Anda di halaman 1dari 20

TUGAS MAKALAH KEWIRAUSAHAAN

FAKTOR-FAKTOR YANG MENDORONG MENJADI


WIRAUSAHA DAN TIPE-TIPE WIRAUSAHA

OLEH :
AYU APRIANA AZMILDA (1301010)
S1-VIA

DOSEN :
ERNIZA PRATIWI .,M.Farm, Apt.

PROGRAM STUDI S1 FARMASI


SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI RIAU
2015

KATA PENGANTAR
1

Puji dan syukur kami ucapkan kepada Allah SWT, atas segala rahmat dan karuniaNya sehingga saya dapat menyelesaikan tugas makalah mata kuliah Kewirausahaan dengan
judul FAKTOR-FAKTOR YANG MENDORONG MENJADI WIRAUSAHA DAN TIPETIPE WIRAUSAHA .
Penulisan dan penyusunan makalah ini merupakan salah satu tugas wajib dari mata
kuliah Kewirausahaan ini. Saya menyadari bahwa selama penulisan dan penyusunan
makalah ini, kami banyak mendapat bantuan dan masukan dari berbagai pihak. Oleh sebab
itu, saya mengucapkan terima kasih terutama kepada ibu Erniza Prawiti.,M.Farm,Apt. selaku
dosen mata kuliah Kewirausahaan yang telah mengajari saya, sehingga saya dapat
menyelesaikan makalah ini. Serta teman-teman yang ikut terlibat dalam pembuatan makalah
ini.
Sumber dari makalah ini diambil dari buku-buku yang berhubungan dengan
Kewirausahaan dan lainnya yang ditambah dengan informasi yang didapat dari pencarian
(browsing) di internet dan sumber-sumber lainnya.
Saya menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, karena masih
memiliki banyak kekurangan, baik dalam sistematika dan teknik penulisannya. Oleh karena
itu, kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi
kesempurnaan makalah ini. Dan semoga makalah ini dapat bermanfaat.

Pekanbaru, 21 Maret 2016

Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR......................................................................................................

DAFTAR ISI...................................................................................................................

BAB I PENDAHULUAN...............................................................................................

1.1 Latar Belakang................................................................................................


1.2 Rumusan Masalah...........................................................................................
1.3 Tujuan Penulisan.............................................................................................
BAB II PEMBAHASAN................................................................................................

4
4
5
6

2.1 Menumbuhkan jiwa wirausaha........................................................................

2.2 Faktor - faktor mendorong menjadi kewirausahaan ...............

2.3 Tipe-tipe Wirausaha...............................................................

16

BAB

III

PENUTUP........................................................................................................
.

18

KESIMPULAN ...............................................................................................................

18

DAFTAR PUSTAKA .....................................................................................................

19

BAB I
3

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Dewasa ini masyarakat kesulitan dalam menemukan lapangan pekerjaan.Banyak

sarjana yang hanya menjadi pengangguran, akibatnya pendidikan yang dulunya begitu
diagung-agungkan justru terlihat percuma. Banyaknya orang dengan gelar sarjana dan
keinginan untuk dapat memenuhi kebutuhan sehari-harinya menjadi faktor yang memicu
orang-orang untuk mencari pekerjaan. Sayangnya, persaingan yang begitu ketat dalam seleksi
pekerjaan dan banyaknya orang yang bersaing dalam mencari pekerjaan membuat banyak
cendekiawan muda yang menjadi pengangguran atau mendapatkan pekerjaan yang kurang
layak.
Semakin maju suatu negara semakin banyak orang yang terdidik, dan banyak pula
orang yang menganggur karena sempitnya lapangan pekerjaan. Hal ini menunjukkan semakin
pentingnya dunia entrepreneur di dalam perekonomian suatu negara. Pembangunan akan
lebih berhasil jika ditunjang oleh para entrepreneur yang dapat membuka lapangan kerja
karena kemampuan pemerintah sangat terbatas. Pemerintah tidak akan mampu menggarap
semua pembangunan karena sangat banyak membutuhkan anggaran belanja, personalia, dan
pengawasan. Sehingga, lapangan yang mampu pemerintah siapkan pun sangatlah terbatas dan
sulit untuk memenuhi seluruh masyarakat di Indonesia.
Pada makalah ini akan membahas tentang faktor-faktor yang dapat
mendorong seseorang menjadi wirausaha dan bagaimana tipe-tipe
seorang wirausaha tersebut.

