Anda di halaman 1dari 36

MENTERI AGRARIA DAN TATA RUANG

REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN MENTERI AGRARIA DAN TATA RUANG/


KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL
NOMOR ... TAHUN ...
TENTANG
PENINJAUAN KEMBALI RENCANA TATA RUANG

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA


MENTERI MENTERI AGRARIA DAN TATA RUANG,

Menimbang

: bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 92 Peraturan


Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan
Penataan Ruang perlu menetapkan Peraturan Menteri
Agraria dan Tata Ruang tentang Peninjauan Kembali
Rencana Tata Ruang;

Mengingat

: 1. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang


Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2007 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4725);
2. Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 tentang
Penyelenggaraan Penataan Ruang (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 21, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5103);
3. Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun 2009 tentang
Pembentukan dan Organisasi Kementerian Negara
sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan
Peraturan Presiden Nomor 13 Tahun 2014 (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 24);
4. Peraturan Presiden Nomor 24 Tahun 2010 tentang
Kedudukan, Tugas, dan Fungsi Kementerian Negara
serta Susunan Organisasi, Tugas, dan Fungsi Eselon I
Kementerian Negara sebagaimana telah diubah beberapa
kali terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 80 Tahun
2014 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014
Nomor 189);

-2-

5. Peraturan Presiden Nomor 165 Tahun 2014 tentang


Penataan Tugas dan Fungsi Kabinet Kerja (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 339);

MEMUTUSKAN:
Menetapkan : PERATURAN MENTERI MENTERI AGRARIA DAN TATA
RUANG/KEPALA
BADAN
PERTANAHAN
NASIONAL
TENTANG PENINJAUAN KEMBALI RENCANA TATA RUANG.
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan:
1. Rencana Tata Ruang yang selanjutnya disingkat RTR
adalah hasil perencanaan tata ruang.
2. Rencana Tata Ruang Wilayah yang selanjutnya
disingkat RTRW adalah hasil perencanaan tata ruang
pada wilayah yang merupakan kesatuan geografis
beserta segenap unsur terkait yang batas dan sistemnya
ditentukan berdasarkan aspek administratif.
3. Peninjauan Kembali RTR adalah upaya untuk melihat
kesesuaian antara RTR dan kebutuhan pembangunan
yang
memperhatikan
perkembangan
lingkungan
strategis dan dinamika internal, serta pelaksanaan
pemanfaatan ruang.
4. Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional yang selanjutnya
disingkat RTRWN adalah arahan kebijakan dan strategi
pemanfaatan ruang wilayah negara.
5. Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi yang selanjutnya
disingkat RTRWP adalah rencana tata ruang yang
bersifat umum dari wilayah provinsi yang merupakan
penjabaran dari RTRWN dan yang berisi: tujuan,
kebijakan, strategi penataan ruang wilayah provinsi;
rencana struktur ruang wilayah provinsi; rencana pola
ruang wilayah provinsi; penetapan kawasan strategis
provinsi; arahan pemanfaatan ruang wilayah provinsi;
dan arahan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah
provinsi.

-3-

6. Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota yang


selanjutnya disingkat RTRWK/K adalah rencana tata
ruang yang bersifat umum dari wilayah kabupaten/kota
yang merupakan penjabaran dari RTRWP dan yang
berisi: tujuan, kebijakan, strategi penataan ruang;
rencana struktur ruang; rencana pola ruang; penetapan
kawasan
strategis
kabupaten/kota;
arahan
pemanfaatan ruang; dan ketentuan pengendalian
pemanfaatan ruang.
7. Pemerintah Pusat yang selanjutnya disebut Pemerintah
adalah Presiden Republik Indonesia yang memegang
kekuasaan pemerintahan negara Republik Indonesia
sebagaimana dimaksud Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945.
8. Pemerintah Daerah adalah gubernur, bupati atau
walikota dan perangkat daerah sebagai unsur
penyelenggara pemerintahan daerah.
9. Menteri adalah Menteri Agraria dan Tata Ruang.
Pasal 2
(1) Peraturan Menteri ini dimaksudkan sebagai pedoman
bagi Pemerintah dan pemerintah daerah serta para
pemangku kepentingan lainnya dalam peninjauan
kembali RTR.
(2) Peraturan
Menteri
ini
bertujuan
mewujudkan
peninjauan kembali RTR yang berkualitas sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 3
(1) Ruang lingkup Peraturan Menteri ini meliputi:
a. kriteria peninjauan kembali RTR;
b. tata cara peninjauan kembali RTR; dan
c. rekomendasi hasil peninjauan kembali RTR.
(2) RTR sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
a. RTRWN;
b. RTRWP; dan
c. RTRWK/K.
(3) Kriteria peninjauan kembali, tata cara peninjauan
kembali, dan rekomendasi hasil peninjauan kembali

-4-

rencana rinci tata ruang diatur dengan Peraturan


Menteri tersendiri.
BAB II
KRITERIA PENINJAUAN KEMBALI RTRW
Pasal 4
Peninjauan kembali RTRW terdiri atas:
a. peninjauan kembali RTRW yang dilakukan 1 (satu) kali
dalam 5 (lima) tahun; dan
b. peninjauan kembali RTRW yang dilakukan lebih dari 1
(satu) kali dalam 5 (lima) tahun.
Pasal 5
Peninjauan kembali RTRW yang dilakukan 1 (satu) kali
dalam 5 (lima) tahun sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4
huruf a dilakukan setelah RTRW berlaku 5 (lima) tahun
sejak diundangkan.
Pasal 6
(1) Peninjauan kembali RTRW yang dilakukan lebih dari 1
(satu) kali dalam 5 (lima) tahun sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 4 huruf b dilakukan sebelum RTRW
berlaku 5 (lima) tahun sejak diundangkan.
(2) Peninjauan kembali RTRW sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dapat dilakukan jika terjadi perubahan
lingkungan strategis berupa:
a. bencana alam skala besar yang ditetapkan dengan
peraturan perundang-undangan;
b. perubahan batas teritorial negara yang ditetapkan
dengan Undang-Undang; atau
c. perubahan batas wilayah daerah yang ditetapkan
dengan Undang-Undang.

