Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PENDAHULUAN KONSEP MEDIS & KONSEP DASAR KEPERAWATAN THYPOID

OLEH : REZKIANA 10.1101.450 KLP IV KL.10

CI LAHAN

CI INSTITUSI

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN UNIVERSITAS INDONESIA TIMUR MAKASSAR 2013

A. DEFINISI Demam Tifoid adalah suatu penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai saluran cerna dengan gejala demam lebih dari 7 hari, gangguan pada saluran cerna dan gangguan kesadaran. (Kapita Selekta Kedokteran, 2000). Demam tifoid adalah penyakit menular yang bersifat akut, yang ditandai dengan bakterimia, perubahan pada sistem retikuloendotelial yang bersifat difus, pembentukan mikroabses dan ulserasi Nodus peyer di distal ileum. (Soegeng Soegijanto, 2002) Tifus abdominalis adalah suatu infeksi sistem yang ditandai demam, sakit kepala, kelesuan, anoreksia, bradikardi relatif, kadang-kadang pembesaran dari limpa/hati/kedua-duanya. (Samsuridjal D dan heru S, 2003) B. ETIOLOGI Etiologi typhoid adalah Salmonella Typhi. Salmonella para typhi A. B dan C. ada dua sumber penularan salmonella typhi yaitu pasien dengan demam typhoid dan pasien dengan carier. Carier adalah orang yang sembuh dari demam typhoid dan masih terus mengekresi salmonella typhi dalam tinja dan air kemih selama lebih dari 1 tahun. Salmonella typhosa, basil gram negative, bergerak dengan rambut getar, tidak berspora. Mempunyai sekurang-kurangnya 3 macam antigen yaitu antigen O (somatik, terdiri dari zat komplek lipopolisakarida), antigen H (flagella) dan antigen Vi. Dalam serum penderita terdapat zat anti (aglutinin) terhadap ketiga macam antigen tersebut. Salmonella typhi yang menyebabkan infeksi invasif yang ditandai oleh demam, toksemia, nyeri perut, konstipasi/diare. Komplikasi yang dapat terjadi antara lain: perforasi usus, perdarahan, toksemia dan kematian. (Ranuh, Hariyono, dan dkk. 2001). C. PATOFISIOLOGI Penularan salmonella thypi dapat ditularkan melalui berbagai cara, yang dikenal dengan 5F yaitu Food (makanan), Fingers (jari tangan/kuku), Fomitus (muntah), Fly (lalat) dan melalui Feses.

Feses dan muntah pada penderita typhoid dapat menularkan kuman salmonella thypi kepada orang lain. Kuman tersebut dapat ditularkan melalui perantara lalat, dimana lalat akan hinggap dimakanan yang akan dikonsumsi oleh orang yang sehat. Apabila orang tersebut kurang memperhatikan kebersihan dirinya seperti mencuci tangan dan makanan yang tercemar kuman salmonella thypi masuk ke tubuh orang yang sehat melalui mulut. Kemudian kuman masuk ke dalam lambung, sebagian kuman akan dimusnahkan oleh asam lambung dan sebagian lagi masuk ke usus halus bagian distal dan mencapai jaringan limpoid. Di dalam jaringan limpoid ini kuman berkembang biak, lalu masuk ke aliran darah dan mencapai sel-sel retikuloendotelial. Sel-sel retikuloendotelial ini kemudian melepaskan kuman ke dalam sirkulasi darah dan menimbulkan bakterimia, kuman selanjutnya masuk limpa, usus halus dan kandung empedu. Semula disangka demam dan gejala toksemia pada typhoid disebabkan oleh endotoksemia. Tetapi berdasarkan penelitian eksperimental disimpulkan bahwa endotoksemia bukan merupakan penyebab utama demam pada typhoid. Endotoksemia berperan pada patogenesis typhoid, karena membantu proses inflamasi lokal pada usus halus. Demam disebabkan karena salmonella thypi dan endotoksinnya merangsang sintetis dan pelepasan zat pirogen oleh leukosit pada jaringan yang meradang. Masa inkubasi demam tifoid berlangsung selama 7-14 hari (bervariasi antara 3-60 hari) bergantung jumlah dan strain kuman yang tertelan. Selama masa inkubasi penderita tetap dalam keadaan asimtomatis. (Soegeng soegijanto, 2002) D. MANIFESTASI KLINIS Gejala klinis pada anak umumnya lebih ringan dan lebih bervariasi dibandingkan dengan orang dewasa. Walaupun gejala demam tifoid pada anak lebih bervariasi, tetapi secara garis besar terdiri dari demam satu minggu/lebih, terdapat gangguan saluran pencernaan dan gangguan kesadaran. Dalam minggu pertama, keluhan dan gejala menyerupai penyakit infeksi akut pada umumnya seperti demam, nyeri kepala, anoreksia, mual, muntah, diare, konstipasi, serta suhu badan yang meningkat.Pada minggu kedua maka gejala/tanda klinis menjadi makin jelas, berupa demam remiten, lidah tifoid, pembesaran hati dan limpa, perut kembung, bisa disertai gangguan kesadaran dari ringan sampai berat. Lidah tifoid dan tampak kering, dilapisi selaput kecoklatan yang tebal, di bagian ujung tepi tampak lebih kemerahan. (Ranuh, Hariyono, dan dkk. 2001).

Sejalan dengan perkembangan penyakit, suhu tubuh meningkat dengan gambaran anak tangga. Menjelang akhir minggu pertama, pasien menjadi bertambah toksik. (Vanda Joss & Stephen Rose, 1997) Gambaran klinis thypoid : Nyeri kepala (forntal) Kurang enak di perut Keluhan Nyeri tulang, persendian, dan otot Berak-berak Demam Nyeri tekan perut Bronchitis Gejala Toksik Letargik Lidah kotor >60% >60% 40% (Sjamsuhidayat,1998) E. PEMERIKSAAN PENUNJANG 1. Pemeriksaan Darah Perifer Lengkap Dapat ditemukan leukopeni, dapat pula leukositosis atau kadar leukosit normal. Leukositosis dapat terjadi walaupun tanpa disertai infeksi sekunder. 2. Pemeriksaan SGOT dan SGPT SGOT dan SGPT sering meningkat, tetapi akan kembali normal setelah sembuh. Peningkatan SGOT dan SGPT ini tidak memerlukan penanganan khusus 100% 50% 50% 50% 100% 75% 75%

3. Pemeriksaan Uji Widal Uji Widal dilakukan untuk mendeteksi adanya antibodi terhadap bakteri Salmonella typhi. Uji Widal dimaksudkan untuk menentukan adanya aglutinin dalam serum penderita Demam Tifoid. Akibat adanya infeksi oleh Salmonella typhi maka penderita membuat antibodi (aglutinin) yaitu: Aglutinin O: karena rangsangan antigen O yang berasal dari tubuh bakteri Aglutinin H: karena rangsangan antigen H yang berasal dari flagela bakteri Aglutinin Vi: karena rangsangan antigen Vi yang berasal dari simpai bakter.

Dari ketiga aglutinin tersebut hanya aglitinin O dan H yang digunakan untuk diagnosis Demam Tifoid. Semakin tinggi titernya semakin besar kemungkinan menderita Demam Tifoid. F. PENATALAKSANAAN a. Perawatan 1) Pasien diistirahatkan 7 hari sampai demam turun atau 14 hari untuk mencegah komplikasi perdarahan usus. 2) Mobilisasi bertahap bila tidak ada panas, sesuai dengan pulihnya tranfusi bila ada komplikasi perdarahan. b. Diet 1) Diet yang sesuai, cukup kalori dan tinggi protein. 2) Pada penderita yang akut dapat diberi bubur saring. 3) Setelah bebas demam diberi bubur kasar selama 2 hari lalu nasi tim. 4) Dilanjutkan dengan nasi biasa setelah penderita bebas dari demam selama 7 hari.

c. Obat 1) Kloramfenikol. Dosis yang diberikan adalah 4 x 500 mg perhari, dapat diberikan secara oral atau intravena, sampai 7 hari bebas panas 2) Tiamfenikol. Dosis yang diberikan 4 x 500 mg per hari. 3) Kortimoksazol. Dosis 2 x 2 tablet (satu tablet mengandung 400 mg sulfametoksazol dan 80 mg trimetoprim) 4) Ampisilin dan amoksilin. Dosis berkisar 50-150 mg/kg BB, selama 2 minggu 5) Sefalosporin Generasi Ketiga. dosis 3-4 gram dalam dekstrosa 100 cc, diberikan selama jam per-infus sekali sehari, selama 3-5 hari 6) Golongan Fluorokuinolon Norfloksasin : dosis 2 x 400 mg/hari selama 14 hari Siprofloksasin : dosis 2 x 500 mg/hari selama 6 hari Ofloksasin Pefloksasin Fleroksasin : dosis 2 x 400 mg/hari selama 7 hari : dosis 1 x 400 mg/hari selama 7 hari : dosis 1 x 400 mg/hari selama 7 hari

7) Kombinasi obat antibiotik. Hanya diindikasikan pada keadaan tertentu seperti: Tifoid toksik, peritonitis atau perforasi, syok septik, karena telah terbukti sering ditemukan dua macam organisme dalam kultur darah selain kuman Salmonella typhi. (Widiastuti S, 2001) G. KOMPLIKASI Perdarahan usus, peritonitis, meningitis, kolesistitis, bronkopneumonia, hepatitis. (Arif mansjoer & Suprohaitan 2000). ensefalopati,

Perforasi usus terjadi pada 0,5-3% dan perdarahan berat pada 1-10% penderita demam tifoid. Kebanyakan komplikasi terjadi selama stadium ke-2 penyakit dan umumnya didahului oleh penurunan suhu tubuh dan tekanan darah serta

kenaikan denyut jantung.Pneumonia sering ditemukan selama stadium ke-2 penyakit, tetapi seringkali sebagai akibat superinfeksi oleh organisme lain selain Salmonella. Pielonefritis, endokarditis, meningitis, osteomielitis dan arthritis septik jarang terjadi pada hospes normal. Arthritis septik dan osteomielitis lebih sering terjadi pada penderita hemoglobinopati. (Behrman Richard, 1992). H. PENYIMPANGAN KDM
Salmonella Typhosa

Saluran pencernaan

Diserap usus halus Bakteri masuk melalui aliran darah sistemik

Konstipasi

Motalitas usus menutun

Defisit self care

Kelenjar limfoid usus halus

Hati & Limfa halus hepatosplenomegali Mual, muntah

Endotoksin

Bed rest

Hipertermi Hospitalisas i

Tukak

PK : Perdarahan & Perdarahan

Intake tidak adekuat

Ansietas

Resiko deficit volume cairan

Resiko kebutuhan nutrisi kurang

KONSEP DASAR KEPERAWATAN 1. PENGKAJIAN a. Identitas b. Keluhan Utama Pada pasien Thypoid biasanya mengeluh perut merasa mual dan kembung, nafsu makan menurun, panas dan demam. c. Riwayat Penyakit Dahulu Apakah sebelumnya pasien pernah mengalami sakit Thypoid? Apakah pasien menderita penyakit lainnya? d. Riwayat Penyakit Sekarang. Pada umumnya penyakit pada pasien Thypoid adalah demam, anorexia, mual, muntah, diare, perasaan tidak enak di perut, pucat (anemi), nyeri kepala/pusing, nyeri otot, lidah tifoid (kotor), gangguan kesadaran berupa somnolen sampai koma. e. Riwayat Kesehatan Keluarga Apakah dalam kesehatan keluarga ada yang pernah menderita Thypoid atau sakit yang lainnya ? f. Riwayat Psikososial Psiko sosial sangat berpengaruh sekali terhadap psikologis pasien, dengan timbul gejala-gejala yang dalami, apakah pasien dapat menerima pada apa yang dideritanya. g. Pola-Pola Fungsi Kesehatan Pola nutrisi dan metabolisme Pola aktifitas dan latihan Pola tidur dan aktifitas Pola eliminasi Pola persepsi dan pengetahuan h. Pemeriksaan Fisik

Keadaan umum Biasanya pada pasien typhoid mengalami badan lemah, panas, pucat, mual, perut tidak enak, anoresia.

Kepala dan leher Kepala tidak ada benjolan, rambut normal, kelopak mata normal, konjungtiva anemia, mata cowong, muka tidak edema, pucat/ bibir kering, lidah kotor, ditepi dan ditengah merah, fungsi pendengran normal leher simetris, tidak ada pembesaran kelenjar tiroid.

Dada dan abdomen Dada normal, bentuk simetris, pola nafas teratur, didaerah abdomen ditemukan nyeri tekan.

Sistem respirasi Apa ada pernafasan normal, tidak ada suara tambahan, dan tidak terdapat cuping hidung.

Sistem kardiovaskuler Biasanya pada pasien dengan typhoid yang ditemukan tekanan darah yang meningkat akan tetapi bisa didapatkan tachiardi saat pasien mengalami peningkatan suhu tubuh.

Sistem integument Kulit bersih, turgor kulit menurun, pucat, berkeringat banyak, akral hangat.

Sistem eliminasi Pada pasien typhoid kadang-kadang diare atau konstipasi, produk kemih pasien bisa mengalami penurunan (kurang dari normal). N -1 cc/kg BB/jam.

