Anda di halaman 1dari 35

BAB II

STUDI PUSTAKA

2.1. Tinjauan Umum


Dalam suatu perencanaan dibutuhkan pustaka yang dijadikan sebagai dasar
perencanaan agar terwujud spesifikasi yang menjadi acuan dalam perhitungan dan
pelaksanaan pekerjaan di lapangan. Pada bab ini menyajikan teori dari berbagai
sumber yang bertujuan untuk memperkuat materi pembahasan maupun sebagai dasar
untuk menggunakan rumus-rumus tertentu dalam perencanaan normalisasi sungai dan
metode pengendalian yang akan digunakan untuk memperbaiki dan mengatur sungai
dari banjir.
2.2. Pengendalian Banjir
Pengendalian banjir pada dasarnya dapat dilakukan dengan berbagai cara, namun
yang penting adalah dipertimbangkan secara keseluruhan dan dicari sistem yang
optimal. Adapun masing-masing cara penanganan banjir akan diuraikan seperti
tersebut di bawah ini.
1.

Normalisasi Alur Sungai dan Tanggul


Normalisasi sungai merupakan usaha untuk memperbesar kapasitas dari

pengaliran dari sungai itu sendiri. Penanganan banjir dengan cara ini dapat dilakukan
pada hampir seluruh sungai di bagian hilir. Faktor-faktor yang perlu pada cara
penanganan ini adalah penggunaan penampang ganda dengan debit dominan untuk
penampang bawah, perencanaan alur yang stabil terhadap proses erosi dan sedimentasi
dasar sungai maupun erosi tebing dan elevasi muka air banjir.
2.

Pembuatan Alur Pengendali Banjir (Flood Way)


Pembuatan Flood Way dimaksudkan untuk mengurangi debit banjir pada alur

sungai lama dan mengalirkannya melalui flood way. Pembuatan flood way dapat
dilakukan apabila kondisi setempat sangat mendukung, misalnya tersedianya alur
sungai yang akan digunakan untuk jalur flood way.
Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam perencanaan pembuatan flood way
antara lain adalah :

10

Sulit tidaknya dilaksanakan normalisasi sesuai dengan debit design pada


alur lama yang melewati kota;

Sulit tidaknya pembebasan tanah apabila dilakukan normalisasi atau flood


way;

Kondisi alur lama yang berbelok-belok terlalu jauh untuk menuju ke laut
sangat tidak menguntungkan dari segi hidrologis;

Terdapatnya jalur untuk alur baru yang lebih pendek menuju ke laut dengan
menggunakan sungai kecil yang ada;

Tidak terganggunya pemanfaatan sumber daya air yang ada;

Besar kecilnya dampak negatif (sosial-ekonomi) yang ditimbulkan.

QL

LAU

QT
QF

Gambar 2.1.

3.

Flood Way

Pembuatan Retarding Basin


Pada pembuatan Retarding Basin, daerah depresi sangat diperlukan untuk

menampung volume air banjir yang akan datang dari hulu, untuk sementara waktu dan
kemudian melepaskan kembali saat banjir surut. Penanganan banjir dengan cara ini
sangat tergantung dari kondisi lapangan. Sedangkan daerah cekungan atau depresi
yang dapat dipergunakan untuk kolam banjir harus memperhatikan hal-hal sebagai
berikut :

Daerah cekungan yang akan digunakan sebagai daerah retensi harus


merupakan daerah yang tidak efektif pemanfaatannya dan produktifitasnya
rendah.

Pemanfaatan retarding basin harus bermanfaatdan efektif untuk daerah yang


ada di bagian hilirnya.

11

Daerah tersebut harus mempunyai potensi dan efektif untuk dijadikan


sebagai daerah retensi

Daerah tersebut harus mempunyai area atau volume tampungan yang besar

Adapun bangunan yang diperlukan dalam penanganan banjir dengan cara ini yaitu :

Tanggul kolam penampungan

Pintu pengatur kolam

kolam
daerah

yang

dilindungi

Inflow

dari banjir

Gambar 2.2.

4.

outlow

Retarding Basin

Waduk Pengendali Banjir


Waduk yang mempunyai faktor tampungan yang besar berpengaruh terhadap

aliran air di hilir waduk. Dengan kata lain waduk dapat merubah pola inflow-outflow
hidrograf. Perubahan outflow hidrograf di hilir waduk biasanya menguntungkan
tehadap pengendalian banjir yang lebih kecil dan adanya perlambatan banjir.
Pengendalian banjir dengan waduk biasanya hanya dapat dilakukan pada bagian hulu
dan biasanya dikaitkan dengan pengembangan sumber daya air.
Beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam pembangunan waduk antara lain :

Fungsi waduk untuk pengendali banjir agar mendapatkan manfaat yang lebih
besar harus didesain atau dilengkapi dengan pintu pengendali banjir, sehingga
penurunan debit banjir di hilir waduk akan lebih besar atau perubahan antara
inflow dan outflow hidrograf yang besar.

Alokasi volume waduk untuk pengendali banjir berbanding lurus dengan


penurunan outflow hidrograf banjir di hilir waduk atau dengan kata lain
semakin besar volume waduk maka semakin besar pula penurunan outflow
hidrograf banjir di hilir waduk

Operasional dan pemeliharaan dari waduk yang mempunyai pintu pengendali


banjir memerlukan biaya yang besar tetap akan menurunkan atau

12

memperkecil biaya normalisasi dan pemeliharaan dari sungai di bagian hilir


waduk

Untuk memjaga keandalan dari pintu pengendali banjir sebaiknya


pengoperasian dari pintu pengendali banjir dilakukan secara otomatis dan
dilengkapi dengan operasi secara manual (untuk keadaan darurat)

Pada waktu multi purpose perlu adanya analisa inflow-outflow hidrograf


untuk mengetahui seberapa besar pengaruh waduk terhadap debit banjir di
hilir waduk

Diperlukan penelusuran banjir atau flood routing yang dimaksudkan untuk


mengetahui karakteristik hidrograf outflow atau keluaran yang sangat
diperlukan dalam pengendalian banjir.
(Ir. Sugiyanto, Pengendalian Banjir, 2002)

+ HWL

Alokasi vol. Waduk untuk pengendalian banjir


+ MWL

Alokasi vol. Waduk untuk yang lain

sedimentasi

Gambar 2.3. Waduk Pengendali Banjir

Semua kegiatan tersebut diatas dilakukan dengan tujuan untuk mengalirkan debit
banjir ke laut secepat mungkin dengan kapasitas cukup di bagian hilir dan menurunkan
serta memperlambat debit di hulu, sehingga tidak mengganggu daerah aliran sungai.
Dari beberapa macam pengendalian banjir diatas, maka salah satu alternatif
pengendalian banjir yang dipilih adalah perencanaan normalisasi sungai.
2.3. Normalisasi Sungai
Normalisasi sungai terutama dilakukan berkaitan dengan pengendalian banjir,
yang merupakan usaha untuk memperbesar kapasitas pengaliran sungai. Hal ini
dimaksudkan untuk menampung debit banjir yang terjadi untuk selanjutnya disalurkan

13

ke sungai yang lebih besar atau langsung menuju ke muara/laut, sehingga tidak terjadi
air limpasan dari sungai tersebut.
Pekerjaan normalisasi alur aliran sungai pada dasarnya meliputi kegiatan yang
terdiri dari :

Perhitungan debit banjir rencana

Analisa kapasitas awal sungai (existing capacity analisis)

Perhitungan penampang melintang dan memanjang sungai rencana

Melakukan sudetan pada alur sungai meander

Menentukan tinggi jagaan

Menstabilkan alur terhadap erosi, longsoran

Perencanaan Tanggul

Tinjauan pengaruh back water akibat pasang surut

2.3.1

Perhitungan Debit Banjir Rencana


Ada beberapa metode untuk memperkirakan laju aliran puncak (debit banjir).