1.2

Rumusan Masalah
Apa faktor-faktor

1.3

yang

mendorong

seseorang

wirausaha?
Bagaimana tipe-tipe dari wirausaha tersebut?

Tujuan Makalah
4

menjadi

1. Untuk

mengetahui

faktor-faktor

yang

mendorong

menjadi

wirausaha
2. Untuk mengetahui tipe-tipe wirausaha
3. Sebagai tugas ke-2 mata kuliah kewirausahaan

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Perekonomian Indonesia pada tahun 1998 mengalami masa yang


sangat sulit, dimana pada waktu itu terjadi penggantian kekuasaan dari
orde lama ke orde baru disertai terjadinya krisis dari semua aspek
kehidupan,

yang

berakibat

terjadinya

pengangguran

dimana-mana.

Diwaktu era orde baru 60 % perekonomian Indonesia ditunjang oleh


perusahaan besar, 40 %nya perusahaan kecil ( UMKM). Pada saat itu nilai
rupiah menjadi anjlok, sebelum tahun 1998

1 $ = Rp 2.500 kemudian

pada tahun 1998 1 $ = Rp 14.000, hal ini mengakibatkan perusahaan


5

besar mengalami kesulitan dalam keuangan karena 70 % dari bahan baku


dari produk jadi adalah import. Banyak perusahaan besar menutup
usahanya, mengakibatkan terjadinya pemutusan hubungan kerja, dan
berlanjut terjadinya penurunan daya beli masyarakat.
Hal sebaliknya terjadi pada usaha UMKM dimana usaha ini tidak
banyak terlibat dengan bahan baku dari luar dan dalam menjalankan
usahanya mereka tidak memakai modal pihak lain, mereka berusaha
sendiri

belum

memakai

manajemen

modern,belum

membangun

merek,belum melakukan pembagin kerja yang tertata rapi (SOP),mereka


terhindar

dari

kesulitan

keuangan.

Mereka

menjalankan

usaha

mandiri,tahan banting,fleksibel dalam bergerak, efisien karena dikerjakan


dengan seluruh anggota keluarga, dan mereka berbasiskan sumberdaya
local, akibatnya mereka terhindar dari krisis.
2.1

MENUMBUHKAN JIWA KEWIRAUSAHAAN

Jika dahulu kewirausahaan merupakan bakat bawaan sejak lahir dan


diasah melalui pengalaman langsung di lapangan, maka sekarang ini
paradigma tersebut telah bergeser. Kewirausahaan telah menjadi suatu
disiplin ilmu yang mempelajari tentang nilai, kemampuan (ability) dan
perilaku

seseorang

dalam

menghadapi

tantangan

hidup

untuk

memperoleh peluang dengan berbagai resiko yang mungkin dihadapinya.


Sebagai suatu disiplin ilmu, maka ilmu kewirausahaan dapat dipelajari dan
diajarkan, sehingga setiap individu memiliki peluang untuk tampil sebagai
seorang

wirausahawan

(entrepreneur).Bahkan

untuk

menjadi

wirausahawan sukses, memiliki bakat saja tidak cukup, tetapi juga harus
memiliki pengetahuan segala aspek usaha yang akan ditekuninya. Tugas
dari wirausaha sangat banyak, antara lain tugas mengambil keputusan,
kepemimpinan

teknis,

kepemimpinan

organisatoris

dan

komersial,

penyediaan modal dll.


Pengertian Wirausahawan : adalah Seseorang yang mempunyai
kemampuan melihat dan menilai peluang, me-manage sumber daya yang
dibutuhkan serta mengambil tindakan yang tepat, guna memastikan
sukses secara berkelanjutan.
6

