
6. Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII)
7. Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI)
8. Partai Kristen Indonesia (Parkindo)
9. Partai Muslimin Indonesia (Parmusi), dan
10. Partai Islam Perti (Persatuan Tarbiyah Islamiyah)
Hasil Pemilu 1971, menunjukkan kemenangan Golkar yang diikuti
oleh Parmusi, NU, dan PNI. Khusus untuk kemenangan Golkar, tidak
lepas dari jasa ABRI yang dibantu oleh pemerintah. Dalam
perkembangan lebih lanjut, pemerintah melakukan penyederhanaan
partai politik secara melembaga melalui proses fusi ; partai yang
berbasis Islam (NU, Parmusi, PSII, dan Partai Islam) menjadi Partai
Persatuan Pembangunan (PPP); partai yang berbasis sosialis dan
nasionalis (Parkindo, Partai Katolik, PNI, Murba dan IPKI) menjadi Partai

1
Demokrasi Indonesia (PDI). Selanjutnya, dengan diberlakukannya UU
No.3 Tahun 1975 maka pemilu 1977 dan 1982 hanya 3 (tiga) peserta
yang masing-masing mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
1. PPP dengan ciri ke-Islaman dan ideologi Islam
2. Golkar dengan ciri kekaryaan dan keadilan sosial
3. PDI dengan ciri demokrasi, kebangsaan (nasionalisme) dan
keadilan.

Pada pemilu tahun 1987 dan 1992 dengan diberlakukannya UU


No.3 Tahun 1985, Partai Politik dan Golkar ditetapkan hanya
mempergunakan satu-satunya asas yaitu Pancasila dengan tujuan
agar setiap kontestan setiap pemilu lebih berorientasi pada program
kerja masing-masing. Penerapan asas tersebut, berlangsung sampai
dengan pelaksanaan pemilu 1997. Fakta memperlihatkan, bahwa
selama pemilu Orde Baru Golkar selalu dominan. Dalam Pemilu 1971
Golkar meraih (62,8%), tahun 1977 (62,1%), tahun 1982 (64,3%),
tahun 1987 (73,2%), tahun 1992 (68,1%) dan pada tahun 1997
(70,2%).
Untuk lebih jelasnya tentang perbandingan perolehan suara partai
peserta pemilu selama Orde Baru dalam perolehan Jumlah Suara dan
Kursi yang diperoleh setiap OPP (Organisasi Peserta Pemilu), dapat
dilihat pada tabel di bawah ini !

Partai Politik Peserta Pemilu


Tahun
N Partai Persatuan Golongan Partai
Pemil
o Pembangunan Karya Demokrasi
u
(PPP) (Golkar) Indonesia (PDI)
1. 1971 14.833.942 (96) 34.348.673 5.516.849 (30)
(236)
2. 1977 18.722.138 (99) 39.313.354 5.459.987 (29)
(232)
3. 1982 20.871.880 (94) 48.334.724 5.919.702 (24)
(242)
4. 1987 13.701.428 (61) 62.783.680 9.324.708 (40)
(299)
5. 1992 16.624.647 (62) 66.599.331 14.565.556 (56)
(282)
6. 1997 25.340.028 (89) 84.187.907 3.463.225 (11)
(325)
Data diambil dari Lembaga
Pemilihan Umum (LPU).

Era orde baru mengalami anti klimaks kekuasaan setelah pada


tahun akhir tahun 1997 negara Indonesia mengalami krisis moneter
yang selanjutnya berkembang menjadi krisis multidimensi karena

1
terperangkap hutang luar negeri yang besar dan banyaknya praktik-
praktik Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) yang melibatkan pejabat
birokrasi dan pengusaha.

d. Masa/ Era Reformasi (Tahun 1999 s.d. Sekarang)


Era reformasi, benar-benar merupakan arus angin perubahan
menuju demokratisasi dan asas keadilan. Partai-partai politik diberikan
kesempatan untuk hidup kembali mengikuti pemilu dengan multi
partai yang diselenggarakan pada tanggal tahun 1999 berdasarkan
Undang-Undang No. 3 Tahun 1999. Sangat mengejutkan bagi semua
elemen masyarakat Indonesia, ternyata pasca orde baru (di era
reformasi) pemilu diikuti sebanyak 48 partai politik, yaitu :

N Nama Partai Politik N Nama Partai Politik


o o
1. Partai Indonesia Baru (PIB) 26 Partai Nasional Indonensia
2. Partai Kristen Indonesia . (PNI) Front Marhaenis
3. (Krisna) Partai Ikatan Pendukung
4. Partai Nasional Indonesia 27 Kemerdekaan Indonesia
5. (PNI) . (IPKI)
6. Partai Aliansi Demokrat 28 Partai Republik
7. Indonesia . Partai Islam Demokrat
8. Partai Kebangkitan Muslim 29 Partai Nasional Indonesia
9. Indonesia . (PNI) Massa Marhaen
10 Partai Umat Islam (PUI) 30 Partai Musyawarah Rakyat
. Partai Kebangkitan Umat . Banyak
11 (PKU) Partai Demokrasi Indonesia
. Partai Masyumi Baru (PMB) 31 (PDI)
Partai Persatuan . Partai Golongan Karya
12 Pembangunan (PPP) 32 (Golkar)
. Partai Syarikat Islam . Partai Persatuan
13 Indonesia (PSII) 33 Partai Kebangkitan Bangsa
. Partai Demokrasi Indonesia . (PKB)
14 Perjuangan (PDIP) 34 Partai Uni Demokrasi
. Partai Abul Yatama . Indonesia
Partai Kebangsaan Merdeka 35 Partai Buruh Nasional
15 (PKM) . Partai Musyawarah
. Partai Demokrasi Kasih 36 Kekeluargaan Gotong
16 Bangsa PDKB) . Royong (MKGR)
. Partai Amanat Nasional (PAN) 37 Partai Daulat Rakyat
17 Partai Rakyat Demokrat . Partai Cinta Damai
. (PRD) 38 Partai Keadilan dan
18 Partai Syarikat Islam . Persatuan (PKP)
. Indonesia 1905 Partai Solideritas Pekerja
19 Partai Katolik Demokrat 39 Seluruh Indonesia (SPSI)
. Partai Pilihan Rakyat (Pilar) . Partai Nasional Bangsa
20 Partai Rakyat Indonesia 40 Indonesia
. (PARI) . Partai Bhineka Tunggal Ika
21 Partai Politik Islam Masyumi 41 Partai Solideritas Uni
. Partai Bulan Bintang (PBB) . Nasional Indonesia (SUNI)

1
22 Partai Solideritas Pekerja 42 Partai Nasional Demokrat
. Partai Keadilan . (PND)
23 Partai Nahdlatul Ulama 43 Partai Ummat Muslimin
. . Indonesia
24 Partai Pekerja Indonesia
. 44
25 .
. 45
.

46
.
47
.
48
.

Bonus Info Kewarganegaraan


PARTAI MESTI SEDERHANA
(Penyederhaan Harus Lewat Seleksi Alam)

Sistem multipartai sederhana mesti tercipta lewat Pemilihan


Umum 2009, Sistem multipartai dalam Pemilu 1999 dan 2004 sudah
cukup digunakan sebagai bahan pelajaran dalam proses transisi
demokrasi. Pandangan itu disampaikan Wakil Sekjen Partai
Demokrasi Indonesia Perjuangan Sutradara Ginting dan Wakil
Sekjen Partai Golkar Priyo Budi Santoso secara terpisah di Jakarta.
Keduanya sependapat sistem multipartai sederhaana didasari pada
pertimbangan perlunya stabilitas pemerintahan sistem presidential.
Sepanjang jumlah partai politik banyak, pemerintahan cenderung
tidak stabil dan tidak produktif.
Penyederhanaan partai harus dilakukan lewat seleksi alam,
dipandu mekanisme yang demokratis, dan tidak top-down. “Multi
partai sekarang ini hanya hebat dalam ingar bingar demokrasi, tapi
tidak bisa membangun ekonomi,” kata Priyo. Sutradara menilai
ambang batas (electoral threshold) pada Pemilu 1999 dan 2004 tidak
sejalan dengan ide multipartai sederhana. Parpol yang tidak
mempunyai ambang batas tetap saja punya wakil di DPR atau DPRD.
Fenomena khas Indonesia itu bisa dipahami karena kedua pemilu itu
merupakan pemilu masa transisi.
Mestinya, ketentuan ambang batas diterapkan secara konsekuen,
parpol yang tidak memenuhinya tidak bisa mengirimkan wakilnya
duduk di lembaga legislatif dan itu diberlakukan dipusat ataupun di
daerah. Cara itu sekaligus akan menegaskan adanya parpol dengan
basis lokal (political party with local base). Secara tidak langsung,
prinsip itu juga akan memangkas egoisme elite karena adanya
“paksaan” berkoalisi dengan parpol lain. Parpol yang lolos ambang

1
bataspun mesti terbuka menampung kader berkualitas dari parpol
yang tidak lolos ambang batas.
Priyo menyebutkan, penyederhaan parpol bisa dimulai dengan
penetapan sistem pemilu. Sistim distrik memang memungkinkan
penyederhanaan lebih cepat. Namu bisa juga diintrodusir larangan
membentuk parpol baru, kecuali untuk daerah khusus. Ketua Partai
Demokrat Anas Urbaningrum secara terpisah menyebutkan,
electoral threshold yang cocok di Indonesia adalah untuk seleksi
pemilu berikutnya, bukan pola hilangnya kursi bagi parpol yang tidak
memenuhi ambang batas itu. Pola ambang batas dengan hilangnya
kursi kurang cocok dengan asas representasi karena kursi di lembaga
legislatif merupakan perwujudan dari perolehan suara.

Sumber : Kompas,
24/5/2006.

 Kelompok Kepentingan (Interest Group)


Kelompok kepentingan (interest group), dalam gerak langkahnya
akan sangat tergantung kepada sistem kepartaian yang diterapkan
dalam suatu negara. Aktivitas kelompok kepentingan umumnya
menyangkut tujuan-tujuan yang lebih terbatas, dengan sasaran-
sasaran yang monolitis dan intensitas usaha yang tidak berlebihan.
Kelompok kepentingan bisa menghimpun ataupun mengeluarkan dana
dan tenaganya untuk melaksanakan tindakan-tindakan politik yang
biasanya berada di luar tugas partai politik.
Dalam hal-hal tertentu, kelompok kepentingan seringkali
bergandengan erat dengan salah satu partai politik, adakalanya
menjaga jarak/bersifat independen, tidak menutup kemungkinan
kelompok kepentingan melakukan negosiasi dan mencari dukungan
dengan berbagai partai yang diprediksikan akan dan mampu
memperjuangkan kepentingannya demi pencapaian tujuannya.

Fokus Kita :
Suatu kelompok kepentingan, adalah “setiap organisasi yang
berusaha mempengaruhi kebijaksanaan pemerintah tanpa, pada
waktu yang sama, berkehendak memperoleh jabatan publik”.

Menurut Gabriel A. Almond, kelompok kepentingan dapat


diidentifikasi ke dalam jenis-jenis kelompok sebagai berikut :
a. Kelompok Anomik
Kelompok-kelompok anomik ini terbentuk di antara unsur-unsur
dalam masyarakat secara spontan dan hanya seketika, dan karena
tidak memiliki nilai-nilai dan norma-norma yang mengatur,
kelompok ini sering bertumpang tindih (overlap) dengan bentuk-
bentuk partisipasi politik non-konvensional, seperti demonstrasi,
kerusuhan, tindak kekerasan politik dan sebagainya. Tetapi kita

1
harus hati-hati menilai, sebab seringkali yang nampak anomik itu
kadang-kadang merupakan tindakan yang direncanakan secara
teliti oleh kelompok kepentingan yang terorganisir.

b. Kelompok Non-Assosiasonal
Kelompok kepentingan non-asosiasional, biasanya jarang yang
terorganisir rapi dan kegiatannya bersifat kadang kala. Ini mungkin
berwujud kelompok-kelompok keluarga dan keturunan atau etnik,
regional, status dan kelas yang menyatakan kepentingan secara
kadang kala melalui individu-individu, klik-klik, kepala keluarga atau
pemimpin agama, dan semacam itu. Misalnya, keluhan dari
delegasi informal suatu kelompok linguistik mengenai bahasa
pengantar di sekolah, permintaan dari beberapa tuan tanah kepada
seorang birokrat dalam suatu klub sosial informal tentang tarif hasil
pertanian dan sebagainya.
Pertemuan-pertemuan sosial, pesta-pesta tidak resmi, dan
semacamnya seringkali menciptakan situasi yang memungkinkan
pembicaraan tawar-menawar (bargaining) antara para pembuat
keputusan dan kelompok-kelompok warga negara yang memiliki
kepentingan yang sama.

c. Kelompok Institusional
Organisasi-organisasi seperti partai politik, korporasi bisnis,
badan legislatif, militer, birokrasi, dan gereja seringkali mendukung
kelompok kepentingan institusional atau memiliki anggota-anggota
yang khusus bertanggung jawab melakukan kegiatan lobbying.
Kelompok ini bersifat formal dan memiliki fungsi-fungsi politik atau
sosial lain di samping artikulasi kepentingan. Tetapi, baik sebagai
badan hukum maupun sebagai kelompok-kelompok lebih kecil
dalam badan hukum itu (seperti fraksi-fraksi badan legislatif, klik-
klik perwira, departemen, dan klik-klik ideologis dalam birokrasi).
Kelompok semacam ini bisa menyatakan kepentingannya sendiri
maupun mewakili kepentingan dari kelompok-kelompok lain dalam
masyarakat. Bila kelompok-kelompok kepentingan institusional
sangat berpengaruh, biasanya akibat dari basis organisasinya yang
kuat.
Klik-klik militer, kelompok-kelompok birokrat, dan pemimpin-
pemimpin partai sangat dominan di negara-negara belum maju, di
mana kelompok kepentingan asosiasional sangat terbatas
jumlahnya atau tidak efektif. Misalnya, di banyak negara baru di
Asia dan Afrika pemerintahan hasil pemilihan umum seringkali
dijatuhkan dan diganti oleh rezim-rezim militer otoriter.

d. Kelompok Assosiasonal
Kelompok asosiasional meliputi serikat buruh, federasi kamar
dagang atau perkumpulan usahawan dan insdustrialis, paguyuban
etnik, persatuan-persatuan yang diorganisir oleh kelompok-
kelompok agama, dan sebagainya. Secara khas kelompok ini
menyatakan kepentingan dari suatu kelompok khusus, memakai
tenaga staff profesional yang bekerja penuh, dan memiliki prosedur
teratur untuk memustuskan kepentingan dan tuntunan.

2
Kegiatan politik utama dari kelompok asosiasional antara lain
melakukan tawar menawar (bargaining) di luar saluran-saluran
partai politik dengan pejabat-pejabat pemerintah tentang peraturan
pemerintah dan usul rencana undang-undang di parlemen. Mereka
juga berusaha mempengaruhi opini masyarakat dengan
mengiklankan kampanye-kampanye, misalnya, penentangan
terhadap usaha nasionalisasi perusahaan tertentu.
Pelaksanaan kegiatan kelompok kepentingan di dalam suatu negara
akan sangat bergantung kepada sistem politik pemerintah dalam hal
sistem kepartaiannya. Kiprah suatu kelompok kepentingan, akan
sangat berbeda pada negara yang menganut sistem kepartaian
tunggal dan sistem kepartaian dua partai/ lebih (dwi atau multi parti).
Untuk lebih jelasnya perhatikan pada matrik di bawah ini.

