P. 1
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kota Bandung (RJPMD) 2009-2013

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kota Bandung (RJPMD) 2009-2013

|Views: 1,620|Likes:
Dipublikasikan oleh Tatat Tye

More info:

Published by: Tatat Tye on Aug 11, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/11/2013

pdf

text

original

1 LEMBARAN DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN : 2009 NOMOR : 09

PERATURAN DAERAH KOTA BANDUNG NOMOR 09 TAHUN 2009 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJM) TAHUN 2009-2013 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA BANDUNG

Menimbang

: a. Bahwa

dalam

rangka

penyelenggaraan

pemerintah,

pengelolaan

pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat, perlu disusun Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah untuk kurun waktu 5 (lima) tahun yang merupakan penjabaran visi, misi dan program Walikota terpilih; b. Bahwa sesuai dengan ketentuan Pasal 150 ayat (3) huruf e Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 sebagai mana telah dirubah untuk terakhir kalinya dengan Undang-Undang No.12 Tahun 2008 dan ketentuan Pasal 30 Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 07 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan rencana Pembangunan Daerah, sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Daerah, sebagimana telah dirubah dengan peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 05 Tahun 2009, yang menyatakan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Bandung ditetapkan dengan Peraturan Daerah;

c. bahwa …

2

c.

bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud huruf b, perlu membentuk Peraturan Daerah Kota Bandung tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Tahun 2009 – 2013;

Mengingat

: 1. Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah – daerah Kota Besar dalam Lingkungan Propinsi Jawa Timur/Tengah/Barat dan Daerah Istimewa Yogyakarta (Himpunan Peraturan Negara tentang Pembentukan Wilayah/Negara); 2. Undang-Undang No 28 Tahun 1999 tentang Penyelengaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 tentang Nomor 134,Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4247); 3. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286); 4. Undang-Undang No 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4355); 5. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4355); 6. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah diubah untuk kedua kalinya dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437 jo. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844); 7. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (Lembaga Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126 Tambahan Lembar Negara republik Indonesia Nomor 4438);

8. Undang-Undang …

3

8. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005 – 2025 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 33, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4700); 9. Peraturan Pemerintah No.39 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengendalian dan Evalusi Pelaksanaan Rencana Pembangunan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 96, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4663); 10. Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2006 tentang Tata Cara Penyusunan Rencana Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4664); 11. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang pembagian urusan Pemerintahan Antar Pemerintah, dan Pemerintah Daerah Propinsi, dan Pemerintahan Daerah Propinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4817); 12. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evalusai Pelaksanaan rencana Pembangunan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 21, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4817); 13. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2004- 2009; 14. Peraturan Daerah Kotamadya Daerah Tingkat II Bandung Nomor 10 Tahun 1989 tentang Batas Wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II (Lembaran Daerah Kota Bandung Tahun 1989 Nomor 3 Seri D); 15. Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 02 Tahun 2004 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Bandung sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 03 Tahun 2006 (Lembaran Daerah Kota Bandung Tahun 2004 Nomor 02 jo. Lembaran Daerah Kota Bandung Tahun 2006 nomor 03);

16. Peraturan …

4

16. Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 08 Tahun 2007 tentang Urusan Pemerintahan Daerah Kota Bandung (Lembaran Daerah Kota Bandung Tahun 2007 Nomor 08); 17. Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 05 Tahun 2008 tentang Tata Cara Pembentukan Peraturan Daerah ( Lembaran Daerah Kota Bandung Tahun 2008 Nomor 05); 18. Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 07 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Serta Musayawarah Perencanaan Pembangunan Daerah sebagaimana telah dirubah dengan Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 05 Tahun 2009 (Lembaran Daerah Kota Bandung Tahun 2008 Nomor 07 jo. Lembaran Daerah Kota BandungTahun 2009 Nomor 05); 19. Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 08 Tahun 2008 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Tahun 2005-2025 (Lembaran Daerah Kota Bandung Tahun 2008 Nomor 08);

Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KOTA BANDUNG dan WALIKOTA BANDUNG MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN DAERAH KOTA BANDUNG TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH TAHUN 20092013 BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Daerah ini, yang dimaksud dengan : 1. Daerah adalah Pemerintah Kota Bandung 2. Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Kota Bandung 3. Walikota adalah Walikota Bandung

4. Dewan …

5 4. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang selanjutnya disingkat DPRD adalah Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Bandung. 5. Satuan Kerja Perangkat Daerah yang selanjutnya disingkat SKPD adalah unsur pembantu Walikota dalam penyelengaraan pemerintah daerah yang terdiri dari sekertariat daerah, sekertarian DPRD, dinas daerah, lembaga teknis daerah, kecamatan dan kelurahan. 6. Pembangunan Daerah adalah perubahan yang dilakukan terus menerus dan terencana oleh seluruh komponen di Daerah Untuk mewujudkan visis Daerah. 7. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Tahun 2005-2025 yang selanjutnya disingkat RPJPD adalah dokumen perencanaan pembangunan Daerah untuk periode 20 (dua puluh) tahun terhitung sejak tahun 2005 sampai dengan tahun 2025. 8. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Tahun 2009-2013 yang selanjutnya disingkat RPJPD adalah dokumen Perencanaan Pembangunan Daerah untuk perioade 5 (lima) tahun terhitung sejak tahun 2009 sampai dengan tahun 2013, yang merupakan penjabaran dari visi, misi dan Program kepala Daerah dan berpedoman pada RPJPD serta memeperhatikan RPJM Nasional. 9. Renacana Kerja Pemerintah Daerah yang selanjutnya disingkat RKPD, adalah dokumen perencanaan pembangunan daerah untuk periode 1 (satu) tahun. 10. Visi adalah rumusan umum mengenai keadaan yang diinginkan pada akhir periode perencanaan. 11. Misi adalah rumusan umum mengenai upaya-upaya yang akan dilaksanakan untuk mewujudkan visi. BAB II RUANG LINGKUP RPJMD TAHUN 2009 – 2013 Pasal 2 (1) RPJMD Tahun 2009-2013 adalah rencana 5 (lima) tahun yang menggambarkan:

a. visi …

6 a. visi, misi, dan program Walikota sebagai Kepala Daerah; dan b. berisikan arahan kebijakan pembangunan, kebijakan umum, keuangan daerah, dan program pembangunan yang akan dilaksanakan oleh SKPD, disertai dengan rencana kegiatan dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif. (2) RPJMD Tahun 2009 – 2013 sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menjadi pedoman dalam penyusunan Rencana Strategis SKPD, dan RKPD. BAB III SISTEMATIKA RPJMD TAHUN 2009-2013 Pasal 3 Sistematika penyusunan RPJMD Tahun 2009-2013 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 disusun sebagai berikut : BAB I BAB II BAB III BAB IV BAB V BAB VI : PENDAHULUAN : GAMBARAN UMUM DAERAH DAN ISU STRATEGIS : KEBIJAKAN PEMBANGUNAN DAERAH : KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH : INDIKATOR KINERJA : PENUTUP Pasal 4 RPJMD Tahun 2009-2013 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini. Pasal 5 RPJMD Tahun 2009 – 2013 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 merupakan pedoman dalam penyelenggaraan pemerintah, pengelolaan pembangunan dan pelayanan publik.

BAB …

EDI SISWADI LEMBARAN DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 NOMOR 09 . (2) Pengendalian dan Evalusi pelaksanaan RPJMD sebagaimana dimaksud ayat (1) dilakukan berpedoman kepada ketentuan perundang-undangan. memerintahkan perundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kota Bandung. Ditetapkan di Bandung Pada tanggal 6 April 2009 WALIKOTA BANDUNG. BAB V KETENTUAN PENUTUP Pasal 7 Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. TTD DADA ROSADA Diundangkan di Bandung pada tanggal 6 April 2009 SEKRETARIS DAERAH KOTA BANDUNG. Agar supaya setiap orang dapat mengetahui.7 BAB IV PENGENDALIAN DAN EVALUSI Pasal 6 (1) Pemerintah Daerah melakukan pengendalian dan evaluasi pelaksanaan RPJMD.

8 LAMPIRAN PERATURAN DAERAH KOTA BANDUNG NOMOR 9 TAHUN 2009 TENTANG PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 .

9 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG 2009 – 2013 RPJMD KOTA BANDUNG Tahun 2009 -2013 .

............ Proses Penyusunan ...... Arah Kebijakan .............6 BAB II 2..1 3.........1 4..................................................6 BAB IV 4.......................... Pereokomian Daerah. Hubungan RPJMD Kota Bandung dengan Dokumen Perencanaan lainnya ...10 DAFTAR ISI Daftar isi .2 2...1 1.........................5 1..................... Maksud dan Tujuan .... Pengelolaan Keuangan Daerah ... Landasan Penyusunan................. Strategi Keuangan......................... Program..... GAMBARAN UMUM DAERAH DAN ISU STRATERGIS Kondisi Fisik Lingkungan ......................5 3.......................................... Sistematika ...........................................................2 3.........2 1..........1 i I–1 I–1 I–2 I–2 I–4 RPJMD KOTA BANDUNG Tahun 2009 -2013 ....... II – 1 II – 22 II – 34 II – 39 II – 41 II – 47 III – 1 III – 1 III – 2 III – 8 III – 8 III – 11 III – 14 IV – 1 IV – 1 IV – 1 I–6 I–6 II ................................................3 1......................4 3..........................2 PENDAHULUAN ........................ Strategi ....... Kebutuhan Anggaran........3 2.....6 BAB III 3............................ Sosial Kependudukan ............... Latar Belakang ...... Kinerja Pemerintahan ...1 2...... KEBIJAKAN PEMBANGUNAN DAERAH Visi dan Misi ... Isu Strategis.................. BAB I 1.... Tujuan dan Sasaran ...........4 2....................................4 1..........................................3 3.5 2. KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH................................................................................... Arah Kebijakan Keuangan ...................................

.. Agenda Prioritas ... V–1 V–1 VI – 1 VI – 1 VI – 1 V-1 RPJMD KOTA BANDUNG Tahun 2009 -2013 .................. Kaidah Pelaksanaan............................................................. PRIORITAS Indikator Umum .....1 5.............11 BAB V 5... PENUTUP ...........2 BAB VI 6............................. Pedoman Transisi.....................2 INDIKATOR KINERJA DAN AGENDA .................................1 6.....

memperhatikan sumber daya dan poetnsi yang dimiliki.12 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 BAB I PENDAHULUAN 1. maka Pemeritah Kota Bandung diwajibkan menyusun Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) sebagai penjabaran dari RPJP Daerah Kota Bandung. Pemerintah Kota Bandung telah menetapkan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Kota Bandung 2005 – 2025 berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 08 Tahun 2008. factor-faktor keberhasilan. Penyusunan RPJM Daerah Kota Bandung Tahun 2009 – 2013 berpedoman pada RPJP Daerah Kota Bandung 2005 – 2025 serta memperhatikan RPJM Nasional dan RPJM Provinsi. Rencana Pembangunan Jangka menengah daerah (RPJMD) dan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD). I-1 . disusun secara berjangka meliputi: Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPM).1 LATAR BELAKANG Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional dan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah mengamanatkan bahwa Pemerintahan Daerah Provinsi. evaluasi pembangunan serta isu-isu strategis yang berkembang. Penyusunan. sesuai amanat peraturan perundangan yang berlaku. Berdasarkan amanat perundang-undangan diatas. dan dengan telah terbitnua Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005 – 2025. RPJM Daerah Kota Bandung Tahun 2009 – 2013 merupakan penjabaran visi. Kabupaten/Kota dalam rangka menyelenggarakan pemerintahannya harus menyusun perencanaan pembangunan. Perencanaan pembangunan daerah sebagaimana dimaksud. Pengendalian. Berdasarkan kondisi diatas dan dengan telah ditetapkannya Peraturan Daerah Nomor 07 Tahun 2008 tentang Tahapan. misi dan program Walikota Bandung yangakan dilaksanakan dan diwujudkan dalam suatu periode masa jabatan. Tata Cara. dan Evaluasi Pelaksana Rencana Pembagunan Daerah serta telah dilaksanakannya pemilihan Kepala Daerah secara langsung.

2. 25 Tahun 2004 tentang sistem Perencanaan 7. Sebagai tolak ukur dalam penyusunan Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Walikota pada akhir masa jabatan.2. 1. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4400). Sebagai pedoman bagi seluruh pemangku kepentingan dalam merumuskan program pembangunan periode 2009 – 2013. 1. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pmeeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 66. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah diubah untuk kedua kalinya dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125. Sebagai pedoman bagi seluruh SKPD dilingkungan Pemerintah Kota Bandung dalam menyusun Renstra SKPD periode 2009 – 2013. Undang. 6.Undang Nomor 16 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah –daerah Kota Besar dalam Lingkungan Propinsi Jawa Timur/Tengah/Barat dan Daerah Istimewa Yogyakarta. 3. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59. 3.13 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 1. 2.3 LANDASAN PENYUSUNAN Landasan penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Bandung Tahun 2009 – 2013 adalah : 1. misi Kepala Daerah terpilih dalam 5 (lima) tahun kedepan.1 MAKSUD Rencana Pemabangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Bandung Tahun 2009 – 2013 dimaksudkan sebagai pedoman dalam melaksanakan pembangunan guna mewujudkan visi.2 MAKSUD DAN TUJUAN 1. 4. Undang-undang No 1 Tahun 2004 tentang perbendaharaan Negara. 5. Undang-Undang Nomor Pembangunan Nasional. Sebagai pedoman bagi Pemeritah Kota Bandung dalam penyusunan Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) periode 2009 – 2013. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844). Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437 jo.2 TUJUAN Tujuan penyusunan RPJMD Kota Bandung adalah : 1. Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286).2. I-2 .

12. 16. Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 2007 tentang Laporan Penyelenggaraan Pemerintah Daerah kepada Pemerintah. 11.2025. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang pembagian urusan Pemerintahan Antar Pemerintah. dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota. Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah sebagaimana telah diubah dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 59 Tahun 2007. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah. Peraturan Daerah Nomor 02 Tahun 2004 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 03 Tahun 2006. Tata Cara Penyusunan. 22. 15. I-3 . 18. Undang_undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (Lembaga Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126 Tambahan Lembar Negara republik Indonesia Nomor 4438). dan Pemerintahan Daerah Propinsi.14 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 8. 14. 13. Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Kepala Daerah kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dan Informasi Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Kepada Masyarakat. Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2004 tentang Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Kementrian Negara/Lembaga. Pengendalian dan Evalusai Pelaksanaan rencana Pembangunan Daerah. dan Pemerintah Daerah Propinsi. 17. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2008 tentang Pedoman Evaluasi Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 9 Tahun 2008 tentang Rencana Pembanguan Jangka Panjang Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2005 . Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2004 .2009. 20. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005 – 2025. 10. 19. 21. 9. Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2006 tentang Tata Cara Penyusunan Rencana Pembangunan Nasional. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang.

15 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 23. b. Peningkatan Kualitas dan Produktivitas Sumber Daya Manusia. Peraturan daerah Kota Bandung Nomor 08 Tahun 2007 tentang Urusan Pemerintahan Daerah Kota Bandung (Lembaran Daerah Kota Bandung Tahun 2007 Nomor 08). Meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. pengawasan dan evaluasi. 25. pelaksanaan. antar ruang dan antar fungsi pemerintah. I-4 . c. Meningkatnya kualitas dan aksebilitas pendidikan masyarakat. Adapun poko yang berkaitan antara RPJMD Propinsi dan Kota Bandung terutama terletak pada misi berikut ini. 2. serta menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan. Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Serta Musayawarah Perencanaan Pembangunan Daerah sebagaimana telah dirubah dengan Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 05 Tahun 2009 (Lembaran Daerah Kota Bandung Tahun 2008 Nomor 07 jo. Meningkatnya kondisi infrastruktur transportasi serta sumberdaya air di kawasan industri. Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 08 Tahun 2008 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Tahun 2005-2025 (Lembaran Daerah Kota Bandung Tahun 2008 Nomor 08). Sasaran : a. Meningkatnya kesejahteraan buruh dan KUMKM. antar waktu. c. d. Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 07 Tahun 2008 tentang Tahapan. Meningkatkan kualitas dan kuantitas SDM tenaga kerja Jawa Barat dengan berbasis standar tenaga kerja ASEAN.4 HUBUNGAN RPJM KOTA BANDUNG DENGAN DOKUMEN PERENCANAAN LAINNYA RPJMD Kota Bandung merupaka bagian yang terintegrasi dengan perencanaan pembangunan nasional dengan tujuan untuk mendukung koordinasi antar pelaku pembangunan dan harus selaras dan sinergi antar daerah. penganggaran. Peningkatan Daya Beli Masyarakat. Meningkatkan kesempatan kerja melalui peningkatan investasi dan padat karya. 24. 1. Lembaran Daerah Kota BandungTahun 2009 Nomor 05). Meningkatnya kompetensi keterampilan dan kewirausahaan tenaga kerja melalui pelatihan dan sertifikasi tenaga kerja disektor formal. yang difokuskan untuk menciptakan Sumber Daya Manusia Jawa Barat yang unggul dan berdaya saing. RPJMD Kota Bandung merupakan sub sistem dari RPJM Nasional yang memiliki keterkaitan dalam agenda mewujudkan kesejahteraan masyarakat. yang difokuskan pada penciptaan lapangan kerja serta menyiapkan tenaga kerja terampil dan berjiwa enterprener untuk kebutuhan dalam negeri dan luar negeri. Dalam konteks ini RPJMD Propinsi Jawa Barat telah mengacu pada RPJM Nasional. Sasaran : a. Tata cara Penyususunan. 1. b. sehingga kaitan yang lebih spesifik adalah antara RPJMD Kota Bandung terhadap RPJMD Propinsi Jawa Barat.

Sasaran : a. 4. d. Meningkatnya pemahaman dan kesiapan masyarakat dalam menghadapi bencana. yang difokuskan pada pelestarian dan peningkatan luas dan fungsi kawasan lindung. Secara khusus selanjutnya di sebutkan bahwa Kota Bandung atau Kawasan Kota Bandung adalah menjadi salah satu focus penting. d. yang difokuskan pada peningkatan pelayanan public dan penerapan insetif berbasis kinerja. 2. Peningkatan sarana dan prasarana pendidikan. b. Meningkatnya tingkat KKN untuk menciptakan pemerintahan yang bersih. Penetapan ini diantaranya di dasarkan pada Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi Jawa Barat. 3. Peningkatan Kinerja Aparatur. sedangkan misi – 4 dalam RPJMD ini masuk dalam kategori misi minor. 5. Pembangunan infrastruktur transportasi. 7. Penyediaan energi alternatif. Meningkatnya kesipan dini dan mitigasi bencana. udara dan sampah. Dalam 5 misi tersebut. Pengendalian pencemaran air. Sasaran : a. b. c. Penanganan Pengelolaan Bencana. yaitu misi 1.3 dan 5. 4. Adapun fokus Kota Bandung pada RPJMD Propinsi Jawa Barat antara lain : 1. RPJMD Kota Bandung digunakan sebagai pedoman penyusunan Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah (Restra SKPD) dan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD).2. Peningkatan cakupan pelayanan kesehatan. 5. Tertanggapinya bencan/wabah secara cepat dan akurat. Peningkatan mutu air baku. b. RPJMD Kota Bandung Tahun 2009-2013 juga mengacu pada kebijakan pemanfaatan ruang yang telah ditetapkan (RTRW). pengembangan jasa dan perdagangan. Meningkatnya luas dan fungsi kawasan kesehatan. 6. yang difokuskan pada upaya resiko bencana. Meningkatnya profesionalisme dan kinerja aparatur Pemerintah Daerah. Meningkatnya pelayanan pemerintah daerah kepada masyarakat. setidaknya ada 4 misi mayor yang selaras dengan Misi Kota Bandung. Meningkatnya pengendalian pencemaran air. pengendalian dan Pemulihan Kualitas Lingkungan.16 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 3. Sasaran : a. Berkurangnya resiko kejadian bencana. I-5 . Meningkatnya fungsi kelembagaan Pemerintah Daerah. c.

maksud dan tujuan. Menjelaskan tentang visi dan misi. BAB VI PENUTUP Berisikan pedoman transisi dan kaidah pelaksanaan. Menjelaskan tentang kondisi fisik lingkungan. serta kebutuhan anggaran.17 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 1. serta proses penyusunan. social kependudukan. BAB III KEBIJAKAN PEMBANGUNAN DAERAH. 2. dan pengelolaan keuangan daerah. Pendekatan Teknokratik. tujuan dan sasaran. Menjelaskan strategi dan arah kebijakan pengelolaan pendapatan. karena rakyat pemilih menentukan pilihannya berdasarkan program-program pembangunan yang ditawarkan para calon Kepala Daerah. kinerja pemerintahan. program.5 SISTEMATIKA BAB I PENDAHULUAN. 1. Pendekatan Politik. Dalam hal ini rencana pembangunan adalah penjabaran agenda-agenda pembangunanyang ditawarkan Kepala Daserah saat kampanye ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah. pendekatan ini memandang bahwa pemilihan Kepala Daerah sebagai proses penyusunan rencana program. BAB II GAMBARAN UMUM DAERAH DAN ISU STRATEGIS. serta isu-isu strategis pembangunan daerah yangsedang berkembang. Menjelaskan tentang latar belakang. hubungan RPJM Daerah dengan dokumen perencanaan lainnya. belanja dan pembiayaan. BAB IV KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH. I-6 . pendekatan ini dilaksanakan dengan menggunakan metode dan kerangka berpikir ilmiah oleh lembaga yang secara fungsional bertugas untuk hal tersebut. landasan hukum. sistematika penulisan.6 PROSES PENYUSUNAN Dokumen RPJMD pada dasarnya disusun berdasarkan beberapa pendekatan berikut 1. Memuat dan menjelaskan indikator kinerja daerah beserta tahapan pencapaiannya. arah kebijakan. serta Agenda Prioritas. perekomian daerah. BAB V INDIKATOR KINERJA DAN AGENDA PRIORITAS. strategi.

Pendekatan ini bertujuan untuk mendapatkan aspirasi dan mnciptakan rasa memiliki. 4. Pendekatan Partisipatif. Pendekatan Atas-Bawah (top-down) dan Bawah-Atas (bottom-up).18 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 3. penjaringan aspirasi masyarakat serta dialog yang melibatkan stakeholders kunci. Hasil proses tersebut kemudian diselaraskan melalui musyawarah pembangunan. Adapun proses penyusunan secara rinci dapat dilihat pada gambar berikut ini : RPJPD Kota Bandung 2005-2025 Analisis Kondisi Eksisting Rancangan Awal RPJMD (oleh Bappeda) Visi. pendekatan ini dilaksanakan menurut jenjang pemerintahan. pendekatan ini dilaksanakan dengan melibatka pemangku kepentingan (stakeholders) pembangunan. Penyusunan RPJMD Kota Bandung Tahun 2009-2013 melalui berbagai tahapan analisis sektoral. Program (Kepala Daerah Terpilih) RPJM Nasional dan Propinsi Musrenbang RPJMD Perumusan Rancangan Akhir RPJMD RPJMD ditetapkan Dengan Perda setelah berkonsultasi dengan Propinsi I-7 . Misi.

Kota Bandung tergolong daerah yang cukup sejuk. lingkungan pegunungan atau cekungan dan berbagai danau besar yang terletak disekitarnya.19 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 BAB II GAMBARAN UMUM DAERAH DAN ISU STRATEGIS 2. Kota Bandung secara topografis terletak pada ketinggian 791 meter di atas permukaan laut (dpl).65 Ha. Di Wilayah Kota Badung bagian Selatan permukaan tanah relative datar.1 . Iklim asli kota Bandung dipengaruhi oleh iklim pegunungan di sekitarnya. Di bagian tengah dan Barat tersebat jenis tanah andosol. hal ini mengindekasikan bahwa sebenarnya terdapat kenaikan temperatur di Kota d II . dengan temperature udara rata-rata 230C (1995-2008).729. sedangkan di wilayah kota membentuk Bandung menjadi semacam cekungan (Bandung Basin). sedangkan di bagian Selatan serta Timur terdiri atas jenis alluvial kelabu dengan bahan endapan liat. Jenis material di wilayah bagian utara umumnya jenis tanah andosol. namun pada dasarnya beberapa tahun belakangan mengalami peningkatan suhu.1 IKLIM DAN KUALITAS UDARA Kota Bandung terletak di pada posisi 1070 36’ Bujur Timur dan 60 55’ Lintang Selatan. secara terinci (table 2.1).70C pada bulan September 2008. Keadaan geologis di Kota Bandung dan sekitarnya terdiri atas lapisan alluvial hasil letusan Funung Tangkuban Perahu. 2. dengan ketinggian rata-rata + 791 m di atas permukaan laut (dpl). Temperatur ini dipengaruhi oleh ketinggian dari permukaan laut.1 KONDISI FISIK LINGKUNGAN Kota Bandung mempunyai Luas Wilayah 16.1. serta perubahan iklim global. temperatur rata-rat di Kota Bandung pada Tahun 2008 terdapat temperatur maksimum yang mencapai 30. dan titik terendah berada di sebelah Selatan dengan ketinggian 675 Meter dpl. titik tertinggi berada di daerah Utara dengan ketinggian 1. hal ini disebabkan polusi dan meningkatnya suhu global. berdasarkan pada Peraturan Daerah Kotamadya Daerah Tingkat II Bandung Nomor 10 Tahun 1989 tentang Perubahan batas Wilayah Kotamadya Tingkat II Bandung yang merupakan tindak lanjut dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Nomor 16 tahun 1987 tentang Perubahan Batas Wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II Bandung.050 meter dpl.

Khusus untuk HC di semua lokasi melebihi baku mutu. terutama dilihat dari kadar HC.8 23.4 23. Achmad Yani. Leuwipanjang dan pada beberapa jaln utama seperti Jalan Diponogoro. temperatur di Kota Bandung naik sekitar 20C.6 19. Leuwipanjang dan pada beberapa jalan utama seperti Jalan Dioponogoro.6 29.1 Temperatur Rata-rata di Kota Bandung Tahun 1995-2008 Tahun 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Temperatur (0C) Minimum Rata-rata Maksimum 23.6 19.3 19.4 28.6 29.7 19.2 23.7 19.20 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Bandung. debu. dan Pb.4 23.5 28.1 28.9 28. namun hasil pengukuran kualitas udara ambient (SO2.0 23. Berdasarkan II .4 Pelaksanaan program Langit Biru di Kota Bandung yang bertujuan untuk mengurangi pencemaran udara sudah berjalan sekitar 10 tahun. HC.2 18. Jumlah pertumbuhan kendaraan di Kota Bandung berdasarkan hasil penelitian Jalan International (JICA) tahun 1997.6 23. CO.1 29. Buahbatu dan Jalan Siliwangi.3 19.9 18. mencapai 12% pertahun.7 19.7 19.5 28.6 23. Wastukencana.0 23. kualitas udara yang melebihi di atas ambang batas adalah di terminal Cicaheum.5 28.3 23.4 19. Sementaraitu bila dianalisis dalam kurun waktu yang lebih panjang.5 29.7 22. Ledeng. hal ini nampaknya terkait dengan pertumbuhan kendaraan yang pesat. Pb dan debu) di beberapa tempat menunjukkan masih terdapat parameter yang mendekati dan bahkan melebihi Baku Mutu (BM).2 28.7 19. serta meningkatnya pencemaran udara berkontribusi dalam meningkatnya pencemaran udara berkontribusi dalam meningkatkan iklim mikro di Kota Bandung.3 19.8 23. dan kenaikan tersbut dinali signifikan dalam dunia meteorologi.2 29.1 28. NOx. O3.1 28. yaitu temperatur udara rata-rata maksimum dalam 20 tahun terakhir. Soekarno Hatta. Dari 15 tempat yang dipantau oleh Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup (BPLH) Kota Bandung Tahun 2004-2008. Samakin sedikitnya Ruang Terbuka Hijau (RTH).2 23. Tabel 2.3 19.8 23.2 .

Pengurangan beban kota dengan penyebaran pusat kegiatan dan Konservasi di daerah resapan air. pariwisata. Pengendalian pusat kegiatan di Metropolitan Bandung dan Arahan Pengembangan jaringan transportasi berupa Pengembangan Terminal Terpadu Gedebage (Terminal Tipe A).2 STRUKTUR DAN RENCANA RUANG KOTA BANDUNG Di dalam RTRW (PP 28/2008 dan RPM RTRW Pulau Jasa-Bali). tahun 2007 meningkat menjadi 839. kandungan CO rata-rata pada hari jumat dan sabtu meningkat sekitar 38% (di hari normal sekitar 1800 menjadi 2. tanaman pangan. Di dalam RTRW Propinsi Jawa Barat (Perda No 2/2003) Kota Bandung masuk ke dalam PKN Metropolitan Bandung dan Kawasan Andalan Cekungan Bandung dengan kegiatan utama pengembangan SDM. agribisnis.1. sementara untuk yang berbahan baker bensin berfluktuasi dari sekitar 10% hingga 52%. Arahan pengembangan jaringan transportasi: sebagai jalan penghubung Cicalengka-Soreang-Padalarang dan sistem transportasi missal intra-urban. Arahan pola pemanfaatan ruang: Pengendalian urban spawl/konurbasi di koridor Bandung-Cimahi dan Bandung-Soreang. peningkatan terbesar terjadi pada sepeda motor dari 283. Di titik masuk kota Bandung seperti gerbang tol Pasteur dan jembatan Cikapayang. Data BPLH Kota Bandung. Menunjukkan bahwa keberadaan tol cipularang telah berimpilikasi terhadap kualitas udara.21 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Data Dinas Perhubungan pada tahun 2007 pada tahun 2001 total kendaraan bermotor 501. menunjukkan bahwa berdasarkan hasil uji emisi gas buang kendaraan bermotor Tahun 2002-2007.936 unit pada tahun 2001 menjadi 594. Meningkatnya pencemaran udara di Kota Bandung. lebih dari 60% kendaraan berbahan baker solar tidak memenuhi baku mutu emisi. sedangkan NOx meningkat 59% dan HC meningkat 50%. dan perkebunan.3 . Kota Bandung Sekitarnya sebagai Kawasan Andalan Cekunagn Bandung dengan sector unggulan industri. namun pencemaran udara sudah dimulai mengganggu kenyaman dan kesehatah 2.278 unit. pariwisata. Kota Bandung ditetapkan sebagai salahsatu Pusat Kegiatan Nasional (PKN).885 unit.500 kg/hari pada jumat dan sabtu). Peningkatan kapasitas pelayanan Bandara Hussein Sastranegara. industri. khususnya dari Jakarta.362 unit pada tahun 2007. jasa. II . Arahan pola pemanfaatan ruang berupa Kawasan Hutan Lindung Bandung Utara. Secara alamiah Kota Bandung memiliki Geografi yang Nyaman. sementara Dinas Perhubungan Kota Bandung mengemukakan bahan angkutan kota adalah penyumbang posisi udara udara yang paling besar. Meninggkatnya pencemaran udara di Kota Bandung juga dipengaruhi oleh tidak terawatnya mein kendaraan.

22 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Pengembangan angkutan massal di Metropolitan Bandung (jalur KA Cekunagn Bandung) dan pembangunan jalan tol Cisumdawu. Sampai sekarang Gedebage relatif belum berkembang sesuai rencana. kebijakan. Secara umum konsep. Menurut rencana tersebut Kota Bandung akan disusun atas struktur primer. pembangunan jalan lingkar utara dan/atau akses utara selatan di Bandung Timur Arahan Pengembangan Pemanfaatan ruang Kebijakan pendukung Struktur tata ruang Di dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Bandung. jasa perdagangan. industri. sekunder dan lingkungan. Pusat Primer adalah di Alun-Alun dan Gedebage. litbang.2 Bebijakan Ruang Kota Bandung.4 . pusat sub-WP dan pusat-pusat lingkungan secara merata dengan pembagian jenjang pelayanan di setiap Wilayah Pembangunan • Menata fungsi dan struktur jaringan jalan yang serasi dengan sebagian fungsi kegiatan primer dan sekunder • Bandung Utara (wilayah antara 750 dpl s. Konsep fungsi kota Kebijakan struktur tata ruang fungsi Kota Bandung: pemerintah dan perkantoran. • Membagi wilayah Kota menjadi 6 Wilayah Pengembagan (WP) • Mengembangkan pusat sekunder. jasa kesehatan dan perumahan • Mengembangkan 2 pusat primer untuk wilayah Bandung Barat dan Bandung Timur. jasa. arahan dan kebijakan ruang di Kota Bandung dapat dilihat pada table berikut: Tabel 2.d batas utara kota): kebijakan membatasi pembangunan • Bandung Barat (Wilayah Pembangunan Tegallega. Rencana struktur sistem pusat pelayanan Kota Bandung sampai tahun 2013 dapat dilihat pada table berikut ini : II . Kota Bandung adalah bagian yang sangat penting bagi perencanaan pembangunan Kota Bandung dalam jangka panjang. pendidikan. Rencana Tata Ruang ini harus menjadi dasar penting dalam pembangunan jangka menengah. Bojonegara): kebijakan memprioritaskan pengembangan • Bandung Timur (Wilayah Pembangunan Gedebage dan Ujung Berung): kebijakan mengarahkan dan pemprioritaskan pengembagan • Menyempurnakan dan meningkatkan tingkat pelayanan prasarana (jaringan) transportasi yang ada untuk mendukung perkembangan pusat primer dan sekunder • Mengembangkan jalan alternative dengan memprioritaskan jalan tembus yang sudah direncanakan • Meningkatkan akses melalui pengembangan jalan bebas hambatan dalam kota. Karees. Cibeunying. wisata.