Kebutuhan Akan Wirausahawan ,Jika negara kita ingin berhasil dalam


pembangunannya, maka kita harus menyediakan 4 juta wirausaha besar
dan sedang, dan kita masih harus mencetak 40 juta wirausahawan kecil.
Ini adalah suatu peluang besar yang menantang untuk berkreasi mengadu
ketrampilan membina wirausahawan dalam rangka turut berpartisipasi
membangun negara dan bangsa Indonesia.KADIN menargetkan pada
tahun 2010 dapat tercipta 10 juta pengusaha baru. Sehingga diharapkan
mampu menciptakan lapangan kerja baru.
Contoh: peran serta wirausahawan dalam pembangunan adalah di negara
Jepang. Keberhasilan pembangunan yang dicapai oleh negara Jepang
ternyata disponsori oleh wirausahawan yang jumlahnya cukup besar.
a. Percaya Diri (Self Confident)
Kepercayaan diri merupakan suatu paduan sikap dan keyakinan
seseorang dalam menghadapi tugas atau pekerjaan. Dalam praktik, sikap
dan kepercayaan ini merupakan sikap dan keyakinan untuk memulai,
melakukan dan menyelesaikan suatu tugas atau pekerjaan yang dihadapi.
Oleh sebab itu kepercayaan diri memiliki nilai keyakinan, optimisme,
individualitas,

dan

ketidaktergantungan.

Seseorang

yang

memiliki

kepercayaan diri cenderung memiliki keyakinan akan kemampuannya


untuk mencapai keberhasilan
b. Berorientasi Tugas dan Hasil
Seseorang yang selalu mengutamakan tugas dan hasil, adalah
orang yang selalu mengutamakan nilai-nilai motif berprestasi, berorientasi
pada laba, ketekunan dan ketabahan, tekad kerja keras, mempunyai
dorongan kuat, energik, dan berinisiatif., Berinisiatif artinya selalu ingin
mencari dan memulai. Untuk memulai diperlukan niat dan tekad yang
kuat, serta karsa yang besar. Sekali sukses atau berprestasi, maka sukses
berikutnya akan menyusul, sehingga usahanya semakin maju dan
semakin berkembang.

c. Keberanian Mengambil Risiko


Kemauan dan kemampuan untuk mengambil risiko merupakan salah
satu nilai utama dalam kewirausahaan. Wirausaha yang tidak mau
mengambil risiko akan sukar memulai atau berinisiatif, Wirausaha adalah
orang yang lebih menyukai usaha-usaha yang lebih menantang untuk
mencapai kesuksesan Dengan demikian, keberanian untuk menanggung
risiko yang menjadi nilai kewirausahaan adalah pengambilan risiko yang
penuh dengan perhitungan dan realistik. Kepuasan yang besar diperoleh
apabila berhasil dalam melaksanakan tugas-tugasnya secara realistik.
Artinya, wirausaha menyukai tantangan yang sukar namun dapat dicapai.
Wirausaha menghindari situasi risiko yang rendah karena tidak ada
tantangan, dan menjauhi situasi risiko yang tinggi karena ingin berhasil
d. Kepemimpinan
Seorang

wirausaha

yang

berhasil

selalu

memiliki

sifat

kepernimpinan, kepeloporan, keteladanan. la selalu ingin tampil berbeda


lebih dulu lebih menonjol. Dengan menggunakan kemampuan kreativitas
dan keinovasiannya, ia selalu menampilkan barang dan jasa-jasa yang
dihasilkannya dengan lebih cepat, lebih dulu dan segera berada di pasar.
e. Berorientasi ke Masa Depan
Orang yang berorientasi ke masa depan adalah orang yang memiliki
perspektif dan pandangan ke masa depan. Karena ia memiliki pandangan
yang jauh ke masa depan, maka selalu berusaha untuk berkarsa dan
berkarya. Kuncinya pada kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang
baru dan berbeda dengan yang sudah ada sekarang. Meskipun dengan
risiko yang mungkin terjadi, ia tetap tabah untuk mencari peluang dan
tantangan demi pembaharuan masa depan . Pandangan yang jauh ke
depan, membuat wirausaha tidak cepat puas dengan karsa dan karya
yang sudah ada sekarang. Oleh sebab itu, ia selalu mempersiapkannya
dengan mencari suatu peluang
8

f. Kreatifitas dan inovasi


Kreativitas adalah berpikir sesuatu yang baru (thinking new things)
dan keinovasian adalah melakukan sesuatu yang baru (doing new
things).Kreatifitas diartikan sebagai kemampuan mengembangkan ide-ide
baru

dan

persoalan

untuk
dan

menemukan
mencari

cara-cara

peluang.

baru

dalam

Keinovasian

memecahkan

diartikan

sebagai

kemampuan untuk menerapkan kreatifitas dalam rangka memecahkan


persoalan-persoalan dan peluang untuk mempertinggi dan meningkatkan
taraf hidup. Oleh karena itu, kewirausahaan adalah "thinking and doing
new things or old thinks in new ways" Kewirausahaan adalah berpikir dan
bertindak sesuatu yang baru atau berpikir sesuatu yang lama dengan
cara-cara baru.
g. Memiliki tenaga dalam
Memiliki tenaga dalam : artinya bahwa seorang wirausaha harus
memiliki :
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.