Metode yang dipakai pada suatu lokasi lebih banyak ditentukan oleh ketersediaan data.
Dalam praktek, perkiraan debit banjir dilakukan dengan beberapa metoda, dan debit
banjir rencana ditentukan berdasarkan pertimbangan teknis (engineering judgement).
Debit banjir rencana hasil perhitungan itu nantinya untuk mendimensi penampang
sungai yang akan dinormalisasi.
Perhitungan debit banjir rencana dibagi menjadi dua, yaitu :
a. Debit Banjir Rencana berdasarkan Curah Hujan
Besarnya debit banjir sungai ditentukan oleh besarnya curah hujan, waktu
hujan, luas daerah aliran sungai dan karakteristik daerah aliran sungai itu. Untuk
menghitung debit banjir rencana berdasarkan curah hujan dapat digunakan metode
FSR Jawa Sumatra, Rasional, Melchior, Weduwen, Haspers, dan Gama I.
b. Debit Banjir Rencana Berdasarkan Data Debit
Besarnya debit banjir sungai ditentukan oleh besarnya debit, waktu hujan, dan
luas daerah aliran sungai. Untuk menghitung debit banjir rencana berdasarkan debit
dapat digunakan Metode Hidrograf Satuan, dan Passing Capacity.

14

Dalam hal didapatkan data debit yang cukup panjang secara statistik dan
probabilistik dapat langsung dipergunakan metode analisa frekuensi dengan tidak
meninjau kejadian Curah Hujannya. Akan tetapi bila data debit tidak ada atau
kurang panjang perlu dikumpulkan data curah hujan.
2.3.2.a Analisa Frekuensi
Analisa frekuensi adalah kejadian yang diharapkan terjadi, rata-rata sekali
setiap N tahun atau dengan perkataan lain tahun berulangnya N tahun. Kejadian pada
setiap kurun waktu tertentu tidak berarti akan terjadi sekali setiap 10 tahun akan tetapi
terdapat suatu kemungkinan dalam 1000 tahun akan terjadi 100 kali kejadian 10
tahunan.
Data yang diperlukan untuk menunjang teori kemungkinan ini adalah minimum
10 besaran hujan atau debit dengan harga tertinggi dalam setahun, jelasnya diperlukan
data minimal 10 tahun.
2.3.2.b Parameter Distribusi
Dalam statistik dikenal beberapa parameter yang berkaitan dengan analisis
data, meliputi rata-rata, simpangan baku, koefisien variasi, dan koefisien skewness
(kecondongan atau kemencengan).
Parameter Distribusi Debit Banjir digunakan untuk perhitungan estimasi debit banjir
dengan periode ulang tertentu dari data debit banjir maksimum tahunan yang ada.

15

Tabel 2-1. Parameter Distribusi Frekuensi


Parameter

Sampel

x =

Rata-rata Debit banjir

Populasi

1
n

i=1

= E(X ) =

Koefisien skewness

G =

(n

i =1

(x i

f ( x ) dx

{[

= E ( x )2

s
CV = v
x

Koefisien Variasi

2
n
1
( x i x )2
s =

n 1 i =1

Simpangan baku

CV =
3

x)

1 )(n 2 )s 3

]}

1
2

E (x )

Koefisien Curtosis

Ck =

n 2 ( xi x) 3
i =1

(n 1)(n 2)(n 3)s 4

Dimana :
xi = nilai kejadian/variabel ke-i
n = jumlah kejadian/variabel

2.3.2.c Distribusi Frekuensi Untuk Analisa Data Debit banjir


Dalam ilmu statistik dikenal beberapa macam distribusi frekuensi, empat
jenis distribusi yang banyak digunakan dalam bidang hidrologi adalah:
1). Distribusi Normal
2). Distribusi Log Normal
3). Distribusi Log-Person III
4). Distribusi Gumbel

1.

Distribusi Normal

Distribusi normal atau kurva normal disebut pula distribusi Gauss. Fungsi densitas
peluang normal (PDF = probability density function) yang paling dikenal adalah
bentuk bell dan dikenal sebagai distribusi normal. PDF distribusi normal

dapat

dituliskan dalam bentuk rata-rata dan simpangan bakunya, sebagai berikut:


P( X ) =

(x )2
exp

2 2
2

1)

16

dimana :
P(X)

fungsi densitas peluang normal (ordinat kurva normal)

variabel acak kontinyu

= rata-rata nilai X
= simpangan baku dari nilai X
Untuk analisis kurva normal cukup menggunakan parameter statistik dan . Bentuk
kurvanya simetris terhadap X = , dan grafiknya selalu di atas sumbu datar X, serta
mendekati (berasimtut) sumbu datar X, dimulai X = + 3 dan X = - 3. Nilai mean
= median = modus. Nilai X mempunyai batas -:< X < +:.
Apabila suatu populasi dari data hidrologi, mempunyai distribusi berbentuk distribusi
normal (Gambar 2.4) , maka:

Luas 68,27%
Luas 96,45%
Luas 99,73%

Gambar 2.4. Kurva distribusi frekuensi normal

1). Kira-kira 68,27%, terletak di daerah satu deviasi standar sekitar nilai rataratanya, yaitu antara ( - ) dan (+).
2). Kira-kira 95,45%, terletak di daerah dua deviasi standar sekitar nilai rataratanya, yaitu antara ( - 2) dan (+2).
3). Kira-kira 99,73%, terletak di daerah tiga deviasi standar sekitar nilai rataratanya, yaitu antara ( - 3) dan (+3).
Sedangkan nilai 50%-nya terletak di daerah antara ( - 0,6745) dan (+0,6745).
Luas kurva normal selalu sama dengan satu unit persegi, sehingga:
(x )2
exp
dx
2 2
2

P( < X < ) =

2)

17

Untuk menentukan peluang nilai X antara X = x1 dan X = x2, adalah:


(x )2
exp
dx
2 2
x1 2

x2

P( x 1 < X < x 2 ) =

3)

Apabila nilai X adalah standar, nilai rata-rata = 0, dan deviasi standar (simpangan
baku) = 1, maka persamaan (2-3) dapat ditulis sebagai:
P(t ) =

1
2

.e

1
t2
2

4)

dimana:
t=

5)

Dalam pemakaian praktis, umumnya rumus-rumus tersebut tidak digunakan secara


langsung karena telah dibuat tabel untuk keperluan perhitungan, yaitu tabel Luas
daerah Dibawah Kurva Normal.
XT = + K T

6)

yang dapat didekati dengan


X T = X + K TS

7)

dimana :
KT =

XT X
S

8)

di mana:
XT = perkiraan nilai yang diharapkan terjadi dengan periode ulang Ttahunan,
X = nilai rata-rata hitung variat,
S = deviasi standar nilai variat,
KT = faktor frekuensi, merupakan fungsi dari peluang atau periode ulang
dan tipe model matematik distribusi peluang yang digunakan untuk
analisis peluang.
Bentuk ini sama dengan bentuk variabel normal standar t yang didefinisikan pada
persamaan (2-5).