Sistem Kepartaian Suatu Negara


Partai Tunggal (Totaliter) Dwi Partai (Dua partai atau
lebih)
 Kelompok kepentingan  Kelompok kepentingan
sangat dibatasi, karena berpeluang tumbuh dan
pemerintahan totaliter berkembang dengan pesat
(Fasisme, Komunisme, dan (di negara-negara
Nazisme). Demokrasi).
 Partisipasi politik sulit  Partisipasi politik yang
berkembang dan tidak pluralitas, sehingga terjadi
kompetitif. suasana kompetitif.
 Rakyat dipaksa menerima  Ideologi diterima sebagai
satu ideologi yang menggiring pedoman tingkah laku yang
ke arah pola tingkah laku yang perlu dikembangkan dalam
seragam. berbagai aspek kehidupan.
 Aspirasi rakyat/kebebasan  Adanya kebebasan
dalam berbicara dan media berbicara dan media
komunikasi pers sangat komunikasi yang didukung
dibatasi pemerintah. struktur masyarakat yang
 Rakyat sering dimobilisir ke demokratis.
arah aksi politik yang sudah  Tersedianya saluran untuk
digariskan penguasa. berhubungan dengan pusat-
 Pemerintah sering membuat pusat pemerintahan.
suasana yang secara psikologis  Akses dalam mencapai
menakutkan rakyatnya. tujuan-tujuan kebijakan
 Pola kelompok kepentingan umum, jauh lebih luas.
tidak lebih hanya sekedar  Kelompok kepentingan
pendukung kelompok yang berperan seba-gai saluran
mapan saja. yang meningkatkan fungsi
wakil-wakil dalam proses
pembuatan keputusan.

Kelompok kepentingan pada negara totaliter (partai tunggal), pada


umumnya dianut oleh negara komunis (Rusia, RRC, Vietnam, Korea
Utara, Kuba dan lain-lain). David Lane, (seorang analisis politik)

2
mengidentifikasi ada sebanyak 5 (lima) kategori kelompok
kepentingan di Uni Soviet (Rusia) sebagai berikut :
a. Elite politik, seperti anggota-angota politbiro.
b. Kelompok-kelompok institusional, seperti serikat-serikat dagang.
c. Kelompok-kelompok pembangkang yang setia, seperti para dokter
dan guru.
d. Pengelompokkan-pengelompokkan sosial yang tidak terorganisir
dalam satu kesatuan, seperti petani dan tukang.
e. Kelompok-kelompok yang tidak terorganisir dalam satu kesatuan,
yang bukan merupakan bagian dari aparat Soviet (Rusia), atau yang
mempunyai jarak dengan rezaim penguasa, seperti kelompok
intelektual yang menentang rezim atau anggota sekte-sekte
keagamaan tertentu.
Pada negara yang menerapkan sistem dua partai, disiplin partai
baik dalam parlemen maupun kabinet relatif lebih ketat dan hal ini
merupakan kendala tersediri terutama untuk mendukung sepenuhnya
program-program kelompok-kelompok tertentu. Siasat yang sering
digunakan oleh kelompok kepentingan biasanya dengan mensponsori
atau menolak sama sekali amandemen undang-undang. Tidak bisa
dipungkiri bahwa kelompok kepentingan dapat memainkan peranan
yang cukup penting pada negara-negara yang menganut sistem dua
partai.
Di negara berkembang pada umumnya, dan khususnya di Indonesia
masyarakat yang tergabung dalam kelompok kepentingan biasanya
sensitif terhadap isu politik dalam lingkup kelompok politik yang
sempit. Masyarakat masih dibatasi realita hak politiknya (terutama
masa orde baru) oleh para pemegang kekuasaan negara/pemerintah,
dengan asumsi demi stabilitas politik. Nampak bahwa pada masa itu
pemegang kekuasaan negara/pemerintah cukup tangguh
mengendalikan kehidupan politik supaya terdapat keleluasaan bagi
proses pembangunan bidang kehidupan lainnya. Hal ini berakibat
timpangnya distribusi sumber daya politik dan masyarakat menjadi
ketergantungan dengan elite politik, sehingga kedewasaan
masyarakat untuk berpartisipasi aktif dan positif dalam proses politik
terhambat.
Namun pasca orde baru (tahun 1998) yang disebut dengan era
reformasi, telah membawa masyarakat dalam tumbuhkembangnya
partisipasi politik “demokratisasi” setelah selama 32 tahun dikekang
dengan berbagai instrumen politik dan peraturan perundangan.
Berkembangnya sistem politik di Indonesia dewasa ini tidak lepas dari
peran kelompok kepentingan yang selama orde baru berkuasa
berseberangan, terutama dari kalangan akademisi, politikus, lembaga
swadaya masyarakat, pengusaha dan sebagainya.

Bonus Info Kewarganegaraan


KELOMPOK KEPENTINGAN KEBINGUNGAN
(Partai Sebaiknya Ditata Ulang)

2
Marakanya pendirian parttai politik menegaskan kembali
kebingungan pada kelompok kepentingan. Kelompok kepentingan
yang bersalin diri menjadi parpol merupakan respons terhadap parpol
yang sudah ada yang dinilia tidak mampu menangkap kegelisahan
masyarakat. Selain menjadi jalan merebut kekuasaan, parpol masih
dianggap sebagai mekanisme tunggal penyaluran aspirasi.
Pakar ilmu politik Universitas Gadjah Mada (UGM) I Ketut Putra
Erawan di Yogyakarta, berpendapat akan lebih baik jika tetap ada
kelompok kepentingan yang kuat di luar parpol dan pusat kekuasaan
negara. Namun, katanya yang terjadi sekarang, saat parpol sebagai
penyaring aspirasi belum optimal, kelompok kepentingan sebagai
infrapolitik-pun kebingungan menetapkan dirinya sendiri. Ketimbang
menjadikan parpol yang ada sebagai penyalur aspirasi, akhirnya
kelompok kepentingan ini ada juga yang mengubah diri menjadi
parpol. Jika parpol baru itu menawarkan ideologi, program, dan juga
konstituen yang jelas, implikasinya pun lebih baik dan luas. Namun
yang terjadi saat ini tidak lebih dari upaya berebut kekuasaan.
Menurut Ketut, pada akhirnya membiarkan parpol-parpol kecil terus
tumbuh juga akan menyulitkan. “Biarpun kecil, mereka bisa meminta
konsesi besar,” kata Ketut.
Di Jakarta, Direktur Eksekutif Indobarometer M. Qodari menilai,
maraknya pendirian parpol oleh politisi lama secara psikologis
menunjukkan adanya kecenderungan megalomania atau merasa diri
besar. Ketika politisi lama sudah sekali-dua kali mencoba membangun
parpol dan akhirnya tidak mendapat kepercayaan rakyat secara
signifikan, akan lebih baik jika mereka berhenti saja. Mestinya ada
kesadaran bahwa posisi terbaik buat mereka bukanlah parpol. Namun,
Qodari menenkankan hal itu tidak bisa digeneralisasi begitu saja.
Tumbuhnya parpol yang membawa gagasan yang benar-benar baru
menunjukkan ada segmen yang belum diisi.
Anggota DPR Sutradara Ginting (F-PDIP) di Jakarta, mengatakan
bahwa sistem pemerintahan presidensiil di Indonesia lebih efektif
menggunakan sistem multipartai sederhana. Menurut dia, dengan
banyaknya partai politik yang ada saat ini, lebih baik diadakan
penataan ulang pada pemilu 2009 mendatang. Ketua Badan
Pemenangan Pemilu PAN Totok Daryanto di Jakarta mengatakan,
partainya membuka diri untuk menaungi semua parpol peserta pemilu
2004 yang tidak mencapai electoral threshold (ambang batas
minimal).
Penugasan
Carilah Praktik lain baik dari2 buku,
sumber informasi Sumberkoran,: majalah,
Kompas,
Kewarganegaraan
internet, buletin dan sebagainya, kemudian lakukan hal-hal berikut :
26/12/2006

Rumuskan kembali yang dimaksud dengan infra struktur politik


yang pada umumnya ada pada sistem politik negara-negara di
dunia !
Berikan alasan penjelasan, mengapa pasca kemerdekaan
dikeluarkan Maklumat Pemerintah tanggal 3 November 1945 !
Berikan alasan penjelasan hal-hal yang mendorong pada masa
pemerintah Orde Baru, partai-partai politik disederhanakan !
Jelaskan dengan alasan, mengapa pada era reformasi bangsa
Indonesia menghendaki kembali munculnya banyak partai
politik ! 2
Berikan penjelasan singkat perbedaan pokok peran dan fungsi
kelompok kepentingan di Indonesai pada masa pemerintahan :
 Kelompok Penekan (Pressure Group)
Kelompok penekan (pressure group) merupakan salah satu institusi
politik yang dapat dipergunakan oleh rakyat untuk menyalurkan aspirasi
dan kebutuhannya dengan sasaran akhir adalah untuk mempengaruhi
atau bahkan membentuk kebijaksanaan pemerintah. Adapun cara yang
dipergunakan dapat melalui persuasi, propaganda, atau cara-cara lain
yang dipandang lebih efektif. Kelompok penekan dapat terhimpun dalam
beberapa asosiasi yang mempunyai kepentingan sama, antara lain :
a. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM),
b. Organisasi-organisasi sosial keagamaan,
c. Organisasi Kepemudaan,
d. Organisasi Lingkungan Hidup,
e. Organisasi pembela Hukum dan HAM, serta
f. Yayasan atau Badan hukum lainnya.
Mereka pada umumnya dapat menjadi kelompok penekan dengan cara
mengatur orientasi tujuan-tujuannya yang secara operasional (melakukan
negosiasi/lobby) sehingga dapat mempengaruhi kebijaksanaan umum.
Kelompok pengusaha, industriawan dan asosiasi lainnya sering
menggunakan tenaga mereka (menjadi negosiator/pelobbyst) untuk
memperjuangkan kepentingannya.
Dalam realitas kehidupan politik, kita mengenal berbagai kelompok
penekan baik yang sifatnya sektoral maupun regional. Tujuan dan target
mereka biasanya bagaimana agar keputusan politik berupa undang-
undang atau kebijaksanaan yang dikeluarkan oleh pemrintah lebih
menguntungkan kelompoknya (sekurang-kurangnya tidak merugikan).
Manakala ada rancangan undang-undang/kebijaksanaan atau program
yang merugikan kelompoknya dan menguntungkan kelompok lain,
dengan berbagai cara mereka akan berusaha menghalang-halangi.

2
Kelompok penekan, kadang-kadang muncul lebih dominan dibanding
dengan partai politik, manakala partai politik peranannya tidak bisa lagi
diharapkan untuk mengangkat isu sentral yang mereka perjuangkan.
Kondisi inilah yang mendorong kelompok penekan tampil kedepan
sebagai alternatif terkemuka. Untuk memperbesar pengaruh, mereka
acapkali berusaha menciptakan image masyarakat yang baik terhadap
kelompoknya, yakni dengan menampilkan program-program
kemasyarakatan berupa aksi sosial, aksi politik guna menumbuhkan
kesadaran politik masyarakat. Tidak jarang mereka menampilkan
aktivitas rekreatif, olahraga dan kepemudaan serta menerbitkan laporan-
laporan kegiatannya dalam media massa. Hal ini dilakukan untuk
menciptakan pendapat umum yang menguntungkan kelompoknya.

 Media Komunikasi Politik (Political Communication Media)


Media komunikasi politik merupakan salah satu instrumen politik yang
dapat berfungsi untuk menyampaikan informasi dan persuasi mengenai
politik baik dari pemerintah kepada masyarakat maupun sebaliknya.
Media komunikasi antara lain berupa surat kabar, telefon, faximile,
internet, televisi, radio, film, dan sebagainya dapat memainkan peran
penting terhadap penyampaian informasi serta pembentukan/mengubah
pendapat umum dan sikap politik publik.

Fokus Kita :
Media komunikasi politik apabila disajikan secara komunikatif,
hal ini akan memberi efek bukan saja informatif tetapi juga
komunikan akan mengerti dan tahu serta bersedia menerima suatu
paham atau keyakinan tertentu. Dewasa ini media cetak dan
elektronik kian dituntut terlibat dalam proses demokratisasi yang
tidak hanya sebagai alat artikulasi kepentingan masyarakat, akan
tetapi juga mampu menjadi mitra pemerintah. Oleh sebab itu, posisi

Ada beberapa terori komunikasi yang membahas tentang peranan


komunikasi yang membahas tentang peranan komunikasi massa dalam
pembangunan.

N Teori Uraian / Keterangan


o Komunikasi
1. Null Peranan komunikasi sedikit sekali maknanya atau
bahkan tidak penting sama sekali, justru faktor-
faktor yang betul penting dalam pembangunan
adalah faktor ekonomis, dan faktor-faktor lain
seperti pendidikan, kemajuan kebudayaan,
stabilitas politik dan komunikasi massa dianggap
tidak relevan bahkan tergantung pada
perkembangan ekonomi.
2. The Komunikasi media massa mempunyai peranan
Enthusiastic yang menentukan dalam perjuangan mencapai
Positition perdamaian dan kemajuan kemanusiaan dalam

2
(Pandangan setiap lingkup kegiatan. Bahkan potensi
Antusias) komunikasi massa dianggap sebagai kunci ajaib
bagi seluruh proses pembangunan.
3. The Coutious Komunikasi massa tidaklah terlalu besar
Position pengarusnya (omnipotent) yaitu bahwa
(Pandangan penyebaran pesan-pesan (messages) melalui
Hati-hati) media massa itu tidak menjamin akan timbulnya
perhatian, penelaahan, perubahan sikap atau
tindakan, terhadap pesan itu; dan bahwa faktor
sosial budaya dapat menghalangi, mengaburkan
atau bahkan menghapus sama sekali pesan-pesan
media itu.
4. The Komunikasi massa harus mampu menyesuaikan
Pragmatic diri dengan berbagai macam data dan hipotesa
Posisition dari segala situasi dan kultural. Ia mengakui
(Pandangan bahwa media massa mungkin saja tidak
Pragmatis) berpengaruh, meskipun berpengaruh tetapi
terbatas atau sangat berpengaruh, tergantung
pada kondisi-kondisi yang ada. Ia tidak menolak
kemungkinan efek-efek media yang langsung
maupun tidak langsung melalui orang-orang yang
berpengaruh besar, kemungkinan efek-efeknya
yang segera bisa diukur maupun efek-efek jangka
panjang melalui pertambahan yang hampir-hampir
tidak dapat dilihat.

Bonus Info Kewarganegaraan


POSISI DILEMATIS MEDIA MASSA
Gunawan Muhammad mengatakan, ketika pengontrolan ketat terus
dilakukan terhadap pers, saat itu pula terjadi arus informasi yang kian
deras lewat print out (hasil cetakan), seperti internet, komputer atau
faksimile. Fakta yang terjadi dalam dunia pers Indonesia, mengingatkan
perjuangan pers dalam usaha menegakkan demokratisasi yang terjadi di
Nigeria (Dele Giwa), Philipina (Evelio B. Javier) dan Colombia
(Silvia) yang meringkuk dalam penjara dan bahkan terbunuh untuk
mempertahankan kemerdekaan pers dan demokrasi.
Posisi dilematis sebagaimana dihadpi pers negara-negara
berkembang dewasa ini yakni antara mempertahankan kebenaran dan
keadilan (boleh jadi oposisi), dan larus malam kepentingan pemerintah
(yang berarti fungsi kontrolnya tercerabut dari akarnya). Mencermati
kondisi di atas, mendorong pemikiran bagaimana memposisikan pers
agar tidak terbawa arus tarik menarik antara kepentingan kekuasaan
dan kepentingan hukum. Dalam konteks semacam ini, menurut Alfian,
pengendalian komunikasi politik bersifat “gelang karet”, seperti
tersimpul dalam konsep “kebebasan pers yang bertanggungjawab”.
Kata-kata “bertanggungjawab” dibelakang kebebasan pers merupakan
kewajiban pers terhadap negara, seperti tercantum dalam Undang-

2
Undang No. 21 Tahun 1982 tentang Pokok-Pokok Pers, sehingga dalam
pasalnya dinyatakan “Pers mempunyai hak kontrol, kritik, dan koreksi
yang bersifat konstruktif.

Sumber : Media Indonesia, 7/1/1996 dalam Arifin Rahman “Sistem


Politik Indonesia”.

 Tokoh Politik (Political Figure)


Pengangkatan tokoh-tokoh politik merupakan proses transformasi
seleksi terhadap anggota-anggota masyarakat dari berbagai sub-kultur,
keagamaan, status sosial, kelas dan atas dasar isme-isme kesukuan dan
kualifikasi tertentu, yang kemudian memperkenalkan mereka pada
peranan-peranan khusus dalam sistem politik. Bagi aktor-aktor politik itu
sendiri, pengangkatan diri mereka selalu melalui proses, yaitu :
a. Transformasi dari peranan-peranan non-politis kepada suatu situasi
dimana mereka menjadi cukup berbobot memainkan peranan-peranan
politik yang bersifat khusus.
b. Pengangkatan dan penugasan untuk menjalankan tugas-tugas politik
yang selama ini belum pernah mereka kerjakan, walaupun mereka
telah cukup mampu untuk mengemban tugas seperti itu. Proses
pengangkatan itu melibatkan baik persyaratan status maupun
penyerahan posisi khusus pada mereka.

