Anda di halaman 1dari 13

MODUL VI AKHLAQ DAN TASAWUF

Artinya: Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu yaitu bagi orang yang mengharap Rahmat Allah dan kedatangan hari akhir dan dia banyak menyebut Allah.1 QS al-Ahzab (33): 21 Membangun manusia seutuhnya, tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, bukan pula masalah pendidikan dan pengajaran semata melainkan pula menyangkut aspek lain dari sisi kehidupan manusia sepanjang hidupnya. Karenanya pembinaan manusia seutuhnya (Insaan Kaamil) tidak bisa mengeyampingkan nilai aklaq dan tasawwuf, sebab bagaimanapun merupakan filar-filar dari suatu fenomena perkembangan kebudayaan dan peradaban Islam dari suatu bangsa. Syauqi Beik (Penyair Mesir yang wafat tahun 1932) mengatakan: Hanya saja bangsa itu kekal, selama berakhlaq. Bila akhlaqnya telah lenyap, maka lenyap pula bangsa itu.1 Begitupula mengenai kajian tasawwuf dalam Islam merupakan sumber dari pada nilai yang memberikan ikatan moral pada kehidupan manusia yang menganjurkan bagaimana agar manusia menjadi insan yang berbudi baik sebagai makhluk sosial, maupun sebagai hamba Allah dalam hubungannya dengan Khaliq Sang Pencipta.2

A. PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP AKHLAQ Ahmad Muhammad AL-Hufy mengatakan : akhlak yang telah dibicarakan orang-orang terdahulu dan yang datang kemudian, tidak seorang pun terlepas dari padanya. Karena dari padanya ada yang baik dan yang buruk seperti : jujur dan dusta, amanat dan khianaat, keimanan dan kekufuran, berani dan penakut. Oleh karenanya akhlaq itu memerlukan pengertian secara etimologis maupun terminologis.3 Kata akhlaq ( ) berasal dari kara Khalaqa ( ) dengan akar kata Khuluqan ( ) yang berarti: perangai, tabiat, dan adab; atau dari kata Khalqin ( ) yang berarti : kejadian, buatan atau ciptaan. Jadi secara etiologis akhlaq ( ) berarti perangai, adat, tabiat atau sistem perilaku yang dibuat.4 Dengan demikian secara ke-bahasa-an akhlaq bisa baik dan bisa buruk, tergantung kepada tata nilai yang dijadikan landasan atau tolok ukurnya. Di Indonesia kata akhlaq selalu berkonotasi positip. Orang yang baik sering kali disebut berakhlak, sementara orang yang tidak berbuat baik disebut orang yang tidak berakhlaq.5 Adapun secara terminologis (istilah) para Ulama Akhlaq merumuskan definisinya dengan berbeda-beda tinjauan yang dikemukakannya, antara lain : Al-Qurthuby mengatakan : suatu perbuatan manusia yang bersumber dari adab kesopananya disebut akhlaq, karena perbuatan itu termasuk bagian dari kejadiannya. Muhammad bin Ilaan Ash-Shadieqy mengatakan : Akhlaq adalah suatu pembawaan dalam diri manusia, yang dapat menimbulkan perbuatan baik dengan cara yang mudah tanpa dorongan dari orang lain. Ibnu Maskawaih mengatakan : Akhlaq adalah bentuk kejiwaan yang bertanam dalam diri manusia, yang menimbulkan perbuatan buruk, terpuji dan tercela dengan cara yang disengaja. Imam AL-Ghazaaly mengatakan : Akhlaq adalah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa manusia yang dapat melahirkan suatu perbuatan yang gampang dilakukan tanpa melalui maksud untuk memikirkan lebih lama. Maka jika sifat tersebut melahirkan suatu tindakan yang terpuji menurut ketentuan akal dan norma agama, dinamakan akhlaq yang baik. Tetapi manakala ia melahirkan tindakan yang jahat, maka dinamakan akhlaq yang buruk. 6 baik dan

