Anda di halaman 1dari 15

3.

Etiologi dan Predisposisi


Sebagian besar abses otak timbul secara penyebaran langsung dari infeksi telinga

tengah, sinusitis, atau mastoiditis. Sinusitis dapat berupa sinusitis paranasal, sinusitis
etmoidalis, sfenoidalis dan maksilaris. Juga dapat diakibatkan oleh infeksi paru sistemik,
endokarditis bakterial akut dan subakut, serta sepsis mikroemboli menuju ke otak.
Penyebab lain tetapi jarang adalah osteomielitis tulang tengkorak, sellulitis, erisipelas
pada wajah, infeksi gigi, luka tembus pada tengkorak oleh trauma. Bahkan masih banyak
penulis lain yang masih belum menemukan penyebab yang jelas.
Berdasarkan sumber infeksi tersebut, dapat ditentukan kira-kira dari lobus mana dari
otak abses tersebut bakal timbul. Infeksi pada sinus paranasal, dapat menyebar secara
retrograd tromboflebitis melalui klep vena-vena diploika menuju frontal atau lobus temporal.
Biasanya bentuk absesnya tunggal, terletak suferfisial di otak, dekat dengan sumber
infeksinya. Sinusitis frontal dapat menyebabkan abses di bagian anterior atau inferior dari
lobus- lobus frontalis. Sinusitis sfenoidalis, biasanya abses didapati pada lobus frontalis atau
temporalis. Sinusitis maksilaris absesnya didapati pada lobus temporalis. Sinusitis etmoidalis
absesnya didapati pada lobus frontalis. Infeksi pada telinga tengah dapat menyebar ke lobus
temporalis. Infeksi pada mastoid dapat mebnyebar ke dalam serebelum. Kadang-kadang
kerusakan tengkorak kepala oleh karena kelainan bawaan, seperti kerusakan tegmentum
timpani atau karena kelainan yang didapat seperti pada kerusakan tulang temporal oleh
kolesteatoma, memberi jalan untuk penyebaran infeksi ke dalam lobus frontalis atau
serebelum. Infeksi juga dapat menyebar secara retrograd tromboflebitis pada cabang-cabang
vena di temporal. Cabangcabang vena ini bergabung menuju vana-vena kortikal atau ke salah
satu sinus venosus (lateral, inferior, atau petrosal superior).
Abses otak dapat juga timbul akibat penyebaran secara hematogen dari infeksi yang
letaknya jauh dari otak seperti pada infeksi paru sistemik (empiema, abses paru,
bronkiektasis, pneumonia) atau pada endokarditis bakterialis akut dan subakut dan pada
penyakit-penyakit jantung lain seperti Tertalogi Fallot. Abses yang terbentuk sering sekali
multipel dan terdapat pada substansia alba dan substansis grisea dari jaringan otak.
Dibeberapa negara, penyebaran infeksi secara sistemik ini frekuensinya terlihat
meningkat. Lokalisasi abses otak yang penyebarannya secara hematogen ini sesuai dengan
peredaran darah, paling sering pada daerah yang didistribusi oleh arteri serebri media,
terutama pada lobus parietalis. Bisa juga pada daerah lain seperti serebelum dan batang otak.
Krayenbuhl dan Garfiels mendapatkan endokarditis subakut bersama sama dengan penyakit
jantung bawaan ataupun penyakit jantung rematik yang amenjadi penyebab abses otak ini.