Fokus Kita :
Secara umum pengangkatan tokoh-tokoh politik, dilegitimasi
melalui penjelmaan nilai-nilai sebuah sistem, baik sistem otokrasi,
oligarki, monarki, aristokrasi, totaliter maupun demokrasi. Disamping
itu ada tujuan-tujuan lain yang sifatnya terpadu yaitu identifikasi diri,
prestise internasional dan kebangkitan kebudayaan bangsa.

Faktor sebab dan akibat yang dapat berpengaruh dalam proses


pengangkatan tokoh-tokoh politik adalah sebagai berikut :

Pengangkatan Tokoh-Tokoh Politik


Faktor Sebab Faktor Akibat
Pengangkatan tokoh-tokoh politik Mengambarkan sistem nilai di
akan menentukan kesempatan dalam masya-rakat serta derajat
bagi partisipasi politik dan konsistensi dan kontradik-sinya,
kesempatan untuk mendapatkan derajat dan tipe representativitas
status. Ia juga akan mempengaruhi sistem tersebut, dasar-dasar
segala bentuk kebijaksanaan stratifikasi sosial dan artikulasinya
umum yang akan dike-luarkan, dengan sistem politik, serta struktur
mempercepat atau memperlambat dan perubahan di dalam peranan-
pertumbuhan dan perubahan peranan politik yang berlangsung.
sosial, mempe-ngaruhi distribusi
kekuasaan dan prestise sosial,

2
serta stabilitas sistem itu sendiri.

Di dalam benak masyarakat sering timbul pertanyaan apakah


pengangkatan tokoh-tokoh politik akan berpengaruh besar terhadap
pembangunan dan perubahan ?. Pada umumnya pengangkatan tokoh-
tokoh politik akan memberikan angin segar dalam memaparkan beberapa
komponen perubahan dalam segala bentuk dan manifestasinya. Hal lain,
nampaknya pada negara-negara berkembang menunjukkan adanya
pertumbuhan ekonomi dari pola agraris ke arah ekonomi yang bertumpu
pada kekuatan industri.
Pengangkatan tokoh-tokoh politik akan berakibat terjadinya
pergeseran disektor infrastruktur politik, organisasi, asosiasi-asosiasi,
kelompok-kelompok kepentingan serta derajat politisasi dan partisipasi
masyarakat. Hal ini mungkin saja terjadi, manakala terciptanya iklim yang
kondusif dalam proses sosialisasi politik, pemberian kesempatan kerja
dan usaha yang adil dan merata di semua lapisan masyarakat.
Menurut Lester G. Seligman, bahwa proses pengangkatan tokoh-
tokoh politik akan berkaitan dengan beberapa aspek yakni :
a. Legitimati elit politik,
b. Masalah kekuasaan,
c. Representativitas elit politik, dan
d. Hubungan antara pengangkatan tokoh-tokoh politik dengan perubahan
politik.
Di negara-negara demokrasi pada umumnya, pengangkatan tokoh-
tokoh politik dilakukan melalui pemilihan umum. Hal ini akan berbeda jika
dilaksanakan di negara-negara totaliter, diktator atau otoriter. Kriteria
dan persyaratan politik lain dalam sistem politik masyarakat yang sudah
maju adalah “representativitas”. Tugas-tugas politik diluncurkan sekaligus
didesak oleh beberapa kelompok yang berpengaruh dan memiliki wakil-
wakilnya, seperti juru bicara dan wali-wali lainnya yang berperan dalam
sistem. Pada negara-negara yang sedang berkembang pengelompokan
masih didasarkan atas persamaan daerah, suku bangsa, bahasa dan
agama. Ada juga yang berdasarkan persamaan profesi, dan keahlian
tertentu.

2. Supra Struktur Politik


Di dalam kehidupan sehari-hari, antara suasana kehidupan politik
rakyat (the social-political sphere) dan suasana kehidupan politik
pemerintah (the governmental political sphere) kedua bidang kehidupan
tersebut hanya dapat dibedakan, tetapi tidak dapat dipisahkan. Demikian
juga antara infrastruktur politik dan supra struktur politik di dalam
kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dalam sistem politik
negara.
Supra struktur politik (elit pemerintah), merupakan mesin politik
resmi di suatu negara sebagai penggerak politik formal. Kehidupan politik
pemerintah bersifat kompleks, karena akan bersinggungan dengan
lembaga-lembaga negara yang ada, fungsi dan wewenang/kekuasaan
antara lembaga yang satu dengan lainnya. Suasana ini pada umumnya

2
dapat diketahui di dalam konstitusi atau undang-undang dasar dan
peraturan perundangan-undangan suatu negara.
Perihal yang menduduki kekuasaan pada supra struktur politik di suatu
negara, secara umum dapat dilihat berikut ini.
Supra Struktur Politik
Pada Negara Monarki Pada Negara Republik
Kelompok elit pemerintah biasanya Tidak sedikit elit politik bersifat
dikuasi oleh keluarga bangsawan, diktator, karena kekuasaannya
atau oleh suatu kabinet manakala dipegang sendiri atau direkayasa
raja/ratu berperan sebagai untuk memegang jabatan pemerin-
lambang kebesaran atau sebagai tahan. Namun juga banyak yang
alat pemer-satu. Kabinet /dewan bersifat demokratis. Hal ini sangat
menteri dapat dibentuk tergantung pada Konstitusi/UUD-
berdasarkan pemilu atau karena nya yang mengatur pemba-gian
restu raja/ ratu, tergantung tingkat kekuasaan di suatu negara.
pendemokrasiannya. Raja atau Lembaga-lembaga kekuasaan inilah
ratu sebagai elit politik kedudukan- yang memegang kendali
nya adalah turun temurun. pemerintahan dalam arti luas.

Dalam perkembangan ketatanegaraan modern, pada umumnya elit


politik pemerintah dibagi dalam kekuasaan eksekutif (pelaksana
undang-undang), legislatif (pembuat undang-undang), dan yudikatif
(yang mengadili pelanggaran undang-undang) dengan sistem pembagian
kekuasaan atau pemisahan kekuasaan.
Untuk terciptanya dan mantapnya kondisi politik negara, maka supra
struktur politik harus memperoleh dukungan dari infra struktur politik
yang mantap pula. Rakyat, baik secara berkelompok berupa partai politik
atau organisasi kemasyarakatan, maupun secara individual dapat ikut
berpartisipasi dalam pemerintahan melalui wakil-wakilnya. Dengan
demikian berarti bahwa sistem politik dan juga mekanisme pemerintahan
(government mechanism) dapat memenuhi fungsinya, manakala :
a. Sistem politik mampu mempertahankan pola, dalam
arti dapat mempertahankan tata cara, kebiasaan-kebiasaan, norma-
norma dan prosedur-prosedur yang berlaku. Pola ini dapat
dipertahankan apabila rakyat menerima dan meyakini, sedangkan
penerimaan dan pengakuan sesuatu pola dalam satu sistem politik
tergantung diikutsertakan/diwakili tidaknya rakyat dalam mekanisme
pemerintahan tersebut.
b. Sistem politik mampu menyelesaikan ketegangan,
dalam arti dapat mendamaikan perselisihan, konflik dan perbedaan
pendapat yang selalu timbul dalam masyarakat dengan cara dan
prosedur yang sedapat mungkin memuaskan semua pihak. Cara-cara
penyelesaian berupa konsultasi, perundingan/negosiasi dan pencairan
alternatif terbaik, melalui musyawarah untuk mufakat merupakan cara
penyelesaian yang sangat menguntungkan semua pihak untuk
menyelesaikan ketegangan.
c. Perubahan-perubahan, dalam arti memiliki
kemampuan adaptasi yang besar untuk menyesuaikan diri dengan

2
perkembangan-perkembangannya yang terjadi baik di dalam negeri
maupun dalam rangka hubungan internasional yang bersifat
interdependesi dan interrelasi antar negara.
d. Sistem politik harus mampu mewujudkan tujuan
nasional, dalam arti kristalisasi keinginan anggota masyarakat menjadi
tekad yang harus dicapai dan menentukan cara untuk mencapai tujuan
itu. Hal ini bisa berupa Garis-garis Besar Haluan Negara dan peraturan
perundang-undangan lainnya sebagai dasar yuridis formal dalam
upaya meraihnya.
e. Sistem politik harus mampu mengintegrasikan dan
menjamin keutuhan seluruh sistem sosial, karena ancaman, hambatan
terhadap sistem sosial yang berupa rasa ketidakpuasan, keresahan,
ketegangan, perpecahan/disentegrasi merupakan masalah yang harus
diselesaikan oleh sistem politik itu sendiri.

Supra Struktur politik di negara Indonesia sejak bergulirnya gerakan


reformasi tahun 1998 sampai dengan tahun 2006, telah membawa
perubahan besar di dalam sistem politik dan ketatanegaraan republik
Indonesia. Era reformasi disebut juga sebagai “Era Kebangkitan
Demokrasi”. Presiden B.J. Habibie dalam pidato kenegaraan di
hadapan DPR/MPR pada tanggal 15 Agustus 1998, antara lain
menyebutkan :
a. Esensi Reformasi Nasional, adalah koreksi terencana, melembaga dan
berkesinambungan terhadap seluruh penyimpangan yang telah terjadi
dalam bidang ekonomi, politik dan hukum.
b. Sasarannya, adalah agar bangsa Indonesia bangkit kembali dalam
suasana yang lebih terbuka, lebih teratur dan demokratis. Penetapan
sasaran ini dilandasi oleh kesadaran bahwa “penyakit utama” rezim
Orde Baru adalah dikenal Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) yang
telah terbukti mengakibatkan lemahnya daya tahan bangsa dan
negara di segala bidang, terutama bidang ekonomi, politik dan hukum.

Program reformasi yang digulirkan oleh pemerintahan B.J. Habibie


(sebagai peletak dasar) dan K.H. Abdurahman Wahid (sebagai
penerus), dalam bidang politik dapat disebutkan sebagai berikut :

Strategi /Kebijaksanaan Keterangan / Tindak Lanjut

3
 Menegakkan kembali demokrasi
yang bertumpu pada partisipasi
aktif rakyat. Pemberian ruang
gerak yang luas terhadap hak-
hak untuk mengeluarkan
pendapat secara lisan maupun
tulisan yang diwujudkan antara a. Dikeluarkannya UU
lain dalam bentuk : No. 2/1999 tentang “Partai
a. pembentukan partai-partai Politik”.
politik dan organisasi b. Dikeluarkannya UU
lainnya. No. 9/1998 tentang
b. Kebebasan unjuk “Kemerdekaan Menyampaikan
rasa/demonstrasi dalam Pendapat”
menyampaikan aspirasi. a. Dikeluarkannya Ketetapan MPR
 Menciptakan pemerintahan No.IX/ MPR/1998 tentang
yang bersih, berwibawa, dan “Penyelenggaraan Negara yang
bertanggung jawab dengan cara bersih dan bebas KKN”.
: b. Keluarnya UU No. 5/1999 tentang
a. bersih dari praktik-praktik “Pega-wai Negeri yang menjadi
Korupsi, Kolusi dan anggota Partai Politik”.
Nepotisme (KKN).
b. memberikan pelayanan
kepada masyarakat secara
adil dan merata.

Reformasi di bidang politik dan hukum ketatanegaraan, yaitu dengan


dilaksanakannya amandemen Undang-Undang Dasar 1945 selama 4
(empat kali) dari tahun 1999 – 2002. Amandemen pertama, disahkan (19
Oktober 1999), kedua (18 Agustus 2000), ketiga (10 November 2001) dan
keempat (10 Agustus 2002). Adanya amandemen UUD 1945 tersebut,
telah merubah struktur supra politik di Indonesia sebagai berikut :
Sebelum Amandemen Setelah Amanden
Lembaga Tertinggi Negara : Lembaga Negara :
 Majelis Permusyawaratan 1. Majelis Permusyawaratan Rakyat
Rakyat (MPR) (MPR)
2. Presiden
Lembaga Tinggi Negara :
3. Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)
1. Presiden
4. Badan Pemeriksa Keuangan (BPK)
2. Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)
5. Mahkamah Agung
3. Dewan Pertimbangan Agung
6. Mahkamah Konstitusi
(DPA)
Penugasan Praktik
4. Badan Pemeriksa Keuangan 3
Kewarganegaraan
(BPK)
5. Mahkamah
Setelah Agung
mempelajari materi-materi tentang : Infra Struktur Politik dan Supra Struktur
Politik, lakukan Strategi Pembelajaran dengan Penugasan Cooperative Integrated
Reading and Composition (CIRC) atau Kooperatif Terpadu Membaca dan Menulis.
Langkah-langkah :
Bentuk kelompok dengan anggotanya antara 4 – 5 orang.
Diberikan “wacana” atau kliping sesuai dengan topik pembelejaran.
Setiap kelompok bekerja sama saling membacakan dan menemukan ide pokok serta
memberi tanggapan terhadap wacana/kliping, dan ditulis pada lembar kertas.
Mempresentasikan atau membacakan hasil kelompok. 3
Buatlah kesimpulan bersama.
Penutup.
PERBEDAAN SISTEM POLITIK DI BERBAGAI NEGARA
1. Pendekatan Sistem Politik Negara
Untuk mengetahui adanya perbedaan sistem politik diberbagai
negara, terlebih dahulu perlu dipahami fungsi dari sistem politik
tersebut. Terdapat 3 (tiga) fungsi politik yang tidak secara langsung
terlibat dalam pembuatan dan pelaksanaan pemerintahan (public
policy), tetapi sangat penting dalam menentukan cara bekerjanya
sistem politik, yaitu sebagai berikut :
a. Sosial Politik. Setiap sistem politik merupakan fungsi
pengembangan dan memperkuat sikap-sikap politik di kalangan
penduduk umum, bagian-bagian dari penduduk, atau melatih rakyat
untuk menjalankan peranan-peranan politik, administratif, dan
judicial tertentu. Fungsi ini melibatkan keluarga, sekolah, media
komunikasi, lembaga keagamaan, pekerjaan dan berbagai struktur
politik.
b. Rekrutmen Politik (Political Recruitment). Rekrutmen merupakan
fungsi penyeleksian rakyat untuk kegiatan politik dan masa jabatan
pemerintahan melalui penampilan dalam media kemunikasi,
menjadi anggota organisasi, mencalonkan diri untuk jabatan
tertentu, pendidikan dan ujian.
c. Komunikasi Politik. Komunikasi Politik merupakan jalan
mengalirnya informasi melalui masyarakat dan melalui berbagai
struktur yang ada dalam sistem politik.
Setiap negara memiliki sistem politik yang berbeda-beda. Oleh
sebab itu, dalam mempelajari proses politik suatu negara diperlukan
beberapa pendekatan sebagai berikut :

N Pendekata Uraian / Keterangan


o n
1. Pendekata Sistem politik dipelajari dari sejarah bangsa. Ada
n Sejarah tiga faktor yang mempengaruhi pendekatan ini,
yakni masa silam (the past), masa sekarang (the
present), dan masa yang akan datang (the future).

2. Pendekata Untuk mempelajari sistem politik suatu negara


n perlu mempelajari sistem sosial/sistem
Sosiologis kemasyarakatan yang ada di suatu negara.

3
Perbedaan-perbedaan sistem sosial akan
mempengaruhi terhadap sistem politik suatu
negara.

3. Pendekata Pendekatan ini diliihat dari pendidikan dan budaya


n Kultural / masyarakatnya. Suatu masyarakat yang anggota-
Budaya anggotanya telah terdidik dan mempunyai budaya
yang tinggi akan berpengaruh terhadap suatu
sistem politik dari negara tersebut. Suatu
masyarakat yang pendidikan dan budayanya
masih rendah akan merupakan hambatan untuk
dibawa ke arah pengembangan suatu sistem
politik yang modern.

