Anda di halaman 1dari 12

BAB IX ISLAM DAN NEGARA

Artinya: Hai Manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu bangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu bisa saling mengenal dan kenal:. QS. Al-Hujuraat (49): 13 1 A. ASAL MULA TERBENTUKNYA NEGARA Manusia sebagai mahluk sosial diciptakan Allah dalam keadaan lemah, tanpa bantuan orang lain, manusia tidak bisa memenuhi semua kebutuhan hidup, yang diperlukan. Watak dasar penciptaan diri yang serba terbatas ini, mendorong manusia untuk bekerjasama dan saling membantu. Dari peroses Interaksi Sosial itu secara Evolutif membentuk komunitas hidup bermasyarakat dan akhirnya sepakat membuat kontrak politik untuk mendirikan negara. Organisasi kemasyarakatan merupakan keharusan bagi kehidupan manusia. Manusia adalah mahluk politik atau sosial, dia tidak dapat hidup tanpa organisasi kemasyarakatan atau Negara.2 Negara merupakan persekutuan hidup, memiliki sejumlah penduduk dan merumuskan negara sebagai negara hukum dalam suatu Permusyawaratan. Menurut Al Maswardi Lembaga Negara dan Pemerintahan adalah sebagai pengganti fungsi kenabian dalam menjaga agama dan mengatur urusan dunia. sisi negara dapat difahami sebagai
3

Dengan demikian, dimulai dari politik atau Organisasi

lembaga

pemerintahan sebagai Manifestasi keberserikatan hidup didalam wilayah suatu

masyarakat bangsa untuk mewujudkan ketertiban umum dan kesejahteraan bersama dengan berdasarkan sistem hukum. Dalam teori kontrak sosial terbentuknya negara Madinah adalah setelah Nabi Muhammad SAW. Yang didukung seluruh komponen penduduk setempat sepakat menerima Piagam Madinah sebagai kontrak politik bersama. Aspirasi yang multi etnis, kultur dan agama diakomodir dalam piagam yang terdiri 47 pasal , memuat peraturan dan hubungan antara berbagai Komunitas dalam masyarakat Madinah yang majmuk. Di negara baru ini Nabi bertindak layaknya seorang kepala Negara dengan Piagam Madinah sebagai Konstitusinya. Pada periode Madinah inilah totalitas ajaran Islam yang berkaitan dengan aspek sosial politik dan kenegaraan dapat diterapkan secara Efektif, karena agama dan kekuasaan politik berjalan seiring . B. TUJUAN PEMBENTUKAN NEGARA Tujuan bermasyarakat dan bernegara ialah untuk mewujudkan kebaikan dan melindungi kepentingan bersama untuk kesejahteraan yang mereka harapkan. Menurut Al-Farabi dalam kehidupan bernegara tidak hanya bertujuan memenuhi kebutuhan pokok dan kelengkapan kehidupan, tetapi yang lebih penting adalah terciptanya kebahagiaan lahir batin, material dan spiritual. 4 Negara dalam usahanya mencapai tujuan dan cita-citanya diperlukan landasan moral dengan menjaga terpeliharanya kehidupan beragama, Solidaritas Sosial dan ahlak yang luhur sebagai proses kondisioning terbentuknya masyarakat yang sejahtera. Di samping itu suasana yang nyaman, aman dan tertib. sebagai tujuan asasi bernegara diperlukan pemimpin yang adil dan berwibawa serta pemerintahan yang bersih dari penyimpangan dan kezaliman. Dalam hal ini sistem hukum dan penegakan hukum oleh hakim-hakim yang adil menjadi jaminan terwujudnya cita-cita luhur tujuan bermasyarakat dan =>bernegara yang baik, yakni memanusiakan kehidupan manusia yang manusiawi sesuai Fitrah yang dikehendaki Allah SWT. C. PANDANGAN ISLAM TERHADAP NEGARA Dalam tradisi politik Islam terdapat tiga corak pemikiran tentang hubungan agama dan negara. Perbedaan cara pandang ketiga pemikiran ini terletak pada konseptualisasi yang diberikan kedua istilah tersebut kendati Islam difahami sebagai agama yang ajarannya meliputi totalitas kehidupan manusia termasuk politik dan kenegaraan.

