1 LEMBARAN DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN : 2009 NOMOR : 09

PERATURAN DAERAH KOTA BANDUNG NOMOR 09 TAHUN 2009 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJM) TAHUN 2009-2013 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA BANDUNG

Menimbang

: a. Bahwa

dalam

rangka

penyelenggaraan

pemerintah,

pengelolaan

pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat, perlu disusun Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah untuk kurun waktu 5 (lima) tahun yang merupakan penjabaran visi, misi dan program Walikota terpilih; b. Bahwa sesuai dengan ketentuan Pasal 150 ayat (3) huruf e Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 sebagai mana telah dirubah untuk terakhir kalinya dengan Undang-Undang No.12 Tahun 2008 dan ketentuan Pasal 30 Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 07 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan rencana Pembangunan Daerah, sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Daerah, sebagimana telah dirubah dengan peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 05 Tahun 2009, yang menyatakan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Bandung ditetapkan dengan Peraturan Daerah;

c. bahwa …

2

c.

bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud huruf b, perlu membentuk Peraturan Daerah Kota Bandung tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Tahun 2009 – 2013;

Mengingat

: 1. Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah – daerah Kota Besar dalam Lingkungan Propinsi Jawa Timur/Tengah/Barat dan Daerah Istimewa Yogyakarta (Himpunan Peraturan Negara tentang Pembentukan Wilayah/Negara); 2. Undang-Undang No 28 Tahun 1999 tentang Penyelengaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 tentang Nomor 134,Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4247); 3. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286); 4. Undang-Undang No 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4355); 5. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4355); 6. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah diubah untuk kedua kalinya dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437 jo. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844); 7. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (Lembaga Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126 Tambahan Lembar Negara republik Indonesia Nomor 4438);

8. Undang-Undang …

3

8. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005 – 2025 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 33, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4700); 9. Peraturan Pemerintah No.39 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengendalian dan Evalusi Pelaksanaan Rencana Pembangunan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 96, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4663); 10. Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2006 tentang Tata Cara Penyusunan Rencana Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4664); 11. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang pembagian urusan Pemerintahan Antar Pemerintah, dan Pemerintah Daerah Propinsi, dan Pemerintahan Daerah Propinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4817); 12. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evalusai Pelaksanaan rencana Pembangunan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 21, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4817); 13. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2004- 2009; 14. Peraturan Daerah Kotamadya Daerah Tingkat II Bandung Nomor 10 Tahun 1989 tentang Batas Wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II (Lembaran Daerah Kota Bandung Tahun 1989 Nomor 3 Seri D); 15. Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 02 Tahun 2004 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Bandung sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 03 Tahun 2006 (Lembaran Daerah Kota Bandung Tahun 2004 Nomor 02 jo. Lembaran Daerah Kota Bandung Tahun 2006 nomor 03);

16. Peraturan …

4

16. Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 08 Tahun 2007 tentang Urusan Pemerintahan Daerah Kota Bandung (Lembaran Daerah Kota Bandung Tahun 2007 Nomor 08); 17. Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 05 Tahun 2008 tentang Tata Cara Pembentukan Peraturan Daerah ( Lembaran Daerah Kota Bandung Tahun 2008 Nomor 05); 18. Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 07 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Serta Musayawarah Perencanaan Pembangunan Daerah sebagaimana telah dirubah dengan Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 05 Tahun 2009 (Lembaran Daerah Kota Bandung Tahun 2008 Nomor 07 jo. Lembaran Daerah Kota BandungTahun 2009 Nomor 05); 19. Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 08 Tahun 2008 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Tahun 2005-2025 (Lembaran Daerah Kota Bandung Tahun 2008 Nomor 08);

Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KOTA BANDUNG dan WALIKOTA BANDUNG MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN DAERAH KOTA BANDUNG TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH TAHUN 20092013 BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Daerah ini, yang dimaksud dengan : 1. Daerah adalah Pemerintah Kota Bandung 2. Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Kota Bandung 3. Walikota adalah Walikota Bandung

4. Dewan …

5 4. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang selanjutnya disingkat DPRD adalah Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Bandung. 5. Satuan Kerja Perangkat Daerah yang selanjutnya disingkat SKPD adalah unsur pembantu Walikota dalam penyelengaraan pemerintah daerah yang terdiri dari sekertariat daerah, sekertarian DPRD, dinas daerah, lembaga teknis daerah, kecamatan dan kelurahan. 6. Pembangunan Daerah adalah perubahan yang dilakukan terus menerus dan terencana oleh seluruh komponen di Daerah Untuk mewujudkan visis Daerah. 7. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Tahun 2005-2025 yang selanjutnya disingkat RPJPD adalah dokumen perencanaan pembangunan Daerah untuk periode 20 (dua puluh) tahun terhitung sejak tahun 2005 sampai dengan tahun 2025. 8. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Tahun 2009-2013 yang selanjutnya disingkat RPJPD adalah dokumen Perencanaan Pembangunan Daerah untuk perioade 5 (lima) tahun terhitung sejak tahun 2009 sampai dengan tahun 2013, yang merupakan penjabaran dari visi, misi dan Program kepala Daerah dan berpedoman pada RPJPD serta memeperhatikan RPJM Nasional. 9. Renacana Kerja Pemerintah Daerah yang selanjutnya disingkat RKPD, adalah dokumen perencanaan pembangunan daerah untuk periode 1 (satu) tahun. 10. Visi adalah rumusan umum mengenai keadaan yang diinginkan pada akhir periode perencanaan. 11. Misi adalah rumusan umum mengenai upaya-upaya yang akan dilaksanakan untuk mewujudkan visi. BAB II RUANG LINGKUP RPJMD TAHUN 2009 – 2013 Pasal 2 (1) RPJMD Tahun 2009-2013 adalah rencana 5 (lima) tahun yang menggambarkan:

a. visi …

6 a. visi, misi, dan program Walikota sebagai Kepala Daerah; dan b. berisikan arahan kebijakan pembangunan, kebijakan umum, keuangan daerah, dan program pembangunan yang akan dilaksanakan oleh SKPD, disertai dengan rencana kegiatan dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif. (2) RPJMD Tahun 2009 – 2013 sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menjadi pedoman dalam penyusunan Rencana Strategis SKPD, dan RKPD. BAB III SISTEMATIKA RPJMD TAHUN 2009-2013 Pasal 3 Sistematika penyusunan RPJMD Tahun 2009-2013 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 disusun sebagai berikut : BAB I BAB II BAB III BAB IV BAB V BAB VI : PENDAHULUAN : GAMBARAN UMUM DAERAH DAN ISU STRATEGIS : KEBIJAKAN PEMBANGUNAN DAERAH : KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH : INDIKATOR KINERJA : PENUTUP Pasal 4 RPJMD Tahun 2009-2013 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini. Pasal 5 RPJMD Tahun 2009 – 2013 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 merupakan pedoman dalam penyelenggaraan pemerintah, pengelolaan pembangunan dan pelayanan publik.

BAB …

TTD DADA ROSADA Diundangkan di Bandung pada tanggal 6 April 2009 SEKRETARIS DAERAH KOTA BANDUNG. EDI SISWADI LEMBARAN DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 NOMOR 09 . memerintahkan perundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kota Bandung. BAB V KETENTUAN PENUTUP Pasal 7 Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar supaya setiap orang dapat mengetahui.7 BAB IV PENGENDALIAN DAN EVALUSI Pasal 6 (1) Pemerintah Daerah melakukan pengendalian dan evaluasi pelaksanaan RPJMD. Ditetapkan di Bandung Pada tanggal 6 April 2009 WALIKOTA BANDUNG. (2) Pengendalian dan Evalusi pelaksanaan RPJMD sebagaimana dimaksud ayat (1) dilakukan berpedoman kepada ketentuan perundang-undangan.

8 LAMPIRAN PERATURAN DAERAH KOTA BANDUNG NOMOR 9 TAHUN 2009 TENTANG PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 .

9 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG 2009 – 2013 RPJMD KOTA BANDUNG Tahun 2009 -2013 .

...........................3 1..........................................4 3.......................5 2......................................................................................................2 1... Strategi ................... Pengelolaan Keuangan Daerah ...1 1.................... Kinerja Pemerintahan ...............5 1........................................ BAB I 1............1 i I–1 I–1 I–2 I–2 I–4 RPJMD KOTA BANDUNG Tahun 2009 -2013 ..... GAMBARAN UMUM DAERAH DAN ISU STRATERGIS Kondisi Fisik Lingkungan .....2 PENDAHULUAN ..........10 DAFTAR ISI Daftar isi .........6 BAB II 2..............5 3........1 2..................... Pereokomian Daerah.... Latar Belakang ..................................1 4............. Proses Penyusunan .......... Sosial Kependudukan ...............................2 2............ II – 1 II – 22 II – 34 II – 39 II – 41 II – 47 III – 1 III – 1 III – 2 III – 8 III – 8 III – 11 III – 14 IV – 1 IV – 1 IV – 1 I–6 I–6 II ............3 2........ Kebutuhan Anggaran........ Isu Strategis...6 BAB III 3...1 3.................................... Hubungan RPJMD Kota Bandung dengan Dokumen Perencanaan lainnya ............................................. KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH. Program.......... Arah Kebijakan ...... Tujuan dan Sasaran ...................................... Sistematika ........ Landasan Penyusunan................. KEBIJAKAN PEMBANGUNAN DAERAH Visi dan Misi ......4 2........................................ Arah Kebijakan Keuangan ............4 1. Strategi Keuangan.....................2 3...................3 3........6 BAB IV 4.................. Maksud dan Tujuan .....

............................ Agenda Prioritas .......2 BAB VI 6...2 INDIKATOR KINERJA DAN AGENDA ..................... Pedoman Transisi...1 6... Kaidah Pelaksanaan.. PRIORITAS Indikator Umum ....................... V–1 V–1 VI – 1 VI – 1 VI – 1 V-1 RPJMD KOTA BANDUNG Tahun 2009 -2013 ...................................................11 BAB V 5...... PENUTUP .................................................1 5........

evaluasi pembangunan serta isu-isu strategis yang berkembang. Pemerintah Kota Bandung telah menetapkan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Kota Bandung 2005 – 2025 berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 08 Tahun 2008. Rencana Pembangunan Jangka menengah daerah (RPJMD) dan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD).1 LATAR BELAKANG Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional dan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah mengamanatkan bahwa Pemerintahan Daerah Provinsi. dan Evaluasi Pelaksana Rencana Pembagunan Daerah serta telah dilaksanakannya pemilihan Kepala Daerah secara langsung. Berdasarkan amanat perundang-undangan diatas. RPJM Daerah Kota Bandung Tahun 2009 – 2013 merupakan penjabaran visi. maka Pemeritah Kota Bandung diwajibkan menyusun Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) sebagai penjabaran dari RPJP Daerah Kota Bandung. Tata Cara. memperhatikan sumber daya dan poetnsi yang dimiliki. sesuai amanat peraturan perundangan yang berlaku. Pengendalian. disusun secara berjangka meliputi: Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPM). Perencanaan pembangunan daerah sebagaimana dimaksud. Berdasarkan kondisi diatas dan dengan telah ditetapkannya Peraturan Daerah Nomor 07 Tahun 2008 tentang Tahapan.12 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 BAB I PENDAHULUAN 1. Kabupaten/Kota dalam rangka menyelenggarakan pemerintahannya harus menyusun perencanaan pembangunan. dan dengan telah terbitnua Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005 – 2025. factor-faktor keberhasilan. misi dan program Walikota Bandung yangakan dilaksanakan dan diwujudkan dalam suatu periode masa jabatan. Penyusunan. I-1 . Penyusunan RPJM Daerah Kota Bandung Tahun 2009 – 2013 berpedoman pada RPJP Daerah Kota Bandung 2005 – 2025 serta memperhatikan RPJM Nasional dan RPJM Provinsi.

1. Sebagai pedoman bagi Pemeritah Kota Bandung dalam penyusunan Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) periode 2009 – 2013.2.3 LANDASAN PENYUSUNAN Landasan penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Bandung Tahun 2009 – 2013 adalah : 1. Sebagai pedoman bagi seluruh pemangku kepentingan dalam merumuskan program pembangunan periode 2009 – 2013. misi Kepala Daerah terpilih dalam 5 (lima) tahun kedepan.2. Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286).13 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 1. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844). 1. Sebagai tolak ukur dalam penyusunan Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Walikota pada akhir masa jabatan. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437 jo. I-2 .Undang Nomor 16 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah –daerah Kota Besar dalam Lingkungan Propinsi Jawa Timur/Tengah/Barat dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Sebagai pedoman bagi seluruh SKPD dilingkungan Pemerintah Kota Bandung dalam menyusun Renstra SKPD periode 2009 – 2013. 3. 2. 5.2 MAKSUD DAN TUJUAN 1. 6.2 TUJUAN Tujuan penyusunan RPJMD Kota Bandung adalah : 1. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4400). 4. 3.1 MAKSUD Rencana Pemabangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Bandung Tahun 2009 – 2013 dimaksudkan sebagai pedoman dalam melaksanakan pembangunan guna mewujudkan visi. 2. 25 Tahun 2004 tentang sistem Perencanaan 7. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah diubah untuk kedua kalinya dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125. Undang. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pmeeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 66. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59. Undang-Undang Nomor Pembangunan Nasional. Undang-undang No 1 Tahun 2004 tentang perbendaharaan Negara.

11.2025. Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah. I-3 . Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang pembagian urusan Pemerintahan Antar Pemerintah. 16.14 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 8. 22.2009. Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 2007 tentang Laporan Penyelenggaraan Pemerintah Daerah kepada Pemerintah. 12. dan Pemerintah Daerah Propinsi. Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Kepala Daerah kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dan Informasi Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Kepada Masyarakat. Peraturan Daerah Nomor 02 Tahun 2004 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 03 Tahun 2006. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah. Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2006 tentang Tata Cara Penyusunan Rencana Pembangunan Nasional. 18. 13. 10. 17. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 9 Tahun 2008 tentang Rencana Pembanguan Jangka Panjang Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2005 . Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan. dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. 15. Undang_undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (Lembaga Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126 Tambahan Lembar Negara republik Indonesia Nomor 4438). Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah sebagaimana telah diubah dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 59 Tahun 2007. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005 – 2025. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2008 tentang Pedoman Evaluasi Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. 14. Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2004 . 19. Tata Cara Penyusunan. 20. 21. Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2004 tentang Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Kementrian Negara/Lembaga. 9. dan Pemerintahan Daerah Propinsi. Pengendalian dan Evalusai Pelaksanaan rencana Pembangunan Daerah.

2. Lembaran Daerah Kota BandungTahun 2009 Nomor 05). pengawasan dan evaluasi. pelaksanaan. I-4 . Meningkatnya kompetensi keterampilan dan kewirausahaan tenaga kerja melalui pelatihan dan sertifikasi tenaga kerja disektor formal. sehingga kaitan yang lebih spesifik adalah antara RPJMD Kota Bandung terhadap RPJMD Propinsi Jawa Barat. Meningkatkan kesempatan kerja melalui peningkatan investasi dan padat karya. b. 1. d. Tata cara Penyususunan. RPJMD Kota Bandung merupakan sub sistem dari RPJM Nasional yang memiliki keterkaitan dalam agenda mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Meningkatnya kondisi infrastruktur transportasi serta sumberdaya air di kawasan industri. b. c. 1. Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 08 Tahun 2008 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Tahun 2005-2025 (Lembaran Daerah Kota Bandung Tahun 2008 Nomor 08). yang difokuskan pada penciptaan lapangan kerja serta menyiapkan tenaga kerja terampil dan berjiwa enterprener untuk kebutuhan dalam negeri dan luar negeri. Sasaran : a. Sasaran : a. serta menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan. Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Serta Musayawarah Perencanaan Pembangunan Daerah sebagaimana telah dirubah dengan Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 05 Tahun 2009 (Lembaran Daerah Kota Bandung Tahun 2008 Nomor 07 jo. antar ruang dan antar fungsi pemerintah.4 HUBUNGAN RPJM KOTA BANDUNG DENGAN DOKUMEN PERENCANAAN LAINNYA RPJMD Kota Bandung merupaka bagian yang terintegrasi dengan perencanaan pembangunan nasional dengan tujuan untuk mendukung koordinasi antar pelaku pembangunan dan harus selaras dan sinergi antar daerah. yang difokuskan untuk menciptakan Sumber Daya Manusia Jawa Barat yang unggul dan berdaya saing. Meningkatnya kesejahteraan buruh dan KUMKM. Meningkatnya kualitas dan aksebilitas pendidikan masyarakat. Dalam konteks ini RPJMD Propinsi Jawa Barat telah mengacu pada RPJM Nasional. Adapun poko yang berkaitan antara RPJMD Propinsi dan Kota Bandung terutama terletak pada misi berikut ini. Meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. 24. Peningkatan Daya Beli Masyarakat. antar waktu. Peraturan daerah Kota Bandung Nomor 08 Tahun 2007 tentang Urusan Pemerintahan Daerah Kota Bandung (Lembaran Daerah Kota Bandung Tahun 2007 Nomor 08). Peningkatan Kualitas dan Produktivitas Sumber Daya Manusia. 25. Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 07 Tahun 2008 tentang Tahapan. penganggaran. c. Meningkatkan kualitas dan kuantitas SDM tenaga kerja Jawa Barat dengan berbasis standar tenaga kerja ASEAN.15 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 23.

Penyediaan energi alternatif. Peningkatan Kinerja Aparatur. Meningkatnya pemahaman dan kesiapan masyarakat dalam menghadapi bencana. Peningkatan cakupan pelayanan kesehatan. Sasaran : a. 4. Tertanggapinya bencan/wabah secara cepat dan akurat. b. Meningkatnya profesionalisme dan kinerja aparatur Pemerintah Daerah. Pembangunan infrastruktur transportasi. setidaknya ada 4 misi mayor yang selaras dengan Misi Kota Bandung. c. Meningkatnya pengendalian pencemaran air. d. Peningkatan sarana dan prasarana pendidikan. pengembangan jasa dan perdagangan. c. sedangkan misi – 4 dalam RPJMD ini masuk dalam kategori misi minor. pengendalian dan Pemulihan Kualitas Lingkungan. 7. Sasaran : a. 2. Penanganan Pengelolaan Bencana. Sasaran : a. 4. RPJMD Kota Bandung Tahun 2009-2013 juga mengacu pada kebijakan pemanfaatan ruang yang telah ditetapkan (RTRW). Adapun fokus Kota Bandung pada RPJMD Propinsi Jawa Barat antara lain : 1. 5. udara dan sampah. RPJMD Kota Bandung digunakan sebagai pedoman penyusunan Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah (Restra SKPD) dan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD). Pengendalian pencemaran air. Meningkatnya kesipan dini dan mitigasi bencana.2. yang difokuskan pada peningkatan pelayanan public dan penerapan insetif berbasis kinerja. Berkurangnya resiko kejadian bencana. Meningkatnya fungsi kelembagaan Pemerintah Daerah. d. I-5 .16 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 3. Dalam 5 misi tersebut. 6. Peningkatan mutu air baku. yang difokuskan pada upaya resiko bencana. Meningkatnya luas dan fungsi kawasan kesehatan. yaitu misi 1. Meningkatnya pelayanan pemerintah daerah kepada masyarakat. Penetapan ini diantaranya di dasarkan pada Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi Jawa Barat. Meningkatnya tingkat KKN untuk menciptakan pemerintahan yang bersih. 3. yang difokuskan pada pelestarian dan peningkatan luas dan fungsi kawasan lindung. 5. Secara khusus selanjutnya di sebutkan bahwa Kota Bandung atau Kawasan Kota Bandung adalah menjadi salah satu focus penting.3 dan 5. b. b.

5 SISTEMATIKA BAB I PENDAHULUAN. 2. I-6 . Pendekatan Teknokratik. karena rakyat pemilih menentukan pilihannya berdasarkan program-program pembangunan yang ditawarkan para calon Kepala Daerah. pendekatan ini memandang bahwa pemilihan Kepala Daerah sebagai proses penyusunan rencana program. BAB IV KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH. strategi. hubungan RPJM Daerah dengan dokumen perencanaan lainnya. serta proses penyusunan. Dalam hal ini rencana pembangunan adalah penjabaran agenda-agenda pembangunanyang ditawarkan Kepala Daserah saat kampanye ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah. Pendekatan Politik. serta isu-isu strategis pembangunan daerah yangsedang berkembang. sistematika penulisan. BAB III KEBIJAKAN PEMBANGUNAN DAERAH.6 PROSES PENYUSUNAN Dokumen RPJMD pada dasarnya disusun berdasarkan beberapa pendekatan berikut 1. dan pengelolaan keuangan daerah. Memuat dan menjelaskan indikator kinerja daerah beserta tahapan pencapaiannya. arah kebijakan. BAB II GAMBARAN UMUM DAERAH DAN ISU STRATEGIS. BAB VI PENUTUP Berisikan pedoman transisi dan kaidah pelaksanaan. BAB V INDIKATOR KINERJA DAN AGENDA PRIORITAS. Menjelaskan tentang latar belakang. serta kebutuhan anggaran. maksud dan tujuan. belanja dan pembiayaan. landasan hukum. social kependudukan.17 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 1. 1. kinerja pemerintahan. Menjelaskan tentang visi dan misi. Menjelaskan tentang kondisi fisik lingkungan. pendekatan ini dilaksanakan dengan menggunakan metode dan kerangka berpikir ilmiah oleh lembaga yang secara fungsional bertugas untuk hal tersebut. serta Agenda Prioritas. program. perekomian daerah. Menjelaskan strategi dan arah kebijakan pengelolaan pendapatan. tujuan dan sasaran.

18 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 3. pendekatan ini dilaksanakan dengan melibatka pemangku kepentingan (stakeholders) pembangunan. 4. Hasil proses tersebut kemudian diselaraskan melalui musyawarah pembangunan. Misi. Program (Kepala Daerah Terpilih) RPJM Nasional dan Propinsi Musrenbang RPJMD Perumusan Rancangan Akhir RPJMD RPJMD ditetapkan Dengan Perda setelah berkonsultasi dengan Propinsi I-7 . pendekatan ini dilaksanakan menurut jenjang pemerintahan. penjaringan aspirasi masyarakat serta dialog yang melibatkan stakeholders kunci. Pendekatan Atas-Bawah (top-down) dan Bawah-Atas (bottom-up). Penyusunan RPJMD Kota Bandung Tahun 2009-2013 melalui berbagai tahapan analisis sektoral. Pendekatan Partisipatif. Adapun proses penyusunan secara rinci dapat dilihat pada gambar berikut ini : RPJPD Kota Bandung 2005-2025 Analisis Kondisi Eksisting Rancangan Awal RPJMD (oleh Bappeda) Visi. Pendekatan ini bertujuan untuk mendapatkan aspirasi dan mnciptakan rasa memiliki.

19 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 BAB II GAMBARAN UMUM DAERAH DAN ISU STRATEGIS 2. hal ini disebabkan polusi dan meningkatnya suhu global.1). berdasarkan pada Peraturan Daerah Kotamadya Daerah Tingkat II Bandung Nomor 10 Tahun 1989 tentang Perubahan batas Wilayah Kotamadya Tingkat II Bandung yang merupakan tindak lanjut dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Nomor 16 tahun 1987 tentang Perubahan Batas Wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II Bandung. hal ini mengindekasikan bahwa sebenarnya terdapat kenaikan temperatur di Kota d II . Keadaan geologis di Kota Bandung dan sekitarnya terdiri atas lapisan alluvial hasil letusan Funung Tangkuban Perahu.1 KONDISI FISIK LINGKUNGAN Kota Bandung mempunyai Luas Wilayah 16. titik tertinggi berada di daerah Utara dengan ketinggian 1.1.1 .1 IKLIM DAN KUALITAS UDARA Kota Bandung terletak di pada posisi 1070 36’ Bujur Timur dan 60 55’ Lintang Selatan. Di bagian tengah dan Barat tersebat jenis tanah andosol. Kota Bandung secara topografis terletak pada ketinggian 791 meter di atas permukaan laut (dpl). Kota Bandung tergolong daerah yang cukup sejuk. dan titik terendah berada di sebelah Selatan dengan ketinggian 675 Meter dpl.729. sedangkan di bagian Selatan serta Timur terdiri atas jenis alluvial kelabu dengan bahan endapan liat.70C pada bulan September 2008.050 meter dpl. dengan temperature udara rata-rata 230C (1995-2008). Iklim asli kota Bandung dipengaruhi oleh iklim pegunungan di sekitarnya. temperatur rata-rat di Kota Bandung pada Tahun 2008 terdapat temperatur maksimum yang mencapai 30. dengan ketinggian rata-rata + 791 m di atas permukaan laut (dpl). secara terinci (table 2. sedangkan di wilayah kota membentuk Bandung menjadi semacam cekungan (Bandung Basin). 2. Jenis material di wilayah bagian utara umumnya jenis tanah andosol. namun pada dasarnya beberapa tahun belakangan mengalami peningkatan suhu. serta perubahan iklim global. Di Wilayah Kota Badung bagian Selatan permukaan tanah relative datar.65 Ha. Temperatur ini dipengaruhi oleh ketinggian dari permukaan laut. lingkungan pegunungan atau cekungan dan berbagai danau besar yang terletak disekitarnya.

Achmad Yani.4 28. Dari 15 tempat yang dipantau oleh Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup (BPLH) Kota Bandung Tahun 2004-2008.7 19.1 28.3 19. dan kenaikan tersbut dinali signifikan dalam dunia meteorologi.7 19. HC.1 28. namun hasil pengukuran kualitas udara ambient (SO2.9 28.4 23. Khusus untuk HC di semua lokasi melebihi baku mutu.6 19.4 Pelaksanaan program Langit Biru di Kota Bandung yang bertujuan untuk mengurangi pencemaran udara sudah berjalan sekitar 10 tahun. kualitas udara yang melebihi di atas ambang batas adalah di terminal Cicaheum.5 28. O3.1 28.8 23.7 19. Wastukencana. CO.1 29.6 19.8 23.2 23.9 18. NOx. temperatur di Kota Bandung naik sekitar 20C.2 29.3 23.5 29.1 Temperatur Rata-rata di Kota Bandung Tahun 1995-2008 Tahun 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Temperatur (0C) Minimum Rata-rata Maksimum 23.7 19.5 28. dan Pb.2 28. Pb dan debu) di beberapa tempat menunjukkan masih terdapat parameter yang mendekati dan bahkan melebihi Baku Mutu (BM). hal ini nampaknya terkait dengan pertumbuhan kendaraan yang pesat.6 29.4 23. serta meningkatnya pencemaran udara berkontribusi dalam meningkatnya pencemaran udara berkontribusi dalam meningkatkan iklim mikro di Kota Bandung. Leuwipanjang dan pada beberapa jaln utama seperti Jalan Diponogoro. Buahbatu dan Jalan Siliwangi. debu. yaitu temperatur udara rata-rata maksimum dalam 20 tahun terakhir.3 19.6 23.5 28. terutama dilihat dari kadar HC. Samakin sedikitnya Ruang Terbuka Hijau (RTH). Sementaraitu bila dianalisis dalam kurun waktu yang lebih panjang.6 29.0 23. Soekarno Hatta.3 19.20 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Bandung.3 19.4 19.7 22. Jumlah pertumbuhan kendaraan di Kota Bandung berdasarkan hasil penelitian Jalan International (JICA) tahun 1997.2 23. mencapai 12% pertahun.7 19. Berdasarkan II .6 23.8 23. Leuwipanjang dan pada beberapa jalan utama seperti Jalan Dioponogoro.2 18.2 . Ledeng. Tabel 2.0 23.

pariwisata. Secara alamiah Kota Bandung memiliki Geografi yang Nyaman. Kota Bandung Sekitarnya sebagai Kawasan Andalan Cekunagn Bandung dengan sector unggulan industri. Meningkatnya pencemaran udara di Kota Bandung.1. dan perkebunan. sementara Dinas Perhubungan Kota Bandung mengemukakan bahan angkutan kota adalah penyumbang posisi udara udara yang paling besar.885 unit. menunjukkan bahwa berdasarkan hasil uji emisi gas buang kendaraan bermotor Tahun 2002-2007. industri. sementara untuk yang berbahan baker bensin berfluktuasi dari sekitar 10% hingga 52%. Peningkatan kapasitas pelayanan Bandara Hussein Sastranegara. sedangkan NOx meningkat 59% dan HC meningkat 50%. Kota Bandung ditetapkan sebagai salahsatu Pusat Kegiatan Nasional (PKN). lebih dari 60% kendaraan berbahan baker solar tidak memenuhi baku mutu emisi. Di titik masuk kota Bandung seperti gerbang tol Pasteur dan jembatan Cikapayang. Di dalam RTRW Propinsi Jawa Barat (Perda No 2/2003) Kota Bandung masuk ke dalam PKN Metropolitan Bandung dan Kawasan Andalan Cekungan Bandung dengan kegiatan utama pengembangan SDM.278 unit. Arahan pengembangan jaringan transportasi: sebagai jalan penghubung Cicalengka-Soreang-Padalarang dan sistem transportasi missal intra-urban. tahun 2007 meningkat menjadi 839.936 unit pada tahun 2001 menjadi 594.500 kg/hari pada jumat dan sabtu).362 unit pada tahun 2007. Pengurangan beban kota dengan penyebaran pusat kegiatan dan Konservasi di daerah resapan air. II . peningkatan terbesar terjadi pada sepeda motor dari 283.2 STRUKTUR DAN RENCANA RUANG KOTA BANDUNG Di dalam RTRW (PP 28/2008 dan RPM RTRW Pulau Jasa-Bali). Menunjukkan bahwa keberadaan tol cipularang telah berimpilikasi terhadap kualitas udara.3 .21 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Data Dinas Perhubungan pada tahun 2007 pada tahun 2001 total kendaraan bermotor 501. Data BPLH Kota Bandung. jasa. Pengendalian pusat kegiatan di Metropolitan Bandung dan Arahan Pengembangan jaringan transportasi berupa Pengembangan Terminal Terpadu Gedebage (Terminal Tipe A). Meninggkatnya pencemaran udara di Kota Bandung juga dipengaruhi oleh tidak terawatnya mein kendaraan. Arahan pola pemanfaatan ruang berupa Kawasan Hutan Lindung Bandung Utara. pariwisata. tanaman pangan. agribisnis. Arahan pola pemanfaatan ruang: Pengendalian urban spawl/konurbasi di koridor Bandung-Cimahi dan Bandung-Soreang. kandungan CO rata-rata pada hari jumat dan sabtu meningkat sekitar 38% (di hari normal sekitar 1800 menjadi 2. namun pencemaran udara sudah dimulai mengganggu kenyaman dan kesehatah 2. khususnya dari Jakarta.

pendidikan. Konsep fungsi kota Kebijakan struktur tata ruang fungsi Kota Bandung: pemerintah dan perkantoran.d batas utara kota): kebijakan membatasi pembangunan • Bandung Barat (Wilayah Pembangunan Tegallega. Rencana Tata Ruang ini harus menjadi dasar penting dalam pembangunan jangka menengah. jasa perdagangan. • Membagi wilayah Kota menjadi 6 Wilayah Pengembagan (WP) • Mengembangkan pusat sekunder. Sampai sekarang Gedebage relatif belum berkembang sesuai rencana. kebijakan. jasa. Pusat Primer adalah di Alun-Alun dan Gedebage. pusat sub-WP dan pusat-pusat lingkungan secara merata dengan pembagian jenjang pelayanan di setiap Wilayah Pembangunan • Menata fungsi dan struktur jaringan jalan yang serasi dengan sebagian fungsi kegiatan primer dan sekunder • Bandung Utara (wilayah antara 750 dpl s. Secara umum konsep. Bojonegara): kebijakan memprioritaskan pengembangan • Bandung Timur (Wilayah Pembangunan Gedebage dan Ujung Berung): kebijakan mengarahkan dan pemprioritaskan pengembagan • Menyempurnakan dan meningkatkan tingkat pelayanan prasarana (jaringan) transportasi yang ada untuk mendukung perkembangan pusat primer dan sekunder • Mengembangkan jalan alternative dengan memprioritaskan jalan tembus yang sudah direncanakan • Meningkatkan akses melalui pengembangan jalan bebas hambatan dalam kota.2 Bebijakan Ruang Kota Bandung. wisata. jasa kesehatan dan perumahan • Mengembangkan 2 pusat primer untuk wilayah Bandung Barat dan Bandung Timur.4 . Cibeunying. arahan dan kebijakan ruang di Kota Bandung dapat dilihat pada table berikut: Tabel 2. litbang.22 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Pengembangan angkutan massal di Metropolitan Bandung (jalur KA Cekunagn Bandung) dan pembangunan jalan tol Cisumdawu. Kota Bandung adalah bagian yang sangat penting bagi perencanaan pembangunan Kota Bandung dalam jangka panjang. industri. pembangunan jalan lingkar utara dan/atau akses utara selatan di Bandung Timur Arahan Pengembangan Pemanfaatan ruang Kebijakan pendukung Struktur tata ruang Di dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Bandung. Karees. Menurut rencana tersebut Kota Bandung akan disusun atas struktur primer. Rencana struktur sistem pusat pelayanan Kota Bandung sampai tahun 2013 dapat dilihat pada table berikut ini : II . sekunder dan lingkungan.

maka ditetapkan berbagai kawasan lindung. Mata Air • Taman • Sempadan Sungai.23 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Tabel 2. Sungai.3 Rencana Struktur Sistem Pusat Pelayanan Kota Bandung Tahun 2013 STRUKTUR PRIMER Alun-Alun FUNGSI • Komersial • Perdagangan • Sosial Budaya • Terminal • Sosial • Jasa/Pergudangan • Permukiman • Industri Teknologi Tinggi • Perdangangan • Lindung • Permukiman • Perdagangan • Perkantoran • Industri Non Polutan • Pedagangan • Industri • Permukiman • Perkantoran • Pemerintahan • Pendidikan Tinggi • Perdagangan • Lindung • • • • • • • • Permukiman Industri Lindung Permukiman Industri Lindung Perdagangan Perumahan BENTUK • Perkantoran • Historical Building. Mata Air • Taman • Historical Preservasi Kawasan • Sempadan Mata Air • Sempadan Mata Air • Taman • Sempadan Mata Air • Taman Building. sehingga Kota Bandung dapat berkembang dan berkelanjutan.5 . Wilayah-wilayahini patut mendapat perhatian untuk memulihkan daya dukung wilayah. Mata Air • Taman • Sempadan Sungai. Di antara rencana kawasan lindung di Kota Bandung antara lain : II . Sungai. Arcamanik LINGKUNGAN Sumber : RTRW Kota Bandung (2004-2013) Mengingat kondisi kritis lingkungan Kota Bandung. Margasari Setrasari Tegallega Kopo Kencana Karees Turangga Cibeunying Sadang Serang Gedebage Ujung Berung Sungai. Pelestarian Kawasan • Rekreasi • Orang dan Barang • Stadion LOKASI Alun-Alun Sekitarnya dan Gedebage • Pasar • Perkantoran Gedebage Sekitarnya dan SEKUNDER Bojonegara • Retail • Grosir • Pasar • Retail • Grosir • Pasar • Retail • Grosir • Pasar • Retail • Grosir • Pasar • • • • • • • Retail Grosir Pasar Retail Grosir Pasar Retail • Sempadan Sungai.