Dari beberapa definisi tersebut diatas, dapatlah disimpulkan bahwa akhlaq adalah perbuatan manusia yang bersumber dari dorongan jiwanya. Maka gerakan reflek, denyut jantung dan kedipan mata tidak dapat disebut akhlaq, karena gerakan itu tidak diperintah oleh unsur kejiwaan. Itulah sebabnya, mengapa Rasulullah SAW bersabda mengenai pengertian al-Ihsan ( akhlaq ) : Artinya: Ihsan itu ialah memuja Allah seakan kamu memandang-Nya maka jikalau kamu belum (tidak) memandang-Nya maka sesungguhnya Ia memandangmu. (HR. Muslim)7 Bagi muslim shalat sebagai pemujaan kepada Allah, pada saat itu hanya jiwa yang dapat memandang Allah, bukan mata pisik, mata pisik hanya terfokus ke tempat sujud. Artinya menjiwai suatu perbuatan diri di hadapan Tuhannya. Oleh karena itu akhlaq sebagai bias atau pancaran dari shalat yang sukses, ialah menjiwai perbuatan bagaimana yang benar dan baik yang secara simultan jiwa itu merasakan bahwa diri sedang dipandang / dipantau oleh Allah SWT. Pemantau Allah SWT tersebut sering disebut muraqabah. Dorongan jiwa yang melahirkan perbuatan manusia, pada dasarnya bersumber dari kekuatan batin yang dimiliki oleh setiap manusia, yaitu : (1) Tabiat (pembawaan), dorongan jiwa yang disebabkan oleh gharizah (nalurih) para ulama menyebutnya dengan istilah Al-Khalqul Fitriyah. (2) Akal pikiran, dorongan jiwa yang disebabkan oleh alat kejiwaan, para ulama menyebutnya dengan istilah Al-Khalqul Aqlu. (3) Hati nurani, dorongan jiwa yang disebabkan oleh faktor Intuitif, para ulama menyebutnya dengan istilah AlKhalqul Bashierah.8 Ketiga kekuatan kejiwaan dalam diri manusia inilah yang menggambarkan hakikat manusia itu sendiri. Maka konsepsi akhlaq dalam Islam selalu memperhatikan ketiga kekuatan tersebut, agar dapat berkembang dengan baik dan seimbang, sehingga terwujud manusia yang ideal (Insan Kaamil). Dengan demikian karena akhlaq adalah sistem nilai yang mengatur pola sikap dan tindakan manusia di atas bumi, yang bersumber dari Quran dan Sunnah Rasul serta Ijtihad, maka ruang lingkup akhlaq mencakup hal-hal sebagai berikut:

1. Akhlaq terhadap Allah SWT (Khaliq) antara lain meliputi : a. Al-Hubb yaitu mencitani Allah SWT melebihi cinta kepada apa dan siapa pun juga dengan menjadikan firman-Nya, Al-Quran sebagai pedoman hidup dan melaksanakan segala perintah dan menjauhi laranganNya. b. Al-Raja, yaitu mengharapkan karunia dan berusaha memperoleh kehidupan, kecintaan kita kepada Allah SWT diwujudkan dengan cara keridhaan Allah SWT. c. d. e. f. As-Syukr, yaitu mensyukuri nikmat dan karunia Allah SWT Qanaah yaitu menerima dengan ikhlas semua Qadha dan Qadar Memohon ampun hanya kepada Allah SWT At-taubat, bertaubat hanya kepada Allah SWT, taubat yang paling

Illahi setelah berikhtiar dan berusaha maksimal.

tinggi adalah taubatan nasuhaa yaitu taubat benar-benar taubat, tidak lagi melakukan perbuatan yang dilarang Allah SWT, dan dengan sungguhsungguh melaksanakan semua perintah dan menjauhi segala laranganNya. 2. Akhlak terhadap Makhluk, dibagi dua : 1) a) b) c) 2) lain : a) lainnya. Mencintai mereka melebihi cinta kepada kerabat Mencintai Rasulullah (Nabi Muhammad SAW) antara lain : Mencintai Rasulullah secara tulus dengan mengikuti semua sunah-Nya. Menjadikan Rasulullah sebagai idola, suri teladan Mencintai apa yang disuruh-Nya, tidak melakukan Akhlak terhadap Orang Tua (Birrul Walidain), antara dalam hidup dan kehidupan. apa yang dilarang-Nya.

a. Akhlak terhadap manusia, dapat dirinci menjadi :

b) c) d)

