Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH IPA TERPADU

PENGGUNAAN PESTISIDA KIMIAWI DALAM INDUSTRI PERTANIAN, KAJIAN ASPEK DAN DAMPAK LINGKUNGAN

Oleh Jul Hasratman, S.Si (Dosen Pengampu Mata Kuliah : Dr. Afreni Hamidah, M.Si)

MAGISTER PENDIDIKAN IPA KONSENTRASI PENDIDIKAN KIMIA

PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS JAMBI 2011

PENDAHULUAN

Negeri dengan populasi tinggi sebesar Indonesia, dengan penduduk sekitar 250 juta mutlak membutuhkan perhatian besar terhadap aspek industri pertanian. Kebutuhan pangan penduduk yang begitu banyak, dengan keinginan maju yang amat kuat dari segenap rakyat, sangat membutuhkan pola pengelolaan industri pertanian yang mapan dan masif sebagai pendukung utama ketahanan pangan. Mengandalkan impor pangan adalah sebuah kemunduran ekonomi dan kelemahan yang melenakan. Untuk itu optimalisasi industri pertanian harus dilakukan secara lebih terarah dan berkelanjutan.

Beberapa hal yang mampu mendukung suksesnya industri pertanian adalah tersedianya alat pertanian yang memadai, pupuk, dan pestisida. Di antara berbagai macam pencemaran lingkungan, penggunaan pestisida yang umumnya terbuat dari bahan-bahan kimia pencemar menjadi masalah dalam industri ini. Penggunaan pestisida untuk mendukung kemajuan industri pertanian adalah aspek yang penting dikaji sehubungan dengan beberapa dampak lingkungan yang ditimbulkannya.

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa pestisida kimiawi atau disebut pestisida sintetis, selain sisi positif berupa terhindarnya tanaman dari gangguan hama atau penyakit, pestisida juga menjadi ancaman yang sangat serius bagi lingkungan. Bahaya serius ini dapat mengancam populasi hewan dan juga memiliki dampak yang buruk bagi kesehatan manusia. Bahan-bahan kimia pestisida menjadi bahaya besar dalam bentuk yang terakumulasi di dalam tanah dan perairan. Akumulasi ini ibarat bom waktu terhadap penurunan kualitas lingkungan perarairan dan tanah.

Selain dampak lingkungan berupa pencemaran air tanah, dampak lain berupa matinya musuh alami dari hama maupun patogen dan akan menimbulkan resurgensi, yaitu serangan hama yang jauh lebih berat dari sebelumnya. Kemudian munculnya serangan hama sekunder akibat predator hama sekunder telah ikut terbunuh dengan adanya pestisida yang digunakan. Penggunaan dengan dosis di luar batas juga mampu menimbulkan resistensi patogen terhadap pestisida tertentu sehingga diperlukan dosis yang lebih tinggi lagi bahkan formulasi pestisida kimiawi yang lebih kompleks lagi. Semakin kompleks struktur kimia pestisda maka semakin sulit bagi alam untuk menjinakkannya.

Permasalahan aspek dan dampak lingkungan yang ditimbulkan oleh pestisida kimiawi dipandang sebagai suatu hal yang perlu diuraikan dalam karya tulis ini. Berdasarkan studi dari beberapa literatur atau bahan bacaan, penulis akan merumuskan beberapa solusi yang tepat untuk menanggulangi dampak lingkungan akibat penggunaan pestisida, setidaknya mampu memberikan altenatif untuk dipikirkan dan dilakukan oleh pelaku industri pertanian saat ini. Kesadaran terhadap tingginya potensi bahaya yang ditimbulkannya diharapkan dapat membantu penanggulangan tindakan-tindakan berlebihan dalam penggunaan zat kimia beracun ini.

