Anda di halaman 1dari 8

ANAK PUNGUT,ANAK ANGKAT, ANAK ZINA, ANAK HASIN

INSEMINASI DAN BAYI TABUNG


A. ANAK PUNGUT / ANAK ANGKAT
Yusuf Qardhawi, ulama kelahiran Mesir tahun 1926 yang sejak tahun
1961 tinggal Doha Qatar, dalam bukunya Halal dan Haram dalam
Islam, menguraikan secara singkat perihal pengangkatan anak menurut
Islam.
Pada masa jahiliyah, mengangkat anak telah menjadi trend bagi
mereka, dan anak angkat bagi mereka tak beda dengan anak kandung,
yang dapat mewarisi bila ayah angkat meninggal. Inilah yang
diharamkan.dalam
Islam.
Prof. Dr. Amir Syarifuddin dalam bukunya Hukum Kewarisan Islam
menyatakan bahwa Hukum Islam tidak mengenal lembaga anak angkat
atau dikenal dengan adopsi dalam arti terlepasnya anak angkat dari
kekerabatan orang tua asalnya dan beralih ke dalam keekrabatan orang
tua angkatnya. Islam mengakui bahkan menganjurkan mengangkat
anak
orang
lain,
dalam
arti
pemeliharaan.
Allah s.w.t. akhirnya menghapus budaya jahiliyah tersebut dengan
menurunkan surat Al-Ahzab ayat 4 dan 5: Allah tidak menjadikan
anak-anak angkatmu itu sebagai anak-anakmu sendiri, yang demikian
itu adalah omongan-omonganmu dengan mulut-mulutmu, sedang
Allah berkata dengan benar dan Dia-lah yang menunjukkan ke jalan
yang lurus. Panggillah mereka (anak-anak) itu dengan bapak-bapak
mereka, sebab dia itu lebih lurus di sisi Allah. Jika kamu tidak
mengetahui bapak-bapak mereka, maka mereka itu adalah saudaramu
seagama dan kawan-kawanmu. Dengan turunnya ayat tersebut, maka
Islam telah menghapus seluruh pengaruh yang ditimbulkan oleh aturan
jahiliyah, misalnya tentang warisan dan dilarangnya kawin dengan
bekas isteri anak angkat. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam
surat Al-Anfal ayat 75 yang berbunyi: Keluarga sebagian mereka
lebih berhak terhadap sebagian menurut Kitabullah, dan surat AnNisa ayat 24 yang berbunyi: Dan bekas isteri-isteri anakmu yang

berasal
dari
tulang
rusukmu
sendiri.
Secara panjang lebar Allah s.w.t. menjelaskan tentang halalnya
mengawini bekas isteri anak angkat, yaitu ketika Rasulullah s.a.w. ragu
dan takut bertemu dengan orang banyak ketika akan mengawini
Zainab binti Jahsy, karena Zainab adalah mantan isteri Zaid bin
Haritsah, atau dikenal dengan Zaid bin Muhammad. Hal ini
sebagaimana difirmakan-Nya dalam surat Al-Ahzab ayat 37 40.
Pendapat Yusuf Qardhawi tersebut, diamini oleh Ahmad AsySyarbashi, sebagaimana dinyatakan beliau dalam bukunya
Yasalunaka, maka haramnya mengangkat anak adalah, apabila
nasabnya dinisbatkan kepada diri orang tua yang mengangkatnya.
Sedangkan mengangkat anak, apalagi anak yatim, yang tujuannya
adalah untuk diasuh dan dididik tanpa menasabkan pada dirinya, maka
cara tersebut sangat dipuji oleh Allah s.w.t. Hal ini sebagaimana
dikatakan sendiri oleh Rasulullah s.a.w. dalam hadits riwayat Bukhari,
Abu Daud dan Turmudzi: Saya akan bersama orang yang
menanggung anak yatim, seperti ini, sambil beliau menunjuk jari
telunjuk dari jari tengah dan ia renggangkan antara keduanya.
Laqith atau anak yang dipungut di jalanan, sama dengan anak yatim,
namun Yusuf Qardhawi menyatakan, bahwa anak seperti ini lebih patut
dinamakan Ibnu Sabil, yang dalam Islam dianjurkan untuk
memeliharanya. Asy-Syarbashi mengatakan bahwa para fuqaha
menetapkan, biaya hidup untuk anak pungut diambil dari baitul-mal
muslimin. Hal ini sebagaimana dikatakan Umar ibn Khattab r.a. ketika
ada seorang laki-laki yang memungut anak, pengurusannya berada di
tanganmu, sedangkan kewajiban menafkahinya ada pada kami.
Ummat Islam wajib mendirikan lembaga dan sarana yang menanggung
pendidikan dan pengurusan anak yatim. Dalam kitab Ahkam al-Awlad
fil Islam disebutkan bahwa Syariat Islam memuliakan anak pungut
dan menghitungnya sebagai anak muslim, kecuali di negara nonmuslim. Oleh karena itu, agar mereka sebagai generasi penerus Islam,
keberadaan institusi yang mengkhususkan diri mengasuh dan mendidik
anak pungut merupakan fardhu kifayah. Karena bila pengasuhan
mereka jatuh kepada non-muslim, maka jalan menuju murtadin lebih