Merendahkan

diri

kepada

keduanya

diiringi

perasaan kasih sayang Berkomunikasi dengan orang tua dengan khidmat, Berbuat baik kepada ibu bapak dengan sebaikmempergunakan kata-kata lemah lembut. baiknya, tidak menyinggung perasaan dan menyakiti hatinya, membuat ibu bapak ridha. e) dunia. Banyak sekali ayat-ayat Al-Quran yang mengajurkan agar anak berbakti kepada ibu-bapaknya, antara lain : Q.S. Lukman (31) : 14 yang artinya : Dan Kami wajibkan manusia (taat) kepada ibu-bapaknya, ibunya telah mengandung dia dalam keadaan lemah bertambah lemah, sedang putus susunya adalah dua tahun (Kami perintah), hendaklah kami bersyukur kepada-Ku dan ibu-bapakmu, kepadakulah tempat kembali. Tidak sedikit anak yang kurang hormat kepada dua orang tuanya, salah satu penyebabnya adalah kurangnya penghayatan terhadap nilai-nilai agama. Dalam agama diajarkan bahwa ada 3 (tiga) kriteria orang tua : (1) Orang tua kandung, yakni ibu dan bapak (Biruul Walidain); (2) Orang tuaa angkat; (3) Mertua (bila sudah menikah). Bila seseorang sudah menikah, maka kedudukan mertua sama dengan kedua orang tua kandung. Ia harus dihormati dan dikasihi. 3. Akhlak terhadap diri sendiri, antara lain : a) b) c) rendah hati d) e) f) Malu melakukan perbuatan jahat Menjauhi dengki dan menjauhi dendam Berlaku adil terhadap diri sendiri dan orang lain Memelihara kesucian diri Menutup aurat (bagian tubuh yang tidak boleh Jujur dalam perkataan dan berbuat Ikhlas dan Mendoakan keselamatan dan keampunan bagi mereka kendatipun seorang atau kedua-duanya telah meninggal

kelihatan, menurut hukum dan akhlak Islam).

g) a) b) hak c) d) e)

Menjauhi segala perkataan dan perbuatan sia-sia Saling membina rasa cinta dan kasih sayang dalam Saling menunaikan kewajiban untuk memperoleh Berbakti kepada ibu dan bapak Mendidik anak-anak dengan kasih sayang Memelihara hubungan silaturahmi dan melanjutkan

4. Akhlak terhadap keluarga, karib kerabat, antara lain : kehidupan keluarga

silaturahmi yang dibina orang tua yang telah meninggal dunia 5. Akhlak terhadap Tetangga, antara lain : a) b) susah c) d) a) b) c) taqwa d) Menganjurkan anggota masyarakat termasuk sendiri berbuat baik dan mencegah diri sendiri dan orang lain melakukan perbuatan jahat (mungkar). e) f) g) h) kita i) Menepati janji Memberi makan fakir miskin dan berusaha melapangkan hidup dan kehidupannya. Bermusyawarah dalam segala urusan mengenai Mentaati putusan yang telah diambil Menunaikan amanah dengan jalan melaksanakan kepentingan bersama. Saling beri-memberi, saling hormat-menghormati Saling menghindar pertengkaran dan permusuhan Memuliakan tamu; Menghormati nilai dan norma yang berlaku dalam Saling menolong dalam melakukan kebajikan dan Saling mengunjungi Saling bantu di waktu senang lebih melebihi tatkala

6. Akhlak terhadap masyarakat, antara lain :

masyarakat bersangkutan.

kepercayaan yang diberikan seseorang atau masyarakat kepada

b. Akhlak terhadap Lingkungan Hidup (Bukan Manusia), antara lain :

1) Sadar dan memelihara kelestarian lingkungan hidup; 2) Menjaga dan memanfaatkan alam terutama hewani dan nabati, fauna dan flora (hewan dan tumbuh-tumbuhan) yang sengaja diciptakan Tuhan untuk kepentingan manusia dan makhluk lainnya;
3) Sayang pada sesama makhluk.9

B. PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP TASAWUF Sejak dulu hingga sekarang, pembahasan tentang asal kata Tasawuf belum pernah mencapai kata sepakat. Para ahli berbeda pendapat tentang kata itu, dijelaskan oleh Syekh Ahmad Taqiyuddin Ibnu Taimiyah bahwa perbedaan itu disebabkan karena adanya kata yang dinisbahkan kepada kata sesuatu. 10 Ada yang dinisbahkan kepada kata safa dan safw yang artinya bersih dan suci. Maksudnya, kehidupan seorang sufi lebih banyak diarahkan pada penyucian batin untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Suci, sebab Tuhan tidak bisa didekati kecuali oleh orang yang suci.11 Adapun tentang definisi tasawwuf (sufi) itu sendiri ada beberapa pendapat yang dikemukakan oleh sejumlah tokoh sufi. Beberapa diantaranya adalah sebagai berikut : 1. Zakaria al-Anshori : Tasawuf ialah suatu ilmu yang menjelaskan hal ihwal pembersih jiwa dan penyantun akhlaq baik lahir maupun bathin, guna memperoleh bidah dan tidak meringankan ibadah. 2. Abul Qasim al-Qashairi (W. 465H/1072M) : Tasawuf ialah menerapkan ajaran Al-Quran dan Sunnah Nabi secara tepat, berusaha menekan hawa nafsu, menjauhi bidah dan tidak meringankan ibadah Abul Qasim al-Qashairi (W. 465H/1072M) : Tasawuf ialah menerapkan ajaran AlQuran dan Sunnah Nabi secara tepat, berusaha menekan hawa nafsu, menjauhi bidah dan tidak meringankan ibadah. 3. 4. Bisyr bin Harits al-Hafi (W.227H/841 M) : Seorang sufi Abu Husain An-Nuri (W.295H/ 908 M) : Kaum sufi itu ialah ialah yang telah bersih hatinya, semata-mata untuk Allah SWT. kaum yang hatinya suci dari kotoran basariyah (hawa nafsu kemanusiaan) dan kesalahan pribadi. Ia harus mampu membebaskan dari syahwat sehingga ia berada pada shaf pertama dan mencapai derajat yang mulia dalam kebenaran. 5. Harun Nasution dalam bukunya Falsafat dan Mistisme dalam Islam menjelaskan bahwa, tasawuf itu merupakan suatu ilmu

pengetahuan dan sebagai ilmu pengetahuan, tasawuf atau sufisme mempelajari cara dan jalan bagaimana seorang Islam dapat sedekat mungkin dengan Tuhan. Dari berbagai definisi yang berbeda-beda tersebut, kiranya dapat ditarik suatu kesimpulan tentang pengertian tasawuf itu sebagai berikut : Tasawuf ialah suatu ilmu pengetahuan yang membahas dan mempelajari tentang jalan atau cara yang ditempuh dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT. Jalan atau cara yang dimaksud dengan melalui pembersih rohani, peningkatan amal saleh, berakhlak mulai dan tekun melakukan ibadah menurut contoh Rasulullah SAW disertai dengan melakukan zuhd, berkhlawat dan kontemplasi.12 Pembagian Tasawuf yang ditinjau dari lingkup pembahasannya, maka dapat menghasilkan Tasawuf Aqidah (mengenai hakikat keimanan), Tasawuf ibadah (mengenai rahasia ibadah) dan Tasawuf Akhlaq (mengenai masalah jiwa). Tetapi bila ditinjau dari sisi corak pemikiran atau konsepsi (teori-teori) yang terkandung di dalamnya, maka hal itu bisa menjadi Tasawuf Sunny (disebut juga dengan tasawuf salafy) dan Tasawuf Falsafy (disebut juga dengan ajaran yang sudah dimasuki oleh teori-teori filsafat).13 C. HUBUNGAN TASAWUF DENGAN AKHLAK Untuk mengetahui hubungan Akhlaq dengan tasawuf dalam Islam, maka ada beberapa pernyataan yang dapat dijadikan keterangan; misalnya Ulama yang mengatakan bahwa akhlaq itu merupakan pangkal tolok Tasawuf, sedangkan Tasawuf adalah batas akhir Tasawuf. Begitu juga halnya pernyataan Al-Kattaniy yang telah dikemukakan oleh Iman Al-Ghazaliy, yang menyatakan hubungan yang sangat erat antara Akhlaq dengan Tasawuf, yang dilukiskan dalam pernyataannya yang berbunyi : Artinya : Tasawuf itu adalah budi pekerti, barang siapa yang menyiapkan bekal atasmu dalam budi pekerti, maka ia menyiapkan bekal atas dirimua dalam tasawuf.14 Untuk lebih jelasnya membicarakan hubungan tasawuf akhlaq dengan tasawuf, memperhatikan beberapa istilah dalam tasawuf. Yaitu istilah At-Takhali; yang dimaksudnya sebagai upaya pembersih diri dari sifat-sifat tercela, istilah AtTahalli, yaitu upaya pengisian diri dengan sifat-sifat terpuji, dan At-Hajali, yaitu