18

Untuk memudahkan perhitungan, maka nilai faktor frekuensi KT umumnya sudah


tersedia dalam tabel, seperti ditunjukkan dalam Tabel 2-5, yang umum disebut sebagai
tabel nilai variabel reduksi Gauss (Variable reduced Gauss).
Tabel 2-2. Nilai variabel reduksi Gauss
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21

Periode ulang, T
(tahun)
1,001
1,005
1,010
1,050
1,110
1,250
1,330
1,430
1,670
2,000
2,500
3,330
4,000
5,000
10,000
20,000
50,000
100,000
200,000
500,000
1000,000

Peluang

KT

0,999
0,995
0,990
0,950
0,900
0,800
0,750
0,700
0,600
0,500
0,400
0,300
0,250
0,200
0,100
0,050
0,020
0,010
0,005
0,002
0,001

-3,05
-2,58
-2,33
-1,64
-1,28
-0,84
-0,67
-0,52
-0,25
0
0,25
0,52
0,67
0,84
1,28
1,64
2,05
2,33
2,58
2,88
3,09

Sumber : Bonnier, 1980

2.

Distribusi Log Normal


Jika variabel acak Y = log X terdistribusi secara normal, maka X dikatakan

mengikuti distribusi Log Normal. PDF (probability density function) untuk distribusi
Log Normal dapat dituliskan dalam bentuk rata-rata dan simpangan bakunya, sebagai
berikut:
(Y Y )2
exp

X 2
2 Y 2

Y = LogX
P(X) =

X>0

(2-9)

di mana:
P(X)

peluang log normal,

nilai variat pengamatan,

deviasi standar nilai variat Y,

nilai rata-rata populasi Y,

19

Apabila nilai P(X) digambarkan pada kertas peluang logaritmik akan merupakan
persamaan garis lurus sehingga dapat dinyatakan sebagai model matematik dengan
persamaan:
YT = + K T

(2-10)

YT = Y + K TS

(2-11)

yang dapat didekati dengan


di mana :
KT =

YT Y
S

(2-12)

di mana:
YT = perkiraan nilai yang diharapkan terjadi dengan periode ulang Ttahunan,
Y =

nilai rata-rata hitung variat,

S = deviasi standar nilai variat,


KT = faktor frekuensi, merupakan fungsi dari peluang atau periode ulang
dan tipe model matematik distribusi peluang yang digunakan untuk
analisis peluang.

3.

Distribusi Log-Person III


Pada situasi tertentu, walaupun data yang diperkirakan mengikuti distribusi

sudah dikonversi ke dalam bentuk logaritmis, ternyata kedekatan antara data dan teori
tidak cukup kuat untuk menjustifikasi pemakaian distribusi Log Normal.
Person telah mengembangkan serangkaian fungsi probabilitas yang dapat dipakai
untuk hampir semua distribusi probabilitas empiris. Tidak seperti konsep yang melatar
belakangi pemakaian distribusi Log Normal untuk banjir puncak, distribusi
probabilitas ini hampir tidak berbasis teori. Distribusi ini masih tetap dipakai karena
fleksibilitasnya.
Salah satu distribusi dari serangkaian distribusi yang dikembangkan Person yang
menjadi perhatian ahli sumberdaya air adalah Log-Person Type III (LP.III). Tiga
parameter penting dalam LP. III yaitu (i) harga rata-rata; (ii) simpangan baku; dan (iii)
koefisien kemencengan. Yang menarik, jika koefisien kemencengan sama dengan nol,
distribusi kembali ke distribusi Log Normal.
Langkah-langkah penggunaan distribusi Log-Person Tipe III
20

Ubah data ke dalam bentuk logaritmis, X = log X


Hitung harga rata-rata:
n

log X =

log X
i =1

(2-13)

Hitung harga simpangan baku:


2
n(
log X i log X )
i
=1
s=

n 1

0 ,5

(2-14)

Hitung koefisien kemencengan:


n

G=

n (log X i log X )
i =1

(n 1)(n 2)s 3

(2-15)

Hitung logaritma hujan atau banjir dengan periode ulang T dengan rumus:
log X T = log X + K.s

(2-16)

dimana K adalah variabel standar (standardized variable) untuk X, yang besarnya


tergantung koefisien kemencengan G.

4.

Distribusi Gumbel
Dalam penggambaran pada kertas probabilitas, Chow (1964) menyarankan

penggunaan rumus sebagai berikut:


X = + K

(2-17)

dimana:
= harga rata-rata populasi
= standar deviasi (simpangan baku)
K = faktor probabilitas.
Untuk jumlah populasi yang terbatas (sampel), maka persamaan diatas dapat didekati
dengan persamaan:
X = X + sK

(2-18)

dimana:
X =

harga rata-rata sampel

= standar deviasi (simpangan baku) sampel

21

Faktor probabilitas K untuk harga-harga ekstrim Gumbel dapat dinyatakan dalam


persamaan:
K=

YTr Yn

(2-19)

Sn

dimana:
Yn = reduced mean yang tergantung jumlah sampel/data n (tabel lampiran)
Sn = reduced standard deviation yang juga tergantung pada jumlah
sampel/data n (tabel lampiran)
YTr = reduced variate, yang dapat dihitung dengan persamaan:

T 1
YTr = ln ln r

Tr

Substitusikan persamaan K =

YTr Yn
Sn

ke dalam X = X + sK persamaan akan didapat:

X Tr = X +
=X

(2-20)

YTr Yn
Sn

YnS YTr S
+
Sn
Sn

(2-21)

atau

1
X Tr = b + YTr
a

(2-22)

dimana:
S
Y S
a = n dan b = X n
S
Sn

2.3.2.d Uji Kecocokan Distribusi

Untuk menguji kecocokan (the goodness of fittest test) distribusi frekuensi


dari sampel data terhadap fungsi distribusi peluang yang diperkirakan dapat
menggambarkan atau mewakili distribusi frekuensi tersebut diperlukan pengujian
parameter. Pengujian parameter yang sering dipakai adalah (1) chi-kuadrat, dan (2)
Smirnov-Kolmogorov.
1.

Uji Chi-kuadrat
Uji chi-kuadrat dimaksudkan untuk menentukan apakah persamaan distribusi

yang telah dipilih dapat mewakili distribusi statistik sampel data yang dianalisis.