-5-

BAB III
TATA CARA PENINJAUAN KEMBALI RTRW
Bagian Kesatu
Tata Cara Peninjauan Kembali RTRW
yang Dilakukan 1 (Satu) Kali dalam 5 (Lima) Tahun
Pasal 8
Peninjauan kembali RTRW yang dilakukan 1 (satu) kali
dalam 5 (lima) tahun dilakukan melalui:
a. penetapan pelaksanaan peninjauan kembali RTRW;
b. pelaksanaan peninjauan kembali RTRW; dan
c.

perumusan
rekomendasi
tindak
lanjut
pelaksanaan peninjauan kembali RTRW.

hasil

Paragraf 1
Penetapan Pelaksanaan Peninjauan Kembali RTRW
Pasal 9
Peninjauan RTRW ditetapkan dengan:
a. keputusan Menteri untuk peninjauan kembali terhadap
RTRWN;
b. keputusan gubernur untuk peninjauan kembali RTRWP;
dan
c.

keputusan bupati/walikota untuk peninjauan kembali


RTRWK/K.
Pasal 10

Keputusan Menteri, keputusan gubernur, dan keputusan


bupati/walikota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9
menjadi dasar pelaksanaan peninjauan kembali RTRW.
Paragraf 2
Pelaksanaan Peninjauan Kembali RTRW
Pasal 11

-6-

Peninjauan kembali RTRW dilakukan oleh tim yang dibentuk


oleh Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan
kewenangannya.
Pasal 12
(1) Pembentukan tim sebagaimana dimaksud dalam Pasal
11 ditetapkan dengan keputusan Menteri, keputusan
gubernur, atau keputusan bupati/walikota sesuai
dengan kewenangannya.
(2) Penetapan pembentukan tim sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dapat dilakukan bersama dengan
penetapan pelaksanaan peninjauan kembali RTRW.
Pasal 13
Ketentuan mengenai format konsep keputusan Menteri,
gubernur,
atau
bupati/walikota
tentang
penetapan
pelaksanaan peninjauan kembali RTRW secara lebih
terperinci tercantum dalam Lampiran I yang merupakan
bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.
Pasal 14
Tim sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 terdiri atas
unsur:
a. pemerintah;
b. perguruan tinggi; dan
c.

lembaga penelitian.
Pasal 15

Unsur pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13


huruf a terdiri atas:
a. pejabat
dari
instansi
di
lingkungan
kementerian/lembaga yang menjadi anggota Badan
Koordinasi Penataan Ruang Nasional dan pejabat dari
instansi kementerian/lembaga terkait lainnya dalam hal
diperlukan, untuk tim peninjauan kembali RTRWN;
b. pejabat dari instansi di lingkungan pemerintah provinsi
yang menjadi anggota badan koordinasi penataan ruang
daerah provinsi dan pejabat dari instansi di lingkungan
pemerintah provinsi terkait lainnya dalam hal
diperlukan, untuk tim peninjauan kembali RTRWP; dan

-7-

c.

pejabat dari instansi di lingkungan pemerintah


kabupaten/kota yang menjadi anggota badan koordinasi
penataan ruang daerah kabupaten/kota dan pejabat
dari instansi di lingkungan pemerintah kabupaten/kota
terkait lainnya dalam hal diperlukan, untuk tim
peninjauan kembali RTRWK/K.
Pasal 16

Unsur perguruan tinggi sebagaimana dimaksud dalam Pasal


14 huruf b paling sedikit terdiri atas 2 (dua) orang dosen
atau akademisi yang memiliki ilmu pengetahuan dan
wawasan serta kompeten di bidang penataan ruang
dan/atau bidang lainnya yang terkait dengan penataan
ruang.
Pasal 17
(1) Dalam tim peninjauan kembali RTRWP, unsur
perguruan tinggi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16
paling sedikit terdiri atas 1 (satu) orang dosen atau
akademisi pada perguruan tinggi lokal.
(2) Dalam hal tidak terdapat perguruan tinggi lokal, unsur
perguruan tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dapat berasal dari perguruan tinggi lokal lain di daerah
provinsi lain.
Pasal 18
(1) Dalam tim peninjauan kembali RTRWK/K, unsur
perguruan tinggi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14
paling sedikit terdiri atas 1 (satu) orang dosen atau
akademisi pada perguruan tinggi lokal.
(2) Dalam hal tidak terdapat perguruan tinggi lokal, unsur
perguruan tinggi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dapat berasal dari perguruan tinggi lokal lain di daerah
kabupaten/kota lain.
Pasal 19
(1) Unsur lembaga penelitian sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 14 huruf c paling sedikit terdiri atas 2 (dua) orang
peneliti.
(2) Peneliti sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat
berasal dari lembaga penelitian milik pemerintah,
lembaga penelitian milik swasta, atau lembaga

-8-

penelitian milik masyarakat, yang bergerak di bidang


penataan ruang dan/atau bidang lainnya yang terkait
dengan penataan ruang.
Pasal 20
(1) Dalam tim peninjauan kembali RTRWP, unsur lembaga
penelitian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat
(1) paling sedikit terdiri atas 1 (satu) orang peneliti dari
lembaga penelitian lokal.
(2) Dalam hal tidak terdapat lembaga penelitian lokal,
unsur lembaga penelitian sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dapat berasal dari lembaga penelitian lokal lain
di daerah provinsi lain.
Pasal 21
(1) Dalam tim peninjauan kembali RTRWK/K, unsur
lembaga penelitian sebagaimana dimaksud dalam Pasal
19 ayat (1) paling sedikit terdiri atas 1 (satu) orang
peneliti dari lembaga penelitian lokal.
(2) Dalam hal tidak terdapat lembaga penelitian lokal,
unsur lembaga penelitian sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dapat berasal dari lembaga penelitian lokal lain
di daerah kabupaten/kota lain.
Pasal 22
Peninjauan kembali RTRW dilaksanakan melalui:
a. pengkajian;
b. evaluasi; dan
c.

penilaian.
Pasal 23

Pengkajian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 huruf a


dilakukan terhadap:
a. RTRW; dan
b. peraturan perundang-undangan dan kebijakan lainnya
yang terkait dengan pelaksanaan RTRW.