4. Pendekata Dalam pendekatan dilihat dari sikap-sikap


n Psycho- masyarakat yang akan berpengaruh terhadap
Sosial / sikap-sikap politik. Suatu masyarakat yang
Kejiwaan tertutup atau menolak, terhadap segala
masyaraka perubahan atau pengaruh luar, akan
t mempengaruhi sistem politik sehingga sistem
politik itu pun akan bersifat tertutup.

5. Pendekata Dalam pendekatan ini dibicarakan tentang filsafat


n Filsafat yang menjadi way of life dari masyarakat atau
bangsa itu. Sistem politik suatu bangsa/negara
akan sulit dipisahkan dari way of life masyarakat/
bangsanya. Suatu masyarakat yang dalam
hidupnya selalu mengutamakan kepentingan-
kepentingan masyarakat dan pola pikir yang
menjunjung tinggi norma-norma adat dan agama
maka sistem politiknya tidak akan kepas dari
filsafat yang dianut oleh masyarakat/bangsanya.

6. Pendekata Di dalam pendekatan ini, suatu sistem politik


n Ideologi dilihat dan dipelajari dari ideologi bangsa/negara
yang berlaku di dalam negara itu. Ideologi sebagai
ajaran yang dihasilkan oleh pemikiran manusia
tentang konsep-konsep politik, sosial, ekonomi
dan budaya. Dengan kata lain, sistem politik tidak
bisa lepas dari doktrin politik, sosial, ekonomi dan
budaya yang telah diterima oleh sebagian besar
rakyatnya.

7. Pendekata Dalam pendekatan ini, suatu sistem politik dilihat


n dari konstitusi dan undang-undang serta hukum
Konstitusi yang berlaku di dalam negara itu. Jadi, suatu
dan Hukum sistem politik tidak bisa dipisahkan dari konstitusi
negara atau hukum yang berlaku dalam negara
itu. Dengan demikian, segala kegiatan dari suatu
sistem politk akan selalu bersumber dan
berpedoman kepada undang-undang dasar dan

3
undang-undang yang dapat mencerminkan
apakah sistem politik yang berlaku di negara itu
demokratif atau kediktatoran.

2. Perbedaan Sistem Politik Negara


Untuk memahami tentang perbedaan sistem politik yang ada pada
setiap negara, bukanlah sesuatu yang mudah. Perlu waktu untuk
mengadakan studi mendalam tentang apa dan bagaimana suatu
negara dijalankan dengan sistem politik yang dianutnya. Berikut ini
akan disajikan 3 (tiga) contoh negara yang diharapkan dapat mewakili
dari komunitas negara-negara yang ada di dunia, yaitu : a) Sistem
politik negara Inggris (liberal), b) Sistem politik negara Republik Rakyat
China (Komunis), dan c) Sistem politik negara Indonesia.

a. Sistem Politik Negara Inggris


Faktor
N Yang
Uraian / Keterangan
o Mempenga
ruhi
1. Latar Masyarakat Inggris sejak abad 19, mulai merubah
Belakang bentuk ekonominya dari ekonomi pertanian dan
Sejarah kerajinan tangan menjadi masyarakat industri
modern. Para politisi mulai menyesuaiakan sistem
politik dan pemerintahannya dengan membuat
undang-undang pembaharuan (reform acts) yang
disahkan pada tahun 1918. Inggris juga
dihadapkan pada masalah upaya membangun
kesejahteraan warganegaranya dan persaingan
sebagai negara industri muda dengan negara
Amerika Serikat, Jerman dan Jepang.

2. Kondisi Kondisi masyarakat Inggris yang semula agraris


Sosiologis feodal, dengan cepat menyesuaikan menjadi
masyarakat industri modern. Oleh sebab itu,
masyarakat Inggris dalam waktu cepat mampu
bersaing dengan negara –negara lain yang lebih
dahulu merintis ke arah industrialisasi. Hal ini
dapat difahami, karena sesungguhnya masyarakat
Inggris adalah bangsa yang paling ”bersifat
kekotaan” atau urban. Meskipun demikian,
masyarakat Inggris tetap menghendaki sistem
monarki dengan satu raja dan banyak bangsa.

3. Kondisi Sebagian masyarakat Inggris memiliki tingkat


Kultural/ pendidikan dan kesejateraan yang baik. Mereka
Budaya dikenal sebagai masyarakat yang disiplin dan taat
pada aturan. Nilai-nilai, keyakinan-keyakinan dan
perasaan-perasaan dari kebudayaan politik
diwariskan dari generasi ke generasi melalui suatu

3
rangkaian pengalaman dalam keluarga, di sekolah
dan ditempat kerja. Pandangan-pandangan politik
sekarang, merupakan pencerminan sikap yang
mereka pelajari semasa kanak-kanak dan sikap-
sikap yang berkembang sesudah dewasa.

4. Kondisi Mayoritas masyarakat Inggris sangat menghormati


Psycho- simbol-simbol kekuasaan negara, seperti ratu/raja,
Sosial / lembaga pemerintah, dan lain-lain. Mereka sangat
Kejiwaan setia kepada wewenang kekuasaan politik dan
masyaraka senantiasa menunjukkan ketaatannya kepada
t undang-undang politik azasi.

5. Pedoman Masyarakat Inggris akan sangat mendukung rejim


Filsafat yang berkuasa, manakala para penguasa juga
mentaati undang-undang politik asasi, dan jika
dilanggar maka akan mengahadapi perlawanan.
Konsep kejahatan politik atau ”kejahatan melawan
negara”, hampir tidak dikenal. Siapapun orangnya
yang melanggar undang-undang dianggap anti
sosial, sehingga orang yang jahat sangat tercela
dan dianggap melawan masyarakat.

6. Paham Penerapan ideologi negara Inggris yang juga pada


atau umumnya dianut oleh negara-negara Eropa
Ideologi (Barat) adalah ideologi liberal. Masyarakat Inggris
yang dalam kehidupan sehari-hari sangat menghormati
diterapkan kebebasan dan hak-hak asasi manusia. Meskipun
simbol kebebasan ada dalam berbagai bidang
kehidupan, namun mereka sangat mematuhi
peraturan perundang-perundangan. Negara
Inggris tidak memiliki konstitusi tertulis, namun
jika terjadi perdebatan atas tindakan pemerintah,
biasanya diselesaikan oleh kekuatan politik
terkuat. Kekuasaan pemerintah Inggris tergantung
pada raja/ratu, akan tetapi raja/ratu tersebut
hanya berperan sebagai simbol kolektif bagi
lembaga-lembaga pemerinah dalam sistem
Inggris.

7. Pedoman Kekuasaan pemerintah Inggris lebih banyak


Konstitusi dibatasi oleh konvensi (hukum tidak tertulis) dari
dan Hukum pada hukum formal. Rakyat hidup dalam
ketenangan dan kepastian hukum karena
pemerintah memberikan perlindungan hukum
yang baik dan penghormatan terhadap hak-hak
asasi warganegaranya. Aparat penegak hukum
tidaklah merasa sebagai wasit yang senantiasa
mengawasi tindakan-tindakan yang dilakukan oleh
pemerintah maupun warganya. Aturan yang
dibuat, ditaati oleh semua komponen elit politik,

3
pemerintah maupun masyarakat demi jaminan
keamanan dan kesejahteraan bersama.

Dalam struktur politik pemerintahan Inggris, pemegang peranan


politik pusat digolongan dalam 3 (tiga) bagian, yaitu : para menteri
kabinet, para pegawai negeri senior, dan para pegawai tidak tetap
lainnya. Para pemegang peranan politik pusat, pengalaman/senioritas
sangat dihargai. Bagi seseorang yang ingin ke jenjang karier politik,
harus sejak muda mengarah ke jalan karier itu. Pada awalnya, karir
seseorang harus memperoleh peranan politik pusat, kemudian secara
perlahan-lahan menghimpun pengalaman dan senioritas di samping
kecakapan.
Penyelenggaraan pemerintah, dilaksanakan oleh kabinet (Perdana
menteri dan dewan menteri) serta parlemen yang terdiri dari Majelis
Rendah dan Majelis Tinggi. Peranan parlemen dalam merumuskan
kebijaksanaan pemerintah dibatasi, karena cara bekerjanya diawasi
oleh kabinet. Sedangkan Perdana Menteri dapat memastikan bahwa
setiap usul yang diajukan oleh pemerintahnya akan diputuskan dalam
parlemen tepat pada waktu yang telah ditetapkan, dan disetujui dalam
bentuk yang dikehendaki oleh parlemen.
Dalam hal komunikasi politik, media massa televisi dan pers,
merupakan industri yang besar dan kompleks, karena dijadikan
sebagai saluran-saluran komunikasi politik yang sangat terpusat tetapi
kompetitif. Dan untuk itu, masyarakat umum mempercayai kejujuran
media siaran itu. Baik koran, radio maupun televisi sangat
mempengaruhi pola perilaku politik masyarakat. Antara politisi dan
pers sudah terjalin komukasi yang baik, satu sisi wartawan
membutuhkan politisi untuk menjadi sumber berita; disisi lain para
politisi juga membutuhkan wartawan untuk mempublikasikan
pandangan-pandangan dan diri mereka sendiri.

b. Sistem Politik Negara Republik Rakyat Cina (RRC)


Faktor
N Yang
Uraian / Keterangan
o Mempenga
ruhi
1. Latar Proses kehidupan sistem politik di China,
Belakang merupakan produk revolusi antara tahun 1911 s.d.
Sejarah 1949. Revolusi pertama (1911), menggantikan
sistem kerajaan yang telah bertahan berabad-
abad. Revolusi kedua (1928), dibentuk pemerintah
pusat yang baru di bawah Kuomintang dengan
dominasi satu partai yang lebih bersemangat,
terorganisir, dan terpusat. Revolusi ketiga (1949),
menjadikan Partai Komunis Cina (PKC) sebagai
penguasa dan membentuk pemerintahan komunis
sampai dengan sekarang.

2. Kondisi Pada masyarakat Cina tradisional, lembaga-

3
Sosiologis lembaga sosial yang dominan adalah keluarga;
setiap individu harus menyesuaikan tindakan-
tindakan mereka demi pemeliharaan dan
kemakmuran unit itu. Mereka mengakui
wewenang kekuasaan para pemimpinnya atas
tingkah laku sosial mereka. Wewenang kekuasaan
politik, pada tingkat apapun, adalah lebih tinggi
daripada tuntutan unsur-unsur dalam masyarakat.
Kesetiaan harus diarahkan pada kepentingan
kolektif dan bukan pada ikatan-ikatan pribadi.

3. Kondisi Pemerintah Cina sejak tahun 1949, telah


Kultural/ mengupayakan pendidikan sabagai salah satu alat
Budaya yang paling efektif untuk mengubah sikap politik
orang-orang Cina. Pemerintah berkepentingan
dengan pendidikan, karena dapat mempermudah
melakukan mekanisme kontrol dalam
mengendalikan warganegara yang mencapai usia
sekolah. Melalui pendidikan, masyarakat ikut
menanggung beban sosialisasi dan menciptakan
masyarakat yang melek huruf sebagai syarat
pendidikan politik dan keterlibatan politik.
Pemerintah menyadari bahwa beban penduduk
yang besar dengan corak agraris, perlu kerja keras
dalam memajukan warganegaranya.

4. Kondisi Negara Cina yang memiliki wilayah dan penduduk


Psycho- terbesar di dunia, sebelum menjadikan Partai
Sosial / Komunis Cina berkuasa selalu dilanda perang
Kejiwaan saudara. Hal ini menyebabkan negara menjadi
masyaraka lemah dan banyak mengalami penyerbuan bangsa
t asing. Namun dewasa ini, dengan kepercayaan diri
yang tinggi telah mampu berada dalam suatu
posisi menguasai pengaruh atas suatu wilayah
yang sangat luas dan penting. Mereka juga
bangga telah memiliki kekayaan budaya yang
tinggi yang telah diwariskan oleh para
pendahulunya.

5. Pedoman Mayoritas masyarakat Cina memiliki tingkat


Filsafat kepercayaan diri yang tinggi. Mereka memiliki
keyakinan bahwa mobilisasi dan perjuangan
adalah inti dari politik. Sifat-sifat seperti militer
--antusiasme, kepahlawanan, pengorbanan, dan
usaha bersama – mendapatkan nilai yang tinggi.
Azas percaya diri sendiri mempunyai implikasi
nasional maupun internasional. Dalam dukungan
internasional, meskipun mereka bersimpati,
namun mereka tetap menegaskan bahwa setiap
gerakan harus bersandar pada sumber-sumber

3
dayanya sendiri demi mencapai tujuannya.

6. Paham Sistem komunis timbul secara langsung dari


atau periode revolusioner yang bukan diciptakan oleh
Ideologi kaum komunis. Revolusi Cina telah berlangsung
yang selama berpuluh-puluh tahun sebelum partai
diterapkan komunis menjadi kekuatan yang besar dalam
politik Cina dan mulai menguasai
pemerintahannya. Tidak dapat disangkal bahwa
Uni Soviet mempunyai pengaruh kuat melalui
penyebaran Marxisme-Leninisme. Anti
imperialisme merupakan unsur paling kuat dalam
pembentukan ideologi komunis. Penindasan oleh
bangsa asing harus dihapuskan dan menjadikan
Marxisme-Leninisme sebagai suatu gagasan yang
secara langsung relevan dengan kenyataan
kehidupan politik Cina.

7. Pedoman Berdasarkan Konstitusi tahun 1954, organ


Konstitusi wewenang negara tertinggi dan pemegang
dan Hukum wewenang legislatif satu-satunya dalam sistem
politik negara adalah ”Konggres Rakyat Nasional”
(KRN). KRN merupakan badan perwakilan yang
terdiri dari wakil-wakil yang dipilih oleh konggres
tingkat provinsi, angkatan bersenjata, dan orang-
orang Cina perantauan. KRN merupakan forum
proses politik untuk mempelajari, mendukung, dan
mengesahkan tindakan-tindakan pimpinan pusat
yang melambangkan dukungan rakyat. Selain
KRN, organ administratif utama dalam struktur
politik negara adalah Dewan Negara yang terdiri
dari Perdana Menteri, Wakil-wakil Perdana Menteri
dan kepala-kepala dari semua kementerian dan
komisi. Mereka merupakan pusat kekuasaan
negara yang sesungguhnya. Sedangkan
Mahkamah Rakyat Tertinggi dan Kejakasaan
Rakyat Tertinggi, berdasarkan konstitusi
merupakan organ-organ pengadilan yang
menyelidiki masalah-masalah dan memberikan
putusan pengadilan. Kejaksaan mempunyai
kekuasaan yang bebas, termasuk penyelidikan,
penuntutan, dan pengawasan secara umum
terhadap semua organ negara, termasuk
pengadilan-pengadilan.

Dalam menumbuhkan peran serta masyarakat di bidang politik,


penguasa komunis berusaha menciptakan kehidupan masyarakat yang
sesuai dengan norma-norma sosialisasi politik yang diciptakannya. Hal
ini dilakukan oleh para penguasa dengan cara mulai meninggalkan
tradisi keluarga yang tidak sesuai dengan nilai-nilai komunisme,

3
menetapkan persamaan hukum antara laki-laki dan wanita,
melaksanakan pendidikan umum dan membangun jaringan
komunikasi. Jaringan komunikasi yang mencakup berbagai jenis dan isi
pesan (message), merupakan usaha partai atau negara secara resmi
yang isinya dan pengelolaannya dikendalikan oleh para penguasa
pusat.
Sebagian besar jaringan komunikasi sangat dipengaruhi oleh
ideologi resmi yang merupakan mekanisme penyatuan bagi yang
menyetujui dan yang tidak menyetujui. Jaringan komunikasi lebih
banyak ditujukan kepada elite atau sub-elite yang memahami
perbincangan ideologi dan merasa ikut bertanggung jawab
menerapkannya, menurut kondisi masing-masing daerah kepada
seluruh rakyat. Sistem komunikasi merupakan alat komunikasi yang
paling efektif dalam memperluas pengetahuan tentang politik dan
meningkatkan kepekaan terhadap soal-soal politik.
Penguasa komunis juga berupaya mengikutsertakan setiap
warganya dalam kegiatan politik secara teratur dan terorganisir,
terutama melalui gerakan-gerakan masa, perwakilan tingkat rendah,
keanggotaan dalam organisasi masa, dan partisipasi dalam
pengelolaan unit-unit produksi dan unit-unit pemukiman. Untuk
kepentingan kaderisasi calon-calon pemimpin komunis, dilakukan
rekruitmen aktivis, kader dan anggota partai. Mereka diambil dari
organisasi partaim lokal dan para aktivis dilingkungn kekuasaan.
Masuk menjadi anggota PKC merupakan tindakan yang menentukan
dalam rekruitmen politik yang pada gilirannya akan memperoleh
promosi dan kekuasaan.

c. Sistem Politik Negara Republik Indonesia


Faktor
N Yang
Uraian / Keterangan
o Mempenga
ruhi
1. Latar Terjadinya negara kesatuan republik Indonesia
Belakang telah melalui perjalanan politik yang panjang.
Sejarah Bangsa Indonesia harus menghadapi kolonial
Belanda selama lk. 350 tahun, dan bala tentara
Jepang selama lk. 3,5 tahun untuk mewujudkan
Proklamasi Kemerdekaan yang akhirnya
terwujudnya pada tanggal 17 Agustus 1945. Pasca
proklamasi kemerdekaan, para pemimpin
Indonesia terlibat dalam proses politik dengan
mencari format berdasarkan demokrasi Pancasila.
Namun dalam perjalannya mengalami pasang
surut politik kenegaraan, karena pernah
diterapkan demokrasi liberal (1949 - 1955),
demokrasi terpimpin (1955 – 1965) dan
selanjutnya adalah demokrasi Pancasila.