22

Pengambilan keputusan uji ini menggunakan parameter 2, yang dapat dihitung dengan
rumus:
G

h2 =

(Oi

i =1

Ei )
Ei

(2-23)

dimana:
h2 = parameter chi-kuadrat terhitung,
G = jumlah sub kelompok,
Oi = jumlah nilai pengamatan pada sub kelompok i,
Ei = jumlah nilai teoritis pada sub kelompok i.
Parameter h2 merupakan variabel acak. Peluang untuk mencapai nilai h2 sama atau lebih besar
dari nilai chi-kuadrat sebenarnya (2) dapat dilihat pada Tabel 2-3.

Tabel 2-3. Nilai Kritis Untuk Distribusi Chi-Kuadrat (uji satu sisi)
derajat kepercayaan

DK
0,995

0,99

0,975

0,95

0,05

0,025

0,01

0,0000393

0,000157

0,000982

0,00393

3,841

5,024

6,635

0,005
7,879

0,0100

0,0201

0,0506

0,103

5,991

7,378

9,210

10,597

0,0717

0,115

0,216

0,352

7,815

9,348

11,345

12,838

0,207

0,297

0,484

0,711

9,488

11,143

13,277

14,860

0,412

0,554

0,831

1,145

11,070

12,832

15,086

16,750

0,676

0,872

1,237

1,635

12,592

14,449

16,812

18,548

0,989

1,239

1,690

2,167

14,067

16,013

18,475

20,278

1,344

1,646

2,180

2,733

15,507

17,535

20,090

21,955

1,735

2,088

2,700

3,325

16,919

19,023

21,666

23,589

10

2,156

2,558

3,247

3,940

18,307

20,483

23,209

25,188

11

2,603

3,053

3,816

4,575

19,675

21,920

24,725

26,757

12

3,074

3,571

4,404

5,226

21,026

23,337

26,712

28,300

13

3,565

4,107

5,009

5,892

22,362

24,736

27,688

29,819

14

4,075

4,660

5,629

6,571

23,685

26,119

29,141

31,319

15

4,601

5,229

6,262

7,261

24,996

27,488

30,578

32,801

16

5,142

5,812

6,908

7,962

26,296

28,845

32,000

34,267

17

5,697

6,408

7,564

8,672

27,587

30,191

33,409

35,718

18

6,265

7,015

8,231

9,390

28,869

31,526

34,805

37,156

19

6,844

7,633

8,907

10,117

30,144

32,852

36,191

38,582

20

7,434

8,260

9,591

10,851

31,410

34,170

37,566

39,997

21

8,034

8,897

10,283

11,591

32,671

35,479

38,932

41,401

22

8,643

9,542

10,982

12,338

33,924

36,781

40,289

42,796

23

9,260

10,196

11,689

13,091

36,172

38,076

41,638

44,181

24

9,886

10,856

12,401

13,848

36,415

39,364

42,980

45,558

25

10,520

11,524

13,120

14,611

37,652

40,646

44,314

46,928

26

11,160

12,198

13,844

15,379

38,885

41,923

45,642

48,290

27

11,808

12,879

14,573

16,151

40,113

43,194

46,963

49,645

28

12,461

13,565

15,308

16,928

41,337

44,461

48,278

50,993

29

13,121

14,256

16,047

17,708

42,557

45,722

49,588

52,336

23

30

13,787

14,953

16,791

18,493

43,773

46,979

50,892

53,672

Prosedur uji Chi-kuadrat adalah sebagai berikut:

1). Urutkan data pengamatan (dari besar ke kecil atau sebaliknya),


2). Kelompokkan data menjadi G sub-grup, yang masing-masing beranggotakan
minimal 4 data pengamatan,
3). Jumlahkan data pengamatan sebesar Oi tiap-tiap sub-grup,
4). Jumlahkan data dari persamaan distribusi yang digunakan sebesar Ei,
5). Tiap-tiap sub-grup hitung nilai:

(O i E i )2

dan

(O i E i )2
Ei

2
6). Jumlah seluruh G sub-grup nilai (O i E i ) untuk menentukan nilai chi-kuadrat

Ei

hitung,
7). Tentukan derajad kebebasan dk = G-R-1 (nilai R = 2 untuk distribusi normal dan
binomial).
Interpretasi hasil uji:

4). Apabila peluang lebih dari 5%, maka persamaan distribusi yang digunakan dapat
diterima,
5). Apabila peluang kurang dari 1%, maka persamaan distribusi yang digunakan tidak
dapat diterima,
6). Apabila peluang berada di antara 1 - 5%, maka tidak mungkin mengambil
keputusan, misal perlu data tambahan.
2.

Uji Smirnov-Kolmogorov
Uji kecocokan Smirnov-Kolmogorov sering disebut juga uji kecocokan non

parametrik, karena pengujiannya tidak menggunakan fungsi distribusi tertentu.


Prosedur pelaksanaannya adalah sebagai berikut :
1). Urutkan data (dari besar ke kecil atau sebaliknya) dan tentukan besarnya peluang
dari masing-masing data tersebut:
X1

P(X1)

24

X2

P(X2)

X3

P(X3), dan seterusnya.

2). Urutkan nilai masing-masing peluang teoritis dari hasil penggambaran data
(persamaan distribusinya):
X1

P(X1)

X2

P(X2)

X3

P(X3), dan seterusnya.

3). Dari kedua nilai peluang tersebut tentukan selisih terbesarnya antar peluang
pengamatan dengan peluang teoritis:
D maks = maksimum (P(Xn) P(Xn)

4). Berdasarkan tabel nilai kritis (Smirnov-Kolmogorov test) tentukan harga Do dari
Tabel 2-4.
Tabel 2-4. Nilai kritis Do untuk uji Smirnov-Kolmogorov
Derajad kepercayaan,

0,20

0,10

0,05

0,01

0,45

0,51

0,56

0,67

10

0,32

0,37

0,41

0,49

15

0,27

0,30

0,34

0,40

20

0,23

0,26

0,29

0,36

25

0,21

0,24

0,27

0,32

30

0,19

0,22

0,24

0,29

35

0,18

0,20

0,23

0,27

40

0,17

0,19

0,21

0,25

45

0,16

0,18

0,20

0,24

50

0,15

0,17

0,19

0,23

N>50

1,07
N 0 ,5

1,22
N 0,5

1,36
N 0, 5

1,63
N 0,5

Sumber : Bonnier, 1980.

2.3.2

Analisa Kapasitas Awal Sungai ( existing )

Untuk menganalisa kapasitas awal sungai digunakan program yang bernama


HEC-RAS (Hydrologic Engineering Center - River Analysis System). Merupakan
paket program dari USCE (United State Corps of Engineer). Software ini dapat

25

digunakan untuk melakukan perhitungan Aliran Tetap dan Aliran Tak Tetap (Steady
Flow and Unsteady Flow ).