penyaksian hati ketika mendapat kenyataan Tuhan. Dan ketika hamba melakukan At-Takhalli dan At-Tahalli (Menyinari hatinya dengan sifat-sifat terpuji), maka ia masih mengamalkan ajaran Akhlaq. Tetapi ketika hamba melakukan At-Tahalli (dalam arti mengamalkan Syari-at, Tarekat, Hakekat dan Marifat), maka ia telah memasuki ajaran Tasawuf. Dan bila hamba itu sudah sampai pada tahapan Marifat, maka ia pasti mencapai tingkatan At-Tajalli, yaitu perolehan pancaran cahaya yang bersumber dari Allah SWT; apakah hamba itu mendapatkan Tajalli dengan Perbuataa-Nya (at-Tajalli Bi-Afaalihi), Tajalli dengan Nama-Nya (at-Tajalli Bi-Asmaaihi), Tajalli dengan sifat-Nya (at-Tajalli BiShifaaaatihi) ataupun ia mendapatkan Tajalli dengan Dzat-Nya (at-Tajalli BiDzaatihi).
15

Dari uraian ini, dapat dilihat dengan jelas bahwa hubungan akhlaq dengan tasawuf sangat erat, di mana akhlaq merupakan pangkal tolah tasawuf, sedangkan tasawuf merupakan batas akhir akhlaq. Atau dengan kata lain, akhlaq merupakan sarana tasawuf, sedangkan tasawuf merupakan tujuan sementara akhla. Karena tujuan akhirnya adalah kesejahteraan dunia dan kebahagiaan akhirat (As-Saadah) menurut Ulama Tasawuf Sunniy, atau menjadi manusia idela (al-Insaaanul Kaamil) menurut Ulama Tasawuf Falsafiy.16 D. UKURAN BAIK DAN BURUK Ukuran baik dan buruk dalam akhlak adalah ketentuan-ketentuan dari Allah SWT dan Rasul-Nya yang baik sesuai dengan kehendak-Nya. Allah SWT berfirman yang artinya Hanya yang datang dari sisi Allah yang baik bagimu, jika kalian mengetahui (Q.S. An-Anhl : 895). Ukuran baik dan buruk dalam fisafaat etika tidak selalu sejalan dengan ajaran Islam, karena tidak mengantarkan manusia kepada sesuatu kehidupan yang benar-benar damai dan harmonis, karena ukuran-ukuran itu mengandung kelemahan bila dibandingkan dengan kebenaran wahyu Illahi, misalnya : aliran Vitalisme, aliran utilitarisme, aliran hedonisme, aliran sosialisme dan aliran humanisme.17 Bagi kita sebagai seorang beriman penilaian tentang baik atau buruknya suatu perbuatan tidak tergantung pada pendapat, pemikiran, kelompok, dan golongan tertentu. Untuk menilai baik buruknya sesuatu tolok ukurnya atau barometernya yaitu Al-Quran dan Sunnah Rasul.18 Apa yang dipandang baik dan buruk menurut kedua sumber itu, mutlak kita harus mendengar dan taat secara utuh.

10

E. UKURAN BAIK DAN BURUK DALAM ISLAM Islam adalah agama yang diturunkan oleh Allah untuk memberi petunjuk kepada manusia jalan mana yang harus ditempuh dalam meniti dan menata kehidupan sehingga tercipta suatu tatanan hidup yang selaras dengan Sunnatullah (hukum Allah yang berlaku untuk alam semesta) yang berlaku secara tetap dan umum. Islam menetapkan norma-norma kehidupan itu sebagai ukuran standar untuk menentukan apakah suatu perbuatan yang dilakukan oleh manusia itu baik secara individual maupun kolektif sudah benar atau tidak. Demikian pula secara individual atau kolektif, ia dapat memastikan apakah tindakan yang diambilnya itu benar atau salah.19 Norma-norma kehidupan yang ditetapkan oleh Islam tersebut, karena datang dari Allah, bersifat skaral, absolut, imperatif, akurat dan universal. Ia memiliki makna uhkrawi. Dikatakan sacral, karena norma-norma Islam memiliki keterhubungan dengan Allah SWT, sehingga keterikatan (komitmen) padanya merupakan suatu ibadat yang berdampak pahala dan dosa. Ia juga dikatakan absolut dalam pengertian memiliki kemutlakan sebagai standar baik atau buruk, benar atau salah secara baku dan tak berubah, baik karena perbedaan budaya masyarakat maupun perkembangan waktu. Norma-norma Islam bersifat imperatif karena ia mengikat setiap orang, mereka harus dan mesti menerapkannya, tanpa pilihan dan tawar menawar. Akurat, dalam arti akan sangat pas dan tepat sebagai alat untuk mengendalikan perilaku manusia sehingga selaras dengan kepentingan penataan kehidupan yang damai dan harmonis. Memberi makna ukhrawi, dalam pengertian bahwa keuntungan dari pelaksanaannya tidak hanya dirasakan sekarang dan di sini saja tapi juga nanti di sana, diakhirat, dizaman setelah kematian.20 Norma-norma keislaman ditentukan oleh pola-pola perilaku yang disebut dengan akhlak. Model-model perilaku yang baik disebut dengan alakhlaq al-karimah atau al-akhlaq al-mahmudah dan model-model perilaku yang tidak baik disebut dengan al-akhlaq al-sayyiah atau al-akhlaw al-madzmumah. Al-akhlaq al-karimah adalah model-model perilaku untuk memiliki nilai baik dan kebajikan dan menjadi ukuran untuk menentukan apakah suatu tindakan yang dilakukan itu benar atau salah. Kebaikan adalah yang sesuai dengan ukuran itu dan keburukan adalah yang bertentangan dengan itu. Al-akhlaq al-sayyiah adalah model-model perilaku yang memiliki nilai buruk atau tidak baik. Keburukan adalah penampilan perilaku yang semacam itu dan kebaikan adalah

