Anda di halaman 1dari 8

Jurnal ISEI Jember, Volume 1 Nomor1, Oktober 2011

STUDI ASPEK EKON0MIS KEBUTUHAN BATU PECAH DI KABUPATEN JEMBER


Ketut Indraningrat Fakultas Ekonomi Universitas Jember, Jurusan Manejemen Jl. Kalimantan No. 37 Jember Telp. 0331-337990 Rumah Jl. Latjend Suprapto XIV/ Pondok Bambu P-7 Jember Telp. 0331-332257

1. Pendahuluan Selama pelaksanaan Pembangunan Lima tahun menunjukkan bahwa perkembangan disektor Industri terjadi suatu kenaikan dan berkembang secara mantap. Dimana hal ini sudah dimulai sejak permulaan Repelita III industri kecil telah menempati posisi yang semakin penting dalam pembangunan nasional. Diharapkan pada masa akan datang mampu memberikan sumbangan yang lebih besar terhadap PDB (Produk Domestik Bruto). Hal ini terlihat pada perkembangan ekspor akan barang barang industri dari tahun 1983 sampai tahun 1986 mengalami kenaikan rata rata 237,9% dan kenaikan yang cukup menyolok terjadi dari tahun 1983 ke tahun 1984 yaitu kurang lebih 150%. Kemajuan pada sektor industri dapat ditunjukkan dengan semakin meningkatnya jenis kuantitas maupun kualitas produk yang dihasilkannya. Usaha pemerintah dalam mendukung perkembangan sektor ini telah dilakukan beberapa kebijaksanaan, antara lain seperti penyederhanaan proses perijinan, mengusahakan ketentraman dan keamanan usaha, serta menyediakan sarana berbagai modal. Salah satu sektor pembangunan yang mendukung tingkat pertumbuhan kegiatan perekonomian nasional adalah pembangunan sarana sarana perhubungan darat. Pemerintah Indonesia telah menyusun program untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas jalan raya, baik jalan nasional maupun jalan provinsi sebagai upaya untuk memperlancar kegiatan perekonomian nasional, khususnya dalam sektor perdagangan. Dengan adanya program tersebut sangat mendukung tumbuhnya industri industri baru, terutama industri Asphalt Mixing atau lebih dikenal dengan Asphal Hot Mix. Dijawa Timur, khususnya diwilayah Kabupaten Jember jumlah perusahaan penghasil Asphalt tersebut masih sangat terbatas. Padahal kebutuhannya terus meningkat sejalan dengan tingkat pembangunan nasional, khususnya diwilayah Provinsi Jawa Timur. Dimana dalam pembangunan jalan raya, Pemerintah Daerah Tingkat I Jawa Timur akhir tahun 1990 telah menetapkan standar kualitas mutu dimana semua jaringan jalan provinsi harus dilapisi dengan Asphalt Hot Mix dengan komposisi 93% sampai 94% terdiri dari batu pecah mesin (Crushed Stone) dan 6% sampai 7% serupa aspal. Dengan kenyataan standar kualitas tersebut, atas dasar panjang jalan di Kabupaten Jember pada tahun 1995 sepanjang 260,935 Km, yang terdiri dari sudah diaspal 260,083 Km, berupa kerikil 0,852 Km. Sedangkan menurut kondisi jalan yang baik sepanjang 53,888, kondisi sedang 202,4332 Km, kondisi rusak 3,882 Km dan kondisi rusak berat 0,733 Km. Untuk itu setiap tahunnya rata rata dibutuhkan batu pecah mesin sebanyak 171.320 ton. Jumlah kebutuhan tersebut bersumber dari Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga setempat untuk keperluan peningkatan kualitas jalan lama serta pembangunan jalan baru. 87