besar dan ummat Islam yang tidak mempedulikan mereka, sudah pasti
akan dimintai pertanggungjawaban Allah s.w.t. Karena anak angkat
atau anak pungut tidak dapat saling mewarisi dengan orang tua
angkatnya, apabila orang tua angkat tidak mempunyai keluarga, maka
yang dapat dilakukan bila ia berkeinginan memberikan harta kepada
anak angkat adalah, dapat disalurkan dengan cara hibah ketika dia
masih hidup, atau dengan jalan wasiat dalam batas sepertiga pusaka
sebelum yang bersangkutan meninggal dunia.
B. ANAK ZINA
Tidak dapat dipungkiri lagi musibah perzinaan sudah mulai
merebak di negara ini. Kata zina mulai disamarkan dengan istilah
yang samar dan agak menarik, WIL (Wanita Idaman Lain), PIL (Pria
Idaman Lain), PSK (Penjaja Seks Komersial), Gadis Pendamping dan
yang sejenisnya yang mengesankan permasalahan ini mulai dianggap
ringan oleh sebagian kaum muslimin di negeri ini.
Ditambah lagi dengan ditinggalkannya syariat islam secara umum dan
khususnya hukuman bagi para pezina. Sehingga hal-hal ini mendukung
tersebarnya penyakit ini dilingkungan kaum muslimin. Padahal
semaraknya perzinaan membuahkan banyak permasalahan. Tidak
hanya pada kedua pelakunya namun juga pada buah hasil perbuatan
tersebut. Gelaran anak zina sudah cukup membuat sedih anak tersebut,
apalagi kemudian muncul masalah lainnya, seperti nasab, warisan,
perwalian dan masalah-masalah sosial lainnya yang tidak mungkin
lepas darinya.
Realita seperti ini tentunya tidak lepas dari sorotan syariat
Islam yang sempurna dan cocok untuk semua zaman. Tinggal kita
melihat kembali bagaimana fikih Islam memandang status anak zina
dalam keluarganya. Hal ini menjadi lebih penting dan mendesak
dengan banyaknya realita status mereka yang masih banyak
dipertanyakan masyarakat. Tentunya ini semua membutuhkan
penjelasan fikih islam walaupun dalam bentuk yang ringkas, agar