Lesi primer lainnya bisa juga akibat pustula kulit, infeksi gigi, abses tonsil,
osteomielitis dan septikemia. Sebaga penyebab abses otak yang tidak diketahui,
persentasenya cukup tinggi, antara 20-37%.
Pada penderita penyakit jantung bawaan ataupun kelainan bentuk arteri dan vena paru
terutama yang didapati adanya aliran darah pintas dari kanan ke kiri, sangat mudah terkena
abses otak, oleh karena darahnya tidak disaring melalui kapiler-kapiler paru. Polisitemia
dapat menyebabkan infark-infark kecil di otak yang mengakibatkan daerah iskemik untuk
perkembangan organisme. Pada keadaan bakterimia jarang menyebabkan terbentuknya abses
otak oleh karena Blood brain barrier yang masih baik sangat resisten terhadap infeksi.
Sebagai faktor pencetus lain adalah terjadinya trauma tembus pada kepala, terutama
bila didapatkan adanya benda asing yang tertinggal di dalam jaringan otak, umpamanya
tulang. Luka tembak akibat senjata api dapat menyebabkan abses otak setelahbeberapa lama
dari kejadiannya, tetapi ini jarang di jumpai oleh karena biasanya logam panas tersebut steril.
Untuk mencegah terjadinya abses otak akibat trauma tembus kepala, dinjurkan untuk segera
melakukan debridenment . Patah tulang dasar tengkorak yang disertai dengan kebocoran
cairan serebrospinal dapat menyebabkan meningitis yang mengakibatkan terjadinya abses
otak. Pada kraniotomi, bila terjadi infeksi osteomielitis dari bone flap, kemungkinan dapat
menyebabkan abses otak. Demikian pula dengan pemakaian implan, bila terinfeksi dapat
menyebabkan abses otak.
Akhir-akhir ini terlihat adanya peningkatan insiden abses otak pada penderita
penyakit imunologik. Termasuk dalam kelompok ini yaitu penderita dengan penyakit kronis
seperti pada penderita yang menggunakan kemoterapi untuk penyakit-penyakit malignan
yang dapat menekan kekebalan tubuh, penderita yang mendapat pengobatan dengan steroid
ataupun bahan sitotoksik, antibiotika dengan kerja luas dan penderita dengan sindroma
kegagalan sistem kekebalan tubuh (AIDS).
Pernah dilaporkan abses otak disebabkan oleh organisme parasit, seperti
Schistosomiasis atau amoeba, tetapi sangat jarang. Juga oleh jamur seperti Aktinimikosis,
Nokardiosis, Candida Albicans dan lain-lain . Abses otak oleh bakteri multosida yang tumbuh
saprofit pada saluran pencernaan binatang piaraan seperti anjing dan kucing pernah juga
dilaporkan. Infeksi biasanya karena gigitan hewan tersebut.
3.3

Neuropatologi dan Gambaran CT Scan

Perjalanan bentuk abses otak oleh infreksi Streptococcus alfa hemolitikus secara
histologis dibagi dalam 4 fase, dan ini memerlukan waktu sampai 2 minggu untuk
terbentuknya kapsul dari abses. Keempat fase tersebut adalah :
Early cerebritis ( hari ke 1 - 3 )
Late cerebritis ( hari ke 4 9 )
Early capsule formation ( hari ke 10 13 )
Late capsule formation ( hari ke 14 atau lebih )
Early cerebritis
Terjadi reaksi radang lokal dengan infiltrasi polimorfonuklear leukosit, limfosit dan plasma
sel dengan pergeseran aliran darah tepi. Dimulai pada hari pertama dan meningkat pada hari
ke-tiga. Sel-sel radang terdapat pada tunika adventisia dari pembuluh darah dan mengelilingi
daerah nekrosis infeksi. Peradangan perivaskuler ini disebut cerebritis. Pada waktu ini terjadi
edema sekitar otak dan peningkatan efek dari massa oleh karena pengembangan abses.
Gambaran CT Scan :
Pada hari pertama terlihat daerah yang hipodens dengan sebagian gambaran seperti cincin.
Pada hari ketiga gambaran cincin lebih jelas, sesuai derngan diameter cerebritisnya, didapati
mengelilingi pusat nekrosis.
Late Cerebritis
Pada wakti ini terjadi perubahan histologis yang sangat berarti. Daerah pusat nekrosis
membesar oleh karena meningkatnya acellular debris dan pembentukan nanah oleh karena
perlepasan enzim-enzim dari sel radang. Pada tepi-tepi pusat nekrosis didapati daerah sel-sel
radang, makrofag-mafrofag besar dan gambaran fibroblas yang terpencar-pencar. Fibroblas
mulai menjadi anyaman retikulum, yang akan membentuk kapsul kollagen, lesi menjadi
sangat besar.
Gambaran CT Scan :
Gambaran cincin sempurna, 10 menit setelah pemberian kontras perinfus. Kontras masuk ke
daerah sentral dengan gambaran lesi yang homogen. Gambaran ini menunjukkan adanya
cerebritis.
Early Capsule Formation
3

