Anda di halaman 1dari 13

Jurnal ISEI Jember, Volume 2 Nomor 1, April 2012

DAMPAK PENERAPAN MODEL INTEGRATED AGRICULTURE MANAGEMENT BAGI MASYARAKAT PINGGIRAN HUTAN DI KABUPATEN JEMBER (THE IMPACT OF IMPLEMENTATION AGRICULTURE INTEGRATED
MANAGEMENT MODEL FOR THE FOREST FRINGE COMMUNITIES IN JEMBER REGENCY ) Teguh Hari Santosa Staf Pengajar Jurusan Pertanian Universitas Muhammadiyah Jember Email : teguh_hs66@yahoo.com/HP.08124927443

Abstract The purpose of this study was to compare the effects before with after implementation of an integrated model of agriculture to the community management of forest edges. The research was conducted in the District of Silo and Jember Regency for 1 year. Techniques of data collection in this study using PRA, FGD, RRA, indept interviews and surveys. The results showed that the impact of the implementation of an integrated model of agriculture for rural communities of forest management is the increasing number of local institutions involved in cooperation with farmers' groups, the addition of forest plant species, the development of livestock, the addition of small businesses, an increase in average income average people, an increase in seed technology, a change in the use of coffee processing machines, a change in the technology of woven bamboo, a change in the level of communities awareness of forest rehabilitation. Key words: integrated agriculture management of local products, incomes

1. Pendahuluan Tata kelola hutan di Indonesia dinilai makin lemah, sehingga membuat angka laju kerusakan hutan relatif tinggi. Laju kerusakan hutan di Indonesia mencapai 1,08 juta hektare per tahun. Salah satu penyebab kerusakan hutan adalah lemahnya pemantapan hutan yang ditandai dengan buruknya pengelolaan sumber daya hutan (Naiem, 2011). Kawasan hutan Indonesia yang telah terdegradasi mencapai 59 juta ha per tahun, yang secara nyata telah menyebabkan banjir, longsor, erosi dan sedimentasi pada musim hujan dan kekeringan di musim kemarau, seperti yang terjadi di Kecamatan Panti Kabupaten Jember pada akhir tahun 2005. Sumberdaya hutan yang tergredasi semakin parah terutama ditimbulkan oleh : (1) kurangnya koordinasi dalam pengelolaan kehutanan oleh para pihak pengelola kawasan hutan, (2) lemahnya penegakan hukum bagi perusak ekosistem hutan, (3) rendahnya tingkat kesadaran masyarakat yang tinggal di sekitar hutan dalam menjaga kelestarian hutan, (4) adanya konflik kawasan hutan dan pemanfaatan kawasan hutan untuk kepentingan lain, dan (5) lemahnya sistem kelembagaan yang ada di masyarakat. 29

Teguh Hari Santoso, Dampak Penerapan Model Integrated Agriculture Management

Pembangunan kehutanan selama ini gagal, banyak diakibatkan oleh kurang pelibatan masyarakat secara partisipatif di dalamnya. Masyarakat cenderung dilarang memanfaatkan hutan tanpa adanya solusi apapun, sementara mereka yang tinggal di sekitar kawasan hutan harus memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Akibatnya gangguan terhadap sumberdaya hutan sulit terelakkan. Beberapa program seperti konservasi hutan lindung bersama masyarakat, dan PHBM (Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat) telah berhasil mendekatkan pengelola hutan dengan masyarakat sekitarnya dan menambah pendapatan masyarakat sekitar hutan. Namun demikian program tersebut belum mampu meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar hutan secara signifikan, masih adanya masalah konflik kepentingan antar institusi yang terlibat (stakeholder) dan adanya kesempatan kerja berbasis produk lokal yang hilang (Santosa, 2009). Untuk itu persoalan ini perlu segera dipecahkan, salah satunya dengan membangun model integrated agriculture management bagi masyarakat pinggiran hutan berbasis produk lokal dan teknologi. Model ini mempunyai keunggulan dalam peningkatan pendapatan masyarakat sekitar hutan, mengurangi konflik antar lembaga dan meningkatkan kesempatan kerja berbasis produk lokal. Sehingga secara umum dampak berupa peningkatan laju rehabilitasi hutan akan berjalan signifikan. Tujuan penelitian ini adalah membandingkan dampak sebelum dengan sesudah penerapan model integrated agriculture management bagi masyarakat pinggiran hutan.

