1 LEMBARAN DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN : 2009 NOMOR : 09

PERATURAN DAERAH KOTA BANDUNG NOMOR 09 TAHUN 2009 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJM) TAHUN 2009-2013 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA BANDUNG

Menimbang

: a. Bahwa

dalam

rangka

penyelenggaraan

pemerintah,

pengelolaan

pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat, perlu disusun Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah untuk kurun waktu 5 (lima) tahun yang merupakan penjabaran visi, misi dan program Walikota terpilih; b. Bahwa sesuai dengan ketentuan Pasal 150 ayat (3) huruf e Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 sebagai mana telah dirubah untuk terakhir kalinya dengan Undang-Undang No.12 Tahun 2008 dan ketentuan Pasal 30 Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 07 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan rencana Pembangunan Daerah, sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Daerah, sebagimana telah dirubah dengan peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 05 Tahun 2009, yang menyatakan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Bandung ditetapkan dengan Peraturan Daerah;

c. bahwa …

2

c.

bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud huruf b, perlu membentuk Peraturan Daerah Kota Bandung tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Tahun 2009 – 2013;

Mengingat

: 1. Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah – daerah Kota Besar dalam Lingkungan Propinsi Jawa Timur/Tengah/Barat dan Daerah Istimewa Yogyakarta (Himpunan Peraturan Negara tentang Pembentukan Wilayah/Negara); 2. Undang-Undang No 28 Tahun 1999 tentang Penyelengaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 tentang Nomor 134,Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4247); 3. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286); 4. Undang-Undang No 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4355); 5. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4355); 6. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah diubah untuk kedua kalinya dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437 jo. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844); 7. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (Lembaga Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126 Tambahan Lembar Negara republik Indonesia Nomor 4438);

8. Undang-Undang …

3

8. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005 – 2025 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 33, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4700); 9. Peraturan Pemerintah No.39 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengendalian dan Evalusi Pelaksanaan Rencana Pembangunan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 96, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4663); 10. Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2006 tentang Tata Cara Penyusunan Rencana Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4664); 11. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang pembagian urusan Pemerintahan Antar Pemerintah, dan Pemerintah Daerah Propinsi, dan Pemerintahan Daerah Propinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4817); 12. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evalusai Pelaksanaan rencana Pembangunan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 21, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4817); 13. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2004- 2009; 14. Peraturan Daerah Kotamadya Daerah Tingkat II Bandung Nomor 10 Tahun 1989 tentang Batas Wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II (Lembaran Daerah Kota Bandung Tahun 1989 Nomor 3 Seri D); 15. Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 02 Tahun 2004 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Bandung sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 03 Tahun 2006 (Lembaran Daerah Kota Bandung Tahun 2004 Nomor 02 jo. Lembaran Daerah Kota Bandung Tahun 2006 nomor 03);

16. Peraturan …

4

16. Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 08 Tahun 2007 tentang Urusan Pemerintahan Daerah Kota Bandung (Lembaran Daerah Kota Bandung Tahun 2007 Nomor 08); 17. Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 05 Tahun 2008 tentang Tata Cara Pembentukan Peraturan Daerah ( Lembaran Daerah Kota Bandung Tahun 2008 Nomor 05); 18. Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 07 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Serta Musayawarah Perencanaan Pembangunan Daerah sebagaimana telah dirubah dengan Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 05 Tahun 2009 (Lembaran Daerah Kota Bandung Tahun 2008 Nomor 07 jo. Lembaran Daerah Kota BandungTahun 2009 Nomor 05); 19. Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 08 Tahun 2008 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Tahun 2005-2025 (Lembaran Daerah Kota Bandung Tahun 2008 Nomor 08);

Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KOTA BANDUNG dan WALIKOTA BANDUNG MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN DAERAH KOTA BANDUNG TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH TAHUN 20092013 BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Daerah ini, yang dimaksud dengan : 1. Daerah adalah Pemerintah Kota Bandung 2. Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Kota Bandung 3. Walikota adalah Walikota Bandung

4. Dewan …

5 4. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang selanjutnya disingkat DPRD adalah Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Bandung. 5. Satuan Kerja Perangkat Daerah yang selanjutnya disingkat SKPD adalah unsur pembantu Walikota dalam penyelengaraan pemerintah daerah yang terdiri dari sekertariat daerah, sekertarian DPRD, dinas daerah, lembaga teknis daerah, kecamatan dan kelurahan. 6. Pembangunan Daerah adalah perubahan yang dilakukan terus menerus dan terencana oleh seluruh komponen di Daerah Untuk mewujudkan visis Daerah. 7. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Tahun 2005-2025 yang selanjutnya disingkat RPJPD adalah dokumen perencanaan pembangunan Daerah untuk periode 20 (dua puluh) tahun terhitung sejak tahun 2005 sampai dengan tahun 2025. 8. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Tahun 2009-2013 yang selanjutnya disingkat RPJPD adalah dokumen Perencanaan Pembangunan Daerah untuk perioade 5 (lima) tahun terhitung sejak tahun 2009 sampai dengan tahun 2013, yang merupakan penjabaran dari visi, misi dan Program kepala Daerah dan berpedoman pada RPJPD serta memeperhatikan RPJM Nasional. 9. Renacana Kerja Pemerintah Daerah yang selanjutnya disingkat RKPD, adalah dokumen perencanaan pembangunan daerah untuk periode 1 (satu) tahun. 10. Visi adalah rumusan umum mengenai keadaan yang diinginkan pada akhir periode perencanaan. 11. Misi adalah rumusan umum mengenai upaya-upaya yang akan dilaksanakan untuk mewujudkan visi. BAB II RUANG LINGKUP RPJMD TAHUN 2009 – 2013 Pasal 2 (1) RPJMD Tahun 2009-2013 adalah rencana 5 (lima) tahun yang menggambarkan:

a. visi …

6 a. visi, misi, dan program Walikota sebagai Kepala Daerah; dan b. berisikan arahan kebijakan pembangunan, kebijakan umum, keuangan daerah, dan program pembangunan yang akan dilaksanakan oleh SKPD, disertai dengan rencana kegiatan dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif. (2) RPJMD Tahun 2009 – 2013 sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menjadi pedoman dalam penyusunan Rencana Strategis SKPD, dan RKPD. BAB III SISTEMATIKA RPJMD TAHUN 2009-2013 Pasal 3 Sistematika penyusunan RPJMD Tahun 2009-2013 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 disusun sebagai berikut : BAB I BAB II BAB III BAB IV BAB V BAB VI : PENDAHULUAN : GAMBARAN UMUM DAERAH DAN ISU STRATEGIS : KEBIJAKAN PEMBANGUNAN DAERAH : KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH : INDIKATOR KINERJA : PENUTUP Pasal 4 RPJMD Tahun 2009-2013 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini. Pasal 5 RPJMD Tahun 2009 – 2013 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 merupakan pedoman dalam penyelenggaraan pemerintah, pengelolaan pembangunan dan pelayanan publik.

BAB …

Ditetapkan di Bandung Pada tanggal 6 April 2009 WALIKOTA BANDUNG. (2) Pengendalian dan Evalusi pelaksanaan RPJMD sebagaimana dimaksud ayat (1) dilakukan berpedoman kepada ketentuan perundang-undangan. memerintahkan perundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kota Bandung. EDI SISWADI LEMBARAN DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 NOMOR 09 . BAB V KETENTUAN PENUTUP Pasal 7 Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. TTD DADA ROSADA Diundangkan di Bandung pada tanggal 6 April 2009 SEKRETARIS DAERAH KOTA BANDUNG.7 BAB IV PENGENDALIAN DAN EVALUSI Pasal 6 (1) Pemerintah Daerah melakukan pengendalian dan evaluasi pelaksanaan RPJMD. Agar supaya setiap orang dapat mengetahui.

8 LAMPIRAN PERATURAN DAERAH KOTA BANDUNG NOMOR 9 TAHUN 2009 TENTANG PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 .

9 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG 2009 – 2013 RPJMD KOTA BANDUNG Tahun 2009 -2013 .

.......6 BAB IV 4.............................................................. Strategi ....................2 3...................... Sistematika .. Strategi Keuangan......... Tujuan dan Sasaran ...........................................................1 i I–1 I–1 I–2 I–2 I–4 RPJMD KOTA BANDUNG Tahun 2009 -2013 .......................................... KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH..........................1 2...................5 1..........1 1........................... Sosial Kependudukan .......6 BAB II 2...................................................... Pengelolaan Keuangan Daerah .................................4 1.... KEBIJAKAN PEMBANGUNAN DAERAH Visi dan Misi .........1 4......6 BAB III 3....3 1............................... Arah Kebijakan Keuangan ........................ Kinerja Pemerintahan . Landasan Penyusunan........5 2.2 PENDAHULUAN ............ Latar Belakang ........ Proses Penyusunan ........1 3..2 2........................... BAB I 1......................3 2..........................4 2........... Isu Strategis...... Hubungan RPJMD Kota Bandung dengan Dokumen Perencanaan lainnya ..................................................10 DAFTAR ISI Daftar isi ..................... Arah Kebijakan ......3 3................... Maksud dan Tujuan .............. Kebutuhan Anggaran.. Pereokomian Daerah.............5 3. GAMBARAN UMUM DAERAH DAN ISU STRATERGIS Kondisi Fisik Lingkungan ..... Program................ II – 1 II – 22 II – 34 II – 39 II – 41 II – 47 III – 1 III – 1 III – 2 III – 8 III – 8 III – 11 III – 14 IV – 1 IV – 1 IV – 1 I–6 I–6 II .............2 1...............................4 3.......

.........................................2 INDIKATOR KINERJA DAN AGENDA .............. Kaidah Pelaksanaan..............................1 5................. Pedoman Transisi. PRIORITAS Indikator Umum .............. V–1 V–1 VI – 1 VI – 1 VI – 1 V-1 RPJMD KOTA BANDUNG Tahun 2009 -2013 .....................................1 6....2 BAB VI 6..........................11 BAB V 5........ Agenda Prioritas ...... PENUTUP ......

sesuai amanat peraturan perundangan yang berlaku. Perencanaan pembangunan daerah sebagaimana dimaksud. maka Pemeritah Kota Bandung diwajibkan menyusun Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) sebagai penjabaran dari RPJP Daerah Kota Bandung.1 LATAR BELAKANG Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional dan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah mengamanatkan bahwa Pemerintahan Daerah Provinsi. Penyusunan RPJM Daerah Kota Bandung Tahun 2009 – 2013 berpedoman pada RPJP Daerah Kota Bandung 2005 – 2025 serta memperhatikan RPJM Nasional dan RPJM Provinsi. Penyusunan. misi dan program Walikota Bandung yangakan dilaksanakan dan diwujudkan dalam suatu periode masa jabatan. RPJM Daerah Kota Bandung Tahun 2009 – 2013 merupakan penjabaran visi. Kabupaten/Kota dalam rangka menyelenggarakan pemerintahannya harus menyusun perencanaan pembangunan. Pengendalian. Pemerintah Kota Bandung telah menetapkan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Kota Bandung 2005 – 2025 berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 08 Tahun 2008. evaluasi pembangunan serta isu-isu strategis yang berkembang. dan Evaluasi Pelaksana Rencana Pembagunan Daerah serta telah dilaksanakannya pemilihan Kepala Daerah secara langsung.12 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 BAB I PENDAHULUAN 1. Berdasarkan amanat perundang-undangan diatas. memperhatikan sumber daya dan poetnsi yang dimiliki. Rencana Pembangunan Jangka menengah daerah (RPJMD) dan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD). dan dengan telah terbitnua Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005 – 2025. Tata Cara. disusun secara berjangka meliputi: Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPM). Berdasarkan kondisi diatas dan dengan telah ditetapkannya Peraturan Daerah Nomor 07 Tahun 2008 tentang Tahapan. factor-faktor keberhasilan. I-1 .

3 LANDASAN PENYUSUNAN Landasan penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Bandung Tahun 2009 – 2013 adalah : 1. misi Kepala Daerah terpilih dalam 5 (lima) tahun kedepan. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pmeeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 66. 2. Sebagai pedoman bagi seluruh pemangku kepentingan dalam merumuskan program pembangunan periode 2009 – 2013. 4. 3.2 MAKSUD DAN TUJUAN 1. Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286). 1.Undang Nomor 16 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah –daerah Kota Besar dalam Lingkungan Propinsi Jawa Timur/Tengah/Barat dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Sebagai pedoman bagi seluruh SKPD dilingkungan Pemerintah Kota Bandung dalam menyusun Renstra SKPD periode 2009 – 2013. Undang. 2.2 TUJUAN Tujuan penyusunan RPJMD Kota Bandung adalah : 1.1 MAKSUD Rencana Pemabangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Bandung Tahun 2009 – 2013 dimaksudkan sebagai pedoman dalam melaksanakan pembangunan guna mewujudkan visi. 25 Tahun 2004 tentang sistem Perencanaan 7. Sebagai pedoman bagi Pemeritah Kota Bandung dalam penyusunan Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) periode 2009 – 2013. 1. 5. 6. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah diubah untuk kedua kalinya dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125. 3. Undang-undang No 1 Tahun 2004 tentang perbendaharaan Negara. Undang-Undang Nomor Pembangunan Nasional.2. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4400). Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437 jo.13 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 1. Sebagai tolak ukur dalam penyusunan Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Walikota pada akhir masa jabatan.2. I-2 . Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844). Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59.

2009. 10. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 9 Tahun 2008 tentang Rencana Pembanguan Jangka Panjang Daerah Provinsi Jawa Barat Tahun 2005 . dan Pemerintahan Daerah Propinsi. Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2004 . 20. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2008 tentang Pedoman Evaluasi Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2004 tentang Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Kementrian Negara/Lembaga. Tata Cara Penyusunan. 19. I-3 . 21. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang pembagian urusan Pemerintahan Antar Pemerintah. 13. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah. 15. Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Kepala Daerah kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dan Informasi Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Kepada Masyarakat. 9. dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota. 16. 22. Peraturan Daerah Nomor 02 Tahun 2004 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 03 Tahun 2006. 14. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah sebagaimana telah diubah dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 59 Tahun 2007. 11.14 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 8. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005 – 2025. 17. 12. dan Pemerintah Daerah Propinsi. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan.2025. Undang_undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (Lembaga Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126 Tambahan Lembar Negara republik Indonesia Nomor 4438). Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 2007 tentang Laporan Penyelenggaraan Pemerintah Daerah kepada Pemerintah. Pengendalian dan Evalusai Pelaksanaan rencana Pembangunan Daerah. 18. Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah. Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2006 tentang Tata Cara Penyusunan Rencana Pembangunan Nasional.

Tata cara Penyususunan. Peningkatan Kualitas dan Produktivitas Sumber Daya Manusia. b. yang difokuskan untuk menciptakan Sumber Daya Manusia Jawa Barat yang unggul dan berdaya saing. Meningkatnya kondisi infrastruktur transportasi serta sumberdaya air di kawasan industri. Sasaran : a. b. pelaksanaan. 2. Sasaran : a. Lembaran Daerah Kota BandungTahun 2009 Nomor 05). d. Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Serta Musayawarah Perencanaan Pembangunan Daerah sebagaimana telah dirubah dengan Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 05 Tahun 2009 (Lembaran Daerah Kota Bandung Tahun 2008 Nomor 07 jo. Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 07 Tahun 2008 tentang Tahapan. Peraturan daerah Kota Bandung Nomor 08 Tahun 2007 tentang Urusan Pemerintahan Daerah Kota Bandung (Lembaran Daerah Kota Bandung Tahun 2007 Nomor 08). Peningkatan Daya Beli Masyarakat. 1. yang difokuskan pada penciptaan lapangan kerja serta menyiapkan tenaga kerja terampil dan berjiwa enterprener untuk kebutuhan dalam negeri dan luar negeri. penganggaran. Dalam konteks ini RPJMD Propinsi Jawa Barat telah mengacu pada RPJM Nasional. RPJMD Kota Bandung merupakan sub sistem dari RPJM Nasional yang memiliki keterkaitan dalam agenda mewujudkan kesejahteraan masyarakat. c. Meningkatnya kompetensi keterampilan dan kewirausahaan tenaga kerja melalui pelatihan dan sertifikasi tenaga kerja disektor formal. pengawasan dan evaluasi. antar ruang dan antar fungsi pemerintah. 25. serta menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan. Meningkatkan kesempatan kerja melalui peningkatan investasi dan padat karya. I-4 . 24.15 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 23. Meningkatnya kualitas dan aksebilitas pendidikan masyarakat. Adapun poko yang berkaitan antara RPJMD Propinsi dan Kota Bandung terutama terletak pada misi berikut ini.4 HUBUNGAN RPJM KOTA BANDUNG DENGAN DOKUMEN PERENCANAAN LAINNYA RPJMD Kota Bandung merupaka bagian yang terintegrasi dengan perencanaan pembangunan nasional dengan tujuan untuk mendukung koordinasi antar pelaku pembangunan dan harus selaras dan sinergi antar daerah. 1. antar waktu. Meningkatkan kualitas dan kuantitas SDM tenaga kerja Jawa Barat dengan berbasis standar tenaga kerja ASEAN. Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 08 Tahun 2008 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Tahun 2005-2025 (Lembaran Daerah Kota Bandung Tahun 2008 Nomor 08). sehingga kaitan yang lebih spesifik adalah antara RPJMD Kota Bandung terhadap RPJMD Propinsi Jawa Barat. Meningkatnya kesejahteraan buruh dan KUMKM. Meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. c.

3. d. sedangkan misi – 4 dalam RPJMD ini masuk dalam kategori misi minor. Sasaran : a. I-5 . d. Meningkatnya fungsi kelembagaan Pemerintah Daerah. Penetapan ini diantaranya di dasarkan pada Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi Jawa Barat. Peningkatan sarana dan prasarana pendidikan. 5. Dalam 5 misi tersebut.16 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 3.3 dan 5. Meningkatnya luas dan fungsi kawasan kesehatan. 6. Penanganan Pengelolaan Bencana. Pengendalian pencemaran air. Sasaran : a. c. yang difokuskan pada peningkatan pelayanan public dan penerapan insetif berbasis kinerja. Tertanggapinya bencan/wabah secara cepat dan akurat. Peningkatan Kinerja Aparatur. 4. Meningkatnya tingkat KKN untuk menciptakan pemerintahan yang bersih. RPJMD Kota Bandung digunakan sebagai pedoman penyusunan Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah (Restra SKPD) dan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD). b. Adapun fokus Kota Bandung pada RPJMD Propinsi Jawa Barat antara lain : 1. pengembangan jasa dan perdagangan. udara dan sampah. 2.2. 4. yang difokuskan pada pelestarian dan peningkatan luas dan fungsi kawasan lindung. 5. Secara khusus selanjutnya di sebutkan bahwa Kota Bandung atau Kawasan Kota Bandung adalah menjadi salah satu focus penting. 7. Berkurangnya resiko kejadian bencana. Meningkatnya pengendalian pencemaran air. yang difokuskan pada upaya resiko bencana. Meningkatnya kesipan dini dan mitigasi bencana. Peningkatan mutu air baku. setidaknya ada 4 misi mayor yang selaras dengan Misi Kota Bandung. Meningkatnya profesionalisme dan kinerja aparatur Pemerintah Daerah. c. RPJMD Kota Bandung Tahun 2009-2013 juga mengacu pada kebijakan pemanfaatan ruang yang telah ditetapkan (RTRW). b. Pembangunan infrastruktur transportasi. Peningkatan cakupan pelayanan kesehatan. pengendalian dan Pemulihan Kualitas Lingkungan. Meningkatnya pelayanan pemerintah daerah kepada masyarakat. Penyediaan energi alternatif. Meningkatnya pemahaman dan kesiapan masyarakat dalam menghadapi bencana. Sasaran : a. b. yaitu misi 1.

maksud dan tujuan. social kependudukan. 2. arah kebijakan. tujuan dan sasaran. Pendekatan Teknokratik. belanja dan pembiayaan. BAB II GAMBARAN UMUM DAERAH DAN ISU STRATEGIS. strategi. serta proses penyusunan. sistematika penulisan. Memuat dan menjelaskan indikator kinerja daerah beserta tahapan pencapaiannya. Menjelaskan tentang visi dan misi. I-6 . landasan hukum. Dalam hal ini rencana pembangunan adalah penjabaran agenda-agenda pembangunanyang ditawarkan Kepala Daserah saat kampanye ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah. Menjelaskan tentang latar belakang. program. pendekatan ini memandang bahwa pemilihan Kepala Daerah sebagai proses penyusunan rencana program. 1. hubungan RPJM Daerah dengan dokumen perencanaan lainnya. BAB V INDIKATOR KINERJA DAN AGENDA PRIORITAS. Menjelaskan strategi dan arah kebijakan pengelolaan pendapatan. karena rakyat pemilih menentukan pilihannya berdasarkan program-program pembangunan yang ditawarkan para calon Kepala Daerah. BAB VI PENUTUP Berisikan pedoman transisi dan kaidah pelaksanaan. BAB III KEBIJAKAN PEMBANGUNAN DAERAH. perekomian daerah. Menjelaskan tentang kondisi fisik lingkungan. Pendekatan Politik. serta isu-isu strategis pembangunan daerah yangsedang berkembang. dan pengelolaan keuangan daerah. pendekatan ini dilaksanakan dengan menggunakan metode dan kerangka berpikir ilmiah oleh lembaga yang secara fungsional bertugas untuk hal tersebut.17 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 1. serta Agenda Prioritas. BAB IV KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH.6 PROSES PENYUSUNAN Dokumen RPJMD pada dasarnya disusun berdasarkan beberapa pendekatan berikut 1.5 SISTEMATIKA BAB I PENDAHULUAN. kinerja pemerintahan. serta kebutuhan anggaran.

Program (Kepala Daerah Terpilih) RPJM Nasional dan Propinsi Musrenbang RPJMD Perumusan Rancangan Akhir RPJMD RPJMD ditetapkan Dengan Perda setelah berkonsultasi dengan Propinsi I-7 . pendekatan ini dilaksanakan dengan melibatka pemangku kepentingan (stakeholders) pembangunan. pendekatan ini dilaksanakan menurut jenjang pemerintahan. Pendekatan Partisipatif. Pendekatan Atas-Bawah (top-down) dan Bawah-Atas (bottom-up). Pendekatan ini bertujuan untuk mendapatkan aspirasi dan mnciptakan rasa memiliki. 4.18 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 3. Penyusunan RPJMD Kota Bandung Tahun 2009-2013 melalui berbagai tahapan analisis sektoral. Adapun proses penyusunan secara rinci dapat dilihat pada gambar berikut ini : RPJPD Kota Bandung 2005-2025 Analisis Kondisi Eksisting Rancangan Awal RPJMD (oleh Bappeda) Visi. Misi. Hasil proses tersebut kemudian diselaraskan melalui musyawarah pembangunan. penjaringan aspirasi masyarakat serta dialog yang melibatkan stakeholders kunci.

050 meter dpl.1. dengan temperature udara rata-rata 230C (1995-2008). sedangkan di bagian Selatan serta Timur terdiri atas jenis alluvial kelabu dengan bahan endapan liat. Di Wilayah Kota Badung bagian Selatan permukaan tanah relative datar. berdasarkan pada Peraturan Daerah Kotamadya Daerah Tingkat II Bandung Nomor 10 Tahun 1989 tentang Perubahan batas Wilayah Kotamadya Tingkat II Bandung yang merupakan tindak lanjut dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Nomor 16 tahun 1987 tentang Perubahan Batas Wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II Bandung. Kota Bandung tergolong daerah yang cukup sejuk.1 IKLIM DAN KUALITAS UDARA Kota Bandung terletak di pada posisi 1070 36’ Bujur Timur dan 60 55’ Lintang Selatan. hal ini disebabkan polusi dan meningkatnya suhu global.1). temperatur rata-rat di Kota Bandung pada Tahun 2008 terdapat temperatur maksimum yang mencapai 30. secara terinci (table 2.1 KONDISI FISIK LINGKUNGAN Kota Bandung mempunyai Luas Wilayah 16. dan titik terendah berada di sebelah Selatan dengan ketinggian 675 Meter dpl. Di bagian tengah dan Barat tersebat jenis tanah andosol. Kota Bandung secara topografis terletak pada ketinggian 791 meter di atas permukaan laut (dpl). Jenis material di wilayah bagian utara umumnya jenis tanah andosol.19 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 BAB II GAMBARAN UMUM DAERAH DAN ISU STRATEGIS 2. Temperatur ini dipengaruhi oleh ketinggian dari permukaan laut. lingkungan pegunungan atau cekungan dan berbagai danau besar yang terletak disekitarnya. 2.65 Ha.70C pada bulan September 2008. titik tertinggi berada di daerah Utara dengan ketinggian 1. sedangkan di wilayah kota membentuk Bandung menjadi semacam cekungan (Bandung Basin). Keadaan geologis di Kota Bandung dan sekitarnya terdiri atas lapisan alluvial hasil letusan Funung Tangkuban Perahu.1 .729. namun pada dasarnya beberapa tahun belakangan mengalami peningkatan suhu. hal ini mengindekasikan bahwa sebenarnya terdapat kenaikan temperatur di Kota d II . Iklim asli kota Bandung dipengaruhi oleh iklim pegunungan di sekitarnya. dengan ketinggian rata-rata + 791 m di atas permukaan laut (dpl). serta perubahan iklim global.

1 29.3 23.20 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Bandung.1 28. Khusus untuk HC di semua lokasi melebihi baku mutu.0 23.2 18.1 28.7 22.6 23. Berdasarkan II .8 23. Dari 15 tempat yang dipantau oleh Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup (BPLH) Kota Bandung Tahun 2004-2008.7 19.2 28.2 23. NOx.4 28.6 29.8 23.3 19. hal ini nampaknya terkait dengan pertumbuhan kendaraan yang pesat. Soekarno Hatta. Ledeng.9 28.3 19.7 19.4 23.5 29. Wastukencana. Leuwipanjang dan pada beberapa jaln utama seperti Jalan Diponogoro. Sementaraitu bila dianalisis dalam kurun waktu yang lebih panjang. Samakin sedikitnya Ruang Terbuka Hijau (RTH). debu. Jumlah pertumbuhan kendaraan di Kota Bandung berdasarkan hasil penelitian Jalan International (JICA) tahun 1997. HC.5 28.3 19. Achmad Yani.9 18. temperatur di Kota Bandung naik sekitar 20C. mencapai 12% pertahun.4 23.7 19.7 19.6 29. Pb dan debu) di beberapa tempat menunjukkan masih terdapat parameter yang mendekati dan bahkan melebihi Baku Mutu (BM). kualitas udara yang melebihi di atas ambang batas adalah di terminal Cicaheum. dan kenaikan tersbut dinali signifikan dalam dunia meteorologi. dan Pb.1 28.6 19.0 23.1 Temperatur Rata-rata di Kota Bandung Tahun 1995-2008 Tahun 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Temperatur (0C) Minimum Rata-rata Maksimum 23.6 19. namun hasil pengukuran kualitas udara ambient (SO2.4 19.2 .5 28.8 23. CO.2 23. terutama dilihat dari kadar HC.3 19. yaitu temperatur udara rata-rata maksimum dalam 20 tahun terakhir.5 28.6 23.2 29.4 Pelaksanaan program Langit Biru di Kota Bandung yang bertujuan untuk mengurangi pencemaran udara sudah berjalan sekitar 10 tahun. Leuwipanjang dan pada beberapa jalan utama seperti Jalan Dioponogoro. Tabel 2. O3. serta meningkatnya pencemaran udara berkontribusi dalam meningkatnya pencemaran udara berkontribusi dalam meningkatkan iklim mikro di Kota Bandung. Buahbatu dan Jalan Siliwangi.7 19.

pariwisata.278 unit. industri. Kota Bandung ditetapkan sebagai salahsatu Pusat Kegiatan Nasional (PKN). menunjukkan bahwa berdasarkan hasil uji emisi gas buang kendaraan bermotor Tahun 2002-2007. Pengendalian pusat kegiatan di Metropolitan Bandung dan Arahan Pengembangan jaringan transportasi berupa Pengembangan Terminal Terpadu Gedebage (Terminal Tipe A). sementara Dinas Perhubungan Kota Bandung mengemukakan bahan angkutan kota adalah penyumbang posisi udara udara yang paling besar.2 STRUKTUR DAN RENCANA RUANG KOTA BANDUNG Di dalam RTRW (PP 28/2008 dan RPM RTRW Pulau Jasa-Bali). II .936 unit pada tahun 2001 menjadi 594. Arahan pengembangan jaringan transportasi: sebagai jalan penghubung Cicalengka-Soreang-Padalarang dan sistem transportasi missal intra-urban. tanaman pangan. Data BPLH Kota Bandung. Meningkatnya pencemaran udara di Kota Bandung. Di dalam RTRW Propinsi Jawa Barat (Perda No 2/2003) Kota Bandung masuk ke dalam PKN Metropolitan Bandung dan Kawasan Andalan Cekungan Bandung dengan kegiatan utama pengembangan SDM.500 kg/hari pada jumat dan sabtu). Kota Bandung Sekitarnya sebagai Kawasan Andalan Cekunagn Bandung dengan sector unggulan industri. dan perkebunan.1. Secara alamiah Kota Bandung memiliki Geografi yang Nyaman. Pengurangan beban kota dengan penyebaran pusat kegiatan dan Konservasi di daerah resapan air. Menunjukkan bahwa keberadaan tol cipularang telah berimpilikasi terhadap kualitas udara. pariwisata. sedangkan NOx meningkat 59% dan HC meningkat 50%.885 unit. agribisnis. Meninggkatnya pencemaran udara di Kota Bandung juga dipengaruhi oleh tidak terawatnya mein kendaraan.362 unit pada tahun 2007. Arahan pola pemanfaatan ruang: Pengendalian urban spawl/konurbasi di koridor Bandung-Cimahi dan Bandung-Soreang. namun pencemaran udara sudah dimulai mengganggu kenyaman dan kesehatah 2. khususnya dari Jakarta. peningkatan terbesar terjadi pada sepeda motor dari 283. Peningkatan kapasitas pelayanan Bandara Hussein Sastranegara. jasa. tahun 2007 meningkat menjadi 839. Arahan pola pemanfaatan ruang berupa Kawasan Hutan Lindung Bandung Utara. Di titik masuk kota Bandung seperti gerbang tol Pasteur dan jembatan Cikapayang. lebih dari 60% kendaraan berbahan baker solar tidak memenuhi baku mutu emisi.21 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Data Dinas Perhubungan pada tahun 2007 pada tahun 2001 total kendaraan bermotor 501.3 . kandungan CO rata-rata pada hari jumat dan sabtu meningkat sekitar 38% (di hari normal sekitar 1800 menjadi 2. sementara untuk yang berbahan baker bensin berfluktuasi dari sekitar 10% hingga 52%.

arahan dan kebijakan ruang di Kota Bandung dapat dilihat pada table berikut: Tabel 2. jasa perdagangan. Rencana struktur sistem pusat pelayanan Kota Bandung sampai tahun 2013 dapat dilihat pada table berikut ini : II . pembangunan jalan lingkar utara dan/atau akses utara selatan di Bandung Timur Arahan Pengembangan Pemanfaatan ruang Kebijakan pendukung Struktur tata ruang Di dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Bandung. Konsep fungsi kota Kebijakan struktur tata ruang fungsi Kota Bandung: pemerintah dan perkantoran.2 Bebijakan Ruang Kota Bandung. litbang.4 . pendidikan.d batas utara kota): kebijakan membatasi pembangunan • Bandung Barat (Wilayah Pembangunan Tegallega. industri. Sampai sekarang Gedebage relatif belum berkembang sesuai rencana.22 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Pengembangan angkutan massal di Metropolitan Bandung (jalur KA Cekunagn Bandung) dan pembangunan jalan tol Cisumdawu. Karees. Kota Bandung adalah bagian yang sangat penting bagi perencanaan pembangunan Kota Bandung dalam jangka panjang. Rencana Tata Ruang ini harus menjadi dasar penting dalam pembangunan jangka menengah. Pusat Primer adalah di Alun-Alun dan Gedebage. sekunder dan lingkungan. kebijakan. pusat sub-WP dan pusat-pusat lingkungan secara merata dengan pembagian jenjang pelayanan di setiap Wilayah Pembangunan • Menata fungsi dan struktur jaringan jalan yang serasi dengan sebagian fungsi kegiatan primer dan sekunder • Bandung Utara (wilayah antara 750 dpl s. jasa kesehatan dan perumahan • Mengembangkan 2 pusat primer untuk wilayah Bandung Barat dan Bandung Timur. jasa. Bojonegara): kebijakan memprioritaskan pengembangan • Bandung Timur (Wilayah Pembangunan Gedebage dan Ujung Berung): kebijakan mengarahkan dan pemprioritaskan pengembagan • Menyempurnakan dan meningkatkan tingkat pelayanan prasarana (jaringan) transportasi yang ada untuk mendukung perkembangan pusat primer dan sekunder • Mengembangkan jalan alternative dengan memprioritaskan jalan tembus yang sudah direncanakan • Meningkatkan akses melalui pengembangan jalan bebas hambatan dalam kota. • Membagi wilayah Kota menjadi 6 Wilayah Pengembagan (WP) • Mengembangkan pusat sekunder. Cibeunying. wisata. Secara umum konsep. Menurut rencana tersebut Kota Bandung akan disusun atas struktur primer.

Margasari Setrasari Tegallega Kopo Kencana Karees Turangga Cibeunying Sadang Serang Gedebage Ujung Berung Sungai. sehingga Kota Bandung dapat berkembang dan berkelanjutan.5 . Sungai. maka ditetapkan berbagai kawasan lindung. Sungai.23 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Tabel 2. Mata Air • Taman • Historical Preservasi Kawasan • Sempadan Mata Air • Sempadan Mata Air • Taman • Sempadan Mata Air • Taman Building. Mata Air • Taman • Sempadan Sungai.3 Rencana Struktur Sistem Pusat Pelayanan Kota Bandung Tahun 2013 STRUKTUR PRIMER Alun-Alun FUNGSI • Komersial • Perdagangan • Sosial Budaya • Terminal • Sosial • Jasa/Pergudangan • Permukiman • Industri Teknologi Tinggi • Perdangangan • Lindung • Permukiman • Perdagangan • Perkantoran • Industri Non Polutan • Pedagangan • Industri • Permukiman • Perkantoran • Pemerintahan • Pendidikan Tinggi • Perdagangan • Lindung • • • • • • • • Permukiman Industri Lindung Permukiman Industri Lindung Perdagangan Perumahan BENTUK • Perkantoran • Historical Building. Arcamanik LINGKUNGAN Sumber : RTRW Kota Bandung (2004-2013) Mengingat kondisi kritis lingkungan Kota Bandung. Mata Air • Taman • Sempadan Sungai. Pelestarian Kawasan • Rekreasi • Orang dan Barang • Stadion LOKASI Alun-Alun Sekitarnya dan Gedebage • Pasar • Perkantoran Gedebage Sekitarnya dan SEKUNDER Bojonegara • Retail • Grosir • Pasar • Retail • Grosir • Pasar • Retail • Grosir • Pasar • Retail • Grosir • Pasar • • • • • • • Retail Grosir Pasar Retail Grosir Pasar Retail • Sempadan Sungai. Wilayah-wilayahini patut mendapat perhatian untuk memulihkan daya dukung wilayah. Di antara rencana kawasan lindung di Kota Bandung antara lain : II .