ASPEK LINGKUNGAN : PENGGUNAAN PESTISIDA

Aspek lingkungan merupakan setiap aktivitas yang dilakukan oleh manusia yang memiliki dampak terhadap lingkungan . Ekstensifikasi industri pertanian dengan menggunakan aneka teknologi seperti penggunaan pupuk, varietas unggul, perbaikan pengairan, pola tanam serta usaha pembukaan lahan baru akan membawa perubahan pada ekosistem yang juga diikuti oleh masalah serangan hewan pengganggu. Di dalam makalah ini, salah satu aspek lingkungan yang dibahas adalah penggunaan pestisida kimiawi dalam ekstensifikasi industri pertanian, oleh karena cara ini adalah cara yang paling umum dan sering digunakan. Penggunaan pestisida bertujuan untuk melawan jasad pengganggu tanaman sehingga dapat menyelamatkan industri pertanian dari kehilangan produk hasil panen.

Pestisida tidak hanya berperan dalam mengendalikan jasad-jasad pengganggu dalam bidang pertanian saja, namun juga diperlukan dalam bidang kehutanan terutama untuk pengawetan kayu dan hasil hutan yang lainnya. Pestisida juga berperan dalam bidang kesehatan dan rumah tangga yakni untuk mengendalikan vektor (penular) penyakit manusia dan binatang pengganggu kenyamanan lingkungan.

Pestisida adalah bahan kimia yang digunakan untuk mengendalikan perkembangan atau pertumbuhan dari hama, penyakit, dan gulma. Tanpa menggunakan pestisida akan terjadi penurunan produksi industri pertanian.

Pestisida tersusun dan unsur kimia yang jumlahnya tidak kurang dari 105 unsur. Namun yang sering digunakan sebagai unsur pestisida adalah 21 unsur. Unsur atau atom yang lebih sering dipakai adalah C, H, O, N, P, Cl, Fe, Cu, Hg, Pb, dan Zn, beberapa di antaranya adalah logam
3

berat. Setiap pestisida mempunyai sifat yang berbeda. Sifat-sifat pestisida itu antara lain : daya toksisitas, rumus empiris, rumus bangun, formulasi, berat molekul dan titik didih.

Pestisida dikategorikan berdasarkan jenis organisme yang populasinya akan dikendalikan. Adapun kategori ini antara lain : Insektisida, berasal dari kata latin insectum yang berarti potongan, keratan atau segmen tubuh. Berfungsi untuk membunuh serangga. Bakterisida, berasal dari kata latin bacterium atau kata Yunani bacron. Berfungsi untuk melawan bakteri Nematisida, berasal dari kata latin nematoda atau bahasa Yunani nema yang berarti benang. Berfungsi untuk membunuh nematoda (semacam cacing yang hidup di akar). Herbisida, berasal dari kata latin herba yang berarti tanaman setahun. Berfungsi membunuh gulma (tumbuhan pengganggu). Fungisida, berasal dari kata latin fungus atau kata Yunani spongos yang berarti jamur. Berfungsi untuk membunuh jamur atau cendawan. Rodentisida, berasal dari kata Yunani rodera yang berarti pengerat. Berfungsi untuk membunuh binatang pengerat, seperti tikus. Molluksisida, berasal dari kata Yunani molluscus yang berarti berselubung tipis lembek. Berfungsi untuk membunuh siput. Akarisida, berasal dari kata akari yang dalam bahasa Yunani berarti tungau atau kutu. Akarisida sering juga disebut sebagai mitesida. Fungsinya untuk membunuh tungau atau kutu Larvisida, berasal dari kata Yunani lar. Berfungsi untuk membunuh ulat atau larva. Avisida, berasal dari kata avis yang dalam bahasa latinnya berarti burung. Berfungsi sebagai pembunuh atau zat penolak burung serta pengontrol populasi burung. Piscisida, berasal dari kata Yunani piscis yang berarti ikan. Berfungsi untuk membunuh ikan. Ovisida, berasal dari kata latin ovum yang berarti telur. Berfungsi untuk membunuh telur. Algisida, berasal dari kata alge yang dalam bahasa latinnya berarti ganggang laut. Berfungsi untuk melawan alga. Termisida, berasal dari kata Yunani termes yang berarti serangga pelubang daun. Berfungsi untuk membunuh rayap.

Pedukulisida, berasal dari kata latin pedis berarti kutu, tuma. Berfungsi untuk membunuh kutu atau tuma.

Predisida, berasal dari kata Yunani praeda yang berarti pemangsa. Berfungsi untuk membunuh pemangsa (predator).

