Anda di halaman 1dari 38

PRESENTASI KASUS Benign Prostate Hyperplasia (BPH)

Pembimbing : dr. Tri Budiyanto, Sp.U

Disusun Oleh: Saidatun Nisa Ade Siti Rahmawati G1A212116 G1A212060

SMF BEDAH RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN PURWOKERTO 2013

HALAMAN PENGESAHAN

Telah dipresentasikan dan disetujui presentasi kasus dengan judul : Benign Prostat Hyperplasia (BPH)

Diajukan untuk memenuhi salah satu ujian kepanitraan klinik dokter muda SMF Bedah RSUD. Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto

Disusun Oleh:

Saidatun Nisa Ade Siti Rahmawati

G1A212116 G1A212060

Purwokerto,

Juli 2013

Mengetahui, Dokter Pembimbing,

dr. Tri Budiyanto, Sp.U

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Allah SWT atas segala limpahan nikmat dan karuniaNya, sehingga dapat menyelesaikan presentasi kasus ini. Presentasi kasus yang berjudul Benign Prostat Hyperplasia (BPH) ini merupakan salah satu syarat ujian kepanitraan klinik dokter muda SMF Bedah RSUD. Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto. Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada dr. Tri Budiyanto, Sp.U sebagai pembimbing atas waktu yang diluangkan, bimbingan, dan saran yang sifatnya membangun dalam penyusunan presentasi kasus ini. Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan presentasi kasus ini masih belum sempurna serta banyak terdapat kekurangan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran dan kritik membangun dari pembimbing serta seluruh pihak.

Purwokerto, Juli 2013

Penulis

I. KASUS

A. IDENTITAS PASIEN Nama Umur Jenis Kelamin Alamat Pekerjaan Agama Tgl Masuk RS Tgl Anamnesis No. CM : Tn. S : 70 Tahun : Laki-laki : Purwosari : Pensiunan guru : Islam : 25 Juni 2013 : 29 Juni 2013 : 965523

B. ANAMNESIS a. Keluhan Utama Tidak bisa buang air kecil b. Keluhan Tambahan Sakit jika buang air kecil, air kencing hanya keluar sedikit setiap BAK. c. Riwayat Penyakit Sekarang Pasien seorang laki-laki datang ke Poli Urologi RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo dibawa keluarganya dengan keluhan sulit buang air kecil sejak 3 hari sebelum masuk rumah sakit. Selain itu pasien mengeluh harus mengejan saat BAK, namun air kencing hanya keluar sedikit.. Pasien mengaku bahwa selama kurang lebih 2 minggu sebelum masuk rumah sakit, BAK dirasakan tidak lancar. Pada awalnya BAK dirasakan terputusputus dan pancaran air kencing lebih lemah dibandingkan biasanya. Pasien sering merasa belum puas setelah berkemih dan merasa ada air kencing yang belum keluar sehingga pasien menjadi lebih sering berkemih. Pasien merasakan sakit pada perut bagian bawah dan penis sejak sulit BAK. Pasien juga mengeluh sering berkemih pada malam hari, kurang lebih hingga empat sampai lima kali setiap malam, sehingga pasien tidak bisa tidur, namun pasien tidak mengompol. Selanjutnya, BAK dirasakan

semakin sulit dan sakit. Pasien mengaku seringkali harus mengejan lama setiap kali berkemih, namun air kencing yang keluar hanya menetes. Keluhan tersebut dirasakan semakin memberat selama 1 minggu terakhir dan sejak 3 hari sebelum masuk rumah sakit pasien tidak bisa buang air kecil. Pasien menyangkal pernah mengeluarkan darah pada saat BAK. Pasien menyangkal adanya keluhan nyeri pada pinggang yang menjalar sampai lipat paha, kaku pada punggung bawah, pinggul maupun paha atas. Pasien juga menyangkal pernah mengeluarkan air mani yang bercampur dengan darah. Pasien tidak merasa adanya rasa panas atau terbakar pada alat kelamin sewaktu berkemih. Pasien tidak merasakan adanya demam. Pasien mengaku tidak pernah mengeluarkan batu dari saluran kemih, tidak pernah mengalami keluhan sulit buang air besar ataupun nyeri saat buang air besar. Pasien mengatakan tidak mengalami penurunan nafsu makan dan penurunan berat badan drastis. d. Riwayat Penyakit Dahulu 1. Riwayat operasi didaerah perut 2. Riwayat trauma didaerah perut 3. Riwayat trauma didaerah pinggang 4. Riwayat kencing nanah dan darah 5. Riwayat kencing manis 6. Riwayat penyakit jantung 7. Riwayat penyakit Hipertensi 8. Riwayat penyakit Ginjal 9. Riwayat batu saluran kencing 10. Riwayat alergi obat 11. Riwayat mondok di rumah sakit d. Riwayat Penyakit Keluarga 1. Tidak ada keluarga yang mengalami keluhan yang sama 2. Riwayat kencing manis 3. Riwayat penyakit hipertensi 4. Riwayat penyakit jantung : disangkal : disangkal : disangkal : disangkal : disangkal : disangkal : disangkal : disangkal : disangkal : disangkal : disangkal : disangkal : disangkal : disangkal

C. PEMERIKSAAN FISIK a. Keadaan umum b. Kesadaran c. Vital Sign Tekanan darah Nadi Respirasi Suhu d. Status Generalis 1. Kepala : mesochepal, rambut hitam, distribusi rambut merata, rambut tidak mudah dicabut. 2. Mata : konjungtiva tidak anemis, sklera anikterik, pupil bulat isokor 3mm/3mm, refleks cahaya (+/+) normal. 3. Hidung 4. Telinga 5. Mulut 6. Leher 7. Thorax Pulmo Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi Cor Inspeksi Palpasi Perkusi : ictus cordis tidak tampak : ictus cordis tidak kuat angkat : kiri atas SIC II LPSS, kiri bawah SIC IV LMCS : kanan atas SIC II LPSD, kanan bawah SIC IV LPSD Auskultasi 8. Abdomen Inspeksi : datar, tidak ada sikatriks dan tidak ada massa. : S1>S2, regular, murmur (-), gallop (-) : simetris, jejas (-) ketinggalan gerak (-), retraksi (-) : vokal fremitus kanan sama dengan kiri : sonor seluruh lapang paru : SD vesikuler, rhonki (-), wheezing (-) : deviasi septum (-), discharge (-) : simetris, discharge (-) : bibir tidak sianosis, lidah tidak kotor dan hiperemis : JVP tidak meningkat, kelenjar limfe tidak membesar : 130/70 mmHg : 80 x/menit : 20 x/menit : 37 0C : Sedang : Compos mentis

Auskultasi Perkusi Palpasi

: bising usus (+) normal : timpani (+) : supel, nyeri tekan perut regio epigastrik, hepar/lien tidak teraba

9. Ekstrimitas Superior Inferior e. Status lokalis Regio Costo Vertebrae Angle (CVA) dextra Inspeksi Palpasi : Bulging (-) : Ballotement (-), Nyeri ketok (-) : akral hangat, edema -/-, sianosis -/-, deformitas -/: akral hangat, edema -/-, sianosis -/-, deformitas -/-

