Anda di halaman 1dari 7

Infeksi Neonatus Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007 mendapatkan angka kematian bayi (AKB

) di Indonesia, 35 bayi per 1000 kelahiran hidup. Bila dirincikan 157.000 bayi meninggal per tahun atau 430 bayi per hari. Beberapa penyebab kematian bayi disebabkan berat badan lahir rendah, asfiksia, tetanus, infeksi, dan masalah pemberian minum. Penyebab kematian neonatal kelompok umur 0-7 hari adalah prematuritas dan berat badan lahir rendah/low birth weight (LBW) 35%, diikuti oleh asfiksia lahir 33,6%. Sedangkan penyebab kematian neonatal kelompok umur 8-28 hari adalah infeksi 57,1% (termasuk tetanus, sepsis, pnemonia, diare), dan masalah minum 14,3%. Infeksi neonatal dapat terjadi intrauterin melalui transplasental, didapat intrapartum saat melalui jalan lahir selama proses persalinan, atau pascapartum akibat sumber infeksi dari luar setelah lahir. Infeksi intrapartum dapat terjadi pada saat melalui jalan lahir atau infeksi asendens bila terjadi partus lama dan ketuban pecah dini. Kelompok virus yang sering menjadi penyebab termasuk herpes simplex, HIV, cytomegalovirus (CMV), dan hepatitis B yaitu virus yang jarang ditularkan secara transplasental. Sedangkan kelompok kuman termasuk Streptokokus grup B Gram negatif, kuman enterik Gram negatif (terutama Escheria coli), gonokokus dan klamidia. Infeksi pasca persalinan terjadi karena kontak dengan ibu yang terinfeksi secara langsung misalnya ibu yang mendrita tuberkulosis (meskipun dapat ditularkan intrauterin), melalui ASI (HIV, CMV), kontak dengan petugas kesehatan lain, atau kuman di lingkungan rumah sakit. Infeksi bakterial sistemik dapat terjadi kurang dari 1%, penyakit virus 6%-8% dari seluruh populasi neonatus dan infeksi bakteri nosokomial 2%-25% dari bayi yang dirawat di NICU. Infeksi awitan dini apabila terjadi dalam lima hari pertama kehidupan pada umumnya disebabkan karena infeksi intrauterin atau intrapartum sedangkan infeksi awitan lambat terjadi sesudah umur tujuh hari dan sering terjadi selama pasca persalinan dan akibat kolonisasi nosokomial.4Menurut perkiraan WHO, terjadi sekitar 5 juta kematian neonatus pada tahun 1995 dan menurun menjadi 4 juta pada tahun 2004, namun tetap 98% terjadi di negara sedang berkembang. Sebagian infeksi dilaporkan di Korea terjadi akibat paparan dengan kuman dan sumber dari lingkungan pada saat pasca persalinan.1,2,3 Fisiologi dasar infeksi neonatal Sejak masa kehamilan sampai ketuban pecah, janin relatif terlindungi dari flora mikroba ibu oleh membran/dinding korioamniotik, plasenta, dan faktor antibakteria dalam air ketuban. Beberapa

dan mikoplasma daerah genital. bakteri vagina dapat bergerak naik dan pada beberapa kasus menyebabkan inflamasi pada membran janin. Saat bakteri mencapai aliran darah.4 Tabel 1. dan plasenta.1. menyebabkan respon inflamasi sistemik dari sumber infeksi berkembang luas. dapat memudahkan organisme normal kulit atau vagina masuk sehingga menyebabkan amnionitis dan infeksi sekunder pada janin. cervical cerclage. Bila ketuban pecah lebih dari 24 jam. status nutrisi dan imunologis. Banyak komplikasi penyakit dan gangguan kandungan yang terjadi sebelum dan sesudah proses persalinan yang berkaitan dengan peningkatan risiko infeksi pada neonatus baru lahir. waktu dan asal intervensi terapi.2 Klasifikasi Infeksi neonatorum dibagi dalam 2 kelompok. tali pusat. Klasifikasi Infeksi Neonatorum Infeksi awitan dini (Early Onset ) Terjadi dalam 72 jam pertama setelah lahir Sumber infeksi : Traktus genitalia maternal Presentasi klinis: Distres respirasi Infeksi awitan lambat (Late Onset ) Terjadi lebih dari 72 jam setelah lahir Sumber infeksi : Nosokomial atau masyarakat dan Presentasi klinis : Septikemia. yaitu awitan dini (early onset ) dan awitan lambat (late onset ). Bakteremia tergantung dari usia pasien. dapat mengakibatkan neonatus lahir mati. Komplikasi ini meliputi persalinan kurang bulan. virulensi dan jumlah bakteri dalam darah. sistem monosit-makrofag dapat menyingkirkan organisme tersebut secara efisien dengan opsonisasi oleh antibodi dan komplemen sehingga bakteriemi hanya terjadi singkat. inersia uterin dengan ekstraksi forseps tinggi. streptokokus kelompok B. dan demam pada ibu.tindakan medis yang mengganggu integritas isi rahim seperti amniosintesis. Infeksi pada ibu saat proses kelahiran terutama infeksi genital adalah jalur utama transmisi maternal dan dapat berperan penting pada kejadian infeksi neonatal. Infeksi hematogen transplasental selama atau segera sebelum persalinan (termasuk saat pelepasan plasenta) dapat terjadi walau infeksi lebih mungkin terjadi saat neonatus melewati jalan lahir. Infeksi pada janin dapat disebabkan oleh aspirasi air ketuban yang terinfeksi. atau sepsis neonatal. pengambilan contoh vili korialis transservikal. Organisme yang paling sering ditemukan dari air ketuban yang terinfeksi adalah bakteri anaerobik. pneumonia atau . atau pengambilan contoh darah perkutaneus. persalinan kurang bulan. Eschericia coli. ketuban pecah dini yang berkepanjangan.