Paradigma pertama adalah cara pemikiran konservatif yang terdiri dari ulama Syiah dan kelompok Fundamentalis seperti M. Rasyid Ridha, Sayyid Qutub dan Al-Maududi. Mereka memahami Islam sebagai Agama yang Komprehensip mengatur berbagai aspek kehidupan termasuk politik kenegaraan. Dalam Syariat Islam juga tidak ada pemisahan antara agama dan politik, antara agama dan negara. Dengan demikian. Urusan agama dan negara terintegrasi sebagai satu sistem yang tidak terpisahkan. Wilayah agama juga meliputi politik kenegaraan. keagamaan. Negara dalam perspektif Syiah dan kelompok Fundamentalisme tersebut diatas adalah negara Theokrasi dimana kekuasaan negara diselenggarakan atas dasar kedaulatan Tuhan dan menjadikan Syariat Islam sebagai hukum dasar negara. Agama Islam juga menjadi agama resmi negara. Oleh karena itu dalam negara Teokrasi tidak dibenarkan menempuh kebijaksanaan politik, Hukum dan sebagainya yang bertentangan dengan ajaran dan hukum Tuhan atau Syariat Islam. I=> Dalam konteks ini, Al- Maududi mengatakan: dalam bernegara umat Islam tidak perlu bahkan dilarang meniru sistem barat, cukup kembali kepada sistem politik Al-Khulafa, Al- Rasyidin sebagai model atau contoh sistem menurut Islam. 5 Paradigma kedua adalah pemikiran yang bercorak akomodatif sebagaimana pendapat Al Mawardi (W. 1058). Bahwa Lembaga Negara dan Pemerintahan diadakan sebagai pengganti fungsi kenabian dalam menjaga agama dan mengatur dunia.6 Pemeliharaan agama dan pengaturan dunia merupakan dua hal yang berbeda, tapi berhubungan secara simbolik, keduanya merupakan dua dimensi dari misi kenabian. 7 Dengan demikian antara agama dan negara terdapat hubungan yang bersifat komplementer. Karena dengan negara, agama dapat berkembang dan sebaliknya dengan agama, negara dapat berkembang dalam bimbingan etika dan moral. Dalam konsepsi Al Mawardi tersebut ditas menunjukkan tentang hubungan agama dan negara, syariah mempunyai posisi sentral sebagai sumber legitimasi terhadap realitas politik atau menjadikan agama sebagai alat jastifikasi kepatuhan politik. Dengan demikian Al Mawardi memperkenalkan sebuah pendekatan pragmatis dalam penyelesaian politik ketika dihadapkan dengan prinsip prinsip agama. Negara sebagai lembaga politik juga merupakan wilayah