Sungai Tuntang merupakan sungai alam dengan penampang melintang sungai


yang tidak beraturan (non uniform) dan berkelok-kelok (meandering river).
Sehubungan aliran yang terjadi berupa aliran tidak seragam (non uniform flow), dan
untuk mempercepat proses perhitungan digunakan Program HEC-RAS. Sedangkan
untuk sungai buatan atau saluran dengan penampang yang seragam (uniform), aliran
yang terjadi berupa aliran seragam (uniform flow) dan dapat diselesaikan dengan
menggunakan Persamaan Kontinuitas dan rumus Manning.
Komponen-komponen utama yang tercakup dalam analisa HEC-RAS ini adalah :

Perhitungan profil muka air aliran tetap (steady flow water surface profile
computations)

Simulasi aliran tak tetap (unsteady flow simulation) dan perhitungan profil
muka air

Komponen-komponen ini menghitung profil muka air dengan proses iterasi dari data
masukan yang telah diolah sesuai dengan kriteria dan standar yang diminta oleh paket
program ini.
Sedangkan output dari program ini dapat berupa grafik maupun tabel.
Diantaranya adalah plot dari skema alur sungai, potongan melintang, profil, lengkung
debit (rating curve), hidrograf (stage and flow hydrograph), juga variabel hidrolik
lainnya. Selain itu juga dapat menampilkan gabungan potongan melintang (cross
section) yang membentuk alur sungai secara tiga dimensi lengkap dengan alirannya.

2.3.2.a Analisa Profil Muka Air Aliran Tetap pada Program HEC-RAS

Komponen sistem modeling ini dimaksudkan untuk menghitung profil


permukaan air untuk arus bervariasi secara berangsur-angsur tetap (steady gradually
varied flow). Sistem mampu menangani suatu jaringan saluran penuh, suatu sistem
dendritic, atau sungai tunggal. Komponen ini mampu untuk memperagakan
subcritical, supercritical, dan campuran kedua jenis profil permukaan air.

Dasar perhitungan yang digunakan adalah persamaan energi satu dimensi.


Kehilangan

energi

diakibatkan

oleh

gesekan

(Persamaan

Manning)

dan

kontraksi/ekspansi (koefisien dikalikan dengan perubahan tinggi kecepatan).

26

Persamaan momentum digunakan dalam situasi di mana/jika permukaan air profil


dengan cepat bervariasi. Situasi ini meliputi perhitungan jenis arus campuran ( yaitu.,
lompatan hidrolik), hidrolik pada jembatan, dan mengevaluasi profil pada pertemuan
sungai ( simpangan arus).
Efek berbagai penghalang seperti jembatan, parit bawah jalan raya,
bendungan, dan struktur di dataran banjir mungkin dipertimbangkan di dalam
perhitungan itu. Sistem aliran tetap dirancang untuk aplikasi di dalam studi manajemen
banjir di dataran dan studi jaminan banjir untuk mengevaluasi gangguan pada
floodway. Juga, kemampuan yang tersedia untuk menaksir perubahan di (dalam)
permukaan profil air dalam kaitan dengan perubahan bentuk penampang, dan tanggul.
Fitur khusus yang dimiliki komponen aliran tetap meliputi: berbagai analisa
rencana (multiple plan analysis); berbagai perhitungan profil (multiple profile
computations); berbagai analisa parit bawah jalan raya dan/atau jembatan; dan

optimisasi arus terpisah (split flow optimization).


HEC-RAS mampu untuk melakukan perhitungan one-dimensional profil air
permukaan untuk arus tetap bervariasi secara berangsur-angsur (gradually varied flow)
di dalam saluran alami atau buatan. Berbagai jenis profil air permukaan seperti
subkritis, superkritis, dan aliran campuran juga dapat dihitung. Topik dibahas di dalam
bagian ini meliputi: persamaan untuk perhitungan profil dasar; pembagian potongan
melintang untuk perhitungan saluran pengantar; Angka Manning (n) komposit untuk
saluran utama; pertimbangan koefisien kecepatan (); evaluasi kerugian gesekan;
evaluasi kerugian kontraksi dan ekspansi; prosedur perhitungan; penentuan kedalaman
kritis; aplikasi menyangkut persamaan momentum; dan pembatasan menyangkut aliran
model tetap.
Persamaan untuk Dasar Perhitungan Profil

Profil permukaan air dihitung dari satu potongan melintang kepada yang berikutnya
dengan pemecahan Persamaan energi dengan suatu interaktif prosedur disebut metoda
langkah standard. Persamaan energi di tulis sebagai berikut:
(2-24)

Dimana :

Y1, Y2

= elevasi air di penampang melintang

(m)

27

Z1, Z2

= elevasi penampang utama

V1, V2

= kecepatan rata-rata
(total pelepasan / total area aliran)

(m)

(m/dtk)

1, 2

= besar koefisien kecepatan

= percepatan gravitasi

(m/dtk2)

he

= tinggi energi

(m)

Gambar 2.5. Gambaran dari persamaan energi

(2-25)

(2-26)

(2-27)

(2-28)

(2-29)

28

Gambar 2.6. Metoda HEC-RAS tentang kekasaran dasar saluran

Dimana :

= Panjangnya antar dua penampang melintang


= Kemiringan Energi antar dua penampang melintang

= Koefisien kontraksi atau ekspansi


= panjang jangkauan antar dua potongan melintang yang

berturut-turut untuk arus di dalam tepi kiri, saluran utama, dan tepi kanan
= perhitungan rata-rata debit yang berturut-turut untuk arus
antara bagian tepi kiri, saluran utama, dan tepi kanan,
K

= kekasaran dasar untuk tiap bagian

= Koefisien kekasaran Manning untuk tiap bagian

= Area arus untuk tiap bagian

= Radius hidrolik untuk tiap bagian ( area : garis keliling basah)

nc

= koefisien padanan atau gabungan kekasaran

= garis keliling basah keseluruhan saluran utama

Pi

= garis keliling basah bagian I

ni

= koefisien kekasaran untuk bagian I

2.3.2.b Analisa Profil Muka Air Aliran Tidak Tetap pada Program HEC-RAS
Penjelasan Aliran tak tunak

Hukum fisika yang mengatur aliran air di dalam suatu arus adalah: (1) prinsip
kekekalan massa (kontinuitas), dan (2) prinsip kekekalan momentum. Hukum ini
dinyatakan secara matematik dalam wujud persamaan diferensial parsial, yang
selanjutnya akan dikenal sebagai persamaan momentum dan kontinuitas. Asal dari

29

persamaan ini diperkenalkan di dalam bab ini berdasar pada suatu catatan oleh James
A. Liggett dari buku " Unsteady Flow in Open Channels "
( Mahmmod dan Yevjevich, 1975).
Persamaan kontinuitas

Dengan menganggap bahwa volume kontrol dasar seperti yang ditunjukkan pada
Gambar 2.7. Di dalam gambar ini, jarak x diukur sepanjang saluran, seperti
ditunjukkan. Di titik tengah dari volume kontrol adalah arus dan total area arus
ditandai Q(x,t) dan AT, berturut-turut. Total area arus adalah penjumlahan dari area
aktif A dan off-channel area penampungan S.

Gambar 2.7. Kontrol Dasar Volume untuk Asal usul dari Kontinuitas dan Persamaan
Momentum.