Pusat nekrosis mulai mengecil, makrofag-makrofag menelan acelluler debris dan fibroblas
meningkat dalam pembentukan kapsul. Lapisan fibroblas membentuk anyaman retikulum,
mengelilingi pusat nekrosis. Di dalam ventrikel, pembentukan dinding sangat lambat oleh
karena kurangnya vaskularisasi di daerah substansi alba dibandingkan dengan substansi
grisea. Pembentukan kapsul yang terlambat dipermukaan tengah memungkinkan abses
membesar ke dalam substansia alba. Bila abses cukup besar, dapat robek ke dalam ventrikel
lateralis. Pada pembentukan kapsul, terlihat daerah anyaman retikulum yang tersebar
membentuk kapsul kollagen. Mulai meningkatnya reaksi astrosit di sekitar otak.
Gambaran CT Scan :
Hampir sama dengan fase cerebritis, tetapi pusat nekrosis terlihat lebih kecil. Kapsul terlihat
lebih tebal.
Late Capsule Formation
Terjadi perkembangan lengkap dari abses otak dengan gambaran histologisnya berupa :
Bentuk pusat nekrosis diisi oleh acelluler debris dan sel-sel radang. Daerah tepi dari sel
radang, mafrofag, dan fibroblas. Kapsul kolagen yang tebal. Lapisan neovaskuler sehubungan
dengan cerebritis yang berlanjut. Reaksi astrosit, gliosis, dan edema otak di luar kapsul.
Gambaran CT Scan :
Gambaran kapsul dari abses jelas terlihat, sedangkan daerah nekrosis diisi oleh kontras.
Gambaran Klinis
Penderita datang dengan keluhan berupa sakit kepala, muntah-muntah, kejang dan
bisa disertai gangguan penglihatan. Pada pemeriksaan fisik didapatkan demam, kaku kuduk,
papil bendung, bisa pula dijumpai pupil anisokor, afasia, hemiparese, parastesia, nistagmus
ataupun ataksis. Gejala-gejala tersebut tergantung pada berbagai faktor seperti lokasi abses,
virulensi dari bakteri penyebab, apakah edema otak hebat dan kondisi tubuh atau daya tahan
si penderita sendiri. Tidak dijumpai tanda-tanda spesifik dan gejala yang khas untuk suatu
abses otak.
Paling sering dijumpai tanda-tanda umum peningkatan tekanan intrakranial. Bisa
dijumpai tanda-tanda peningkatan tekanan intracranial tanpa tanda-tanda infeksi pada waktu
penderita datang ke rumah sakit. Pada umumnya peningkatan tekanan intrakranial oleh tumor
jinak lebih pelan daripada oleh abses otak.

Pada abses yang letaknya pada silent area dari otak seperti pada lobus frontalis atau
lobus temporal non dominan, mungkin didapati pembesaran abses sebelum adanya gejalagejala dan tanda-tanda.
Gejala sakit kepala yang hebat pada penderita abses otak ini sering tidak dapat diatasi
hanya dengan pengobatan simptomatis saja. Hampir seluruh penderita didapati keluhan sakit
kepala. Beberapa penulis mendapatkan gejala-gejala dengan persentase sebagai berikut :
muntah (25-50%), kejang-kejang (30-50%).
Pada penderita dengan abses serebelli, didapatkan gejala-gejala pusing, vertigo,
ataksis, dan gejalagejala serebelar lainnya. Gejala fokal yang sering ditemukan (61%) pada
kasus dengan abses supratentorial.
Pada abses temporal dapat dijumpai gangguan bicara pada 19,6% kasus, hemianopsia
pada 31% kasus, 20,5% kasus dijumpai unilateral midriasis yang merupakan indikasi
terjadinya herniasi tentorial. 30% dari kasus tidak didapati tanda-tanda fokal.
3.4

Pemeriksaan Penunjang
Untuk mencari sumber infeksi primer dari suatu abses otak dapat dibuat suatu foto

rontgen polos kepala, sinus ataupun mastoid. Pada foto rontgen polos kepala, mungkin
terlihat pergeseran letak glandula pinealis yang mengalami kalsifikasi. Didapatkan
pneumosefali kalau penyebarannya bakteri anaerob.
Pada anak-anak kemungkinan sutura melebar oleh karena peninggian tekanan
intrakranial. Kalau ada indikasi, kemungkinan dapat dibuat foto rontgen toraks untuk mencari
apakah ada infeksi dari paru. Dengan ultrasonografi didapatkan gambaran lateralisasi pada
34,5% kasus. Dengan angiografi dapat ditentukan lokalisasi abses secara tepat pada 34%
kasus. Pemeriksaan dengan Computerized Tomography Scanning(CT Scan) dapat terlihat
lokasi yang tepat dari abses dan juga fase dari abses tersebut, apakah pada fase cerebritis atau
pada fase sudah terbentuknya kapsul. Dengan adanya CT Scan ini, pengelolaan abses otak
dapat dilakukan secara cepat dan tepat.
3.5

Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan jumlah leukosit dan laju endap darah hasilnya selalu abnormal. Pada 60-

70% kasus dijumpai jumlah leukosit antara 10.000-20.000/cm3. Sampai 40% kasus dijumpai
normal atau sedikit meningkat. Laju endap darah meningkat pada 75-90% kasus, rata-rata 45
mm/jam.