Ketut Indraningrat, Studi Aspek Ekon0mis Kebutuhan Batu Pecah

Pengadaan kebutuhan batu pecah di Kabupaten Jember selama ini adalah dengan mendatangkan dari luar, padahal bahan baku batu pecah di Kabupaten Jember cukup melimpah. Dengan banyaknya pekerjaan peningkatan dan pemeliharaan jalan maupun jembatan yang telah dilakukan dan direncanakan akan dikerjakan di Kabupaten Jember maka kebutuhan batu pecah diperkirakan akan meningkat juga. Untuk itu, penelitian ini disusun dengan tujuan meramal atau memprediksi kebutuhan batu pecah di Kabupaten Jember selama 10 tahun yang akan datang. Selain itu, ingin diketahui juga kelayakan investasi stone crusher dan mengetahui sensitivitas alternatif investasi stone crusher terbaik dalam pengadaan kebutuhan batu pecah di Kabupaten Jember ditinjau dari aspek finansial. Dalam penelitian ini dilakukan pengumpulan data kebutuhan batu pecah di Kabupaten Jember dan data-data lain yang diperlukan dalam pengolahan data untuk menjawab tujuan penelitian. Sedangkan pengadaan batu pecah yang akan diteliti meliputi investasi stone crusher di Kabupaten Jember sebagai alternatif pengadaan batu pecah yang selama ini mendatangkan dari luar. Untuk menyesuaikan prediksi kebutuhan batu pecah yang telah dilakukan, maka investasi yang dilakukan diawal tahun meliputi unit stone crusher, unit exavator, dan unit dump truck yang merupakan peralatan dan pendukungnya dalam produksi batu pecah.

2.

Metode Penelitian Penelitian ini dilakukan didesa Garahan Kecamatan Silo Kabupaten Jember. Pemilihan daerah tersebut berdasarkan pertimbangan bahwa daerah tersebut banyak tersedia bahan baku batu pecah dan dalam dekade tahun terakhir masih belum mengalami perkembangan perekonomian masyarakat padahal daerah diatasnya yaitu kecamatan Kalibaru sudah mengalami kemajuan yang pesat. Diharapkan perubahan yang bakal terjadi didesa Garahan tersebut membawa konsekuensi perubahan perubahan struktur sosial dan struktur ekonomi serta struktur ketenagakerjaan. Hal ini nantinya akan terlihat pada tingkat pendidikan pada dan pendapatan masyarakat. Metode Analisa Data sebagai berikut: a. Untuk mengetahui perkembangan perkiraan kebutuhan Batu Pecah diwilayah Kabupaten Jember selama lima tahun dan meramalkan dalam lima tahun mendatang digunakan metode deret berkala atau trend (Anto Dayan 1990) b. Analisis Aliran Kas Analisis aliran kas disini membandingkan kas antara jumlah pendapatan dengan jumlah pengeluaran (cash inflow-outlays) dalam satu periode ditambah penyusutan. c. Analisa ROI (Return On Investment) Secara umum analisa ROI digunakan untuk mengetahui efisiensi dari pada penggunaan modal dalam operasional perusahaan, terutama efisiensi produksi dan efisiensi penjualan. d. Investment Turn Over Analisa ini dirumuskan sebagai berikut : = Penjualan Bersih Total Investment

e. Analisa Payback Period Analisa payback period adalah untuk mengetahui jangka waktu pengembalian suatu investasi. 88

Jurnal ISEI Jember, Volume 1 Nomor1, Oktober 2011

f. Analisa titik Impas Dengan memperhatikan tingkat kapasitas hasil produksi dapat disusun jumlah produksi yang direncanakan. g. Analisa Keuangan Analisa ini dipergunakan sebagai dasar perbandingan antara tingkat penerimaan kas netto yang dinilai dengan nilai sekarang dengan tingkat Combined Cost of Capital, sehingga apabila ditinjau dari segi keuangan dapat dinilai apakah rencana ternak ayam potong tersebut layak dilaksanakan. Perhitungan analisa tersebut dirumuskan sebagai berikut : (a) Internal rate of returns, merupakan tingkat bunga yang menggambarkan antara benefit dan cost yang telah dipersentvaluekan sama dengan nol; (b) Net Present Value, merupakan selisih antara benefit dengan cost yang telah dipresentvaluekan; (c) Net Benefit Cost Ratio, merupakan perbandingan antara benefit bersih dari tahun yang bersangkutan yang telah dipersentvaluekan; (d) Sensitivity Analysis, digunakan untuk melihat apa yang terjadi dengan hasil analisa proyek. Jika ada sesuatu kesalahan atau perubahan dalam dasar perhitungan biaya atau benefit; dan (e) Payback Period, menunjukan berapa lama modal yang ditanamkan dalam investasi akan bisa kembali.