masyarakat menyadari implikasi buruk zina dan tidak salah dalam


menyikapi anak-anak yang lahir dari perzinaan.
Hal ini semakin penting untuk diketahui dengan adanya sikap
salah dari sebagian masyarakat dalam menghukumi mereka. Apalagi
dengan adanya sebagian kaum lelaki yang mengingkari janin yang
dikandung istrinya atau anak yang lahir dari istrinya itu adalah hasil
hubungan dengannya. Atau juga sengaja menikahi wanita hamil di luar
nikah, kemudian untuk menutupi aib keluarga dan menasabkan anak
tersebut
sebagai
anaknya.
a. Nasab anak zina
Anak zina pada asalnya dinasabkan kepada ibunya
sebagaimana anak mulaanah dinasabkan kepada ibunya. Sebab
keduanya sama-sama terputus nasabnya dari sisi bapaknya [lihat Al
Mughni 9/123]. Nabi Shallallahualaihi Wasallam menyatakan tentang
anak zina:
Artinya: Untuk keluarga ibunya yang masih ada [HR. Abu
Dawud, kitab Ath-Thalaq, Bab Fi Iddia` Walad Az-Zina no. 2268 dan
dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shohih Sunan Abu Dawud
no. 1983]
Juga menasabkan anak dari Mulaanah kepada ibunya,
sebagaimana dijelaskan Ibnu Umar Radhiallahuanhuma dalam
penuturannya:
Artinya: Nabi Shallallahualaihi Wasallam mengadakan mulaanah
antara seorang dengan istrinya. Lalu lelaki tersebut mengingkari
anaknya tersebut dan Nabi Shallallahualaihi Wasallam memisahkan
keduanya dan menasabkan anak tersebut kepada ibunya. [HR.
Bukhari, Kitab Ath-Thalaq, Bab Yalhaqu al-Walad Bi al-Mar`ah lihat
Fathu al Baari 9/460]
Inilah salah satu konsekuensi mulaanah. Ibnu al-Qayyim
ketika menjelaskan konsekuensi mulaanah menyatakan: Hukum
yang ke enam adalah terputusnya nasab anak dari sisi sang bapak,

karena Rasulullah Shallallahualaihi Wasallam menetapkan untuk tidak


dipanggil anak tersebut dengan nasab bapak, inilah yang benar dan ia
adalah pendapat mayoritas ulama. [Zaad al-Maad 5/357]
Syaikh Musthafa AlAdawi Hafizhahullah menyatakan: Inilah
pendapat mayoritas ulama bahwa nasab anak tersebut terputus dari sisi
bapaknya karena Rasululloh Shallallahualaihi Wasallam menetapkan
tidak dinasabkan kepada bapaknya. Inilah pendapat yang benar.
[Jaami Ahkaam an-Nisaa` 4/232]

memiliki istri atau budak wanita yang sudah pernah digaulinya.


Sebagaimana dijelaskan dalam hadits Abu Hurairah Radhiallahuanhu
yang menyatakan bahwa Rasulullah Shallallahualaihi Wasallam
pernah bersabda:

Sedangkan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin


Rahimahullah menyatakan: Anak zina diciptakan dari sperma tanpa
pernikahan, sehingga tidak dinasabkan kepada seorangpun baik kepada
lelaki yang menzinahinya atau kepada suami wanita tersebut apabila ia
bersuami, karena ia tidak memiliki bapak yang syari. [Syarhu alMumti, Tahqiq Kholid al-Musyaiqih, 4/255]

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sadi Rahimahullah


menyatakan: Kapan saja seorang wanita telah menjadi firaasy baik
sebagai istri atau budak wanita, lalu lahirlah darinya seorang anak,
maka anak itu milik pemilik firaasy [al-Fatawa as-Sadiyah hal. 552].
Beliaupun menambahkan: Dengan Firasy ini maka tidak dianggap
keserupaan fisik atau pengakuan seorang dan tidak juga yang lainnya
[al-Fatawa as-Sadiyah hal. 553].

Nasab anak hasil selingkuh atau perzinahan, apabila dilihat


kepada status ibunya, maka dapat dikategorikan menjadi dua :
1. Berstatus istri seorang suami.
Seorang wanita bersuami yang terbukti selingkuh kemudian
melahirkan anaknya, maka tidak lepas dari dua keadaan:
a. Sang suami tidak mengingkari anak tersebut dan mengakuinya
sebagai anaknya.
Apabila terlahir anak dari seorang wanita resmi bersuami dan
sang suami tidak mengingkari anak tersebut, maka anak tersebut
adalah anaknya, walaupun ada orang yang mengklaim itu adalah hasil
selingkuh dengannya, dasarnya adalah sabda Rasulullah
Shallallahualaihi Wasallam dalam hadits Aisyah Radhiallahuanha :
Artinya: Anak yang lahir adalah milik pemilik kasur (suami) dan
pezinanya dihukum [HR Al-Bukhari kitab Al-Faraaid, Bab Man
iddaa Akhanat au Ibna Akhi, lihat Fathul Bari 12/52 ]
Yang dimaksud dengan kata al-Firaasy disini adalah lelaki yang