-9-

Pasal 24
(1) Evaluasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 huruf b
dilakukan terhadap hasil pengkajian sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 23 dan pelaksanaan pemanfaatan
ruang.
(2) Evaluasi sebagaimana dimaksud
dilakukan untuk melihat:

pada

ayat

(1)

a. kualitas RTRW;
b. kesahihan RTRW; dan
c.

permasalahan
pemanfaatan
simpangan pemanfaatan ruang.

ruang

berupa

Pasal 25
(1) Kualitas RTRW sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24
ayat (2) huruf a dinilai dengan memperhatikan:
a. kelengkapan muatan RTRW;
b. kedalaman pengaturan muatan RTRW;
c.

kesesuaian antara muatan RTRW dan karakteristik


daerah; dan

d. kesesuaian
antara
RTRW
pembangunan yang berkembang.

dan

dinamika

(2) Kesahihan RTRW sebagaimana dimaksud dalam Pasal


23 ayat (2) huruf b dinilai dengan memperhatikan
kesesuaian antara materi muatan RTRW dan berbagai
peraturan perundang-undangan terkait.
(3) Permasalahan pemanfaatan ruang berupa simpangan
pemanfaatan ruang sebagaimana dimaksud dalam Pasal
23 ayat (2) huruf a dinilai dengan memperhatikan
kesesuaian antara RTRW dan pemanfaatan ruang di
lapangan.
Pasal 26
(1) Penilaian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 huruf
c dilakukan terhadap hasil evaluasi sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 25.
(2) Penilaian sebagaimana dimaksud
dilakukan untuk melihat:
a. tingkat kualitas RTRW;
b. tingkat kesahihan RTRW; dan

pada

ayat

(1)

- 10 -

c.

tingkat permasalahan pemanfaatan ruang berupa


simpangan pemanfaatan ruang.
Pasal 27

(1) Tingkat kualitas RTRW sebagaimana dimaksud dalam


Pasal 26 ayat (2) huruf a dinyatakan baik jika tingkat
kualitas RTRW dinilai lebih dari 50% (lima puluh
persen).
(2) Tingkat kesahihan RTRW sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 26 ayat (2) huruf b dinyatakan tinggi jika tingkat
kesahihah RTRW dinilai lebih dari 50% (lima puluh
persen).
(3) Tingkat permasalahan
simpangan pemanfaatan
dalam Pasal 26 ayat (2)
tingkat permasalahan
simpangan pemanfaatan
(lima puluh persen).

pemanfaatan ruang berupa


ruang sebagaimana dimaksud
huruf c dinyatakan kecil jika
pemanfaatan ruang berupa
ruang dinilai kurang dari 50%

Pasal 28
Ketentuan mengenai persentase penilaian terhadap tingkat
kualitas RTRW, tingkat kesahihan RTRW, dan tingkat
permasalahan pemanfaatan ruang berupa simpangan
pemanfaatan ruang secara lebih terperinci tercantum dalam
Lampiran II yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari
Peraturan Menteri ini.
Paragraf 3
Perumusan Rekomendasi Tindak Lanjut
Hasil Pelaksanaan Peninjauan Kembali RTRW
Pasal 29
Pelaksanaan peninjauan kembali
rekomendasi tindak lanjut berupa:

RTRW

menghasilkan

a. rekomendasi tidak perlu dilakukan revisi terhadap


RTRW; atau
b. rekomendasi perlunya dilakukan revisi terhadap RTRW.

- 11 -

Pasal 30
Rekomendasi tidak perlu dilakukan revisi terhadap RTRW
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 huruf a diberikan
jika:
a. tidak terjadi perubahan kebijakan yang mempengaruhi
pelaksanaan RTRW;
b. tidak terdapat dinamika pembangunan yang menuntut
perlunya dilakukan revisi RTRW; dan
c.

berdasarkan hasil evalusi dinyatakan tingkat kualitas


RTRW baik, tingkat kesahihan tinggi, dan tingkat
permasalahan pemanfaatan ruang berupa simpangan
pemanfaatan ruang kecil.
Pasal 31

(1) Dalam hal peninjauan kembali RTRW menghasilkan


rekomendasi tindak lanjut sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 29 huruf a, RTRW yang ditinjau kembali
tetap berlaku sesuai dengan masa berlakunya.
(2) Rekomendasi tindak lanjut sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dapat disertai dengan usulan penertiban
terhadap pelanggaran pemanfaatan ruang.
Pasal 32
Rekomendasi perlunya dilakukan revisi terhadap RTRW
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 huruf b diberikan
jika:
a. terjadi perubahan
pelaksanaan RTRW;

kebijakan

yang

mempengaruhi

b. terdapat dinamika pembangunan yang


perlunya dilakukan revisi RTRW; dan/atau
c.

menuntut

berdasarkan hasil evalusi dinyatakan tingkat kualitas


RTRW tidak baik, tingkat kesahihan rendah, dan/atau
tingkat permasalahan pemanfaatan ruang berupa
simpangan pemanfaatan ruang besar.
Pasal 33

(1) Dalam hal peninjauan kembali RTRW menghasilkan


rekomendasi tindak lanjut sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 29 huruf b, revisi terhadap RTRW
dilakukan
dengan
memperhatikan
saran

- 12 -

penyempurnaan yang termuat dalam rekomendasi hasil


peninjauan kembali.
(2) Revisi terhadap RTRW sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dilakukan berdasarkan prosedur penyusunan RTRW
sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan.
Pasal 34
Ketentuan mengenai format konsep rekomendasi tidak perlu
dilakukan revisi terhadap RTRW sebagaimana dimaksud
pada pasal 29 huruf a dan format konsep rekomendasi
perlunya dilakukan revisi terhadap RTRW sebagaimana
dimaksud pada Pasal 29 huruf b secara lebih terperinci
tercantum dalam Lampiran III yang merupakan bagian tidak
terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.
Bagian Ketiga
Tata Cara Peninjauan Kembali RTRW
yang Dilakukan Lebih dari 1 (Satu) Kali dalam 5 (Lima) Tahun
Pasal 35
Ketentuan mengenai tata cara peninjauan kembali RTRW
yang dilakukan 1 (satu) kali dalam 5 (lima) tahun
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 sampai dengan Pasal
32 berlaku mutatis mutandis untuk peninjauan kembali
RTRW yang dilakukan lebih dari 1 (satu) kali dalam 5 (lima)
tahun, dengan ketentuan:
a. selain perincian dalam Pasal 23 ditambahkan data dan
informasi terkait dengan bencana alam skala besar,
perubahan batas territorial negara, dan/atau perubahan
batas wilayah daerah; dan
b. selain rincian dalam Pasal 25 ayat (2) ditambahkan
kesesuaian antara muatan RTRW dan kebutuhan
pembangunan pasca bencana alam skala besar, perubahan
batas territorial negara, dan/atau perubahan batas wilayah
daerah.