Gatot Subroto. Di antara rencana jaringan jalan menurut RTRW Kota Bandung adalah sebagai berikut : II . ABC. Gudang Utara. Jawa. Cikapundung. Braga. Cipaganti. Melong. Karapitan. Dewi Sartika.4 Rencana Klasifikasi Kawasan Lindung Klasifikasi Kawasan Yang Memberikan Perlindungan Terhadap Kawasan Bawahannya Kawasan Cagar Budaya Rincian LOKASI Utara • Kawasan Lindung Yang Terletak Bagian Bandung Bagian Utara Kota Bandung • Kawasan Resapan Air Terbesar di Beberapa Kecamatan Kecamatan Yang Mempreservasi Bangunan Fisik Serta Mengkonversikan Lingkungan Alami Yang Memiliki Nilai Historis Dan Budaya Kota Bandung Kota Kawasan Pelestarian Alam Kawasan Prlindungan Setempat (Ruang Terbuka Hijau) Kawasan Rawan Bencana Kawasan Alun-Alun Asia Afrika. Lengkong. Aceh. arteri sekunder. Ganesha. Juanda. Arjuna. Sumatera. Cibeunying Perlindungan Alam Plasma Nutfah Eks Situ Tersebar • Jalur Sempadan Sungai • Kawasan Sekitar Danau/Bendungan/Waduk • Kawasan Sekitar Mata Air Atau Eks Situ • Jalur Sempadan Jalan Kereta Api • Kawasan Sekitar Tegangan Tinggi • Sempadan Jalan Tol • Taman Kota Dan Pemakaman Umum Kawasan Yang Diidentifikasi Sering Dan Bagian Utara Kota Berpotensi Tinggi Mengalami Bencana Bandung Alam Seperti Gempa Bumi Dan Tanah Longsor Serta Banjir Sumber : RTRW Kota Bandung (2004-2013) Selanjutnya untuk mengatasi lalu lintas Kota Bandung akan dikembangkan jaringan jalan arteri primer.24 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Tabel 2. Sasakgantung. Setiabudi. Bali. Malabar. Jatayu Dan Kebon Jati Taman Wisata Alam Dan Kawasan Kec. Dipatiukur. Pasar Baru. Cidadap. Tamansari.6 . Oto Iskandardinata. Diponegoro. Pecinan.H. Pager Gunung. Kelenteng. RE Martadinata. Ir. kolektor primer dan kolektor sekunder. Pasteur.

Cokroaminoto (Dahulu Jl. Dr. Kebonjati Jl. Ir. Sersan Bajuri Jl. Jakarta Jl. Wastukencana Jl. Garuda Jl. Sekarwangi) Jl. Ramdan Jl. Kopo) Jl. Supratman Jl. Terusan Pasirkoja Jl. Setiabudhi Jl. Soekarno Hatta Arteri Sekunder Jl. Tembus Bihbul Jl. Sunda Jl. Ciwastra Kolektor Sekunder Rencana Jl. Peta Jl. Raya Cibeureum Jl. Kiaracondong Dan Terusan Kiaracondong) Jl. Juanda Jl. Penghulu K. Pacuan Kuda Jl. Hasan Mustofa Jl. Martadinata Jl. Seram Jl. Lengkong Besar Jl. RE. Gedebage Selatan Jl. Akhmad Yani Jl.2 . Ibu Inggit Garnasih (Dahulu Jl. Raya Sindanglaya dan Cibiru) Jl. Lembong Jl.5 Rencana Jaringan Jalan Arteri Primer Jl. Arcamanik Indah Jl. Sukajadi Jl. Suniaraja Jl.H. Rajawali Timur Jl. Cibaduyut raya Sumber : RTRW Kota Bandung (2004-2013) II . Sukawangi Jl. Ir. Sukabumi Kolektor Primer Jl. Leuwipanjang Jl. Pasirkoja Jl. Jend. Ciumbeuleuit Jl. Ibrahim adji (Dahulu Jl. Karapitan Jl. Diponegoro Jl. Asia Afrika Jl. Moch. Gurame Jl. Tamblong Jl. Junjunan Jl. Tembus Dari Jl. Setiabudhi Jl. Suria Sumantri Jl. Cihampelas Jl. Sumbawa Jl. Elang Jl.25 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Tabel 2. Abdul Hamis Nasution (dahulu Jl. Merdeka Jl. Ciateul) Jl. Abdurrahman Saleh Jl. Rumah Sakit Jl. Terusan Jakarta Jl. Dr. Veteran Jl. BKR Jl. Sulawesi Jl. Setiabudhi (Dari Jl.H. Raa Wiranatakusumah (Dahulu Jl. Pak Gatot Raya Jl. Buah Batu Jl. Toha Jl. Pajajaran Jl. Siliwangi Jl. Jamika Jl. Dr. Sutami Jl. Sukahaji Jl. Moch. Cipaganti) Jl. Pasteur Jl. Sudirman Jl. Hos. Otto Iskandardinata Jl. Dr. Surapati Jl. Gatot Subroto Jl. Rajawali Barat Jl. Terusan Buah Batu Jl. Astanaanyar Jl. Laswi Jl. Gedebage (Rencana Akses Tol) Rencana Jl.

000 Bojonegara 106 67 23 23 1 0 0 11 3 43 11 43 3 1 0 3 3 3 Jumlah Prasarana Yang Dibutuhkan (Unit) Cibeunying Tegallega Karees Ujung Gede Berung Bage 109 98 106 143 81 69 61 67 89 50 23 20 23 30 17 23 20 23 30 17 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 0 0 0 1 0 11 10 11 14 7 3 3 3 4 2 44 39 43 57 32 11 10 11 14 7 44 39 43 57 32 3 3 3 4 2 1 1 3 3 3 1 1 3 3 3 1 0 3 3 3 1 0 4 4 4 1 0 2 2 2 Kota Bandung 643 403 136 136 6 2 1 64 18 258 64 258 18 6 2 18 18 18 Bojonegara 18020 73700 69000 69000 0 0 2200 1500 8600 4400 12900 3000 2000 0 3000 3000 3000 Tambahan Kebutuhan Lahan Untuk Prasarana (M2) Cibeunying Tegallega Karees Ujung Gede Berung Bage 18530 16660 18020 24310 13770 75900 67100 73700 97900 55000 69000 60000 69000 90000 51000 69000 60000 69000 90000 51000 10000 0 2200 1500 8800 4400 13200 3000 2000 12000 3000 3000 3000 10000 0 2000 1500 7800 4000 11700 3000 2000 12000 3000 3000 3000 0 0 2200 1500 8600 4400 12900 3000 2000 0 3000 3000 3000 0 3000 2800 2000 11400 5600 17100 4000 2000 0 4000 4000 4000 0 0 1400 1000 6400 2800 9600 2000 2000 0 2000 2000 2000 Kota Bandung 109310 44330 408000 408000 20000 3000 12800 9000 51600 25600 77400 18000 12000 24000 18000 18000 18000 Kesehatan Peribadatan Sumber : RTRW Kota Bandung (2004-2013) II .26 Tabel 2.000 10.8 .000 1.000 3.000 3.100 3.000 1.000 12.000 2.000 200 500 200 400 300 1.000 1.6 Jumlah Luas Lahan Tambahan Kebutuhan Fasilitas Wilayah Pengembangan Tahun 2013 Jenis Fasilitas Pendidikan TK SD SLTP SLTA Akademik Rumah Sakit C Rumah Sakit Poliklinik Puskesmas Posyandu Apotik Langgar/Mushola Mesjid Lingkungan Mesjid Raya Mesjid Raya Gereja Vihara Pura Standar Luas (M2) 170 1.

000 100 3.000 24.27 Tabel 2.9 .000 0 Jumlah Prasarana Yang Dibutuhkan (Unit) Cibeunying Tegallega Karees Ujung Gede Berung Bage 0 0 0 1 0 0 1 110 1 1 439 44 3 1 3 3 0 0 1 98 1 1 391 39 3 1 3 3 0 0 1 106 1 1 426 43 3 1 3 3 0 1 1 143 1 1 572 57 4 1 4 4 0 1 1 80 1 1 321 32 2 1 2 2 0 Kota Bandung 1 2 6 643 6 6 2576 258 18 6 18 18 0 Bojonegara 0 0 1000 10600 0 3000 106750 53750 27000 24000 2250 0 0 Tambahan Kebutuhan Lahan Untuk Prasarana (M2) Cibeunying Tegallega Karees Ujung Gede Berung Bage 0 0 0 36000 0 0 10000 11000 0 3000 109750 55000 27000 24000 2250 0 0 0 10000 9800 0 3000 97750 48750 27000 24000 2250 0 0 0 10000 10600 0 3000 106500 53750 27000 24000 2250 0 0 10000 10000 14300 0 3000 143000 71250 36000 24000 3000 0 0 10000 10000 8000 0 3000 80250 40000 18000 24000 1500 0 0 Kota Bandung 36000 20000 60000 64300 0 18000 644000 322500 162000 144000 13500 0 0 Rekreasi/ Taman/ Olahraga Transportasi Transportasi Sumber : RTRW Kota Bandung (2004-2013) II .7 Jumlah Luas Lahan Tambahan Kebutuhan Fasilitas Wilayah Pengembangan Tahun 2013 (Lanjutan) Jenis Fasilitas Perekonomian Pusat Perbelanjaan Pusat Perbelanjaan Pasar Toko Bank Gedung Bioskop Taman Taman Taman Taman Gedung Olahraga Gedung Pertunjukan Terminal Transit Standar Luas (M2) 36.250 9.000 10.000 750 Bojonegara 0 0 1 106 1 1 427 43 3 1 3 3 8.000 10.000 250 1.

Untuk pembangunan yang akan dilaksanakan oleh pihak swasta Pemerintah Kota Bandung sudah mengeluarkan Persetujuan Prinsip untuk pembangunan kawasan komersial di kawasan Pusat Primer tersebut.22 Jumlah 16. Upaya menyeimbangkan aktivitas dalam ruang wilayah Kota Bandung. Perencanaan DED (Detail Enginering Desain) dan Amdal Stadion Utama terus dilaksanakan). Pembebasan Lahan.00 Sumber : Badan Pertanahan Kota Bandung.054. baik yang direncanakan oleh Pemerintah Kota maupun oleh pihak swasta. selain itu pemerintah terus melakukan pematangan rencana pembangunan PLTSa.1% pada tahun 2008.730.290.83 Sawah 3. Guna Lahan Luas Area (Ha) Perumahan 9.28 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Pelaksanaan pembangunan Kawasan Bandung Timur sebagaimana arahan Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Bandung terus di pacu. hal ini tentunya akan mempercepat pelaksanaan pembangunan Kawasan Bandung Timur dan sekitarnya.57 Tanah Kosong 545. Terminal Terpadu dan Retension Pond di kawasan pusat primer Gede Bage. Pelaksanaan pembangunan Stadion Utama yang didukung dengan kegiatan pendukungnya terus dilaksanakan.70 Kebun Campuran 215. maka sebagian besar lahan di Kota Bandung (55. Dengan pengembangan tersebut. hal ini yang terus di usahakan dalam rangka pengembangan kawasan Bandung Timur adalah mengurus perjanjian pembukaan akses tol Gede Bage. Penggunaan untuk kegiatan-kegiatan jasa sekitar 10% dan masih ada lahan sawah sekitar 20. dilakukan dengan mendorong Pengembangan Gedebage di bagian Timur Kota Bandung.90 lainnya 649. 2008 1 2 3 4 5 6 7 8 9 II . Tabel 2. (Pembangunan Jalan Akses.668.47 Kolam 39.3 PENGGUNAAN LAHAN Sebagai salah satu kota yang penting dan berpenduduk relaif padat.28 Jasa 1. diharapkan akan Dicapai daya dukung lingkungan yang kebih baik dan berkesinambungan 2.5%) digunakan sebagai lahan perumahan.8 Penggunaan Lahan di Kota Bandung Tahun 2008 No.1.54 Industri 647.49 Tegalan 318.10 .

sarana dan prasarana semakin meningkat seiring dengan peningkatan jumlah penduduk dan aktivitasnya.1 Struktur Penggunaan Lahan di Kota Bandung Tahun 2008 Kota Bandung dalam lingkup Bandung Raya adalah salah satu pusat berbagai jenis aktivitas penting di Jawa Barat maupun Indonesia dan sekitar 73. kualitas udara menurun. Kabupaten Bandung Barat dan Kota Cimahi.1 55.8 3. namun juga bagi Bandung Raya. tuntutan kebutuhan air bersih. Permasalahan lingkungan fisik alam tersebut pada dasarnya bukan hanya tantangan Kota Bandung saja. kualitas udara yang baik. yaitu meliputi Wilayah Kabupaten Bandung.5% wilayah Kota Bandung adalah kawasan terbangun. Permasalahan di salah satu wilayah tersebut dapat membawa dampak pada wilayah lainnya. masalah sampah yang belum dapat ditangani secara optimal. ruang terbuka hijau.2 0 20 (Persen) 40 60 Grafik 2. Karena tu untuk penanganan masalah dan pemenuhan kebutuhan di Kota Bandung memerlukan sinergitas dengan Kabupaten-Kota di Bandung Raya.3 10 20. II .9 3.3 1.5 Kolam 0.9 1. suhu udara yang semakin meningkat.29 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Perumahan Saw ah Jasa Industri Lainnya Tanah Kosong Tegalan Kebun Campuran 3. Berbagai masalah lingkungan muncul diantaranya: penurunan air tanah.11 . penurunan kualitas air tanah. kebutuhan pemukiman. kenyamanan. ketidakseimbangan kegiatan antar wilayah dan lain sebagainya. Pada situasi menghadapi berbagai masalah fisik alam tersebut. ketuntasan penanganan sampah. Berbagai aktivitas tersebut pada akhirnya memberikan tekanan berat pada kondisi fisik alam Kota Bandung. luas lahan terbuka yang berfungsi lindung sangat sedikit dan terancam keberadaannya.

Terjadi penurunan muka air tanah. karena umumnya jalan-jalan di Kota Bandung relative sempit. Sarana jalan kereta api menghubngkan Bandung dalam system perhubungan Pulau Jawa serta perhubungan Bandung dan sekitarnya. Saat ini Kota Bandung masuk dalam kategori titik kritis tinggi 2.38 km).12 .4 SARANA DAN PRASARANA 1. Infrastruktur Perhubungan Sarana jalan raya adalah bagian dari sistem perhubungan utama di Kota Bandung. Dengan pengembangan tersebut. diharapkan akan dicapai daya dukung lingkungan yang kebih baik dan berkesinambungan Daya dukung dan daya tampung Kota yang sudah mengalami penurunan drastis. sehingga dari 10. Jalan Kota 1185. Jalan rel juga memiliki peran dalam pergerakan manusia dan barang di Kota Bandung. sekitar 5.019 ha harus diarahkan untuk RTH. Sebagai sarana utama. yang terdiri dari jaringan jalan primer (lalu lintas regional dan antarkota). Jalan Propinsi 17. dilakukan dengan mendorong Pengembangan Gedebage di bagian Timur Kota Bandung.48 km (Jalan Nasional 33. Polusi udara yang berasal dari kendaraan bermotor semakin tinggi. Terjadi alih fungsi lahan untuk permukiman dan perdagangan secara cepat. Kebutuhan ruang Terbuka Hijau 30% sebagai batas minimum belum terpenuhi. jaringan jalan sekunder (lalu lintas perkotaan).56 km. jalan raya di Kota Bandung. Tekanan jumlah penduduk dan ketidak seimbangan sebaran penduduk. Panjang Jalan di Kota Bandung pada akhir tahun 2008 adalah sekitar 1. Jalan di Kota Bandung terhubungan dengan system jalan Jakarta. Jawa Barat dan Jawa Tengah dan tersambung pada system jalan tol yang mempermudah akses pusat ekonomi nasional (Jakarta) menuju Bandung.236. Selain itu ada sarana perhubungan rel kereta api dan perhubungan udara komersial di Bandara Husein Sastranegara.875 ha lahan budidaya tersisa. Masalah jalan di Kota Bandung saat ini dan kemungkinan besar akan berlanjut dalam jangka panjang adalah tingkat pelayanan rendah. sehingga pada masa 10-20 tahun mendatang Kota Bandung menghadapi ancaman masalah ketersediaan air dan penurunan kualitasnya.54 km. Kondisi jalan secara umum adalah baik namun beberapa masih belum mantap atau kondisi sedang dan bahkan rusak. atau ketidak sinambungan antara kapasitas jalan dan volume kendaraan.30 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Upaya menyeimbangkan aktivitas dalam ruang wilayah Kota Bandung.1. II .

Volume sampah Kota Bandung mencapai 7. Drainase. PDAM juga menggunakan 19 sumur bor produksi yang dipompakan ke reservoir. Sampah ) Sebagian besar wilayah Kota Bandung sarana air kotor masih bercampur dengan saluran drainase pada saluran terbuka. membelah Kota Bandung dari utara ke selatan. misalnya oleh sampah domestic. Gangguan fungsi drainase mikro sering terjadi juga akibat gangguan fungsi drainase jalan. 3. Sangat dibutuhkan system angkutan umum masal.13 . Air Minum ( Air Bersih ) Pada umumnya kebutuhan air minum dan air bersih dipenuhi dengan pengeboran rumah tangga dan sebagian dilayani oleh PDAM. Produksi sampah tersebut tidak seimbang dengan kemampuan penanganan sehingga masih banyak sampah yang tidak terangkut. Air limbah diolah oleh satu unit Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Bojongsoang dengan kapasitas 400.5 km) dengan 9 anak sungai. II . Terlebih lagi dengan perkembangan lokasilokasi usaha yang tdak teratur dan pertumbuhan kendaraan yang sangat tinggi. sehingga beberapa daerah rawan banjir dan genangan. System drainase di masa depan perlu direncanakan secara komprehensif. Kapasitas produksi PDAM rata-rata sebesar 2. Namun kapasitas bandaranya relative terbatas dalam menampung pesawat ukuran besar. dengan sungai utama adalah Sungai Cikapundung (panjangnya 28 km dan yang masuk Kota Bandung 15.31 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Bandar Udara Husein Sastranegara melayani penerbangan domestic dan internasional.500 m3/hari yang sebagian besar adalah sampah perumahan dan fasilitas umum.309 sambungan langsung dengan cakupan pelayanan sekitar 53%. 2.200 liter/detik dengan persentase kehilangan air bersih rata-rata per tahun 47%. Tragedi besar terjadi di TPA Leuwigajah Kota Cimahi sangat memperngaruhi masalah persampahan di Kota Bandung dan patut menjadi perhatian besar bagi pengelolaan sampah di masa depan. Sumber air bersih yang digunakan adalah sungai (air permukaan) dan artesis (air tanah dalam). System drainase makro pada umumnya alamiah terdiri dari 46 sungai.000 jiwa dengan area layananBandung Timur dan Bandung Selatan System drainase yang ada terbangun secara apa adanya dan sebagian besar berupa system drainase jalan. PDAM menggunakan 10 mata air utama yang terletak di daerah Ledeng. Sarana Lingkungan ( Sanitasi. Jumlah pelanggan air bersih di Kota Bandung sebanyak 144. Secara umum kondisi perhubungan Kota Bandung saat ini menghadapi masalah serius dan semakin menjadi besar di masa dating bila tidak dilakukan terobosan penting. Sampah di Kota Bandung adalah menjadi bagian dari system persampahan regional yang meliputi pula daerah sekitarnya. Sekitar 30% ruas jalan belum memiliki saluran drainase.

Jumlah Perguruan Tinggi Negeri (PTN) sebanyak 8 buah yang terdiri dari : 2 Universitas. Pangalengan (S. Berbagai upaya telah dilaksanakan Kota Bandung dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas di Kota Bandung.Cikapundung). Untuk Kota Bandung seluruh wilayahnya sudah terlayani dengan alira listrik. karena Kota Bandung memiliki kualitas yang baik dibanding dengan daerah sekitarnya. (Sumber Bandung Dalam Angka Tahun 2007). dimana hal ini akan mempengaruhi kualitas penyelenggaraan pendidikan di Kota Bandung. antara lain melalui Role Sharing antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Propinsi. Pelayanan energi listrik di Kota Bandung cakupannya sudah sangat luas dengan pola jaringan jalan dan berupa sistem jaringan udara. Akan tetapi penyebaran Lembaga Pendidikan tersebut tidak merata baik dari sisi kuantitas maupun kualitas. maupun ketenagaan pendidikan. Sebagai Pusat Pendidikan. Sarana Pendidikan Sebagai Kota Pendidikan. 13 politeknik. Pengembangan telekomunikasi Kota Bandung sangat terkait dengan perkembangan eksternal bisnis ini. Telekomunikasi dan Listrik Media telekomunikasi dan energi listrik di Kota Bandung dilayani melalui system nasional. Cikalong. 33 Sekolah Tinggi. di masa dating jelas sekali akan meningkat layanan energi listrik ini patut mendapat perhatian agar seimbang dengan dorongan pertumbuhan kegiatan masyarakat di Kota Bandung. Pada sarana energi listrik. akan tetapi kondisi sarana prasarana pendidikan belum memadai.Citarum). Salah satu kebutuhan lain yang besar di masa dating adalah penyediaan backbone untuk cybercity yang harus direncanakan dengan baik dengan melibatkan stakeholder. semua wilayah di Kota Bandung dapat dijangkau oleh sarana telekomunikasi. Kota Bandung memiliki cukup banyak Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang telah memiliki reputasicukup baik pada skala internasional maupun regional. 3 Sekolah Tinggi dan 2 Politeknik. Kota Bandung selalu menjadi tujuan utama para pelajar untuk mengenyam pendidikan.Cisangkuy) dan Bengkok (S. II . 5. di antaranya dengan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Saguling (S. Dalam era komunikasi nir kabel. diantaranya upaya untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas pendidikan. Sementara untuk Perguruan Tinggi Swasta (PTS) sebanyak 78 yang terdiri dari : 14 Universitas. Dapat dikatakan hamper tidak ada masalah dalam telekomunikasi di Kota Bandung.14 . Stabilitas dan kuantitas yang ada berkaitan dengan ketersediaan listrik Jawa Bali. 250 SMP/MTs dan 245 SMA/SMK/MA yang terbesar di 30 Kecamatan. Kota Bandung memiliki 602 TK/RA. Sampai dengan tahun 2008. Lamajan. 2 Institut. dan diharapkan di masa depan kualitas layanan semakin baik dengan harga rata-rata yang semakin turun. khususnya terhubung dengan grid Jawa-Bali. dengan munculnya sekolah favorit dan sekolah yang kurang peminatnya sehingga harus merger.32 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 4. 1 Institut. sarana prasarana pendidikan. 16 akademik.

Praktek Dokter Umum 1. SLTP sebanyak 47 orang. Dalam hal ketenagaan pendidikan.157 243 224 Kondisi Ruang Kelas Rusak Sedang 241 28 18 Rusak Berat 268 29 6 Rusak Total 30 17 2 Kebutuhan RKB 5 597 143 43 Dari kondisi tersebut. karena kebutuhan bidang ilmu yang semakin spesifik. terbanyak adalah Guru sekolah dasar dan guru SLTA. rasio ini semakin menurun. di masa dating patut diperhatikan mengenai sebaran sarana pendidikan dan penataan kawasan pendidikan. 6. 16 Puskesmas diantaranya memiliki gawat darurat serta 13 Puskesmas Keliling.049. Pada tingkat taman kanak-kanak. SLTA sebanyak 37 orang. Sarana Kesehatan Sarana Kesehatan Kota Bandung sampai dengan tahun 2008 adalah Puskesmas 71 buah. Tingkat pelayanan pendidikan dapat dilihat dari rasio siswa per kelas. Sarana Pelayanan Kesehatan lainnya adalah Rumah Sakit 31 buah. Rasio guru per sekolah tingkat SLTA adalah sebanyak 33 Orang. Praktek Dokter Gigi 583 Orang.801 Rusak Ringan 1. Pada tingkat SLTP jumlah anak yang bersekolah relative banyak bila dibandingkan dengan daya tampung sehingga rasio per kelas melebihi 40 siswa. rasio siswa per kelas sebanyak 35 orang.15 .567 Orang.531 2. Perlibatan masyarakat dalam penyediaan dan pengembangan sarana pendidikan juga dapat menjadi alternative penting. 5 diantaranya adalah Puskesmas dengan tempat perawatan untuk persalinan. Hal ini dapat mengurangi pergerakan penduduk khususnya siswa/mahasiswa agar lebih efisien dan tidak terlalu lama dalam perjalanan menuju lokasi belajar. karena relative banyak yang tidak melanjutkan studi. Praktek Bidan s II . Rasio guru per sekolah semakin meningkat bila jenjang pendidikan semakin tinggi. SD sebanyak 40 orang.730 2.33 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Hal ini dapat dilihat pada table berikut: Jenjang pendidikan TK/RA SD/MI SMP/MTS SMA/SMK/MA Jumlah Ruang Kelas 1. Pada tingkat SLTA. Kota Bandung memiliki Guru sebanyak 26.014 5.

34
RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013

811 Orang, Praktek Dokter Spesialis 137 Orang, Balai Pengobatan Swasta 512 buah, Laboratorium Klinik 88 buah, Apotek sebanyak 493 buah dan Rumah Bersalin 51 buah. Dari 31 Rumah Sakit tersebut, 11 diantaranya milik Pemerintah, yaitu RSHS, Rumah Sakit Dr. HA Rotin Sulu, RSK Jiwa Pusat, RS Mata Cicendo Milik Depkes, RSU Santika Asih Milik Polri, RSU Salamun Milik TNI AU, RSU Sari Ningsih Milik TNI AD, RSUD Ujungberung, RSKAI Astana Anyar dan RSKGM milik Pemerintah Kota Bandung, serta RSKGM miliki Depdiknas. Sedangkan Rumah sakit Swasta berjumlah 20 buah, yaitu RS Rajawali, RS Kebonjati, RS Adven, RS Boromeus, RS Bungsu, RS St Yusuf, RS Muhamadiyyah, RS Imanuel, RS Al Islam, RS Santosa, RSK Jiwa Hurip Waluya, RSK Ginjal, RSK Bedah Halmahera, RSIA Hermina, RSIA Melinda, RSIA Teja, RSB Limyati dan RSB Ema Puradireja. Dengan demikian sarana kesehatan Kota Bandung harus sudah mampu menyediakan pelayanan kesehatan yang sesuai dengan permasalahan kesehatan spesifik khas perkotaan. 7. Sarana Ekonomi Sarana ekonomi di Kota Bandung, khususnya untuk perdagangan dan jasa memiliki jenis beragam dan tumbuh dengan pola alamiah. Karena pertumbuhannya yang alami dan mengikuti kecenderungan pasar, maka beberapa pusat perdagangan skala besar dibangun dalam jarak terlalu dekat atau justru bersaing dengan pasar yang sudah ada. Usaha ritel dan grosir sudah menjadi tidak jelas lagi, sehingga persaingan dapat dikatakan kurang sehat. Toko-toko kecil sudah semakin terdesak oleh jaringan pertokoan besar dan pasar tradisional semakin terfokus pada produk-produk pertanian primer (perishable goods). Situasi seperti ini ekonomi makro Kota Bandung dapat memunculkan potensi crowding out investasi, artinya investasi satu kegiatan tergeser oleh persaingan padahal belum mencapai titik keuntungan. Hal ini juga dapat menjadi salah satu pemicu kenaikan biaya-biaya ekonomi di Kota Bandung. Untuk itu pada perekonomian Kota Bandung diperlakukan aturan yang jelas dan tegas agar persaingan usaha menjadi lebih sehat dan produktif. 8. Sarana Peribadatan Mayoritas penduduk Kota Bandung beragama Islam, sehingga jumlah masjid mencapai 2.177, jumlah Gereja 131, pura 3, dan vihara 22. Perkembangan lokasi peribadatan ini juga terkadang tumbuh dengan kurang direncanakan. Terlebih pada tempat ibadah tertentu yang skalanya nasional maupun regional sering menyedot pengunjung sehingga berdampak pada kemacetan lalu lintas. Berkembangnya fasilitas peribadatan dengan pesat tanpa hirarki dan distribusi yabf baik menyebabkan fasilitas peribadatan kurang dimanfaatkan secara optimal.

II - 16

35
RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013

9. Sarana Ruang Terbuka Hijau dan Pemakaman Umum Ruang Terbuka Hijau (RTH) adalah bagian penting dari ekosistem perkotaan. RTH adalah ruang-ruang dalam kota atau wilayah yang lebih luas dalam bentuk area/kawasan maupun dalam bentuk area memanjang/jalur di mana dalam penggunaannya lebih bersifat terbuka (tanpa bangunan). RTH meliputi taman kota, taman wisata alam, taman rekreasi, taman lingkungan perumahan dan permukiman, taman lingkungan perkantoran dan gedung komersial, taman hutan raya, hutan kota, hutan lindung, benteng alam, cagar alam, kebun raya, kebun binatang, pemakaman umum, lapangan olahraga, lapangan upacara, parkir terbuka, lahan pertanian perkotaan, jalur di bawah listrik tegangan tinggi, sempadan sungai, pantai, bangunan, median jalan, rel kereta api, pipa gas dan pedestrian, kawasan jalur hijau dan taman atap (roof garden). Kota Bandung yang disebut dengan Kota Bunga, Paris Van Java dahulu dikenal memiliki desain kota yang indah dan memiliki banyak taman atau ruang terbuka hijau. Saat ini Kota Bandung memilikibeban berat untuk mengembalikan kebanggaan tersebut. Pada beberapa tahun terakhir terus digalakkan optimalisasi Ruang Terbuka Hijau (RTH) dalam bentuk taman kota. Perkembangan luas RTH Kota Bandung pada tahun 2006 seluas 1.314,20 ha (7,85%) mnjadi 1.466,13 ha (8,76%) di tahun 2007. perkembangan luas RTH di Kota Bandung tamak pada tabel berikut,

Tabel 2.10. Perkembangan Ruang Terbuka Hijau Taun 2006-2007 JENIS Taman Kebun bibit Pemakaman RTH lahan Kritis Jumlah 2006 Luas 120.95 1.69 141.06 1,050.51 1,314.20 % 0.72 0.01 0.84 6.28 7.86 2007 Luas 129.45 1.69 145.50 1,189.50 1,466.13 % 0.77 0.01 0.87 7.11 8.76

Sumber : Badan Pertanahan Kota Bandung, 2008

Sesuai dengan RTRW Kota Bandung (Peraturan Daerah Nomor 03 tahun 2006) pada tahun 2013 Kota Bandung diharapkan memiliki luas RTH sebesar 10%, dan sesuai dengan RPJPD Kota Bandung (Peraturan Daerah Nomor 08 tahun 2008) luas RTH Kota Bandung pada tahun 2025 mencapai 30% yang terdiri dari 20% RTH Publik dan 10% RTH Privat. Tempat pemakaman Umum di Kota Bandung sebanyak 13, yaitu TPU Muslim, TPU Kristen, Serta TPU Hindu dan Budha yang tersebar yang tersebar di 6 bagian wilayah kota dengan luas total sebesar 124.000 m2 . Dengan jumlah populasi yang demikian besar, maka di masa depan pemakaman umum termasuk masalah yang besar.

II - 17

36
RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013

Berdasarkan definisi ruang terbuka hijau tersebut, relatif masih ada peluang untuk mewujudkan RTH di Kota Bandung. Tidak kurang dari 16, jenis yang menjadi potensi RTH Kota Bandung. Tidak kurang dari 16 jenis, yang menjadi potensi RTH Kota Bandung : Taman Kota, Taman Rekreasi, Taman Lingkungan Perumahan dan Permukiman, Taman Lingkungan Perkantoran dan Gedung Komersial, Hutan Kota, Kebun Binatang, Pemakaman Umum, Lapangan Olah Raga, Lapangan Upacara, Parkir Terbuka, Lahan Pertanian Perkotaan, Jalur Dibawah Tegangan Tinggi (SUTT dan SUTET), Sempadan Sungai dan Sempadan Bangunan, Jalur Pengaman Jalan, Median Jalan, Rel Kereta Api dan Pedestrian, Kawasan dan Jalur Hijau, Daerah Penyangga (Buffer Zone), Lapangan Udara Husein Sastranegara dan Taman Atap (Roof Garden). 10. Sarana Seni, Olah Raga dan Pariwisata Seni yang berkembang di Kota Bandung memiliki variasi besar, yaitu mulai dari seni tradisional sampai moderen. Sarana seni yang menampung kegiatan seni tersebut dapat saling bergantin, diantaranya adalah sejumlah lapangan terbuka yang menjadi pilihan untuk kegiatan seni skala besar misalnya Lapangan Gasibu dan Tegallega. Selain itu juga terdapat sejumlah gedunggedung seni yang dapat dimanfaatkan, baik milik pemerintah maupun swasta. Galeri –galeri seni pribadi juga banyak terdapat di Kota Bandung. Sarana seni di Kota Bandung di antaranya adalah museum (6 unit), gedungpertunjukan (12 unit), galeri (28 unit), gedung bersejarah (637 unit). Sarana olahraga di Kota Bandung terdiri dari lapangan indoor dan outdor, yaitu kolam renang (13 unit), pusat bilyar (49 unit), bowling (4 unit), stadion (6 unit), pusat kebugaran (9 unit) dan lapangan golf serta lapangan umum yang dapat digunakan oleh masyarakat. Srana pariwisata dan rekreasi di Kota Bandung ragamnya sangat besar. Pada dasarnya banyak hal yang dapat dijadikanobjek wisata Kota Bandung, baik obyek wisata alam, sejarah, buatan, moderen, basis kreatifitas dan lain sebagainya. Seluruh obyek dan sarana tersebut sebaiknya menjadi paket wisata menarik yang dan menjadi obyek yang utuh, sehingga setiap sisi Bandung dapat menjadi obyek wisata yang menarik. Perkembangan pariwisata Kota Bandung didukung keberadaan hotel (170 unti), restoran (123 unit), rumah makan (440 unit), biro pelayanan wisata (116 unit), agen wisata (12 unit), penyelenggara wisata (4unit), lembaga pendidikan wisata (16 unti), hiburan lingkungan seni dan budaya (367 unit), galeri (25 unit) dan bioskop (9 unit).