Artinya: Anak yang lahir adalah milik sang pemilik kasur


(suami) [HR al-Bukhori dalam itab al-Faraaid, Bab al-Walad Lil
Firaasy Hurratan kaanat au Amatan, lihat Fathul Baari, 12/32 ]

a. Sang suami mengingkarinya


Apabila sang suami mengingkari anak tersebut, maka sang wanita
(sang
istri)
berada
dalam
satu
dari
dua
keadaan:
o Mengakui kalau itu memang hasil selingkuh atau terbukti dengan
persaksian yang sesuai syariat, maka dihukum dengan rajam dan
anaknya adalah anak zina. Dengan demikian maka nasab anak tersebut
dinasabkan kepada ibunya.
o Wanita itu mengingkari anak tersebut hasil selingkuh, maka
pasangan suami istri itu saling melaknat (mulaanah) lalu dipisahkan
dan digagalkan ikatan pernikahan keduanya selama-lamanya. Anak
tersebut menjadi anak mulaanah bukan anak zina. Namun demikian
tetap dinasabkan kepada ibunya.
2. Tidak menjadi istri seseorang.

Apabila wanita tersebut tidak memiliki suami, baik janda atau


belum pernah menikah lalu melahirkan anak, maka anak tersebut
memiliki dua keadaan:
Bila tidak ada seorangpun yang menzinainya yang meminta
anak tersebut dinasabkan kepadanya, maka hukumnya tidak
dinasabkan kepada lelaki dan dinasabkan kepada ibunya.
Bila ada yang mengaku menzinai wanita tersebut dan mengakui anak
tersebut adalah anaknya, maka para ulama berbeda pendapat dalam hal
ini dalam dua pendapat:
Pendapat pertama menyatakan Anak tersebut tidak dinasabkan
kepadanya.
Inilah pendapat madzhab al-`aimah al-arbaah (imam empat madzhab)
[Lihat Ikhtiyaraat Ibnu Taimiyah, Ahmad al-Muufi 2/828] dan
pendapat Ibnu Hazm dari madzhab Zhahiriyah [Lihat al-Muhalla
10/323]. Pendapat ini dirajihkan Ibnu Qudamah dalam al-Mughni.
Dasar pendapat ini adalah:
a. Sabda Rasulullah Shallallahualaihi Wasallam:
Artinya: Anak yang lahir adalah milik pemilik kasur (suami)
dan pezinanya dihukum. [HR Bukhari]
Dalam hadits yang mulia ini Nabi Shallallahualaihi Wasallam
tidak menjadikan anak tersebut dinasabkan kepada selain suami
ibunya. Menasabkan anak zina tersebut kepada lelaki pezina
menyelisihi tuntutan hadits ini.
b. Hadits Abdullah bin Amru yang berbunyi:
Artinya: Seorang berdiri seraya berkata: Wahai Rasulullah! Sungguh
si Fulan ini adalah anak saya, saya dulu di zaman Jahiliyah menzinahi
ibunya. Maka Rasululloh Shallallahualaihi Wasallam menjawab:
Tidak ada pengakuan anak dalam islam, telah hilang urusan jahiliyah.

Anak adalah milik suami wanita (al-Firaasy) dan pezina


dihukum.[HR. Abu Dawud, Kitab Ath-Thalaq, Bab Al-Walad Lil
Firasy no. 2274 dan dishahihkan Al-Albani dalam Shahih sunan Abu
Dawud dan Shahih al-jaami no. 2493]
c. Sabda Nabi Shallallahualaihi Wasallam :
Artinya: Tidak ada perzinaan dalam islam, siapa yang berzina di
zaman jahiliyah maka dinasabkan kepada kerabat ahli warisnya
(Ashobah) dan siapa yang mengklaim anak tanpa bukti, maka tidak
mewarisi dan tidak mewariskan. [HR. Abu Dawud no. 2264 dan didhoif-kan Al-Albani dalam Dhoif al-Jaami dan Syuaib al-Arna`uth
dalam tahqiq Zaad al-Maad 5/382]
d. Hadits Abdullah bin Amru Radhiallahuanhu yang berbunyi :
Artinya: Sungguh Nabi Shallallahualaihi Wasallam ingin
memutuskan bahwa setiap anak yang dinasabkan setelah (meninggal)
bapak yang dinasabkan kepadanya tersebut diakui oleh ahli warisnya.
Lalu beliau memutuskan bahwa semua anak yang lahir dari budak
yang dimilikinya (sang majikan) pada waktu digauli (hubungan suami
istri), maka dinasabkan kepada yang meminta penasabannya dan anak
tersebut tidak memiliki hak sedikitpun dari warisan dibagikan sebelum
(dinasabkan) padanya dan warisan yang belum dibagikan maka ia
mendapatkan bagiannya. Tidak dinasabkan (kepada sang bapak)
apabila bapak yang dinasabkan tersebut mengingkarinya. Apabila dari
budak yang tidak dimilikinya atau dari wanita merdeka yang
dizinainya, maka anak tersebut tidak dinasabkan kepadanya dan tidak
mewarisi walaupun orang yang dinasabkan tersebut yang
mengklaimnya, karena ia anak zina baik dari wanita merdeka atau
budak sahaya. [HR Abu daud no. 2265 dan 2266 dan dihasankan alAlbani dalam Shahih Sunan Abi Daud dan Syuaib al-Arna`uth dalam
tahqiq Zaad al-Maad 5/383]