3. Hasil Penelitian Dan Pembahasan 3.1 Kebutuhan Batu Pecah Konsentrasi penambangan batu pecah dipusatkan di daerah desa Sempolan, Kabupaten Jember Hal ini berdasarkan pertimbangan bahwa daerah gunung mrawan dan sekitarnya merupakan salah satu daerah yang memiliki bahan baku andesit untuk batu pecah yang terbaik berdasarkan hasil lab SNI. Disamping itu daerah tersebut merupakan salah satu daerah yang strategis untuk pengiriman batu pecah ke wilayah Banyuwangi, Situbondo dan Bali. Dimana kebutuhan batu pecah untuk pembangunan infrastruktur Paemerintah maupun Swasta seperti pembangunan sarana prasarana baik itu pembuatan Jembatan, Jalan Raya, Dermaga, Landasan Pesawat Udara dan penimbunan Reklamasi Pantai sampai pembuatan pondasi kilang, bangunan kantor dan pabrik, menuntut material dan batu pecah yang berkwalitas. Dimana batu pecah yang dihasilkan berkualitas grade A serta telah memenuhi kualifikasi SNI dengan aberat rata-rata adalah 1.5 1.6 Ton / m3. Spesifikasi Material Material Specification sebagai berikut: a) Boulder Elepant Stone (Batu Gajah) Material jenis ini banyak digunakan untuk penimbunan daerah-daerah rawa atau bibir pantai, penahan ombak, reklmasi pantai dan pembuatan dermaga sederhana dan untuk batu pondasi dsb. b) Base Course (Lapisan Kedua) Material jenis ini digunakan untuk lapisan kedua / ketiga dari suatu areal yang akan ditimbun, dimana tanah dasarnya sudah cukup stabil. c) Sirtu Material ini banyak digunakan untuk lapisan kedua, dimana tanah awalnya masih kurang stabil.

89

Ketut Indraningrat, Studi Aspek Ekon0mis Kebutuhan Batu Pecah

d) Split Stone / Batu Pecah (30-50mm) Batu pecah ini biasanya digunakan untuk dasara badan jalan sebelum menggunakan material yang lain, penyangga bantalan kereta api, penutup/pemberat pipa didasar laut, dsb. e) Split Stone / Batu Pecah (20-30 mm) Batu pecah ini banyak digunakan untuk pengecoran lantai kerja, pengecoran / pembetonan horizontal. f) Split Stone / Batu Pecah (10-20mm) Batu pecah jenis ini banyak digunakan untuk pengecoran segala macam konstruksi mulai dari yang ringan sampai konstruksi berat. Spt: Jalan Tol, Gedung bertingkat, Landasan Pesawat Udara, Bantalan Kereta Api, Pelabuhan dan Dermaga, Tiang Pancang dan Jembatan, dsb g) Screening (5 -10 mm) Batu pecah jenis ini banyak digunakan untuk campuran dalam proses pengaspalan jalan, mulai dari jalan yang ringan sampai jalan berkelas-1 (Aspal Mixed Plant) Abu Batu (0-5 mm) Batu pecah jenis ini banyak dibutuhkan untuk campuran dalam proses pengaspalan dan bisa digunakan sebagai pengganti pasir. Material ini adalah bahan utama dari pembuatan gorong-gorong dan Batako Press. Agregat A, B Batu pecah jenis adalah campuran batu split, abu batu dan pasir, yang dicampur berdasarkan permintaan / kebutuhan proyek dan tergantung kebutuhannya.Sand (Pasir Sungai)Material jenis ini digunakan untuk bahan dasar pembuatan dinding / bangunan beton dan bahan baku cor untuk semua jenis bangunan. Kondisi dan syarat pembayaran adalah sebagai berikut : 1) Harga berdasarkan titik tujuan bongkar (dalam satuan Ton). 2) Pembayaran Cash (tunai). 3) Kondisi barang CNF 4) Biaya Pengurusan Bongkar Muat (PBM), Tenaga Kerja bongkar Muat (TKBM) Dan Jasa Dermaga ditanggung sepenuhnya oleh Pihak Pembeli