Sebagai salah satu kota terpenting di Indonesia, di Kota Bandung relative tersedia banyak sarana public (lengkap). Permasalahan yang kerap terjadi adalah pada daya dukung sarana transportasi terhadap segala kegiatan di berbagai sarana public tersebut. Sarana perhubungan dapat menjadi ancaman in-efisiensi pergerakan aktivitas penduduk di Kota Bandung pada masa yang akan dating. Ketersediaan ruang terbuka hijau terus diupayakan agar kota menjadi nyaman sekaligus diharapkan dapat memperbaiki ketersediaan air tanah di Kota Bandung.

II - 18

serta peringatan dini. serta (4) mengurangi kerusakan infrastruktur utama. dan rekonstruksi. Manajemen bencana ini bertujuan untuk (1) mencegah kehilangan jiwa. persentase kerapatan bangunan yang cukup tinggi. pada tahap pra bencana masih sangat terbatas pada tahap pencegahan. Selama ini. sementara mitigasi non struktural antara II . Kegiatan pra bencana yang mencakup kegiatan pencegahan. Kegiatan saat terjadi bencana yang mencakup kegiatan tanggap darurat untuk meringankan penderitaan sementara. (3) memberi informasi masyarakat dan pihak berwenang mengenai risiko.19 . mitigasi. baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana” Secara umum. merupakan kawasan yang sangat rentan terhadap kejadian bencana. “Mitigasi bencana adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana. Menurut UU No.37 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 2. Sementara itu. Kegiatan pasca bencana yang mencakup kegiatan pemulihan. dalam prakteknya mitigasi dapat dikelompokkan ke dalam mitigasi struktural dan mitigasi non struktural berhubungan dengan usahausaha pembangunan konstruksi fisik. kesiapsiagaan.1. di dalam praktek penanggulangan bencana masih ditekankan pada saat serta pasca terjadi bencana. rehabilitasi. 24/2007 tentang Penanggulangan Bencana. 3. harta benda dan kehilangan sumber ekonomis.5 MITIGASI BENCANA Kota Bandung sebagai daerah hunian yang memiliki kepadatan. Kegiatan pada tahap sebelum terjadinya bencana. dikenal dengan istilah Mitigasi atau penjinakan/peredaman. ayat (9). Oleh karena itu perlu diupayakan langkah-langkah strategis untuk melindungi setiap warga dengan melakukan manajemen bencana. 2. baik bencana alam (Natural disaster) maupun non alam (Man-made disaster). pasal 1. (2) mengurangi penderitaan manusia. seperti kegiatan search and rescue (SAR). bantuan darurat dan pengungsian. dan secara alami dilewati oleh patahan gempa (sesar lembang) serta struktur bebatuan dan tanah kota bandung sangat labil terhadap gempa. saat dan sesudah terjadi bencana. Manajemen bencana sendiri merupakan seluruh kegiatan yang meliputi aspek perencanaan dan penanggulangan bencana. Kegiatan pada tahap pra bencana ini sangatlah penting karena apa yang sudah dipersiapkan pada tahap ini merupakan modal dalam menghadapi bencana dan pasca bencana. pada sebelum. Secara umum kegiatan manajemen bencana dibagi kedalam tiga kegiatan utama yaitu : 1.

2. 3. Adapun data kasus demam berdarah yang telah terjadi di wilayah Kota Bandung dari tahun 2004 sampai dengan tahun 2008 adalah sebagai berikut : II . 39. Tingkat kerugian pada tahun 2008 mengalami penurunan dari Rp. Jumlah korban sebanyak 637 jiwa. yang berasal dari hewan bisa juga terjadi akibat kepadatan dan kondisi sanitasi lingkugan yang kurang baik akibat kurang kesadaran dan budaya bersih yang belum melekat pada masyarakat sehingga menimbulkan berbagai penyakit.259 M3 menjadi 2. seperti demam berdarah dan chikungunya. Bencana Non-Alam Volume kejadian Kebakaran sebanyak 141 kali.000 pada tahun 2008.38 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 lain meliputi perencanaan tata guna lahan disesuaikan dengan kerentanan wilayahnya dan memberlakukan peraturan (law enfocement) pembangunan. juga kejadian bencana luar biasa lainnya yang bisa ditimbulkan oleh sumber penular lainnya. Longsor Volume kejadian (skala kecil) sebanyak 2 kali.1 % dibandingkan pada tahun 2007 sebanyak 168 kali. Jumlah korban sebanyak 524 jiwa. Penurunan kurang lebih 69%. Upaya mitigasi dan tindakan-tindakan antisipasinya adalah syarat mutlak untuk dapat hidup berdampingan dengan bencana yang sering terjadi di Kota Bandung seperti Bencana Alam (Natural disaster). Demam Berdarah Disamping potensi mitigasi bencana alam yang telah dijelaskan diatas. 12.20 .599. dengan tidak ada korban jiwa.8 %. b. Bencana Alam a. Wabah Penyakit Menular a.078 M3. Data dan Informasi kejadian bencana di Kota Bandung pada tahun 2008 adalah sebagai berikut : 1. Penggunaan air untuk memadamkan api pada tahun 2008 mengalami penurunan dari 3.000 pada tahun 2007 menjadi Rp. Bencana Non-Alam (Manmade disaster). Terjadi penurunan kurang lebih 16.700. Angin Putting Beliung Volume kejadian sebanyak 1 kali.235.746. Penurunan kurang lebih 56. Dengan upaya mitigasi terhadap bencana-bencana tersebut dapat mengurangi resiko-resiko dampak dari suatu bencana yang dilakukan sebelum bencana itu terjadi. c. dan Wilayah Penyakit Menular. Banjir Volume kejadian sebanyak 3 kali. termasuk kesiapan dan tindakan-tindakan pengurangan resiko jangka panjang.

11 DATA KASUS CHIKUNGUNYA DI KOTA BANDUNG TAHUN 2008 No. Data kusus chikungunya yang terjadi di wilayah Kota Bandung pada tahun 2008 adalah sebagi berikut Tabel 2.21 .2008 1600 1400 1200 1000 800 600 400 200 0 Tahun 2004 Tahun 2005 Tahun 2006 Tahun 2007 Tahun 2008 Januari 119 111 242 523 545 Februari 383 255 326 1220 349 Maret 1418 347 479 956 349 April 364 211 499 446 467 Mei 162 114 309 546 377 Juni 127 355 328 301 305 Juli 46 330 195 184 307 Agustus 103 509 222 154 205 September 32 487 187 106 226 Oktober 31 474 105 84 497 Nopember 58 248 138 113 112 Desember 52 359 159 750 341 Akibat sanitasi yang kurang baik.589 65 31 69 1 241 26 50 10 21 0 22 Total 2.125 Sumber : Dinas Kesehatan Kota Abndung Tahun 2008 II .39 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Grafik 2. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Bulan Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember Jumlah Kasus 1. selain penyakit deman berdarah juga timbul penyakit chikungunya.2 GRAFIK KASUS DBD DI KOTA BANDUNG TAHUN 2004 .

hingga mencapai 2.2 SOSIAL KEPENDUDUKAN 2. Bandung Barat dan Kota Cimahi pada tahun 2006 dapat mencapai jumlah penduduk 5 jutaan. Dengan mengetahui data. sedangkan di Kota Bandung. Rata-rata pertumbuhan jumlah penduduk Kota Bandung antara tahun 2002-2007 adalah sebesar 1. Apabila terjadi kontak langsung antara manusia dengan unggas yang terjangkit virus flu burung akan mengakibatkan sesak nafas. wilayah Kabupaten Sumedang bagian barat serta Kota Cimahi yang dihuni oleh penduduk yang berjumlah besar pula.624 jiwa.22 . Rabies dan Sapi Gila (Mad Cow).340. Kelurahan Kebonlega. Kecamatan Cicendo dengan jumlah kasus yang terinfeksi 1 Kasus. ada juga penyakit yang ditimbulkan melalui hewan. Hal ini perlu mendapat perhatian. jumlah Kasus yang terinfeksi 1 Kasus. informasi.43%. Penyakit Zoonosis tersebut antara lain adalah penyakit Flu Burung. Penyakit Flu Burung (Avian Influenza) mulai masuk ke Indonesia termasuk ke Jawa Barat pada tahun 2003. Sebagai pusat kegiatan penting. Pada tahun 2008. pertumbuhan penduduk bisa semakin melambat.40 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 b. yaitu penyakit hewan zoonosis. Pertambahan jumlah penduduk ini dapat menjadi beban berat apabila secara bersamaan daerah sekitarnya juga terus mengalami pertambahan penduduk. virus ini mulai menjangkiti unggas pada tahun 2005. Dengan kondisi tersebut.6 juta jiwa. Kabupaten Bandung. Virus tersebut pada umumnya menyerang unggas namun dapat juga menyerang manusia dan hingga saat ini belum ada obatnya. Kecamatan Bojongloa Kidul. dan karakter dari setiap bencana secara lengkap merupakan langkah awal dari upaya mitigasi sehingga dalam aspekaspek pembangunan akan memperhatikan kaidah-kaidah kebencanaan. maka pergerakan penduduk antara pusat dan hinterland menjadi bercampur. sehingga apabila telah terjadi sering dikatakan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB). Mengingat penyakit zoonosis pada hewan dapat menular pada manusia bahkan dapat menyebabkan kematian. Anthrax.4 juta jiwa. sehingga realitas jumlah penduduk yang beraktivitas di Kota Bandung cenderung melebihi jumlah penduduk yang teregistrasi.2. demam sama dengan genjala flu biasa namun tidak dapat diobati. jumlah penduduk Kota Bandung mencapai hampir 2. 2. maka diperkirakan pada tahun 2013. Jumlah ini tetap mengisyaratkan s II . Dengan peran sebagai orientasi. yaitu di Kelurahan Pajajaran. Bila biaya hidup dan beraktivitas di Kota Bandung semakin kompetitif dan mahal. maka disekitar Kota Bandung berkembang daerah-daerah hinterland seperti Kabupaten Bandung dan Bandung Barat.1 PENDUDUK Penduduk Kota Bandung pada tahun 2007 adalah sebanyak 2. Penyakit Zoonosis (Flu Burung) Selain wabah penyakit demam berdarah dan chikungunya. kasus virus flu burung menyerang unggas di 2 Kelurahan. Tipe virus yang ditemukan di Indonesia adalah H5N1 yang bersifat ganas.

Kecamatan dengan jumlah penduduk tersedikit adalah Kecamatan Cinambo. Dalam kondisi ini tetap saja beban bayangan jumlah penduduk yang besar. Dari kecamatan yang ada. Perkembangan dan kecenderungan pertumbuhan penduduk Kota Bandung Tahun 2009-2013 dapat dilihat pada grafik berikut ini : 2.730 ha. Sukajadi dan Cicendo. yaitu Bandung Kulon. Coblong. Kiaracondong.4 2. Batununggal. Andir.733 jiwa atau mencapai 5. Distribusi persentase jumlah penduduk Kota Bandung menurut kecamatan dapat dilihat pada tabel berikut ini : II . namun penduduk yang beraktivitas di dalamnya melakukan komuter dan tinggal di daerah sekitar Kota Bandung. Bojongloa Kaler. yaitu mencapai jumlah 120. Distribusi jumlah penduduk terbesar adalah Kecamatan Bandung Kulon. dengan jumlah penduduk sekitar hampir 20.000 jiwa atau sekitar 0.23 . Babakan Ciparay. Cibeunying Kidul.5% dari seluruh jumlah penduduk Kota Bandung.6 2. sekitar 50% penduduk tinggal di 10 Kecamatan saja.2 2 2002 3 4 5 2006 7 8 2009 10 11 12 2013 Grafik 2. menjadi isu penting Kota Bandung di masa datang.41 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Kota Bandung sebagai Kota Penting.2 Perkembangan Jumlah Penduduk Kota Bandung Tahun 2007 Dengan luas wilayah sekitar 16.9% jumlah penduduk Kota Bandung. yang rata-rata proporsi jumlah penduduknya mencapai 4%. maka kepadatan penduduk Kota Bandung pada tahun 2007 adalah 140 jiwa/ha. Seluruh jumlah penduduk tersebar di kecamatan yang ada.

328 115.353 63.24 .711 100.753 106.964 107.529 60.733 34.518 39.455 34.159 95.365 KECAMATAN Cicendo Cidadap Cinambo Coblong Gedebage Kiaracondong Lengkong Mandalajati Panyileukan Rancasari Regol Sukajadi Sukasari Sumur Bandung Ujungberung JUMLAH 93.241 108.137 19.867 70.722 65.990 73.305 70.42 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Tabel 2.946 27.725 45.633 86.12 Distribusi Penduduk per Kecamatan di Kota Bandung Tahun 2007 (jiwa) KECAMATAN Andir Antapani Arcamanik Astanaanyar Babakan Ciparay Bandung Kidul Bandung Kulon Bandung Wetan Batununggal Bojongloa Kaler Bojongloa Kidul Buahbatu Cibeunying Kaler Cibeunying Kidul Cibiru Sumber : RKPD Tahun 2009 JUMLAH 93.492 87.890 117.465 52.694 82.969 59.956 120.742 II .927 57.193 38.708 67.

43
RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013

Bandung kulon Batununggal Kiaracondong Babakan Ciparay Coblong Bojonngloa Kaler Cibeunying Kidul Andir Sukajadi Cicendo Buahbatu Regol Rancasari Astanaanyar Lengkong Bojongloa Kidul Antapani Cinbeunying kaler Ujungberung Arcamanik Mandalajati Cibiru Cidadap Bandung Kidul Sumur Bandung Penyileukan Bandung Wetan Sukasari Gedebage Cinambo 0 1.2 0.9 2 4 1.8 1.8 1.6 1.6 2.1 3 2.9 2.8 2.7 2.6 2.4 3.3 3.2 3.2 3.1 4 3.9 3.8 4.3 4.3 4.2 4.9 4.9 4.9 4.6

5.5 5.3 5.2

6

Grafik 2.3 Distribusi Penduduk per Kecamatan di Kota Bandung Tahun 2007 (%)

II - 25

44
RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013

Selanjutnya penduduk Kota Bandung dapat dianalisis menurut struktur umurnya. Struktur umur ini adalah informasi yang sangat penting karena berkaitan dengan perkembangan persentase kelompok sasaran pembangunan. Misalnya proporsi penduduk pada tingkat pendidikan dasar, menengah, tinggi, remaja, usia kerja (produktif), usia lanjut. Besaran komposisi penduduk ini akan menentukan kebutuhan layanan pada setiap kelompok. Bila dilihat dari struktur usia penduduk Kota Bandung, yang tergolong menonjol adalah usia masa awal usia kerja (25-34 tahun) dan pada usia pendidikan tinggi (20-24 tahun). Pada kedua kelompok ini terlihat pola lonjakan bila dibandingkan dengan usia pendidikan dasar-menangah. Artinya secara normal sebenarnya strukturnya akan semakin menyempit mulai dari usia balita sampai dengan usia lanjut. Lonjakan pada usia tersebut di atas, mengindikasikan bahwa di Kota Bandung terjadi migrasi masuk yang sangat besar, yaitu mahasiswa-mahasiswa yang melanjutkan studinya di Kota Bandung sekaligus tempat mencari kerja pada penduduk usia-usia awal kerja. Struktur seperti ini patut mendapat perhatian, karena kemungkinan akan selalu berulang Antisipasi atas peristiwa seperti ini harus selalu dilakukan dalam mengupayakan pembangunan dan pelayanan publik di Kota Bandung.

70_74 60_64 50_54 40_44 30_34 20_24 10_14 0_4 0 2 4 6 8 10 12

Grafik 2.4. Struktur Umur Penduduk di Kota Bandung Tahun 2007 (%)

II - 26

45
RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013

Penduduk Kota Bandung termasuk didominasi oleh penduduk usia muda, khususnya usia awal memasuki kerja. Masalah penyerapan tenaga kerja menjadi sangat penting dalam jangka pendek dan menengah.

2.2.2

INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA Tujuan pokok pembangunan adalah meningkatkan kesejahteraan manusia (human Welfare). Kesejahteraan pada dasarnya memiliki dimensi yang luas dan beragam. Salam satu indikator kesejahteraan manusia adalah Indeks Pembangunan Manusia (IPM), yang meliputi indikator pendidikan, kesehatan dan daya beli. Sebagai indikator utama pada dasarnya IPM adalah berfungsi sebagai indikator impact, yaitu terbentuk karena banyak aspek pembangunan yang dilakukan. Tabel 2.13. Perkembangan IPM dan Komponennya di Kota Bandung Tahun 2004-2008 TAHUN 2004 2005 2006 2007 2008* IPM 77.17 77.46 77.54 78.09 78.33 INDEKS PENDIDIKAN 88.94 89.18 89.26 89.60 89.70 INDEKS KESEHATAN 79.23 79.27 79.38 80.65 80.97 INDEKS DAYA BELI 63.34 63.93 63.93 64.04 64.27

Sumber BPS (2008) *: Angka Sementara

Pada tahun 2004 IPM Kota Bandung mencapai 77,17 dan sampai dengan tahun 2008 relatif tumbuh sangat lambat. Mengikuti pola tersebut, dapat diproyeksikan IPM sampai dengan tahun 2013. Struktur IPM Kota Bandung bervariasi menurut aspeknya. Indeks Pendidikan adalah indeks tertinggi, sedangkan Indeks Daya Beli adalah indeks terendah. Berdasarkan data yang ada, Indeks Kesehatan adalah indeks yang diperkirakan dapat mengalami pertumbuhan paling cepat. Bila pada tahun 2008 adalah sekitar 80,97 maka ada kemungkinan dapat mengalami peningkatan hingga 91, atau sedikit lebih rendah daripada Indeks Pendidikan pada Tahun 2013. Indeks Pendidikan dan Indeks Daya Beli walaupun mengalami peningkatan, namun peningkatan relatif lambat. Selanjutnya dapat dianalisis tingkat IPM menurut kecamatan. Ada sekitar empat daerah yang s

II - 27

46 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 tergolong rendah.5. Kiaracondong Cidadap Sukajadi Babakan Ciparay Cibeunying Kidul Rancasari Bojongloa Kidul Astanaanyar Sukasari Sumur Bandung Cibeunying Kaler Batununggal Coblong Regol Andir Lengkong Bandung Kulon Buahbatu Antapani Gedebage Bandung Wetan Cinambo Cibiru Ujungberung Bandung Kidul Arcamanik Bojongloa Kaler Panyileukan Mandalajati Cicendo 74 76 78 80 82 Grafik 2. yaitu Kecamatan Cicendo. Perbandingan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Menurut Kecamatan di Kota Bandung Tahun 2007 (%) II . Kecamatan Mandalajati.28 . Kecamatan Panyileukan dan Kecamatan Bojongloa Kaler.

AKABA menggambarkan masalah kesehatan anak serta faktorfaktor yang mempengaruhi kesehatan anak balita seperti gizi. dimana angka ini dapat digunakan sebagai petunjuk umum status dan kondisi kesehatan di masyarakat yang secara tidak langsung menggambarkan kondisi lingkungan ekonomi. penyakit infeksi dan kecelakaan. sedangkan target standar pelayanan minimal kesehatan adalah 95%. AKK juga dapat menjadi dasar dalam menghitung laju pertambahan penduduk walaupun penilaian yang diberikan secara kasar dan tidak langsung. AKI. sanitasi.586 kasus. Angka ini belum dapat dikatakan sebagai jumlah seluruh kematian ibu yang terjadi di Kota Bandung.39 tahun dimana capaian ini dipengaruhi oleh menurunnya Angka Kematian Bayi (AKB) atau menurunnya jumlah kematian bayi dibawah usia satu tahun pada setiap 1000 kelahiran hidup. Hal lain yang dapat memperkecil resiko kematian ibu adalah dengan pelayanan berkala meliputi pelayanan K1 dan K4. Aspek Kesehatan Aspek Kesehatan yang mempengaruhi IPM adalah Angka Harapan Hidup (AHH). II . dan dari sisi masyarakat masih banyak ibu hamil yang “pulang kampung” menjelang proses persalinan.71% sedangkan cakupan K4 mencapai 81. dimana angka tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor. AKABA dan AKK. karena kemungkinan masih banyak kasus kematian ibu yang tidak tercatat atau tidak terlaporkan. Angka Kematian Balita (AKABA) atau jumlah kematian anak umur 1-4 tahun per 1000 kelahiran hidup pada tahun 2008 adalah sebanyak 69 anak. Angka Kematian Ibu (AKI) pada tahun 2008 yang terlaporkan sebanyak 20 kasus.80%. menjadi 181 anak kasus pada tahun 2008. definisi operasional yang belum sama antara Rumah Sakit dan program kesehatan. Peran swasta yang cukup dominan belum mendukung pelaksanaan program. Sebagai penyebab langsung kematian ibu yang utama adalah pendarahan (45%) dan lainnya adalah penyebab tidak langsung antara lain keterlambatan merujuk. fisik.47 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 1. Angka harapan hidup Kota Bandung pada tahun 2008 adalah 73. Angka Kematian Kasar (AKK) yang terdata dari Rumah Sakit selama tahun 2008 sebanyak 3. antara lain AKB.29 . petugas pencatatan dan pelaporan yang tidak mengetahui secara rinci diagnosis yang ditegakkan petugas medis. Dengan demikian masih terdapat kesenjangan sebesar 13.02% kesenjangan ini dapat diakibatkan oleh kemampuan dan pemahaman petugas pengelola KIA tentang manajemen kelangsungan program KIA yang belum optimal. Kematian ibu maternal dapat dicegah bila cepat dan tepat dalam pengambilan keputusan penanganannya. Kematian neonatal pada tahun 2007 berjumlah 186 kasus termasuk 61 kematian yang terjadi dalam kandungan. Kematian neonatal pada usia awal kehidupan merupakan salah satu indikator belum optmalnya manajemen kelangsungan program pelayanan kesehatan ibu dan anak. Cakupan K1 Kota Bandung mencapai 84. biologis.

56%).46%).46%). 2. akuntabilitas dan pencitraan publik. yang memiliki SPAL 57. Pelayanan kesehatan yang telah dilaksanakan di Kota Bandung.42%.913 orang perempuan. Posyandu Purnama (29.66%). hal ini sangat jauh dari target capaian semula yaitu 12 tahun.05%).50% meningkat 0. II . kelompok peningkatan mutu.06% dari tahun 2007.19%).17%).30 . persentase bayi yang mendapat ASI eklusif (20. dimana capaian sangat dipengaruhi oleh berbagai indikator yang dikelompokkan kedalam kelompok pemerataan dan perluasan akses. Posyandu Madya (58. Capaian Rata-rata Lama Sekolah pada tahun 2008 baru mencapai 10. Posyandu Pratama (9.52 tahun. dan Posyandu Mandiri (3.02%).09%) prosentase sarana kesehatan dengan kemampuan laboratorium kesehatan (28. yang memiliki jamban 60. prosentase RS yang menyelenggarakan 4 layanan kesehatan spesialis dasar (53. persentase pekerja yang mendapat pelayanan kesehatan kerja. persentase ibu hamil yang mendapat tablet Fe (87.61%.039 KK (43.66% sedangkan prosentase tempat-tempat umum sehat dilihat dari sarana air bersih tempat pembuangan sampah.67%) persentase kelurahan terkena KLB yang ditangani kurang dari 24 jam (24 kelurahan). persentase murid SD/MI yang mendapat pemeriksaan gigi dan mulut (45%).8% dan yang memiliki pembuangan sampah 50. Aspek Pendidikan Aspek Pendidikan yang mempengaruhi IPM adalah angka Melek Huruf (AMH) dan Rata-rata Lama Sekolah (RLS). serta penguatan tata kelola.25%) dan tingkat perkembangan posyandu. dengan demikian keberadaan buta aksara masih tersisa sebanyak 849 orang laki-laki dan 1. relevansi dan daya saing. sehingga Pemerintah Kota Bandung perlu merevisi kembali target capaian rata-rata lama sekolah sampai dengan tahun 2013. Adapun perilaku sehat masyarakat dilihat dari cakupan rumah tangga yang ber-PHBS sebanyak 273.21%.33%) prosentase obat generik berlogo dalam persediaan (116 jenis). dan hal ini akan dituntaskan pada tahun 2009 melalui Program Keaksaraan Fungsional kerjasama Pemerintah Provinsi Jawa Barat dengan Pemerintah Kota Bandung. serta persentase keluarga miskin yang mendapat pelayanan kesehatan yang baru mencapai 34. sarana pembuangan air limbah.48 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Keadaan lingkungan yang mempengaruhi kesehatan masyarakat Kota Bandung yang dapat dilihat dari prosentase rumah sehat yang memiliki sarana air bersih 74. Akses dan mutu pelayanan kesehatan dapat dilihat dari prosentase penduduk yang memanfaatkan puskesmas (68. persentase kelurahan yang mencapai Universal Child Immunization (UCI) baru 46 kelurahan (30. Angka Melek Huruf di Kota Bandung pada tahun 2008 sebesar 99. dapat dilihat dari persentase persalinan oleh tenaga kesehatan (77.27%) dan rumah sakit (101. ventilasi’ luas ruangan dan system pencahayaan yang memadai.

minat. pada tahun 2008 baru mencapai 22.54%.11% dari tahun 2007.44% meningkat 7.91%. Dilihat dari angka partisipasi kasar maupun angka partisipasi murni telah melebihi target.16% Meningkat 12.13% meningkat 1. sehingga masyarakat kurang terdorong untuk menyekolahkan anaknya ke jenjang pendidikan menengah.31 . dimana capaian angka partisipasi murni tahun 2008 baru mencapai 75. Aspek Daya Beli Indeks daya beli masyarakat merupakan salah satu komponen IPM yang mengalami peningkatan (tabel 2.49 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Banyak faktor yang jadi penyebab dari ketidak tercapainya rata-rata lama sekolah 12 tahun sampai tahun 2008. Sedangkan capaian Angka Partisipasi Murni (APM) tahun 2008 pada jenjang Sekolah Dasar dan sederajat adalah 123.60% dari tahun 2007.65% meningkat 1. sedangkan APK pendidikan menengah (SMA/SMK/MA) baru mencapai 98. APK jenjang Sekolah Menengah Pertama dan yang sederajat telah mencapai 116. Akan tetapi jika dilihat dari keberhasilan penyelenggaraan wajib belajar Sembilan tahun. hal ini antara lain disebabkan oleh mahalnya biaya pendidikan tinggi. Kota Bandung telah beberapa kali mendapat penghargaan. banyak usia pendidikan dasar dari daerah sekitar. sehingga lulusan pendidikan menengah lebih memilih bekerja atau pendidikan non formal/kursus/diploma yang dapat membuat mereka cepat bekerja. karena sesuai dengan fungsinya sebagai kota pendidikan. sementara anggapan lainnya adalah pendidikan masih dianggap mahal. sehingga sekolah menjadi tidak serius dan akhirnya drop out.13). sedangkan APK pendidikan menengah (SMA/SMK/MA) baru mencapai 75. Indeks daya beli yang diperoleh dari II .80% dari tahun 2007. dan kemampuan.91% meningkat 4.51% meningkat 6.58% dari tahun 2007. APM jenjang Sekolah Menengah Pertama dan yang sederajat telah mencapai 99. Jika dilihat dari penduduk usia 16 sampai 18 tahun. yang dianggap belum menjanjikan karena tidak relevannya kompetensi atau kecakapan lulusan dengan kebutuhan dunia kerja. sehingga keluaran pendidikan tinggi pun masih banyak yang menjadi pengangguran.13% dari tahun 2007. Pendidikan tinggi dianggap belum menjanjikan karena tidak relevannya kompetensi/kecakapan lulusan dengan kebutuhan kerja. Hal lain yang menjadi penyebab rendahnya APK/APM Perguruan Tinggi adalah adanya sebagian masyarakat yang lebih berorientasi pada Perguruan Tinggi Favourit dan memilih tidak melanjutkan dari pada tidak lulus seleksi. bersekolah di Kota Bandung. sehingga masyarakat menjadi apatis untuk berpartisipasi dalam pendidikan.3% dari tahun 2007 3. Capaian Angka Partisipasi Kasar (APK) tahun 2008 pada jenjang Sekolah Dasar dan sederajat adalah 131. Lebih jauh jika dilihat dari penduduk usia 19 sampai 24 tahun yang seharusnya telah mengikuti jenjang pendidikan tinggi. antara lain disebabkan oleh persepsi masyarakat tentang pendidikan. sebagian masyarakat masih memilah-milah studi lanjutan anak tanpa memperhatikan bakat.

577. 4. tuna susila (116 jiwa). walaupun relatif rendah juga memberikan kontribusi yang positif terhadap peningkatan nilai IPM masyarakat Kota Bandung pada tahun 2007.000. Indeks daya beli tahun 2007 mengalami peningkatan sebesar 0.04 pada tahun 2007. Indeks daya beli yang mengalami peningkatan. anak terlantar (6. 939.868 jiwa).32 . Peningkatan daya beli tersebut masih dibawah standar upah minimum rata tahun 2008 sebesar Rp.meningkat dari tahun 2005 : 63. Daya beli merupakan yang paling kompleks dalam perhitungan dan penentuannya. adalah Indeks yang relatif rendah.-.041 keluarga).127. Berbagai masalah sosial berkembangan di masyarakat pada tahun 2008 adalah balita terlantar (360 jiwa). anak jalanan (4.50 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 perhitungan konsumsi per kapita penduduk Kota Bandung pada tahun 2007 mencapai Rp. 576. Indeks daya beli masyarakat merupakan salah satu komponen IPM. anak korban tindak kekerasan (19 jiwa).821 jiwa).– sedangkan tahun 2006 sebesar Rp.93 point atau setara dengan Rp.99 pada tahun 2006 menjadi 64.386 jiwa). termasuk kategori tinggi di Jawa Barat.001 persen yaitu dari 63. 08 Tahun 2008 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Bandung 2002-2025. Beberapa hal yang cukup menonjol antara lain adalah : II . wanita rawan sosial ekonomi (5.sehubungan dengan hal tersebut. Indeks daya beli yang diperoleh dari perhitungan konsumsi perkapita penduduk Kota Bandung pada tahun 2008 (BPS angka sangat sementara) mencapai 64. korban HIV-Aids (1. keluarga di rumah tidak layak huni (27.07 pada tahun 2013 dengan indeks daya beli 68. Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) Kualitas hidup dan kesejahteraan umum Kota Bandung yang ditandai dengan relatif tingginya Indeks Pembangunan Manusia (dalam hal ini pendidikan dan kesehatan). gelandangan (948 jiwa). Indeks daya beli atau ekonomi..88 sesuai dengan target capaian kinerja tahap-2 yang telah ditetapkan dalam Perda No. Rata-rata tingkat kesejahteraan penduduk Kota Bandung yang dihitung berdasarkan IPM. anak cacat (484 jiwa). 578. tidak serta merta melepaskan Kota Bandung dari berbagai masalah sosial di tingkat mikro.268 Jiwa) dan lain sebagainya.13.62.643 jiwa). masyarakat di daerah rawan bencana (4. 576.126 jiwa)..27% point atau setara dengan konsumsi per kapita penduduk sebesar Rp. pengemis (4. maka programprogram pembangunan yang akan dilaksanakan Pemerintah Kota Bandung pada tahun 2010 diarahkan pada peningkatan daya beli secara bersinergi antar sektor dan lintas sektor dalam rangka pencapaian IPM sebesar 81. korban narkoba (363 jiwa).890.-.

pengemis.643 19 4.288 27.161 423 1.14. anak nakal.429 62 10.967 Sumber : Dinas Sosial 2008 Adapun perbandingan peningkatan jumlah PMKS yang ada dan jumlah PMKS yang ditangani masih belum berimbang. beberapa tantangan masalah sosial Kota Bandung relatif masih sangat besar.126 948 298 363 84.386 1.268 358 161.821 239 484 5.33 . Adapun data jumlah Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) di Kota Bandung sampai dengan tahun 2008 yaitu sebagai berikut : Tabel 2. tuna susila.868 40 2. keluarga fakir miskin. Penurunan jumlah anak jalanan. sehingga diperlukan anggaran yang memadai untuk melaksanakan program dan kegiatan s II .51 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 • • Peningkatan jumlah anak terlantar. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 Balita Terlantar Anak Terlantar Anak Korban Tindak Kekerasan Anak Jalanan Anak Nakal Anak Cacat Wanita Rawan Sosial Ekonomi ( WRSE ) Wanita Korban Tindak Kekerasan Lanjut Usia Terlantar Lanjut Usia Korban Tindak Kekerasan Penyandang Cacat Penyandang Cacat Eks Penyakit Kronis Tuna Susila Pengemis Gelandangan Eks Narapidana Korban Penyalahgunaan Napza Keluarga Fakir Miskin Keluarga Berumah Tidak Layak Huni Keluarga Bermasalah Sosial Psikologis Komunitas Adat Terpencil Masyarakat Yang Tinggal Didaerah Rawan Bencana Korban Bencana Alam Korban Bencana Sosial Pekerjaan Migran Korban HIV/AIDS Keluarga Rentan Jumlah Jenis PMKS Satuan Orang Orang Orang Orang Orang Orang Orang Orang Orang Orang Orang Orang Orang Orang Orang Orang Orang KK KK KK Orang Orang Jiwa Jiwa Orang Orang Orang 4. gelandangan dan masyarakat yang tinggal di daerah bencana. Dengan beberapa kecenderungan tersebut.041 2.200 1.277 1. Data Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) Tahun 2008 No.527 Jumlah 360 6.344 116 4. keluarga dengan rumah tidak layak huni dan korban HIV-Aids.

selain kegiatan ronda sebagai wujud penjagaan keamanan komunitas.3 PEREKONOMIAN DAERAH Kota Bandung memiliki peran penting dalam perekonomian Jawa Barat. penipuan dan penggelapan. keluarga rawan ekonomi. permasalahan sosial sebagai dampak kemajuan juga terjadi di Kota Bandung. maka kontribusi aktivitas ekonominya menjadi sekitar 23% dari ekonomi Jawa Barat.83% dan diperkirakan pada tahun 2007 mencapai 8. Seperti halnya kota-kota besar lain di Indonesia. dengan kasus terbanyak pada curanmor roda dua. yang sekaligus menimbulkan kesan eksklusivisme. atau di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi Jawa Barat dan bahkan nasional. pengemis. 5. Tingkat Pertumbuhan yang tinggi tersebut menunjukan bahwa Kota Bandung adalah menjadi salah satu sumber pertumbuhan ekonomi yang penting di Jawa Barat maupun di Indonesia. Dalam lingkup Kota Bandung Raya. anak terlantar. pencurian dengan pemberatan (surat). Pada tahun 2006 tingkat pertumbuhan ekonomi mencapai 7. kemiskinan. Pada Tahun 2004-2007 konstribusi ekonomi Kota Bandung di Jawa Barat mencapai rata-rata 10%. Respon warga terhadap gelaja ini antara lain nampak dari penjagaan keamanan diri secara sepontan dalam bentuk penutupan akses kawasan-kawasan pemukiman (terutama dari golongan mampu. menjadi 4. walaupun sudah ada penurunan dilihat dari angka kriminalitas tahun 2006 mencapai 4. Hal tersebut dapat memicu timbulnya berbagai jenis kriminalitas. Laju pertumbuhan ekonomi Kota Bandung juga tergolong tinggi. Kota Bandung juga mempunyai angka kriminalitas relatif masih tinggi. swasta dan masyarakat. gelandangan dan kriminalitas adalah berbagai masalah sosial yang mengemuka di Kota Bandung 2. dan lain-lain.52 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 pembangunan bidang kesejahteraan secara optimal sehingga dalam penanganannya diperlukan koordinasi yang baik antar unsur-unsur terkait baik pemerintah.24%.148 kasus pada tahun 2007. Keluarga miskin. Keamanan dan Ketertiban Pertumbuhan penduduk Kota Bandung yang tidak dapat diimbangi dengan penyediaan lapangan kerja bagi semua golongan penduduk dapat menimbulkan berbagai permasalahan sosial dan ekonomi seperti pengangguran. Sebagai salah satu kota besar dengan berbagai peran di tingkat nasional yang tergolong penting.211 kasus. Secara terinci konstribusi kegiatan ekonomi Kota Bandung dan sekitarnya Ekonomi Jawa Barat dapat dilihat dalam tabel berikut : II .34 .