- 13 -

BAB IV
REKOMENDASI HASIL PENINJAUAN KEMBALI RTRW
Pasal 36
(1)

Revisi RTRW sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33


dapat dilakukan melalui:
a. perubahan peraturan perundang-undangan; atau
b. pencabutan peraturan perundang-undangan.

(2)

Perubahan
peraturan
perundang-undangan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dilakukan
jika perubahan materi muatan RTRW tidak lebih dari
20% (dua puluh persen).

(3)

Pencabutan
peraturan
perundang-undangan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dilakukan
jika perubahan materi muatan RTRW lebih dari 20%
(dua puluh persen).
Pasal 37

Ketentuan mengenai persentase bobot perubahan materi


muatan RTRW secara lebih terperinci tercantum dalam
Lampiran IV yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari
Peraturan Menteri ini.
Pasal 38
Dalam hal revisi RTRW dilakukan melalui perubahan
peraturan perundang-undangan, jangka waktu RTRW tidak
mengalami perubahan sesuai dengan jangka waktu RTRW
sebelum dilakukan revisi.
Pasal 39
Dalam hal revisi RTRW dilakukan melalui pencabutan
peraturan perundang-undangan, jangka waktu RTRW
berlaku 20 (dua puluh) tahun sejak RTRW baru hasil revisi
diundangkan.

- 14 -

BAB III
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 40
Peraturan Menteri
diundangkan.

ini

mulai

berlaku

pada

tanggal

Agar
setiap
orang
mengetahuinya,
memerintahkan
pengundangan
Peraturan
Menteri
ini
dengan
penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal
MENTERI AGRARIA DAN TATA
RUANG
REPUBLIK INDONESIA,

FERRY MURSYIDAN BALDAN

Diundangkan di Jakarta
pada tanggal
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA,

YASONNA H. LAOLY

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN NOMOR

- 15 -

PENJELASAN
ATAS
PERATURAN MENTERI AGRARIA DAN TATA RUANG/
KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL
NOMOR TAHUN
TENTANG
PENINJAUAN KEMBALI RENCANA TATA RUANG
I.

UMUM
Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang tentang Peninjauan
Kembali Rencana Tata Ruang merupakan peraturan pelaksanaan
Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan
Penataan Ruang sebagaimana penyusunannya diamanatkan dalam
Pasal 92 Peraturan Pemerintah dimaksud yang menyatakan bahwa
tata cara peninjauan kembali rencana tata ruang diatur dengan
peraturan menteri Namun, ruang lingkup Peraturan Menteri ini
diperluas tidak hanya mengatur mengenai tata cara, tetapi juga kriteria
peninjauan kembali dan revisi RTR. RTR dimaksud yaitu RTRW yang
meliputi RTRWN, RTRWP, dan RTRWK/K. Adapun untuk pengaturan
mengenai kriteria peninjauan kembali, tata cara peninjauan kembali,
dan revisi rencana rinci tata ruang akan diatur dalam peraturan
menteri tersendiri.
Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang tentang Peninjauan
Kembali Rencana Tata Ruang disusun dengan dasar pada pemikiran
bahwa Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan
Ruang dan Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 tentang
Penyelenggaraan Penataan Ruang belum mengatur secara lebih rinci
mengenai peninjauan kembali RTRW sehingga dalam pelaksanaannya
dibutuhkan peraturan pelaksanaan yang lebih terperinci agar
peninjauan kembali RTRW dapat dilaksanakan dengan baik sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Secara umum Peraturan Menteri ini memuat materi-materi pokok
yang disusun secara sistematis sebagai berikut: kriteria peninjauan
kembali, tata cara peninjauan kembali, dan revisi RTRW. Selain materi
muatan tersebut, juga dalam Lampiran dimuat matriks mengenai
persentase bobot untuk setiap perubahan materi muatan RTRW.
Matriks dimaksudkan untuk memperjelas dan memberikan pedoman
dalam perhitungan persentase perubahan RTRW untuk menentukan
bentuk revisi yang akan ditempuh.

- 16 -

II.

PASAL DEMI PASAL

Pasal 1
Cukup jelas.
Pasal 2
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan peninjauan kembali RTR yang
berkualitas adalah peninjauan kembali yang dilaksanakan
sesuai dengan prosedur yang benar dan menghasilkan
rekomendasi yang dapat dipertanggungjawabkan secara teknis
substantif.
Pasal 3
Ayat (1)
Huruf a
Yang dimaksud dengan kriteria peninjauan kembali RTR
adalah syarat-syarat yang menjadi dasar dilakukannya
peninjauan kembali RTR.
Huruf b
Cukup Jelas.
Huruf c
Yang dimaksud dengan revisi RTR adalah proses
memperbaiki RTR melalui perubahan materi muatan RTR
sebagai
tindak
lanjut
peninjauan
kembali
yang
menghasilkan perlunya dilakukan revisi RTR.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 4
Huruf a
Yang dimaksud 1 (satu) kali dalam 5 (lima) tahun adalah
setelah RTRW berlaku 5 (lima) tahun.

- 17 -

Huruf b
Yang dimaksud lebih dari 1 (satu) kali dalam 5 (lima) tahun
adalah sebelum RTRW berlaku 5 (lima) tahun.
Pasal 5
5 (lima) tahun berlakunya RTRW dihitung sejak peraturan
perundang-undangan tentang RTRW, seperti peraturan daerah
kabupaten tentang RTRWK/K, diundangkan dalam lembar daerah.
Misalnya, jika RTRWK/K diundangkan Tahun 2014, RTRWK/K
tersebut ditinjau kembali pada Tahun 2019.
Pasal 6
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan dilakukannya sebelum RTRW berlaku
5 (lima) tahun misalnya RTRWK/K yang diundangkan Tahun
2014 ditinjau kembali pada Tahun 2017.
Ayat (2)
Huruf a
Yang dimaksud dengan bencana alam skala besar adalah
bencana, baik bencana nasional maupun bencana daerah,
sebagaimana dimaksud dalam peraturan perundangundangan yang ditetapkan berdasarkan besaran jumlah
korban jiwa, kerugian harta benda, kerusakan sarana dan
prasarana, cakupan luas wilayah yang terkena bencana,
dan dampak sosial ekonomi yang ditimbulkan.
Huruf b
Yang dimaksud dengan perubahan batas teritorial Negara
adalah perubahan batas Negara yang meliputi perubahan
matra darat, matra laut, dan matra udara.
Huruf c
Yang dimaksud dengan perubahan batas wilayah daerah
adalah perubahan batas daerah yang berupa pemekaran
wilayah atau penggabungan wilayah sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 7
Misal RTRWK/K berlaku Tahun 2014 s.d. 2034, kemudian oleh
karena terdapat perubahan batas wilayah daerah pada Tahun 2017