Cairan serebrospinal tidak dianjurkan untuk diperiksa. Abnormalnya hasil LP tidak


spesifik untuk abses otak. Penderita abses otak dengan peninggian tekanan intrakranial,
terlalu riskan untuk dilakukan LP ( lumbal pungsi ).
Yang S.Y melaporkan beberapa kasus yang dilakukan lumbal pungsi dengan cepat
menunjukkan tanda-tanda herniasi otak, oleh karena itu pada penderita dengan sangkaan
meningitis dan dijumpai tanda-tanda neurologis abnormal, sebaiknya lebih dulu dilakukan
pemeriksaan CT Scan untuk menyingkirkan diagnosa abses otak. Bila ditemkan abses dengan
efek massa yang jelas, maka tidak dianjurkan untuk melakukan LP.
3.6

Diagnosa Banding

Dari gejala-gejala dan keluhan yang umum pada penderita dengan peningkatan tekanan
intrakranial serta kemungkinan didapatkan tanda-tanda infeksi, maka abses otak ini
didiagnosis banding antra lain dengan tumor, terutama tumor ganas yang tumbuh dengan
cepat, tromboflebitis intra serebral, empiema subdural, abses ektra dural dan ensefalitis.
3.7

Komplikasi

Sebagai komplikasi didapati robeknya kapsul abses kedalam ventrikel atau keruangan
subarakhnoidal, penyumbatan cairan serebrospinalis mengakibatakan hidrosefalus, edema
otak dan terjadinya herniasi tentorial oleh massa abses otak tersebut.
3.8

Penatalaksanaan

Pengobatan
Pengobatan abses otak ditujukan kepada menghilangkan proses infeksi dan
mengurangkan atau menghilangkan efek massa pada otak dan oleh edema otak, sebagian
besar infeksi ini diobati dengan antibiotika yang tepat dan dihilangkan dengan tindakan
pembedahan, baik dengan aspirasi maupun dengan eksisi.
Williams-Maurice RS melaporkan bahwa tindakan bedah yang memuaskan hasilnya
adalah evakuasi, eksisi total beserta kapsul abses, mereka melakukan pembedahan semua
kasus dengan pembiusan umum.
Pendekatan dengan osteoplastik supratentorial dan intratentorial, ataupun suboksipital
osteoklastik luas dengan membuang arkus dari atlas untuk dekompresi. Pengobatan
medikamentosa disesuaikan dengan hasil kultur dari abses otak, kultur darah ataupun sekret
nasofaring.

Beberapa peneliti melaporkan hasil pengobatan hanya dengan medikamentosa saja


pada beberapa kasus berhasil, tetapi ini banyak yang menentang. Heineman et al (1971)
memperkenalkan cara pengobatan hanya dengan antibiotika tanpa tindakan pembedahan.
Dilaporkan, pada abses otak dengan fase cerebritis pengobatan hanya dengan antibiotika.
Diperiksa kultur darah, cairan serebrospinal, sesuai dengan kultur luka apabila ditemukan.
Tidak diperiksa bakteriologis dari nanah abses intrakranial. Untuk mengurangi edema otak,
digunakan kortikosteroid.
Rosenblum dkk menemukan pengobatan medikamentosa pada abses yang kecil
dengan diameter rata-rata 1,7 cm ( 0,8 2,5 cm ). Kalau diameter lebih besar antara 2 6 cm
( rata-rata 4,2 cm ) dianjurkan untuk dilakukan tindakan bedah. Sebagai tambahan bahwa ada
beberapa abses otak yang kecil yang tidak berhasil dengan pengobatan antibiotika, bahkan
absesnya bertambah besar, pada pengobatan dengan hanya antibiotika ini diperlukan
pemeriksaan CT Scan secara serial. Kalau dari hasil CT Scan memperlihatkan keadaan
bertambah buruk, maka ini merupakan indikasi untuk dilakukan pembedahan.
Penderita dengan abses otak yang multipel, kemungkinan hanya abses yang besar saja
yang dapat dilakukan aspirasi atau eksisi dan ini sangat riskan. Maka selain tindakan
pembedahan, untuk abses yang dalam dan riskan diperlukan pemberian antibiotika. Adapun
antibiotika