Ganesha. Setiabudi. Ir.4 Rencana Klasifikasi Kawasan Lindung Klasifikasi Kawasan Yang Memberikan Perlindungan Terhadap Kawasan Bawahannya Kawasan Cagar Budaya Rincian LOKASI Utara • Kawasan Lindung Yang Terletak Bagian Bandung Bagian Utara Kota Bandung • Kawasan Resapan Air Terbesar di Beberapa Kecamatan Kecamatan Yang Mempreservasi Bangunan Fisik Serta Mengkonversikan Lingkungan Alami Yang Memiliki Nilai Historis Dan Budaya Kota Bandung Kota Kawasan Pelestarian Alam Kawasan Prlindungan Setempat (Ruang Terbuka Hijau) Kawasan Rawan Bencana Kawasan Alun-Alun Asia Afrika.24 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Tabel 2. Sasakgantung. Arjuna. Sumatera. ABC. Kelenteng. Cidadap. Lengkong. Pasteur. Oto Iskandardinata. Diponegoro. Tamansari.6 . Di antara rencana jaringan jalan menurut RTRW Kota Bandung adalah sebagai berikut : II . Cibeunying Perlindungan Alam Plasma Nutfah Eks Situ Tersebar • Jalur Sempadan Sungai • Kawasan Sekitar Danau/Bendungan/Waduk • Kawasan Sekitar Mata Air Atau Eks Situ • Jalur Sempadan Jalan Kereta Api • Kawasan Sekitar Tegangan Tinggi • Sempadan Jalan Tol • Taman Kota Dan Pemakaman Umum Kawasan Yang Diidentifikasi Sering Dan Bagian Utara Kota Berpotensi Tinggi Mengalami Bencana Bandung Alam Seperti Gempa Bumi Dan Tanah Longsor Serta Banjir Sumber : RTRW Kota Bandung (2004-2013) Selanjutnya untuk mengatasi lalu lintas Kota Bandung akan dikembangkan jaringan jalan arteri primer. Bali. kolektor primer dan kolektor sekunder. Jawa. Juanda. Jatayu Dan Kebon Jati Taman Wisata Alam Dan Kawasan Kec. Cikapundung. Pager Gunung. Pasar Baru. Cipaganti. Gudang Utara. Gatot Subroto. Dipatiukur. Braga.H. arteri sekunder. Dewi Sartika. Karapitan. Malabar. RE Martadinata. Melong. Pecinan. Aceh.

Ciumbeuleuit Jl. Ciwastra Kolektor Sekunder Rencana Jl. Lembong Jl. Gedebage (Rencana Akses Tol) Rencana Jl. Sukahaji Jl. RE. Dr. Cihampelas Jl. Sulawesi Jl. Gatot Subroto Jl. Leuwipanjang Jl.2 . Tembus Dari Jl. Lengkong Besar Jl. Kebonjati Jl. Dr. Asia Afrika Jl. Junjunan Jl. Ibu Inggit Garnasih (Dahulu Jl. Penghulu K. Kiaracondong Dan Terusan Kiaracondong) Jl. BKR Jl. Supratman Jl. Cokroaminoto (Dahulu Jl. Raa Wiranatakusumah (Dahulu Jl. Sukajadi Jl. Sudirman Jl. Cibaduyut raya Sumber : RTRW Kota Bandung (2004-2013) II . Sekarwangi) Jl. Pak Gatot Raya Jl.H. Sukabumi Kolektor Primer Jl. Astanaanyar Jl. Setiabudhi (Dari Jl. Cipaganti) Jl. Terusan Buah Batu Jl. Tamblong Jl. Elang Jl. Karapitan Jl. Abdul Hamis Nasution (dahulu Jl. Moch. Garuda Jl. Gurame Jl.5 Rencana Jaringan Jalan Arteri Primer Jl. Surapati Jl. Ir. Abdurrahman Saleh Jl. Moch. Rajawali Barat Jl. Ibrahim adji (Dahulu Jl. Rumah Sakit Jl. Sumbawa Jl. Arcamanik Indah Jl. Suniaraja Jl. Juanda Jl. Jend. Peta Jl. Dr. Pasirkoja Jl. Merdeka Jl. Otto Iskandardinata Jl. Jakarta Jl. Pacuan Kuda Jl. Sukawangi Jl. Sunda Jl. Sutami Jl. Terusan Pasirkoja Jl. Ramdan Jl. Ciateul) Jl. Raya Cibeureum Jl. Pasteur Jl. Gedebage Selatan Jl.H. Toha Jl. Ir. Hasan Mustofa Jl. Sersan Bajuri Jl. Tembus Bihbul Jl. Wastukencana Jl. Siliwangi Jl. Akhmad Yani Jl. Hos. Veteran Jl. Pajajaran Jl. Setiabudhi Jl. Raya Sindanglaya dan Cibiru) Jl. Martadinata Jl. Jamika Jl.25 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Tabel 2. Diponegoro Jl. Dr. Buah Batu Jl. Rajawali Timur Jl. Laswi Jl. Setiabudhi Jl. Kopo) Jl. Suria Sumantri Jl. Seram Jl. Soekarno Hatta Arteri Sekunder Jl. Terusan Jakarta Jl.

000 Bojonegara 106 67 23 23 1 0 0 11 3 43 11 43 3 1 0 3 3 3 Jumlah Prasarana Yang Dibutuhkan (Unit) Cibeunying Tegallega Karees Ujung Gede Berung Bage 109 98 106 143 81 69 61 67 89 50 23 20 23 30 17 23 20 23 30 17 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 0 0 0 1 0 11 10 11 14 7 3 3 3 4 2 44 39 43 57 32 11 10 11 14 7 44 39 43 57 32 3 3 3 4 2 1 1 3 3 3 1 1 3 3 3 1 0 3 3 3 1 0 4 4 4 1 0 2 2 2 Kota Bandung 643 403 136 136 6 2 1 64 18 258 64 258 18 6 2 18 18 18 Bojonegara 18020 73700 69000 69000 0 0 2200 1500 8600 4400 12900 3000 2000 0 3000 3000 3000 Tambahan Kebutuhan Lahan Untuk Prasarana (M2) Cibeunying Tegallega Karees Ujung Gede Berung Bage 18530 16660 18020 24310 13770 75900 67100 73700 97900 55000 69000 60000 69000 90000 51000 69000 60000 69000 90000 51000 10000 0 2200 1500 8800 4400 13200 3000 2000 12000 3000 3000 3000 10000 0 2000 1500 7800 4000 11700 3000 2000 12000 3000 3000 3000 0 0 2200 1500 8600 4400 12900 3000 2000 0 3000 3000 3000 0 3000 2800 2000 11400 5600 17100 4000 2000 0 4000 4000 4000 0 0 1400 1000 6400 2800 9600 2000 2000 0 2000 2000 2000 Kota Bandung 109310 44330 408000 408000 20000 3000 12800 9000 51600 25600 77400 18000 12000 24000 18000 18000 18000 Kesehatan Peribadatan Sumber : RTRW Kota Bandung (2004-2013) II .6 Jumlah Luas Lahan Tambahan Kebutuhan Fasilitas Wilayah Pengembangan Tahun 2013 Jenis Fasilitas Pendidikan TK SD SLTP SLTA Akademik Rumah Sakit C Rumah Sakit Poliklinik Puskesmas Posyandu Apotik Langgar/Mushola Mesjid Lingkungan Mesjid Raya Mesjid Raya Gereja Vihara Pura Standar Luas (M2) 170 1.000 1.000 3.000 2.8 .000 10.000 200 500 200 400 300 1.000 1.26 Tabel 2.000 12.000 1.000 3.100 3.

000 750 Bojonegara 0 0 1 106 1 1 427 43 3 1 3 3 8.7 Jumlah Luas Lahan Tambahan Kebutuhan Fasilitas Wilayah Pengembangan Tahun 2013 (Lanjutan) Jenis Fasilitas Perekonomian Pusat Perbelanjaan Pusat Perbelanjaan Pasar Toko Bank Gedung Bioskop Taman Taman Taman Taman Gedung Olahraga Gedung Pertunjukan Terminal Transit Standar Luas (M2) 36.000 10.000 10.000 24.000 100 3.9 .000 0 Jumlah Prasarana Yang Dibutuhkan (Unit) Cibeunying Tegallega Karees Ujung Gede Berung Bage 0 0 0 1 0 0 1 110 1 1 439 44 3 1 3 3 0 0 1 98 1 1 391 39 3 1 3 3 0 0 1 106 1 1 426 43 3 1 3 3 0 1 1 143 1 1 572 57 4 1 4 4 0 1 1 80 1 1 321 32 2 1 2 2 0 Kota Bandung 1 2 6 643 6 6 2576 258 18 6 18 18 0 Bojonegara 0 0 1000 10600 0 3000 106750 53750 27000 24000 2250 0 0 Tambahan Kebutuhan Lahan Untuk Prasarana (M2) Cibeunying Tegallega Karees Ujung Gede Berung Bage 0 0 0 36000 0 0 10000 11000 0 3000 109750 55000 27000 24000 2250 0 0 0 10000 9800 0 3000 97750 48750 27000 24000 2250 0 0 0 10000 10600 0 3000 106500 53750 27000 24000 2250 0 0 10000 10000 14300 0 3000 143000 71250 36000 24000 3000 0 0 10000 10000 8000 0 3000 80250 40000 18000 24000 1500 0 0 Kota Bandung 36000 20000 60000 64300 0 18000 644000 322500 162000 144000 13500 0 0 Rekreasi/ Taman/ Olahraga Transportasi Transportasi Sumber : RTRW Kota Bandung (2004-2013) II .250 9.000 250 1.27 Tabel 2.

2008 1 2 3 4 5 6 7 8 9 II .47 Kolam 39.1. maka sebagian besar lahan di Kota Bandung (55. Penggunaan untuk kegiatan-kegiatan jasa sekitar 10% dan masih ada lahan sawah sekitar 20.290. Dengan pengembangan tersebut.3 PENGGUNAAN LAHAN Sebagai salah satu kota yang penting dan berpenduduk relaif padat.10 .90 lainnya 649. Pembebasan Lahan.22 Jumlah 16. baik yang direncanakan oleh Pemerintah Kota maupun oleh pihak swasta. Upaya menyeimbangkan aktivitas dalam ruang wilayah Kota Bandung. Untuk pembangunan yang akan dilaksanakan oleh pihak swasta Pemerintah Kota Bandung sudah mengeluarkan Persetujuan Prinsip untuk pembangunan kawasan komersial di kawasan Pusat Primer tersebut.8 Penggunaan Lahan di Kota Bandung Tahun 2008 No. Terminal Terpadu dan Retension Pond di kawasan pusat primer Gede Bage.28 Jasa 1.83 Sawah 3.054. hal ini yang terus di usahakan dalam rangka pengembangan kawasan Bandung Timur adalah mengurus perjanjian pembukaan akses tol Gede Bage. Tabel 2.00 Sumber : Badan Pertanahan Kota Bandung.57 Tanah Kosong 545. Pelaksanaan pembangunan Stadion Utama yang didukung dengan kegiatan pendukungnya terus dilaksanakan.730.49 Tegalan 318.70 Kebun Campuran 215.5%) digunakan sebagai lahan perumahan.54 Industri 647. diharapkan akan Dicapai daya dukung lingkungan yang kebih baik dan berkesinambungan 2. Guna Lahan Luas Area (Ha) Perumahan 9. hal ini tentunya akan mempercepat pelaksanaan pembangunan Kawasan Bandung Timur dan sekitarnya. selain itu pemerintah terus melakukan pematangan rencana pembangunan PLTSa. dilakukan dengan mendorong Pengembangan Gedebage di bagian Timur Kota Bandung.1% pada tahun 2008. Perencanaan DED (Detail Enginering Desain) dan Amdal Stadion Utama terus dilaksanakan).668.28 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Pelaksanaan pembangunan Kawasan Bandung Timur sebagaimana arahan Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Bandung terus di pacu. (Pembangunan Jalan Akses.

Berbagai masalah lingkungan muncul diantaranya: penurunan air tanah.29 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Perumahan Saw ah Jasa Industri Lainnya Tanah Kosong Tegalan Kebun Campuran 3. Berbagai aktivitas tersebut pada akhirnya memberikan tekanan berat pada kondisi fisik alam Kota Bandung. ketidakseimbangan kegiatan antar wilayah dan lain sebagainya.5 Kolam 0. masalah sampah yang belum dapat ditangani secara optimal. namun juga bagi Bandung Raya. sarana dan prasarana semakin meningkat seiring dengan peningkatan jumlah penduduk dan aktivitasnya. Permasalahan lingkungan fisik alam tersebut pada dasarnya bukan hanya tantangan Kota Bandung saja.5% wilayah Kota Bandung adalah kawasan terbangun. tuntutan kebutuhan air bersih. II . kebutuhan pemukiman.9 1. luas lahan terbuka yang berfungsi lindung sangat sedikit dan terancam keberadaannya. yaitu meliputi Wilayah Kabupaten Bandung.1 55. Karena tu untuk penanganan masalah dan pemenuhan kebutuhan di Kota Bandung memerlukan sinergitas dengan Kabupaten-Kota di Bandung Raya. penurunan kualitas air tanah. kualitas udara menurun. kenyamanan. Kabupaten Bandung Barat dan Kota Cimahi.1 Struktur Penggunaan Lahan di Kota Bandung Tahun 2008 Kota Bandung dalam lingkup Bandung Raya adalah salah satu pusat berbagai jenis aktivitas penting di Jawa Barat maupun Indonesia dan sekitar 73. Pada situasi menghadapi berbagai masalah fisik alam tersebut.11 . suhu udara yang semakin meningkat.2 0 20 (Persen) 40 60 Grafik 2. ketuntasan penanganan sampah. ruang terbuka hijau.3 1. kualitas udara yang baik.9 3.3 10 20. Permasalahan di salah satu wilayah tersebut dapat membawa dampak pada wilayah lainnya.8 3.

30 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Upaya menyeimbangkan aktivitas dalam ruang wilayah Kota Bandung. jaringan jalan sekunder (lalu lintas perkotaan).12 . Tekanan jumlah penduduk dan ketidak seimbangan sebaran penduduk. sekitar 5. sehingga pada masa 10-20 tahun mendatang Kota Bandung menghadapi ancaman masalah ketersediaan air dan penurunan kualitasnya. Selain itu ada sarana perhubungan rel kereta api dan perhubungan udara komersial di Bandara Husein Sastranegara.236. sehingga dari 10.1.38 km). diharapkan akan dicapai daya dukung lingkungan yang kebih baik dan berkesinambungan Daya dukung dan daya tampung Kota yang sudah mengalami penurunan drastis.875 ha lahan budidaya tersisa.56 km. atau ketidak sinambungan antara kapasitas jalan dan volume kendaraan.4 SARANA DAN PRASARANA 1. jalan raya di Kota Bandung. Masalah jalan di Kota Bandung saat ini dan kemungkinan besar akan berlanjut dalam jangka panjang adalah tingkat pelayanan rendah.48 km (Jalan Nasional 33. Kondisi jalan secara umum adalah baik namun beberapa masih belum mantap atau kondisi sedang dan bahkan rusak. Terjadi alih fungsi lahan untuk permukiman dan perdagangan secara cepat. Jalan Propinsi 17. Sebagai sarana utama. Terjadi penurunan muka air tanah. Jalan rel juga memiliki peran dalam pergerakan manusia dan barang di Kota Bandung. Saat ini Kota Bandung masuk dalam kategori titik kritis tinggi 2. yang terdiri dari jaringan jalan primer (lalu lintas regional dan antarkota). Jalan Kota 1185. Jawa Barat dan Jawa Tengah dan tersambung pada system jalan tol yang mempermudah akses pusat ekonomi nasional (Jakarta) menuju Bandung. karena umumnya jalan-jalan di Kota Bandung relative sempit. Sarana jalan kereta api menghubngkan Bandung dalam system perhubungan Pulau Jawa serta perhubungan Bandung dan sekitarnya. Dengan pengembangan tersebut.54 km. dilakukan dengan mendorong Pengembangan Gedebage di bagian Timur Kota Bandung. II .019 ha harus diarahkan untuk RTH. Jalan di Kota Bandung terhubungan dengan system jalan Jakarta. Infrastruktur Perhubungan Sarana jalan raya adalah bagian dari sistem perhubungan utama di Kota Bandung. Panjang Jalan di Kota Bandung pada akhir tahun 2008 adalah sekitar 1. Polusi udara yang berasal dari kendaraan bermotor semakin tinggi. Kebutuhan ruang Terbuka Hijau 30% sebagai batas minimum belum terpenuhi.

Namun kapasitas bandaranya relative terbatas dalam menampung pesawat ukuran besar. Sampah ) Sebagian besar wilayah Kota Bandung sarana air kotor masih bercampur dengan saluran drainase pada saluran terbuka. Sumber air bersih yang digunakan adalah sungai (air permukaan) dan artesis (air tanah dalam). 2. Volume sampah Kota Bandung mencapai 7. II . Drainase. Sarana Lingkungan ( Sanitasi. misalnya oleh sampah domestic. Jumlah pelanggan air bersih di Kota Bandung sebanyak 144. Sampah di Kota Bandung adalah menjadi bagian dari system persampahan regional yang meliputi pula daerah sekitarnya. Terlebih lagi dengan perkembangan lokasilokasi usaha yang tdak teratur dan pertumbuhan kendaraan yang sangat tinggi. Secara umum kondisi perhubungan Kota Bandung saat ini menghadapi masalah serius dan semakin menjadi besar di masa dating bila tidak dilakukan terobosan penting.000 jiwa dengan area layananBandung Timur dan Bandung Selatan System drainase yang ada terbangun secara apa adanya dan sebagian besar berupa system drainase jalan. Tragedi besar terjadi di TPA Leuwigajah Kota Cimahi sangat memperngaruhi masalah persampahan di Kota Bandung dan patut menjadi perhatian besar bagi pengelolaan sampah di masa depan. System drainase di masa depan perlu direncanakan secara komprehensif. Sangat dibutuhkan system angkutan umum masal. dengan sungai utama adalah Sungai Cikapundung (panjangnya 28 km dan yang masuk Kota Bandung 15. PDAM juga menggunakan 19 sumur bor produksi yang dipompakan ke reservoir. membelah Kota Bandung dari utara ke selatan. Kapasitas produksi PDAM rata-rata sebesar 2. Gangguan fungsi drainase mikro sering terjadi juga akibat gangguan fungsi drainase jalan. sehingga beberapa daerah rawan banjir dan genangan.31 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Bandar Udara Husein Sastranegara melayani penerbangan domestic dan internasional. 3. Air limbah diolah oleh satu unit Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Bojongsoang dengan kapasitas 400.200 liter/detik dengan persentase kehilangan air bersih rata-rata per tahun 47%. PDAM menggunakan 10 mata air utama yang terletak di daerah Ledeng.500 m3/hari yang sebagian besar adalah sampah perumahan dan fasilitas umum.309 sambungan langsung dengan cakupan pelayanan sekitar 53%.5 km) dengan 9 anak sungai. Produksi sampah tersebut tidak seimbang dengan kemampuan penanganan sehingga masih banyak sampah yang tidak terangkut. Sekitar 30% ruas jalan belum memiliki saluran drainase. System drainase makro pada umumnya alamiah terdiri dari 46 sungai. Air Minum ( Air Bersih ) Pada umumnya kebutuhan air minum dan air bersih dipenuhi dengan pengeboran rumah tangga dan sebagian dilayani oleh PDAM.13 .

14 . 16 akademik. 33 Sekolah Tinggi. (Sumber Bandung Dalam Angka Tahun 2007). 13 politeknik. khususnya terhubung dengan grid Jawa-Bali. antara lain melalui Role Sharing antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Propinsi.Cisangkuy) dan Bengkok (S. di masa dating jelas sekali akan meningkat layanan energi listrik ini patut mendapat perhatian agar seimbang dengan dorongan pertumbuhan kegiatan masyarakat di Kota Bandung. Sebagai Pusat Pendidikan.32 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 4. Untuk Kota Bandung seluruh wilayahnya sudah terlayani dengan alira listrik. 250 SMP/MTs dan 245 SMA/SMK/MA yang terbesar di 30 Kecamatan. Salah satu kebutuhan lain yang besar di masa dating adalah penyediaan backbone untuk cybercity yang harus direncanakan dengan baik dengan melibatkan stakeholder. Pangalengan (S. dimana hal ini akan mempengaruhi kualitas penyelenggaraan pendidikan di Kota Bandung. Berbagai upaya telah dilaksanakan Kota Bandung dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas di Kota Bandung. Dalam era komunikasi nir kabel.Cikapundung). Cikalong. sarana prasarana pendidikan. Sementara untuk Perguruan Tinggi Swasta (PTS) sebanyak 78 yang terdiri dari : 14 Universitas. di antaranya dengan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Saguling (S. 3 Sekolah Tinggi dan 2 Politeknik. Sarana Pendidikan Sebagai Kota Pendidikan. dengan munculnya sekolah favorit dan sekolah yang kurang peminatnya sehingga harus merger. maupun ketenagaan pendidikan. diantaranya upaya untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas pendidikan. Pada sarana energi listrik. semua wilayah di Kota Bandung dapat dijangkau oleh sarana telekomunikasi. Jumlah Perguruan Tinggi Negeri (PTN) sebanyak 8 buah yang terdiri dari : 2 Universitas. 1 Institut. karena Kota Bandung memiliki kualitas yang baik dibanding dengan daerah sekitarnya. Kota Bandung selalu menjadi tujuan utama para pelajar untuk mengenyam pendidikan. Dapat dikatakan hamper tidak ada masalah dalam telekomunikasi di Kota Bandung. Lamajan. Kota Bandung memiliki 602 TK/RA. Akan tetapi penyebaran Lembaga Pendidikan tersebut tidak merata baik dari sisi kuantitas maupun kualitas. dan diharapkan di masa depan kualitas layanan semakin baik dengan harga rata-rata yang semakin turun. akan tetapi kondisi sarana prasarana pendidikan belum memadai. II . Telekomunikasi dan Listrik Media telekomunikasi dan energi listrik di Kota Bandung dilayani melalui system nasional. Pengembangan telekomunikasi Kota Bandung sangat terkait dengan perkembangan eksternal bisnis ini. 5. Kota Bandung memiliki cukup banyak Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang telah memiliki reputasicukup baik pada skala internasional maupun regional.Citarum). 2 Institut. Sampai dengan tahun 2008. Pelayanan energi listrik di Kota Bandung cakupannya sudah sangat luas dengan pola jaringan jalan dan berupa sistem jaringan udara. Stabilitas dan kuantitas yang ada berkaitan dengan ketersediaan listrik Jawa Bali.

730 2. 16 Puskesmas diantaranya memiliki gawat darurat serta 13 Puskesmas Keliling. Praktek Dokter Gigi 583 Orang.049. Pada tingkat SLTP jumlah anak yang bersekolah relative banyak bila dibandingkan dengan daya tampung sehingga rasio per kelas melebihi 40 siswa. Tingkat pelayanan pendidikan dapat dilihat dari rasio siswa per kelas. Praktek Dokter Umum 1. Praktek Bidan s II . SLTA sebanyak 37 orang. karena kebutuhan bidang ilmu yang semakin spesifik. 5 diantaranya adalah Puskesmas dengan tempat perawatan untuk persalinan. SLTP sebanyak 47 orang.33 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Hal ini dapat dilihat pada table berikut: Jenjang pendidikan TK/RA SD/MI SMP/MTS SMA/SMK/MA Jumlah Ruang Kelas 1.531 2. di masa dating patut diperhatikan mengenai sebaran sarana pendidikan dan penataan kawasan pendidikan. Sarana Kesehatan Sarana Kesehatan Kota Bandung sampai dengan tahun 2008 adalah Puskesmas 71 buah. Pada tingkat SLTA. Hal ini dapat mengurangi pergerakan penduduk khususnya siswa/mahasiswa agar lebih efisien dan tidak terlalu lama dalam perjalanan menuju lokasi belajar.567 Orang. terbanyak adalah Guru sekolah dasar dan guru SLTA. 6. Rasio guru per sekolah semakin meningkat bila jenjang pendidikan semakin tinggi. Rasio guru per sekolah tingkat SLTA adalah sebanyak 33 Orang. rasio ini semakin menurun.014 5.157 243 224 Kondisi Ruang Kelas Rusak Sedang 241 28 18 Rusak Berat 268 29 6 Rusak Total 30 17 2 Kebutuhan RKB 5 597 143 43 Dari kondisi tersebut. Perlibatan masyarakat dalam penyediaan dan pengembangan sarana pendidikan juga dapat menjadi alternative penting. karena relative banyak yang tidak melanjutkan studi. Kota Bandung memiliki Guru sebanyak 26.801 Rusak Ringan 1. rasio siswa per kelas sebanyak 35 orang. Sarana Pelayanan Kesehatan lainnya adalah Rumah Sakit 31 buah. Dalam hal ketenagaan pendidikan. Pada tingkat taman kanak-kanak.15 . SD sebanyak 40 orang.

34
RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013

811 Orang, Praktek Dokter Spesialis 137 Orang, Balai Pengobatan Swasta 512 buah, Laboratorium Klinik 88 buah, Apotek sebanyak 493 buah dan Rumah Bersalin 51 buah. Dari 31 Rumah Sakit tersebut, 11 diantaranya milik Pemerintah, yaitu RSHS, Rumah Sakit Dr. HA Rotin Sulu, RSK Jiwa Pusat, RS Mata Cicendo Milik Depkes, RSU Santika Asih Milik Polri, RSU Salamun Milik TNI AU, RSU Sari Ningsih Milik TNI AD, RSUD Ujungberung, RSKAI Astana Anyar dan RSKGM milik Pemerintah Kota Bandung, serta RSKGM miliki Depdiknas. Sedangkan Rumah sakit Swasta berjumlah 20 buah, yaitu RS Rajawali, RS Kebonjati, RS Adven, RS Boromeus, RS Bungsu, RS St Yusuf, RS Muhamadiyyah, RS Imanuel, RS Al Islam, RS Santosa, RSK Jiwa Hurip Waluya, RSK Ginjal, RSK Bedah Halmahera, RSIA Hermina, RSIA Melinda, RSIA Teja, RSB Limyati dan RSB Ema Puradireja. Dengan demikian sarana kesehatan Kota Bandung harus sudah mampu menyediakan pelayanan kesehatan yang sesuai dengan permasalahan kesehatan spesifik khas perkotaan. 7. Sarana Ekonomi Sarana ekonomi di Kota Bandung, khususnya untuk perdagangan dan jasa memiliki jenis beragam dan tumbuh dengan pola alamiah. Karena pertumbuhannya yang alami dan mengikuti kecenderungan pasar, maka beberapa pusat perdagangan skala besar dibangun dalam jarak terlalu dekat atau justru bersaing dengan pasar yang sudah ada. Usaha ritel dan grosir sudah menjadi tidak jelas lagi, sehingga persaingan dapat dikatakan kurang sehat. Toko-toko kecil sudah semakin terdesak oleh jaringan pertokoan besar dan pasar tradisional semakin terfokus pada produk-produk pertanian primer (perishable goods). Situasi seperti ini ekonomi makro Kota Bandung dapat memunculkan potensi crowding out investasi, artinya investasi satu kegiatan tergeser oleh persaingan padahal belum mencapai titik keuntungan. Hal ini juga dapat menjadi salah satu pemicu kenaikan biaya-biaya ekonomi di Kota Bandung. Untuk itu pada perekonomian Kota Bandung diperlakukan aturan yang jelas dan tegas agar persaingan usaha menjadi lebih sehat dan produktif. 8. Sarana Peribadatan Mayoritas penduduk Kota Bandung beragama Islam, sehingga jumlah masjid mencapai 2.177, jumlah Gereja 131, pura 3, dan vihara 22. Perkembangan lokasi peribadatan ini juga terkadang tumbuh dengan kurang direncanakan. Terlebih pada tempat ibadah tertentu yang skalanya nasional maupun regional sering menyedot pengunjung sehingga berdampak pada kemacetan lalu lintas. Berkembangnya fasilitas peribadatan dengan pesat tanpa hirarki dan distribusi yabf baik menyebabkan fasilitas peribadatan kurang dimanfaatkan secara optimal.

II - 16

35
RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013

9. Sarana Ruang Terbuka Hijau dan Pemakaman Umum Ruang Terbuka Hijau (RTH) adalah bagian penting dari ekosistem perkotaan. RTH adalah ruang-ruang dalam kota atau wilayah yang lebih luas dalam bentuk area/kawasan maupun dalam bentuk area memanjang/jalur di mana dalam penggunaannya lebih bersifat terbuka (tanpa bangunan). RTH meliputi taman kota, taman wisata alam, taman rekreasi, taman lingkungan perumahan dan permukiman, taman lingkungan perkantoran dan gedung komersial, taman hutan raya, hutan kota, hutan lindung, benteng alam, cagar alam, kebun raya, kebun binatang, pemakaman umum, lapangan olahraga, lapangan upacara, parkir terbuka, lahan pertanian perkotaan, jalur di bawah listrik tegangan tinggi, sempadan sungai, pantai, bangunan, median jalan, rel kereta api, pipa gas dan pedestrian, kawasan jalur hijau dan taman atap (roof garden). Kota Bandung yang disebut dengan Kota Bunga, Paris Van Java dahulu dikenal memiliki desain kota yang indah dan memiliki banyak taman atau ruang terbuka hijau. Saat ini Kota Bandung memilikibeban berat untuk mengembalikan kebanggaan tersebut. Pada beberapa tahun terakhir terus digalakkan optimalisasi Ruang Terbuka Hijau (RTH) dalam bentuk taman kota. Perkembangan luas RTH Kota Bandung pada tahun 2006 seluas 1.314,20 ha (7,85%) mnjadi 1.466,13 ha (8,76%) di tahun 2007. perkembangan luas RTH di Kota Bandung tamak pada tabel berikut,

Tabel 2.10. Perkembangan Ruang Terbuka Hijau Taun 2006-2007 JENIS Taman Kebun bibit Pemakaman RTH lahan Kritis Jumlah 2006 Luas 120.95 1.69 141.06 1,050.51 1,314.20 % 0.72 0.01 0.84 6.28 7.86 2007 Luas 129.45 1.69 145.50 1,189.50 1,466.13 % 0.77 0.01 0.87 7.11 8.76

Sumber : Badan Pertanahan Kota Bandung, 2008

Sesuai dengan RTRW Kota Bandung (Peraturan Daerah Nomor 03 tahun 2006) pada tahun 2013 Kota Bandung diharapkan memiliki luas RTH sebesar 10%, dan sesuai dengan RPJPD Kota Bandung (Peraturan Daerah Nomor 08 tahun 2008) luas RTH Kota Bandung pada tahun 2025 mencapai 30% yang terdiri dari 20% RTH Publik dan 10% RTH Privat. Tempat pemakaman Umum di Kota Bandung sebanyak 13, yaitu TPU Muslim, TPU Kristen, Serta TPU Hindu dan Budha yang tersebar yang tersebar di 6 bagian wilayah kota dengan luas total sebesar 124.000 m2 . Dengan jumlah populasi yang demikian besar, maka di masa depan pemakaman umum termasuk masalah yang besar.

II - 17

36
RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013

Berdasarkan definisi ruang terbuka hijau tersebut, relatif masih ada peluang untuk mewujudkan RTH di Kota Bandung. Tidak kurang dari 16, jenis yang menjadi potensi RTH Kota Bandung. Tidak kurang dari 16 jenis, yang menjadi potensi RTH Kota Bandung : Taman Kota, Taman Rekreasi, Taman Lingkungan Perumahan dan Permukiman, Taman Lingkungan Perkantoran dan Gedung Komersial, Hutan Kota, Kebun Binatang, Pemakaman Umum, Lapangan Olah Raga, Lapangan Upacara, Parkir Terbuka, Lahan Pertanian Perkotaan, Jalur Dibawah Tegangan Tinggi (SUTT dan SUTET), Sempadan Sungai dan Sempadan Bangunan, Jalur Pengaman Jalan, Median Jalan, Rel Kereta Api dan Pedestrian, Kawasan dan Jalur Hijau, Daerah Penyangga (Buffer Zone), Lapangan Udara Husein Sastranegara dan Taman Atap (Roof Garden). 10. Sarana Seni, Olah Raga dan Pariwisata Seni yang berkembang di Kota Bandung memiliki variasi besar, yaitu mulai dari seni tradisional sampai moderen. Sarana seni yang menampung kegiatan seni tersebut dapat saling bergantin, diantaranya adalah sejumlah lapangan terbuka yang menjadi pilihan untuk kegiatan seni skala besar misalnya Lapangan Gasibu dan Tegallega. Selain itu juga terdapat sejumlah gedunggedung seni yang dapat dimanfaatkan, baik milik pemerintah maupun swasta. Galeri –galeri seni pribadi juga banyak terdapat di Kota Bandung. Sarana seni di Kota Bandung di antaranya adalah museum (6 unit), gedungpertunjukan (12 unit), galeri (28 unit), gedung bersejarah (637 unit). Sarana olahraga di Kota Bandung terdiri dari lapangan indoor dan outdor, yaitu kolam renang (13 unit), pusat bilyar (49 unit), bowling (4 unit), stadion (6 unit), pusat kebugaran (9 unit) dan lapangan golf serta lapangan umum yang dapat digunakan oleh masyarakat. Srana pariwisata dan rekreasi di Kota Bandung ragamnya sangat besar. Pada dasarnya banyak hal yang dapat dijadikanobjek wisata Kota Bandung, baik obyek wisata alam, sejarah, buatan, moderen, basis kreatifitas dan lain sebagainya. Seluruh obyek dan sarana tersebut sebaiknya menjadi paket wisata menarik yang dan menjadi obyek yang utuh, sehingga setiap sisi Bandung dapat menjadi obyek wisata yang menarik. Perkembangan pariwisata Kota Bandung didukung keberadaan hotel (170 unti), restoran (123 unit), rumah makan (440 unit), biro pelayanan wisata (116 unit), agen wisata (12 unit), penyelenggara wisata (4unit), lembaga pendidikan wisata (16 unti), hiburan lingkungan seni dan budaya (367 unit), galeri (25 unit) dan bioskop (9 unit).