- 18 -

ditinjau kembali dan direvisi. Tahun 2018 peraturan daerah tentang


RTRWK/K baru ditetapkan dan diundangkan. Oleh karena peraturan
daerah tentang RTRWK/K tersebut diundangkan pada Tahun 2018,
dalam hal sebelum Tahun 2023 tidak terdapat bencana alam skala
besar, perubahan atas teritorial negara, dan/atau perubahan batas
wilayah daerah, RTRWK/K tersebut hanya dapat ditinjau kembali
pada Tahun 2023.
Pasal 8
Dalam peninjauan kembali RTRW, penetapan pelaksanaan
peninjauan kembali RTRW, pelaksanaan peninjauan kembali RTRW,
dan perumusan rekomendasi tindak lanjut hasil pelaksanaan
peninjauan kembali RTRW merupakan serangkaian proses yang
dilakukan secara berurutan dimulai dengan penetapan peninjauan
kembali RTRW.
Pasal 9
Cukup jelas.
Pasal 10
Cukup jelas.
Pasal 11
Cukup jelas.
Pasal 12
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan dilakukan bersama dengan penetapan
pelaksanaan peninjauan kembali RTRW adalah bahwa dalam
keputusan Menteri, keputusan gubernur, atau keputusan
bupati/wailkota tentang penetapan pelaksanaan peninjauan
kembali RTRW dapat sekaligus menetapkan pembentukan tim
peninjauan kembali RTRW.
Pasal 13
Cukup jelas.

- 19 -

Pasal 14
Cukup jelas.
Pasal 15
Cukup jelas.
Pasal 16
Cukup jelas.
Pasal 17
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan perguruan tinggi lokal adalah
perguruan tinggi yang berdomilisi di daerah provinsi yang
melakukan peninjauan kembali RTRWP.
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan provinsi sekitarnya adalah provinsi
yang berada di sekitar provinsi yang melakukan peninjauan
kembali RTRWP, terutama provinsi yang berbatasan.

Pasal 18
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan perguruan tinggi lokal adalah
perguruan tinggi yang berdomilisi di daerah kabupaten/kota
yang melakukan peninjauan kembali RTRWK/K.
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan kabupaten/kota sekitarnya adalah
kabupaten/kota yang berada di sekitar kabupaten/kota yang
melakukan
peninjauan
kembali
RTRWK/K,
terutama
kabupaten/kota yang berbatasan.
Pasal 19
Cukup jelas.
Pasal 20
Ayat (1)

- 20 -

Yang dimaksud dengan lembaga penelitian lokal adalah


lembaga penelitian yang berdomilisi di daerah provinsi yang
melakukan peninjauan kembali RTRWP.
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan provinsi sekitarnya adalah provinsi
yang berada di sekitar provinsi yang melakukan peninjauan
kembali RTRWP, terutama provinsi yang berbatasan.
Pasal 21
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan lembaga penelitian lokal adalah
lembaga penelitian yang berdomilisi di daerah kabupaten/kota
yang melakukan peninjauan kembali RTRWK/K.
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan kabupaten/kota sekitarnya adalah
kabupaten/kota yang berada di sekitar kabupaten/kota yang
melakukan
peninjauan
kembali
RTRWK/K,
terutama
kabupaten/kota yang berbatasan.
Pasal 22
Dalam peninjauan kembali RTRW, pengkajian, evaluasi, dan
penilaian dilakukan secara bertahap diawali dengan pengkajian
selanjutnya evaluasi dan diakhiri dengan penilaian.
Pasal 23
Huruf a
RTRW dimaksud mencakup keseluruhan materi muatan
RTRW, terutama peta rencana struktur ruang dan peta
rencana pola ruang.
Huruf b
Peraturan perundang-undangan dan kebijakan lainnya
dimaksud mencakup seluruh peraturan perundang-undangan
dan kebijakan baik pada tingkat nasional maupun tingkat
daerah.
Pasal 24
Cukup jelas.

- 21 -

Pasal 25
Ayat (1)
Huruf a
Cukup jelas.
Huruf b
Cukup jelas.
Huruf c
Yang dimaksud dengan karakteristik daerah adalah
kearifan lokal dan karakteristik fisik, misalnya bentang
alam, daerah rawan bencana, dll.
Huruf d
Yang dimaksud dengan dinamika pembangunan adalah
tuntutan perubahan yang berkaitan dengan nilai-nilai
kearifan lokal dan kebutuhan pembangunan, antara lain
terkait dengan perkembangan paradigma pemikiran,
kebijakan, perkembangan teknologi, penemuan sumber
daya alam, upaya mitigasi bencana, dan perubahan
perilaku sosial dan ekonomi yang mempengaruhi
pencapaian tujuan penataan ruang wilayah.
Ayat (2)
Cukup jelas.
Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal 26
Cukup jelas.
Pasal 27
Cukup jelas.
Pasal 28
Cukup jelas.
Pasal 29

- 22 -

Cukup jelas.
Pasal 30
Cukup jelas.
Pasal 31
Cukup jelas.
Pasal 32
Cukup jelas.
Pasal 33
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Yang dimaksud dengan prosedur penyusunan RTRW adalah
prosedur penyusunan RTRW berdasarkan ketentuan peraturan
perundang-undangan terkait dengan perencanaan tata ruang,
terutama Bab IV tentang Pelaksanaan Perencanaan Tata
Ruang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010
tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang.
Pasal 34
Cukup jelas.
Pasal 35
Cukup jelas.
Pasal 36
Ayat (1)
Cukup jelas.
Ayat (2)
Cukup jelas.

- 23 -

Ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal 37
Cukup jelas.
Pasal 38
Cukup jelas.
Pasal 39
Dengan dicabutnya peraturan perundang-undangan tentang RTRW
yang direvisi, maka RTRW hasil revisi merupakan RTRW baru yang
oleh karenanya memiliki masa berlaku 20 (dua puluh) tahun sejak
peraturan
perundang-undangan
tentang
RTRW
baru
diundangankan.
Pasal 40
Cukup jelas.

TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR

- 24 -

LAMPIRAN I
PERATURAN MENTERI AGRARIA DAN TATA RUANG
NOMOR TAHUN
TENTANG
PENINJAUAN KEMBALI RENCANA TATA RUANG

FORMAT KONS EP K EPUTUS AN M ENTERI, K EPUTUSAN


GUB ERNUR, DAN KEPUTUSAN BUP ATI/WALIKOTA T ENTANG
PENETAPAN P ELAKSANAAN P ENINJ AUAN K EMB ALI RT RW

KEPUTUSAN ____(1)____
NOMOR: ____(2)____
TENTANG
PENETAPAN PELAKSANAAN PENINJAUAN KEMBALI ____(3)____
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
____(4)____,

Menimbang

a. bahwa
sesuai
dengan
ketentuan
____(5)____,
____(6)_____ ditinjau kembali 1 (satu) kali dalam 5
(lima) tahun;
b. bahwa tahun ____(7)____ merupakan masa periodik 5
(lima) tahun pertama untuk dilakukan peninjauan
kembali ____(8)____ untuk melihat kesesuaiannya
dengan kebutuhan pembangunan;
c. bahwa sesuai dengan ketentuan ____(9)____ Peraturan
Pemerintah
Nomor 15 Tahun 2010 tentang
Penyelenggaraan
Penataan
Ruang,
penetapan
pelaksanaan
peninjauan
kembali
____(10)____
dilakukan dengan Keputusan ____(11)____;

- 25 -

d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana


dimaksud dalam huruf a, huruf b, dan huruf c, perlu
menetapkan
Keputusan
____(12)____
tentang
Penetapan
Pelaksanaan
Peninjauan
Kembali
____(13)____;
Mengingat

1. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang


Penataan
Ruang
(Lembaran
Negara
Republik
Indonesia Tahun 2007 Nomor 68, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4725);
2. Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 tentang
Penyelenggaraan Penataan Ruang (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 21,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 5103);
3. ____(14)____
MEMUTUSKAN:

Menetapkan :

KEPUTUSAN
____(15)____
TENTANG
PENETAPAN
PELAKSANAAN PENINJAUAN KEMBALI ____(16)____

KESATU

Menetapkan
____(17)____.

KEDUA

Pelaksanaan
peninjauan
kembali
____(18)____
sebagaimana dimaksud dalam DIKTUM KESATU
dilakukan oleh Tim Peninjauan Kembali ____(19)____.

KETIGA

Tim Peninjauan Kembali ____(20)____ sebagaimana


dimaksud dalam DIKTUM KEDUA yang selanjutnya
disebut Tim PK ____(21)____ terdiri atas Tim Pengarah,
Tim Pelaksana, dan Narasumber dengan susunan
keanggotaan sebagaimana tercantum dalam Lampiran
Keputusan ini.

KEEMPAT

Tugas Tim PK ____(22)____yaitu sebagai berikut:

pelaksanaan

peninjauan

kembali

1. Tim Pengarah bertugas:


a. memberikan pengarahan kepada Tim Pelaksana
dalam
pelaksanaan
peninjauan
kembali
____(23)____;
b. memberikan saran dan evaluasi terhadap hasil
kerja Tim Pelaksana; dan
c. menyampaikan laporan dan bertanggung jawab
kepada ____(24)____;

- 26 -

2. Tim Pelaksana bertugas:


a. menyiapkan
____(25)____;

materi

peninjauan

kembali

b. melakukan
penyusunan
dan
perumusan
rekomendasi peninjauan kembali ____(26)____;
c. melakukan
pembahasan
hasil
perumusan
bersama Tim Pengarah dan Narasumber;
d. melakukan koordinasi dengan berbagai pihak
dalam seluruh rangkaian kegiatan peninjauan
kembali____(27)____;
e. menyampaikan laporan pelaksanaan tugasnya dan
bertanggung jawab kepada ____(28)____ melalui
Tim Pengarah;
3. Narasumber
bertugas
memberikan
profesional sesuai bidang keahliannya

masukan

KELIMA

Tim PK ____(29)____ dinyatakan berakhir masa tugasnya


setelah pelaksanaan peninjauan kembali ____(30)____
selesai.

KEENAM

Segala
biaya
ditetapkannya
____(31)____.

KETUJUH

Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

yang
dikeluarkan
sebagai
akibat
Keputusan
ini
dibebankan
pada

Tembusan disampaikan kepada Yth.:


1. ____(32)____
Ditetapkan di ____(33)____
pada tanggal ____(34)____
____(35)____

____(36)____

- 27 -

Lampiran Keputusan ____(37)____


Nomor

____(38)____

Tanggal

____(39)____

TIM PENINJAUAN KEMBALI


____(40)____
NO.

NAMA/INSTANSI

A.
1.

TIM PENGARAH

2.

3.
...
B.
1.

dll.
TIM PELAKSANA

2.

3.
....

dll.

KEDUDUKAN
DALAM TIM
Ketua
merangkap anggota
Wakil Ketua
merangkap anggota
Anggota

Ketua
merangkap anggota
Wakil Ketua
merangkap anggota
Anggota

____(41)____

____(42)____

- 28 -

Keterangan:
(1), (4), (11), (12), (15), (24), (28), (35), (37), dan (41): untuk RTRWN yaitu
Menteri Agraria dan Tata Ruang, untuk RTRWP yaitu gubernur
yang RTRWP-nya ditinjau kembali, dan untuk RTRWK/K yaitu
bupati/walikota yang RTRWK/K-nya ditinjau kembali
(2), (38):

nomor

(3), (6), (8), (10), (13), (16) s.d (23), (25) s.d. (27), (29), (30), (40): RTRW yang
ditinjau kembali
(4)

untuk RTRWN yaitu Menteri Agraria dan Tata Ruang, untuk


RTRWP dan RTRWK/K yaitu gubernur atau bupati/walikota yang
RTRW-nya ditinjau kembali

(5)

pasal
dalam
peraturan
perundang-undangan
yang
mengamanatkan dilakukannya peninjauan kembali, yaitu sbb.:
-

untuk peninjauan kembali RTRWN yaitu antara lain Pasal


20 ayat (4) Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang
Penataan Ruang (UU 26/2007) dan Pasal 82 ayat (1)
Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 tentang
Penyelenggaraan Penataa Ruang (PP 15/2010);

untuk peninjauan kembali RTRWP yaitu antara lain Pasal 23


ayat (4) UU 26/2007 dan Pasal 82 ayat (1) PP 15/2010;

untuk peninjauan kembali RTRW kabupaten yaitu antara


lain Pasal 26 ayat (5) UU 26/2007 dan Pasal 82 ayat (1) PP
15/2010; dan

untuk peninjauan kembali RTRW kota yaitu antara lain


Pasal 26 ayat (5) dan Pasal 28 UU 26/2007, serta Pasal 82
ayat (1) PP 15/2010.