2. Metode Penelitian Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan partisipatif baik dalam rangka memperoleh data kualitatif dan kuantitatif untuk memberikan penjelasan lebih lengkap terhadap lingkup bahasan permasalahan yang dikaji. Pendekatan partisipatif (kualitatif) diarahkan lebih bersifat grounded untuk pendalaman kasus yang menarik diungkap sebagai pendukung model integrated agriculture management yang menjadi luaran penelitian. Disamping itu juga dilakukan upaya consciousness raising atau peningkatan penyadaran, peningkatan pengetahuan dan keterampilan dari penyampaian informasi, pelatihan dan advokasi dengan mempergunakan pendekatan pembangunan masyarakat melalui pelaksanaan pembelajaran sosial. Mengingat jenis kegiatan penelitian adalah terapan maka pada mulai tahun pertama sampai kedua tahap digunakan metode PRA (Participatory Rural Appraisal). Metode PRA dalam penelitian ini berprinsip pada berperan setara dan berbuat bersama antara peneliti dan responden, sehingga teknik akan dilakukan dengan cara : peneliti berada di tengah kehidupan responden dan merupakan bagian dari kehidupan mereka. Disamping itu, mengingat rumusan tujuan yang akan dicapai berorientasi pada perubahan pola perilaku masyarakat pinggiran hutan tentu memerlukan waktu yang tidak singkat. Suatu proses bertahap dilakukan dengan terencana mulai peningkatan penyadaran, penyampaian informasi materi pendidikan, pelatihan dan pendampingan sampai monitoring dan evaluasi. Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari sampai Desember 2011. Penentuan lokasi penelitian dilakukan secara purposif di Kabupaten Jember karena daerah ini termasuk wilayah yang memiliki lahan hutan cukup luas (3.293,34 ha) di Propinsi Jawa Timur, dan dipilih Kecamatan Silo, karena di wilayah ini pernah terjadi peristiwa penjarahan kayu hutan yang mengakibatkan terjadinya tanah longsor pada awal tahun 2006. Penentuan sampel (responden) dilakukan dengan stratified random sampling atau acak bertingkat, mengingat bahwa rumah tangga yang tinggal di pinggiran hutan sebagai 30

Jurnal ISEI Jember, Volume 2 Nomor 1, April 2012

populasi terdiri dari kelompok yang cukup heterogen. Tahapan pemilihan responden adalah sebagai berikut : (1) mengadakan stratifikasi populasi, yaitu mengklasifikasikan populasi menjadi kelompok-kelompok yang homogen dilihat dari jenis pekerjaan dan aktivitas ekonominya; (2) pemilihan responden dilakukan setelah memperoleh stratifikasi populasi, yakni masing-masing strata diambil 140 orang pada setiap kecamatan secara random. Dengan demikian total sampel sebanyak 280 orang. Sumber data dalam penelitian ini dikelompokkan berdasarkan macam data (meliputi data primer dan sekunder). Sumber data primer diperoleh dari wawancara dan pengamatan langsung di lapangan. Data primer yang diperoleh dari responden antara lain : (a) persepsi terhadap upaya rehabilitasi hutan; (b) keadaan sosial ekonomi; (c) aktivitas survival dalam hubungannya dengan lahan pinggiran hutan; (d) motivasi bekerja; (e) peran pemerintah daerah dalam menangani kasus lahan pinggiran hutan di lokasi penelitian dan wilayah sekitarnya; (f) peran institusi-institusi lokal yang pernah terlibat dalam pengelolaan lahan pinggiran hutan. Sumber data sekunder diperoleh dari Kantor Desa, Kantor Kecamatan, Dinas Kehutanan, KSDA (Konservasi Sumber Daya Alam), Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Jember, Dinas kebersihan dan Lingkungan Hidup Kabupaten Jember, Pemda Tk. I dan Tk II, serta instansi terkait. Data sekunder yang diambil antara lain : (a) keadaan umum desa yang diteliti; (b) potensi dan metode pengelolaan lahan miring yang telah dilakukan oleh Pemda dan instansi terkait; (c) Penanganan banjir dan lahan longsor yang dilakukan Pemda dan instansi terkait;(d)potensi pasar beberapa produk unggulan Kabupaten Jember. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini selain menggunakan metode Participatory Rural Appraisal (PRA) dan Focus Group Discussion (FGD), juga menggunakan metode Rapid Rural Apprasial (RRA), Indept Interview dan Survey.