yang

dianjurkan

diantaranya

Kombinasi

penisilin

dan

metronidazol/kloramfenikol adalah pilihan pertama. Kombinasi alternatif adalah sefalosporin


generasi III seperti seftriakson/sefotaksim dan metronidazol. Penisilin G atau sefalosporin
generasi III ( sefotaksim, seftriakson ) dapat digunakan untuk Streptococci sp. Dosis penisilin
G 20-24 juta unit, dan juga 4-6 juta unit. Kloramfenikol atau metronidazol dapat dierikan
secara intravena dengan loading dose 15 mg/kg diikuti 7,5 mg/kg setiap 6 jam. Golongan
penisilin resisten beta laktam ( oksasilin, metisilin, nafilin ) dengan dosis 1,5 g setiap 4 jam
IV atau vankomisin dosis 1 g setiap 12 jam IV, diberikan untuk Staphylococcus aureus, paska
operasi saraf, trauma, atau endokarditis bakterialis.
Metronidazol dosis 500 mg setiap 6 jam dapat menembus sawar darah otak dan tidak
dipengaruhi oleh kortikosteroid, tetapi hanya aktif untuk bakteri Streptococcus anaerob,
aerob, dan mikroaerofilik. Sefalosporin generasi III ( sefotaksim, seftriakson ) umumnya
adekuat untuk organisme gram negatif aerob. Jika terdapat Pseudomonas, sefalosporin
parenteral pilihan adalah seftazidim atau sefepim. Trimetoprim-sulfametoksazol dosis tinggi
15 mg/kg/hari dari komponen trimetoprim dibagi 3 - 5 dosis untuk abses otak dengan
penyebab Nikardia sp. Dosis dapat diturunkan 1/2 selama 3-6 bulan pada pasien tanpa
penekanan imun dan selama 1 tahun pada pasien dengan penekanan imun.
7

Apabila didapatkan sinusitis, mastoiditis, dilakukan drainase. Pada kasus-kasus abses


otak yang dilakukan tindakan pembedahan digunakan dua cara yaitu aspirasi melalui
pengeboran tulang tengkorak dan eksisi melalui kraniotomi.
Tindakan pembedahan
Aspirasi
Lebih dahulu dilakukan desinfeksi dan penentuan lokasi yang akan diaspirasi. Dengan
hasil CT Scan yang ada, dapat ditentukan secara pasti. Dilakukan pembiusan lokal dengan
memakai prokain 1 %, diinfiltrasikan ke kulit di daerah yang akan dilakukan pengbeboran.
Kemudian dibuat insisi kulit kulit kepala sebesar 3-5 cm lapis demi lapis sampai pada
periosteum.
Setelah tulang tampak jelas, daerah operasi tersebut dengan alat dibuka selebarlebarnya. Dengan alat dilakukan pengeboran tulang sampai terlihat duramater. Duramater
dibersihkan, kalau ada perdarahan dirawat sampai benar-benar bersih. Dengan pisau runcing
perlahan-lahan duramater diiiris sampai lapisan arakniod. Setelah korteks serebri terlihat
jelas, daerah yang
akan dilakukan pungsi atau aspirasi dibakar dengan alat elektris. Dengan jarum pungsi
khusus, dilakukan aspirasi nanah pada abses. Jarum pungsi tetap di dalam kapsul abses,
dengan semprit 10 cc dilakukan aspirasi berulangulang kemudian diirigasi dengan larutan
garam fisiologis sampai bersih. Akhirnya ke dalam rongga abses dimasukkan larutan 3 cc
Garamicin 10 mg. Dipasang drain, dan setiap hari drain diawasi dan dilakuan irigasi dengan
larutan Garamicin 20 mg. Kalau sampai 3-5 hari hail dari irigasi terlihat jernih, tidak
terbentuk pernanahan baru maka drain dapat dilepaskan. Drain dapat dipertahankan sampai
gari ke-7 -10 dengan dijaga kesterilannya. Disamping itu sejak sebelum pembedahan
penderita telah mulai diberi antibiotika dengan dosis tinggi seperti ampicillin 6x1 g,
kloramfenikol 4 x 500 mg, metronidazol 2 x 500 mg. Sampai menunggu hasil kultur, obatobat tersebut terus diteruskan. Pemberian antibiotika yang sesuai diberikan sampai dengan 6
minggu setelah tindakan pembedahan. Pemberian deksametason 4 x 5 mg diturunkan
perlahan-lahan setelah pembedahan
Kraniotomi Osteoplastik
Penderita dipersiapkan dengan persiapan bedah selengkap-lengkapnya. pembedahan
dilakukan dengan pembiusan umum. Tergantung dari lokasi absesnya, kita melakukan
kraniotomi osteoplastik dan flap kulit dipersiapkan. untuk abses fosa posterior/serebellum
8