Kekekalan massa untuk suatu keadaan volume kontrol yang laju aliran netto ke dalam
volume sama dengan tingkat perubahan penyimpanan di dalam volume itu. Tingkat
inflow kepada volume kontrol mungkin adalah ditulis seperti:
(2-30)

tingkat outflow sebagai:


(2-31)

dan tingkat perubahan di dalam penyimpanan sebagai


(2-32)

Misalkan x kecil, maka perubahan di dalam massa di dalam volume kontrol sama
dengan:
(2-33)

30

di mana Ql adalah arus lateral/samping yang memasuki volume kontrol dan rapat
fluida itu. Disederhanakan dan dibagi dengan x menghasilkan format akhir dari
persamaan kontinuitas:
(2-34)

di mana ql adalah inflow lateral/samping per satuan panjang.


Persamaan Momentum

Kekekalan momentum dinyatakan oleh hukum Newton Kedua sebagai :


(2-35)

Kekekalan momentum untuk volume kontrol menyatakan bahwa tingkat momentum


yang memasuki volume ( momentum flux) dijumlahkan dengan semua gaya-luar yang
bekerja pada volume sama dengan tingkat akumulasi momentum. Ini adalah suatu
persamaan vektor yang diterapkan di arah x (x-direction). Perubahan momentum (
MV) adalah massa fluida dikalikan dengan vektor kecepatan yang searah dengan arus.
Tiga gaya akan jadi pertimbangan: ( 1) tekanan, ( 2) gravitasi dan ( 3) gaya gesek.
Gaya tekan: Gambar 2.8 menggambarkan kasus yang umum dari suatu potongan
melintang tidak beraturan. Distribusi tekanan yang diasumsikan sebagai gaya
hidrostatis ( tekanan bervariasi secara linier dengan kedalaman) dan total gaya tekan
adalah integral dari bidang tekan produk di atas potongan melintang. Setelah Shames
(1962), gaya tekan pada titik manapun mungkin ditulis sebagai:
(2-36)

di mana h adalah kedalaman, y jarak di atas saluran, dan T(y) suatu fungsi lebar yang
menghubungkan lebar potongan melintang kepada jarak di atas saluran.
Jika Fp adalah gaya tekan pada arah x di tengah-tengah volume kontrol, gaya di ke
hulu akhir volume kontrol mungkin ditulis sebagai:
(2-37)

dan di ke arah akhir muara ditulis:


(2-38)

31

Gambar 2.8. Ilustrasi dari Istilah/Terminologi yang Dihubungkan dengan Definisi Gaya tekan

Penjumlahan dari gaya tekan untuk volume kontrol dapat ditulis sebagai:
(2-39)

di mana FPN adalah gaya tekan netto untuk volume kontrol, dan FB adalah gaya tekan
di tepi sungai pada arah x diatas fluidaitu. Ini dapat disederhanakan menjadi:
(2-40)

Persamaan Differensial 2-36 dengan menggunakan Aturan Leibnitz dan kemudian


disubstitusikan didalam persamaan 2-40 , hasilnya:
(2-41)

Integral pertama pada persamaan 2-41 adalah cross-sectional area, A. Integral kedua
(dikalikan dengan -gx) adalah gaya tekan yang digunakan oleh fluida pada tepi
sungai, yang besarnya sama, tetapi arahnya berlawanan dengan FB. Karenanya gaya
tekan netto ditulis sebagai:
(2-42)

Gaya gravitasi: Gaya gravitasi pada fluida pada volume kontrol pada arah x adalah:
(2-43)

32

di sini Apakah sudut yang dibentuk saluran terhadap horisontal. Untuk sungai alami
adalah kecil dan sin tan = Z0 / X, di mana z0 ketinggian. Oleh karena itu gaya

gravitasi ditulis sebagai:


(2-44)

Gaya ini akan positif untuk kemiringan negatif.


Batasan tarikan ( gaya gesek): Gaya gesekan antara saluran dan fluida ditulis sebagai:
(2-45)

di mana o adalah batas rata-rata tegangan geser (force/unit area) yang bekerja sebagai
batas-batas cairan, dan P adalah keliling basah. Tanda negatif menunjukkan bahwa,
jika arus searah dengan arah x-positif, gaya berlawanan arah atau searah x-negatif.
Dari analisa dimensional, o dinyatakan sebagai istilah dari koefisien tahanan, CD,
sebagai berikut:
(2-46)

Koefisien tahanan terkait dengan Chezy koefisien, C, dengan hubungan sebagai


berikut:
(2-47)

Lebih lanjut, persamaan Chezy ditulis sebagai:


(2-48)

Substitusikan persamaan 2-46, 2-47, dan 2-48 ke dalam 2-45, dan disederhanakan,
menghasilkan rumus berikut untuk gaya tahanan batas:
(2-49)

Di mana Sf adalah kemiringan gesek, yang bernilai positif untuk arus searah sumbu xpositif. Kemiringan gesek harus dihubungkan dengan aliran dan tinggi aliran. Yang
biasanya digunakan persamaan gesek Manning dan Chezy. Karena Persamaan
Manning sebagian besar digunakan di Amerika Serikat, ini juga yang digunakan pada
HEC-RAS. Persamaan Manning ditulis seperti:
(2-50)

di mana R adalah jari-jari hidrolik dan n adalah koefisien gesekan Manning.


33

Perubahan momentum: Dengan ke tiga istilah gaya yang telah disebutkan, hanya
perubahan momentum yang tersisa. Perubahan terus menerus (flux) memasuki volume
kontrol ditulis sebagai:
(2-51)

dan perubahan terus menerus (flux) yang meninggalkan volume ditulis sebagai:
(2-52)

Oleh karena itu tingkatan netto momentum (momentum flux) yang memasuki volume
kontrol adalah:
(2-53)

Karena momentum dari fluida pada volume kontrol adalah QX, tingkat akumulasi
momentum ditulis sebagai:
(2-54)

Ulangi prinsip kekekalan momentum:


Tingkatan netto momentum momentum flux) memasuki volume (2-53) dijumlahkan
dengan semua gaya-luar yang bekerja pada volume [(2-39)+ (2-41)+ (2-46)] sama
dengan tingkat akumulasi momentum (2-54). menjadi:
(2-55)

Tinggi dari permukaan air, z, sama dengan z0 + h. Oleh karena itu menjadi:
(2-56)

Di mana z / x kemiringan permukaan air. Substitusikan (2-56) ke dalam (2-55),


dibagi dengan x dan akan memindahkan semua istilah kepada hasil yang tersisa
yaitu format akhir dari persamaan momentum:
(2-57)

34

2.3.3

Perencanaan Penampang Sungai Rencana

Penampang melintang sungai perlu direncanakan untuk mendapatkan


penampang ideal dan efisien dalam penggunaan lahan. Penampang yang ideal yang
dimaksudkan merupakan penampang yang stabil terhadap perubahan akibat pengaruh
erosi maupun pengaruh pola aliran yang terjadi. Sedang penggunaan lahan yang efisien
dimaksudkan untuk memperhatikan lahan yang tersedia, sehingga tidak menimbulkan
permasalahan terhadap pembebasan lahan.
Faktor yang harus diperhatikan dalam mendesain bentuk penampang melintang
normalisasi sungai adalah :