3. Hasil Penelitian dan Pembahasan 3.1 Model Umum Integrated Agriculture management bagi Masyarakat Pinggiran Hutan Model integrated agriculture management bagi masyarakat pinggiran hutan merupakan upaya pembangunan kehutanan berbasis masyarakat secara partisipatif aktif dengan lebih mengutamakan pemberdayaan masyarakat berbasis produk lokal dan teknologi dengan melibatkan institusi lokal (balai-balai penelitian, Perguruan Tinggi, LSM dan lainnya) dalam upaya mempercepat rehabilitasi hutan, pembangunan hutan secara lestari (sustainable development) dan peningkatan pendapat masyarakat pinggiran hutan. Strategi integrated agriculture management menggunakan 3 pendekatan yaitu : (a) kelola kawasan (lahan) dan sumberdaya hutan; (b) kelola kelembagaan; dan (3) kelola ekonomi (bisnis).

Perhutani dan PDP

Masyaraka t pinggiran hutan

31

Teguh Hari Santoso, Dampak Penerapan Model Integrated Agriculture Management

Institusi lokal

Adapun yang menjadi pertimbangan utama dikembangkannya model integrated agriculture management adalah : a) Masyarakat sebagai salah satu penentu utama kelestarian sumberdaya hutan. b) Hutan sebagai penyangga kehidupan di tingkat lokal, nasional dan global. c) Era 10 20 tahun ke depan adalah rehabilitasi dan konservasi, bukan produksi dan eksploitasi. d) Sumberdaya hutan bukan tidak terbatas, sehingga pembangunan hutan lestari harus digalakkan. Prinsip integrated agriculture management berpegangan pada social forestry yang sudah menjadi komitmen nasional dan kehendak politik pemerintah Indonesia (2 Juli 2003) dan UU No. 41 tahun 1999 tentang kehutanan bahwa pembangunan kehutanan harus diarahkan pada potensi sumberdaya hutan dan berbasis pada pemberdayaan masyarakat. Prinsip integrated agriculture management yaitu : a) Manfaat yang lestari. b) Kerakyatan (pemberdayaan masyarakat pinggiran hutan). c) Swadaya. d) Kebersamaan dan kemitraan dengan institusi lokal (balai-balai penelitian, Perguruan Tinggi, LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat), Lembaga Ekonomi Masyarakat, Usaha Swasta, Lembaga Pendidikan dan Lembaga Donor). e) Keterbukaan dan transparan. f) Aturan hukum yang jelas. g) Keterpaduan antar sektor. h) Dilakukan secara bertahap. i) Berkelanjutan. j) Mengutamakan keunggulan produk lokal (local specific) yang kompetitif dan memperhatikan teknologi yang berdaya saing tinggi. Rambu-rambu utama yang harus dipatuhi dalam integrated agriculture management adalah : a) Komprehensif (terpadu), artinya melibatkan berbagai komponen yaitu kawasan, kelembagaan, bisnis, aparatur pemerintah serta faktor pendukung lainnya. b) Status dan fungsi kawasan pinggiran hutan yang digunakan sebagai areal kerja integrated agriculture management harus tetap dipertahankan sebagai kawasan pinggiran hutan yang sesuai fungsinya sebagai kawasan peyangga (buffer zone). c) Tidak bertujuan memberikan hak kepemilikan, melainkan hanya hak pemanfaatan sumberdaya hutan sesuai dengan ketentuan perundangan yang berlaku. Ruang lingkup kegiatan intergrated agriculture management meliputi : 32