2.2

Keuletan
Ketabahan
Ketekunan
Kejujuran
Kedisiplinan
Ketulusan
Keikhlasan
Kesopanan, keramahan

FAKTOR - FAKTOR MENDORONG MENJADI KEWIRAUSAHAAN


Belum ada kesepakatan yang jelas mengapa seseorang memilih

untuk berwirausaha daripada bekerja pada orang lain. Dalam suatu studi
yang dilakukan baru baru ini, ada empat faktor yang mempengaruhi
kepribadian seseorang untuk menjadi pengusaha. Empat faktor itu adalah:
Individu, kultural, masyarakat, dan gabungan dari ketiga faktor tadi.
1. Faktor Individual

Banyak ahli yang berpendapat bahwa studi mereka akan


membuahkan hasil apabila sifat wirausahawan dapat diungkap lebih
jauh, meskipun faktanya, sifat tersebut tidak bisa dijadikan indikator
dalam mengukur perilaku wirausahawan. Peter Drucker, adalah
salah satu dari sekian banyak orang yang tidak percaya bahwa sifat
adalah

tolak

ukurnya,

dan

sebaliknya

berpendapat

bahwa

kewirausahaan dapat diajarkan. Seorang profesor dalam bidang


kewirausahaan sependapat dengan hal ini.
Kepada semua yang tidak takut mengambil risiko, Akan
kutunjukkan kepadamu bagaimana seseorang dapat membenci
risiko. Untuk setiap orang yang terlahir sebagai anak pertama yang
sukses dalam wirausaha, akan ada satu satu orang yang terlahir
sebagai anak tunggal atau anak bungsu yang sukses. Dan setiap
wirausaha

yang

tumbuh

dengan

mendengarkan

pembicaraan

orangtuanya yang menjadi pengusaha, akan ada pengusaha yang


tumbuh karena didikan keras orangtuanya, atau karena tidak
mempunyai orangtua.
Namun,

banyak

yang

percaya

bahwa

para

pengusaha

memiliki sifat khusus, dimana sifat ini tidak dapat diajarkan.


Seorang enulis dari majalah Business Week tidak setuju dengan
pendapatnya Peter Drucker, Mungkin Drucker benar, bahwa sifat
sifat wirausaha dapat dipelajari, namun tidak demikian dengan jiwa
wirausahawan. Seorang wirausahawan bisa juga adalah seorang
manajer, tetapi tidak semua manajer dapat menjadi wirausahawan.
Ada pengusaha yang berpendapat,
Anda tidak bisa mengajarkan dorongan, initiative, ingenuity,
atau individuality. Anda juga tidak akan bisa mengajarkan pola pikir
ataupun sifat. Anda juga tidak bisa mengajarkan pelajaran memulai
sebuah usaha hanya dengan harapan dan kemampuan berbicara
kepada seseorang untuk meminjam uang (berhutang).
Sedangkan seorang yang lain menyatakan, Ide ide yang brilian
itu sudah biasa, namun orang yang bisa menjalankannya sangat
jarang.
10

Apakah wirausahawan muncul semenjak seseorang lahir ataukah di


saat seseorang tumbuh dewasa, ada beberapa sifat yang memang
muncul ketika seseorang merasakan sukses. Sifat ini, kerap
ditemukan dalam beberapa manajer dan pengusaha yang sukses.
Berikut sifat sifat yang dimaksud:

Rasa antusias dalam berbisnis


Para pengusaha harus lebih bersemangat dalam menjalankan
usahanya karena akan ada banyak rintangan yang harus dilalui.
Mereka yang kehilangan semangat dalam bekerja tidak akan sukses.
Steven Jobs, pendiri komputer Apple, mengatakan kalau Apple
sukses bukan karena konsep dari Apple adalah sebuah ide yang
brilian, namun karena Apple dibangun dengan hati. Komitmen
inilah yang mendorong seseorang untuk bekerja lebih, hingga akan
mengatakan, Aku tidak akan menyerah sebelum sukses!

