Anda di halaman 1dari 4

Tugas Resume Mata Kuliah Genetika 1

Kelas / Off : H 2014


Kelompok 11
Nama Kelompok :
Isfatun Chasanah
(140342603465)
Yanis Kurnia Basitoh (140342604027)
Replikasi Semikonservatif pada DNA dan Percobaan Meselson Stahl
Organisme hidup mempertahankan jenisnya melalui proses reproduksi. Proses ini bisa
dilakukan melalui pembelahan sel pada bakteri atau proses yang lebih rumit pada tumbuhan
dan hewan tingkat tinggi. Reproduksi melibatkan proses transmisi materi genetik dari
parental kepada anakannya. Dikarenakan informasi genetik disimpan dalam DNA, maka
replikasi pada DNA merupakan pusat dari ilmu biologi.
Setelah mengumumkan heliks ganda, Watson dan Crick menyatakan hipotesisnya
tentang replikasi yaitu selama replikasi, untaian heliks ganda tersebut masing-masing akan
menjadi cetakan dari masing-masing komplemenya, sehingga untaian tersebut akan
memisahkan diri satu sama lain, untuk membentuk rantai pasangan yang baru, dan akan
menghasilkan dua untai DNA yang baru. Watson dan Crick memprediksi setiap kali replikasi
sel anakan akan memiliki satu untai DNA lama dan satu untai DNA baru, model tersebut
dikenal sebagai model semikonservatif. Model lain juga diajukan untuk replikasi ini yaitu
model konservatif dimana setiap replikasi akan dihasilkan satu pasang untai DNA lama,
sepasang untai DNA baru. Selanjutnya model dispersif DNA hasil replikasi keempat untai
DNA akan mengandung campuran antara DNA lama dan DNA baru. Matthew Maselson dan
Franklin Stahl melakukan eksperimen untuk menentukan model mana yang paling sesuai
dengan replikasi DNA
Pada percobaan ini digunakan bakteri E. coli. Bakteri ini mengandung kromosom
tunggal dan dalam lingkungan yang sesuai sel ini mampu untuk bereplikasi dalam waktu
kurang dari satu jam. E. coli akan ditumbuhkan dalam medium berisotop 15N. Hal ini akan
menyebabkan DNA sel akan lebih berat dari yang normal. Dengan menumbuhkan bakteri
tersebut Meselson dan Stahl memperoleh populasi sel yang berisi molekul-molekul berlabel
15N seluruhnya. Kemudian sel tersebut dipindahkan ke dalam medium yang berisi 14N
sebagai sumber nitrogen dengan berat molekul yang lebih ringan. Setelah bereplikasi DNA
sel-sel tersebut tidak memiliki 15N murni atau 14N murni, namun ditemukan sel-sel dengan

