Anda di halaman 1dari 4

Episode Cinta Untuk Bunda

'Ingin kupintal benang-benang kasih untukmu, Bunda,


Tuk kujalinkan bagimu sebagai rajutan jubah surga.
Meski pun ku tahu itu sungguh,
Bahwa sejatinya balasan apapun dari diriku
Sejatinya tiada akan pernah setimpal.

Langit merekah cahaya. Semesta baru sekejap menjemput pagi, kala
selengking tangis seorang bayi memecah hening subuh dengan
sempurna. Mata peri itu bercahaya. Di antara kabut pagi buta ia
berpendar, syahdu menatap seraut wajah merah, mungil, rapuh, yang
disodorkan ibu bidan ke dalam dekapnya. Mata peri itu berkerjap,
membuncahkan suka cita yang meluap ruah. Betapa pun tubuh itu
sesungguhnya payah. Betapa pun badan itu sepayah-payahnya letih.
Namun senyumnya tak henti merekah lebar, menyaksikan tangis kuat
bayinya yang menendang sehat. Dalam itu semua, ia tak pernah
sepatahpun melontarkan keluh. Ya, ialah sosok mata peri itu. Ialah sosok
yang disebutkan baginda Rasulullah saw. memendam surga di bawah
telapaknya. Ialah, ibunda.
Ialah ibunda, sosok mulia yang senantiasa memancarkan kasih tak
terperi dari hari ke hari. Satu-satunya sosok yang benar-benar bersedia
membagi separuh jiwa, raga dan hidupnya untuk kita di dunia.
Bahagianya adalah bila kita tersenyum. Ketakutannya adalah bila kita
menangis. Deritanya adalah bila kita terluka.
Tuhan, bagaimana Engkau menciptakan sosok mulia itu.
Hingga pengabdian seumur hidup padanya pun takkan mampu
membayar pengorbanannya. Hingga ridha-Mu pun bergantung pada
keridhaannya. Hingga berkata 'ah kepadanya pun Engkau
laknatkan.

Lihatlah bagaimana mata peri itu kan merautkan gundah tiada banding,
saat kita terbaring merintih sakit. Setia beliau terjaga di sisi ranjang.
Lekat mengawasi kita dengan punggung tegak yang disangga hanya
dengan kursi kayu keras. Sekalipun itu hanya demam panas biasa. Yang
sekedar dikompres handuk basah pun bisa saja.

Ingatlah bagaimana bintang kejora yang membayang di matanya itu
memecah geram. Tatkala kita bandel mengerjakan larangannya dan
menjauhi perintahnya`. Saat sedikit saja mencoba berani menantang
bahaya, atau bahkan saat sekedar bermain kebanyakan hingga lupa
belajar dan nilai ulangan kebakaran` . Maka tak ayal lagi, nasihat
wejangannya, yang seringkali oleh jiwa remaja kita anggap ceramah,
kan segera mengalir tanpa perlu dipinta. Kuping remaja tanggung kita
pun merespon ucapan-ucapan mutiara itu dengan penuh enggan. Aksi
tutup kuping cuek bebek pun kita lancarkan. Namun, sungguh mata
kejora itu sama sekali tak mengguratkan geram yang terbakar amarah.
Melainkan geramnya itulah penanda kasihnya. Kasih yang bersumber
dari mata air sayang yang selalu mengalir tak pernah kering. Itulah kasih
sayangnya, kasih sayang ibunda.

Dan, kejora yang bersinar di matamu, Bunda, takkan kubiarkan luruh.
Walau semenit, walau sedetik sekalipun.








Hanya bias senyum di wajah bunda itulah yang sanggup menjadi
penanda hatinya, tatkala menyaksikan pipi-pipi kecil itu mulai
menggembung sehat, menyunggingkan senyum kecil imut lucu nan
menggemaskan. Tatkala bunda melihat gigi-gigi susu putih itu mulai
tumbuh dari gusinya yang lunak dan merah. Tatkala bunda membimbing
kaki-kaki kecil itu mulai menjejak langkahnya yang pertama di bumi
Allah. Membuncahlah bahagia di mata peri itu, yang sedikitpun tiada
hendak ditukar sekalipun dengan dunia dan seisinya.

Hingga akhirnya bayi mungil itu pun beranjak kanak-kanak dan
remaja.

Sementara kasih sayang anakmu ini Bunda,