2. DIAGNOSA Diagnosa yang mungkin muncul pada klien typhoid adalah :

1) Resiko tinggi ketidakseimbangan volume cairan dan elektrolit b.d hipertermi dan muntah. 2) Resti gangguan pemenuhan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh b.d intake yang tidak adekuat. 3) Hipertermi b.d proses infeksi salmonella thypi. 4) Ketidakmampuan memenuhi kebutuhan sehari-hari berhubungan dengan kelemahan fisik. 5) Kurangnya pengetahuan tentang penyakitnya berhubungan dengan kurang informasi atau informasi yang tidak adekuat. 3. PERENCANAAN KEPERAWATAN Berdasarkan diagnosa keperawatan secara teoritis, maka rumusan perencanaan keperawatan pada klien dengan typhoid, adalah sebagai berikut : Diagnosa 1 Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses terjadinya penyakit Intervensi dan Rasionalisasi Kaji pengetahuan keluarga tentang demam Untuk mengetahui apakah keluarga mengerti tentang demam Observasi tanda-tanda vital : suhu, nadi, pernapasan Dengan mengobservasi vital sign berguna untuk mengetahui keadaan umum dan perkembangan penyakit Diagnosa II Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi berhubungan dengan intake makanan yang tidak adekuat. Intervensi dan Rasionalisasi Jelaskan manfaat makanan / nutrisi bagi klien Meningkatkan pengetahuan klien tentang nutrisi Berikan makanan dalam porsi kecil tapi sering dan hangat

Dengan memberikan makanan porsi kecil tapi sering dapat memenuhi kebutuhan nutrisi Timbang BB setiap hari Untuk mengetahui seberapa banyak penurunan berat badan klien selama sakit. Dignosa III Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan intake makanan yang tidak adekuat. Intervensi dan Rasionalisasi Kaji keadaan umum, pasien lemah, pucat, tachikardi, serta tanda-tanda vital Menetapkan data dasar klien. Untuk mengetahui dengan cepat penyimpangan dari keadaan normal. Anjurkan klien untuk banyak minum Asupan cairan sangat diperlukan untuk menambah volume cairan tubuh Diagnosa IV Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan suhu tubuh yang meningkat Intervensi dan Rasionalisasi Berikan Kompres dingin pada daerah axila dan lipatan paha Kompres dingin akan membantu penurunan suhu panas Cipatakan lingkungan yang tenang dan sejuk Dengan menciptakan lingkungan yang tenang diharapkan klien dapat beristirahat dengan baik Beri obat Untuk menurunkan suhu tubuh

4. IMPLEMENTASI Adalah : pelaksanaan perencanaan keperawatan oleh perawat dan klien. Beberapa tujuan pada implementasi adalah sebagai berikut : Intervensi dilakukan sesuai dengan rencana Keterampilan interpersonasi, intelektual, teknik dilakukan dengan cermat. Keamanan fisik dilindungi. Dokumentasi intervensi dan respon klien. 5. EVALUASI Evaluasi adalah : bagian terakhir dari proses keperawatan Diagnosa I Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses terjadinya penyakit Evaluasi : Klien bebas dari demam ditandai Klien tidak gelisah lagi Suhu tubuh kembali normal

Diagnosa II Gangguan pemenuhan nutrisi berhubungan dengan intake makanan yang tidak adekuat. Evaluasi : Kebutuhan nutrisi terpenuhi Diagnosa III Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan intake cairan yang tidak adekuat. Evaluasi : Kebutuhan cairan elektrolit terpenuhi Diagnosa IV Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan suhu tubuh yang meningkat Evaluasi : Rasa nyaman terpenuhi

DAFTAR PUSTAKA Kapita Selekta Kedokteran Edisi 3. Jilid 1. Fakultas Kedokteran VI.2001 Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3. Marilynn E. Doenges. Egc. 2000 Dr. Yatim Faisal, DTM&H, MPH, Macam-macam Penyakit Menular, dan Cara Pencegahannya, 2007, Obor Populer, Jakarta. http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/108/jtptunimus-gdl-iistaurita-5371-2-babii.pdf diambil pada tanggal 20 juni 2012. http://hanikamioji.wordpress.com/2009/04/23/askep-typhoid/diambil pada tanggal 20 juni 2012. http://akperlamongan.mywapblog.com/askep-typhoid.xhtmldiambil pada tanggal 20 juni 2012. Murwani arita, S.Kep, Perawatan Pasien Penyakit Dalam, 2009, MITRA CENDIKIA, Yogyakarta. Saryono, 2008, Metodologi Penelitian Kesehatan, Mitra Cendikia Press, Yogyakarta.