Jurnal ISEI Jember, Volume 2 Nomor 1, April 2012

a) Kawasan hutan. b) Kawasan pinggiran hutan. Kawasan pinggiran hutan

Kawasan hutan

Jenis kegiatan di kawasan hutan (ditangani Perhutani) meliputi : a) Usaha rehabilitasi dan konservasi tanaman kayu seperti jati, mahoni, akasia, dan kayu rimba lainnya. b) Usaha bukan lahan, seperti : pengelolaan wisata, pengelolaan sumber mata air, pengembangan serta pengusahaan flora dan fauna. Jenis kegiatan di kawasan pinggiran hutan yaitu usaha produktif (ditangani masyarakat pinggiran hutan dengan bantuan Perhutani dan institusi lokal) seperti : a) Pengembangan hutan rakyat dengan jenis tanaman sesuai kesepakatan dengan masyarakat pinggiran hutan, seperti : sengon, durian, alpokat, bambu, nangka, kelapa, mindi dan lainnya. b) Pengembangan peternakan sesuai kebutuhan masyarakat pinggiran hutan seperti lebah madu, kambing, sapi, ayam, itik, dan lainnya. c) Pengembangan hortikultura sesuai kebutuhan masyarakat pinggiran hutan seperti cabe, tomat, buncis, terong dan lainnya. d) Pengembangan tanaman perkebunan sesuai kebutuhan masyarakat pinggiran hutan seperti kopi, kakao dan karet. e) Industri kecil (home industry) seperti anyaman bambu, genteng, tahu, dan lainnya. 3.2 Model kelembagaan Integrated Agriculture management Model kelembagaan dalam Integrated Agriculture management melibatkan berbagai pihak yaitu : kelompok masyarakat pinggiran hutan dengan Perhutani Jember, PDP (Perusahaan Daerah Perkebunan) Jember, Dinas Kehutanan dan Perkebunan Jember, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jember, Puslit Koka (Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia) Jember. LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) Lingkungan, Dinas Koperasi dan UMKUM Jember, Perguruan Tinggi (Unmuh Jember, UNEJ, IPB, UGM), dan Kantor Kecamatan dan Kantor Desa setempat. Ketentuan kemitraan dalam integrated agriculture management adalah secara propor-sional, antara "kemitraan sejajar" yang masing-masing pihak mempunyai peran, tanggung jawab dan hak lain : a) Pola kerjasama dalam integrated agriculture management yakni kelompok tani pinggiran hutan (KTPH) bermitra sejajar dengan Perhutani dan pihak lain/ institusi lokal seperti PDP (Perusahaan Daerah Perkebunan) Jember, Dinas Kehutanan dan Perkebunan Jember, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jember, Puslit Koka (Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia) Jember. LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) Lingkungan, Dinas 33

Teguh Hari Santoso, Dampak Penerapan Model Integrated Agriculture Management

Koperasi dan UMKUM Jember, Perguruan Tinggi (Unmuh Jember, UNEJ, IPB, UGM), dan kantor kecamatan dan kantor desa setempat. b) KTPH yang bekerjasama dalam integrated agriculture management telah direkomendasi-kan dan diajukan oleh pemerintah desa dengan surat permohonan kerjasama kepada Perhutani dan PDP. c) Perjanjian kerjasama ditandatangani oleh Administratur dan Ketua KTPH, diketahui oleh Kepala Desa dan atau pejabat pemerintah yang lebih tinggi dengan dikuatkan oleh Notaris. d) Institusi lokal dapat berperan langsung (sebagai investor) maupun tidak langsung (sebagai motivator, dinamisator dan fasilitator) untuk bekerjasama dalam kegiatan integrated agriculture management. PDP (Perusahaan Daerah Perhut ani Dinas Kehutana KTPH dan masyarakat pinggiran hutan Perguruan Tinggi (UM Jember, UNEJ, IPB, UGM dll.) Puslit Kopi dan Kakao