569 24. Subang Kab. Artinya Kota Bandung menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi dan memiliki banyak kaitan aktivitas ekonomi dengan daerah sekitar dan wilayah lain.337 16. Kota Bandung juga menjadi salah satu tujuan migrasi tenaga kerja yang cukup besar.53 34.2008 Indikator LPE PDRB (ADHB) PDRB/Kapita (ADHB) Inflasi Investasi Indeks Daya Beli (IDB) SHL/Kapita Kemiskinan Jumlah Pengangguran Tingkat Pengangguran Terbuka (Rp) RTM Jiwa % Satuan % [Jura Rp] [Rp/Thn] % [juta Rp/Thn] 2005 7.79 2.35 .50 10.792.29 61.813 63. adalah sebagai berikut : Tabel 2. sehingga tingkat pertumbuhan ekonominya tergolong sangat tinggi.152.27 Sumber : BPS Tahun 2008 (Dionlah) II .604 10.074 15.271 64.89 Uraian di atas mengindikasikan bahwa Kota Bandung merupakan kota penting bagi aktivitas ekonomi di Jawa Barat maupun nasional.000.789.419 175.25 2006 7.130 83.56 3.792. telah menyatu dengan kehidupan ekonomi.99 576. Kontribusi Kegiatan Ekonomi Kota Bandung dan sekitarnya terhadap Ekonomi Jawa Barat Tahun 2007 Kabupaten/Kota Kab.73 82.616.47 2.33 4.644 16.441 5.93 576.405.15. Peran lain Kota Bandung sebagai salah satu Kota Pendidikan terpenting di Indonesia.182 22.552 19.352.53 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Tabel 2.16. Sebagai pusat pertumbuhan dengan tumpuan pada aktivitas perdagangan dan industri pengolahan.181.794.620 70.184 19.031 63.287 175. Selain LPE.067 15.04 577.23 (triwulan 4) 4.21 5.432 173.500 174. Bandung Kab. Bandung Barat Kota Bandung Kota Cimahi Sumber : BPS % 6. beberapa indikator makro yang dapat digunakan untuk menilai keberhasilan pembangunan ekonomi suatu daerah.184 15.658. Perkembangan Indikator Makro Pembangunan Kota Bandung Tahun 2005 .890 84.531 5.24 50.552.48 2008 8. Laju pertumbuhan Ekonomi Kota Bandung dari tahun 2005 hingga tahun 2007 mengalami peningkatan.616 64.09 2007 8.03 1.83 43.

606 RTM.337 jiwa menjadi 175.500 RTM pada tahun 2007. Berfluktuasinya jumlah pengangguran tersebut disebabkan oleh berbagai faktor khususnya untuk akhir tahun 2008. yang meningkat dari 70.54 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Dari tabel terlihat bahwa PDRB Kota Bandung dari tahun 2005 ke 2008 menunjukan kenaikan yang berarti. namun demikian pada saat yang bersaam terjadi krisis keuangan global di Amerika Serikat dan Uni Eropa.419 RTM pada tahun 2005 menjadi 84.3 7 10 11 20 01 PDRB (kiri) LPE (kanan) Grafik 2. Dari sisi investasi terjadi kenaikan.664 jiwa pada tahun 2006.287 RTM pada tahun 2006. terjadi Penurunan harga BBM yang mengalami perubahan sebanyak 2 kali. Tingkat inflasi di Kota Bandung relatif lebih tinggi dibandingkan dengan Kabupaten/Kota lain di Jawa Barat. Sejalan dengan jumlah tangga miskin. serta menurun lagi menjadi 82. menurun menjadi 83.074 jiwa. namun demikian investasi tersebut belum diikuti dengan penyerapan tenaga kerja yang signifikan. hal ini dapat menunjukkan meningkatnya kegiatan ekonomi.2 7.6. Perkembangan PDRB dan Pertumbuhan Ekonomi Kota Bandung Tahun 2001-2007 serta Proyeksinya Tahun 2013 6 20 07 8 20 09 20 13 12 2 3 4 5 II . yang akan berdampak terhadap kinerja perekonomian Kota Bandung khususnya dan perekonomian Indonesia pada umumnya. Kecenderungan aktivitas ekonomi Kota Bandung pada beberapa tahun ke depan cenderung positif mengalami pertumbuhan ekonomi yang cukup signifikan.6 (persen) 20 10 0 7. tetapi pada tahun 2007 menurun menjadi 174. 40 30 (trilyun Rp) 8. dari tabel terlihat terjadi peningkatan jumlah pengangguran dari 175.067 jiwa dan diperkirakan menurun lagi menjadi 173.9 7.6.36 . Perkembangan PDRD dan Pertumbuhan Ekonomi Kota Bandung Tahun 2001-2007 serta proyeksinya Tahun 2013 Grafik 2.5 8.

. maka perekonomian Kota Bandung menghadapi tantangan berat. Selain kondisi ekonomi domestik Kota Bandung.20% 10.3. Secara terinci kontribusi sektor terhadap PDRB dapat dilihat dalam grafik berikut : Grafik 2. di antaranya adalah dampak aktivitas ekonomi terhadap lingkungan sekitar.37 . Gas. dan Air Bersih Bangunan Keuangan. Sektor pengangkutan dan komunikasi memberikan kontribusi sekitar 10. sandang.80% 29. inflasi tinggi juga mengancam.8% demikian juga dengan sektor jasa-jasa.80% Pertanian Listrik.000. hotel dan restoran yang memberikan konstribusi sekitar 36. Persewaan. 0. disusul oleh sektor industri pengolahan sekitar 29.90% 5. Selain itu ketimpangan pendapatan secara riil tampak nyata. Beberapa jenis kegiatan ekonomi mengancam kualitas lingkungan dan kualitas kehidupan melalui berbagai jenis pencemaran.55 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Dalam situasi pertumbuhan ekonomi tinggi dan memiliki prospek yang relatif bagus. dan Jasa Perusahaan Jasa-Jasa Pengangkutan dan Komunikasi Industri dan Pengolahan II . 22. biaya pendidikan. Akrivitas ekonomi Kota Bandung.30% 2.4% dari seluruh kegiatan ekonomi di Kota Bandung. misalnya krisis likuiditas di Amerika Serikat dan Eropa. Biaya-biaya hidup yang meliputi biaya kehidupan pangan. Kedekatan kegiatan ekonomi Kota Bandung dengan Jakarta dapat memperpendek efek gejolak ekonomi internasional. 51. 2.640.30% 36. Kebutuhan ruang bagi aktivitas ekonomi juga mendesak penggunaan lahan yang lain. Pada jangka panjang. juga sekaligus menjadi ancaman bagi masyarakat berpendapatan rendah dan menengah.30% 4.7.8%. kenaikan biaya-biaya ini dapat mengancam keunggulan kompetitif produk-produk dari Kota Bandung.Tingkat pendapatan perkapita ini tergolong tinggi bila dibandingkan dengan daerah sekitarnya. Dalam situasi pertumbuhan ekonomi yang tinggi pula. papan. sebagian besar bersumber dari sektor perdagangan. gejolak ekonomi internasional juga dapat menjadi ancaman berarti. Peningkatan biaya hidup ini selain dapat menstimulasikan kegiatan ekonomi yang memiliki nilai tambah tinggi.1 STRUKTUR EKONOMI KOTA BANDUNG Nilai PDRB Kota Bandung pada tahun 2007 adalah sebesar Rp.3 Trilyun dengan tingkat PDRB per kapita sebesar Rp. perkiraan jumlah keluarga pra-sejahtera ada kencederungan meningkat.40% 10. kesehatan dan transportasi meningkat.

3 INFLASI DI KOTA BANDUNG Inflasi merupakan salah satu indikator penting yang dapat memberikan informasi tentang dinamika perkembangan harga barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat.23%. 2. dengan sumbangan terbesar dari kelombok bahan dan bahan makanan. Tingkat laju inflasi di Kota Bandung pada tahun 2005 mencapai 19. Inflasi yang terjadi juga termasuk tinggi.7% atau membentuk lebih dari 50% inflasi Kota Bandung. inflasi meningkat lagi mencapai 2 (dua) digit yaitu 10. terus meningkat.56 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Berdasarkan perkembangan data PDRB Kota Bandung.2 PENDAPATAN PERKAPITA Pendapatan perkapita atasdasar harga berlaku. hal ini dipengaruhi oleh krisis keuangan global yang terjadi di Amerika Serikat yang berdampak terhadap perekonomian Indonesia secara umum dan Kota Bandung khususnya. Sumbangan Inflasi tersebut tetap didominasi oleh kelompok bahan makanan serta kelompok makanan jadi. terlihat bahwa kontribusi sektor industri pengolahan terus meningkat tetapi pertumbuhan cenderung menurun. II .8 % per tahun.604 pada tahun 2008 (BPS : angka sangat sangat sementara) atau rata-rata peningkatan per tahun mencapai 8.16 mengalami peningkatan dari Rp. Struktur ekonomi Kota Bandung didominasi oleh setor jasa dan industri pengolahan. rokok dan tumbuhan. sedangkan untuk tahun 2008 sampai dengan triwulan 4. Tahun 2004-2007. sedangkan perdagangan. Perkembangan harga barang dan jasa tersebut menjadi salah satu faktor yang dapat mempengaruhi tingkat daya beli.38 . Sumbangan Inflasi dari kelompok tersebut mencapai 5.3.21%. makanan jadi dan rokok. Laju pertumbuhannya juga relatif tinggi bila dibandingkan Jawa Barat dan Nasional. dari tabel 2.33% dan 5. hal ini sesuai dengan fungsi Kota Bandung sebagai kota kolektif dan distributif.56%.789. kesehatan serta transport dan komunikasi. Inflasi yang tinggi dapat menurunkan tingkat daya saing Kota Bandung 2.3. minuman.552 pada tahun 2005 menjadi Rp. 15. Inflasi untuk tahun 2006 dan 2007 terjadi penurunan yaitu mencapai 5.794. hotel dan restoran. bersumber dari bahan makanan. 24. biaya kesehatan dan transportasi. Peningkatan tersebut cukup menjadi dasar untuk memprediksikan bahwa lima tahun kedepan cenderung akan terus meningkat. hal ini disebabkan oleh kenaikan BBM sampai 112% pada tahun 2005.

9 lembaga teknis daerah. IV.341 pegawai negeri sipil dan 1. II. Oleh karena itu. Berbagai kegiatan peningkatan kinerja aparatur dilakukan melalui peningkatan kesejahteraan. Dengan demikian. tentang Organisasi Perangkat Daerah maka struktur organisasi Pemerintah Kota Bandung saat ini terdiri dari sejumlah SKPD. Penataan kelembagaan pada dasarnya diarahkan dalam upaya peningkatan kualitas pelayanan publik untuk menghilangkan citra birokrasi sebagai penghambat pembangunan. 895 orang. 2. sehingga investor menunda investasinya. Pertumbuhan investasi tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor yaitu iklim investasi yang kondusif. 3.A.39 . 24.4 Trilyun pada tahun 2007.4 KINERJA PEMERINTAHAN Pemerintah Kota Bandung telah mendorong upaya reformasi birokrasi yang akan dilakukan menurut tahapan-tahapan tertentu. 30 kecamatan serta sekretariat daerah. serta dapat mengurangi jabatan struktural yang ada guna meningkatkan efisiensi kerja dan penyelenggaraan pemerintahan. sampai dengan triwulan 2. Secara umum. tetapi pada tahun 2008 mengalami penurunan menjadi 4 Trilyun. Esselon.6 Trilyun pada tahun 2005 menjadi Rp. Esselon. III. pengawasan.57 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 2. adanya re-organisasi berimplikasi terhadap pengurangan jabatan.4 INVESTASI Investasi baik asing. hal ini dipengaruhi oleh Pemilihan Walikota di Kota Bandung pada bulan Agustus. Organisasi yang ada saat ini didukung oleh Esselon.A 76 orang. Dengan perangkat organisasi tersebut diharapkan struktur organisasi menjadi lebih ramping. yaitu 14 Dinas. Saat ini telah dilakukan reorganisasi pemerintah yang diaharapkan dapat meningkatkan kinerja aparatur Pemerintah Kota Bandung. 4 perusahaan daerah.A 1 orang. III. II . IV. memegang peranan penting dalam pelaksanaan pembangunan ekonomi di Kota Bandung.B 32 orang. Satuan Polisi Pamong Praja. Di antara masalah yang masih menjadi tantangan di masa depan adalah kapasitas aparatur tata kerja.B 131 orang. dirasakan kapasitas dan kapabilitas aparatur dalam mencapai pelayanan prima masih berada di bawah standar. 5.B 708 orang dengan jumlah pegawai.501 tenaga kontrak. domestik maupun pemerintah. Esselon. Esselon.Esselon. mengikuti pendidikan dan latihan dan sebagainya. II. 3 rumah sakit daerah. Namun dengan semakin kompleksnya permasalahan perkotaan. implementasi SOTK baru berdasarkan PP Nomor 41 Tahun 2007. Investasi di Kota Bandung mengalami peningkatan dari Rp. kemudahan dan kejelasan prosedur serta kondisi makro ekonomi daerah tersebut.3. bergerak taktis dan strategis.

sampai dengan penerbitan dokumen secara terpadu dan dilakukan di satu tempat melalui front office untuk meminimalisasi interaksi antara pemohon dan petugas perijinan dan menghindari kemungkinan pungutanpungutan tidak resmi. peningkatan kewenangan dimana Pelayanan Terpadu Satu Pintu diberikan kewenangan dari mulai penerimaan berkas. Penyederhaan jumlah perijinan dengan menyatukan atau menghapus perijinan yang dianggap tumpang tindih dan menyulitkan pelaku usaha. persyaratan dan waktu pelayanan. Hal lain yang akan dilaksanakan dalam rangka peningkatan pelayanan kepada masyarakat. Selain itu jumlah perijinan yang dikelola oleh satu pintu ditingkatkan dari 14 jenis perijinan menjadi 62 jenis perijinan baik ijin usaha maupun non usaha. Dan saat ini SKPD yang telah memiliki Standar Mutu Nasional (SMN) ISO 9000:2001 adalah sebanyak 12 SKPD. Tata kerja ini berfungsi sebagai petunjuk operasional SOTK yang sudah ada. 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah bentuk kelembagaan terpadu satu pintu ditingkatkan dari setingkat kantor menjadi setingkat badan dengan nomenklatur Badan Pelayanan Perijinan dan Penanaman Modal Daerah Kota Bandung dengan asumsi bahwa pelayanan perijinan yang diselenggarakan berkaitan erat dengan investasi di daerah. Peningkatan status kelembagaan satu pintu juga dilakukan dengan perubahan ketatalaksanaan. II . Seiring dengan penataan organisasi perangkat daerah Kota Bandung sebagai pelaksanaan Peraturan Pemerintah No. adalah upaya penguatan kelurahan. Regulasi perijinan usaha dengan memangkas jumlah perijinan dan menata perijinan yang tumpang tindih. pemprosesan ijin. Dengan adanya kemudahan perijinan diharapkan akan mendorong kondusifitas iklim investasi di Kota Bandung. b. Langkah-langkah dapam upaya reformasi pelayanan perijinan. b. Pelayanan satu pintu adalah penyelenggaraan pelayanan perijinan dan non perijinan yang proses pengelolaannya dimulai dari tahap permohonan.58 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Tata kerja di masa datang juga penting untuk diperjelas dan dituangkan dalam mekanisme kerja dan job description yang baik agar sistem dapat berjalan dengan baik.40 . Dalam pelaksanaannya reformasi pelayanan perijinan diformulasikan ke dalam pembentukan pelayanan terpadu satu pintu. penandatanganan ijin dan penyerahan ijin. Birokrasi perijinan usaha melalui penyederhaan prosedur perijinan. Hal-hal yang perlu dilakukan seiring dengan peningkatan kelembagaan pelayanan terpadu satu pintu meliputi : a. meliputi : a. Revisi Perda-perda terkait dengan prinsip-prinsip pelayanan satu pintu. Sedangkan untuk meningkatkan kualitas perijinan maka telah dibentuk Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perijinan Terpadu (BMPPT) dan Bandung Elektronik Procurment (BEP). seperti penyederhaan.

efisien. 2. profesionalitas dan meningkatkan daya tarik investasi. Dana Darurat. meningkatkan citra. (2) Pengeluaran Daerah yang di dalamnya terdapat Belanja Daerah dan Pengeluaran Pembiayaan Daerah. dan Belanja Tidak Terduga. Belanja Bunga. keuangan daerah harus dikelola secara tertib. Upaya peningkatan pelayanan dilakukan melalui penerapan model pelayanan bersifat proaktif dan standar mutu. efektif. (1) Belanja Tidak Langsung yang didalamnya terdiri dari Belanja Pegawai. transparan dan bertanggung jawab sesuai dengan kepatutan dan rasa keadilan. (2) Dana Perimbangan yang berasal dari bagi Hasil Pajak / bagi Hasil Bukan Pajak. menetapkan dan mengatur pembagian kewenangan (power sharing) dan pembagian keuangan (finacial sharing) antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dan Undang-Undang No 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Belanja Bantuan Keuangan Kepada Provinsi/ Kabupaten/Kota dan Pemerintah Desa Lainnya. RW dan RT terutama terkait dengan persyaratan ijin. Berkenaan dengan hal tersebut dan sesuai dengan struktur APBD Kota Bandung dan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 dan Permendagri No 59 Tahun 2007 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah. Dana Penyesuaian dan Otonomi Khusus. serta Peraturan Pemerintah No 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan keuangan Daerah. Sedangkan pada komponen Belanja terdiri dari . d.5 PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH Amanat Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. Dana Bagi Hasil Pajak dari Provinsi dan Pemerintah Daerah Lainnya. Model pelayanan yang bersifat proaktif adalah dengan membangun situs (web site) untuk pelayanan on line. Belanja Bantuan Sosial. Pengurangan biaya bagi kategori usaha tertentu. sedangkan pelayanan yang bersifat standar mutu adalah melalui penggunaan ISO 9001:2000 yang berguna untuk menyusun pedoman kerja yang berstandar. ekonomis. dan Bantuan Keuangan dari Provinsi atau Pemerintah Daerah lainnya.41 . Kelurahan. Penetapan kebijakan untuk mengurangi pungutan-pungutan di tingkat Kecamatan. Hasil Retribusi Daerah. serta (3) Lain-lain Pendapatan Daerah Yang Sah yang berasal dari Pendapatan Hibah. Belanja Subsidi. Belanja Hibah. Pada komponen Pendapatan terdiri dari : (1) Pendapatan Asli Daerah yang berasal dari hasil Pajak Daerah. a II . dan Lain-lain Pendapatan Asli Daerah Yang Sah. Dana Alokasi Umum. struktur APBD Kota Bandung terdiri dari : (1) Penerimaan Daerah yang didalamnya terdapat Pendapatan Daerah dan Penerimaan Pembiayaan Daerah.59 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 c. Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah Yang Dipisahkan. Sebagai perwujudan political will dari penerapan pola pelayanan terpadu satu pintu telah dianggarkan pula pembiayaan dalam operasional pelayanan satu pintu baik dalam APBD perubahan Tahun 2007 maupun APBD Tahun 2008. dan Dana Alokasi Khusus.

2008 Catatan : Mulai tahun 2008. 962 milyar.360 milyar. Pendapatan pada tahun 2003 adalah sebesar Rp. 213 milyar dan termasuk daerah yang memiliki PAD tinggi di Jawa Barat. Pada tahun 2008 diperkirakan PAD mencapai Rp. .140 1. Sumber penerimaan terbesar berasal dari Dana Perimbangan. dan Belanja Modal. pada dasarnya mengalami peningkatan berarti. Penerimaan Bagi Hasil dari Propinsi dimasukan ke dalam Lain-lain Pendapatan yang sah. Kemampuan keuangan pemerintah daerah dapat diukur dari penerimaan pendapatan daerah.686 2.17.017 milyar.5.097 1. Nilai Dana Perimbangan pada Tahun 2003 mencapai Rp. Tabel 2. 314 milyar.360 Sumber Data : LKPJ . Pada komponen pembiayaan terdiri dari : (1) Penerimaan Pembiayaan Daerah yang didalamnya terdiri dari Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Tahun Anggaran Lalu. yaitu rata-rata dari Tahun 2003-2008 sebesar 73. (2) Pengeluaran Pembiayaan Daerah yang didalamnya terdiri dari Pembentukan Dana Cadangan.60 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 (2) Belanja Langsung yang didalamnya terdiri dari Belanja Pegawai. dan Pembayaran Pokok Utang.1 PENGELOLAAN PENDAPATAN DAERAH Kapasitas keuangan daerah akan menentukan fungsi pelayanan kepada masyarakat. sedangkan penerimaan Dana Perimbangan sebagian besar bersumber dari DAU.4%. Penerimaan Kembali Pemberian Pinjaman. selanjutnya mengalami peningkatan hingga pada tahun 2008 menjadi Rp.123 1. 1. Secara umum struktur pendapatan Pemerintah Kota Bandung tidak mengalami perubahan yang besar. Lain-lain penerimaan yang sah. 2. Sumber penerimaan PAD terbesar berasal dari Pajak Daerah.42 . Pada dasarnya PAD belum menjadi sumber pendapatan yang signifikan.018 Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 2008 PAD 213 223 226 254 288 314 Perimbangan 706 861 862 1. 706 milyar dan pada tahun 2008 diperkirakan mencapai Rp. dan Penerimaan Piutang Daerah. (3) Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran Tahun Berjalan. yang sebelumnya masuk ke dalam Dana Perimbangan II . walaupun nilai PAD pada tahun 2003 mencapai Rp. Belanja Barang dan Jasa. Penyertaan Modal (investasi) Pemerintah Daerah.398 1. Pendapatan Pemerintah Kota Bandung Tahun 2003-2008 (dalam milyar rupiah) Lain-lain Pendapatan yang sah 43 35 36 4 301 343 Pendapatan (Total) 962 1.119 1. Peningkatan pada tahun 2008 disebabkan karena pergeseran pos penerimaan saja.

8 198.1 206.6 65.61 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Tabel 2.9 Sumber Data : LKPJ .0 Pendapatan 100 100 100 100 100 100 1 Sumber Data : LKPJ .1 18.4 386.18.7 458.19.9 20.9 12.5 DAK 1. Penerimaan PAD Pemerintah Kota Bandung Tahun 2003-2008 (dalam milyar rupiah) Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Pajak Daerah 115.2008 II .9 13.2 17.1 67.1 15.2 19.5 219.20.6 143.2 0.8 190.7 81.9 12.1 14.1 164.4 Lain-lain yang sah 4.3 965.0 6. Penerimaan Dana Perimbangan Pemerintah Kota Bandung Tahun 2003-2008 (dalam milyar rupiah) Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Sumber Data : LKPJ .2008 Tabel 2.8 5.2 Bagi Hasil dari Propinsi 126.2 256.43 .9 17.5 20.6 66.0 133.9 17.7 439.9 273.7 9.1 632.0 61.2008 Bagi Hasil Pajak/Bukan Pajak 162.6 Perimbangan 73.4 Pendapatan lain yang sah 40.9 76.4 828.5 214.2 3.8 73.3 207.5 0 14.4 Terdapat pada Lainlain Pendapatan yang sah Tabel 2.3 17.9 2. Struktur Pendapatan Pemerintah Kota Bandung Tahun 2003-2008 (dalam milyar rupiah) Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 2008 PAD 22.7 DAU 416.6 3.4 Retribusi Daerah 55.3 76.4 3.0 75.8 BUMD dan dari Aset Dipisahkan 2.5 204.4 76.2 3.5 8.

8 milyar dan pada tahun 2008 mencapai Rp. Namun demikian karena jumlah penduduk yang relatif besar maka belanja daerah per kapita juga relatif tidak terlalu tinggi 2.2 PENGELOLAAN BELANJA DAERAH Pengelolaan belanja aderah sangat erat kaitannya dengan sistem pengelolaan keuangan daerah. II . Belanja Bagi Hasil dan Bantuan Keuangan serta Belanja Tidak Disangka.9 milyar. dana perimbangan juga relatif kecil. Pada Tahun 2007-2008 sesuai Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 yang telah diubah dengan Permendagri Nomor 59 Tahun 2007 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah maka terjadi perubahan struktur APBD menjadi Belanja Tidak Langsung dan Belanja Langsung.62 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Seperti umumnya kabupaten dan Kota di Indonesia. Bila diperhatikan. Sesuai dengan reformasi di bidang keuangan. Dalam hal pengelolaan anggaran antara Tahun 2004-2008.5. 945. serta berbagai penerimaan yang masuk dalam kas daerah pada akhir periode sehingga belum dapat direncanakan sebelumnya. walaupun Kota Bandung tergolong sebagai Kota yang memiliki PAD tinggi. Anggaran tersebut mencerminkan efisiensi dan efektivitas pelayanan publik. Belanja yang relatif menjadi perhatian masyarakat dalam hal ini adalah Belanja Publik atau Belanja Langsung. Belanja daerah pada tahun 2003 mencapai Rp. tampak bahwa selisih antara pendapatan dan belanja cukup besar. Berdasarkan kondisi ini sering muncul pernyataan bahwa dalam otonomi daerah ini daerah belum mandiri secara financial Struktur pendapatan Pemerintah Kota Bandung termasuk bagus. karena kontribusi PAD relatif besar. sumber pendapatan daerah sebagian besar dari Dana Perimbangan. sistem penganggaran maupun akutansi. Antara Tahun 2004-2006 dikenal dengan nama alokasi Belanja Aparatur. Belanja Publik. sedangkan pos belanja lain relatif merupakan belanja internal pemerintahan. masyarakat semakin menuntut adanya pengelolaan keuangan kepada publik secara transparan dalam rangka mewujudkan akuntabilitas yang didasarkan kepada prinsip-prinsip anggaran berbasis kinerja yaitu belanja daerah yang berorientasi pada pencapaian hasil atau kinerja. Situasi ini terjadi di antaranya karena masalah perencanaan kegiatan yang relatif menggunakan informasi pendapatan dana perimbangan yang terbatas. 2. telah terjadi perbedaan pola pos-pos belanja yang cukup drastis.049.44 . Kategori belanja inilah yang relatif diwujudkan dalam program-program pembangunan di masyarakat. Sebagai kota dengan fikcal gol rendah.

0 1. dan mengalami peningkatan kembali menjadi Rp. 152.0 639.8 975.8 111.2008 Salah satu perhatian dalam belanja adalah nilai nominal belanja publik atau belanja langsung yang menuntut karakternya adalah belanja pembangunan dan dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.7 396. 100 milyar. terlebih lagi nilai riilnya. 159. Belanja Publik tahun 2003 mencapai Rp.1 1.5 414. Kejadian inflasi kerapkali berasal dari masalah eksternal Kota Bandung.1 13.1 175. Usaha alokasi belanja pembangunan yang lebih besar seperti yang direncanakan dapat merosot nilai riilnya pada saat inflasi terjadi.5 451.7 465.1 1. Hal-hal seperti ini sering di alami oleh Pemerintah Kota Bandung pada saat pelaksanaan pembangunan. 335.29%.552.8 335. 190. Belanja langsung (pembangunan) riil perkapita pada tahun 2006 sebesar Rp.2 984.45 .0 112. 908 milyar.115 pada tahun 2008 (tahun dasar 2003). Dengan mempertimbangkan inflasi selama kurun tersebut.6 0.341.7 milyar dan diperkirakan pada tahun 2008 mencapai Rp.pada tahun 2007.8 568. dan mengalami peningkatan kembali pada tahun 2008.4 0.. Inflasi yang tinggi telah menekan nilai riil alokasi belanja langsung perkapita di Kota Bandung antara Tahun 2003-2007.63 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Tabel 2.9 - Belanja Belanja Belanja Belanja Bagi Tak Tidak Langsung Hasil Disangka Langsung 114. Dalam komposisi demikian. II .6 30.1 1.266.049. maka tahun 2007 mengalami penurunan. Bila pada Tahun 2003-2006 belanja perkapita nominal mengalami peningkatan.8 2. sebenarnya pendapatan riil antara tahun 2003 dan 2007 hanya meningkat sebesar Rp.114.21.1 Sumber Data : LKPJ .1 558. Rata-rata rasio belanja pembangunan terhadap total belanja adalah 42. Struktur Belanja Pemerintah kota Bandung Tahun 2003-2008 (dalam milyar rupiah) Tahun Belanja 2003 2004 2005 2006 2007 2008 945.761 mengalami penurunan menjadi Rp. maka pada dasarnya pendapatan dan alokasinya tidak banyak mengalami perubahan antara Tahun 2003-2006. misalnya perubahan ekonomi nasional atau internasional atau kebijakan pemerintah pusat serta kebijakan moneter.661.9 Belanja Belanja Aparatur Publik 482.7 708.

655 191. Tabel 2.115 Riil 962 1. penerimaan pinjaman obligasi.3 2008 295.9 Sumber Data : LKPJ .22. dalam hal ini terjadi defisit anggaran. bantuan modal dan transfer ke dana cadangan.6 2006 64.2008 Selain mengoptimalkan potensi anggaran Pemerintah Kota Bandung.4 23. maka penting juga dilakukan upaya koordinasi pemanfaatan potensi dana pembangunan yang berasal dari stakeholders. Pendapatan dan Belanja Nominal-Riil Pemerintah Kota Bandung Tahun 2003-2008 (Tahun Dasar 2003) Pendapatan (Milyar Rp) Tahun Nominal 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Sumber Data : LKPJ .018 150.398 1.710 278.042 361.46 .5.2008 Belanja Langsung (Publik) perkapita (Rp) Nominal Riil 150.123 1.661 159.037 190. Secara terinci komposisi pembiayaan pemerintah Kota Bandung dapat dilihat dalam tabel berikut.626 2.7 2005 60.1 2007 165.3) 40.686 2.5 2.2 87. Struktur Pembiayaan Pemerintah Kota Bandung Tahun 2004-2008 No 1 2 3 Uraian Pembiayaan Penerimaan Pengeluaran 2004 (25.119 1.9 30. Sedangkan dalam pengeluaran.6 298.027 891 957 1.059 888 962 1. transfer dari dana cadangan maupun hasil penjualan aset daerah yang dipisahkan.23.243 195.761 152.320 245.4 65.64 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Tabel 2.3 PENGELOLAAN BIAYA Pembiayaan adalah transaksi keuangan daerah yang dimaksudkan untuk menutup selisih antara pendapatan daeran dan belanja daerah.5 57.599 243.655 208.8 118.6 195. pembiayaan itu sendiri adalah angsuran hutang. Sumber pembiayaan dapat berasal dari sisa lebih perhitungan anggaran tahun lalu. II .