kombinaasi antara 15N-14N. Keberadaan isotop-isotop tersebut dibuktikan dengan


melakukan sentrifugasi, dimana 15N akan mengendap terlebih dahulu dibanding 14N
Isotop-isotop tersebut dapat dipisahkan dengan sebuah proses yang disebut sebagai
Sentrifugasi keseimbangan kepadatan gradient. Meselson dan Stahl dapat membedakan
diantara tiga kemungkinan model replikasi DNA yang didasarkan pada perubahan kepadatan
DNA yang dihasilkan pada sel yang ditumbuhkan dalam medium 15N dan kemudian
dipindahkan ke medium 14N untuk berbagai rantang waktu, sehingga disebut percobaan
transfer keadatan. Kepadatan DNA hampir sama dengan kepadatan konsentrasi larutan garam
berat seperti cesium chloride (CsCl). Sebagai contoh kepadatan dari 6 M CsCl sekitar 1.7
g/cm3. DNA Escherchia coli mengandung 14N dengan kepadatan 1.710g/cm3. Penggantian
dari 15N ke 14N meningkatkan kepadatan DNA E.coli menjadi 1.724 g/cm3. Ketika larutan
CsCl disentrifugasi dengan kecepatan sangat tinggi (30000-50000 rpm) selama 48-72 jam
akan dihasilkan natan yang berbeda-beda. Jika pencampuran DNA E. Coli yang mengandung
15N (DNA gelap) dan DNA E. Coli yang mengandung 14N (DNA terang) adalah bagian
pokok dari sentrifugasi kesetimbangan kepadatan gradien CsCl, DNA akan berpisah menjadi
dua untaian yang mengandung DNA gelap dan DNA terang.
Hal ini sesuai dengan pernyataan Watson-Cick sebelumnya, dimana sel induk akan
memisahkan diri satu sama lain ketikan bereplikasi. Hasil eksperimen tersebut mematahkan
teori konservatif. Bila sel tersebut ditumbuhkan lagi maka akan ditemukan sel-sel yang
mengandung molekul berlabel 15N-14N, dan lebih banyak lagi mengandung molekul
berelabel 14N murni. Bila terus ditumbuhkan dalam medium 14N maka jumlah populasi sel
dengan label 14N murni terus meningkat dan populasi sel dengan label 15N-14N terihat lebih
sedikit Hasil ini juga menumbangkan teori dispersif, sehinggan teori semikonservatif sesuai
usulan Watson dan Crick yang paling cocok digunakan sebagai model replikasi DNA.
Pada replikasi semi konservatif, double helix hasil replikasi akan menunjukkan bahwa
satu rantai penyusunnya merupakan rantai lama (the old strand) dan satu rantai yang lain
merupakan rantai yang benar-benar baru (the new strand). Eksperimen Meselson-Stahl telah
mematahkan teori-teori replikasi DNA lain, yang menyebutkan bahwa replikasi DNA
merupakan jenis replikasi korservatif ataupun teori yang mengatakan bahwa tipe replikasi
DNA adalah dispersif. Jika replikasi DNA adalah konservatif, maka meskipun ditumbuhkan
di dalam medium 14N, bakteri hasil transfer dari medium 15N akan tetap memiliki DNA
dengan berat jenis yang besar. Jika replikasi DNA adalah dispersif, maka segmen-segmen
DNA berat jenisnya akan bergantian berat dan ringan. Maka dapat disimpulkan bahwa tipe
replikasi DNA adalah replikasi semikonservatif

Pertanyaan :
1. Bagaimana Meselson dan Stahl dapat mendeteksi pita-pita DNA yang berada dalam
larutan CsCl yang sudah disentrifus ?
Jawab:
Meselson dan Stahl menembakkan sinar UV dengan panjang gelombang 260 nm ke arah
tabung berisi larutan CsCl untuk mendeteksi pita-pita DNA di dalam larutan CsCl. Hal ini
dikarenakan asam-asam amino paling kuat menyerap sinar UV pada panjang gelombang 260
nm.
2.

Apa yang membuktikan bahwa hasil percobaan Meselson-Stahl menunjukkan replikasi

DNA yang semikonservatif, bukan konservatif atau dipersif!


Jawab :
Hasilnya ditemukan DNA dengan kepadatan menengah yang disebut hybrid. Setelah
dua generasi pertumbuhan dalam medium yang mengandung 14N, setengah dari DNA adalah
hybrid dan setengahnya ringan. Setelah tiga generasi pertumbuhan dalam medium yang
mengandung 14N, hasilnya satu hybrid dan tiga ringan. Hasil ini sesuai dengan replikasi
DNA semikonservatif. Sedangkan replikasi konservatif tidak akan menghasilkan molekul
DNA dengan kepadatan hybrid, setelah satu generasi replikasi konservatif DNA berat dalam
medium ringan, setengah dari DNA masih akan berat dan setengah lainnya akan menjadi
ringan. Jika replikasi yang dispersif, seharusnya hasilnya adalah DNA dengan kerapatan
tunggal, lebih rendah daripada kerapatan DNA hybrid dan lebih tinggi dari kerapatan DNA
ringan 14N.
3. Mengapa campuran DNA yang mengandung isotop

14

N dan

15

N dimasukkan ke dalam

larutan garam berat seperti Cesium Klorida ( CsCl ) ketika akan disentrifugasi dan bukan ke
dalam larutan lainnya?
Jawab : Karena kepadatan DNA hampir sama dengan kepadatan larutan garam berat seperti
Cesium Klorida ( CsCl ). Sebagai contoh, kepadatan 6M CsCl adalah sekitar 1,7 g/cm3. E.
coli DNA yang mengandung 14N memiliki densitas 1.710 g/cm3. Pergantian dari 15N untuk
14

N meningkatkan kepadatan E. coli DNA menjadi 1,724 g/cm3. Setelah disentrifugasi DNA

berpisah pada titik yang kerapatannya yang sama dengan larutan garam tersebut. Jadi, jika
campuran disentrifugasi akan terpisah menjadi dua garis yaitu salah satu yang terdiri dari

DNA"berat" (yang mengandung 15N) dan yang lain dari DNA"ringan" (yang mengandung
14

N ).