11

perilaku yang berbeda dengan itu. Baik buruknya suatu perbuatan atau tindakan menurut pandangan Islam diukur dari apakah perbuatan itu menunjukkan alakhlaq al-karimah atau al-akhlaq al-sayyiah.21 Norma-norma Islam (akhlaq) diwujudkan dalam bentuk perintah dan larangan, dorongan dan cegahan, pujian dan kecaman, serta harapan dan penyesalan atas suatu perbuatan yang dilakukan. Yang baik dan benar adalah apa-apa yang diperintahkan, didorongkan, dipuji dan diharapkan oleh Islam untuk dilakukan. Apa-apa yang dilarang dan dicegah, dikecam dan diharapkan untuk ditinggalkan, yang buruk dan tidak baik adalah apa-apa yang dilarang, dicela, dikecam dan tidak diharapkan untuk dilakukan dan apa-apa yang diperintahkan, didorongkan, dipuji dan diharapkan untuk ditinggalkan.22

DAFTAR KUTIPAN Departemen Haji dan Wakaf Saudi Arabia, Al-Quran wa Tarjamatu maaniyatu ila Lughati al-Indunisiya, ( Medinah Munawwarah: khadim alHaramain asy-Syarifain, Tahun 1411 H ), h. 168 2 Kahar Masykur, Membina Moral dan akhlak, (Jakarta : Kalam Mulia,
1

1985), cet. Ke-1. h.3.


3

Rivay Sireragar, Tasawuf, (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 1999), cet.


4

ke-1, h.xi. Ahmad Muhammad AL Hufy, Akhlak Nabi Muhammad SAW, (Jakarta
5

: PT. Bulan Bintang, 1978), cet. ke-1, h.13. Zakiah Daradjat, et al, Dasar-dasar Agama Islam, (Jakarta : PT. Bulan Bintang, 1999), cet. ke-9, h.253.
6

Ibid, h. 253.
7

Barmawie Umary, Materia Akhlak, (Solo: Ramadhani, 1991), Cet.

Ke-10, h. 4
8

Mahyuddin, Akhlak Tasawuf, (Jakarta : Kalam Mulia, 1999), cet. ke-

3, h.4.
9

Ibid, h.5.
10

Miftah Faridl, Etika Islam, (Bandung : Pustaka, 1997), cet. ke-1,


11

h.110-181. Saifullah Al-Azis Senali, Tasawuf Jalan Hidup Para Wali, (Surabaya : Putra Pelajar, 2000), cet. ke-1, h.9.

12

12

K. Permadi, Pengantar Ilmu Tasawuf, (Jakarta : Rinika cipta, 1997), Ibid, h.28. Ibid, h.151.

cet. ke-1, h.25.


13 14

Mahyuddin, Akhlak Tasawuf, op.cit, h.150 Ibid, h. 156. Ibid, h. 156.


18

15 16 17

Kunarto, Etika Kepolisian, (Jakarta : PT. Cipta Manunggal, 1997), h.


19

19. Al-Hamid Al-Husaini, Sekitar Maulid Nabi, (Semarang : CV. Toha Putraa, 1983), h.39.
20

Drs. Zulkabir et. al, Konseptual dan Kontekstual, (Bandung : Itqan,

1993), cet. ke-1, h.98.


21

Ibid, h.98. Ibid, h.99.

22