Tidak putus asa meskipun gagal


Karena akan ada banyak rintangan yang harus dilalui,
seorang pengusaha tidak boleh menyerah begitu saja. Banyak cerita
sukses dari para pengusaha dimana mereka terus bangkit meskipun
kegagalan

yang

diraih

sudah

tak

dapat

dihitung

lagi.

Wirausahawan tidak dapat gagal, mereka hanya mendapatkan


pengalaman

pahit.

Mereka

paham,

bahwa

kesukaran

akan

menjadi peluang baru yang belum terlihat. Paul Goldin, CEO dari
perusahaan Score Board, mengatakan, Jangan takut gagal. Cobalah
sampai tujuh, delapan kali.
Walt Disney pernah bangkrut tiga kali sebelum sukses
membuat film pertamanya. Henry Ford gagal dua kali, dan tidak
mungkin bisa sukses apabila tidak bangkit dari kegagalannya. Joe
Namath, pemain sepakbola, menyikapi kegagalan secara positif,
Aku tidak pernah kalah dalam pertandingan. Aku cuma kadang
kadang kehabisan waktu saja.

11

Percaya Diri
Para pengusaha percaya dengan kemampuan dan konsep
bisnis

mereka.

Mereka

percaya

bahwa

mereka

mempunyai

kemampuan untuk menyelesaikan apa yang mereka mulai. Rasa


percaya diri ini, bukan hanya omong kosong belaka. Banyak dari
mereka yang memiliki pengetahuan tentang pasar dan industri. Tak
jarang dari mereka yang melakukan berbagai investigasi untuk
mencari informasi. Bukanlah hal yang aneh apabila seorang
pengusaha

belajar

dari

usaha

orang

lain.

Mereka

pun

mengembangkan usahanya sembari bekerja dari orang lain. Dengan


demikian,

mereka

akan

mendapatkan

pengetahuan

dan

pengalaman untuk belajar dari kesalahan orang lain pula. Seorang


pengusaha yang sukses mengatakan, Lebih baik saya belajar
mengendarai

motor

dengan

menggunakan

motor

orang

lain

daripada milik saya sendiri.

Tekad yang kuat


Hampir setiap pengusaha mempunyai motivasi dan tekad
yang kuat untuk mencapai sukses. Jon. P.Goodman, direktur
Universitas Kewirausahaan California Selatan, berpendapat bahwa
tekad merupakan kunci penting untuk meraih kesuksesan karena
pengusaha

yang

sukses

tidak

terbelenggu

oleh

takdir.

Para

pengusaha percaya bahwa kesuksesan dan kegagalan mereka


disebabkan oleh diri sendiri. Kualitas diri ini juga disebut sebagai
internal locus of control. Seseorang yang percaya bahwa takdir,
ekonomi, dan faktor faktor eksternal lainnya merupakan kunci
kesuksesan tidak cocok menjadi pengusaha.

Pengolahan Risiko
Dalam kacamata orang awam, para pengusaha umumnya
adalah orang orang yang mudah mengambil risiko, itupun dalam
jumlah yang sangat besar. Hal ini tidak selamanya benar. Pertama,
seperti yang dikatakan diatas, mereka bekerja terlebih dahulu
12

secara penuh, atau paruh waktu. Lalu kemudian memulai bisnisnya


secara perlahan, hingga akhirnya sampai pada puncak kesuksesan.
Para pengusaha juga memandang risiko secara berbeda dari
yang lain. Seorang penulis majalah Business Week menggunakan
contoh Chuck Yeager, seorang pilot dan Scott Schmidt, penemu ski
ekstrim. Kemampuan Yeager untuk mengemudikan kokpit selama
bertahun tahun membuatnya melihat risiko dalam sudut pandang
yang berbeda.
Ski ekstrim Scott Schmidt terbang dengan ketinggian lebih
dari 60 kaki. Publik menilai dia sangat ceroboh dari video video
loncatan hebatnya. Dalam setiap loncatan, dia mengukur secara
teliti bagaimana saat loncat dan saat mendaratnya. Oleh karenanya,
Schmidt tidak menganggap dirinya seorang maniak loncat yang
ceroboh, namun seorang pemain ski yang handal.
Lane Nemeth, penemu Discovery Toys, mengatakan bahwa
para pengusaha melihat risiko dalam sudut pandang yang berbeda.
Ketika dia memulai perusahaannya dengan uang $50.000, dia
melihat uang itu dan menanyakan pada dirinya sendiri, Bagaimana
kalau aku gagal? Namun, saat itulah terakhir kalinya dia berpikir
kalau dia akan gagal.