• Suatu isu atau masalah cenderung membesar di masa datang dan berdampak negatif. Isu strategis menurut pendapat para pakar dan tokoh masyarakat atas kondisi yang mereka rasakan saat ini dan kemungkinannya di masa datang dengan interview.6 ISU STRATEGIS Penyusunan Recana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Bandung 2009-2013 terlebih dahulu digali permasalahan-permasalahan yang terjadi di Kota Bandung yang dirumuskan menjadi isu strategis. • Memerlukan upaya penanganan yang konsisten dari waktu ke waktu.47 . ekonomi. II . • Memiliki basis keunggulan atau potensi lokal Kota Bandung. Peningkatan Kualitas Pendidikan. sarana-prasarana dan pemerintahan umum saat ini serta kemungkinan kondisinya di masa datang. tokoh dan para pakar. • Cakupan masalah yang luas. 1. • Memberikan daya dorong dan daya sinergis terhadap penyelesaian sejumlah permasalahan. Adapun isu strategis yang patut di angkat dalam RPJMD ini dan perlu disiapkan landasan-landasannya untuk tahap pembangunan berikutnya adalah tentang perlunya. tokoh dan para pakar. Isu strategis menurut aspirasi masyarakat melalui kegiatan survey. Peningkatan Kualitas dan Pencegahan Degradasi Lingkungan Hidup Kota. 5. 2. 4. 2. Isu strategis adalah permasalahan utama yang disepakati untuk dijadikan prioritas penanganan selama kurun waktu 5 (lima) tahun mendatang. Isu strategis yang diangkat dari analisis situasi dan kondisi kependudukan. 4. Masalah yang berjangka panjang di arahkan untuk pembangunan bertahap dan dalam RPJMD tahun tersebut adalah berupa bagian dari pembangunan jangka panjang. Berdasarkan masalah hasil persepsi masyarakat. 3. Isu strategis dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kota Bandung Tahun 2009-2013 ini disusun berdasarkan kompilasi isu strategis yang ada dalam RPJMD Kota Bandung Tahun 2005-2025. Diantaranya adalah.65 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 2. Isu strategis diidentifikasikan dari berbagai sumber. Isu strategis dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJMD) Kota Bandung 2005-20025. Permasalahan dalam jangka menengah diarahkan untuk dapat ditangani pada masa RPJMD Tahun 2009-2013. hasil analisis atas situasi dan kondisi serta persepsi masyarakat. 1. maka dapat disusun kelompok masalah dan makna strategisnya seperti pada tabel berikut. Pertumbuhan Ekonomi Kreatif Kota. Penanggulangan Kemiskinan dan Pengangguran. 3. Dari sejumlah isu dan permasalahan tersebut dapat diangkat sebagai isu straegis dengan kriteria berikut ini. Penyediaan dan Pengelolaan Infrastruktur serta Penataan Kota. sosial budaya.

sehingga upaya penanganan satu isu strategis dapat mendukung atau berdampak positif bagi upaya penanganan isu strategis lainnya. 8. pentingnya penguatan kerjasama dengan wilayah Bandung Raya bagi kelangsungan kegiatan ekonomi dan peningkatan kualitas lingkungan di Bandung Raya secara berkelanjutan. Sinegritas modal sosial masyarakat bagi pembangunan belum optimal. Efektifitas dan Efisiensi Pengelolaan Keuangan Daerah. teknologi. 5. 7. 2. . Penyediaan Pelayanan Umum Kota yang Prima. Isu strategis tersebut secara fungsional saling berhubungan satu dengan yang lainnya. Sektor ekonomi berbasis ilmu pengetahuan. Kapasitas sumber daya Aparatur Kewilayahan dalam pelayanan dan pelaksanaan pembangunan relatif masih rendah.66 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 6. 8. Tingkat kompetensi dan kemampuan teknis dalam manajemen pengelolaan keuangan pemerintah Kota Bandung relatif masih rendah. sinkronisasi dan harmonisasi dalam kerjasama antara pemerintah pada kawasan Metropolitan Bandung belum optimal. 9. Pentingnya penguatan kemampuan teknis dan kapasitas manajemen serta kemampuan keuangan pemerintah Kota Bandung. Optimalisasi Manajemen Pemerintahan Kota. 4. sinegritas. Koordinasi. kreativitas dan inovasi relatif belum didayagunakan secara optimal. 3. Tingkat aksebilitas penduduk pada sarana dan prasarana transportasi massal relatif masih kurang memadai. Pentingnya penguatan kelurahan dan kecamatan dalam pelayanan dan pelaksanaan pembangunan skala lingkungan atau di tingkat masyarakat untuk mendorong partisipasi masyarakat dalam pembangunan. 7. 6. 1.

kreatif. Pemenuhan kondisi lingkungan ekonomi sehingga tercapai kemakmuran ekonomi warganya . cerdas. Adapun Misi tersebut terdiri dari : 1. Misi Kota Bandung Tahun 2009-2013 merupakan penjabaran dari Misi Tahap II dalam RPJPD Kota Bandung 2005-2025 dan integrasi dari sasaran yang akan dicapai pada Misi Tahap II tersebut. 4. Arah visi tersebut adalah memerankan Kota Bandung sebagai pusat pertumbuhan sector jasa yang memberikan manfaat bagi warga Bandung khususnya. professional dan bedaya saing . Kota Jasa Bermartabat memiliki dimensi : 1. Jawa Barat dan Nasional pada umumnya. stabil dan dinamis . 5. aman. 3. harga diri dan kebanggaan bagi seluruh warganya. Bersahabat. Pemenuhan kondisi tata ruang yang seimbang dan harmonis . indah . berakhlak. hijau dan berbunga . 2. 2. berakhlak mulia dan kesadaran perikehidupan majemuk . berprestasi dalam menunjang kota jasa bermartabat . Taat.67 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 BAB III KEBIJAKAN PEMBANGUNAN DAERAH 3. Meningkatkan kesejahteraan social dan mengembangkan budaya kota yang tertib. Mengembangkan Sumber Daya Manusia yang sehat. sehat. Mengembangkan Profesional Kota yang bedaya saing dalam menunjang penciptaan lapangan kerja dan pelayanan public serta meningkatkan peranan swasta dalam pembangunan Ekonomi Kota . III .1 VISI DAN MISI Visi Kota Bandung Tahun 2009-2013 : Memantapkan Kota Bandung sebagai Kota Jasa Bermartabat Kota Bermartabat diartikan sebagai kota yang mempunyai jati diri. Makmur. memiliki pelayanan politik prima tanpa membedakan status. Pemenuhan kondisi lingkungan hidup yang bersih. tertib. Pemenuhan kondisi lingkungan social yang aman. Dalam mencapai visi tersebut juga dijunjung motto juang ‘Bermartabat’ yaitu Bersih.1 . 3. Pemenuhan kondisi lingkungan keagamaan yang penuh toleransi.

Meningkatnya pengawasan komoditas produk-produk pangan . merata dan terjangkau . Tujuan-2 : Memantapkan Kecerdasan Warga Kota Bandung (Agenda Prioritas Bandung Cerdas) Sasaran : 1. Tersedianya SDM cerdas sejak dini . Meningkatnya kualitas dan akses pelayanan kesehatan dasar dan rujukan yang bermutu. Meningkatnya partisipasi masyarakat dalam pendidikan .2 TUJUAN DAN SASARAN Misi-1 : Mengembangkan Sumber Daya Manusia yang Sehat. 7. Meningkatkan kinerja pemerintah Kota yang efektif. 2. 8. Meningkatnya kualitas lingkungan bersih melalui sanitasi dasar dan sanitasi umum 3. Tujuan-1 : Memantapkan Kesehatan Warga Kota Bandung (Agenda Prioritas Bandung Sehat) Sasaran : 1. efisien. 4. Meningkatkan kapasitas pengelolaan keuangan dan pembiayaan pembangunan Kota yang akuntabel dan transparan dalam menunjang Sistem pemerintahan yang bersih dan berwibawa. 3. Meningkatnya kualitas dan akses pendidikan non formal . 6. akuntabel dan Transparan dalam upaya meningkatkan kapasitas pelayanan Kota Metropolitan . Meningkatnya kebijakan dan manajemen pembangunan kesehatan . Berakhlak. Menata Kota Bandung menuju metropolitan terpadu yang berwawasan lingkungan . 3. Meningkatnya promosi dan pemberdayaan masyarakat dalam pembangunan kesehatan 4. mudah. 5.2 . 5. Meningkatnya budaya baca masyarakat . III . Profesional dan Berdaya Saing. Meningkatnya kualitas pelayanan bidang pendidikan . Meningkatnya kualitas hidup melalui pengendalian jumlah penduduk. Cerdas. Meningkatnya kualitas tenaga pendidik dan kependidikan . 6. Meningkatnya kuanlitas akses penyelenggaraan pendidikan dasar . Meningkatnya SDM yang kreatif dan kompetitif .68 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 4. 5. 6. 2.

2. 2. Tujuan-1 : Memantapkan Kemakmuran Warga Kota Bandung (Agenda Prioritas Bandung Makmur) Sasaran : 1. Bermasyarakat dan bernegara. Meningkatnya kemampuan teknologi. Tujuan-4 : Mewujudkan Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam kehidupan Berkeluarga. Meningkatnya akses pelayanan perijinan dan kepastian hokum bagi dunia usaha . system produksi dan penguat sentra industri . 3. Meningkatnya kesejahteraan petani dan penguatan ketahanan pangan perkotaan . Meningkatnya pertumbuhan riil dan kontribusi riil sector perekonomian kota . 8. Misi-2 : Mengembangkan Perekonomian Kota yang Berdaya Saing dalam Menunjang Penciptaan Lapangan Kerja dan Pelayanan public serta Meningkatkan Peranan Swasta dalam Pembangunan Ekonomi Kota. 9. Mengembangkan kota sebagai kota kreatif. III .69 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Tujuan-3 : Mewujudkan Masyarakat yang Berakhak Mulia (Agenda Prioritas Bandung Agamis) Sasaran : 1. Meningkatnya penerbitan dan penataan pedagang kaki lima serta pedagang asongan. 5. 2. Meningkatnya kualitas hidup perempuan dan anak.3 . Meningkatnya peran dan posisi perempuan dalam kehidupan bermasyarakat . Meningkatnya perluasan kesempatan kerja format di sector-sektor yang menjadi core competency kota . Sasaran : 1. menengah dan koperasi dalam perekonomian Kota . Meningkatnya pemahaman dan pengamalan agama . Meningkatnya kerukunan umat beragama. 6. 4. Menjaga stabilitas harga dan distribusi barang kebutuhan pokok . Meningkatnya peranan usaha mikro kecil. 7.

pelaku budaya dan masyarakat (Agenda Prioritas Bandung Kota Seni Budaya) Sasaran : 1. III . Meningkatnya Kota Bandung sebagai kota tujuan wisata . 2. pemberdayaan Tujuan-2 : Meningkatnya sinergitas pelestarian budaya local antar pemerintah.70 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Tujuan-2 . Misi-3 : Meningkatkan Kesejahteraan Sosial dan Mengembangkan Budaya Kota yang Tertib. Meningkatnya kesejahteraan masyarakat melalui kelembagaan dan partisipasi dan ekonomi masyarakat. Kreatif. Meningkatnya sinergitas pelestarian budaya local antar pemerintah. Meningkatnya peran serta pemuda dalam pembangunan . Meningkatnya prestasi olahraga dan bidang lainnya. Sasaran : 1. meningkatnya sinergitas kegiatan ekonomi antar wilayah.4 . Tujuan-4 : Meningkatnya kepekaan dan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan sisoal. Tujuan-3 : Mewujudkan kerjasama Ekonomi dengan Daerah lain. Mewujudkan Pariwisata yang Berdaya Saing. Sasaran : 1. pelaku budaya dan masyarakat Tujuan-3 : Meningkatnya prestasi kepemudaan (Agenda Prioritas Bandung Berprestasi). Aman. Sasaran : 1. Berprestasi dalam Menunjang Kota Jasa Bermartabat Tujuan-1 : Mewujudkan peningkatan kesejahteraan masyarakat (Agenda Prioritas Bandung Makmur) Sasaran : 1.

Tujuan-5 : Meningkatkan mutu kerjasama diantara semua pemangku kepentingan dalam pembangunan Kota Bandung. Meningkatnya kepedulian masyarakat terhadap para penyandang masalah kesejahteraan social . 2. 3. Tujuan-4 : Menyediakan ruang Kota yang aman. produktif dan berkelanjutan. Terkendalinya pencemaran udara . Sasaran : 1.5 . Mengikat dan terkendalinya kawasan berfungsi lindung (berfungsi hidrologi). Berkurangnya limbah padat melalui pemanfaatan kembali sehingga memiliki nilai ekonomi. 2. 2. Sasaran : 1.71 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Sasaran : 1. Tujuan-1 : Mewujudkan kualitas udara. nyaman. Tujuan-3 : Mewujudkan pengelolaan limbah padat yang efektif dan bernilai ekonomi. Pengembangan sumber air baku untuk penyediaan air besih . Meningkatnya partisipasi masyarakat dalam penanggulangan penyandang masalah kesejahteraan social. Terkendalinya pencemaran air . Terkendalinya pencemaran tanah. Misi-4 : Menata Kota Bandung Menuju Metropolitan Terpadu yang berwawasan lingkungan. Sasaran : 1. Terbukanya akses informasi perencanaan dan pelaksanaan pembangunan kota. air tanah dangkal dan air tanah dalam) Sasaran : 1. III . Tujuan-2 : Menjamin tersedianya kuantitas dan kualitas air (air permukaan. air dan tanah sesuai baku mutu lingkungan.

Tujuan-5 : Memantapkan pembangunan Kota Bandung yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. 2. Tertatanya ruang terbuka public secara berkualitas . 2. 2. gunung meletus. Tujuan-8 : Mewujudkan mitigasi bencana yang handal. 3. Tersedianya prasarana energi dan komunikasi yang handal. 2. 5. Tersedianya tempat pemrosesan akhir (TPA) sampah yang berkelanjutan . Tersedianya lahan pemakaman sesuai kebutuhan kerjasama dengan pengembang . Terkendalinya pemanfaatan ruang. Terbentuknya struktur ruang kota yang aman. terjangkau dan Ramah lingkungan. nyaman. Berkembangnya sarana angkutan umum missal (SAUM) dan terbatasnya penggunaan kendaraan bermotor.6 . Sasaran : 1. 3. banjir. Sasaran : 1. Sasaran : 1. Tujuan-6 : Menyediakan system transportasi yang aman. nyaman. Terarahnya hunian vertical dan teremajakannya kawasan kumuh. Tujuan-7 : Mewujudkan sarana dan prasarana lingkungan yang memenuhi standart teknis/standar pelayanan minimal (SPM). Tersedianya air bersih dengan kualitas dan kuantitas yang baik . 4. longsor. III . efisien. Terkendalinya aspek-aspek penyebab kemacetan dan kecelakaan. angin topan dll) . Sasaran : 1. 3. Tersedianya system penanganan air limbah dan IPAL kota . Berkembangnya system prasarana transportasi yang mendukung struktur ruang kita .72 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Sasaran : 1. Tumbuh dari meningkatnya pengelolaan bencana alam (gempa. produktif dan berkelanjutan . Tersedianya system drainase kota yang tertata .

3. Tujuan-2 : Mewujudkan peran serta aktif masyarakat dan swasta dalam pembiayaan pembangunan Kota. efisien dan akuntabel. Sasaran : 1. 2. aplikatif. 4. Misi-6 : Meningkatnya kapasitas pengelolaan keuangan dan pembiayaan pembangunan kota yang akuntabel dan transparan dalam menunjang system pemerintahan yang bersih dan berwibawa. Meningkatnya professionalisme aparatur menuju pemerintahan yang akuntabel . dan akuntabel. Meningkatnya sinergitas APBN. efisien. III . Terwujudnya kehidupan masyarakat yang demokratis . Meningkatnya ketertiban serta terciptanya kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan stabilitas keamanan daerah . Tumbuh dan meningkatnya pengelolaan bencana (kebakaran dll) . 3.73 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 2. akuntabel dan transparan dalam upaya meningkatkan kapasitas pelayanan Kota Metropolitan. Mantapnya pelaksanaan reformasi birokrasi . Meningkatnya kapasitas lembaga perencanaan pembangunan yang efektif dan efisien untuk menghasilkan produk perencanaan yang aspiratif. Tujuan-1 : Mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik (Good Govermance) melalui pemantapan reformasi birokrasi. Penanggulangan infrastruktur pasca bencana. Meningkatnya pendapatan dan pengelolaan keuangan daerah yang efektif. Tujuan-1 : Mewujudkan Anggaran Pemerintahan yang optimal.7 . Meningkatnya transparansi pengelolaan pemerintahan . 8. Meningkatnya kesadaran dan ketaatan hukum dan HAM bagi masyarakat dan aparat . 6. 3. APBD Propinsi dan APBD Kota (Fiskal antar pemerintahan) . Sasaran : 1. Berkembangnya instrument pembiayaan pembangunan non-konversional. alam kecelakaan Misi-5 : Meningkatkan kinerja pemerintah kota yang efektif. 2. Terwujudnya pelayanan publik yang prima . 5. 7.

4. bernilai tambah tinggi dan ramah lingkungan . 5. reorientasi dan refungsionalisasi pembangunan dengan uraian sebagai berikut : 1. pelayanan umum dan penumbuhan ekonomi kreatif.3 STRATEGI Strategi pembangunan ini ditetapkan secara umum dengan focus pada masyarakat pemerintahan dan kerjasama strategis dengan pihak lain yang meliputi : 1. 3. 3. 2. Pengembangan kerjasama dengan daerah Bandung Raya dan pihak lain dalam upaya optimalisasi daya dukung kota. 3. kesehatan. ekosistem. Meningkatnya sinergitas pemerintah. Pengembangan sumber daya manusia sebagai basis bagi upaya mendorong ekonomi kreatif. Kebijakan tersebut dituangkan secara lebih rinci ke dalam Misi 1 sampai dengan Misi 6 sebagai berikut : III . 7. Mengendalikan pertumbuhan kota sehingga terjadi keseimbangan antara daya dukung dan aktivitas dengan peningkatan dan pemerataan prasarana kota . Mengkondisikan lingkungan fisik tata ruang yang memenuhi kaidah amenities keindahan kota. pembiayaan pembangunan. Meningkatnya efektifitas dan efisiensi birokrasi melalui reformasi kelembagaan (institutional reform) dan reformasi manajemen public (public management reform) . 6.8 . Pelayanan prima kepada segenap warga serta mengkondisikan ligkungan dan kehidupan yang aman dan nyaman . Menyelaraskan pertumbuhan ekonomi dengan situasi social kependudukan dari sumber daya manusia serta mengantisipasi masalah-masalah social kependudukan. Mengembangkan kerjasama dengan daerah Bandung Raya dan pihak lain dalam upaya optimalisasi daya dukung kota dan pelayanan umum terhadap pertumbuhan aktivitas yang ada di dalamnya . 2. patologi social perkotaan dan lain sebagainya . Peningkatan kinerja birokrasi. swasta dan masyarakat dalam 3.74 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Sasaran : 1. kepadatan penduduk.4 ARAH KEBIJAKAN Kebijakan umum untuk tahun 2009-2013 adalah meliputi revitalisasi. daya saing kota dan kebersihan . Mendorong usaha ekonomi kreatif berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi yang bernilai tambah tinggi dan ramah lingkungan 4. Menekankan pada masalah yang layak ditangani dalam jangka menengah serta mempersiapkan landasan bagi penyelesaian permasalahan jangka panjang. reaktualisasi.

Peningkatan lingkungan hidup diperkelolaan dan disiplin hidup diperkotaan . Misi-3 : Meningkatkan kesejahteraan Sosial dan mengembangkan budaya kota yang tertib. perilaku dan kebudayaan melalui peran serta masyarakat sehingga terbentuk solidaritas masyarakat yang kokoh dan dinamis.75 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Misi-1 : Mengembangkan sumber daya manusia yang sehat. 5. III . Pengembangan kewirausahaan dengan membangun kompetensi dari kemampuan daya saing yang kreatif . Pendukungan sector swasta dalam meningkatkan kesejahteraan tenaga kerja . Peningkatan kesehatan masyarakat termasuk di dalamnya pencegahan dan penanganan HIV dan narkoba terutama dikalangan generasi muda . 3. 7. Peningkatan peran swasta dalam pendidikan . Misi-2 : Mengembangkan perekonomian kota yang berdaya saing dalam Menunjang penciptaan lapangan kerja dan pelayanan public serta meningkatkan peranan swasta dalam pembangunan ekonomi kota. 4. 2. aman. Penataan Struktur ekonomi perkotaan melalui penataan ruang aktivitas maupun pola konsumsi. Pengembangan pendidikan formal dan informasi dalam semua strata pendidikan .9 . professional dan berdaya saing. Penguatan promosi daerah dalam menarik wisatawan dan investasi dalam bidang pariwisata. kreatif. 3. berprestasi dalam menunjang kota jasa bermartabat. 8. distribusi dan produksi yang baik . 6. Penguatan institusi masyarakat dalam membangun modal social. 2. Penguasaan teknologi informasi bagi masyarakat kota . berakhlak. Perbaikan infrastruktur ekonomi dalam menunjang pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat dalam mengembangkan ketahanan pangan kota . 5. Arah Kebijakan : 1. menengah dan besar dalam menunjang pengembangan ekonomi kreatif . 6. Pendukungan perubahan pola konsumsi masyarakat melalui diverifikasi pangan dalam rangka meningkatkan ketahanan pangan kota . Penataan dan optimalisasi prosedur investasi dalam meningkatkan kesempatan kerja di kota Bandung melalui pelayanan satu pintu . 7. cerdas. Pengembangan peningkatan fungsi tempat ibadah sebagai tempat meningkatkan keimanan dan moral . 8. Arah Kebijakan : 1. 4. Pengembangan kemitraan usaha koperasi/usaha kecil. Penataan pedagang kaki lima dan meningkatkan kemitraan dengan sentrasentra produk local dalam mengembangkan industri kreatif tradisional .

8.76 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Arah Kebijakan : 1. Peningkatan pelayanan public yang optimal dan prima dengan menciptakan kondisi nyaman. Peningkatan sarana dan prasarana kebudayaan . Arah Kebijakan . Misi-5 : Meningkatkan kinerja pemerintah kota yang efektif. Peningkatan peran lembaga dakwah dalam meningkatkan kerukunan umat beragama . 6. Pengembangan manajemen kota efisien. 2. Pengelolaan transportasi secara efisien dalam mengurangi kemacetan dari polusi dengan mempersiapkan konsep Rapid Mass Transportation yang handal sesuai dengan kemampuan/potensi Kota Bandung . 4. Pengelolaan lingkungan yang sehat. 1. 3. efisien. bersih. 3. 7. efisien. III . 5. akuntabel dan transparan . Pengembangan kelompok-kelompok karang taruna/generasi muda . 7. Penghijauan perbaikan dan penambahan taman kota dan ruang terbuka untuk public serta perbaikan dan pemanfaatan daerah aliran sungai yang dapat memperbaiki kualitas kehidupan . Pembinaan seni budaya daerah dalam menunjang pariwisata . Pembinaan anak jalanan sehingga memiliki kesempatan dalam berkreasi. Misi-4 : Menata Kota Bandung menuju Metropolitan terpadu yang berwawasan lingkungan. Pengelolaan tata ruang secara konsisten. Penguatan SKPD yang terkait dalam menunjang peningkatan pelayanan pada masyarakat dalam mewujudkan pelayanan satu pintu . 2. Pembinaan secara komprehensif kelompok multietnis dalam menunjang Bandung sebagai Kota Metropolitan .10 . produktif dan berdayaguna . ramah dan produktif . 5. hijau dan berbunga . Peningkatan pemerintahan yang Good Government disertai prinsip efektif. 2. Peningkatan peran media dalam penyalahgunaan informasi pembangunan. produktif. Pelaksanaan program Urban Renewal dan Urban Redevelopment dalam meningkatkan pelayanan sector jasa . akuntabel dan transparan dalam upaya meningkatkan kapasitas pelayanan Kota Metropolitan. efisien. 6. Pengembangan LSM yang berorientasi pada pembangunan dan lingkungan kota . dan berdayaguna dimasa depan . 4. produktif dan dinamis sesuai dengan RTRW Kota Bandung . Arah Kebijakan : 1. 3. Penyebaran pusat-pusat pertumbuhan sekunder .

Misi-1 : Mengembangkan sumber daya manusia yang sehat. 2. Pengembangan system informasi dalam manajemen pemerintahan yang dapat memonitor permasalahan kota sehingga dapat membantu dalam proses pengambilan keputusan Pemerintah Kota. e. Arah Kebijakan : 1. Program-program yang tercantum dalam RPJMD ini merupakan program pendukung langsung dalam pencapaian kinerja makro sedangkan program yang tidak mendukung langsung akan dijabarkan dalam Rencana Kerja Pemerintah daerah Tahunan sesuai kebutuhan dan ketersediaan anggaran. Program obat dan pembekalan kesehatan . III . g. 3. c. disusun program-program pembangunan. Program promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat . 3. b. Program keluarga berencana . Program peningkatan Sarana.cerdas.11 . 4. 5.5 PROGRAM Untuk mewujudkan tujuan dan sasaran setiap misi serta berdasarkan arah kebijakan yang ditetapkan. Program pemberdayaan keluarga. Peningkatan dan menggali sumber pendapatan daerah berdasarkan azas proporsionalitas. Peningkatan peran swasta dalam pembiayaan pembangunan sebagai bagian dari deregulasi dalam pengembangan pelayanan public . Program pencegahan penanggulangan penyakit dan lingkungan sehat . f. Peningkatan peran kecamatan dan kelurahan dalam meningkatkan kinerja pemerintahan melalui desentralisasi kebijakan pemerintahan kota . Program : a. berakhlak. Misi-6 : Meningkatkan Kapasitas pengelolaan keuangan dari pembiayaan pembangunan kota yang akuntabel dan transparan dalam menunjang sistem pemerintahan yang bersih dan berwibawa. professional dan berdaya saing. Program kesehatan reproduksi remaja . adil dan merata . Peningkatan fungsi pengawasan baik internal maupun eksternal sehingga tercipta suatu mekanisme birokrasi yang sehat dan terpercaya . 6. Prasarana dan Manajemen Kesehatan . d. Pemanfaatan dana secara efisien dan produktif yang didasarkan pada pendekatan hasil/output dengan dilandasi azaz manfaat . Pengelolaan keuangan secara transparan dalam meningkatkan akuntaniliutas public. Program upaya kesehatan masyarakat .77 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 . Peningkatan pengelolaan aset pemerintah kota untuk meningkatkan PAD dan peningkatan pelayanan public 5. 4. h.

Program penguatan kelembagaan keluarga kecil berkualitas . Program pemberdayaan kelembagaan kesejahteraan social . n. b.78 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 i. Program peningkatan kualitas penyelenggaraan pendidikan. Program : a. Program peningkatan sarana dan prasarana olah raga . q. Program peningkatan ekonomi masyarakat . III . Program pendidikan menengah . e. Program peningkatan toleransi dan kerukunan umat beragama . Program peningkatan investasi . Program peningkatan peran serta kepemudaan . Program pemberdayaan fakir miskin dan penyandang masalah kesejahteraan social (PMKS) lainnya . p. Misi-2 : Mengembangkan perekonomian kota yang berdaya saing dalam menunjang penciptaan lapangan kerja dan pelayanan public serta meningkatkan peranan swasta dalam pembangunan ekonomi kota. Program wajar pendidikan dasar sembilan tahun . Program peningkatan pariwisata . Program pendidikan non formal . Program keserasian kebijakan peningkatan kualitas anak dan perempuan. w. c. aman.12 . u. r. d. berprestasi dalam menunjang kota jasa bermartabat. t. o. l. Program peningkatan upaya penumbuhan kewirausahaan dan kecakapan hidup pemuda . lingkungan agamis dan aktivitas social keagamaan . Misi-3 : Meningkatkan kesejahteraan social dan mengembangkan budaya kota yang tertib. e. Program pengembangan pemberdayaan masyarakat . k. f. Program : a. Program pengembangan nilai budaya daerah . i. Program pengembangan budaya baca dan pembinaan perpustakaan . m. h. c. Program penguatan kelembagaan pengarusutamaan Gender dan Anak. v. Program peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan . s. Program peningkatan ketahanan pangan . kredit. Program pengembangan iklim religius. Program manajemen pelayanan pendidikan . Program peningkatan sarana prasarana pendidikan . b. Program pengembangan kebijakan dan manajemen olahraga . g. j. d. Program peningkatan kualitas hidup dan perlindungan perempuan dan anak. Program pembinaan dan pemasyarakatan olahraga . Program pengembangan system informasi dan mikro keluarga . Program peningkatan peran serta dan kesetaraan gender dalam pembangunan . Program peningkatan ketenagakerjaan. x.

s. z. t. Program rehabilitasi hutan dan lahan . Program penataan bangunan dan bangun-bangunan . Program pembangunan prasarana dan sarana perhubungan . Program peningkatan kapasitas dan cakupan pelayanan air bersih. Program peningkatan pengelolaan sampah perkotaan. Program pengendalian pemanfaatan ruang . Program penyediaan sarana pembibitan RTH (baru) . Program pembangunan saluran drainase/gorong-gorong . cc. Program : a. p. n. v. Program pembangunan jalan dan jembatan. i. r. Program penataan. danau dan sumber daya air lainnya . Program perlindungan dan konservasi sumber daya alam . Program pemantapan kelembagaan potensi sumber kesejahteraan social (PSKS) . Program peningkatan keamanan dan kenyamanan lingkungan. Program peningkatan pengendalian polusi . e. Program peningkatan sarana dan prasarana kebinamargaan. Program pengendalian dan pengamanan lalu lintas. Program pengendalian pencemaran dan perusakan lingkungan hidup. Program peningkatan pelayanan angkutan. k. u. h. m. Program pengembangan komunikasi informasi dan media massa . bb. Program penmyelenggaraan dan pemeliharaan ketentraman dan ketertiban. m. Program pemanfaatan ruang . f. d.13 . dan konservasi sungai. Program pengembangan. l. l. Program pembangunan dan pengembangan trotoar . pengelolaan. Program penataan ruang terbuka public secara berkualitas . Program penanggulangan bencana alam dan perlindungan masyarakat . Program optimalkisasi system pengelolaan persampahan . Program peningkatan kesiapan kesiagaan dan pencegahan bahaya kebakaran . o. aa. penggunaan dan penguasaan tanah . III . x. k. Program pengembangan kinerja pengelolaan air minum dan air limbah . Program pelayanan prima dalam pencegahan dan penanggulangan kebakaran serta bencana lainnya.79 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 j. penguasaan. b. c. j. g. Program penyediaan air baku . Program tanggap darurat bencana alam . Program pengendalian banjir w. y. Program pengembangan perumahan. n. pemilikan. Misi-4 : Menata kota Bandung menuju Metropolitan terpadu berwawasan lingkungan. Program perencanaan tata ruang . q.

e. g. Program kelembagaan dan ketatalaksanaan. f. Program perencanaan pembangunan . Program peningkatan sarana dan prasarana aparatur . sedangkan sumber-sumber dana lain seperti APBN.80 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Misi-5 : Meningkatkan kinerja pemerintah Kota yang efektif. 3. Program pengembangan kemitraan pembiayaan pembangunan daerah. h. Karena kebutuhan pendanaan ini bersifat indikasi dan pada tingkatan makro. Misi-6 : Meningkatkan kapasitas pengelolaan keuangan dan pembiayaan pembangunan Kota yang akuntabel dan transparan dalam menunjang system pemerintahan yang bersih dan berwibawa. b.6 KEBUTUHAN ANGGARAN Kebutuhan anggaran dapat dikelompokkan ke dalam Belanja Tidak Langsung dan Belanja Langsung. d. 6 Tahun 2008). sedangkan Belanja Langsung adalah belanja program yang dialokasikan untuk kegiatan-kegiatan pembangunan.14 . Kebutuhan pendanaan dalam ini difokuskan pada Belanja langsung atau Belanja Pembangunan. Program pemeliharaan ketentraman dan ketertiban umum serta perlindungan masyarakat . pengembalian pinjaman dan lain-lain. Program pembinaan. Belanja Tidak Langsung dialokasikan dalam bentuk biaya rutin (gaji. Program penataan perundang-undangan . Program pengawasan pembangunan daerah . c. III . j. Indeks pembangunan Manusia (IPM). Program : a. efisien. APBD Propinsi dan bantuan-bantuan serta dana masyarakat diasumsikan memiliki kecenderungan peningkatan juga. akuntabel dan transparan dalam upaya meningkatkan kapasitas pelayanan Kota Metropolitan. pengembangan dan peningkatan kapasitas aparatur . pemeliharaan dan lain sebagainya). Program peningkatan dan pengembangan pengelolaan keuangan daerah . Program : a. Program pembangunan hokum daerah . Program pendidikan politik masyarakat dan wawasan kebangsaan . i. dengan kecenderungan Belanja Daerah selama Tahun 2003 -2007. Program pemantapan reformasi birokrasi . Kebutuhan anggaran untuk Belanja Langsung (pembangunan) secara makro diperkirakan dengan menggunakan model ekonometrika yaitu dengan mengaitkan antara target pencapaian indicator utama Otonomi Daerah (PP No. maka pada saat disusun rencana kegiatan dan keuangan tahunan harus diperkirakan biaya setiap kegiatan – kegiatan yang diusulkan. sedangkan Belanja Tidak Langsung dapat ditentukan dengan rasio PNS yang ada. Selain itu kebutuhan dana ini khususnya adalah yang menjadi focus bagi APBD Kota Bandung. b.

Bila dengan menggunakan model parabola.40 81.46 77. Model parabola ini dalam implementasinya mensyaratkan kerja keras segenap aparat maupun warga masyarakat dalam bentuk upaya yang sungguh-sungguh.93 63.25.08 79.66 91. Estimasi tahun 2008 adalah masa transisi. Pertumbuhan penduduk rata-rata pertahunan diasumsikan sebesar 1.23 %.54 78.85 * 65.29 88.95 63.07 Indeks Pendidikan 89. I dk e bn u a a ui n e sP ma g n nMn sa 84 82 80 78 76 8 20 09 2 00 3 6 20 0 7 1 2 2 01 3 10 1 1 4 5 Grafik 3.17 77.07 68.23 79.60 90.88 Target IPM tersebut didasarkan pada RPJMD Kota Bandung tahap –II.27 68.58 80.59 * 79.34 63.1.27 79. Dengan model linier.13 * 90. maka target sebesar 81.72 91.09 78.78 Indeks Kesehatan 79.38 80.26 89.18 89.79 * 80.25 81.94 81. maka akan di akumulasikan pada tahun berikutnya.20 79. maka sampai tahun 2013 kemungkinan hanya akan dapat dicapai IPM 79.08 80.15 77.46 67. dan listrik secara garis lurus dengan tingkat IPM terakhir pada tahun 2007.57 81.04 64. Posisi Target IPM Tahun 2013 III . Target IPM tersebut dapat diuji dari dua simulasi.15 . Target IPM dan Komponennya Tahun 2008-2013 Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 2008 * 2009 2010 2011 2012 2013 IPM 77.1.16 91. yaitu simulasi dengan model parabola (non linier) dan modal linier.81 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang ingin dicapai pada tahun 2013 adalah sebesar 81. sehingga bila estimasi ini terlalu tinggi.65 66.25 91. kreatifinovatif.64 80.07 tersebut justru akan dapat dilampaui.94 89.07 dengan rincian indeks masing-masing seperti tampak pada tabel berikut ini : Tabel 3.99 64.55 Indeks Daya Beli 62.10 81.