(7)

tahun dilakukannya peninjauan kembali RTRW

(9)

pasal
dalam
peraturan
perundang-undangan
yang
mengamanatkan penetapan pelaksanaan peninjauan kembali
RTRW, yaitu sbb.:
-

untuk peninjauan kembali RTRWN yaitu antara lain Pasal


84 huruf a PP 15/2010;

untuk peninjauan kembali RTRWP yaitu antara lain Pasal 84


huruf b PP 15/2010; dan

untuk peninjauan kembali RTRWK/K yaitu antara lain Pasal


84 huruf c PP 15/2010.

- 29 -

(14)

peraturan perundang-undangan lain yang


kewenangan
Menteri,
gubernur,
atau
menetapkan keputusan Menteri, gubernur, atau
dan peraturan perundang-undangan yang
penetapan keputusan Menteri, gubernur, atau
dimaksud.

menjadi dasar
bupati/walikota
bupati/walikota
memerintahkan
bupati/walikota

(31)

Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atau Anggaran


Pendapatan dan Belanja Daerah dengan ketentuan sebagai
berikut:
-

untuk peninjauan kembali RTRWN yaitu Anggaran


Pendapatan dan Belanja Negara Kementerian Agraria dan
Tata Ruang;

untuk peninjauan kembali RTRWP yaitu yaitu Anggaran


Pendapatan dan Daerah instansi di lingkungan pemerintah
provinsi yang menyelenggarakan urusan pemerintahan
bidang penataan ruang; dan

untuk peninjauan kembali RTRWK/K yaitu yaitu Anggaran


Pendapatan dan Daerah instansi di lingkungan pemerintah
kabupaten/kota
yang
menyelenggarakan
urusan
pemerintahan bidang penataan ruang.

(32)

pimpinan
kementerian/lembaga
terkait
serta
instansi
pemerintah daerah provinsi dan kabupaten/kota terkait.

(33)

lokasi berkedudukannya Menteri Agraria dan Tata Ruang,


gubernur, atau bupati/walikota sebagaimana dimaksud point (1)

(34), (39): tanggal penetapan


(36), (42): nama Menteri Agraria dan Tata Ruang, gubernur,
bupati/walikota sebagaimana dimaksud point (1)

atau

- 30 -

LAMPIRAN II
PERATURAN MENTERI AGRARIA DAN TATA RUANG
NOMOR TAHUN
TENTANG
PENINJAUAN KEMBALI RENCANA TATA RUANG
PERS ENTAS E TINGKAT KUALITAS RTRW,
TINGKAT KESAHIH AN RTR W, DAN TINGKAT
PERMASAL AHAN PEMANFAA TAN RUANG
No.
1.

Objek
kualitas
RTRW

Variabel

Keterangan

kelengkapan
muatan RTRW
a. tujuan,
kebijakan,

lengkap
tidak lengkap
dan

strategi penataan
ruang
b. rencana struktur
ruang wilayah
c. rencana
pola
ruang wilayah
d. penetapan
kawasan
strategis
e. arahan
pemanfaatan
ruang

Nilai
12,50% - 25,00%
0% - 12,49%

- 31 -

No.

Objek

Variabel

Keterangan

Nilai

f. arahan
pengendalian
pemanfaatan
ruang
kedalaman
pengaturan muatan
RTRW

sesuai (dengan
pedoman
penyusunan
RTRW)

12,50% - 25,00%

a. untuk
rtrw
provinsi mengacu tidak sesuai
(dengan
pada Permen PU pedoman
No.
penyusunan
15/PRT/M/2009 RTRW)
b. untuk
rtrw
kabupaten
mengacu
pada

0% - 12,49%

Permen PU No.
16/PRT/M2009
c. untuk rtrw kota
mengacu
pada
Permen PU No.
17/PRT/M/2009

2.

kesahihan
RTRW

kesesuaian antara
muatan RTRW dan
karakteristik daerah
(berdasarkan
subyektifitas tim
peninjauan kembali)

sesuai

kesesuaian antara
RTRW dan dinamika
pembangunan yang
berkembang
(berdasarkan
subyektifitas tim
peninjauan kembali)

sesuai

kesesuaian dengan
peraturan
perundangundangan terkait

sesuai

tidak sesuai

12,50% - 25,00%

0% - 12,49%
12,50% - 25,00%

tidak sesuai
0% - 12,49%

tidak sesuai

50,00% - 100,00%
0% - 49,99%

- 32 -

No.
3.

Objek

Variabel

simpangan
pemanfaatan
ruang

kesesuaian antara
perda tentang RTRW
dan pemanfaatan
ruang di lapangan

Keterangan
sesuai
tidak sesuai

Nilai
50,00% - 100,00%
0% - 49,99%

LAMPIRAN III
PERATURAN MENTERI AGRARIA DAN TATA RUANG
NOMOR TAHUN
TENTANG
PENINJAUAN KEMBALI RENCANA TATA RUANG
FORMAT KONS EP SURAT REKOM ENDASI
TIDAK PER LU DIL AKUKAN R EVISI TERHADAP RTRW
Nomor
Tanggal
Lampiran

: ____(1)____
: ____(2)____
: ____(3)____ berkas

Kepada Yth.
____(4)____
di
____(5)____
Perihal

: Hasil Peninjauan Kembali ____(6)____

Sehubungan dengan pelaksanaan peninjauan kembali ____(7)____, kami


sampaikan hal-hal sebagai berikut:
1. Dalam
rangka
melaksanakan
ketentuan
____(8)____
yang
mengamanatkan bahwa ____(9)____ ditinjau 1 (satu) kali dalam 5 (lima)
tahun, Tim Peninjauan Kembali melakukan penyusunan dan
perumusan rekomendasi peninjauan kembali ____(10)____ dimaksud.