3.2 Kebutuhan Batu pecah di Kabupaten Jember Pengembangan infrasttruktur perhubungan diharapkan pada peningkatan fungsi prasarana jalan, jembatan, fasilitas transportasi darat dan terminal angkutan umum, guna menunjang laju perekonomian antara regional dan pengembangan lintas hinterland antara kawasan perkotaan dan pedesaan. Fasilitas perhubungan darat berjumlah 3.392,67 Km pada tahun 2000 yang terdiri dari jalan Negara dan provinsi 463,44 Km dan jalan Kabupaten 3.469,23 Km. Pada tahun 2005 keadaan jalan provinsi di kabupaten Jember untuk jenis per pemukaan yang diaspal 218,636 Km dan kerikil 0,788 Km. Keadaan kondisi jalan yang baik 9,905 Km, sedang 207,713 Km, rusak 0,481 Km dan rusak berat 1,326 Km. sedang fungsi jalan tersebut antara lain untuk kolektor primer 136,760 Km dan lokal primer 82,665 Km. 90

Jurnal ISEI Jember, Volume 1 Nomor1, Oktober 2011

Apabila dikaitkan dengan peningkatan perawatan jalan, dimana dalam pembangunan jalan raya Pemerintah Daerah Tingkat I Jawa Timur akhir tahun 1990 telah menetapkan standar kualitas mutu diimana semua jaringan jalan provinsi harus dilapisi dengan asphalt Hot Mix dengan komposisi 93% sampai 94% terdiri dari batu pecah mesin (Crushed Stone) dan 6% sampai 7% serupa aspal, maka kebutuhan batu pecah pada tahun 2006 diperkirakan mencapai 233.151 M kubik yang diasumsikan akan meningkat 5% setahun atas dasar perkembangan sektor ekonomi dan bangunan industri di wilayah karisidenan ex-Besuki untuk masa sepuluh tahun mendatang, dengan perkembangan pesaing sebesar 2,5%. Berdasarkan data data yang ada diketahui bahwa jumlah yang dipenuhi perusahaan batu pecah yang ada 30% samapai 60% dari kebutuhan yang ada. Disamping itu perusahaan tersebut sering mendapat order dari para kontraktor dari daerah Kabupaten Banyuwangi, Bondowoso dan Situbondo. Investasi yang sudah dilaksanakan ditunjukkan tabel 1.

Tabel 1 : Investasi Yang Sudah Dilaksanakan No 1. 2. 3. JENIS AKTIVA Tanah Bangunan Mesin dan Peralatan Kerja Kendaraan Inventaris Kantor Peralatan Lain jumlah NILAI (Rp) 140.000.000,00 100.000.000,00 255.750.000,00 95.400.000,00 35.279.000,00 4.000.000,00

490.429.000,00 Sumber: data sekunder diolah, 2009

91

Ketut Indraningrat, Studi Aspek Ekon0mis Kebutuhan Batu Pecah

Tabel 2 : Investasi Yang Direncanakan No JENIS AKTIVA 1. BANGUNAN : Barak Karyawan MESIN 1 unit stone crusher kap. 60 ton 1 unit stone crusher kap. 20 ton 2 unit genset 1 unit instalasi listrik 1 unit wheel loader Jumlah seluruhnya 3. KENDARAAN : 5 unit dump truck Sepeda motor Jumlah Total Investasi

NILAI (Rp) 8.250.000,00

2.