Dinas Perindustri

Pemerintah an Kecamatan dan Desa

LSM

Lembaga Keuangan Mikro dan

Peran Perhutani KPH Sumber Wadung, Kecamatan Silo, Kabupaten Jember dalam meningkatkan laju rehabilitasi hutan adalah : a) Menyediakan lahan pinggiran hutan untuk areal kerja integrated agriculture management yang tidak boleh dimiliki oleh masyarakat, melainkan hanya hak pemanfaatan sumberdaya hutan sesuai dengan ketentuan perundangan yang berlaku dan ditetapkan sebagai kawasan penyangga (buffer zone), meliputi : sengon (68 Ha), mindi (9 Ha), dan mahoni (7 Ha). b) Membantu pembiayaan dalam kegiatan integrated agriculture management antara 2 - 3 tahun, atau sampai masyarakat pinggiran hutan dianggap bisa mandiri. c) Membantu pembinaan dan pemantauan kepada masyarakat yang mengikuti kegiatan integrated agriculture management dalam rangka meningkatkan kesejahteraan, kualitas hidup, kemampuan dan kapasitas ekonomi dan sosial masyarakat pinggiran hutan. d) Mendorong dan menyelaraskan pengelolaan sumberdaya hutan sesuai dengan dinamika sosial masyarakat pinggiran hutan serta melindungi dan melestarikan sumberdaya hutan untuk keberlanjutan fungsi dan manfaatnya. Peran masyarakat (petani) peserta kegiatan integrated agriculture management dalam meningkatkan laju rehabilitasi hutan adalah : 34

Jurnal ISEI Jember, Volume 2 Nomor 1, April 2012

a) Mematuhi semua ketentuan yang telah disepakati dalam kegiatan integrated agriculture management, seperti ikut berperan dalam perencanaan, penanaman, pemeliharaan, perlindungan dan pemanenan hasil hutan. b) Ikut menjaga keamanan hutan dari penjarahan hasil hutan baik di dalam hutan maupun di pinggiran hutan serta melindungi dan melestarikan sumberdaya hutan untuk keberlanjutan fungsi dan manfaatnya. Peran institusi lokal (balai-balai penelitian, Perguruan Tinggi, LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat), Lembaga Ekonomi Masyarakat, Usaha Swasta, Lembaga Pendidikan dan Lembaga Donor dalam meningkatkan laju rehabilitasi hutan adalah : a) Membantu menyediakan teknologi baru dalam kegiatan integrated agriculture management untuk meningkatkan laju rehabilitasi hutan. b) Membantu menghubungkan dengan lembaga donor lainnya dalam kegiatan integrated agriculture management untuk meningkatkan laju rehabilitasi hutan. c) Membantu dalam pengawasan dan evaluasi dalam kegiatan integrated agriculture management sekurang-kurangnya 6 bulan sekali untuk meningkatkan laju rehabilitasi hutan, dengan sasaran : (1) meningkatkan perkembangan kegiatan integrated agriculture management; (2) meningkatkan kesejahteraan petani peserta integrated agriculture management; dan (3) meningkatkan kelestarian sumberdaya hutan. Hak Perhutani : a) Hasil hutan berupa kayu yang berada di dalam kawasan hutan adalah milik Perhutani. b) Hasil usaha bukan lahan, seperti : pengelolaan wisata, pengelolaan sumber mata air, pengembangan serta pengusahaan flora dan fauna adalah milik Perhutani. c) Berbagi hasil tanaman agrobisnis dengan kelompok tani pada lahan pinggiran hutan yang telah diatur sesuai kesepakatan masing-masing pihak sesuai kontribusi input yakni maksimal sebesar 30 %. d) Memperoleh dukungan masyarakat pinggiran hutan dan pihak yang berkepentingan dalam perlindungan sumberdaya hutan untuk keberlanjutan fungsi dan manfaatnya. Hak petani pinggiran hutan : a) Memperoleh hasil usaha seperti tanaman hutan rakyat, tanaman agrobisnis, hortikultura, peternakan, tanaman perkebunan sebesar maksimal 70 %. b) Memperoleh bimbingan, pembinaan, pelatihan dan lainnya dalam kegiatan integrated agriculture management, termasuk kegiatan industri kecil (home industry) seperti sangkar burung, manik-manik, peralatan dapur, dan lainnya. c) Memperoleh informasi pemasaran dan bantuan dalam penyaluran hasil usaha dalam kegiatan integrated agriculture management, termasuk kegiatan industri kecil. Hak institusi lokal : a) Memperoleh ijin penelitian baik di dalam kawasan hutan maupun kawasan pinggiran hutan. b) Memperoleh ijin melakukan pembinaan pada masyarakat pinggiran hutan. Hak institusi lokal : a) Memperoleh ijin penelitian baik di dalam kawasan hutan maupun kawasan pinggiran hutan. b) Memperoleh ijin melakukan pembinaan pada masyarakat pinggiran hutan.