Melihat perubahan sebagai peluang


Oleh orang awam, perubahan merupakan sesuatu yang
mengerikan dan harus dihindari. Para pengusaha melihatnya
sebagai sesuatu yang normal dan perlu. Mereka mencari perubahan,
dan menjawab perubaan itu, kemudian mencari peluang, dan
akhirnya menciptakan inovasi.

Toleransi akan Ambiguitas


Hidup seorang pengusaha sangatlah tidak terstruktur. Tidak
ada yang menetapkan jadwal dan proses langkah demi langkah.
Tidak ada yang menentukan berapa persentase kesuksesan. Banyak
faktor faktor yang tidak bisa diukur seperti ekonomi, cuaca, dan
perubahan keiingan konsumen yang seringkali membawa dampak
13

yang drastis dalam usaha. Hidup seorang pengusaha bisa dikatakan


hidup

yang

penuh

dengan

ambiguitas,

tidak

jelas.

Namun,

pengusaha yang sukses merasa nyaman dengan semua itu.

Perlunya Inisiatif dan Pencapaian


Hampir setiap orang percaya bahwa pengusaha yang sukses

mengambil inisiatif penuh dalam situasi dimana yang lain tidak akan
maju. Keinginan para pengusaha untuk bertindak sesuai dengan ide
mereka terkadang sering mengaburkan pandangan mereka yang
bukan pengusaha. Banyak orang yang mempunyai ide brilian, namun
ide ide ini tidak pernah direalisasikan.
Para pengusaha bertindak berdasarkan idealis mereka untuk
mencapai sebuah hasil, sebuah pencapaian. Pencapaian itu kemudian
diubah menjadi dorongan dan inisiatif.

Detil, dan perfeksionisme


Sebagian besar para

pengusaha

perfeksionis.

Segala

sesuatunya dilakukan dengan sempurna, baik produk maupun


servis. Namun, hal ini kerap kali menjadi sumber frustasi pekerja
yang bukan perfeksionis. Oleh karenanya, para pekerja kerap
melihat para pengusaha sebagai orang yang sulit.

Persepsi akan Menghabiskan Waktu


Para pengusaha sadar bahwa waktu bergulir secara cepat
dan, mereka pun menjadi orang yang tidak sabaran. Karena hal
inilah, segala sesuatunya tidak pernah selesai dengan cepat dan
mulailah masuk ke dalam krisis. Orang orang yang tidak terbiasa
akan merasa risih dengan hal ini.

Kreativitas
Salah satu alasan para pengusaha sukses adalah karena
mereka mempunyai imajinasi dan rencana rencana lain. Mereka
memiliki kemampuan untuk melihat peluang lebih dari apa yang
14

orang awam lihat. Nolan Bushnell membuat video game konsol


rumahan dan Chuck E, percaya bahwa kreasi hanyalah sesuatu
yang standar dalam sebuah bisnis. Sebagai contoh, Bushnell pernah
bekerja di taman bermain saat masih kuliah. Di sinilah dia
mendapatkan ide untuk membuat video game rumahan. Dia
percaya, para pengusaha harus tahu apa yang konsumen inginkan,
bahkan sebelum mereka sadar bahwa mereka menginginkannya,
dan secepat mungkin.

Kemampuan untuk melihat secara garis besar


Para pengusaha seringkali melihat sesuatu secara holistik,
mereka dapat melihat garis besar ketika yang lain hanya melihat
bagian dari garis tersebut. Berdasarkan sebuah studi, seorang
pengusaha menjalankan usahanya dengan mencari informasi yang
lebih banyak tentang lingkungan kerjanya dibanding mereka yang
tidak sukses. Dengan proses ini, pengusaha melihat lingkungan
kerja secara keseluruhan, dan membuat rancangan kerja untuk
memperbesar aktivitas usahanya.

Faktor Faktor yang Memotivasi


Meskipun banyak orang yang percaya bahwa para pengusaha
termotivasi oleh uang, banyak faktor yang sebenarnya lebih
penting, seperti perlunya mencapai sebuah hasil yang maksimal
(pencapaian)

seperti

yang

telah

ditunjukkan

diatas.