Regio Costo Vertebrae Angle (CVA) sinistra Inspeksi Palpasi : Bulging (-) : Ballotement (-), Nyeri ketok (-)

Regio Suprapubik Inspeksi Palpasi : Perkusi : Datar, tidak tampak massa : Nyeri tekan ada, tidak teraba massa : Timpani

Regio Genitalia Eksterna Inspeksi : Tidak tampak masa, tidak tampak pembesaran scrotum, terpasang douwer cateter, produksinya ada, urin berwarna kuning jernih Palpasi : Nyeri tekan tidak ada, tidak teraba masa, tidak teraba pengerasan pada bagian ventral penis. Regio Anal Inspeksi Palpasi : Tidak tampak massa : Nyeri tekan tidak ada

Rectal taucher : Tonus sfingter ani cukup, ampula recti tidak kolaps, mukosa rectum licin, Prostat ujung atas tidak dapat diraba, sulcus medianus mendatar, kenyal, permukaan licin, simetris, tidak terdapat nodul. Sarung tangan : Feses tidak ada, darah tidak ada, lendir tidak ada.

D. PEMERIKSAAN PENUNJANG 1. Pemeriksaan Hematologi (26 Juni 2013) Darah Lengkap Hemoglobin Leukosit Hematokrit Eritrosit Trombosit MCV MCH MCHC Hitung Jenis Basofil Eosinofil Batang Segmen Limfosit Monosit PT APTT Kimia Klinik Ureum darah Kreatinin darah Glukosa sewaktu Elektrolit Natrium Kalium Klorida 132 mmol/l 5,0 mmol/l 91 mmol/l 98,2 mg/dl 2,71 mg/dl 190 mg/dl 0.3 0.3 0.00 79.5 9.5 10.2 14,3 33 14,8 gr/dl 18090 /ul 41% 4,7x106/ul 312.000/ul 87,5 Fl 30,5 pg 33,9

2. USG Transabdominal ()

Kesan : 1. Pembesaran prostat (volume transabdominal 27,10 ml) 2. Tak tampak batu maupun tanda-tanda bendungan pada traktus urinarius

E. RESUME a. Anamnesis Seorang laki-laki usia 70 tahun Keluhan utama Keluhan tambahan : Tidak bisa buang air kecil : Sakit jika buang air kecil, air kencing hanya keluar sedikit setiap BAK. Habit : Pasien mengaku jarang minum air putih dan lebih suka minum air teh. Pasien jarang beraktivitas. b. Pemeriksaan Fisik Vital sign Status generalis Status lokalis : dalam batas normal : dalam batas normal :

c. Pemeriksaan Penunjang Pada USG abdomen didapatkan kesan pembesaran prostat (volume transabdominal 27,10 ml)

F. DIAGNOSIS KERJA Benign Prostate Hyperplasia ( BPH )

G. DIAGNOSA BANDING a. Striktur uretra b. Batu uretra c. Batu buli buli d. Prostatitis e. Infeksi saluran kemih f. Karsinoma prostat g. Tumor buli-buli h. USULAN PEMERIKSAAN 1. Pemeriksaan radiologi : cystografi, pielografi intravena (IVP) 2. Prostat Specific Antigen (PSA) 3. Biopsi prostat

i. TERAPI Farmakologis Penghambat receptor adrenergic (terazosin = Hytrin) , antibiotik spektrum luas, dan analgetik. Operatif Operasi terbuka (open prostatectomy), TURP (Transurethral Resection of the Prostate)

j. PROGNOSIS Ad vitam Ad sanationam Ad fungsionam : ad bonam : dubia ad bonam : dubia ad bonam

10

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Pendahuluan Benign Prostate Hyperplasia (BPH) adalah pembesaran jinak

kelenjar prostat, disebabkan oleh karena hiperplasi beberapa atau semua komponen prostat meliputi jaringan kelenjar atau jaringan fibromuskuler yang menyebabkan penyumbatan uretra pars

prostatika. Penyakit yang dalam bahasa umumnya dinyatakan sebagai pembesaran prostat jinak (PPJ), merupakan suatu penyakit yang biasa terjadi. Ini dilihat dari frekuensi terjadinya di dunia, dan di Indonesia secara khususnya. Di dunia, diperkirakan penderita BPH mencapai 30 juta, jumlah ini hanya pada kaum pria kerana wanita tidak mempunyai kalenjar prostat. Pada usia 40-an, kemungkinan seseorang untuk menderita penyakit ini adalah sebesar 40%, dan setelah meningkatnya usia, yakni dalam rentang usia 60 hingga 70 tahun, persentasenya meningkat menjadi 50% dan diatas 70 tahun kemungkinannya mencapai 90%. Di indonesia, penyakit pembesaran prostat jinak menjadi urutan kedua setelah penyakit batu saluran kemih, dan jika dilihat secara umumnya, diperkirakan hampir 50 persen pria Indonesia yang berusia di atas 50 tahun menderita BPH. Secara pasti, jumlah penderita pembesaran prostat jinak belum dapat diketahui pasti, tetapi sebagai contoh jika kita lihat di RS Cipto Mangunkusumo ditemukan 423 kasus pembesaran prostat jinak yang dirawat selama tiga tahun (1994-1997) dan di RS Sumber Waras sebanyak 617 kasus dalam periode yang sama.

B. Anatomi dan Fisiologi Prostat Prostat merupakan organ kelenjar dari sistem reproduksi pria. Merupakan kelenjar yang terdiri atas jaringan kelenjar dinding uretra yang mulai menonjol pada masa pubertas. Secara anatomi, prostat berhubungan erat dengan vesica urinaria, uretra, ureter, vas deferens dan vesica seminalis. Prostat terletak di atas diafragma panggul dan dapat diraba pada pemeriksaan colok dubur.

11

Prostat adalah kelenjar aksesori terbesar pada pria; tebalnya 2 cm dan panjangnya 3 cm dengan lebarnya 4 cm, dan berat 20 gram. Prostat mengelilingi uretra pars prostatika dan ditembus di bagian posterior oleh dua buah duktus ejakulatorius Prostat merupakan glandula fibromuskular yang mempunyai bentuk seperti piramid terbalik dengan basis (basis prostatae) menghadap ke arah collum vesicae. Basis prostat melanjutkan diri sebagai collum vesica urinaria, otot polos berjalan tanpa terputus dari satu organ ke organ lain. Urethra masuk bagian tengah dari basis prostat.. Apex (apex prostatae) menghadap ke arah difragma urogenitale. Urethra meninggalkan prostat tepat diatas apex permukaan anterior.

Prostat terdiri atas kelenjar (50%) dan jaringan ikat fibromuscular (25% myofibril otot polos dan 25% jaringan ikat). Jaringan fibromuscular ini tertanam mengelilingi prostat dan berkontraksi selama proses ejakulasi untuk mengeluarkan sekresi prostat ke dalam urethra. Kelenjar prostat adalah modifikasi bagian dinding urethra. Duktus ejakulatorius terbentuk dari persambungan vas deferens dengan vesikula seminalis dan masuk ke basis prostat yang bergabung dengan saluran dari vesica urinaria.

12

Secara umum kelenjar prostat berbentuk tubuloalveolar dengan sedikit percabangan dan sejajar dengan epitel kuboid atau kolumner. Penyebaran sel neuroendokrin, yang fungsinya tidak diketahui, ditemukan diantara sel sekretorius. Dibawah sel epitel, sel basal terletak sejajar setiap asinus dan akan menjadi stem sel untuk epitel sekretorius. Setiap asinus terlindungi oleh otot polos yang tipis dan jaringan ikat. Jaringan kelenjar membentuk tiga buah gugusan konsentris, dibedakan oleh lokasi duktus masing-masing ke dalam urethra, perbedaan lesi patologinya dan pada beberapa kasus berdasarkan embryologinya, yaitu : a. Zona Anterior atau Ventral Sesuai dengan lobus anterior, tidak punya kelenjar, terdiri atas stroma fibromuskular. Zona ini meliputi sepertiga kelenjar prostat. b. Zona Perifer Sesuai dengan lobus lateral dan posterior, meliputi 70% massa kelenjar prostat. Sekitar 70% kanker prostat timbul pada zone ini dan umumnya disebabkan oleh prostatitis kronik. c. Zona Sentralis Lokasi terletak antara kedua duktus ejakulatorius, sesuai dengan lobus tengah meliputi 25% massa glandular prostat. Zone ini mengandung 25% dari volume prostat dan membentuk kerucut disekeliling duktus ejakulatorius pada bagian dasar vesica urinaria. Zone sentral jarang terkena penyakit, hanya 1 5% adenokarsinoma yang timbul pada lokasi ini sekalipun terinfiltrasi oleh sel kanker dari zone yang berdekatan. d. Zona Transisional Zona ini bersama-sama dengan kelenjar periuretra disebut juga sebagai kelenjar preprostatik. Merupakan bagian terkecil dari prostat, yaitu kurang lebih 5% tetapi dapat melebar bersama jaringan stroma fibromuskular anterior menjadi benign prostatic hyperpiasia (BPH). Benign Prostat Hypertrophy (BPH) umumnya muncul dari zone ini. BPH awalnya merupakan mikronodul kemudian berkembang

13

membentuk makronodul disekitar tepi inferior dari urethra preprostatik tepat diatas verumontanum. Makronodul ini selanjutnya menekan jaringan normal sekitarnya pada posteroinferior zone perifer dengan membentuk kapsul palsu disekitar jaringan hyperplasia. Perkembangan zone transisi ini menghasilkan gambaran lobus pada sisi atas urethra, Lobus ini pada saatnya akan menekan urethra pars prostatic dan preprostatik untuk menimbulkan gejala. Sekitar 20% dari

adenocarsinoma terjadi pada zone ini. e. Kelenjar-Kelenjar Periuretra Bagian ini terdiri dan duktus-duktus kecil dan susunan sel-sel asinar abortif tersebar sepanjang segmen uretra proksimal. Batas-batas prostat : a. Batas superior : basis prostat melanjutkan diri sebagai collum vesica urinaria, otot polos berjalan tanpa terputus dari satu organ ke organ yang lain. b. Batas inferior : apex prostat terletak pada permukaan atas diafragma urogenitalis. Uretra meninggalkan prostat tepat diatas apex permukaan anterior. c. Anterior : permukaan anterior prostat berbatasan dengan simphisis pubis, dipisahkan dari simphisis oleh lemak ekstraperitoneal yang terdapat pada cavum retropubica (cavum retziuz). Selubung fibrosa prostat dihubungkan dengan permukaan posterior os pubis dan ligamentum puboprostatica. Ligamentum ini terletak pada pinggir garis tengah dan merupakan kondensasi vascia pelvis. d. Posterior : permukaan posterior prostat berhubungan erat dengan permukaan anterior ampula recti dan dipisahkan darinya oleh septum retovesicalis (vascia Denonvillier). Septum ini dibentuk pada masa janin oleh fusi dinding ujung bawah excavatio rectovesicalis peritonealis, yang semula menyebar ke bawah menuju corpus perinealis.

14

e. Lateral : permukaan lateral prostat terselubung oleh serabut anterior m. levator ani waktu serabut ini berjalan ke posterior dari os pubis. Ductus ejaculatorius menembus bagian atas permukaan prostat untuk bermuara pada uretra pars prostatica pada pinggir lateral orificium utriculus prostaticus. Prostat terbagi dalam beberapa lobus. Secara klinis prostat membentuk tiga buah lobus, yaitu dua buah lobus lateralis dan sebuah lobus medius. Kedua lobus lateralis dibagi oleh sulcus sentralis yang dapat dipalpasi pada pemeriksaan colok dubur dan dihubungkan satu sama lain disebelah ventral urethra oleh isthmus prostatae, yang tidak tampak dari luar. Lobus lateralis merupakan pembentuk massa prostat yang utama. Pembagian lobus ini tidak mempunyai hubungan dengan struktur histologik pada prostat normal, tetapi umumnya berhubungan dengan pembesaran patologik dari zone transisional bagian lateral dan kelenjar periurethral pada bagian sentral.

BPH sering terjadi pada lobus lateralis dan lobus medialis karena mengandung banyak jaringan kelenjar, tetapi tidak mengalami

pembesaran pada bagian posterior daripada lobusmedius (lobus posterior) yang merupakan bagian tersering terjadinya perkembangan

suatukeganasan prostat. Sedangkan lobus anterior kurang mengalami hiperplasi karena sedikitmengandung jaringan kelenjar. Pada laki-laki remaja prostat belum teraba pada colok dubur, sedangkan pada orang dewasa sedikit teraba dan pada orang tua biasanya mudah teraba. Sekret kelenjar prostat adalah cairan seperti susu yang

15

bersama-sama sekret dari vesikula seminalis merupakan komponen utama dari cairan semen. Semen berisi sejumlah asam sitrat sehingga pH nya agak asam (6,5). Selain itu dapat ditemukan enzim yang bekerja sebagai fibrinolisin yang kuat, fosfatase asam, enzim-enzim lain dan lipid. Sekret prostat dikeluarkan selama ejakulasi melalui kontraksi otot polos. kelenjar prostat juga menghasilkan cairan dan plasma seminalis, dengan perbandingan cairan prostat 13-32% dan cairan vesikula seminalis 46-80% pada waktu ejakulasi. C. Etiologi Hingga sekarang masih belum diketahui secara pasti penyebab terjadinya hiperplasia prostat; tetapi beberapa hipotesis menyebutkan bahwa hiperplasia prostat erat kaitannya dengan peningkatan kadar dihidrotestosteron (DHT), proses fisiologi, hormon dan proses aging (menjadi tua). Beberapa hipotesis yang diduga sebagai penyebab timbulnya hiperplasia prostat jinak adalah : (1) Teori Dihidrotestosteron, (2) Adanya ketidakseimbangan antara estrogen-testosteron, (3) Interaksi antara sel stroma dan sel epitel prostat, (4) Berkurangnya kematian sel prostat/ apoptosis, (5) Teori Stem sel dan, (6) Teori Reawakening (Ramon et al., 2002) Teori Dihidrotestosteron Dihidrotestosteron atau DHT adalah metabolit androgen yang sangat penting pada pertumbuhan sel- sel kelenjar prostat. Dibentuk dari testosteron di dalam sel prostat oleh enzim 5-reduktase dengan bantuan koenzim NADPH. DHT yang telah terbentuk berikatan dengan reseptor androgen (RA) membentuk kompleks DHT-RA pada inti dan sel selanjutnya terjadi sintesis protein growth factor yang menstimulasi pertumbuhan sel prostat. Pada berbagai penelitian dikatakan bahwa kadar DHT pada BPH tidak jauh berbeda dengan kadarnya pada prostat normal, hanya saja pada BPH, aktivitas enzim 5-reduktase dan jumlah reseptor androgen lebih banyak pada BPH. Hal ini menyebabkan pada BPH lebih sensitif terhadap

16

DHT sehingga replikasi sel lebih banyak terjadi dibandingkan dengan prostat normal (Ramon et al., 2002). Ketidakseimbangan antara Estrogen - Testosterone Pada usia yang semakin tua, kadar testosterone menurun, sedangkan kadar estrogen relatif tetap sehingga perbandingan antara estrogen : testosterone relatif meningkat. Telah diketahui bahwa estrogen di dalam prostat berperan dalam terjadinya proliferasi sel- sel kelenjar prostat dengan cara meningkatkan sensitifitas sel- sel prostat terhadap rangsangan hormon androgen, meningkatkan jumlah reseptor androgen, dan menurunkan jumlah kematian sel- sel prostat (apoptosis). Hasil akhir dari semua keadaan ini adalah, meskipun rangsangan terbentuknya sel- sel baru akibat rangsangan testosterone menurun, tetapi sel sel prostat yang telah ada mempunyai umur yang lebih panjang sehingga massa prostat jadi lebih besar (Ramon et al., 2002). Interaksi Stroma Epitel (Teori Growth Factors) Cunha (1973) membuktikan bahwa diferensiasi dan pertumbuhan sel epitel prostat secara tidak langsung dikontrol oleh sel-sel stroma melalui suatu mediator (growth factor) tertentu. Faktor pertumbuhan ini dibuat oleh sel-sel stroma di bawah pengaruh androgen. Adanya ekspresi berlebihan dari epidermis growth factor (EGF) dan atau fibroblast growth factor (FGF) dan atau adanya penurunan ekspresi transforming growth factor- (TGF-), akan menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan pertumbuhan prostat dan menghasilkan pembesaran prostat. Berkurangnya kematian sel prostat (Apoptosis) Apoptosis sel pada sel prostat adalah mekanisme fisiologik homeostatis kelenjar prostat. Pada jaringan nomal, terdapat keseimbangan antara laju proliferasi sel dengan kematian sel. Berkurangnya jumlah selsel prostat yang apoptosis menyebabkan jumlah sel-sel prostat secara keseluruhan makin meningkat sehingga mengakibatkan pertambahan

massa prostat. Diduga hormon androgen berperan dalam menghambat proses kematian sel karena setelah dilakukan kastrasi, terjadi peningkatan aktivitas kematian sel kelenjar prostat (Kozar et al., 2005).

17

D. Faktor predisposisi Faktor predisposisi yang mempengaruhi terjadinya BPH adalah : 1. Kadar Hormon Kadar hormon testosteron yang tinggi berhubungan dengan

peningkatan risiko BPH. Testosteron akan diubah menjadi androgen yang lebih poten yaitu dihydrotestosteron (DHT) oleh enzim 5reductase, yang memegang peran penting dalam proses pertumbuhan sel-sel prostat (Umbas, 1995). 2. Usia Pada usia tua terjadi kelemahan umum termasuk kelemahan pada buli (otot detrusor) dan penurunan fungsi persarafan. Perubahan karena pengaruh usia tua menurunkan kemampuan buli-buli dalam

mempertahankan aliran urin pada proses adaptasi oleh adanya obstruksi karena pembesaran prostat, sehingga menimbulkan gejala. Testis menghasilkan beberapa hormon seks pria, yang secara keseluruhan dinamakan androgen. Hormon tersebut mencakup testosteron, dihidrotestosteron dan androstenesdion. Testosteron sebagian besar dikonversikan oleh enzim 5-alfa-reduktase menjadi dihidrotestosteron yang lebih aktif secara fisiologis di jaringan sasaran sebagai pengatur fungsi ereksi. Tugas lain testosteron adalah pemacu libido, pertumbuhan otot dan mengatur deposit kalsium di tulang. Sesuai dengan pertambahan usia, kadar testosteron mulai menurun secara perlahan pada usia 30 tahun dan turun lebih cepat pada usia 60 tahun keatas. 3. Riwayat keluarga Riwayat keluarga pada penderita BPH dapat meningkatkan risiko terjadinya kondisi yang sama pada anggota keluarga yang lain. Semakin banyak anggota keluarga yang mengidap penyakit ini, semakin besar risiko anggota keluarga yang lain untuk dapat terkena BPH. Bila satu anggota keluarga mengidap penyakit ini, maka risiko meningkat 2 kali bagi yang lain. Bila 2 anggota keluarga, maka risiko

18

meningkat menjadi 2-5 kali. Dari penelitian terdahulu didapatkan OR sebesar 4,2 (95%, CI 1,7-10,2) (Umbas, 1995). 4. Obesitas Obesitas akan membuat gangguan pada prostat dan kemampuan seksual, tipe bentuk tubuh yang mengganggu prostat adalah tipe bentuk tubuh yang membesar di bagian pinggang dengan perut buncit, seperti buah apel. Beban di perut itulah yang menekan otot organ seksual, sehingga lama-lama organ seksual kehilangan kelenturannya, selain itu deposit lemak berlebihan juga akan mengganggu kinerja testis. Pada obesitas terjadi peningkatan kadar estrogen yang berpengaruh terhadap pembentukan BPH melalui peningkatan sensitisasi prostat terhadap androgen dan menghambat proses kematian sel-sel kelenjar prostat. Pola obesitas pada laki-laki biasanya berupa penimbunan lemak pada abdomen (Ramon et al., 2002). 5. Pola Diet Suatu studi menemukan adanya hubungan antara penurunan risiko BPH dengan mengkonsumsi buah dan makanan mengandung kedelai yang kaya akan isoflavon. Kedelai sebagai estrogen lemah mampu untuk memblokir reseptor estrogen dalam prostat terhadap estrogen. Jika estrogen yang kuat ini sampai menstimulasi reseptor dalam prostat, dapat menyebabkan BPH. Studi demografik menunjukkan adanya insidensi yang lebih sedikit timbulnya penyakit prostat ini pada laki-laki Jepang atau Asia yang banyak mengkonsumsi makanan dari kedelai. Isoflavon kedelai yaitu genistein dan daidzein, secara langsung mempengaruhi metabolisme testosteron. Risiko lebih besar terjadinya BPH adalah mengkonsumsi margarin dan mentega, yang termasuk makanan yang mengandung lemak jenuh. Konsumsi makanan yang mengandung lemak jenuh yang tinggi (terutama lemak hewani), lemak berlebihan dapat merusak keseimbangan hormon yang berujung pada berbagai penyakit.

19

6. Olah raga Para pria yang tetap aktif berolahraga secara teratur, berpeluang lebih sedikit mengalami gangguan prostat, termasuk BPH. Dengan aktif olahraga, kadar dihidrotestosteron dapat diturunkan sehingga dapat memperkecil risiko gangguan prostat. Selain itu, olahraga akan mengontrol berat badan agar otot lunak yang melingkari prostat tetap stabil. Olahraga yang dianjurkan adalah jenis yang berdampak ringan dan dapat memperkuat otot sekitar pinggul dan organ seksual (Ramon et al., 2002).

E. Patofisiologi Pada BPH terdapat dua komponen yang berpengaruh untuk terjadinya gejala yaitu komponen mekanik dan komponen dinamik. Komponen mekanik ini berhubungan dengan adanya pembesaran kelenjar periuretra yang akan mendesak uretra pars prostatika sehingga terjadi gangguan aliran urine (obstruksi infra vesikal) sedangkan komponen dinamik meliputi tonus otot polos prostat dan kapsulnya, yang merupakan alpha adrenergik reseptor. Stimulasi pada alpha adrenergik reseptor akan menghasilkan kontraksi otot polos prostat ataupun kenaikan tonus. Komponen dinamik ini tergantung dari stimulasi syaraf simpatis, yang juga tergantung dari beratnya obstruksi oleh komponen mekanik (Kozar et al., 2005). Berbagai keadaan ini menyebabkan peningkatan tekanan dan resistensi uretra. Selanjutnya hal ini akan menyebabkan sumbatan aliran kemih. Untuk mengatasi resistensi uretra yang meningkat, otot-otot detrusor akan berkontraksi untuk mengeluarkan urine. Kontraksi yang terus-menerus ini menyebabkan perubahan anatomik dari buli-buli berupa hipertrofi otot detrusor, trabekulasi, terbentuknya selula, sakula, dan divertikel buli-buli. Fase penebalan otot detrusor ini disebut fase kompensasi (Kozar et al., 2005). Perubahan struktur pada buli-buli dirasakan oleh pasien sebagai keluhan pada saluran kemih sebelah bawah atau lower urinary tract

20

symptom (LUTS) yang dahulu dikenal dengan gejala-gejala prostatismus (Kozar et al., 2005). Dengan semakin meningkatnya resistensi uretra, otot detrusor masuk ke dalam fase dekompensasi dan akhirnya tidak mampu lagi untuk berkontraksi sehingga terjadi retensi urin. Tekanan intravesikal yang semakin tinggi akan diteruskan ke seluruh bagian buli-buli tidak terkecuali pada kedua muara ureter. Tekanan pada kedua muara ureter ini dapat menimbulkan aliran balik urin dari buli-buli ke ureter atau terjadi refluks vesico-ureter. Keadaan ini jika berlangsung terus akan mengakibatkan hidroureter, hidronefrosis, bahkan akhirnya dapat jatuh ke dalam gagal ginjal (Kozar et al., 2005). Dilihat dari dalam vesika dengan sitoskopi, mukosa vesika dapat menerobos keluar di antara serat detrusor sehingga terbentuk tonjolan mukosa yang apabila kecil dinamakan sakula dan apabila besar disebut diverkel. Fase penebalan detrusor adalah fase kompensasi yang apabila berlanjut detrusor akan menjadi lelah dan akhirnya akan mengalami dekompensasi dan tidak mampu lagi untuk kontraksi, sehingga terjadi retensi urin total yang berlanjut pada hidronefrosis dan disfungsi saluran kemih atas.

F. Penegakan Diagnosis 1. Manifestasi klinis Keluhan pada saluran kemih bagian bawah (LUTS) Terdiri atas gejala obstruksi dan iritasi : Obstruksi Hesistansi Pancaran miksi lemah Intermitensi Miksi tidak puas Distensi abdomen Iritasi Frekuensi Nokturi Urgensi Disuria Urgensi dan disuria jarang

21

Terminal dribbling (menetes) Volume urine menurun Mengejan saat berkemih

terjadi, jika ada disebabkan oleh ketidakstabilan detrusor sehingga terjadi kontraksi involunter.

Timbulnya gejala LUTS merupakan manifestasi kompensasi otot buli-buli untuk mengeluarkan urine. Pada suatu saat, otot buli-buli mengalami kepayahan (fatigue) sehingga jatuh ke dalam fase dekompensasi yang diwujudkan dalam bentuk retensi urin akut. Untuk menentukan derajat beratnya penyakit yang berhubungan dengan penentuan jenis pengobatan BPH dan untuk menilai keberhasilan pengobatan BPH, dibuatlah suatu skoring

yang valid dan reliable. Terdapat beberapa sistem skoring, di antaranya skor International Prostate Skoring System (IPSS) yang diambil berdasarkan skor American Urological Association (AUA). Sistem skoring yang lain adalah skor Madsen-Iversen dan skor Boyarski. Skor AUA terdiri dari 7 pertanyaan. Pasien diminta untuk menilai sendiri derajat keluhan obstruksi dan iritatif mereka dengan skala 0-5. Total skor dapat berkisar antara 0-35. Skor 0-7 ringan, 8-19 sedang, dan 2035 berat. Untuk pasien BPH dengan skor IPSS dibawah 7 maka dapat dilakukan watchfull waiting. jika skoring >7 berarti pasien perlu mendapatkan terapi medikamentosa atau terapi lain dan jika skor >19 dipertimbangkan untuk dilakukan terapi operatif (Mansjoer et al., 2000).

22

Gejala pada saluran kemih bagian atas Merupakan penyulit dari hiperplasi prostat, berupa gejala obstruksi antara lain nyeri pinggang, benjolan di pinggang (hidronefrosis), demam (infeksi/ urosepsis). 2. Pemeriksaan Fisik Buli-buli yang terisi penuh dan teraba massa di daerah supra simfisis akibat retensi urine. Kadang-kadang didapatkan urine yang selalu menetes. Dapat dilakukan pemeriksaan colok dubur / digital rectal examination ( DRE ), yang merupakan pemeriksaan yang sangat penting, DRE dapat memberikan gambaran tonus sfingter ani, mukosa rektum, adanya kelainan lain seperti benjolan di dalam rektum dan tentu saja meraba prostat. Pada perabaan prostat harus diperhatikan konsistensi pada pembesaran prostat, adakah asimetri, adakah nodul pada prostat, serta apakah batas atas dapat diraba dan apabila batas atas masih dapat diraba biasanya besar prostat diperkirakan <60 gr.

23

Gambar. Pemeriksaan Colok Dubur Pada BPH akan ditemukan prostat teraba membesar, konsistensi prostat kenyal seperti meraba ujung hidung, permukaan rata, lobus kanan dan kiri simetris, tidak didapatkan nodul, dan menonjol ke dalam rektum. Semakin berat derajat hiperplasia prostat, batas atas semakin sulit untuk diraba (Kozar et al., 2005). Pemeriksaan fisik apabila sudah terjadi kelainan pada traktus urinaria bagian atas kadang-kadang ginjal dapat teraba dan apabila sudah terjadi pielonefritis akan disertai sakit pinggang dan nyeri ketok pada pinggang. Vesica urinaria dapat teraba apabila sudah terjadi retensi total, buli-buli penuh (ditemukan massa supra pubis) yang nyeri dan pekak pada perkusi. Genitalia eksterna harus pula diperiksa untuk melihat adanya kemungkinan sebab yang lain yang dapat menyebabkan gangguan miksi seperti batu di fossa navikularis atau uretra anterior atau fibrosis di daerah uretra. 3. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan Laboratorium a. Sedimen urin

24

Untuk mencari kemungkinan adanya proses infeksi, hematuri atau inflamasi pada saluran kemih. Mengevaluasi adanya eritrosit, leukosit, bakteri, protein atau glukosa. b. Kultur urin Mencari jenis kuman yang menyebabkan infeksi dan sekaligus menentukan sensifitas kuman terhadap beberapa antimikroba yang diujikan c. Faal ginjal Mencari kemungkinan adanya penyulit yang mengenai saluran kemih bagian atas. Pengukuran kadar elektrolit, BUN, dan kreatinin berguna untuk menilai fungsi ginjal dari pasien. Insufisiensi ginjal dapat ditemukan pada 10% pasien dengan prostatism dan memerlukan pemeriksaan radiologi saluran kemih bagian atas. Pasien dengan insufisiensi ginjal mempunyai risiko yang tinggi mengalami komplikasi post-operasi setelah pembedahan BPH. d. Gula darah Mencari kemungkinan adanya penyekit diabetes mellitus yang dapat menimbulkan neurogenik) e. Penanda tumor PSA (prostat spesifik antigen) Jika curiga adanya keganasan prostat. Serum PSA dapat dipakai untuk meramalkan perjalanan penyakit dari BPH; dalam hal ini jika kadar PSA tinggi berarti: (a) pertumbuhan volume prostat lebihcepat, (b) keluhan akibat BPH/laju pancaran urine lebih buruk, dan (c) lebih mudahterjadinya retensi urine akut. Kadar PSA di dalam serum dapat mengalami peningkatan pada keradangan, setelah manipulasi pada prostat (biopsi prostat atau TURP), pada retensi urine akut, kateterisasi, keganasan prostat, dan usia yang makin tua (Umbas, 1995). kelainan persarafan pada buli-buli (buli-buli

25

Pemeriksaan Patologi Anatomi BPH dicirikan oleh berbagai kombinasi dari hiperplasia epitel dan stroma di prostat. Beberapa kasus menunjukkan proliferasi halus-otot hampir murni.

Gambar. Gambaran Makroskopis dan Mikroskopis Benigna Prostat Hiperplasia Pemeriksaan Radiologis A. Foto polos abdomen (BNO) Dari foto polos dapat dilihat adanya batu pada traktus urinarius, pembesaran ginjal atau buli-buli. Dapat juga dilihat lesi osteoblastik sebagai tanda metastasis dari keganasan prostat serta osteoporosis akibat kegagalan ginjal. Dari sini dapat diperoleh keterangan mengenai penyakit lain misalnya batu saluran kemih, hidronefrosis, atau divertikel kandung kemih juga dapat untuk menghetahui adanya metastasis ke tulang dari carsinoma prostat. B. Pielografi Intravena (IVP) Pembesaran prostat dapat dilihat sebagai filling defect/indentasi prostat pada dasar kandung kemih atau ujung distal ureter membelok keatas berbentuk seperti mata kail (hooked fish). Dapat pula mengetahui adanya kelainan pada ginjal maupun ureter berupa hidroureter ataupun hidronefrosis serta penyulit (trabekulasi, divertikel atau sakulasi buli buli). Foto setelah miksi dapat dilihat adanya residu urin.

26

C. Sistoskopi Dalam pemeriksaan ini, disisipkan sebuah tabung kecil melalui pembukaan urethra di dalam penis. Prosedur ini dilakukan setelah solusi numbs bagian dalam penis sehingga sensasi semua hilang. Tabung, disebut sebuah cystoscope, berisi lensa dan sistem cahaya yang membantu dokter melihat bagian dalam uretra dan kandung kemih. Tes ini memungkinkan dokter untuk menentukan ukuran kelenjar dan mengidentifikasi lokasi dan derajat obstruksi.

Gambar. Gambaran sistoskopi benigna prostat hiperplasi D. USG Transabdominal Gambaran sonografi benigna hyperplasia prostat menunjukan pembesaran bagian dalam glandula, yang relatif hipoechoic dibanding zona perifer. Zona transisi hipoekoik cenderung menekan zona central dan perifer. Batas yang memisahkan hyperplasia dengan zona perifer adalah surgical capsule. USG transabdominal mampu pula mendeteksi adanya hidronefrosis ataupun kerusakan ginjal akibat obstruksi BPH yang lama.

Gambar. Gambaran USG Prostat normal

27

Gambar. Gambaran Sonografi Benigna Prostat Hiperplasia E. Transrektal Ultrasonografi (TRUS) Adalah tes USG melalui rectum. Dalam prosedur ini, probe dimasukkan ke dalam rektum mengarahkan gelombang suara di prostat. Gema pola gelombang suara merupakan gambar dari kelenjar prostat pada layar tampilan. Untuk menentukan apakah suatu daerah yang abnormal tampak memang tumor, digunakan probe dan gambar USG untuk memandu jarum biopsi untuk tumor yang dicurigai. Jarum mengumpulkan beberapa potong jaringan prostat untuk pemeriksaan dengan mikroskop. Biopsy terutama dilakukan untuk pasien yang dicurigai memiliki keganasan prostat. Transrektal ultrasonografi (TRUS) sekarang juga digunakan untuk pengukur volume prostat, caranya antara lain : a. Metode step planimetry. Yang menghitung volume rata-rata area horizontal diukur dari dasar sampai puncak. b. Metode diameter. Yang menggabungkan pengukuran tinggi (H/height) ,lebar (W/width) rumus : (H x W x L). Pemeriksaan Lain Pemeriksaan derajat obstruksi prostat dapat diperkirakan dengan cara mengukur: a. Residual urin Jumlah sisa urin setelah miksi, dengan cara melakukan dan panjang (L/length) dengan

kateterisasi/USG setelah miksi

28

b.

Pancaran urin/flow rate : Dengan menghitung jumlah urine dibagi dengan lamanya miksi berlangsung (ml/detik) atau dengan alat uroflometri yang menyajikan gambaran grafik pancaran urin. Aliran yang berkurang sering pada BPH. Pada aliran urin yang lemah, aliran urinnya kurang dari 15mL/s dan terdapat peningkatan residu urin. Post-void residual mengukur jumlah air seni yang tertinggal di dalam kandung kemih setelah buang air kecil. PRV kurang dari 50 mL umum menunjukkan pengosongan kandung kemih yang memadai dan pengukuran 100 sampai 200 ml atau lebih sering menunjukkan sumbatan. Pasien diminta untuk buang air kecil segera sebelum tes dan sisa urin ditentukan oleh USG atau kateterisasi.

F. Penatalaksanaan Tidak semua pasien hiperplasia prostat perlu menjalami tindakan medik. Kadang-kadang mereka yang mengeluh LUTS ringan dapat sembuh sendiri tanpa mendapatkan terapi apapun atau hanya dengan nasehat saja. Namun adapula yang membutuhkan terapi medikamentosa atau tindakan medik yang lain karena keluhannya semakin parah. Tujuan terapi hyperplasia prostat adalah (1) memperbaiki keluhan miksi, (2) meningkatkan kualitas hidup, (3) mengurangi obstruksi intravesika, (4) mengembalikan fungsi ginjal jika terjadi gagal ginjal, (5) mengurangi volume residu urine setelah miksi dan (6) mencegah progrefitas penyakit. Hal ini dapat dicegah dengan medikamentosa, pembedahan atau tindakan endourologi yang kurang invasif.

29

Tabel. Pilihan terapi pada BPH Terapi BPH dapat berkisar dari watchful waiting di mana tidak diperlukan teknologi yang canggih dan dapat dilakukan oleh dokter umum, hingga terapi bedah minimal invasif yang memerlukan teknologi canggih serta tingkat keterampilan yang tinggi. Watchful Waiting Pilihan tanpa terapi ini ditujukan untuk pasien BPH dengan skor IPSS dibawah 7, yaitu keluhan ringan yang tidak mengganggu aktivitas sehari-hari. Pasien tidak mendapat etrapi namun hanya diberi penjelasan mengenai sesuatu hal yang mungkin dapat memperburuk keluhannya, misalnya (1) jangan mengkonsumsi kopi atau alcohol setelah makan malam, (2) kurangi konsumsi makanan atau minuman yang mengiritasi buli-buli (kopi/cokelat), (3) kurangi makanan pedas dan asin, dan (4) jangan menahan kencing terlalu lama. Secara periodik pasien diminta untuk datang control dengan ditanya keluhannya apakah menjadi lebih baik (sebaiknya memakai skor yang baku), disamping itu dilakukan pemeriksaan laboratorium, residu urin, atau uroflometri. Jika keluhan miksi bertambah jelek daripada sebelumnya, mungkin perlu dipikirkan terapi yang lain.

30

Medikamentosa Tujuan terapi medikamentosa adalah berusaha untuk : (1) mengurangi resistansi otot polos prostat sebagai komponen dinamik penyebab obstruksi infravesika dengan obat-obatan penghambat

adrenergic alfa (adrenergic alfa blocker dan (2) mengurangi volume prostat sebagai komponen static dengan cara menurunkan kadar hormone testosterone/dihidrotestosteron (DHT) melalui penghambat 5-reduktase. 1. Penghambat reseptor adrenergik Mengendurkan otot polos prostat dan leher kandung kemih, dengan demikian, akan terjadi relaksasi di daerah prostat sehingga tekanan pada uretra pars prostatika menurun dan mengurangi derajat obstruksi. Obat ini dapat memberikan perbaikan gejala obstruksi relatif cepat yang membantu untuk meringankan obstruksi kemih disebabkan oleh pembesaran prostat di BPH. Efek samping dapat termasuk sakit kepala, kelelahan, atau ringan. Umumnya digunakan alpha blocker BPH termasuk tamsulosin (Flomax), alfuzosin (Uroxatral), dan obat-obatan yang lebih tua seperti terazosin (Hytrin) atau doxazosin (Cardura). Obat-obatan ini akan meningkatkan pancaran urin dan mengakibatkan perbaikan gejala dalam beberapa minggu dan tidak berpengaruh pada ukuran prostat. 2. Penghambat 5 reduktase Obat ini bekerja dengan cara menghambat pembentukan

dihidrotestosteron (DHT) dari testosterone yang dikatalisis oleh enzim 5 reduktase di dalam sel prostat. Menurunnya kadar DHT menyebabkan sintesis protein dan replikasi sel-sel prostat menurun. Pembesaran prostat di BPH secara langsung tergantung pada DHT, sehingga obat ini menyebabkan pengurangan 25% perkiraan ukuran prostat lebih dari 6 sampai 12 bulan. Contoh obat penghambat 5 reduktase berdasarkan tipenya : Avodart (dutasteride) Proscar (finasteride)

31

Terapi Pembedahan Indikasi pembedahan yaitu pada BPH yang sudah menimbulkan komplikasi, diantaranya adalah: Retensi urine karena BPO Infeksi saluran kemih berulang karena obstruksi prostat Hematuria makroskopik Batu buli-buli karena obstruksi prostat Gagal ginjal yang disebabkan obstruksi prostat, dan Divertikulum buli buli yang cukup besar karena obstruksi Guidelines di beberapa negara juga menyebutkan bahwa terapi pembedahan diindikasikan pada BPH yang telah menimbulkan keluhan sedang hingga berat, tidak menunjukkan perbaikan setelah pemberian terapi non bedah, dan pasien yang menolak pemberian terapi medikamentosa. Open Prostatectomy Prostatektomi terbuka merupakan cara yang paling tua, paling invasif, dan paling efisien di antara tindakan pada BPH yang lain. Prostatektomi terbuka pertama kali dilakukan oleh Eugene fuller di New York pada tahun 1894 dan dipopulerkan oleh Peter freyer di London pada tahun 1900. Operasi terbuka ini dianjurkan pada BPH dengan berat prostat lebih dari 50 gram atau yang diperkirakan tidak dapat reseksi dengan sempurna dalam waktu satu jam. Selain itu jug adapt dilakukan pada BPH yang disertai penyulit, misalnya batu buli-buli yang diameternya lebih dari 2,5 cm atau multiple. Operasi prostatektomi terbuka ini dapat menghasilkan perbaikan gejala klinis 85-100%. Terapi pembedahan terbuka (open prostatectomy) dapat dilakukan melalui transvesikal (Freyer), retropubik (Millin), dan perineal. Pada prostatektomi retropubik (Millin) dilakukan melalui sayatan kulit dengan membuka prostat tanpa membuka kandung kemih. Dilakukan melalui kavum Retzius yang terletak antara vesica urinaria dan simfisis dan