Ibnu al-Qayyim menyatakan: Hadits ini membantah pendapat Ishaaq


dan yang sepakat dengannya. [Zaad al-Maad 5/384]
e. Sabda Nabi Shallallahualaihi Wasallam :
Artinya: Siapa saja yang menzinahi wanita merdeka atau budak
sahaya maka anaknya adalah anak zina, tidak mewarisi dan
mewariskan. [HR At-Tirmidzi, kitab al-Fara`idh 4/428 dan
dishahihkan al-Albani dalam Shahih Sunan At-tirmidzi dan Shohih alJaami no. 2723]
b. Anak Zina dan Warisan
Hukum dalam warisan anak zina dalam semua keadaannya sama
dengan hukum waris anak mulaanah karena terputusnya nasab mereka
dari sang bapak [Lihat al-Mughni 9/122]. Masalah waris mewaris bagi
anak
zina
adalah
bagian
dari konsekwensi nasabnya.
1. Anak zina dengan lelaki yang menzinahi ibunya.
Hubungan waris mewaris antara anak zina dengan bapaknya ada
dengan adanya sebab pewarisan (Sabaab al-Irts) yaitu Nasab. Ketika
anak zina tidak dinasabkan secara syarI kepada lelaki tersebut maka
tidak ada waris mewarisi diantara keduannya. Dengan demikian maka
anak zina tersebut tidak mewarisi dari orang tersebut dan kerabatnya
dan juga lelaki tersebut tidak mewarisi harta dari anak zina tersebut.
2. Anak zina dengan ibunya
Dengan ibunya maka terjadi saling mewarisi dan anak zina tersebut
sama seperti anak-anak ibunya yang lainnya, karena ia adalah anaknya
sehingga masuk dalam keumuman firman Allah Taala :
Artinya: Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pusaka
untuk) anak-anakmu. Yaitu : bahagian seorang anak lelaki sama
dengan bahagian dua orang anak perempuan dan jika anak itu
semuanya perempuan lebih dari dua, Maka bagi mereka dua pertiga
dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja,

Maka ia memperoleh separo harta. dan untuk dua orang ibu-bapa, bagi
masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang
meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak
mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapanya (saja), Maka ibunya
mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa
saudara, Maka ibunya mendapat seperenam. (Pembagian-pembagian
tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan)
sesudah dibayar hutangnya. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu,
kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat
(banyak) manfaatnya bagimu. ini adalah ketetapan dari Allah.
Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana. [QS.
An-Nisaa` 4: 11]
Sebab anak tersebut dinasabkan kepada ibunya dan nasab adalah sebab
pewarisan. Demikian juga anak zina tersebut statusnya dalam hal ini
sama dengan anak mulaanah yang dijelaskan dalam hadits Sahl bin
Saad as-Saidi yang menceritakan bahwa Rasulullah Shallallahualahi
Wasallam memutuskan perkara mulaanah, Sahl bin Saad
Radhiallahuanhu berkata:
Artinya: Maka menjadi sunnah memisahkan dua orang yang
melakukan mulaanah. Wanitanya tersebut dalam keadaan hamil, lalu
suaminya mengingkari kehamilannya dan anaknya dinasabkan kepada
wanita tersebut, kemudian berlakulah sunnah dalam warisan bahwa
anak tersebut mewarisi harta wanita tersebut dan wanita tersebut
mewaris harta anaknya tersebut sesuai dengan ketetapan Allah [HR
Al-Bukhari, Kitab At-Tafsir no. 4746 lihat Fathul Baari 8/448 dan
Muslim dalam kitab al-Lian, lihat Syarh An-Nawawi 10/123 ]
Ibnu Qudamah Rahimahullah berkata: Seorang lelaki apabila
melakukan mulaanah terhadap istrinya dan menolak anaknya dan
hakim telah memisahkan antara keduanya, maka nak tersebut lepas
darinya dan terputuslah hak waris mewaris dari sisi lelaki yang
melakukan mulaanah tersebut, sehingga ia tidak mewarisinya dan
tidak juga seorangpun ahli waris (Ashobah)nya. Ibunya dan dzawu al-