Sebuah

keinginan untuk mandiri lebih penting dibandingkan motivasi akan


uang itu sendiri. Para pengusaha pada awalnya memulai usahanya
karena tidak ingin memiliki bos / atasan. Setidaknya, 3.000
pengusaha mengidentifikasi beberapa faktor dibawah ini sebagai
alasan mengapa mereka berwirausaha:
Menggunakan ketrampilan dan kemampuan diri sendiri
Mendapatkan kontrol dalam hidup mereka
Ingin menghadiahkan sesuatu bagi keluarganya
Karena dia suka akan tantangan
Untuk hidup bebas dimana diri sendirilah yang
menentukan
15

Sedangkan

faktor

yang

lainnya

adalah:

ingin

diakui,

ingin

mendapatkan hadiah dan penghargaan, dan ingin memuaskan


hasrat dan ekspektasi diri.

Kepercayaan Diri
Konsep kepercayaan diri mempengaruhi keinginan seseorang.
Kepercayaan diri didefinisikan sebagai kepercayaan seseorang
dalam menyelesaikan pekerjaannya. Kepercayaan diri yang kuat dan
akurat sangat diperlukan untuk mengembangkan seluruh aspek
kemanusiaan, termasuk inisiatif dan ketekunan. Oleh karenanya,
seseorang yang percaya bahwa dia akan sukses sebagai pengusaha
akan meraih impiannya.

2. Faktor Kultural
Sebuah penemuan yang sangat umum apabila kebudayaan
dan etnik dapat merepresentasikan sebuah jaringan usaha, yang
tentunya, orang orang yang tergabung didalamnya merupakan
pengusaha. Namun, kecenderungan kultur ini masih belum jelas,
karena

setiap

individu

dalam

suatu

kelompok

budaya

tidak

semuanya menjadi pengusaha dengan alasan yang sama.


Efek dari kultur dan sifat etnis ini mungkin terangkai, karena
menurut berbagai studi, kebudayaan yang berbeda memiliki nilai
dan kepercayaan yang berbeda pula. Sebagai contoh, di Jepang
dikenal ada sebuah pencapaian kultur dimana seseorang harus
terus berusaha sampai mereka sukses. Faktur lain yang penting
adalah bagaimana kultur tersebut memiliki internal locus of control
atau tidak. Sebagai contoh, kultur di Amerika mendukung adanya
internal locus, sedangkan di Rusia tidak.
Kultur juga mempengaruhi status kewirausahaan. Sebuah
studi

di

Kanada,

menyatakan

bahwa

orang

India

melihat

kewirausahaan sebagai sesuatu yang positif, sedangkan orang


16

orang Haiti melihatnya sebagai kerjaan rendahan. Ekspektasi


kultural merupakan penghalang untuk seorang Wanita bernama
Puerto Rican di Washington, D.C. Ketika

dia ingin memulai

usahanya, kakaknya menyuruhnya untuk segera menikah saja.

3. Faktor Masyarakat
Dalam semua lingkungan sosial, ada orang yang tidak ingin
menjadi pengusaha, tetapi karena situasi dan kondisi, mereka
terpaksa menjadi pengusaha. Para pekerja di Amerika dapat
dikategorikan dalam grup ini. Hal ini disebabkan karena perubahan
pangsa pasar. Para imigran di berbagai negara mencoba jalan ini
apabila kemampuan berbahasa dan ketrampilan mereka tidak
sesuai. Ini disebut sebagai adaptasi. Sebuah studi faktor faktor
etnokultural menyatakan bahwa tidak semua pengusaha muncul
lewat kelompok masyarakat yang menghargai kewirausahaan.
Mereka memilih untuk berwirausaha karena ada tekanan, dan juga
merupakan asimilasi sosial.
4. Kombinasi dari Ketiga Faktor
Karena ketekunan sangatlah sulit untuk diraih pada usia yang
dewasa, sebaiknya jiwa kewirausahaan ditanamkan pada anak
anak. Sebuah studi di sebuah TK mengindikasikan bahwa setiap
satu dari empat anak yang ada menunjukkan sifat kewirausahaan.
Setelah beranjak ke usia remaja, hanya 3 persen dari mereka yang
masih mempertahankan sifat tersebut. Pelajaran di sekolah tidak
mengajarkan sifat kewirausahaan, dan pada nyatanya lebih ke
pengajaran teori dan individu. Kreativitas dan kemampuan anak
anak pun menjadi berkurang, padahal kreativitas itulah yang
menjadi senjata utama dari pengusaha.
Wilson Harrell, seorang konsultan bisnis, merekomendasikan
para orang tua untuk tidak memberikan uang saku kepada anaknya
17

secara cuma cuma. Contohnya, di umur 6 tahun, Harrell memiliki


stan lemon. Stan lemon itu disuplai oleh ayahnya, mulai dari lemon,
gla, dsb. sedangkan Harrell yang bekerja. Di akhir bulan, semua
profit

dibagi

rata.