Silvisida, berasal dari kata latin silva yang berarti hutan. Berfungsi untuk membunuh pohon.

Selain kategori pestisida berdasarkan akhiran sida, beberapa pestisida kimiawi lainnya antara lain : atraktan (zat kimia yang baunya dapat menyebabkan serangga menjadi tertarik sehingga dapat digunakan sebagai penarik serangga dan menangkapnya dengan perangkap), kemosterilan (zat yang berfungsi untuk mensterilkan serangga atau hewan bertulang belakang), defoliant (zat yang dipergunakan untuk menggugurkan daun supaya memudahkan panen, digunakan pada tanaman kapas dan kedelai), desiccant (zat yang digunakan untuk mengeringkan daun atau bagian tanaman lainnya), disinfektan (zat yang digunakan untuk membasmi atau menginaktifkan mikroorganisme).

Selain itu, ada juga pestisida kimiawi berupa zat pengatur tumbuh (zat yang dapat memperlambat, mempercepat dan menghentikan pertumbuhan tanaman), repellent (zat yang berfungsi sebagai penolak atau penghalau serangga atau hama yang lainnya, contohnya kamper untuk penolak kutu, minyak sereb untuk penolak nyamuk), sterilan tanah (zat yang berfungsi untuk mensterilkan tanah dari jasad renik atau biji gulma), pengawet kayu (biasanya digunakan pentaclilorophenol (PCP), stiker (zat yang berguna sebagai perekat pestisida supaya tahan terhadap angin dan hujan), surfaktan dan agen penyebar (zat untuk meratakan pestisida pada permukaan daun), inhibitor (zat untuk menekan pertumbuhan batang dan tunas), dan stimulan tanaman (zat yang berfungsi untuk menguatkan

pertumbuhan dan memastikan terjadinya buah). Pestisda yang terakhir ini, selain menguatkan tanaman dari gangguan, dapat juga bertindak layaknya pemberi nutrien.

Pestisida juga dapat dibedakan berdasarkan ketahanannya yakni pestisida golongan resisten dan pestisida kurang resisten. Pestisida resisten adalah pestisida yang meninggalkan pengaruh terhadap lingkungan secara signifikan dan sangat sulit untuk diuraikan secara alami. Sedangkan yang kurang resisten adalah pestisida yang pengaruhnya terhadap lingkungan lebih kecil bahkan dapat diabaikan.

Pestisida yang resisten termasuk di antaranya golongan organoklorin. Pestisida ini meninggalkan residu yang terlalu lama dan dapat terakumulasi dalam jaringan melalui rantai makanan, contohnya DDT, Cyclodienes, Hexachlorocyclohexane (HCH), endrin. Sedangkan pestisida kelompok organofosfat adalah pestisida yang kurang resisten, dimana pestisida ini mempunyai pengaruh yang efektif sesaat saja dan cepat terdegradasi di tanah, contohnya Disulfoton, Parathion, Diazinon, Azodrin, Gophacide, dan lain-lain.

Pestisida sebelum digunakan harus diformulasi terlebih dahulu. Pestisida dalam bentuk murni biasanya diproduksi oleh pabrik bahan dasar pestisida, kemudian dapat diformulasi sendiri atau dikirim ke formulator lain dengan memberikan nama baru atau nama paten. Nama formulasi pestisida yang sering dijumpai antara lain : formulasi cairan emulsi (emulsifiable concentrates/emulsible concentrates), formulasi butiran (granulars), formulasi debu (dust), formulasi tepung (powder), formulasi oli (oil), dan formulasi fumigansia (fumigant).

Pestisida juga dapat dikategorikan berdasarkan cara kerjanya dalam mengendalikan sasaran antara lain : Pestisida kontak, berarti mempunyai daya bunuh setelah tubuh jasad terkena sasaran. Pestisida fumigan, berarti mempunyai daya bunuh setelah jasad sasaran terkena uap atau gas Pestisida sistemik, berarti dapat ditranslokasikan ke berbagai bagian tanaman melalui jaringan. Hama akan mati kalau mengisap cairan tanaman. Pestisida lambung, berarti mempunyai daya bunuh setelah jasad sasaran memakan pestisida.