Furudh darinya yang mewarisinya saja. Juga waris mewaris antara


pasangan suami istri tersebut putus dan kami tidak mengetahui adanya
perbedaan pendapat dalam hal ini. [Al-Mughni 9/114]
C. ANAK HASIL INSEMINASI DAN BAYI TABUNG
Ajaran syariat Islam mengajarkan kita untuk tidak boleh berputus asa
dan menganjurkan untuk senantiasa berikhtiar (usaha) dalam
menggapai karunia Allah SWT. Demikian halnya di ntara
pancamaslahat yang diayomi oleh maqashid asy-syariah (tujuan
filosofis syariah Islam) adalah hifdz an-nasl (memelihara fungsi dan
kesucian reproduksi) bagi kelangsungan dan kesinambungan generasi
umat manusia. Allah telah menjanjikan setiap kesulitan ada solusi
(QS.Al-Insyirah:5-6) termasuk kesulitan reproduksi manusia dengan
adanya kemajuan teknologi kedokteran dan ilmu biologi modern yang
Allah karuniakan kepada umat manusia agar mereka bersyukur dengan
menggunakannya
sesuai
kaedah
ajaran-Nya.
Teknologi bayi tabung dan inseminasi buatan merupakan hasil terapan
sains modern yang pada prinsipnya bersifat netral sebagai bentuk
kemajuan ilmu kedokteran dan biologi. Sehingga meskipun memiliki
daya guna tinggi, namun juga sangat rentan terhadap penyalahgunaan
dan kesalahan etika bila dilakukan oleh orang yang tidak beragama,
beriman dan beretika sehingga sangat potensial berdampak negatif dan
fatal. Oleh karena itu kaedah dan ketentuan syariah merupakan
pemandu etika dalam penggunaan teknologi ini sebab penggunaan dan
penerapan teknologi belum tentu sesuai menurut agama, etika dan
hukum yang berlaku di masyarakat.
Seorang pakar kesehatan New Age dan pemimpin redaksi jurnal
Integratif Medicine, DR. Andrew Weil sangat meresahkan dan
mengkhawatirkan penggunaan inovasi teknologi kedokteran tidak pada
tempatnya yang biasanya terlambat untuk memahami konsekuensi etis
dan sosial yang ditimbulkannya. Oleh karena itu, Dr. Arthur Leonard
Caplan, Direktur Center for Bioethics dan Guru Besar Bioethics di
University of Pennsylvania menganjurkan pentingnya komitmen etika