Sebagai salah satu kota terpenting di Indonesia, di Kota Bandung relative tersedia banyak sarana public (lengkap). Permasalahan yang kerap terjadi adalah pada daya dukung sarana transportasi terhadap segala kegiatan di berbagai sarana public tersebut. Sarana perhubungan dapat menjadi ancaman in-efisiensi pergerakan aktivitas penduduk di Kota Bandung pada masa yang akan dating. Ketersediaan ruang terbuka hijau terus diupayakan agar kota menjadi nyaman sekaligus diharapkan dapat memperbaiki ketersediaan air tanah di Kota Bandung.

II - 18

Kegiatan pada tahap pra bencana ini sangatlah penting karena apa yang sudah dipersiapkan pada tahap ini merupakan modal dalam menghadapi bencana dan pasca bencana. Menurut UU No. serta (4) mengurangi kerusakan infrastruktur utama. serta peringatan dini.5 MITIGASI BENCANA Kota Bandung sebagai daerah hunian yang memiliki kepadatan. (2) mengurangi penderitaan manusia. saat dan sesudah terjadi bencana. ayat (9). pada tahap pra bencana masih sangat terbatas pada tahap pencegahan. dan rekonstruksi. baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana” Secara umum. Kegiatan pra bencana yang mencakup kegiatan pencegahan. di dalam praktek penanggulangan bencana masih ditekankan pada saat serta pasca terjadi bencana. Secara umum kegiatan manajemen bencana dibagi kedalam tiga kegiatan utama yaitu : 1. pada sebelum. 3. Kegiatan pasca bencana yang mencakup kegiatan pemulihan. rehabilitasi. 2. baik bencana alam (Natural disaster) maupun non alam (Man-made disaster). seperti kegiatan search and rescue (SAR). “Mitigasi bencana adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana. dikenal dengan istilah Mitigasi atau penjinakan/peredaman. Manajemen bencana sendiri merupakan seluruh kegiatan yang meliputi aspek perencanaan dan penanggulangan bencana. mitigasi. dan secara alami dilewati oleh patahan gempa (sesar lembang) serta struktur bebatuan dan tanah kota bandung sangat labil terhadap gempa. Sementara itu. bantuan darurat dan pengungsian.19 . Kegiatan saat terjadi bencana yang mencakup kegiatan tanggap darurat untuk meringankan penderitaan sementara. 24/2007 tentang Penanggulangan Bencana. dalam prakteknya mitigasi dapat dikelompokkan ke dalam mitigasi struktural dan mitigasi non struktural berhubungan dengan usahausaha pembangunan konstruksi fisik. Manajemen bencana ini bertujuan untuk (1) mencegah kehilangan jiwa. kesiapsiagaan. persentase kerapatan bangunan yang cukup tinggi. Selama ini.37 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 2. (3) memberi informasi masyarakat dan pihak berwenang mengenai risiko. sementara mitigasi non struktural antara II . harta benda dan kehilangan sumber ekonomis. pasal 1.1. Oleh karena itu perlu diupayakan langkah-langkah strategis untuk melindungi setiap warga dengan melakukan manajemen bencana. Kegiatan pada tahap sebelum terjadinya bencana. merupakan kawasan yang sangat rentan terhadap kejadian bencana.

termasuk kesiapan dan tindakan-tindakan pengurangan resiko jangka panjang. Bencana Non-Alam (Manmade disaster). 12.259 M3 menjadi 2.599. Bencana Alam a. 3. Jumlah korban sebanyak 524 jiwa. Penurunan kurang lebih 69%. Tingkat kerugian pada tahun 2008 mengalami penurunan dari Rp.1 % dibandingkan pada tahun 2007 sebanyak 168 kali.746. Terjadi penurunan kurang lebih 16. Angin Putting Beliung Volume kejadian sebanyak 1 kali. Penggunaan air untuk memadamkan api pada tahun 2008 mengalami penurunan dari 3. Longsor Volume kejadian (skala kecil) sebanyak 2 kali.20 .235. Adapun data kasus demam berdarah yang telah terjadi di wilayah Kota Bandung dari tahun 2004 sampai dengan tahun 2008 adalah sebagai berikut : II . juga kejadian bencana luar biasa lainnya yang bisa ditimbulkan oleh sumber penular lainnya. b. Penurunan kurang lebih 56.700. Bencana Non-Alam Volume kejadian Kebakaran sebanyak 141 kali. Wabah Penyakit Menular a. Demam Berdarah Disamping potensi mitigasi bencana alam yang telah dijelaskan diatas. dan Wilayah Penyakit Menular. 2.000 pada tahun 2008.078 M3.38 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 lain meliputi perencanaan tata guna lahan disesuaikan dengan kerentanan wilayahnya dan memberlakukan peraturan (law enfocement) pembangunan. Jumlah korban sebanyak 637 jiwa. c. Banjir Volume kejadian sebanyak 3 kali. seperti demam berdarah dan chikungunya. Upaya mitigasi dan tindakan-tindakan antisipasinya adalah syarat mutlak untuk dapat hidup berdampingan dengan bencana yang sering terjadi di Kota Bandung seperti Bencana Alam (Natural disaster). yang berasal dari hewan bisa juga terjadi akibat kepadatan dan kondisi sanitasi lingkugan yang kurang baik akibat kurang kesadaran dan budaya bersih yang belum melekat pada masyarakat sehingga menimbulkan berbagai penyakit. 39. Dengan upaya mitigasi terhadap bencana-bencana tersebut dapat mengurangi resiko-resiko dampak dari suatu bencana yang dilakukan sebelum bencana itu terjadi. dengan tidak ada korban jiwa. Data dan Informasi kejadian bencana di Kota Bandung pada tahun 2008 adalah sebagai berikut : 1.8 %.000 pada tahun 2007 menjadi Rp.

selain penyakit deman berdarah juga timbul penyakit chikungunya.2 GRAFIK KASUS DBD DI KOTA BANDUNG TAHUN 2004 .11 DATA KASUS CHIKUNGUNYA DI KOTA BANDUNG TAHUN 2008 No.589 65 31 69 1 241 26 50 10 21 0 22 Total 2. Data kusus chikungunya yang terjadi di wilayah Kota Bandung pada tahun 2008 adalah sebagi berikut Tabel 2.125 Sumber : Dinas Kesehatan Kota Abndung Tahun 2008 II . 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Bulan Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember Jumlah Kasus 1.21 .2008 1600 1400 1200 1000 800 600 400 200 0 Tahun 2004 Tahun 2005 Tahun 2006 Tahun 2007 Tahun 2008 Januari 119 111 242 523 545 Februari 383 255 326 1220 349 Maret 1418 347 479 956 349 April 364 211 499 446 467 Mei 162 114 309 546 377 Juni 127 355 328 301 305 Juli 46 330 195 184 307 Agustus 103 509 222 154 205 September 32 487 187 106 226 Oktober 31 474 105 84 497 Nopember 58 248 138 113 112 Desember 52 359 159 750 341 Akibat sanitasi yang kurang baik.39 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Grafik 2.

2 SOSIAL KEPENDUDUKAN 2. Kabupaten Bandung. Rabies dan Sapi Gila (Mad Cow). yaitu penyakit hewan zoonosis.43%. Kecamatan Bojongloa Kidul.1 PENDUDUK Penduduk Kota Bandung pada tahun 2007 adalah sebanyak 2. jumlah penduduk Kota Bandung mencapai hampir 2. Mengingat penyakit zoonosis pada hewan dapat menular pada manusia bahkan dapat menyebabkan kematian. Sebagai pusat kegiatan penting. Apabila terjadi kontak langsung antara manusia dengan unggas yang terjangkit virus flu burung akan mengakibatkan sesak nafas.2. maka diperkirakan pada tahun 2013. jumlah Kasus yang terinfeksi 1 Kasus. virus ini mulai menjangkiti unggas pada tahun 2005. demam sama dengan genjala flu biasa namun tidak dapat diobati. sehingga apabila telah terjadi sering dikatakan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB). Bila biaya hidup dan beraktivitas di Kota Bandung semakin kompetitif dan mahal.6 juta jiwa. yaitu di Kelurahan Pajajaran. ada juga penyakit yang ditimbulkan melalui hewan. dan karakter dari setiap bencana secara lengkap merupakan langkah awal dari upaya mitigasi sehingga dalam aspekaspek pembangunan akan memperhatikan kaidah-kaidah kebencanaan. wilayah Kabupaten Sumedang bagian barat serta Kota Cimahi yang dihuni oleh penduduk yang berjumlah besar pula.40 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 b. Penyakit Zoonosis (Flu Burung) Selain wabah penyakit demam berdarah dan chikungunya. Dengan kondisi tersebut. Kelurahan Kebonlega. Tipe virus yang ditemukan di Indonesia adalah H5N1 yang bersifat ganas. Penyakit Flu Burung (Avian Influenza) mulai masuk ke Indonesia termasuk ke Jawa Barat pada tahun 2003.22 . Dengan mengetahui data.4 juta jiwa. Dengan peran sebagai orientasi.340. pertumbuhan penduduk bisa semakin melambat. sedangkan di Kota Bandung. kasus virus flu burung menyerang unggas di 2 Kelurahan. Penyakit Zoonosis tersebut antara lain adalah penyakit Flu Burung. Bandung Barat dan Kota Cimahi pada tahun 2006 dapat mencapai jumlah penduduk 5 jutaan.624 jiwa. Pertambahan jumlah penduduk ini dapat menjadi beban berat apabila secara bersamaan daerah sekitarnya juga terus mengalami pertambahan penduduk. Kecamatan Cicendo dengan jumlah kasus yang terinfeksi 1 Kasus. Rata-rata pertumbuhan jumlah penduduk Kota Bandung antara tahun 2002-2007 adalah sebesar 1. Anthrax. 2. maka pergerakan penduduk antara pusat dan hinterland menjadi bercampur. maka disekitar Kota Bandung berkembang daerah-daerah hinterland seperti Kabupaten Bandung dan Bandung Barat. Jumlah ini tetap mengisyaratkan s II . sehingga realitas jumlah penduduk yang beraktivitas di Kota Bandung cenderung melebihi jumlah penduduk yang teregistrasi. Virus tersebut pada umumnya menyerang unggas namun dapat juga menyerang manusia dan hingga saat ini belum ada obatnya. informasi. hingga mencapai 2. Hal ini perlu mendapat perhatian. Pada tahun 2008.

yaitu Bandung Kulon. Distribusi persentase jumlah penduduk Kota Bandung menurut kecamatan dapat dilihat pada tabel berikut ini : II .4 2. Seluruh jumlah penduduk tersebar di kecamatan yang ada. Bojongloa Kaler. Kiaracondong.9% jumlah penduduk Kota Bandung.23 .2 2 2002 3 4 5 2006 7 8 2009 10 11 12 2013 Grafik 2. menjadi isu penting Kota Bandung di masa datang. Sukajadi dan Cicendo. Cibeunying Kidul.730 ha.000 jiwa atau sekitar 0. sekitar 50% penduduk tinggal di 10 Kecamatan saja. Distribusi jumlah penduduk terbesar adalah Kecamatan Bandung Kulon.6 2. Batununggal. dengan jumlah penduduk sekitar hampir 20.5% dari seluruh jumlah penduduk Kota Bandung. yang rata-rata proporsi jumlah penduduknya mencapai 4%. Dari kecamatan yang ada. maka kepadatan penduduk Kota Bandung pada tahun 2007 adalah 140 jiwa/ha.2 Perkembangan Jumlah Penduduk Kota Bandung Tahun 2007 Dengan luas wilayah sekitar 16.733 jiwa atau mencapai 5. Perkembangan dan kecenderungan pertumbuhan penduduk Kota Bandung Tahun 2009-2013 dapat dilihat pada grafik berikut ini : 2. yaitu mencapai jumlah 120. Kecamatan dengan jumlah penduduk tersedikit adalah Kecamatan Cinambo.41 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Kota Bandung sebagai Kota Penting. namun penduduk yang beraktivitas di dalamnya melakukan komuter dan tinggal di daerah sekitar Kota Bandung. Dalam kondisi ini tetap saja beban bayangan jumlah penduduk yang besar. Andir. Babakan Ciparay. Coblong.

365 KECAMATAN Cicendo Cidadap Cinambo Coblong Gedebage Kiaracondong Lengkong Mandalajati Panyileukan Rancasari Regol Sukajadi Sukasari Sumur Bandung Ujungberung JUMLAH 93.633 86.890 117.529 60.193 38.159 95.492 87.867 70.722 65.24 .353 63.711 100.969 59.725 45.946 27.328 115.742 II .990 73.956 120.694 82.241 108.42 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Tabel 2.137 19.455 34.733 34.305 70.708 67.465 52.753 106.964 107.927 57.518 39.12 Distribusi Penduduk per Kecamatan di Kota Bandung Tahun 2007 (jiwa) KECAMATAN Andir Antapani Arcamanik Astanaanyar Babakan Ciparay Bandung Kidul Bandung Kulon Bandung Wetan Batununggal Bojongloa Kaler Bojongloa Kidul Buahbatu Cibeunying Kaler Cibeunying Kidul Cibiru Sumber : RKPD Tahun 2009 JUMLAH 93.

43
RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013

Bandung kulon Batununggal Kiaracondong Babakan Ciparay Coblong Bojonngloa Kaler Cibeunying Kidul Andir Sukajadi Cicendo Buahbatu Regol Rancasari Astanaanyar Lengkong Bojongloa Kidul Antapani Cinbeunying kaler Ujungberung Arcamanik Mandalajati Cibiru Cidadap Bandung Kidul Sumur Bandung Penyileukan Bandung Wetan Sukasari Gedebage Cinambo 0 1.2 0.9 2 4 1.8 1.8 1.6 1.6 2.1 3 2.9 2.8 2.7 2.6 2.4 3.3 3.2 3.2 3.1 4 3.9 3.8 4.3 4.3 4.2 4.9 4.9 4.9 4.6

5.5 5.3 5.2

6

Grafik 2.3 Distribusi Penduduk per Kecamatan di Kota Bandung Tahun 2007 (%)

II - 25

44
RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013

Selanjutnya penduduk Kota Bandung dapat dianalisis menurut struktur umurnya. Struktur umur ini adalah informasi yang sangat penting karena berkaitan dengan perkembangan persentase kelompok sasaran pembangunan. Misalnya proporsi penduduk pada tingkat pendidikan dasar, menengah, tinggi, remaja, usia kerja (produktif), usia lanjut. Besaran komposisi penduduk ini akan menentukan kebutuhan layanan pada setiap kelompok. Bila dilihat dari struktur usia penduduk Kota Bandung, yang tergolong menonjol adalah usia masa awal usia kerja (25-34 tahun) dan pada usia pendidikan tinggi (20-24 tahun). Pada kedua kelompok ini terlihat pola lonjakan bila dibandingkan dengan usia pendidikan dasar-menangah. Artinya secara normal sebenarnya strukturnya akan semakin menyempit mulai dari usia balita sampai dengan usia lanjut. Lonjakan pada usia tersebut di atas, mengindikasikan bahwa di Kota Bandung terjadi migrasi masuk yang sangat besar, yaitu mahasiswa-mahasiswa yang melanjutkan studinya di Kota Bandung sekaligus tempat mencari kerja pada penduduk usia-usia awal kerja. Struktur seperti ini patut mendapat perhatian, karena kemungkinan akan selalu berulang Antisipasi atas peristiwa seperti ini harus selalu dilakukan dalam mengupayakan pembangunan dan pelayanan publik di Kota Bandung.

70_74 60_64 50_54 40_44 30_34 20_24 10_14 0_4 0 2 4 6 8 10 12

Grafik 2.4. Struktur Umur Penduduk di Kota Bandung Tahun 2007 (%)

II - 26

45
RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013

Penduduk Kota Bandung termasuk didominasi oleh penduduk usia muda, khususnya usia awal memasuki kerja. Masalah penyerapan tenaga kerja menjadi sangat penting dalam jangka pendek dan menengah.

2.2.2

INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA Tujuan pokok pembangunan adalah meningkatkan kesejahteraan manusia (human Welfare). Kesejahteraan pada dasarnya memiliki dimensi yang luas dan beragam. Salam satu indikator kesejahteraan manusia adalah Indeks Pembangunan Manusia (IPM), yang meliputi indikator pendidikan, kesehatan dan daya beli. Sebagai indikator utama pada dasarnya IPM adalah berfungsi sebagai indikator impact, yaitu terbentuk karena banyak aspek pembangunan yang dilakukan. Tabel 2.13. Perkembangan IPM dan Komponennya di Kota Bandung Tahun 2004-2008 TAHUN 2004 2005 2006 2007 2008* IPM 77.17 77.46 77.54 78.09 78.33 INDEKS PENDIDIKAN 88.94 89.18 89.26 89.60 89.70 INDEKS KESEHATAN 79.23 79.27 79.38 80.65 80.97 INDEKS DAYA BELI 63.34 63.93 63.93 64.04 64.27

Sumber BPS (2008) *: Angka Sementara

Pada tahun 2004 IPM Kota Bandung mencapai 77,17 dan sampai dengan tahun 2008 relatif tumbuh sangat lambat. Mengikuti pola tersebut, dapat diproyeksikan IPM sampai dengan tahun 2013. Struktur IPM Kota Bandung bervariasi menurut aspeknya. Indeks Pendidikan adalah indeks tertinggi, sedangkan Indeks Daya Beli adalah indeks terendah. Berdasarkan data yang ada, Indeks Kesehatan adalah indeks yang diperkirakan dapat mengalami pertumbuhan paling cepat. Bila pada tahun 2008 adalah sekitar 80,97 maka ada kemungkinan dapat mengalami peningkatan hingga 91, atau sedikit lebih rendah daripada Indeks Pendidikan pada Tahun 2013. Indeks Pendidikan dan Indeks Daya Beli walaupun mengalami peningkatan, namun peningkatan relatif lambat. Selanjutnya dapat dianalisis tingkat IPM menurut kecamatan. Ada sekitar empat daerah yang s

II - 27

Kiaracondong Cidadap Sukajadi Babakan Ciparay Cibeunying Kidul Rancasari Bojongloa Kidul Astanaanyar Sukasari Sumur Bandung Cibeunying Kaler Batununggal Coblong Regol Andir Lengkong Bandung Kulon Buahbatu Antapani Gedebage Bandung Wetan Cinambo Cibiru Ujungberung Bandung Kidul Arcamanik Bojongloa Kaler Panyileukan Mandalajati Cicendo 74 76 78 80 82 Grafik 2. Kecamatan Panyileukan dan Kecamatan Bojongloa Kaler. Kecamatan Mandalajati. Perbandingan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Menurut Kecamatan di Kota Bandung Tahun 2007 (%) II .28 . yaitu Kecamatan Cicendo.5.46 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 tergolong rendah.

02% kesenjangan ini dapat diakibatkan oleh kemampuan dan pemahaman petugas pengelola KIA tentang manajemen kelangsungan program KIA yang belum optimal. dimana angka tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor.29 . Angka harapan hidup Kota Bandung pada tahun 2008 adalah 73. Cakupan K1 Kota Bandung mencapai 84.47 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 1. definisi operasional yang belum sama antara Rumah Sakit dan program kesehatan. fisik. Kematian ibu maternal dapat dicegah bila cepat dan tepat dalam pengambilan keputusan penanganannya. Angka Kematian Ibu (AKI) pada tahun 2008 yang terlaporkan sebanyak 20 kasus. Angka Kematian Kasar (AKK) yang terdata dari Rumah Sakit selama tahun 2008 sebanyak 3.39 tahun dimana capaian ini dipengaruhi oleh menurunnya Angka Kematian Bayi (AKB) atau menurunnya jumlah kematian bayi dibawah usia satu tahun pada setiap 1000 kelahiran hidup. Angka Kematian Balita (AKABA) atau jumlah kematian anak umur 1-4 tahun per 1000 kelahiran hidup pada tahun 2008 adalah sebanyak 69 anak. AKK juga dapat menjadi dasar dalam menghitung laju pertambahan penduduk walaupun penilaian yang diberikan secara kasar dan tidak langsung. karena kemungkinan masih banyak kasus kematian ibu yang tidak tercatat atau tidak terlaporkan. penyakit infeksi dan kecelakaan. Aspek Kesehatan Aspek Kesehatan yang mempengaruhi IPM adalah Angka Harapan Hidup (AHH). Hal lain yang dapat memperkecil resiko kematian ibu adalah dengan pelayanan berkala meliputi pelayanan K1 dan K4.80%.586 kasus. sedangkan target standar pelayanan minimal kesehatan adalah 95%. AKABA dan AKK. II . Sebagai penyebab langsung kematian ibu yang utama adalah pendarahan (45%) dan lainnya adalah penyebab tidak langsung antara lain keterlambatan merujuk. Kematian neonatal pada usia awal kehidupan merupakan salah satu indikator belum optmalnya manajemen kelangsungan program pelayanan kesehatan ibu dan anak. Dengan demikian masih terdapat kesenjangan sebesar 13.71% sedangkan cakupan K4 mencapai 81. biologis. antara lain AKB. Kematian neonatal pada tahun 2007 berjumlah 186 kasus termasuk 61 kematian yang terjadi dalam kandungan. petugas pencatatan dan pelaporan yang tidak mengetahui secara rinci diagnosis yang ditegakkan petugas medis. AKI. dan dari sisi masyarakat masih banyak ibu hamil yang “pulang kampung” menjelang proses persalinan. AKABA menggambarkan masalah kesehatan anak serta faktorfaktor yang mempengaruhi kesehatan anak balita seperti gizi. sanitasi. Peran swasta yang cukup dominan belum mendukung pelaksanaan program. dimana angka ini dapat digunakan sebagai petunjuk umum status dan kondisi kesehatan di masyarakat yang secara tidak langsung menggambarkan kondisi lingkungan ekonomi. Angka ini belum dapat dikatakan sebagai jumlah seluruh kematian ibu yang terjadi di Kota Bandung. menjadi 181 anak kasus pada tahun 2008.

67%) persentase kelurahan terkena KLB yang ditangani kurang dari 24 jam (24 kelurahan).02%).09%) prosentase sarana kesehatan dengan kemampuan laboratorium kesehatan (28. Aspek Pendidikan Aspek Pendidikan yang mempengaruhi IPM adalah angka Melek Huruf (AMH) dan Rata-rata Lama Sekolah (RLS).039 KK (43. yang memiliki SPAL 57.42%. Capaian Rata-rata Lama Sekolah pada tahun 2008 baru mencapai 10. Posyandu Madya (58. 2. sarana pembuangan air limbah. dan Posyandu Mandiri (3. relevansi dan daya saing.30 .06% dari tahun 2007. akuntabilitas dan pencitraan publik. persentase pekerja yang mendapat pelayanan kesehatan kerja. Posyandu Pratama (9.21%. sehingga Pemerintah Kota Bandung perlu merevisi kembali target capaian rata-rata lama sekolah sampai dengan tahun 2013. Akses dan mutu pelayanan kesehatan dapat dilihat dari prosentase penduduk yang memanfaatkan puskesmas (68.61%. persentase kelurahan yang mencapai Universal Child Immunization (UCI) baru 46 kelurahan (30. persentase ibu hamil yang mendapat tablet Fe (87. serta penguatan tata kelola.56%).46%). serta persentase keluarga miskin yang mendapat pelayanan kesehatan yang baru mencapai 34.19%).17%).66%).8% dan yang memiliki pembuangan sampah 50.66% sedangkan prosentase tempat-tempat umum sehat dilihat dari sarana air bersih tempat pembuangan sampah. dan hal ini akan dituntaskan pada tahun 2009 melalui Program Keaksaraan Fungsional kerjasama Pemerintah Provinsi Jawa Barat dengan Pemerintah Kota Bandung. yang memiliki jamban 60. persentase bayi yang mendapat ASI eklusif (20. Posyandu Purnama (29. prosentase RS yang menyelenggarakan 4 layanan kesehatan spesialis dasar (53. kelompok peningkatan mutu.05%).52 tahun. dengan demikian keberadaan buta aksara masih tersisa sebanyak 849 orang laki-laki dan 1.25%) dan tingkat perkembangan posyandu. Pelayanan kesehatan yang telah dilaksanakan di Kota Bandung. hal ini sangat jauh dari target capaian semula yaitu 12 tahun.50% meningkat 0. persentase murid SD/MI yang mendapat pemeriksaan gigi dan mulut (45%).913 orang perempuan.48 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Keadaan lingkungan yang mempengaruhi kesehatan masyarakat Kota Bandung yang dapat dilihat dari prosentase rumah sehat yang memiliki sarana air bersih 74. Angka Melek Huruf di Kota Bandung pada tahun 2008 sebesar 99.27%) dan rumah sakit (101.46%). ventilasi’ luas ruangan dan system pencahayaan yang memadai.33%) prosentase obat generik berlogo dalam persediaan (116 jenis). dapat dilihat dari persentase persalinan oleh tenaga kesehatan (77. Adapun perilaku sehat masyarakat dilihat dari cakupan rumah tangga yang ber-PHBS sebanyak 273. dimana capaian sangat dipengaruhi oleh berbagai indikator yang dikelompokkan kedalam kelompok pemerataan dan perluasan akses. II .

Akan tetapi jika dilihat dari keberhasilan penyelenggaraan wajib belajar Sembilan tahun. minat. dan kemampuan. Pendidikan tinggi dianggap belum menjanjikan karena tidak relevannya kompetensi/kecakapan lulusan dengan kebutuhan kerja. Jika dilihat dari penduduk usia 16 sampai 18 tahun. APM jenjang Sekolah Menengah Pertama dan yang sederajat telah mencapai 99.13% dari tahun 2007.51% meningkat 6. sehingga masyarakat menjadi apatis untuk berpartisipasi dalam pendidikan.31 . Hal lain yang menjadi penyebab rendahnya APK/APM Perguruan Tinggi adalah adanya sebagian masyarakat yang lebih berorientasi pada Perguruan Tinggi Favourit dan memilih tidak melanjutkan dari pada tidak lulus seleksi.13).91%. dimana capaian angka partisipasi murni tahun 2008 baru mencapai 75. sebagian masyarakat masih memilah-milah studi lanjutan anak tanpa memperhatikan bakat. sehingga lulusan pendidikan menengah lebih memilih bekerja atau pendidikan non formal/kursus/diploma yang dapat membuat mereka cepat bekerja.65% meningkat 1.58% dari tahun 2007.13% meningkat 1. bersekolah di Kota Bandung. sedangkan APK pendidikan menengah (SMA/SMK/MA) baru mencapai 75. karena sesuai dengan fungsinya sebagai kota pendidikan. sehingga masyarakat kurang terdorong untuk menyekolahkan anaknya ke jenjang pendidikan menengah. Kota Bandung telah beberapa kali mendapat penghargaan. Capaian Angka Partisipasi Kasar (APK) tahun 2008 pada jenjang Sekolah Dasar dan sederajat adalah 131. Indeks daya beli yang diperoleh dari II . hal ini antara lain disebabkan oleh mahalnya biaya pendidikan tinggi.80% dari tahun 2007. sedangkan APK pendidikan menengah (SMA/SMK/MA) baru mencapai 98.60% dari tahun 2007.44% meningkat 7. yang dianggap belum menjanjikan karena tidak relevannya kompetensi atau kecakapan lulusan dengan kebutuhan dunia kerja. sehingga sekolah menjadi tidak serius dan akhirnya drop out. sementara anggapan lainnya adalah pendidikan masih dianggap mahal. sehingga keluaran pendidikan tinggi pun masih banyak yang menjadi pengangguran.54%. pada tahun 2008 baru mencapai 22.3% dari tahun 2007 3.16% Meningkat 12. Sedangkan capaian Angka Partisipasi Murni (APM) tahun 2008 pada jenjang Sekolah Dasar dan sederajat adalah 123. banyak usia pendidikan dasar dari daerah sekitar. Lebih jauh jika dilihat dari penduduk usia 19 sampai 24 tahun yang seharusnya telah mengikuti jenjang pendidikan tinggi. Aspek Daya Beli Indeks daya beli masyarakat merupakan salah satu komponen IPM yang mengalami peningkatan (tabel 2.49 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Banyak faktor yang jadi penyebab dari ketidak tercapainya rata-rata lama sekolah 12 tahun sampai tahun 2008. Dilihat dari angka partisipasi kasar maupun angka partisipasi murni telah melebihi target.11% dari tahun 2007. antara lain disebabkan oleh persepsi masyarakat tentang pendidikan. APK jenjang Sekolah Menengah Pertama dan yang sederajat telah mencapai 116.91% meningkat 4.

386 jiwa). Indeks daya beli tahun 2007 mengalami peningkatan sebesar 0.88 sesuai dengan target capaian kinerja tahap-2 yang telah ditetapkan dalam Perda No. adalah Indeks yang relatif rendah. 576. Indeks daya beli yang mengalami peningkatan. masyarakat di daerah rawan bencana (4.-.890. anak jalanan (4. 4. maka programprogram pembangunan yang akan dilaksanakan Pemerintah Kota Bandung pada tahun 2010 diarahkan pada peningkatan daya beli secara bersinergi antar sektor dan lintas sektor dalam rangka pencapaian IPM sebesar 81.27% point atau setara dengan konsumsi per kapita penduduk sebesar Rp.268 Jiwa) dan lain sebagainya.127.821 jiwa).meningkat dari tahun 2005 : 63.041 keluarga).99 pada tahun 2006 menjadi 64.13. Beberapa hal yang cukup menonjol antara lain adalah : II . Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) Kualitas hidup dan kesejahteraan umum Kota Bandung yang ditandai dengan relatif tingginya Indeks Pembangunan Manusia (dalam hal ini pendidikan dan kesehatan). Peningkatan daya beli tersebut masih dibawah standar upah minimum rata tahun 2008 sebesar Rp.000. wanita rawan sosial ekonomi (5.. anak terlantar (6. termasuk kategori tinggi di Jawa Barat. korban narkoba (363 jiwa). Indeks daya beli yang diperoleh dari perhitungan konsumsi perkapita penduduk Kota Bandung pada tahun 2008 (BPS angka sangat sementara) mencapai 64. 939. Rata-rata tingkat kesejahteraan penduduk Kota Bandung yang dihitung berdasarkan IPM. tuna susila (116 jiwa). gelandangan (948 jiwa). anak korban tindak kekerasan (19 jiwa). Indeks daya beli masyarakat merupakan salah satu komponen IPM. anak cacat (484 jiwa).04 pada tahun 2007.001 persen yaitu dari 63. pengemis (4.50 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 perhitungan konsumsi per kapita penduduk Kota Bandung pada tahun 2007 mencapai Rp. tidak serta merta melepaskan Kota Bandung dari berbagai masalah sosial di tingkat mikro. 08 Tahun 2008 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Bandung 2002-2025.62. korban HIV-Aids (1. 576.643 jiwa).-. 577.868 jiwa).– sedangkan tahun 2006 sebesar Rp.93 point atau setara dengan Rp. Daya beli merupakan yang paling kompleks dalam perhitungan dan penentuannya. Berbagai masalah sosial berkembangan di masyarakat pada tahun 2008 adalah balita terlantar (360 jiwa).32 .126 jiwa). 578.07 pada tahun 2013 dengan indeks daya beli 68. keluarga di rumah tidak layak huni (27.sehubungan dengan hal tersebut. walaupun relatif rendah juga memberikan kontribusi yang positif terhadap peningkatan nilai IPM masyarakat Kota Bandung pada tahun 2007.. Indeks daya beli atau ekonomi.