dilakukan suboksipital kraniotomi yang luas, sampai membuang arkus dari tulang atlas bila
diperlukan. Setelah insisi kulit sesuai dengan lokasi absesnya, dilakukan pengeboran
dibeberapa tempat untuk kraniotomi tersebut. Tulang dilepaskan, duramater dibuka lebar.
Dengan jarum fungsi khusus dilakukan penusukan pada absesnya. Dilakukan aspirasi,
disediakan untuk dikultur. Kemudian melalui bekas pungsi, diikuti dengan spatel sampai
dinding abses tersebut terlihat. Korteks serebri diinsisi sepanjang 2-4 cm sampai dinding
abses yang paling permukaan ditemukan. Secara perlahan-lahan dinding abses dibebaskan
dari jaringan otak yang normal sampai terlepas keseluruhannya. Daerah bekas abses dicuci
dengan larutan antibiotika seperti Garamycin. Setalah perdarahan dihentikan dan luka
pembedahan bersih, duramater ditutup rapat kembali, dijahit dengan cara interupted suture
dengan benang sutura 03. Tulang dikembalikan, periosteum dijahit. Kulit dijahit lapis demi
lapis. Dipasang drain subkutan. Pemberian antibiotika diteruskan sambil menunggu hasil
kultur dan sensitivitas test. Sebagai pencegahan, diberi anti konvulsan Dilantin 5 mg/kgBB.
Setelah satu minggu kemudian, dibuat CT Scan sebagai kontrol.

BAB 4
DISKUSI KASUS
Pada kasus ini seorang perempuan berumur 28 tahun didiagnosa edema cerebri
berdasarkan anamnesa, pemeriksaan fisik, pemeriksaan neurologis dan pemeriksaan
penunjang. Di mana dari anamnesa didapati bahwa os datang ke RSUP HAM dengan keluhan
sakit kepala. Hal ini dialami oleh os lebih kurang dua minggu yang lalu.
Sakit kepalanya dirasakan perlahan-lahan, timbul terus-menerus dan menetap serta semakin
memberat pada pagi hari. Sakit kepala dirasakan berdenyut dan terasa seperti kepala
sedang diregangkan. Sakit kepala dirasakan di semua bagian kepala terutama pada kepala
bagian depan. Sakit memperberat apabila batuk atau bersin. Sakit kepala tidak ada perbaikan
dengan pemberian obat sakit kepala. Os juga mengeluh lemah lengan dan tungkai kanan sejak
dua minggu yang lalu. Riwayat muntah projektil (-). Riwayat kejang (+). Os mengalami
kejang lebih dari dua kali sejak sakit ini. Kejang bersifat menyentak-yentak seluruh badan
dan berlangsung selama +/- 5 menit. Demam (-). Os mempunyai kelainan jantung bawaan
(TOF) sebagai riwayat penyakit terdahulu. Riwayat penggunaan obat tidak jelas.

Pemeriksaan penunjang yang dilakukan pada OS adalah Head CT Scan dan


ekokardiografi. Hasil CT scan didapati Supratentorial tampak lesi hypodens di daerah lobus
frontal-temporalis kiri. Lesi tampak mendesak ventrikel lateral kiri ke arah kanan. Pada
pemeriksaan zat contrast, tampak ring enhance pada lesi tersebut. Kesan adalah abcess otak
(cerebral abcess). Dari laporan ekokardiografi didapati RA-RV dilatasi + VSD + PS severe
+ overriding aorta = TOF.
Os telah menerima pengobatan diet makanan biasa, IVFD RSol 20gtt/i, Inj.
Dexamethason 2amp IV bolus/ 1amp IV/6jam dan ditapering off/3jam, Inj Ranitidin
1amp/12jam, Inj ceftriaxon 2gr/12jam, B Comp 3x1, Inj Metronidazole 500mg/8jam IV, dan
Asam Mefenamat 3x500mg.