35

Teguh Hari Santoso, Dampak Penerapan Model Integrated Agriculture Management

Model Ekonomi Integrated Agriculture management ditunjukkan Gambar 1.

Kayu bakar Tanaman naungan (gamelina, Tanaman perkebunan milik PDP Jember (kopi, kakao, Makanan ternak (kambing, domba, sapi)

Dagin g Susu Kotora n ternak

Buah (kopi, kakao), dan getah karet Bunga dari kopi, kakao, karet dll. Lebah madu

Madu

Tanaman hutan milik PERHUTANI Jember : a. Tanaman hutan (jati, mindi dan mahoni), b. Tanaman

Kay u Bahan bakar Gambar 1 Model Ekonomi Integrated Agriculture management

Tanaman perkebunan milik PDP Jember yang meliputi kopi, kakao dan karet menghasilkan : a) Buah kopi, buah kakao dan getah karet. b) Tanaman naungan kopi dan kakao. c) Bunga kopi, bunga kakao dan bunga karet. d) Pendapatan bagi buruh perkebunan berupa upah. Tanaman naungan kopi dan kakao yakni gamelina dan lamtoro menghasilkan : a) Makanan ternak bagi kambing, kerbau dan sapi. b) Kayu bakar untuk rumah tangga. 36

Jurnal ISEI Jember, Volume 2 Nomor 1, April 2012

Ternak kambing, domba dan sapi menghasilkan : a) Daging. b) Susu. c) Kotoran ternak. Bunga kopi, bunga karet dan bunga karet menjadi sumber makanan bagi lebah madu milik peternak lebah di pinggiran hutan Karangharjo. Kotoran ternak kambing, domba dan sapi menghasilkan : a) Pupuk kandang untuk tanaman perkebunan, tanaman hutan dan tanaman pinggiran hutan. b) Biogas. Tanaman hutan milik Perhutani Jember (jati, mindi dan mahoni) dan tanaman pinggiran hutan yang dikelola petani pinggiran hutan (sengon) menghasilkan : a) Kayu bangunan. b) Bahan bakar. Produk lokal berupa kerajinan pada masyarakat pinggiran hutan Silo meliputi : a) Kerajinan anyaman bambu. b) Kerajinan genteng. c) Industri rumah tangga berupa tahu. Hasil produk lokal berupa kerajinan pada masyarakat pinggiran hutan Silo ditunjukkan gambar 2.

Kerajinan anyaman bambu

Kerajinan genteng

industri tahu rakyat

Gambar 2 Produk lokal berupa kerajinan pada masyarakat pinggiran hutan Silo Produk lokal berupa usaha peternakan pada masyarakat pinggiran hutan Silo meliputi : a) Ternak sapi lokal. b) Ternak domba. c) Ternak kambing. d) Ternak lebah madu. Teknologi unggul yang diberikan oleh perguruan tinggi (Unmuh Jember, UNEJ, IPB, UGM), Pusat Penelitian Kopi dan Kakao di Jember kepada PDP Jember dan masyarakat pinggiran hutan berupa : a) Bibit unggul kopi. 37