Mata Air • Taman • Historical Preservasi Kawasan • Sempadan Mata Air • Sempadan Mata Air • Taman • Sempadan Mata Air • Taman Building. Pelestarian Kawasan • Rekreasi • Orang dan Barang • Stadion LOKASI Alun-Alun Sekitarnya dan Gedebage • Pasar • Perkantoran Gedebage Sekitarnya dan SEKUNDER Bojonegara • Retail • Grosir • Pasar • Retail • Grosir • Pasar • Retail • Grosir • Pasar • Retail • Grosir • Pasar • • • • • • • Retail Grosir Pasar Retail Grosir Pasar Retail • Sempadan Sungai. maka ditetapkan berbagai kawasan lindung. sehingga Kota Bandung dapat berkembang dan berkelanjutan. Arcamanik LINGKUNGAN Sumber : RTRW Kota Bandung (2004-2013) Mengingat kondisi kritis lingkungan Kota Bandung.3 Rencana Struktur Sistem Pusat Pelayanan Kota Bandung Tahun 2013 STRUKTUR PRIMER Alun-Alun FUNGSI • Komersial • Perdagangan • Sosial Budaya • Terminal • Sosial • Jasa/Pergudangan • Permukiman • Industri Teknologi Tinggi • Perdangangan • Lindung • Permukiman • Perdagangan • Perkantoran • Industri Non Polutan • Pedagangan • Industri • Permukiman • Perkantoran • Pemerintahan • Pendidikan Tinggi • Perdagangan • Lindung • • • • • • • • Permukiman Industri Lindung Permukiman Industri Lindung Perdagangan Perumahan BENTUK • Perkantoran • Historical Building. Sungai. Sungai. Wilayah-wilayahini patut mendapat perhatian untuk memulihkan daya dukung wilayah.5 . Margasari Setrasari Tegallega Kopo Kencana Karees Turangga Cibeunying Sadang Serang Gedebage Ujung Berung Sungai. Mata Air • Taman • Sempadan Sungai. Di antara rencana kawasan lindung di Kota Bandung antara lain : II .23 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Tabel 2. Mata Air • Taman • Sempadan Sungai.

Ganesha.6 . Dipatiukur. Pasteur. Gatot Subroto. Tamansari. Aceh.24 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Tabel 2. Dewi Sartika. Diponegoro. Sasakgantung. Jatayu Dan Kebon Jati Taman Wisata Alam Dan Kawasan Kec. Di antara rencana jaringan jalan menurut RTRW Kota Bandung adalah sebagai berikut : II . Kelenteng. Oto Iskandardinata. Malabar. Setiabudi. ABC. Sumatera. Lengkong. Gudang Utara. Cidadap. Bali. Cipaganti. Pasar Baru. Pager Gunung. Jawa. Juanda. Cikapundung.H. Melong. Ir. kolektor primer dan kolektor sekunder. Karapitan. RE Martadinata. Cibeunying Perlindungan Alam Plasma Nutfah Eks Situ Tersebar • Jalur Sempadan Sungai • Kawasan Sekitar Danau/Bendungan/Waduk • Kawasan Sekitar Mata Air Atau Eks Situ • Jalur Sempadan Jalan Kereta Api • Kawasan Sekitar Tegangan Tinggi • Sempadan Jalan Tol • Taman Kota Dan Pemakaman Umum Kawasan Yang Diidentifikasi Sering Dan Bagian Utara Kota Berpotensi Tinggi Mengalami Bencana Bandung Alam Seperti Gempa Bumi Dan Tanah Longsor Serta Banjir Sumber : RTRW Kota Bandung (2004-2013) Selanjutnya untuk mengatasi lalu lintas Kota Bandung akan dikembangkan jaringan jalan arteri primer. Pecinan. Arjuna. Braga. arteri sekunder.4 Rencana Klasifikasi Kawasan Lindung Klasifikasi Kawasan Yang Memberikan Perlindungan Terhadap Kawasan Bawahannya Kawasan Cagar Budaya Rincian LOKASI Utara • Kawasan Lindung Yang Terletak Bagian Bandung Bagian Utara Kota Bandung • Kawasan Resapan Air Terbesar di Beberapa Kecamatan Kecamatan Yang Mempreservasi Bangunan Fisik Serta Mengkonversikan Lingkungan Alami Yang Memiliki Nilai Historis Dan Budaya Kota Bandung Kota Kawasan Pelestarian Alam Kawasan Prlindungan Setempat (Ruang Terbuka Hijau) Kawasan Rawan Bencana Kawasan Alun-Alun Asia Afrika.

Suniaraja Jl. Sukabumi Kolektor Primer Jl. Cipaganti) Jl. Asia Afrika Jl.H. Suria Sumantri Jl.2 . Gatot Subroto Jl. Dr. Pacuan Kuda Jl. Tembus Bihbul Jl. Ir. Leuwipanjang Jl. Sukajadi Jl. Kebonjati Jl. Ir. Arcamanik Indah Jl. Sutami Jl. Rajawali Barat Jl. Rumah Sakit Jl. Setiabudhi Jl. BKR Jl. Gedebage (Rencana Akses Tol) Rencana Jl. Sersan Bajuri Jl. Sulawesi Jl. Sekarwangi) Jl. Ciumbeuleuit Jl. Juanda Jl. Merdeka Jl. Sukahaji Jl.5 Rencana Jaringan Jalan Arteri Primer Jl. Abdul Hamis Nasution (dahulu Jl. Kiaracondong Dan Terusan Kiaracondong) Jl. Lengkong Besar Jl. Buah Batu Jl. Raya Cibeureum Jl. Lembong Jl. Laswi Jl. Setiabudhi Jl. Moch. Toha Jl. Terusan Pasirkoja Jl. Astanaanyar Jl. Dr. Terusan Buah Batu Jl. Penghulu K. Ciwastra Kolektor Sekunder Rencana Jl. Jakarta Jl. Ibrahim adji (Dahulu Jl. Hasan Mustofa Jl. Setiabudhi (Dari Jl. Rajawali Timur Jl. Dr. Tembus Dari Jl. Dr. Sumbawa Jl. Supratman Jl. Karapitan Jl. Peta Jl. Raa Wiranatakusumah (Dahulu Jl. Ciateul) Jl. Kopo) Jl. Jamika Jl. Raya Sindanglaya dan Cibiru) Jl. Siliwangi Jl. Martadinata Jl. Sudirman Jl. Pasirkoja Jl. Sukawangi Jl. Wastukencana Jl. Sunda Jl. Junjunan Jl. Akhmad Yani Jl. Pak Gatot Raya Jl.H. Gedebage Selatan Jl. Pajajaran Jl. Terusan Jakarta Jl. Cokroaminoto (Dahulu Jl.25 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Tabel 2. Otto Iskandardinata Jl. Abdurrahman Saleh Jl. Seram Jl. Hos. Diponegoro Jl. Garuda Jl. RE. Ramdan Jl. Gurame Jl. Moch. Jend. Surapati Jl. Veteran Jl. Pasteur Jl. Elang Jl. Cihampelas Jl. Ibu Inggit Garnasih (Dahulu Jl. Soekarno Hatta Arteri Sekunder Jl. Tamblong Jl. Cibaduyut raya Sumber : RTRW Kota Bandung (2004-2013) II .

000 12.000 200 500 200 400 300 1.000 1.000 3.6 Jumlah Luas Lahan Tambahan Kebutuhan Fasilitas Wilayah Pengembangan Tahun 2013 Jenis Fasilitas Pendidikan TK SD SLTP SLTA Akademik Rumah Sakit C Rumah Sakit Poliklinik Puskesmas Posyandu Apotik Langgar/Mushola Mesjid Lingkungan Mesjid Raya Mesjid Raya Gereja Vihara Pura Standar Luas (M2) 170 1.000 2.000 10.000 1.26 Tabel 2.000 3.000 Bojonegara 106 67 23 23 1 0 0 11 3 43 11 43 3 1 0 3 3 3 Jumlah Prasarana Yang Dibutuhkan (Unit) Cibeunying Tegallega Karees Ujung Gede Berung Bage 109 98 106 143 81 69 61 67 89 50 23 20 23 30 17 23 20 23 30 17 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 0 0 0 1 0 11 10 11 14 7 3 3 3 4 2 44 39 43 57 32 11 10 11 14 7 44 39 43 57 32 3 3 3 4 2 1 1 3 3 3 1 1 3 3 3 1 0 3 3 3 1 0 4 4 4 1 0 2 2 2 Kota Bandung 643 403 136 136 6 2 1 64 18 258 64 258 18 6 2 18 18 18 Bojonegara 18020 73700 69000 69000 0 0 2200 1500 8600 4400 12900 3000 2000 0 3000 3000 3000 Tambahan Kebutuhan Lahan Untuk Prasarana (M2) Cibeunying Tegallega Karees Ujung Gede Berung Bage 18530 16660 18020 24310 13770 75900 67100 73700 97900 55000 69000 60000 69000 90000 51000 69000 60000 69000 90000 51000 10000 0 2200 1500 8800 4400 13200 3000 2000 12000 3000 3000 3000 10000 0 2000 1500 7800 4000 11700 3000 2000 12000 3000 3000 3000 0 0 2200 1500 8600 4400 12900 3000 2000 0 3000 3000 3000 0 3000 2800 2000 11400 5600 17100 4000 2000 0 4000 4000 4000 0 0 1400 1000 6400 2800 9600 2000 2000 0 2000 2000 2000 Kota Bandung 109310 44330 408000 408000 20000 3000 12800 9000 51600 25600 77400 18000 12000 24000 18000 18000 18000 Kesehatan Peribadatan Sumber : RTRW Kota Bandung (2004-2013) II .100 3.000 1.8 .

27 Tabel 2.000 250 1.250 9.000 100 3.000 750 Bojonegara 0 0 1 106 1 1 427 43 3 1 3 3 8.000 0 Jumlah Prasarana Yang Dibutuhkan (Unit) Cibeunying Tegallega Karees Ujung Gede Berung Bage 0 0 0 1 0 0 1 110 1 1 439 44 3 1 3 3 0 0 1 98 1 1 391 39 3 1 3 3 0 0 1 106 1 1 426 43 3 1 3 3 0 1 1 143 1 1 572 57 4 1 4 4 0 1 1 80 1 1 321 32 2 1 2 2 0 Kota Bandung 1 2 6 643 6 6 2576 258 18 6 18 18 0 Bojonegara 0 0 1000 10600 0 3000 106750 53750 27000 24000 2250 0 0 Tambahan Kebutuhan Lahan Untuk Prasarana (M2) Cibeunying Tegallega Karees Ujung Gede Berung Bage 0 0 0 36000 0 0 10000 11000 0 3000 109750 55000 27000 24000 2250 0 0 0 10000 9800 0 3000 97750 48750 27000 24000 2250 0 0 0 10000 10600 0 3000 106500 53750 27000 24000 2250 0 0 10000 10000 14300 0 3000 143000 71250 36000 24000 3000 0 0 10000 10000 8000 0 3000 80250 40000 18000 24000 1500 0 0 Kota Bandung 36000 20000 60000 64300 0 18000 644000 322500 162000 144000 13500 0 0 Rekreasi/ Taman/ Olahraga Transportasi Transportasi Sumber : RTRW Kota Bandung (2004-2013) II .000 24.000 10.9 .7 Jumlah Luas Lahan Tambahan Kebutuhan Fasilitas Wilayah Pengembangan Tahun 2013 (Lanjutan) Jenis Fasilitas Perekonomian Pusat Perbelanjaan Pusat Perbelanjaan Pasar Toko Bank Gedung Bioskop Taman Taman Taman Taman Gedung Olahraga Gedung Pertunjukan Terminal Transit Standar Luas (M2) 36.000 10.

054. selain itu pemerintah terus melakukan pematangan rencana pembangunan PLTSa. diharapkan akan Dicapai daya dukung lingkungan yang kebih baik dan berkesinambungan 2.54 Industri 647. hal ini yang terus di usahakan dalam rangka pengembangan kawasan Bandung Timur adalah mengurus perjanjian pembukaan akses tol Gede Bage. Dengan pengembangan tersebut.1. Pelaksanaan pembangunan Stadion Utama yang didukung dengan kegiatan pendukungnya terus dilaksanakan. hal ini tentunya akan mempercepat pelaksanaan pembangunan Kawasan Bandung Timur dan sekitarnya. (Pembangunan Jalan Akses.10 .22 Jumlah 16. 2008 1 2 3 4 5 6 7 8 9 II .49 Tegalan 318.28 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Pelaksanaan pembangunan Kawasan Bandung Timur sebagaimana arahan Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Bandung terus di pacu.57 Tanah Kosong 545. Penggunaan untuk kegiatan-kegiatan jasa sekitar 10% dan masih ada lahan sawah sekitar 20.290. Guna Lahan Luas Area (Ha) Perumahan 9.5%) digunakan sebagai lahan perumahan. maka sebagian besar lahan di Kota Bandung (55.730.00 Sumber : Badan Pertanahan Kota Bandung.3 PENGGUNAAN LAHAN Sebagai salah satu kota yang penting dan berpenduduk relaif padat. Upaya menyeimbangkan aktivitas dalam ruang wilayah Kota Bandung.47 Kolam 39. dilakukan dengan mendorong Pengembangan Gedebage di bagian Timur Kota Bandung. baik yang direncanakan oleh Pemerintah Kota maupun oleh pihak swasta.83 Sawah 3.28 Jasa 1. Tabel 2. Pembebasan Lahan.70 Kebun Campuran 215.8 Penggunaan Lahan di Kota Bandung Tahun 2008 No. Perencanaan DED (Detail Enginering Desain) dan Amdal Stadion Utama terus dilaksanakan). Terminal Terpadu dan Retension Pond di kawasan pusat primer Gede Bage.90 lainnya 649. Untuk pembangunan yang akan dilaksanakan oleh pihak swasta Pemerintah Kota Bandung sudah mengeluarkan Persetujuan Prinsip untuk pembangunan kawasan komersial di kawasan Pusat Primer tersebut.668.1% pada tahun 2008.

1 Struktur Penggunaan Lahan di Kota Bandung Tahun 2008 Kota Bandung dalam lingkup Bandung Raya adalah salah satu pusat berbagai jenis aktivitas penting di Jawa Barat maupun Indonesia dan sekitar 73. kualitas udara yang baik. masalah sampah yang belum dapat ditangani secara optimal. II .5 Kolam 0. namun juga bagi Bandung Raya. kebutuhan pemukiman.3 1. sarana dan prasarana semakin meningkat seiring dengan peningkatan jumlah penduduk dan aktivitasnya. penurunan kualitas air tanah. suhu udara yang semakin meningkat. kenyamanan.9 1.8 3. Pada situasi menghadapi berbagai masalah fisik alam tersebut. kualitas udara menurun. Kabupaten Bandung Barat dan Kota Cimahi.2 0 20 (Persen) 40 60 Grafik 2. ruang terbuka hijau. ketuntasan penanganan sampah. Berbagai masalah lingkungan muncul diantaranya: penurunan air tanah.1 55. Permasalahan lingkungan fisik alam tersebut pada dasarnya bukan hanya tantangan Kota Bandung saja. tuntutan kebutuhan air bersih. yaitu meliputi Wilayah Kabupaten Bandung. Karena tu untuk penanganan masalah dan pemenuhan kebutuhan di Kota Bandung memerlukan sinergitas dengan Kabupaten-Kota di Bandung Raya. Permasalahan di salah satu wilayah tersebut dapat membawa dampak pada wilayah lainnya.11 . luas lahan terbuka yang berfungsi lindung sangat sedikit dan terancam keberadaannya.29 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Perumahan Saw ah Jasa Industri Lainnya Tanah Kosong Tegalan Kebun Campuran 3.3 10 20. ketidakseimbangan kegiatan antar wilayah dan lain sebagainya. Berbagai aktivitas tersebut pada akhirnya memberikan tekanan berat pada kondisi fisik alam Kota Bandung.5% wilayah Kota Bandung adalah kawasan terbangun.9 3.

sehingga dari 10.019 ha harus diarahkan untuk RTH. karena umumnya jalan-jalan di Kota Bandung relative sempit. atau ketidak sinambungan antara kapasitas jalan dan volume kendaraan.1. Terjadi alih fungsi lahan untuk permukiman dan perdagangan secara cepat.4 SARANA DAN PRASARANA 1.48 km (Jalan Nasional 33.56 km.54 km. II . Jalan Propinsi 17. Terjadi penurunan muka air tanah.12 . sehingga pada masa 10-20 tahun mendatang Kota Bandung menghadapi ancaman masalah ketersediaan air dan penurunan kualitasnya. jalan raya di Kota Bandung. Panjang Jalan di Kota Bandung pada akhir tahun 2008 adalah sekitar 1.38 km). yang terdiri dari jaringan jalan primer (lalu lintas regional dan antarkota). Saat ini Kota Bandung masuk dalam kategori titik kritis tinggi 2. Tekanan jumlah penduduk dan ketidak seimbangan sebaran penduduk. Jalan di Kota Bandung terhubungan dengan system jalan Jakarta. Jawa Barat dan Jawa Tengah dan tersambung pada system jalan tol yang mempermudah akses pusat ekonomi nasional (Jakarta) menuju Bandung. Masalah jalan di Kota Bandung saat ini dan kemungkinan besar akan berlanjut dalam jangka panjang adalah tingkat pelayanan rendah.236. Infrastruktur Perhubungan Sarana jalan raya adalah bagian dari sistem perhubungan utama di Kota Bandung. Sebagai sarana utama. Jalan Kota 1185. Dengan pengembangan tersebut. Kondisi jalan secara umum adalah baik namun beberapa masih belum mantap atau kondisi sedang dan bahkan rusak.30 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Upaya menyeimbangkan aktivitas dalam ruang wilayah Kota Bandung. Kebutuhan ruang Terbuka Hijau 30% sebagai batas minimum belum terpenuhi. sekitar 5.875 ha lahan budidaya tersisa. jaringan jalan sekunder (lalu lintas perkotaan). diharapkan akan dicapai daya dukung lingkungan yang kebih baik dan berkesinambungan Daya dukung dan daya tampung Kota yang sudah mengalami penurunan drastis. Sarana jalan kereta api menghubngkan Bandung dalam system perhubungan Pulau Jawa serta perhubungan Bandung dan sekitarnya. dilakukan dengan mendorong Pengembangan Gedebage di bagian Timur Kota Bandung. Polusi udara yang berasal dari kendaraan bermotor semakin tinggi. Jalan rel juga memiliki peran dalam pergerakan manusia dan barang di Kota Bandung. Selain itu ada sarana perhubungan rel kereta api dan perhubungan udara komersial di Bandara Husein Sastranegara.

Jumlah pelanggan air bersih di Kota Bandung sebanyak 144. Kapasitas produksi PDAM rata-rata sebesar 2. PDAM juga menggunakan 19 sumur bor produksi yang dipompakan ke reservoir. Sekitar 30% ruas jalan belum memiliki saluran drainase.200 liter/detik dengan persentase kehilangan air bersih rata-rata per tahun 47%.000 jiwa dengan area layananBandung Timur dan Bandung Selatan System drainase yang ada terbangun secara apa adanya dan sebagian besar berupa system drainase jalan. Namun kapasitas bandaranya relative terbatas dalam menampung pesawat ukuran besar. Sumber air bersih yang digunakan adalah sungai (air permukaan) dan artesis (air tanah dalam).500 m3/hari yang sebagian besar adalah sampah perumahan dan fasilitas umum. Terlebih lagi dengan perkembangan lokasilokasi usaha yang tdak teratur dan pertumbuhan kendaraan yang sangat tinggi. Secara umum kondisi perhubungan Kota Bandung saat ini menghadapi masalah serius dan semakin menjadi besar di masa dating bila tidak dilakukan terobosan penting. PDAM menggunakan 10 mata air utama yang terletak di daerah Ledeng. Drainase. Sampah ) Sebagian besar wilayah Kota Bandung sarana air kotor masih bercampur dengan saluran drainase pada saluran terbuka. misalnya oleh sampah domestic. 2. sehingga beberapa daerah rawan banjir dan genangan. Volume sampah Kota Bandung mencapai 7. Produksi sampah tersebut tidak seimbang dengan kemampuan penanganan sehingga masih banyak sampah yang tidak terangkut. dengan sungai utama adalah Sungai Cikapundung (panjangnya 28 km dan yang masuk Kota Bandung 15.31 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Bandar Udara Husein Sastranegara melayani penerbangan domestic dan internasional. 3. Air limbah diolah oleh satu unit Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Bojongsoang dengan kapasitas 400. II . membelah Kota Bandung dari utara ke selatan. Tragedi besar terjadi di TPA Leuwigajah Kota Cimahi sangat memperngaruhi masalah persampahan di Kota Bandung dan patut menjadi perhatian besar bagi pengelolaan sampah di masa depan. Sampah di Kota Bandung adalah menjadi bagian dari system persampahan regional yang meliputi pula daerah sekitarnya.309 sambungan langsung dengan cakupan pelayanan sekitar 53%.13 . System drainase di masa depan perlu direncanakan secara komprehensif. System drainase makro pada umumnya alamiah terdiri dari 46 sungai. Sangat dibutuhkan system angkutan umum masal. Sarana Lingkungan ( Sanitasi. Gangguan fungsi drainase mikro sering terjadi juga akibat gangguan fungsi drainase jalan.5 km) dengan 9 anak sungai. Air Minum ( Air Bersih ) Pada umumnya kebutuhan air minum dan air bersih dipenuhi dengan pengeboran rumah tangga dan sebagian dilayani oleh PDAM.

Kota Bandung memiliki cukup banyak Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang telah memiliki reputasicukup baik pada skala internasional maupun regional.32 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 4. Stabilitas dan kuantitas yang ada berkaitan dengan ketersediaan listrik Jawa Bali. maupun ketenagaan pendidikan. Pengembangan telekomunikasi Kota Bandung sangat terkait dengan perkembangan eksternal bisnis ini. Untuk Kota Bandung seluruh wilayahnya sudah terlayani dengan alira listrik. Sebagai Pusat Pendidikan. 5. Telekomunikasi dan Listrik Media telekomunikasi dan energi listrik di Kota Bandung dilayani melalui system nasional. Sampai dengan tahun 2008. 2 Institut. II .Cisangkuy) dan Bengkok (S. khususnya terhubung dengan grid Jawa-Bali. Sarana Pendidikan Sebagai Kota Pendidikan. diantaranya upaya untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas pendidikan. Sementara untuk Perguruan Tinggi Swasta (PTS) sebanyak 78 yang terdiri dari : 14 Universitas.14 . akan tetapi kondisi sarana prasarana pendidikan belum memadai. dan diharapkan di masa depan kualitas layanan semakin baik dengan harga rata-rata yang semakin turun. Jumlah Perguruan Tinggi Negeri (PTN) sebanyak 8 buah yang terdiri dari : 2 Universitas. Berbagai upaya telah dilaksanakan Kota Bandung dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas di Kota Bandung. di masa dating jelas sekali akan meningkat layanan energi listrik ini patut mendapat perhatian agar seimbang dengan dorongan pertumbuhan kegiatan masyarakat di Kota Bandung.Citarum). 33 Sekolah Tinggi. karena Kota Bandung memiliki kualitas yang baik dibanding dengan daerah sekitarnya. Kota Bandung memiliki 602 TK/RA. sarana prasarana pendidikan. semua wilayah di Kota Bandung dapat dijangkau oleh sarana telekomunikasi. dimana hal ini akan mempengaruhi kualitas penyelenggaraan pendidikan di Kota Bandung. (Sumber Bandung Dalam Angka Tahun 2007). Pelayanan energi listrik di Kota Bandung cakupannya sudah sangat luas dengan pola jaringan jalan dan berupa sistem jaringan udara. 3 Sekolah Tinggi dan 2 Politeknik. Pada sarana energi listrik. 13 politeknik. Lamajan. di antaranya dengan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Saguling (S. Salah satu kebutuhan lain yang besar di masa dating adalah penyediaan backbone untuk cybercity yang harus direncanakan dengan baik dengan melibatkan stakeholder. 1 Institut. Dalam era komunikasi nir kabel. Pangalengan (S. dengan munculnya sekolah favorit dan sekolah yang kurang peminatnya sehingga harus merger. 250 SMP/MTs dan 245 SMA/SMK/MA yang terbesar di 30 Kecamatan. Cikalong. antara lain melalui Role Sharing antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Propinsi. Akan tetapi penyebaran Lembaga Pendidikan tersebut tidak merata baik dari sisi kuantitas maupun kualitas. Dapat dikatakan hamper tidak ada masalah dalam telekomunikasi di Kota Bandung. 16 akademik. Kota Bandung selalu menjadi tujuan utama para pelajar untuk mengenyam pendidikan.Cikapundung).

Sarana Kesehatan Sarana Kesehatan Kota Bandung sampai dengan tahun 2008 adalah Puskesmas 71 buah. karena kebutuhan bidang ilmu yang semakin spesifik. di masa dating patut diperhatikan mengenai sebaran sarana pendidikan dan penataan kawasan pendidikan. 5 diantaranya adalah Puskesmas dengan tempat perawatan untuk persalinan. Perlibatan masyarakat dalam penyediaan dan pengembangan sarana pendidikan juga dapat menjadi alternative penting.801 Rusak Ringan 1. SLTP sebanyak 47 orang.014 5.567 Orang. karena relative banyak yang tidak melanjutkan studi. Pada tingkat taman kanak-kanak. Sarana Pelayanan Kesehatan lainnya adalah Rumah Sakit 31 buah.33 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Hal ini dapat dilihat pada table berikut: Jenjang pendidikan TK/RA SD/MI SMP/MTS SMA/SMK/MA Jumlah Ruang Kelas 1. terbanyak adalah Guru sekolah dasar dan guru SLTA. Rasio guru per sekolah semakin meningkat bila jenjang pendidikan semakin tinggi. Praktek Dokter Gigi 583 Orang. Hal ini dapat mengurangi pergerakan penduduk khususnya siswa/mahasiswa agar lebih efisien dan tidak terlalu lama dalam perjalanan menuju lokasi belajar.730 2. Pada tingkat SLTA. SD sebanyak 40 orang.15 . rasio ini semakin menurun. Dalam hal ketenagaan pendidikan. Tingkat pelayanan pendidikan dapat dilihat dari rasio siswa per kelas. SLTA sebanyak 37 orang. Kota Bandung memiliki Guru sebanyak 26. 6. Praktek Dokter Umum 1. rasio siswa per kelas sebanyak 35 orang.157 243 224 Kondisi Ruang Kelas Rusak Sedang 241 28 18 Rusak Berat 268 29 6 Rusak Total 30 17 2 Kebutuhan RKB 5 597 143 43 Dari kondisi tersebut. Rasio guru per sekolah tingkat SLTA adalah sebanyak 33 Orang.531 2.049. 16 Puskesmas diantaranya memiliki gawat darurat serta 13 Puskesmas Keliling. Praktek Bidan s II . Pada tingkat SLTP jumlah anak yang bersekolah relative banyak bila dibandingkan dengan daya tampung sehingga rasio per kelas melebihi 40 siswa.

34
RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013

811 Orang, Praktek Dokter Spesialis 137 Orang, Balai Pengobatan Swasta 512 buah, Laboratorium Klinik 88 buah, Apotek sebanyak 493 buah dan Rumah Bersalin 51 buah. Dari 31 Rumah Sakit tersebut, 11 diantaranya milik Pemerintah, yaitu RSHS, Rumah Sakit Dr. HA Rotin Sulu, RSK Jiwa Pusat, RS Mata Cicendo Milik Depkes, RSU Santika Asih Milik Polri, RSU Salamun Milik TNI AU, RSU Sari Ningsih Milik TNI AD, RSUD Ujungberung, RSKAI Astana Anyar dan RSKGM milik Pemerintah Kota Bandung, serta RSKGM miliki Depdiknas. Sedangkan Rumah sakit Swasta berjumlah 20 buah, yaitu RS Rajawali, RS Kebonjati, RS Adven, RS Boromeus, RS Bungsu, RS St Yusuf, RS Muhamadiyyah, RS Imanuel, RS Al Islam, RS Santosa, RSK Jiwa Hurip Waluya, RSK Ginjal, RSK Bedah Halmahera, RSIA Hermina, RSIA Melinda, RSIA Teja, RSB Limyati dan RSB Ema Puradireja. Dengan demikian sarana kesehatan Kota Bandung harus sudah mampu menyediakan pelayanan kesehatan yang sesuai dengan permasalahan kesehatan spesifik khas perkotaan. 7. Sarana Ekonomi Sarana ekonomi di Kota Bandung, khususnya untuk perdagangan dan jasa memiliki jenis beragam dan tumbuh dengan pola alamiah. Karena pertumbuhannya yang alami dan mengikuti kecenderungan pasar, maka beberapa pusat perdagangan skala besar dibangun dalam jarak terlalu dekat atau justru bersaing dengan pasar yang sudah ada. Usaha ritel dan grosir sudah menjadi tidak jelas lagi, sehingga persaingan dapat dikatakan kurang sehat. Toko-toko kecil sudah semakin terdesak oleh jaringan pertokoan besar dan pasar tradisional semakin terfokus pada produk-produk pertanian primer (perishable goods). Situasi seperti ini ekonomi makro Kota Bandung dapat memunculkan potensi crowding out investasi, artinya investasi satu kegiatan tergeser oleh persaingan padahal belum mencapai titik keuntungan. Hal ini juga dapat menjadi salah satu pemicu kenaikan biaya-biaya ekonomi di Kota Bandung. Untuk itu pada perekonomian Kota Bandung diperlakukan aturan yang jelas dan tegas agar persaingan usaha menjadi lebih sehat dan produktif. 8. Sarana Peribadatan Mayoritas penduduk Kota Bandung beragama Islam, sehingga jumlah masjid mencapai 2.177, jumlah Gereja 131, pura 3, dan vihara 22. Perkembangan lokasi peribadatan ini juga terkadang tumbuh dengan kurang direncanakan. Terlebih pada tempat ibadah tertentu yang skalanya nasional maupun regional sering menyedot pengunjung sehingga berdampak pada kemacetan lalu lintas. Berkembangnya fasilitas peribadatan dengan pesat tanpa hirarki dan distribusi yabf baik menyebabkan fasilitas peribadatan kurang dimanfaatkan secara optimal.

II - 16

35
RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013

9. Sarana Ruang Terbuka Hijau dan Pemakaman Umum Ruang Terbuka Hijau (RTH) adalah bagian penting dari ekosistem perkotaan. RTH adalah ruang-ruang dalam kota atau wilayah yang lebih luas dalam bentuk area/kawasan maupun dalam bentuk area memanjang/jalur di mana dalam penggunaannya lebih bersifat terbuka (tanpa bangunan). RTH meliputi taman kota, taman wisata alam, taman rekreasi, taman lingkungan perumahan dan permukiman, taman lingkungan perkantoran dan gedung komersial, taman hutan raya, hutan kota, hutan lindung, benteng alam, cagar alam, kebun raya, kebun binatang, pemakaman umum, lapangan olahraga, lapangan upacara, parkir terbuka, lahan pertanian perkotaan, jalur di bawah listrik tegangan tinggi, sempadan sungai, pantai, bangunan, median jalan, rel kereta api, pipa gas dan pedestrian, kawasan jalur hijau dan taman atap (roof garden). Kota Bandung yang disebut dengan Kota Bunga, Paris Van Java dahulu dikenal memiliki desain kota yang indah dan memiliki banyak taman atau ruang terbuka hijau. Saat ini Kota Bandung memilikibeban berat untuk mengembalikan kebanggaan tersebut. Pada beberapa tahun terakhir terus digalakkan optimalisasi Ruang Terbuka Hijau (RTH) dalam bentuk taman kota. Perkembangan luas RTH Kota Bandung pada tahun 2006 seluas 1.314,20 ha (7,85%) mnjadi 1.466,13 ha (8,76%) di tahun 2007. perkembangan luas RTH di Kota Bandung tamak pada tabel berikut,

Tabel 2.10. Perkembangan Ruang Terbuka Hijau Taun 2006-2007 JENIS Taman Kebun bibit Pemakaman RTH lahan Kritis Jumlah 2006 Luas 120.95 1.69 141.06 1,050.51 1,314.20 % 0.72 0.01 0.84 6.28 7.86 2007 Luas 129.45 1.69 145.50 1,189.50 1,466.13 % 0.77 0.01 0.87 7.11 8.76

Sumber : Badan Pertanahan Kota Bandung, 2008

Sesuai dengan RTRW Kota Bandung (Peraturan Daerah Nomor 03 tahun 2006) pada tahun 2013 Kota Bandung diharapkan memiliki luas RTH sebesar 10%, dan sesuai dengan RPJPD Kota Bandung (Peraturan Daerah Nomor 08 tahun 2008) luas RTH Kota Bandung pada tahun 2025 mencapai 30% yang terdiri dari 20% RTH Publik dan 10% RTH Privat. Tempat pemakaman Umum di Kota Bandung sebanyak 13, yaitu TPU Muslim, TPU Kristen, Serta TPU Hindu dan Budha yang tersebar yang tersebar di 6 bagian wilayah kota dengan luas total sebesar 124.000 m2 . Dengan jumlah populasi yang demikian besar, maka di masa depan pemakaman umum termasuk masalah yang besar.

II - 17

36
RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013

Berdasarkan definisi ruang terbuka hijau tersebut, relatif masih ada peluang untuk mewujudkan RTH di Kota Bandung. Tidak kurang dari 16, jenis yang menjadi potensi RTH Kota Bandung. Tidak kurang dari 16 jenis, yang menjadi potensi RTH Kota Bandung : Taman Kota, Taman Rekreasi, Taman Lingkungan Perumahan dan Permukiman, Taman Lingkungan Perkantoran dan Gedung Komersial, Hutan Kota, Kebun Binatang, Pemakaman Umum, Lapangan Olah Raga, Lapangan Upacara, Parkir Terbuka, Lahan Pertanian Perkotaan, Jalur Dibawah Tegangan Tinggi (SUTT dan SUTET), Sempadan Sungai dan Sempadan Bangunan, Jalur Pengaman Jalan, Median Jalan, Rel Kereta Api dan Pedestrian, Kawasan dan Jalur Hijau, Daerah Penyangga (Buffer Zone), Lapangan Udara Husein Sastranegara dan Taman Atap (Roof Garden). 10. Sarana Seni, Olah Raga dan Pariwisata Seni yang berkembang di Kota Bandung memiliki variasi besar, yaitu mulai dari seni tradisional sampai moderen. Sarana seni yang menampung kegiatan seni tersebut dapat saling bergantin, diantaranya adalah sejumlah lapangan terbuka yang menjadi pilihan untuk kegiatan seni skala besar misalnya Lapangan Gasibu dan Tegallega. Selain itu juga terdapat sejumlah gedunggedung seni yang dapat dimanfaatkan, baik milik pemerintah maupun swasta. Galeri –galeri seni pribadi juga banyak terdapat di Kota Bandung. Sarana seni di Kota Bandung di antaranya adalah museum (6 unit), gedungpertunjukan (12 unit), galeri (28 unit), gedung bersejarah (637 unit). Sarana olahraga di Kota Bandung terdiri dari lapangan indoor dan outdor, yaitu kolam renang (13 unit), pusat bilyar (49 unit), bowling (4 unit), stadion (6 unit), pusat kebugaran (9 unit) dan lapangan golf serta lapangan umum yang dapat digunakan oleh masyarakat. Srana pariwisata dan rekreasi di Kota Bandung ragamnya sangat besar. Pada dasarnya banyak hal yang dapat dijadikanobjek wisata Kota Bandung, baik obyek wisata alam, sejarah, buatan, moderen, basis kreatifitas dan lain sebagainya. Seluruh obyek dan sarana tersebut sebaiknya menjadi paket wisata menarik yang dan menjadi obyek yang utuh, sehingga setiap sisi Bandung dapat menjadi obyek wisata yang menarik. Perkembangan pariwisata Kota Bandung didukung keberadaan hotel (170 unti), restoran (123 unit), rumah makan (440 unit), biro pelayanan wisata (116 unit), agen wisata (12 unit), penyelenggara wisata (4unit), lembaga pendidikan wisata (16 unti), hiburan lingkungan seni dan budaya (367 unit), galeri (25 unit) dan bioskop (9 unit).