Teori

Kasus

Abses otak terbanyak pada usia dekade kedua Pada kasus ini os seorang perempuan muda
dari kehidupan, antara 20-50 tahun.

yang berumur 28 tahun.

Pada penderita penyakit jantung bawaan Os menderita penyakit jantung bawaan yaitu
ataupun kelainan bentuk arteri dan vena paru TOF (Tetralogy Of Fallot). Dari laporan
terutama yang didapati adanya aliran darah ekokardiografi pada tanggal 21 Januari 2011
pintas dari kanan ke kiri, sangat mudah didapati RA-RV dilatasi + VSD + PS severe
terkena abses otak, oleh karena darahnya + overriding aorta = TOF.
tidak disaring melalui kapiler-kapiler paru.
Gejala sakit kepala yang hebat pada penderita Os datang ke RSUP HAM dengan keluhan
abses otak ini sering tidak dapat diatasi hanya sakit kepala. Hal ini dialami oleh os lebih
dengan pengobatan simptomatis saja. Hampir kurang dua minggu yang lalu. Sakit kepala
seluruh penderita didapati keluhan sakit dirasakan berdenyut dan terasa seperti kepala
kepala.

sedang diregangkan. Sakit kepala dirasakan


di semua bagian kepala terutama pada kepala
bagian depan.

Sakit

kepala

tidak

ada
10

perbaikan dengan pemberian obat sakit


kepala.
Head CT-Scan dengan contras merupakan Pada os sudah dilakukan pemeriksaan Head
Gold Standard dalam menegakkan diagnosa CT-Scan
abses cerebri.

dengan

kontras

dan

hasilnya

didapati Supratentorial tampak lesi hypodens


di daerah lobus frontal-temporalis kiri. Lesi
tampak mendesak ventrikel lateral kiri ke
arah kanan. Pada pemeriksaan zat contrast,
tampak ring enhance pada lesi tersebut.
Kesan adalah abcess otak (cerebral abcess).

Pemeriksaan jumlah leukosit hasilnya selalu Pada

pemeriksaan

laboratorium

yang

abnormal. Pada 60-70% kasus dijumpai dilakukan tanggal 19 januari 2011, didapati
jumlah leukosit antara 10.000-20.000/cm3.

nilai 20.200/cm3

BAB 5
PERMASALAHAN
1.

Apakah diagnose pada kasus ini sudah tepat?


Menurut penulis diagnosa pada kasus ini sudah benar. Berdasarkan anamnesis dan
pemeriksaan neurologist didapati pasien datang dengan kelemahan lengan dan
tungkai sebelah kanan dan kelemahan pada N.VII kanan. Head CT Scan merupakan
salah satu. Gold Standard untuk mendiagnosa tumor otak. Berdasarkan hasil dari
Head CT Scan didapati Supratentorial tampak lesi hypodens di daerah lobus frontaltemporalis kiri. Lesi tampak mendesak ventrikel lateral kiri ke arah kanan. Pada
pemeriksaan zat contrast, tampak ring enhance pada lesi tersebut. Kesan adalah
abcess otak (cerebral abcess). Tambahan pula pada laporan ekokardiografi didapati
RA-RV dilatasi + VSD + PS severe + overriding aorta = TOF

2.

Apakah penatalaksanaan pada kasus ini sudah benar?


Penatalaksanaan awal bagi pasien ini sudah tepat. Penatalaksanaan ini bertujuan
menjaga fungsi vital otak dan saraf dan mengurangkan tekanan intrakranial. Pada
pasien pemberian ringer solution bertujuan untuk keseimbangan hemodinamik,
dexamethason untuk mengurangkan tekanan intrakranial, metronidazole dan
11

ceftriaxon sebagai antibiotik pada pasien, ranitidin diberikan untuk pengobatan tukak
lambung dan B Comp diberikan sebagai antineurogenik.