pemakaiaan ventilator mekanik. retraksi dinding • Letargi atau lunglai dada. Manifestasi klinis infeksi neonatal1 Kategori A Kategori B • Kesulitan bernapas (misalnya. napas • Tremor lebih dari 30 kali per menit. apnea. menyokong diagnosis sepsis) • Persalinan di lingkungan yang kurang higienis .BBLR . sianosis • Mengantuk atau aktivitas berkurang sentral) • Kejang • Tidak sadar • Iritabel atau rewel • Muntah (menyokong kecurigaan sepsis) • Perut kembung (menyokong kecurigaan sepsis) • Suhu tubuh tidak normal (tidak normal sejak • Tanda klinis mulai tampak sesudah hari ke lahir dan tidak memberi respons terhadap empat (menyokong kecurigaan sepsis) terapi atau suhu tidak stabil sesudah • Air ketuban bercampur mekonium (menyokong kecurigaan sepsis) pengukuran suhu normal selama tiga kali atau • Malas minum sebelumnya minum dengan baik lebih.500 gram) atau prematur  Demam pada ibu dengan bukti infeksi bakterial dalam 2 minggu sebelum persalinan  Ketuban keruh bercampur mekoneum dan atau bau  Ketuban pecah dini > 24 jam  Pemeriksaan dalam vagina selama persalinan yang tidak bersih  Partus lama  Asfiksia neonatorum Adanya ketuban keruh bercampur mekoneum atau 3 kriteria di atas. grunting pada waktu ekspirasi. perawatan tali pusat tidak bersih. pemakaian botol susu. penggunaan cairan untuk mengatasi syok Sepsis didapat dari masyarakat : higiene buruk. pemberian makan dini Sumber : Neonatal Sepsis Protocol for Indian Neonatal Intensive Care Unit (NICU)-The algorithmic way Tabel 2. indikasi untuk memulai pemberian antibiotik.pneumonia meningitis Awitan lambat : Awitan dini : Faktor risiko predisposisi :  BBLR (<2. prosedur invasif. Bayi dengan 2 faktor risiko harus dilakukan pemeriksaan skrining sepsis dan diobati sesuai hasil kultur. pemberian cairan parenteral. Faktor risiko predisposisi : .Prematuritas Sepsis didapat dari Rumah Sakit : Perawatan di ruang intensif.

Ibu dengan infeksi saluran kemih (ISK) / tersangka ISK yang tidak diobati   Kriteria minor :          .6 Faktor-faktor risiko ini walaupun tidak selalu berakhir dengan infeksi.5 menit <7) Bayi berat lahir sangat rendah ( BBLSR ) < 1500 gram Usia gestasi < 37 minggu Kehamilan ganda Keputihan pada ibu yang tidak diobati.(menyokong kecurigaan sepsis) • •Kondisi memburuk secara cepat dan dramatis (menyokong kecurigaan sepsis) Identifikasi faktor resiko infeksi harus menjadi perhatian khusus sehingga dapat diberikan tatalaksana efektif seawal mungkin dengan harapan menurunkan mortalitas dan memperbaiki morbiditas akibat sepsis. Pengelompokan faktor-faktor resiko sepsis menjadi faktor resiko mayor dan minor merupakan salah satu langkah awal pendekatan diagnosis sepsis neonatorum.5° C Apgar score rendah (menit ke-1 <5. Adapun masing-masing kriteria adalah sebagai berikut :5. saat intrapartum suhu > 37. harus tetap mendapatkan perhatian khusus.6 Kriteria mayor :  Ketuban pecah >24 jam   Denyut jantung janin yang menetap >160 kali per-menit Ibu demam .000 sel/mL Ibu demam. menit ke. Bila terdapat satu faktor risiko mayor dan dua faktor risiko minor maka diagnosis sepsis harus dilakukan secara proaktif dengan memperhatikan gejala klinis serta dilakukan pemeriksaan penunjang sesegera mungkin. saat intrapartum suhu >38°C Korioamnionitis Ketuban berbau Ketuban pecah antara 12-24 jam Jumlah leukosit maternal >15.5.

Diagnosis tidak langsung: • Jumlah leukosit. • Pengecatan gram cairan aspirat lambung positif (bila >5 neutrophils/LPB) atau ditemukan bakteri • Pemeriksaan fibonektin • Pemeriksaan sitokin. Salah satu panduan yang digunakan untuk mendiagnosis infeksi neonatal bahkan yang berlanjut menjadi sepsis tertera pada Tabel 2. leukopenia <5000 /mm3.reactive protein dan jumlah leukosit. • Pada neonatus yang sakit berat. leukositosis >12000/mm3. dan deteksi kuman patogen GBS & ECK 1 dengan. Kadar prokalsitonin 2 mg/ml mungkin sangat berguna untuk membedakan penyakit infeksi bakterial dari virus pada neonatus dan anak7 . dan tumour necrosis factor –a.000/mm3) • C-reactive protein positif (>6 mg/L). hanya bernilai untuk sepsis awitan lambat • Neutropenia (<1500/mm3 ). dan infeksi lokal b. memberikan hasil yang cukup baik pada kelompok risiko tinggi. interleukin-6. merupakan nilai prognostik • ESR (erytrocyte sedimentation rate) atau micro-ESR pada dua minggu pertama (nilai normal dihitung pada usia hari ketiga) • Haptoglobin.1 Diagnosis laboratorium a.18 ) • Trombositopenia (<100. cairan serebrospinal. Diagnosis pasti infeksi neonatal ditegakkan berdasarkan biakan darah. soluble interleukin 2receptor. fibrinogen dan leukocyte elastase assay. neutrofilia (<7000/mm3) hanya bernilai untuk sepsis awitan lambat • Rasio I:T ( >0. • Polymerase chain reaction suatu cara baru untuk mendeteksi DNA bakteri. hitung jenis. • Prokalsitonin merupakan petanda infeksi neonatal awitan dini dan lambat. kadar prokalsitonin merupakan petanda infeksi yang lebih baik dibanding C. dan pemeriksaan penunjang (laboratorium). pemeriksaan latex particle agglutination dan countercurrent immunoelectrophoresis.Diagnosis infeksi neonatal didasarkan atas anamnesis. pemeriksaan klinis. interleukin-1. urin.

Infeksi Neonatal akibat air ketuban keruh.Tabel 3. Hematological Scoring System8 . 3. Oktober 2009 . Kosim MS. Berdasarkan jumlah dari total HSS diklasifikasikan menjadi tidak ada sepsis apabila total skor ≤ 2. Analisis pada sistem hematologi sesaat setelah bayi lahir berperan sebagai indikator diagnosis sepsis. Vol. Narasima dkk (2011) melakukan penelitian mengenai signifikansi Hematological scoring system (HSS) pada diagnosis sepsis awitan dini pada bayi baru lahir. probable sepsis jika skor 3-4 dan diagnosis sepsis atau infeksi apabila skor ≥ 5. nilai duga positif dan nilai duga negatif pada penelitian tersebut didapatkan bahwa rasio I:T rasio merupakan tes yang paling terpercaya dalam mendiagnosis sepsis. No.8 1. 212-18 . spesifisitas. Jumlah PMN total mempunyai nilai sensitivitas (89. Dengan mempertimbangkan nilai sentivitas. 11.47%) paling tinggi diantara parameter hematologi yang lain sedangkan rasio PMN total dan jumlah trombosit mempunyai nilai spesifisitas yang sama sebesar 75% dalam membantu diagnosis sepsis awitan dini. Sari Pediatri.

P C Ng. Available from http://www. Jakarta: Ikatan Dokter Anak Indonesia. .com/html/infection/disease_at_a_glimpse/neonatal_sepsis_algoritmc 7. Adam D. Buku Ajar Neonatologi. 4. Sarosa GI. 170-87. 2012 July 20 [cited 2012 Dec 20]. 22(3):332-45. 3. 2005 Agust 12-14. way!. Aminullah A. Dewi R.89:229–35. Diagnostic markers of infection in neonates. Masalah terkini sepsis neonatorum. Moran Ki.3(2):10711.2. Usman A. Arch Dis Child Fetal Neonatal 2004. 6. Edisi Pertama. Nnenna TP. Neonatal Sepsis Protocol for Indian Neonatal Intensive Care Unit (NICU)-The algorithmic way-2012. Jakarta: Departemen Ilmu Kesehatan Anak. 5. editor.49:530-6. Youn Jeong Shin. Dalam: Hegar B.2005. Infection in neonates and prematures. Hye Sun Yoon. h. Awoala WB. Dalam : Kosim MS. Sepsis pada Bayi Baru Lahir. Trihono PP. Journal of Medicine and Medical Science. Aminullah A. Risk Factors for neonatal infections in fullterm babies in South Korea Yonsei Med J 2008. 2012. Yunanto A.2008. Phil J Microbiol Infect Dis 1992.cipladoc. Irfan EB. Clinico-bacteriological profile of early and late onset sepsis in a tertiary hospital in Nigeria. editor. Update in neonatal infections. 8.