Teguh Hari Santoso, Dampak Penerapan Model Integrated Agriculture Management

b) Bibit unggul kakao. c) Pertanian terpadu kopi, kakao dan ternak domba. d) Budidaya lebah madu lokal. Jenis kegiatan produktif di kawasan pinggiran hutan yaitu usaha produktif yang dilakukan oleh masyarakat pinggiran hutan dengan bantuan Perhutani dan PDP Sumber Wadung dan institusi lokal meliputi : a) Pengembangan hutan rakyat di pinggiran hutan dengan jenis tanaman sesuai kesepakatan dengan masyarakat pinggiran hutan, seperti : sengon (68 Ha), mindi (9 Ha), dan mahoni (7 Ha). b) Pengembangan peternakan di pinggiran hutan sesuai kebutuhan masyarakat pinggiran hutan seperti lebah madu (310 kotak lebah madu), domba (2.026 ekor), kambing (1.634 ekor), sapi (1.664 ekor), ayam kampung (14.308 ekor), itik (1.638 ekor), dan lainnya. c) Pengembangan tanaman pangan dan hortikultura di pinggiran hutan sesuai kebutuhan masyarakat pinggiran hutan seperti padi (13 Ha), jagung (27 Ha), kacang tanah (5 Ha), ubi kayu (2 Ha), cabe (3 Ha), tomat (4 Ha), buncis (2 Ha), terong (2 Ha) dan lainnya. d) Pengembangan tanaman perkebunan di pinggiran hutan sesuai kebutuhan masyarakat pinggiran hutan seperti tembakau (10 Ha), kopi (17 Ha), jahe (1 Ha), emponempon (2 Ha) dan lainnya. e) Pengembangan industri kecil (home industry) dan UKM seperti : genteng (4 UKM), anyaman bambu (14 UKM), dan tahu (3 UKM). Penerapan model integrated agriculture management di Kecamatan Silo ditunjukkan tabel 1.

Tabel 1. Keunggulan penerapan model integrated agriculture management di Kecamatan Silo, Kabupaten Jember dibandingkan sebelum penerapan model Uraian Sebelum penerapan model Sebelum penerapan model integrated agriculture integrated agriculture management management 1. Kerjasama antara a. PDP Jember. a. PDP Jember. kelompok tani dengan b. Dinas Kehutanan Jember b. Dinas Kehutanan Jember institusi lokal c. Perguruan Tinggi. c. Perguruan Tinggi. d. Disperindag Jember. e. Puslit Koka Indonesia. 38

Jurnal ISEI Jember, Volume 2 Nomor 1, April 2012

2. Kegiatan produktif masyarakat

a. Pengembangan hutan rakyat (sengon, mindi) b. Pengembangan ternak (sapi, kambing, domba, ayam, itik) c. Pengembangan tanaman pangan dan sayuran (padi, jagung, kacang tanah, ubi kayu, cabe, tomat, buncis, terong). d. Pengembangan tanaman perkebunan (kopi, kakao, tembakau, karet, jahe, empon-empon). e. Pengembangan usaha kecil (genteng, anyaman bambu). Rp 491.690 per bulan

3. Rata-rata pendapatan masyarakat 4. Penggunaan teknologi baru

f. LSM Lingkungan Hidup. g. Dinas Koperasi Jember. a. Pengembangan hutan rakyat (sengon, mindi, mahoni). b. Pengembangan ternak (sapi, kambing, domba, ayam, itik dan lebah madu lokal). c. Pengembangan tanaman pangan dan sayuran (padi, jagung, kacang tanah, ubi kayu, cabe, tomat, buncis, terong). d. Pengembangan tanaman perkebunan (kopi, kakao, tembakau, karet, jahe, empon-empon). e. Pengembangan usaha kecil (genteng, anyaman bambu, tahu). Rp 941.260 per bulan

5. Tingkat kesadaran melakukan rehabilitasi hutan Sumber : Data primer (2011)

a. Penggunaan teknologi a. Penggunaan teknologi bibit unggul terbatas pada meluas pada bibit unggul tanaman pangan. tanaman pangan, tanaman perkebunan dan ternak. b. Penggunaan mesin b. Penggunaan mesin pengolah biji kopi masih pengolah biji kopi sudah sederhana. berkembang baik. c. Hasil teknologi anyaman c.Hasil teknologi anyaman bambu masih sederhana. bambu mengikuti permintaan pasar. Tingkat kesadaran antara 50 Tingkat kesadaran antara 80 60 %. 90 %.