Pertahun.891 Belanja Langsung perkapita (Rp/tahun) 320. Infrastruktur dan Pranata. kesehatan.273 1. Kesehatan.16 . program pendukung berupa a III . Pada tahun 2009 diperkirakan kebutuhan belanja langsung sebesar Rp. Selanjutnya kebutuhan belanja langsung.000.697 1. ekonomi.051 Perkiraan kebutuhan belanja langsung pada tabel di atas. maka dapat diperoleh perkiraan kebutuhan belanja langsung dari Tahun 2008-2013 dengan asumsi sumber-sumber dana lain dari APBN. yaitu tidak tercapainya target tahunan dapat menimbulkan akumulasi kebutuhan belanja langsung pada tahun berikut.305 751. Ekonomi. APBD Propinsi dan dana masyarakat juga mengikuti kecenderungan yang meningkat.411 370. 1. Pada tahun 2013 diperkirakan kebutuhan belanja langsung sebesar Rp.891 Milyar atau rata-rata balanja langsung perpenduduk Kota Bandung adalah Rp. Demikian juga sebaliknya.425 607. 1.865 432.169 524.82 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Atas dasar target IPM tersebut maka dapat diperkirakan kebutuhan belanja langsung perkapita dan total belanja langsung pertahun. Selain itu selama perjalanan tahun tersebut.000. 432. Kluster yang dimaksud adalah Bidang Pendidikan. Kebutuhuan Total Belanja Langsung dan Belanja Langsung per Kapita APBD Kota Bandung Tahun 2008-2013 Tahun 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 Sumber : Hasil Analisis Total Belanja Langsung (Milyar Rp) 750 878 1. selanjutnya dapat diperkirakan secara makro alokasinya menurut kluster dan program prioritas.. secara langsung pada program pendidikan.2.492 1. 751. diasumsikan tidak terjadi perubahan-perubahan drastic dan mendasar pada berbagai kondisi eksternal sehingga berdampak negative.226 682.036 1.pertahun. Berdasarkan target diatas. Kluster disusun atas dasar tugas pokok dan fungsi SKPD.036 Milyar atau rata-rata belanja langsung perpenduduk Kota Bandung adalah Rp. adalah sebagai berikut : Tabel 3. demikian juga apabila ternyata efektifitas pencapaian indicator berjalan lambat. Pencapaian yang lebih tinggi pada tahun bersangkutan akan memperingan pencapaian dan penyediaan dana tahun berikutnya.

maka perkiraan kebutuhan belanja langsung adalah sebagai berikut : Tabel 3.83 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 penyediaan infrastruktur dan program kepranataan berupa peningkatan kinerja Pemerintah Kota Bandung. Dalam kaitannya dengan 7 Agenda Prioritas dan Reformasi Birokrasi. Kebutuhan Belanja Langsung APBD Kota Bandung Tahun 2008-2013 menurut 7 Agenda Kota (Milyar Rupiah) Tahun • Bandung Cerdas • Bandung Sehat • Bandung Makmur • Bandung Berprestasi • Bandung HIjau 262 286 299 378 459 541 626 • Bandung Kota Seni Budaya • Bandung Kota Agamis • Reformasi Birokrasi 298 417 528 625 714 796 871 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 66 58 83 117 137 149 154 86 82 83 98 114 131 148 38 36 44 56 68 80 93 Sumber : Hasil Analisis .3.

Secara umum strategi keuangan daerah yang akan ditempuh adalah : 1. maka peningkatan PAD besaran-besaran potensial menimbulkan beban masyarakat dengan berbagai penerimaan yang dipungut oleh pusat dan propinsi. 2. maka dalam hal perencanaan anggran Kota Bandung dan kabupaten-kota lainnya tentu saja mengalami kesulitan estimasi anggaran.2. 4.Terlebih lagi karakteristik PAD yang terkait dengan pelayanan.1 STRATEGI KEUANGAN Strategi pengelolaan keuangan daerah meliputi aspek pendapatan. IV . pembelanjaan dan pembiayaan. misalnya melaluiobligasi 4. Meningkatkan efektifitas dan efisiensi penerimaan PAD. Karena kontribusi Dana Perimbangan demikian besar dan transmisinya terlebih dahulu dikumpulkan oleh pusat atau propinsi dan kemudian baru disalurkan. Mengupayakan sumber-sumber pendapatan in-konvesional. Dampak selanjutnya adalah keterbatasan gerak dalam menyusun perencanaan program pada tahun berikutnya. Apabila Kota Bandung mampu meningkatkan pendapatan dari PAD yang kebanyakan bersumber dari pajak dan retribusi secara derastis misalnya 100%.1 ARAH KEBIJAKAN KEUANGAN PENGELOLAAN PENDAPATAN DAERAH Sumber pendapatan kabupaten dan kota di Indonesia sebagian besar berasal dari Dana Perimbangn.84 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 BAB IV KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH 4.2 4. walaupun Kota Bandung tergolong sebagai Kota yang memiliki PAD tinggi. Meningkatkan upaya optimalisasi pemanfaatan aset daerah dan kinerja BUMD terhadap penerimaan daerah. 3. 5. Situasi seperti ini patut dicermati dengan hati-hati. Peningkatan pendapatan daerah yang signifikan adalah berasal dari propinsi dana perimbangan. Diferensiasi penerimaan PAD sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Dengan demikian pada dasrnya Dana Perimbangan sebagian besar menunjukan kapasitas fiskal suatu daerah. maka kontribusi terhadap pendapatan juga hanya sekitar 35 % saja atau tidak akan mampu memenuhi 50% pendapatan.1 . Meningkatkan efektifitas pembelanjaan melalui perencanaan yang baik dan proposional.

Pola pesimis tidak dihitung dalam sekenario.097 1. yaitu i) perekonomian tumbuh normal ii) perekonomian tumbuh sesuai target.355 2.144 2.246 1.777 PAD 254 288 328 361 400 440 479 518 Perimbangan 1.398 1. ) 60000 40000 20000 0 20 03 6 20 07 8 20 09 4 5 10 NORMAl PESIMIS Grafik 4.755 1.433 2010 71. PAD dan Dana Perimbangan Kota Bandung dalam dua sekenario.140 1.398 2009 64. Semakin meningkat ekonomi suatu daerah maka potensi pendapatan daerah juga meningkat. Seperti pada gambar berikut. PAD dan Dana Perimbangan Pemerintah Kota Bandung Tahun 2008-2013 (Milyar Rp) Tahun PDRB Normal 2006 43. maka terlebih dahulu dianalisis kemungkinan pertumbuhan ekonomi Kota Bandung. Untuk memproyeksikan perkiraan pendapatan Pemerintah Kota Bandung.572 Sumber : Hasil Analisis Pendapatan 1. dengan asumsi kinerja aparat akan semakin efektif dan efesiensi bersamaan dengan dilakukannya tahapan reformasi birokrasi. Perkiraan Kenenderungan Pertumbuhan Ekonomi Kota Bandung Berdasarkan kecenderungan di atas selanjutnya ditetapkan dua sekenario.087 2.566 2. Berikut ini adalah sekenario perkiraan Pendapatan.2 .744 1.467 2011 78. OPTIMIS 80000 ( Milyar Rp. baik langsung ataupun tidak langsung.502 2012 85.85 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Peningkatan pendapatan aderah berkaitan dengan pertumbuhan aktivitas masyarakat atau pertumbuhan ekonomi. atau tingkat ekonomi suatu aderah dapat dipandang sebagai revenue capacity.686 1.572 1.491 2007 51.537 2013 92.312 2008 57.933 2.1 Perkiraan pertumbuhan ekonomi Normal dan perkiraan pendapatan.259 IV . Tabel 4.916 2.

281 2. 2. PAD dan Dana Perimbangan ditentukan menurut asumsi revenue capacity Pemerintah Kota Bandung sebesar 3% dari PDRB. diantaranya adalah melalui koondisi pemanfaatan data basis sumber PAD serta penilaian kembali atas sumber tersebut. Optimasi manajemen pendapatan daerah.246 1. 2. maka ada beberapa langkah strategis.398 1. 2. 2. Rasio ini di Kota Bandung menunjukan angka yang semakin menurun. maka pada tahun 2007 menjadi 3.001 2. Pada pencapaian tingkat ekonomi yang lebih tinggi.411 2. bila pada tahun 2003 sebesar 4.627 1. Dilakukan melaui klasifikasi aset menurut potensi ekonominya. Pendapatan tahun 2013 diperkirkan lebih rendah. sehingga menurut target .312 2008 58. yaitu Rp. Mendorong pertumbuhan aktivitas ekonomi dan investasi di Kota Bandung. sehingga basis penerimaan (revenue capacity) mengalami peningkatan.664 2012 98.855 2. maka potensi pendapatan juga lebih tinggi. Upaya ini relatif lebih memperingan beban masyarakat daripada melalui upaya peningkatan tarif berbagai sumber PAD.3.140 1. PAD dan Dana Perimbangan Pemerintah Kota Bandung Tahun 20082013 (Milyar Rp) Tahun PDRB Tinggi 2006 43.755 2.021 2011 86. misalnya dikelola sendiri.2 Perkiraan Pertumbuhan Ekonomi menurut Target dan Perkiraan Pendapatan. sehingga menurut target.491 2007 51. 3.496 2009 66.Penggunaan sistem informasi dapat membantu efektifitas dan efisiensi manajemen pendapatan daerah.56% dan Dana Perimbangan sekitar 2.777 Milyar. 631 Milyar dan Dana Perimbangan Rp. 518 Milyar dan Dana Perimbangan Rp.02%.748 Milyar.115 2.379 Milyar. yaitu : 1. Untuk mewujudkan pencapaian penerimaan daerah. kemudian dipilih bentuk-bentuk pengelolaannya.748 Perkiraan pendapatan .797 2013 112.259 Milyar. Optimalisasi aset daerah.29% karena itu perkiraan revenue capacity sebesar 3% dari PDRB termasuk pendapatan yang relatif berhati-hati. mengingat potensi ketidakpastian perekonomian bersamaan dengan kerisis ekonomi global.685 2010 76.terdiri dari PAD Rp. Sedangkan apabila tingkat ekonomi lebih rendah.86 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Tabel 4. PAD capacity sekitar 0.379 PAD 254 288 328 373 426 485 553 631 Perimbangan 1. maka potensi pendapatan juga lebih tinggi.628 Sumber : Hasil Analisis Pendapatan 1.44% dan PDRB.686 1. Pendapatan tahun 2013 diperkirakan Rp.600 2. terdiri dari PAD Rp.964 3.3 .097 1. dikerjasamakan dengan Pemerintah Propinsi Jawa Barat yang juga a IV .

697 2013 1.891 Sumber : Hasil Analisis Tahun Normal (%) 28. Berdasarkan Belanja Langsung per kapita di Kota Bandung .4 63.273 2011 1.87 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 memiliki aset dalam jumlah besar di Kota Bandung.5 50. masyarakat semakin menuntut adanya pengelolaan keuangan publik secara transparan dalam rangka mewujudkan akuntabilitas yang didasarkan pada perinsip-perinsip anggaran berbasis kinerja yaitu belanja daerah yang berorentasi pada pencapaian hasil atau kinerja. Sesuai dengan reformasi dibidang keuangan.0 IV .2.2 25. seperti yang diamantkan dalam RPJPD Tahun 20052025.492 2012 1.2 25.3 56.4 44. dapat diperkirakan kebutuhan Belanja Langsung dari Tahun 2009-2013.6 59.4 57. Bila kebutuhan Belanja Langsung tersebut dipersentasikan terhadap perkiraan APBD Kota Bandung Tahun 2009-2013.1 68.8 55. terutama pada sumber-sumber dana perimbangan serta potensi dan perimbangan yang selama ini belum diganti. sistem penganggaran maupun akutansi. 4.1 51.5 50.1 53.4 44. Advokasi Dana Perimbangan dilakukan melalui upaya-upaya koordinasi dengan Pemerintah Pusat dan Propinsi Jawa Barat.3 Kebutuhan Belanja Langsung APBD Kota Bandung (Milyar RP) Belanja Langsung 2005 316 2006 354 2007 750 2008 878 2009 1. Artinya perhatian Pemerintah Kota Bandung terhadap Pembangunan Kota semakin meningkat.1 Target (%) 28. Pada dasarnya pengelolaan aset ini dapat menjadi sumber pendapatan yang penting bagi Kota Bandung di masa depan.036 2010 1. 4. Anggaran tersebut mencemarkan efisiensi dan efektivitas pelayanan publik.4 66. maka adanya kecenderungan persentase Belanjua Langsung semakin meningkat.4 .8 57.2 PENGELOLAAN BELANJA DAERAH Pengelolaan belanja derah sangat erat kaitannya dengan sistem pengelolaan keuangan daerah. Tabel 4.

penerimaan pinjaman obligasi. yaitu dengan : 1. 3. misalnya dengan alokasi dana langsung di tingkat kelurahan.88 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Kebutuhan Belanja Langsung di atas bersifat indikatif dan mensyaratkan beberapa hal yang penting untuk dipenuhi. 3. Strategi Pengelolaan Belanja Daerah Kota Bandung Tahun 2009 – 2013 adalah sbagai berikut : 1. dalam hal ini terjadi defisit anggaran. Penyehatan BUMD agar memberikan kontribusi signifikan pada pemerintah daerah. Belanja Tidak Langsung harus sebaik mungkin dapat diprediksi dan dilakukan secara konsisten sehingga mengurangi percampuran alokasinya dengan Belanja Langsung . pemantauan program dan kegiatan. Sumber pembiyaan dapat berasal dari sisa lebih perhitungan anggaran tahun lalu. transfer dari dana cadangan maupun hasil penjualan aset daerah yang dipisahkan. Secara umum dalam setiap aspek selalu berpegang pada prinsip akuntabilitas. Optimalisasi Belanja Langsung.3 PENGELOLAAN PEMBIAYAAN Pembiayaan adalah transaksi keuangan daerah yang dimaksud untuk menutup selisih antara pendapatan derah dan belanja daerah. 6. satuan biaya yang tepat. Optimalisasi sumber tetap pendapatan Pemerintah Kota Bandung. Stimulasi kepada masyarakat untuk berpartisipasi dalam pembangunan.2. Mendorong dunia perbankan untuk mealokasikan keredit pada usaha-usaha produktif di Kota Bandung untuk mencapai pertumbuhan ekonomi. 4. Inisiasi penerbitan obligasi Pemerintah Kota Bandung. 4. termasuk juga pengelolaan Nelanja Tidak Langsung yang sebenarnya lebih mudah untuk diprediksi. . Sumber pembiayaan dapat berasal dari sisa lebih perhitungan anggaran tahun lalu. Optimalisasi juga dapat dilakukan melalui koordinasi dan sinergitas antar SKPD dalqam menangani suatu masalah. transparansi dan upaya yang sungguh-sungguh. 5. 2. Memfasilitasi stakeholders dalam mealokasikan dana mereka (misalnya corporate social responsibility) dan lain-lain agar terdapat saran. Dilakukan dengan memastikan lokasi dan sasaran pembangunan. Menetapkan program prioritas dan menggunakan toal ukur kinerja yang jelas. Pembiayaan adalah transaksi keuangan daerah yang dimaksud untuk menutup selisish antara pendapatan daerah dan belanja daerah. 2. Sedangkan dalam pengeluaran pembiayaan itu sendiri adalah angsuran hutang. dalam hal ini terjadi defisit anggaran. 4. Bantuan modal dan transfer dana cadangan. dan secara umum meningkatkan peran perencanaan. Meningkatkan efektifitas dan efisiensi Belanja Tidak Langsung melalui perencanaan anggaran dan sistem akuntansi yang baik.

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) sebesar 81.33. Secara umum untuk Tahun 2009-2013 akan dilakukan berbagai macam program pembangunan. Pendapatan (PDRB) perkapita Rp. Indeks Daya Beli 68. Indeks Kesehatan sebesar 81. Penetapan agenda priorotas mencerminkan urgensi permasalahan yang hendak diselesaikan tanpa mengabaikan penyelesaian permasalah lain. Mengacu pada RPJPD Kota Bandung Kota Bandung tahap-II.-/tahun (rill tahun dasar 2000) Pengangguran terbuka 15% 5. 4.1 .2 AGENDA PRIORITAS Agenda Prioritas diartikan sebagai penjabaran pelaksanaan misi dalam pencapaian visi yang menjadi prioritas dalam pelaksanaan program dan kegiatan Walikota Bandung 5 (lima) tahun ke depan.1 INDIKATOR UMUM Indikator umum adalah sejumlah indikator makro yang akan dicapai pada tahun 2009 – 2013. Laju pertumbuhan ekonomi 9. 2. Adapun 7 (tujuh) agenda tersebut adalah : V. 3. 16.000. dengan indikator hasil akhir.07 atau penduduk Kota Bandung secara umum tergolong dalam kesejahteraan tinggi. Tahun 2005-2025. Selain itu beberapa indikator makro strategis yang ingin dicapai antara lain : 1.No 6 Tahun 2008. 4. maka target pencapaian IPM sampai akhir tahun 2013 adalah sebagi berikut : 1. Dengan mempertahankan substansi program-program yang sudah belanja pada periode sebelumnya serta mempertimbangkan kampanye Walikota.89 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 BAB V INDIKATOR KINERJA DAN AGENDA PRIORITAS 5.000.78. indikator ini terutama mengcu pada PP. Indeks Pendidikansebesar 92. Tujuan Otonomi Daerah adalah peningkatan kualitas manusia yang diukur dengan indeks Pembangunan Manusia (IPM).55. maka disusun 7 (tujuh) Agenda Prioritas untuk Tahun 2009-2013.88. Pemerataan pendapatan kategori sedang (15%-versi Bank Dunia). 2. 3.

Benah Usaha. melalui Bantuan Walikota untuk Kesehatan (Bawaku Sehat). Memantapkan toleransi dan Pembinaan Umat Beragama ( Bandung Agamis). budaya (Cultural Setting) dan peningkatan kopetensi dan profesionalisme aparatur melaui penataan aparatur dan manajemen pemerintah.2 . sistematis dan terencana atas dasar kemitraan. ii) Cikapundung Bersih iii) Sejuta Bunga Untu Bandung iv) Udara Bersih v) Gerakan Pembibitan. Reformasi birokrasi dimaksud adalah upaya yang sistematis. 3. Meningkatkan Persentasi Olah Raga dan Kepemudaan Kota Bandung (Bandung Berprestasi). reformasi birokrasi mutlak harus dilaksanakan pada setiap peranan melalui perwujudan dan interaksi yang sinergis.90 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 1. Bersamaan dengan pelaksanaan 7 (tujuh) Agenda Prioritas tersebut dilakukan juga upaya peningkatan kinerja aparat menuju Good Governance dengan melajutkan tahapan Reformasi Birikrasi yang akan dilaksanakan melekat pada pelaksanaan 7 (tujuh) Agenda Prioritas tersebut. Memantapkan kesehatan warga Kota Bandung (Bandung Sehat). Reformasi yang dilakukan merupakan perubahan tatanan yang lebih baik bukan perubahan secara parsial. Meningkatkan Kemakmuran Warga Kota Bandung (Bandung Makmur). 5. Oleh karena itu. Memantapkan Kecerdasan Warga Kota Bandung (Bandung Cerdas). Yang dimaksud dengan Bandung Hijau dan Harmonis adalah suatu keadaan yang mencerminkan adanya keselarasan. melalui bantuan Walikota untuk Pendidikan (Bawaku Sekolah). keserasian dan keseimbangan dalam memantapkan pembangunan Kota Bandung berkelanjutan dan berwawasan lingkungan yang didukung oleh 5 gerakan: i) Penghijauan dan Hemat serta Menabung Air. Bina Usaha dan Bina Lingkungan (Benah Imah. Benah Lingkungan). Dengan demikian tidak semua perubahan a V. terpadu dan konferhensif yang ditunjukan untuk merealisasikan tata kepemerintahan yang baik (Good Governance) untuk melakukan perubahan pola pikir (Mind Setting). diantaranya dengan : Bantuan Walikota untuk Kemakmuran (Bawaku Makmur) Bantuan Walikota untuk Ketahanan Pangan (Bawaku Pangan) Bantuan Walikota untuk Penduduk Lanjut Usia (Bawaku Lansia) melalui Gerakan Sayang Orang Tua (Gerakan Nyaah Ka Kolot) yang terdiri dari: Bina Perumahan. 7. 2. 6. Penanaman. 4. Memantapkan Pembangunan Kota Bandung Berkelanjutan dan Berwawasan Lingkungan (Bandung Hijau dan Harmonis). Memantapkan Pembinaan Seni dan Meningkatakan Budaya Kota Bandung (Bandung Kota Seni Budaya).

Tahun 2011: Pengembangan. yaitu : 1. Hasil yang diharapkan dari pelaksanaan reformasi birokrasi ini adalah terciptanya birokrasi bermartabat di lingkungan Pemerintah Kota bandung. 2. Makmur dalam arti mampu memenuhi kebutuhan dasar dan berkeinginan untuk mencapai kehidupan dan penghidupan yang lebih baik. Optimalisasi Potensi Pendapatan. Bersahabat dalam arti mampu bersosialisasi. Tahun 2010: Pertumbuhan . 3. memberikan teladan dan menjadi panutan masyarakat serta ramah dan bersahabat dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Kolusi dan Nepotisme (KKN). Pengembangan dan Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (EGovernment). Taat dalam arti birokrasi yang memahami dan menaati serta menjalankan norma-norma agama dan budaya serta peraturan-peraturan yang menjadi landasan dalam penyelenggaraan pemerintah. Selanjutnya kelanjutan Reformasi Birokrasi untuk Tahun 2009-2013 merupakan tahapan pemantapan serta tahun 2003-2008 dilakukan strukturisasi. Untuk itu tahapan pementapan ini dibagi menjadi beberapa tahapan rinci setiap tahun. Penerapan Pola Pelayanan Satu Pintu. 6.91 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 dapat dikategorikan sebagai reformasi. 4. 5. Tahun 2012-2013: Percepatan –Pemantapan (Pemantapan Akhir) Adapun Isu-isu strategis birokrasi di lingkungan pemerintah Kota Bandung meliputi : 1. Reformasi Birokrasi yang telah dilaksanakan pada periode Tahun 2003-2008 adalah restrukturisasi birokrasi. Birokrasi bermartabat adalah sosok birokrasi yang diharapkan dapat diwujudkan dalam penyelenggaraan roda Pemerintahan Kota Bandung yang memiliki karakteristik sebagai berikuut: Bersih dalam arti bebas dari Korupsi. Pengembangan Sumber Daya Manusia Aparatur.3 . V. 2. Peningkatan Investasi. Kriteria reformasi hanya dapat disandangkan apabila terjadi perubahan sistematis dan terencana (sistematic and planned change) yang diarahkan untuk melakukan transformasi secara mendasar dengan outcomes yang lebih baik. 4. Tahun 2009: Institusionalisasi. Penataan Kelembagaan (Institutional reform) 3.

sempadan sungai. kawasan konserfasi dan RTH lainnya) 83 SKPD 5.4 .78 12 Tahun 99. Daftar program dan indikatornya dapat dilihat pada matrik berikut ini.88 15% 81.3 INDIKATOR KINERJA DAERAH Indikator kinerja daerah adalah sejumlah indikator yang akan dicapai melalui sejumlah program yang kan dilaksanakan pada Tahun 2009-2013 Indikator ini dikelompokkan menurut misi.55 74 Tahun 31/1000 kelahiran 12 orang/tahun Bandung Sehat Bandung Kota Seni Budaya Bandung Agamis Bandung Berprestasi Bandung Hijau Reformasi Birokrasi 16% (dalam bentuk taman. V. hutan kota.33% Minimal 15% (kategori sedang) Minimal Rp. Pada dasarnya indikator ini adalah indikator-indikator sasaran guna mencapai indikator umum yang telah di sebutkan sebelumnya.16 juta per tahun 68.08% 9.92 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 Tabel V.1 Indikator Kinerja Agenda Prioritas Agenda Prioritas Bandung Cerdas Bandung Makmur Indikator Capaian Indeks Pendidikan RLS AMH LPE Tingkat Pemerataan pendapatan versi Bank Dunia PDRB Rill/kapita Indeks Daya Beli Tingkat pengangguran terbuka Indeks Kesehatan Angka harapan hidup Angka kematian bayi Jumlah Kematian ibu melahirkan Meningkatkan kesadaran masyarakat dan komunitas seni dan budaya dalam rangka pelestarian seni dan budaya secara profesional dan berkesinambungan Meningkatkan sikap toleransi dan kerukunan antara umat beragama Meningkatkan pemahaman dan pengamalan agama sesuai dengan agamanya dan keyakinan masing-masing Meningkatnya sikap toleransi dan kerukunan umat beragama Meningkatanya prestasi Cabang Olah Raga Ruang terbuka hijau publik dan private yang efektif menunjang fungsi hidrologi Meningkatnya jumlah SKPD yang bersertifikat sistem manajemen mutu (SMM) ISO 9001:2000 Target Capaian 2013 92.

39% 100% 132 Kelurahan 87. Pengadaan Obat. remaja. lansia. Pelayanan Kesehatan Khusus.55 pada tahun 2013 USIA HARAPAN HIDUP : 77.79 pada tahun 2008 menjadi 81. 1.07 pada tahun 2013 INDEKS KESEHATAN : 80.39 tahun <1% 2009 80. Usia Harapan Hidup (UHH) 3.60% 100% 134 Kelurahan 87. pangan. bahan berbahaya serta NAPZA 1. Penanggulangan Penyakit.05 tahun <1% 80.19% 100% 130 Kelurahan 87. Pembangunan sarana dan prasaranan kesehatan INDIKATOR PROGRAM 1. Program Upaya Kesehatan Masyarakat SASARAN PROGRAM 1. anak. Profesional.45 Tahun <1% 2013 80. 1. Memantapkan Kesehatan Warga Kota Bandung INDIKATOR CAPAIAN MISI IPM : 77. Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) yang memliki sertifikat.5 . Pelayanan Kesehatan dasar terhadap ibu.85 tahun <1% TARGET CAPAIAN KINERJA TAHUNAN 2010 2011 2012 80. Pengawasan dan pengendalian keamanan obat. UKBM Posyandu Aktif EKSISTING 2008 80. PHBS Rumah Tangga 2. bayi.12% 50. 60% pada tahun 2008 menjadi 80% memenuhi SPM kesehatan pada tahun 2013 PROGRAM 1. tidak menular.23% 49. Inspeksi Tempat-Tempat Umum (TTU) 1.48% 47. Cerdas.25 tahun <1% 80.70% 100% 136 Kelurahan 88. Program Pencegahan. Berahlak.60% 46. Indeks Kesehatan 2.79 73. dan Manajemen Kesehatan V.55 tahun <1% Terlayaninya masyarakat miskin yang berobat di Puskesmas dan Rumah Sakit Kelas III KETEREANGAN 100% 100% 100% 100% 100% 100% 2.00% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 3. Program Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat 40. bahan dan alkes. Cakupan Kelurahan Universal Child Imunization (UCI) 2.39 tahun pada tahun 2008 menjadi 74 tahun pada tahun 2013 ANGKA KEMATIAN BAYI dari 181 orang pada tahun 2008 menjadi : 31/1000 kelahiran hidup pada tahun 2013 JUMLAH KEMATIAN IBU MELAHIRKAN : 20 orang/tahun pada tahun 2008 menjadi 12 orang/tahun FASILITAS KESEHATAN. Fasilitas kesehatan melaksanakan SPM 126 Kelurahan 128 Kelurahan 87.36% 48. Pengembangan. Program Peningkatan Sarana. Terpenuhinya ketersediaan obat. Peningkatan akses dan mutu pelayanan keehatan rujukan 1. dan Lingkungan Sehat 4.8 pada Tahun 2008 menjadi 81. Pencegahan dan penanggulangan penyakit menular. bahan dan alat kesehatan sesuai dengan kebutuhan 2. Terselenggaranya pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin di Puskesmas dan Rumah Sakit di Kelas III yang dijamin oleh Pemerintah 1. serta inspeksi lingkungan sehat. Rumah Sakit yang terakreditasi 2. dan Berdaya Saing Tujuan Misi : 1. Status Balita dengan Gizi Buruk 4. Program Obat dan Perbekalan Kesehatan 1. Puskesmas Pelatihan Penanganan Gawat Darurat (PPGD) 3.00% 100% Target tidak bisa 100% karena vaksin campak masih tergantung pada Departemen Kesehatan 86. Pelayanan kesehatan penduduk miskin. Prasarana. Meningkatkan perilaku Hidup Bersih & Sehat (PHBS) di masyarakat dan meningkatkan Upaya Kesehatan Beersumberdaya Masyarakat (UKBM) 1.99% 100% 50% 7 RS 7 Puskesmas 21 Puskesmas 55% 9 RS 7 Puskesmas 21 Puskesmas 60% 11 RS 8 Puskesmas 30 Puskesmas 65% 13 RS 9 Puskesmas 39 Puskesmas 70% 15 RS 10 Puskesmas 48 Puskesmas 75% 17 RS 11 Puskesmas 57 Puskesmas 5. balita.93 MISI – 1 Mengembangkan Sumber Daya Manusia yang Sehat.

89% 95. Meningkatkan Rata-Rata 1.20 4.59% 1.90% 85.65% 2.29% 75. Memantapkan Kecerdasan Warga Kota Bandung ( Agenda Prioritas Bandung Cerdas ) INDEKS PENDIDIKAN : 88. Cakupan Pa/PUS Gakin 1.39% 18. RT.45% 72. Rata-rata Jumlah jiwa dalam keluarga (orang) 2.57% 81.30% 74.68% 12.70 pada 1.50% 59.30% TARGET CAPAIAN KINERJA TAHUNAN 2010 2011 2012 71.92% 20.45% 73.59% 18. Partisipasi Bina Keluarga Remaja 3.28% KETEREANGAN 7.46% 21. Partisipasi Bina Keluarga Lansia 4.15% 76. memiliki data mikro keluarga 2.22% 87.83% 12.36% 3.80% 19.59 tahun 10.08% 98.05% 131.82% 19.52 tahun pada tahun 2008 Pendidkan menjadi 12 tahun pada tahun 2013 2.34 26.74% 93.07% 77. Program 1. Cakupan laporan Pelayanan Kontrasepsi/Pengendalian Lapangan EKSISTING 2008 69. Kecamatan. Peningkatan masyarakat institusi masyarakat terhadap pengelolaan program KB 1.89% 20.05% V.05% 131.34 tahun 11.23% 88. Cakupan Pa/PUS 2.05% Tujuan Misi : 2. Prosentase APK SD/MI 10.40% 68. Peningkatan cakupan keaktifan keluarga yang memiliki anak balita.01% 15% 20% 55. dan lansia INDIKATOR PROGRAM 1. Program Wajar 1.75% 74.79% 2013 74.73% 46.16% 17.91% 73. Rata-rata Usia Kawin pertama bagi Wanita (tahun) 1.14 4.81% 2009 70. Partisipasi Bina Kemuarga Balita 2. Meningkatnya Angka 1.69% 6.60% 72.05% 131.01 tahun 11.12% 1. remaja.10% 29.01 4 4 60.71% 2.51 30. RW. Peningkatan kualitas pelayanan KB bagi Pasangan Usia Subur (PUS) terutama KB pria dan Keluarga Miskin 1.80% 62.07 4.83% 66.05% 131.05% 131.57% 91.98% 16.25% 3% 75% 20. Program Penguatan Kelembagaan Keluarga Kecil Berkualitas 10.56% 91.6 .73% 38.70% 71. Program Pemberdayaan Keluarga 9.69% 83. Program Pengembangan Sistem Informasi dan Mikro Keluarga 1. Peningkatan mutu kualitas KIE terhadap masyarakat tentang keluarga 2. KB.31% 88.94 INDIKATOR CAPAIAN MISI PROGRAM 6.67 tahun 12 tahun APK di atas termasuk 131. Keluarga Pra KS.40% 89.96% 20. Partisipasi Keluarga. Program Keluarga Berencana SASARAN PROGRAM 1.68 tahun 11. Kelurahan.91% 78. Institusi masyarakat pengelolaan Program KB aktif 1.18% 2.86 16. dan individu yang baik dan akurat 4. Peningkatan pelayanan informasi Keluarga.02 20.85% 19.7 13. dan KS 1 Alasan Ekonomi (Alek) dalam Poktan UPPKS 1.18 23. Capaian RLS tahun 2008 menjadi 92. Peningkatan akses dan fasilitas para remaja terhadap kesehatan reproduksi remaja 1.25 pada tahun Peningkatan Lama Sekolah (RLS) 2013 Kualitas Penyelenggaraan RLS : 10.91% 96. Program Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) 8.10% 65.80% 75. Meningkatkan cakupan peran pria 4. Meningkatan kemandirian ber KB 3.35% 10.02% 8.