Angkutan sedimen sungai

Perbandingan debit dominan dan debit banjir


Pada umumnya untuk alur sungai pada bagian hilir mempunyai perbandingan

tinggi air dibanding lebar sungai (h/B) sangat rendah, bentuk penampang ganda,
kemiringan dasar sungai sangat landai dan kapasitas pengaliran yang rendah. Sehingga
untuk menambah kapasitas pengaliran pada waktu banjir, dibuat penampang ganda,
dengan menambah luas penampang basah dari pemanfaatan bantaran sungai.
Bentuk penampang sungai sangat dipengaruhi oleh faktor bentuk penampang
berdasarkan kapasitas pengaliran, yaitu :
Q=V.A
V =

Q.n
I
A.R

(2-58)

1 2 3 12
R I
n

= A.R

(2-59)
(2-60)

(merupakan faktor bentuk)

Kapasitas penampang akan tetap walaupun bentuk berubah-ubah. Perlu diperhatikan


bentuk penampang sungai yang paling stabil.
Rencana penampang Kali Tuntang Hilir direncanakan berbentuk trapesium, dengan
bantaran. Rencana penampang tersebut dengan pertimbangan antara lain :

Alur sungai mampu melewatkan debit banjir rencana

Dasar sungai perlu juga dipertimbangkan terhadap bahaya gerusan

35

B
Gambar 2.9. Penampang melintang sungai

Rumus yang digunakan :


1 2 3 12
R I
n
A
R=
P

V =

(2-61)
(2-62)

P = B + 2H 1 + m

(2-63)

A = H ( B + mH )

(2-64)

Q=V.A

(2-65)

Tabel 2-5. Karakteristik saluran


Debit
3

Kemiringan

Perbandingan b/h

Debit
3

Kemiringan

Perbandingan b/h

(m /det)

Talud (1 : m)

(n)

(m /det)

Talud (1 : m)

(n)

0,15 - 0,30

1,0

1,0

5,00 - 6,00

1,5

2,9 - 3,1

0,30 - 0,50

1,0

1,0 - 1,2

6,00 - 7,50

1,5

3,1 - 3,5

0,50 - 0,75

1,0

1,2 - 1,3

7,50 - 9,00

1,5

3,5 - 3,7

0,75 - 1,00

1,0

1,3 - 1,5

9,00 -10,00

1,5

3,7 - 3,9

1,00 - 1,50

1,0

1,5 - 1,8

10,00 - 11,00

2,0

3,9 - 4,2

1,50 - 3,00

1,5

1,8 - 2,3

11,00 - 15,00

2,0

4,2 - 4,9

3,00 - 4,50

1,5

2,3 - 2,7

15,00 - 25,00

2,0

4,9 - 6,5

4,50 - 5,00

1,5

2,7 - 2,9

25,00 - 40,00

2,0

6,5 - 9,0

(Ir. Sugiyanto, Pengendalian Banjir)

2.3.4

Pembuatan Sudetan (Short Cut)

Sudetan hanya dilakukan pada alur sungai yang berkelok-kelok sangat kritis
dan dimaksudkan agar banjir dapat mencapai bagian hilir atau laut dengan cepat,
dengan mempertimbangkan alur sungai yang stabil. Hal yang sangat perlu diperhatikan
dalam pembuatan sudetan adalah akibat sudetan tidak menimbulkan problem banjir di
bagian hilir karena akan terjadi kenaikan besarnya debit pengaliran dan pada waktu
36

tiba banjir karena akan terjadi kenaikan besarnya debit pengaliran dan pada waktu tiba
banjir yang lebih pendek, sehingga akan menurunkan muka air banjir hulu dan
menambah banjir di bagian hilir. Berdasarkan pertimbangan di atas maka pekerjaan
sudetan dalakukan pada alur sungai di bagian hilir daerah yang dilindungi dan harus
diimbangi dengan normalisasi sungai di bagian hilir sudetan.
Hal-hal yang perlu diperhatikan pada pembuatan sudetan antara lain adalah :

Tujuan dilakukannya sudetan

Arah alur sudetan

Penampang sungai sudetan

Usaha mempertahankan fungsi sudetan

Pengaruh penurunan muka air di bagian hulu sudetan terhadap lingkungan

Pengaruh berkurangnya fungsi retensi banjir

Tinjauan terhadap aspek sosial-ekonomi

Daerah

yang
Alur susetan

dilindungi
dari banjir

Alur lama

Gambar 2.10. Sudetan

2.3.5

Tinggi Jagaan Sungai

Besarnya tinggi jagaan sungai yang paling baik adalah berkisar antara 0.751.50 m. Hal-hal lain yang mempengaruhi besarnya nilai tinggi jagaan adalah
penimbunan sedimen di dalam sungai, berkurangnya efisiensi hidrolik karena
tumbuhnya tanaman, penurunan tebing dan kelebihan jumlah aliran selama terjadinya
hujan. Sedangkan secara praktis untuk menentukan besarnya tinggi jagaan yang
diambil berdasarkan debit banjir dapat diambil dengan menggunakan tabel 2-6.

37

Tabel 2-6. Hubungan Debit Tinggi Jagaan


Debit Rencana (m3/det)

Tinggi Jagaan (m)

Q<200

0,6

200<Q<500

0,75

2000<Q<5000

1,25

5000<Q<10000

1,50

(Ir. Sugiyanto, Pengendalian Banjir)

2.3.6
1.

Stabilitas Alur Terhadap Erosi dan Longsoran


Stabilitas Alur Terhadap Erosi

Butiran tanah pembentuk penampang sungai harus stabil terhadap aliran yang
terjadi, karena akibat pengaruh kecepatan aliran dapat mengkibatkan penggerusan pada
tebing maupun dasar sungai. Maka perlu di cek terhadap stabilitas butiran pada tebing
dan dasar sungai.
Tegangan geser pada penampang yang terjadi adalah :
o = . g .h. I

0.75 .g.h

0.97 .g.h

Gambar 2.11. Tegangan geser penampang sungai

Sedangkan berdasarkan hasil penyelidikan besarnya tegangan yang terjadi adalah :


b = 0.97 . g .h. I (pada dasar sungai)
s = 0.75 . g .h. I (pada talud sungai)
Dimana :
= density air ( T/m2)
h = tinggi air

(m)

I = kemiringan dasar saluran


Sungai akan stabil apabila tidak terjadi erosi pada dasar maupun lereng sungai.
Tegangan geser yang terjadi di dasar maupun lereng sungai disebabkan oleh aliran
sungai. Apabila tegangan geser yang terjadi di dasar sungai (b) lebih besar dari

38

tegangan kritis (c), maka akan terjadi erosi. Tegangan geser kritis yaitu tegangan geser
yang terjadi pada saat butiran dasar / lereng sungai mulai bergerak.
Besarnya tegangan geser kritis (c) tergantung dari diameter material dasar /
lereng sungai. Kecepatan aliran yang menimbulkan terjadinya tegangan geser kritis
disebut kecepatan kritis (Vcr). Apabila diameter butiran dasar / lereng sungai
diketahui, maka tegangan geser kritis (c) dapat dilihat pada diagram Shields dalam
Gambar 2.12.