Sebagai salah satu kota terpenting di Indonesia, di Kota Bandung relative tersedia banyak sarana public (lengkap). Permasalahan yang kerap terjadi adalah pada daya dukung sarana transportasi terhadap segala kegiatan di berbagai sarana public tersebut. Sarana perhubungan dapat menjadi ancaman in-efisiensi pergerakan aktivitas penduduk di Kota Bandung pada masa yang akan dating. Ketersediaan ruang terbuka hijau terus diupayakan agar kota menjadi nyaman sekaligus diharapkan dapat memperbaiki ketersediaan air tanah di Kota Bandung.

II - 18

persentase kerapatan bangunan yang cukup tinggi. harta benda dan kehilangan sumber ekonomis.37 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 2. saat dan sesudah terjadi bencana.19 . (3) memberi informasi masyarakat dan pihak berwenang mengenai risiko. Kegiatan pada tahap sebelum terjadinya bencana. baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana” Secara umum. rehabilitasi. dalam prakteknya mitigasi dapat dikelompokkan ke dalam mitigasi struktural dan mitigasi non struktural berhubungan dengan usahausaha pembangunan konstruksi fisik. ayat (9). Manajemen bencana ini bertujuan untuk (1) mencegah kehilangan jiwa. dan rekonstruksi.5 MITIGASI BENCANA Kota Bandung sebagai daerah hunian yang memiliki kepadatan. Sementara itu. Kegiatan saat terjadi bencana yang mencakup kegiatan tanggap darurat untuk meringankan penderitaan sementara. Menurut UU No. sementara mitigasi non struktural antara II . mitigasi. pasal 1. “Mitigasi bencana adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana. Secara umum kegiatan manajemen bencana dibagi kedalam tiga kegiatan utama yaitu : 1. (2) mengurangi penderitaan manusia. 24/2007 tentang Penanggulangan Bencana. bantuan darurat dan pengungsian. di dalam praktek penanggulangan bencana masih ditekankan pada saat serta pasca terjadi bencana. kesiapsiagaan. 2. baik bencana alam (Natural disaster) maupun non alam (Man-made disaster).1. pada tahap pra bencana masih sangat terbatas pada tahap pencegahan. seperti kegiatan search and rescue (SAR). Kegiatan pada tahap pra bencana ini sangatlah penting karena apa yang sudah dipersiapkan pada tahap ini merupakan modal dalam menghadapi bencana dan pasca bencana. serta peringatan dini. dikenal dengan istilah Mitigasi atau penjinakan/peredaman. Kegiatan pasca bencana yang mencakup kegiatan pemulihan. dan secara alami dilewati oleh patahan gempa (sesar lembang) serta struktur bebatuan dan tanah kota bandung sangat labil terhadap gempa. Kegiatan pra bencana yang mencakup kegiatan pencegahan. merupakan kawasan yang sangat rentan terhadap kejadian bencana. Manajemen bencana sendiri merupakan seluruh kegiatan yang meliputi aspek perencanaan dan penanggulangan bencana. pada sebelum. Oleh karena itu perlu diupayakan langkah-langkah strategis untuk melindungi setiap warga dengan melakukan manajemen bencana. Selama ini. 3. serta (4) mengurangi kerusakan infrastruktur utama.

b. juga kejadian bencana luar biasa lainnya yang bisa ditimbulkan oleh sumber penular lainnya. seperti demam berdarah dan chikungunya. yang berasal dari hewan bisa juga terjadi akibat kepadatan dan kondisi sanitasi lingkugan yang kurang baik akibat kurang kesadaran dan budaya bersih yang belum melekat pada masyarakat sehingga menimbulkan berbagai penyakit.078 M3. 2. Adapun data kasus demam berdarah yang telah terjadi di wilayah Kota Bandung dari tahun 2004 sampai dengan tahun 2008 adalah sebagai berikut : II .700. Demam Berdarah Disamping potensi mitigasi bencana alam yang telah dijelaskan diatas. Longsor Volume kejadian (skala kecil) sebanyak 2 kali.38 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 lain meliputi perencanaan tata guna lahan disesuaikan dengan kerentanan wilayahnya dan memberlakukan peraturan (law enfocement) pembangunan. Upaya mitigasi dan tindakan-tindakan antisipasinya adalah syarat mutlak untuk dapat hidup berdampingan dengan bencana yang sering terjadi di Kota Bandung seperti Bencana Alam (Natural disaster). termasuk kesiapan dan tindakan-tindakan pengurangan resiko jangka panjang. Data dan Informasi kejadian bencana di Kota Bandung pada tahun 2008 adalah sebagai berikut : 1.235. Wabah Penyakit Menular a. Bencana Alam a.20 .000 pada tahun 2007 menjadi Rp. Jumlah korban sebanyak 524 jiwa. dengan tidak ada korban jiwa. Penurunan kurang lebih 69%. Bencana Non-Alam Volume kejadian Kebakaran sebanyak 141 kali. Dengan upaya mitigasi terhadap bencana-bencana tersebut dapat mengurangi resiko-resiko dampak dari suatu bencana yang dilakukan sebelum bencana itu terjadi.599.8 %. dan Wilayah Penyakit Menular.000 pada tahun 2008. Angin Putting Beliung Volume kejadian sebanyak 1 kali. 12. Tingkat kerugian pada tahun 2008 mengalami penurunan dari Rp.259 M3 menjadi 2.1 % dibandingkan pada tahun 2007 sebanyak 168 kali. c. Jumlah korban sebanyak 637 jiwa. 39. Bencana Non-Alam (Manmade disaster). 3. Penurunan kurang lebih 56. Banjir Volume kejadian sebanyak 3 kali. Terjadi penurunan kurang lebih 16.746. Penggunaan air untuk memadamkan api pada tahun 2008 mengalami penurunan dari 3.

2 GRAFIK KASUS DBD DI KOTA BANDUNG TAHUN 2004 . Data kusus chikungunya yang terjadi di wilayah Kota Bandung pada tahun 2008 adalah sebagi berikut Tabel 2.11 DATA KASUS CHIKUNGUNYA DI KOTA BANDUNG TAHUN 2008 No.21 . 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Bulan Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember Jumlah Kasus 1.2008 1600 1400 1200 1000 800 600 400 200 0 Tahun 2004 Tahun 2005 Tahun 2006 Tahun 2007 Tahun 2008 Januari 119 111 242 523 545 Februari 383 255 326 1220 349 Maret 1418 347 479 956 349 April 364 211 499 446 467 Mei 162 114 309 546 377 Juni 127 355 328 301 305 Juli 46 330 195 184 307 Agustus 103 509 222 154 205 September 32 487 187 106 226 Oktober 31 474 105 84 497 Nopember 58 248 138 113 112 Desember 52 359 159 750 341 Akibat sanitasi yang kurang baik.589 65 31 69 1 241 26 50 10 21 0 22 Total 2.39 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Grafik 2. selain penyakit deman berdarah juga timbul penyakit chikungunya.125 Sumber : Dinas Kesehatan Kota Abndung Tahun 2008 II .

Rabies dan Sapi Gila (Mad Cow). Rata-rata pertumbuhan jumlah penduduk Kota Bandung antara tahun 2002-2007 adalah sebesar 1. Kabupaten Bandung.43%. kasus virus flu burung menyerang unggas di 2 Kelurahan. Penyakit Zoonosis tersebut antara lain adalah penyakit Flu Burung. Bandung Barat dan Kota Cimahi pada tahun 2006 dapat mencapai jumlah penduduk 5 jutaan. ada juga penyakit yang ditimbulkan melalui hewan. Sebagai pusat kegiatan penting. Dengan peran sebagai orientasi. Pertambahan jumlah penduduk ini dapat menjadi beban berat apabila secara bersamaan daerah sekitarnya juga terus mengalami pertambahan penduduk. pertumbuhan penduduk bisa semakin melambat. dan karakter dari setiap bencana secara lengkap merupakan langkah awal dari upaya mitigasi sehingga dalam aspekaspek pembangunan akan memperhatikan kaidah-kaidah kebencanaan. Hal ini perlu mendapat perhatian. Jumlah ini tetap mengisyaratkan s II . Tipe virus yang ditemukan di Indonesia adalah H5N1 yang bersifat ganas.624 jiwa.6 juta jiwa. Penyakit Zoonosis (Flu Burung) Selain wabah penyakit demam berdarah dan chikungunya. Kelurahan Kebonlega. Penyakit Flu Burung (Avian Influenza) mulai masuk ke Indonesia termasuk ke Jawa Barat pada tahun 2003. maka disekitar Kota Bandung berkembang daerah-daerah hinterland seperti Kabupaten Bandung dan Bandung Barat. sehingga realitas jumlah penduduk yang beraktivitas di Kota Bandung cenderung melebihi jumlah penduduk yang teregistrasi. jumlah Kasus yang terinfeksi 1 Kasus. hingga mencapai 2. yaitu di Kelurahan Pajajaran.340. wilayah Kabupaten Sumedang bagian barat serta Kota Cimahi yang dihuni oleh penduduk yang berjumlah besar pula. Virus tersebut pada umumnya menyerang unggas namun dapat juga menyerang manusia dan hingga saat ini belum ada obatnya. yaitu penyakit hewan zoonosis. Dengan mengetahui data. Anthrax. maka pergerakan penduduk antara pusat dan hinterland menjadi bercampur. virus ini mulai menjangkiti unggas pada tahun 2005.1 PENDUDUK Penduduk Kota Bandung pada tahun 2007 adalah sebanyak 2.22 . sehingga apabila telah terjadi sering dikatakan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB).2 SOSIAL KEPENDUDUKAN 2. informasi. 2.4 juta jiwa. jumlah penduduk Kota Bandung mencapai hampir 2. Kecamatan Cicendo dengan jumlah kasus yang terinfeksi 1 Kasus. Mengingat penyakit zoonosis pada hewan dapat menular pada manusia bahkan dapat menyebabkan kematian. demam sama dengan genjala flu biasa namun tidak dapat diobati. Pada tahun 2008. Dengan kondisi tersebut. sedangkan di Kota Bandung. maka diperkirakan pada tahun 2013. Apabila terjadi kontak langsung antara manusia dengan unggas yang terjangkit virus flu burung akan mengakibatkan sesak nafas.40 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 b. Bila biaya hidup dan beraktivitas di Kota Bandung semakin kompetitif dan mahal.2. Kecamatan Bojongloa Kidul.

yaitu mencapai jumlah 120. Andir. Coblong.5% dari seluruh jumlah penduduk Kota Bandung.733 jiwa atau mencapai 5. sekitar 50% penduduk tinggal di 10 Kecamatan saja.6 2. Distribusi persentase jumlah penduduk Kota Bandung menurut kecamatan dapat dilihat pada tabel berikut ini : II . maka kepadatan penduduk Kota Bandung pada tahun 2007 adalah 140 jiwa/ha. Dalam kondisi ini tetap saja beban bayangan jumlah penduduk yang besar. Perkembangan dan kecenderungan pertumbuhan penduduk Kota Bandung Tahun 2009-2013 dapat dilihat pada grafik berikut ini : 2. Bojongloa Kaler.41 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Kota Bandung sebagai Kota Penting. menjadi isu penting Kota Bandung di masa datang.2 Perkembangan Jumlah Penduduk Kota Bandung Tahun 2007 Dengan luas wilayah sekitar 16. dengan jumlah penduduk sekitar hampir 20. yaitu Bandung Kulon. Seluruh jumlah penduduk tersebar di kecamatan yang ada. yang rata-rata proporsi jumlah penduduknya mencapai 4%. Cibeunying Kidul. Dari kecamatan yang ada. Babakan Ciparay.000 jiwa atau sekitar 0. Batununggal.4 2. Distribusi jumlah penduduk terbesar adalah Kecamatan Bandung Kulon. Kiaracondong.9% jumlah penduduk Kota Bandung.730 ha. namun penduduk yang beraktivitas di dalamnya melakukan komuter dan tinggal di daerah sekitar Kota Bandung.23 .2 2 2002 3 4 5 2006 7 8 2009 10 11 12 2013 Grafik 2. Kecamatan dengan jumlah penduduk tersedikit adalah Kecamatan Cinambo. Sukajadi dan Cicendo.

492 87.529 60.742 II .946 27.193 38.305 70.711 100.890 117.159 95.867 70.956 120.42 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Tabel 2.753 106.633 86.455 34.328 115.708 67.24 .969 59.137 19.725 45.990 73.964 107.694 82.733 34.353 63.722 65.241 108.518 39.365 KECAMATAN Cicendo Cidadap Cinambo Coblong Gedebage Kiaracondong Lengkong Mandalajati Panyileukan Rancasari Regol Sukajadi Sukasari Sumur Bandung Ujungberung JUMLAH 93.927 57.465 52.12 Distribusi Penduduk per Kecamatan di Kota Bandung Tahun 2007 (jiwa) KECAMATAN Andir Antapani Arcamanik Astanaanyar Babakan Ciparay Bandung Kidul Bandung Kulon Bandung Wetan Batununggal Bojongloa Kaler Bojongloa Kidul Buahbatu Cibeunying Kaler Cibeunying Kidul Cibiru Sumber : RKPD Tahun 2009 JUMLAH 93.

43
RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013

Bandung kulon Batununggal Kiaracondong Babakan Ciparay Coblong Bojonngloa Kaler Cibeunying Kidul Andir Sukajadi Cicendo Buahbatu Regol Rancasari Astanaanyar Lengkong Bojongloa Kidul Antapani Cinbeunying kaler Ujungberung Arcamanik Mandalajati Cibiru Cidadap Bandung Kidul Sumur Bandung Penyileukan Bandung Wetan Sukasari Gedebage Cinambo 0 1.2 0.9 2 4 1.8 1.8 1.6 1.6 2.1 3 2.9 2.8 2.7 2.6 2.4 3.3 3.2 3.2 3.1 4 3.9 3.8 4.3 4.3 4.2 4.9 4.9 4.9 4.6

5.5 5.3 5.2

6

Grafik 2.3 Distribusi Penduduk per Kecamatan di Kota Bandung Tahun 2007 (%)

II - 25

44
RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013

Selanjutnya penduduk Kota Bandung dapat dianalisis menurut struktur umurnya. Struktur umur ini adalah informasi yang sangat penting karena berkaitan dengan perkembangan persentase kelompok sasaran pembangunan. Misalnya proporsi penduduk pada tingkat pendidikan dasar, menengah, tinggi, remaja, usia kerja (produktif), usia lanjut. Besaran komposisi penduduk ini akan menentukan kebutuhan layanan pada setiap kelompok. Bila dilihat dari struktur usia penduduk Kota Bandung, yang tergolong menonjol adalah usia masa awal usia kerja (25-34 tahun) dan pada usia pendidikan tinggi (20-24 tahun). Pada kedua kelompok ini terlihat pola lonjakan bila dibandingkan dengan usia pendidikan dasar-menangah. Artinya secara normal sebenarnya strukturnya akan semakin menyempit mulai dari usia balita sampai dengan usia lanjut. Lonjakan pada usia tersebut di atas, mengindikasikan bahwa di Kota Bandung terjadi migrasi masuk yang sangat besar, yaitu mahasiswa-mahasiswa yang melanjutkan studinya di Kota Bandung sekaligus tempat mencari kerja pada penduduk usia-usia awal kerja. Struktur seperti ini patut mendapat perhatian, karena kemungkinan akan selalu berulang Antisipasi atas peristiwa seperti ini harus selalu dilakukan dalam mengupayakan pembangunan dan pelayanan publik di Kota Bandung.

70_74 60_64 50_54 40_44 30_34 20_24 10_14 0_4 0 2 4 6 8 10 12

Grafik 2.4. Struktur Umur Penduduk di Kota Bandung Tahun 2007 (%)

II - 26

45
RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013

Penduduk Kota Bandung termasuk didominasi oleh penduduk usia muda, khususnya usia awal memasuki kerja. Masalah penyerapan tenaga kerja menjadi sangat penting dalam jangka pendek dan menengah.

2.2.2

INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA Tujuan pokok pembangunan adalah meningkatkan kesejahteraan manusia (human Welfare). Kesejahteraan pada dasarnya memiliki dimensi yang luas dan beragam. Salam satu indikator kesejahteraan manusia adalah Indeks Pembangunan Manusia (IPM), yang meliputi indikator pendidikan, kesehatan dan daya beli. Sebagai indikator utama pada dasarnya IPM adalah berfungsi sebagai indikator impact, yaitu terbentuk karena banyak aspek pembangunan yang dilakukan. Tabel 2.13. Perkembangan IPM dan Komponennya di Kota Bandung Tahun 2004-2008 TAHUN 2004 2005 2006 2007 2008* IPM 77.17 77.46 77.54 78.09 78.33 INDEKS PENDIDIKAN 88.94 89.18 89.26 89.60 89.70 INDEKS KESEHATAN 79.23 79.27 79.38 80.65 80.97 INDEKS DAYA BELI 63.34 63.93 63.93 64.04 64.27

Sumber BPS (2008) *: Angka Sementara

Pada tahun 2004 IPM Kota Bandung mencapai 77,17 dan sampai dengan tahun 2008 relatif tumbuh sangat lambat. Mengikuti pola tersebut, dapat diproyeksikan IPM sampai dengan tahun 2013. Struktur IPM Kota Bandung bervariasi menurut aspeknya. Indeks Pendidikan adalah indeks tertinggi, sedangkan Indeks Daya Beli adalah indeks terendah. Berdasarkan data yang ada, Indeks Kesehatan adalah indeks yang diperkirakan dapat mengalami pertumbuhan paling cepat. Bila pada tahun 2008 adalah sekitar 80,97 maka ada kemungkinan dapat mengalami peningkatan hingga 91, atau sedikit lebih rendah daripada Indeks Pendidikan pada Tahun 2013. Indeks Pendidikan dan Indeks Daya Beli walaupun mengalami peningkatan, namun peningkatan relatif lambat. Selanjutnya dapat dianalisis tingkat IPM menurut kecamatan. Ada sekitar empat daerah yang s

II - 27

5.28 . Kecamatan Panyileukan dan Kecamatan Bojongloa Kaler. Perbandingan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Menurut Kecamatan di Kota Bandung Tahun 2007 (%) II . Kiaracondong Cidadap Sukajadi Babakan Ciparay Cibeunying Kidul Rancasari Bojongloa Kidul Astanaanyar Sukasari Sumur Bandung Cibeunying Kaler Batununggal Coblong Regol Andir Lengkong Bandung Kulon Buahbatu Antapani Gedebage Bandung Wetan Cinambo Cibiru Ujungberung Bandung Kidul Arcamanik Bojongloa Kaler Panyileukan Mandalajati Cicendo 74 76 78 80 82 Grafik 2. yaitu Kecamatan Cicendo.46 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 tergolong rendah. Kecamatan Mandalajati.

Angka Kematian Ibu (AKI) pada tahun 2008 yang terlaporkan sebanyak 20 kasus. Aspek Kesehatan Aspek Kesehatan yang mempengaruhi IPM adalah Angka Harapan Hidup (AHH). menjadi 181 anak kasus pada tahun 2008. Angka Kematian Kasar (AKK) yang terdata dari Rumah Sakit selama tahun 2008 sebanyak 3.29 .71% sedangkan cakupan K4 mencapai 81. Kematian ibu maternal dapat dicegah bila cepat dan tepat dalam pengambilan keputusan penanganannya. Angka Kematian Balita (AKABA) atau jumlah kematian anak umur 1-4 tahun per 1000 kelahiran hidup pada tahun 2008 adalah sebanyak 69 anak. Kematian neonatal pada tahun 2007 berjumlah 186 kasus termasuk 61 kematian yang terjadi dalam kandungan. Peran swasta yang cukup dominan belum mendukung pelaksanaan program. Cakupan K1 Kota Bandung mencapai 84. AKABA menggambarkan masalah kesehatan anak serta faktorfaktor yang mempengaruhi kesehatan anak balita seperti gizi. AKK juga dapat menjadi dasar dalam menghitung laju pertambahan penduduk walaupun penilaian yang diberikan secara kasar dan tidak langsung. sanitasi. dimana angka ini dapat digunakan sebagai petunjuk umum status dan kondisi kesehatan di masyarakat yang secara tidak langsung menggambarkan kondisi lingkungan ekonomi.586 kasus. sedangkan target standar pelayanan minimal kesehatan adalah 95%. Sebagai penyebab langsung kematian ibu yang utama adalah pendarahan (45%) dan lainnya adalah penyebab tidak langsung antara lain keterlambatan merujuk. dan dari sisi masyarakat masih banyak ibu hamil yang “pulang kampung” menjelang proses persalinan. Kematian neonatal pada usia awal kehidupan merupakan salah satu indikator belum optmalnya manajemen kelangsungan program pelayanan kesehatan ibu dan anak.39 tahun dimana capaian ini dipengaruhi oleh menurunnya Angka Kematian Bayi (AKB) atau menurunnya jumlah kematian bayi dibawah usia satu tahun pada setiap 1000 kelahiran hidup. dimana angka tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor. AKABA dan AKK. antara lain AKB.47 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 1. biologis. II .02% kesenjangan ini dapat diakibatkan oleh kemampuan dan pemahaman petugas pengelola KIA tentang manajemen kelangsungan program KIA yang belum optimal. fisik. Hal lain yang dapat memperkecil resiko kematian ibu adalah dengan pelayanan berkala meliputi pelayanan K1 dan K4.80%. penyakit infeksi dan kecelakaan. petugas pencatatan dan pelaporan yang tidak mengetahui secara rinci diagnosis yang ditegakkan petugas medis. Dengan demikian masih terdapat kesenjangan sebesar 13. Angka harapan hidup Kota Bandung pada tahun 2008 adalah 73. AKI. Angka ini belum dapat dikatakan sebagai jumlah seluruh kematian ibu yang terjadi di Kota Bandung. karena kemungkinan masih banyak kasus kematian ibu yang tidak tercatat atau tidak terlaporkan. definisi operasional yang belum sama antara Rumah Sakit dan program kesehatan.

dan hal ini akan dituntaskan pada tahun 2009 melalui Program Keaksaraan Fungsional kerjasama Pemerintah Provinsi Jawa Barat dengan Pemerintah Kota Bandung. sarana pembuangan air limbah. Posyandu Pratama (9. sehingga Pemerintah Kota Bandung perlu merevisi kembali target capaian rata-rata lama sekolah sampai dengan tahun 2013.67%) persentase kelurahan terkena KLB yang ditangani kurang dari 24 jam (24 kelurahan).48 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Keadaan lingkungan yang mempengaruhi kesehatan masyarakat Kota Bandung yang dapat dilihat dari prosentase rumah sehat yang memiliki sarana air bersih 74.52 tahun. Posyandu Madya (58.30 . Posyandu Purnama (29.09%) prosentase sarana kesehatan dengan kemampuan laboratorium kesehatan (28. II . Adapun perilaku sehat masyarakat dilihat dari cakupan rumah tangga yang ber-PHBS sebanyak 273.66%).42%. persentase bayi yang mendapat ASI eklusif (20. Capaian Rata-rata Lama Sekolah pada tahun 2008 baru mencapai 10. Angka Melek Huruf di Kota Bandung pada tahun 2008 sebesar 99. akuntabilitas dan pencitraan publik.913 orang perempuan.27%) dan rumah sakit (101. prosentase RS yang menyelenggarakan 4 layanan kesehatan spesialis dasar (53.66% sedangkan prosentase tempat-tempat umum sehat dilihat dari sarana air bersih tempat pembuangan sampah. ventilasi’ luas ruangan dan system pencahayaan yang memadai.05%). persentase murid SD/MI yang mendapat pemeriksaan gigi dan mulut (45%). yang memiliki jamban 60. persentase kelurahan yang mencapai Universal Child Immunization (UCI) baru 46 kelurahan (30. dimana capaian sangat dipengaruhi oleh berbagai indikator yang dikelompokkan kedalam kelompok pemerataan dan perluasan akses.56%).21%.46%).17%). Akses dan mutu pelayanan kesehatan dapat dilihat dari prosentase penduduk yang memanfaatkan puskesmas (68. hal ini sangat jauh dari target capaian semula yaitu 12 tahun. dengan demikian keberadaan buta aksara masih tersisa sebanyak 849 orang laki-laki dan 1. persentase ibu hamil yang mendapat tablet Fe (87. dan Posyandu Mandiri (3.02%). Pelayanan kesehatan yang telah dilaksanakan di Kota Bandung.50% meningkat 0. kelompok peningkatan mutu. 2.61%. relevansi dan daya saing.8% dan yang memiliki pembuangan sampah 50. Aspek Pendidikan Aspek Pendidikan yang mempengaruhi IPM adalah angka Melek Huruf (AMH) dan Rata-rata Lama Sekolah (RLS). yang memiliki SPAL 57.19%). serta penguatan tata kelola.25%) dan tingkat perkembangan posyandu. serta persentase keluarga miskin yang mendapat pelayanan kesehatan yang baru mencapai 34. dapat dilihat dari persentase persalinan oleh tenaga kesehatan (77.46%).039 KK (43.33%) prosentase obat generik berlogo dalam persediaan (116 jenis). persentase pekerja yang mendapat pelayanan kesehatan kerja.06% dari tahun 2007.

karena sesuai dengan fungsinya sebagai kota pendidikan. APM jenjang Sekolah Menengah Pertama dan yang sederajat telah mencapai 99. dan kemampuan. bersekolah di Kota Bandung. sebagian masyarakat masih memilah-milah studi lanjutan anak tanpa memperhatikan bakat. Kota Bandung telah beberapa kali mendapat penghargaan. dimana capaian angka partisipasi murni tahun 2008 baru mencapai 75.60% dari tahun 2007. sehingga masyarakat menjadi apatis untuk berpartisipasi dalam pendidikan.65% meningkat 1.80% dari tahun 2007. Jika dilihat dari penduduk usia 16 sampai 18 tahun. Aspek Daya Beli Indeks daya beli masyarakat merupakan salah satu komponen IPM yang mengalami peningkatan (tabel 2. antara lain disebabkan oleh persepsi masyarakat tentang pendidikan. APK jenjang Sekolah Menengah Pertama dan yang sederajat telah mencapai 116.44% meningkat 7. pada tahun 2008 baru mencapai 22. sementara anggapan lainnya adalah pendidikan masih dianggap mahal.49 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Banyak faktor yang jadi penyebab dari ketidak tercapainya rata-rata lama sekolah 12 tahun sampai tahun 2008. sehingga keluaran pendidikan tinggi pun masih banyak yang menjadi pengangguran. sedangkan APK pendidikan menengah (SMA/SMK/MA) baru mencapai 75.54%.3% dari tahun 2007 3.91% meningkat 4. banyak usia pendidikan dasar dari daerah sekitar.51% meningkat 6.31 .13).58% dari tahun 2007.91%. yang dianggap belum menjanjikan karena tidak relevannya kompetensi atau kecakapan lulusan dengan kebutuhan dunia kerja. Lebih jauh jika dilihat dari penduduk usia 19 sampai 24 tahun yang seharusnya telah mengikuti jenjang pendidikan tinggi. Sedangkan capaian Angka Partisipasi Murni (APM) tahun 2008 pada jenjang Sekolah Dasar dan sederajat adalah 123. sehingga lulusan pendidikan menengah lebih memilih bekerja atau pendidikan non formal/kursus/diploma yang dapat membuat mereka cepat bekerja. minat.13% dari tahun 2007.11% dari tahun 2007. sedangkan APK pendidikan menengah (SMA/SMK/MA) baru mencapai 98. Hal lain yang menjadi penyebab rendahnya APK/APM Perguruan Tinggi adalah adanya sebagian masyarakat yang lebih berorientasi pada Perguruan Tinggi Favourit dan memilih tidak melanjutkan dari pada tidak lulus seleksi.16% Meningkat 12. Akan tetapi jika dilihat dari keberhasilan penyelenggaraan wajib belajar Sembilan tahun. sehingga sekolah menjadi tidak serius dan akhirnya drop out. Dilihat dari angka partisipasi kasar maupun angka partisipasi murni telah melebihi target. Pendidikan tinggi dianggap belum menjanjikan karena tidak relevannya kompetensi/kecakapan lulusan dengan kebutuhan kerja. Indeks daya beli yang diperoleh dari II .13% meningkat 1. hal ini antara lain disebabkan oleh mahalnya biaya pendidikan tinggi. Capaian Angka Partisipasi Kasar (APK) tahun 2008 pada jenjang Sekolah Dasar dan sederajat adalah 131. sehingga masyarakat kurang terdorong untuk menyekolahkan anaknya ke jenjang pendidikan menengah.

termasuk kategori tinggi di Jawa Barat. keluarga di rumah tidak layak huni (27. masyarakat di daerah rawan bencana (4.001 persen yaitu dari 63.127.126 jiwa). Indeks daya beli yang diperoleh dari perhitungan konsumsi perkapita penduduk Kota Bandung pada tahun 2008 (BPS angka sangat sementara) mencapai 64. Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) Kualitas hidup dan kesejahteraan umum Kota Bandung yang ditandai dengan relatif tingginya Indeks Pembangunan Manusia (dalam hal ini pendidikan dan kesehatan).386 jiwa). 576. anak cacat (484 jiwa). tuna susila (116 jiwa). wanita rawan sosial ekonomi (5. tidak serta merta melepaskan Kota Bandung dari berbagai masalah sosial di tingkat mikro.890. Indeks daya beli atau ekonomi. Indeks daya beli tahun 2007 mengalami peningkatan sebesar 0.04 pada tahun 2007.meningkat dari tahun 2005 : 63.643 jiwa). korban narkoba (363 jiwa).. Rata-rata tingkat kesejahteraan penduduk Kota Bandung yang dihitung berdasarkan IPM.27% point atau setara dengan konsumsi per kapita penduduk sebesar Rp. 577.sehubungan dengan hal tersebut. 578.868 jiwa). Peningkatan daya beli tersebut masih dibawah standar upah minimum rata tahun 2008 sebesar Rp. 08 Tahun 2008 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Bandung 2002-2025.000. korban HIV-Aids (1. anak korban tindak kekerasan (19 jiwa).07 pada tahun 2013 dengan indeks daya beli 68. Berbagai masalah sosial berkembangan di masyarakat pada tahun 2008 adalah balita terlantar (360 jiwa).. Beberapa hal yang cukup menonjol antara lain adalah : II .268 Jiwa) dan lain sebagainya. gelandangan (948 jiwa). 939. anak jalanan (4.93 point atau setara dengan Rp.-. walaupun relatif rendah juga memberikan kontribusi yang positif terhadap peningkatan nilai IPM masyarakat Kota Bandung pada tahun 2007.32 . maka programprogram pembangunan yang akan dilaksanakan Pemerintah Kota Bandung pada tahun 2010 diarahkan pada peningkatan daya beli secara bersinergi antar sektor dan lintas sektor dalam rangka pencapaian IPM sebesar 81. adalah Indeks yang relatif rendah.13. Indeks daya beli yang mengalami peningkatan. pengemis (4.88 sesuai dengan target capaian kinerja tahap-2 yang telah ditetapkan dalam Perda No.-. Daya beli merupakan yang paling kompleks dalam perhitungan dan penentuannya.821 jiwa). anak terlantar (6.041 keluarga). 576.62.– sedangkan tahun 2006 sebesar Rp. Indeks daya beli masyarakat merupakan salah satu komponen IPM.99 pada tahun 2006 menjadi 64.50 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 perhitungan konsumsi per kapita penduduk Kota Bandung pada tahun 2007 mencapai Rp. 4.

429 62 10. gelandangan dan masyarakat yang tinggal di daerah bencana.51 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 • • Peningkatan jumlah anak terlantar. keluarga dengan rumah tidak layak huni dan korban HIV-Aids.527 Jumlah 360 6.643 19 4.288 27.041 2.967 Sumber : Dinas Sosial 2008 Adapun perbandingan peningkatan jumlah PMKS yang ada dan jumlah PMKS yang ditangani masih belum berimbang.277 1.200 1.821 239 484 5.14.33 . 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 Balita Terlantar Anak Terlantar Anak Korban Tindak Kekerasan Anak Jalanan Anak Nakal Anak Cacat Wanita Rawan Sosial Ekonomi ( WRSE ) Wanita Korban Tindak Kekerasan Lanjut Usia Terlantar Lanjut Usia Korban Tindak Kekerasan Penyandang Cacat Penyandang Cacat Eks Penyakit Kronis Tuna Susila Pengemis Gelandangan Eks Narapidana Korban Penyalahgunaan Napza Keluarga Fakir Miskin Keluarga Berumah Tidak Layak Huni Keluarga Bermasalah Sosial Psikologis Komunitas Adat Terpencil Masyarakat Yang Tinggal Didaerah Rawan Bencana Korban Bencana Alam Korban Bencana Sosial Pekerjaan Migran Korban HIV/AIDS Keluarga Rentan Jumlah Jenis PMKS Satuan Orang Orang Orang Orang Orang Orang Orang Orang Orang Orang Orang Orang Orang Orang Orang Orang Orang KK KK KK Orang Orang Jiwa Jiwa Orang Orang Orang 4. anak nakal. beberapa tantangan masalah sosial Kota Bandung relatif masih sangat besar.268 358 161. keluarga fakir miskin.344 116 4. tuna susila. Data Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) Tahun 2008 No.868 40 2. Adapun data jumlah Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) di Kota Bandung sampai dengan tahun 2008 yaitu sebagai berikut : Tabel 2. pengemis.126 948 298 363 84. Penurunan jumlah anak jalanan. sehingga diperlukan anggaran yang memadai untuk melaksanakan program dan kegiatan s II .161 423 1.386 1. Dengan beberapa kecenderungan tersebut.

Tingkat Pertumbuhan yang tinggi tersebut menunjukan bahwa Kota Bandung adalah menjadi salah satu sumber pertumbuhan ekonomi yang penting di Jawa Barat maupun di Indonesia.83% dan diperkirakan pada tahun 2007 mencapai 8. gelandangan dan kriminalitas adalah berbagai masalah sosial yang mengemuka di Kota Bandung 2. kemiskinan. 5.211 kasus. Seperti halnya kota-kota besar lain di Indonesia. Secara terinci konstribusi kegiatan ekonomi Kota Bandung dan sekitarnya Ekonomi Jawa Barat dapat dilihat dalam tabel berikut : II . atau di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi Jawa Barat dan bahkan nasional.3 PEREKONOMIAN DAERAH Kota Bandung memiliki peran penting dalam perekonomian Jawa Barat. Dalam lingkup Kota Bandung Raya. dan lain-lain. Keamanan dan Ketertiban Pertumbuhan penduduk Kota Bandung yang tidak dapat diimbangi dengan penyediaan lapangan kerja bagi semua golongan penduduk dapat menimbulkan berbagai permasalahan sosial dan ekonomi seperti pengangguran. Respon warga terhadap gelaja ini antara lain nampak dari penjagaan keamanan diri secara sepontan dalam bentuk penutupan akses kawasan-kawasan pemukiman (terutama dari golongan mampu. permasalahan sosial sebagai dampak kemajuan juga terjadi di Kota Bandung. Pada Tahun 2004-2007 konstribusi ekonomi Kota Bandung di Jawa Barat mencapai rata-rata 10%. Kota Bandung juga mempunyai angka kriminalitas relatif masih tinggi. maka kontribusi aktivitas ekonominya menjadi sekitar 23% dari ekonomi Jawa Barat. walaupun sudah ada penurunan dilihat dari angka kriminalitas tahun 2006 mencapai 4. pengemis. Laju pertumbuhan ekonomi Kota Bandung juga tergolong tinggi. keluarga rawan ekonomi. penipuan dan penggelapan.52 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 pembangunan bidang kesejahteraan secara optimal sehingga dalam penanganannya diperlukan koordinasi yang baik antar unsur-unsur terkait baik pemerintah. yang sekaligus menimbulkan kesan eksklusivisme. selain kegiatan ronda sebagai wujud penjagaan keamanan komunitas.148 kasus pada tahun 2007. Sebagai salah satu kota besar dengan berbagai peran di tingkat nasional yang tergolong penting. Keluarga miskin.24%. Pada tahun 2006 tingkat pertumbuhan ekonomi mencapai 7. swasta dan masyarakat.34 . dengan kasus terbanyak pada curanmor roda dua. anak terlantar. menjadi 4. Hal tersebut dapat memicu timbulnya berbagai jenis kriminalitas. pencurian dengan pemberatan (surat).

48 2008 8. Bandung Barat Kota Bandung Kota Cimahi Sumber : BPS % 6.419 175.067 15.352.031 63. Bandung Kab.09 2007 8. Selain LPE.890 84.83 43.27 Sumber : BPS Tahun 2008 (Dionlah) II . Kota Bandung juga menjadi salah satu tujuan migrasi tenaga kerja yang cukup besar.813 63.21 5.73 82.184 15.405.552 19.552. adalah sebagai berikut : Tabel 2.24 50.182 22.432 173.56 3.181.35 .658.616 64. Peran lain Kota Bandung sebagai salah satu Kota Pendidikan terpenting di Indonesia.29 61.79 2. Kontribusi Kegiatan Ekonomi Kota Bandung dan sekitarnya terhadap Ekonomi Jawa Barat Tahun 2007 Kabupaten/Kota Kab.130 83.271 64. Laju pertumbuhan Ekonomi Kota Bandung dari tahun 2005 hingga tahun 2007 mengalami peningkatan.644 16.53 34.53 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Tabel 2.2008 Indikator LPE PDRB (ADHB) PDRB/Kapita (ADHB) Inflasi Investasi Indeks Daya Beli (IDB) SHL/Kapita Kemiskinan Jumlah Pengangguran Tingkat Pengangguran Terbuka (Rp) RTM Jiwa % Satuan % [Jura Rp] [Rp/Thn] % [juta Rp/Thn] 2005 7. Artinya Kota Bandung menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi dan memiliki banyak kaitan aktivitas ekonomi dengan daerah sekitar dan wilayah lain.03 1.23 (triwulan 4) 4.25 2006 7.287 175.792.441 5.33 4.89 Uraian di atas mengindikasikan bahwa Kota Bandung merupakan kota penting bagi aktivitas ekonomi di Jawa Barat maupun nasional.152.50 10.074 15. sehingga tingkat pertumbuhan ekonominya tergolong sangat tinggi.500 174. telah menyatu dengan kehidupan ekonomi.184 19.99 576.531 5.620 70.93 576.794.04 577.16. beberapa indikator makro yang dapat digunakan untuk menilai keberhasilan pembangunan ekonomi suatu daerah.789. Subang Kab.616.604 10. Sebagai pusat pertumbuhan dengan tumpuan pada aktivitas perdagangan dan industri pengolahan.337 16.000.15. Perkembangan Indikator Makro Pembangunan Kota Bandung Tahun 2005 .569 24.47 2.792.

tetapi pada tahun 2007 menurun menjadi 174. Tingkat inflasi di Kota Bandung relatif lebih tinggi dibandingkan dengan Kabupaten/Kota lain di Jawa Barat.5 8.36 . yang meningkat dari 70. Dari sisi investasi terjadi kenaikan.6 (persen) 20 10 0 7. hal ini dapat menunjukkan meningkatnya kegiatan ekonomi.6. menurun menjadi 83.2 7. yang akan berdampak terhadap kinerja perekonomian Kota Bandung khususnya dan perekonomian Indonesia pada umumnya. 40 30 (trilyun Rp) 8. Sejalan dengan jumlah tangga miskin. Kecenderungan aktivitas ekonomi Kota Bandung pada beberapa tahun ke depan cenderung positif mengalami pertumbuhan ekonomi yang cukup signifikan.067 jiwa dan diperkirakan menurun lagi menjadi 173.9 7.3 7 10 11 20 01 PDRB (kiri) LPE (kanan) Grafik 2.419 RTM pada tahun 2005 menjadi 84.074 jiwa.287 RTM pada tahun 2006. Perkembangan PDRD dan Pertumbuhan Ekonomi Kota Bandung Tahun 2001-2007 serta proyeksinya Tahun 2013 Grafik 2. namun demikian pada saat yang bersaam terjadi krisis keuangan global di Amerika Serikat dan Uni Eropa. namun demikian investasi tersebut belum diikuti dengan penyerapan tenaga kerja yang signifikan.606 RTM.54 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Dari tabel terlihat bahwa PDRB Kota Bandung dari tahun 2005 ke 2008 menunjukan kenaikan yang berarti. dari tabel terlihat terjadi peningkatan jumlah pengangguran dari 175.664 jiwa pada tahun 2006.6. Perkembangan PDRB dan Pertumbuhan Ekonomi Kota Bandung Tahun 2001-2007 serta Proyeksinya Tahun 2013 6 20 07 8 20 09 20 13 12 2 3 4 5 II .500 RTM pada tahun 2007.337 jiwa menjadi 175. Berfluktuasinya jumlah pengangguran tersebut disebabkan oleh berbagai faktor khususnya untuk akhir tahun 2008. serta menurun lagi menjadi 82. terjadi Penurunan harga BBM yang mengalami perubahan sebanyak 2 kali.

Kebutuhan ruang bagi aktivitas ekonomi juga mendesak penggunaan lahan yang lain. biaya pendidikan. 22. Sektor pengangkutan dan komunikasi memberikan kontribusi sekitar 10. papan.8%. inflasi tinggi juga mengancam. Secara terinci kontribusi sektor terhadap PDRB dapat dilihat dalam grafik berikut : Grafik 2. juga sekaligus menjadi ancaman bagi masyarakat berpendapatan rendah dan menengah.3 Trilyun dengan tingkat PDRB per kapita sebesar Rp.7. 51. Beberapa jenis kegiatan ekonomi mengancam kualitas lingkungan dan kualitas kehidupan melalui berbagai jenis pencemaran. Dalam situasi pertumbuhan ekonomi yang tinggi pula. Pada jangka panjang.Tingkat pendapatan perkapita ini tergolong tinggi bila dibandingkan dengan daerah sekitarnya. Gas. kesehatan dan transportasi meningkat.40% 10.30% 2. sandang. dan Jasa Perusahaan Jasa-Jasa Pengangkutan dan Komunikasi Industri dan Pengolahan II . Akrivitas ekonomi Kota Bandung.000.80% Pertanian Listrik.8% demikian juga dengan sektor jasa-jasa.80% 29. maka perekonomian Kota Bandung menghadapi tantangan berat.1 STRUKTUR EKONOMI KOTA BANDUNG Nilai PDRB Kota Bandung pada tahun 2007 adalah sebesar Rp. Selain kondisi ekonomi domestik Kota Bandung. sebagian besar bersumber dari sektor perdagangan. di antaranya adalah dampak aktivitas ekonomi terhadap lingkungan sekitar. gejolak ekonomi internasional juga dapat menjadi ancaman berarti.55 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Dalam situasi pertumbuhan ekonomi tinggi dan memiliki prospek yang relatif bagus. hotel dan restoran yang memberikan konstribusi sekitar 36. dan Air Bersih Bangunan Keuangan. Peningkatan biaya hidup ini selain dapat menstimulasikan kegiatan ekonomi yang memiliki nilai tambah tinggi.4% dari seluruh kegiatan ekonomi di Kota Bandung. perkiraan jumlah keluarga pra-sejahtera ada kencederungan meningkat.37 . kenaikan biaya-biaya ini dapat mengancam keunggulan kompetitif produk-produk dari Kota Bandung. Persewaan. 2.30% 36. 0. Biaya-biaya hidup yang meliputi biaya kehidupan pangan.640. misalnya krisis likuiditas di Amerika Serikat dan Eropa. disusul oleh sektor industri pengolahan sekitar 29.90% 5.30% 4. Kedekatan kegiatan ekonomi Kota Bandung dengan Jakarta dapat memperpendek efek gejolak ekonomi internasional.3..20% 10. Selain itu ketimpangan pendapatan secara riil tampak nyata.

hotel dan restoran. terus meningkat. bersumber dari bahan makanan.3 INFLASI DI KOTA BANDUNG Inflasi merupakan salah satu indikator penting yang dapat memberikan informasi tentang dinamika perkembangan harga barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat. 15.794. Inflasi yang tinggi dapat menurunkan tingkat daya saing Kota Bandung 2. dengan sumbangan terbesar dari kelombok bahan dan bahan makanan. makanan jadi dan rokok. Perkembangan harga barang dan jasa tersebut menjadi salah satu faktor yang dapat mempengaruhi tingkat daya beli. Laju pertumbuhannya juga relatif tinggi bila dibandingkan Jawa Barat dan Nasional. hal ini sesuai dengan fungsi Kota Bandung sebagai kota kolektif dan distributif. dari tabel 2. II .552 pada tahun 2005 menjadi Rp. hal ini dipengaruhi oleh krisis keuangan global yang terjadi di Amerika Serikat yang berdampak terhadap perekonomian Indonesia secara umum dan Kota Bandung khususnya.56%.604 pada tahun 2008 (BPS : angka sangat sangat sementara) atau rata-rata peningkatan per tahun mencapai 8. Inflasi yang terjadi juga termasuk tinggi.16 mengalami peningkatan dari Rp.23%.21%. Tingkat laju inflasi di Kota Bandung pada tahun 2005 mencapai 19.3. Inflasi untuk tahun 2006 dan 2007 terjadi penurunan yaitu mencapai 5. 24. Peningkatan tersebut cukup menjadi dasar untuk memprediksikan bahwa lima tahun kedepan cenderung akan terus meningkat. biaya kesehatan dan transportasi. 2. minuman. terlihat bahwa kontribusi sektor industri pengolahan terus meningkat tetapi pertumbuhan cenderung menurun.7% atau membentuk lebih dari 50% inflasi Kota Bandung. sedangkan perdagangan. sedangkan untuk tahun 2008 sampai dengan triwulan 4. Struktur ekonomi Kota Bandung didominasi oleh setor jasa dan industri pengolahan. Sumbangan Inflasi dari kelompok tersebut mencapai 5. rokok dan tumbuhan. hal ini disebabkan oleh kenaikan BBM sampai 112% pada tahun 2005.56 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Berdasarkan perkembangan data PDRB Kota Bandung.33% dan 5. Tahun 2004-2007. kesehatan serta transport dan komunikasi.38 .3. inflasi meningkat lagi mencapai 2 (dua) digit yaitu 10. Sumbangan Inflasi tersebut tetap didominasi oleh kelompok bahan makanan serta kelompok makanan jadi.8 % per tahun.789.2 PENDAPATAN PERKAPITA Pendapatan perkapita atasdasar harga berlaku.

Secara umum.341 pegawai negeri sipil dan 1. hal ini dipengaruhi oleh Pemilihan Walikota di Kota Bandung pada bulan Agustus. sehingga investor menunda investasinya. II .6 Trilyun pada tahun 2005 menjadi Rp. tetapi pada tahun 2008 mengalami penurunan menjadi 4 Trilyun. Satuan Polisi Pamong Praja. Esselon. pengawasan. Di antara masalah yang masih menjadi tantangan di masa depan adalah kapasitas aparatur tata kerja. IV. Penataan kelembagaan pada dasarnya diarahkan dalam upaya peningkatan kualitas pelayanan publik untuk menghilangkan citra birokrasi sebagai penghambat pembangunan.4 INVESTASI Investasi baik asing. bergerak taktis dan strategis. IV. domestik maupun pemerintah. tentang Organisasi Perangkat Daerah maka struktur organisasi Pemerintah Kota Bandung saat ini terdiri dari sejumlah SKPD. Pertumbuhan investasi tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor yaitu iklim investasi yang kondusif.A 76 orang.B 708 orang dengan jumlah pegawai. Dengan perangkat organisasi tersebut diharapkan struktur organisasi menjadi lebih ramping. 3. II. Saat ini telah dilakukan reorganisasi pemerintah yang diaharapkan dapat meningkatkan kinerja aparatur Pemerintah Kota Bandung. 3 rumah sakit daerah. 2. II. III.4 Trilyun pada tahun 2007. Namun dengan semakin kompleksnya permasalahan perkotaan. Esselon. III. 5. Organisasi yang ada saat ini didukung oleh Esselon. Esselon.B 32 orang. mengikuti pendidikan dan latihan dan sebagainya.4 KINERJA PEMERINTAHAN Pemerintah Kota Bandung telah mendorong upaya reformasi birokrasi yang akan dilakukan menurut tahapan-tahapan tertentu.3.57 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 2. Dengan demikian. kemudahan dan kejelasan prosedur serta kondisi makro ekonomi daerah tersebut.Esselon. adanya re-organisasi berimplikasi terhadap pengurangan jabatan.A. Oleh karena itu. sampai dengan triwulan 2. 895 orang. Investasi di Kota Bandung mengalami peningkatan dari Rp.501 tenaga kontrak. serta dapat mengurangi jabatan struktural yang ada guna meningkatkan efisiensi kerja dan penyelenggaraan pemerintahan. 30 kecamatan serta sekretariat daerah. Berbagai kegiatan peningkatan kinerja aparatur dilakukan melalui peningkatan kesejahteraan. 24. Esselon.A 1 orang. dirasakan kapasitas dan kapabilitas aparatur dalam mencapai pelayanan prima masih berada di bawah standar. implementasi SOTK baru berdasarkan PP Nomor 41 Tahun 2007. 9 lembaga teknis daerah. yaitu 14 Dinas. memegang peranan penting dalam pelaksanaan pembangunan ekonomi di Kota Bandung.39 .B 131 orang. 4 perusahaan daerah.

Seiring dengan penataan organisasi perangkat daerah Kota Bandung sebagai pelaksanaan Peraturan Pemerintah No.58 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Tata kerja di masa datang juga penting untuk diperjelas dan dituangkan dalam mekanisme kerja dan job description yang baik agar sistem dapat berjalan dengan baik. Langkah-langkah dapam upaya reformasi pelayanan perijinan. Selain itu jumlah perijinan yang dikelola oleh satu pintu ditingkatkan dari 14 jenis perijinan menjadi 62 jenis perijinan baik ijin usaha maupun non usaha. sampai dengan penerbitan dokumen secara terpadu dan dilakukan di satu tempat melalui front office untuk meminimalisasi interaksi antara pemohon dan petugas perijinan dan menghindari kemungkinan pungutanpungutan tidak resmi. Pelayanan satu pintu adalah penyelenggaraan pelayanan perijinan dan non perijinan yang proses pengelolaannya dimulai dari tahap permohonan. meliputi : a. Regulasi perijinan usaha dengan memangkas jumlah perijinan dan menata perijinan yang tumpang tindih. penandatanganan ijin dan penyerahan ijin. Hal lain yang akan dilaksanakan dalam rangka peningkatan pelayanan kepada masyarakat. pemprosesan ijin. adalah upaya penguatan kelurahan. persyaratan dan waktu pelayanan. Revisi Perda-perda terkait dengan prinsip-prinsip pelayanan satu pintu. Peningkatan status kelembagaan satu pintu juga dilakukan dengan perubahan ketatalaksanaan. seperti penyederhaan. Birokrasi perijinan usaha melalui penyederhaan prosedur perijinan. b. Dengan adanya kemudahan perijinan diharapkan akan mendorong kondusifitas iklim investasi di Kota Bandung. peningkatan kewenangan dimana Pelayanan Terpadu Satu Pintu diberikan kewenangan dari mulai penerimaan berkas. Dalam pelaksanaannya reformasi pelayanan perijinan diformulasikan ke dalam pembentukan pelayanan terpadu satu pintu. Tata kerja ini berfungsi sebagai petunjuk operasional SOTK yang sudah ada. II . Penyederhaan jumlah perijinan dengan menyatukan atau menghapus perijinan yang dianggap tumpang tindih dan menyulitkan pelaku usaha. 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah bentuk kelembagaan terpadu satu pintu ditingkatkan dari setingkat kantor menjadi setingkat badan dengan nomenklatur Badan Pelayanan Perijinan dan Penanaman Modal Daerah Kota Bandung dengan asumsi bahwa pelayanan perijinan yang diselenggarakan berkaitan erat dengan investasi di daerah. b.40 . Dan saat ini SKPD yang telah memiliki Standar Mutu Nasional (SMN) ISO 9000:2001 adalah sebanyak 12 SKPD. Hal-hal yang perlu dilakukan seiring dengan peningkatan kelembagaan pelayanan terpadu satu pintu meliputi : a. Sedangkan untuk meningkatkan kualitas perijinan maka telah dibentuk Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perijinan Terpadu (BMPPT) dan Bandung Elektronik Procurment (BEP).

Kelurahan. dan Dana Alokasi Khusus. (1) Belanja Tidak Langsung yang didalamnya terdiri dari Belanja Pegawai. Hasil Retribusi Daerah. ekonomis. sedangkan pelayanan yang bersifat standar mutu adalah melalui penggunaan ISO 9001:2000 yang berguna untuk menyusun pedoman kerja yang berstandar. profesionalitas dan meningkatkan daya tarik investasi. struktur APBD Kota Bandung terdiri dari : (1) Penerimaan Daerah yang didalamnya terdapat Pendapatan Daerah dan Penerimaan Pembiayaan Daerah. (2) Dana Perimbangan yang berasal dari bagi Hasil Pajak / bagi Hasil Bukan Pajak. efektif. dan Bantuan Keuangan dari Provinsi atau Pemerintah Daerah lainnya.41 . Dana Darurat. d. Upaya peningkatan pelayanan dilakukan melalui penerapan model pelayanan bersifat proaktif dan standar mutu. Model pelayanan yang bersifat proaktif adalah dengan membangun situs (web site) untuk pelayanan on line. RW dan RT terutama terkait dengan persyaratan ijin.59 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 c. efisien. Pada komponen Pendapatan terdiri dari : (1) Pendapatan Asli Daerah yang berasal dari hasil Pajak Daerah. Belanja Subsidi. menetapkan dan mengatur pembagian kewenangan (power sharing) dan pembagian keuangan (finacial sharing) antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dan Undang-Undang No 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Belanja Bantuan Sosial. meningkatkan citra. Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah Yang Dipisahkan. Dana Penyesuaian dan Otonomi Khusus. Belanja Bunga. Belanja Bantuan Keuangan Kepada Provinsi/ Kabupaten/Kota dan Pemerintah Desa Lainnya. Berkenaan dengan hal tersebut dan sesuai dengan struktur APBD Kota Bandung dan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 dan Permendagri No 59 Tahun 2007 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah. Dana Bagi Hasil Pajak dari Provinsi dan Pemerintah Daerah Lainnya.5 PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH Amanat Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. (2) Pengeluaran Daerah yang di dalamnya terdapat Belanja Daerah dan Pengeluaran Pembiayaan Daerah. serta (3) Lain-lain Pendapatan Daerah Yang Sah yang berasal dari Pendapatan Hibah. serta Peraturan Pemerintah No 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan keuangan Daerah. Penetapan kebijakan untuk mengurangi pungutan-pungutan di tingkat Kecamatan. Belanja Hibah. keuangan daerah harus dikelola secara tertib. Pengurangan biaya bagi kategori usaha tertentu. transparan dan bertanggung jawab sesuai dengan kepatutan dan rasa keadilan. a II . dan Lain-lain Pendapatan Asli Daerah Yang Sah. Sebagai perwujudan political will dari penerapan pola pelayanan terpadu satu pintu telah dianggarkan pula pembiayaan dalam operasional pelayanan satu pintu baik dalam APBD perubahan Tahun 2007 maupun APBD Tahun 2008. Dana Alokasi Umum. 2. dan Belanja Tidak Terduga. Sedangkan pada komponen Belanja terdiri dari .

(2) Pengeluaran Pembiayaan Daerah yang didalamnya terdiri dari Pembentukan Dana Cadangan. pada dasarnya mengalami peningkatan berarti. Pada komponen pembiayaan terdiri dari : (1) Penerimaan Pembiayaan Daerah yang didalamnya terdiri dari Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Tahun Anggaran Lalu. Sumber penerimaan PAD terbesar berasal dari Pajak Daerah.360 Sumber Data : LKPJ . dan Belanja Modal.140 1.097 1. . selanjutnya mengalami peningkatan hingga pada tahun 2008 menjadi Rp. yang sebelumnya masuk ke dalam Dana Perimbangan II . dan Penerimaan Piutang Daerah. Pendapatan pada tahun 2003 adalah sebesar Rp. dan Pembayaran Pokok Utang.60 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 (2) Belanja Langsung yang didalamnya terdiri dari Belanja Pegawai. (3) Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran Tahun Berjalan.686 2.42 . Peningkatan pada tahun 2008 disebabkan karena pergeseran pos penerimaan saja. Pada tahun 2008 diperkirakan PAD mencapai Rp.2008 Catatan : Mulai tahun 2008.119 1. walaupun nilai PAD pada tahun 2003 mencapai Rp. Belanja Barang dan Jasa. Lain-lain penerimaan yang sah. Sumber penerimaan terbesar berasal dari Dana Perimbangan. Pada dasarnya PAD belum menjadi sumber pendapatan yang signifikan. sedangkan penerimaan Dana Perimbangan sebagian besar bersumber dari DAU.5. 2. Nilai Dana Perimbangan pada Tahun 2003 mencapai Rp.360 milyar.4%.018 Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 2008 PAD 213 223 226 254 288 314 Perimbangan 706 861 862 1. Penerimaan Kembali Pemberian Pinjaman.123 1.398 1. Secara umum struktur pendapatan Pemerintah Kota Bandung tidak mengalami perubahan yang besar. 962 milyar.017 milyar.1 PENGELOLAAN PENDAPATAN DAERAH Kapasitas keuangan daerah akan menentukan fungsi pelayanan kepada masyarakat.17. Kemampuan keuangan pemerintah daerah dapat diukur dari penerimaan pendapatan daerah. Penyertaan Modal (investasi) Pemerintah Daerah. Tabel 2. yaitu rata-rata dari Tahun 2003-2008 sebesar 73. 1. 314 milyar. Pendapatan Pemerintah Kota Bandung Tahun 2003-2008 (dalam milyar rupiah) Lain-lain Pendapatan yang sah 43 35 36 4 301 343 Pendapatan (Total) 962 1. 706 milyar dan pada tahun 2008 diperkirakan mencapai Rp. Penerimaan Bagi Hasil dari Propinsi dimasukan ke dalam Lain-lain Pendapatan yang sah. 213 milyar dan termasuk daerah yang memiliki PAD tinggi di Jawa Barat.

6 143.5 8.0 75.4 Terdapat pada Lainlain Pendapatan yang sah Tabel 2.5 204.19.4 Retribusi Daerah 55.0 133.8 BUMD dan dari Aset Dipisahkan 2.9 273.0 61.0 6.1 67.9 12.2008 Bagi Hasil Pajak/Bukan Pajak 162.7 81.1 632.9 17.2 0.6 3.3 17.43 .1 164.9 20.2 17.6 Perimbangan 73.8 5.7 458.61 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Tabel 2.9 13.7 DAU 416.8 190.2 19.4 Pendapatan lain yang sah 40.4 386.2 Bagi Hasil dari Propinsi 126.20.5 219.5 DAK 1.1 18.5 214.9 12.2 3.6 65.5 20.4 76.8 73.8 198.3 965.9 76. Penerimaan PAD Pemerintah Kota Bandung Tahun 2003-2008 (dalam milyar rupiah) Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Pajak Daerah 115.7 9.7 439.2 256. Struktur Pendapatan Pemerintah Kota Bandung Tahun 2003-2008 (dalam milyar rupiah) Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 2008 PAD 22.2008 Tabel 2.1 206.2 3. Penerimaan Dana Perimbangan Pemerintah Kota Bandung Tahun 2003-2008 (dalam milyar rupiah) Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Sumber Data : LKPJ .4 Lain-lain yang sah 4.9 Sumber Data : LKPJ .5 0 14.4 3.1 14.3 207.6 66.9 2.0 Pendapatan 100 100 100 100 100 100 1 Sumber Data : LKPJ .18.4 828.3 76.1 15.2008 II .9 17.

sumber pendapatan daerah sebagian besar dari Dana Perimbangan. II . Antara Tahun 2004-2006 dikenal dengan nama alokasi Belanja Aparatur. Namun demikian karena jumlah penduduk yang relatif besar maka belanja daerah per kapita juga relatif tidak terlalu tinggi 2. sedangkan pos belanja lain relatif merupakan belanja internal pemerintahan. Belanja daerah pada tahun 2003 mencapai Rp. Dalam hal pengelolaan anggaran antara Tahun 2004-2008. tampak bahwa selisih antara pendapatan dan belanja cukup besar.62 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Seperti umumnya kabupaten dan Kota di Indonesia. 2. Situasi ini terjadi di antaranya karena masalah perencanaan kegiatan yang relatif menggunakan informasi pendapatan dana perimbangan yang terbatas. serta berbagai penerimaan yang masuk dalam kas daerah pada akhir periode sehingga belum dapat direncanakan sebelumnya. karena kontribusi PAD relatif besar. masyarakat semakin menuntut adanya pengelolaan keuangan kepada publik secara transparan dalam rangka mewujudkan akuntabilitas yang didasarkan kepada prinsip-prinsip anggaran berbasis kinerja yaitu belanja daerah yang berorientasi pada pencapaian hasil atau kinerja.2 PENGELOLAAN BELANJA DAERAH Pengelolaan belanja aderah sangat erat kaitannya dengan sistem pengelolaan keuangan daerah.049.8 milyar dan pada tahun 2008 mencapai Rp. Sesuai dengan reformasi di bidang keuangan.9 milyar. Anggaran tersebut mencerminkan efisiensi dan efektivitas pelayanan publik.44 . Pada Tahun 2007-2008 sesuai Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 yang telah diubah dengan Permendagri Nomor 59 Tahun 2007 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah maka terjadi perubahan struktur APBD menjadi Belanja Tidak Langsung dan Belanja Langsung. Berdasarkan kondisi ini sering muncul pernyataan bahwa dalam otonomi daerah ini daerah belum mandiri secara financial Struktur pendapatan Pemerintah Kota Bandung termasuk bagus. Bila diperhatikan. telah terjadi perbedaan pola pos-pos belanja yang cukup drastis. 945. Sebagai kota dengan fikcal gol rendah. Belanja Publik. walaupun Kota Bandung tergolong sebagai Kota yang memiliki PAD tinggi. sistem penganggaran maupun akutansi.5. Belanja yang relatif menjadi perhatian masyarakat dalam hal ini adalah Belanja Publik atau Belanja Langsung. Belanja Bagi Hasil dan Bantuan Keuangan serta Belanja Tidak Disangka. Kategori belanja inilah yang relatif diwujudkan dalam program-program pembangunan di masyarakat. dana perimbangan juga relatif kecil.

maka tahun 2007 mengalami penurunan.049.8 335.4 0. Bila pada Tahun 2003-2006 belanja perkapita nominal mengalami peningkatan.21. Dengan mempertimbangkan inflasi selama kurun tersebut.7 396.115 pada tahun 2008 (tahun dasar 2003).552. Belanja Publik tahun 2003 mencapai Rp.8 2.29%. 152.8 111. II . 190.1 13. Kejadian inflasi kerapkali berasal dari masalah eksternal Kota Bandung.0 639. Usaha alokasi belanja pembangunan yang lebih besar seperti yang direncanakan dapat merosot nilai riilnya pada saat inflasi terjadi..114.7 465. 908 milyar. 100 milyar.7 milyar dan diperkirakan pada tahun 2008 mencapai Rp.1 1. Belanja langsung (pembangunan) riil perkapita pada tahun 2006 sebesar Rp. Rata-rata rasio belanja pembangunan terhadap total belanja adalah 42.9 - Belanja Belanja Belanja Belanja Bagi Tak Tidak Langsung Hasil Disangka Langsung 114.pada tahun 2007.2 984.1 175.1 558.45 . Struktur Belanja Pemerintah kota Bandung Tahun 2003-2008 (dalam milyar rupiah) Tahun Belanja 2003 2004 2005 2006 2007 2008 945.6 30. terlebih lagi nilai riilnya.1 1. Inflasi yang tinggi telah menekan nilai riil alokasi belanja langsung perkapita di Kota Bandung antara Tahun 2003-2007.0 112. Hal-hal seperti ini sering di alami oleh Pemerintah Kota Bandung pada saat pelaksanaan pembangunan.63 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Tabel 2. 335.341. sebenarnya pendapatan riil antara tahun 2003 dan 2007 hanya meningkat sebesar Rp. Dalam komposisi demikian.8 568. 159.1 Sumber Data : LKPJ .7 708.266.0 1.6 0.2008 Salah satu perhatian dalam belanja adalah nilai nominal belanja publik atau belanja langsung yang menuntut karakternya adalah belanja pembangunan dan dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. dan mengalami peningkatan kembali pada tahun 2008. dan mengalami peningkatan kembali menjadi Rp.9 Belanja Belanja Aparatur Publik 482. maka pada dasarnya pendapatan dan alokasinya tidak banyak mengalami perubahan antara Tahun 2003-2006.1 1.661.5 414.761 mengalami penurunan menjadi Rp.5 451.8 975. misalnya perubahan ekonomi nasional atau internasional atau kebijakan pemerintah pusat serta kebijakan moneter.

655 208.115 Riil 962 1. Sumber pembiayaan dapat berasal dari sisa lebih perhitungan anggaran tahun lalu.64 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Tabel 2.3 2008 295.6 298.398 1.626 2.655 191. bantuan modal dan transfer ke dana cadangan. II .037 190.5 2.123 1.027 891 957 1.2008 Selain mengoptimalkan potensi anggaran Pemerintah Kota Bandung.761 152.5 57.3) 40.059 888 962 1.042 361.23.4 23. Pendapatan dan Belanja Nominal-Riil Pemerintah Kota Bandung Tahun 2003-2008 (Tahun Dasar 2003) Pendapatan (Milyar Rp) Tahun Nominal 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Sumber Data : LKPJ .119 1. pembiayaan itu sendiri adalah angsuran hutang.6 2006 64.8 118. Secara terinci komposisi pembiayaan pemerintah Kota Bandung dapat dilihat dalam tabel berikut.710 278.2 87.661 159. transfer dari dana cadangan maupun hasil penjualan aset daerah yang dipisahkan.018 150. Tabel 2. penerimaan pinjaman obligasi.5.6 195. maka penting juga dilakukan upaya koordinasi pemanfaatan potensi dana pembangunan yang berasal dari stakeholders. dalam hal ini terjadi defisit anggaran. Struktur Pembiayaan Pemerintah Kota Bandung Tahun 2004-2008 No 1 2 3 Uraian Pembiayaan Penerimaan Pengeluaran 2004 (25.2008 Belanja Langsung (Publik) perkapita (Rp) Nominal Riil 150.9 30.3 PENGELOLAAN BIAYA Pembiayaan adalah transaksi keuangan daerah yang dimaksudkan untuk menutup selisih antara pendapatan daeran dan belanja daerah.1 2007 165.9 Sumber Data : LKPJ .7 2005 60.243 195.46 .320 245.599 243.4 65.686 2. Sedangkan dalam pengeluaran.22.

hasil analisis atas situasi dan kondisi serta persepsi masyarakat. Isu strategis adalah permasalahan utama yang disepakati untuk dijadikan prioritas penanganan selama kurun waktu 5 (lima) tahun mendatang. Isu strategis menurut pendapat para pakar dan tokoh masyarakat atas kondisi yang mereka rasakan saat ini dan kemungkinannya di masa datang dengan interview. II . 5. • Memiliki basis keunggulan atau potensi lokal Kota Bandung.65 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 2. Isu strategis menurut aspirasi masyarakat melalui kegiatan survey. • Memberikan daya dorong dan daya sinergis terhadap penyelesaian sejumlah permasalahan. Diantaranya adalah. Berdasarkan masalah hasil persepsi masyarakat. sarana-prasarana dan pemerintahan umum saat ini serta kemungkinan kondisinya di masa datang. 3. • Cakupan masalah yang luas. Dari sejumlah isu dan permasalahan tersebut dapat diangkat sebagai isu straegis dengan kriteria berikut ini. 4. 2. 1. • Suatu isu atau masalah cenderung membesar di masa datang dan berdampak negatif. sosial budaya. tokoh dan para pakar. Isu strategis yang diangkat dari analisis situasi dan kondisi kependudukan. maka dapat disusun kelompok masalah dan makna strategisnya seperti pada tabel berikut. Masalah yang berjangka panjang di arahkan untuk pembangunan bertahap dan dalam RPJMD tahun tersebut adalah berupa bagian dari pembangunan jangka panjang. Isu strategis dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kota Bandung Tahun 2009-2013 ini disusun berdasarkan kompilasi isu strategis yang ada dalam RPJMD Kota Bandung Tahun 2005-2025. • Memerlukan upaya penanganan yang konsisten dari waktu ke waktu. Peningkatan Kualitas Pendidikan. Isu strategis dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJMD) Kota Bandung 2005-20025. ekonomi. Penyediaan dan Pengelolaan Infrastruktur serta Penataan Kota.47 . Permasalahan dalam jangka menengah diarahkan untuk dapat ditangani pada masa RPJMD Tahun 2009-2013. 2.6 ISU STRATEGIS Penyusunan Recana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Bandung 2009-2013 terlebih dahulu digali permasalahan-permasalahan yang terjadi di Kota Bandung yang dirumuskan menjadi isu strategis. Adapun isu strategis yang patut di angkat dalam RPJMD ini dan perlu disiapkan landasan-landasannya untuk tahap pembangunan berikutnya adalah tentang perlunya. Penanggulangan Kemiskinan dan Pengangguran. tokoh dan para pakar. 3. Peningkatan Kualitas dan Pencegahan Degradasi Lingkungan Hidup Kota. 1. 4. Isu strategis diidentifikasikan dari berbagai sumber. Pertumbuhan Ekonomi Kreatif Kota.

Pentingnya penguatan kelurahan dan kecamatan dalam pelayanan dan pelaksanaan pembangunan skala lingkungan atau di tingkat masyarakat untuk mendorong partisipasi masyarakat dalam pembangunan. Koordinasi. . Pentingnya penguatan kemampuan teknis dan kapasitas manajemen serta kemampuan keuangan pemerintah Kota Bandung. 7. Isu strategis tersebut secara fungsional saling berhubungan satu dengan yang lainnya. Penyediaan Pelayanan Umum Kota yang Prima. Efektifitas dan Efisiensi Pengelolaan Keuangan Daerah. Kapasitas sumber daya Aparatur Kewilayahan dalam pelayanan dan pelaksanaan pembangunan relatif masih rendah. 2. 7. 1. Tingkat aksebilitas penduduk pada sarana dan prasarana transportasi massal relatif masih kurang memadai. 6. 9. kreativitas dan inovasi relatif belum didayagunakan secara optimal. 4. sinkronisasi dan harmonisasi dalam kerjasama antara pemerintah pada kawasan Metropolitan Bandung belum optimal. 8. Optimalisasi Manajemen Pemerintahan Kota.66 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 6. Sinegritas modal sosial masyarakat bagi pembangunan belum optimal. 3. Sektor ekonomi berbasis ilmu pengetahuan. Tingkat kompetensi dan kemampuan teknis dalam manajemen pengelolaan keuangan pemerintah Kota Bandung relatif masih rendah. pentingnya penguatan kerjasama dengan wilayah Bandung Raya bagi kelangsungan kegiatan ekonomi dan peningkatan kualitas lingkungan di Bandung Raya secara berkelanjutan. teknologi. 5. 8. sinegritas. sehingga upaya penanganan satu isu strategis dapat mendukung atau berdampak positif bagi upaya penanganan isu strategis lainnya.

Makmur. Adapun Misi tersebut terdiri dari : 1. 3.67 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 BAB III KEBIJAKAN PEMBANGUNAN DAERAH 3.1 VISI DAN MISI Visi Kota Bandung Tahun 2009-2013 : Memantapkan Kota Bandung sebagai Kota Jasa Bermartabat Kota Bermartabat diartikan sebagai kota yang mempunyai jati diri.1 . Dalam mencapai visi tersebut juga dijunjung motto juang ‘Bermartabat’ yaitu Bersih. III . Mengembangkan Sumber Daya Manusia yang sehat. Bersahabat. 2. Pemenuhan kondisi lingkungan hidup yang bersih. tertib. Misi Kota Bandung Tahun 2009-2013 merupakan penjabaran dari Misi Tahap II dalam RPJPD Kota Bandung 2005-2025 dan integrasi dari sasaran yang akan dicapai pada Misi Tahap II tersebut. stabil dan dinamis . aman. Pemenuhan kondisi lingkungan keagamaan yang penuh toleransi. 4. hijau dan berbunga . berakhlak. harga diri dan kebanggaan bagi seluruh warganya. Pemenuhan kondisi lingkungan ekonomi sehingga tercapai kemakmuran ekonomi warganya . Arah visi tersebut adalah memerankan Kota Bandung sebagai pusat pertumbuhan sector jasa yang memberikan manfaat bagi warga Bandung khususnya. Pemenuhan kondisi lingkungan social yang aman. Pemenuhan kondisi tata ruang yang seimbang dan harmonis . sehat. Jawa Barat dan Nasional pada umumnya. berakhlak mulia dan kesadaran perikehidupan majemuk . 2. Taat. memiliki pelayanan politik prima tanpa membedakan status. Meningkatkan kesejahteraan social dan mengembangkan budaya kota yang tertib. berprestasi dalam menunjang kota jasa bermartabat . indah . cerdas. 5. kreatif. professional dan bedaya saing . 3. Kota Jasa Bermartabat memiliki dimensi : 1. Mengembangkan Profesional Kota yang bedaya saing dalam menunjang penciptaan lapangan kerja dan pelayanan public serta meningkatkan peranan swasta dalam pembangunan Ekonomi Kota .

3. merata dan terjangkau . Meningkatnya kualitas hidup melalui pengendalian jumlah penduduk. Meningkatnya kebijakan dan manajemen pembangunan kesehatan . Meningkatkan kinerja pemerintah Kota yang efektif. 6. 6. Meningkatnya kuanlitas akses penyelenggaraan pendidikan dasar . Meningkatkan kapasitas pengelolaan keuangan dan pembiayaan pembangunan Kota yang akuntabel dan transparan dalam menunjang Sistem pemerintahan yang bersih dan berwibawa.68 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 4. Berakhlak. III . efisien. 8. 5. Meningkatnya kualitas tenaga pendidik dan kependidikan . Tujuan-2 : Memantapkan Kecerdasan Warga Kota Bandung (Agenda Prioritas Bandung Cerdas) Sasaran : 1. 6.2 TUJUAN DAN SASARAN Misi-1 : Mengembangkan Sumber Daya Manusia yang Sehat. Meningkatnya pengawasan komoditas produk-produk pangan . Meningkatnya promosi dan pemberdayaan masyarakat dalam pembangunan kesehatan 4. Meningkatnya kualitas dan akses pendidikan non formal . Meningkatnya budaya baca masyarakat . 5.2 . Meningkatnya kualitas pelayanan bidang pendidikan . 2. Meningkatnya kualitas dan akses pelayanan kesehatan dasar dan rujukan yang bermutu. 5. akuntabel dan Transparan dalam upaya meningkatkan kapasitas pelayanan Kota Metropolitan . 7. mudah. Meningkatnya partisipasi masyarakat dalam pendidikan . Meningkatnya kualitas lingkungan bersih melalui sanitasi dasar dan sanitasi umum 3. 2. Tersedianya SDM cerdas sejak dini . Meningkatnya SDM yang kreatif dan kompetitif . 3. Cerdas. Tujuan-1 : Memantapkan Kesehatan Warga Kota Bandung (Agenda Prioritas Bandung Sehat) Sasaran : 1. Profesional dan Berdaya Saing. 4. Menata Kota Bandung menuju metropolitan terpadu yang berwawasan lingkungan .

3 . Meningkatnya kemampuan teknologi. Meningkatnya pemahaman dan pengamalan agama . Meningkatnya pertumbuhan riil dan kontribusi riil sector perekonomian kota . 4. Tujuan-1 : Memantapkan Kemakmuran Warga Kota Bandung (Agenda Prioritas Bandung Makmur) Sasaran : 1. 8. III . Meningkatnya kualitas hidup perempuan dan anak. 2. Meningkatnya akses pelayanan perijinan dan kepastian hokum bagi dunia usaha . Meningkatnya kerukunan umat beragama. Tujuan-4 : Mewujudkan Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam kehidupan Berkeluarga. Meningkatnya perluasan kesempatan kerja format di sector-sektor yang menjadi core competency kota .69 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Tujuan-3 : Mewujudkan Masyarakat yang Berakhak Mulia (Agenda Prioritas Bandung Agamis) Sasaran : 1. system produksi dan penguat sentra industri . Bermasyarakat dan bernegara. Menjaga stabilitas harga dan distribusi barang kebutuhan pokok . Meningkatnya peranan usaha mikro kecil. 9. 2. Sasaran : 1. 5. Meningkatnya penerbitan dan penataan pedagang kaki lima serta pedagang asongan. Misi-2 : Mengembangkan Perekonomian Kota yang Berdaya Saing dalam Menunjang Penciptaan Lapangan Kerja dan Pelayanan public serta Meningkatkan Peranan Swasta dalam Pembangunan Ekonomi Kota. Mengembangkan kota sebagai kota kreatif. 3. menengah dan koperasi dalam perekonomian Kota . 6. Meningkatnya peran dan posisi perempuan dalam kehidupan bermasyarakat . 7. 2. Meningkatnya kesejahteraan petani dan penguatan ketahanan pangan perkotaan .

meningkatnya sinergitas kegiatan ekonomi antar wilayah. 2. Sasaran : 1. Mewujudkan Pariwisata yang Berdaya Saing. pelaku budaya dan masyarakat Tujuan-3 : Meningkatnya prestasi kepemudaan (Agenda Prioritas Bandung Berprestasi).70 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Tujuan-2 . Meningkatnya peran serta pemuda dalam pembangunan . Meningkatnya kesejahteraan masyarakat melalui kelembagaan dan partisipasi dan ekonomi masyarakat. Berprestasi dalam Menunjang Kota Jasa Bermartabat Tujuan-1 : Mewujudkan peningkatan kesejahteraan masyarakat (Agenda Prioritas Bandung Makmur) Sasaran : 1. pemberdayaan Tujuan-2 : Meningkatnya sinergitas pelestarian budaya local antar pemerintah. III . Kreatif. Aman. Sasaran : 1.4 . Sasaran : 1. Meningkatnya prestasi olahraga dan bidang lainnya. Tujuan-4 : Meningkatnya kepekaan dan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan sisoal. pelaku budaya dan masyarakat (Agenda Prioritas Bandung Kota Seni Budaya) Sasaran : 1. Misi-3 : Meningkatkan Kesejahteraan Sosial dan Mengembangkan Budaya Kota yang Tertib. Meningkatnya Kota Bandung sebagai kota tujuan wisata . Tujuan-3 : Mewujudkan kerjasama Ekonomi dengan Daerah lain. Meningkatnya sinergitas pelestarian budaya local antar pemerintah.

Pengembangan sumber air baku untuk penyediaan air besih .5 . Meningkatnya kepedulian masyarakat terhadap para penyandang masalah kesejahteraan social . Tujuan-2 : Menjamin tersedianya kuantitas dan kualitas air (air permukaan. Mengikat dan terkendalinya kawasan berfungsi lindung (berfungsi hidrologi). Tujuan-1 : Mewujudkan kualitas udara. 2. Terkendalinya pencemaran udara . air tanah dangkal dan air tanah dalam) Sasaran : 1. III . Tujuan-4 : Menyediakan ruang Kota yang aman. Terkendalinya pencemaran tanah. Meningkatnya partisipasi masyarakat dalam penanggulangan penyandang masalah kesejahteraan social. 3. Tujuan-5 : Meningkatkan mutu kerjasama diantara semua pemangku kepentingan dalam pembangunan Kota Bandung. Sasaran : 1. Berkurangnya limbah padat melalui pemanfaatan kembali sehingga memiliki nilai ekonomi. Terbukanya akses informasi perencanaan dan pelaksanaan pembangunan kota.71 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Sasaran : 1. air dan tanah sesuai baku mutu lingkungan. Terkendalinya pencemaran air . 2. produktif dan berkelanjutan. Tujuan-3 : Mewujudkan pengelolaan limbah padat yang efektif dan bernilai ekonomi. Sasaran : 1. 2. Misi-4 : Menata Kota Bandung Menuju Metropolitan Terpadu yang berwawasan lingkungan. nyaman. Sasaran : 1.

Tertatanya ruang terbuka public secara berkualitas . banjir. produktif dan berkelanjutan . efisien. 3. 5. III . Tujuan-8 : Mewujudkan mitigasi bencana yang handal. 4. 2. Tersedianya prasarana energi dan komunikasi yang handal. Berkembangnya system prasarana transportasi yang mendukung struktur ruang kita . 2. angin topan dll) . Sasaran : 1. Tersedianya air bersih dengan kualitas dan kuantitas yang baik . Sasaran : 1. Sasaran : 1. Terbentuknya struktur ruang kota yang aman. nyaman. Tersedianya system penanganan air limbah dan IPAL kota . Tumbuh dari meningkatnya pengelolaan bencana alam (gempa. Terkendalinya aspek-aspek penyebab kemacetan dan kecelakaan. Terarahnya hunian vertical dan teremajakannya kawasan kumuh. longsor. gunung meletus. 3. 2. Berkembangnya sarana angkutan umum missal (SAUM) dan terbatasnya penggunaan kendaraan bermotor. nyaman. Tujuan-6 : Menyediakan system transportasi yang aman. 2.6 . Tersedianya lahan pemakaman sesuai kebutuhan kerjasama dengan pengembang . Terkendalinya pemanfaatan ruang. Tujuan-5 : Memantapkan pembangunan Kota Bandung yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. Sasaran : 1. 3. Tersedianya system drainase kota yang tertata . Tersedianya tempat pemrosesan akhir (TPA) sampah yang berkelanjutan . terjangkau dan Ramah lingkungan.72 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Sasaran : 1. Tujuan-7 : Mewujudkan sarana dan prasarana lingkungan yang memenuhi standart teknis/standar pelayanan minimal (SPM).

Terwujudnya kehidupan masyarakat yang demokratis .73 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 2. 4. alam kecelakaan Misi-5 : Meningkatkan kinerja pemerintah kota yang efektif. 6. Misi-6 : Meningkatnya kapasitas pengelolaan keuangan dan pembiayaan pembangunan kota yang akuntabel dan transparan dalam menunjang system pemerintahan yang bersih dan berwibawa. Meningkatnya pendapatan dan pengelolaan keuangan daerah yang efektif.7 . III . Meningkatnya sinergitas APBN. dan akuntabel. aplikatif. Tujuan-1 : Mewujudkan Anggaran Pemerintahan yang optimal. Sasaran : 1. 5. efisien. Tujuan-2 : Mewujudkan peran serta aktif masyarakat dan swasta dalam pembiayaan pembangunan Kota. 3. Mantapnya pelaksanaan reformasi birokrasi . Penanggulangan infrastruktur pasca bencana. APBD Propinsi dan APBD Kota (Fiskal antar pemerintahan) . Meningkatnya kesadaran dan ketaatan hukum dan HAM bagi masyarakat dan aparat . 8. Terwujudnya pelayanan publik yang prima . efisien dan akuntabel. Meningkatnya transparansi pengelolaan pemerintahan . 7. Tumbuh dan meningkatnya pengelolaan bencana (kebakaran dll) . 3. 2. akuntabel dan transparan dalam upaya meningkatkan kapasitas pelayanan Kota Metropolitan. Tujuan-1 : Mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik (Good Govermance) melalui pemantapan reformasi birokrasi. Sasaran : 1. Meningkatnya kapasitas lembaga perencanaan pembangunan yang efektif dan efisien untuk menghasilkan produk perencanaan yang aspiratif. 3. 2. Berkembangnya instrument pembiayaan pembangunan non-konversional. Meningkatnya ketertiban serta terciptanya kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan stabilitas keamanan daerah . Meningkatnya professionalisme aparatur menuju pemerintahan yang akuntabel .

Pelayanan prima kepada segenap warga serta mengkondisikan ligkungan dan kehidupan yang aman dan nyaman . 3. 6. 3.3 STRATEGI Strategi pembangunan ini ditetapkan secara umum dengan focus pada masyarakat pemerintahan dan kerjasama strategis dengan pihak lain yang meliputi : 1. kepadatan penduduk. Menyelaraskan pertumbuhan ekonomi dengan situasi social kependudukan dari sumber daya manusia serta mengantisipasi masalah-masalah social kependudukan. Kebijakan tersebut dituangkan secara lebih rinci ke dalam Misi 1 sampai dengan Misi 6 sebagai berikut : III . 5. 2.4 ARAH KEBIJAKAN Kebijakan umum untuk tahun 2009-2013 adalah meliputi revitalisasi. 2.74 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Sasaran : 1. Pengembangan sumber daya manusia sebagai basis bagi upaya mendorong ekonomi kreatif. Mengkondisikan lingkungan fisik tata ruang yang memenuhi kaidah amenities keindahan kota. Meningkatnya sinergitas pemerintah. ekosistem. daya saing kota dan kebersihan . Mengembangkan kerjasama dengan daerah Bandung Raya dan pihak lain dalam upaya optimalisasi daya dukung kota dan pelayanan umum terhadap pertumbuhan aktivitas yang ada di dalamnya . pembiayaan pembangunan. 3. swasta dan masyarakat dalam 3. Pengembangan kerjasama dengan daerah Bandung Raya dan pihak lain dalam upaya optimalisasi daya dukung kota. Mendorong usaha ekonomi kreatif berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi yang bernilai tambah tinggi dan ramah lingkungan 4. pelayanan umum dan penumbuhan ekonomi kreatif.8 . Mengendalikan pertumbuhan kota sehingga terjadi keseimbangan antara daya dukung dan aktivitas dengan peningkatan dan pemerataan prasarana kota . Meningkatnya efektifitas dan efisiensi birokrasi melalui reformasi kelembagaan (institutional reform) dan reformasi manajemen public (public management reform) . reorientasi dan refungsionalisasi pembangunan dengan uraian sebagai berikut : 1. patologi social perkotaan dan lain sebagainya . 7. kesehatan. reaktualisasi. Peningkatan kinerja birokrasi. 4. Menekankan pada masalah yang layak ditangani dalam jangka menengah serta mempersiapkan landasan bagi penyelesaian permasalahan jangka panjang. bernilai tambah tinggi dan ramah lingkungan .

III . Pendukungan sector swasta dalam meningkatkan kesejahteraan tenaga kerja . 4. menengah dan besar dalam menunjang pengembangan ekonomi kreatif . Arah Kebijakan : 1.9 . Pengembangan pendidikan formal dan informasi dalam semua strata pendidikan . Peningkatan peran swasta dalam pendidikan . 6. Peningkatan kesehatan masyarakat termasuk di dalamnya pencegahan dan penanganan HIV dan narkoba terutama dikalangan generasi muda . Penguatan institusi masyarakat dalam membangun modal social. Misi-3 : Meningkatkan kesejahteraan Sosial dan mengembangkan budaya kota yang tertib. 2. 5. berprestasi dalam menunjang kota jasa bermartabat. perilaku dan kebudayaan melalui peran serta masyarakat sehingga terbentuk solidaritas masyarakat yang kokoh dan dinamis. Penataan pedagang kaki lima dan meningkatkan kemitraan dengan sentrasentra produk local dalam mengembangkan industri kreatif tradisional . 8. Penataan dan optimalisasi prosedur investasi dalam meningkatkan kesempatan kerja di kota Bandung melalui pelayanan satu pintu . 6. Peningkatan lingkungan hidup diperkelolaan dan disiplin hidup diperkotaan . cerdas. 5. kreatif. 8. Penguatan promosi daerah dalam menarik wisatawan dan investasi dalam bidang pariwisata. Penguasaan teknologi informasi bagi masyarakat kota . Pendukungan perubahan pola konsumsi masyarakat melalui diverifikasi pangan dalam rangka meningkatkan ketahanan pangan kota . Misi-2 : Mengembangkan perekonomian kota yang berdaya saing dalam Menunjang penciptaan lapangan kerja dan pelayanan public serta meningkatkan peranan swasta dalam pembangunan ekonomi kota. distribusi dan produksi yang baik . Arah Kebijakan : 1. 4. 2. aman. berakhlak. Perbaikan infrastruktur ekonomi dalam menunjang pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat dalam mengembangkan ketahanan pangan kota .75 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Misi-1 : Mengembangkan sumber daya manusia yang sehat. Pengembangan kemitraan usaha koperasi/usaha kecil. Penataan Struktur ekonomi perkotaan melalui penataan ruang aktivitas maupun pola konsumsi. Pengembangan kewirausahaan dengan membangun kompetensi dari kemampuan daya saing yang kreatif . 7. 7. Pengembangan peningkatan fungsi tempat ibadah sebagai tempat meningkatkan keimanan dan moral . professional dan berdaya saing. 3. 3.

3. Pengembangan LSM yang berorientasi pada pembangunan dan lingkungan kota . bersih. akuntabel dan transparan . efisien. 4.10 . 1. Penguatan SKPD yang terkait dalam menunjang peningkatan pelayanan pada masyarakat dalam mewujudkan pelayanan satu pintu . Pengelolaan tata ruang secara konsisten. Penyebaran pusat-pusat pertumbuhan sekunder . Peningkatan pemerintahan yang Good Government disertai prinsip efektif. Pengelolaan transportasi secara efisien dalam mengurangi kemacetan dari polusi dengan mempersiapkan konsep Rapid Mass Transportation yang handal sesuai dengan kemampuan/potensi Kota Bandung . 3. Pembinaan anak jalanan sehingga memiliki kesempatan dalam berkreasi. Peningkatan peran media dalam penyalahgunaan informasi pembangunan. Misi-5 : Meningkatkan kinerja pemerintah kota yang efektif. Misi-4 : Menata Kota Bandung menuju Metropolitan terpadu yang berwawasan lingkungan. 7. efisien. Pengelolaan lingkungan yang sehat. hijau dan berbunga . 7. produktif dan dinamis sesuai dengan RTRW Kota Bandung . efisien. Arah Kebijakan : 1. 2. akuntabel dan transparan dalam upaya meningkatkan kapasitas pelayanan Kota Metropolitan.76 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Arah Kebijakan : 1. Pembinaan seni budaya daerah dalam menunjang pariwisata . 5. 8. Peningkatan sarana dan prasarana kebudayaan . 2. Pembinaan secara komprehensif kelompok multietnis dalam menunjang Bandung sebagai Kota Metropolitan . 5. 3. 6. Pengembangan manajemen kota efisien. Pengembangan kelompok-kelompok karang taruna/generasi muda . Arah Kebijakan . 4. Peningkatan peran lembaga dakwah dalam meningkatkan kerukunan umat beragama . ramah dan produktif . Pelaksanaan program Urban Renewal dan Urban Redevelopment dalam meningkatkan pelayanan sector jasa . produktif. 6. 2. dan berdayaguna dimasa depan . produktif dan berdayaguna . Penghijauan perbaikan dan penambahan taman kota dan ruang terbuka untuk public serta perbaikan dan pemanfaatan daerah aliran sungai yang dapat memperbaiki kualitas kehidupan . III . Peningkatan pelayanan public yang optimal dan prima dengan menciptakan kondisi nyaman.

Peningkatan pengelolaan aset pemerintah kota untuk meningkatkan PAD dan peningkatan pelayanan public 5. 4. 4. 6. Program upaya kesehatan masyarakat . berakhlak. Prasarana dan Manajemen Kesehatan . Program : a. Peningkatan dan menggali sumber pendapatan daerah berdasarkan azas proporsionalitas. Program kesehatan reproduksi remaja . Program peningkatan Sarana. disusun program-program pembangunan. Peningkatan fungsi pengawasan baik internal maupun eksternal sehingga tercipta suatu mekanisme birokrasi yang sehat dan terpercaya . adil dan merata . Program obat dan pembekalan kesehatan . 2. Peningkatan peran swasta dalam pembiayaan pembangunan sebagai bagian dari deregulasi dalam pengembangan pelayanan public . Pemanfaatan dana secara efisien dan produktif yang didasarkan pada pendekatan hasil/output dengan dilandasi azaz manfaat . h. b.77 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 . Pengembangan system informasi dalam manajemen pemerintahan yang dapat memonitor permasalahan kota sehingga dapat membantu dalam proses pengambilan keputusan Pemerintah Kota. f. Misi-6 : Meningkatkan Kapasitas pengelolaan keuangan dari pembiayaan pembangunan kota yang akuntabel dan transparan dalam menunjang sistem pemerintahan yang bersih dan berwibawa. c. 3. Program pencegahan penanggulangan penyakit dan lingkungan sehat . Misi-1 : Mengembangkan sumber daya manusia yang sehat. Program-program yang tercantum dalam RPJMD ini merupakan program pendukung langsung dalam pencapaian kinerja makro sedangkan program yang tidak mendukung langsung akan dijabarkan dalam Rencana Kerja Pemerintah daerah Tahunan sesuai kebutuhan dan ketersediaan anggaran. e. Peningkatan peran kecamatan dan kelurahan dalam meningkatkan kinerja pemerintahan melalui desentralisasi kebijakan pemerintahan kota . Pengelolaan keuangan secara transparan dalam meningkatkan akuntaniliutas public.11 . 3.cerdas. 5. Arah Kebijakan : 1. III .5 PROGRAM Untuk mewujudkan tujuan dan sasaran setiap misi serta berdasarkan arah kebijakan yang ditetapkan. g. Program promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat . professional dan berdaya saing. Program pemberdayaan keluarga. Program keluarga berencana . d.

Program manajemen pelayanan pendidikan . t. f. Program : a. kredit. Program pemberdayaan fakir miskin dan penyandang masalah kesejahteraan social (PMKS) lainnya . III . Program peningkatan kualitas penyelenggaraan pendidikan. d. Program peningkatan peran serta dan kesetaraan gender dalam pembangunan . Program peningkatan ekonomi masyarakat . d.78 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 i. Program peningkatan sarana dan prasarana olah raga . w. i. Program peningkatan upaya penumbuhan kewirausahaan dan kecakapan hidup pemuda . o. Misi-3 : Meningkatkan kesejahteraan social dan mengembangkan budaya kota yang tertib. Program : a. Program pengembangan nilai budaya daerah . x. r. p. Program peningkatan investasi . u. Program peningkatan sarana prasarana pendidikan . Program penguatan kelembagaan pengarusutamaan Gender dan Anak. s. Program peningkatan kualitas hidup dan perlindungan perempuan dan anak. Program penguatan kelembagaan keluarga kecil berkualitas . Program pendidikan menengah . Program pengembangan pemberdayaan masyarakat . Program pengembangan kebijakan dan manajemen olahraga . l. lingkungan agamis dan aktivitas social keagamaan . h. berprestasi dalam menunjang kota jasa bermartabat. j. Program pengembangan budaya baca dan pembinaan perpustakaan . Program pengembangan iklim religius. Misi-2 : Mengembangkan perekonomian kota yang berdaya saing dalam menunjang penciptaan lapangan kerja dan pelayanan public serta meningkatkan peranan swasta dalam pembangunan ekonomi kota. c. m. Program keserasian kebijakan peningkatan kualitas anak dan perempuan. Program pembinaan dan pemasyarakatan olahraga .12 . v. c. k. Program peningkatan pariwisata . Program wajar pendidikan dasar sembilan tahun . Program peningkatan ketahanan pangan . b. n. b. q. Program pemberdayaan kelembagaan kesejahteraan social . Program peningkatan peran serta kepemudaan . Program pengembangan system informasi dan mikro keluarga . Program peningkatan ketenagakerjaan. g. Program peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan . e. Program peningkatan toleransi dan kerukunan umat beragama . Program pendidikan non formal . e. aman.

u. Program tanggap darurat bencana alam . Program peningkatan pelayanan angkutan. Program pelayanan prima dalam pencegahan dan penanggulangan kebakaran serta bencana lainnya. Program penyediaan sarana pembibitan RTH (baru) . Program rehabilitasi hutan dan lahan . Program optimalkisasi system pengelolaan persampahan . m. Program : a. Program penyediaan air baku . Program penataan ruang terbuka public secara berkualitas . Program pengembangan perumahan. s. pemilikan. g. Program penataan. Program pemanfaatan ruang . f. penggunaan dan penguasaan tanah . Program perencanaan tata ruang . Program pembangunan dan pengembangan trotoar . danau dan sumber daya air lainnya . Program pengendalian dan pengamanan lalu lintas. z. bb. t. d. o.79 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 j. r. Program penmyelenggaraan dan pemeliharaan ketentraman dan ketertiban.13 . h. Program pembangunan prasarana dan sarana perhubungan . k. n. III . aa. c. l. y. pengelolaan. m. Program pembangunan saluran drainase/gorong-gorong . q. k. Program pengendalian banjir w. i. l. cc. Program peningkatan pengelolaan sampah perkotaan. p. Program pengendalian pencemaran dan perusakan lingkungan hidup. Program peningkatan keamanan dan kenyamanan lingkungan. dan konservasi sungai. Program peningkatan pengendalian polusi . Program perlindungan dan konservasi sumber daya alam . Program pembangunan jalan dan jembatan. Program pengembangan komunikasi informasi dan media massa . Program penanggulangan bencana alam dan perlindungan masyarakat . e. Program peningkatan kapasitas dan cakupan pelayanan air bersih. x. Program pengembangan kinerja pengelolaan air minum dan air limbah . penguasaan. v. Program peningkatan kesiapan kesiagaan dan pencegahan bahaya kebakaran . Misi-4 : Menata kota Bandung menuju Metropolitan terpadu berwawasan lingkungan. Program penataan bangunan dan bangun-bangunan . Program pengendalian pemanfaatan ruang . Program peningkatan sarana dan prasarana kebinamargaan. Program pemantapan kelembagaan potensi sumber kesejahteraan social (PSKS) . n. j. Program pengembangan. b.

pengembalian pinjaman dan lain-lain. pemeliharaan dan lain sebagainya). 3. g. d. sedangkan Belanja Tidak Langsung dapat ditentukan dengan rasio PNS yang ada. j. Program perencanaan pembangunan . efisien. Misi-6 : Meningkatkan kapasitas pengelolaan keuangan dan pembiayaan pembangunan Kota yang akuntabel dan transparan dalam menunjang system pemerintahan yang bersih dan berwibawa. Program peningkatan sarana dan prasarana aparatur . Program : a. Program pemantapan reformasi birokrasi . sedangkan Belanja Langsung adalah belanja program yang dialokasikan untuk kegiatan-kegiatan pembangunan.14 . akuntabel dan transparan dalam upaya meningkatkan kapasitas pelayanan Kota Metropolitan. e. b. APBD Propinsi dan bantuan-bantuan serta dana masyarakat diasumsikan memiliki kecenderungan peningkatan juga. Program pemeliharaan ketentraman dan ketertiban umum serta perlindungan masyarakat . Selain itu kebutuhan dana ini khususnya adalah yang menjadi focus bagi APBD Kota Bandung. Program pengembangan kemitraan pembiayaan pembangunan daerah. Program pendidikan politik masyarakat dan wawasan kebangsaan . Program kelembagaan dan ketatalaksanaan. sedangkan sumber-sumber dana lain seperti APBN. Karena kebutuhan pendanaan ini bersifat indikasi dan pada tingkatan makro. Program : a. Program peningkatan dan pengembangan pengelolaan keuangan daerah . pengembangan dan peningkatan kapasitas aparatur . 6 Tahun 2008). dengan kecenderungan Belanja Daerah selama Tahun 2003 -2007. i. c. Belanja Tidak Langsung dialokasikan dalam bentuk biaya rutin (gaji.80 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Misi-5 : Meningkatkan kinerja pemerintah Kota yang efektif. Kebutuhan anggaran untuk Belanja Langsung (pembangunan) secara makro diperkirakan dengan menggunakan model ekonometrika yaitu dengan mengaitkan antara target pencapaian indicator utama Otonomi Daerah (PP No. b. Program pengawasan pembangunan daerah . Program penataan perundang-undangan . h. Indeks pembangunan Manusia (IPM).6 KEBUTUHAN ANGGARAN Kebutuhan anggaran dapat dikelompokkan ke dalam Belanja Tidak Langsung dan Belanja Langsung. f. Program pembinaan. Kebutuhan pendanaan dalam ini difokuskan pada Belanja langsung atau Belanja Pembangunan. maka pada saat disusun rencana kegiatan dan keuangan tahunan harus diperkirakan biaya setiap kegiatan – kegiatan yang diusulkan. Program pembangunan hokum daerah . III .

95 63.08 80.1.25 91.59 * 79.55 Indeks Daya Beli 62. Dengan model linier. Bila dengan menggunakan model parabola.88 Target IPM tersebut didasarkan pada RPJMD Kota Bandung tahap –II.1.64 80. Target IPM tersebut dapat diuji dari dua simulasi.38 80.60 90.94 81. I dk e bn u a a ui n e sP ma g n nMn sa 84 82 80 78 76 8 20 09 2 00 3 6 20 0 7 1 2 2 01 3 10 1 1 4 5 Grafik 3.04 64.85 * 65.54 78.78 Indeks Kesehatan 79. Target IPM dan Komponennya Tahun 2008-2013 Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 2008 * 2009 2010 2011 2012 2013 IPM 77.07 68.07 dengan rincian indeks masing-masing seperti tampak pada tabel berikut ini : Tabel 3. sehingga bila estimasi ini terlalu tinggi.17 77.72 91.18 89.26 89.79 * 80. dan listrik secara garis lurus dengan tingkat IPM terakhir pada tahun 2007.99 64.25 81.40 81. maka sampai tahun 2013 kemungkinan hanya akan dapat dicapai IPM 79.93 63.07 Indeks Pendidikan 89.27 68.34 63.57 81.15 .16 91. Posisi Target IPM Tahun 2013 III .94 89. Pertumbuhan penduduk rata-rata pertahunan diasumsikan sebesar 1.15 77.27 79. kreatifinovatif.29 88.10 81.25.23 %. Model parabola ini dalam implementasinya mensyaratkan kerja keras segenap aparat maupun warga masyarakat dalam bentuk upaya yang sungguh-sungguh.09 78.20 79.65 66.81 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang ingin dicapai pada tahun 2013 adalah sebesar 81. maka akan di akumulasikan pada tahun berikutnya.13 * 90.58 80. maka target sebesar 81.46 77.66 91.23 79. Estimasi tahun 2008 adalah masa transisi.07 tersebut justru akan dapat dilampaui.08 79.46 67. yaitu simulasi dengan model parabola (non linier) dan modal linier.

492 1. APBD Propinsi dan dana masyarakat juga mengikuti kecenderungan yang meningkat.226 682.Pertahun. Kebutuhuan Total Belanja Langsung dan Belanja Langsung per Kapita APBD Kota Bandung Tahun 2008-2013 Tahun 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 Sumber : Hasil Analisis Total Belanja Langsung (Milyar Rp) 750 878 1. Selanjutnya kebutuhan belanja langsung. demikian juga apabila ternyata efektifitas pencapaian indicator berjalan lambat. 432.865 432.82 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Atas dasar target IPM tersebut maka dapat diperkirakan kebutuhan belanja langsung perkapita dan total belanja langsung pertahun.. ekonomi.036 Milyar atau rata-rata belanja langsung perpenduduk Kota Bandung adalah Rp.411 370. 751.051 Perkiraan kebutuhan belanja langsung pada tabel di atas.273 1. 1. Pada tahun 2009 diperkirakan kebutuhan belanja langsung sebesar Rp. 1. diasumsikan tidak terjadi perubahan-perubahan drastic dan mendasar pada berbagai kondisi eksternal sehingga berdampak negative. maka dapat diperoleh perkiraan kebutuhan belanja langsung dari Tahun 2008-2013 dengan asumsi sumber-sumber dana lain dari APBN.425 607.036 1. kesehatan.000.000. secara langsung pada program pendidikan.305 751.16 . Pada tahun 2013 diperkirakan kebutuhan belanja langsung sebesar Rp. Kluster yang dimaksud adalah Bidang Pendidikan. Pencapaian yang lebih tinggi pada tahun bersangkutan akan memperingan pencapaian dan penyediaan dana tahun berikutnya.891 Belanja Langsung perkapita (Rp/tahun) 320. yaitu tidak tercapainya target tahunan dapat menimbulkan akumulasi kebutuhan belanja langsung pada tahun berikut.2. Kesehatan. Demikian juga sebaliknya. Infrastruktur dan Pranata. adalah sebagai berikut : Tabel 3. Selain itu selama perjalanan tahun tersebut.169 524. Kluster disusun atas dasar tugas pokok dan fungsi SKPD. selanjutnya dapat diperkirakan secara makro alokasinya menurut kluster dan program prioritas. Berdasarkan target diatas. Ekonomi. program pendukung berupa a III .891 Milyar atau rata-rata balanja langsung perpenduduk Kota Bandung adalah Rp.697 1.pertahun.

maka perkiraan kebutuhan belanja langsung adalah sebagai berikut : Tabel 3.3. Dalam kaitannya dengan 7 Agenda Prioritas dan Reformasi Birokrasi.83 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 penyediaan infrastruktur dan program kepranataan berupa peningkatan kinerja Pemerintah Kota Bandung. Kebutuhan Belanja Langsung APBD Kota Bandung Tahun 2008-2013 menurut 7 Agenda Kota (Milyar Rupiah) Tahun • Bandung Cerdas • Bandung Sehat • Bandung Makmur • Bandung Berprestasi • Bandung HIjau 262 286 299 378 459 541 626 • Bandung Kota Seni Budaya • Bandung Kota Agamis • Reformasi Birokrasi 298 417 528 625 714 796 871 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 66 58 83 117 137 149 154 86 82 83 98 114 131 148 38 36 44 56 68 80 93 Sumber : Hasil Analisis .

2 4. Apabila Kota Bandung mampu meningkatkan pendapatan dari PAD yang kebanyakan bersumber dari pajak dan retribusi secara derastis misalnya 100%. Dengan demikian pada dasrnya Dana Perimbangan sebagian besar menunjukan kapasitas fiskal suatu daerah. Mengupayakan sumber-sumber pendapatan in-konvesional. 4.Terlebih lagi karakteristik PAD yang terkait dengan pelayanan.84 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 BAB IV KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH 4. Meningkatkan efektifitas dan efisiensi penerimaan PAD. Peningkatan pendapatan daerah yang signifikan adalah berasal dari propinsi dana perimbangan.1 .2.1 STRATEGI KEUANGAN Strategi pengelolaan keuangan daerah meliputi aspek pendapatan. maka kontribusi terhadap pendapatan juga hanya sekitar 35 % saja atau tidak akan mampu memenuhi 50% pendapatan. Meningkatkan efektifitas pembelanjaan melalui perencanaan yang baik dan proposional. Karena kontribusi Dana Perimbangan demikian besar dan transmisinya terlebih dahulu dikumpulkan oleh pusat atau propinsi dan kemudian baru disalurkan. 2. misalnya melaluiobligasi 4. walaupun Kota Bandung tergolong sebagai Kota yang memiliki PAD tinggi. 5. 3. Situasi seperti ini patut dicermati dengan hati-hati. maka dalam hal perencanaan anggran Kota Bandung dan kabupaten-kota lainnya tentu saja mengalami kesulitan estimasi anggaran. maka peningkatan PAD besaran-besaran potensial menimbulkan beban masyarakat dengan berbagai penerimaan yang dipungut oleh pusat dan propinsi.1 ARAH KEBIJAKAN KEUANGAN PENGELOLAAN PENDAPATAN DAERAH Sumber pendapatan kabupaten dan kota di Indonesia sebagian besar berasal dari Dana Perimbangn. Secara umum strategi keuangan daerah yang akan ditempuh adalah : 1. Dampak selanjutnya adalah keterbatasan gerak dalam menyusun perencanaan program pada tahun berikutnya. pembelanjaan dan pembiayaan. Diferensiasi penerimaan PAD sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Meningkatkan upaya optimalisasi pemanfaatan aset daerah dan kinerja BUMD terhadap penerimaan daerah. IV .

dengan asumsi kinerja aparat akan semakin efektif dan efesiensi bersamaan dengan dilakukannya tahapan reformasi birokrasi. Perkiraan Kenenderungan Pertumbuhan Ekonomi Kota Bandung Berdasarkan kecenderungan di atas selanjutnya ditetapkan dua sekenario. maka terlebih dahulu dianalisis kemungkinan pertumbuhan ekonomi Kota Bandung.144 2. ) 60000 40000 20000 0 20 03 6 20 07 8 20 09 4 5 10 NORMAl PESIMIS Grafik 4.755 1.140 1.087 2. OPTIMIS 80000 ( Milyar Rp.433 2010 71. Untuk memproyeksikan perkiraan pendapatan Pemerintah Kota Bandung. baik langsung ataupun tidak langsung. PAD dan Dana Perimbangan Pemerintah Kota Bandung Tahun 2008-2013 (Milyar Rp) Tahun PDRB Normal 2006 43.502 2012 85.916 2.2 . Pola pesimis tidak dihitung dalam sekenario.467 2011 78.398 2009 64.312 2008 57.572 Sumber : Hasil Analisis Pendapatan 1.537 2013 92.686 1. yaitu i) perekonomian tumbuh normal ii) perekonomian tumbuh sesuai target. Berikut ini adalah sekenario perkiraan Pendapatan.744 1.566 2. Semakin meningkat ekonomi suatu daerah maka potensi pendapatan daerah juga meningkat.259 IV .933 2.572 1. PAD dan Dana Perimbangan Kota Bandung dalam dua sekenario.1 Perkiraan pertumbuhan ekonomi Normal dan perkiraan pendapatan. Tabel 4.246 1.097 1.85 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Peningkatan pendapatan aderah berkaitan dengan pertumbuhan aktivitas masyarakat atau pertumbuhan ekonomi. atau tingkat ekonomi suatu aderah dapat dipandang sebagai revenue capacity.398 1.355 2. Seperti pada gambar berikut.491 2007 51.777 PAD 254 288 328 361 400 440 479 518 Perimbangan 1.

Pendapatan tahun 2013 diperkirkan lebih rendah. maka potensi pendapatan juga lebih tinggi. maka pada tahun 2007 menjadi 3. Untuk mewujudkan pencapaian penerimaan daerah.411 2.627 1.797 2013 112.748 Perkiraan pendapatan .86 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Tabel 4. dikerjasamakan dengan Pemerintah Propinsi Jawa Barat yang juga a IV . 518 Milyar dan Dana Perimbangan Rp.terdiri dari PAD Rp.259 Milyar.281 2. Pendapatan tahun 2013 diperkirakan Rp. PAD capacity sekitar 0. bila pada tahun 2003 sebesar 4.855 2.29% karena itu perkiraan revenue capacity sebesar 3% dari PDRB termasuk pendapatan yang relatif berhati-hati.097 1.Penggunaan sistem informasi dapat membantu efektifitas dan efisiensi manajemen pendapatan daerah.755 2. 2.021 2011 86. 3. 631 Milyar dan Dana Perimbangan Rp.3 .748 Milyar. sehingga basis penerimaan (revenue capacity) mengalami peningkatan. maka potensi pendapatan juga lebih tinggi. Dilakukan melaui klasifikasi aset menurut potensi ekonominya.2 Perkiraan Pertumbuhan Ekonomi menurut Target dan Perkiraan Pendapatan. yaitu : 1. 2. Pada pencapaian tingkat ekonomi yang lebih tinggi.664 2012 98.312 2008 58. sehingga menurut target. PAD dan Dana Perimbangan ditentukan menurut asumsi revenue capacity Pemerintah Kota Bandung sebesar 3% dari PDRB.001 2.600 2.3. sehingga menurut target .685 2010 76.686 1. PAD dan Dana Perimbangan Pemerintah Kota Bandung Tahun 20082013 (Milyar Rp) Tahun PDRB Tinggi 2006 43. kemudian dipilih bentuk-bentuk pengelolaannya. Sedangkan apabila tingkat ekonomi lebih rendah. misalnya dikelola sendiri.379 PAD 254 288 328 373 426 485 553 631 Perimbangan 1. Upaya ini relatif lebih memperingan beban masyarakat daripada melalui upaya peningkatan tarif berbagai sumber PAD.496 2009 66.246 1.398 1. yaitu Rp.491 2007 51. maka ada beberapa langkah strategis.115 2. terdiri dari PAD Rp. Mendorong pertumbuhan aktivitas ekonomi dan investasi di Kota Bandung.628 Sumber : Hasil Analisis Pendapatan 1. 2.02%.140 1.964 3.44% dan PDRB. Optimalisasi aset daerah. mengingat potensi ketidakpastian perekonomian bersamaan dengan kerisis ekonomi global. diantaranya adalah melalui koondisi pemanfaatan data basis sumber PAD serta penilaian kembali atas sumber tersebut. 2.777 Milyar. Rasio ini di Kota Bandung menunjukan angka yang semakin menurun.379 Milyar. Optimasi manajemen pendapatan daerah.56% dan Dana Perimbangan sekitar 2.

Bila kebutuhan Belanja Langsung tersebut dipersentasikan terhadap perkiraan APBD Kota Bandung Tahun 2009-2013. sistem penganggaran maupun akutansi. Tabel 4.273 2011 1.4 63. Anggaran tersebut mencemarkan efisiensi dan efektivitas pelayanan publik.2.2 25. 4.6 59. masyarakat semakin menuntut adanya pengelolaan keuangan publik secara transparan dalam rangka mewujudkan akuntabilitas yang didasarkan pada perinsip-perinsip anggaran berbasis kinerja yaitu belanja daerah yang berorentasi pada pencapaian hasil atau kinerja. Advokasi Dana Perimbangan dilakukan melalui upaya-upaya koordinasi dengan Pemerintah Pusat dan Propinsi Jawa Barat.4 .697 2013 1.2 PENGELOLAAN BELANJA DAERAH Pengelolaan belanja derah sangat erat kaitannya dengan sistem pengelolaan keuangan daerah.4 44.4 44.891 Sumber : Hasil Analisis Tahun Normal (%) 28. Sesuai dengan reformasi dibidang keuangan.0 IV . Pada dasarnya pengelolaan aset ini dapat menjadi sumber pendapatan yang penting bagi Kota Bandung di masa depan. Artinya perhatian Pemerintah Kota Bandung terhadap Pembangunan Kota semakin meningkat.8 55.1 53. maka adanya kecenderungan persentase Belanjua Langsung semakin meningkat. terutama pada sumber-sumber dana perimbangan serta potensi dan perimbangan yang selama ini belum diganti.3 56.1 51. dapat diperkirakan kebutuhan Belanja Langsung dari Tahun 2009-2013.5 50.5 50. 4.1 68.3 Kebutuhan Belanja Langsung APBD Kota Bandung (Milyar RP) Belanja Langsung 2005 316 2006 354 2007 750 2008 878 2009 1.4 66.8 57. seperti yang diamantkan dalam RPJPD Tahun 20052025.1 Target (%) 28.4 57.492 2012 1. Berdasarkan Belanja Langsung per kapita di Kota Bandung .2 25.036 2010 1.87 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 memiliki aset dalam jumlah besar di Kota Bandung.

Sumber pembiayaan dapat berasal dari sisa lebih perhitungan anggaran tahun lalu. dan secara umum meningkatkan peran perencanaan. Penyehatan BUMD agar memberikan kontribusi signifikan pada pemerintah daerah. Inisiasi penerbitan obligasi Pemerintah Kota Bandung. 2. pemantauan program dan kegiatan. Stimulasi kepada masyarakat untuk berpartisipasi dalam pembangunan. Bantuan modal dan transfer dana cadangan. Belanja Tidak Langsung harus sebaik mungkin dapat diprediksi dan dilakukan secara konsisten sehingga mengurangi percampuran alokasinya dengan Belanja Langsung . Optimalisasi Belanja Langsung. Secara umum dalam setiap aspek selalu berpegang pada prinsip akuntabilitas. 2. Strategi Pengelolaan Belanja Daerah Kota Bandung Tahun 2009 – 2013 adalah sbagai berikut : 1. Memfasilitasi stakeholders dalam mealokasikan dana mereka (misalnya corporate social responsibility) dan lain-lain agar terdapat saran.2. misalnya dengan alokasi dana langsung di tingkat kelurahan. 6. satuan biaya yang tepat. penerimaan pinjaman obligasi. dalam hal ini terjadi defisit anggaran. transfer dari dana cadangan maupun hasil penjualan aset daerah yang dipisahkan. Pembiayaan adalah transaksi keuangan daerah yang dimaksud untuk menutup selisish antara pendapatan daerah dan belanja daerah. Menetapkan program prioritas dan menggunakan toal ukur kinerja yang jelas. Sedangkan dalam pengeluaran pembiayaan itu sendiri adalah angsuran hutang. Mendorong dunia perbankan untuk mealokasikan keredit pada usaha-usaha produktif di Kota Bandung untuk mencapai pertumbuhan ekonomi. yaitu dengan : 1. . Sumber pembiyaan dapat berasal dari sisa lebih perhitungan anggaran tahun lalu. Dilakukan dengan memastikan lokasi dan sasaran pembangunan. 4. 3. dalam hal ini terjadi defisit anggaran.3 PENGELOLAAN PEMBIAYAAN Pembiayaan adalah transaksi keuangan daerah yang dimaksud untuk menutup selisih antara pendapatan derah dan belanja daerah. termasuk juga pengelolaan Nelanja Tidak Langsung yang sebenarnya lebih mudah untuk diprediksi. 3. Optimalisasi sumber tetap pendapatan Pemerintah Kota Bandung. transparansi dan upaya yang sungguh-sungguh.88 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Kebutuhan Belanja Langsung di atas bersifat indikatif dan mensyaratkan beberapa hal yang penting untuk dipenuhi. Optimalisasi juga dapat dilakukan melalui koordinasi dan sinergitas antar SKPD dalqam menangani suatu masalah. 4. 4. Meningkatkan efektifitas dan efisiensi Belanja Tidak Langsung melalui perencanaan anggaran dan sistem akuntansi yang baik. 5.

Mengacu pada RPJPD Kota Bandung Kota Bandung tahap-II.1 INDIKATOR UMUM Indikator umum adalah sejumlah indikator makro yang akan dicapai pada tahun 2009 – 2013. Dengan mempertahankan substansi program-program yang sudah belanja pada periode sebelumnya serta mempertimbangkan kampanye Walikota. Selain itu beberapa indikator makro strategis yang ingin dicapai antara lain : 1. Adapun 7 (tujuh) agenda tersebut adalah : V. Tahun 2005-2025.07 atau penduduk Kota Bandung secara umum tergolong dalam kesejahteraan tinggi. Indeks Pendidikansebesar 92. 4. 4. maka disusun 7 (tujuh) Agenda Prioritas untuk Tahun 2009-2013. Laju pertumbuhan ekonomi 9. Penetapan agenda priorotas mencerminkan urgensi permasalahan yang hendak diselesaikan tanpa mengabaikan penyelesaian permasalah lain.88. dengan indikator hasil akhir. maka target pencapaian IPM sampai akhir tahun 2013 adalah sebagi berikut : 1. Pendapatan (PDRB) perkapita Rp. 3. Tujuan Otonomi Daerah adalah peningkatan kualitas manusia yang diukur dengan indeks Pembangunan Manusia (IPM).000.2 AGENDA PRIORITAS Agenda Prioritas diartikan sebagai penjabaran pelaksanaan misi dalam pencapaian visi yang menjadi prioritas dalam pelaksanaan program dan kegiatan Walikota Bandung 5 (lima) tahun ke depan. Pemerataan pendapatan kategori sedang (15%-versi Bank Dunia).89 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 BAB V INDIKATOR KINERJA DAN AGENDA PRIORITAS 5.No 6 Tahun 2008. 16. 2.55.000. 2. Indeks Daya Beli 68.-/tahun (rill tahun dasar 2000) Pengangguran terbuka 15% 5. Indeks Kesehatan sebesar 81. Secara umum untuk Tahun 2009-2013 akan dilakukan berbagai macam program pembangunan.1 .33. indikator ini terutama mengcu pada PP.78. 3. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) sebesar 81.

budaya (Cultural Setting) dan peningkatan kopetensi dan profesionalisme aparatur melaui penataan aparatur dan manajemen pemerintah. terpadu dan konferhensif yang ditunjukan untuk merealisasikan tata kepemerintahan yang baik (Good Governance) untuk melakukan perubahan pola pikir (Mind Setting). melalui bantuan Walikota untuk Pendidikan (Bawaku Sekolah). 3. sistematis dan terencana atas dasar kemitraan.2 . Oleh karena itu. Bersamaan dengan pelaksanaan 7 (tujuh) Agenda Prioritas tersebut dilakukan juga upaya peningkatan kinerja aparat menuju Good Governance dengan melajutkan tahapan Reformasi Birikrasi yang akan dilaksanakan melekat pada pelaksanaan 7 (tujuh) Agenda Prioritas tersebut. Dengan demikian tidak semua perubahan a V. keserasian dan keseimbangan dalam memantapkan pembangunan Kota Bandung berkelanjutan dan berwawasan lingkungan yang didukung oleh 5 gerakan: i) Penghijauan dan Hemat serta Menabung Air. Memantapkan Pembinaan Seni dan Meningkatakan Budaya Kota Bandung (Bandung Kota Seni Budaya). Memantapkan Pembangunan Kota Bandung Berkelanjutan dan Berwawasan Lingkungan (Bandung Hijau dan Harmonis). melalui Bantuan Walikota untuk Kesehatan (Bawaku Sehat). 6. diantaranya dengan : Bantuan Walikota untuk Kemakmuran (Bawaku Makmur) Bantuan Walikota untuk Ketahanan Pangan (Bawaku Pangan) Bantuan Walikota untuk Penduduk Lanjut Usia (Bawaku Lansia) melalui Gerakan Sayang Orang Tua (Gerakan Nyaah Ka Kolot) yang terdiri dari: Bina Perumahan. ii) Cikapundung Bersih iii) Sejuta Bunga Untu Bandung iv) Udara Bersih v) Gerakan Pembibitan. Memantapkan kesehatan warga Kota Bandung (Bandung Sehat). Penanaman. Memantapkan toleransi dan Pembinaan Umat Beragama ( Bandung Agamis). Reformasi yang dilakukan merupakan perubahan tatanan yang lebih baik bukan perubahan secara parsial.90 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 1. Yang dimaksud dengan Bandung Hijau dan Harmonis adalah suatu keadaan yang mencerminkan adanya keselarasan. 7. Memantapkan Kecerdasan Warga Kota Bandung (Bandung Cerdas). Meningkatkan Persentasi Olah Raga dan Kepemudaan Kota Bandung (Bandung Berprestasi). reformasi birokrasi mutlak harus dilaksanakan pada setiap peranan melalui perwujudan dan interaksi yang sinergis. 4. 2. Meningkatkan Kemakmuran Warga Kota Bandung (Bandung Makmur). Reformasi birokrasi dimaksud adalah upaya yang sistematis. Benah Usaha. Bina Usaha dan Bina Lingkungan (Benah Imah. 5. Benah Lingkungan).

Untuk itu tahapan pementapan ini dibagi menjadi beberapa tahapan rinci setiap tahun. 4. Pengembangan dan Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (EGovernment). Kolusi dan Nepotisme (KKN). Tahun 2012-2013: Percepatan –Pemantapan (Pemantapan Akhir) Adapun Isu-isu strategis birokrasi di lingkungan pemerintah Kota Bandung meliputi : 1. Bersahabat dalam arti mampu bersosialisasi. V. 6. memberikan teladan dan menjadi panutan masyarakat serta ramah dan bersahabat dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. 2. Makmur dalam arti mampu memenuhi kebutuhan dasar dan berkeinginan untuk mencapai kehidupan dan penghidupan yang lebih baik. Tahun 2010: Pertumbuhan . Peningkatan Investasi. Kriteria reformasi hanya dapat disandangkan apabila terjadi perubahan sistematis dan terencana (sistematic and planned change) yang diarahkan untuk melakukan transformasi secara mendasar dengan outcomes yang lebih baik. Birokrasi bermartabat adalah sosok birokrasi yang diharapkan dapat diwujudkan dalam penyelenggaraan roda Pemerintahan Kota Bandung yang memiliki karakteristik sebagai berikuut: Bersih dalam arti bebas dari Korupsi. Taat dalam arti birokrasi yang memahami dan menaati serta menjalankan norma-norma agama dan budaya serta peraturan-peraturan yang menjadi landasan dalam penyelenggaraan pemerintah. Tahun 2011: Pengembangan. 5.91 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 dapat dikategorikan sebagai reformasi. Reformasi Birokrasi yang telah dilaksanakan pada periode Tahun 2003-2008 adalah restrukturisasi birokrasi.3 . 4. Optimalisasi Potensi Pendapatan. 2. 3. Hasil yang diharapkan dari pelaksanaan reformasi birokrasi ini adalah terciptanya birokrasi bermartabat di lingkungan Pemerintah Kota bandung. Tahun 2009: Institusionalisasi. Penataan Kelembagaan (Institutional reform) 3. Selanjutnya kelanjutan Reformasi Birokrasi untuk Tahun 2009-2013 merupakan tahapan pemantapan serta tahun 2003-2008 dilakukan strukturisasi. Penerapan Pola Pelayanan Satu Pintu. Pengembangan Sumber Daya Manusia Aparatur. yaitu : 1.

sempadan sungai. hutan kota.4 .16 juta per tahun 68.88 15% 81.1 Indikator Kinerja Agenda Prioritas Agenda Prioritas Bandung Cerdas Bandung Makmur Indikator Capaian Indeks Pendidikan RLS AMH LPE Tingkat Pemerataan pendapatan versi Bank Dunia PDRB Rill/kapita Indeks Daya Beli Tingkat pengangguran terbuka Indeks Kesehatan Angka harapan hidup Angka kematian bayi Jumlah Kematian ibu melahirkan Meningkatkan kesadaran masyarakat dan komunitas seni dan budaya dalam rangka pelestarian seni dan budaya secara profesional dan berkesinambungan Meningkatkan sikap toleransi dan kerukunan antara umat beragama Meningkatkan pemahaman dan pengamalan agama sesuai dengan agamanya dan keyakinan masing-masing Meningkatnya sikap toleransi dan kerukunan umat beragama Meningkatanya prestasi Cabang Olah Raga Ruang terbuka hijau publik dan private yang efektif menunjang fungsi hidrologi Meningkatnya jumlah SKPD yang bersertifikat sistem manajemen mutu (SMM) ISO 9001:2000 Target Capaian 2013 92. Pada dasarnya indikator ini adalah indikator-indikator sasaran guna mencapai indikator umum yang telah di sebutkan sebelumnya.3 INDIKATOR KINERJA DAERAH Indikator kinerja daerah adalah sejumlah indikator yang akan dicapai melalui sejumlah program yang kan dilaksanakan pada Tahun 2009-2013 Indikator ini dikelompokkan menurut misi. Daftar program dan indikatornya dapat dilihat pada matrik berikut ini.92 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Tabel V.55 74 Tahun 31/1000 kelahiran 12 orang/tahun Bandung Sehat Bandung Kota Seni Budaya Bandung Agamis Bandung Berprestasi Bandung Hijau Reformasi Birokrasi 16% (dalam bentuk taman. kawasan konserfasi dan RTH lainnya) 83 SKPD 5.78 12 Tahun 99. V.08% 9.33% Minimal 15% (kategori sedang) Minimal Rp.

55 pada tahun 2013 USIA HARAPAN HIDUP : 77.39 tahun pada tahun 2008 menjadi 74 tahun pada tahun 2013 ANGKA KEMATIAN BAYI dari 181 orang pada tahun 2008 menjadi : 31/1000 kelahiran hidup pada tahun 2013 JUMLAH KEMATIAN IBU MELAHIRKAN : 20 orang/tahun pada tahun 2008 menjadi 12 orang/tahun FASILITAS KESEHATAN.70% 100% 136 Kelurahan 88. Program Peningkatan Sarana. Profesional. Pembangunan sarana dan prasaranan kesehatan INDIKATOR PROGRAM 1. Program Obat dan Perbekalan Kesehatan 1. Inspeksi Tempat-Tempat Umum (TTU) 1. Fasilitas kesehatan melaksanakan SPM 126 Kelurahan 128 Kelurahan 87. Pengembangan. Cerdas.00% 100% Target tidak bisa 100% karena vaksin campak masih tergantung pada Departemen Kesehatan 86. pangan.05 tahun <1% 80.8 pada Tahun 2008 menjadi 81. Indeks Kesehatan 2. Pencegahan dan penanggulangan penyakit menular. dan Manajemen Kesehatan V.00% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 3. PHBS Rumah Tangga 2. bahan dan alat kesehatan sesuai dengan kebutuhan 2. Program Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat 40. anak. balita.45 Tahun <1% 2013 80. 1. Memantapkan Kesehatan Warga Kota Bandung INDIKATOR CAPAIAN MISI IPM : 77.60% 100% 134 Kelurahan 87.39% 100% 132 Kelurahan 87. Pengawasan dan pengendalian keamanan obat. bahan berbahaya serta NAPZA 1. Usia Harapan Hidup (UHH) 3. 60% pada tahun 2008 menjadi 80% memenuhi SPM kesehatan pada tahun 2013 PROGRAM 1. Pengadaan Obat.55 tahun <1% Terlayaninya masyarakat miskin yang berobat di Puskesmas dan Rumah Sakit Kelas III KETEREANGAN 100% 100% 100% 100% 100% 100% 2. Terselenggaranya pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin di Puskesmas dan Rumah Sakit di Kelas III yang dijamin oleh Pemerintah 1. serta inspeksi lingkungan sehat.85 tahun <1% TARGET CAPAIAN KINERJA TAHUNAN 2010 2011 2012 80. Penanggulangan Penyakit. Prasarana. dan Lingkungan Sehat 4. Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) yang memliki sertifikat. Meningkatkan perilaku Hidup Bersih & Sehat (PHBS) di masyarakat dan meningkatkan Upaya Kesehatan Beersumberdaya Masyarakat (UKBM) 1. bayi. Pelayanan Kesehatan Khusus. Cakupan Kelurahan Universal Child Imunization (UCI) 2. Peningkatan akses dan mutu pelayanan keehatan rujukan 1.12% 50. Puskesmas Pelatihan Penanganan Gawat Darurat (PPGD) 3. Terpenuhinya ketersediaan obat.07 pada tahun 2013 INDEKS KESEHATAN : 80.79 73. remaja. bahan dan alkes. Status Balita dengan Gizi Buruk 4.19% 100% 130 Kelurahan 87. lansia.48% 47.23% 49.25 tahun <1% 80. Pelayanan kesehatan penduduk miskin. tidak menular.79 pada tahun 2008 menjadi 81.5 .39 tahun <1% 2009 80. Program Pencegahan. 1.60% 46.99% 100% 50% 7 RS 7 Puskesmas 21 Puskesmas 55% 9 RS 7 Puskesmas 21 Puskesmas 60% 11 RS 8 Puskesmas 30 Puskesmas 65% 13 RS 9 Puskesmas 39 Puskesmas 70% 15 RS 10 Puskesmas 48 Puskesmas 75% 17 RS 11 Puskesmas 57 Puskesmas 5.93 MISI – 1 Mengembangkan Sumber Daya Manusia yang Sehat. Berahlak. dan Berdaya Saing Tujuan Misi : 1. UKBM Posyandu Aktif EKSISTING 2008 80.36% 48. Rumah Sakit yang terakreditasi 2. Pelayanan Kesehatan dasar terhadap ibu. Program Upaya Kesehatan Masyarakat SASARAN PROGRAM 1.

7 13.67 tahun 12 tahun APK di atas termasuk 131.01 4 4 60.12% 1.50% 59.80% 19.02% 8.94 INDIKATOR CAPAIAN MISI PROGRAM 6.6 . Program Wajar 1. Capaian RLS tahun 2008 menjadi 92.36% 3.39% 18.57% 91.57% 81.60% 72.28% KETEREANGAN 7. Institusi masyarakat pengelolaan Program KB aktif 1.59 tahun 10.79% 2013 74.80% 75. Peningkatan masyarakat institusi masyarakat terhadap pengelolaan program KB 1.91% 78.01 tahun 11.52 tahun pada tahun 2008 Pendidkan menjadi 12 tahun pada tahun 2013 2. Cakupan Pa/PUS 2. Partisipasi Bina Kemuarga Balita 2.40% 68.07% 77.14 4. Partisipasi Bina Keluarga Remaja 3. RW. Kecamatan.45% 72.05% 131.51 30.08% 98.34 26. RT. Rata-rata Usia Kawin pertama bagi Wanita (tahun) 1.89% 20.59% 18.70 pada 1.05% V. Peningkatan mutu kualitas KIE terhadap masyarakat tentang keluarga 2.35% 10.96% 20.25% 3% 75% 20.18% 2.92% 20. Peningkatan kualitas pelayanan KB bagi Pasangan Usia Subur (PUS) terutama KB pria dan Keluarga Miskin 1.02 20.71% 2. Peningkatan cakupan keaktifan keluarga yang memiliki anak balita.81% 2009 70.90% 85.30% 74.83% 66.25 pada tahun Peningkatan Lama Sekolah (RLS) 2013 Kualitas Penyelenggaraan RLS : 10. Program Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) 8.98% 16.01% 15% 20% 55.05% Tujuan Misi : 2.31% 88.20 4. Program Pengembangan Sistem Informasi dan Mikro Keluarga 1. Program Penguatan Kelembagaan Keluarga Kecil Berkualitas 10. Partisipasi Bina Keluarga Lansia 4.91% 96.15% 76.73% 38.05% 131. Peningkatan akses dan fasilitas para remaja terhadap kesehatan reproduksi remaja 1. Memantapkan Kecerdasan Warga Kota Bandung ( Agenda Prioritas Bandung Cerdas ) INDEKS PENDIDIKAN : 88.18 23. remaja. Program 1. Prosentase APK SD/MI 10.69% 6.40% 89.68 tahun 11.75% 74.10% 65.70% 71.59% 1.73% 46.34 tahun 11.74% 93. Program Keluarga Berencana SASARAN PROGRAM 1.85% 19.05% 131.83% 12.68% 12.80% 62.86 16. Meningkatkan cakupan peran pria 4. Cakupan Pa/PUS Gakin 1.45% 73. dan KS 1 Alasan Ekonomi (Alek) dalam Poktan UPPKS 1. Cakupan laporan Pelayanan Kontrasepsi/Pengendalian Lapangan EKSISTING 2008 69. Meningkatan kemandirian ber KB 3.22% 87.65% 2.82% 19. dan individu yang baik dan akurat 4. Rata-rata Jumlah jiwa dalam keluarga (orang) 2.29% 75.05% 131.05% 131.30% TARGET CAPAIAN KINERJA TAHUNAN 2010 2011 2012 71.07 4. dan lansia INDIKATOR PROGRAM 1.69% 83. Meningkatkan Rata-Rata 1. Partisipasi Keluarga.23% 88.91% 73. KB.16% 17. Program Pemberdayaan Keluarga 9.46% 21. Peningkatan pelayanan informasi Keluarga.89% 95.10% 29. Kelurahan. memiliki data mikro keluarga 2. Meningkatnya Angka 1.56% 91. Keluarga Pra KS.

06% 100% (SD/MI) 100% (SMP/MTs) 100% 100% 95. Peningkatan Pendidikan mewiraswastaan yang berbasis industri kreatif 20% 25% 35% 45% 55% 65% 99.95 INDIKATOR CAPAIAN MISI AMH : 99.16% 100% 100% 100% 0.16% pada tahun 2008 menjadi 100% pada tahun 2013 APKSMA/SEDERAJAT 98.7 . Meningkatkan APK SMP/MTs 1.51% pada tahun 2008 menjadi 100% pada tahun 2013 APMSD/SEDERAJAT 123.51% 0.16% 100% 100% 100% 0% 0.13% 100% 116. 1. Menurunnya Angka Putus Sekolah SD/MI 6.16% < 100% 4.01% 0.50% 100% 123.50% pada tahun 2008 menjadi 99.02% 0. 51 (SMP/MTS) 99.4% < 100% 0. Prosentase Angka Putus Sekolah SMA/MA/SMK 1. 1. Meningkatkan APM SMP/MTs 5. Peningkatan APK SMA/MA/SMK 2. < 100% 2. Sekolah Gratis 3. Prosentase APK SMP/MTs 116.44% 98. Prosentase APM SMA/MA/SMK 1. Peningkatan Akses layanan Pendidikan bagi keluarga tidak mampu.16% 100% 100% 100% 0% 0. Pengembangan sekolah kejuruan sesuai kompetensi daerah da kebutuhan lapangan kerja PROGRAM Pendidikan Dasar Sembilan Tahun SASARAN PROGRAM Partisipasi Kasar (APK) SD/MI formal. Prosentase APK SD/MI 123. Meningkatkan Angka Partisipasi Murni (APM) SD/MI 3. Prosentase APM SMP/MTs 1. Program Pendidikan Menengah.10% 20%.16% 100% 100% 100% 0% 0% 100% (SD/MI) 100% (SMP/MTs) 100% 100% 100% 0% Pross Pendidikan dan Pelatihan di SMK mengacu kepada pendidikan kewirausahaan uang berbasis industri kreatif Target 100% khusus Kota Bandung Target 100% khusus Kota Bandung Sekolah gratis sesuai dengan Standar Pelayanan Minimal Sekolah gratis sesuai dengan Standar Pelayanan Minimal APK 100% khusus Kota Bandung APK di atas termasuk didalamnya siswa dari luar kota Bandung APK 100% khusus Kota Bandung APK di atas termasuk didalamnya siswa dari luar kota Bandung APK 100% khusus Kota Bandung INDIKATOR PROGRAM EKSISTING 2008 2009 TARGET CAPAIAN KINERJA TAHUNAN 2010 2011 2012 2013 KETEREANGAN didalamnya siswa dari luar kota Bandung APK 100% khusus Kota Bandung V.9% 0.10% 100% 123.51% 75. Menurunnya Angka Putus Sekolah SMP/MTs 7. 224 (SD/MI) 20%.91% pada tahun 2008 menjadi 100% pada tahun 2013 3.44% pada tahun 2008 menjadi 100% pada tahun 2013 APMSMA/SEDERAJAT 75. Peningkatan APM SMA/MA/SMK 3.02% 100% (SD/MI) 100% (SMP/MTs) 100% 100% 98.30% 100% 123. Prosentase Anak Putus Sekolah SMP/MTs 1.88% pada tahun 2013 APKSD/SEDERAJAT 131. Beasiswa bagi keluarga tidak mampu 1. Sekolah Gratis 2. Prosentase Anak Putus Sekolah SD/MI 1.13% < 100% 1.16% 0.9% 0.08% 100% (SD/MI) 100% (SMP/MTs) 100% 100% 91.13% 100% 116.13% 100% 116.65% pada tahun 2008 menjadi 100% pada tahun 2013 APKSMP/SEDERAJAT 116. Prosentase APK SMA/MA/SMK 1. Menurunnya Angka Putus Sekolah SMA/MA/SMK 4.13% 100% 116.13% pada tahun 2008 menjadi 100% pada tahun 2013 APMSMP/SEDERAJAT 99.13% 100% 116.04% 100% (SD/MI) 100% (SMP/MTs) 100% 100% 96.40% 100% 123.14% 0.20% 100% 123.16% 100% 100% 100% 0% 0.

Rehabilitasi Ringan: SD/MI SMP/MTs SMA/SMK/MA 1. Rehabilitasi total : SD/MI SMP/MTs SMA/SMK/MA 2.99% 35% 100% 100% 45% 100% 100% 55% 2013 100% 100% 65% Dari seluruh warga yang memerlukan layanan pendidikan nonformal /PAUD KETEREANGAN 4. Peningkatan kualitas sarana dan prasarana pendidikan 5.B. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Pendidikan 30 17 2 268 29 6 241 28 18 357 93 74 0 0 0 0 0 0 0 0 0 800 150 150 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Diupayakan pemeliharaan rutin secara kesinambungan 2. Rehabilitasi Berat : SD/MI SMP/MTs SMA/SMK/MA 3. SD/MI EKSISTING 2008 50% 99. Ruang 3. 2. Terbangunnya Ruang kelas Baru : SD/MI SMP/MTs SMA/SMK/MA 2. Program Pendidikan Non Formal/PAUD 1.50% 20% Rusak Total 30 17 2 Rusak Berat 268 29 6 Rusak Sedang 241 28 18 Rusak Ringan 1157 243 224 Kebutuhan RKB 605 143 108 55 20 18 1 21% 50% 30% 55% 100 30 20 1 40% 60% 100 30 20 1 50% 70% 150 30 20 1 65% 80% 200 33 30 1 80% 90% Seiring dengan program Merger dan Regrouping 2009 100% 99. Rehabilitasi Sedang: SD/MI SMP/MTs SMA/SMK/MA 4.C) & PAUD 1. Prosentase AMH 1. Peningkatan Kuantitas sarana dan prasarana pendidikan 3. SMA/SMK/MA Kepala Sekolah dan Guru. Jumlah SMK yang bekerjasama dengan dunia industri 1. Peningkatan Angka Melek Huruf (AMH) 2. Peningkatan kualitas sarana dan prasarana penunjang pendidikan (Laboratorium. Meningkatnya akseibilitas pendidikan non formal (kejar paket A.97% 25% TARGET CAPAIAN KINERJA TAHUNAN 2010 2011 2012 100% 99. Pembangunan Unit sekolah baru (SMA/SMK) : 1. Peningkatan kualitas sarana dan prasarana pendidikan 1. Sanitasi Sekolah serta sarana penunjang lainnya) 65% 70% 75% 80% 85% 95% V.96 INDIKATOR CAPAIAN MISI PROGRAM SASARAN PROGRAM INDIKATOR PROGRAM 2. SMP/MTs Perpustakaan.8 .

1 Pusteling . Peningkatan Kualifikasi tenaga pendidik dan tenaga kependidikan 2. Pusteling . Peningkatan kualitas tenga pendidik dan tenga kependidikan INDIKATOR PROGRAM 1.7% 96% 400 22000 judul 44000 eksemplar 77% 100% 100% 98% 96% 100% 100% 99. Merger dan Regrouping SD Negeri 8. 1 Pusteling .98% 99. 2. Manajemen pelayanan pendidikan 2.9 . Pelaksanaan sertifikasi tenaga pendidik 1.97 INDIKATOR CAPAIAN MISI PROGRAM 6. Peningkatan pemberdayaan perpustakaan umum dan Mobil Unit Perpustakaan Keliling (MUPK) dan Perpustakaan Elektronik Keliling (Pusteling) 1.2% 90% 300 13000 judul 26000 eksemplar 40% - 50% 91% 90% 100% 99. Program pengembangan Budaya Baca dan Pembinaan Perpustakaan 1.96% 99% 85% 640 12000 judul 24000 eksemplar 29% - 25% 88% 87% 100% 99. Prosentase peningkatan jumlah SDM pengelola perpustakaan 2.97% 99.6% 94% 500 18000 judul 36000 eksemplar 66% 100% 80% 96% 94% 100% 100% 99. Pengadaan buku-buku perpustakaan sekolah 3. Peningkatan SDM pengelola perpustakaan 20% - 36% - 52% 5 pustakawan 68% 10 pustakawan 84% 15 pustakawan 100% 19 pustakawan V. Terwujudnya Gedung Perpustakaan yang representatif 4. Peningkatan kualitas penyelenggaraan UAN/UAS Tingkat kelulusan SD/MI Tingkat kelulusan SMP/MTs Tingkat kelulusan SMA/MA/SMK 3. 1 Pusteling . 3 MUPK. 7 MUPK. 5 MUPK. Pengadaan buku-buku perpustakaan masyarakat 2. Program Peningkatan Mutu Pendidik dan tenaga Pelayanan Kependidikan 7. 5 MUPK. 3 Pusteling . Peningkatan kuantitas dan kualitas perpustakaan 1. Peningkatan Mutu pelayanan penyelenggaraan pendidikan 3 MUPK. Program Manajemen Pelayanan Pendidikan SASARAN PROGRAM 1.8% 99% 300 27000 judul 54000 eksemplar 100% 100% Tersalurkannya siswa baru sesuai dengan aturan yang berlaku 1. Pusteling . 4.99% 99. Jumlah Pustakawan yang mengikuti Diklat Nasional EKSISTING 2008 2009 25% TARGET CAPAIAN KINERJA TAHUNAN 2010 2011 2012 50% 75% 80% 2013 100% KETEREANGAN Dari jumlah tenaga pendidik dan kependidikan yang belum memenuhi kualifikasi minimal S1 20% 20% 84% 85% 100% 99. 7 MUPK. Peningkatan kualitas penyelenggaraan PSB.4% 92% 550 15000 judul 30000 eksemplar 55% 100% 75% 94% 92% 100% 99.

27% 30% 73.68 73.56 thn 10. Angka melek hidup laki-laki 6. Rata-rata lama sekolah perempuan 5. Terselenggaranya perda Pengamalan Agama sesuai dengan Pengembangan Pemahaman & yang berkaitan dengan Agama dan Keyakinan masingIklim Religius.86 11.79 73. Meningkatnya indeks 1.88% - Dari 277.68 10.10 . 40% 50% 60% 70% 80% 90% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 20% 40% 60% 80% 100% 100% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 47.88% 99. Meningkatkan Sikap Toleransi dan 1. Peningkatan Kerjasama 1. Tersedianya rumusan Kebijakan pengetahuan dan kebijakan perlindungan perempuan dan anak Peningkatan kawasan tentang perempuan dan anak (KDRT. Rata-rata lama sekolah lakilaki 4. Program 1.67 99.60 11. Peningkatan kualitas sarana dan prasarana ibadah di tempat umum dan kantor pemerintah 3.34 11.76% 1 Perda 66% 38% 38% 73.56 10.67% 99.82% - 70% 40% 40% 74 74 12 12 99. Terwujudnya Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Kehidupan Berkeluarga.72 11.60 thn 10. Program keserasian 1. dan lingkungan agama pembangunan sarana ibadah Aktivitas Sosial di tempat umum.40 thn 99. Meningkatnya hak-hak perlindungan 1.72 73.70% - 58% 36% 36% 73.46% - 50% 32% 32% 73.98 INDIKATOR CAPAIAN MISI PROGRAM SASARAN PROGRAM INDIKATOR PROGRAM EKSISTING 2008 2009 TARGET CAPAIAN KINERJA TAHUNAN 2010 2011 2012 2013 KETEREANGAN Tujuan Misi : 3. Bermasyarakat dan Bernegara 1. Keagamaan 2.27% 28.68 99. Perempuan dalam angkatan Kesetaraan Gender kerja dalam 3.56 73. Program kesetaraan gender dalam proses pemberdayaan gender kerja Peningkatan Peran pembangunan Serta dan 2. Peningkatan 1. Peningkatan kerjasam antara Kerukunan Umat Beragama Peningkatan Antar Umat Beragama pemeluk agama dalam Toleransi dan pembangunan kota Kerukunan Umat Beragama Tujuan Misi : 4.67 11.76% 99.61 99.719 angkutan kerja V .12 thn 73. Perempuan sebagai tenaga 1.153 angkutan kerja yang bekerja Dari 396. Pekerja perempuan non Pembangunan pertanian (rasio) 1.61 11. Mewujudkan Masyarakat Yang Berakhlak Mulia (Agenda Prioritas Bandung Agamis) 1.34 99. Meningkatkan Pemahaman dan 1. Sosilaisasi dan pembinaan pengamalan keagamaan serta kualitas lingkungan peribadatan 2. Meningkatkan pemahaman peran 1.67% 1 Kepwal 54% 34% 34% 73. Peningkatan 1.82% 99.70% 99.64% 99. Angka melek hidup perempuan 2. Program 1. Pengamalan Agama penyelenggaraan masing Lingkungan serta peningkatan kepariwisataan dan Agamis. Angka harapan hidup perempuan 3. Anggota harapan hidup laki2. Meningkatnya indeks laki pembangunan gender 2.

Oraganisasi/LSM/Peduli Perempuan dan HakHak Anak INDIKATOR PROGRAM Traficking. Program Peningkatan Kualitas Hidup dan Perlindungan Perempuan dan Anak 3.99 INDIKATOR CAPAIAN MISI PROGRAM Kualitas Anak dan Perempuan 2.11 . pemberdayaan perempuan. Peningkatan perlindungan dan keterampilan bagi perempuan dan anak 1. Meningkatkan pendidikan dan pelatihan manjemen usaha bagi perempuan 2. 1. Program Penguatan Kelembagaan Pengarusutamaan Gender (PUG) dan Pengarusutamaan SASARAN PROGRAM kesetaraan gender. Terbentuknya Forum Peduli Anak (FPA) Dari 200 orang Dari 200 orang EKSISTING 2008 2009 TARGET CAPAIAN KINERJA TAHUNAN 2010 2011 2012 2013 KETEREANGAN 40 30 26 Gender Focal Point (GFP) 182 Satgas PUG 30 FPA 50 40 26 Gender Focal Point (GFP) 182 Satgas PUG 30 FPA 60 50 26 Gender Focal Point (GFP) 182 Satgas PUG 30 FPA 70 60 26 Gender Focal Point (GFP) 182 Satgas PUG - 80 70 26 Gender Focal Point (GFP) 182 Satgas PUG - 90 80 26 Gender Focal Point (GFP) 182 Satgas PUG - V . dll) 1. Meningkatkan kapasitas dan jaringan Kelembagaan PUG dan anak 2. Mewujudkan Bandung sebagai Kota ”Layak Anak” 1.

4 Triliyun 4.Domba = 20.619 ekor 19.700 ekor 431 ekor 20.5 4.700 ekor 386 ekor 20.850 Kg 104.719 ekor 20.388 732 Milyar 11 3.000 Kg 58.33% dari 8.310 Kg 61 kw/ha 60.88kw/ha 137.200 ton 421.000 pot/thn 2.000.032 Kg 61 kw/ha 60. meningkatnya jumlah pelaku usaha Ekonomi Nilai investasi berskala nasional Masyarakat 2.Peternakan .955 Kg 110. 16 Investasi juta dari Rp.Hartikultura .600 Kg 1.18kw/ha 131.080 714 Milyar 10 3.700 ekor 356 ekor 20.500 ton 721.753 Program Peningkatan 1.88 16 6.82kw/ha 143.13% 66.000 pot/thn 2.4 Triliyun 3.710 15.1 5.725 2013 9.01kw/ha 149.Palawija .3 5.29% pada tahun 2008 1.7 kw/ha 98. Perkembangan jumlah sentra 1. Meningkatkan jumlah unit usaha yang berdaya saing 1.100 769 Milyar 13 3.800 696.345 2. Meningkatnya produksi ternak V .27 tahun 2008 PROGRAM SASARAN PROGRAM INDIKATOR PROGRAM Laju pertumbuhan ekonomi Indeks daya beli PDRB perkapita ADHK (Juta Rupiah) Nilai Investasi (Rp) 1.184 Kg 123.308 Kg 130.000 pot/thn 1.1 kw/ha 60.419 ekor 17.365.7 kw/ha 98.88 dari 64.Padi . – sapi = 413 ekor .95 13.7 kw/ha 109.7 kw/ha 125.23% (s.7 kw/ha 103.Tanaman Pangan . Meningkatnya Volume sedang) pemasaran hasil usaha pertanian .7 kw/ha 89.03 67. Meningkatnya nilai Peningkatan investasi . Meningkatnya Unit Usaha industri kecil dan .Peningkatan Indeks Daya Beli = 68.700 ekor 371 ekor 20.680 TARGET CAPAIAN KINERJA TAHUNAN 2010 2011 2012 8.4 Triliyun 3.819 ekor EKSISTING 2008 8.695 14.Peningkatan LPE 9.665 2009 8.50% 65.19 12.996 ton 221.Tingkat Pemerataan Pendapatan menengah versi Bank Dunia 15% (kategori 5. Peningkatan produksi ikan konsumsi 2. Meningkatnya Nilai meningkat 20% Ekspor 3. Peningkatan produksi ikan hias 1.166 Kg 61 kw/ha 60.325 Kg 2.d triwulan potensial IV Thn 2008) 4.Tanaman Hias 1. Mewujudkan Kerjasama dengan Daerah Lain INDIKATOR CAPAIAN MISI .363 Kg 2.7 kw/ha 114.930.819 ekor 6.92% 9.510 788 Milyar 14 3.33% 68.12 .066 Kg 116.71% 8.000 pot/thn 2.Perikanan 1.727 750 Milyar 12 3. Meningkatnya jumlah Penurunan tingkat inflasi umum sentra-sentra industri satu digit dari 10. Meningkatnya poduksi pertanian 7.9 Triliyun 3.46kw/ha 155.27 11. Peningkatan % Volume pemasaran produk pertanian dari : . Produktifitas komoditas pertanian . 11.700 ekor 416 ekor 20.700 ekor 401 ekor 20.7 4.749 KETEREANGAN 15. Program 1.852.458 Kg 1.PDRB per kapita ADHK Rp.318 Kg 2.516. Nilai Ekspor (Rp) 1.519 ekor 18.11 67. Memantapkan Kemakmuran Warga Kota Bandung (Agenda Prioritas Bandung Makmur) Tujuan Misi : 2. Mewujudkan Pariwisata yang Berdaya Saing Tujuan Misi : 3.868 Kg 61 kw/ha 60.310 ton 521.000 pot/thn 2.388 Kg 2.319 ekor 16.9 4.100 MISI – 2 Mengembangkan Perekonomian Kota yang Berdaya Saing dalam Menunjang Penciptaan Lapangan Kerja dan Pelayanan Publik serta Meningkatkan Peranan Swasta dalam Pembangunan Ekonomi Kota Tujuan Misi : 1. Meningkatnya produksi perikanan 8.28% 64.439 Kg 137.425 ton 621.000 9 3.237. Jumlah unit usaha 1.9 Triliyun 4.000 pot/thn 2.414 Kg 61 kw/ha 60.095 ton 321.

Cicaheum.465.864.530 3.30% 15. Meningkatnya jumlah Pariwisata kunjungan wisata Pedagang formal.231 82. Psr. Psr. Psr. Psr. Jumlah Unit Koperasi Sehat 1. Persentase julah rumah tangga miskin yang dapat bantuan pangan 1. Balubur. Sadang Serang.442.468 208.027 3.880 189. Leuwipanjang. Cikaso.109 2009 250 Unit TARGET CAPAIAN KINERJA TAHUNAN 2010 2011 2012 300 Unit 350 Unit 400 Unit 2013 450 Unit Revitalisasi pasar dapat dilaksanakan dengan sember perbiayaan dari APBN. Leuwipanjang. Psr. Sarijadi.150. Psr. Sarijadi. kesempatan. Psr. Andir.684 2. APBD Kota dan Swasta KETEREANGAN 26 Pasar (Psr.051 74.583 4.868 Meningkatnya jumlah wisatawan 12.13 .10% 15% V . Psr. Ciwastra. Palsari) 44 Pasar (Psr. Sederhana) 36 Pasar (Psr.746.422 80. Psr.752 3. Tercukupinya kebutuhan Ketahanan Pangan pangan (beras) bagi rumah tangga miskin Program Peningkatan 1. Cihapit.334 78. Peningkatan jumlah wisatawan (jiwa) 2.631 100% 4.800 171. Cihaurgeulis. Psr. Kebon Sirih. Psr. Psr. Psr. Cimol Gedebage. Ciroyom.715 228.062 81. Baru.101 INDIKATOR CAPAIAN MISI PROGRAM SASARAN PROGRAM 9. Psr. Mancanegara (jiwa) Menurunnya tingkat pengangguran terbuka 67.322. Psr. Psr. Gedebage) 64. Psr. Psr. Psr.812. Sadang Serang. Karapitan. Nusantara (jiwa) 3. Banceuy. Banceuy. winus = 228.193. Psr. Parnoyanan. Anyar) 22 Pasar (Psr. TPU Gempol. Sukahaji. Cijerah. Psr.193. Psr.868 Tingkat Pengangguran Terbuka 15% Program Peningkatan 1. Kosambi. Psr.48% 15. Pagarsih.076 2. Meningkatnya koperasi yang sehat 10. TPU Gg.403 100% 3. Meningkatnya Ketenagakerjaan produktivitas. perlindungan dan kesejahteraan tenaga kerja 15. Psr. Ujungberung.320 70. Jatayu. APBD Provinsi. Meningkatkan status jumlah PKL menjadi pedagang formal 1.346 156. TPU Kota Kembang. Psr.432 RTS 100% 2.020.603. Psr.20% 15. Gegerkalong. ITC II. Sarijadi. Kembang Wastukencana. Meningkatnya Revitalisasi Pasar Tradisional INDIKATOR PROGRAM 1. Formalisasi PKL 1. Balubur.655. Kiaracondong.953 72.020. Cicadas.362 100% 3. Psr. Psr.715.371 100% 3. Jumlah pasar yang di revitalisasi EKSISTING 2008 180 Unit 20 Pasar (Psr.967 142. misalnya kios di pasar Rumah Tangga Sasaran (RTS) Setiap RTS mendapat bantuan 5 Kg/bln 25% tahun 2008 Wisman = 4. Kebon Sirih.794 78. Psr. Jatayu. PKL mempunyai tempat dagang yang tetap. Menurunnya tingkat kemiskinan Program Peningkatan 1.40% 15. Jumlah rumah tangga miskin menurun 2. Psr. Psr.952 74. Psr. Simpang Dago) 40 Pasar (Psr. Saleh) 11.493 100% 4.147 78. Psr. Psr.

PROGRAM 1. 1. Kreatif. 10 Kel.14 . Aman. Termanfaatkannya nilai. SASARAN PROGRAM 1.102 MISI – 3 Meningkatkan Kesejateraan Sosial dan Mengembangkan Budaya Kota yang Tertib. museum bagi pengembangan budaya 3. 15% 20% kerjasama di bidang daerah 4. Sinergitas Kelestarian Budidaya Lokal Antar Pemerintah. EKSISTING 2008 2009 50% TARGET CAPAIAN KINERJA TAHUNAN 2010 2011 2012 60% 70% 80% 2013 100% KETEREANGAN Dari jumlah orsos yang ada (150 yayasan) Dari Lembaga Kemasyarakatan yang harus ada di Kelurahan Dari Lembaga Kemasyarakatan yang mendapat stimulan Dari Jumlah Lembaga Keuangan yang ada di Keluarahan Dari jumlah lembaga Keuangan yang ada di Kelurahan Dari jumlah Kecamatan dan Kelurahan Dari jumlah kegiatan pembinaan terhadap pelaku budaya Dari jumlah kegiatan pembinaan terhadap pelaku budaya Dari jumlah budayawan yang diberi penghargaan Berdasarkan persetujuan atas permohonan 50% 30% 40% 50% 60% 70% 80% 10% 15% 25% 50% 75% 100% 2. 2.1. Koordinasi penanggulangan kemiskinan 2.) 25% 50% 20% 50% 60% 25% 75% 70% 30% 100% 80% 35% 100% 90% 40% Tujuan Misi : 2. Mewujudkan Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat (Agenda Prioritas Bandung Makmur) INDIKATOR CAPAIAN MISI Terwujudnya Kesejahteraan Masyarakat. Pengembangan ekonomi masyarakat Kelurahan. Meningkatnya pelestarian berkesinambungan kepurbakalaan. 2. Meningkatnya upaya 10% 20% dan komunitas seni budaya dalam pelestarian dan akualisasi Pengembangan nilai tradisional. Penguatan lembaga ekonomi masyarakat Kelurahan. Berprestasi dalam Menunjang Kota Jasa Bermartabat Tujuan Misi : 1. Meningkatkan peran dan fungsi lembaga kemasyarakatan melalui penguatan kelembagaan di Kelurahan. Meningkatkan upaya masyarakat dan lembaga dalam pembangunan kesejahteraan sosial 1. Program 1. Peningkatan partisipasi masyarakat dalam pembangunan INDIKATOR PROGRAM 1. Program Pengembangan Pemberdayaan Masyarakat. rangka pelestarian seni budaya adat budaya daerah. 3. dan 10% 20% budaya lokal daerah. Nilai Budaya peninggalan secara profesional dan Daerah kesejarahan. 10% 40% 15% (2 Kec. Prosentase peningkatan peran kelembagaan dalam pembangunan sosial 1. 2. Pelindungan bangunan cagar budaya 0% 0% 40% 40% 40% 60% 60% 50% 80% 80% 60% 100% 100% 70% 100% 100% 100% 100% V . Program Pemberdayaan Kelembagaan Kesejahteraan Sosial. Dukungan penghargaan daerah. Meningkatkan fasilitasi dan koordinasi kegiatan pemberdayaan masyarakat. Pemanfaatan dan pemasyarakatan teknologi tepat guna. Pelaku Budaya dan Masyarakat (Agenda Prioritas BandungKota Seni Budaya) Meningkatnya kesadaran masyarakat 1.

Pembangunan Stadion Utama Sepak Bola (SUS) di Bandung Timur 40 % 55 % 65 % 75 % 85 % 90 % 40 % 55 % 65 % 75 % 85 % 90 % 40 % 55 % 65 % 75 % 85 % 90 % 40 % 55 % 65 % 75 % 85 % 90 % 20 Kec 20 Kec 30 Kec 30 Kec 30 Kec 30 Kec Dari jumlah kelembagaan Olahraga yang dikelola oleh masyarakat/swasta Dari jumlah partisipasi masyarakat dalam pengembangan olahraga Sarana olahraga masyarakat dan olahraga tradisional 20 % 50 % 70 % 100 % 100 % 100 % V . Tersedianya kawasan Peningkatan olahraga masyarakat di olahraga dan sarana Sarana dan tingkat kecamatan pendukung untuk Prasarana meningkatkan prestasi Olahraga olahraga 2. Meningkatkan Prestasi Olahraga dan Kepemudaan Kota Bandung (Agenda Prioritas Bandung Berprestasi) 1. Peningkatan peran masyarakat dalam pemeliharaan peninggalan budaya EKSISTING 2008 30% 10% 15% 2009 40% 20% 20% TARGET CAPAIAN KINERJA TAHUNAN 2010 2011 2012 50% 40% 40% 60% 50% 50% 80%vb 60% 60% 2013 100% 70% 80% KETEREANGAN Dari jumlah pengguna bahasa dan sastra daerah Dari jumlah kerjasama dengan daerah sekitar Dari jenis seni budaya Dari jumlah peninggalan budaya yang dipelihara masyarakat Dari jumlah orang/lembaga kepemudaan Dari anggota organisasi / lembaga kepemudaan 20% 40% 50% 60% 80% 100% Tujuan Misi : 3. Meningkatnya 1. Penghargaan pelestarian dan pengembangan bahasa dan sastra daerah 2. Meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap bahasa dan sastra daerah INDIKATOR PROGRAM 1. Meningkatnya masyaakat dan sektor kemandirian manajemen Pengembangan olahraga swasta dalam pengelolaan Kebijakan dan keolahragaan Manajemen Olah raga 4. Peningkatan sarana pemasaran produk seni budaya daerah 4. Prosentase peningkatan 1. Meningkatnya apresiasi Pembinaan dan upaya revitalisasi olahraga terhadap pengembangan masyarakat dan tradisional Pemasyarakatan olahraga masyarakat dan olahraga tradisional Olahraga 5. Program 1. Kesediaan sarana 1. Prosentase peningkatan Peningkatan pemuda dalam peran pemuda dan Peran Serta pembangunan lembaga kepemudaan Kepemudaan dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat 2. Meningkatnya peran 1. Progrsm 1. Program 1.15 . Program 1. Program 1.103 INDIKATOR CAPAIAN MISI Meningkatnya hubungan pemerintah dengan pelaku budaya dalam perlindungan dan pelestarian budaya PROGRAM SASARAN PROGRAM 2. Peningkatan kemitraan pengelolaan kebudayaan antar daerah 3. Pendidikan dan pelatihan Peningkatan pengetahuan dan kewirausahaan Upaya kemampuan pemuda Penumbuhan dalam kewirausahaan Kewirausahaan dan Kecakapan Hidup Pemuda 1. Peningkatan peran 3.

kebutuhan hidup : terlindunginya dan Tersantuninya PMKS .250 200 75% 900 2. Jumlah partisipasi sosial dan potensi sumber kesejahteraan sosial 1. Meningkatnya 1.222 orang tahun 2008 Jumlah 10.Anak Nakal Korban serta peran sisoalnya Narkotika secara wajar .125 140 180 60 300 1.700 240 100% 2. Meningkatkan Kepedulian dan Kepekaan Masyarakat terhadap Lingkungan Sosial Terlaksananya rasa kepedulian dan 1. Jumlah penanganan kepekaan masyarakat terhadap Pemberdayaan pengetahuan.625 200 240 80 400 2. Masyarakat. Program Pemantapan Kelembagaan Potensi Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS) 3.Fakir Miskin Miskin dan Penynadang Kesejahteraan Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) Sosial (PMKS) lainnya .Korban Traficking dalam rumah tangga (KDRT) Tahapan Pembangunan Sarana penampungan PMKS 125 30 60 20 100 625 90 120 40 200 1.Tuna Susila secara mandiri dan dapat Melaksanakan fungsi . Meningkatnya 1. kemandirian dan lingkungan sosial maupun fisik Fakir Miskin dan keterampilan dan kesejahteraan sosial per Penyandang kemampuan Fakir tahun : Masalah .Wanita rawan sosial ekonomi 1.Penyandang cacat lainnya dalam mewujudkan Kesejahteraan sosial . Meningkatnya 1.625 300 360 120 600 Jumlah 84. Jumlah partisipasi sosial partisipasi sosial dan dan potensi sumber potensi suber kesejahteraan sosial kesejahteraan sosial (Karang Taruna.868 orang tahun 2008 Jumlah 2429 orang tahun 2008 Jumlah 6643 orang tahun 2008 Jumlah 40 orang tahun 2008 Baru tersedianya lahan panti Dari jumlah orsos yang ada (150 Yayasan) 144 450 40 10% 300 900 80 10% 450 1.125 250 300 100 500 2.16 . dan Organsasi Sosial) dalam pelaksanaan usaha kesejahteraan sosial 2.Lanjut Usia dalam pemenuhan Kebutuhan hidupnya .200 oang tahun 2008 Jumah 116 orang tahun 2008 Jumlah 239 orang tahun 2008 Jumlah 5.Anak Terlantar . Jumlah profesional pekerja pengetahuan dan sosial kemampuan pekerja sosial secara profesional 60 75 90 105 120 135 Dari 100 Orang Pekerja Sosial 35 50 60 70 80 100 V . Program 1. Pekerja Sosial.104 INDIKATOR CAPAIAN MISI PROGRAM SASARAN PROGRAM INDIKATOR PROGRAM EKSISTING 2008 2009 TARGET CAPAIAN KINERJA TAHUNAN 2010 2011 2012 2013 KETEREANGAN Tujuan Misi : 4.350 120 30% 600 1. Terlayaninya. Jumlah pemenuhan 2.800 160 50% 750 2.

Program penanggulangan Bencana Alam dan Perlindungan Masyarakat 1. Pemuda 70% 75% 85% 90% 60% dari 16000 anggota Hansip Linmas 65% 70% 75% 80% 90% Tujuan Misi : 5. 10% media elektronik. meningkatnya pemahaman tentang pembangunan kesejahteraan sosial melalui penyuluhan sosial 1. Tersebarnya informasi 1. Agama. Tingkat sosialisasi pembangunan melalui berbagai Pengembangan pembangunan daerah informasi pembangunan media Komunikasi melalui media 55% Informasi dan Media Massa 75% 100% 100% 100% 100% 30% melalui Musrenbang.105 INDIKATOR CAPAIAN MISI PROGRAM SASARAN PROGRAM 3.17 . Meningkatkan Mutu Kerjasama di antara Semua Pemangku Kepentingan dalam Pembangunan Kota Bandung Memperluas akses informasi 1. 15% media cetak V . Program 1. Peningkatan dan kenyamanan lingkungan 100% Pemilu - - - 100% Pilkada 100% Dari 3. Program Penyelenggaraan dan Pemeliharaan Ketentraman dan Ketertiban 5. Terbinanya sumber daya dan potensi perlindungan masyarakat 1. Program Peningkatan Keamanan dan Kenyamanan Lingkungan 1. Meningkatnya partisipasi pilar masyarakat/relawan dalam penangulangan bencana 1. Buffstock berupa beras dan lauk pauk 1. Tersedianya bantuan tanggap darurat bencana 2. Menumbuhkan dan mengembangkan peran serta masyarakat dalam keterlibatan dan keamanan 1. Jumlah penyerapan informasi pembangunan kesejahteraan sosial EKSISTING 2008 2009 TARGET CAPAIAN KINERJA TAHUNAN 2010 2011 2012 2013 KETEREANGAN Dari 30 Kecamatan 15 15 22 30 30 30 3. Tingkat partisipasi pilar masyarakat/relawan 100% 100% 100% 100% 100% 100% Dari 1 Ton Beras Dari 100 anggota Taruna Siaga Bencana (Tagana) 50% 100% Penyelenggaraan Pilkada 65% 50 75 100% 100% 100% 4.000 Tokoh Masyarakat. Terselenggaranya pengamanan Pemilu dan Pilkada 2. Terbinanya lembaga perlindungan masyarakat INDIKATOR PROGRAM 1.