2. Kondisi Kondisi bangsa Indonesia yang pernah mengalami


Sosiologis penjajahan, sangat merasakan penderitaan dan

3
keterbelakangan dalam berbagai bidang
kehidupan. Masyarakat Indonesia yang multi
bangsa, agama, ras dan antar golongan telah
dipersatukan dalam kesatuan politik dengan
semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Sangat disadari
bahwa banyaknya perbedaan akan membawa
konsekuensi terjadinya konflik sosial vertikal
maupun horizontal. Dengan demikian, upaya
saling menghormati dan kerja sama dalam
membangun kerukunan hidup penting untuk
ditegakkan.

3. Kondisi Negara Kesatuan Republik Indonesia dibangun


Kultural/ atas dasar sendi-sendi multi kultural, berbeda-
Budaya beda suku, agama, ras dan antar golongan.
Semangat menjunjung tinggi persatuan dan
kesatuan, serta rela berkorban untuk kepentingan
bangsa dan negara telah tertanam di dada setiap
warga negara. Budaya musyawarah, toleransi,
gotong royong dan saling menghormati telah
dapat diwariskan kepada generasi mendatang baik
sebagai anggota masyarakat maupun calon
pemimpin bangsa melalui jalur-jalur pendidikan
formal, in-formal, maupun nor-formal.

4. Kondisi Bangsa sebelum menjadikan Pancasila sebagai


Psycho- dasar negara selalu dapat dipecah belah oleh
Sosial / bangsa lain. Hal ini menyebabkan negara pernah
Kejiwaan mengalami penjajahan dari kolonial Belanda
masyaraka maupun Jepang. Dengan semangat pantang
t menyerah, rela berkorban dan cinta tanah air
bangsa Indonesia mampu sejajar dengan bangsa-
bangsa lain di dunia. Bangsa Indonesia secara
politik dan dinyatakan di dalam Pembukaan UUD
1945, sangat menentang segala mecam bentuk
penjajahan karena tidak sesuai dengan
perikemanusiaan dan keadilan.

5. Pedoman Negara Indonesia sebagai salah satu negara yang


Filsafat merdeka dan berdaulat, berhak menentukan
pandangan hidup, cita-cita dan tujuan negaranya.
Pandangan hidup bangsa Indonesia untuk
mewujudkan cita-cita dan tujuannya. Pancasila
dalam sistem politik Indonesia, telah dijadikan
dasar dan motivasi dalam segala sikap, tingkah
laku dan perbuatan dalam hidup bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara untuk mencapai tujuan
nasionalnya sebagaimana terkandung di dalam
Pembukaan UUD 1945.

6. Paham Ideologi negara Indonesia yang berdasarkan

4
atau Pancasila, akan selalu dikaitkan dengan proses
Ideologi politik dalam pengaturan penyelengga-raan
yang pemerintahan negara yang meliputi bidang
diterapkan ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya dan
pertahanan keamanan. Hal ini akan dituangkan di
dalam konstitusi negara dan peraturan perundang-
undangan lainnya. Dalam struktur politik,
Pancasila menjadi sumber segala sumber hukum
yang berarti semua peraturan perundang-
undangan harus bersumber pada Pancasila.

7. Pedoman Berdasarkan Konstitusi UUD 1945 (amandemen),


Konstitusi implementasi demokrasi Pancasila telah
dan Hukum memberikan kekuasaan yang besar kepada
Presiden. Sejak pemilu 2004, presiden dipilih oleh
rakyat sehingga tanggung jawab besarnya adalah
kepada rakyat. Presiden sebagai kepala eksekutif
mempunyai kekuasaan memerintah dan
melaksanakan undang-undang dengan
pengawasan dari legislatif (DPR). Dalam sistem
politik, DPR berhak menyuarakan aspirasi dan
tuntutan-tuntutan rakyat yang diwakilinya. Oleh
karena DPR tidak dapat dibubarkan oleh Presiden,
maka dalam menjalankan kebijaksanaan politiknya
kepada eksekutif perlu memperhatikan suara-
suara para wakil rakyat tersebut. Pengawasan
terhadap pelaksanaan penggunaan anggaran
negara oleh lembaga-lembaga penyelenggara
negara, dilakukan oleh Badan Pengawas Keuangan
(BPK). Sedangkan dalam hal pelaksanaan
pelanggaran terhadap undang-undang akan
dilakukan oleh lembaga yudikatif (Mahkamah
Agung) dan Kejaksaan Agung.
Negara Indonesia dalam sistem politik, menerapkan sistem
demokrasi Pancasila yang merupakan suatu paham demokrasi yang
bersumber pada pandangan hidup atau falsafah hidup bangsa
Indonesia yang digali dari kepribadian rakyat Indonesia sendiri. Dari
falsafah hidup bangsa Indonesia inilah kemudian timbul dasar falsafah
negara kita bernama falsafah negara Pancasila yang tercermin dan
terkandung dalam Pembukaan UUD 1945.
Pelaksanaan demokrasi di Indonesia harus dijiwai oleh sila-sila yang
terkandung dalam Pancasila. Oleh karena itu, demokrasi menurut
Pancasila atau disebut Demokrasi Pancasila adalah demokrasi yang
merupakan perwujudan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat
kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan yang mengandung
semangat ke-Tuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan
beradab, persatuan Indonesia dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia. Adapun isi pokok pelaksanaan Demokrasi Pancasila sebagai
berikut :

4
a. Pelaksanaan demokrasi harus berdasarkan Pancasila sebagaimana
disebut di dalam Pembukaan UUD 1945, serta penjabarannya dalam
Batang Tubuh dan Penjelasan UUD 1945.
b. Demokrasi ini harus menghargai dan melindungi hak-hak asasi
manusia.
c. Pelaksanaan kehidupan ketatanegaraan harus berdasarkan atas
kelembagaan (institusional). Melalui kelembagaan ini diharapkan
segala sesuatunya dapat diselesaikan melalui saluran-saluran
tertentu sesuai dengan UUD 1945.
d. Demokrasi ini harus bersendi atas hukum sebagaimana dijelaskan
di dalam penjelasan UUD 1945.
Menurut Dardji Darmadiharjo, Demokrasi Pancasila adalah paham
demokrasi yang bersumber pada kepribadian dan falsafah hidup
Bangsa Indonesia yang perwujudannya seperti dalam Pembukaan UUD
1945. Makna demokrasi Pancasila pada dasarnya adalah perluasan
keikutsertaan rakyat dalam berbagai kehidupan bermasyarakat dan
kehidupan bernegara yang ditentukan dalam peraturan perundangan
yang berlaku. Aturan permainan dalam kehidupan bermasyarakat dan
bernegara diatur secara melembaga. Keinginan-keinginan rakyat dapat
disalurkan, baik melalui lembaga-lembaga negara (suprastruktur)
maupun melalui organisasi politik, organisasi masa, dan media politik
lainnya (infrastruktur).
Demokrasi Pancasila tidak hanya meliputi demokrasi dibidang
pemerintahan atau politik (demokrasi dalam arti sempit), tetapi juga
telah berkembang menjadi demokrasi dalam arti yang luas, yaitu
meliputi berbagai sistem dalam masyarakat, seperti sistem politik
ekonomi, sosial dan sebagainya.
Sistem politik Demokrasi Pancasila menghargai nilai-nilai
musyawarah. Oleh karena itu, kita pun harus memahami bagaimana
tata cara bermusyawarah sebagai berikut:
a. Mengutamakan kepentingan negara dan masyarakat;
b. Tidak memaksakan kehendak kepada orang lain;
c. Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk
kepentingan bersama;
d. Musyawarah harus diliputi oleh semangat kekeluargaan;
e. Dengan itikad baik dan rasa tanggungjawab menerima dan
melaksanakan keputusan musyawarah;
f. Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati
nurani yang luhur;
g. Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan
secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi
harkat dan martabat manusia, serta nilai-nilai kebenaran dan
keadilan.
Adapun tata cara musyawarah dalam berbagai kehidupan harus
mengandung prinsip-prinsip sebagai berikut :
a. Musyawarah bersumber pada paham kerakyatan yang dipimpin
oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.
b. Setiap putusan yang diambil harus selalu dapat
dipertanggungjawabkan dan sama sekali tidak boleh bertentangan
dengan Pancasila dan UUD 1945 beserta penjelasan.

4
c. Setiap peserta musyawarah mempunyai hak dan kesempatan yang
sama dalam mengeluarkan pendapat.
d. Hasil musyawarah atau setiap putusan, baik sebagai hasil mufakat
maupun berdasarkan suara terbanyak harus diterima dan
dilaksanakan.
e. Apabila cara musyawarah untuk mufakat tidak dapat
mempertemukan pendapat yang berbeda dan hal ini sudah
diupayakan berkali-kali maka dapat digunakan cara lain, misalnya
cara pengambilan dengan keputusan suara terbanyak (voting).
Cara pengambilan suara terbanyak (voting) dalam demokrasi
Pancasila dilakukan dengan persyaratan-persyaratan sebagai berikut:
a. Jika jalan musyawarah untuk mufakat sudah ditempuh secara
maksimal, tetapi tidak berhasil mencapai mufakat.
b. Musyawarah untuk mufakat tidak mungkin diusahakan lagi karena
terjadi perbedaan pendapat dan pendirian yang tidak mungkin lagi
ditemukan atau didekatkan.
c. Karena faktor waktu yang mendesak sehingga harus segera diambil
keputusan.
d. Sebelum dilakukan voting kepada semua peserta rapat diberikan
kesempatan untuk mempelajari pendirian-pendirian atau pendapat-
pendapat yang berbeda itu.
e. Pengambilan keputusan berdasarkan suara terbanyak adalah sah
jika diambil dalam rapat yang dihadiri oleh sekurang-kurangnya 2/3
(dua pertiga) jumlah anggota rapat (quorum) dan disetujui oleh
lebih dari separuh jumlah anggota yang hadir memenuhi quorum.
Setiap peserta musyawarah hendaknya menyadari bahwa yang
menjadi tugas utamanya bukan sekadar ikut musyawarah, melainkan
turut bertanggungjawab atas terlaksananya semua keputusan
musyawarah. Adapun nilai-nilai luhur yang terkandung dalam setiap
pengambilan keputusan adalah sebagai berikut :
a. Legawa atau berlapang dada, artinya bahwa setiap peserta
musyawarah harus secara sadar menerima dan melaksanakan
keputusan musyawarah itu dengan sepenuh hati.
b. Religuis, artinya bahwa hasil musyawarah itu harus dapat
dipertanggung jawabkan secara moral terhadap Tuhan Yang Maha
Esa.
c. Tenggang rasa, artinya bahwa dalam pelaksanaan musyawarah
setiap peserta harus mau mendengarkan pendapat orang lain
walaupun pendapatnya tersebut kurang berkenan dengan pendapat
kita.
d. Keadilan, artinya bahwa dalam pengambilan keputusan hendaknya
setiap peserta musyawarah diperlakukan secara adil. Maksudnya,
seluruh peserta diikutsertakan secara layak sebagai peserta
lainnya.
e. Kemanusiaan, artinya bahwa keputusan yang diambil hendaknya
menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia jangan sampai
merendahkan martabat manusia.
Berikut aspek - aspek yang terkandung dalam Demokrasi Pancasila
yaitu sebagai berikut :

4
a. Aspek formal
yaitu aspek yang mempersoalkan proses dan cara rakyat dalam
menunjuk wakil-wakil dalam badan-badan perwakilan rakyat dan
pemerintahan serta cara mengatur permusyawaratan wakil-wakil
rakyat secara bebas, terbuka dan jujur untuk mencapai konsensus
bersama.
b. Aspek materiil
yaitu aspek yang mengemukakan gambaran manusia dan
mengakui harkat dan martabatnya dan menjamin terwujudnya
Indonesia sesuai dengan gambaran, harkat, dan martabat manusia.
c. Aspek normatif (kaidah)
yaitu aspek yang mengungkapkan seperangkat norma-norma atau
kaidah-kaidah yang menjadi pembimbing dan kriteria dalam
mencapai tujuan kenegaraan.
Dalam Demokrasi Pancasila terdapat beberapa norma penting yang
harus diperhatikan, yaitu keterbukaan, keadilan, dan kebenaran.
Ketiga norma tersebut dapat menjadi aturan permainan dalam
melaksanakan Demokrasi Pancasila yang harus ditaati oleh siapapun.
Selain itu, norma tersebut harus didukung oleh aspek-aspek sebagai
berikut :
1. Aspek Optatif
Aspek ini mengetengahkan tujuan atau keinginan yang hendak
dicapai. Tujuan ini meliputi tiga hal, yaitu terciptanya negara
hukum, negara kesejahteraan, dan negara kebudayaan.
2. Aspek Organisasi
Aspek ini mempersoalkan organisasi sebagai wadah pelaksanaan
Demokrasi Pancasila. Wadah tersebut harus cocok dengan tujuan
yang hendak dicapai. Organisasi ini meliputi organisasi sistem
pemerintahan atau lembaga-lembaga negara dan organisasi-
organisasi sosial politik di masyarakat.
3. Aspek Kejiwaan
Aspek kejiwaan dalam Demokrasi Pancasila ialah semangat, yakni
semangat para penyelenggara negara dan semangat para
pemimpin pemerintahan. Dalam jiwa Demokrasi Pancasila dikenal
beberapa aspek kejiwaan, yaitu :
a. Jiwa Demokrasi Pancasila pasif, yakni hak untuk mendapat
perlakuan secara Demokrasi Pancasila.
b. Jiwa Demokrasi Pancasila aktif, yakni jiwa yang mengandung
kesediaan untuk memperlakukan pihak lain sesuai dengan hak-
hak yang diberikan oleh Demokrasi Pancasila;
c. Jiwa Demokrasi Pancasila nasional, yakni jiwa objektif dan masuk
akal tanpa meninggalkan jiwa kekeluargaan dalam pergaulan
masyarakat;
d. Jiwa pengabdiaan, yakni kesediaan berkorban demi menunaikan
tugas jabatan yang dipangkunya dan jiwa kesediaan berkorban
untuk sesama manusia dan warga negara.

4
d. Penerapan Prinsip-Prinsip Demokrasi Pancasila
Demokrasi Pancasila pada hakikatnya demokrasi yang bercorak
khas Indonesia, yang penerapannya dijabarkan dalam :
 Pemerintahan Berdasarkan Hukum.
Demokrasi Pancasila menghendaki suatu pemerintahan yang
benar-benar menjunjung tinggi hukum (Rechtstaate) dan bukan
berdasarkan kekuasaan belaka (Machstaate). Dengan demikian,
segala tindakan atau kebijaksanaan harus berdasarkan pada
hukum yang berlaku.
 Perlindungan terhadap Hak Asasi Manusia
Hak asasi menusia merupakan hak-hak yang dianugerakan
Tuhan kepada manusia sebagai makhluk ciptaan-Nya. Konstitusi
negara Republik Indonesia memberikan jaminan atas
pelaksanaan hak-hak manusia yang dituangkan dalam
Pembukaan dan Batang Tubuh UUD 1945, ketetapan MPR RI No.
XVII/MPR/1998 tentang hak asasi manusia, Undang-Undang No.
39 Tahun 1999, dan Undang-Undang No. 26 tentang Peradilan
HAM.
 Pengambilan Keputusan Berdasakan Musyawarah
Prinsip ini sudah membudaya, baik dalam kehidupan
bermasyarkat, berbangsa dan bernegara. Oleh karena itu, dalam
setiap pengambilan putusan diusahakan melalui musyawarah
untuk mencapai mufakat. Jika musyawarah tidak tercapai,
putusan diambil berdasarkan suara terbanyak (voting).