Paradigma ketiga, konsep pemikiran sekularistik yang menghendaki pemisahan antara agama dan politik atau negara. Diantara tokoh sekularis muslim ialah Ali Abd. Raziq (W. 1905 M). Ahmad Lutfi Sayyid (W. 1973 M). Ali Abd Raziq memahami Islam tidak berbeda dengan agama agama yang lain yang hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, sedangkan urusan politik dan negara terserah sepenuhnya kepada umat tentang atau pola pengaturan yang akandipakai pemerintahan menurut Islam tidak harus berbentuk Khalifah atau teokrasi, melainkan dapat beraneka ragam bentuk dan sifatnya sesuai konteks budaya. 8 Sistem Pemerintahan tidak disinggung singgung oleh Al Quran dan Hadits, oleh karena itu dalam ajaran Islam tidak terdapat ketentuan ketentuan tentang corak negara. Nabi Muhammad SAW hanya mempunyai tugas kerasulan dan dalam misi beliau tidak termasuk pembentukan negara. Sistem Khalifah timbul sebagai perkembangan yang seharusnya dari sejarah Islam. Sistem Pemerintahan Khalifah merupakan proses histories dan bukan misi keagamaan.soal corak dan bentuk negara bukanlah soal agama, tetapi soal duniawi dan urusannya sepenuhnya diserahkan kepada akal manusia untuk menentukannya. 9 Konsep pemikiran tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa umat Islam hendaknya bersikap rasional dan realistis dalam mewujudkan cita cita politik yang diperjuangkan dengan cara yang etis dan yang sesuai dengan konteks budaya dan peradaban masyarakatnya. Agama Islam memang tidak mengatur urusan politik, negara dan sistem pemerintahan, tetapi umat Islam tidak dilarang berpolitik dan berijtihad untuk urusan negara dan bahkan kekuasaan politik membangun pemerintahan yang adil justru sangat penting dan diperlukan oleh umat Islam, tetapi bukan karena tuntutan agama, melainkan tuntutan situasi social dan politik itu sendiri atau keniscayaan sejarah yang sedang berkembang. Dengan jalan pikiran seperti ini Islam dapat dihadirkan sebagai agama rakhmat dan perekat peradaban masyarakatnya, bukan sebagai kekuatan politik ideologis.

D. SISTEM POLITIK ISLAM

Dalam tradisi politik Islam dapat dilihat dari dua aspek, yaitu aspek sejarah perkembangan politik dunia Islam dan kedua aspek pemikiran politik Islam, yaitu sebagai berikut :

1. Perkembangan Bentuk Pemerintahan Islam Dari segi bentuk negara maupun system pemerintahan, terd apat perbedaan antara masa Nabi, masa Al Khulafa Al Rasyidin dan sesudahnya. System pemerintahan pada masa Nabi lebih tepat disebut sebagai system teokrasi, karena beliau memang memerintah atas nama Tuhan, melalui syariat-Nya yang diwahyukan kepada Nabi, baik dalam bentuk Quran dan Hadis. Kekuasaan negara, baik dalam hal legislative, eksekutif maupun yudikatif berada ditangan beliau sendiri, meskipun kadang kadang beliau juga mendelegasikan kepada salah seorang sahabat. Sebagaimana yang diberikan kepada Muadz Ibn Jabal. Sebagai seorang Nabi yang memiliki sifat mashum, semua tindakan yang beliau lakukan selalu dikontrol allah, sehingga loyalitas kaum muslimin kepada beliau pun bersifat absolut. Namun demikian dalam memecahkan persoalan persoalan yang muncul sering juga Nabi melakukan msuyawarah dengan para sahabatnya, dan tidak jarang beliau memutuskan secara demokratis (suara terbanyak). Bahkan sebelum terjadinya penghianatan kelompok non muslim, terutama kauh Yahudi terhadap Piagam Madinah, mereka juga ikut dalam musyawarah ini. Piagam ini pun sebenarnya merupakan konsesus bersama antara kelompok agama yang ada di Madinah untuk membangun sebuah masyarakat atau sebuah negara yang anggotanya terdiri dari masyarakat yang majemuk. Pada masa Al-Khulafa Al-Rasydin (11-41 H / 623-661 M) bentuk negara atau system pemerintahan lebih tepat disebut sebagai Republik, karena system pemilihan kepala negara dilakukan dengan cara pemilihan atau pengangkatan oleh rakyat atau wakilnya serta berdasarkan kriteria kesalehan dan kemampuannya, bukan berdasarkan kriteria kekeluargaan secara turun temurun. Dalam pengambilan keputusan para Khalifah itu terbiasa melakukannya melalui musyawarah, terutama dengan para sahabat senior, yang kemudian para ulama disebut sebagai Ahlul hal wa Al-Aqd, kumpulan para ahli yang kini dapat disamakan dengan lembaga