Gambar 2.12. Grafik hubungan tegangan geser kritis dan kecepatan aliran kritis (Diagram Shields)

Tegangan geser kritis pada lereng sungai tergantung sudut lereng


(cr,L) = K. cr (T/m2)
dimana :
cr = tegangan geser kritis pada dasar sungai
tg

K = cos 1
tg

= sudut lereng sungai (o)


= 30-40 (tergantung diameter butiran)

39

2.

Stabilitas Alur terhadap Longsoran (Metode Irisan)

Longsoran atau land slide merupakan pergerakan massa tanah secara perlahanlahan melalui bidang longsoran (lihat gambar 2.13) karena tidak stabil akibat gayagaya yang bekerja. Untuk memperhitungkan kestabilan maka bidang longsoran dibagi
dalam beberapa bagian atau segmen, apabila lebar segmen semakin kecil maka akan
semakin teliti. Perhitungan berdasarkan pasa keadaan terburuk, yaitu pada waktu muka
air banjir surut dan muka air tanah dalam tanggul masih tinggi. Secara praktis land
slide adalah pergerakan massa tanah secara perlahan dalam waktu relatif tetap.
Metode ini menggunakan runtuh permukaan potensial pada tebing yang
diasumsikan berbentuk busur lingkaran dengan pusat o dan jari-jari r, metode irisan
atau juga disebut metode pias-pias (slice method) dipergunakan untuk jenis tanah yang
tidak homogen dan aliran rembesan terjadi di dalamnya memberikan bentuk aliran dan
volume tanah yang tidak menentu. Gaya normal yang bekerja adalah akibat berat tanah
sendiri yang bekerja pada suatu titik di lingkaran bidang longsor. Dalam metode ini
massa tanah longsoran dibagi menjadi beberapa irisan vertikal dengan lebar sama.
Lebar pias biasanya diambil sebesar 0,1 r. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada
gambar 2-13.
Dasar dari setiap pias diasumsikan sebagai garis lurus. Sudut yang dibentuk oleh
dasar setiap pias dengan sumbu horisontal adalah , tinggi pias dihitung berdasarkan
panjang sumbu vertikal pias yaitu sebesar h. Faktor keamanan adalah perbandingan
momen penahan longsoran dengan penyebab longsoran.

Gambar 2.13. Bidang Longsoran

Keterangan :
O = titik pusat longsoran

40

R = jari-jari bidang longsoran


W = berat segmen/irisan
= gaya geser
U = akibat tekanan air pori
Gaya-gaya yang tegak lurus bidang longsor

: N atau Wcos dan U

Gaya-gaya yang searah bidang longsor

: T atau Wsin dan

Gaya-gaya yang menahan

: C x L dan (N tan )

Gaya yang mendorong

:T

Angka keamanan (FS)

(Ci.Li) + ( Ni. tan ) 1.20


Ti

(Ci.Li) + (( Ni Ui) tan ) 1.20


Ti

Pengaruh tekanan air pori (U)


Angka keamanan (FS)

2.3.7

Perencanaan Tanggul

Tanggul adalah bangunan pengendali sungai yang dibangun dengan persyaratan


teknis tertentu untuk melindungi daerah sekitar sungai terhadap limpasan air sungai.
Yang perlu diperhatikan dalam perencanaan tanggul adalah lebar tanggul dan elevasi
tanggul. Ketentuan lebar tanggul seperti tercantum dalam tabel 2-7.
Tabel 2-7. Persyaratan Lebar Tanggul
Debit Rencana
3

Lebar Tanggul

(m /det)

(m)

Q < 200

3,0

200<Q<500

4,0

2000<Q<5000

5,0

5000<Q<10000

6,0

(Sumber : Ir. Sugiyanto, Pengendalian Banjir)

Elevasi tanggul ditentukan oleh elevasi muka air banjir sungai ditambah tinggi jagaan
tertentu. Elevasi muka air banjir didapat berdasarkan perhitungan hidrolik banjir
sungai. Ketentuan tinggi jagaan tanggul seperti tercantum dalam Tabel 2-8.

41

Tabel 2-8. Tinggi Jagaan Tanggul


Tinggi jagaan tanggul

Debit Rencana
3

(m /det)

(m)

Q < 200

0,6

200<Q<500

0,75

500<Q<2000

1,00

2000<Q<5000

1,25

5000<Q<10000

1,50

Q > 10000

2,00

(Sumber : Ir. Sugiyanto, Pengendalian Banjir)

2.3.8

Pengaruh Back Water Akibat Pasang Surut

Pada pengendalian banjir perlu memperhatikan muka air pada waktu banjir di
sepanjang sungai dan muka air banjir akibat back water. Hal ini atas pertimbangan
bahwa dengan adanya limpasan pada sebagian tanggul akan mengakibatkan bobolnya
tanggul adalah merupakan gagalnya system pengendali banjir.
Cara yang biasa digunakan dalam menghitung pengaruh back water adalah cara
analisa hidrolik steady non uniform flow, terutama untuk sungai yang mempunyai
bentuk penampang yang tidak beraturan maupun kemiringan dasar sungai yang
bervariasi.

V2
2g

Sf

Z
datum

Gambar 2.14. Steady Non Uniform Flow

Tinggi tenaga total setiap titik dalam aliran :


H

dz dh d V 2

+
+
dx dx dx 2 g

(2-66)

42

Di integrasikan terhadap jarak (ds) :

dH
dz dh d V 2

=
+
+
dx dx dx 2 g
dx

(2-67)

dh Q 2T dh

dx gA 3 dx

(2-68)

-Sf

= -So +

dh
dx

dh
dx

So Sf
Q 2T
1
gA3

(2-69)

So Sf
1 Fr 2

(2-70)

Back water dapat terjadi karena adanya perbedaan tinggi tekanan aliran pada suatu titik
(saluran) yang ditinjau.
a. Terjadi back water (H hulu < H hilir)

Hulu

Hilir

b. Tidak terjadi back water (H hulu > H hilir)

Hulu
Hilir

Gambar 2.15. Syarat terjadinya back water

43

Dalam perhitungan panjang back water dapat digunakan dengan dua cara, yaitu :
1.

Metode Tahapan Langsung (Direct Step Method)

Energi spesifik
=h+

V2
+ h2 + So.x
2g

V
= 1 + h1 + Sf. x
2g

(2-72)

E2 + So.x

= E2 + Sf.x

(2-73)

(2-71)

E 2 E1
Sf So
Sf + Sf 2
= 1
2

Sf
2.

V2
2g

(2-74)
(2-75)

Metode Tahapan Standard

Energi total
H

=Z+h+

V2
2g

Z1 + h1 +

V1
2g

(2-76)
2

= Z2 + h2 +

V2
+ H
2g

(2-77)

H1

= H2 + H

(2-78)

= Sf. x

(2-79)

= So. X

(2-80)

(DR. Ir. Suripin, M.Eng. Diktat Mekanika Fluida dan Hidrolika)

44