 Peradilan yang Bebas dan Merdeka


Badan peradilan (kehakiman) merupakan badan yang merdeka,
artinya terlepas dari pengaruh kekuasaan pemerintah dan
kekuasaan lainnya. Hal ini penting untuk menegakkan keadilan
di bumi Indonesia. Untuk itu, UUD 1945 menjamin keberadaan
badan peradilan sebagai badan yang merdeka sebagaimana
yang tercantung dalam Pasal 24 dan Pasal 25.
 Partai Politik (Parpol) dan Organisasi Sosial Politik
(Orsospol)
Walaupun dalam pasal 28 UUD 1945, negara menjamin
kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan
pendapat baik dengan lisan maupun tulisan, hal ini tidak berarti
rakyat (warga negara) dapat menggunakan haknya dengan
sesuka hatinya, tetapi disalurkan melalui partai politik atau
orsospol. Dengan demikian, keberadaan partai politik atau
orsospol di dalam Demokrasi Pancasila, diperlukan guna
menyalurkan aspirasi atau kehendak rakyat, membina
pendidikan politik para kader dan simpatisannya. Hal ini terdapat
dalam UU No. 31 Tahun 2002 tentang partai politik.
 Pelaksanaan Pemilihan Umum (pemilu)
Negara Republik Indonesia merupakan negara yang
berkedaulatan rakyat, artinya rakyat diakui sebagai sumber dan

4
pendukung kedaulatan dalam negara. Kedaulatan rakyat
tersebut harus berdasarkan permusyawaratan perwakilan.
Dengan demikian, rakyat tidak secara langsung mengatur
negara, melainkan melalui wakil-wakilnya. Wakil-wakil rakyat
tersebut memusyawarahkan segala sesuatu yang menyangkut
masalah kenegaraan. Untuk pengisian wakil-wakil rakyat yang
akan duduk dalam lembaga perwakilan rakyat (MPR, DPR, DPD,
dan DPRD), dilakukan melalui cara pemilihan umum. Pemilihan
umum telah diatur dalam UU No 12 Tahun 2003 tentang
pemilihan umum. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa
pemilihan umum merupakan perwujudan dari demokrasi
Pancasila.

e. Pelaksanaan Demokrasi Pancasila dalam Pengambilan


Keputusan
Pengambilan keputusan sesuai dengan prinsip-prinsip Demokrasi
Pancasila menekankan pada empat prinsip penting sebagai berikut :
a. Keseimbangan antara hak dan kewajiban, yaitu prinsip dalam
melaksanakan musyawarah ketika setiap orang mengetahui apa
yang menjadi hak pribadi, hak orang lain dan kewajiban
terhadap orang lain.
b. Persamaan, yakni prinsip yang menekankan bahwa setiap orang
memiliki kedudukan, hak, dan kewajiban yang sama.
c. Kebebasan yang bertanggungjawab, artinya bahwa setiap orang
bebas untuk mengemukakan pendapat.
d. Mengutamakan persatuan dan kesatuan, artinya setiap
pelaksanaan musyawarah harus mengutamakan kepentingan
umum.
Contoh Proses Pengambilan Keputusan sebagai perwujudan
Demokrasi pancasila diantaranya adalah :
Pemilihan Anggota DPR dan DPD Periode 2004 – 2009
Pada Hari Sabtu, 2 Oktober 2004 telah terpilih Ketua DPR dan DPD.
Setelah sidang yang berakhir sabtu dini hari dalam pemungutan
suara yang dipimpin oleh Pimpinan sementara DPR Agung Laksono
(PG) dan Yacobus Camario (PDIP), akhirnya terpilih Paket A (Agung
Laksono) mendapatkan suara 280 suara, mengalahkan Paket B
(Endin. S) dengan 257 suara. Dengan demikian Agung Laksono
terpilih sebagai Ketua DPR untuk masa jabatan 2004 – 2009 dengan
Wakil terpilihnya Soetardjo Soerjo Goeritno (PDIP), Muhaimin
Iskandar (PKB) dan Zaenal Ma’arif (PBR).

Penugasan Praktik 4
Kewarganegaraan
Setelah mempelajari materi-materi tentang : Sistem Politik di
Berbagai Negara (Negara Inggris, Republik Rakyat Cina dan
Negara Indonesia), dilanjutkan Penugasan dengan menjawab
pertanyaan atau pernyataan sebagai berikut :
1. Berikan penjelasan singakt, apa sajakah perbedaan pokok dalam
menentukan cara bekerjanya sistem politik sebagai berikut :

4
Cara
No Uraian Singkat
Kerja
...............................................................................
Sosial ....................................
1.
Politik
...............................................................................
....................................
...............................................................................
Rekruitm ....................................
2.
en Politik
...............................................................................
....................................
...............................................................................
Komunika ....................................
3.
si Politik
...............................................................................
....................................

2. Berikan penjelasan tentang pendekatan yang diperlukan dalam


mempelajari sistem politik suatu negara sebagai berikut !
a. Pendekatan
Sosiologis : ....................................................................................
.......................
.......................................................................................................
..............................................
b. Pendekatan
Filsafat : .........................................................................................
.......................
.......................................................................................................
...............................................

3. Dalam sistem politik negara Cina berdasarkan Konstitusi Tahun


1954, terdapat 3 elit politik yang sangat berpengaruh. Berikan
penjelasan singkat tugas pokok elit politik tersebut !
Konggres Rakyat Dewan Mahkamah Rakyat
Nasional Negara Tertinggi
................................ ................................ ...................................
............... ............... ............
................................ ................................ ...................................
............... ............... ............
................................ ................................ ...................................
............... ............... ............

4. Berikan tanggapan penjelasan, bagaimanakah pola pembinaan dan


proses politik pada masyarakat Inggris yang dikenal sangat patuh
kepada peraturan perundangan dan disiplin dalam kehidupan
sehari-
hari ! ...................................................................................................
....

4
............................................................................................................
................................................
............................................................................................................
................................................

5. Tuliskan persamaan dan perbedaan Demokrasi Terpimpin dan


Demokrasi Pancasila yang pernah dipraktikkan dalam sistem
politik negara Inodnesia !
Demokrasi Terpimpin Demokrasi Pancasila
................................................... .....................................................
....................... .......................
................................................... .....................................................
....................... .......................
................................................... .....................................................
....................... .......................
................................................... .....................................................
....................... .......................
C. PERAN SERTA DALAM SISTEM POLITIK DI INDONESIA

Partisipasi Politik Warga Negara


Istilah partisipai politik diterapkan kepada aktivitas orang dari
semua tingkat sistem politik, misalnya ; pemilih (pemberi suara)
berpartisipasi dengan memberikan suaranya; menteri luar negeri
berpartisipasi dalam menetapkan kebijaksanaan luar negerinya, dan
sebagainya.
Dengan demikian, partisipasi politik dapat diartikan penentuan
sikap dan keterlibatan hasrat setiap individu dalam situasi dan kondisi
organisasinya, sehingga pada akhirnya mendorong individu tersebut
berperan serta dalam pencapaian tujuan organisasi, serta ambil bagian
dalam setiap pertanggungjawaban bersama.

Fokus Kita :
Dengan partisipasi politik, kita mengacu pada semua aktivitas
yang sah oleh semua warga negara yang kurang lebih langsung
dimaksudkan untuk mempengaruhi pemilihan pejabat
pemerintahan dan/ atau tindakan-tindakan yang mereka ambil.
Beberapa pengertian Partisipasi Politik menurut para ahli :
1) Herbert Mc. Closky, dalam “International Encyclopedia of The
Social Science”
Partisipasi politik adalah kegiatan-kegiatan sukarela dari warga
masyarakat melalui mana mereka mengambil bagian dalam proses
pemilihan penguasa dan secara langsung, dalam proses
pembentukan kebijaksanaan umum.
2) Norman H. Nie dan Sidney Verba, dalam “Handbook of
Political Science”
Partisipasi politik adalah kegiatan pribadi warga negara yang legal
yang sedikit banyak langsung bertujuan untuk mempengaruhi

4
seleksi pejabat-pejabat negara dan/atau tindakan-tindakan yang
diambil oleh mereka.
3) Prof. Miriam Budiardjo, dalam “Dasar-Dasar Ilmu Politik”
Partisipasi politik merupakan kegiatan seseorang dalam partai
politik. Partisipasi politik mencakup semua kegiatan sukarela
melalui mana seseorang turut serta dalam proses pemi-lihan
pemimpin-pemimpin politik dan turut serta – secara langsung atau
tak langsung – da-lam pembentukan kebijaksanaan umum.

a. Bentuk-bentuk Partisipasi Politik


Bentuk-bentuk partisipasi politik yang terjadi diberbagai negara,
dapat dibedakan dalam kegiatan politik yang berbentuk konvensional
dan non-konvensional, termasuk yang mungkin legal (seperti petisi)
maupun ilegal, penuh kekerasan, dan revolusioner. Berikut ini adalah
bentuk-bentuk partisipasi politik menurut Almond.

KONVENSIONAL NON-KONVENSIONAL
 Pemberian Suara (voting)  Pengajuan petisi
 Diskusi politik  Berdemonstrasi
 Kegiatan kampanye  Konfrontasi
 Membentuk dan  Mogok
bergabung dalam  Tindak kekerasan politik terhadap
kelompok Kepentingan. harta benda; perusakan,
 Komunikasi individual pemboman, pembaka-ran.
dengan pejabat  Tindak kekerasan politik terhadap
politik/administratif. manu-sia ; penculikan,
pembunuhan, perang gerilya
/revolusi.
Dalam hal partisipasi politik, Rousseau menyatakan bahwa hanya
melalui partisipasi seluruh warga negara dalam kehidupan politik
secara langsung dan berkelanjutan, maka negara dapat terikat ke
dalam tujuan kebaikan sebagai kehendak bersama.
Berbagai bentuk partisipasi politik tersebut dapat dilihat dari berbagai
kegiatan warga negara yg mencakup antara lain :
a. Terbentuknya organisasi-organisasi politik maupun organisasi
masyarakat sebagai bagian dari kegiatan sosial, sekaligus sebagai
penyalur aspirasi rakyat yang ikut menentukan kebijakan negara.
b. Lahirnya Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) sebagai kontrol
sosial maupun pemberi input terhadap kebijakan pemerintah.
c. Pelaksanaan pemilu yang memberi kesempatan kepada warga
negara untuk dipilih atau memilih, misalnya : berkampanye,
menjadi pemilih aktif, menjadi anggota perwakilan rakyat, menjadi
calon presiden yang dipilih langsung, dan sebagainya.
d. Munculnya kelompok-kelompok kontemporer yang memberi warna
pada sistem input dan output kepada pemerintah, misalnya :
melalui unjuk rasa, petisi, protets, demonstrasi, dan sebagainya.

Fokus Kita :
Bentuk-bentuk dan frekuensi partisipasi politik dapat dipakai
sebagai ukuran untuk menilai stabilitas sistem politik, integritas4
kehidupan politik, kepuasan/ketidakpuasan warga negara.
Dari berbagai aktivitas-aktivitas ini, kita bisa melihat keberagaman
aktivitas dalam partisipasi politik. Dalam hal yang paling sederhana
hingga yang kompleks, dari bentuk-bentuk yang mengedepankan
kondisi damai sampai tindakan-tindakan kekerasan. Namun seluruh
aktivitas ini termasuk dalam kerangka partisipasi politik, setiap
tindakan yang berhadapan dengan pembuat dan pelaksana lebijakan,
dan partisipan terlibat untuk mempengaruhi jalannya proses tersebut
agar sesuai kepentingan dan aspirasinya.
Di tingkat individu, secara lebih spesifik Milbrath M.L. Goel
mengidentifikasi tujuh bentuk partisipasi politik individual:

N Bentuk Uraian / Keterangan


o Partisipasi
1. Aphatetic Tidak beraktifitas dan partisipatif, tidak pernah
Inactives memilih.
2. Passive Memilih secara reguler/teratur, menghadiri
Supporters parade patriotik, membayarseluruh pajak,
“mencintai negara”.
3. Contact Pejabat penghubung lokal (daerah), propinsi
Specialist dan nasional dalam maslaah-masalah tertentu.
4. Communicators Mengikuti informasi-informasi politik, terlibat
dalam diskusi-diskusi, menulis surat pada editor
surat kabar, mengirim pesan-pesan dukungan
dan protes terhadap pemimpin-pemimpin partai
politik.
5. Party and Bekerja untuk partai politik atau kandidat,
Campaign meyakinkan orang lain tentang bagaimana
Workers memilih, menghadiri pertemuan-pertemuan,
menyumbang uang pada partai politik atau
kandidat, bergabung dan mendukung partai
politik, dipilih jadi kandidat partai politik.
6. Community Bekerja dengan orang-orang lain berkaitan
Activist dengan masalah-masalah lokal, membentuk
kelompok untuk menangani problem-problem
lokal, keanggotaan aktif dalam organisasi-
organisasi kemasyarakatan, melakukan kontak
terhadap pejabat-pejabat berkenaan dengan
isu-isu sosial.
7. Protesters Bergabung dengan dmonstrasi-demonstrasi
publik di jalanan, melakukan kerusuhan bila
perlu, melakukan protes keras bila pemerintah
melakukan sesuatu yang salah, menghadapi
pertemuan-pertemuan protes, menolak
mematuhi aturan-aturan.

5
b. Tingkatan Partisipasi Politik
Tingkat-tingkat partisipasi politik, menurut Huntington dan
Nelson terbagi dua kriteria. Pertama, dilihat dari ruang lingkup atau
proporsi dari suatu kategori warga negara yang melibatkan diri dalam
kegiatan-kegiatan partisipasi politik. Kedua, intensitasnya, atau
ukuran, lamanya, dan arti penting dari kegiatan khusus itu bagi sistem
politik.
Hubungan tingkat-tingkat partisipasi nampak dalam hubungan
“berbanding terbalik”. Lingkup partisipasi politik yang besar biasanya
terjadi dalam intensitas yang kecil atau rendah, misal partisipasi dalam
pemilihan umum. Sebaliknya jika lingkup partisipasi rendah atau kecil,
maka intensitasnya semakin tinggi. Contoh, kegiatan aktivis-aktivis
partai politik, pejabat partai politik, dan kelompok-kelompok penekan.
Semakin luas ruang lingkup partisipasi politik, maka semakin
rendah atau kecil hasil intensitasnya. Dan sebaliknya, semakin kecil
ruang lingkup partisipasi politik, maka intensitasnya semakin tinggi”.
Sebagai contoh, kita lihat piramida partisipasi politik dari David F.
Roth dan Frank L. Wilson (1980).