- 33 -

2. ____(11)____ telah dikaji, dievaluasi, dan dinilai oleh Tim Peninjauan


Kembali yang hasilnya secara terperinci dituangkan dalam Lampiran.
3. Berdasarkan hasil kajian, evaluasi, dan penilaian sebagaimana
dimaksud pada angka 2, dinyatakan bahwa ____(12)____ memiliki:
a. kualitas yang baik;
b. tingkat kesahihan yang tinggi; dan
c. tingkat permasalahan pemanfaatan ruang berupa simpangan
pemanfaatan ruang yang kecil.
4. Berdasarkan hal-hal sebagaimana dimaksud pada angka 2 dan angka 3,
Tim Peninjauan Kembali memberikan rekomendasi bahwa ____(13)____
tidak perlu dilakukan revisi dan tetap berlaku sesuai dengan masa
berlakunya.
Tim Peninjauan Kembali
Ketua,
__________________
FORMAT KONS EP SURAT REKOM ENDASI
PERLUNYA DILAKUKAN REVISI T E RHADAP RT RW

Nomor
Tanggal
Lampiran

: ____(1)____
: ____(2)____
: ____(3)____ berkas

Kepada Yth.
____(4)____
di
____(5)____
Perihal

: Hasil Peninjauan Kembali ____(6)____

Sehubungan dengan pelaksanaan peninjauan kembali ____(7)____, kami


sampaikan hal-hal sebagai berikut:
1. Dalam
rangka
melaksanakan
ketentuan
____(8)____
yang
mengamanatkan bahwa ____(9)____ ditinjau 1 (satu) kali dalam 5 (lima)
tahun, Tim Peninjauan Kembali melakukan penyusunan dan
perumusan rekomendasi peninjauan kembali ____(10)____ dimaksud.
2. ____(11)____ telah dikaji, dievaluasi, dan dinilai oleh Tim Peninjauan
Kembali yang hasilnya secara terperinci dituangkan dalam Lampiran.
3. Berdasarkan hasil kajian, evaluasi, dan penilaian sebagaimana
dimaksud pada angka 2, dinyatakan bahwa ____(12)____ memiliki:

- 34 -

a. kualitas yang tidak baik;


b. tingkat kesahihan yang rendah; dan
c. tingkat permasalahan pemanfaatan ruang berupa simpangan
pemanfaatan ruang yang besar.
4. Berdasarkan hal-hal sebagaimana dimaksud pada angka 2 dan angka 3,
Tim Peninjauan Kembali memberikan rekomendasi bahwa ____(13)____
perlu dilakukan revisi sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan dengan memperhatikan saran penyempurnaan sebagaimana
tertuang dalam Lampiran.
Tim Peninjauan Kembali
Ketua,

__________________

Keterangan:
(1)

nomor surat

(2)

tanggal surat

(3)

jumlah berkas yang dilampirkan

(4)

untuk RTRWN yaitu Menteri Agraria dan Tata Ruang, untuk


RTRWP yaitu gubernur yang RTRWP-nya ditinjau kembali, dan
untuk RTRWK/K yaitu bupati/walikota yang RTRWK/K-nya
ditinjau kembali

(5)

lokasi berkedudukannya Menteri Agraria dan Tata Ruang,


gubernur, atau bupati/walikota sebagaimana dimaksud point (4)

(6), (7), (9), (10), (11), (12), (13): RTRW yang ditinjau kembali
(8)

pasal
dalam
peraturan
perundang-undangan
yang
mengamanatkan dilakukannya peninjauan kembali, yaitu sbb.:
-

untuk peninjauan kembali RTRWN yaitu antara lain Pasal


20 ayat (4) Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang
Penataan Ruang (UU 26/2007) dan Pasal 82 ayat (1)
Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 tentang
Penyelenggaraan Penataa Ruang (PP 15/2010);

untuk peninjauan kembali RTRWP yaitu antara lain Pasal 23


ayat (4) UU 26/2007 dan Pasal 82 ayat (1) PP 15/2010;

untuk peninjauan kembali RTRW kabupaten yaitu antara


lain Pasal 26 ayat (5) UU 26/2007 dan Pasal 82 ayat (1) PP
15/2010; dan

- 35 -

untuk peninjauan kembali RTRW kota yaitu antara lain


Pasal 26 ayat (5) dan Pasal 28 UU 26/2007, serta Pasal 82
ayat (1) PP 15/2010.

Dalam rekomendasi tidak perlu dilakukan revisi terhadap RTRW, jika


berdasarkan hasil peninjauan kembali terdapat usulan penertiban terhadap
pelanggaran pemanfaatan ruang, setelah kata berlakunya pada angka 4
ditambahkan frasa dengan tetap memperhatikan usulan penertiban
terhadap pelanggaran pemanfaatan ruang sebagaimana tertuang dalam
Lampiran.

LAMPIRAN IV
PERATURAN MENTERI AGRARIA DAN TATA RUANG
NOMOR TAHUN
TENTANG
PENINJAUAN KEMBALI RENCANA TATA RUANG

PERS ENTA S E BOBOT PERUBAHAN MAT ERI MUATAN R TRW


Rencana Umum Tata Ruang
No.

Materi Muatan

RTRWN
(% maks.)

RTRWP
(% maks.)

RTRWK/K
(% maks.)

1.

TUJUAN, KEBIJAKAN, DAN


STRATEGI PENATAAN RUANG

15%

15%

15%

2.

RENCANA STRUKTUR RUANG


WILAYAH

40%

40%

20%

2.1. Sistem Pusat Permukiman

5%

5%

5%

2.2. Sistem Jaringan Prasarana

35%

35%

15%

RENCANA POLA RUANG WILAYAH

20%

20%

40%

3.1. Kawasan Lindung

5%

5%

15%

3.2. Kawasan Budi Daya

15%

15%

25%

4.

PENETAPAN KAWASAN STRATEGIS

5%

5%

5%

5.

ARAHAN PEMANFAATAN RUANG

10%

10%

10%

3.

- 36 -

Rencana Umum Tata Ruang


No.

6.

Materi Muatan

RTRWN
(% maks.)

RTRWP
(% maks.)

RTRWK/K
(% maks.)

5.1. Perwujudan Rencana Struktur


Ruang

5%

5%

5%

5.2. Perwujudan Rencana Pola


Ruang

5%

5%

5%

ARAHAN PENGENDALIAN
PEMANFAATAN RUANG

10%

10%

10%