4. Kesimpulan Dampak penerapan model integrated agriculture management pada masyarakat pinggiran hutan di Kecamatan Silo, Kabupaten Jember sebelum dengan sesudah penerapan model tersebut bagi masyarakat pinggiran hutan yaitu : Adanya perubahan jumlah institusi lokal yang terlibat bekerjasama dengan kelompok tani, dari 3 institusi (PDP Jember, Dinas Kehutanan Jember, Perguruan Tinggi) menjadi 7 institusi (PDP Jember, Dinas Kehutanan Jember, Perguruan Tinggi, Disperindag Jember, Puslit Koka Indonesia, LSM Lingkungan Hidup dan Dinas Koperasi Jember). Adanya penambahan jenis tanaman hutan rakyat dari 2 jenis (sengon, mindi) menjadi 3 jenis (sengon, mindi, mahoni). 39

Teguh Hari Santoso, Dampak Penerapan Model Integrated Agriculture Management

Adanya pengembangan ternak dari 5 jenis (sapi, kambing, domba, ayam, itik) menjadi 6 jenis (sapi, kambing, domba, ayam, itik dan lebah madu lokal). Adanya penambahan usaha kecil dari 2 jenis (genteng, anyaman bambu) menjadi 3 jenis (genteng, anyaman bambu, tahu). Adanya peningkatan pendapatan rata-rata masyarakat dari (Rp 491.690 per bulan) menjadi (Rp 941.260 per bulan). Adanya peningkatan penggunaan teknologi bibit unggul dari 1 jenis (tanaman pangan) menjadi 3 jenis (tanaman pangan, perkebunan dan ternak). Adanya perubahan penggunaan mesin pengolah biji kopi, dari teknologi sederhana menjadi teknologi yang lebih maju. Adanya perubahan hasil teknologi anyaman bambu, dari teknologi sederhana menjadi hasil teknologi anyaman bambu mengikuti permintaan pasar. Adanya perubahan tingkat kesadaran melakukan rehabilitasi hutan dari 50 60 % menjadi 80 90 %. Saran yang disampaikan dari hasil penelitian ini sebagai berikut: Keberhasilan perumusan model integrated agriculture management bagi masyarakat pinggiran hutan di Kecamatan Silo, Kabupaten Jember perlu diterapkan serta evaluasinya pada skala yang lebih luas di Kabupaten Jember dan daerah lain yang memiliki karakteristik yang relatif sama. (Tim peneliti mengucapkan banyak terima kasih kepada DP2M Dikti Jakarta yang telah mendanai penelitian ini melalui Program Hibah Bersaing Tahun 2011}

Daftar Pustaka Naiem, M. 2011. Yogyakarta. Tinggi Laju Kerusakan Hutan di Indonesia. Liputan 6. com.

Santosa, T. H., W. Erni dan Prayuginingsih, H. 2009. Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat di Desa Kemuning Lor, Kecamatan Arjasa, Kabupaten Jember. Fakultas Pertanian. Universitas Muhammadiyah Jember. 40

Jurnal ISEI Jember, Volume 2 Nomor 1, April 2012

Santosa, T. H., P. D. E. Fabiola dan Prayuginingsih, H. 2009. Persepsi Perempuan terhadap Tindakan Konservasi di Kawasan Hutan Lindung di Desa Gunung Pasang, Kecamatan Panti, Kabupaten Jember. Fakultas Pertanian. Universitas Muhammadiyah Jember. Santosa, T.H., S. Anis dan Prayuginingsih, H. 2009. Kajian Sosial Ekonomi Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat di Desa Taman, Kecamatan Grujugan, Kabupaten Bondowoso. Fakultas Pertanian. Universitas Muhammadiyah Jember.

41