344 116 4.14.288 27. keluarga dengan rumah tidak layak huni dan korban HIV-Aids.386 1. keluarga fakir miskin.429 62 10. pengemis.643 19 4.868 40 2.041 2.277 1. beberapa tantangan masalah sosial Kota Bandung relatif masih sangat besar.161 423 1. Penurunan jumlah anak jalanan.126 948 298 363 84.967 Sumber : Dinas Sosial 2008 Adapun perbandingan peningkatan jumlah PMKS yang ada dan jumlah PMKS yang ditangani masih belum berimbang.527 Jumlah 360 6. Adapun data jumlah Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) di Kota Bandung sampai dengan tahun 2008 yaitu sebagai berikut : Tabel 2. tuna susila.821 239 484 5. gelandangan dan masyarakat yang tinggal di daerah bencana.51 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 • • Peningkatan jumlah anak terlantar.268 358 161. Dengan beberapa kecenderungan tersebut. sehingga diperlukan anggaran yang memadai untuk melaksanakan program dan kegiatan s II . 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 Balita Terlantar Anak Terlantar Anak Korban Tindak Kekerasan Anak Jalanan Anak Nakal Anak Cacat Wanita Rawan Sosial Ekonomi ( WRSE ) Wanita Korban Tindak Kekerasan Lanjut Usia Terlantar Lanjut Usia Korban Tindak Kekerasan Penyandang Cacat Penyandang Cacat Eks Penyakit Kronis Tuna Susila Pengemis Gelandangan Eks Narapidana Korban Penyalahgunaan Napza Keluarga Fakir Miskin Keluarga Berumah Tidak Layak Huni Keluarga Bermasalah Sosial Psikologis Komunitas Adat Terpencil Masyarakat Yang Tinggal Didaerah Rawan Bencana Korban Bencana Alam Korban Bencana Sosial Pekerjaan Migran Korban HIV/AIDS Keluarga Rentan Jumlah Jenis PMKS Satuan Orang Orang Orang Orang Orang Orang Orang Orang Orang Orang Orang Orang Orang Orang Orang Orang Orang KK KK KK Orang Orang Jiwa Jiwa Orang Orang Orang 4.33 . anak nakal. Data Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) Tahun 2008 No.200 1.

pengemis. anak terlantar. Keamanan dan Ketertiban Pertumbuhan penduduk Kota Bandung yang tidak dapat diimbangi dengan penyediaan lapangan kerja bagi semua golongan penduduk dapat menimbulkan berbagai permasalahan sosial dan ekonomi seperti pengangguran.24%. dengan kasus terbanyak pada curanmor roda dua. walaupun sudah ada penurunan dilihat dari angka kriminalitas tahun 2006 mencapai 4. maka kontribusi aktivitas ekonominya menjadi sekitar 23% dari ekonomi Jawa Barat. gelandangan dan kriminalitas adalah berbagai masalah sosial yang mengemuka di Kota Bandung 2. Laju pertumbuhan ekonomi Kota Bandung juga tergolong tinggi.52 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 pembangunan bidang kesejahteraan secara optimal sehingga dalam penanganannya diperlukan koordinasi yang baik antar unsur-unsur terkait baik pemerintah.34 . Secara terinci konstribusi kegiatan ekonomi Kota Bandung dan sekitarnya Ekonomi Jawa Barat dapat dilihat dalam tabel berikut : II . selain kegiatan ronda sebagai wujud penjagaan keamanan komunitas.3 PEREKONOMIAN DAERAH Kota Bandung memiliki peran penting dalam perekonomian Jawa Barat. Sebagai salah satu kota besar dengan berbagai peran di tingkat nasional yang tergolong penting. swasta dan masyarakat. keluarga rawan ekonomi. 5. Respon warga terhadap gelaja ini antara lain nampak dari penjagaan keamanan diri secara sepontan dalam bentuk penutupan akses kawasan-kawasan pemukiman (terutama dari golongan mampu.148 kasus pada tahun 2007. Pada Tahun 2004-2007 konstribusi ekonomi Kota Bandung di Jawa Barat mencapai rata-rata 10%. permasalahan sosial sebagai dampak kemajuan juga terjadi di Kota Bandung.211 kasus. Hal tersebut dapat memicu timbulnya berbagai jenis kriminalitas. kemiskinan. atau di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi Jawa Barat dan bahkan nasional. Tingkat Pertumbuhan yang tinggi tersebut menunjukan bahwa Kota Bandung adalah menjadi salah satu sumber pertumbuhan ekonomi yang penting di Jawa Barat maupun di Indonesia. Pada tahun 2006 tingkat pertumbuhan ekonomi mencapai 7. menjadi 4. dan lain-lain.83% dan diperkirakan pada tahun 2007 mencapai 8. Dalam lingkup Kota Bandung Raya. Seperti halnya kota-kota besar lain di Indonesia. yang sekaligus menimbulkan kesan eksklusivisme. Kota Bandung juga mempunyai angka kriminalitas relatif masih tinggi. penipuan dan penggelapan. Keluarga miskin. pencurian dengan pemberatan (surat).

500 174.73 82. Sebagai pusat pertumbuhan dengan tumpuan pada aktivitas perdagangan dan industri pengolahan.09 2007 8.813 63.890 84.184 15.27 Sumber : BPS Tahun 2008 (Dionlah) II .89 Uraian di atas mengindikasikan bahwa Kota Bandung merupakan kota penting bagi aktivitas ekonomi di Jawa Barat maupun nasional.04 577.432 173.53 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Tabel 2.23 (triwulan 4) 4.29 61. Artinya Kota Bandung menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi dan memiliki banyak kaitan aktivitas ekonomi dengan daerah sekitar dan wilayah lain.074 15.130 83.24 50.337 16.287 175.352.56 3.644 16.441 5.33 4.552.271 64.152.184 19.792.181.616.2008 Indikator LPE PDRB (ADHB) PDRB/Kapita (ADHB) Inflasi Investasi Indeks Daya Beli (IDB) SHL/Kapita Kemiskinan Jumlah Pengangguran Tingkat Pengangguran Terbuka (Rp) RTM Jiwa % Satuan % [Jura Rp] [Rp/Thn] % [juta Rp/Thn] 2005 7.789.658.21 5.53 34. Perkembangan Indikator Makro Pembangunan Kota Bandung Tahun 2005 .620 70.83 43.15.47 2. Bandung Barat Kota Bandung Kota Cimahi Sumber : BPS % 6.419 175.000.48 2008 8.531 5.25 2006 7. sehingga tingkat pertumbuhan ekonominya tergolong sangat tinggi.067 15.35 . adalah sebagai berikut : Tabel 2.569 24.182 22.93 576. Kontribusi Kegiatan Ekonomi Kota Bandung dan sekitarnya terhadap Ekonomi Jawa Barat Tahun 2007 Kabupaten/Kota Kab.552 19.79 2.794.616 64. telah menyatu dengan kehidupan ekonomi. Bandung Kab. Selain LPE.16. Subang Kab.03 1.405. Laju pertumbuhan Ekonomi Kota Bandung dari tahun 2005 hingga tahun 2007 mengalami peningkatan. Peran lain Kota Bandung sebagai salah satu Kota Pendidikan terpenting di Indonesia. beberapa indikator makro yang dapat digunakan untuk menilai keberhasilan pembangunan ekonomi suatu daerah. Kota Bandung juga menjadi salah satu tujuan migrasi tenaga kerja yang cukup besar.604 10.50 10.031 63.99 576.792.

Sejalan dengan jumlah tangga miskin. terjadi Penurunan harga BBM yang mengalami perubahan sebanyak 2 kali.337 jiwa menjadi 175. 40 30 (trilyun Rp) 8. Berfluktuasinya jumlah pengangguran tersebut disebabkan oleh berbagai faktor khususnya untuk akhir tahun 2008. Dari sisi investasi terjadi kenaikan. dari tabel terlihat terjadi peningkatan jumlah pengangguran dari 175. serta menurun lagi menjadi 82. menurun menjadi 83. namun demikian pada saat yang bersaam terjadi krisis keuangan global di Amerika Serikat dan Uni Eropa. tetapi pada tahun 2007 menurun menjadi 174. Tingkat inflasi di Kota Bandung relatif lebih tinggi dibandingkan dengan Kabupaten/Kota lain di Jawa Barat.36 .2 7. Perkembangan PDRD dan Pertumbuhan Ekonomi Kota Bandung Tahun 2001-2007 serta proyeksinya Tahun 2013 Grafik 2.074 jiwa.6. yang meningkat dari 70.287 RTM pada tahun 2006. Perkembangan PDRB dan Pertumbuhan Ekonomi Kota Bandung Tahun 2001-2007 serta Proyeksinya Tahun 2013 6 20 07 8 20 09 20 13 12 2 3 4 5 II .54 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Dari tabel terlihat bahwa PDRB Kota Bandung dari tahun 2005 ke 2008 menunjukan kenaikan yang berarti. yang akan berdampak terhadap kinerja perekonomian Kota Bandung khususnya dan perekonomian Indonesia pada umumnya.6 (persen) 20 10 0 7.664 jiwa pada tahun 2006.500 RTM pada tahun 2007. namun demikian investasi tersebut belum diikuti dengan penyerapan tenaga kerja yang signifikan.5 8. Kecenderungan aktivitas ekonomi Kota Bandung pada beberapa tahun ke depan cenderung positif mengalami pertumbuhan ekonomi yang cukup signifikan.419 RTM pada tahun 2005 menjadi 84.067 jiwa dan diperkirakan menurun lagi menjadi 173. hal ini dapat menunjukkan meningkatnya kegiatan ekonomi.3 7 10 11 20 01 PDRB (kiri) LPE (kanan) Grafik 2.606 RTM.6.9 7.

3. sandang. juga sekaligus menjadi ancaman bagi masyarakat berpendapatan rendah dan menengah.640.8%. Secara terinci kontribusi sektor terhadap PDRB dapat dilihat dalam grafik berikut : Grafik 2. Peningkatan biaya hidup ini selain dapat menstimulasikan kegiatan ekonomi yang memiliki nilai tambah tinggi.20% 10.30% 2.80% 29. misalnya krisis likuiditas di Amerika Serikat dan Eropa.30% 4. Persewaan. inflasi tinggi juga mengancam.. biaya pendidikan.3 Trilyun dengan tingkat PDRB per kapita sebesar Rp.4% dari seluruh kegiatan ekonomi di Kota Bandung. di antaranya adalah dampak aktivitas ekonomi terhadap lingkungan sekitar. Beberapa jenis kegiatan ekonomi mengancam kualitas lingkungan dan kualitas kehidupan melalui berbagai jenis pencemaran.7.000.40% 10. 22. papan. perkiraan jumlah keluarga pra-sejahtera ada kencederungan meningkat. Sektor pengangkutan dan komunikasi memberikan kontribusi sekitar 10. dan Air Bersih Bangunan Keuangan. Gas. dan Jasa Perusahaan Jasa-Jasa Pengangkutan dan Komunikasi Industri dan Pengolahan II . sebagian besar bersumber dari sektor perdagangan. 2. Selain itu ketimpangan pendapatan secara riil tampak nyata. kesehatan dan transportasi meningkat. hotel dan restoran yang memberikan konstribusi sekitar 36. 0.55 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Dalam situasi pertumbuhan ekonomi tinggi dan memiliki prospek yang relatif bagus.30% 36. Biaya-biaya hidup yang meliputi biaya kehidupan pangan. gejolak ekonomi internasional juga dapat menjadi ancaman berarti.90% 5. Selain kondisi ekonomi domestik Kota Bandung. disusul oleh sektor industri pengolahan sekitar 29. Pada jangka panjang. kenaikan biaya-biaya ini dapat mengancam keunggulan kompetitif produk-produk dari Kota Bandung.37 . 51. Akrivitas ekonomi Kota Bandung. maka perekonomian Kota Bandung menghadapi tantangan berat.1 STRUKTUR EKONOMI KOTA BANDUNG Nilai PDRB Kota Bandung pada tahun 2007 adalah sebesar Rp.8% demikian juga dengan sektor jasa-jasa. Dalam situasi pertumbuhan ekonomi yang tinggi pula.80% Pertanian Listrik. Kebutuhan ruang bagi aktivitas ekonomi juga mendesak penggunaan lahan yang lain. Kedekatan kegiatan ekonomi Kota Bandung dengan Jakarta dapat memperpendek efek gejolak ekonomi internasional.Tingkat pendapatan perkapita ini tergolong tinggi bila dibandingkan dengan daerah sekitarnya.

2 PENDAPATAN PERKAPITA Pendapatan perkapita atasdasar harga berlaku. hotel dan restoran. kesehatan serta transport dan komunikasi. 2. 15.3. Inflasi yang tinggi dapat menurunkan tingkat daya saing Kota Bandung 2.604 pada tahun 2008 (BPS : angka sangat sangat sementara) atau rata-rata peningkatan per tahun mencapai 8.3 INFLASI DI KOTA BANDUNG Inflasi merupakan salah satu indikator penting yang dapat memberikan informasi tentang dinamika perkembangan harga barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat. terlihat bahwa kontribusi sektor industri pengolahan terus meningkat tetapi pertumbuhan cenderung menurun. Perkembangan harga barang dan jasa tersebut menjadi salah satu faktor yang dapat mempengaruhi tingkat daya beli. Tahun 2004-2007. dengan sumbangan terbesar dari kelombok bahan dan bahan makanan.16 mengalami peningkatan dari Rp. Inflasi untuk tahun 2006 dan 2007 terjadi penurunan yaitu mencapai 5.56 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Berdasarkan perkembangan data PDRB Kota Bandung. minuman. Sumbangan Inflasi tersebut tetap didominasi oleh kelompok bahan makanan serta kelompok makanan jadi. hal ini disebabkan oleh kenaikan BBM sampai 112% pada tahun 2005.56%. dari tabel 2. 24. sedangkan untuk tahun 2008 sampai dengan triwulan 4. sedangkan perdagangan. Struktur ekonomi Kota Bandung didominasi oleh setor jasa dan industri pengolahan.794. rokok dan tumbuhan. biaya kesehatan dan transportasi. Peningkatan tersebut cukup menjadi dasar untuk memprediksikan bahwa lima tahun kedepan cenderung akan terus meningkat. II .38 . hal ini dipengaruhi oleh krisis keuangan global yang terjadi di Amerika Serikat yang berdampak terhadap perekonomian Indonesia secara umum dan Kota Bandung khususnya.33% dan 5. terus meningkat.23%. Sumbangan Inflasi dari kelompok tersebut mencapai 5.789. Inflasi yang terjadi juga termasuk tinggi.7% atau membentuk lebih dari 50% inflasi Kota Bandung. inflasi meningkat lagi mencapai 2 (dua) digit yaitu 10. bersumber dari bahan makanan. makanan jadi dan rokok. Laju pertumbuhannya juga relatif tinggi bila dibandingkan Jawa Barat dan Nasional.552 pada tahun 2005 menjadi Rp. Tingkat laju inflasi di Kota Bandung pada tahun 2005 mencapai 19. hal ini sesuai dengan fungsi Kota Bandung sebagai kota kolektif dan distributif.3.8 % per tahun.21%.

Oleh karena itu. Esselon.39 . memegang peranan penting dalam pelaksanaan pembangunan ekonomi di Kota Bandung. sampai dengan triwulan 2.4 Trilyun pada tahun 2007. adanya re-organisasi berimplikasi terhadap pengurangan jabatan. 3 rumah sakit daerah.B 32 orang. yaitu 14 Dinas. 3. Saat ini telah dilakukan reorganisasi pemerintah yang diaharapkan dapat meningkatkan kinerja aparatur Pemerintah Kota Bandung. domestik maupun pemerintah. 30 kecamatan serta sekretariat daerah. II . Organisasi yang ada saat ini didukung oleh Esselon. Esselon. Secara umum. kemudahan dan kejelasan prosedur serta kondisi makro ekonomi daerah tersebut. II.6 Trilyun pada tahun 2005 menjadi Rp. Esselon. sehingga investor menunda investasinya. dirasakan kapasitas dan kapabilitas aparatur dalam mencapai pelayanan prima masih berada di bawah standar. Dengan demikian.341 pegawai negeri sipil dan 1. Berbagai kegiatan peningkatan kinerja aparatur dilakukan melalui peningkatan kesejahteraan. 2. 24. III.A 76 orang. 4 perusahaan daerah. Esselon.4 KINERJA PEMERINTAHAN Pemerintah Kota Bandung telah mendorong upaya reformasi birokrasi yang akan dilakukan menurut tahapan-tahapan tertentu.Esselon. tetapi pada tahun 2008 mengalami penurunan menjadi 4 Trilyun. III. IV. Investasi di Kota Bandung mengalami peningkatan dari Rp.A 1 orang. Pertumbuhan investasi tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor yaitu iklim investasi yang kondusif. Satuan Polisi Pamong Praja. 895 orang. 9 lembaga teknis daerah.A.57 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 2. serta dapat mengurangi jabatan struktural yang ada guna meningkatkan efisiensi kerja dan penyelenggaraan pemerintahan.501 tenaga kontrak. mengikuti pendidikan dan latihan dan sebagainya.B 131 orang. Di antara masalah yang masih menjadi tantangan di masa depan adalah kapasitas aparatur tata kerja. Namun dengan semakin kompleksnya permasalahan perkotaan.B 708 orang dengan jumlah pegawai.4 INVESTASI Investasi baik asing. tentang Organisasi Perangkat Daerah maka struktur organisasi Pemerintah Kota Bandung saat ini terdiri dari sejumlah SKPD. Dengan perangkat organisasi tersebut diharapkan struktur organisasi menjadi lebih ramping. II. pengawasan. Penataan kelembagaan pada dasarnya diarahkan dalam upaya peningkatan kualitas pelayanan publik untuk menghilangkan citra birokrasi sebagai penghambat pembangunan. bergerak taktis dan strategis. implementasi SOTK baru berdasarkan PP Nomor 41 Tahun 2007. 5.3. hal ini dipengaruhi oleh Pemilihan Walikota di Kota Bandung pada bulan Agustus. IV.

penandatanganan ijin dan penyerahan ijin. Sedangkan untuk meningkatkan kualitas perijinan maka telah dibentuk Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perijinan Terpadu (BMPPT) dan Bandung Elektronik Procurment (BEP). 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah bentuk kelembagaan terpadu satu pintu ditingkatkan dari setingkat kantor menjadi setingkat badan dengan nomenklatur Badan Pelayanan Perijinan dan Penanaman Modal Daerah Kota Bandung dengan asumsi bahwa pelayanan perijinan yang diselenggarakan berkaitan erat dengan investasi di daerah. Dengan adanya kemudahan perijinan diharapkan akan mendorong kondusifitas iklim investasi di Kota Bandung. b. pemprosesan ijin. meliputi : a. sampai dengan penerbitan dokumen secara terpadu dan dilakukan di satu tempat melalui front office untuk meminimalisasi interaksi antara pemohon dan petugas perijinan dan menghindari kemungkinan pungutanpungutan tidak resmi. Birokrasi perijinan usaha melalui penyederhaan prosedur perijinan. b. Dan saat ini SKPD yang telah memiliki Standar Mutu Nasional (SMN) ISO 9000:2001 adalah sebanyak 12 SKPD. Seiring dengan penataan organisasi perangkat daerah Kota Bandung sebagai pelaksanaan Peraturan Pemerintah No. Selain itu jumlah perijinan yang dikelola oleh satu pintu ditingkatkan dari 14 jenis perijinan menjadi 62 jenis perijinan baik ijin usaha maupun non usaha. Peningkatan status kelembagaan satu pintu juga dilakukan dengan perubahan ketatalaksanaan. persyaratan dan waktu pelayanan. peningkatan kewenangan dimana Pelayanan Terpadu Satu Pintu diberikan kewenangan dari mulai penerimaan berkas. Langkah-langkah dapam upaya reformasi pelayanan perijinan. Hal lain yang akan dilaksanakan dalam rangka peningkatan pelayanan kepada masyarakat. Regulasi perijinan usaha dengan memangkas jumlah perijinan dan menata perijinan yang tumpang tindih. Pelayanan satu pintu adalah penyelenggaraan pelayanan perijinan dan non perijinan yang proses pengelolaannya dimulai dari tahap permohonan. II . adalah upaya penguatan kelurahan. Penyederhaan jumlah perijinan dengan menyatukan atau menghapus perijinan yang dianggap tumpang tindih dan menyulitkan pelaku usaha. Dalam pelaksanaannya reformasi pelayanan perijinan diformulasikan ke dalam pembentukan pelayanan terpadu satu pintu. Revisi Perda-perda terkait dengan prinsip-prinsip pelayanan satu pintu.58 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Tata kerja di masa datang juga penting untuk diperjelas dan dituangkan dalam mekanisme kerja dan job description yang baik agar sistem dapat berjalan dengan baik. Hal-hal yang perlu dilakukan seiring dengan peningkatan kelembagaan pelayanan terpadu satu pintu meliputi : a.40 . seperti penyederhaan. Tata kerja ini berfungsi sebagai petunjuk operasional SOTK yang sudah ada.

Sebagai perwujudan political will dari penerapan pola pelayanan terpadu satu pintu telah dianggarkan pula pembiayaan dalam operasional pelayanan satu pintu baik dalam APBD perubahan Tahun 2007 maupun APBD Tahun 2008. Dana Alokasi Umum. Sedangkan pada komponen Belanja terdiri dari . (2) Pengeluaran Daerah yang di dalamnya terdapat Belanja Daerah dan Pengeluaran Pembiayaan Daerah.59 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 c. efektif. keuangan daerah harus dikelola secara tertib. dan Lain-lain Pendapatan Asli Daerah Yang Sah. 2. efisien. Model pelayanan yang bersifat proaktif adalah dengan membangun situs (web site) untuk pelayanan on line. dan Bantuan Keuangan dari Provinsi atau Pemerintah Daerah lainnya. ekonomis. (2) Dana Perimbangan yang berasal dari bagi Hasil Pajak / bagi Hasil Bukan Pajak. Dana Penyesuaian dan Otonomi Khusus. Belanja Hibah. dan Belanja Tidak Terduga. Dana Bagi Hasil Pajak dari Provinsi dan Pemerintah Daerah Lainnya. Upaya peningkatan pelayanan dilakukan melalui penerapan model pelayanan bersifat proaktif dan standar mutu.41 . d. RW dan RT terutama terkait dengan persyaratan ijin. Kelurahan. Belanja Bantuan Keuangan Kepada Provinsi/ Kabupaten/Kota dan Pemerintah Desa Lainnya. Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah Yang Dipisahkan. transparan dan bertanggung jawab sesuai dengan kepatutan dan rasa keadilan.5 PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH Amanat Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. a II . Hasil Retribusi Daerah. Belanja Bantuan Sosial. sedangkan pelayanan yang bersifat standar mutu adalah melalui penggunaan ISO 9001:2000 yang berguna untuk menyusun pedoman kerja yang berstandar. meningkatkan citra. struktur APBD Kota Bandung terdiri dari : (1) Penerimaan Daerah yang didalamnya terdapat Pendapatan Daerah dan Penerimaan Pembiayaan Daerah. (1) Belanja Tidak Langsung yang didalamnya terdiri dari Belanja Pegawai. serta (3) Lain-lain Pendapatan Daerah Yang Sah yang berasal dari Pendapatan Hibah. Pengurangan biaya bagi kategori usaha tertentu. menetapkan dan mengatur pembagian kewenangan (power sharing) dan pembagian keuangan (finacial sharing) antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dan Undang-Undang No 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Pada komponen Pendapatan terdiri dari : (1) Pendapatan Asli Daerah yang berasal dari hasil Pajak Daerah. Berkenaan dengan hal tersebut dan sesuai dengan struktur APBD Kota Bandung dan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 dan Permendagri No 59 Tahun 2007 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah. Belanja Bunga. Belanja Subsidi. dan Dana Alokasi Khusus. Dana Darurat. serta Peraturan Pemerintah No 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan keuangan Daerah. profesionalitas dan meningkatkan daya tarik investasi. Penetapan kebijakan untuk mengurangi pungutan-pungutan di tingkat Kecamatan.

213 milyar dan termasuk daerah yang memiliki PAD tinggi di Jawa Barat.1 PENGELOLAAN PENDAPATAN DAERAH Kapasitas keuangan daerah akan menentukan fungsi pelayanan kepada masyarakat. Pendapatan Pemerintah Kota Bandung Tahun 2003-2008 (dalam milyar rupiah) Lain-lain Pendapatan yang sah 43 35 36 4 301 343 Pendapatan (Total) 962 1. Pada komponen pembiayaan terdiri dari : (1) Penerimaan Pembiayaan Daerah yang didalamnya terdiri dari Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Tahun Anggaran Lalu.097 1.5. dan Penerimaan Piutang Daerah. 706 milyar dan pada tahun 2008 diperkirakan mencapai Rp. Belanja Barang dan Jasa. Nilai Dana Perimbangan pada Tahun 2003 mencapai Rp.140 1.018 Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 2008 PAD 213 223 226 254 288 314 Perimbangan 706 861 862 1. yang sebelumnya masuk ke dalam Dana Perimbangan II . walaupun nilai PAD pada tahun 2003 mencapai Rp. Pada dasarnya PAD belum menjadi sumber pendapatan yang signifikan. . Peningkatan pada tahun 2008 disebabkan karena pergeseran pos penerimaan saja. (3) Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran Tahun Berjalan. Penerimaan Bagi Hasil dari Propinsi dimasukan ke dalam Lain-lain Pendapatan yang sah.17. Secara umum struktur pendapatan Pemerintah Kota Bandung tidak mengalami perubahan yang besar.017 milyar.360 Sumber Data : LKPJ . 1. Pendapatan pada tahun 2003 adalah sebesar Rp. sedangkan penerimaan Dana Perimbangan sebagian besar bersumber dari DAU. dan Pembayaran Pokok Utang.60 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 (2) Belanja Langsung yang didalamnya terdiri dari Belanja Pegawai. Lain-lain penerimaan yang sah. 314 milyar.119 1. selanjutnya mengalami peningkatan hingga pada tahun 2008 menjadi Rp. Sumber penerimaan terbesar berasal dari Dana Perimbangan. yaitu rata-rata dari Tahun 2003-2008 sebesar 73. (2) Pengeluaran Pembiayaan Daerah yang didalamnya terdiri dari Pembentukan Dana Cadangan. Penyertaan Modal (investasi) Pemerintah Daerah.4%.42 .360 milyar. Sumber penerimaan PAD terbesar berasal dari Pajak Daerah.398 1.2008 Catatan : Mulai tahun 2008. 962 milyar. 2. Pada tahun 2008 diperkirakan PAD mencapai Rp. Kemampuan keuangan pemerintah daerah dapat diukur dari penerimaan pendapatan daerah.686 2. Penerimaan Kembali Pemberian Pinjaman.123 1. pada dasarnya mengalami peningkatan berarti. dan Belanja Modal. Tabel 2.

2 Bagi Hasil dari Propinsi 126.5 214.5 0 14.5 DAK 1.4 386.2008 Bagi Hasil Pajak/Bukan Pajak 162.8 BUMD dan dari Aset Dipisahkan 2.2008 II .5 204.9 Sumber Data : LKPJ .9 17.8 73.3 17.0 61.61 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Tabel 2.7 9.8 198.3 207.1 15.3 76.18.9 12.19.9 20.1 14.2 3.4 Terdapat pada Lainlain Pendapatan yang sah Tabel 2.0 6.43 .2 3.0 75.5 8.7 458.4 Lain-lain yang sah 4. Penerimaan Dana Perimbangan Pemerintah Kota Bandung Tahun 2003-2008 (dalam milyar rupiah) Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Sumber Data : LKPJ .9 13.1 632.6 143.1 164. Penerimaan PAD Pemerintah Kota Bandung Tahun 2003-2008 (dalam milyar rupiah) Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Pajak Daerah 115.9 2. Struktur Pendapatan Pemerintah Kota Bandung Tahun 2003-2008 (dalam milyar rupiah) Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 2008 PAD 22.6 66.5 219.8 5.20.5 20.3 965.4 3.0 133.2 256.9 17.4 828.9 273.2 19.7 439.9 12.1 206.1 18.6 Perimbangan 73.0 Pendapatan 100 100 100 100 100 100 1 Sumber Data : LKPJ .2 0.7 DAU 416.6 3.1 67.7 81.4 76.9 76.2 17.2008 Tabel 2.4 Pendapatan lain yang sah 40.8 190.4 Retribusi Daerah 55.6 65.

sistem penganggaran maupun akutansi. dana perimbangan juga relatif kecil. Kategori belanja inilah yang relatif diwujudkan dalam program-program pembangunan di masyarakat.2 PENGELOLAAN BELANJA DAERAH Pengelolaan belanja aderah sangat erat kaitannya dengan sistem pengelolaan keuangan daerah. masyarakat semakin menuntut adanya pengelolaan keuangan kepada publik secara transparan dalam rangka mewujudkan akuntabilitas yang didasarkan kepada prinsip-prinsip anggaran berbasis kinerja yaitu belanja daerah yang berorientasi pada pencapaian hasil atau kinerja.5. Belanja yang relatif menjadi perhatian masyarakat dalam hal ini adalah Belanja Publik atau Belanja Langsung. karena kontribusi PAD relatif besar. Sebagai kota dengan fikcal gol rendah. Bila diperhatikan. Namun demikian karena jumlah penduduk yang relatif besar maka belanja daerah per kapita juga relatif tidak terlalu tinggi 2.62 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Seperti umumnya kabupaten dan Kota di Indonesia. Belanja Bagi Hasil dan Bantuan Keuangan serta Belanja Tidak Disangka.9 milyar. Berdasarkan kondisi ini sering muncul pernyataan bahwa dalam otonomi daerah ini daerah belum mandiri secara financial Struktur pendapatan Pemerintah Kota Bandung termasuk bagus.44 . II . walaupun Kota Bandung tergolong sebagai Kota yang memiliki PAD tinggi. sumber pendapatan daerah sebagian besar dari Dana Perimbangan. telah terjadi perbedaan pola pos-pos belanja yang cukup drastis. 945. sedangkan pos belanja lain relatif merupakan belanja internal pemerintahan. 2.049. tampak bahwa selisih antara pendapatan dan belanja cukup besar. Pada Tahun 2007-2008 sesuai Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 yang telah diubah dengan Permendagri Nomor 59 Tahun 2007 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah maka terjadi perubahan struktur APBD menjadi Belanja Tidak Langsung dan Belanja Langsung. Belanja Publik. Dalam hal pengelolaan anggaran antara Tahun 2004-2008. Sesuai dengan reformasi di bidang keuangan. Anggaran tersebut mencerminkan efisiensi dan efektivitas pelayanan publik. Antara Tahun 2004-2006 dikenal dengan nama alokasi Belanja Aparatur.8 milyar dan pada tahun 2008 mencapai Rp. Situasi ini terjadi di antaranya karena masalah perencanaan kegiatan yang relatif menggunakan informasi pendapatan dana perimbangan yang terbatas. serta berbagai penerimaan yang masuk dalam kas daerah pada akhir periode sehingga belum dapat direncanakan sebelumnya. Belanja daerah pada tahun 2003 mencapai Rp.

Belanja langsung (pembangunan) riil perkapita pada tahun 2006 sebesar Rp.9 - Belanja Belanja Belanja Belanja Bagi Tak Tidak Langsung Hasil Disangka Langsung 114. dan mengalami peningkatan kembali menjadi Rp. 152.29%. Kejadian inflasi kerapkali berasal dari masalah eksternal Kota Bandung.2 984. Inflasi yang tinggi telah menekan nilai riil alokasi belanja langsung perkapita di Kota Bandung antara Tahun 2003-2007.5 451.5 414. sebenarnya pendapatan riil antara tahun 2003 dan 2007 hanya meningkat sebesar Rp. terlebih lagi nilai riilnya.761 mengalami penurunan menjadi Rp.pada tahun 2007.1 13. 159.45 . Rata-rata rasio belanja pembangunan terhadap total belanja adalah 42.63 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Tabel 2. Usaha alokasi belanja pembangunan yang lebih besar seperti yang direncanakan dapat merosot nilai riilnya pada saat inflasi terjadi. misalnya perubahan ekonomi nasional atau internasional atau kebijakan pemerintah pusat serta kebijakan moneter. Hal-hal seperti ini sering di alami oleh Pemerintah Kota Bandung pada saat pelaksanaan pembangunan.552.1 558. Dengan mempertimbangkan inflasi selama kurun tersebut.7 465. Belanja Publik tahun 2003 mencapai Rp.4 0.1 1.21. Bila pada Tahun 2003-2006 belanja perkapita nominal mengalami peningkatan.266.8 975.8 335.0 112.1 Sumber Data : LKPJ . Dalam komposisi demikian.114.115 pada tahun 2008 (tahun dasar 2003).1 1.1 175.6 30. dan mengalami peningkatan kembali pada tahun 2008.0 639.6 0.661. 908 milyar. 100 milyar. maka tahun 2007 mengalami penurunan.8 2.2008 Salah satu perhatian dalam belanja adalah nilai nominal belanja publik atau belanja langsung yang menuntut karakternya adalah belanja pembangunan dan dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.7 708. II . maka pada dasarnya pendapatan dan alokasinya tidak banyak mengalami perubahan antara Tahun 2003-2006.341.0 1.1 1. Struktur Belanja Pemerintah kota Bandung Tahun 2003-2008 (dalam milyar rupiah) Tahun Belanja 2003 2004 2005 2006 2007 2008 945.8 568.049.8 111. 335..9 Belanja Belanja Aparatur Publik 482.7 396.7 milyar dan diperkirakan pada tahun 2008 mencapai Rp. 190.

661 159.018 150.599 243. Struktur Pembiayaan Pemerintah Kota Bandung Tahun 2004-2008 No 1 2 3 Uraian Pembiayaan Penerimaan Pengeluaran 2004 (25.7 2005 60.9 Sumber Data : LKPJ .5 2.46 .23. Tabel 2.6 2006 64. penerimaan pinjaman obligasi.5 57.042 361.398 1. pembiayaan itu sendiri adalah angsuran hutang.6 195.5.4 23. II .027 891 957 1.655 191.686 2.2008 Belanja Langsung (Publik) perkapita (Rp) Nominal Riil 150.626 2.64 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Tabel 2.320 245.6 298.2 87. Sedangkan dalam pengeluaran.243 195.22.115 Riil 962 1.3 2008 295.119 1.1 2007 165.037 190.761 152. Sumber pembiayaan dapat berasal dari sisa lebih perhitungan anggaran tahun lalu.2008 Selain mengoptimalkan potensi anggaran Pemerintah Kota Bandung.4 65. Secara terinci komposisi pembiayaan pemerintah Kota Bandung dapat dilihat dalam tabel berikut. maka penting juga dilakukan upaya koordinasi pemanfaatan potensi dana pembangunan yang berasal dari stakeholders.3) 40.123 1.655 208. bantuan modal dan transfer ke dana cadangan. Pendapatan dan Belanja Nominal-Riil Pemerintah Kota Bandung Tahun 2003-2008 (Tahun Dasar 2003) Pendapatan (Milyar Rp) Tahun Nominal 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Sumber Data : LKPJ . transfer dari dana cadangan maupun hasil penjualan aset daerah yang dipisahkan. dalam hal ini terjadi defisit anggaran.8 118.059 888 962 1.3 PENGELOLAAN BIAYA Pembiayaan adalah transaksi keuangan daerah yang dimaksudkan untuk menutup selisih antara pendapatan daeran dan belanja daerah.9 30.710 278.