permusyawaratan rakyat (Majlis Syura). Pada periode Al-Khulafa AlRasydin system pemerintahan tidak lagi berbentuk teokrasi karena pada Khalifah itu bukan sebagai wakil tuhan di bumi ini. Mereka hanya sebagai pengganti nabi dalam menjaga urusan keagamaan dan keduniaan. Setelah periode Al-Khulafa Al-Rasydin, yakni sejak munculnya dinasti Umayah sampai berakhirnya dinasti Turki Usmani, bentuk negara kemudian berkembang menjadi monarki meskipun negara ini masih bernama kekhalifahan yang bersifat universal dengan bentuk ini kepala negara (Khalifah atau Sultan) tidak lagi dipilih oleh rakyat atau wakilnya, tetapi secara turun temurun di lingkungan dinasti tertentu saja. Syariat Islam pun masih tetap menjadi hukum positif, meskipun dalam prakteknya sering terjadi campur tangan penguasa. Pada masa kontemporer, terutama sejak berakhirnya dinasti Usmani pada tahun 1923 M. praktek kenegaraan di lingkungan umat Islam banyak dipengaruhi oleh praktek kenegaraan barat. Hal ini terjadi akibat penjajahan Barat, pendidikan modern dan kombinasi politik barat atas negara negara dunia ketiga, termasuk dunia Islam. Menurut Samuel P. Huntington meskipun secara tioritis (doktriner) Islam itu kompatibel dengan nilai nilai demokratis, dalam praktiknya jarang sekali system demokrasi dilaksanakan di negara negara muslim.10 2. Pemikiran Politik Islam Ali Abd. Al Razaq bahwa system politik pemerintahan menurut Islam boleh mengambil bentuk apa saja, bahkan secara ekstrim beliau mengatakan bahwa Rasulullah SAW. Mendakwahkan agama, dan tidak ada kaitannya dengan urusan kenegaraan. Dengan demikian, monarki, republik dan sosialis, asal disana terdapat prinsip syura. AlQuran tidaklah memberikan suatu pola ketatanegaraan tertentu secara pasti, yang harus diikuti oleh umat Islam di berbagai belahan dunia. Dalam hal ini dikemukakan dua argumen. Pertama, Al-Quran pada prinsipnya adalah petunjuk etis bagi manusia, ia bukanlah sebuah kita ilmu politik. Kedua, sudah menjadi sunatullah bahwa institusi institusi social politik dan organisasi selalu mengalami perkembangan dari masa ke masa. 11 Menurut Nurcholis Madjid, nilai negara dan pemerintahan dalam istilah Islam adalah instrumental dan bukan tujuan itu sendiri. Prinsip dari

segala prinsip yang dikehendaki oleh umat Islam adalah taqwa kepada Tuhan. Jadi bentuk pemerintahan atau negara adalahdiwujudkan untuk menciptakan ruang dan sebagai tempat bagi setiap manusia dalam mengembangkan taqwanya kepada Tuhan. Jadi masalahnya adalah masalah etika moral, dan kalau seseorang betul betul mengikuti etika yang bersumber dari ketataan dan tauhid, hasilnya adalah sikap demokratis. Negara Islam sebenarnya tidak dikenal dalam sejarah. Masalah kenegaraan tidak menjadi bagian integral dari ajaran Islam. Umat Islam menurut negara atau pemerintahan ini menjadi negara atau pemerintahan Islam. Yang penting adalah isi atau substansinya, bukan bentuk formalnya. Bentuk formal tidak ada manfaatnya kalau isinya tidak berubah. Jadi, boleh negara ini dikehendaki oleh Allah, yang diridhai-Nya. Negara seperti ini bisa ditumbuhkan melalui pendekatan budaya dalam arti seluas luasnya. Termasuk didalamnya pendidikan, dakwah, kesenian, dan diantaranya yang terpenting adalah dinamika intelektual. Abdurrahman Wahid juga mengemukakan bahwa negara harus dilihat dari segi fungsinya, bukan dari normal formalnya, atau negara Islam atau bukan. Selama kaum Muslim dapat menyelenggarakan kehidupan beragama mereka secara penuh. Maka konteks pemerintahannya tidak lagi menjadi pusat pemikiran yang urgen. 12