biologi dalam praktek teknologi kedokteran apa yang disebut sebagai


bioetika. Menurut John Naisbitt dalam High Tech - High Touch (1999)
bioetika bermula sebagai bidang spesialisasi paada 1960 an sebagai
tanggapan atas tantangan yang belum pernah ada, yang diciptakan oleh
kemajuan di bidang teknologi pendukung kehidupan dan teknologi
reproduksi.
Inseminasi buatan ialah pembuahan pada hewan atau manusia tanpa
melalui senggama (sexual intercourse). Ada beberapa teknik
inseminasi buatan yang telah dikembangkan dalam dunia kedokteran,
antara lain adalah: Pertama; Fertilazation in Vitro (FIV) dengan cara
mengambil sperma suami dan ovum istri kemudian diproses di vitro
(tabung), dan setelah terjadi pembuahan, lalu ditransfer di rahim istri.
Kedua; Gamet Intra Felopian Tuba (GIFT) dengan cara mengambil
sperma suami dan ovum istri, dan setelah dicampur terjadi pembuahan,
maka segera ditanam di saluran telur (tuba palupi) Teknik kedua ini
terlihat lebih alamiah, sebab sperma hanya bisa membuahi ovum di
tuba palupi setelah terjadi ejakulasi melalui hubungan seksual.
a. Anak hasil inseminasi dan bayi tabung menurut pandangan Islam
Masalah inseminasi buatan ini menurut pandangan Islam termasuk
masalah kontemporer ijtihadiah, karena tidak terdapat hukumnya seara
spesifik di dalam Al-Quran dan As-Sunnah bahkan dalam kajian fiqih
klasik sekalipun. Karena itu, kalau masalah ini hendak dikaji menurut
Hukum Islam, maka harus dikaji dengan memakai metode ijtihad yang
lazimnya dipakai oleh para ahli ijtihad (mujtahidin), agar dapat
ditemukan hukumnya yang sesuai dengan prinsip dan jiwa Al-Quran
dan As-Sunnah yang merupakan sumber pokok hukum Islam. Namun,
kajian masalah inseminasi buatan ini seyogyanya menggunakan
pendekatan multi disipliner oleh para ulama dan cendikiawan muslim
dari berbagai disiplin ilmu yang relevan, agar dapat diperoleh
kesimpulan hukum yang benar-benar proporsional dan mendasar.
Misalnya ahli kedokteran, peternakan, biologi, hukum, agama dan
etika.

Masalah inseminasi buatan ini sejak tahun 1980-an telah banyak


dibicarakan di kalangan Islam, baik di tingkat nasional maupun
internasional. Misalnya Majlis Tarjih Muhammadiyah dalam
Muktamarnya tahun 1980, mengharamkan bayi tabung dengan sperma
donor sebagaimana diangkat oleh Panji Masyarakat edisi nomor 514
tanggal 1 September 1986. Lembaga Fiqih Islam Organisasi
Konferensi Islam (OKI) dalam sidangnya di Amman tahun 1986
mengharamkan bayi tabung dengan sperma donor atau ovum, dan
membolehkan pembuahan buatan dengan sel sperma suami dan ovum
dari isteri sendiri.
Dengan demikian, mengenai hukum inseminasi buatan dan bayi
tabung pada manusia harus diklasifikasikan persoalannya secara jelas.
Bila dilakukan dengan sperma atau ovum suami isteri sendiri, baik
dengan cara mengambil sperma suami kemudian disuntikkan ke dalam
vagina, tuba palupi atau uterus isteri, maupun dengan cara
pembuahannya di luar rahim, kemudian buahnya (vertilized ovum)
ditanam di dalam rahim istri; maka hal ini dibolehkan, asal keadaan
suami isteri tersebut benar-benar memerlukan inseminasi buatan untuk
membantu pasangan suami isteri tersebut memperoleh keturunan. Hal
ini sesuai dengan kaidah al hajatu tanzilu manzilah al dharurat (hajat
atau kebutuhan yang sangat mendesak diperlakukan seperti keadaan
darurat).
Sebaliknya, kalau inseminasi buatan itu dilakukan dengan bantuan
donor sperma dan ovum, maka diharamkan dan hukumnya sama
dengan zina. Sebagai akibat hukumnya, anak hasil inseminasi itu tidak
sah dan nasabnya hanya berhubungan dengan ibu yang melahirkannya.
Menurut hemat penulis, dalil-dalil syari yang dapat dijadikan
landasan menetapkan hukum haram inseminasi buatan dengan donor
ialah:

Pertama; firman Allah SWT dalam surat al-Isra:70 dan At-Tin:4.