DAMPAK LINGKUNGAN PESTISIDA KIMIAWI

Peningkatan kegiatan industri pertanian selain meningkatkan produksi pertanian juga menghasilkan limbah dari kegiatan tersebut. Penggunaan pestisida, disamping bermanfaat untuk meningkatkan produksi pertanian atau meminimalisasi kehilangan hasil panen, tetapi juga menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan pertanian dan juga terhadap kesehatan manusia.

Pestisida Kimiawi dan Pencemaran Udara Pestisida berkontribusi sebagai polutan udara. Pestisida kimiawi yang tersuspensi ke dalam udara yang akan dibawa oleh angin ke seluruh penjuru mampu menjadi kontaminan yang berbahaya terhadap lingkungan. Kecepatan angin merupakan salah satu faktor pendukung pendispersian polutan udara termasuk polutan pestisida. Pestisida umumnya bersifat volatil. Hal inilah yang merupakan jalan bagi zat ini untuk terdispersi ke dalam udara. Faktor lain yang amat mendukung adalah faktor cuaca seperti angin, suhu lingkungan, dan kelembaban udara.

Pestisida Kimiawi dan Pencemaran Air dan Tanah Beberapa senyawa kimia penyusun pestisida adalah kontaminan tanah yang persisten dalam arti bahwa sifat pencemarannya akan berlangsung dalam jangka waktu yang lama bertahan di dalam tanah. Penggunaan pestisida menurunkan biodiversitas di dalam tanah. Degradasi dan penyerapan adalah dua faktor yang sangat mempengaruhi sifat persisten pestisida dalam tanah.

Fiksasi nitrogen dibutuhkan di dalam pertumbuhan tanaman. Insektisida seperti DDT, methyl parathion, dan pentachlorophenol telah menunjukkan pengaruh terhadap sinyal kimia rhizobium yang berperan dalam pengikatan nitrogen di dalam tanah. Reduksi terhadap sinyal tersebut akan mengurangi fiksasi nitrogen sehingga berpengaruh pada menurunnya hasil panen bila dibandingkan dengan tanah berkualitas tanpa polutan pestisida, dimana fiksasi nitrogen berlangsung normal.

Pestisida bergerak dari lahan pertanian menuju aliran sungai dan danau yang dibawa oleh hujan atau penguapan, tertinggal, atau larut pada aliran permukaan, terdapat pada lapisan tanah dan larut bersama dengan aliran air tanah.

Penumpahan yang tanpa disengaja atau membuang bahan bahan kimia yang berlebihan pada permukaan air akan meningkatkan konsentrasi pestisida di dalam air. Kualitas air dipengaruhi oleh pestisida berhubungan dengan keberadaan dan tingkat keracunannya, dimana kemampuannya untuk diangkut adalah fungsi dari kelarutannya dan kemampuan diserap oleh partikel-partikel tanah.

Pestisida Kimiawi Terhadap Hewan Pestisida kimiawi memiliki dampak yang sangat besar terhadap keberadaan biota. Hewan mengalami keracunan akibat adanya residu pestisida tertinggal pada tanaman yang disemprot dengan pestisida. Hewan yang berada di sekitar tanaman apabila berinteraksi dengan tanaman tersebut dari dekat maka akan mengalami keracunan yang tidak dikehendaki. Hal yang cukup mengkhawatirkan adalah masuknya residu pestisida ke dalam rantai makanan, contohnya ketika seekor burung memakan serangga yang telah terkena pestisida. Denga sendirinya burung tersebut akan mengalami keracunan. Beberapa pestisida dapat mengalami bioakumulasi secara permanen atau sementara pada tubuh organisme. Hal ini akan mempengaruhi kualitas hidup beberapa hewan yang gagal dalam mempertahankan dirinya dari keracunan secara bertahap.

Pestisida Kimiawi Terhadap Manusia Pestisida masuk ke dalam tubuh manusia melalui pernafasan yakni dengan menghirup aerosol, debu, atau uap yang mengandung pestisida. Masuknya pestisida juga dapat melalui konsumsi bahan makanan dan air yang telah tercemar kimia pestisida, atau dengan kontak langsung dengan bagian terluar (kulit) yang mengakibatka iritasi serius.