BAB 6
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1

KESIMPULAN
Abses otak ( abses serebri ) adalah infeksi pada otak yang diselubungi kapsul dan

terlokalisasi pada satu atau lebih area di dalam otak. Abses otak terdapat pada semua usia..
Sebagian besar abses otak timbul secara penyebaran langsung dari infeksi telinga tengah,
sinusitis, atau mastoiditis. Juga dapat diakibatkan oleh infeksi paru sistemik, endokarditis
bakterial akut dan subakut, serta sepsis mikroemboli menuju ke otak.
Perjalanan bentuk abses otak oleh infreksi Streptococcus alfa hemolitikus secara
histologis dibagi dalam 4 fase, dan ini memerlukan waktu sampai 2 minggu untuk
terbentuknya kapsul dari abses. Keempat fase tersebut adalah early cerebritis ( hari ke 1 - 3 )
Late cerebritis ( hari ke 4 9 ), Early capsule formation ( hari ke 10 13 ), Late capsule
formation ( hari ke 14 atau lebih ).
Penderita datang dengan keluhan berupa sakit kepala yang hebat, muntah-muntah (2550%), kejang (30-50%) dan bisa disertai gangguan penglihatan. Pada pemeriksaan fisik
didapatkan demam, kaku kuduk, papil bendung, bisa pula dijumpai pupil anisokor, afasia,
hemiparese, parastesia, nistagmus ataupun ataksis. Paling sering dijumpai tanda-tanda umum
peningkatan tekanan intrakranial. Pada penderita dengan abses serebelli, didapatkan gejalagejala pusing, vertigo, ataksis, dan gejala-gejala serebelar lainnya.
Pemeriksaan dengan Computerized Tomography Scanning(CT Scan) dapat terlihat
lokasi yang tepat dari abses dan juga fase dari abses tersebut, apakah pada fase cerebritis atau
pada fase sudah terbentuknya kapsul. Dengan adanya CT Scan ini, pengelolaan abses otak
dapat dilakukan secara cepat dan tepat.
Pengobatan abses otak ditujukan kepada menghilangkan proses infeksi dan
mengurangkan atau menghilangkan efek massa pada otak dan oleh edema otak, sebagian
besar infeksi ini diobati dengan antibiotika yang tepat dan dihilangkan dengan tindakan
pembedahan, baik dengan aspirasi maupun dengan eksisi.
12

6.2

SARAN
Nasehat yang perlu diberikan pada pasien ini adalah:

Praktisi

kesehatan

menjelaskan

mengenai

gejala-gejala,

pilihan

pengobatannya, lamanya masa pengobatannya dan efek samping yang


mungkin timbul dari pilihan pengobatannya serta keadaan fisik yang mungkin
/terjadi (sequele effect).

Keluarga pasien diterangkan mengenai kemungkinan penyakit ini akan lebih


parah dan mengancam nyawa jika tidak dilakukan tindakan operasi seperti
yang dianjurkan.

Keluarga pasien dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan yang


teratur dan taat advis dokter dalam hal pengobatan.

Pasien dinasihati untuk beristirahat secukupnya.

13

DAFTAR PUSTAKA
Dewantoro, G dkk., Panduan Praktis Diagnosis dan tata Laksana Penyakit Saraf., Jakarta :
EGC., 2009.
Hakim, AR., Pengamatan Pengelolaan Abses Otak di RSUD dr. Soetomo FK Universitas
Airlangga Surabaya pada tahun 1984-1986, Lab/UPF Ilmu Bedah FK UNAIR/dr.
Soetomo Surabaya., 1986.
KD Tripathi, M.D. Essentials of Medical Pharmacology. Sixth edition. Jaypee Brothers
Medical Publishers. New Delhi, India.
Lawson R.Wulsin and Arthur J, BarskyVictor RG, Kaplan NM, 2007. Tetralogy of fallot
TOF. In: Libby P, Bonow RO, Mann DL, Zipes DP, eds.,. Braunwald's Heart
Disease: A Textbook of Cardiovascular Medicine. 8th ed. Philadelphia, Pa; Saunders
Elsevier
Panitia Lulusan Dokter 2002-2003 FKUI., Updates in Neuroemergencies., Jakarta : Balai
Penerbit FKUI., 2002.
Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia., Buku ajar Neurologi Klinis., Yogyakarta :
Gadjah Mada University Press., 1996.
Rosenblum ML, Hoff JT, Norman D, Weinstein PR, Pitts L. Decreased mortality from brain
abscesses since advent of computerized tomography. J Neurosurg 1978;49:65868.
Miller ES, Dias PS, Uttley D. CT scanning in the management of intracranial abscess: a
review of 100 cases. Br J Neurosurg 1988; 2:43946.
Seydoux C, Francioli P. Bacterial brain abscesses: factors influencing mortality and sequelae.
Clin Infect Dis 1992;15:394401.
14

http://calicutmedicaljournal.org/2010/3/e5.pdf

15