Dia

percaya,

bahwa

pelajaran

ini

akan

mengajarkan anak untuk bertanggungjawab dan menunjukkan


kepada mereka tentang pentingnya berusaha. Sebagai hasilnya,
anak belajar bagaimana integritas bukanlah sebuah putih di atas
kertas, melainkan sebuah jalan hidup.

2.3

TIPE-TIPE WIRAUSAHA
Tipe tipe Wirausaha adalah penasehat (advisor), organisator, creator, care taker,
communicator, entertainer, investor, seller engineer/technology
1.

Penasehat (Advisor).
Kebanyakan konsultan dipercayai banyak orang karena pendidikan dan

pengalaman yang mereka peroleh seperti di bidang konsultan keuangan. Di bidang


ini, konsultan mendapat uang dari jasa mereka memberikan saran atau pun
mencarikan solusi bagi klien-klien mereka.
2.

Organisator
Contoh usaha tipe ini adalah event organizer dimana anda harus memaintain

ataupun me-manage jalannya sebuah usaha.


3. Creator
Tipe yang ini adalah tipe pembangun bisnis dimana memerlukan kreativitas
anda untuk mampu membuat barang atau jasa baru yang sebelumnya belum ada.
4.

Care Taker
Pengusaha yang bergerak di bidang perkebunanan adalah salah satu conton

dimana anda harus mampu sebuah bisnis dan di perlukan sikap yang sabar, tekun, dan
konsisten.
5. Communicator.
Tipe ini adalah anda yang mampu memberikan informasi yang menjadi
demand seperti bidang sales.
6. Entertainer
Tipe ini adalah tipe entrepreneur yang mampu membuat atau menambah
pengalaman positif bagi orang lain misalnya : aktor dan penyanyi.
18

7.

Investor
Tipe ini adalah tipe entrepreneur yang di bidang saham atau property yang

mampu membuat uang mereka bekerja.


8. Seller
Tipe ini memiliki keahlian dalam menjual apapun mau itu jasa atau barang
misalnya asuransi.
9. Engineer / Technology
Tipe ini adalah pengusaha yang memiliki keahlian di bidang teknik, misalnya
bidang otomotif.

BAB III
PENUTUP

3.1

KESIMPULAN
Adapun kesimpulan yang didapat adalah :

1. Faktor-faktor yang mendorong seseorang menjadi wirausaha ada 3


yaitu faktor individual,faktor kultural, faktor masyarakat, dan
kombinasi dari ketiga faktor.
2. Faktor individual meliputi : rasa antusias dalam berbisnis , tidak
putus asa meskipun gagal , percaya diri, tekad yang kuat,
pengolahan risiko , melihat perubahan sebagai peluang, toleransi
akan Ambiguitas, perlunya Inisiatif dan Pencapaian, detil dan
perfeksionisme, persepsi akan menghabiskan waktu ,kreativitas,
19

kemampuan untuk melihat secara garis besar , faktor faktor yang


Memotivasi , kepercayaan diri.
3. Tipe-tipe wirausaha adalah :
Penasehat
Organisator
Creator
Care taker
Communicator
Entertainer
Investor
Seller
Engineer/Technology

DAFTAR PUSTAKA

Alma, Prof. Dr. Buchari, 2007, Kewirausahaan, Edisi Revisi, Penerbit Alfabeta,
Bandung.
Kasmir, 2007, Kewirausahaan, PT RajaGrafindo Perkasa, Jakarta.
Soesarsono, 2002, Pengantar Kewirausahaan, Buku I, Jurusan Teknologi Industri
IPB, Bogor.
Suryana, 2001, Kewirausahaan, Penerbit Salemba Empat, Jakarta.
http://westaction.org/definitions/def_entrepreneurship_1.html yang diakses pada
tanggal 20maret 2016
Winardi, 2003, Entrepreneur & Entrepreneurship, Kencana, Jakarta.

20