16% pada tahun 2008 menjadi 100% pada tahun 2013 APKSMA/SEDERAJAT 98. Sekolah Gratis 2.30% 100% 123.44% pada tahun 2008 menjadi 100% pada tahun 2013 APMSMA/SEDERAJAT 75.20% 100% 123. 224 (SD/MI) 20%. Prosentase APM SMP/MTs 1. 1.13% pada tahun 2008 menjadi 100% pada tahun 2013 APMSMP/SEDERAJAT 99.65% pada tahun 2008 menjadi 100% pada tahun 2013 APKSMP/SEDERAJAT 116.02% 0.95 INDIKATOR CAPAIAN MISI AMH : 99.16% 100% 100% 100% 0% 0.13% 100% 116. Peningkatan Pendidikan mewiraswastaan yang berbasis industri kreatif 20% 25% 35% 45% 55% 65% 99. Prosentase APK SMA/MA/SMK 1. 51 (SMP/MTS) 99.16% 100% 100% 100% 0% 0% 100% (SD/MI) 100% (SMP/MTs) 100% 100% 100% 0% Pross Pendidikan dan Pelatihan di SMK mengacu kepada pendidikan kewirausahaan uang berbasis industri kreatif Target 100% khusus Kota Bandung Target 100% khusus Kota Bandung Sekolah gratis sesuai dengan Standar Pelayanan Minimal Sekolah gratis sesuai dengan Standar Pelayanan Minimal APK 100% khusus Kota Bandung APK di atas termasuk didalamnya siswa dari luar kota Bandung APK 100% khusus Kota Bandung APK di atas termasuk didalamnya siswa dari luar kota Bandung APK 100% khusus Kota Bandung INDIKATOR PROGRAM EKSISTING 2008 2009 TARGET CAPAIAN KINERJA TAHUNAN 2010 2011 2012 2013 KETEREANGAN didalamnya siswa dari luar kota Bandung APK 100% khusus Kota Bandung V.16% 100% 100% 100% 0.14% 0.40% 100% 123.50% 100% 123.51% 75. Meningkatkan APM SMP/MTs 5.13% 100% 116.51% 0.04% 100% (SD/MI) 100% (SMP/MTs) 100% 100% 96.10% 100% 123.01% 0.9% 0.13% 100% 116. Prosentase Anak Putus Sekolah SD/MI 1. Prosentase Angka Putus Sekolah SMA/MA/SMK 1.9% 0.10% 20%. Prosentase Anak Putus Sekolah SMP/MTs 1.13% 100% 116. Prosentase APM SMA/MA/SMK 1.44% 98.02% 100% (SD/MI) 100% (SMP/MTs) 100% 100% 98.4% < 100% 0.08% 100% (SD/MI) 100% (SMP/MTs) 100% 100% 91. Peningkatan Akses layanan Pendidikan bagi keluarga tidak mampu. Meningkatkan APK SMP/MTs 1.7 .13% < 100% 1. Menurunnya Angka Putus Sekolah SD/MI 6.06% 100% (SD/MI) 100% (SMP/MTs) 100% 100% 95. < 100% 2.16% 100% 100% 100% 0% 0. Peningkatan APK SMA/MA/SMK 2. 1. Prosentase APK SD/MI 123. Peningkatan APM SMA/MA/SMK 3.91% pada tahun 2008 menjadi 100% pada tahun 2013 3.16% 0.16% < 100% 4. Menurunnya Angka Putus Sekolah SMA/MA/SMK 4.51% pada tahun 2008 menjadi 100% pada tahun 2013 APMSD/SEDERAJAT 123. Beasiswa bagi keluarga tidak mampu 1. Menurunnya Angka Putus Sekolah SMP/MTs 7.88% pada tahun 2013 APKSD/SEDERAJAT 131.13% 100% 116.16% 100% 100% 100% 0% 0.50% pada tahun 2008 menjadi 99. Meningkatkan Angka Partisipasi Murni (APM) SD/MI 3. Program Pendidikan Menengah. Prosentase APK SMP/MTs 116. Pengembangan sekolah kejuruan sesuai kompetensi daerah da kebutuhan lapangan kerja PROGRAM Pendidikan Dasar Sembilan Tahun SASARAN PROGRAM Partisipasi Kasar (APK) SD/MI formal. Sekolah Gratis 3.

Peningkatan kualitas sarana dan prasarana pendidikan 1. Jumlah SMK yang bekerjasama dengan dunia industri 1.96 INDIKATOR CAPAIAN MISI PROGRAM SASARAN PROGRAM INDIKATOR PROGRAM 2. SMA/SMK/MA Kepala Sekolah dan Guru. Rehabilitasi Sedang: SD/MI SMP/MTs SMA/SMK/MA 4. SD/MI EKSISTING 2008 50% 99. Rehabilitasi Ringan: SD/MI SMP/MTs SMA/SMK/MA 1.99% 35% 100% 100% 45% 100% 100% 55% 2013 100% 100% 65% Dari seluruh warga yang memerlukan layanan pendidikan nonformal /PAUD KETEREANGAN 4. Rehabilitasi total : SD/MI SMP/MTs SMA/SMK/MA 2. Terbangunnya Ruang kelas Baru : SD/MI SMP/MTs SMA/SMK/MA 2.B. Program Pendidikan Non Formal/PAUD 1.97% 25% TARGET CAPAIAN KINERJA TAHUNAN 2010 2011 2012 100% 99. 2. Peningkatan Kuantitas sarana dan prasarana pendidikan 3. Prosentase AMH 1.50% 20% Rusak Total 30 17 2 Rusak Berat 268 29 6 Rusak Sedang 241 28 18 Rusak Ringan 1157 243 224 Kebutuhan RKB 605 143 108 55 20 18 1 21% 50% 30% 55% 100 30 20 1 40% 60% 100 30 20 1 50% 70% 150 30 20 1 65% 80% 200 33 30 1 80% 90% Seiring dengan program Merger dan Regrouping 2009 100% 99. Sanitasi Sekolah serta sarana penunjang lainnya) 65% 70% 75% 80% 85% 95% V. Peningkatan kualitas sarana dan prasarana penunjang pendidikan (Laboratorium. Peningkatan kualitas sarana dan prasarana pendidikan 5. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Pendidikan 30 17 2 268 29 6 241 28 18 357 93 74 0 0 0 0 0 0 0 0 0 800 150 150 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 Diupayakan pemeliharaan rutin secara kesinambungan 2.8 . Rehabilitasi Berat : SD/MI SMP/MTs SMA/SMK/MA 3. Peningkatan Angka Melek Huruf (AMH) 2. Ruang 3. Pembangunan Unit sekolah baru (SMA/SMK) : 1.C) & PAUD 1. SMP/MTs Perpustakaan. Meningkatnya akseibilitas pendidikan non formal (kejar paket A.

4. 1 Pusteling .96% 99% 85% 640 12000 judul 24000 eksemplar 29% - 25% 88% 87% 100% 99.9 . Jumlah Pustakawan yang mengikuti Diklat Nasional EKSISTING 2008 2009 25% TARGET CAPAIAN KINERJA TAHUNAN 2010 2011 2012 50% 75% 80% 2013 100% KETEREANGAN Dari jumlah tenaga pendidik dan kependidikan yang belum memenuhi kualifikasi minimal S1 20% 20% 84% 85% 100% 99. 5 MUPK. 3 Pusteling .2% 90% 300 13000 judul 26000 eksemplar 40% - 50% 91% 90% 100% 99. Prosentase peningkatan jumlah SDM pengelola perpustakaan 2. Manajemen pelayanan pendidikan 2. Peningkatan kualitas penyelenggaraan PSB. 5 MUPK. Peningkatan SDM pengelola perpustakaan 20% - 36% - 52% 5 pustakawan 68% 10 pustakawan 84% 15 pustakawan 100% 19 pustakawan V.97% 99. Pusteling . Pengadaan buku-buku perpustakaan masyarakat 2.97 INDIKATOR CAPAIAN MISI PROGRAM 6. 7 MUPK. 1 Pusteling . 7 MUPK. Merger dan Regrouping SD Negeri 8. Peningkatan Kualifikasi tenaga pendidik dan tenaga kependidikan 2. 1 Pusteling .8% 99% 300 27000 judul 54000 eksemplar 100% 100% Tersalurkannya siswa baru sesuai dengan aturan yang berlaku 1. 3 MUPK.6% 94% 500 18000 judul 36000 eksemplar 66% 100% 80% 96% 94% 100% 100% 99. 2. Program pengembangan Budaya Baca dan Pembinaan Perpustakaan 1. Peningkatan Mutu pelayanan penyelenggaraan pendidikan 3 MUPK.99% 99. Peningkatan pemberdayaan perpustakaan umum dan Mobil Unit Perpustakaan Keliling (MUPK) dan Perpustakaan Elektronik Keliling (Pusteling) 1.7% 96% 400 22000 judul 44000 eksemplar 77% 100% 100% 98% 96% 100% 100% 99. Peningkatan kualitas tenga pendidik dan tenga kependidikan INDIKATOR PROGRAM 1. Program Peningkatan Mutu Pendidik dan tenaga Pelayanan Kependidikan 7.98% 99. Peningkatan kuantitas dan kualitas perpustakaan 1. Peningkatan kualitas penyelenggaraan UAN/UAS Tingkat kelulusan SD/MI Tingkat kelulusan SMP/MTs Tingkat kelulusan SMA/MA/SMK 3. Pusteling . Pelaksanaan sertifikasi tenaga pendidik 1. Terwujudnya Gedung Perpustakaan yang representatif 4. Program Manajemen Pelayanan Pendidikan SASARAN PROGRAM 1. Pengadaan buku-buku perpustakaan sekolah 3.4% 92% 550 15000 judul 30000 eksemplar 55% 100% 75% 94% 92% 100% 99.

10 .79 73. Terselenggaranya perda Pengamalan Agama sesuai dengan Pengembangan Pemahaman & yang berkaitan dengan Agama dan Keyakinan masingIklim Religius. Peningkatan kerjasam antara Kerukunan Umat Beragama Peningkatan Antar Umat Beragama pemeluk agama dalam Toleransi dan pembangunan kota Kerukunan Umat Beragama Tujuan Misi : 4.82% 99.34 99. Peningkatan 1.64% 99. Rata-rata lama sekolah perempuan 5.61 99.56 10. Perempuan dalam angkatan Kesetaraan Gender kerja dalam 3.153 angkutan kerja yang bekerja Dari 396.88% - Dari 277.76% 99.72 11. Mewujudkan Masyarakat Yang Berakhlak Mulia (Agenda Prioritas Bandung Agamis) 1. Peningkatan Kerjasama 1. Sosilaisasi dan pembinaan pengamalan keagamaan serta kualitas lingkungan peribadatan 2.70% 99.68 99. Bermasyarakat dan Bernegara 1.67 11.56 thn 10. Angka harapan hidup perempuan 3.88% 99.67% 1 Kepwal 54% 34% 34% 73.27% 28.719 angkutan kerja V .67% 99. Terwujudnya Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Kehidupan Berkeluarga.46% - 50% 32% 32% 73. Meningkatkan pemahaman peran 1. Angka melek hidup perempuan 2. Meningkatkan Sikap Toleransi dan 1. Keagamaan 2. dan lingkungan agama pembangunan sarana ibadah Aktivitas Sosial di tempat umum. Program 1.34 11. Angka melek hidup laki-laki 6.56 73. Program kesetaraan gender dalam proses pemberdayaan gender kerja Peningkatan Peran pembangunan Serta dan 2.86 11. Tersedianya rumusan Kebijakan pengetahuan dan kebijakan perlindungan perempuan dan anak Peningkatan kawasan tentang perempuan dan anak (KDRT.68 73. Meningkatkan Pemahaman dan 1. Perempuan sebagai tenaga 1.12 thn 73. Peningkatan 1.76% 1 Perda 66% 38% 38% 73. Meningkatnya hak-hak perlindungan 1. Meningkatnya indeks 1. Peningkatan kualitas sarana dan prasarana ibadah di tempat umum dan kantor pemerintah 3. Program 1. Pekerja perempuan non Pembangunan pertanian (rasio) 1.40 thn 99. Meningkatnya indeks laki pembangunan gender 2.27% 30% 73. Rata-rata lama sekolah lakilaki 4.67 99.60 11.98 INDIKATOR CAPAIAN MISI PROGRAM SASARAN PROGRAM INDIKATOR PROGRAM EKSISTING 2008 2009 TARGET CAPAIAN KINERJA TAHUNAN 2010 2011 2012 2013 KETEREANGAN Tujuan Misi : 3.82% - 70% 40% 40% 74 74 12 12 99.61 11.72 73. Program keserasian 1.60 thn 10. 40% 50% 60% 70% 80% 90% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 20% 40% 60% 80% 100% 100% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 47.68 10. Anggota harapan hidup laki2. Pengamalan Agama penyelenggaraan masing Lingkungan serta peningkatan kepariwisataan dan Agamis.70% - 58% 36% 36% 73.

Mewujudkan Bandung sebagai Kota ”Layak Anak” 1. Terbentuknya Forum Peduli Anak (FPA) Dari 200 orang Dari 200 orang EKSISTING 2008 2009 TARGET CAPAIAN KINERJA TAHUNAN 2010 2011 2012 2013 KETEREANGAN 40 30 26 Gender Focal Point (GFP) 182 Satgas PUG 30 FPA 50 40 26 Gender Focal Point (GFP) 182 Satgas PUG 30 FPA 60 50 26 Gender Focal Point (GFP) 182 Satgas PUG 30 FPA 70 60 26 Gender Focal Point (GFP) 182 Satgas PUG - 80 70 26 Gender Focal Point (GFP) 182 Satgas PUG - 90 80 26 Gender Focal Point (GFP) 182 Satgas PUG - V . 1. Oraganisasi/LSM/Peduli Perempuan dan HakHak Anak INDIKATOR PROGRAM Traficking. dll) 1. Meningkatkan kapasitas dan jaringan Kelembagaan PUG dan anak 2.11 . Program Penguatan Kelembagaan Pengarusutamaan Gender (PUG) dan Pengarusutamaan SASARAN PROGRAM kesetaraan gender. Peningkatan perlindungan dan keterampilan bagi perempuan dan anak 1. pemberdayaan perempuan. Meningkatkan pendidikan dan pelatihan manjemen usaha bagi perempuan 2.99 INDIKATOR CAPAIAN MISI PROGRAM Kualitas Anak dan Perempuan 2. Program Peningkatan Kualitas Hidup dan Perlindungan Perempuan dan Anak 3.

Produktifitas komoditas pertanian .82kw/ha 143.753 Program Peningkatan 1.665 2009 8.930.Tingkat Pemerataan Pendapatan menengah versi Bank Dunia 15% (kategori 5.700 ekor 416 ekor 20.619 ekor 19.9 4.700 ekor 431 ekor 20.000 pot/thn 2.88kw/ha 137.710 15.800 696.29% pada tahun 2008 1. 11.850 Kg 104.819 ekor EKSISTING 2008 8. Mewujudkan Kerjasama dengan Daerah Lain INDIKATOR CAPAIAN MISI .439 Kg 137.4 Triliyun 4.680 TARGET CAPAIAN KINERJA TAHUNAN 2010 2011 2012 8.310 ton 521.000 Kg 58.95 13.4 Triliyun 3. Meningkatnya produksi perikanan 8.Tanaman Pangan . Meningkatnya Nilai meningkat 20% Ekspor 3.Peningkatan Indeks Daya Beli = 68.363 Kg 2. Memantapkan Kemakmuran Warga Kota Bandung (Agenda Prioritas Bandung Makmur) Tujuan Misi : 2.27 tahun 2008 PROGRAM SASARAN PROGRAM INDIKATOR PROGRAM Laju pertumbuhan ekonomi Indeks daya beli PDRB perkapita ADHK (Juta Rupiah) Nilai Investasi (Rp) 1. 16 Investasi juta dari Rp.425 ton 621.9 Triliyun 4.71% 8. Meningkatnya Volume sedang) pemasaran hasil usaha pertanian . Meningkatnya jumlah Penurunan tingkat inflasi umum sentra-sentra industri satu digit dari 10.33% 68.000 pot/thn 1.388 Kg 2.700 ekor 371 ekor 20.23% (s.727 750 Milyar 12 3.458 Kg 1. Meningkatkan jumlah unit usaha yang berdaya saing 1. Meningkatnya produksi ternak V .7 kw/ha 125.749 KETEREANGAN 15.000 pot/thn 2.5 4.12 .996 ton 221.000.100 MISI – 2 Mengembangkan Perekonomian Kota yang Berdaya Saing dalam Menunjang Penciptaan Lapangan Kerja dan Pelayanan Publik serta Meningkatkan Peranan Swasta dalam Pembangunan Ekonomi Kota Tujuan Misi : 1.032 Kg 61 kw/ha 60.414 Kg 61 kw/ha 60.13% 66.852.7 kw/ha 98.Hartikultura .Tanaman Hias 1.33% dari 8.Perikanan 1.066 Kg 116.92% 9.000 pot/thn 2.Peningkatan LPE 9. Meningkatnya poduksi pertanian 7.237.3 5. Meningkatnya nilai Peningkatan investasi .310 Kg 61 kw/ha 60.510 788 Milyar 14 3.7 kw/ha 89.725 2013 9.080 714 Milyar 10 3.50% 65.7 kw/ha 103.d triwulan potensial IV Thn 2008) 4.03 67.325 Kg 2. Peningkatan % Volume pemasaran produk pertanian dari : .000 pot/thn 2.318 Kg 2.868 Kg 61 kw/ha 60.700 ekor 356 ekor 20.4 Triliyun 3.Palawija . – sapi = 413 ekor .01kw/ha 149.11 67.166 Kg 61 kw/ha 60.319 ekor 16.18kw/ha 131. Perkembangan jumlah sentra 1. Peningkatan produksi ikan hias 1.184 Kg 123. meningkatnya jumlah pelaku usaha Ekonomi Nilai investasi berskala nasional Masyarakat 2.PDRB per kapita ADHK Rp.308 Kg 130.7 kw/ha 114.600 Kg 1.365.46kw/ha 155.345 2.7 kw/ha 109.695 14.095 ton 321.419 ekor 17.88 16 6.7 kw/ha 98. Peningkatan produksi ikan konsumsi 2.27 11.1 kw/ha 60. Nilai Ekspor (Rp) 1.200 ton 421.000 pot/thn 2.955 Kg 110. Mewujudkan Pariwisata yang Berdaya Saing Tujuan Misi : 3. Meningkatnya Unit Usaha industri kecil dan .28% 64.700 ekor 401 ekor 20.88 dari 64.516.7 4.19 12. Program 1.100 769 Milyar 13 3.819 ekor 6.1 5.9 Triliyun 3. Jumlah unit usaha 1.519 ekor 18.719 ekor 20.388 732 Milyar 11 3.Peternakan .Padi .700 ekor 386 ekor 20.000 9 3.Domba = 20.500 ton 721.

Psr. Psr. Simpang Dago) 40 Pasar (Psr. Sederhana) 36 Pasar (Psr. Psr. Psr. Jatayu. Tercukupinya kebutuhan Ketahanan Pangan pangan (beras) bagi rumah tangga miskin Program Peningkatan 1. Banceuy. Sarijadi. Gedebage) 64. Nusantara (jiwa) 3. Leuwipanjang. Psr. Formalisasi PKL 1. Psr.193.655. Psr. Sadang Serang.150.631 100% 4. Sadang Serang. TPU Gempol.715.468 208.432 RTS 100% 2. Psr.231 82. kesempatan. Psr. Mancanegara (jiwa) Menurunnya tingkat pengangguran terbuka 67. Sarijadi. Palsari) 44 Pasar (Psr.880 189. Ujungberung. Cicadas.403 100% 3. Cihapit. Saleh) 11. APBD Provinsi. Psr.967 142.334 78. Persentase julah rumah tangga miskin yang dapat bantuan pangan 1. Psr. Meningkatnya jumlah Pariwisata kunjungan wisata Pedagang formal.493 100% 4.422 80. Psr. PKL mempunyai tempat dagang yang tetap. APBD Kota dan Swasta KETEREANGAN 26 Pasar (Psr. Psr. perlindungan dan kesejahteraan tenaga kerja 15. Meningkatnya Revitalisasi Pasar Tradisional INDIKATOR PROGRAM 1. Psr. Psr. Gegerkalong. Baru. Psr. Psr.465. Psr.20% 15.051 74. Pagarsih.076 2.30% 15.952 74. Kosambi. Ciwastra. Kembang Wastukencana. Psr.027 3. Cihaurgeulis. Cimol Gedebage. Psr.953 72.13 . Sarijadi.193. Psr. Ciroyom. Psr.362 100% 3.40% 15.794 78. Karapitan. Banceuy.442. Leuwipanjang. Kebon Sirih.715 228.020. Jumlah Unit Koperasi Sehat 1.147 78.583 4. Jumlah pasar yang di revitalisasi EKSISTING 2008 180 Unit 20 Pasar (Psr.868 Tingkat Pengangguran Terbuka 15% Program Peningkatan 1. Psr.812. Psr.48% 15. Psr.684 2. Psr. Jumlah rumah tangga miskin menurun 2.530 3. Sukahaji. Parnoyanan. misalnya kios di pasar Rumah Tangga Sasaran (RTS) Setiap RTS mendapat bantuan 5 Kg/bln 25% tahun 2008 Wisman = 4. Psr. Meningkatkan status jumlah PKL menjadi pedagang formal 1. Psr. Cijerah.10% 15% V .109 2009 250 Unit TARGET CAPAIAN KINERJA TAHUNAN 2010 2011 2012 300 Unit 350 Unit 400 Unit 2013 450 Unit Revitalisasi pasar dapat dilaksanakan dengan sember perbiayaan dari APBN. Jatayu.864. Andir. Psr. Psr. Balubur.101 INDIKATOR CAPAIAN MISI PROGRAM SASARAN PROGRAM 9. TPU Kota Kembang. winus = 228. Meningkatnya koperasi yang sehat 10. ITC II.322.062 81. Psr. Balubur.371 100% 3. Kiaracondong. Peningkatan jumlah wisatawan (jiwa) 2.746. Cicaheum. Kebon Sirih. Psr.603. Menurunnya tingkat kemiskinan Program Peningkatan 1. Cikaso.800 171.320 70.346 156. TPU Gg. Anyar) 22 Pasar (Psr.020.752 3. Psr. Meningkatnya Ketenagakerjaan produktivitas.868 Meningkatnya jumlah wisatawan 12. Psr.

SASARAN PROGRAM 1. Program 1. PROGRAM 1. Program Pengembangan Pemberdayaan Masyarakat. rangka pelestarian seni budaya adat budaya daerah. 10 Kel. Berprestasi dalam Menunjang Kota Jasa Bermartabat Tujuan Misi : 1. Prosentase peningkatan peran kelembagaan dalam pembangunan sosial 1. Pengembangan ekonomi masyarakat Kelurahan. Meningkatkan fasilitasi dan koordinasi kegiatan pemberdayaan masyarakat. 2. Dukungan penghargaan daerah.) 25% 50% 20% 50% 60% 25% 75% 70% 30% 100% 80% 35% 100% 90% 40% Tujuan Misi : 2.14 . 3. Program Pemberdayaan Kelembagaan Kesejahteraan Sosial. museum bagi pengembangan budaya 3. Penguatan lembaga ekonomi masyarakat Kelurahan. Meningkatnya upaya 10% 20% dan komunitas seni budaya dalam pelestarian dan akualisasi Pengembangan nilai tradisional. 2. Kreatif. Aman. Sinergitas Kelestarian Budidaya Lokal Antar Pemerintah. Pelaku Budaya dan Masyarakat (Agenda Prioritas BandungKota Seni Budaya) Meningkatnya kesadaran masyarakat 1. Meningkatkan upaya masyarakat dan lembaga dalam pembangunan kesejahteraan sosial 1. Peningkatan partisipasi masyarakat dalam pembangunan INDIKATOR PROGRAM 1. Mewujudkan Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat (Agenda Prioritas Bandung Makmur) INDIKATOR CAPAIAN MISI Terwujudnya Kesejahteraan Masyarakat. 15% 20% kerjasama di bidang daerah 4. Nilai Budaya peninggalan secara profesional dan Daerah kesejarahan. 1. Koordinasi penanggulangan kemiskinan 2. Pemanfaatan dan pemasyarakatan teknologi tepat guna.102 MISI – 3 Meningkatkan Kesejateraan Sosial dan Mengembangkan Budaya Kota yang Tertib. Pelindungan bangunan cagar budaya 0% 0% 40% 40% 40% 60% 60% 50% 80% 80% 60% 100% 100% 70% 100% 100% 100% 100% V . 2. 10% 40% 15% (2 Kec.1. Meningkatkan peran dan fungsi lembaga kemasyarakatan melalui penguatan kelembagaan di Kelurahan. Meningkatnya pelestarian berkesinambungan kepurbakalaan. dan 10% 20% budaya lokal daerah. EKSISTING 2008 2009 50% TARGET CAPAIAN KINERJA TAHUNAN 2010 2011 2012 60% 70% 80% 2013 100% KETEREANGAN Dari jumlah orsos yang ada (150 yayasan) Dari Lembaga Kemasyarakatan yang harus ada di Kelurahan Dari Lembaga Kemasyarakatan yang mendapat stimulan Dari Jumlah Lembaga Keuangan yang ada di Keluarahan Dari jumlah lembaga Keuangan yang ada di Kelurahan Dari jumlah Kecamatan dan Kelurahan Dari jumlah kegiatan pembinaan terhadap pelaku budaya Dari jumlah kegiatan pembinaan terhadap pelaku budaya Dari jumlah budayawan yang diberi penghargaan Berdasarkan persetujuan atas permohonan 50% 30% 40% 50% 60% 70% 80% 10% 15% 25% 50% 75% 100% 2. Termanfaatkannya nilai.

Pembangunan Stadion Utama Sepak Bola (SUS) di Bandung Timur 40 % 55 % 65 % 75 % 85 % 90 % 40 % 55 % 65 % 75 % 85 % 90 % 40 % 55 % 65 % 75 % 85 % 90 % 40 % 55 % 65 % 75 % 85 % 90 % 20 Kec 20 Kec 30 Kec 30 Kec 30 Kec 30 Kec Dari jumlah kelembagaan Olahraga yang dikelola oleh masyarakat/swasta Dari jumlah partisipasi masyarakat dalam pengembangan olahraga Sarana olahraga masyarakat dan olahraga tradisional 20 % 50 % 70 % 100 % 100 % 100 % V .103 INDIKATOR CAPAIAN MISI Meningkatnya hubungan pemerintah dengan pelaku budaya dalam perlindungan dan pelestarian budaya PROGRAM SASARAN PROGRAM 2. Meningkatkan Prestasi Olahraga dan Kepemudaan Kota Bandung (Agenda Prioritas Bandung Berprestasi) 1. Meningkatnya peran 1.15 . Program 1. Program 1. Peningkatan sarana pemasaran produk seni budaya daerah 4. Pendidikan dan pelatihan Peningkatan pengetahuan dan kewirausahaan Upaya kemampuan pemuda Penumbuhan dalam kewirausahaan Kewirausahaan dan Kecakapan Hidup Pemuda 1. Meningkatnya apresiasi Pembinaan dan upaya revitalisasi olahraga terhadap pengembangan masyarakat dan tradisional Pemasyarakatan olahraga masyarakat dan olahraga tradisional Olahraga 5. Progrsm 1. Peningkatan peran masyarakat dalam pemeliharaan peninggalan budaya EKSISTING 2008 30% 10% 15% 2009 40% 20% 20% TARGET CAPAIAN KINERJA TAHUNAN 2010 2011 2012 50% 40% 40% 60% 50% 50% 80%vb 60% 60% 2013 100% 70% 80% KETEREANGAN Dari jumlah pengguna bahasa dan sastra daerah Dari jumlah kerjasama dengan daerah sekitar Dari jenis seni budaya Dari jumlah peninggalan budaya yang dipelihara masyarakat Dari jumlah orang/lembaga kepemudaan Dari anggota organisasi / lembaga kepemudaan 20% 40% 50% 60% 80% 100% Tujuan Misi : 3. Tersedianya kawasan Peningkatan olahraga masyarakat di olahraga dan sarana Sarana dan tingkat kecamatan pendukung untuk Prasarana meningkatkan prestasi Olahraga olahraga 2. Meningkatnya masyaakat dan sektor kemandirian manajemen Pengembangan olahraga swasta dalam pengelolaan Kebijakan dan keolahragaan Manajemen Olah raga 4. Meningkatnya 1. Kesediaan sarana 1. Program 1. Peningkatan kemitraan pengelolaan kebudayaan antar daerah 3. Prosentase peningkatan 1. Program 1. Peningkatan peran 3. Prosentase peningkatan Peningkatan pemuda dalam peran pemuda dan Peran Serta pembangunan lembaga kepemudaan Kepemudaan dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat 2. Penghargaan pelestarian dan pengembangan bahasa dan sastra daerah 2. Meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap bahasa dan sastra daerah INDIKATOR PROGRAM 1.

Pekerja Sosial. Jumlah partisipasi sosial partisipasi sosial dan dan potensi sumber potensi suber kesejahteraan sosial kesejahteraan sosial (Karang Taruna.700 240 100% 2.350 120 30% 600 1.222 orang tahun 2008 Jumlah 10.800 160 50% 750 2. kebutuhan hidup : terlindunginya dan Tersantuninya PMKS . Jumlah penanganan kepekaan masyarakat terhadap Pemberdayaan pengetahuan. Jumlah pemenuhan 2.Korban Traficking dalam rumah tangga (KDRT) Tahapan Pembangunan Sarana penampungan PMKS 125 30 60 20 100 625 90 120 40 200 1.625 200 240 80 400 2.Tuna Susila secara mandiri dan dapat Melaksanakan fungsi .Wanita rawan sosial ekonomi 1. Program 1.16 . Masyarakat.104 INDIKATOR CAPAIAN MISI PROGRAM SASARAN PROGRAM INDIKATOR PROGRAM EKSISTING 2008 2009 TARGET CAPAIAN KINERJA TAHUNAN 2010 2011 2012 2013 KETEREANGAN Tujuan Misi : 4.125 140 180 60 300 1.125 250 300 100 500 2.Anak Terlantar .250 200 75% 900 2. Meningkatnya 1. Meningkatkan Kepedulian dan Kepekaan Masyarakat terhadap Lingkungan Sosial Terlaksananya rasa kepedulian dan 1. Meningkatnya 1. kemandirian dan lingkungan sosial maupun fisik Fakir Miskin dan keterampilan dan kesejahteraan sosial per Penyandang kemampuan Fakir tahun : Masalah .Anak Nakal Korban serta peran sisoalnya Narkotika secara wajar . Program Pemantapan Kelembagaan Potensi Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS) 3. Jumlah profesional pekerja pengetahuan dan sosial kemampuan pekerja sosial secara profesional 60 75 90 105 120 135 Dari 100 Orang Pekerja Sosial 35 50 60 70 80 100 V .625 300 360 120 600 Jumlah 84. Meningkatnya 1.Penyandang cacat lainnya dalam mewujudkan Kesejahteraan sosial . Jumlah partisipasi sosial dan potensi sumber kesejahteraan sosial 1.200 oang tahun 2008 Jumah 116 orang tahun 2008 Jumlah 239 orang tahun 2008 Jumlah 5.Fakir Miskin Miskin dan Penynadang Kesejahteraan Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) Sosial (PMKS) lainnya . dan Organsasi Sosial) dalam pelaksanaan usaha kesejahteraan sosial 2.Lanjut Usia dalam pemenuhan Kebutuhan hidupnya .868 orang tahun 2008 Jumlah 2429 orang tahun 2008 Jumlah 6643 orang tahun 2008 Jumlah 40 orang tahun 2008 Baru tersedianya lahan panti Dari jumlah orsos yang ada (150 Yayasan) 144 450 40 10% 300 900 80 10% 450 1. Terlayaninya.

Program 1. Program Penyelenggaraan dan Pemeliharaan Ketentraman dan Ketertiban 5. Tersedianya bantuan tanggap darurat bencana 2.Program penanggulangan Bencana Alam dan Perlindungan Masyarakat 1. Terbinanya lembaga perlindungan masyarakat INDIKATOR PROGRAM 1. 10% media elektronik. Pemuda 70% 75% 85% 90% 60% dari 16000 anggota Hansip Linmas 65% 70% 75% 80% 90% Tujuan Misi : 5. Meningkatnya partisipasi pilar masyarakat/relawan dalam penangulangan bencana 1. Terselenggaranya pengamanan Pemilu dan Pilkada 2. Tingkat sosialisasi pembangunan melalui berbagai Pengembangan pembangunan daerah informasi pembangunan media Komunikasi melalui media 55% Informasi dan Media Massa 75% 100% 100% 100% 100% 30% melalui Musrenbang. Menumbuhkan dan mengembangkan peran serta masyarakat dalam keterlibatan dan keamanan 1. 15% media cetak V . Program Peningkatan Keamanan dan Kenyamanan Lingkungan 1. Agama. Tersebarnya informasi 1. Terbinanya sumber daya dan potensi perlindungan masyarakat 1.105 INDIKATOR CAPAIAN MISI PROGRAM SASARAN PROGRAM 3. Peningkatan dan kenyamanan lingkungan 100% Pemilu - - - 100% Pilkada 100% Dari 3. Buffstock berupa beras dan lauk pauk 1.17 .000 Tokoh Masyarakat. Jumlah penyerapan informasi pembangunan kesejahteraan sosial EKSISTING 2008 2009 TARGET CAPAIAN KINERJA TAHUNAN 2010 2011 2012 2013 KETEREANGAN Dari 30 Kecamatan 15 15 22 30 30 30 3. Meningkatkan Mutu Kerjasama di antara Semua Pemangku Kepentingan dalam Pembangunan Kota Bandung Memperluas akses informasi 1. meningkatnya pemahaman tentang pembangunan kesejahteraan sosial melalui penyuluhan sosial 1. Tingkat partisipasi pilar masyarakat/relawan 100% 100% 100% 100% 100% 100% Dari 1 Ton Beras Dari 100 anggota Taruna Siaga Bencana (Tagana) 50% 100% Penyelenggaraan Pilkada 65% 50 75 100% 100% 100% 4.