Tingkat bahaya yang ditimbulkan oleh pestisida bergantung kepada daya toksisitas kimiawi penyusun pestisida tersebut. Daya toksisitas tergantung kepada tingkat kereaktifan molekulmolekul senyawa penyusun pestisida dalam kaitannya menyerang atau merusak sel-sel hidup. Umumnya, anak-anak lebih sensistif terhadap polutan daripada orang dewasa.

Bahaya yang diakibatkan pestisida kimiawi pada manusia antara lain : iritasi kulit, kanker, perubahan genetik atau mutasi, bayi lahir cacat, gangguan pada peredaran darah dan saraf, gangguan pada sistem reproduksi, CAIDS (Chemically Acquired Deficiency Syndrom), bahkan koma dan atau kematian langsung dapat terjadi.

Pestisida yang paling banyak menyebabkan kerusakan lingkungan dan mengancam kesehatan manusia adalah pestisida golongan organoklorin yang bersifat resisten. Tingkat kerusakan yang disebabkan oleh senyawa organoklorin lebih tinggi dibandingkan senyawa lain, karena senyawa ini peka terhadap sinar matahari dan tidak mudah terurai.

UPAYA PENANGGULANGAN PENCEMARAN PESTISIDA

Berdasarkan sumber yang diperoleh penulis, ada beberapa upaya yang mampu dilakukan untuk menanggulangi dampak penggunaan pestisida. Ada upaya yang bersifat korektif, sementara beberapa upaya lainnya bersifat preventif.

Adanya Peraturan dan Pengarahan Kepada Para Pengguna Peraturan dan cara-cara penggunaan pestisida dan pengarahan kepada para pengguna perlu dilakukan, karena banyak dari pada pengguna yang tidak mengetahui bahaya dan dampak negatif pestisida terutama bila digunakan pada konsentrasi yang tinggi, waktu penggunaan dan jenis pestisida yang digunakan.

Kesalahan dalam pemakaian dan penggunaan pestisida akan menyebabkan pembuangan residu pestisida yang tinggi pada lingkungan sehingga akan menganggu keseimbangan lingkungan dan mungkin organisme yang akan dikendalikan menjadi resisten dan bertambah jumlah populasinya.

Untuk melindungi keselamatan manusia dan sumber-sumber kekayaan alam khususnya kekayaan alam hayati, dan supaya pestisida dapat digunakan efektif, maka peredaran, penyimpanan dan penggunaan pestisida diatur dengan Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1973.

Standar keamanan untuk pengaplikasian pestisida dan pengarahan untuk penggunaan yang aman dari pestisida, seperti cara pelarutan, jumlah (konsentrasi), frekuensi dan periode dari aplikasi, ditentukan oleh aturan untuk meyakinkan bahwa tingkat residu tidak melebihi dari standar yang telah ditetapkan. Keamanan dari produk-produk pertanian dapat dijamin bila bahan-bahan kimia pertanian diaplikasikan berdasarkan standar keamanan untuk penggunaan pestisida.

Penggunaan Pestisida dengan Memperhatikan Kondisi Lingkungan Untuk menghindari terjadinya pencemaran udara oleh adanya pestisida maka pada saat penggunaan pestisida, pengguna harus memperhatikan beberapa hal yang mampu mempengaruhi pendispersian polutan tersebut di udara. Faktor lingkungan seperti temperatur, kecepatan dan arah angin, serta kelembaban udara, berdasarkan sumber literatur
9

menyebutkan bahwa faktor lingkungan tersebut sangat berperan dalam mempercepat proses terjadinya pencemaran udara.

Pengendalian Hayati Menggunakan Biokontrol Peningkatan pembangunan pertanian diarahkan pada sistem pertanian berkelanjutan, dimana makna dari berkelanjutan adalah mengelola sumber daya yang ada sehingga dapat digunakan secara berkesinambungan serta meminimalisasi dampak negatif yang timbul.