Isu strategis diidentifikasikan dari berbagai sumber. • Suatu isu atau masalah cenderung membesar di masa datang dan berdampak negatif. 5. ekonomi. Permasalahan dalam jangka menengah diarahkan untuk dapat ditangani pada masa RPJMD Tahun 2009-2013. Pertumbuhan Ekonomi Kreatif Kota. • Memerlukan upaya penanganan yang konsisten dari waktu ke waktu. Isu strategis dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJMD) Kota Bandung 2005-20025. tokoh dan para pakar. • Cakupan masalah yang luas. 3. sarana-prasarana dan pemerintahan umum saat ini serta kemungkinan kondisinya di masa datang. • Memberikan daya dorong dan daya sinergis terhadap penyelesaian sejumlah permasalahan. 1. Isu strategis menurut aspirasi masyarakat melalui kegiatan survey. 3. Isu strategis dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kota Bandung Tahun 2009-2013 ini disusun berdasarkan kompilasi isu strategis yang ada dalam RPJMD Kota Bandung Tahun 2005-2025. 2. Penanggulangan Kemiskinan dan Pengangguran.6 ISU STRATEGIS Penyusunan Recana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Bandung 2009-2013 terlebih dahulu digali permasalahan-permasalahan yang terjadi di Kota Bandung yang dirumuskan menjadi isu strategis. sosial budaya.47 . 4. tokoh dan para pakar. 2. Penyediaan dan Pengelolaan Infrastruktur serta Penataan Kota. Dari sejumlah isu dan permasalahan tersebut dapat diangkat sebagai isu straegis dengan kriteria berikut ini. Diantaranya adalah. Peningkatan Kualitas dan Pencegahan Degradasi Lingkungan Hidup Kota. Isu strategis adalah permasalahan utama yang disepakati untuk dijadikan prioritas penanganan selama kurun waktu 5 (lima) tahun mendatang. hasil analisis atas situasi dan kondisi serta persepsi masyarakat.65 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 2. II . 4. Peningkatan Kualitas Pendidikan. • Memiliki basis keunggulan atau potensi lokal Kota Bandung. Berdasarkan masalah hasil persepsi masyarakat. 1. maka dapat disusun kelompok masalah dan makna strategisnya seperti pada tabel berikut. Isu strategis menurut pendapat para pakar dan tokoh masyarakat atas kondisi yang mereka rasakan saat ini dan kemungkinannya di masa datang dengan interview. Isu strategis yang diangkat dari analisis situasi dan kondisi kependudukan. Adapun isu strategis yang patut di angkat dalam RPJMD ini dan perlu disiapkan landasan-landasannya untuk tahap pembangunan berikutnya adalah tentang perlunya. Masalah yang berjangka panjang di arahkan untuk pembangunan bertahap dan dalam RPJMD tahun tersebut adalah berupa bagian dari pembangunan jangka panjang.

2. 4. Penyediaan Pelayanan Umum Kota yang Prima. Koordinasi. sinegritas. 9. 6. 7. Pentingnya penguatan kemampuan teknis dan kapasitas manajemen serta kemampuan keuangan pemerintah Kota Bandung. Pentingnya penguatan kelurahan dan kecamatan dalam pelayanan dan pelaksanaan pembangunan skala lingkungan atau di tingkat masyarakat untuk mendorong partisipasi masyarakat dalam pembangunan. 7. 8. 8.66 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 6. Sektor ekonomi berbasis ilmu pengetahuan. Efektifitas dan Efisiensi Pengelolaan Keuangan Daerah. Tingkat aksebilitas penduduk pada sarana dan prasarana transportasi massal relatif masih kurang memadai. pentingnya penguatan kerjasama dengan wilayah Bandung Raya bagi kelangsungan kegiatan ekonomi dan peningkatan kualitas lingkungan di Bandung Raya secara berkelanjutan. kreativitas dan inovasi relatif belum didayagunakan secara optimal. sehingga upaya penanganan satu isu strategis dapat mendukung atau berdampak positif bagi upaya penanganan isu strategis lainnya. Optimalisasi Manajemen Pemerintahan Kota. teknologi. 3. Sinegritas modal sosial masyarakat bagi pembangunan belum optimal. Kapasitas sumber daya Aparatur Kewilayahan dalam pelayanan dan pelaksanaan pembangunan relatif masih rendah. Tingkat kompetensi dan kemampuan teknis dalam manajemen pengelolaan keuangan pemerintah Kota Bandung relatif masih rendah. . sinkronisasi dan harmonisasi dalam kerjasama antara pemerintah pada kawasan Metropolitan Bandung belum optimal. 1. 5. Isu strategis tersebut secara fungsional saling berhubungan satu dengan yang lainnya.

4.1 . Dalam mencapai visi tersebut juga dijunjung motto juang ‘Bermartabat’ yaitu Bersih. stabil dan dinamis . Makmur. Arah visi tersebut adalah memerankan Kota Bandung sebagai pusat pertumbuhan sector jasa yang memberikan manfaat bagi warga Bandung khususnya. tertib. III . Taat. Pemenuhan kondisi lingkungan ekonomi sehingga tercapai kemakmuran ekonomi warganya .67 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 BAB III KEBIJAKAN PEMBANGUNAN DAERAH 3. 5. sehat. hijau dan berbunga . Kota Jasa Bermartabat memiliki dimensi : 1. berakhlak mulia dan kesadaran perikehidupan majemuk . 2. Mengembangkan Sumber Daya Manusia yang sehat. 2. Jawa Barat dan Nasional pada umumnya. cerdas. memiliki pelayanan politik prima tanpa membedakan status. Pemenuhan kondisi tata ruang yang seimbang dan harmonis . Adapun Misi tersebut terdiri dari : 1. Mengembangkan Profesional Kota yang bedaya saing dalam menunjang penciptaan lapangan kerja dan pelayanan public serta meningkatkan peranan swasta dalam pembangunan Ekonomi Kota . berakhlak. Misi Kota Bandung Tahun 2009-2013 merupakan penjabaran dari Misi Tahap II dalam RPJPD Kota Bandung 2005-2025 dan integrasi dari sasaran yang akan dicapai pada Misi Tahap II tersebut. Pemenuhan kondisi lingkungan hidup yang bersih. Pemenuhan kondisi lingkungan keagamaan yang penuh toleransi. indah . professional dan bedaya saing . Meningkatkan kesejahteraan social dan mengembangkan budaya kota yang tertib.1 VISI DAN MISI Visi Kota Bandung Tahun 2009-2013 : Memantapkan Kota Bandung sebagai Kota Jasa Bermartabat Kota Bermartabat diartikan sebagai kota yang mempunyai jati diri. 3. berprestasi dalam menunjang kota jasa bermartabat . kreatif. Pemenuhan kondisi lingkungan social yang aman. Bersahabat. aman. harga diri dan kebanggaan bagi seluruh warganya. 3.

Profesional dan Berdaya Saing. Meningkatnya partisipasi masyarakat dalam pendidikan . Meningkatnya kualitas tenaga pendidik dan kependidikan . mudah. III . Meningkatnya promosi dan pemberdayaan masyarakat dalam pembangunan kesehatan 4. efisien. Tujuan-2 : Memantapkan Kecerdasan Warga Kota Bandung (Agenda Prioritas Bandung Cerdas) Sasaran : 1. Tujuan-1 : Memantapkan Kesehatan Warga Kota Bandung (Agenda Prioritas Bandung Sehat) Sasaran : 1. Meningkatnya budaya baca masyarakat .68 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 4. 5. 3. Meningkatnya SDM yang kreatif dan kompetitif . Meningkatkan kapasitas pengelolaan keuangan dan pembiayaan pembangunan Kota yang akuntabel dan transparan dalam menunjang Sistem pemerintahan yang bersih dan berwibawa.2 . Cerdas. Meningkatnya kuanlitas akses penyelenggaraan pendidikan dasar . 2. 2.2 TUJUAN DAN SASARAN Misi-1 : Mengembangkan Sumber Daya Manusia yang Sehat. 4. akuntabel dan Transparan dalam upaya meningkatkan kapasitas pelayanan Kota Metropolitan . 5. 3. Meningkatkan kinerja pemerintah Kota yang efektif. 8. 6. Meningkatnya pengawasan komoditas produk-produk pangan . Meningkatnya kualitas dan akses pendidikan non formal . 6. 5. Menata Kota Bandung menuju metropolitan terpadu yang berwawasan lingkungan . Berakhlak. merata dan terjangkau . Meningkatnya kebijakan dan manajemen pembangunan kesehatan . Meningkatnya kualitas dan akses pelayanan kesehatan dasar dan rujukan yang bermutu. Meningkatnya kualitas pelayanan bidang pendidikan . Tersedianya SDM cerdas sejak dini . Meningkatnya kualitas hidup melalui pengendalian jumlah penduduk. Meningkatnya kualitas lingkungan bersih melalui sanitasi dasar dan sanitasi umum 3. 6. 7.

Meningkatnya perluasan kesempatan kerja format di sector-sektor yang menjadi core competency kota . Tujuan-1 : Memantapkan Kemakmuran Warga Kota Bandung (Agenda Prioritas Bandung Makmur) Sasaran : 1. Meningkatnya akses pelayanan perijinan dan kepastian hokum bagi dunia usaha . 2. 7. Meningkatnya kemampuan teknologi.69 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Tujuan-3 : Mewujudkan Masyarakat yang Berakhak Mulia (Agenda Prioritas Bandung Agamis) Sasaran : 1. Misi-2 : Mengembangkan Perekonomian Kota yang Berdaya Saing dalam Menunjang Penciptaan Lapangan Kerja dan Pelayanan public serta Meningkatkan Peranan Swasta dalam Pembangunan Ekonomi Kota. 8. Meningkatnya kualitas hidup perempuan dan anak. Sasaran : 1. III . 2. 6. Meningkatnya peranan usaha mikro kecil. Menjaga stabilitas harga dan distribusi barang kebutuhan pokok . 3. Meningkatnya kesejahteraan petani dan penguatan ketahanan pangan perkotaan . Meningkatnya penerbitan dan penataan pedagang kaki lima serta pedagang asongan.3 . Meningkatnya kerukunan umat beragama. Meningkatnya pertumbuhan riil dan kontribusi riil sector perekonomian kota . Meningkatnya peran dan posisi perempuan dalam kehidupan bermasyarakat . Bermasyarakat dan bernegara. Mengembangkan kota sebagai kota kreatif. 2. system produksi dan penguat sentra industri . 9. 5. Tujuan-4 : Mewujudkan Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam kehidupan Berkeluarga. menengah dan koperasi dalam perekonomian Kota . 4. Meningkatnya pemahaman dan pengamalan agama .

Meningkatnya kesejahteraan masyarakat melalui kelembagaan dan partisipasi dan ekonomi masyarakat. pemberdayaan Tujuan-2 : Meningkatnya sinergitas pelestarian budaya local antar pemerintah.4 . Tujuan-4 : Meningkatnya kepekaan dan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan sisoal. Sasaran : 1. Aman. Tujuan-3 : Mewujudkan kerjasama Ekonomi dengan Daerah lain. Meningkatnya peran serta pemuda dalam pembangunan . Meningkatnya sinergitas pelestarian budaya local antar pemerintah. Sasaran : 1. III . Mewujudkan Pariwisata yang Berdaya Saing. Sasaran : 1.70 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Tujuan-2 . Misi-3 : Meningkatkan Kesejahteraan Sosial dan Mengembangkan Budaya Kota yang Tertib. Meningkatnya Kota Bandung sebagai kota tujuan wisata . Berprestasi dalam Menunjang Kota Jasa Bermartabat Tujuan-1 : Mewujudkan peningkatan kesejahteraan masyarakat (Agenda Prioritas Bandung Makmur) Sasaran : 1. 2. meningkatnya sinergitas kegiatan ekonomi antar wilayah. pelaku budaya dan masyarakat (Agenda Prioritas Bandung Kota Seni Budaya) Sasaran : 1. Meningkatnya prestasi olahraga dan bidang lainnya. Kreatif. pelaku budaya dan masyarakat Tujuan-3 : Meningkatnya prestasi kepemudaan (Agenda Prioritas Bandung Berprestasi).

produktif dan berkelanjutan. nyaman. Terbukanya akses informasi perencanaan dan pelaksanaan pembangunan kota. Tujuan-3 : Mewujudkan pengelolaan limbah padat yang efektif dan bernilai ekonomi. air tanah dangkal dan air tanah dalam) Sasaran : 1. Sasaran : 1. Tujuan-2 : Menjamin tersedianya kuantitas dan kualitas air (air permukaan. Sasaran : 1.5 . Terkendalinya pencemaran air . III . Terkendalinya pencemaran udara . Meningkatnya partisipasi masyarakat dalam penanggulangan penyandang masalah kesejahteraan social. Misi-4 : Menata Kota Bandung Menuju Metropolitan Terpadu yang berwawasan lingkungan. 2. Tujuan-1 : Mewujudkan kualitas udara. 2. Mengikat dan terkendalinya kawasan berfungsi lindung (berfungsi hidrologi). Meningkatnya kepedulian masyarakat terhadap para penyandang masalah kesejahteraan social . Sasaran : 1. Pengembangan sumber air baku untuk penyediaan air besih . 2. Tujuan-5 : Meningkatkan mutu kerjasama diantara semua pemangku kepentingan dalam pembangunan Kota Bandung. Tujuan-4 : Menyediakan ruang Kota yang aman. 3. Berkurangnya limbah padat melalui pemanfaatan kembali sehingga memiliki nilai ekonomi. Terkendalinya pencemaran tanah.71 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Sasaran : 1. air dan tanah sesuai baku mutu lingkungan.

Terkendalinya aspek-aspek penyebab kemacetan dan kecelakaan.6 . Tujuan-6 : Menyediakan system transportasi yang aman. Sasaran : 1. 4. nyaman. 5. Tujuan-8 : Mewujudkan mitigasi bencana yang handal. Tertatanya ruang terbuka public secara berkualitas . Tumbuh dari meningkatnya pengelolaan bencana alam (gempa. Tersedianya tempat pemrosesan akhir (TPA) sampah yang berkelanjutan . Tujuan-7 : Mewujudkan sarana dan prasarana lingkungan yang memenuhi standart teknis/standar pelayanan minimal (SPM). Tersedianya system penanganan air limbah dan IPAL kota . III . 2. gunung meletus. Sasaran : 1. 2. nyaman. 2. 3. 2. banjir. Tersedianya system drainase kota yang tertata . Terarahnya hunian vertical dan teremajakannya kawasan kumuh. Berkembangnya sarana angkutan umum missal (SAUM) dan terbatasnya penggunaan kendaraan bermotor. 3.72 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Sasaran : 1. 3. produktif dan berkelanjutan . Berkembangnya system prasarana transportasi yang mendukung struktur ruang kita . Tujuan-5 : Memantapkan pembangunan Kota Bandung yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. Tersedianya prasarana energi dan komunikasi yang handal. longsor. Sasaran : 1. efisien. Tersedianya lahan pemakaman sesuai kebutuhan kerjasama dengan pengembang . Sasaran : 1. angin topan dll) . Terbentuknya struktur ruang kota yang aman. Terkendalinya pemanfaatan ruang. Tersedianya air bersih dengan kualitas dan kuantitas yang baik . terjangkau dan Ramah lingkungan.

Misi-6 : Meningkatnya kapasitas pengelolaan keuangan dan pembiayaan pembangunan kota yang akuntabel dan transparan dalam menunjang system pemerintahan yang bersih dan berwibawa. Meningkatnya pendapatan dan pengelolaan keuangan daerah yang efektif. 3. Terwujudnya kehidupan masyarakat yang demokratis . efisien. Berkembangnya instrument pembiayaan pembangunan non-konversional. Meningkatnya sinergitas APBN. Mantapnya pelaksanaan reformasi birokrasi . 7. Meningkatnya kesadaran dan ketaatan hukum dan HAM bagi masyarakat dan aparat . dan akuntabel. 2. III .73 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 2. Sasaran : 1. 8.7 . Tujuan-1 : Mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik (Good Govermance) melalui pemantapan reformasi birokrasi. APBD Propinsi dan APBD Kota (Fiskal antar pemerintahan) . efisien dan akuntabel. Sasaran : 1. Meningkatnya ketertiban serta terciptanya kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan stabilitas keamanan daerah . akuntabel dan transparan dalam upaya meningkatkan kapasitas pelayanan Kota Metropolitan. Meningkatnya transparansi pengelolaan pemerintahan . Tujuan-2 : Mewujudkan peran serta aktif masyarakat dan swasta dalam pembiayaan pembangunan Kota. 6. aplikatif. Penanggulangan infrastruktur pasca bencana. Meningkatnya kapasitas lembaga perencanaan pembangunan yang efektif dan efisien untuk menghasilkan produk perencanaan yang aspiratif. 5. 4. 3. Meningkatnya professionalisme aparatur menuju pemerintahan yang akuntabel . alam kecelakaan Misi-5 : Meningkatkan kinerja pemerintah kota yang efektif. Tujuan-1 : Mewujudkan Anggaran Pemerintahan yang optimal. Tumbuh dan meningkatnya pengelolaan bencana (kebakaran dll) . 3. Terwujudnya pelayanan publik yang prima . 2.

Menekankan pada masalah yang layak ditangani dalam jangka menengah serta mempersiapkan landasan bagi penyelesaian permasalahan jangka panjang. pelayanan umum dan penumbuhan ekonomi kreatif. Pengembangan sumber daya manusia sebagai basis bagi upaya mendorong ekonomi kreatif. Pengembangan kerjasama dengan daerah Bandung Raya dan pihak lain dalam upaya optimalisasi daya dukung kota. reorientasi dan refungsionalisasi pembangunan dengan uraian sebagai berikut : 1. patologi social perkotaan dan lain sebagainya .4 ARAH KEBIJAKAN Kebijakan umum untuk tahun 2009-2013 adalah meliputi revitalisasi. Mendorong usaha ekonomi kreatif berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi yang bernilai tambah tinggi dan ramah lingkungan 4.8 . kesehatan. bernilai tambah tinggi dan ramah lingkungan . 2. ekosistem. Meningkatnya efektifitas dan efisiensi birokrasi melalui reformasi kelembagaan (institutional reform) dan reformasi manajemen public (public management reform) . Kebijakan tersebut dituangkan secara lebih rinci ke dalam Misi 1 sampai dengan Misi 6 sebagai berikut : III . Mengkondisikan lingkungan fisik tata ruang yang memenuhi kaidah amenities keindahan kota. pembiayaan pembangunan. Mengembangkan kerjasama dengan daerah Bandung Raya dan pihak lain dalam upaya optimalisasi daya dukung kota dan pelayanan umum terhadap pertumbuhan aktivitas yang ada di dalamnya . 4. Pelayanan prima kepada segenap warga serta mengkondisikan ligkungan dan kehidupan yang aman dan nyaman . Menyelaraskan pertumbuhan ekonomi dengan situasi social kependudukan dari sumber daya manusia serta mengantisipasi masalah-masalah social kependudukan. 6. 5. Meningkatnya sinergitas pemerintah. kepadatan penduduk. Peningkatan kinerja birokrasi. 7. 3. swasta dan masyarakat dalam 3. Mengendalikan pertumbuhan kota sehingga terjadi keseimbangan antara daya dukung dan aktivitas dengan peningkatan dan pemerataan prasarana kota . daya saing kota dan kebersihan . 3.74 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Sasaran : 1.3 STRATEGI Strategi pembangunan ini ditetapkan secara umum dengan focus pada masyarakat pemerintahan dan kerjasama strategis dengan pihak lain yang meliputi : 1. 2. reaktualisasi. 3.

Penataan dan optimalisasi prosedur investasi dalam meningkatkan kesempatan kerja di kota Bandung melalui pelayanan satu pintu . 3. 2. berakhlak. Pengembangan peningkatan fungsi tempat ibadah sebagai tempat meningkatkan keimanan dan moral . Penataan Struktur ekonomi perkotaan melalui penataan ruang aktivitas maupun pola konsumsi. Misi-3 : Meningkatkan kesejahteraan Sosial dan mengembangkan budaya kota yang tertib. professional dan berdaya saing. Penguasaan teknologi informasi bagi masyarakat kota . distribusi dan produksi yang baik . 4.9 . Penguatan promosi daerah dalam menarik wisatawan dan investasi dalam bidang pariwisata. 6. Pendukungan sector swasta dalam meningkatkan kesejahteraan tenaga kerja . Peningkatan lingkungan hidup diperkelolaan dan disiplin hidup diperkotaan . 4. Pendukungan perubahan pola konsumsi masyarakat melalui diverifikasi pangan dalam rangka meningkatkan ketahanan pangan kota . menengah dan besar dalam menunjang pengembangan ekonomi kreatif . Pengembangan kewirausahaan dengan membangun kompetensi dari kemampuan daya saing yang kreatif . Perbaikan infrastruktur ekonomi dalam menunjang pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat dalam mengembangkan ketahanan pangan kota . Arah Kebijakan : 1. Penguatan institusi masyarakat dalam membangun modal social. 5. 5. Penataan pedagang kaki lima dan meningkatkan kemitraan dengan sentrasentra produk local dalam mengembangkan industri kreatif tradisional . Arah Kebijakan : 1. berprestasi dalam menunjang kota jasa bermartabat. 2. Pengembangan kemitraan usaha koperasi/usaha kecil. 3. Peningkatan kesehatan masyarakat termasuk di dalamnya pencegahan dan penanganan HIV dan narkoba terutama dikalangan generasi muda . 8. III . 6. perilaku dan kebudayaan melalui peran serta masyarakat sehingga terbentuk solidaritas masyarakat yang kokoh dan dinamis. 8. Misi-2 : Mengembangkan perekonomian kota yang berdaya saing dalam Menunjang penciptaan lapangan kerja dan pelayanan public serta meningkatkan peranan swasta dalam pembangunan ekonomi kota. Peningkatan peran swasta dalam pendidikan . 7. 7. aman.75 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Misi-1 : Mengembangkan sumber daya manusia yang sehat. kreatif. cerdas. Pengembangan pendidikan formal dan informasi dalam semua strata pendidikan .

Pengelolaan lingkungan yang sehat. 8. 3. 7. 4. Peningkatan sarana dan prasarana kebudayaan . Penyebaran pusat-pusat pertumbuhan sekunder . produktif dan berdayaguna . produktif. 6. 3. dan berdayaguna dimasa depan . 4. Penghijauan perbaikan dan penambahan taman kota dan ruang terbuka untuk public serta perbaikan dan pemanfaatan daerah aliran sungai yang dapat memperbaiki kualitas kehidupan . 5. Pembinaan secara komprehensif kelompok multietnis dalam menunjang Bandung sebagai Kota Metropolitan . III . Pelaksanaan program Urban Renewal dan Urban Redevelopment dalam meningkatkan pelayanan sector jasa . Peningkatan peran lembaga dakwah dalam meningkatkan kerukunan umat beragama . Peningkatan pelayanan public yang optimal dan prima dengan menciptakan kondisi nyaman. Pengelolaan tata ruang secara konsisten. Peningkatan pemerintahan yang Good Government disertai prinsip efektif. Pengembangan kelompok-kelompok karang taruna/generasi muda . 2. 3. efisien. 7. 6. Pembinaan seni budaya daerah dalam menunjang pariwisata . bersih. Pengelolaan transportasi secara efisien dalam mengurangi kemacetan dari polusi dengan mempersiapkan konsep Rapid Mass Transportation yang handal sesuai dengan kemampuan/potensi Kota Bandung . Arah Kebijakan . Peningkatan peran media dalam penyalahgunaan informasi pembangunan. akuntabel dan transparan . Misi-5 : Meningkatkan kinerja pemerintah kota yang efektif. Misi-4 : Menata Kota Bandung menuju Metropolitan terpadu yang berwawasan lingkungan. produktif dan dinamis sesuai dengan RTRW Kota Bandung . Arah Kebijakan : 1. 5. 2. 2. Pembinaan anak jalanan sehingga memiliki kesempatan dalam berkreasi.10 . akuntabel dan transparan dalam upaya meningkatkan kapasitas pelayanan Kota Metropolitan.76 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Arah Kebijakan : 1. Pengembangan LSM yang berorientasi pada pembangunan dan lingkungan kota . Penguatan SKPD yang terkait dalam menunjang peningkatan pelayanan pada masyarakat dalam mewujudkan pelayanan satu pintu . Pengembangan manajemen kota efisien. ramah dan produktif . hijau dan berbunga . efisien. efisien. 1.

b.11 . 3. berakhlak. Peningkatan peran kecamatan dan kelurahan dalam meningkatkan kinerja pemerintahan melalui desentralisasi kebijakan pemerintahan kota . Program pencegahan penanggulangan penyakit dan lingkungan sehat . Program kesehatan reproduksi remaja . Pengembangan system informasi dalam manajemen pemerintahan yang dapat memonitor permasalahan kota sehingga dapat membantu dalam proses pengambilan keputusan Pemerintah Kota. h. Program pemberdayaan keluarga. Peningkatan pengelolaan aset pemerintah kota untuk meningkatkan PAD dan peningkatan pelayanan public 5. c. Program-program yang tercantum dalam RPJMD ini merupakan program pendukung langsung dalam pencapaian kinerja makro sedangkan program yang tidak mendukung langsung akan dijabarkan dalam Rencana Kerja Pemerintah daerah Tahunan sesuai kebutuhan dan ketersediaan anggaran. Arah Kebijakan : 1. Program obat dan pembekalan kesehatan .5 PROGRAM Untuk mewujudkan tujuan dan sasaran setiap misi serta berdasarkan arah kebijakan yang ditetapkan. e.cerdas. Program keluarga berencana . Program promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat . d. Pengelolaan keuangan secara transparan dalam meningkatkan akuntaniliutas public. g. Program upaya kesehatan masyarakat . 6. Peningkatan dan menggali sumber pendapatan daerah berdasarkan azas proporsionalitas. disusun program-program pembangunan. 3. Misi-6 : Meningkatkan Kapasitas pengelolaan keuangan dari pembiayaan pembangunan kota yang akuntabel dan transparan dalam menunjang sistem pemerintahan yang bersih dan berwibawa. 4. f.77 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 . 4. Pemanfaatan dana secara efisien dan produktif yang didasarkan pada pendekatan hasil/output dengan dilandasi azaz manfaat . Peningkatan fungsi pengawasan baik internal maupun eksternal sehingga tercipta suatu mekanisme birokrasi yang sehat dan terpercaya . adil dan merata . Program peningkatan Sarana. Misi-1 : Mengembangkan sumber daya manusia yang sehat. III . 2. Prasarana dan Manajemen Kesehatan . 5. Program : a. Peningkatan peran swasta dalam pembiayaan pembangunan sebagai bagian dari deregulasi dalam pengembangan pelayanan public . professional dan berdaya saing.

Program pengembangan pemberdayaan masyarakat . c. Program pembinaan dan pemasyarakatan olahraga . III . Program : a. Program manajemen pelayanan pendidikan . berprestasi dalam menunjang kota jasa bermartabat. Program pendidikan menengah . Misi-2 : Mengembangkan perekonomian kota yang berdaya saing dalam menunjang penciptaan lapangan kerja dan pelayanan public serta meningkatkan peranan swasta dalam pembangunan ekonomi kota. Program : a. Program penguatan kelembagaan keluarga kecil berkualitas . Program peningkatan kualitas penyelenggaraan pendidikan. Program peningkatan upaya penumbuhan kewirausahaan dan kecakapan hidup pemuda . Program peningkatan ekonomi masyarakat . d. Program peningkatan ketenagakerjaan. q. g. j. e. b. w. Program pendidikan non formal . o. u. c. lingkungan agamis dan aktivitas social keagamaan . Program peningkatan peran serta dan kesetaraan gender dalam pembangunan . Misi-3 : Meningkatkan kesejahteraan social dan mengembangkan budaya kota yang tertib. Program peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan . Program pengembangan iklim religius. x. Program peningkatan kualitas hidup dan perlindungan perempuan dan anak. Program pemberdayaan fakir miskin dan penyandang masalah kesejahteraan social (PMKS) lainnya . r. aman. Program peningkatan sarana prasarana pendidikan . Program peningkatan ketahanan pangan . Program pengembangan system informasi dan mikro keluarga .78 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 i. s. h. n. p. e.12 . Program peningkatan toleransi dan kerukunan umat beragama . f. Program pemberdayaan kelembagaan kesejahteraan social . kredit. Program keserasian kebijakan peningkatan kualitas anak dan perempuan. Program peningkatan peran serta kepemudaan . Program pengembangan kebijakan dan manajemen olahraga . t. Program pengembangan nilai budaya daerah . Program peningkatan investasi . l. m. Program pengembangan budaya baca dan pembinaan perpustakaan . d. Program wajar pendidikan dasar sembilan tahun . i. Program peningkatan pariwisata . b. Program peningkatan sarana dan prasarana olah raga . v. k. Program penguatan kelembagaan pengarusutamaan Gender dan Anak.

penggunaan dan penguasaan tanah . x. b. Program penataan ruang terbuka public secara berkualitas .79 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 j. r. Program peningkatan keamanan dan kenyamanan lingkungan. Program pengendalian dan pengamanan lalu lintas. j. s. penguasaan. Program penyediaan air baku .13 . Program pemanfaatan ruang . n. Misi-4 : Menata kota Bandung menuju Metropolitan terpadu berwawasan lingkungan. Program pelayanan prima dalam pencegahan dan penanggulangan kebakaran serta bencana lainnya. n. Program penataan. Program : a. dan konservasi sungai. l. danau dan sumber daya air lainnya . o. Program peningkatan pengelolaan sampah perkotaan. m. Program penataan bangunan dan bangun-bangunan . d. Program penmyelenggaraan dan pemeliharaan ketentraman dan ketertiban. Program peningkatan kapasitas dan cakupan pelayanan air bersih. Program pembangunan prasarana dan sarana perhubungan . pemilikan. Program perencanaan tata ruang . Program pembangunan jalan dan jembatan. c. g. k. Program pembangunan saluran drainase/gorong-gorong . z. Program pengendalian pencemaran dan perusakan lingkungan hidup. t. k. u. Program optimalkisasi system pengelolaan persampahan . p. Program tanggap darurat bencana alam . e. q. Program pembangunan dan pengembangan trotoar . Program pengendalian banjir w. Program peningkatan pengendalian polusi . Program pengembangan kinerja pengelolaan air minum dan air limbah . Program penyediaan sarana pembibitan RTH (baru) . Program pengendalian pemanfaatan ruang . Program pemantapan kelembagaan potensi sumber kesejahteraan social (PSKS) . cc. Program pengembangan. Program perlindungan dan konservasi sumber daya alam . v. h. Program peningkatan kesiapan kesiagaan dan pencegahan bahaya kebakaran . l. Program peningkatan sarana dan prasarana kebinamargaan. pengelolaan. m. bb. III . Program pengembangan perumahan. Program penanggulangan bencana alam dan perlindungan masyarakat . i. Program peningkatan pelayanan angkutan. y. Program rehabilitasi hutan dan lahan . Program pengembangan komunikasi informasi dan media massa . f. aa.

Program pendidikan politik masyarakat dan wawasan kebangsaan . Program peningkatan dan pengembangan pengelolaan keuangan daerah . Program pembangunan hokum daerah . Misi-6 : Meningkatkan kapasitas pengelolaan keuangan dan pembiayaan pembangunan Kota yang akuntabel dan transparan dalam menunjang system pemerintahan yang bersih dan berwibawa. maka pada saat disusun rencana kegiatan dan keuangan tahunan harus diperkirakan biaya setiap kegiatan – kegiatan yang diusulkan. g. pemeliharaan dan lain sebagainya). b. III . 6 Tahun 2008). Program : a. pengembalian pinjaman dan lain-lain. d. pengembangan dan peningkatan kapasitas aparatur . Program : a. j. Karena kebutuhan pendanaan ini bersifat indikasi dan pada tingkatan makro. Indeks pembangunan Manusia (IPM). Program pemeliharaan ketentraman dan ketertiban umum serta perlindungan masyarakat . sedangkan sumber-sumber dana lain seperti APBN. sedangkan Belanja Tidak Langsung dapat ditentukan dengan rasio PNS yang ada. Belanja Tidak Langsung dialokasikan dalam bentuk biaya rutin (gaji. e. Program pengembangan kemitraan pembiayaan pembangunan daerah. 3. h. efisien.80 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Misi-5 : Meningkatkan kinerja pemerintah Kota yang efektif. Kebutuhan pendanaan dalam ini difokuskan pada Belanja langsung atau Belanja Pembangunan. Program kelembagaan dan ketatalaksanaan. APBD Propinsi dan bantuan-bantuan serta dana masyarakat diasumsikan memiliki kecenderungan peningkatan juga.14 . Program perencanaan pembangunan . dengan kecenderungan Belanja Daerah selama Tahun 2003 -2007. f. Program peningkatan sarana dan prasarana aparatur . Program pembinaan. c. i. sedangkan Belanja Langsung adalah belanja program yang dialokasikan untuk kegiatan-kegiatan pembangunan. akuntabel dan transparan dalam upaya meningkatkan kapasitas pelayanan Kota Metropolitan. Program penataan perundang-undangan . Program pengawasan pembangunan daerah . Selain itu kebutuhan dana ini khususnya adalah yang menjadi focus bagi APBD Kota Bandung.6 KEBUTUHAN ANGGARAN Kebutuhan anggaran dapat dikelompokkan ke dalam Belanja Tidak Langsung dan Belanja Langsung. Kebutuhan anggaran untuk Belanja Langsung (pembangunan) secara makro diperkirakan dengan menggunakan model ekonometrika yaitu dengan mengaitkan antara target pencapaian indicator utama Otonomi Daerah (PP No. Program pemantapan reformasi birokrasi . b.

46 77.55 Indeks Daya Beli 62.29 88.99 64.95 63.25 91. Dengan model linier. Target IPM tersebut dapat diuji dari dua simulasi. yaitu simulasi dengan model parabola (non linier) dan modal linier.26 89.66 91.18 89.17 77.1.25 81. maka sampai tahun 2013 kemungkinan hanya akan dapat dicapai IPM 79.08 80.13 * 90. Estimasi tahun 2008 adalah masa transisi. maka akan di akumulasikan pada tahun berikutnya. I dk e bn u a a ui n e sP ma g n nMn sa 84 82 80 78 76 8 20 09 2 00 3 6 20 0 7 1 2 2 01 3 10 1 1 4 5 Grafik 3.25. Model parabola ini dalam implementasinya mensyaratkan kerja keras segenap aparat maupun warga masyarakat dalam bentuk upaya yang sungguh-sungguh.20 79.60 90.81 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang ingin dicapai pada tahun 2013 adalah sebesar 81.04 64.72 91.23 %.58 80. Target IPM dan Komponennya Tahun 2008-2013 Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 2008 * 2009 2010 2011 2012 2013 IPM 77.79 * 80. Pertumbuhan penduduk rata-rata pertahunan diasumsikan sebesar 1.07 68.1.15 77. Posisi Target IPM Tahun 2013 III .23 79. maka target sebesar 81.54 78.09 78.59 * 79.46 67.34 63.94 81.94 89.07 tersebut justru akan dapat dilampaui.27 79.27 68. sehingga bila estimasi ini terlalu tinggi.57 81. kreatifinovatif.16 91.40 81.88 Target IPM tersebut didasarkan pada RPJMD Kota Bandung tahap –II.07 dengan rincian indeks masing-masing seperti tampak pada tabel berikut ini : Tabel 3.15 .78 Indeks Kesehatan 79.10 81.08 79.38 80. dan listrik secara garis lurus dengan tingkat IPM terakhir pada tahun 2007.64 80. Bila dengan menggunakan model parabola.07 Indeks Pendidikan 89.65 66.85 * 65.93 63.

1. Kesehatan. secara langsung pada program pendidikan. program pendukung berupa a III . Ekonomi.16 .051 Perkiraan kebutuhan belanja langsung pada tabel di atas..273 1. Kebutuhuan Total Belanja Langsung dan Belanja Langsung per Kapita APBD Kota Bandung Tahun 2008-2013 Tahun 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 Sumber : Hasil Analisis Total Belanja Langsung (Milyar Rp) 750 878 1. Pada tahun 2013 diperkirakan kebutuhan belanja langsung sebesar Rp.411 370.891 Milyar atau rata-rata balanja langsung perpenduduk Kota Bandung adalah Rp.425 607.226 682. yaitu tidak tercapainya target tahunan dapat menimbulkan akumulasi kebutuhan belanja langsung pada tahun berikut.Pertahun. ekonomi.492 1. Selanjutnya kebutuhan belanja langsung. diasumsikan tidak terjadi perubahan-perubahan drastic dan mendasar pada berbagai kondisi eksternal sehingga berdampak negative. Infrastruktur dan Pranata. Kluster yang dimaksud adalah Bidang Pendidikan.000. selanjutnya dapat diperkirakan secara makro alokasinya menurut kluster dan program prioritas.2. maka dapat diperoleh perkiraan kebutuhan belanja langsung dari Tahun 2008-2013 dengan asumsi sumber-sumber dana lain dari APBN. Pada tahun 2009 diperkirakan kebutuhan belanja langsung sebesar Rp.036 Milyar atau rata-rata belanja langsung perpenduduk Kota Bandung adalah Rp. 751. APBD Propinsi dan dana masyarakat juga mengikuti kecenderungan yang meningkat.036 1. Demikian juga sebaliknya. Pencapaian yang lebih tinggi pada tahun bersangkutan akan memperingan pencapaian dan penyediaan dana tahun berikutnya.697 1.pertahun. kesehatan.891 Belanja Langsung perkapita (Rp/tahun) 320. adalah sebagai berikut : Tabel 3.865 432. demikian juga apabila ternyata efektifitas pencapaian indicator berjalan lambat.169 524.305 751. 432. Kluster disusun atas dasar tugas pokok dan fungsi SKPD. Selain itu selama perjalanan tahun tersebut. 1. Berdasarkan target diatas.82 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Atas dasar target IPM tersebut maka dapat diperkirakan kebutuhan belanja langsung perkapita dan total belanja langsung pertahun.000.

Kebutuhan Belanja Langsung APBD Kota Bandung Tahun 2008-2013 menurut 7 Agenda Kota (Milyar Rupiah) Tahun • Bandung Cerdas • Bandung Sehat • Bandung Makmur • Bandung Berprestasi • Bandung HIjau 262 286 299 378 459 541 626 • Bandung Kota Seni Budaya • Bandung Kota Agamis • Reformasi Birokrasi 298 417 528 625 714 796 871 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 66 58 83 117 137 149 154 86 82 83 98 114 131 148 38 36 44 56 68 80 93 Sumber : Hasil Analisis . maka perkiraan kebutuhan belanja langsung adalah sebagai berikut : Tabel 3.83 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 penyediaan infrastruktur dan program kepranataan berupa peningkatan kinerja Pemerintah Kota Bandung.3. Dalam kaitannya dengan 7 Agenda Prioritas dan Reformasi Birokrasi.

2. 3. Secara umum strategi keuangan daerah yang akan ditempuh adalah : 1. maka dalam hal perencanaan anggran Kota Bandung dan kabupaten-kota lainnya tentu saja mengalami kesulitan estimasi anggaran. Dampak selanjutnya adalah keterbatasan gerak dalam menyusun perencanaan program pada tahun berikutnya. walaupun Kota Bandung tergolong sebagai Kota yang memiliki PAD tinggi.1 STRATEGI KEUANGAN Strategi pengelolaan keuangan daerah meliputi aspek pendapatan. 5. Meningkatkan upaya optimalisasi pemanfaatan aset daerah dan kinerja BUMD terhadap penerimaan daerah. maka kontribusi terhadap pendapatan juga hanya sekitar 35 % saja atau tidak akan mampu memenuhi 50% pendapatan. 2. Meningkatkan efektifitas dan efisiensi penerimaan PAD. Karena kontribusi Dana Perimbangan demikian besar dan transmisinya terlebih dahulu dikumpulkan oleh pusat atau propinsi dan kemudian baru disalurkan. Diferensiasi penerimaan PAD sesuai dengan kebutuhan masyarakat.2 4.Terlebih lagi karakteristik PAD yang terkait dengan pelayanan. misalnya melaluiobligasi 4. Peningkatan pendapatan daerah yang signifikan adalah berasal dari propinsi dana perimbangan. IV . Mengupayakan sumber-sumber pendapatan in-konvesional. maka peningkatan PAD besaran-besaran potensial menimbulkan beban masyarakat dengan berbagai penerimaan yang dipungut oleh pusat dan propinsi. Apabila Kota Bandung mampu meningkatkan pendapatan dari PAD yang kebanyakan bersumber dari pajak dan retribusi secara derastis misalnya 100%. Meningkatkan efektifitas pembelanjaan melalui perencanaan yang baik dan proposional. 4.84 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 BAB IV KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH 4. pembelanjaan dan pembiayaan.1 .1 ARAH KEBIJAKAN KEUANGAN PENGELOLAAN PENDAPATAN DAERAH Sumber pendapatan kabupaten dan kota di Indonesia sebagian besar berasal dari Dana Perimbangn. Situasi seperti ini patut dicermati dengan hati-hati. Dengan demikian pada dasrnya Dana Perimbangan sebagian besar menunjukan kapasitas fiskal suatu daerah.

baik langsung ataupun tidak langsung. yaitu i) perekonomian tumbuh normal ii) perekonomian tumbuh sesuai target.686 1.355 2.144 2. Semakin meningkat ekonomi suatu daerah maka potensi pendapatan daerah juga meningkat.1 Perkiraan pertumbuhan ekonomi Normal dan perkiraan pendapatan.433 2010 71.312 2008 57.537 2013 92. Untuk memproyeksikan perkiraan pendapatan Pemerintah Kota Bandung.467 2011 78. Seperti pada gambar berikut.744 1.097 1.140 1.398 1.2 . atau tingkat ekonomi suatu aderah dapat dipandang sebagai revenue capacity.933 2.246 1.572 Sumber : Hasil Analisis Pendapatan 1. ) 60000 40000 20000 0 20 03 6 20 07 8 20 09 4 5 10 NORMAl PESIMIS Grafik 4.755 1. Perkiraan Kenenderungan Pertumbuhan Ekonomi Kota Bandung Berdasarkan kecenderungan di atas selanjutnya ditetapkan dua sekenario.502 2012 85. OPTIMIS 80000 ( Milyar Rp.087 2. Berikut ini adalah sekenario perkiraan Pendapatan. PAD dan Dana Perimbangan Pemerintah Kota Bandung Tahun 2008-2013 (Milyar Rp) Tahun PDRB Normal 2006 43.777 PAD 254 288 328 361 400 440 479 518 Perimbangan 1. Pola pesimis tidak dihitung dalam sekenario.491 2007 51. Tabel 4.572 1. maka terlebih dahulu dianalisis kemungkinan pertumbuhan ekonomi Kota Bandung.85 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Peningkatan pendapatan aderah berkaitan dengan pertumbuhan aktivitas masyarakat atau pertumbuhan ekonomi.398 2009 64.916 2. PAD dan Dana Perimbangan Kota Bandung dalam dua sekenario.566 2.259 IV . dengan asumsi kinerja aparat akan semakin efektif dan efesiensi bersamaan dengan dilakukannya tahapan reformasi birokrasi.

398 1.491 2007 51.259 Milyar.600 2.001 2. kemudian dipilih bentuk-bentuk pengelolaannya. diantaranya adalah melalui koondisi pemanfaatan data basis sumber PAD serta penilaian kembali atas sumber tersebut. 2. Optimalisasi aset daerah.29% karena itu perkiraan revenue capacity sebesar 3% dari PDRB termasuk pendapatan yang relatif berhati-hati.3 . mengingat potensi ketidakpastian perekonomian bersamaan dengan kerisis ekonomi global. 2. bila pada tahun 2003 sebesar 4.Penggunaan sistem informasi dapat membantu efektifitas dan efisiensi manajemen pendapatan daerah. Pada pencapaian tingkat ekonomi yang lebih tinggi. 2. Optimasi manajemen pendapatan daerah. Pendapatan tahun 2013 diperkirakan Rp.56% dan Dana Perimbangan sekitar 2. Sedangkan apabila tingkat ekonomi lebih rendah. Mendorong pertumbuhan aktivitas ekonomi dan investasi di Kota Bandung.685 2010 76.964 3.2 Perkiraan Pertumbuhan Ekonomi menurut Target dan Perkiraan Pendapatan. maka ada beberapa langkah strategis.3.115 2.855 2. 3.797 2013 112.140 1.496 2009 66.44% dan PDRB. sehingga menurut target . maka pada tahun 2007 menjadi 3. maka potensi pendapatan juga lebih tinggi.628 Sumber : Hasil Analisis Pendapatan 1.664 2012 98.246 1. dikerjasamakan dengan Pemerintah Propinsi Jawa Barat yang juga a IV . maka potensi pendapatan juga lebih tinggi. terdiri dari PAD Rp. Rasio ini di Kota Bandung menunjukan angka yang semakin menurun. PAD dan Dana Perimbangan Pemerintah Kota Bandung Tahun 20082013 (Milyar Rp) Tahun PDRB Tinggi 2006 43.097 1. 631 Milyar dan Dana Perimbangan Rp.686 1.281 2. yaitu Rp. Untuk mewujudkan pencapaian penerimaan daerah. Upaya ini relatif lebih memperingan beban masyarakat daripada melalui upaya peningkatan tarif berbagai sumber PAD.627 1. Pendapatan tahun 2013 diperkirkan lebih rendah. yaitu : 1. sehingga basis penerimaan (revenue capacity) mengalami peningkatan.411 2.777 Milyar. Dilakukan melaui klasifikasi aset menurut potensi ekonominya.748 Milyar. sehingga menurut target. 2.379 Milyar.755 2.02%.748 Perkiraan pendapatan . PAD capacity sekitar 0. 518 Milyar dan Dana Perimbangan Rp. misalnya dikelola sendiri.379 PAD 254 288 328 373 426 485 553 631 Perimbangan 1.312 2008 58.86 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Tabel 4.021 2011 86. PAD dan Dana Perimbangan ditentukan menurut asumsi revenue capacity Pemerintah Kota Bandung sebesar 3% dari PDRB.terdiri dari PAD Rp.

2 25. Artinya perhatian Pemerintah Kota Bandung terhadap Pembangunan Kota semakin meningkat.8 57.697 2013 1. 4.4 57.4 .2 PENGELOLAAN BELANJA DAERAH Pengelolaan belanja derah sangat erat kaitannya dengan sistem pengelolaan keuangan daerah. seperti yang diamantkan dalam RPJPD Tahun 20052025.4 44.3 56.4 63. Pada dasarnya pengelolaan aset ini dapat menjadi sumber pendapatan yang penting bagi Kota Bandung di masa depan. terutama pada sumber-sumber dana perimbangan serta potensi dan perimbangan yang selama ini belum diganti.3 Kebutuhan Belanja Langsung APBD Kota Bandung (Milyar RP) Belanja Langsung 2005 316 2006 354 2007 750 2008 878 2009 1.4 66.5 50.2.6 59. Sesuai dengan reformasi dibidang keuangan.492 2012 1. Bila kebutuhan Belanja Langsung tersebut dipersentasikan terhadap perkiraan APBD Kota Bandung Tahun 2009-2013.0 IV .036 2010 1. dapat diperkirakan kebutuhan Belanja Langsung dari Tahun 2009-2013.1 Target (%) 28.1 51.4 44.8 55. masyarakat semakin menuntut adanya pengelolaan keuangan publik secara transparan dalam rangka mewujudkan akuntabilitas yang didasarkan pada perinsip-perinsip anggaran berbasis kinerja yaitu belanja daerah yang berorentasi pada pencapaian hasil atau kinerja.273 2011 1.1 53.2 25. 4.5 50.1 68. maka adanya kecenderungan persentase Belanjua Langsung semakin meningkat. Advokasi Dana Perimbangan dilakukan melalui upaya-upaya koordinasi dengan Pemerintah Pusat dan Propinsi Jawa Barat. Anggaran tersebut mencemarkan efisiensi dan efektivitas pelayanan publik.87 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 memiliki aset dalam jumlah besar di Kota Bandung. sistem penganggaran maupun akutansi. Tabel 4. Berdasarkan Belanja Langsung per kapita di Kota Bandung .891 Sumber : Hasil Analisis Tahun Normal (%) 28.

5. Secara umum dalam setiap aspek selalu berpegang pada prinsip akuntabilitas. Pembiayaan adalah transaksi keuangan daerah yang dimaksud untuk menutup selisish antara pendapatan daerah dan belanja daerah. Menetapkan program prioritas dan menggunakan toal ukur kinerja yang jelas. transfer dari dana cadangan maupun hasil penjualan aset daerah yang dipisahkan. . dan secara umum meningkatkan peran perencanaan. Sumber pembiyaan dapat berasal dari sisa lebih perhitungan anggaran tahun lalu. 6. Dilakukan dengan memastikan lokasi dan sasaran pembangunan. Optimalisasi sumber tetap pendapatan Pemerintah Kota Bandung. yaitu dengan : 1. Penyehatan BUMD agar memberikan kontribusi signifikan pada pemerintah daerah. Optimalisasi Belanja Langsung.2. Memfasilitasi stakeholders dalam mealokasikan dana mereka (misalnya corporate social responsibility) dan lain-lain agar terdapat saran. termasuk juga pengelolaan Nelanja Tidak Langsung yang sebenarnya lebih mudah untuk diprediksi. pemantauan program dan kegiatan. Stimulasi kepada masyarakat untuk berpartisipasi dalam pembangunan. 3. transparansi dan upaya yang sungguh-sungguh. penerimaan pinjaman obligasi. Belanja Tidak Langsung harus sebaik mungkin dapat diprediksi dan dilakukan secara konsisten sehingga mengurangi percampuran alokasinya dengan Belanja Langsung . Optimalisasi juga dapat dilakukan melalui koordinasi dan sinergitas antar SKPD dalqam menangani suatu masalah. 4. dalam hal ini terjadi defisit anggaran.3 PENGELOLAAN PEMBIAYAAN Pembiayaan adalah transaksi keuangan daerah yang dimaksud untuk menutup selisih antara pendapatan derah dan belanja daerah. dalam hal ini terjadi defisit anggaran. Sumber pembiayaan dapat berasal dari sisa lebih perhitungan anggaran tahun lalu.88 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Kebutuhan Belanja Langsung di atas bersifat indikatif dan mensyaratkan beberapa hal yang penting untuk dipenuhi. Sedangkan dalam pengeluaran pembiayaan itu sendiri adalah angsuran hutang. 3. Meningkatkan efektifitas dan efisiensi Belanja Tidak Langsung melalui perencanaan anggaran dan sistem akuntansi yang baik. misalnya dengan alokasi dana langsung di tingkat kelurahan. 2. satuan biaya yang tepat. 2. Inisiasi penerbitan obligasi Pemerintah Kota Bandung. 4. Mendorong dunia perbankan untuk mealokasikan keredit pada usaha-usaha produktif di Kota Bandung untuk mencapai pertumbuhan ekonomi. 4. Strategi Pengelolaan Belanja Daerah Kota Bandung Tahun 2009 – 2013 adalah sbagai berikut : 1. Bantuan modal dan transfer dana cadangan.

Indeks Pendidikansebesar 92. Indeks Daya Beli 68. maka disusun 7 (tujuh) Agenda Prioritas untuk Tahun 2009-2013.33. Selain itu beberapa indikator makro strategis yang ingin dicapai antara lain : 1.-/tahun (rill tahun dasar 2000) Pengangguran terbuka 15% 5.88.2 AGENDA PRIORITAS Agenda Prioritas diartikan sebagai penjabaran pelaksanaan misi dalam pencapaian visi yang menjadi prioritas dalam pelaksanaan program dan kegiatan Walikota Bandung 5 (lima) tahun ke depan. 2. Dengan mempertahankan substansi program-program yang sudah belanja pada periode sebelumnya serta mempertimbangkan kampanye Walikota. maka target pencapaian IPM sampai akhir tahun 2013 adalah sebagi berikut : 1.000.000. 16. Tujuan Otonomi Daerah adalah peningkatan kualitas manusia yang diukur dengan indeks Pembangunan Manusia (IPM).07 atau penduduk Kota Bandung secara umum tergolong dalam kesejahteraan tinggi. Mengacu pada RPJPD Kota Bandung Kota Bandung tahap-II. Adapun 7 (tujuh) agenda tersebut adalah : V.78.89 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 BAB V INDIKATOR KINERJA DAN AGENDA PRIORITAS 5. indikator ini terutama mengcu pada PP. 4.No 6 Tahun 2008. 2. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) sebesar 81. 4. Pendapatan (PDRB) perkapita Rp. 3. Secara umum untuk Tahun 2009-2013 akan dilakukan berbagai macam program pembangunan.55. Laju pertumbuhan ekonomi 9. Indeks Kesehatan sebesar 81. dengan indikator hasil akhir. Penetapan agenda priorotas mencerminkan urgensi permasalahan yang hendak diselesaikan tanpa mengabaikan penyelesaian permasalah lain. 3.1 INDIKATOR UMUM Indikator umum adalah sejumlah indikator makro yang akan dicapai pada tahun 2009 – 2013.1 . Pemerataan pendapatan kategori sedang (15%-versi Bank Dunia). Tahun 2005-2025.

Bersamaan dengan pelaksanaan 7 (tujuh) Agenda Prioritas tersebut dilakukan juga upaya peningkatan kinerja aparat menuju Good Governance dengan melajutkan tahapan Reformasi Birikrasi yang akan dilaksanakan melekat pada pelaksanaan 7 (tujuh) Agenda Prioritas tersebut. 7. 2. Meningkatkan Persentasi Olah Raga dan Kepemudaan Kota Bandung (Bandung Berprestasi). 6. melalui Bantuan Walikota untuk Kesehatan (Bawaku Sehat). reformasi birokrasi mutlak harus dilaksanakan pada setiap peranan melalui perwujudan dan interaksi yang sinergis. Memantapkan kesehatan warga Kota Bandung (Bandung Sehat). Oleh karena itu. Dengan demikian tidak semua perubahan a V. Yang dimaksud dengan Bandung Hijau dan Harmonis adalah suatu keadaan yang mencerminkan adanya keselarasan. Benah Usaha. terpadu dan konferhensif yang ditunjukan untuk merealisasikan tata kepemerintahan yang baik (Good Governance) untuk melakukan perubahan pola pikir (Mind Setting). diantaranya dengan : Bantuan Walikota untuk Kemakmuran (Bawaku Makmur) Bantuan Walikota untuk Ketahanan Pangan (Bawaku Pangan) Bantuan Walikota untuk Penduduk Lanjut Usia (Bawaku Lansia) melalui Gerakan Sayang Orang Tua (Gerakan Nyaah Ka Kolot) yang terdiri dari: Bina Perumahan. keserasian dan keseimbangan dalam memantapkan pembangunan Kota Bandung berkelanjutan dan berwawasan lingkungan yang didukung oleh 5 gerakan: i) Penghijauan dan Hemat serta Menabung Air. Meningkatkan Kemakmuran Warga Kota Bandung (Bandung Makmur). Memantapkan Pembangunan Kota Bandung Berkelanjutan dan Berwawasan Lingkungan (Bandung Hijau dan Harmonis). Memantapkan Kecerdasan Warga Kota Bandung (Bandung Cerdas). sistematis dan terencana atas dasar kemitraan. Reformasi yang dilakukan merupakan perubahan tatanan yang lebih baik bukan perubahan secara parsial. Memantapkan Pembinaan Seni dan Meningkatakan Budaya Kota Bandung (Bandung Kota Seni Budaya). melalui bantuan Walikota untuk Pendidikan (Bawaku Sekolah).90 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 1. ii) Cikapundung Bersih iii) Sejuta Bunga Untu Bandung iv) Udara Bersih v) Gerakan Pembibitan. Benah Lingkungan). Bina Usaha dan Bina Lingkungan (Benah Imah. Memantapkan toleransi dan Pembinaan Umat Beragama ( Bandung Agamis). 5.2 . 3. budaya (Cultural Setting) dan peningkatan kopetensi dan profesionalisme aparatur melaui penataan aparatur dan manajemen pemerintah. Penanaman. 4. Reformasi birokrasi dimaksud adalah upaya yang sistematis.

Penataan Kelembagaan (Institutional reform) 3. Kriteria reformasi hanya dapat disandangkan apabila terjadi perubahan sistematis dan terencana (sistematic and planned change) yang diarahkan untuk melakukan transformasi secara mendasar dengan outcomes yang lebih baik. Tahun 2011: Pengembangan. 4. Peningkatan Investasi.3 . Untuk itu tahapan pementapan ini dibagi menjadi beberapa tahapan rinci setiap tahun. Optimalisasi Potensi Pendapatan. Reformasi Birokrasi yang telah dilaksanakan pada periode Tahun 2003-2008 adalah restrukturisasi birokrasi. 2. Penerapan Pola Pelayanan Satu Pintu. Taat dalam arti birokrasi yang memahami dan menaati serta menjalankan norma-norma agama dan budaya serta peraturan-peraturan yang menjadi landasan dalam penyelenggaraan pemerintah. Birokrasi bermartabat adalah sosok birokrasi yang diharapkan dapat diwujudkan dalam penyelenggaraan roda Pemerintahan Kota Bandung yang memiliki karakteristik sebagai berikuut: Bersih dalam arti bebas dari Korupsi. Bersahabat dalam arti mampu bersosialisasi.91 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 dapat dikategorikan sebagai reformasi. 2. Selanjutnya kelanjutan Reformasi Birokrasi untuk Tahun 2009-2013 merupakan tahapan pemantapan serta tahun 2003-2008 dilakukan strukturisasi. Tahun 2009: Institusionalisasi. Pengembangan dan Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (EGovernment). memberikan teladan dan menjadi panutan masyarakat serta ramah dan bersahabat dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Tahun 2012-2013: Percepatan –Pemantapan (Pemantapan Akhir) Adapun Isu-isu strategis birokrasi di lingkungan pemerintah Kota Bandung meliputi : 1. 5. yaitu : 1. 3. Hasil yang diharapkan dari pelaksanaan reformasi birokrasi ini adalah terciptanya birokrasi bermartabat di lingkungan Pemerintah Kota bandung. Kolusi dan Nepotisme (KKN). 4. Makmur dalam arti mampu memenuhi kebutuhan dasar dan berkeinginan untuk mencapai kehidupan dan penghidupan yang lebih baik. Tahun 2010: Pertumbuhan . 6. V. Pengembangan Sumber Daya Manusia Aparatur.

Daftar program dan indikatornya dapat dilihat pada matrik berikut ini.92 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Tabel V. V.1 Indikator Kinerja Agenda Prioritas Agenda Prioritas Bandung Cerdas Bandung Makmur Indikator Capaian Indeks Pendidikan RLS AMH LPE Tingkat Pemerataan pendapatan versi Bank Dunia PDRB Rill/kapita Indeks Daya Beli Tingkat pengangguran terbuka Indeks Kesehatan Angka harapan hidup Angka kematian bayi Jumlah Kematian ibu melahirkan Meningkatkan kesadaran masyarakat dan komunitas seni dan budaya dalam rangka pelestarian seni dan budaya secara profesional dan berkesinambungan Meningkatkan sikap toleransi dan kerukunan antara umat beragama Meningkatkan pemahaman dan pengamalan agama sesuai dengan agamanya dan keyakinan masing-masing Meningkatnya sikap toleransi dan kerukunan umat beragama Meningkatanya prestasi Cabang Olah Raga Ruang terbuka hijau publik dan private yang efektif menunjang fungsi hidrologi Meningkatnya jumlah SKPD yang bersertifikat sistem manajemen mutu (SMM) ISO 9001:2000 Target Capaian 2013 92.33% Minimal 15% (kategori sedang) Minimal Rp. hutan kota.55 74 Tahun 31/1000 kelahiran 12 orang/tahun Bandung Sehat Bandung Kota Seni Budaya Bandung Agamis Bandung Berprestasi Bandung Hijau Reformasi Birokrasi 16% (dalam bentuk taman.08% 9.78 12 Tahun 99. sempadan sungai.16 juta per tahun 68.88 15% 81.4 . Pada dasarnya indikator ini adalah indikator-indikator sasaran guna mencapai indikator umum yang telah di sebutkan sebelumnya.3 INDIKATOR KINERJA DAERAH Indikator kinerja daerah adalah sejumlah indikator yang akan dicapai melalui sejumlah program yang kan dilaksanakan pada Tahun 2009-2013 Indikator ini dikelompokkan menurut misi. kawasan konserfasi dan RTH lainnya) 83 SKPD 5.

Status Balita dengan Gizi Buruk 4. serta inspeksi lingkungan sehat. bahan berbahaya serta NAPZA 1.07 pada tahun 2013 INDEKS KESEHATAN : 80.05 tahun <1% 80. anak. UKBM Posyandu Aktif EKSISTING 2008 80. Meningkatkan perilaku Hidup Bersih & Sehat (PHBS) di masyarakat dan meningkatkan Upaya Kesehatan Beersumberdaya Masyarakat (UKBM) 1. Cakupan Kelurahan Universal Child Imunization (UCI) 2.39 tahun <1% 2009 80. Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) yang memliki sertifikat. Fasilitas kesehatan melaksanakan SPM 126 Kelurahan 128 Kelurahan 87. Pengawasan dan pengendalian keamanan obat. bahan dan alat kesehatan sesuai dengan kebutuhan 2. Puskesmas Pelatihan Penanganan Gawat Darurat (PPGD) 3.79 73. Profesional. dan Lingkungan Sehat 4.39% 100% 132 Kelurahan 87. PHBS Rumah Tangga 2. Pencegahan dan penanggulangan penyakit menular.25 tahun <1% 80.23% 49. 60% pada tahun 2008 menjadi 80% memenuhi SPM kesehatan pada tahun 2013 PROGRAM 1. Pembangunan sarana dan prasaranan kesehatan INDIKATOR PROGRAM 1.00% 100% Target tidak bisa 100% karena vaksin campak masih tergantung pada Departemen Kesehatan 86. Program Obat dan Perbekalan Kesehatan 1.5 . Indeks Kesehatan 2.79 pada tahun 2008 menjadi 81. tidak menular.19% 100% 130 Kelurahan 87. Program Peningkatan Sarana. Program Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat 40.60% 100% 134 Kelurahan 87. pangan.55 tahun <1% Terlayaninya masyarakat miskin yang berobat di Puskesmas dan Rumah Sakit Kelas III KETEREANGAN 100% 100% 100% 100% 100% 100% 2. Pelayanan kesehatan penduduk miskin.99% 100% 50% 7 RS 7 Puskesmas 21 Puskesmas 55% 9 RS 7 Puskesmas 21 Puskesmas 60% 11 RS 8 Puskesmas 30 Puskesmas 65% 13 RS 9 Puskesmas 39 Puskesmas 70% 15 RS 10 Puskesmas 48 Puskesmas 75% 17 RS 11 Puskesmas 57 Puskesmas 5. dan Manajemen Kesehatan V.48% 47.00% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 3.8 pada Tahun 2008 menjadi 81. Pelayanan Kesehatan dasar terhadap ibu. Penanggulangan Penyakit. Program Pencegahan. bahan dan alkes. remaja.12% 50. Pelayanan Kesehatan Khusus. bayi.85 tahun <1% TARGET CAPAIAN KINERJA TAHUNAN 2010 2011 2012 80.39 tahun pada tahun 2008 menjadi 74 tahun pada tahun 2013 ANGKA KEMATIAN BAYI dari 181 orang pada tahun 2008 menjadi : 31/1000 kelahiran hidup pada tahun 2013 JUMLAH KEMATIAN IBU MELAHIRKAN : 20 orang/tahun pada tahun 2008 menjadi 12 orang/tahun FASILITAS KESEHATAN. Terselenggaranya pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin di Puskesmas dan Rumah Sakit di Kelas III yang dijamin oleh Pemerintah 1.36% 48. Pengadaan Obat. Berahlak. Program Upaya Kesehatan Masyarakat SASARAN PROGRAM 1.60% 46. 1. Peningkatan akses dan mutu pelayanan keehatan rujukan 1.93 MISI – 1 Mengembangkan Sumber Daya Manusia yang Sehat. Prasarana. Cerdas. Terpenuhinya ketersediaan obat. balita. Rumah Sakit yang terakreditasi 2. Memantapkan Kesehatan Warga Kota Bandung INDIKATOR CAPAIAN MISI IPM : 77. Usia Harapan Hidup (UHH) 3. dan Berdaya Saing Tujuan Misi : 1.45 Tahun <1% 2013 80. Pengembangan. lansia.55 pada tahun 2013 USIA HARAPAN HIDUP : 77. 1. Inspeksi Tempat-Tempat Umum (TTU) 1.70% 100% 136 Kelurahan 88.

Partisipasi Bina Keluarga Remaja 3. Rata-rata Usia Kawin pertama bagi Wanita (tahun) 1.07% 77. Meningkatnya Angka 1. Peningkatan kualitas pelayanan KB bagi Pasangan Usia Subur (PUS) terutama KB pria dan Keluarga Miskin 1. Rata-rata Jumlah jiwa dalam keluarga (orang) 2.91% 96. dan KS 1 Alasan Ekonomi (Alek) dalam Poktan UPPKS 1. Keluarga Pra KS.16% 17.70% 71. Program Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) 8. Program Wajar 1.70 pada 1.96% 20.59 tahun 10. Institusi masyarakat pengelolaan Program KB aktif 1.59% 1.05% 131. Program Pengembangan Sistem Informasi dan Mikro Keluarga 1. RT.08% 98.91% 73. Partisipasi Keluarga.80% 62.05% Tujuan Misi : 2.98% 16.7 13.83% 12.25 pada tahun Peningkatan Lama Sekolah (RLS) 2013 Kualitas Penyelenggaraan RLS : 10.57% 81.89% 20.28% KETEREANGAN 7. remaja.05% 131. Peningkatan masyarakat institusi masyarakat terhadap pengelolaan program KB 1. Program Keluarga Berencana SASARAN PROGRAM 1. Meningkatkan Rata-Rata 1. Partisipasi Bina Kemuarga Balita 2. Cakupan Pa/PUS 2. Meningkatan kemandirian ber KB 3. dan lansia INDIKATOR PROGRAM 1.45% 72. Peningkatan cakupan keaktifan keluarga yang memiliki anak balita. KB.51 30.59% 18. Program Penguatan Kelembagaan Keluarga Kecil Berkualitas 10. Kelurahan.10% 29.52 tahun pada tahun 2008 Pendidkan menjadi 12 tahun pada tahun 2013 2.79% 2013 74.73% 46.05% 131.82% 19.40% 68. Program Pemberdayaan Keluarga 9.74% 93. Prosentase APK SD/MI 10.20 4.75% 74. Partisipasi Bina Keluarga Lansia 4. Kecamatan.71% 2.81% 2009 70.85% 19.57% 91.60% 72.02 20.45% 73.68 tahun 11.15% 76.40% 89.14 4.69% 83.69% 6.05% V.01 4 4 60.39% 18. dan individu yang baik dan akurat 4. Cakupan Pa/PUS Gakin 1.18 23.01% 15% 20% 55.90% 85. Capaian RLS tahun 2008 menjadi 92.23% 88.34 26.07 4.25% 3% 75% 20. Peningkatan akses dan fasilitas para remaja terhadap kesehatan reproduksi remaja 1.67 tahun 12 tahun APK di atas termasuk 131.35% 10.73% 38.29% 75.36% 3.01 tahun 11.89% 95.22% 87.92% 20. Cakupan laporan Pelayanan Kontrasepsi/Pengendalian Lapangan EKSISTING 2008 69.34 tahun 11. Program 1.80% 19.30% 74.10% 65.46% 21. Memantapkan Kecerdasan Warga Kota Bandung ( Agenda Prioritas Bandung Cerdas ) INDEKS PENDIDIKAN : 88. memiliki data mikro keluarga 2.05% 131.83% 66.91% 78.68% 12. Peningkatan mutu kualitas KIE terhadap masyarakat tentang keluarga 2.65% 2.86 16.50% 59.18% 2.6 .02% 8. Meningkatkan cakupan peran pria 4.31% 88.05% 131. RW. Peningkatan pelayanan informasi Keluarga.56% 91.80% 75.94 INDIKATOR CAPAIAN MISI PROGRAM 6.30% TARGET CAPAIAN KINERJA TAHUNAN 2010 2011 2012 71.12% 1.