748 3.00 % 2.580 lt/det 100. 16/2005 tentang SPAM.998 4.100 liter/detik 2. penyediaan air baku merupakan tanggungjawab Pemerintah 5.00 % KETEREANGAN 2.50 % 2013 11.100 lt/det 22000 sumur resepan 26300 sumur resepan 28000 sumur resepan 30000 sumur resepan V .128 Tujuan Misi : 2. Menjamin Tersedianya Kuantitas dan Kualitas Air (Air Permukaan. Air dan Tanah yang Memenuhi Baku Mutu Lingkungan INDIKATOR CAPAIAN MISI 1. Terwujudnya kualitas udara yang memenuhi baku mutu lingkungan 3. Tersediaanya air baku dengan kapasitas 5. Program Pengendalian Penanaman dan Perusakan Lingkungan Hidup SASARAN PROGRAM 2.00 % 5.898 3.50 % 8.048 4.498 kendaraan bermotor yang memenuhi baku mutu 3.00 % 3. 1.00 % 3. Air Tanah Dangkal dan Dalam ) Tujuan Misi : 5.000 lt/det (termasuk yg digunakan masyarakat) 24500 sumur resepan 100.00 % TARGET CAPAIAN KINERJA TAHUNAN 2010 2011 2012 6.106 MISI – 4 Menata Kota Bandung Menuju Metropolitan Terpadu yang Berwawasan Lingkungan Tujuan Misi : 1. Meningkatnya jumlah kendaraan yang memenuhi baku mutu EKSISTING 2008 250 sumber pencemar 14 sudah memenuhi baku mutu (5 %) 2009 5. Mewujudkan Kualitas Udara. air tanah dangkal dan dalam) yang berkelanjutan Kajian bersifat sektoral dan belum terintegrasi ± 30 % ± 2. Program Perlindungan dan Konservasi Sumber Daya Alam 1. Terwujudnya kualitas air sungai dan anak sungai yang memenuhi baku mutu lingkungan INDIKATOR PROGRAM 5.18 . 11 % sungai dan anak 12. Peningkatan ketersediaan kuantitas dan kualitas air (air permukaan. Terwujudnya perlindungan dan konservasi SDA 1. Memantapkan Pembangunan Kota Bandung yang Berkelanjutan dan Berwawasan Lingkungan (Agenda Bandung Hijau) 1.500 lt/det 100.580 lt/det (air baku yang digunakan PDAM) 20470 sumur resepan Sesuai PP No. Meningkatnya kualitas air sungai dan anak sungai melalui pengendalian limbah cair dari sumber pencemar yang memenuhi baku mutu 6. 25 % lokasi sample telah memenuhi baku mutu PROGRAM 11. Program Penyediaan Air Baku 1. Program sungai yang ada di Peningkatan Kota Bandung untuk Pengendalian Posisi parameter BCD dan COD telah memenuhi baku mutu 3.000 lt/det 100.00 % 9. Tersusunnya Masterplan Penyediaan air baku untuk system penyediaan air minum Kota Bandung 2.00 % 4. Pengembangan sumber air baku dengan kapasitas produksi sebesar ± 5. Tersedianya air baku yang cukup untuk pemenuhan kebutuhan air baku masyarakat Kota Bandung 1.100 liter/detik.

86 % 104 lokasi (tertata) dan 300 lokasi (terpelihara) 16. Peningkatan luasan RTH melalui penyerahan fasos/fasum perumahan dan pembebasan lahan. Terwujudnya penambahan luasan RTH public dan private.19 . Ruang Terbuka Hijau (RTH) public dan privat yang efektif menunjang fungsi hidroorologi sebesar 16% (dalam bentuk taman. Program penataan. penguasaan. Terwujudnya peningkatan pemilihan lahan kritis 1.46 % 89 lokasi (tertata) dan 250 lokasi (terpelihara) 13.06 % 64 lokasi (tertata) dan 200 lokasi (terpelihara) 12. Terwujudnya kebutuhan sarana prasarana untuk pemeliharaan RTH. Program penyediaan sarana pembibitan RTH 3. Peningkatan tanaman produktif dalam rangka penurunan luasan lahan kritis 1. sempadan sungai.16 % 49 lokasi (tertata) dan 150 lokasi (terpelihara) 11. hutan kota.76 % V . Luas RTH ± 8. 1. Program rehabilitasi Hutan dan Lahan 2. PROGRAM 1. Program pengelolaan ruang terbuka hijau (RTH) INDIKATOR PROGRAM 1. 1. Terwujudnya kualitas dan kuantitas RTH di Kota Bandung EKSISTING 2008 66350 pohon (60 Ha lahan kritis) 2009 6000 Pohon TARGET CAPAIAN KINERJA TAHUNAN 2010 2011 2012 12000 Pohon 18000 Pohon 24000 Pohon 2013 30000 Pohon KETEREANGAN 8 lokasi pemeliharaan tanaman untuk RTH 19 lokasi (tertata) dan 50 lokasi (terpelihara) 12 lokasi 13 lokasi 14 lokasi 15 lokasi 16 lokasi 34 lokasi (tertata) dan 100 lokasi (terpelihara) 10. pemilikan. Terwujudnya peningkatan sarana dan prasarana pembibitan dan bibit tanaman 1. kawasan konservasi dan RTH lainnya). Program penataan ruang terbuka public secara berkualitas 4. penggunaan dan pemanfaatan tanah SASARAN PROGRAM 1.00 % 1.107 INDIKATOR CAPAIAN MISI 2.

00 % 0.0% 40.0% V .00% TARGET CAPAIAN KINERJA TAHUNAN 2010 2011 2012 8. 62. volume. Terbangunnya sarana prasarana pengelolaan 3R skala Kota yang didukung penataan TPS dan sarana persampahan RW yang terintegrasi mulai dari sumber sampai TPA dan sinergi dengan arah pembangunan kota Bandung serta Metropolitan Bandung. Pengelolaan sampah berwawasan lingkungan pengelolaan sampah melalui pengangkutan ke dan ekonomis dan 40% sampai tempat TPA Regional sebesar 40% ke landfill) pengelolaan dan pemprosesan akhir sampah 3. Terwujudnya pengelolaan peningkatan sampah dengan pola 3R sampah perkotaan dengan dokelola (20% 3R dan 70% terbagi 30% TPA pengelolaan (Reduce.19% 57.20 .0% 35.108 INDIKATOR CAPAIAN MISI PROGRAM SASARAN PROGRAM INDIKATOR PROGRAM EKSISTING 2008 1. sampah yang dibuang ke TPA diharapkan semakin berkurang Tujuan MISI : 3.00% 45. 2. Program 1.0% 30.19%) 2009 4.00% 10.00% 16.00% 30.00% 12.00% 40.00 % (3 lokasi percontohan ) 2500 M3/hari (62. 90 % sampah dapat 1.00% 2013 20.0% 20. pada 3R sebesar 20% melalui pemanfaatan sampah Recycle) teknologi yang perkotaan 2.00% 12.0% 25. Terselenggaranya 1. Program optimalisasi Sistem Pengelolaan Persampahan 1. Reuse. Terwujudnya pengelolaan pengelolaan sampah sampah berbasis teknologi dengan penerapan yang ramah lingkungan dan teknologi yang ramah ekonomis 30%. Tertanganinya 1.00% 51. Terbangunnya tempat pengomposan skala Kota 1.00% 20.00% KETEREANGAN Dengan penerapan 3R dan pengelolaan sampah berbasis teknologi. lingkungan dan ekonomis. Mewujudkan Pengelolaan Limbah Padat yang Efektif dan Bernilai Ekonomi 1.00 % 5. Terwujudnya pengadaan 1.00% 0.

Mewujudkan 30 % kawasan 2.0% 2009 35.0% 90. Mewujudkan perencanaan pusat primer Gedebage perencanaan perencanaan tata ruang tata ruang yang nyaman. efektif berkelanjutan yang 26/2007 tentang Penataan sesuai dengan UU Ruang penataan ruang 1. Tertatanya TPA/TPS yang tidak berfungsi lagi INDIKATOR PROGRAM 1. Merencanakan dan merevitalisai TPA yang tidak berfungsi menjadi ruang politik dan social EKSISTING 2008 25. Program 1. Rewujudnya 1. produktif dan Berkelanjutan 1.0% KETEREANGAN Sesuai dengan UU No. Revisi terhadap Perda RTRW No. sungai serta pembebasan lahan Presentase reklame yang memiliki ijin terhadap jumlah reklame yanmg terdata Tujuan MISI : 4. RTRK. Tercapainya kualitas pusat primer Gedebage penataan penataan bangunan dan bangunan dan bangun-bangunan bangunbangunan 2.109 INDIKATOR CAPAIAN MISI PROGRAM SASARAN PROGRAM 2.0% 75. terbangun dan semua Tata Ruang kota yang nyaman.0% 2013 100. 3/2006 dan penyusunan/penetapan RDTR. jembatan. Nyaman. Mewujudkan penataan penyelenggaraan reklame melalui perijinan (6000 reklame terdata) 60% 90% 100% 100% 100% 100% 4% 6% 12 % 18 % 24 % 30 % 5% 15 % 25 % 50 % 75 % 100 % V . Menyediakan Ruang Kota yang Aman. DED dan RTBL Secara bertahap telah dilakukan pembangunan dan peningkatan jalan.21 . produktif dan berkelanjutan pusat WP berfungsi produktif dan sesuai dengan UU No. pemerintah daerah harus membuat perencanaan penutupan TPA dengan system pembuangan terbuka paling lama 5 (lima) tahun sejak berlakunya UU ini.0% TARGET CAPAIAN KINERJA TAHUNAN 2010 2011 2012 50. 18/2008 pasal 44. Program 1. Minimum 30% kawasan 1.

00 % 95. Program pengembangan perumahan SASARAN PROGRAM 1.253 PJU (laporan serah terima dari Distam ke DBNP) Tujuan Misi : 6. 8 KM 132. Tamansari. Program pengendalian pemanfaatan ruang 3. fasos dan fasum) 2. Perlu didukung partisipasi pihak swasta dan Pemerintah Pusat.388 titik 42. Terbangunnya jalan berkondisi baik jembatan sepanjang 20 KM (dari APBD Kota) Pembangunan jalan baru 0 sepanjang 10.00 % 90.019 pembangunan jalan sepanjang 222.946. Menyediakan Sistem Transportasi yang Aman. Program Pemanfaatan ruang 2. Efisien. Braga dan Cicadas. maka panjang jalan 10. Terjangkau dan Ramah Lingkungan 1.00 % KETEREANGAN Mewujudkan pemanfaatan ruang yang tertib 75. Jamika. Tertibnya pelayanan perijinan PROGRAM 1. Terwujudnya tertib pemanfaatan ruang 1. 4 KM 87.00 % 2013 100. Tersedianya pembangunan perumahan sehat. Luas jalan minimal 3 % 1.712 M 8 KM 416.M 20 KM 10420 KM 18500 titik 4000 titik 18750 titik 2500 titik 19000 titik 2500 titik 19250 titik 2500 titik 19500 titik 2500 titik V . dan terjangkau INDIKATOR PROGRAM EKSISTING 2008 2009 80. 16 KM 222. Nyaman.M 4 KM 208.712 M Km2) dan 100 % jalan dan Pembangunan jalan baru 0 2.425 M dari wilayah Kota (5.00 % TARGET CAPAIAN KINERJA TAHUNAN 2010 2011 2012 85. Program peningkatan sarana dan prasarana kebinamargaan Terbangunnya dan terpeliharanya PJU Kota Bandung Terbangunnya PJU baru Perbaikan PJU 18253 titik 4.712.712.110 INDIKATOR CAPAIAN MISI 2. Terkendalinya pemanfaatan ruang di Kota Bandung 1.12 KM 177. Terpeliharanya kondisi Peningkatan pelayanan jalan 63.712 M 12 KM 625.00 % Memfasilitasi dan simulasi pembangunan perumahan masyarakat kurang mampu Rusun Indal dan Cingised FS Rusun DED Rusun Rencana pembangunan Rusun Rencana pembangunan Rusun Rencana pembangunan Rusun Rencana Rusun Sadang Serang.22 .440 KM Jumlah titik PJU sampai awal tahun 2008 sebesar 18. nyaman. Luas jalan Kota Bandung pada akhir tahun 2008 sebesar 4.08 KM2 atau dengan asumsi lebar jalan 7m .712 M 16 KM 833.92 KM2 sehingga masih kurang 73. Program 1.420KM (dari non APBD Kota.

marka parker 4. Antapani-Laswi-St. marka parker 4.940 m2. Terwujudnya kecepatan rata-rata minimal 25 km/jam EKSISTING 2008 0 2009 1 koridor TARGET CAPAIAN KINERJA TAHUNAN 2010 2011 2012 2 koridor 3 koridor 4 koridor 2013 5 koridor KETEREANGAN Pembentukan konsorsium dengan perbandingan TMB dan angkot sebesar 1 : 3 3.940 m2. Tersedianya fasilitas perlengkapan jalan 13 km/jam 17 km/jam 19 km/jam 21 km/jam 23 km/jam 25 km/jam Kapasitas jalan yang tidak cukup menampung pertumbuhan kendaraan 2. Tersedianya fasilitas parker khusus (gedung/taman parkir) Kota Bandung ATCS 200. sesuai dengan rencana induk transportasi umum Kota PROGRAM 1. Terpeliharanya rambu jalan marka dan traffic light/ATCS ATCS 200. 25 % dari rencana prasarana SAUM terbangun. rambu 500 70 Halte 0 0 1 lokasi 2 lokasi 3 lokasi 4 lokasi Target 15 halte per tahun perlu keterlibatan pihak Pemerintah dan Swasta Target 1 lokasi per tahun V . marka jalan 12. Antapani-Laswi lingkar selatan) 1.23 .940 m2.940 m2 rambu 500 89 Halte 2. marka parker 4.000 m2 marka parker 4. Program peningkatan pelayanan angkutan SASARAN PROGRAM 1. marka jalan 12. marka jalan 12.111 INDIKATOR CAPAIAN MISI 2. Tersedianya halte angkutan umum 2. Teratasinya aspek-aspek penyebab kemacetan sebanyak 5 aspek 1. Terwujudnya prasarana dan sarana perhunungan yang efisien dan nyaman 1.000 m2. rambu 500 10 Halte ATCS 200. rambu 500 40 Halte ATCS 200. marka parker 4.940 m2. rambu 500 25 Halte ATCS 200. marka jalan 12. marka jalan 12.000 m2.940 m2.000 m2. Hall. Hall. Terwujudnya operasional angkutan umum massal di 5 Koridor (CibeureumCibiru.000 m2. marka parker 4. marka jalan 12. Margahayu-St. Program pembangunan prasarana dan sarana perhubungan 2. Tersedianya angkutan umum missal yang nyaman dan terjangkau INDIKATOR PROGRAM 1. rambu 500 55 Halte ATCS 200.000 m2. CicaheumCibeureum. Program pengendalian dan pengamanan lalu lintas 1.

194 m 17.55 km). 0 % 23 lokasi 2009 67 % penduduk dilayani air bersih 20.00% 42.112 INDIKATOR CAPAIAN MISI PROGRAM SASARAN PROGRAM INDIKATOR PROGRAM EKSISTING 2008 65% penduduk dilayani air bersih rata-rata durasi pengaliran 16jam/hari 46 sungai dan anak sungai (panjang 255.000 m 205.00% 40.00 % 9 lokasi 73 % penduduk dilayani air bersih 80. Program pembangunan saluran drainase (gorong-gorong) 3.000 M 9. Terpeliharanya keamanan kota terbentuk integrasi pengendalian banjir lingkungan sungai per wilayah pelayanan banjir sepanjang 7. Membangun saluran baru dan memelihara saluran 1.994 m 3. 75 % penduduk dilayani 1.994 M 1. Meningkatnya fungsi trotoar sebagai fasilitas pejalan kaki yang nyaman dan aman 1. Terwujudnya peningkatan sanitasi melalui penataan air limbah 1.00%% V . Jaringan drainase primer 1.317 m Penanganan lereng bantaran dan sediment sungai Pengendalian banjir terkait dengan perilaku masyarakt dalam membuang sampah ke sungai dan drainase Pembangunan saluran drainase dan goronggorong terpadu Pengangkatan sediment sungai 104.317 M 1. Program pengembangan pengelolaan dan konvensasi sungai. Mewujudkan Sarana dan Prasarana Lingkungan yang Memenuhi Standar Teknis / SPM 1.000 m 520.594 m 21.827 m 6. Meningkatkan penataan lingkungan sungai 1. Program Pengembangan Kinerja Pengelolaan Air Minum dan Air Limbah 1. 75 % masyarakat kota peningkatan pengaliran air bersih Bandung mendapatkan air bersih dengan ratarata pengaliran air 120 kapasitas dan kepada masyarakat pelayanan air bersih lt/orang/hari dengan cakupan system perpipaan pengaliran kontinu 24 pelayanan air jam bersih 2. Terwujudnya peningkatan pelayanan trotoar sepanjang 21.00% 46. 50% kawasan kota terlayani oleh system penanganan air limbah yang terpadu dengan IPAL 38.835 m 4.317 m 35. Meminimalkan potensi 1.500 M drainase kota 50 % 2.000 m 310.817 m 19.394 m 8.00% 44. Terpeliharanya kelancaran pengairan air sungai sepanjang 520.00 % 10 lokasi 71 % penduduk dilayani air bersih 60. Meningkatkan layanan 1. Program pengembangan dan pembangunan trotoar 1.00 % 9 lokasi KETEREANGAN Terkait langsung dengan program penyediaan air baku Tujuan Misi : 7.000 m 415.00% 50.817 m 27.000 m 1.24 .000 m 100. Program 1. Program 1. Berkurangnya lokasi banjir system drainase kota di Kota Bandung dari 68 terpadu lokasi 2. Terwujudnya kelancaran pengaliran air saluran jalan sepanjang 35.794 m 13. danau dan sumber daya air lainnya 4.00 % 8 lokasi TARGET CAPAIAN KINERJA TAHUNAN 2010 2011 2012 69 % penduduk dilayani air bersih 40.317 m 12. Pengembangan system pengelolaan sanitasi air limbah Kota Bandung dengan cakupan 50% 6.00 % 9 lokasi 2013 75 % penduduk dilayani air bersih 100.

prosedur dan manual pencegahan kebakaran pada 1000 bangunan baru Berkurangnya kejadian kebakaran secara bertahap Berkurangnya kerugian akibat bahaya kebakaran (Milyar Rupiah) 1. Program Terkendalinya kerugian pelayanan prima kebakaran melalui dalam pemebuhan standart pencegahan dan Respond Time (SRT) 15 penanggulangan menit (kondisi saat ini ± 20 kebakarandan menit) bencana lainnya Terwujudnya system proteksi kebakaran pada bangunan sesuai norma.575 m 2.92 100 kebakaran 8.03 90 kebakaran 7. Mewujudkan Mitigasi Bencana yang Handal 1.000 m 1500 m 0 775 m 0 2475 m 1500 m 4175 m 3000 m 5875 m 4500 m 7575 m 6000 m V . Program Keadaan pemilik/pengelola organisasi yang peningkatan bangunan akan menangani kebencanaan kesiapan kelengkapan system kesiagaan dan proteksi kebakaran pada pencegahan bangunan bahaya kebakaran 2.01 120 kebakaran 9. Meningkatkan fungsi 1. Terwujudnya kembali keamanan lingk.400 bangunan Perlu penerapan manajemen bencana yang terintegrasi dalam menghadapi bencana alam maupun non alam Untuk mencapai SRT 15 menit perlu didukung oleh penyediaan SDM. Sungai air sepanjang 6. peran serta masyarakat/Satwanker (SRT saat ini ± 20 menit) 141 kebakaran 12.24 3. standar.91 110 kebakaran 8. sarana prasarana (mobil pemadam kebakaran dan motor unit reaksi cepat). Terwujudnya kembali pelayanan jalan sepanjang 7.24 130 kebakaran 11.25 . Program tanggap darurat bencana alam Terlaksananya penanganan darurat bencana alam 1. pos kewilayahan. hydrant.113 INDIKATOR CAPAIAN MISI PROGRAM SASARAN PROGRAM INDIKATOR PROGRAM EKSISTING 2008 2009 200 bangunan TARGET CAPAIAN KINERJA TAHUNAN 2010 2011 2012 400 bangunan 600 bangunan 800 bangunan 2013 1000 bangunan KETEREANGAN Tujuan Misi : 8.

Tingkat partisipasi masyarakat dalam perencanaan daerah 1. sosiologi dan filosofis INDIKATOR PROGRAM 1. Penindakan terhadap Pelanggaran Peraturan Daerah 2. Penindakan terhadap Pelanggaran Displin Aparatur 1. Terwujudnya penegakan Hukum dan HAM sehingga dapat mendukung ketertiban dan keamanan serta semakin berkurangnya praktek KKN di lingkungan birokrasi 4. Program peningkatan sarana dan prasarana aparatur 1.26 .114 MISI-5 Meningkatkan Kinerja Pemerintah Kota yang Efektif. program perencanaan pembangunan SASARAN PROGRAM 1. Tingkat kinerja perencanaan daerah 2. Pengadaan kantor Kecamatan dan Kelurahan . Terwujudnya Tata kelola Pemerintahan yang Baik melalui Pemantapan Reformasi Birokrasi (Agenda Prioritas Reformasi Birokrasi) INDIKATOR CAPAIAN MISI 1. Meningkatnya pemahaman masyarakat dan aparat dalam penetapan produk hukum yang sinergi dengan perkembangan kebutuhan masyarakat serta sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku 3. analisa dan waktu Rembug warga (SK 278/2000) dan Musrenbang (SPPN) 65 % 70 % 75 % 85 % 90 % 95 % 2. program pembangunan Hukum Daerah 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % (38 perkara) 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % Dari permintaan Bantuan Hukum yang disetujui 1. Meningkatnya sinergitas dan kualitas penataan produk hukum daerah 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 170 163 25 % 171 165 40 % 174 172 60 % 178 176 80 % 181 181 100 % 181 181 100 % 0 0 50 % 75 % 100 % 100 % V . Terbangunnya pola perencanaan dan pengelolaan data PROGRAM 1.Pembangunan Kantor 2. efisien. Legislasi produk hukum daerah (produk hukum yang sesuai dengan kebutuhan masyarakar) 2. Meningkatnya ketersedianya sarana dan prasarana bangunan untuk mendukung pelayanan kepada masyarakat 1. Sertifikasi kepemilikan tanah asset Pemerintah Kota Bandung 3. Sosialisasi dan publikasi produk hukum daerah 3. Program penataan perundangundangan 1.Pengadaan Lahan . Meningkatnya kualitas produk hukum daerah yang memenuhiaspek yuridis. Pengadaan sarana dan pengolahan data penyampaian arsip (Gedung Depo Arsip Daerah) EKSISTING 2008 65 % 2009 70 % TARGET CAPAIAN KINERJA TAHUNAN 2010 2011 2012 75 % 85 % 90 % 2013 95 % KETEREANGAN Ketersediaan dan validasi data. Tersaedianya sarana dan prasarana aparatur yang memadai 1. meningkatnya sinergitas perencanaan pembangunan 2. akuntabel dan transparan dalam upaya meningkatkan kapasitas pelayanan kota metropolitan Tujuan Misi : 1. Tingkat pelayanan bantuan Hukum/penanganan perkara 1. Meningkatnya kualitas dokumen perencanaan makro dan sektoral yang pro publik 1.

291 org) 78 % (13.Bandung electronic Controling th 2011 .Bandung electronic Procurement (BEP) th 2010 . Tersedianya SDM aparatur yang bertanggungjawab tepat fungsi tepat posisi sesuai peraturan perundangundangan yang berlaku PROGRAM 1. Tingkat pelayanan online system perpajakan 3.115 INDIKATOR CAPAIAN MISI 5.821 orang dan Diklat dalam jabatan 240 orang 1 : 97 82 % TARGET CAPAIAN KINERJA TAHUNAN 2010 2011 2012 Diklat Diklat Diklat prajabatan prajabatan prajabatan 998 orang dan 700 orang dan 400 orang dan Diklat dalam Diklat dalam Diklat dalam jabatan 250 jabatan 300 jabatan 350 orang orang orang 1 : 100 84 % 1 : 102 90 % 1 : 105 95 % 2013 Diklat prajabatan 400 orang dan Diklat dalam jabatan 400 orang 1 : 107 100 % KETEREANGAN 2. Meningkatnya kapasitas sumber daya aparatur INDIKATOR PROGRAM 1. Program pembinaan pengembangan dan peningkatan kapasitas aparatur SASARAN PROGRAM 1.Bandung electronic Budgeting th 2010 . kel.848 orang dan Diklat dalam jabatan 170 orang 1 : 95 (jumlah aparatur sebanyak 24.158 org) 2009 Diklat prajabatan 1. Meningkatnya kapasitas penyelenggaraan ekonomi daerah pemerintah daerah dan pemerintah wilayahKecamatan dan Kelurahan 1.27 . simpag. Program pemantapan Reformasi Birokrasi 1. Tingkat pelayanan public berbasis informasi teknologi guna mendukung Bandung Cyber city (E-Goverment) 10 % 25 % 60 % 100 % 100 % 100 % 2. kec dll) V . Intergrasi jaringan system informasi daerah 4.Bandung electronic Delivery and evaluating th 2011 6. simduk.Bandung electronic Planning Project th 2010 . Tingkat koneksi data kepemdudukan di 2 Wajib Pajak 25 % - 50 WP 50 % 50 % 75 WP 100 % 100 % 100 WP 100 % 100 % 125 WP 100 % 100 % 150 WP 100 % 100 % Simda (Simkeu. Tingkat pemenuhan jabatan fungsional 3. Pola intensif dan penggajian berdasarkan kinerja 90 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % . Ratio jumlah aparat dengan jumlah penduduk 2. Tingkat pemenuhan kebutuhan operasional aparatur unit kerja SKPD/UPT/UPTD untuk mendukung kinerja pegawai dan pelayanan public 4. Terlaksananya Reformasi Birokrasi 1. Meningkatnya pembinaan dan pengembangan kinerja aparatur 1. Tingkat kapasitas Sumberdaya aparatur EKSISTING 2008 Diklat prajabatan 1.

Sangat Baik 2. Tingkat Apresiasi terhadap politik dan pemilu 19 Bidang kewenangan 30 % 75 % 100 % 20 % 70 % 80 % 100 % 40 % 90 % 85 % 100 % 60 % 100 % 90 % 100 % 80 % 100 % 95 % 100 % 100 % 100 % 100 % 100 % Pengaduan masyarakat ditindak lanjuti EKSISTING 2008 2009 TARGET CAPAIAN KINERJA TAHUNAN 2010 2011 2012 2013 KETEREANGAN 7. Kurang Baik 5. Program kelembagaan dan ketatalaksanaan 1.-28 V 6 . Meningkatnya kesadaran masyarakat akan ideology dan wawasan kebangsaan 1. prosedur dan criteria penyelenggara pemerintah 1. Tingkat kinerja pelayanan perizinan satu atap 1. Meningkatnya Pemahaman 1. Buruk 9. Cukup Baik 4. kecamatan serta Dinas Kependudukan dan Catatan sipil 5. Tingkat kinerja pengawasan 2. Program pendidikan politik 3 3 3 2 2 2 10. Tersedianya norma standar. Meningkatnya jumlah SKPD yang bersertifikasi Sistem Manajemen Mutu (SMM) ISO 9001 : 2000 1. Tingkat Perlimpahan urusan pemerintah daerah 6. Baik 3. Jumlah SKPD yang menerapkan SMM ISO 9001 : 2000 1. Sangat Baik 2. Meningkatnya kenyamanan dan 13 27 41 55 69 83 1 3 6 9 12 15 1. Tersosialisasinya kebijakan tentang pengawasan 8. Terbangunnya ketertiban dan 1. Mewujudkan peran dan fungsi pengawasan internal pemerintah daerah 1. Cukup Baik 4.116 INDIKATOR CAPAIAN MISI PROGRAM SASARAN PROGRAM INDIKATOR PROGRAM kelurahan. Tersedianya Standar Operasional Prosedur (SOP) pada SKPD 1. Terwujudnya kelembagaan pemerintah daerah yang efektif dan efisien 2. Buruk 1. Tingkat ketentraman dan ketertiban masyarakat 3 3 3 2 2 2 V . Program pemeliharaan ketentraman dan ketertiban umum serta perlindungan masyarakat 1. Baik 3. Program pengawasan pembangunan daerah 1. Kurang Baik 5. Tingkat pelayanan pengaduan masyarakat 1.

Terlaksananya Obligasi daerah dan Road Fund 0 EKSISTING 2008 2009 TARGET CAPAIAN KINERJA TAHUNAN 2010 2011 2012 2013 KETEREANGAN 60.2 Milyar 9.3 Milyar 98.1 Milyar 21. Peningkatan Pendapatan dari pajak dan retribusi dari : Pajak Hotel Pajak Restoran Pajak Hiburan Pajak Reklame PPJ Parker Retribusi 1.5 milyar 21. Mewujudkan Anggaran Pemerintahan yang Optimal Tujuan Misi : 2.8 Milyar 81.5 Milyar 82.7 Milyar 23.2 Milyar 117.0 Milyar 25.7 Milyar Pelaksanaan Obligasi daerah dan Road Fund Obligasi daerah dan Road Fund Terimplementasikannya instrument pembiayaan pembangunan non konvensial V .8 Milyar 74.7 Milyar 8.8 Milyar 23.1 Milyar 32.3 Milyar 87.2 Milyar Perumusan instrument kebijakan Obligasi daerah dan Road Fund 78.8 Milyar 68.9 Milyar 104.1 Milyar 98.4 Milyar 5.0 Milyar 72.9 Milyar Perumusan instrument kebijakan Obligasi daerah dan Road Fund 89.3 Milyar 51.8 Milyar 78.1 Milyar 28.2 Milyar 93.117 MISI-6 Meningkatkan Kapasitas Pengelolaan Keuangan dan Pembiayaan Pembangunan Kota yang Akuntabel dan Transparan Dalam Menunjang Sistem Pemerintahan yang Bersih dan Berwibawa Tujuan Misi : 1.0 Milyar 78.8 Milyar 7.7 Milyar 92.8 Milyar 28.9 Milyar Sosialisasi dan uji coba Obligasi daerah dan Road Fund 99.29 .4 Milyar 17. Meningkatnya pendapatan daerah INDIKATOR PROGRAM 1.2 Milyar Pelaksanaan Obligasi daerah dan Road Fund 111. Mewujudkan Peran serta Aktif Masyarakat dan Pembiayaan Pembangunan Kota INDIKATOR CAPAIAN MISI Rata-rata peningkatan pendapatan 13 % PROGRAM 1.8 Milyar 36.3 Milyar 5.2 Milyar 41.5 Milyar 6.9 Milyar 66.9 Milyar 87.5 Milyar 57.6 Milyar 32.1 Milyar 73. Program peningkatan dan pengembangan pengelolaan keuangan SASARAN PROGRAM 1.

118 INDIKATOR CAPAIAN MISI Terumuskannya kerjasama instrument insentif fisikal antar tingkat pemerintahan Beberapa Intensif fiscal untuk masyarakat dalam pembangunan pelaksanaan dan pemeliharaan barang dan jasa diterapkan Terbentuknya perusahaan patungan untuk beberapa layanan jasa umum dan barang Terbangunnya instrument pembiayaan pembangunan non konvensional berbasis masyarakat PROGRAM Program pengembangan kemitraan pembiayaan pembangunan daerah SASARAN PROGRAM Berkembangnya kemitraan pembiayaan – pembiayaan pembangunan daerah INDIKATOR PROGRAM 1. Terlaksananya instrument pembiayaan pembangunan non konvensional berbasis masyarakat EKSISTING 2008 2009 Perumusan instrument kebijakan Sistem Intensif TARGET CAPAIAN KINERJA TAHUNAN 2010 2011 2012 Penetapan instrument kebijakan Sisten Intensif Sosialisasi dan uji coba Sistem Intensif Pelaksanaan Sistem Intensif 2013 Pelaksanaan Sistem Intensif KETEREANGAN 0 0 0 Perumusan instrument kenijakan kelembagaan perusahaan patungan Perumusan instrument pembiayaan pembangunan non konversional berbasis masyarakat 0 Penetapan instrument kenijakan kelembagaan perusahaan patungan Penetapan instrument pembiayaan pembangunan non konversional berbasis masyarakat 0 Terbentuknya perusahaan patungan Pelaksanaan instrument pembiayaan pembangunan non konversional berbasis masyarakat 1 proyek Operasional perusahaan patungan Pelaksanaan instrument pembiayaan pembangunan non konversional berbasis masyarakat 2 proyek Operasional perusahaan patungan Pelaksanaan instrument pembiayaan pembangunan non konversional berbasis masyarakat 3 proyek Bantuan Teknis dari BAPPENAS untuk 3 proyek 5. Terlaksananya system intensif untuk sector masyarakat dalam pembiayaan penyediaan barang dan jasa 3. Terlaksananya system insentif untuk sector swasta dalam pembayaran penyediaan barang dan jasa 2. Meningkatnya proyek pembangunan non konversional melalui kerjasama pemerintah dengan swasta 0 V .30 . Terbentuknya perusahaan patungan untuk beberapa layanan jasa umum dan barang politik 4.

(d) Pelaksana Good Governance. VI .1 PEDOMAN TRANSISI Dokumen RPJMD Tahun 2009-2013 ini disusun seiring dengan Walikota terpilih dalam hal akhir masa jabatan Walikota dan belum tersusun RPJMD tahap berikutnya. khususnya pada programprogram pembangunan yang relative strategis dan membawa kesejahteraan serta kemaslahatan rakyat. 2. dokumen ini menjadi pedoman bagi penyusunan Rencana Strategis (Renstra) SKPD. Kaidah-kaidah pelaksanaan adalah sebagai berikut : 1. (c) Kerja keras dan kesungguhan segenap aparat pemerintah. SKPD menyusun Rencana Strategis yang kemudian digunakan untuk menyusun Rencana Kerja. Bagi masyarakat dan stakeholders. Hal ini berlaku sampai disusun kembali RPJMD untuk masa berikutnya. masyarakat serta dunia usaha berkewajiban melaksanakan atau mendukung program-program dalam RPJMD Kota Bandung Tahun 2009 – 2013 dengan sebaik-baiknya. Rencana Kerja (Renja) SKPD dan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) selama periode tersebut. (e) Keberpihakan kepada rakyat. 6. maka RPJMD Tahun 2009-2013 ini dapat menjadi dasar.119 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 BAB VI PENUTUP 6.1 .2 KAIDAH PELAKSANAAN Rencana pembangunan jangka menengah daerah Kota Bandung Tahun 2009-2013 adalah pedoman bagi pemerintah Kota Bandung dan masyarakat di dalam penyelenggaraan pembangunan daerah. Unsur pemerintah. (f) Partisipasi masyarakat dan dunia usaha serta (g) Kedisplinan. ketertiban masyarakat dan kehidupan bermasyarakat. dokumen ini menjadi pedoman dan rujukan dalam menyatukan gerakan dalam rangka membangun Kota Bandung. (b) Konsentrasi. Bagi pemerintah Kota Bandung. Kebersihan pencapaian pembangunan dapat dicapai apabila didukung dengan (a) Komitmen kepemimpinan daerah.

2 . 4. Pemerintah Kota Bandung berkewajiban memantau dan mengevaluasi pelaksanaan rencana tersebut. WALIKOTA BANDUNG TTD DADA ROSADA SEKRETARIS DAERAH KOTA BANDUNG EDI SISWADI VI .120 RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA BANDUNG TAHUN 2009 – 2013 3. Pemerintah Kota Bandung berkewajiban menjamin konsistensi antar dokumen perencanaan tersebut.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful