Anda di halaman 1dari 10

PER,PEB,EKLAMSI DAN SUPERIMPOSED PREEKLAMSI,

HIPERTENSI KRONIK
RSUD. EMBUNG FATIMAH
KOTA BATAM
Nomor Dokumen
No :

Nomor Revisi :

Jumlah Halaman
Hal :1/10

Ditetapkan,
DIREKTUR
RSUD EMBUNG FATIMAH KOTA BATAM
SPO

Tanggal terbit :

Drg.Fadilla R.D Mallarangan, M.Kes


NIP. 19580912 198703 2 006
PENGERTIAN
PER (preeklansi ringan)
a) TD >140/90 setelah gestasi 20 minggu
b) Proteinuria 300mg /24 jam atau + 1
PEB (preeklamsiberat)
a)
TD >160/110
b)
Proteinuria >2gr/24 jam atau +2
c)
Keratinin serum >1,2 mg/dl kecuali diketahui telah minggakat
sebelumnya
d)
Trombosit<100.000/mm3
e)
Hemolysis mikroangiopati
f)
Peningkatan SGPT/SGOT
g)
Nyeri kepala menetap atau gangguan serebrum atau penglihatan
lainnya
h)
Pertumbuhan janin terhambat
i)
Edema parudisertai sianosis
EKLAMSI: kejang yang tidak disebabkan oleh adanya kelainan lain pada
wanita hamil yang menderita preeklamsi
SUPERIMPOSED PREEKLAMSI :
Preeklmsi yang timbul pada wanita hamil yang sebelumnya telah
menderita hipertensi kronik
Timbulnya proteinuria >300mg/24jam pada wanita hamil setelah 20
minggu dimana sebelumnya kehamilan 20 minggu tidak ada
proteinuria
Peningkatan tiba- tiba proteinuria atau tekanan darah atau jumlah
trombosit< 100.000/mm3 pada wanita yang menderita hipertensi
dalam kehamilan
HIPERTENSI KRONIK
DilarangmengubahdanataumenggandakandokumeninitanpapersetujuanDirekturRSUD Embung Fatimah Kota Batam

PER,PEB,EKLAMSI DAN SUPERIMPOSED PREEKLAMSI,


HIPERTENSI KRONIK
RSUD. EMBUNG FATIMAH
KOTA BATAM
Nomor Dokumen
No :

Nomor Revisi :

Jumlah Halaman
Hal :2/10

TD 140/ 90 mmHg sebelum kehamilan atau terdiagnosis sebelum


kehamilan 20 minggu, tidak disebabkan penyakitt rofoblastik
gestasional
Hipertensi pertama kali diagnosis setelah kehamilan 20 minggu
dan menetap setelah 12 minggu pasca partum

HELLP SINDROM
Help sindrom komplit : terjadinya hemolysis, peningkatan enzim
hati, dan hitung trombosit rendah
Help sindrom parsial : terdapatnya 1 atau 2 temuan
laboratoriumdiatas tepi tidak ke 3 nya sekaligus
TUJUAN

KEBIJAKAN

Anamnesis

PEMERIKSAAN
FISIK
KRITERIA
DIAGNOSA
DIAGNOSIS
DIAGNOSIS
BANDING

.
SK. Direktur Nomor : SK/1298a-WAT/IX/2011 tentang pemberlakuan
Standar Prosedur Operasional (SPO) di RSUD Embung Fatimah Kota
Batam

Identifikasi factor factor risiko


Keluhan sekarang
Riwayat kehamilan
Riwayat kejang

Vital sign
Rf patella
Mencarikelainan yang mendasari hipertensi

Pengukuran TD pada lengan kiri dan kanan


EKG, ureum kreatinin, urinalisa, pemeriksaan retina
Hipertensi esensial
Hipertensi karena penyakit ginjal
Epilepsy
Ensefalitis
Meningitis
Tumor otak
Rupture aneurisma otak saat kehamilan lanjutdan masa nipas
dapat menyerupai eklamsi

DilarangmengubahdanataumenggandakandokumeninitanpapersetujuanDirekturRSUD Embung Fatimah Kota Batam

PER,PEB,EKLAMSI DAN SUPERIMPOSED PREEKLAMSI,


HIPERTENSI KRONIK
RSUD. EMBUNG FATIMAH
KOTA BATAM
Nomor Dokumen
No :

PEMERIKSAAN
PENUNJANG

TERAPI

PER
A.

Nomor Revisi :

Jumlah Halaman
Hal :3/10

Labor darah dan urinrutin


PT, APTT
SGOT.SGPT,LDH
Ureum ,kreatinin
Elektrolit
Jika kehamilan<37 minggu, dan tidak ada tanda- tanda perbaikan,
lakukan penilain 2x/ minggu secara rawat jalan :
Pantau tekanan darah, proteinuria, reflek patella, dan
kondisi janin
Lebih banyak istirahat
Diet biasa
Tidak perludiberi obat- obatan
Jika rawat jalan tidak mungkin, rawat dirumah sakit:
Diet biasa
Pantau TD 2x sehari, proteinuria 1x sehari
Tidak perlu obat-obatan
Tidak perlu diuretic, kecualai jika terdapat edema
paru, dekompensasi kordis atau gagal ginjal akut
Jika tekan diastolic turun sampai normal pasien
dapat dipulangkan:
1) Nasehatkan
untuk
beristirahat
dan
perhatikan tanda PEb
2) Control 2 x seminggu
3) Jika TD diastolic naik lagi rawat kembali
Jika tidak ada tanda perbaikan tetap rawat
Jika terdapat pertumbuhan janin terhambat,
pertimbangkan terminasi kehamilan
Jika proteinuria meningkat, tangani sebagai PEB

B. Jika kehamilan> 37 minggu, pertimbangkan terminasi:


Jika servik matang, lakukan induksi dengan oksitosin 5 IU
dalam 500 ml dekstrose IV 10 tetes / menit atau dengan
prostaglandin
Jika servik belum matang, berikan prostaglandin,
misoprostol atau kateter foley atau terminasi dengan seksio
sesarea
PEB/ EKLAMSI
Penanganan preeklamsia berat dan eklmsisama, kecuali bahwa
persalinan harus berlangsung dalam 12 jam setelah timbulnya kejang
DilarangmengubahdanataumenggandakandokumeninitanpapersetujuanDirekturRSUD Embung Fatimah Kota Batam

PER,PEB,EKLAMSI DAN SUPERIMPOSED PREEKLAMSI,


HIPERTENSI KRONIK
RSUD. EMBUNG FATIMAH
KOTA BATAM
Nomor Dokumen
No :

Nomor Revisi :

Jumlah Halaman
Hal :4/10

pada eklamsi
Penangan kejang
1) Beriobat anti konvulsan
2) Perlengkapan untuk penangana kejang ( jalan napas,suntion,
masker oksigen, oksigen)
3) Lindungi pasien dari kemungkinan trauma
4) Aspirai mulut dan tenggotokan
5) Baringkan pasein pada sisi kiri, posisi trendelenburg untuk
mengurangi risiko aspirasi
6) Beri 02 4-6 liter/ menit

Penangan umum
1) Jika TD diastollik .110 mmHg, berikan antihipertensi, sampai
dengan diatolik diantara 90-100 mmHg
2) Pasang infus RL dengan jarum besar (16 atau 18)
3) Ukur keseimbangan cairan ,jangan sampai terjadi overlou.(60ml125 ml/jam kecuali ada kehilangan cairan yang tidak biasa
seperti muntah, diare atau kehilangan darah yang banyak saat
persalinan)
4) Keteterisasi urin pengeluaran volume dan proteinuria
5) Jika jumlah urin<30 ml/jam :
Infus cairandipertahankan 1 L/8 jam
Pantau kemungkinan edema paru
6) Jangan tinggalkan paseien sendiri, kejang disertai aspirasi dapat
mengakibatkan kematian ibu dan janin
7) Ausuktasi paru untuk mencari tanda tanda edema paru krepitasi
merupakan tanda edema paru. Jika ada edema paru, stop
perberian cairan, dan berikan diuretic misalkan forosemid 40 mgIV
Antikonvulsan
Magnesium sulfat merupakan obat pilihan untuk mencegah ada mengatasi
kejang
Pada preeklamsi dan eklamsi. Alternative lain adalah diazepam, dengan
risiko terjadinya depresi neonatal. Cara pemberian MgSO4 untuk PEB dan
eklamsi
a) Infuse intravena kontinu
1) Berikan dosis awal MgSO4 sebesar 4 hingga 6 gram yang
diencerkan dalam 100 ml cairan IV dan diberikan selama 15
hingga 20 menit
DilarangmengubahdanataumenggandakandokumeninitanpapersetujuanDirekturRSUD Embung Fatimah Kota Batam

PER,PEB,EKLAMSI DAN SUPERIMPOSED PREEKLAMSI,


HIPERTENSI KRONIK
RSUD. EMBUNG FATIMAH
KOTA BATAM
Nomor Dokumen
No :

Nomor Revisi :

Jumlah Halaman
Hal :5/10

2) Mulai infuse rumatan 2 g/ jam dlam 100 mL IV beberapa


ahli menganjurkan dosis 1 g/jam
3) Pantau toksisistas magnesium :
Pantau reflek tendon dalam secara berkala
Beberapa ahli mengukur kadar magnesium serum
pada jam ke -4 hingga 6 dan menyesuaikan
kecepatan infuse untuk mempertahankan kadar
magnesium antara 4 dan 7 meq/L(4,8-8,4mg/dl)
Ukur kadar magnesium serum jika kadar kreatinin
serum> 1,0 mg/dl
4) Pemberian magnesium sulfat dihentikan 24 jam paska
persalinan
b) Injeksi intramuscular intermiten
1) Berikan 4 g magnesium sulfat (MgSO4.7H2OUSP) sebagai
larutan 20 % secara intravena dengan kecepatan tidak
melebihi 1 g/menit
2) Lanjutkan segera dengan 10 gram larutan magnesium 50 %
separuhnya disuntikkan profunda dikuadran kanan luar
kedua bokong menggunakan jarum ukuran 20 sepanjang 3
inch. ( penambahan 1,0 mL lidokain 2% meminimalkan
nyeri) jika kejang menetap selama 15 menit, berikan
kembali magnesium sulfat dalam larutan 20% dengan dosis
hingga 2 gram dan kecepatan tidak melebihi 1 g/menit. Jika
wanita hamil tersebut bertubuh besar, dapat diberikan dosis
hingga 4 g secara perlahan
3) Setelah itu tiap 4 jam, berikan 5 gram larutan magnesium
sulfat 50 % yang disuntikan profunda dikuadran kanan luar
bokong kanan dan kirri secara bergantian, tetpi dilakukan
setelah memastikan :
Reflek patella positif
Respirasi tidak tertekan ( frek napas minimal
16x/menit)
Keluar urin dalam 4 jam terakhir melebihi 100 mL
4) Magnesium sulfat dihentikan 24 jam pacsa persalinan
5) Siapkan antidotum
Jika terjadi henti napas:
Bantu dengan ventilator
DilarangmengubahdanataumenggandakandokumeninitanpapersetujuanDirekturRSUD Embung Fatimah Kota Batam

PER,PEB,EKLAMSI DAN SUPERIMPOSED PREEKLAMSI,


HIPERTENSI KRONIK
RSUD. EMBUNG FATIMAH
KOTA BATAM
Nomor Dokumen
No :

Nomor Revisi :

Jumlah Halaman
Hal :6/10

Berikan Ca glunonat 2 gram (20 ml dalam larutan


10%) IV perlahan lahan sampai perna[asan mulai
lagi

Pemberian diazepam pada PEB/eklamsi


1. Pemberian intravena
a) Dosis awal
Diazepam 10 ml IV pelan pelan selama 2 menit
Jika kejang berulang ,ulangi dosis awal
b) Dosis pemeliharaan
Diazepam 40 mg dalam 500 ml larutan Rl infuse
Depresi pernapasan ibu mungkin akan terjadi jika
dosis>30 mg/jam
Jangan berikan lebih .> 100mg/24 jam
2. Pemberian melalui rectum
Jika pemberian IV tidak mungkin, diazepam dapat diberikan
per rectal, dengan dosis awal 20 mg dalam sempril 10 ml
Jika terjadi kejang, berikan tambahan 10 mg/jam
Dapat pula diberikan melalui kateter urin yang dimasukkan
kedalam rectum
Antihipertensi
Obat pilihan adalah hidralazin, yang diberikan 5 mg IV pelan
pelan selama 5 menit sampai tekanan darah turun ( TD diatolik
berkisar 90-100mmHg)
Jika perlu, pemberian hidralizin dapat diulangi setiap jam, atau 12,5
mg IM setiap 2 jam maksimal 30 mg
Jika hidralizin tidak tersedia dapat diberikan :
Nefidipin dengan diagnosis inisial 10 mg oral, dapat diulangi
dalam 30 menit jika diperlukan (sub lingual tidak dianjurkan)
Lebatalol dengan dosis awal 10 mg IV. Jika TD tidak turun
mencapai tingkat yang diharapkan dalam 10 menit,
kemudian diberikan 20 mg.dosis tambahan selanjutnya
adalah 40 mg yang diberikan setelah 10 menit kedua, dan
dilanjutkan dosis 40 mg lagi jika diperlukan
Jika tidak respon dengan obat-obtan lini pertam bisa
diberikan antagosis kalsium, verapamil melalui infuse
dengan kecepatan 5-10 mg /jam atau nimodipine infuse
atau oral

DilarangmengubahdanataumenggandakandokumeninitanpapersetujuanDirekturRSUD Embung Fatimah Kota Batam

PER,PEB,EKLAMSI DAN SUPERIMPOSED PREEKLAMSI,


HIPERTENSI KRONIK
RSUD. EMBUNG FATIMAH
KOTA BATAM
Nomor Dokumen
No :

Nomor Revisi :

Jumlah Halaman
Hal :7/10

HEELP SINDROM
Pemberian kortikosteroid >25 tahun yang lalu oleh thiagarajah dkk,1984)
bermanfaat untuk tatalaksana kelainan nilai laboratoriumyang terjadi pada
simdrom hellp
Penelitian fonseca dkk,(2005) dan katz dkk (2008) menemukan bahwa
dexamethason tidak memiliki manfaat.mereka tidak menganjurkan
perberian kortikosteroid untuk terapi sindrom hellp
HIPERTENSI KRONIK

Jika pasien sebelum hamil sudah mendapat obat antihipertensi,


dan terkontrol dengan baik, lanjutkan pengobatan tersebut.
( biasanya metyldopa dosis 500-3000mg/hari dibagi 2-4 dosis)
Jika tekanan diastolic >110mmHg atau tekanan sistolok
<160mmHg berikan anti hipertensi
Jika terdapat proteinuria, pikirkan superimposedpreeklamsi
Istirahat
Pantau pertumbuhan dan kondisi janin
Jika tidak ada komplikasi, tunggu sampai aterem
Jika terdapat preeklamsi,PJT atau gawat janin, lakukan :
Jika servik matang, lakukan induksi denga oksitosin 2-5 IU
dalam 500 ml dekstrose per infuse 10 tts/menit atau
dengan prostaglandin
Jika servik belum matang berika prostaglandin,
misoprostol,atau kateter foley
Observasi komplikasi serta solusio plasenta, atau superimposed
preeklamsi

PERSALINAN
Pada PEB, persalian harus terjadi dalam 24 jam, sedangkan pada
eklamsi dalam 12 jam sejak gejala eklamsi timbul
Jka terdapat gawat janin, atau persalinan tidak dapat terjadi dalam
12 jam (pada eklamsi) lakukan seksio sesarea
Jika sc akan dilakukan, perhatikan bahwa :
Tidak terdapat koagulopati
Anastesi yang aman / terpilih adalah anastesi umum.
Anestesi spinal berhubungan dengan risiko hipotensi
DilarangmengubahdanataumenggandakandokumeninitanpapersetujuanDirekturRSUD Embung Fatimah Kota Batam

PER,PEB,EKLAMSI DAN SUPERIMPOSED PREEKLAMSI,


HIPERTENSI KRONIK
RSUD. EMBUNG FATIMAH
KOTA BATAM
Nomor Dokumen
No :

Nomor Revisi :

Jumlah Halaman
Hal :8/10

Jika anestesi umum tidak tersedia, atau janin mati, anak terlalu
kecil, lakukan persalinan pervaginam. Jika servik matang, lakukan
induksi dengan oksitosin 2-5 IU dalam 500 ml dekstrose per infuse
10 tts/menit atau dengan prostaglandin.

Pedoman maternal untuk penatalaksanaan segera apabila ditemukan 1


tau > keadaan berikut (wibowo,1999,friedman SA,1999,Sibai.BM,et
al,1994)
a) Hipertensi yang tidak terkontrol yaitu sistolik >160 mmHg atau
diastolic >110 mmHg maksimal dengan 2 kali pemberian 2 kali
pemberian antihipertensi yang dianjurkan
b) Eklamsi
c) Penurunan trombosit berdasarkan jumlah diklasifikasikan menurut :

Kelas 1 trombosit 50.000/mm3

Kelas 2 trombosit antara 50.000-100.000/mm3

Kelas 3 trombosit antara 100.000- 150.000/mm3


d) Edema paru
e) SGOT atau SGPT 2x nilai normal tertinggi dengan nyeri
epigrastium atau nyeri perut kanan atas. Serum SGPT,SGOP dan
LDH akan meningkat pada preeklamsia dan merupakan tanda
HELLP SIMDROM. Peningkatan fungsi liver ini merukan petunjuk
adanya subkapsuler dan rupture hepar imminens. Laktat
hidrogenese (LDH) adalah enzim katalase yang bertanggung
jawab terhadap proses oksidasi laktat menjadi piruvat.LDH yang
meningkat menggambarkan terjadinya kerusakan sel hepar.
Walaupun peningkatan kadat LDH juga merupkan tanda terjasinya
hemolisis. Peningkatan kasdar LDH tanpa disertai peningkatan
kadar SGOT dan SGPT menunjukkan hemolisis.

f)

Pada gangguan fungsi ginjal (anuria sampai gagal ginjal, juga


terdapat kadar keartinin > 1mg%)

g) Solusio plasenta, biasanya terjadinya pada ibu yang menderita


hipetensi akut dan lebih serinng terjadi pada preeklamsia yang
merupakan tindakan akut yang harus segera ditindak.
DilarangmengubahdanataumenggandakandokumeninitanpapersetujuanDirekturRSUD Embung Fatimah Kota Batam

PER,PEB,EKLAMSI DAN SUPERIMPOSED PREEKLAMSI,


HIPERTENSI KRONIK
RSUD. EMBUNG FATIMAH
KOTA BATAM
Nomor Dokumen
No :

Nomor Revisi :

Jumlah Halaman
Hal :9/10

h) Sakit kepala berat yang menetap atau gangguan penglihatan


untuk sementara, yang berlangsung sampapi seminggu, dapat juga
terjadi perdarahan kadang kadang pada renita, hal ini merupakan
tanda gawat akan terjadinya apopleksia serebri. Untuk kasus PEB
pada trisemester kedua tatlaksana konservatif dari penelitian
Bombrys dkk,(2008) terdapt angka kesakitan dan kematian yang
tinggi (solusio plasenta, sindrom hellp, edeme paru, gagal ginjal
akut, eklamsi, angka kematian perinatal yang tinggi anjurkan
terminasi
PERAWATAN POST PARTUM

EDUKASI

PROGNOSIS

TINGKAT
EVIDENS
TINKAT
REKOMENDASI
PENELAAH
KRITIS
INDIKATOR MEDIS
KEPUSTAKAAN

Anti konvulsan diteruskan sampai 24 jam postpartum atau kejang


terakhir
Untuk pasien eklamisia perawatan di ICU
Teruskan terapi antihipertensi jika tekanan diastolikmasih >110
mmHg
Pantau urin, labor darah rutin dan kimia darah

Edukasi jangka panjang kemungkinan morbiditas kardiovaskular


dan neurovascular
Konseling untuk kehamilan selanjutnya
Komplikasi hipertensi dan metabolic pada kehamilan berikutnya bagi
perempuan yang pernah mengalami hipertensi gertasional atau
preeklamsi
Perempuan dengan syndrome hellp memiliki risiko untuk timbulnya
rekurensi
I/II/II/IV
A/B/C
Dikonsultasikan dengan tim PEB /eklamsi
Temuan klinis dan laboratorium
1)
2)

Sarwono P. Buku Acuan Nasional.Pelayanan Kesehatan Maternal


dan Neonatal
Royal College of Obsetetricians and Gynokologists (RCOG)
Pregnency Hypertension

DilarangmengubahdanataumenggandakandokumeninitanpapersetujuanDirekturRSUD Embung Fatimah Kota Batam

PER,PEB,EKLAMSI DAN SUPERIMPOSED PREEKLAMSI,


HIPERTENSI KRONIK
RSUD. EMBUNG FATIMAH
KOTA BATAM
Nomor Dokumen
No :

3)

4)

Nomor Revisi :

Jumlah Halaman
Hal :10/10

Standar Pelayanan Medik. Obsetri dan Ginekologi. Perkumpulan


Obsetri dan Ginekologi Indonesia 2002
Cunningham FG et all:2010 ; Pregnency Hypertension ; In:
Williams Obsetrics 23th Edition, The McGraw Hill
Companies

DilarangmengubahdanataumenggandakandokumeninitanpapersetujuanDirekturRSUD Embung Fatimah Kota Batam