13% pada tahun 2008 menjadi 100% pada tahun 2013 APMSMP/SEDERAJAT 99.16% 0.01% 0. Prosentase Anak Putus Sekolah SD/MI 1.50% 100% 123.13% < 100% 1.10% 20%.16% 100% 100% 100% 0% 0.13% 100% 116.14% 0.06% 100% (SD/MI) 100% (SMP/MTs) 100% 100% 95.02% 100% (SD/MI) 100% (SMP/MTs) 100% 100% 98. < 100% 2. Pengembangan sekolah kejuruan sesuai kompetensi daerah da kebutuhan lapangan kerja PROGRAM Pendidikan Dasar Sembilan Tahun SASARAN PROGRAM Partisipasi Kasar (APK) SD/MI formal.13% 100% 116. Program Pendidikan Menengah. Menurunnya Angka Putus Sekolah SMP/MTs 7.51% 0.16% < 100% 4. Prosentase Anak Putus Sekolah SMP/MTs 1.91% pada tahun 2008 menjadi 100% pada tahun 2013 3.44% 98. Peningkatan APK SMA/MA/SMK 2. Sekolah Gratis 3.16% 100% 100% 100% 0% 0% 100% (SD/MI) 100% (SMP/MTs) 100% 100% 100% 0% Pross Pendidikan dan Pelatihan di SMK mengacu kepada pendidikan kewirausahaan uang berbasis industri kreatif Target 100% khusus Kota Bandung Target 100% khusus Kota Bandung Sekolah gratis sesuai dengan Standar Pelayanan Minimal Sekolah gratis sesuai dengan Standar Pelayanan Minimal APK 100% khusus Kota Bandung APK di atas termasuk didalamnya siswa dari luar kota Bandung APK 100% khusus Kota Bandung APK di atas termasuk didalamnya siswa dari luar kota Bandung APK 100% khusus Kota Bandung INDIKATOR PROGRAM EKSISTING 2008 2009 TARGET CAPAIAN KINERJA TAHUNAN 2010 2011 2012 2013 KETEREANGAN didalamnya siswa dari luar kota Bandung APK 100% khusus Kota Bandung V. 224 (SD/MI) 20%.20% 100% 123.50% pada tahun 2008 menjadi 99. Prosentase APK SD/MI 123.44% pada tahun 2008 menjadi 100% pada tahun 2013 APMSMA/SEDERAJAT 75. Prosentase APK SMA/MA/SMK 1. 51 (SMP/MTS) 99.16% pada tahun 2008 menjadi 100% pada tahun 2013 APKSMA/SEDERAJAT 98.9% 0. Menurunnya Angka Putus Sekolah SMA/MA/SMK 4.65% pada tahun 2008 menjadi 100% pada tahun 2013 APKSMP/SEDERAJAT 116.10% 100% 123.51% 75.08% 100% (SD/MI) 100% (SMP/MTs) 100% 100% 91.13% 100% 116. Meningkatkan Angka Partisipasi Murni (APM) SD/MI 3.30% 100% 123. Meningkatkan APM SMP/MTs 5.16% 100% 100% 100% 0% 0. 1. Prosentase APK SMP/MTs 116. Peningkatan Pendidikan mewiraswastaan yang berbasis industri kreatif 20% 25% 35% 45% 55% 65% 99. Peningkatan APM SMA/MA/SMK 3.16% 100% 100% 100% 0% 0. Prosentase APM SMA/MA/SMK 1.13% 100% 116.7 .9% 0.51% pada tahun 2008 menjadi 100% pada tahun 2013 APMSD/SEDERAJAT 123.4% < 100% 0. 1.04% 100% (SD/MI) 100% (SMP/MTs) 100% 100% 96.02% 0. Prosentase Angka Putus Sekolah SMA/MA/SMK 1. Prosentase APM SMP/MTs 1. Beasiswa bagi keluarga tidak mampu 1. Peningkatan Akses layanan Pendidikan bagi keluarga tidak mampu.95 INDIKATOR CAPAIAN MISI AMH : 99.40% 100% 123. Menurunnya Angka Putus Sekolah SD/MI 6. Meningkatkan APK SMP/MTs 1. Sekolah Gratis 2.88% pada tahun 2013 APKSD/SEDERAJAT 131.16% 100% 100% 100% 0.13% 100% 116.

Pembangunan Unit sekolah baru (SMA/SMK) : 1.50% 20% Rusak Total 30 17 2 Rusak Berat 268 29 6 Rusak Sedang 241 28 18 Rusak Ringan 1157 243 224 Kebutuhan RKB 605 143 108 55 20 18 1 21% 50% 30% 55% 100 30 20 1 40% 60% 100 30 20 1 50% 70% 150 30 20 1 65% 80% 200 33 30 1 80% 90% Seiring dengan program Merger dan Regrouping 2009 100% 99. Peningkatan kualitas sarana dan prasarana pendidikan 5.96 INDIKATOR CAPAIAN MISI PROGRAM SASARAN PROGRAM INDIKATOR PROGRAM 2. SMA/SMK/MA Kepala Sekolah dan Guru. Peningkatan Angka Melek Huruf (AMH) 2. Program Pendidikan Non Formal/PAUD 1.97% 25% TARGET CAPAIAN KINERJA TAHUNAN 2010 2011 2012 100% 99.8 .B. Rehabilitasi Berat : SD/MI SMP/MTs SMA/SMK/MA 3. 2. Jumlah SMK yang bekerjasama dengan dunia industri 1. SD/MI EKSISTING 2008 50% 99. Peningkatan Kuantitas sarana dan prasarana pendidikan 3. Prosentase AMH 1. Ruang 3. Rehabilitasi total : SD/MI SMP/MTs SMA/SMK/MA 2.C) & PAUD 1. Rehabilitasi Sedang: SD/MI SMP/MTs SMA/SMK/MA 4. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Pendidikan 30 17 2 268 29 6 241 28 18 357 93 74 0 0 0 0 0 0 0 0 0 800 150 150 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Diupayakan pemeliharaan rutin secara kesinambungan 2. Peningkatan kualitas sarana dan prasarana pendidikan 1.99% 35% 100% 100% 45% 100% 100% 55% 2013 100% 100% 65% Dari seluruh warga yang memerlukan layanan pendidikan nonformal /PAUD KETEREANGAN 4. Terbangunnya Ruang kelas Baru : SD/MI SMP/MTs SMA/SMK/MA 2. Sanitasi Sekolah serta sarana penunjang lainnya) 65% 70% 75% 80% 85% 95% V. Peningkatan kualitas sarana dan prasarana penunjang pendidikan (Laboratorium. Rehabilitasi Ringan: SD/MI SMP/MTs SMA/SMK/MA 1. SMP/MTs Perpustakaan. Meningkatnya akseibilitas pendidikan non formal (kejar paket A.

99% 99. 3 Pusteling .97% 99. 1 Pusteling . Peningkatan kualitas tenga pendidik dan tenga kependidikan INDIKATOR PROGRAM 1. Jumlah Pustakawan yang mengikuti Diklat Nasional EKSISTING 2008 2009 25% TARGET CAPAIAN KINERJA TAHUNAN 2010 2011 2012 50% 75% 80% 2013 100% KETEREANGAN Dari jumlah tenaga pendidik dan kependidikan yang belum memenuhi kualifikasi minimal S1 20% 20% 84% 85% 100% 99. Pelaksanaan sertifikasi tenaga pendidik 1. 5 MUPK. 1 Pusteling . Pengadaan buku-buku perpustakaan masyarakat 2. Prosentase peningkatan jumlah SDM pengelola perpustakaan 2. Peningkatan Kualifikasi tenaga pendidik dan tenaga kependidikan 2. Peningkatan SDM pengelola perpustakaan 20% - 36% - 52% 5 pustakawan 68% 10 pustakawan 84% 15 pustakawan 100% 19 pustakawan V. Peningkatan kualitas penyelenggaraan UAN/UAS Tingkat kelulusan SD/MI Tingkat kelulusan SMP/MTs Tingkat kelulusan SMA/MA/SMK 3. Peningkatan kualitas penyelenggaraan PSB. Peningkatan Mutu pelayanan penyelenggaraan pendidikan 3 MUPK. Manajemen pelayanan pendidikan 2.7% 96% 400 22000 judul 44000 eksemplar 77% 100% 100% 98% 96% 100% 100% 99. Terwujudnya Gedung Perpustakaan yang representatif 4.8% 99% 300 27000 judul 54000 eksemplar 100% 100% Tersalurkannya siswa baru sesuai dengan aturan yang berlaku 1.97 INDIKATOR CAPAIAN MISI PROGRAM 6.9 . Program Manajemen Pelayanan Pendidikan SASARAN PROGRAM 1. Program Peningkatan Mutu Pendidik dan tenaga Pelayanan Kependidikan 7.4% 92% 550 15000 judul 30000 eksemplar 55% 100% 75% 94% 92% 100% 99. 3 MUPK. Pusteling . 5 MUPK.2% 90% 300 13000 judul 26000 eksemplar 40% - 50% 91% 90% 100% 99. 7 MUPK. Peningkatan kuantitas dan kualitas perpustakaan 1. Merger dan Regrouping SD Negeri 8. 2. 4. 1 Pusteling . 7 MUPK. Pengadaan buku-buku perpustakaan sekolah 3. Program pengembangan Budaya Baca dan Pembinaan Perpustakaan 1.6% 94% 500 18000 judul 36000 eksemplar 66% 100% 80% 96% 94% 100% 100% 99. Pusteling . Peningkatan pemberdayaan perpustakaan umum dan Mobil Unit Perpustakaan Keliling (MUPK) dan Perpustakaan Elektronik Keliling (Pusteling) 1.96% 99% 85% 640 12000 judul 24000 eksemplar 29% - 25% 88% 87% 100% 99.98% 99.

Peningkatan kualitas sarana dan prasarana ibadah di tempat umum dan kantor pemerintah 3. 40% 50% 60% 70% 80% 90% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 20% 40% 60% 80% 100% 100% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 47. Angka melek hidup laki-laki 6.60 thn 10. Perempuan dalam angkatan Kesetaraan Gender kerja dalam 3. Program kesetaraan gender dalam proses pemberdayaan gender kerja Peningkatan Peran pembangunan Serta dan 2.27% 28.70% 99. Meningkatnya indeks laki pembangunan gender 2.34 99. Peningkatan kerjasam antara Kerukunan Umat Beragama Peningkatan Antar Umat Beragama pemeluk agama dalam Toleransi dan pembangunan kota Kerukunan Umat Beragama Tujuan Misi : 4. Mewujudkan Masyarakat Yang Berakhlak Mulia (Agenda Prioritas Bandung Agamis) 1.61 11.153 angkutan kerja yang bekerja Dari 396.68 73. Peningkatan Kerjasama 1. Meningkatnya hak-hak perlindungan 1. Tersedianya rumusan Kebijakan pengetahuan dan kebijakan perlindungan perempuan dan anak Peningkatan kawasan tentang perempuan dan anak (KDRT. Program keserasian 1.60 11.68 10.40 thn 99.34 11.88% - Dari 277.56 thn 10. Pengamalan Agama penyelenggaraan masing Lingkungan serta peningkatan kepariwisataan dan Agamis.27% 30% 73. Anggota harapan hidup laki2.61 99. Program 1.56 10. Peningkatan 1.82% - 70% 40% 40% 74 74 12 12 99.67 11. Peningkatan 1. Pekerja perempuan non Pembangunan pertanian (rasio) 1. Terselenggaranya perda Pengamalan Agama sesuai dengan Pengembangan Pemahaman & yang berkaitan dengan Agama dan Keyakinan masingIklim Religius.82% 99.67 99. Angka melek hidup perempuan 2.10 .76% 1 Perda 66% 38% 38% 73. Perempuan sebagai tenaga 1.67% 99.67% 1 Kepwal 54% 34% 34% 73.88% 99. Angka harapan hidup perempuan 3.12 thn 73. Bermasyarakat dan Bernegara 1.56 73.72 73. Meningkatkan Sikap Toleransi dan 1.46% - 50% 32% 32% 73.70% - 58% 36% 36% 73. Rata-rata lama sekolah lakilaki 4. Program 1.79 73.68 99.86 11.98 INDIKATOR CAPAIAN MISI PROGRAM SASARAN PROGRAM INDIKATOR PROGRAM EKSISTING 2008 2009 TARGET CAPAIAN KINERJA TAHUNAN 2010 2011 2012 2013 KETEREANGAN Tujuan Misi : 3. dan lingkungan agama pembangunan sarana ibadah Aktivitas Sosial di tempat umum. Meningkatnya indeks 1. Meningkatkan pemahaman peran 1. Terwujudnya Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Kehidupan Berkeluarga.719 angkutan kerja V . Rata-rata lama sekolah perempuan 5. Keagamaan 2.72 11.76% 99. Sosilaisasi dan pembinaan pengamalan keagamaan serta kualitas lingkungan peribadatan 2.64% 99. Meningkatkan Pemahaman dan 1.

Meningkatkan pendidikan dan pelatihan manjemen usaha bagi perempuan 2. Program Penguatan Kelembagaan Pengarusutamaan Gender (PUG) dan Pengarusutamaan SASARAN PROGRAM kesetaraan gender. Mewujudkan Bandung sebagai Kota ”Layak Anak” 1. Meningkatkan kapasitas dan jaringan Kelembagaan PUG dan anak 2.11 . 1. Terbentuknya Forum Peduli Anak (FPA) Dari 200 orang Dari 200 orang EKSISTING 2008 2009 TARGET CAPAIAN KINERJA TAHUNAN 2010 2011 2012 2013 KETEREANGAN 40 30 26 Gender Focal Point (GFP) 182 Satgas PUG 30 FPA 50 40 26 Gender Focal Point (GFP) 182 Satgas PUG 30 FPA 60 50 26 Gender Focal Point (GFP) 182 Satgas PUG 30 FPA 70 60 26 Gender Focal Point (GFP) 182 Satgas PUG - 80 70 26 Gender Focal Point (GFP) 182 Satgas PUG - 90 80 26 Gender Focal Point (GFP) 182 Satgas PUG - V . Program Peningkatan Kualitas Hidup dan Perlindungan Perempuan dan Anak 3. Peningkatan perlindungan dan keterampilan bagi perempuan dan anak 1. pemberdayaan perempuan.99 INDIKATOR CAPAIAN MISI PROGRAM Kualitas Anak dan Perempuan 2. dll) 1. Oraganisasi/LSM/Peduli Perempuan dan HakHak Anak INDIKATOR PROGRAM Traficking.

Tanaman Pangan .46kw/ha 155. – sapi = 413 ekor .700 ekor 386 ekor 20. Mewujudkan Pariwisata yang Berdaya Saing Tujuan Misi : 3.345 2.PDRB per kapita ADHK Rp.19 12.310 ton 521. 11. Memantapkan Kemakmuran Warga Kota Bandung (Agenda Prioritas Bandung Makmur) Tujuan Misi : 2.23% (s.700 ekor 356 ekor 20. Peningkatan produksi ikan konsumsi 2.519 ekor 18.700 ekor 371 ekor 20. Peningkatan produksi ikan hias 1.Tanaman Hias 1. Meningkatnya nilai Peningkatan investasi .71% 8. meningkatnya jumlah pelaku usaha Ekonomi Nilai investasi berskala nasional Masyarakat 2.319 ekor 16.318 Kg 2.12 .710 15.868 Kg 61 kw/ha 60. Mewujudkan Kerjasama dengan Daerah Lain INDIKATOR CAPAIAN MISI . Meningkatnya Unit Usaha industri kecil dan .d triwulan potensial IV Thn 2008) 4.5 4.000 Kg 58.619 ekor 19.000.414 Kg 61 kw/ha 60.749 KETEREANGAN 15.4 Triliyun 3.000 pot/thn 2.Peningkatan Indeks Daya Beli = 68.184 Kg 123. Program 1.725 2013 9.425 ton 621.Tingkat Pemerataan Pendapatan menengah versi Bank Dunia 15% (kategori 5.308 Kg 130.01kw/ha 149. Meningkatnya produksi perikanan 8.95 13.237.4 Triliyun 4. Produktifitas komoditas pertanian .82kw/ha 143.Palawija .100 769 Milyar 13 3.7 kw/ha 89.88 dari 64.27 11.7 kw/ha 114.9 4.27 tahun 2008 PROGRAM SASARAN PROGRAM INDIKATOR PROGRAM Laju pertumbuhan ekonomi Indeks daya beli PDRB perkapita ADHK (Juta Rupiah) Nilai Investasi (Rp) 1. Perkembangan jumlah sentra 1.28% 64.9 Triliyun 4.819 ekor 6.100 MISI – 2 Mengembangkan Perekonomian Kota yang Berdaya Saing dalam Menunjang Penciptaan Lapangan Kerja dan Pelayanan Publik serta Meningkatkan Peranan Swasta dalam Pembangunan Ekonomi Kota Tujuan Misi : 1.363 Kg 2.7 kw/ha 98.310 Kg 61 kw/ha 60.1 5.18kw/ha 131. Meningkatkan jumlah unit usaha yang berdaya saing 1.92% 9.365.7 kw/ha 109.516.727 750 Milyar 12 3.510 788 Milyar 14 3.080 714 Milyar 10 3. Meningkatnya poduksi pertanian 7.03 67.11 67.500 ton 721.700 ekor 431 ekor 20.700 ekor 416 ekor 20.800 696.Peternakan .930.4 Triliyun 3.695 14.753 Program Peningkatan 1. Meningkatnya produksi ternak V .13% 66.88 16 6.000 pot/thn 2.095 ton 321.719 ekor 20.Padi .458 Kg 1.665 2009 8.996 ton 221.419 ekor 17.439 Kg 137.33% 68.50% 65.7 kw/ha 98.000 pot/thn 2.3 5.000 9 3.388 732 Milyar 11 3.600 Kg 1. Meningkatnya Volume sedang) pemasaran hasil usaha pertanian . Meningkatnya jumlah Penurunan tingkat inflasi umum sentra-sentra industri satu digit dari 10. 16 Investasi juta dari Rp.680 TARGET CAPAIAN KINERJA TAHUNAN 2010 2011 2012 8.7 kw/ha 103. Peningkatan % Volume pemasaran produk pertanian dari : .066 Kg 116. Meningkatnya Nilai meningkat 20% Ekspor 3.33% dari 8.1 kw/ha 60.325 Kg 2.000 pot/thn 2.7 4.Domba = 20.850 Kg 104.388 Kg 2.200 ton 421.29% pada tahun 2008 1.166 Kg 61 kw/ha 60.852. Nilai Ekspor (Rp) 1. Jumlah unit usaha 1.Perikanan 1.7 kw/ha 125.88kw/ha 137.000 pot/thn 2.032 Kg 61 kw/ha 60.819 ekor EKSISTING 2008 8.Hartikultura .000 pot/thn 1.9 Triliyun 3.955 Kg 110.700 ekor 401 ekor 20.Peningkatan LPE 9.

Psr.193.40% 15.30% 15. Meningkatnya koperasi yang sehat 10. Gegerkalong. Psr. Psr. Sadang Serang.403 100% 3. Psr. Peningkatan jumlah wisatawan (jiwa) 2.442.346 156. Anyar) 22 Pasar (Psr.655. Persentase julah rumah tangga miskin yang dapat bantuan pangan 1.715 228. Banceuy. Psr. Psr. Psr. Cihaurgeulis. Formalisasi PKL 1. Simpang Dago) 40 Pasar (Psr. Cikaso. Psr. Psr.051 74. Banceuy. Psr.684 2. Baru.812.422 80.362 100% 3. Psr. Pagarsih. Saleh) 11.465.952 74. Psr.027 3. Psr. Sarijadi. Cimol Gedebage. Psr. APBD Provinsi.322. Psr. Psr.953 72.13 . Psr. Meningkatnya Ketenagakerjaan produktivitas. Sadang Serang. Andir. Psr.800 171. Balubur. PKL mempunyai tempat dagang yang tetap. Psr. Cicadas. Ciroyom. Ujungberung.48% 15.101 INDIKATOR CAPAIAN MISI PROGRAM SASARAN PROGRAM 9.432 RTS 100% 2. Parnoyanan.371 100% 3. Psr. Psr. Meningkatnya Revitalisasi Pasar Tradisional INDIKATOR PROGRAM 1. Psr. Psr. perlindungan dan kesejahteraan tenaga kerja 15. Cihapit. Leuwipanjang. Psr. Psr. Nusantara (jiwa) 3. winus = 228. Karapitan. Psr. Palsari) 44 Pasar (Psr. Cicaheum. Cijerah.752 3.868 Meningkatnya jumlah wisatawan 12.794 78. TPU Gg.109 2009 250 Unit TARGET CAPAIAN KINERJA TAHUNAN 2010 2011 2012 300 Unit 350 Unit 400 Unit 2013 450 Unit Revitalisasi pasar dapat dilaksanakan dengan sember perbiayaan dari APBN. Tercukupinya kebutuhan Ketahanan Pangan pangan (beras) bagi rumah tangga miskin Program Peningkatan 1.193. Jumlah rumah tangga miskin menurun 2.530 3. ITC II. Meningkatkan status jumlah PKL menjadi pedagang formal 1.603. Kebon Sirih.864. Psr. kesempatan.231 82. Kiaracondong. Psr.150. Leuwipanjang. Kembang Wastukencana. misalnya kios di pasar Rumah Tangga Sasaran (RTS) Setiap RTS mendapat bantuan 5 Kg/bln 25% tahun 2008 Wisman = 4. Jumlah pasar yang di revitalisasi EKSISTING 2008 180 Unit 20 Pasar (Psr.967 142. Sarijadi.493 100% 4. APBD Kota dan Swasta KETEREANGAN 26 Pasar (Psr. Sarijadi. TPU Kota Kembang. Jatayu. Sukahaji.076 2. Psr. Psr. Meningkatnya jumlah Pariwisata kunjungan wisata Pedagang formal. Psr.334 78. Jatayu.20% 15. Sederhana) 36 Pasar (Psr. Mancanegara (jiwa) Menurunnya tingkat pengangguran terbuka 67.631 100% 4. Psr. Kebon Sirih.320 70.583 4.020. Menurunnya tingkat kemiskinan Program Peningkatan 1. Ciwastra.715.468 208.746. Psr. TPU Gempol. Balubur. Psr. Jumlah Unit Koperasi Sehat 1.880 189. Kosambi.020. Gedebage) 64.10% 15% V .147 78.868 Tingkat Pengangguran Terbuka 15% Program Peningkatan 1.062 81.

Mewujudkan Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat (Agenda Prioritas Bandung Makmur) INDIKATOR CAPAIAN MISI Terwujudnya Kesejahteraan Masyarakat. 15% 20% kerjasama di bidang daerah 4. Program Pemberdayaan Kelembagaan Kesejahteraan Sosial. Prosentase peningkatan peran kelembagaan dalam pembangunan sosial 1. Sinergitas Kelestarian Budidaya Lokal Antar Pemerintah. Kreatif. museum bagi pengembangan budaya 3. Pelaku Budaya dan Masyarakat (Agenda Prioritas BandungKota Seni Budaya) Meningkatnya kesadaran masyarakat 1. Pengembangan ekonomi masyarakat Kelurahan. dan 10% 20% budaya lokal daerah. 10% 40% 15% (2 Kec. Meningkatkan fasilitasi dan koordinasi kegiatan pemberdayaan masyarakat. Termanfaatkannya nilai. Program Pengembangan Pemberdayaan Masyarakat.14 . rangka pelestarian seni budaya adat budaya daerah. 1. Peningkatan partisipasi masyarakat dalam pembangunan INDIKATOR PROGRAM 1. Berprestasi dalam Menunjang Kota Jasa Bermartabat Tujuan Misi : 1. Aman. Meningkatnya upaya 10% 20% dan komunitas seni budaya dalam pelestarian dan akualisasi Pengembangan nilai tradisional. Meningkatkan peran dan fungsi lembaga kemasyarakatan melalui penguatan kelembagaan di Kelurahan. EKSISTING 2008 2009 50% TARGET CAPAIAN KINERJA TAHUNAN 2010 2011 2012 60% 70% 80% 2013 100% KETEREANGAN Dari jumlah orsos yang ada (150 yayasan) Dari Lembaga Kemasyarakatan yang harus ada di Kelurahan Dari Lembaga Kemasyarakatan yang mendapat stimulan Dari Jumlah Lembaga Keuangan yang ada di Keluarahan Dari jumlah lembaga Keuangan yang ada di Kelurahan Dari jumlah Kecamatan dan Kelurahan Dari jumlah kegiatan pembinaan terhadap pelaku budaya Dari jumlah kegiatan pembinaan terhadap pelaku budaya Dari jumlah budayawan yang diberi penghargaan Berdasarkan persetujuan atas permohonan 50% 30% 40% 50% 60% 70% 80% 10% 15% 25% 50% 75% 100% 2. 2. Meningkatnya pelestarian berkesinambungan kepurbakalaan. Koordinasi penanggulangan kemiskinan 2. 3. Pelindungan bangunan cagar budaya 0% 0% 40% 40% 40% 60% 60% 50% 80% 80% 60% 100% 100% 70% 100% 100% 100% 100% V . 2. PROGRAM 1. Pemanfaatan dan pemasyarakatan teknologi tepat guna. Penguatan lembaga ekonomi masyarakat Kelurahan.1. Meningkatkan upaya masyarakat dan lembaga dalam pembangunan kesejahteraan sosial 1. Nilai Budaya peninggalan secara profesional dan Daerah kesejarahan. SASARAN PROGRAM 1. 2.) 25% 50% 20% 50% 60% 25% 75% 70% 30% 100% 80% 35% 100% 90% 40% Tujuan Misi : 2.102 MISI – 3 Meningkatkan Kesejateraan Sosial dan Mengembangkan Budaya Kota yang Tertib. Program 1. 10 Kel. Dukungan penghargaan daerah.

Program 1. Pembangunan Stadion Utama Sepak Bola (SUS) di Bandung Timur 40 % 55 % 65 % 75 % 85 % 90 % 40 % 55 % 65 % 75 % 85 % 90 % 40 % 55 % 65 % 75 % 85 % 90 % 40 % 55 % 65 % 75 % 85 % 90 % 20 Kec 20 Kec 30 Kec 30 Kec 30 Kec 30 Kec Dari jumlah kelembagaan Olahraga yang dikelola oleh masyarakat/swasta Dari jumlah partisipasi masyarakat dalam pengembangan olahraga Sarana olahraga masyarakat dan olahraga tradisional 20 % 50 % 70 % 100 % 100 % 100 % V .15 . Prosentase peningkatan 1. Meningkatnya 1. Kesediaan sarana 1. Prosentase peningkatan Peningkatan pemuda dalam peran pemuda dan Peran Serta pembangunan lembaga kepemudaan Kepemudaan dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat 2. Meningkatkan Prestasi Olahraga dan Kepemudaan Kota Bandung (Agenda Prioritas Bandung Berprestasi) 1. Peningkatan peran 3. Peningkatan kemitraan pengelolaan kebudayaan antar daerah 3. Penghargaan pelestarian dan pengembangan bahasa dan sastra daerah 2. Meningkatnya apresiasi Pembinaan dan upaya revitalisasi olahraga terhadap pengembangan masyarakat dan tradisional Pemasyarakatan olahraga masyarakat dan olahraga tradisional Olahraga 5. Tersedianya kawasan Peningkatan olahraga masyarakat di olahraga dan sarana Sarana dan tingkat kecamatan pendukung untuk Prasarana meningkatkan prestasi Olahraga olahraga 2. Program 1. Pendidikan dan pelatihan Peningkatan pengetahuan dan kewirausahaan Upaya kemampuan pemuda Penumbuhan dalam kewirausahaan Kewirausahaan dan Kecakapan Hidup Pemuda 1. Program 1. Meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap bahasa dan sastra daerah INDIKATOR PROGRAM 1. Meningkatnya peran 1.103 INDIKATOR CAPAIAN MISI Meningkatnya hubungan pemerintah dengan pelaku budaya dalam perlindungan dan pelestarian budaya PROGRAM SASARAN PROGRAM 2. Meningkatnya masyaakat dan sektor kemandirian manajemen Pengembangan olahraga swasta dalam pengelolaan Kebijakan dan keolahragaan Manajemen Olah raga 4. Peningkatan peran masyarakat dalam pemeliharaan peninggalan budaya EKSISTING 2008 30% 10% 15% 2009 40% 20% 20% TARGET CAPAIAN KINERJA TAHUNAN 2010 2011 2012 50% 40% 40% 60% 50% 50% 80%vb 60% 60% 2013 100% 70% 80% KETEREANGAN Dari jumlah pengguna bahasa dan sastra daerah Dari jumlah kerjasama dengan daerah sekitar Dari jenis seni budaya Dari jumlah peninggalan budaya yang dipelihara masyarakat Dari jumlah orang/lembaga kepemudaan Dari anggota organisasi / lembaga kepemudaan 20% 40% 50% 60% 80% 100% Tujuan Misi : 3. Peningkatan sarana pemasaran produk seni budaya daerah 4. Progrsm 1. Program 1.

Jumlah pemenuhan 2. dan Organsasi Sosial) dalam pelaksanaan usaha kesejahteraan sosial 2. kebutuhan hidup : terlindunginya dan Tersantuninya PMKS . Meningkatnya 1. Pekerja Sosial. Jumlah partisipasi sosial partisipasi sosial dan dan potensi sumber potensi suber kesejahteraan sosial kesejahteraan sosial (Karang Taruna.250 200 75% 900 2.16 .Anak Terlantar .350 120 30% 600 1.222 orang tahun 2008 Jumlah 10.Fakir Miskin Miskin dan Penynadang Kesejahteraan Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) Sosial (PMKS) lainnya .Korban Traficking dalam rumah tangga (KDRT) Tahapan Pembangunan Sarana penampungan PMKS 125 30 60 20 100 625 90 120 40 200 1. Meningkatnya 1. Masyarakat.125 250 300 100 500 2. Program Pemantapan Kelembagaan Potensi Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS) 3.868 orang tahun 2008 Jumlah 2429 orang tahun 2008 Jumlah 6643 orang tahun 2008 Jumlah 40 orang tahun 2008 Baru tersedianya lahan panti Dari jumlah orsos yang ada (150 Yayasan) 144 450 40 10% 300 900 80 10% 450 1. Jumlah partisipasi sosial dan potensi sumber kesejahteraan sosial 1.125 140 180 60 300 1.200 oang tahun 2008 Jumah 116 orang tahun 2008 Jumlah 239 orang tahun 2008 Jumlah 5.Wanita rawan sosial ekonomi 1.Anak Nakal Korban serta peran sisoalnya Narkotika secara wajar .Penyandang cacat lainnya dalam mewujudkan Kesejahteraan sosial .625 200 240 80 400 2.800 160 50% 750 2.700 240 100% 2. Jumlah penanganan kepekaan masyarakat terhadap Pemberdayaan pengetahuan.104 INDIKATOR CAPAIAN MISI PROGRAM SASARAN PROGRAM INDIKATOR PROGRAM EKSISTING 2008 2009 TARGET CAPAIAN KINERJA TAHUNAN 2010 2011 2012 2013 KETEREANGAN Tujuan Misi : 4. Terlayaninya. Meningkatkan Kepedulian dan Kepekaan Masyarakat terhadap Lingkungan Sosial Terlaksananya rasa kepedulian dan 1. Meningkatnya 1.625 300 360 120 600 Jumlah 84.Tuna Susila secara mandiri dan dapat Melaksanakan fungsi . Program 1. kemandirian dan lingkungan sosial maupun fisik Fakir Miskin dan keterampilan dan kesejahteraan sosial per Penyandang kemampuan Fakir tahun : Masalah . Jumlah profesional pekerja pengetahuan dan sosial kemampuan pekerja sosial secara profesional 60 75 90 105 120 135 Dari 100 Orang Pekerja Sosial 35 50 60 70 80 100 V .Lanjut Usia dalam pemenuhan Kebutuhan hidupnya .

Terbinanya sumber daya dan potensi perlindungan masyarakat 1. Jumlah penyerapan informasi pembangunan kesejahteraan sosial EKSISTING 2008 2009 TARGET CAPAIAN KINERJA TAHUNAN 2010 2011 2012 2013 KETEREANGAN Dari 30 Kecamatan 15 15 22 30 30 30 3. Buffstock berupa beras dan lauk pauk 1.000 Tokoh Masyarakat. Tingkat partisipasi pilar masyarakat/relawan 100% 100% 100% 100% 100% 100% Dari 1 Ton Beras Dari 100 anggota Taruna Siaga Bencana (Tagana) 50% 100% Penyelenggaraan Pilkada 65% 50 75 100% 100% 100% 4. Program Peningkatan Keamanan dan Kenyamanan Lingkungan 1. Program Penyelenggaraan dan Pemeliharaan Ketentraman dan Ketertiban 5. Peningkatan dan kenyamanan lingkungan 100% Pemilu - - - 100% Pilkada 100% Dari 3. Terselenggaranya pengamanan Pemilu dan Pilkada 2.Program penanggulangan Bencana Alam dan Perlindungan Masyarakat 1. Tingkat sosialisasi pembangunan melalui berbagai Pengembangan pembangunan daerah informasi pembangunan media Komunikasi melalui media 55% Informasi dan Media Massa 75% 100% 100% 100% 100% 30% melalui Musrenbang. Tersebarnya informasi 1. Pemuda 70% 75% 85% 90% 60% dari 16000 anggota Hansip Linmas 65% 70% 75% 80% 90% Tujuan Misi : 5. 10% media elektronik. meningkatnya pemahaman tentang pembangunan kesejahteraan sosial melalui penyuluhan sosial 1.105 INDIKATOR CAPAIAN MISI PROGRAM SASARAN PROGRAM 3.17 . Menumbuhkan dan mengembangkan peran serta masyarakat dalam keterlibatan dan keamanan 1. Meningkatkan Mutu Kerjasama di antara Semua Pemangku Kepentingan dalam Pembangunan Kota Bandung Memperluas akses informasi 1. Agama. Tersedianya bantuan tanggap darurat bencana 2. 15% media cetak V . Program 1. Meningkatnya partisipasi pilar masyarakat/relawan dalam penangulangan bencana 1. Terbinanya lembaga perlindungan masyarakat INDIKATOR PROGRAM 1.

Program Pengendalian Penanaman dan Perusakan Lingkungan Hidup SASARAN PROGRAM 2. Program Perlindungan dan Konservasi Sumber Daya Alam 1. Air Tanah Dangkal dan Dalam ) Tujuan Misi : 5.00 % 5. Meningkatnya kualitas air sungai dan anak sungai melalui pengendalian limbah cair dari sumber pencemar yang memenuhi baku mutu 6.898 3. air tanah dangkal dan dalam) yang berkelanjutan Kajian bersifat sektoral dan belum terintegrasi ± 30 % ± 2.500 lt/det 100. Tersedianya air baku yang cukup untuk pemenuhan kebutuhan air baku masyarakat Kota Bandung 1.00 % 2. Pengembangan sumber air baku dengan kapasitas produksi sebesar ± 5.998 4. Meningkatnya jumlah kendaraan yang memenuhi baku mutu EKSISTING 2008 250 sumber pencemar 14 sudah memenuhi baku mutu (5 %) 2009 5.00 % 3.00 % 3. Memantapkan Pembangunan Kota Bandung yang Berkelanjutan dan Berwawasan Lingkungan (Agenda Bandung Hijau) 1.106 MISI – 4 Menata Kota Bandung Menuju Metropolitan Terpadu yang Berwawasan Lingkungan Tujuan Misi : 1. Program Penyediaan Air Baku 1.000 lt/det (termasuk yg digunakan masyarakat) 24500 sumur resepan 100. Menjamin Tersedianya Kuantitas dan Kualitas Air (Air Permukaan. Terwujudnya kualitas udara yang memenuhi baku mutu lingkungan 3. 16/2005 tentang SPAM. Program sungai yang ada di Peningkatan Kota Bandung untuk Pengendalian Posisi parameter BCD dan COD telah memenuhi baku mutu 3.498 kendaraan bermotor yang memenuhi baku mutu 3. Tersusunnya Masterplan Penyediaan air baku untuk system penyediaan air minum Kota Bandung 2.50 % 8. 1. Mewujudkan Kualitas Udara. penyediaan air baku merupakan tanggungjawab Pemerintah 5. Terwujudnya perlindungan dan konservasi SDA 1. Terwujudnya kualitas air sungai dan anak sungai yang memenuhi baku mutu lingkungan INDIKATOR PROGRAM 5.580 lt/det (air baku yang digunakan PDAM) 20470 sumur resepan Sesuai PP No. Tersediaanya air baku dengan kapasitas 5.100 lt/det 22000 sumur resepan 26300 sumur resepan 28000 sumur resepan 30000 sumur resepan V .048 4. 11 % sungai dan anak 12. Air dan Tanah yang Memenuhi Baku Mutu Lingkungan INDIKATOR CAPAIAN MISI 1.00 % 9.748 3.00 % 4.000 lt/det 100. Peningkatan ketersediaan kuantitas dan kualitas air (air permukaan.50 % 2013 11.100 liter/detik 2.100 liter/detik.580 lt/det 100.00 % TARGET CAPAIAN KINERJA TAHUNAN 2010 2011 2012 6.00 % KETEREANGAN 2.128 Tujuan Misi : 2.18 . 25 % lokasi sample telah memenuhi baku mutu PROGRAM 11.

Terwujudnya kualitas dan kuantitas RTH di Kota Bandung EKSISTING 2008 66350 pohon (60 Ha lahan kritis) 2009 6000 Pohon TARGET CAPAIAN KINERJA TAHUNAN 2010 2011 2012 12000 Pohon 18000 Pohon 24000 Pohon 2013 30000 Pohon KETEREANGAN 8 lokasi pemeliharaan tanaman untuk RTH 19 lokasi (tertata) dan 50 lokasi (terpelihara) 12 lokasi 13 lokasi 14 lokasi 15 lokasi 16 lokasi 34 lokasi (tertata) dan 100 lokasi (terpelihara) 10. Program rehabilitasi Hutan dan Lahan 2. sempadan sungai. Luas RTH ± 8. 1.00 % 1.76 % V . Program penataan ruang terbuka public secara berkualitas 4.86 % 104 lokasi (tertata) dan 300 lokasi (terpelihara) 16. Ruang Terbuka Hijau (RTH) public dan privat yang efektif menunjang fungsi hidroorologi sebesar 16% (dalam bentuk taman. penggunaan dan pemanfaatan tanah SASARAN PROGRAM 1. Terwujudnya peningkatan sarana dan prasarana pembibitan dan bibit tanaman 1. hutan kota. penguasaan.107 INDIKATOR CAPAIAN MISI 2. pemilikan. Program penataan.46 % 89 lokasi (tertata) dan 250 lokasi (terpelihara) 13. Program pengelolaan ruang terbuka hijau (RTH) INDIKATOR PROGRAM 1. Peningkatan luasan RTH melalui penyerahan fasos/fasum perumahan dan pembebasan lahan. Terwujudnya peningkatan pemilihan lahan kritis 1. Program penyediaan sarana pembibitan RTH 3. Terwujudnya kebutuhan sarana prasarana untuk pemeliharaan RTH.06 % 64 lokasi (tertata) dan 200 lokasi (terpelihara) 12. kawasan konservasi dan RTH lainnya).19 . 1. Terwujudnya penambahan luasan RTH public dan private.16 % 49 lokasi (tertata) dan 150 lokasi (terpelihara) 11. Peningkatan tanaman produktif dalam rangka penurunan luasan lahan kritis 1. PROGRAM 1.

Program optimalisasi Sistem Pengelolaan Persampahan 1.0% 20. Terselenggaranya 1.00% 51.0% 35. Terwujudnya pengelolaan peningkatan sampah dengan pola 3R sampah perkotaan dengan dokelola (20% 3R dan 70% terbagi 30% TPA pengelolaan (Reduce.19% 57.00% 45. Mewujudkan Pengelolaan Limbah Padat yang Efektif dan Bernilai Ekonomi 1. Tertanganinya 1.19%) 2009 4. Terwujudnya pengelolaan pengelolaan sampah sampah berbasis teknologi dengan penerapan yang ramah lingkungan dan teknologi yang ramah ekonomis 30%.00% 30.00% 20.00% KETEREANGAN Dengan penerapan 3R dan pengelolaan sampah berbasis teknologi.0% 30.00% TARGET CAPAIAN KINERJA TAHUNAN 2010 2011 2012 8. Reuse.00% 40. 2.20 .108 INDIKATOR CAPAIAN MISI PROGRAM SASARAN PROGRAM INDIKATOR PROGRAM EKSISTING 2008 1. pada 3R sebesar 20% melalui pemanfaatan sampah Recycle) teknologi yang perkotaan 2.00 % 0.00% 2013 20. Pengelolaan sampah berwawasan lingkungan pengelolaan sampah melalui pengangkutan ke dan ekonomis dan 40% sampai tempat TPA Regional sebesar 40% ke landfill) pengelolaan dan pemprosesan akhir sampah 3. Terbangunnya tempat pengomposan skala Kota 1.00 % (3 lokasi percontohan ) 2500 M3/hari (62.00% 10. 62. Terwujudnya pengadaan 1.00 % 5. Program 1.00% 12. Terbangunnya sarana prasarana pengelolaan 3R skala Kota yang didukung penataan TPS dan sarana persampahan RW yang terintegrasi mulai dari sumber sampai TPA dan sinergi dengan arah pembangunan kota Bandung serta Metropolitan Bandung.0% 40.00% 16.00% 0. 90 % sampah dapat 1. sampah yang dibuang ke TPA diharapkan semakin berkurang Tujuan MISI : 3. lingkungan dan ekonomis. volume.00% 12.0% V .0% 25.

Minimum 30% kawasan 1.0% 75. Mewujudkan perencanaan pusat primer Gedebage perencanaan perencanaan tata ruang tata ruang yang nyaman. RTRK.0% 2013 100. Rewujudnya 1. terbangun dan semua Tata Ruang kota yang nyaman.21 .0% 2009 35. produktif dan berkelanjutan pusat WP berfungsi produktif dan sesuai dengan UU No. Tercapainya kualitas pusat primer Gedebage penataan penataan bangunan dan bangunan dan bangun-bangunan bangunbangunan 2.0% 90. Mewujudkan 30 % kawasan 2. Program 1. sungai serta pembebasan lahan Presentase reklame yang memiliki ijin terhadap jumlah reklame yanmg terdata Tujuan MISI : 4. pemerintah daerah harus membuat perencanaan penutupan TPA dengan system pembuangan terbuka paling lama 5 (lima) tahun sejak berlakunya UU ini.0% TARGET CAPAIAN KINERJA TAHUNAN 2010 2011 2012 50. Merencanakan dan merevitalisai TPA yang tidak berfungsi menjadi ruang politik dan social EKSISTING 2008 25. Tertatanya TPA/TPS yang tidak berfungsi lagi INDIKATOR PROGRAM 1. efektif berkelanjutan yang 26/2007 tentang Penataan sesuai dengan UU Ruang penataan ruang 1. DED dan RTBL Secara bertahap telah dilakukan pembangunan dan peningkatan jalan. Program 1. Mewujudkan penataan penyelenggaraan reklame melalui perijinan (6000 reklame terdata) 60% 90% 100% 100% 100% 100% 4% 6% 12 % 18 % 24 % 30 % 5% 15 % 25 % 50 % 75 % 100 % V . jembatan. Revisi terhadap Perda RTRW No. produktif dan Berkelanjutan 1. 18/2008 pasal 44. Nyaman.0% KETEREANGAN Sesuai dengan UU No. Menyediakan Ruang Kota yang Aman. 3/2006 dan penyusunan/penetapan RDTR.109 INDIKATOR CAPAIAN MISI PROGRAM SASARAN PROGRAM 2.

Tamansari.440 KM Jumlah titik PJU sampai awal tahun 2008 sebesar 18.253 PJU (laporan serah terima dari Distam ke DBNP) Tujuan Misi : 6. Terbangunnya jalan berkondisi baik jembatan sepanjang 20 KM (dari APBD Kota) Pembangunan jalan baru 0 sepanjang 10. Terpeliharanya kondisi Peningkatan pelayanan jalan 63.712 M 8 KM 416. 4 KM 87. Tertibnya pelayanan perijinan PROGRAM 1.00 % KETEREANGAN Mewujudkan pemanfaatan ruang yang tertib 75.712 M 12 KM 625. 8 KM 132.22 . Program pengembangan perumahan SASARAN PROGRAM 1. Menyediakan Sistem Transportasi yang Aman. Jamika. Terwujudnya tertib pemanfaatan ruang 1. Nyaman. Efisien. Program pengendalian pemanfaatan ruang 3.946. Program Pemanfaatan ruang 2.712. Luas jalan Kota Bandung pada akhir tahun 2008 sebesar 4.420KM (dari non APBD Kota.425 M dari wilayah Kota (5. Tersedianya pembangunan perumahan sehat.M 4 KM 208. dan terjangkau INDIKATOR PROGRAM EKSISTING 2008 2009 80. Program peningkatan sarana dan prasarana kebinamargaan Terbangunnya dan terpeliharanya PJU Kota Bandung Terbangunnya PJU baru Perbaikan PJU 18253 titik 4. Program 1.110 INDIKATOR CAPAIAN MISI 2.00 % TARGET CAPAIAN KINERJA TAHUNAN 2010 2011 2012 85.00 % 2013 100.08 KM2 atau dengan asumsi lebar jalan 7m .00 % 95. maka panjang jalan 10.00 % Memfasilitasi dan simulasi pembangunan perumahan masyarakat kurang mampu Rusun Indal dan Cingised FS Rusun DED Rusun Rencana pembangunan Rusun Rencana pembangunan Rusun Rencana pembangunan Rusun Rencana Rusun Sadang Serang. Luas jalan minimal 3 % 1. 16 KM 222.712 M 16 KM 833. Terjangkau dan Ramah Lingkungan 1.019 pembangunan jalan sepanjang 222.388 titik 42.M 20 KM 10420 KM 18500 titik 4000 titik 18750 titik 2500 titik 19000 titik 2500 titik 19250 titik 2500 titik 19500 titik 2500 titik V .00 % 90. Perlu didukung partisipasi pihak swasta dan Pemerintah Pusat. nyaman.712 M Km2) dan 100 % jalan dan Pembangunan jalan baru 0 2. fasos dan fasum) 2.12 KM 177.92 KM2 sehingga masih kurang 73. Terkendalinya pemanfaatan ruang di Kota Bandung 1. Braga dan Cicadas.712.

Program peningkatan pelayanan angkutan SASARAN PROGRAM 1. marka jalan 12. Terpeliharanya rambu jalan marka dan traffic light/ATCS ATCS 200. marka jalan 12. CicaheumCibeureum. rambu 500 10 Halte ATCS 200. rambu 500 25 Halte ATCS 200. Terwujudnya operasional angkutan umum massal di 5 Koridor (CibeureumCibiru. sesuai dengan rencana induk transportasi umum Kota PROGRAM 1. Teratasinya aspek-aspek penyebab kemacetan sebanyak 5 aspek 1. marka parker 4.940 m2.23 . Tersedianya fasilitas parker khusus (gedung/taman parkir) Kota Bandung ATCS 200. Program pengendalian dan pengamanan lalu lintas 1.940 m2 rambu 500 89 Halte 2.940 m2. Antapani-Laswi-St. Tersedianya halte angkutan umum 2. marka parker 4. marka jalan 12. Margahayu-St. marka jalan 12.000 m2.000 m2. marka jalan 12. Tersedianya fasilitas perlengkapan jalan 13 km/jam 17 km/jam 19 km/jam 21 km/jam 23 km/jam 25 km/jam Kapasitas jalan yang tidak cukup menampung pertumbuhan kendaraan 2. Terwujudnya prasarana dan sarana perhunungan yang efisien dan nyaman 1. Hall.940 m2. marka parker 4. marka parker 4.000 m2. Antapani-Laswi lingkar selatan) 1. Tersedianya angkutan umum missal yang nyaman dan terjangkau INDIKATOR PROGRAM 1.940 m2. 25 % dari rencana prasarana SAUM terbangun. marka jalan 12. rambu 500 70 Halte 0 0 1 lokasi 2 lokasi 3 lokasi 4 lokasi Target 15 halte per tahun perlu keterlibatan pihak Pemerintah dan Swasta Target 1 lokasi per tahun V .940 m2.000 m2 marka parker 4.000 m2. Terwujudnya kecepatan rata-rata minimal 25 km/jam EKSISTING 2008 0 2009 1 koridor TARGET CAPAIAN KINERJA TAHUNAN 2010 2011 2012 2 koridor 3 koridor 4 koridor 2013 5 koridor KETEREANGAN Pembentukan konsorsium dengan perbandingan TMB dan angkot sebesar 1 : 3 3. rambu 500 55 Halte ATCS 200. rambu 500 40 Halte ATCS 200.000 m2.111 INDIKATOR CAPAIAN MISI 2. marka parker 4. Hall. Program pembangunan prasarana dan sarana perhubungan 2.

Program Pengembangan Kinerja Pengelolaan Air Minum dan Air Limbah 1.000 M 9.000 m 310.00 % 9 lokasi 2013 75 % penduduk dilayani air bersih 100.00 % 10 lokasi 71 % penduduk dilayani air bersih 60. Pengembangan system pengelolaan sanitasi air limbah Kota Bandung dengan cakupan 50% 6. Program pengembangan dan pembangunan trotoar 1. Terwujudnya peningkatan pelayanan trotoar sepanjang 21.994 M 1. Program 1. Meningkatkan penataan lingkungan sungai 1. Jaringan drainase primer 1. 0 % 23 lokasi 2009 67 % penduduk dilayani air bersih 20.000 m 100.00 % 8 lokasi TARGET CAPAIAN KINERJA TAHUNAN 2010 2011 2012 69 % penduduk dilayani air bersih 40. Meningkatnya fungsi trotoar sebagai fasilitas pejalan kaki yang nyaman dan aman 1.000 m 520. Berkurangnya lokasi banjir system drainase kota di Kota Bandung dari 68 terpadu lokasi 2. 75 % masyarakat kota peningkatan pengaliran air bersih Bandung mendapatkan air bersih dengan ratarata pengaliran air 120 kapasitas dan kepada masyarakat pelayanan air bersih lt/orang/hari dengan cakupan system perpipaan pengaliran kontinu 24 pelayanan air jam bersih 2. Terpeliharanya kelancaran pengairan air sungai sepanjang 520. Program pengembangan pengelolaan dan konvensasi sungai. Terpeliharanya keamanan kota terbentuk integrasi pengendalian banjir lingkungan sungai per wilayah pelayanan banjir sepanjang 7.794 m 13. Terwujudnya peningkatan sanitasi melalui penataan air limbah 1. Meminimalkan potensi 1. Program 1. Mewujudkan Sarana dan Prasarana Lingkungan yang Memenuhi Standar Teknis / SPM 1.594 m 21.317 m Penanganan lereng bantaran dan sediment sungai Pengendalian banjir terkait dengan perilaku masyarakt dalam membuang sampah ke sungai dan drainase Pembangunan saluran drainase dan goronggorong terpadu Pengangkatan sediment sungai 104.00% 50.000 m 1. Terwujudnya kelancaran pengaliran air saluran jalan sepanjang 35.835 m 4.817 m 27.24 .00% 46.00 % 9 lokasi 73 % penduduk dilayani air bersih 80.00% 44.00 % 9 lokasi KETEREANGAN Terkait langsung dengan program penyediaan air baku Tujuan Misi : 7. Membangun saluran baru dan memelihara saluran 1. danau dan sumber daya air lainnya 4.00%% V .394 m 8.112 INDIKATOR CAPAIAN MISI PROGRAM SASARAN PROGRAM INDIKATOR PROGRAM EKSISTING 2008 65% penduduk dilayani air bersih rata-rata durasi pengaliran 16jam/hari 46 sungai dan anak sungai (panjang 255. Program pembangunan saluran drainase (gorong-gorong) 3. 75 % penduduk dilayani 1.000 m 415.00% 40.317 m 12.000 m 205.994 m 3.194 m 17.317 m 35.317 M 1. Meningkatkan layanan 1.00% 42. 50% kawasan kota terlayani oleh system penanganan air limbah yang terpadu dengan IPAL 38.55 km).817 m 19.500 M drainase kota 50 % 2.827 m 6.

113 INDIKATOR CAPAIAN MISI PROGRAM SASARAN PROGRAM INDIKATOR PROGRAM EKSISTING 2008 2009 200 bangunan TARGET CAPAIAN KINERJA TAHUNAN 2010 2011 2012 400 bangunan 600 bangunan 800 bangunan 2013 1000 bangunan KETEREANGAN Tujuan Misi : 8.03 90 kebakaran 7.01 120 kebakaran 9. Terwujudnya kembali pelayanan jalan sepanjang 7. prosedur dan manual pencegahan kebakaran pada 1000 bangunan baru Berkurangnya kejadian kebakaran secara bertahap Berkurangnya kerugian akibat bahaya kebakaran (Milyar Rupiah) 1. sarana prasarana (mobil pemadam kebakaran dan motor unit reaksi cepat). Program Terkendalinya kerugian pelayanan prima kebakaran melalui dalam pemebuhan standart pencegahan dan Respond Time (SRT) 15 penanggulangan menit (kondisi saat ini ± 20 kebakarandan menit) bencana lainnya Terwujudnya system proteksi kebakaran pada bangunan sesuai norma.25 . Sungai air sepanjang 6.400 bangunan Perlu penerapan manajemen bencana yang terintegrasi dalam menghadapi bencana alam maupun non alam Untuk mencapai SRT 15 menit perlu didukung oleh penyediaan SDM.24 130 kebakaran 11. Terwujudnya kembali keamanan lingk.24 3.91 110 kebakaran 8. Mewujudkan Mitigasi Bencana yang Handal 1. Program tanggap darurat bencana alam Terlaksananya penanganan darurat bencana alam 1.575 m 2. Program Keadaan pemilik/pengelola organisasi yang peningkatan bangunan akan menangani kebencanaan kesiapan kelengkapan system kesiagaan dan proteksi kebakaran pada pencegahan bangunan bahaya kebakaran 2.000 m 1500 m 0 775 m 0 2475 m 1500 m 4175 m 3000 m 5875 m 4500 m 7575 m 6000 m V . hydrant. peran serta masyarakat/Satwanker (SRT saat ini ± 20 menit) 141 kebakaran 12. pos kewilayahan. standar. Meningkatkan fungsi 1.92 100 kebakaran 8.

Pembangunan Kantor 2. Program penataan perundangundangan 1. Tingkat kinerja perencanaan daerah 2. Tingkat partisipasi masyarakat dalam perencanaan daerah 1. Pengadaan sarana dan pengolahan data penyampaian arsip (Gedung Depo Arsip Daerah) EKSISTING 2008 65 % 2009 70 % TARGET CAPAIAN KINERJA TAHUNAN 2010 2011 2012 75 % 85 % 90 % 2013 95 % KETEREANGAN Ketersediaan dan validasi data. program pembangunan Hukum Daerah 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % (38 perkara) 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % Dari permintaan Bantuan Hukum yang disetujui 1. Tingkat pelayanan bantuan Hukum/penanganan perkara 1.Pengadaan Lahan . meningkatnya sinergitas perencanaan pembangunan 2. efisien. sosiologi dan filosofis INDIKATOR PROGRAM 1. Program peningkatan sarana dan prasarana aparatur 1. program perencanaan pembangunan SASARAN PROGRAM 1. Terwujudnya penegakan Hukum dan HAM sehingga dapat mendukung ketertiban dan keamanan serta semakin berkurangnya praktek KKN di lingkungan birokrasi 4. akuntabel dan transparan dalam upaya meningkatkan kapasitas pelayanan kota metropolitan Tujuan Misi : 1. Meningkatnya pemahaman masyarakat dan aparat dalam penetapan produk hukum yang sinergi dengan perkembangan kebutuhan masyarakat serta sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku 3. Meningkatnya sinergitas dan kualitas penataan produk hukum daerah 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 170 163 25 % 171 165 40 % 174 172 60 % 178 176 80 % 181 181 100 % 181 181 100 % 0 0 50 % 75 % 100 % 100 % V . Terbangunnya pola perencanaan dan pengelolaan data PROGRAM 1. Sertifikasi kepemilikan tanah asset Pemerintah Kota Bandung 3. Penindakan terhadap Pelanggaran Displin Aparatur 1. Pengadaan kantor Kecamatan dan Kelurahan . Legislasi produk hukum daerah (produk hukum yang sesuai dengan kebutuhan masyarakar) 2. Meningkatnya kualitas dokumen perencanaan makro dan sektoral yang pro publik 1. Penindakan terhadap Pelanggaran Peraturan Daerah 2. Meningkatnya kualitas produk hukum daerah yang memenuhiaspek yuridis.114 MISI-5 Meningkatkan Kinerja Pemerintah Kota yang Efektif. Sosialisasi dan publikasi produk hukum daerah 3.26 . Meningkatnya ketersedianya sarana dan prasarana bangunan untuk mendukung pelayanan kepada masyarakat 1. analisa dan waktu Rembug warga (SK 278/2000) dan Musrenbang (SPPN) 65 % 70 % 75 % 85 % 90 % 95 % 2. Tersaedianya sarana dan prasarana aparatur yang memadai 1. Terwujudnya Tata kelola Pemerintahan yang Baik melalui Pemantapan Reformasi Birokrasi (Agenda Prioritas Reformasi Birokrasi) INDIKATOR CAPAIAN MISI 1.

Tersedianya SDM aparatur yang bertanggungjawab tepat fungsi tepat posisi sesuai peraturan perundangundangan yang berlaku PROGRAM 1. simduk.115 INDIKATOR CAPAIAN MISI 5.848 orang dan Diklat dalam jabatan 170 orang 1 : 95 (jumlah aparatur sebanyak 24.Bandung electronic Controling th 2011 . Tingkat kapasitas Sumberdaya aparatur EKSISTING 2008 Diklat prajabatan 1. Terlaksananya Reformasi Birokrasi 1. Meningkatnya pembinaan dan pengembangan kinerja aparatur 1. kel.291 org) 78 % (13. Program pemantapan Reformasi Birokrasi 1. Pola intensif dan penggajian berdasarkan kinerja 90 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % .Bandung electronic Planning Project th 2010 . Ratio jumlah aparat dengan jumlah penduduk 2. Tingkat pemenuhan jabatan fungsional 3. Meningkatnya kapasitas sumber daya aparatur INDIKATOR PROGRAM 1.Bandung electronic Delivery and evaluating th 2011 6. Tingkat pelayanan online system perpajakan 3.Bandung electronic Budgeting th 2010 . simpag. Tingkat koneksi data kepemdudukan di 2 Wajib Pajak 25 % - 50 WP 50 % 50 % 75 WP 100 % 100 % 100 WP 100 % 100 % 125 WP 100 % 100 % 150 WP 100 % 100 % Simda (Simkeu.158 org) 2009 Diklat prajabatan 1. Tingkat pemenuhan kebutuhan operasional aparatur unit kerja SKPD/UPT/UPTD untuk mendukung kinerja pegawai dan pelayanan public 4. Tingkat pelayanan public berbasis informasi teknologi guna mendukung Bandung Cyber city (E-Goverment) 10 % 25 % 60 % 100 % 100 % 100 % 2.Bandung electronic Procurement (BEP) th 2010 . Meningkatnya kapasitas penyelenggaraan ekonomi daerah pemerintah daerah dan pemerintah wilayahKecamatan dan Kelurahan 1. kec dll) V . Intergrasi jaringan system informasi daerah 4. Program pembinaan pengembangan dan peningkatan kapasitas aparatur SASARAN PROGRAM 1.27 .821 orang dan Diklat dalam jabatan 240 orang 1 : 97 82 % TARGET CAPAIAN KINERJA TAHUNAN 2010 2011 2012 Diklat Diklat Diklat prajabatan prajabatan prajabatan 998 orang dan 700 orang dan 400 orang dan Diklat dalam Diklat dalam Diklat dalam jabatan 250 jabatan 300 jabatan 350 orang orang orang 1 : 100 84 % 1 : 102 90 % 1 : 105 95 % 2013 Diklat prajabatan 400 orang dan Diklat dalam jabatan 400 orang 1 : 107 100 % KETEREANGAN 2.

Terwujudnya kelembagaan pemerintah daerah yang efektif dan efisien 2. Jumlah SKPD yang menerapkan SMM ISO 9001 : 2000 1. Kurang Baik 5. Program pengawasan pembangunan daerah 1. Program pemeliharaan ketentraman dan ketertiban umum serta perlindungan masyarakat 1. Mewujudkan peran dan fungsi pengawasan internal pemerintah daerah 1. Tingkat kinerja pengawasan 2. Tingkat pelayanan pengaduan masyarakat 1. Program pendidikan politik 3 3 3 2 2 2 10. Meningkatnya kesadaran masyarakat akan ideology dan wawasan kebangsaan 1. Tingkat Perlimpahan urusan pemerintah daerah 6. Meningkatnya Pemahaman 1. Terbangunnya ketertiban dan 1. Program kelembagaan dan ketatalaksanaan 1. Meningkatnya jumlah SKPD yang bersertifikasi Sistem Manajemen Mutu (SMM) ISO 9001 : 2000 1. Tersedianya norma standar. prosedur dan criteria penyelenggara pemerintah 1.116 INDIKATOR CAPAIAN MISI PROGRAM SASARAN PROGRAM INDIKATOR PROGRAM kelurahan. Baik 3. Buruk 1. Sangat Baik 2. Kurang Baik 5. Tingkat ketentraman dan ketertiban masyarakat 3 3 3 2 2 2 V . Tersosialisasinya kebijakan tentang pengawasan 8. Buruk 9.-28 V 6 . Tingkat kinerja pelayanan perizinan satu atap 1. Baik 3. Meningkatnya kenyamanan dan 13 27 41 55 69 83 1 3 6 9 12 15 1. Cukup Baik 4. kecamatan serta Dinas Kependudukan dan Catatan sipil 5. Sangat Baik 2. Cukup Baik 4. Tingkat Apresiasi terhadap politik dan pemilu 19 Bidang kewenangan 30 % 75 % 100 % 20 % 70 % 80 % 100 % 40 % 90 % 85 % 100 % 60 % 100 % 90 % 100 % 80 % 100 % 95 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % Pengaduan masyarakat ditindak lanjuti EKSISTING 2008 2009 TARGET CAPAIAN KINERJA TAHUNAN 2010 2011 2012 2013 KETEREANGAN 7. Tersedianya Standar Operasional Prosedur (SOP) pada SKPD 1.

9 Milyar Perumusan instrument kebijakan Obligasi daerah dan Road Fund 89. Program peningkatan dan pengembangan pengelolaan keuangan SASARAN PROGRAM 1.8 Milyar 7.5 Milyar 57.8 Milyar 36.4 Milyar 17.7 Milyar Pelaksanaan Obligasi daerah dan Road Fund Obligasi daerah dan Road Fund Terimplementasikannya instrument pembiayaan pembangunan non konvensial V .1 Milyar 21.7 Milyar 8.3 Milyar 87.117 MISI-6 Meningkatkan Kapasitas Pengelolaan Keuangan dan Pembiayaan Pembangunan Kota yang Akuntabel dan Transparan Dalam Menunjang Sistem Pemerintahan yang Bersih dan Berwibawa Tujuan Misi : 1.2 Milyar 9.8 Milyar 78. Peningkatan Pendapatan dari pajak dan retribusi dari : Pajak Hotel Pajak Restoran Pajak Hiburan Pajak Reklame PPJ Parker Retribusi 1.4 Milyar 5.9 Milyar 87.29 .6 Milyar 32.0 Milyar 78.8 Milyar 23. Mewujudkan Peran serta Aktif Masyarakat dan Pembiayaan Pembangunan Kota INDIKATOR CAPAIAN MISI Rata-rata peningkatan pendapatan 13 % PROGRAM 1.8 Milyar 81.2 Milyar 93.9 Milyar Sosialisasi dan uji coba Obligasi daerah dan Road Fund 99.2 Milyar Pelaksanaan Obligasi daerah dan Road Fund 111.5 Milyar 82.7 Milyar 23.0 Milyar 72.1 Milyar 28. Terlaksananya Obligasi daerah dan Road Fund 0 EKSISTING 2008 2009 TARGET CAPAIAN KINERJA TAHUNAN 2010 2011 2012 2013 KETEREANGAN 60.5 milyar 21.8 Milyar 74. Meningkatnya pendapatan daerah INDIKATOR PROGRAM 1.3 Milyar 98.0 Milyar 25.8 Milyar 68. Mewujudkan Anggaran Pemerintahan yang Optimal Tujuan Misi : 2.5 Milyar 6.1 Milyar 73.1 Milyar 32.2 Milyar Perumusan instrument kebijakan Obligasi daerah dan Road Fund 78.1 Milyar 98.3 Milyar 51.9 Milyar 66.2 Milyar 41.9 Milyar 104.3 Milyar 5.7 Milyar 92.8 Milyar 28.2 Milyar 117.

Terbentuknya perusahaan patungan untuk beberapa layanan jasa umum dan barang politik 4. Terlaksananya instrument pembiayaan pembangunan non konvensional berbasis masyarakat EKSISTING 2008 2009 Perumusan instrument kebijakan Sistem Intensif TARGET CAPAIAN KINERJA TAHUNAN 2010 2011 2012 Penetapan instrument kebijakan Sisten Intensif Sosialisasi dan uji coba Sistem Intensif Pelaksanaan Sistem Intensif 2013 Pelaksanaan Sistem Intensif KETEREANGAN 0 0 0 Perumusan instrument kenijakan kelembagaan perusahaan patungan Perumusan instrument pembiayaan pembangunan non konversional berbasis masyarakat 0 Penetapan instrument kenijakan kelembagaan perusahaan patungan Penetapan instrument pembiayaan pembangunan non konversional berbasis masyarakat 0 Terbentuknya perusahaan patungan Pelaksanaan instrument pembiayaan pembangunan non konversional berbasis masyarakat 1 proyek Operasional perusahaan patungan Pelaksanaan instrument pembiayaan pembangunan non konversional berbasis masyarakat 2 proyek Operasional perusahaan patungan Pelaksanaan instrument pembiayaan pembangunan non konversional berbasis masyarakat 3 proyek Bantuan Teknis dari BAPPENAS untuk 3 proyek 5. Terlaksananya system intensif untuk sector masyarakat dalam pembiayaan penyediaan barang dan jasa 3.30 . Terlaksananya system insentif untuk sector swasta dalam pembayaran penyediaan barang dan jasa 2.118 INDIKATOR CAPAIAN MISI Terumuskannya kerjasama instrument insentif fisikal antar tingkat pemerintahan Beberapa Intensif fiscal untuk masyarakat dalam pembangunan pelaksanaan dan pemeliharaan barang dan jasa diterapkan Terbentuknya perusahaan patungan untuk beberapa layanan jasa umum dan barang Terbangunnya instrument pembiayaan pembangunan non konvensional berbasis masyarakat PROGRAM Program pengembangan kemitraan pembiayaan pembangunan daerah SASARAN PROGRAM Berkembangnya kemitraan pembiayaan – pembiayaan pembangunan daerah INDIKATOR PROGRAM 1. Meningkatnya proyek pembangunan non konversional melalui kerjasama pemerintah dengan swasta 0 V .

1 PEDOMAN TRANSISI Dokumen RPJMD Tahun 2009-2013 ini disusun seiring dengan Walikota terpilih dalam hal akhir masa jabatan Walikota dan belum tersusun RPJMD tahap berikutnya. 2. Hal ini berlaku sampai disusun kembali RPJMD untuk masa berikutnya. maka RPJMD Tahun 2009-2013 ini dapat menjadi dasar. (f) Partisipasi masyarakat dan dunia usaha serta (g) Kedisplinan. (d) Pelaksana Good Governance.1 . Kaidah-kaidah pelaksanaan adalah sebagai berikut : 1. ketertiban masyarakat dan kehidupan bermasyarakat. VI . (b) Konsentrasi. dokumen ini menjadi pedoman bagi penyusunan Rencana Strategis (Renstra) SKPD. (e) Keberpihakan kepada rakyat. Rencana Kerja (Renja) SKPD dan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) selama periode tersebut. masyarakat serta dunia usaha berkewajiban melaksanakan atau mendukung program-program dalam RPJMD Kota Bandung Tahun 2009 – 2013 dengan sebaik-baiknya.2 KAIDAH PELAKSANAAN Rencana pembangunan jangka menengah daerah Kota Bandung Tahun 2009-2013 adalah pedoman bagi pemerintah Kota Bandung dan masyarakat di dalam penyelenggaraan pembangunan daerah. Bagi masyarakat dan stakeholders. 6. (c) Kerja keras dan kesungguhan segenap aparat pemerintah. SKPD menyusun Rencana Strategis yang kemudian digunakan untuk menyusun Rencana Kerja. Bagi pemerintah Kota Bandung. Kebersihan pencapaian pembangunan dapat dicapai apabila didukung dengan (a) Komitmen kepemimpinan daerah. Unsur pemerintah. khususnya pada programprogram pembangunan yang relative strategis dan membawa kesejahteraan serta kemaslahatan rakyat. dokumen ini menjadi pedoman dan rujukan dalam menyatukan gerakan dalam rangka membangun Kota Bandung.119 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 BAB VI PENUTUP 6.

Pemerintah Kota Bandung berkewajiban menjamin konsistensi antar dokumen perencanaan tersebut. Pemerintah Kota Bandung berkewajiban memantau dan mengevaluasi pelaksanaan rencana tersebut.2 . WALIKOTA BANDUNG TTD DADA ROSADA SEKRETARIS DAERAH KOTA BANDUNG EDI SISWADI VI . 4.120 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 3.