E. DEMOKRASI ISLAM Asas demokrasi dalam tinjauan al-Quran surat Ali Imran (3): 159:

Artinya:

.. dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan (duniawi) itu, kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertaqwalah kepada Allah. 13

Diantara system politik barat yang kini banyak direspon oleh umat Islam adalah system demokrasi yang dianggap identik dengan konsep syura yang terdapat dalam ayat Al-Quran tersebut diatas. Secara prinsip, Sistem demokrasi dinilai sebagai sebuah system yang paling bias menghargai semua nilai nilai kemanusiaan dan sejalan dengan proses globalisasi, persamaan, kebebasan, dan kemajemukan ( pluralisme ). Demokrasi tidak hanya sebatas dalam sebuah masyarakat atau negara, tetapi juga antar negara. Dengan demikian demokrasi kini sudah menjadi ide yang bersifat universal, hampir seluruh negara didunia termasuk negara negara muslim, meskipun dengan disertai mondifikasi baik dari segi konsep maupun bentuknya, sesuai dengan system keyakinan dan budaya local masing masing negara. Kata demokrasi atau democracy, berasal dari kata Yunani demos yang berarti rakyat dan kratos yang berarti pemerintahan. Jadi secara harfiah demokrasi berarti pemerintahan rakyat. Secara histories demokrasi ini muncul sebagai respons terhadap system monarki dictator Yunani pada abag SM. Namun demokrasi modern yang muncul sejak abad 16 M. telah mengalami perkembangan dimana demokrasi tidak hanya dipafami sebagai kelembagaan trias politika, tetapi juga mengandung nilai nilai universal, terutama persamaan, kebebasan dan prulalisme. Dalam tradisi pemikiran Islam, para cendekiawan Muslim yang mendukung ide demokrasi beranggapan bahwa system demokrasi ini merupakan system pemerintahan mayoritas yang menerapkan metode permusyawaratan dalam pengambilan keputusan. Mereka menyamakan konsep demokrasi dengan konsep syura yang terdpat dalam Al Quran, hal ini didukung juga oleh fakta sejarah bahwa Nabi juga pernah mengambil keputusan berdasarkan suara terbanyak atau demokratis, yakni ketika beliau memutuskan posisi kaum muslimin dalam perang Uhud untuk melakukan tindakan opensip menghadapi serbuan kaum Musyrikin. Nilai nilai demokrasi atau syura dalam penerapannya secara histories dapat dilihat dari proses permusyawaratan yang terjadi pada pertemuan di Balai Saidah (Madinah) segera setelah Nabi Saw. wafat. Pada waktu itu Abu Bakar