(Menyimpang)
Pembunuh politik,
teroris, pembajak
Aktivis
Pejabat umum, pejabat
parpol sepenuh waktu,
pimpinan kelompok
kepentingan

Partisip Petugas kampanye, aktif dalam


an parpol/kelompok kepentingan, aktif
dalam proyek-proyek sosial

Menghadiri rapat umum, anggota kelompok


kepentingan, usaha meyakinkan orang, memberikan
suara dalam pemilu, mendiskusikan masalah politik,
perhatian pada perkembangan politik.
Pengam
at
Orang Yang apolitis

Berdasarkan piramida partisipasi politik, bisa ditemukan tentang


tingkatan partisipasi politik memiliki kesusaian. Semakin tinggi tingkat

5
partisipasi politik, semakin tinggi tingkat intensitasnya, dan semakin
kecil luas cakupannya. Sebaliknya, semakin menuju ke bawah, maka
semakin semakin besar lingkup partisipasi politik dan semakin kecil
intensitasnya.
 Tingkatan Pengamat
Pada tingkat pengamat, seperti menghadiri rapat umum,
memberikan suara dalam pemilu, menjadi anggota kelompok
kepentingan, mendiskusikan masalah politik, perhatian pada
perkembangan politik, dan usaha meyakinkan orang lain,
merupakan contoh-contoh kegiatan yang banyak dilakukan oleh
warga negara, artinya proporsi atau lingkup jumlah orang yang
terlibat di dalamnya tinggi.
Namun tidak demikian dengan intensitas partisipasi politiknya,
terutama kalau dikaitkan dengan arti pentingnya bagi sistem politik,
praktik-praktik tersebut pengaruhnya rendah atau tingkat
efektifitasnya dalam mempengaruhi kebijakan yang dibuat
pemerintah, membutuhkan waktu dan sumber daya yang cukup
banyak.
 Tingkatan Aktivis
Pada kategori aktivis, para pejabat umum, pejabat partai penuh
waktu, pimpinan kelompok kepentingan merupakan pelaku-pelaku
politik yang memiliki intensitas tinggi dalam berpartisipasi politik.
Mereka memili akses yang cukup kuat untuk melakukan contacting
dengan pejabat-pejabat pemerintah, sehingga upaya-upaya untuk
mempengaruhi pembuatan kebijakan pemerintah menjadi sangat
efektif.
Terutam bagi pejabat umum, secara politis mereka memiliki
peluang yang cukup kuat dalam mempengaruhi kebijakan politik
yang dibuat pemerintah, bahkan secara individual bisa
mempengaruhi secara langsung. Namun warga negara yang terlibat
dalam praktik-praktik partisipasi politik di tingkatan aktivis
jumlahnya terbatas, hanya diperuntukkan bagi sejumlah kecil orang
(terutama elit politik), yang memiliki kesempatan untuk terlibat
dalam proses politik dengan mekanisme dan kekuatan pengaruh
seperti ini.
Kegiatan partisipasi politik ditingkat aktivis bukan saja ditempuh
dengan cara-cara yang formal-prosedural atau mengikuti aturan
yang ditetapkan. Dapat juga ditempuh dengan cara-cara non-
formal, tidak mengikuti jalur yang ditetapkan secara hukum,
bahkan sampai tindakan kekerasan. Tindakan yang dilakukan bisa
berupa pembunuhan, tindakan-tindakan terorisme nasional dan
internasional, dan pembajakan.
Tingkatan atau hierarki yang terdapat pada parisipasi politik,
sangat tergantung dari akibat yang disebabkannya terhadap sistem
politik. Tingkatan partisipasi politik ini disampaikan sebagai berikut:
a. Menduduki jabatan politik atau administratif.
b. Mencari jabatan politik atau administratif.
c. Keanggotaan aktif suatu organisasi politik.
d. Keanggotaan pasif suatu organisasi politik.

5
e. Keanggotan aktif suatu organisasi semu politik (quasi-
political ).
f. Keanggotan pasif suatu organisasi semu politik (quasi-
political ).
g. Partisipasi dalam rapat umum, demonstrasi, dan
sebagainya.
h. Partisipasi dalam diskusi politik informal minat dalam
bidang politik.
i. Voting (pemberian suara).

Fokus Kita :
Tingkatan partisipasi politik, mencerminkan kapasitas
partisipan dalam berpartisipasi politik. Semakin tinggi tingkatan
yang ditempati oleh seseorang atau sekelompok orang, maka
semakin tinggi pula tingkatan parisipasi politiknya. Namun tidak
demikian dengan lingkup partisipasi politiknya, semakin tinggi
Voting merupakan tingkatan partisipasi politik terendah, yang
membedakan satu tingkat di atas orang yang apatis total,
sementara di atasnya terdapat orang atau sekelompok orang yang
sering terlibat dalam diskusi-diskusi politik informal, yang dalam
lingkup atau proporsinya lebih rendah namun intensitasnya lebih
tinggi. Posisi puncak diduduki oleh warga negara yang menduduki
jabatan politik atau administratif, maka terseleksi dengan cukup
ketat sehingga jumlahnya relatif sedikit namun memiliki posisi yang
cukup kuat untuk terlibat lebih jauh dalam proses-proses politik dan
aktivitas-aktivitas tersebut memiliki akibat yang cukup kuat
terhadap sistem politik.

Bonus Info Kewarganegaraan

5
HIRARKI
Menduduki PARTISIPASI POLITIK
jabatan politik atau administratif
Menurut THALHA HI ABU
Mencari jabatan politik atau administratif
Keanggotaan aktif suatu organisasi politik
Keanggotaan pasif suatu organisasi politik
Keanggotaan aktif organisasi semu politik
Keanggotaan pasif organisasi semu politik
Partisipasi dalam rapat umum, demonstrasi, dsb.
Partisipasi dalam diskusi politik informal minat
umum dalam politik
Voting (pemberian suara)

Apatis total (masa


bodoh)

c. Sebab-sebab Timbulnya Gerakan Partisipasi Politik


Menurut Myron Weiner, bahwa paling tidak terdapat 5 (lima) hal
yang dapat menyebabkan timbulnya gerakan ke arah partisipasi yang
lebih luas dalam proses politik antara lain :
a. Modernisasi
Sejalan dengan berkembangnya industrialisasi, perbaikan
pendidikan dan media komunikasi massa, maka pada sebagian
penduduk yang merasakan terjadinya perubahan nasib akan
menuntut berperan dalam kekuasaan politik.
b. Perubahan-perubahan Struktur Kelas Sosial
Salah satu dampak modernisasi adalah munculnya kelas pekerja
baru dan kela menengah yang semakin meluas, sehingga mereka
merasa berkepntingan untuk berpartisipasi secara politik dalam
pembuatan keputusan politik.
c. Pengaruh Kaum Intelektual dan Komunikasi Massa Modern
Kaum intelektual (sarjana, pengarang, wartawan dan sebagainya)
melalui ide-idenya kepada masyarakat umum dapat
membangkitkan tuntutan akan idenya kepad masyarakat umum
dapat membangkitkan tuntutan akan partisipasi massa dalam
pembuatan keputusan politik. Demikian juga berkembangnya
sarana transportasi dan komunikasi modern mampu mempercepat
penyebaran ide-ide baru.
d. Konflik diantara Kelompok-kelompok Pemimpin Politik
Para pemimpin politik berkompetisi merebutkan kekuasaan.
Sesungguhnya apa yang mereka lakukan adalah dalam rangka
mencari dukungan rakyat. Berbagai upaya yang mereka lakukan

5
untuk memperjuangkan ide-ide partiipasi massa dapat
menimbulkan gerakan-gerakan yang menuntut agar “hak-haknya”
terpenuhi.
e. Keterlibatan Pemerintah yang Meluas dalam Urusan Sosial.,
Ekonomi, dan Kebudayaan.
Perluasan kegiatan pemerintah dalam berbagai bidang membawa
konsekuensi adanya tindakan-tindakan yang semakin menyusup ke
segala segi kehidupan rakyat. Ruang lingkup aktivitas atau tindakan
pemerintah yang semakin luas mendorong timbulnya tuntutan-
tuntutan yang terorganasir untuk ikut serta dalam pembuatan
keputusan politik.

4. Faktor-faktor Pendukung Partisipasi Politik


a. Pendidikan Politik
Menurut Ramdlon Naning, Pendidikan politik adalah usaha
untuk memasyarakatkan politik, dalam arti mencerdaskan
kehidupan politik rakyat, meningkatkan kesadaran setiap warga
negara dalam kehidupan berbangsa dan bernegara; serta
meningkatkan kepekaan dan kesadaran rakyat terhadap hak,
kewajiban dan tanggungjawabnya terhadap bangsa dan negara.
Sedangkan dalam pandangan Alfian, Pendidikan politik dapat
diartikan sebagai usaha yang sadar untuk mengubah proses
sosialisasi politik masyarakat sehingga mereka memahami dan
menghayati betul-betul nilai-nilai yang terkandung dalam suatu
sistem politik yang ideal yang hendak dibangun. Hasil dari
penghayatan itu akan melahirkan sikap dan tingkah laku politik
baru yang mendukung sistem politik yang ideal itu, dan bersamaan
dengan itu lahir pulalah kebudayaan politik baru.

Fokus Kita :
Pendidikan politik sebenarnya dimaksudkan untuk
mewujudkan atau setidak-tidaknya menyiapkan kader-kader
yang dapat diandalkan untuk memenuhi harapan masyarakat
luas, dalam arti yang benar-benar memahami semangat yang
terkandung di dalam perjuangan sebagai kader bangsa.

Melalui pendidikan politik, diharapkan kader-kader anggota


partai politik tersebut akan memperoleh manfaat atau kegunaan :
1) Dapat memperluas pemahaman, penghayatan dan
wawasan terhadap masalah-masalah atau isu-isu yang bersifat
politis.
2) Mampu meningkatkan kualitas diri dalam berpolitik dan
berbudaya politik sesuai dengan peraturan perundang-undangan
yang berlaku.
3) Lebih meningkatkan kualitas kesadaran politik rakyat
menuju peran aktif dan partisipasinya terhadap pembangunan
politik bangsa secara keseluruhan.

5
Bonus Info Kewarganegaraan
Agar pendidikan politik dapat berjalan dengan baik, maka salah
satu kuncinya adalah dengan menamkan disiplin yang benar
kepada anak, mulai dari pemupukan disiplin pribadi yang dinamis
dan pemberian keteladanan, sehingga diharapkan dapat
menumbuhkan disiplin sosial dan disiplin nasional yang positif dan
kuat.
Dengan menanamkan dasar landasan kepribadian yang sehat
sejak dini, secara tidak langsung telah meletakkan dasar bagi
pendidikan politik masyarakat dan pembentukan kader bangsa
(generasi muda / penerus), yang selanjutnya secara mutlak
diperlukan dalam mempertahankan eksistensi dan untuk
menjaminn kelangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara.
Sasaran pendidikan politik adalah orang dewasa, dan lebih
diutamakan Generasi Muda yang memiliki potensi sebagai
generasi penerus bangsa. Adapun potensi-potensi yang dimiliki
generasi muda, antara lain :
1. Memiliki idealisme dan daya kritis
2. Memiliki dinamika dan kreatifitas
3. Mempunyai keberanian mengambil resiko
4. Bersifat optimis dan memiliki kegairahan semangat
5. Memiliki sikap kemandirian dan disiplin murni (self
disipline)
6. Terdidik dan terpelajar
7. Keanekaragaman dalam persatuan dan kesatuan
bangsa
8. Patriotisme dan nasionalisme yang tinggi
9. Fisik (jasmani) kuat dan jumlahnya banyak
10. Mempunyai sikap kesatria
11. Memiliki kemampuan penguasaan ilmu dan teknologi.

b. Kesadaran Politik
Menurut Drs. M. Taopan, kesadaran politik adalah suatu
proses batin yang menampakkan keinsafan dari setiap warga
negara akan urgensi (hal terpenting) urusan kenegaraan dalam
kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Kesadaran politik atau
keinsafan hidup bernegara menjadi penting dalam kehidupan
kenegaraan, mengingat tugas-tugas negara bersifat menyeluruh
dan kompleks sehingga tanpa dukungan positif dari seluruh warga
masyarakat, tugas-tugas negara banyak yang terbengkelai.

Fokus Kita :
Tingkat kesadaran politik masyarakat tidaklah sama, sangat
tergantung pada latar belakang pendidikannya. Kaum elit dan 5
kelompok menengah, nampak relatif lebih baik. Sedangkan
kelompok masyarakat yang tingkat pendidikannya rendah,
Di negara berkembang khususnya di Indonesia, masyarakat yang
hidup di pedesaan (lk. 70%) dan yang di perkotaan (lk.30%)
menuntut penanganan sungguh-sungguh dari aparat pemerintah
atau penguasa setempat. Masyarakat pedesaan yang secara
kuantitatif jauh lebih besar, sangat minim dalam hal kesadaran
berpolitik sehingga berdampak pada kehidupan politik nasional. Hal
ini jelas akan berpengaruh terhadap kemajuan pembangunan
nasioanl di segala bidang. Dalam hal kesadaran politik masyarakat,
Drs. Arbi Sanit antara lain menyatakan “ …. Sekalipun sudah
bangkit kesadaran nasional dan meningkatnya aktivitas kehdiupan
politik di tingkat pedesaan, namun masyarakat tani masih belum
terkait secara aktif kepada pemerintah nasional dalam hubungan
timbal balik yg aktif dan responsif. Hubungan yang ada baru bersi-
fat berat sebelah, yaitu dari atas ke bawah …. “
Bila dihubungkan dengan hak dan kewajiban sebagai warga
negara, maka partisipasi politik merupakan kewajiban yang harus
dilaksanakan sebagai wujud tanggung jawab negara yang
berkesadaran politik tinggi dan baik. Secara teknis operasional,
partisipasi politik anggota masyarakat dapat dilaksanakan dengan
cara-cara seperti nampak pada matrik di bawah ini.

N Bidang Implementasi Partisipasi politik


o

1. Politik Setiap warga negara dapat ikut serta secara


langsung ataupun tidak langsung dalam
kegiatan-kegiatan antara lain :
a. Ikut memilih dalam pemilihan umum,
b. Menjadi anggota aktif dalam partai politik,
kelompok penekan (presure group), maupun
kelompok kepentingan tertentu.
c. Duduk dalam lembaga politik, seperti MPR,
Presiden, DPR, Menteri, dan sebagainya,
d. Mengadakan komunikasi (dialog) dengan
wakil-wakil rakyat,
e. Berkampanye, menghadiri kelompok diskusi,
dan lain-lain.
f. Mempengaruhi para pembuat keputusan
sehingga produk-produk yang
dihasilkan/dikeluarkan sesuai dengan aspirasi
atau kepentingan masyarakat.
2. Ekonomi Setiap warga negara dapat ikut serta secara aktif
dalam kegiatan-kegiatan antara lain :
a. Menciptakan sektor-sektor ekonomi yang
produktif baik dalam bentuk jasa, barang,

5
transportasi, komunikasi, dan sebagainya.
b. Melalui keahlian masing-masing, dapat
menciptakan produk-produk unggulan yang
inovatif, kreatif dan kompetititf dari pada
produk luar.
c. Kesadaran untuk membayar pajak secara
teratur demi kesejahteeraan dan kemajuan
bersama.
3. Sosial- Setiap warga negara dapat mengikuti kegiatan-
Budaya kegiatan antara lain :
a. Sebagai pelajar atau mahasiswa, harus dapat
menunjukkan prestasi belajar yang tinggi.
b. Menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan
yang melanggar hukum , seperti misalnya
tawuran, narkoba, merampok, berjudi, dan
sebagainya.
c. Profesional dalam bidang pekerjaannya,
disiplin, dan produktivitas tinggi untuk
menunjang keberhasilan pembangunan
nasional.
4. Hankam Setiap warga negara dapat ikut serta secara aktif
dalam kegiatan-kegiatan antara lain :
a. Bela negara dalam arti luas, sesuai dengan
kemampuan dan profesinya masing-masing.
b. Senantiasa memelihara ketertiban dan
keamanan wilayah atau lingkungan tempat
tinggalnya.
c. Memelihara persatuan dan kesatuan bangsa
demi tetap tegak negara republik Indonesia.
d. Menjaga stabilitas dan kemanan nasional agar
pelaksanaan pembangunan dapat berjalan
sesuai dengan rencana.

Kebalikan dari partisipasi politik adalah sikap apatis. Seseorang


dinamakan apatis (secara politis), jika dia tidak mau ikut serta
dalam berbagai kegiatan politik kenegaraan di berbagai bidang
kehidupan seperti tersebut di atas. Dengan demikian sesungguhnya
kegiatan-kegiatan pendidikan politik, kesadaran politik, dan
partisipasi politik masyarakat baik di pedesaan maupun di
perkotaan perlu terus didorong dan ditingkatkan demi keberhasilan
penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan nasional.

c. Sosialisasi Politik
Studi tentang sosialisasi politik, telah menjadi bidang kajian yang
sangat menarik akhir-akhir ini. Ada dua alasan yang
melaterbelakangi sehingga sosialisasi politik menjadi kajian
tersendiri dalam politik kenegaraan.