00 % 2.048 4.580 lt/det 100.498 kendaraan bermotor yang memenuhi baku mutu 3.100 lt/det 22000 sumur resepan 26300 sumur resepan 28000 sumur resepan 30000 sumur resepan V .106 MISI – 4 Menata Kota Bandung Menuju Metropolitan Terpadu yang Berwawasan Lingkungan Tujuan Misi : 1.000 lt/det (termasuk yg digunakan masyarakat) 24500 sumur resepan 100. Terwujudnya kualitas udara yang memenuhi baku mutu lingkungan 3.000 lt/det 100. air tanah dangkal dan dalam) yang berkelanjutan Kajian bersifat sektoral dan belum terintegrasi ± 30 % ± 2. Terwujudnya perlindungan dan konservasi SDA 1. Peningkatan ketersediaan kuantitas dan kualitas air (air permukaan.00 % KETEREANGAN 2.00 % 3. 16/2005 tentang SPAM. Terwujudnya kualitas air sungai dan anak sungai yang memenuhi baku mutu lingkungan INDIKATOR PROGRAM 5. Meningkatnya jumlah kendaraan yang memenuhi baku mutu EKSISTING 2008 250 sumber pencemar 14 sudah memenuhi baku mutu (5 %) 2009 5.128 Tujuan Misi : 2. penyediaan air baku merupakan tanggungjawab Pemerintah 5. Memantapkan Pembangunan Kota Bandung yang Berkelanjutan dan Berwawasan Lingkungan (Agenda Bandung Hijau) 1.100 liter/detik. Program Penyediaan Air Baku 1.898 3.748 3.00 % 5.998 4. 25 % lokasi sample telah memenuhi baku mutu PROGRAM 11.00 % 9.50 % 8.18 . Pengembangan sumber air baku dengan kapasitas produksi sebesar ± 5. Menjamin Tersedianya Kuantitas dan Kualitas Air (Air Permukaan. 11 % sungai dan anak 12.100 liter/detik 2. Mewujudkan Kualitas Udara.50 % 2013 11. Tersediaanya air baku dengan kapasitas 5. Program Pengendalian Penanaman dan Perusakan Lingkungan Hidup SASARAN PROGRAM 2.580 lt/det (air baku yang digunakan PDAM) 20470 sumur resepan Sesuai PP No. Program Perlindungan dan Konservasi Sumber Daya Alam 1.500 lt/det 100. Program sungai yang ada di Peningkatan Kota Bandung untuk Pengendalian Posisi parameter BCD dan COD telah memenuhi baku mutu 3. 1. Tersedianya air baku yang cukup untuk pemenuhan kebutuhan air baku masyarakat Kota Bandung 1. Tersusunnya Masterplan Penyediaan air baku untuk system penyediaan air minum Kota Bandung 2. Air Tanah Dangkal dan Dalam ) Tujuan Misi : 5.00 % TARGET CAPAIAN KINERJA TAHUNAN 2010 2011 2012 6.00 % 4. Air dan Tanah yang Memenuhi Baku Mutu Lingkungan INDIKATOR CAPAIAN MISI 1.00 % 3. Meningkatnya kualitas air sungai dan anak sungai melalui pengendalian limbah cair dari sumber pencemar yang memenuhi baku mutu 6.

1. Terwujudnya kebutuhan sarana prasarana untuk pemeliharaan RTH.16 % 49 lokasi (tertata) dan 150 lokasi (terpelihara) 11. Peningkatan luasan RTH melalui penyerahan fasos/fasum perumahan dan pembebasan lahan.06 % 64 lokasi (tertata) dan 200 lokasi (terpelihara) 12. penggunaan dan pemanfaatan tanah SASARAN PROGRAM 1. Terwujudnya peningkatan sarana dan prasarana pembibitan dan bibit tanaman 1. Terwujudnya penambahan luasan RTH public dan private. Program penataan ruang terbuka public secara berkualitas 4.76 % V . pemilikan. Peningkatan tanaman produktif dalam rangka penurunan luasan lahan kritis 1.00 % 1. Program penyediaan sarana pembibitan RTH 3. Program pengelolaan ruang terbuka hijau (RTH) INDIKATOR PROGRAM 1. Program rehabilitasi Hutan dan Lahan 2. Terwujudnya kualitas dan kuantitas RTH di Kota Bandung EKSISTING 2008 66350 pohon (60 Ha lahan kritis) 2009 6000 Pohon TARGET CAPAIAN KINERJA TAHUNAN 2010 2011 2012 12000 Pohon 18000 Pohon 24000 Pohon 2013 30000 Pohon KETEREANGAN 8 lokasi pemeliharaan tanaman untuk RTH 19 lokasi (tertata) dan 50 lokasi (terpelihara) 12 lokasi 13 lokasi 14 lokasi 15 lokasi 16 lokasi 34 lokasi (tertata) dan 100 lokasi (terpelihara) 10. PROGRAM 1. Ruang Terbuka Hijau (RTH) public dan privat yang efektif menunjang fungsi hidroorologi sebesar 16% (dalam bentuk taman. penguasaan. Terwujudnya peningkatan pemilihan lahan kritis 1. Luas RTH ± 8.86 % 104 lokasi (tertata) dan 300 lokasi (terpelihara) 16. sempadan sungai.107 INDIKATOR CAPAIAN MISI 2. hutan kota.19 . kawasan konservasi dan RTH lainnya). 1.46 % 89 lokasi (tertata) dan 250 lokasi (terpelihara) 13. Program penataan.

00% KETEREANGAN Dengan penerapan 3R dan pengelolaan sampah berbasis teknologi.00 % (3 lokasi percontohan ) 2500 M3/hari (62. Terbangunnya tempat pengomposan skala Kota 1.00% 20.0% 40.00% 10. Program optimalisasi Sistem Pengelolaan Persampahan 1.0% V .19% 57. Terwujudnya pengelolaan peningkatan sampah dengan pola 3R sampah perkotaan dengan dokelola (20% 3R dan 70% terbagi 30% TPA pengelolaan (Reduce.108 INDIKATOR CAPAIAN MISI PROGRAM SASARAN PROGRAM INDIKATOR PROGRAM EKSISTING 2008 1.19%) 2009 4.0% 20.20 . Terwujudnya pengelolaan pengelolaan sampah sampah berbasis teknologi dengan penerapan yang ramah lingkungan dan teknologi yang ramah ekonomis 30%. sampah yang dibuang ke TPA diharapkan semakin berkurang Tujuan MISI : 3.00% 40. 2. lingkungan dan ekonomis.00% 12.00% TARGET CAPAIAN KINERJA TAHUNAN 2010 2011 2012 8.0% 25.00% 12.00% 45.0% 35.00 % 5. Tertanganinya 1. Pengelolaan sampah berwawasan lingkungan pengelolaan sampah melalui pengangkutan ke dan ekonomis dan 40% sampai tempat TPA Regional sebesar 40% ke landfill) pengelolaan dan pemprosesan akhir sampah 3. 90 % sampah dapat 1. Mewujudkan Pengelolaan Limbah Padat yang Efektif dan Bernilai Ekonomi 1.00 % 0.0% 30. pada 3R sebesar 20% melalui pemanfaatan sampah Recycle) teknologi yang perkotaan 2. Terbangunnya sarana prasarana pengelolaan 3R skala Kota yang didukung penataan TPS dan sarana persampahan RW yang terintegrasi mulai dari sumber sampai TPA dan sinergi dengan arah pembangunan kota Bandung serta Metropolitan Bandung. 62.00% 30. volume. Terselenggaranya 1.00% 51. Terwujudnya pengadaan 1. Program 1. Reuse.00% 2013 20.00% 16.00% 0.

0% 2013 100. terbangun dan semua Tata Ruang kota yang nyaman.0% KETEREANGAN Sesuai dengan UU No. produktif dan berkelanjutan pusat WP berfungsi produktif dan sesuai dengan UU No. Program 1.0% 2009 35. Rewujudnya 1.0% 75. sungai serta pembebasan lahan Presentase reklame yang memiliki ijin terhadap jumlah reklame yanmg terdata Tujuan MISI : 4. 3/2006 dan penyusunan/penetapan RDTR.109 INDIKATOR CAPAIAN MISI PROGRAM SASARAN PROGRAM 2. Merencanakan dan merevitalisai TPA yang tidak berfungsi menjadi ruang politik dan social EKSISTING 2008 25. Tercapainya kualitas pusat primer Gedebage penataan penataan bangunan dan bangunan dan bangun-bangunan bangunbangunan 2. Minimum 30% kawasan 1.0% 90.0% TARGET CAPAIAN KINERJA TAHUNAN 2010 2011 2012 50. 18/2008 pasal 44. DED dan RTBL Secara bertahap telah dilakukan pembangunan dan peningkatan jalan. efektif berkelanjutan yang 26/2007 tentang Penataan sesuai dengan UU Ruang penataan ruang 1. jembatan. produktif dan Berkelanjutan 1. Menyediakan Ruang Kota yang Aman. Mewujudkan penataan penyelenggaraan reklame melalui perijinan (6000 reklame terdata) 60% 90% 100% 100% 100% 100% 4% 6% 12 % 18 % 24 % 30 % 5% 15 % 25 % 50 % 75 % 100 % V . Nyaman. Revisi terhadap Perda RTRW No. Mewujudkan perencanaan pusat primer Gedebage perencanaan perencanaan tata ruang tata ruang yang nyaman. pemerintah daerah harus membuat perencanaan penutupan TPA dengan system pembuangan terbuka paling lama 5 (lima) tahun sejak berlakunya UU ini. RTRK.21 . Mewujudkan 30 % kawasan 2. Tertatanya TPA/TPS yang tidak berfungsi lagi INDIKATOR PROGRAM 1. Program 1.

Tertibnya pelayanan perijinan PROGRAM 1.110 INDIKATOR CAPAIAN MISI 2. Tamansari. Terkendalinya pemanfaatan ruang di Kota Bandung 1. Tersedianya pembangunan perumahan sehat. Jamika. 4 KM 87.253 PJU (laporan serah terima dari Distam ke DBNP) Tujuan Misi : 6. Terbangunnya jalan berkondisi baik jembatan sepanjang 20 KM (dari APBD Kota) Pembangunan jalan baru 0 sepanjang 10.946. 16 KM 222. Program peningkatan sarana dan prasarana kebinamargaan Terbangunnya dan terpeliharanya PJU Kota Bandung Terbangunnya PJU baru Perbaikan PJU 18253 titik 4.08 KM2 atau dengan asumsi lebar jalan 7m .M 20 KM 10420 KM 18500 titik 4000 titik 18750 titik 2500 titik 19000 titik 2500 titik 19250 titik 2500 titik 19500 titik 2500 titik V .712.420KM (dari non APBD Kota.M 4 KM 208. Braga dan Cicadas. Perlu didukung partisipasi pihak swasta dan Pemerintah Pusat.00 % 90. Efisien. nyaman.712 M 16 KM 833.00 % TARGET CAPAIAN KINERJA TAHUNAN 2010 2011 2012 85. Nyaman.425 M dari wilayah Kota (5.22 .019 pembangunan jalan sepanjang 222. Program pengembangan perumahan SASARAN PROGRAM 1. Terjangkau dan Ramah Lingkungan 1.712 M 8 KM 416. fasos dan fasum) 2. Luas jalan Kota Bandung pada akhir tahun 2008 sebesar 4.440 KM Jumlah titik PJU sampai awal tahun 2008 sebesar 18. Terwujudnya tertib pemanfaatan ruang 1. Program Pemanfaatan ruang 2.00 % KETEREANGAN Mewujudkan pemanfaatan ruang yang tertib 75. Menyediakan Sistem Transportasi yang Aman.712. Program pengendalian pemanfaatan ruang 3. Program 1.00 % 95.00 % Memfasilitasi dan simulasi pembangunan perumahan masyarakat kurang mampu Rusun Indal dan Cingised FS Rusun DED Rusun Rencana pembangunan Rusun Rencana pembangunan Rusun Rencana pembangunan Rusun Rencana Rusun Sadang Serang.00 % 2013 100. 8 KM 132. maka panjang jalan 10. Terpeliharanya kondisi Peningkatan pelayanan jalan 63. dan terjangkau INDIKATOR PROGRAM EKSISTING 2008 2009 80.388 titik 42.712 M Km2) dan 100 % jalan dan Pembangunan jalan baru 0 2. Luas jalan minimal 3 % 1.712 M 12 KM 625.12 KM 177.92 KM2 sehingga masih kurang 73.

23 . marka jalan 12. marka jalan 12. Program pengendalian dan pengamanan lalu lintas 1.940 m2. Hall.940 m2.000 m2. Tersedianya halte angkutan umum 2. Hall. rambu 500 70 Halte 0 0 1 lokasi 2 lokasi 3 lokasi 4 lokasi Target 15 halte per tahun perlu keterlibatan pihak Pemerintah dan Swasta Target 1 lokasi per tahun V . Terwujudnya operasional angkutan umum massal di 5 Koridor (CibeureumCibiru. Tersedianya fasilitas perlengkapan jalan 13 km/jam 17 km/jam 19 km/jam 21 km/jam 23 km/jam 25 km/jam Kapasitas jalan yang tidak cukup menampung pertumbuhan kendaraan 2. Margahayu-St.940 m2. marka parker 4.940 m2 rambu 500 89 Halte 2. rambu 500 55 Halte ATCS 200. Terwujudnya prasarana dan sarana perhunungan yang efisien dan nyaman 1.940 m2.940 m2. sesuai dengan rencana induk transportasi umum Kota PROGRAM 1. Terwujudnya kecepatan rata-rata minimal 25 km/jam EKSISTING 2008 0 2009 1 koridor TARGET CAPAIAN KINERJA TAHUNAN 2010 2011 2012 2 koridor 3 koridor 4 koridor 2013 5 koridor KETEREANGAN Pembentukan konsorsium dengan perbandingan TMB dan angkot sebesar 1 : 3 3. CicaheumCibeureum. marka parker 4. marka parker 4. Program pembangunan prasarana dan sarana perhubungan 2. rambu 500 25 Halte ATCS 200. rambu 500 10 Halte ATCS 200. Terpeliharanya rambu jalan marka dan traffic light/ATCS ATCS 200. Tersedianya fasilitas parker khusus (gedung/taman parkir) Kota Bandung ATCS 200. Antapani-Laswi-St.000 m2 marka parker 4. Teratasinya aspek-aspek penyebab kemacetan sebanyak 5 aspek 1. Tersedianya angkutan umum missal yang nyaman dan terjangkau INDIKATOR PROGRAM 1. marka jalan 12. 25 % dari rencana prasarana SAUM terbangun. Program peningkatan pelayanan angkutan SASARAN PROGRAM 1.000 m2. rambu 500 40 Halte ATCS 200.111 INDIKATOR CAPAIAN MISI 2. Antapani-Laswi lingkar selatan) 1.000 m2. marka jalan 12. marka jalan 12. marka parker 4. marka parker 4.000 m2. marka jalan 12.000 m2.

Program pembangunan saluran drainase (gorong-gorong) 3.00% 42.317 m Penanganan lereng bantaran dan sediment sungai Pengendalian banjir terkait dengan perilaku masyarakt dalam membuang sampah ke sungai dan drainase Pembangunan saluran drainase dan goronggorong terpadu Pengangkatan sediment sungai 104. Terwujudnya peningkatan sanitasi melalui penataan air limbah 1. Jaringan drainase primer 1. Meningkatnya fungsi trotoar sebagai fasilitas pejalan kaki yang nyaman dan aman 1.000 m 205.317 m 35. Meningkatkan penataan lingkungan sungai 1. Program pengembangan dan pembangunan trotoar 1.994 m 3.835 m 4.00 % 9 lokasi KETEREANGAN Terkait langsung dengan program penyediaan air baku Tujuan Misi : 7.000 m 415.00%% V . Terwujudnya peningkatan pelayanan trotoar sepanjang 21. 75 % penduduk dilayani 1. 50% kawasan kota terlayani oleh system penanganan air limbah yang terpadu dengan IPAL 38.817 m 27.594 m 21. Berkurangnya lokasi banjir system drainase kota di Kota Bandung dari 68 terpadu lokasi 2.794 m 13. Mewujudkan Sarana dan Prasarana Lingkungan yang Memenuhi Standar Teknis / SPM 1. Program 1.500 M drainase kota 50 % 2.317 m 12.00 % 9 lokasi 2013 75 % penduduk dilayani air bersih 100.00% 50.00 % 10 lokasi 71 % penduduk dilayani air bersih 60. Terpeliharanya keamanan kota terbentuk integrasi pengendalian banjir lingkungan sungai per wilayah pelayanan banjir sepanjang 7.994 M 1. Meningkatkan layanan 1. Terpeliharanya kelancaran pengairan air sungai sepanjang 520.394 m 8.112 INDIKATOR CAPAIAN MISI PROGRAM SASARAN PROGRAM INDIKATOR PROGRAM EKSISTING 2008 65% penduduk dilayani air bersih rata-rata durasi pengaliran 16jam/hari 46 sungai dan anak sungai (panjang 255. Program 1.000 m 100.000 M 9. Meminimalkan potensi 1.00 % 8 lokasi TARGET CAPAIAN KINERJA TAHUNAN 2010 2011 2012 69 % penduduk dilayani air bersih 40.55 km). 0 % 23 lokasi 2009 67 % penduduk dilayani air bersih 20.000 m 1. Terwujudnya kelancaran pengaliran air saluran jalan sepanjang 35.00 % 9 lokasi 73 % penduduk dilayani air bersih 80.000 m 520. Membangun saluran baru dan memelihara saluran 1.000 m 310. 75 % masyarakat kota peningkatan pengaliran air bersih Bandung mendapatkan air bersih dengan ratarata pengaliran air 120 kapasitas dan kepada masyarakat pelayanan air bersih lt/orang/hari dengan cakupan system perpipaan pengaliran kontinu 24 pelayanan air jam bersih 2. Program Pengembangan Kinerja Pengelolaan Air Minum dan Air Limbah 1. Program pengembangan pengelolaan dan konvensasi sungai.317 M 1.24 .194 m 17.00% 44.827 m 6.00% 46. danau dan sumber daya air lainnya 4.817 m 19. Pengembangan system pengelolaan sanitasi air limbah Kota Bandung dengan cakupan 50% 6.00% 40.

92 100 kebakaran 8. sarana prasarana (mobil pemadam kebakaran dan motor unit reaksi cepat). pos kewilayahan. Program tanggap darurat bencana alam Terlaksananya penanganan darurat bencana alam 1.24 130 kebakaran 11. peran serta masyarakat/Satwanker (SRT saat ini ± 20 menit) 141 kebakaran 12. Program Terkendalinya kerugian pelayanan prima kebakaran melalui dalam pemebuhan standart pencegahan dan Respond Time (SRT) 15 penanggulangan menit (kondisi saat ini ± 20 kebakarandan menit) bencana lainnya Terwujudnya system proteksi kebakaran pada bangunan sesuai norma. Terwujudnya kembali keamanan lingk.24 3.400 bangunan Perlu penerapan manajemen bencana yang terintegrasi dalam menghadapi bencana alam maupun non alam Untuk mencapai SRT 15 menit perlu didukung oleh penyediaan SDM.91 110 kebakaran 8. Terwujudnya kembali pelayanan jalan sepanjang 7. Meningkatkan fungsi 1.575 m 2.01 120 kebakaran 9.03 90 kebakaran 7.25 . Sungai air sepanjang 6.000 m 1500 m 0 775 m 0 2475 m 1500 m 4175 m 3000 m 5875 m 4500 m 7575 m 6000 m V .113 INDIKATOR CAPAIAN MISI PROGRAM SASARAN PROGRAM INDIKATOR PROGRAM EKSISTING 2008 2009 200 bangunan TARGET CAPAIAN KINERJA TAHUNAN 2010 2011 2012 400 bangunan 600 bangunan 800 bangunan 2013 1000 bangunan KETEREANGAN Tujuan Misi : 8. Program Keadaan pemilik/pengelola organisasi yang peningkatan bangunan akan menangani kebencanaan kesiapan kelengkapan system kesiagaan dan proteksi kebakaran pada pencegahan bangunan bahaya kebakaran 2. Mewujudkan Mitigasi Bencana yang Handal 1. hydrant. standar. prosedur dan manual pencegahan kebakaran pada 1000 bangunan baru Berkurangnya kejadian kebakaran secara bertahap Berkurangnya kerugian akibat bahaya kebakaran (Milyar Rupiah) 1.

sosiologi dan filosofis INDIKATOR PROGRAM 1. meningkatnya sinergitas perencanaan pembangunan 2. Tersaedianya sarana dan prasarana aparatur yang memadai 1. Pengadaan sarana dan pengolahan data penyampaian arsip (Gedung Depo Arsip Daerah) EKSISTING 2008 65 % 2009 70 % TARGET CAPAIAN KINERJA TAHUNAN 2010 2011 2012 75 % 85 % 90 % 2013 95 % KETEREANGAN Ketersediaan dan validasi data.Pengadaan Lahan . Penindakan terhadap Pelanggaran Peraturan Daerah 2. Legislasi produk hukum daerah (produk hukum yang sesuai dengan kebutuhan masyarakar) 2. analisa dan waktu Rembug warga (SK 278/2000) dan Musrenbang (SPPN) 65 % 70 % 75 % 85 % 90 % 95 % 2.26 . program pembangunan Hukum Daerah 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % (38 perkara) 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % Dari permintaan Bantuan Hukum yang disetujui 1.114 MISI-5 Meningkatkan Kinerja Pemerintah Kota yang Efektif. Tingkat pelayanan bantuan Hukum/penanganan perkara 1. Sosialisasi dan publikasi produk hukum daerah 3. Meningkatnya sinergitas dan kualitas penataan produk hukum daerah 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 170 163 25 % 171 165 40 % 174 172 60 % 178 176 80 % 181 181 100 % 181 181 100 % 0 0 50 % 75 % 100 % 100 % V . Tingkat kinerja perencanaan daerah 2. efisien. Terbangunnya pola perencanaan dan pengelolaan data PROGRAM 1. Terwujudnya Tata kelola Pemerintahan yang Baik melalui Pemantapan Reformasi Birokrasi (Agenda Prioritas Reformasi Birokrasi) INDIKATOR CAPAIAN MISI 1. Terwujudnya penegakan Hukum dan HAM sehingga dapat mendukung ketertiban dan keamanan serta semakin berkurangnya praktek KKN di lingkungan birokrasi 4. Program penataan perundangundangan 1. Program peningkatan sarana dan prasarana aparatur 1. Meningkatnya ketersedianya sarana dan prasarana bangunan untuk mendukung pelayanan kepada masyarakat 1. akuntabel dan transparan dalam upaya meningkatkan kapasitas pelayanan kota metropolitan Tujuan Misi : 1. Meningkatnya kualitas produk hukum daerah yang memenuhiaspek yuridis. Penindakan terhadap Pelanggaran Displin Aparatur 1. program perencanaan pembangunan SASARAN PROGRAM 1. Tingkat partisipasi masyarakat dalam perencanaan daerah 1. Sertifikasi kepemilikan tanah asset Pemerintah Kota Bandung 3.Pembangunan Kantor 2. Meningkatnya kualitas dokumen perencanaan makro dan sektoral yang pro publik 1. Meningkatnya pemahaman masyarakat dan aparat dalam penetapan produk hukum yang sinergi dengan perkembangan kebutuhan masyarakat serta sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku 3. Pengadaan kantor Kecamatan dan Kelurahan .

Tingkat pemenuhan jabatan fungsional 3. Meningkatnya kapasitas sumber daya aparatur INDIKATOR PROGRAM 1. Ratio jumlah aparat dengan jumlah penduduk 2. Tingkat pelayanan public berbasis informasi teknologi guna mendukung Bandung Cyber city (E-Goverment) 10 % 25 % 60 % 100 % 100 % 100 % 2.158 org) 2009 Diklat prajabatan 1. Meningkatnya pembinaan dan pengembangan kinerja aparatur 1.291 org) 78 % (13. Tingkat koneksi data kepemdudukan di 2 Wajib Pajak 25 % - 50 WP 50 % 50 % 75 WP 100 % 100 % 100 WP 100 % 100 % 125 WP 100 % 100 % 150 WP 100 % 100 % Simda (Simkeu.821 orang dan Diklat dalam jabatan 240 orang 1 : 97 82 % TARGET CAPAIAN KINERJA TAHUNAN 2010 2011 2012 Diklat Diklat Diklat prajabatan prajabatan prajabatan 998 orang dan 700 orang dan 400 orang dan Diklat dalam Diklat dalam Diklat dalam jabatan 250 jabatan 300 jabatan 350 orang orang orang 1 : 100 84 % 1 : 102 90 % 1 : 105 95 % 2013 Diklat prajabatan 400 orang dan Diklat dalam jabatan 400 orang 1 : 107 100 % KETEREANGAN 2. Tersedianya SDM aparatur yang bertanggungjawab tepat fungsi tepat posisi sesuai peraturan perundangundangan yang berlaku PROGRAM 1. Meningkatnya kapasitas penyelenggaraan ekonomi daerah pemerintah daerah dan pemerintah wilayahKecamatan dan Kelurahan 1. Tingkat pelayanan online system perpajakan 3.848 orang dan Diklat dalam jabatan 170 orang 1 : 95 (jumlah aparatur sebanyak 24.Bandung electronic Controling th 2011 . Program pembinaan pengembangan dan peningkatan kapasitas aparatur SASARAN PROGRAM 1.Bandung electronic Planning Project th 2010 .115 INDIKATOR CAPAIAN MISI 5. simduk. kec dll) V . Tingkat kapasitas Sumberdaya aparatur EKSISTING 2008 Diklat prajabatan 1.Bandung electronic Procurement (BEP) th 2010 . Pola intensif dan penggajian berdasarkan kinerja 90 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % . Intergrasi jaringan system informasi daerah 4. Terlaksananya Reformasi Birokrasi 1. kel. simpag.27 . Tingkat pemenuhan kebutuhan operasional aparatur unit kerja SKPD/UPT/UPTD untuk mendukung kinerja pegawai dan pelayanan public 4. Program pemantapan Reformasi Birokrasi 1.Bandung electronic Budgeting th 2010 .Bandung electronic Delivery and evaluating th 2011 6.

Program pengawasan pembangunan daerah 1. kecamatan serta Dinas Kependudukan dan Catatan sipil 5.-28 V 6 . Mewujudkan peran dan fungsi pengawasan internal pemerintah daerah 1. Kurang Baik 5. Meningkatnya kenyamanan dan 13 27 41 55 69 83 1 3 6 9 12 15 1. Sangat Baik 2.116 INDIKATOR CAPAIAN MISI PROGRAM SASARAN PROGRAM INDIKATOR PROGRAM kelurahan. Tersedianya norma standar. Tingkat Perlimpahan urusan pemerintah daerah 6. Program pendidikan politik 3 3 3 2 2 2 10. Tersedianya Standar Operasional Prosedur (SOP) pada SKPD 1. Tingkat ketentraman dan ketertiban masyarakat 3 3 3 2 2 2 V . Sangat Baik 2. Cukup Baik 4. Tingkat pelayanan pengaduan masyarakat 1. Cukup Baik 4. Buruk 1. Tersosialisasinya kebijakan tentang pengawasan 8. prosedur dan criteria penyelenggara pemerintah 1. Jumlah SKPD yang menerapkan SMM ISO 9001 : 2000 1. Buruk 9. Tingkat kinerja pengawasan 2. Meningkatnya jumlah SKPD yang bersertifikasi Sistem Manajemen Mutu (SMM) ISO 9001 : 2000 1. Baik 3. Program pemeliharaan ketentraman dan ketertiban umum serta perlindungan masyarakat 1. Meningkatnya kesadaran masyarakat akan ideology dan wawasan kebangsaan 1. Baik 3. Program kelembagaan dan ketatalaksanaan 1. Terwujudnya kelembagaan pemerintah daerah yang efektif dan efisien 2. Meningkatnya Pemahaman 1. Kurang Baik 5. Terbangunnya ketertiban dan 1. Tingkat Apresiasi terhadap politik dan pemilu 19 Bidang kewenangan 30 % 75 % 100 % 20 % 70 % 80 % 100 % 40 % 90 % 85 % 100 % 60 % 100 % 90 % 100 % 80 % 100 % 95 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % Pengaduan masyarakat ditindak lanjuti EKSISTING 2008 2009 TARGET CAPAIAN KINERJA TAHUNAN 2010 2011 2012 2013 KETEREANGAN 7. Tingkat kinerja pelayanan perizinan satu atap 1.

5 milyar 21.7 Milyar 92.1 Milyar 98.2 Milyar 41.8 Milyar 23.5 Milyar 82.1 Milyar 21.2 Milyar Pelaksanaan Obligasi daerah dan Road Fund 111.2 Milyar 117.9 Milyar 66.4 Milyar 17.29 .7 Milyar Pelaksanaan Obligasi daerah dan Road Fund Obligasi daerah dan Road Fund Terimplementasikannya instrument pembiayaan pembangunan non konvensial V .6 Milyar 32.8 Milyar 36.0 Milyar 78. Mewujudkan Anggaran Pemerintahan yang Optimal Tujuan Misi : 2.5 Milyar 57. Peningkatan Pendapatan dari pajak dan retribusi dari : Pajak Hotel Pajak Restoran Pajak Hiburan Pajak Reklame PPJ Parker Retribusi 1.8 Milyar 78.7 Milyar 8.8 Milyar 68.2 Milyar Perumusan instrument kebijakan Obligasi daerah dan Road Fund 78.2 Milyar 93.0 Milyar 72.7 Milyar 23. Program peningkatan dan pengembangan pengelolaan keuangan SASARAN PROGRAM 1. Terlaksananya Obligasi daerah dan Road Fund 0 EKSISTING 2008 2009 TARGET CAPAIAN KINERJA TAHUNAN 2010 2011 2012 2013 KETEREANGAN 60.9 Milyar 87.5 Milyar 6.2 Milyar 9.1 Milyar 32.8 Milyar 7.9 Milyar Perumusan instrument kebijakan Obligasi daerah dan Road Fund 89.3 Milyar 5.9 Milyar Sosialisasi dan uji coba Obligasi daerah dan Road Fund 99.3 Milyar 98.8 Milyar 74.0 Milyar 25.4 Milyar 5.1 Milyar 28. Meningkatnya pendapatan daerah INDIKATOR PROGRAM 1. Mewujudkan Peran serta Aktif Masyarakat dan Pembiayaan Pembangunan Kota INDIKATOR CAPAIAN MISI Rata-rata peningkatan pendapatan 13 % PROGRAM 1.117 MISI-6 Meningkatkan Kapasitas Pengelolaan Keuangan dan Pembiayaan Pembangunan Kota yang Akuntabel dan Transparan Dalam Menunjang Sistem Pemerintahan yang Bersih dan Berwibawa Tujuan Misi : 1.3 Milyar 51.9 Milyar 104.8 Milyar 28.3 Milyar 87.1 Milyar 73.8 Milyar 81.

Terlaksananya instrument pembiayaan pembangunan non konvensional berbasis masyarakat EKSISTING 2008 2009 Perumusan instrument kebijakan Sistem Intensif TARGET CAPAIAN KINERJA TAHUNAN 2010 2011 2012 Penetapan instrument kebijakan Sisten Intensif Sosialisasi dan uji coba Sistem Intensif Pelaksanaan Sistem Intensif 2013 Pelaksanaan Sistem Intensif KETEREANGAN 0 0 0 Perumusan instrument kenijakan kelembagaan perusahaan patungan Perumusan instrument pembiayaan pembangunan non konversional berbasis masyarakat 0 Penetapan instrument kenijakan kelembagaan perusahaan patungan Penetapan instrument pembiayaan pembangunan non konversional berbasis masyarakat 0 Terbentuknya perusahaan patungan Pelaksanaan instrument pembiayaan pembangunan non konversional berbasis masyarakat 1 proyek Operasional perusahaan patungan Pelaksanaan instrument pembiayaan pembangunan non konversional berbasis masyarakat 2 proyek Operasional perusahaan patungan Pelaksanaan instrument pembiayaan pembangunan non konversional berbasis masyarakat 3 proyek Bantuan Teknis dari BAPPENAS untuk 3 proyek 5. Terbentuknya perusahaan patungan untuk beberapa layanan jasa umum dan barang politik 4. Terlaksananya system intensif untuk sector masyarakat dalam pembiayaan penyediaan barang dan jasa 3.118 INDIKATOR CAPAIAN MISI Terumuskannya kerjasama instrument insentif fisikal antar tingkat pemerintahan Beberapa Intensif fiscal untuk masyarakat dalam pembangunan pelaksanaan dan pemeliharaan barang dan jasa diterapkan Terbentuknya perusahaan patungan untuk beberapa layanan jasa umum dan barang Terbangunnya instrument pembiayaan pembangunan non konvensional berbasis masyarakat PROGRAM Program pengembangan kemitraan pembiayaan pembangunan daerah SASARAN PROGRAM Berkembangnya kemitraan pembiayaan – pembiayaan pembangunan daerah INDIKATOR PROGRAM 1. Meningkatnya proyek pembangunan non konversional melalui kerjasama pemerintah dengan swasta 0 V . Terlaksananya system insentif untuk sector swasta dalam pembayaran penyediaan barang dan jasa 2.30 .

Kebersihan pencapaian pembangunan dapat dicapai apabila didukung dengan (a) Komitmen kepemimpinan daerah.119 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 BAB VI PENUTUP 6. khususnya pada programprogram pembangunan yang relative strategis dan membawa kesejahteraan serta kemaslahatan rakyat.2 KAIDAH PELAKSANAAN Rencana pembangunan jangka menengah daerah Kota Bandung Tahun 2009-2013 adalah pedoman bagi pemerintah Kota Bandung dan masyarakat di dalam penyelenggaraan pembangunan daerah. dokumen ini menjadi pedoman bagi penyusunan Rencana Strategis (Renstra) SKPD. 2. (b) Konsentrasi. ketertiban masyarakat dan kehidupan bermasyarakat. Unsur pemerintah. SKPD menyusun Rencana Strategis yang kemudian digunakan untuk menyusun Rencana Kerja. 6.1 . Rencana Kerja (Renja) SKPD dan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) selama periode tersebut. Hal ini berlaku sampai disusun kembali RPJMD untuk masa berikutnya.1 PEDOMAN TRANSISI Dokumen RPJMD Tahun 2009-2013 ini disusun seiring dengan Walikota terpilih dalam hal akhir masa jabatan Walikota dan belum tersusun RPJMD tahap berikutnya. (f) Partisipasi masyarakat dan dunia usaha serta (g) Kedisplinan. dokumen ini menjadi pedoman dan rujukan dalam menyatukan gerakan dalam rangka membangun Kota Bandung. Bagi masyarakat dan stakeholders. (c) Kerja keras dan kesungguhan segenap aparat pemerintah. Bagi pemerintah Kota Bandung. Kaidah-kaidah pelaksanaan adalah sebagai berikut : 1. (d) Pelaksana Good Governance. maka RPJMD Tahun 2009-2013 ini dapat menjadi dasar. VI . masyarakat serta dunia usaha berkewajiban melaksanakan atau mendukung program-program dalam RPJMD Kota Bandung Tahun 2009 – 2013 dengan sebaik-baiknya. (e) Keberpihakan kepada rakyat.

120 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 3.2 . WALIKOTA BANDUNG TTD DADA ROSADA SEKRETARIS DAERAH KOTA BANDUNG EDI SISWADI VI . 4. Pemerintah Kota Bandung berkewajiban menjamin konsistensi antar dokumen perencanaan tersebut. Pemerintah Kota Bandung berkewajiban memantau dan mengevaluasi pelaksanaan rencana tersebut.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->