yang terpilih sebagai khalifah pertama menyampaikan pidato pelantikannya, yang isinya menerima mandat dari rakyat untuk melaksanakan Al-Quran dan AlSunnah. Selama ia melaksanakan mandat ini, ia harus dipertahankan. Sebaliknya, jika ia berbuat kesalahan fatal, ia harus diturunkan. 14 Adapun bentuk demokrasi dapat berbeda beda sesuai kondisi yang ada dalam suatu masyarakat Islam, yang penting adalah pelaksanaan prinsip syura yang secara sadar dihormati dan dipertahankan. Dalam konteks ini ijtihad politik berperan untuk merumuskan bentuk demokrasi yang sesuai dengan budaya masyarakat Islam setempat. Oleh karena itu umat Islam bebas menentukan tipe system politik demokrasi yang mereka inginkan. Secara histories, institusi semacam syura ini sudah ada sejak masyarakat pra Islam, dalam urusan bersama mereka menjalankan melalui permusyawaratan. Tentu saja Al-Quran melakukan perubahan mendasar terutama merubah syura dari sebuah institusi suku menjadi institusi komunitas, karena ia menggantikan hubungan darah dengan hubungan iman. Menurut Muhammad Iqbal kohesi antara Islam dengan ide demokrasi terletak pada prinsip persamaan (equality), yang didalam Islam dimanipestasikan oleh ajaran Tauhid sebagai suatu gagasan kerja dalam kehidupan sosio-politik umat Islam. Hakikat Tauhid satu gagasan kerja itu bias membumi, hendaklah umat Islam secara sadar kreatif membangun kembali sosio-politiknya dengan menciptakan demokrasi spiritual di muka bumi. Bagi Iqbal, kekurangan demokrasi barat tampaknya pada aspek spiritualnya itu, selebihnya demokrasi barat tidak ada persoalan untuk diterima dan diterapkan sebagai system politik. Dalam kontek ini konsep syura merupakan gagasan politik utama pada Al-Quran, maka system demokrasi nampak lebih cocok atau mendekati kepada cita cita utama politik Al-Quran, sekalipun tidak harus identik dengan system politik demokrasi barat. 15 Sistem politik demokrasi Islam oleh Amien Rais disebut theo demokrasi yang cirri cirinya sebagai berikut : 1. 2. Harus dijalankan atas dasar keadilan dalam berbagai bidang kehidupan sejalan dengan Al-Quran surah An-Nisa (3) : 135 Ditegakkan atas dasar syura bukan elitisme dan diskriminasi etnis. Kedaulatan rakyat sesungguhnya merupakan mandat dari Tuhan, sedangkan pemimpin hanyalah pelayan umat (Al-Quran surah an-Nisa (3) : 159)

10

3.

Ditegakkan atas dasar persaudaraan Islam tanpa diskriminasi.

Konsep syura sebagai theo demokrasi merupakan prinsip fundamental dalam menjamin negara dan masyarakat agar tidak hancur dan hanyut dalam kultus individu. 16

DAFTAR KUTIPAN
1

Departemen Haji dan Wakaf Saudi Arabia, Al-Quran wa Tarjamatu

maaniyatu ila Lughati al-Indunisiya, ( Medinah Munawwarah: khadim alHaramain asy-Syarifain, Tahun 1411 H ), h. 847
2

Munawir Syadzali, Islam dan Tata Negara, ( Jakarta: UI-Press, 1993 ), Al Mawardi, Hukum Tata Negara dan Kepemimpinan Dalam Munawir Syadzali, Islam dan Tata Negara, Op.Cit. h. 51 Ibid. h . 166 Al Mawardi, Hukum Tata Negara dan Kepemimpinan Dalam Ulumul Quran, Nomor 2, Vol. IV. 1993. h. 6 Bandingkan : Munawir Syadzali, Islam dan Tata Negara. Loc.Cit. h. 141 Harun Nasution, Pembaharuan Dalam Islam, ( Jakarta: Bulan Bintang, Masykuri Abdillah, Makalah, Gagasan dan Tradisi Bernegara Dalam Ismail SM. & Abdul Mukti, Pendidikan Islam, Demokratisasi dan M. Syafii Anwar, Pemikiran dan Aksi Islam Indonesia, (Jakarta: Departemen Haji dan Wakaf Saudi Arabia, Op. Cit., h. 103 Masykuri Abdillah, Loc.Cit. h. 1 2

h. 99
3

Takaran Islam, ( Jakarta: Gema Insani, 2000 ), h. 15


4 5 6

Takaran Islam, Loc. Cit.


7 8

dan 208
9

1975), h . 85
10

Islam, h. 3 6
11

Masyarakat Madani, ( Yogyakarta: Pustaka Pelajar,2000 ) h. 38 39


12

Paramadina, 1995). h. 188


13 14

11

15

M. Syafii Anwar, Pemikiran dan Aksi Islam Indonesia, Op.Cit. Ismail SM & Abdul Mukti, Pendidikan Islam, Demokrasi dan

h.

223
16

Masyarakat Madani, Op.Cit. h.43