5
Pertama : Sosialisasi politik dapat berfungsi untuk memelihara
suatu sistem, yaitu agar stabilitas berjalan dengan baik
dan positif. Dengan demikian sosialisasi merupakan alat
agar individu sadar dan merasa cocok dengan sistem serta
kultur (budaya) politik yang ada.
Kedua : Sosialisasi politik ingin menunjukkan relevansinya
dengan sistem politik dan data mengenai orientasi anak-
anak terhadap kultur politik orang dewasa, dan pelaksana-
annya di masa mendatang mengenai sistem politik.

Sosialisasi politik adalah istilah yang digunakan untuk


menggambarkan proses dengan jalan mana orang belajar tentang
politik dan mengembangkan orientasi pada politik. Adapun alat
yang dapat dijadikan sebagai perantara/sarana dalam sosialisasi
politik, antara lain :
1) Keluarga (family)
Wadah penanaman (sosialisasi) nilai-nilai politik yang paling
efisien dan efektif adalah di dalam keluarga. Di mulai dari
keluarga inilah antara orang tua dengan anak, sering terjadi
“obrolan” politik ringan tentang segala hal, sehingga tanpa
disadari terjadi tranfer pengetahuan dan nilai-nilai politik
tertentu yang diserap oleh si anak.
2) Sekolah
Di sekolah melalui pelajaran civics education (pendidikan
kewarganegaraan), siswa dan gurunya saling bertukar informasi
dan berinteraksi dalam membahas topik-topik tertentu yang
mengandung nilai-nilai politik teoritis maupun praktis. Dengan
demikian, siswa telah memperoleh pengetahuan awal tentang
kehidupan berpolitik secara dini dan nilai-nilai politik yang benar
dari sudut pandang akademis.
3) Partai Politik
Salah satu fungsi dari partai politik adalah dapat memainkan
peran sebagai sosialisasi politik. Ini berarti partai politik tersebut
setelah merekrut anggota kader maupun simpati-sannya secara
periodik maupun pada saat kampanye, mampu menanamkan
nilai-nilai dan norma-norma dari satu generasi ke generasi
berikutnya. Partai politik harus mampu men-ciptakan “image”
memperjuangkan kepentingan umum, agar mendapat dukungan
luas dari masyarakat dan senantiasa dapat memenangkan
pemilu.

Penugasan Praktik 5
Kewarganegaraan
Setelah mempelajari materi-materi tentang : Partisipasi Politik
(Pengertian, Bemtuk-bentuknya, Tingkatan, Sebab-sebab Timbulnya
Gerakan Partisipasi Politik) Faktor-faktor Pendukung Partisipasi
Politik (Pendidikan Politik, Kesadaran Politik), dilanjutkan
Penugasan dengan menjawab pertanyaan atau pernyataan
sebagai berikut :

5
1. Berikan penjelasan singkat tentang bentuk-bentuk partisipasi politik
sebagai berikut :
Bentuk
No Partisip Uraian Singkat
asi
................................................................................
Passive ....................................
1.
Support
................................................................................
....................................

Contact ................................................................................
2. Speciali ....................................
st ................................................................................
....................................

Commu ................................................................................
3. nity ....................................
Activist ................................................................................
....................................

2. Berikan penjelasan pentingnya partisipasi politik warga negara di


dalam sistem politik negara Indonesia !
............................................................................................................
............................................................................................................
................................................................................................
Berikan 2 (dua) contoh yang anda
ketahui : ................................................................................
............................................................................................................
................................................

3. Tingkatan Partisipasi politik menurut David F. Roth dan Frank L.


Wilson mencakup hal – hal berikut. Beri penjelasan singkat !
Aktivis Partisipan Pengamat
................................ .................................. ................................
............... ................ ...............
................................ .................................. ................................
............... ................ ...............
................................ .................................. ................................
............... ................ ...............
................................ .................................. ................................
............... ................ ...............

4. Berikan tanggapan penjelasan, pentingnya pendidikan politik warga


negara dalam sistem politik negara Indonesia dan berikan
contohnya ! .....................................................................
............................................................................................................
................................................
............................................................................................................
................................................

6
5.Sistem
Berikan dapat penjelasan
diartikan singkat
sebagai sebab-sebab
kumpulan fakta-fakta, timbulnyapendapat- gerakan
partisipasikepercayaan-kepercayaan
pendapat, politik dalam proses politik dan masyarakat
lain-lainberikutyang ini !
disusun
dalam suatu caraStruktur
Perubahan yang teratur; Kelas seperti sistem filsafat. Ada juga yang
Kelompok-kelompok
mengartikan bahwa Sosialsistem selalui dimulaiPemimpin dari suatu Politik tempat dan
diakhiri di tempat E lain pula.KESIMPULAN
................................................... .....................................................
Pengertian sistem politik secara sederhana
....................... dapat dikatakan sebagai
.....................
interaksi yang diabstrasikan dari seluruh
................................................... tingkah laku masyarakat di
.....................................................
dalam negaranya.
....................... Sedangkan macam-macamnya,
..................... ada yang otoriter,
anarkis, demokrasi, dan sebagainya. .....................................................
...................................................
.......................
Sistem politik yang diterapkan di setiap .....................
negara, terdapat perbedaan-
...................................................
perbadaan mendasar yang sangat .....................................................
dipengaruhi oleh ideologi atau
.......................
sejarah terbentuknya negara tersebut .....................
Oleh sebab itu, kita
...................................................
hendaknya dalam menghadapi negara .....................................................
lain harus proporsional.
....................... .....................
Pada setiap sistem politik negara-negara dunia, akan selalu dijumpai
adanya struktur politik. Struktur politik di dalam suatu negara,
adalah pelembagaan hubungan organisasi antara komponen-
komponen yang membentuk bangunan politik. Struktur politik
sebagai bagian dari struktur yang pada umumnya berlaku di setiap
negara, meliputi dua struktur kehidupan politik yakni ; Infra Struktur
Politik dan Supra Struktur Politik.
Di dalam kehidupan politik rakyat terdapat “kekuatan sosial politik
masyarakat” yang merupakan kekuatan politik riil yang disebut
“infra struktur politik”. Infra struktur politk, mencakup 5 (lima)
komponen sebagai berikut : a) partai politik (political party), b)
kelompok kepentingan (interest group), c) kelompok penekan
(pressure group), d) media komunikasi politik (political
communication media), dan e) tokoh politik (political figure).
Supra struktur politik (elit pemerintah), merupakan mesin politik
resmi di suatu negara sebagai penggerak politik formal, dan akan
bersinggungan dengan lembaga-lembaga negara yang ada, fungsi
dan wewenang/kekuasaan antara lembaga yang satu dengan
lainnya. Suasana ini pada umumnya dapat diketahui di dalam
konstitusi atau undang-undang dasar dan peraturan perundangan-
undangan suatu negara.
Setiap negara memiliki sistem politik yang berbeda, oleh sebab itu
untuk mempelajari proses politik yang ada pada suatu negara
diperlukan beberapa pendelatan antara lain : pendekatan sejarah,
sosiologis, kultur/budaya, psycho-sosial/kejiwaan masyarakat,
filsafat, idelogi dan konstitusi/hukum yang diberlakukan. Sebagai
contoh yang mewakili barat/liberal (negara Inggris), komunis (cina),
dan negara Indonesia.
Sistem politik demokrasi Pancasila, mengajarkan kepada bangsa
Indonesia agar dalam menyelesaikan berbagai masalah diupayakan
menggunakan pendekatan musyawarah mufakat, karena hal
tersebut sebagai bagian dari implementasi prinsip-prinsip demokrasi
Pancasila yang dalam praktik kehidupan sehari lebih mengutamakan
kepentingan negara dan masyarakat.
Partisipai politik merupakan penentuan sikap dan keterlibatan hasrat
6
setiap individu dalam situasi dan kondisi organisasinya, sehingga
pada akhirnya mendorong individu tersebut berperan serta dalam
pencapaian tujuan organisasi, serta ambil bagian dalam setiap
Suksesnya kegiatan kalender politik kenegaraan adalah apabila
setiap warganya memiliki tingkat partispasi dan kesadaran politik
yang baik. Karena hal tersebut, merupakan penentuan sikap dan
keterlibatan hasrat individu dalam situasi dan kondisi organisasinya
(negaranya).

LATIHAN UJI KOMPETENSI

AA Pilihan Ganda
Pilihlah salah satu jawaban yang dianggap paling benar !

1. Ciri utama dari sebuah sistem c. primitif, tradisional dan


adalah berupa …. modern
a. kumpulan sejumlah fakta- d. modern, tatoliter dan
fakta demokrasi
b. proses penentuan dan e. tradisional, totaliter dan
pelaksanaan demokrasi
c. kumpulan pendapat- 5. Salah satu indikator kuatnya
pendapat ahli sebuah sistem politik demokrasi
d. wujud suatu kebulatan di suatu negara adalah ….
yang utuh a. mempunyai tujuan yang
e. seluruh yang komplek dan jelas
utuh b. adanya komunikasi politik
2. Kegiatan politik biasanya lebih yang baik
banyak dilaksanakan atau c. pemimpinnya bukan dari
diimplementasikan untuk militer
kepentingan …. d. bersumber pada
a. pribadi/perseorangan kehendak rakyat
b. organisasi e. peran sipil lebih dominan
kemasyarakatan 6. Salah satu bentuk partisipasi
c. partai politik semata politik dalam bentuk non
d. organisasi profesional konvensional, adalah … .
e. bangsa dan negara a. pemberian suara
3. Penerapan sistem politik di b. diskusi politik
dalam suatu negara, harus c. membentuk kelompok
bersifat …. kepentingan
a. memaksa untuk mengikat d. mogok makan
masyarakat e. komunikasi dengan pejabat
b. memaksa agar semua politik
orang mematuhinya 7. Aspek formal sistem
c. sukarela untuk menarik demokrasi Pancasila, dapat
masyarakat dilihat dalam bentuk ….
d. memaksa agar negara a. pelaksanaan pemilu
memiliki wibawa b. asas kekeluargaan
e. sukarela guna mencari c. asas musyawarah
simpati masyarakat d. musyawarah mufakat
4. Menurut Almond dan Powell, e. pengambilan keputusan
sistem politik dapat 8. Demokrasi rakyat yang
dikategorikan antara lain diterapkan di negara-negara
sebagai berikut : …. komunis (Cina) pada umumnya,
a. primitif, anarki dan yakni mencita-citakan ….
modern a. pengekangan kebebasan
b. tradisional, modern & individu
demokrasi

6
b. masyarakat tanpa kelas d. untuk mengawasi
sosial sekaligus mengontrol setiap
c. melarang kebebasan peraturan yang ada
beragama e. mengadakan pengawasan
d. kaum proletar yang terhadap setiap keputusan
berkuasa pemerintah
e. masyarakat tanpa 10. Suatu aktivitas seseorang/
keteraturan sekelompok orang untuk belajar
9. Salah satu tujuan perlunya tentang politik dan
masyarakat memiliki partisipasi mengembangkan orientasi
politik di dalam negaranya yaitu politiknya secara aktif dalam
… kehidupan politik dinamakan
a. untuk mempengaruhi ….
pemilihan pejabat a. Sistem politik
publik/pemerintahan b. Partisipasi politik
b. melaksanakan kewajiban c. Dinamika politik
sebagai warga negara yang d. Sosialisasi politik
bertanggung jawab e. Komunikasi politik
c. mewujudkan sistem
politik yang berbasis pada
perwakilan rakyat
B. Uraian
Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan singkat dan jelas !
1. Rumuskan kembali dari berbagai sumber yang dimaksud dengan
sistem politik !
2. Jelaskan mengapa penerapan sistem politik di dalam suatu negara
harus dipaksakan !
3. Berikan penjelasan, ciri-ciri umum sistem politik menurut Almond !
4. Jelaskan dengan memberi alasan, mengapa sistem politik pada
negara-negara komunis bersifat totaliter !
5. Apa yang dimaksud “legitimasi” dalam salah satu ciri sistem politik
demokrasi menurut Bingham Powel, Jr. ?
6. Dalam hal penerapan, jelaskan perbedaan orientasi tujuan partai
politik di Indonesia pada masa orde baru dan era reforamsi !
7. Jelaskan perbedaan tingkatan politik menurut pendapat David F.
Roth dan Frank L. Wilson, yaitu aktivis dan pengamat !
8. Pada akhir abad 20-an, gerakan partisipasi politik di Indonesia
semakin meningkat, berikan alasan penjelasannya !
9. Berikan penjelasan tentang pentingnya “pendidikan politik ! dalam
kegiatan partisipai politik di Indonesia !
10. Berikan masing-maing 2 (dua) contoh wujud sosialisasi politik
baik di dalam keluarga, sekolah maupun melalui partai politik !

6
C. Studi Kasus
PARTAI POLITIK ALAMI KRISIS,
DAYA ARTIKULASI MENURUN

Setelah pemilu (2004), daya artikulasi partai politik menurun. Tidak


heran jika sekarang kekuatan di luar negara muncul dengan kekuatan
yang lebih kentara. Kondisi ini memperlihatkan betapa partai politik
sekarang mengalami krisis. Hal ini disampaikan oleh pengamat Fachry
Ali dalam diskusi tentang sikap partai politik terhadap masalah diplomasi
pertahanan dan keamanan nasional yang diselenggarakan Majelis Pakar
Partai Persatuan Pembangunan (PPP) di Jakarta, Kamis 4 Mei 2006.
Menurut Fachry, partai politik memang sudah bisa menerima hasil
pemilu. Namun, pemerintah yang terpilih tidak mampu membuatg koalisi
nasional secara besar-besaran. “Problemnya, presiden terpilih yang
berasal dari partai kecil akan bermasalah ketika berhadapan dengan
parlemen. Untungnya ada Jusuf Kalla, yang berhasil menguasai Golkar
sehingga bisa membuat stabilitas politik lebih kuat di parlemen,”
ujarnya.
Sayangnya, partai seperti PPP hampir tidak bersuara pada kebijakan
pemerintah dan rakyat. Bahkan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan
(PDIP), yang sudah menempatkan diri sebagai oposisi, tidak punya
kepandaian menangkap esensi persoalan. Mereka tidak punya
kemampuan meluncurkan persoalan pada saat yang tepat. “Jadinya,
fungsi oposisi hampir tidak berjalan, dan yang dilakukan hanya hal-hal
kecil. Padahal, PDIP potensial tampil berhadapan dengan pemerintah,
ujarnya.
Sumber : Harian Kompas,
5/5/2006

Tagihan Tugas :
1. Setelah disimak dan baca baik-baik, jelaskan kembali apa
telah ditulis sesuai dengan persepsi yang ada dibenak anda !
2. Berikan beberapa penjelasan indikasi tentang terjadinya
“krisis” dan “menurunnya daya artikulasi” partai politik di Indonesia
pasca pemilu 2004 !
3. Jelaskan dengan memberi alasan, mengapa partai politik
sebesar PPP dan PDIP kurang mampu menangkap esensi persoalan
bangsa dan negara dalam memberi usulan-usalan konstruktif kepada
pemerintah !
4. Tentukan langkah-langkah konkrit upaya-upaya dalam
membangun artikulasi partai politik guna meningkatkan kinerja di
parlemen !
5. Berikan usulan konkrit, apa yang harus anda lakukan guna
meningkatkan kinerja pemerintah dengan mitra kerjanya parlemen :
a. Sebagai salah satu kelompok kepentingan !

6
b. Sebagai ketua suatu partai politik !
c. Sebagai anggota Dewan Perwakilan
Rakyat !
d. Sebagai Presiden Republik Indonesia !

D.Inquiri (Tugas Kelompok)


Carilah referensi dari berbagai sumber untuk mengkaji ulang tentang
rumusan dan penerapan sistem politik demokrasi Pancasila (berikut
gambar-gambar pendukungnya) yang berkaitan dengan tata cara
pengambilan keputusan !
1. Pahami kembali tentang rumusan “demokrasi Pancasila ”, dan
buatlah skenario (simulasi atau role play) wujud demokrasi Pancasila
dalam pengambilan keputusan di sekolah !
2. Carilah topik-topik dari berbagai sumber (mass media cetak atau
elektronik) sekitar pelaksanaan sistem politik demokrasi Pancasila
(cara pengambilan keputusan),
3. Kemudian lakukan demonstrasi dalam bentuk simulasi atau role
play di dalam kelas !