250.000.000,00 75.000.000,00 160.000.000,00 15.000.000,00 170.000.000,00

670.000.000,00

400.000.000,00 8.000.000,00 408.000.000,00 1.576.679.000,00

Sumber:

Tabel 3 : Sumber Dana Investasi No PENYANDANG DANA 1. 2. Kredit Bank Modal Sendiri Jumlah Sumber Dana Sumber : data sekunder diolah, 2009

NILAI (Rp) 946.000.000,00 630.679.000,00 1.576.679.000,00

92

Jurnal ISEI Jember, Volume 1 Nomor1, Oktober 2011

Tabel 4 : Proyeksi Kapasitas Produksi Tahun 2005 - 2009 No TAHUN TOTAL PRODUKSI 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 2003 Smt II 2004 Smt I Smt II 2005 Smt I Smt II 2006 Smt I Smt II 2007 Smt I Smt II 2008 Smt I Smt II 2009 Smt I Smt II 33.052,13 41.055,42 41.055,42 44.693,28 44.093,28 44.093,28 44.093,28 46.512,21 46.512,21 46.512,21 46.512,21 48.331,14 48.331,14

KAPASITAS (%) 48 70 70 80 80 80 80 85 85 85 85 90 90

Sumber: data sekunder diolah, 2009

TABEL 5 : Rencana Penarikan Pinjaman, Angsuran Bunga Dan Saldo Pinjaman

2005 - 2009
No Tahun Penarikan investasi 1. 2. 3. 4. 5. 2005 Sem.I Sem. II 2006 Sem.I Sem.II 2007 Sem.I Sem.II 2008 Sem.I Sem.II 2009 Sem.I Jumlah 946.000 65.000 946.000 65.000 946.000 Modal Kerja 65.000 Angsuran Investasi 100.000 100.000 150.000 150.000 150.000 296.000 Modal Kerja 30.000 35.000 Bunga Investasi 146.630 131.130 115.630 92.380 69.130 45.880 Modal Kerja 10.075,00 5.425,00 Saldo Pinjaman Investasi 946.000 946.000 846.000 746.000 596.000 446.000 296.000 Modal Kerja 65.000 35.000 -

Sumber:

data sekunder diolah, 2009

Analisis yang paling baik digunakan untuk meramal atau memprediksi kebutuhan batu pecah di Kabupaten Jember untuk 10 tahun yang akan datang adalah analisis regresi non linier eksponensial dengan persamaan y = 20.209,17 e0.128-i, dimana terjadi peningkatan permintaan batu pecah tiap tahunnya yaitu 49.343,64 m pada tahun pertama prediksi menjadi 155.482,13 m pada akhir tahun investasi atau pada tahun ke-10. Dan pada penilaian secara finansial, kelayakan investasi stone crusher yang mencapai nilai Rp. 5.531.000.000,-, dengan pinjaman sebesar Rp. 5.206.000.000,- dan dengan tingkat suku bunga sebesar 20,00%, diketahui bahwa investasi layak untuk dikembangkan di Kabupaten Kapuas karena hasil penilaian kelayakan investasi menunjukkan nilai Net Present Value (NPV) sebesar Rp. 1.001.646.725,88 yang lebih dari nol dan nilai Interned 93

Ketut Indraningrat, Studi Aspek Ekon0mis Kebutuhan Batu Pecah

Rate of Return (IRR) sebesar 29,61 % yang lebih dari tingkat suku bunga atau nilai IRR yang diusulkan yaitu sebesar 20%. Dengan demikian, maka pengadaan kebutuhan batu pecah di Kabupaten Kapuas untuk 10 tahun yang akan datang dapat dipenuhi dari investasi stone crusher karena dinilai lebih menguntungkan secara finansial. Sedangkan dari analisis sensitivitas investasi dapat diketahui bahwa penurunan penjualan batu pecah lebih berpotensi menyebabkan layak tidaknya investasi dibandingkan kenaikan biaya operasional ditinjau dari aspek finansial Masyarakat yang berdomisili di bantaran sungai tetap meminati bisnis batu pecah karena tingginya permintaan dalam beberapa tahun terakhir. Meski harganya hanya berkisar Rp4 ribu/gerobak, namun diakuinya sangat lancar. Bahan bakupun tidak terlalu sulit sebab sungai yang berada tak jauh dari rumahnya cukup menjanjikan. Untuk setiap satu gerobak pasir dihargai Rp14 ribu, sementara untuk batu pecah hanya Rp4 ribu, Peningkatan pesat tersebut disebabkan semakin banyaknya pembangunan, baik dalam bentuk proyek pemerintah maupun pembangunan atau renovasi rumah warga yang semakin banyak seiring peningkatan pendapatan masyarakat.

94