Industri pertanian berkelanjutan memungkinkan penggunaan pestisida dapat secara teliti dan bertanggung jawab. Pengguna pestisida harus belajar dan meninggalkan metode produksi yang memakai banyak bahan kimia. Memakai cara rotasi tanam, menanam kacangan dan rumput untuk mengisi persediaan N, merawat tanah dengan pupuk dan kompos, serta mendaur ulang bahan organik. Pendekatan ini akan melindungi tanah dan mencegah pencemaran dan pencucian pupuk/bahan kimia dari tanah ke aliran sungai.

Dengan semakin ketatnya peraturan pemakaian bahan kimia, pengendalian hayati atau biokontrol merupakan salah satu strategi untuk mengatasi dampak pencemaran lingkungan akibat pemakaian bahan kimia untuk proteksi pertanian.

Pengendalian suatu penyakit melalui biokontrol membutuhkan pengetahuan detail tentang interaksi patogen inang dan antara patogen dengan mikroba-mikroba sekitarnya. Pengetahuan ini sangat penting karena prinsip biokontrol adalah pengendalian dan bukan pemberantasan patogen. Keberhasilan suatu biokontrol ditentukan oleh kemampuan hidup agen biokontrol tersebut dalam lingkungannya.

Salah satu agensia pengendalian hayati yang efektif yaitu jamur Trichoderma spp yang mempu menangkal pengaruh negatif jamur patogen pada tanaman kedelai (tanaman inang). Species Trichoderma harzianum dan Trichoderma viridae dapat mengendalikan aktifitas jamur patogen Rhizoctonia solanii yang memberikan pengaruh positif terhadap kemampuan berkecambah biji kedelai dan pertumbuhan biomassa tanaman. Penelitian lain juga menyebutkan bahwa Mikorhiza sp. juga mampu menanggulangi efek negatif patogen berupa bakteri penyakit darah pada pisang. Pengendalian hayati sangat erat hubungannya dengan pemanfaatan sistem ketahanan tanaman terhadap patogen penyebab penyakit. Ini juga berhubungan dengan mekanisme reaksi biokimia di dalam jaringan tanaman tersebut.
10

Metode Bioremediasi Sebagai Tindakan Perbaikan Sebagai tindakan korektif bagi lahan yang telah tercemar oleh residu pestisida, saat ini juga banyak dikembangkan metode Bioremediasi. Bioremediasi dikenal sebagai usaha perbaikan tanah dan air permukaan dari residu pestisida atau senyawa rekalsitran lainnya dengan menggunakan jasa mikroorganisme. Mikroorganisme yang digunakan berasal dari tanah namun karena jumlahnya masih terbatas sehingga masih perlu pengkayaan serta pengaktifan yang tergantung pada tingkat rekalsitran senyawa yang dirombak.

KESIMPULAN Penerapan teknologi di dalam memajukan industri pertanian mutlak dibutuhkan untuk mencapai cita-cita ketahanan pangan. Salah satu di antara pemanfaatan teknologi adalah penggunaan pestisida yang diformulasi dari bahan-bahan kimia yang sangat ampuh dalam memberantas makhluk hidup pengganggu tanaman. Dengan teknologi ini, kehilangan hasil panen dapat diminimalisasi bahkan dapat ditiadakan. Akan tetapi aspek pemanfaatan pestisida juga memiliki dampak negatif terhadap lingkungan yang tak kalah dahsyatnya dengan manfaat positif yang diperoleh. Keadaan penurunan kualitas lingkungan berupa pencemaran udara, air, dan tanah adalah konsekuensi dari penggunaan pestisida ini. Pencemaran berkaitan dengan penurunan populasi hewan dan atau mungkin menimbulkan akibat buruk bagi manusia di sekitar.

Untuk menanggulangi dampak lingkungan di atas, beberapa hal yang perlu dilakukan sebagai tindakan perbaikan dan pencegahan agar penurunan kualitas lingkungan tidak terjadi adalah dengan memberikan sosialisasi peraturan terkait penggunaan pestisida secara aman dan tepat sasaran, mengadakan pengarahan kepada pengguna, melakukan pengendalian hayati dengan biokontrol dan bioremediasi, serta memperhatikan faktor kondisi lingkungan pada saat menggunakan pestisida.

11