Anda di halaman 1dari 6

BAB I

TINJAUAN PUSTAKA

1.1 Definisi
Miastenia gravis ialah penyakit autoimun yang mempengaruhi
tranmisi neuromuskular yang nanti akan menyebabkan kelemahan otot
secara keseluruhan atau lokal yang dikarenakan adanya autoantibodi kepada
reseptor asetilkolin di post sinap motor end plate.1

1. The myasthenic patient in crisis: an


update of the management in
Neurointensive Care Unit
1.2 Epidemiologi
Kejadian miastenia gravis tiap tahunyya adalah 1-2 per 100.000
orang dengan prevalensi 5-15 per 100.000 orang. Dari semuanya 21%
pasien mendapatkan onset miasteniagravis setelah umur 60 tahun dan 30%
dari mereka akan mendapatkan kelemahan otot bulbar dan kelemahan otot
pernapasan. Kira-kira 15-20% pasien miasteniagravis akan mengalami krisis
miastenia, yang biasanya terjadi pada tahun pertama. Krisis miastenia bisa
menjadi presentasi inisial dari miasteniagravis kira-kira 20% pasien dan
sepertiga dari mereka yang selamat dari krisis miastenia ini akan mengalami
krisis miastenia lagi. Secara keseluruhan, wanita lebih banyak mengalami
miastenia gravis dibandingkan laki-laki dengan perbandingan 2:1.1

1. The myasthenic patient in crisis: an


update of the management in
Neurointensive Care Unit
1.3 Etiologi

Ada faktor genetik yang menjadi faktor predisposisi dari miastenia


gravis ini. Miasteniagravis tidak hanya diturunkan secara maternal, 30%
dari miastenia gravis hanya memiliki satu orang anggota keluarga dengan
miastenia gravis atau penyakit autoimun dan kejadian penyakit autoimun
lainnya pada pasien miastenia gravis meningkat. Faktor predisposisi genetik
pada miasteniagravis melibatkan MHC kelas I dan II, sub unit AChRasubunit, rantai dari IgG ,FccRII, dan gen TCR.
Walaupun infeksi adalah faktor inisiasi dari kebanyakan penyakit
autoimun yang terjadi melalui kerusakan jaringan, terpaparnya oleh selfantigen, dan aktivasi dari sel T reaktif yang mengenali antigen homolog dari
mikroorganisme yang mirip dengan antigen tubuh manusia, tetapi bukti
infeksi mikrobakterial bisa menyebabkan penyakit autoimun kronik masih
belum ada. Tetapi antibodi yang cross-reaktif dengan bakteri dan virus
herpes

simplek

pernah

didemonstrasikan

pada

serum

pasien

miasteniagravis.2

2. Myasthenia gravis: clinical,


immunological,
and therapeutic advances
1.4 Klasifikasi
1.5 Patogenesis
Pada tahun 1960, John Simpson mengatakan miastenia gravis adalah
penyakit autoimun yang disebabkan oleh serangan autoimun ke motor
endplate. Patrick dan Lindstrom mendemonstrasikan bahwa serangan
autoimun ini disebabkan oleh antibodi ke reseptor asetilkolin di post-sinaps.

Hai ini dikonfirmasi pada pasien miastenia gravis oleh Almon et al, yang
menemukan hampir semua pasien dengan miastenia gravis memiliki serum
antibodi terhadap reseptor asetilkolin. Antibodi ini ditemukan kira-kira pada
85% pasien dengan spesifisitas yang tinggi untuk miastenia gravis. Reseptor
asetilkolin adalah target utama dari reaksi autoimun pada miastenia gravis.
Respon autoimun selular adalah langkah pertama dari patofisiologi dari
miastenia gravis, yang didasari oleh respon imun humoral.
Resptor asetilkolin adalah glikoprotein transmembran yang berlokasi
di post sinap pada neuromuscular junction dan regio imunogenik utama
untuk antibodi reseptor asetilkolin berlokasi di subunit . Antibodi reseptor
asetikolin terdapat pada serum pasien miasteniagravis hampir 85% pasien,
dan juga terdapat pada 70% pasien miasteniagravis okular dan sangat jarang
ditemukan pada orang yang sehat.2

2, Myasthenia gravis: clinical, immunological,


and therapeutic advances
1.6 Patofisiologi
Miastenia gravis adalah penyakit autoimun yang disebabkan oleh
antibodi yang menyerang membran postsinap pada neuromuscular junction,
antibodi ini terumama menyerang reseptor asetilkolin. Antibodi yang
berikatan dengan epitop pada regio end-plate pada otot lurik yang
menyebabkan ketidaknormalan transmisi neuromuskular dan kelemahan
otot.

Ada banyak antibodi yang menyerang neuromuskular junction dan


terdeteksi di plasma. Antibodi reseptor asetilkolin bergabung dengan region
imunogenik utama yaitu subunit dari membran postsinap pada reseptor
asetilkoli.

Antibodi

ini

ditemukan

pada

70-90%

pasien

dengan

miasteniagravis general dan 30-70% pasien dengan miastenia gravis okular.


Kira-kira pada 10% pasien terdapat muscle-specific tyrosine kinase (Anti
MuSK), pasien dengan anti MuSK ini kebanyakan wanita dan memiliki pola
kelemahan yang melibatkan bulbar, leher, bahu, dan otot pernapasan.
MuSK adalah protein yang berada pada membran postsinap, yang
bertanggung jawab untuk mengumpulkan reseptor asetilkolin pada
permukaan membran otot saat perkembangan penyakit, tetapi fungsinya di
otot lurik dan perannya di patofisiologi masih belum diketahui.3

Gambar 1.1 Neuromuscular Junction3


Dikutip dari Daniel A, Leonardo J, Luca M, Mario D, The myasthenic
patient in crisis: an update of the management in Neurointensive Care Unit
In: Arq Neuropsiquiatr: 2013.

3, The myasthenic patient in crisis: an


update of
the management in Neurointensive Care
Unit
1.7 Diagnosis
Diagnosis miastenia gravis berdasarkan dari riwayat dan gejala
klinis. Seseorang bisa dikonfirmasi secara farmakologis dengan tensilon
test, ini adalah obat asetilkolinesterase inhibitor yang menyebabkan
perbaikan yang cepat pada pasien miasteniagravis setelah diberikan secara
intravena, perbaikan ini terjadi pada 90% pasien miasteniagravis. Tetapi test
ini juga dapat positif pada pasien dengan penyakit otot dan saraf lainnya.
Kegagalan transmisis neuromuskular pada miasteniagravis menyebabkan
respon yang selalu menurun terhadap stimulasi saraf yang berulang jika
dilakukan elektromiografi.
1.3 Faktor Predisposisi
Pasien yang mengalami krisis miastenia kebanyakan memiliki faktor
predisposisi, walaupun 30-40% dari kasus ini tidak memiliki predisposisi.
Faktor predisposisi yang paling banyak adalah Infeksi saluran pernapasan
(40%), stress emosional (10%), dan perubahan regimen pengobatan (8%),
operasi dan trauma.1

1, The myasthenic patient in crisis: an


update of the management in
Neurointensive Care Unit

DAFTAR PUSTAKA