Kedua ayat tersebuti menunjukkan bahwa manusia diciptakan oleh
Tuhan sebagai makhluk yang mempunyai kelebihan/keistimewaan
sehingga melebihi makhluk-makhluk Tuhan lainnya. Dan Tuhan
sendiri berkenan memuliakan manusia, maka sudah seharusnya
manusia bisa menghormati martabatnya sendiri serta menghormati
martabat sesama manusia. Dalam hal ini inseminasi buatan dengan
donor itu pada hakikatnya dapat merendahkan harkat manusia sejajar
dengan tumbuh-tumbuhan dan hewan yang diinseminasi.
Kedua; hadits Nabi Saw yang mengatakan, tidak halal bagi seseorang
yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir menyiramkan airnya
(sperma) pada tanaman orang lain (istri orang lain). (HR. Abu Daud,
Tirmidzi
dan
dipandang
Shahih
oleh
Ibnu
Hibban).
Berdasarkan hadits tersebut para ulama sepakat mengharamkan
seseorang melakukan hubungan seksual dengan wanita hamil dari istri
orang lain. Tetapi mereka berbeda pendapat apakah sah atau tidak
mengawini wanita hamil. Menurut Abu Hanifah boleh, asalkan tidak
melakukan senggama sebelum kandungannya lahir. Sedangkan Zufar
tidak membolehkan. Pada saat para imam mazhab masih hidup,
masalah inseminasi buatan belum timbul. Karena itu, kita tidak bisa
memperoleh
fatwa
hukumnya
dari
mereka.
Hadits ini juga dapat dijadikan dalil untuk mengharamkan inseminasi
buatan pada manusia dengan donor sperma dan/atau ovum, karena kata
maa dalam bahasa Arab bisa berarti air hujan atau air secara umum,
seperti dalam Thaha:53. Juga bisa berarti benda cair atau sperma
seperti
dalam
An-Nur:45
dan
Al-Thariq:6.
Dalil lain untuk syarat kehalalan inseminasi buatan bagi manusia harus
berasal dari ssperma dan ovum pasangan yang sah menurut syariah
adalah kaidah hukum fiqih yang mengatakan darul mafsadah
muqaddam ala jalbil mashlahah (menghindari mafsadah atau
mudharat) harus didahulukan daripada mencari atau menarik
maslahah/kebaikan.
Sebagaimana kita ketahui bahwa inseminasi buatan pada manusia

dengan donor sperma dan/atau ovum lebih banyak mendatangkan


mudharat daripada maslahah. Maslahah yang dibawa inseminasi
buatan ialah membantu suami-isteri yang mandul, baik keduanya
maupun salah satunya, untuk mendapatkan keturunan atau yang
mengalami gangguan pembuahan normal. Namun mudharat dan
mafsadahnya
jauh
lebih
besar,
antara
lain
berupa:
1. percampuran nasab, padahal Islam sangat menjada
kesucian/kehormatan kelamin dan kemurnian nasab, karena nasab itu
ada kaitannya dengan kemahraman dan kewarisan.
2. Bertentangan dengan sunnatullah atau hukum alam.
3. Inseminasi pada hakikatnya sama dengan prostitusi, karena terjadi
percampuran sperma pria dengan ovum wanita tanpa perkawinan yang
sah.
4. Kehadiran anak hasil inseminasi bisa menjadi sumber konflik dalam
rumah tanggal.
5. Anak hasil inseminasi lebih banyak unsur negatifnya daripada anak
adopsi.
6. Bayi tabung lahir tanpa melalui proses kasih sayang yang alami,
terutama bagi bayi tabung lewat ibu titipan yang menyerahkan bayinya
kepada pasangan suami-isteri yang punya benihnya sesuai dengan
kontrak, tidak terjalin hubungan keibuan secara alami. (QS.
Luqman:14 dan Al-Ahqaf:14).
Adapun mengenai status anak hasil inseminasi buatan dengan donor
sperma dan/atau ovum menurut hukum Islam adalah tidak sah dan
statusnya sama dengan anak hasil prostitusi atau hubungan perzinaan.
Dan kalau kita bandingkan dengan bunyi pasal 42 UU Perkawinan No.
1 tahun 1974, anak yang sah adalah anak yang dilahirkan dalam atau
sebagai akibat perkawinan yang sah maka tampaknya memberi
pengertian bahwa anak hasil inseminasi buatan dengan donor itu dapat
dipandang sebagai anak yang sah. Namun, kalau kita perhatikan pasal

dan ayat lain dalam UU Perkawinan ini, terlihat bagaimana peranan


agama yang cukup dominan dalam pengesahan sesuatu yang berkaitan
dengan perkawinan. Misalnya pasal 2 ayat 1 (sahnya perkawinan),
pasal 8 (f) tentang larangan perkawinan antara dua orang karena
agama melarangnya, dll. lagi pula negara kita tidak mengizinkan
inseminasi buatan dengan donor sperma dan/atau ovum, karena tidak
sesuai dengan konstitusi dan hukum yang berlaku.