32

kemudian prostat dilakukan enukleasi. Cara tersebut memiliki keunggulan yaitu tanpa membuka kandung kemih, sehingga pemasangan kateter tidak lama seperti bila membuka vesika. Kerugiaannya adalah cara ini tidak dapat dipakai apabila diperlukan tindakan lain yang harus dikerjakan darai dalam vesika urinaria (Sjamsuhidajat, 2007). Pada prostatektomi suprapubik atau transvesika prostatektomi (TVP) merupakan enukleasi adenoma prostat hiperplasia melalui insisi ekstraperitonial dari dinding buli bagian anterior bawah. Terapi TVP ini sering dilakukan karena sangat bermanfaat terutama pada BPH yang disertai komplikasi lain seperti adanya batu pada buli-buli (Sjamsuhidajat, 2007). Keuntungan TVP: - Baik untuk kelenjar besar - Banyak dikerjakan untuk semua jenis pembesaran prostat - Operasi banyak dipergunakan pada hiperplasia prostat dengan penyulit : 1. Batu buli 2. Batu ureter distal 3. Divertikel 4. Uretrokel 5. Adanya sistsostomi 6. Retropubik sulit karena kelainan os pubis - Kerusakan sphingter eksterna minimal Kerugian TVP : - Memerlukan pemakain kateter lebih lama - Sulit pada orang gemuk

33

- Sulit untuk kontrol perdarahan - Merusak mukosa kulit - Mortality rate 1 -5 % Komplikasi : - Striktura post operasi (uretra anterior 2 5 %, bladder neck stenosis 4%) - Inkontinensia (<1%) - Perdarahan - Recurent (10 20%) - Impotensi - Fimosis Pasca operasi kateter ditraksi selama 24 jam, dan dilepas setelah 57 hari pasca operasi. Pelepasan drain dilakukan apabila dalam 2 hari berturut-turut produksi < 20cc/24 jam. Pelepasan benang jahitan keseluruhan 10 hari pasca operasi.

Gambar. Trans Vesica Prostatectomy (TVP)

34

Transurethral resection of the prostate (TURP) Sembilan puluh lima persen prostatektomi sederhana dapat dilakukan secara endoskopi. Sebagian besar prosedur ini menggunakan teknik anestesi spinal dan memerlukan 1-2 hari perawatan di rumah sakit. Risiko TURP meliputi ejakulasi retrograd (75%), impotensi (5-10%), dan inkontinensia (<1% ) (Raharjo, 1996). Komplikasi operasi antara lain perdarahan, striktur uretra, atau kontraktur pada leher kandung kemih, perforasi dari kapsul prostat dengan ekstravasasi, dan pada kondisi berat terjadi sindroma TUR yang disebabkan oleh keadaan hipervolemik dan hipernatremia akibat absorbsi cairan irigasi yang bersifat hipotonis. Manifestasi klinis sindroma TUR antara lain nausea, muntah, hipertensi, bradikardi, confusing, dan gangguan penglihatan. Risiko terjadinya sindroma TUR meningkat pada reseksi yang lebih dari 90 menit. Penatalaksanaan meliputi diuresis dan pada kondisi berat diberikan larutan hipertonis. G. Komplikasi Apabila buli buli menjadi dekompensasi, akan terjadi retensio urin. Karena produksi urin terus berlanjut maka pada suatu saat buli-buli tidak mampu menampung urin sehingga tekanan intra vesika meningkat, dapat timbul hidroureter, hidronefrosis dan gagal ginjal. Proses kerusakan ginjal dipercepat jika terjadi infeksi.Karena selalu terdapat sisa urin, dapat terbentuk batu endapan dalam buli buli. Batu ini dapat menambah keluhan iritasi dan menimbulkan hematuria. Batu tersebut dapat pula menimbulkan sistitis dan bila terjadi refluks dapat terjadi pielonefritis. Pada waktu miksi pasien harus mengedan shingga lama kelamaan dapatmenyebabkan hernia atau hemoroid. Jadi, dilihat dari sudut pandang perjalanan penyakitnya, hiperplasia prostat dapat menimbulkan komplikasi sebagai berikut: 1. Retensi Urin 2. Hidroureter

35

3. Hidronefrosis 4. Batu Kandung Kemih 5. Hematuria 6. Sistitis 7. Refluks Vesiko-Ureter 8. Pielonefritis 9. Gagal ginjal

H. Prognosis Sebagian besar pasien memiliki kualitas hidup yang baik setelah prostatektomi, baik endoskopik maupun terbuka.

36

III. KESIMPULAN

Hiperplasia kelenjar prostat mempunyai angka morbiditas yang bermakna pada populasi pria lanjut usia. Dengan bertambah usia, ukuran kelenjar dapat bertambah karena terjadi hiperplasia jaringan fibromuskuler dan struktur epitel kelenjar (jaringan dalam kelenjar prostat). Gejala dari pembesaran prostat ini terdiri dari gejala obstruksidan gejala iritatif. Penatalaksanaan BPH berupa watchful waiting, medikamentosa, terapi bedah konvensional, dan terapi minimal invasif. Prognosis untuk BPH berubah-ubah dan tidak dapat diprediksi pada tiap individu walaupun gejalanya cenderung meningkat. Namun BPH yang tidak segera ditindak memiliki prognosis yang buruk karena dapat berkembang menyebabkan berbagai komplikasi.

37

DAFTAR PUSTAKA

Kozar Rosemary A, Moore Frederick A. Schwartzs Principles of Surgery 8th Edition. Singapore: The McGraw-Hill Companies, Inc; 2005 Mansjoer A, Suprahaita, Wardhani. 2000. Pembesaran Prostat Jinak. Dalam: Kapita selekta Kedokteran. Media Aesculapius, Jakarta ; 329-344. Mulyono, A. 1995. Pengobatan BPH Pada Masa Kini. Dalam :

Pembesaran Prostat Jinak. Yayasan penerbit IDI, Jakarta ; 40-48.5. Purnomo, Basuki B. Dasar Dasar Urologi. Edisi Kedua. Jakarta : Sagung Seto. Rahardjo, J. 1996. Prostat Hipertropi. Dalam : Kumpulan Ilmu Bedah. Binarupa aksara, Jakarta ; 161-703. Ramon P, Setiono, Rona, Buku Ilmu Bedah, Fakultas KedokteranUniversitas

Padjajaran ; 2002: 203-75. Sabiston, David. Sabiston : Buku Ajar Bedah. Alih bahasa : Petrus. Timan. EGC. 1994. Sjafei, M. 1995. Diagnosis Pembesaran Prostat Jinak. Dalam :

Pembesaran Prostat Jinak. Yayasan Penerbit IDI, Jakarta ; 6-17 Sjamsuhidajat R, De Jong W. 2007. Tumor Prostat. Dalam: Buku ajar Ilmu Bedah, EGC, Jakarta, 2007; 1058-64. Umbas, R. 1995. Patofisiologi dan Patogenesis Pembesaran Prostat Jinak. Yayasan penerbit IDI, Jakarta ; 1-52.

38